Don’t Look Up, sebuah film yang dihiasi dengan aktor dan aktris besar di dunia perfilman. Film yang disutradarai oleh Adam McKay ini dibintangi oleh Leonardo Dicaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep, Cate Blanchett, Jonah Hill, dan lainnya. Dengan nama-nama tadi, film satu ini sangat menarik untuk ditonton.

Don’t Look Up, bercerita tentang dua astronom Dr. Randall Mindy (Leonardo Dicaprio) dan Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence) menemukan sebuah komet besar yang sedang mengarah ke bumi. Lebar dari komet Dibiasky ini sekitar 19 km, kalo nyampe ke bumi dapat menimbulkan kepunahan semua spesies yang hidup di bumi. Nama kometnya dinamanai Dibiasky karena, orang yang pertama menemukan komet tersebut adalah Dibiasky. Setelah menemukan komet tersebut Mindy dan Dibiasky melaporkan hal tersebut ke pemerintah Amerika Serikat, mereka pun langsung diterbangkan ke Washington DC untuk bertemu langsung dengan presiden Amerika Serikat Orlean (Meryl Streep).

Setelah sesampai di White House, kejadian-kejadian lucu yang satir pun dimulai. Dengan Mindy dan Dibiasky disuruh untuk menunggu dulu oleh Jason (Jonah Hill) yang merupakan kepala staf pemerintahan Amerika Serikat untuk bertemu Orlean, yang sedang ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Apa keperluannya? Yaitu, memberikan kejutan selamat ulang tahun kepada ketua Mahkamah Agung. Sangat penting dibandingkan dengan ancaman yang sedang menuju ke bumi. Akhirnya, pada hari pertama pun Mindy dan Dibiasky gagal bertemu dengan Orlean dan disuruh untuk kembali di hari berikutnya. Keesokan harinya pun, setelah bertemu dengan Orlean, respon presiden dan stafnya pun sangat mengejutkan.

Merasa tidak digubris oleh presiden, kedua astronom itu pun membongkar semua ceritanya ke media. Dan akhirnya, mereka mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan mengenai bahaya komet di sebuah talkshow yang dipandu oleh dua host, salah satu host-nya adalah Brie Evantee (Cate Blanchet). Pada talkshow tersebut ada segmen interview dengan Riley Bina (Ariana Grande) seorang penyanyi yang sedang heboh karena baru putus dengan pacarnya. Acara talkshow tersebut pun memiliki rating tinggi, bukan karena ancaman punahnya manusia karena komet, tapi karena Rilley Bina kembali rujuk dengan pacarnya melalui sebuah video call di talk show tersebut. Kejadian-kejadian tidak terduga terus bermunculan dalam perjuangan Mindy dan Biasky untuk meyakinkan masyarakat bahwa nyawa mereka sedang terancam.

Secara keseluruhan komedi satir yang ditampilkan di film ini sangat lucu sekaligus mengerikan kalau sebenarnya hal itu terjadi dan mungkin saja terjadi. Penampilan dan akting dari aktor dan aktris yang menghiasi Don’t Look Up jangan ditanya, bagus semua. Apalagi ada Leonardo Dicaprio dan Cate Blanchett yang kembali beradu akting setelah di film Aviator. Kalo tidak terlalu tertarik atau mengerti dengan film satir mungkin akan terkesan garing. Tapi bila ditelaah lagi, hal-hal satir itu sangat menarik sekaligus menakutkan, bagaimana dunia hiburan dan politik bisa mengalahkan ancaman bencana besar yang akan menghancurkan bumi.

Words by Firman Oktaviawan

Polyester Embassy sudah berkarya selama hampir 20 tahun. Unit musik asal Bandung ini dengan fluid menggabungkan elemen-elemen terbaik dari noise rock, space-rock, electronica, shoegaze dan tetap memiliki sensibilitas pop yang kuat. Dengan adanya beberapa personil baru dan konsep yang lebih segar, mereka menjanjikan materi-materi baru yang sedang mereka persiapkan akan lebih fresh dan matang. Dengan beberapa materi yang direkam di sebuah villa di pegunungan, mari berbincang dengan Elang, Dissa, Ekky dan Utink mengenai 5 album favorit mereka, kesulitan membuat lirik berbahasa Indonesia dan meng-aransmen lagu via email..

“Mencoba sesuatu yang baru juga kali yah. Biar jadi gen-z aja gitu, bisa recording dimana-mana kan yang angkatan sekarang tuh. Kalau boomer kan masih harus recording di studio rekaman.”

Halo Polyester Embassy! Apa kabar? Denger-denger baru rilis three-way split album dalam format vinyl ya bersama Muck (Malaysia) dan The Guilt (Singapura)?
Elang: Kabar baik, alhamdulillah. Seperti biasa, proyek kolaborasi ini diawali obrolan ringan di awal pandemic 2020. Sebenernya ide awalnya sebelum pandemic tetapi terpotong oleh pandemi jadi agak lama prosesnya. Dari obrolan ringan saya sama Ducktoi vokalisnya Muck (Malaysia), mereka inisiatornya dan mereka juga yang compile ngumpulin materi-nya. Mereka juga bikin rules-nya kaya kalau bisa ada satu materi yang berbahasa Indonesia atau Melayu, dan selebihnya boleh bahasa Inggris. Tema-nya pas dan materinya juga ada. Disini selain 2 lagu yang dirilis ada satu lagu yang baru bikin pas pandemic. Yang pasti sih rilisan ini kaya reuni pertemanan yah, kita udah kenal lama dengan si Muck ini. Kita pernah tour ke Malaysia dan Muck juga pernah ke Bandung. Kurang lebih kaya bernostalgia dengan karya-karya baru lah.

Dissa: Yang kompilasi soalnya Elang yang kontekan.. Lanjut mas..

EP kalian yang rencana-nya dirilis Disaster Records itu sudah sampai mana progressnya?
Elang: Setengah jalan kali yah? Yang pasti lagu-lagu yang ada di vinyl ini adalah kandidat materi EP juga sih. Dan ditambah beberapa materi yang belum masuk tapi sudah selesai recording. Asalnya cuma 3-4 lagu, sekarang ada rencana untuk menambah lagu jadi total sekitar 6-7 lagu. Ya masih mini album lah. Semoga ga banyak hambatan lagi dan bisa rilis di 2022.

Masing-masing lagi pada sibuk ngapain nih selain di Polyester Embassy?
Dissa: Sibuk untuk keluar dari kantor, karena saya mau resign hihihi…

Utink: Lagi sibuk masak chilli dog, apple crumble dan roti-rotian di Kitchin Bandung hehehe..

Elang: Sibuk merecik aja Tang, otw niis..

Banyak wajah-wajah baru di Polyester Embassy. Untuk yang belum tau, bisa ceritain ga siapa aja personil-personil baru-nya dan apakah sudah menjadi personil tetap atau additional?
Elang: Yang baru itu ada Prama di drum. Dan ada Dissa di synth, bass dan produser materi-materi baru juga. Dissa full start di lagu Parak 2019. Prama (drum) masuk selepas almarhum Givarie. Dan sepertinya akan banyak materi-materi yang bikin bareng Prama juga. Entah Itu full atau tidak tapi ya sudah berkarya bareng aja sih. Full maksudnya personil yah.

Dissa: Alhamdullilah..

Elang: Yarhamukallah..

Dulu sempat lihat recording session kalian yang berlokasi di sebuah villa. Dari mana idenya tiba-tiba memutuskan untuk membuat recording session di villa? Apakah puas dengan hasilnya?
Dissa: Sebetulnya sesimple gimana caranya kita nge-gather ide baru dengan trigger menciptakan suasana yang baru. Karena mostly karya-karya yang dihasilkan dari sekitar kita itu punya lebih banyak impact dari karya yang misalkan dibikin di kota dengan segala macam hiruk-pikuk klakson. Mungkin nantinya Polem terdengar lebih rungsing hehe. Tapi kalau kita record-nya di suasana yang tenang, damai di atas gunung itu akan membikin mood kita lebih kalem dan mungkin dari hasilnya juga cukup terwakili.

Elang: Mencoba sesuatu yang baru juga kali yah. Biar jadi Gen-Z aja gitu Tang, bisa recording dimana-mana kan yang angkatan sekarang tuh. Kalau boomer kan masih harus recording di studio rekaman. Meureun..

“Lagu yang berjudul “Real Time” itu base-nya saya dan Dissa yang bikin. Filenya dikirim-kirim jadi Ekky, Utink dan Prama take di rumah masing-masing dan setor file lagi sampai proses mixing-mastering. Jadi di-aransmen hanya by email aja sebenarnya. Tapi lebih prefer jamming di studio sih. Full amp, emosi dan manusia-nya tuh lebih berasa aja sih kalau gitu.”

Pada saat membuat lagu baru; Lebih prefer jamming di studio, briefing pake gitar akustik atau kirim-kiriman file?
Dissa: Semuanya!

Utink: Semuanya…

Elang: Jadi lagu yang terakhir dibuat ketika pandemic kemarin (yang masuk ke three-way split album) yang berjudul “Real Time” itu base-nya saya dan Dissa yang bikin. File-nya dikirim-kirim jadi Ekky, Utink dan Prama take dirumah masing-masing dan setor file lagi sampai proses mixing-mastering. Jadi di-aransmen hanya via email aja sebenarnya. Tapi lebih prefer jamming di studio sih. Full amp, emosi dan manusia-nya tuh lebih berasa aja sih kalau gitu.

Di lagu “Parak” kan kalian perdana menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Apakah kedepannya Elang akan lebih meng-eksplor bahasa Indonesia dalam lirik-lirik Polyester Embassy?
Elang: Hmmm.. Sepertinya lirik bahasa Indonesia dan Inggris juga akan tetap ada. Ga akan full bahasa Indonesia sih. Belum berani hehehe. Kesulitan-nya karena mungkin kurang dibiasain aja sih menggunakan bahasa Indonesia. Kalau terus dicoba mungkin akan lebih percaya diri kali yah dalam membawakan-nya. Kaya butuh proses lagi, tapi ada beberapa sih lagu bahasa Indonesia yang belum rilis.

“Mostly karya-karya yang dihasilkan dari sekitar kita itu punya lebih banyak impact dari karya yang dibikin di kota dengan segala macam hiruk-pikuk klakson. Mungkin nantinya Polem terdengar lebih rungsing hehe. Tapi kalau kita record-nya di suasana yang tenang, damai di atas gunung itu akan membikin mood kita lebih kalem dan mungkin dari hasilnya juga cukup terwakili.”

Setelah bermusik hampir 20 tahun bersama Polyester Embassy, apa yang akan lo katakan pada diri lo saat baru memulai Polyester Embassy dulu?
Elang: Lang! Sing santai nya, aman da, goww.. Mungkin saya akan memberitahu diri saya untuk lebih sabar tidak menjual instrumen-instrumen saya yang antik. Nya kitulah Tang, mun bisa dibejaan mah, eta investasi euy, ulah dijarualan, marahal ayeuna hahaha…

Pedal-pedal efek favorit kalian apa saja?
Elang: Eventide H9 hehehe.. Sama overdrive yang saya pake teh apa ya Tink? Lupa merk..

Utink: Oddfellow Caveman overdrive. Kalau saya sih Digitech Whammy 1 dan Source Audio Nemesis delay

Ekky: Meris Polymoon

Pertanyaan terakhir: 5 album favorit kalian yang mempengaruhi musikalitas kalian sampai sekarang ini apa saja?
Elang:
Apparat – Walls (2007)
Blueboy – Unisex (1994)
Sonic Youth – Dirty (1992)
Blur – Modern Life is Rubbish (1993)
Air – 10,000 Hz Legends (2001)

Ekky:
Mansun – Six (1998)
The Cure – Disintegration (1989)
Air -Talkie Walkie (2004)
Nicolas Godin – Concrete & Glass (2020)
Foals – Total Life Forever (2010)

Utink:
Tool – 10,000 Days (2006)
Death Cab For Cutie – Codes and Keys (2011)
Radiohead – Ok Computer (1997)
Queens of the Stone Age – Songs for the Deaf (2002)
Smashing Pumpkins – Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995)

Dissa:
Santamonica – Curiouser and Curiouser (2007)
Polyester Embassy – Tragicomedy (2006)
RNRM – Outbox (2007)
The Milo – Photograph (2020)
Efek Rumah Kaca – Efek Rumah Kaca (2001)

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Polyester Embassy archive’s

Jarak yang jauh dari tengah kota dan harga tiket yang tidak terbilang murah, tidak menyurutkan niat para penikmat musik cadas untuk mendatangi gelaran Kickin’ Noise Days Go By Vol.1 yang diadakan oleh For Future Free, Sabtu(22/01). Cuaca Bandung di sore hari yang cerah menambah semangat untuk mendatangi kawasan Villa Istana Bunga yang terletak di daerah Parongpong. Ditambah lagi, adanya rasa penasaran untuk melihat band-band yang jarang untuk dilihat secara live. Seperti, Loutspell, Rounder, Dazzled, dan lainnya. Gelaran Kickin’ Noise Days Go By Vol. 1 ini merupakan gigs pertama yang diadakan oleh For Future Free.

Photo by @darkofmoist
Photo by @darkofmoist

Sekitar jam tiga sore waktu setempat, Kickin The Noise Days Go By dibuka oleh penampilan dari Loutspell band hardcore punk asal Bandung yang telah merilis EP pada tahun 2020 silam. Disambung oleh unit chaotic hardcore metal asal Bandung, Rounder. Fikri dkk, pada sore itu sempat membawakan materi dari EP terbaru mereka bertajuk Maousoleum. Lalu ada Prejudize yang mendapatkan kesempatan untuk mengisi stage. Arga vokalis dari Prejudize terlihat masih penuh energi meskipun harus sekaligus sambil mengurusi event Kickin The Noise Days Go By agar terus berjalan. Pada sore itu Prejudize sempat mengajak Ekrig (Avhath) dan Dika (Collapse) untuk membawakan salah satu lagu yang menjadi materi baru untuk album mereka yang akan rilis di tahun 2022 ini. Sebelum break maghrib ada penampilan dari Vice Versa band melodic hardcore asal kota Semarang.

Photo by @darkofmoist
Photo by @penan_tian

Setelah break Maghrib, giliran Bleach untuk kembali memanaskan hall Villa Istana Bunga. Mendengar beat drum dan riff gitar dari Michael dkk sontak membuat area moshpit semakin liar. Tidak kalah liar dari Bleach, berikutnya ada veteran hardcore dari Jakarta, Final Attack yang penampilannya cukup ditunggu, karena mereka memang jarang manggung di Bandung. Berikutnya, ada gerombolan crossover hardcore asal Malang, yaitu Dazzle yang tampil penuh energi dan sempat membawakan Executioner Tax dari Power Trip. Setelah penampilan Dazzle, terdengar lagu Please, Please, Please Let Get What I Want dari The Smith yang diputar sebagai penanda Under 18 akan membuat keliaran di area moshpit semakin bertambah. Pada malam itu, Under 18 tampil dengan Alvin sebagai vokalis.

Photo by @penan_tian
Photo by @darkofmoist

Setelah Under 18, ada Modern Guns, band melodic hardcore asal Jakarta. Sebelum memulai set-nya, Modern Guns memutarkan lagu Hopesfall dengan versi berbeda dengan yang ada di album The Place Where I Left You, album perdana mereka yang rilis pada tahun 2016 lalu. Meskipun hanya sekedar intro, tapi membuat sing a long terdengar sampai luar hall Villa Istana Bunga. Penampilan Gaga dkk kemarin merupakan panggung kedua Modern Guns di Bandung. Gaga sempat kaget karena tidak menyangka antusiasme terhadap mereka cukup besar di Bandung. Setelah Modern Guns, suasana di dalam venue menjadi mencekam dan lampu di atas stage menjadi merah yang menandakan akan tampilnya Avhath. Lalu terdengar intro guitar khas Avhath yang dihiasi dengan teriakan “welcome to the Avhath Rites” dari Ekrig. Avhath membuat area moshpit tidak ada lagi yang melakukan two step. Sebagai penutup ada band hardcore supergroup asal Jakarta, ZIP. Penampilan ZIP tidak diragukan lagi, suara drum dari Bagas yang begitu powerful, raungan gitar dari Indra dan Chino disertai suara bass dari Regy dan teriakan Jan membuat area moshpit meliar kembali. ZIP menjadi penutup yang cocok untuk menghabiskan energi di malam itu.

Photo by @darkofmoist
Photo by @darkofmoist

Meskipun baru pertama mengadakan sebuah event, For Future Free sukses mengadakan Kickin’ Noise Days Go By. Band-band yang tampil pun tidak ada satu pun yang kurang, semua tampil dengan penuh energi. Penonton pun tertib dan tidak terlihat sedikitpun keributan. Semoga akan ada edisi berikutnya dari gelaran Kickin’ Noise.

Words by Firman Oktaviawan
Photos by Prita (@darkofmoist) and Tian Firdaus (@penan_tian)

Fajar atau Jaydawn memang lebih nyaman untuk berada di belakang layar sebagai beatmaker, walaupun sesekali menjadi backing vokal / MC di Eyefeelsix dan Krowbar (itu pun memakai topeng). Beats-beats, produksi sample dan hasil remix Jaydawn mungkin sudah pernah kamu dengarkan di full album Krowbar yang bernuansa psychedelic, Bars of Death yang layer lagunya dipenuhi horn section dan sampling film, Rand Slam, Taring, Jeruji, Homicide, Efek Rumah Kaca dan tentunya group hip hop Jay yang bernama Eyefeelsix. Sound-sound gitar busuk dari website psychedelic Vietnam sampai film-film kung fu dari tahun 70-an pun Jay jadikan sample di beat-beats yang dia buat. Setelah menggarap mini album “Darker Dawns Ahead” kabarnya Jay sedang mempersiapkan full albumnya. Siapkan kopi instan dan kwaci kalian, dan mari berbincang sejenak dengan Jaydawn. Here goes…

“Kalau saya sih biasanya sample-nya saya acak-acak, di chopping, pitch di kendorin, ya di manipulasi lah biar ga kebaca sistem. Sistem itu di bobodo bisa, namanya juga sistem. Kalau orang kan tetep tau ini sample dari mana.”

Halo Jay, sedang mengerjakan projek-projek menarik apa saja sekarang ini?
Setelah new normal beres, Jay mulai aktivitas produce-ngeproduce udah mulai seperti biasa lagi di Grimloc. Paling lagi ngerancang bikin album Krowbar yang kedua dan album baru Eyefeelsix. Kalau Eyefeelsix yang 7 inch vinyl sih sudah beres sekarang lagi proses PO.

Selain mengerjakan materi Eyefeelsix dan Krowbar, Jay terlibat mengerjakan album dan projek apa saja?
Semua album Eyefeelsix, Krowbar, Rand Slam, Bars of Death, sekarang lagi proses Black Kumuh Jakarta… Kalau Homicide remix. Dulu D’Army juga bikin sama Ucok produsernya. Mulai belajar merangka musik yang bener dari situ awalnya. Kalau Krowbar saya nyari distorsi gitar-gitar yang kampungan, kaya sound Rhoma Irama. Nyari di website Saigon Rock dan website-website psychedelic. Kan suka ada sample-sample lagunya ama saya di record. Lagu Filipina di paok oge. Soundtrack Bruce Lee dicokot. Pokoknya soundnya kampungan kan nya? Gitarnya ga pake efek langsung distorsi. Kalau Rand Slam maenin wordplay sama punchline ky Eminem, jadi musiknya jangan sampe ngeganggu artikulasi vokalnya. Jangan sampe sample-nya annoying.

Karena saya bersama team produksi Grimloc yang bernama Napalm Squad juga, bersama Ucok produser, Eone scratch dan saya engineer.. Jadi 3 orang ini membentuk satu team dan kalau ada projek pasti kita bertiga ini yang turun. Jadi lumayan banyak sebenarnya mengerjakan produksi album-album…

Bagaimana awal mulanya Eyefeelsix terbentuk?
Dulu teh ada band namanya Eyefeelsix, Gaia dan yang lain-nya saya gatau siapa aja. Dulu mah saya masih ikut Eone Cronik dan Ucok. Baru mulai dikenal-kenal-in ke komunitas hip hop. Dulu Gaia mau nerusin nama band itu, ngajakin Jay setelah D’Army bubar. Iseng-iseng aja katanya. Minjem MC ke Cronik si Elmo. Dua single-nya sukses sampe bikin album. Di album kedua Eone yang sebelumnya additional ditarik jadi personil. Jadi bandnya Eone yang Cronik abis aja diambil Eyefeelsix. Eyefeelsix mah isinya D’Army dan Cronik aja digabung hahaha..

Dari awal gabung ama Eyefeelsix udah mulai ngeproduce?
Udah.. Dulu sebelum D’Army juga saya mah udah kikituan weh bikin beat kasiin ke MC buat ngerap.. Yah jadi kebanggaan lah ya (buat saya). Disuruh nge-remix Homicide dan Efek Rumah Kaca. Mental juga udah mulai pede. Baru mulai nambah-nambah temen. Mulai produce dikit-dikit buat band-band hardcore/punk seperti Taring, Jeruji, loba sih malah poho. Buat sampling intro atau track tengah-tengah pake drum break.

Oh kaya skit-skit hip hop gitu ya?
Iya bener. Tapi eta seru sih. Karena tantangan ngerjain yang bukan hip hop tapi belajar musik format band. iIu juga awal-awal-nya di guide ama Ucok. Kamu masukin feel harus gini, harmonis harus gini..

Mini album Jaydawn yang “Darker Dawns Ahead” itu sekilas seperti peleburan antara DJ Premier dan versi gelap-nya J Dilla – Donuts ya? Lengkap dengan chop-chop menarik..
Iya. Jadi di masa pandemi itu Ucok bilang ke saya “Jay daripada kosong nyieun EP maneh dadakan. Gow.” Saya proses tiap malem, terus bikin dan review ke Ucok. Loba teuing kata Ucok, harus ada yang di mix hehehe. Saya kan kalau ngasi lagu sekaligus banyak biasanya. Jadi dari semua beats yang saya kasih ada yang di gabungkan dan ada juga yang di kickout. Terus prosesnya waktu itu untuk rilis di digital streaming. Kenapa lama? Karena waktu itu ada sistem yang ngebaca beberapa sample itu courtesy artis tertentu dan pilihannya antara bayar pajak atau track itu dihilangkan. Ya mending ganti track hahaha.

Emang pada saat semua track beres saya ga punya judul. Saya mah untuk yang soal-soal judul mah buta. Soalnya tiap bikin beat saya mah pake nomer kode. Ucok yang ngeramu track 1 sampe track terakhir seperti tiap kejadian dari tahun ke tahun, sampe track terakhir “New Normal Kebusukan Lama”. Jadi kaya concept album, ya emang jagoan namanya juga produser dia. Ya sukses tanpa kendala sih EP itu. Saya dilepas, musik idealis saya seperti apa di EP itu. Tapi tetap di direct kaya lagu pertama “Ufuk Tanpa Cahaya” itu kan kejadian pembantaian di NTT, Ucok ada ide masukin sample film jadi kaya lagu “Penunggang” juga ide sample dari Ucok. Jadi tracklist juga dikasi masukan ama Ucok “Jay track terakhir maneh jadi yang keempat ya, yang ini geser jadi track penutup”. Pas saya puter terus emang bener enak tracklistnya. Dia udah kesana mikirnya, kalau saya hanya bikin musiknya.

Pas bikin EP ini apa aja yang Jay lagi dengarkan?
Misal saya lagi ada projek bikin beats untuk album Krowbar yang psychedelic. Nah saya ga dengerin apa-apa. Bahkan saya mencari sample dan banyak nonton film. Kenapa EP itu dark ya memang situasi pas lagi bikin EP itu keadaan ekonomi lagi gini, semua di lockdown. Ya emang dark. Kebetulan saya pas pertama bikin musik di D’Army juga emang dark. Jadi ini cocok banget konsepnya, apalagi ditambah judul-judul dari Ucok emang makin darkness deui haha. Jadi emang saya ga dengerin musik hip hop. Kalau saya dengerin hip hop lagi, malah buyar kepatok untuk ngikutin beatmaker-beatmaker lain. Jadi ya emang fresh lah kalau bikin sesuatu selagi ga mendengarkan apa-apa.

Kan tadi Jay nyeritain soal problema sampling itu kan. Dari dulu jaman Public Enemy mulai menggunakan sample itu udah mulai rame dibahas kan masalah sampling dalam hip hop. Gimana mengakali semua itu di era Instagram dan Youtube yang bisa nge-scan lagu? Apa lebih baik membayar pajak atau membuat sampling-nya jadi lebih obscure?
Menarik juga ini buat beatmaker underground. Soalnya bayar pajak ke artis mahal. Kalau saya sih biasanya sample-nya saya acak-acak, di chopping, pitch di kendorin, ya di manipulasi lah biar ga kebaca sistem. Sistem itu di bobodo bisa, namanya juga sistem. Kalau orang kan tetep tau ini sample dari mana. Kalo engga sample nya ditutupin ama layer drum dikit..

Tapi kalau produser-produser seperti Madlib atau J Dilla gitu kan biasanya menggunakan sampling untuk menunjukkan koleksi musiknya. Kalau terlalu di manipulasi bukankah jadi tidak terdengar sampling aslinya dari mana?
Ya engga tau juga sih ya tapi orang lain mah seperti Madlib ya bayar pajak. Courtesy gitu ga masalah buat mereka. DJ dan produser bayar pajak diluar mah, di urang mah henteu pan. Diambek weh ku sistem “kamu harus take down”. Hahaha. Kalo Jay sendiri sejauh ini ga pernah kena masalah cuma yang EP kemaren drum breakdance-nya aja ketauan, soalnya dari Afrika Bambaataa, nya jadi weh kapanggih. Kalau sampe ada yang ngontak ya belum pernah soalnya saya bukan Kanye West haha..

“Sebenarnya ada lagu trap-nya Bars of Death. Jadi cuma pengen tau aja gimana sih bikin lagu trap itu, bukannya mengikuti trend-nya. Biasa layer di satu lagu banyak. Kalau trap cuma bass, kick, hi hat.. Emang kosong. Hi hat-nya siga nu kasetrum.”

Selain menggunakan platform streaming, apa Jay juga mulai mencoba alternatif lain dalam menjual karya?
Kebetulan bulan kemaren si Grimloc manggil tiap artist-nya. Kamu lihat nih detail streaming kamu. Terrnyata loba nu play lagu urang tapi bukan pengguna premium, jadi percuma 0,00, teu asup duitna. Ucok ada ide pertama kali Grimloc masukin ke Storefront. Kan kalau kita beli dan download dapet zip file dan punya data-nya. Kalau di streaming platform kan download-nya nempel di aplikasi. Pas diitung-itung gaji sebulan di Storefront sama dengan gaji setahun di Spotify. Si Storefront itu lebih transparan lah, dia Bandcamp-nya Indonesia. Saya juga ada rencana mau bikin EP kedua di Storefront itu.

Stock lagu Jay mungkin di hardisk sudah numpuk ya? Tinggal rilis?
Engga juga. Jadi dulu tiap ada ide, saya bikin lagu. Cuma kan musik perabadabannya beda tiap tahun apalagi hip hop. Biasanya saya udah pakemin beat saya tiap tahun seperti apa. Entah jadi funk, dark, atau mirip Fatboy Slim misalnya. Kalau dibikin dari sekarang nanti jadi basi beatnya, ya emang harus dadakan.

Balik lagi ngomongin hip hop, kalau saya sih ujung-ujung-nya balik lagi ke jazzhop dan boombap 90-an, karena hip hop yang baru-baru apalagi trap dan mumble-rap ga masuk. Kalaul Jay sendiri gimana?
Kalau saya ama Ucok sempat terjun untuk mempelajari musikalitas si trap dan mumble rap ini. Pake roland TR 808 khas hip hop. Yuk kita pelajari dan aplikasikan gimana sih cara bikin lagu trap. Sebenarnya ada lagu trap-nya Bars of Death. Jadi cuma pengen tau aja gimana sih bikin lagu trap itu, bukannya mengikuti trend-nya. Biasa layer di satu lagu banyak. Kalau trap cuma bass, kick, hi hat.. Emang kosong. Hi hat-nya siga nu kasetrum. Nonjolin sub-kick. Cuma harus tau juga rapper-rapper baru liriknya gimana, harus dengerin juga. Kalau proses me-reka ulang lagu trap ya saya bisa bikin dengan cepat. Cuma tema-nya ke arah mana sih? Asa sarua kabeh, cuma ganti sample doang.

“Kebetulan di list MC, ga ada vokalis perempuan. nanti biasanya dari sample, entah choir dari film. biasanya suara perempuan nyanyi saya ambil dr film. Karena di indonesia ga ada Whitney Houston hahaha.”

Kalau Bars of Death sendiri lebih banyak sampling-sampling funk dan film ya?
Ucok itu kalau untuk satu beat foldernya ada 4: sample film, speech, terompet-nya, drum-nya. Nah di beat kedua ada folder-folder lagi, lengkap dengan dokumen-dokumen sample-nya. Jadi kalau buka suatu beat foldernya banyak. Jadi kalau nulis di CD sample courtesy dari mana, drum dari James Brown misalnya. Kalau audio di sistem kan kebaca, kalau tulisan mah aman, James Brown moal maca da geus dimana James Brown na oge haha. Jadi art of hip hop itu maok. Cut-loop-cut-loop. Emang dari dulu-nya gitu. Kaya kolase lah. Panon na ti mana, bibirnya dari mana..

“Konser Travis Scott isinya ABG semua sih itu. Ga ada yang seumuran kita-kita. Seumuran urang mah mending di warung jamu.”

Kemaren konsernya Travis Scott yang ada korban jiwa 8 orang itu sempat rame ya.. Ngikutin ga beritanya?
Iya itu konser festival. Ga ngikutin cuma ya cari info di Facebook dan Twitter. Kemaren nanya-nanya juga ke Bembi (Krowbar) dan Eone. Jadi pada ngobrolin Travis Scott jadinya. Sebenernya kapasitas konser udah aman cuma yang diluar tiba-tiba masuk kedalem ngedorong dan chaos. Abg hungkul sih eta eweuh nu saumuran urang. Saumuran urang mah mending di warung jamu. Pas ada ambulan ke tengah baru konsernya di stop ama si Travis. Duit konser dibalikin semua da rockstar. Travis Scott juga pernah marah di suatu konser karena ada fansnya mencoba ngambil sepatu dia, terus dia memprovokasi penonton lain untuk ngegulung orang itu. Emang sering chaos konser dia. Beda sama hip hop gangsta seperti Ice T atau Snoop Dogg yang malah lebih aman. Yah umur lah ya. Mun di urang mah siga budak abg nu keur mejeuhna aya hardcore tatajongan bari make helm, mun katoel ambek hahaha…

Jaydawn sendiri proses promo-nya bagaimana? Lalu berikutnya akan merilis apa lagi?
Sempat bikin tour covid dengan ijin workshop. Saya requestnya di cafe, tempat ngopi Jabodetabek biar nyantai. Setelah tur sukses kita produksi kaset ama Grimloc yang lumayan lah 2 jam kurang sold out. Setelah EP ini tentunya saya sedang mempersiapkan full album lengkap dengan MC tamu. Jadi nanti di album 1 lagu instrumen, lagu berikutnya MC nge-rap, lalu instrumen lagi, begitu seterusnya. kebetulan di list MC ga ada vokalis perempuan. Nanti biasanya dari sample, entah choir dari film. Biasanya suara perempuan nyanyi saya ambil dari film. Karena di Indonesia ga ada Whitney Houston hahaha.

Untuk album ini foldernya udah ada di Ucok, udah dibagiin ke MC-MC nya. Kalau bocoran MC belum boleh dibilangin dulu bisi ngararamuk nu teu diajakan. Yang ga diajak kalau ngamuk tinggal dibejaan yang milih MC si Ucok hahaha. Rilis semoga di tahun 2022, masih ngantri di Grimloc haha.

Top 5 lagu rap rock crossover favorit Jay?
1. Anthrax & Public Enemy – “Bring the Noise” -. Sebelum era hip metal ato apa mereka udah ada.
2. Helmet & House of Pain – “Just Another Victim”. Dari kompilasi soundtrack Judgement Night. Ini album crossover bagus.
3. Sonic Youth & Cypress Hill – “I Love You Mary Jane”. Masih dari OST Judgement Night juga..
4. Body Count – “Cop Killer”. Band nya Ice T. Kabeh album urang beuki. “Cop Killer” yang pertama saya dengar soalnya.
5. Shootyz Groove – “Buddah Bless”. Ini lagu yang “check it here we go, check it out here we go!” Band kabeuki urang. Dikasi hadiah vinylnya dari Ucok dapet di Jepang. Dulu punya kasetnya sekarang punya vinylnya kaya dapet Monas.

Hal-hal terbaik yang Jay dapatkan selama berkarya selama ini? Bagaimana awal mula Jay belajar memproduce lagu hip hop?
Buat saya (memproduce) sangat ngebantu, kaya di Grimloc tuh saya ga kerja di tapi bagian dari mereka sebagai engineer musik. Ucok pengertian dalam keadaan gini kamu tetep produksi katanya, biar menghasilkan duit, mau EP sekalipun atau kolaborasi sama MC siapa. Sebenernya saya ga pernah mengharapkan duit apa-apa dari Grimloc. Ucok gak pernah bilang “nanti proyek ini kamu dapet segini”, gak pernah. Tapi tiba-tiba ngasih surprise dia ujug-ujug transfer. Duit naon ieu? “nu kamari duit ieu jeung ieu”. Ini surprise bagi saya daripada orang yang ngejanjiin kamu nanti dapet segini berikut bayarnya mundur hahaha. Buat saya yang penting berkarya lah, duit mah belakangan. Kaya saya di krowbar tiba-tiba Risma istrinya Bembi transfer “ini royalty om Jay”. Saya juga terharu kan tiba-tiba dapet duit dari karya.

Nah selama ini saya gak pernah jualan beats kan, makanya sekarang bikin Instagram satu lagi @beatback666. Saya cukup selektif dalam memilih MC, gamau orang lain memakai beats saya. Sekarang saya tiap hari bikin beats di upload buat jualan, mau ato engga kajeun. Tapi lumayan loba nu meuli hehehe. Dulu saya operator radio OZ. Ngulik lugu “Jump Around” jadi minus one di loop pause rewind dan paskeun. Tanpa komputer hahaha. Sekarang mah praktis ada DAW. Belajar di jalan Sederhana deket rumah Ucok dulu, belajar di Sas Adi. Komunitas hip hop juga itu. Diajar bulan puasa subuh-subuh dulu, bikin beats, dikasi softwarenya Fruityloops studio. Lalu ganti Apple saya jadi pake Ableton Live. Belajar ke Eone tuh Ableton. Sekarang pas udah bisa malah Eone nanya ke saya “ini Ableton gimana sih..”. Loh lainna maneh guru urang? Jadi tibalik ayeuna. Padahal dulu saya diajarin Eone. Guru saya dulu ada 2: Eone dan Sas Adi.

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Jaydawn Archive’s

Masakre adalah salah satu band metal lokal yang membuat musik metal agresif dengan ramuan primitif d-beat, crust, death metal dan hardcore punk pada umumnya. Dengan line-up solid dari para anggota (dan eks-member) dari Ghaust, Kelelawar Malam, Grave Dancers, Engraved dan Flare Up, tentunya band yang terbentuk di tahun 2016 ini layak diperhitungkan. Dengan tema-tema lirik sosial-politik dan musik metal straight-forward yang solid, Masakre bahkan sudah merilis EP nya di label-label luar negri. Mari berbincang dengan Dirga (Vokal), Ipul (Drum), Uri (Gitar) dan Dimas (Bass) mengenai cover art album-album favorit mereka, pengaruh band-band Jepang pada musik Masakre dan preferensi mereka untuk membuat album ketimbang tampil secara live…

“Dalam kondisi normal saja kami mungkin satu band yang cukup jarang main live apalagi di kondisi pandemi seperti ini”

 

Halo Masakre! Sudah sampai mana proses rilisan selanjutnya yang bertajuk “Morbid Extinction”?
Ipul: Semua kebutuhan untuk rilisan EP terbaru kami sudah selesai dan sudah kami kirimkan ke Pulverised Records, label yang akan merilisnya sejak awal tahun 2021, tapi kendala antrian di tempat produksi vinyl membuatnya jadi terlambat sampai saat ini, semoga semuanya akan selesai akhir tahun ini.

Dimas: Semoga bisa beres secepatnya.

Uri: PRAISE THE SUN!

Bagaimana proses dan ceritanya “Crawling to Perdition” EP bisa dirilis beberapa label luar negri? Bagaimana respons publik terhadap EP ini?
Ipul: “Crawling to Perdition” EP dirilis oleh teman-teman baik kami di luar negeri. Kami sudah berkorespondensi dengan mereka sejak lama, bertukar informasi, melakukan records trading, membantu mendistribusikan rilisan-rilisan mereka ke Indonesia, dan juga membantu band-band yang mereka rilis ketika datang ke Jakarta. Karena koneksi itu akhirnya kami mendapat kesempatan untuk dirilis dan didistribusikan oleh mereka.

Responnya cukup baik, kami sempat melakukan tur kecil di Malaysia dan Singapura selepas rilis Crawling to perdition. Rilisan 7” dan kaset kami pun terdistribusikan dengan baik, bahkan di beberapa tempat sold out tak lama dari waktu rilis.

Kalian menyebutkan beberapa referensi seperti Bolt Thrower, Framtid, Life, Cianide, Repulsion dan Anatomia. Top 5 album tiap personil yang membuat kalian jatuh cinta pada crust, D-beat dan metal pada umumnya?
Dirga:
1. Bolt Thrower – For Victory
Band metal yang mempunyai riff yang ciri khas tersendiri dan kental dengan attitude punk.
2. Amebix – Arise
Termasuk album yang unik pada era nya. Mencampur unsur punk, metal dan elemen style seperti killing joke ke dalam satu wadah.
3. Slayer- Reign in Blood
Album yang tidak pernah bosan setiap kali diputar dari lagu pertama hingga lagu terakhir, diramu dengan kadar agresifitas yang pas, menjadi sebuah album mandatory untuk musik cadas secara umum.
4. Framtid- Under The Ashes
Album yang pertama kali membuat saya jatuh cinta dengan skena hardcore jepang.
5. Blasphemy – Fallen Angel of Doom / Conqueror – Warcult Supremacy
Susah memisahkan kedua album ini, seperti satu kesatuan,
merupakan album black metal terbaik dengan agresifitas yang brutal.

Uri:
1. Corrupted – Paso Inferior
2. Bolt Thrower – The IVth Crusade
3. Autopsy – Mental Funeral
4. Disrupt – Unrest
5. Voivod – killing technology

Dimas:
1. Napalm Death – Scum
2. Disrupt – Unrest
3. Disaster – War Cry
4. Dystopia – Dystopia
5. Assuck – Anticapital

Ipul:
1. Sacrilege – Behind The Realms of Madness
UK metal punk legend, karya awal mereka ini membuat saya tidak ragu untuk memulai main drum dengan skill terbatas.
2. Svart Parad – Myteri
Band ini mempunyai style vocal yang cukup berbeda dengan tipikal d-beat pada umumnya.
3. Repulsion – Horrified
Intense dan bersemangat.
4. Gloom – Recommendation of perdition
Raw noise as hell.
5. Autopsy – Mental Funeral
Perpaduan tempo mereka sangat menarik, salah satu acuan saya ketika bermain untuk Masakre.

Mendengar EP 6 lagu kalian, sepertinya banyak influence band-band Jepang juga ya yang mempengaruhi palet warna musik Masakre? Bisa elaborasi sedikit?
Uri: Kami memang banyak mendengarkan dan terinspirasi dari band-band Jepang macam Gauze, SOB, Framtid sampai Corrupted. Ketika membuat materi lagu, Influence band-band Jepang ini akan selalu masuk dalam musik Masakre baik sadar maupun tidak sadar.

Ceritakan tentang proses rekaman EP “Crawling to Perdition” dan proses rekaman rilisan kalian yang berikutnya..
Dimas: ”Crawling to Perdition” dan “Morbid Extinction” kami rekam di studio yang sama yaitu Syaelendra Studio di Rossi Musik, Jakarta. Prosesnya cukup cepat, kami menghabiskan 2 shift untuk tiap EP. Selain materi yang kami buat tidak rumit, kami juga selalu latihan sampai matang sebelum akhirnya mulai merekam materinya di studio, Itu salah satu cara kami untuk menghindari over budget agar bisa memenuhi biaya produksi lainnya.

Lirik-lirik kalian yang bertema sosial-politik seperti band-band death metal dan crust tentunya akan menarik untuk dibahas. Siapa yang biasanya menulis lirik? Inspirasi apa yang kalian dapat dari observasi situasi politik di Indonesia?
Dirga: Lirik Masakre memang banyak terinspirasi dari kematian dan keadaan sosial yang terjadi di sekitar kami. Terutama sistem pemerintahan yang semakin totalitarian, perampasan sumber daya alam / hak asasi manusia dan penetrasi doktrin agama yang dilakukan secara paksa tentunya.

Cover art EP kalian sangat menarik. Siapa yang membuat ilustrasi dan design-nya? Apa ada ilustrator / desainer yang kalian ingin ajak kerjasama untuk rilisan-rilisan selanjutnya?
Ipul: Untuk cover art kami selalu dibantu oleh MFAXII. Seorang illustrator yang sangat piawai dan kami selalu puas dengan karya-karya yang dia buat untuk Masakre. Saat ini kami sedang dalam proses membuat sebuah projek kolaborasi yang mungkin akan rilis dalam waktu dekat.

Untuk EP Morbid Extinction selain MFAXII, kami juga dibantu oleh Sarcofago, illustrator asal Bandung yang juga mempunyai karya-karya yang brutal dan Yossie Thrash Graphic, seorang ilustrator asal Jepang yang kerap membuat ilustrasi untuk beberapa band Jepang seperti S.O.B, Gloom, Tragedy, Ferocious X dan banyak lagi. Beberapa ilustrator yang juga sudah membantu kami adalah Tremor, Necfrost, dan Nassan 072, sebuah kehormatan buat kami bisa bekerja sama dengan mereka semua.

Untuk layout desain kami biasa mengerjakan sendiri, kebetulan beberapa orang member kami bekerja sebagai desainer grafis dan itu cukup membantu.

5 Cover art album metal favorit masing-masing personil apa saja?
Uri:
Slayer – South of heaven
Aldebaran – Buried Beneath Aeons
Voivod – Rrröööaaarrr
Napalm Death – Scum
Teitanblood – Seven Chalices

Dirga:
1. Mercyful Fate – Melissa
2. Blasphemy – Fallen Angel of Doom
3. Vomitchapel- Damnatio ad Bestias
4. Wrathprayer – Sun of Moloch
5. Slayer – South of Heaven

Dimas:
Megadeth – Peace Sells..but Who’s Buying?
Cannibal Corpse – Butchered at Birth
Sepultura – Beneath The Remains
Slayer – Reign in Blood
Brutal Truth – Extreme Conditions Demand Extreme Responses

Ipul:
1. Invidious – In death
2. S.O.B (di Napalm Death/S.O.B Split)
3. G.I.S.M – Detestation
4. Black Curse – Endless Wound
5. Repulsion – Slaughter of the innocent

Sebagai orang-orang yang cukup lama berada di scene, sulitkah untuk beradaptasi untuk merilis musik di era Spotify dan panggung virtual seperti sekarang?
Ipul: Kami terus belajar dari teman-teman baru dan juga lama yang selalu konsisten ada di scene ini tentang berbagai macam hal-hal baru, banyak ide-ide menarik yang bisa dijadikan alternatif untuk menyebarkan musik dan melakukan promosi saat ini, dan semuanya sangat bagus. Tapi kami juga punya ide/konsep yang kami sepakati ketika membuat band ini.

Spotify menurut saya adalah sarana yang baik untuk bisa menyebarkan musik dengan cepat. Untuk panggung virtual, sebetulnya dalam kondisi normal saja kami mungkin satu band yang cukup jarang main live apalagi di kondisi pandemi seperti ini, beberapa dari kami memang sangat sibuk dengan aktifitas kerja dan keluarga. Jadi untuk saat ini kami lebih tertarik untuk melakukan proses membuat karya dan produksi rekaman dibanding live.

5 album independen lokal klasik favorit kalian?
Dirga:
1. Forgotten – Obsesi Mati.
Menjadi suatu katarsis saat pertama kali mendengarkan album ini ketika berumur 14 tahun tumbuh di lingkungan beragama yang konservatif.
2. Peace or Annihilation – Another Dis-nightmare Still Continue.
Termasuk album yang membuat saya pertamakali jatuh cinta dengan d-beat,“kami dengan apa adanya” tetap menjadi anthem di toplist personal saya.
3. Domestik Doktrin – Manufakturing Karma
Tema lagu yang cerdas dipadukan dengan sample-sample yang menarik.
4. Allnationdeath – Neo Imperialism. Singkat dan padat!
5. Extreme Decay – Sampah Dunia Ketiga. Album grind terbaik pada era nya.

Uri:
1. Homicide – Godzkilla Necronometry EP
2. Jeruji – Lawan
3. Seringai – high octane rock EP
4. Eternal Madness – Bongkar batas
5. Zoo – Trilogi Peradaban

Ipul:
1. Thinking Straight – Positive Crew
Era dimana saya mulai datang ke show hardcore dan menjadi straight edge.
2. Domestik Doktrin – Manufakturing Karma(dan semua band di Bandung lautan hardcore kompilasi).
Saya besar di mana thrash core mulai mendominasi skena dan Domestik Doktrin menjadi jembatan untuk kuping saya bisa mendengar berbagai jenis musik ekstrim lainnya.
3. Mortal Kombat – Hello?! Fukk You! Thank You!
Band ini mempunyai karakter yang berbeda di era bandana thrash merebak disini, saya mulai mendengarkan band-band seperti gauze, systematic death, dan berbagai varian Japanese hardcore lainnya berkat mereka.
4. Hellowar – S/T
Salah satu band yang menjadi penunjuk jalan untuk saya mulai mendengarkan band-band metal punk dan berbagai macam variannya, awalnya saya berpikir itu dua hal yang tak mungkin bisa bersatu haha.
5. Puppen – MK II
Salah satu kaset yang berusaha saya beli diawal saya mengenal skena underground lokal, saya ingat waktu itu saya harus menabung untuk bisa pesan kaset ini dan kaos Puppen, mengirim uang lewat amplop yang dilapisi kertas karbon untuk mengelabui pihak pos. Sialnya barangnya tidak dikirim-kirim sampai waktu yang cukup lama, sampai akhirnya saya meminta bapak saya menelpon distronya untuk menanyakan barangnya, dan tak beberapa lama dari kejadian itu saya menerima barangnya.

Dimas:
1. Extreme Decay – Sampah Dunia Ketiga Pertama kali datang ke gigs di kota kelahiran saya, Malang. Saya langsung suka sama band ini, karena menurut saya sangat beda dari band yang lain, lalu saya mencari rilisan album mereka dan mendapatkan album ini.
2. Savor Of Filth – Bersatu
Salah satu band hardcore yang membawa warna baru dikala itu jenuh-jenuhnya dengerin metal hardcore.
3. Bunga Hitam – Untukmu
Lagu-lagunya dibuat ngamen era awal 2000an.
4. Breath Of Despair – Revive From Bridle Band hardcore pertama yang saya dengar di Malang, sampe sekarang mereka adalah legenda hidup skena hardcore kota Malang.
5. No Man’s Land – Grow Away From The Society
Ketika masih SMP kelas satu, saya dateng ke distro di Malang, dan tanya ke yang jaga, “Mas band underground yang cocok buat saya dengerin apa ya?” tiba-tiba yang jaga kasih saya album ini, sampe sekarang masih tersimpan album ini.

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Rewinda Omar

Untuk menandai rilisnya kolaborasi antara Poison Street dan Avhath, Poison Street menggelar launching party Repent In Pain pada hari Sabtu(08/1) di Basement hotel De Braga by Artotel yang terletak di kawasan Jalan Braga Bandung. Kolaborasi antara brand asal Bandung dan band asal Jakarta ini menghadirkan sepatu all black and red mid height vulcanized dengan bentuk yang terinspirasi dari nostalgia sepatu dari Satan Heir’s.

Dikarenakan Repent The Pain diadakan di malam minggu dan bertempat di daerah wisata kota Bandung, sedikit agak susah untuk mencari parkir. Tapi, sedikit kesusahan itu langsung hilang seketika ketika melihat penampilan penuh energi dari band hardcore punk Haramarah yang didaulat menjadi pembuka hajatan Poison Street dan Avhath ini. Selanjutnya ada Blackhawk. Banyak yang penasaran melihat Blackhawk secara live. Karena, band grindcore yang baru saja merilis debut album bertajuk “Decomposing Rotting Flesh”. Lalu ada band hardcore dari Bandung yang sedang naik daun yaitu Bleach.

Setelah Bleach, penonton yang hadir di Basement De Braga Hotel seakan diajak beristirahat sejenak dengan menyaksikan band post metal asal Jakarta, Amerta. Malam itu merupakan penampilan pertama Amerta di Bandung dan mereka menutup setnya dengan lagu Knife Party dari Deftones yang sontak menghadirkan sing along “go get your knife, go get your knife”. Berikutnya giliran Sacred Witch yang membuat kegaduhan dengan riff guitar dan drum yang cepat ala crusty d-beat. Hampir sama dengan Amerta, malam itu merupakan penampilan pertama Sacred Witch dengan formasi yang baru. Ridlo sebagai vokalis sempat menarik perhatian dengan aksi panggungnya, seperti yang sering dilakukan oleh Eugene Robinson dari Oxbow ketika di atas panggung.

Setelah Sacred Witch, nuansa warna merah mendominasi di dalam venue menandakan saatnya Avhath tampil. Tidak tanggung-tanggung, Ekrig dkk membawakan lebih dari sepuluh lagu pada malam itu. Tentu saja termasuk lagu Felo De Se/Hallowed Ground yang membuat Avhath menyabet Ami Award untuk kategori Best Metal Production pada tahun 2021 lalu. Bukan hanya itu ada juga kejutan dari set Avhath saat interlude penggantian lagu ada penampilan seorang pria yang memainkan saxophone tenor di atas panggung. Avhath merupakan salah satu band yang harus kamu saksikan secara live. Untuk menutup Repent The Pain release party kolaborasi Poison Street ada Xin Lie yang dilanjut oleh Bagvs di deck dj.

Words by Firman Oktaviawan
Photos: Alfifisrifan
Mungkin kalian sering melihat pria berkacamata ini di gigs-gigs hardcore, coffeeshop, rave party sampai lookbook fashion brand-brand lokal. Ya, Michael adalah bassist yang kemudian menjadi vokalis utama Bleach, unit hardcore dari Bandung yang sedang hangat-hangatnya malang melintang di gigs-gigs independen dan playlist Spotify para penggemar Knocked Loose sampai Turnstile. Mari berbincang dengan Michael mengenai Scene hardcore di kota Palu, dandanan Brockhampton, Rasisme dan monopoli Adele di industri vinyl…

“Ya style hardcore tuh ga harus hitam-hitam, jadi ya jadi diri sendiri aja.. Aku pas liat dokumenter-dokumenter hardcore luar, style-nya malah lebih aneh-aneh lagi sih. Ya sebenernya hardcore itu ga membatasi setelan. Yang penting.. Ya keren aja udah hahaha!”

 

Halo Michael! Gimana kabarnya Bleach? Denger-denger Bleach mau rilis split EP ya dengan Couch Club?
Aman-aman aja mas… Kalau dalam waktu deket ini sih kita bakal ngeluarin split EP sama Couch Club. Dari tanggal 3 kemarin udah rilis versi kasetnya oleh Lamunai Records. Keluar pas di USS soalnya ada kolab juga sama brand Vicious Pain. Ntar digital-nya keluar tanggal 10 di semua platform. Gitu mas..

 

Gimana awalnya kepikiran bikin split sama Couch Club yang cukup berbeda genre-nya dengan Bleach?
Awalnya tuh dari obrolan-obrolan santai gitu dulu. Soalnya anak-anak emang temenan ama si Vai Couch Club. Eh kayaknya lucu nih kalau Bleach bikin split sama Couch Club soalnya genre-nya beda banget. Nah, taunya pas si Vai nanya ke anak-anak Couch Club-nya pada mau juga. Jadi yaudah deh bikin. Istilahnya sekarang buat cross-market lah.

 

Photo by @weedasara
Photo by @weedasara

 

Kalau lagu tuh emang Bleach udah ada, dan si Couch Club juga udah ada lagu-lagunya. Cuma ada 1 lagu transisi yang bareng-bareng gitu lah. Total ada 5 lagu. Di lagu transisi itu si Bleach-nya juga agak jazzy-jazzy instrumental gitu. Ada vokalnya dikit.

 

Ngomong-ngomong soal vokal, lo kan dulu maen bass di Bleach. Gimana ceritanya pindah dari bassist ke vokalis?
Sebenernya tuh gue ga pernah vokalin band-band hardcore dan scream gitu mas. Di Grain juga gue cuma nyanyi-nyanyi biasa aja. Cuma kemaren karena ada beberapa masalah sama vokalis Bleach yang dulu, kita harus ambil sikap aja sih. Dia udah engga di Bleach sekarang dan ada kekosongan vokalis. Kevin gitaris gue ngomong kenapa ga gue aja yang jadi vokalis, soalnya kalau cari frontman baru lebih susah daripada mencari pemain bass. Coba aja dulu kata Kevin. Soalnya gue soalnya pernah juga scream di beberapa part lagu Bleach sebelumnya, walaupun dikit doang. Pas dicoba recording ternyata masuk juga.

 

Buat lo sendiri lebih fun menjadi vokalis atau bassist?
Buat gue sendiri sih sebenernya dua-duanya fun. Cuma vokal lebih cape aja mas hahaha. Tiap abis perform gue eungap dan suara gue abis hehe.. Kalau performance Bass lebih asik sih..

 

Lalu bagaimana dengan proyek alt-rock lo yang Grainn?
Ini awalnya dari obrolan juga sama si Krisna (gitaris Grainn dan Bleach). Dulu tuh masih sering nongkrong di Mimiti kan. Dulu kan lagi sering dengerin Teenage Wrist, dan gue juga lagi doyan sama alt-rock gitu sama Balance and Composure. Gue dites jadi vokalis ternyata masuk tuh. Cuma sekarang band ini lagi rehat dulu lah, dan lebih fokus ke Bleach. Dulu malah awalnya Bleach yang proyekan, malah sekarang kebalik hahaha. Grain itu bertiga gue, Kevin ama Krisna. Sekarang semua di Bleach. Kalau drummer ganti-ganti additional…

 

Gue liat si Bleach dari typeface, cover art dan merch seperti sudah terkonsep dengan senada dari awal. Itu siapa aja ngerjain?
Kalau EP kita tuh iseng-iseng doang dan kita minta foto ke temen, minta izin. EP itu gak terlalu serius menggarapnya. Kaya buat fun-fun doang. Pake foto temen, tempelin logo Bleach dan parental advisory hahaha. Lalu beres EP kok jadi serius nih band? Yaudah gue ama Kevin mulai nge-direct visualnya si Bleach.

 

Kalau logo EP yang bikin si Keniro gitaris Prejudize. Kalau font baru kita yang chrome itu temen gue si Elan yang bikin, anak Palu juga. Kalau kover Treat the Disease itu dibuat oleh mas Lambang. Waktu main ke tempat dia ditanya Bleach mau bikin apa nih? Sini gue bikinin aja single-nya. Karena dia suka dibikinin deh itu kovernya. Gratis lagi. Makasih mas Lambang…

“Rasisme ini udah jadi kaya penyakit aja di dunia ini. Jadi “Treat the Disease” Ini tentang bagaimana kita menyikapi segala perbuatan racism, sexism, dan semua abusive behaviours gitu. Kita muak lah. Lebih kesitu sih..”

Single Treat the Disease itu tentang apa tema liriknya?
Itu pas gue nulis lagi isu-isu Asian hate lagi hangat-hangatnya. Rasisme ini udah jadi kaya penyakit aja di dunia ini. Jadi “Treat the Disease” Ini tentang bagaimana kita menyikapi segala perbuatan racism, sexism, dan semua abusive behaviours gitu. Kita muak lah. Lebih kesitu sih..

 

Lalu lagu lo yang di Intermezzo; “Domination” dan “Thru Despairs and Confusions” tentang apa?
Kayanya kalau yang “Domination” itu udah jelas mengenai kekalahan kita dengan dominasi-dominasi yang diatas.. Bisa dibilang pemerintah dan lain-lainnya.. Kalau yang “Thru Despairs and Confusions” sih kata anak-anak mah babarudakan gitu lah hahaha. Kita bersama-sama itu melalui segala macam asam garam gitu lah dalam berproses..

 

Bagaimana scene hardcore di Kota asal lo, Palu, sebelum lo pindah ke Bandung?
Scene hardcore disana tuh sebelum gue ke Bandung lagi rame-rame nya malah. Ada beberapa movement-movement gitu kan. Yang jalanin salah satunya yang gue kenal si Frelan itu, yang bikin artwork Bleach. Pas gue ke Bandung tahun 2016 belum into banget ke hardcore. Yaudah dengerin selewat-selewat aja. Lalu mulai digging-digging. Waktu di Palu masih dengerin hardcore/punk kaya Black Flag gitu.
Photo by @onfryhrzn

 

Angkatan gue mungkin mulai terekspos musik hardcore oleh banyaknya gigs-gigs Saparua era ‘90-an dan rilisnya kompilasi keren seperti Masaindahbangetsekalipisan (1997 / Reverse Records) sampai Brain Beverages (1999 / Harder Records). Kalau lo sendiri darimana mulai terekspos oleh musik hardcore?

Dari Palu juga gue udah lumayan fanatis dan menyukai hardcore. Karena banyak band Palu yang mainin hardcore dan grindcore. Pas di Bandung tuh gue udah mulai dateng ke acara-acara. Yang pengen gue bikin band keras tuh yang jelas gara-gara ke Hammersonic nonton Earth Crisis. Kecantol deh bisa ngeliat band hardcore di panggung gede Hammersonic. Pas udah di Bandung baru degh suka band-band kaya Uniform Choice, Earth Crisis dan mulai suka band-band Youth Crew gitu.

Lima album yang membuat lo jatuh cinta sama hardcore apa aja? Apa ada band-band lokal juga yang menginspirasi lo dulu?

1. Trapped Under Ice – Big Kiss Goodnight (2011)
2. Turnstile – Step 2 Rhythm (2013)
3. Youth of Today – Break Down the Walls (1988)
4. Knocked Loose – Laugh Tracks (2016)
5. Angel Du$t – A.D. (2014)
Band-band lokal yang menginspirasi gue sih dulu ya kaya Seringai, Burgerkill, Under 18, dan jaman-jaman Outright.. Kalau di angkatan aku sih udah lumayan banyak sekarang band-band HC. Makanya sekarang harus dibangkitkan lagi nih semangat-semangat HC nya hahaha…

 

Nama Bleach itu lo ambil dari Nirvana atau Brockhampton? Hahaha..
Hahaha itu awalnya gara-gara gue lagi seneng-senengnya dengerin lagunya Brockhampton yang judulnya “Bleach”. Enak juga nih namanya. Orang-orang nyangkanya kan pasti dari Nirvana nih ngambilnya, padahal Brockhampton hahaha..

Nah.. Kalau gue lihat visualnya, para anggota Bleach juga fashion-nya tidak terlihat seperti band hardcore pada umumnya.. Lebih menyerupai apa ya… Mirip Brockhampton gitu ya? Hahaha…

Hahaha iya iya, bener-bener.. Sebenarnya kita dari daily life dan kehidupan sehari-hari juga ya emang udah gini dandanan-nya. Pas dibawa ke band juga kita ga mau jadi orang lain juga kan. Ya ga harus hitam-hitam, jadi ya jadi diri sendiri aja.. Be yourself gitu.. Aku pas liat dokumenter-dokumenter hardcore luar, style-nya malah lebih aneh-aneh lagi sih. Ya sebenernya hardcore itu ga membatasi setelan. Yang penting.. Ya keren aja udah hahaha!
Lalu full album Bleach sudah sampai mana progress-nya?
Udah 80% sih produksinya. Musik udah beres, tinggal isi vokal aja sih. Rekaman tuh di Funhouse dan home recording temen gue, punya si Faris. Drum doang di Funhouse tuh, 2 shift jadi 9 lagu hahaha. Full album ini rencana-nya dirilis Disaster Records, Lamunai dan Oblivion. Three-way release gitu lah. CD udah pasti bikin, kalau vinyl belum tau, paling lihat animo-nya dulu, kalau rame baru kita berani bikin. Soalnya rada mahal produksinya mas.

 

Kalau ga salah, kemaren sempet baca juga artikel Adele memonopoli pabrik-pabrik vinyl sampai tahun 2023 gara-gara dia produksi 500,000 keping vinyl…
Iya di monopoli tuh ama dia hahaha! Makanya itu semua ini gara-gara Adele nih. Jadi kalau mo rilis vinyl kayaknya harus nunggu tahun 2023…
Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Michael’s Archives
Mungkin kalian sering mendengar kata-kata “Salam senja nusantara”, “Stingak Mendongkrak”, “Enjoy the process” sampai hashtag “Menanam melawan kepunahan”. Ya, semua kosakata itu adalah ucapan yang cukup ikonik dari Dudung SP. Pria yang humble, friendly dan ramah ini bisa kamu temukan di kedai kopi “Ipok Aleuh” yang terletak di dataran tinggi Dago Pakar kota Bandung. Pria yang sudah belasan tahun terlibat di industri clothing dan apparel ini juga kini membuat wadah “Sirkus Rimba” yang didasari passionnya terhadap kendaraan roda dua dan motocross. Mari berbincang dengan Dudung SP mengenai petualangan-nya dari menjadi ojek, kenek angkot, shopkeeper Arena, sampai membuat kedai kopi, bertani sayur, menjadi Youtuber di Sirkus Rimba, dan membuat brand apparelnya sendiri…

 

“Ibaratnya pendidikan D3-nya saya dapat di Azis To See dan Themfuck di Blindwear. Lalu S1-nya dapat di Mas Dany (Arena) selama 13 tahun dan S2-nya baru saya bersama oom Dendy (347), Luki (347) dan Eben (Badger). Lepas dari situ saya bisa berkarya sendiri tanpa ketergantungan. Kalau ingin menjadi pemimpin prajurit ya harus jadi prajurit dulu.”

 

Halo Dudung apa kabar?

 

Alhamdulillah mang, lintuh, jagjag waringkas, sehat wal afiat..

 

Bisnis kopi Dudung yang lokasinya terletak di dataran tinggi Bandung tentunya sangat menarik. Bisa ceritakan sedikit mengenai Ipok Aleuh?

 

Kalau berbicara tentang Ipok Aleuh, saya bikin konsep anti mainstream: dimana orang mengikuti peradaban, kalau saya menciptakan peradaban. Dari sebuah nama aja Ipok Aleuh yang berarti “Ngopi Heula” adalah kosakata orang Sunda gitu mang. Berawal dari “Kotor” yaitu kopi motor. Ada satu motor yang ga kepake saya bikin karya pake gerobak motor terus dinamakan Ipok Aleuh. Tempat-nya kenapa menjauhi peradaban? Karena saya memang ingin menciptakan peradaban di hutan rimba. Karena saya terlahir di rimba wawaw Dago Pakar naik ke atas. Wuk wuw..

 

 

Dudung juga punya passion yang tinggi terhadap motor dengan koleksi motor yang antik. Bagaimana awalnya punya ide untuk membikin Sirkus Rimba?

 

Jadi saya balik lagi ke passion awal, yang tadinya saya bergerak di per-distro-an dan clothing-an sama Arena tahun 2000-an. Sekarang balik lagi sebenernya ke passion saya soalnya dulu ngojek di rimba. Passion-nya ngojek dan motor, karena senang motor rimba saya bikin wadah yang namanya Sirkus Rimba. Sirkus itu adalah hiburan atau permainan yang adanya di rimba. Culture roots-nya adalah roda dua yang berbau tanah yaitu motor cross. Motocross-nya pun segmen-nya classic custom, yang mungkin temen-temen sekarang lagi menggeliat momotoran di rimba. Saya mah sejak borojol lahir bermain motor di rimba, begitulah bunyinya..

 

Tentunya setelah bermain di dunia otomotif cukup lama, pasti Dudung memiliki koleksi yang cukup antik. Motor dan mobil favorit mang Dudung yang menjadi wishlist atau sudah menjadi koleksi pribadi apa saja?

 

Saya lebih ke motor mungkin ya mang. Kalau motor saya pengennya kaya semacam:
1. Honda CR250M Elsinore (2-tak)
2. Moto Bultaco XT500 asal Spanyol. Motor klasik yang cukup rare-lah orisinil dari sononya.. XT500 yang saya impikan.
3. Yamaha SR400 yang jadi kenyataan. SR400 saya karyakan dan bikin jadi motor rimba.
4. Honda CRM 50cc yang mungkin cuma ada beberapa di Indonesia.
5. Untuk batu loncatan Saya bikin motor “Si Hiu” dengan karakter sendiri. Terlahir Seumurananak saya, saya bikin 7 tahun yang lalu dan masih ada sampai sekarang.
6. Honda CT, Bebek 70 dan “Siki Nangka” dan lain-lain mah adalah di garasi Sirkus Rimba garage.
7. Kalau mobil yang saya pengen banget dan dulu pernah punya Suzuki Sierra atau Jimny Katana.

 

Saya pengen mengkolaborasikan mobil-mobil ini dengan motor saya. Kolaborasi motor bisa dinaikin ke mobil seperti mobil Camper Van. Dan keliling nusantara bersama keluarga menggunakan mobil dan motor-motor saya.. Begitu bunyi-nya mang..

 

 

Bagaimana awalnya dulu dari nge-gojek lalu mulai bisa kenal skena per-distroan dan sempat berkerja juga di Arena?

 

Jadi bercerita sedikit tentang Arena, saya dulu ngojek anti-mainstream, ya tukang ojek lah di Dago, ngojek ke hutan. Ngojek petani-petani yang turun ke terminal Dago. Kebetulan rumah kakek saya pangkalan angkot Kelapa-Dago. Dan saya ikut jadi kenek Kelapa-Dago sambil berlatih main bola di Uni Karapitan. Karena saya diarahkan bapak saya untuk jadi pemain bola. Jadi gratis dari pangkalan Dago sampai ke Karapitan saya gratis transportasinya.

 

Nah di tengah perjalan dago simpang, karena saya jadi kenek angkot, disitu bayar retribusi yang dulu seribuan. Ternyata yang jaganya itu Themfuck Jeruji dan disebelahnya Themfuck ada brand tahun 2000-an yang namanya Blindwear. Nah disitu saya ketemu Azis Blind to See yang punya motor PS yang jaman dulu orang jarang punya. Karena saya senang bergaul, ingin punya banyak temen dan stay humble to people in the world ke setiap orang hakikatnya. Ternyata disambutlah saya oleh mereka udah jangan ngojek dan jadi kenek, udah disini aja. Saya juga dulu mulai suka dengan fashion seperti topi Flexfit dan baju garuk (tubular tanpa jahitan samping), wah keren gini ya? Mulai dari situ tahun 2000-an saya tau distro dan clothing. Kenapa jualnya lebih mahal karena ada karya didalamnya. Saya diajak Azis untuk jaga toko Blindwear awalnya. Lalu saya diajak Azis ke Batukaras melanglang buana disuruh nyupir segala macem. Azis itu boss pertama saya yang mengenalkan culture per-distro-an.

 

Tahun 2001-2002 toko Arena Experience buka di sebelahnya Blindwear. Yang punya-nya adalah almarhum mas Dany. Itu raja pertama saya, karena selama 13 tahun saya diam di Arena mengenyam pendidikan per-distroan, per-clothingan, per-karya-an. Bukan copy paste ala Parahyangan tapi ini mah memang cita rasa karya distro mulai dari woven, taffeta, bahan 30s dan yang tadinya saya ga tau apa-apa. Saya yang tadinya ga sampai sekolah disinilah alam raya sekolah-ku. Jadi improvisasi sinergi yang hakiki saya dapatkan. Ibaratnya D3-nya saya dapat di Azis dan Themfuck di Blindwear. Lalu S1-nya dapat di Mas Dany (Arena) selama 13 tahun dan S2-nya baru saya bersama oom Dendy (347), Luki (347) dan Eben (Badger) dan lain-lain. Lepas dari situ saya bisa berkarya sendiri tanpa ketergantungan. Kalau ingin menjadi pemimpin prajurit ya harus jadi prajurit dulu. Gimana tatacaranya menjadi prajurit?

 

 

Saya jaga distro juga enjoy the process mang. Tidak langsung menjadi “pelatok” yaitu pelayan toko. Dari mulai jaga counter deposit tas di Arena. Kalau di Azis setahun saya bermain sambil dikenalkan untuk jaga toko. Tapi kalau di arena saya jaga deposit counter dulu “silahkan masuk tasnya dititip..”. Dari situ kepercayaan nomer satu kunci nya, trust. Kalau kita bisa dipercaya disitu orang akan terus mempercayai kita. Disitu almarhummas Dany menaikkan saya menjadi shopkeeper, lalu saya bertanggung jawab mengurus barang import seperti Thrasher, Vans, Dickies. Saya juga yang menjadi marketing alias market everything-nya. Promo ke teman-teman “ada nih sepatu dan
barang  import di Arena..”. Sampai Thrasher Magazine mencantumkan nama brand Arena Bandung Indonesia. Jangkauannya sampai ke arah sana dari yang tadinya saya cuma gojek dan kenek. Sekarang ngurus Thrasher ke bea cukai segala macem.

 

Lalu Dudung juga mulai membuat brand SPTW Toughwear ya pada saat-saat itu?

 

Nah dari pengalaman-pengalaman tersebut saya berdikari, berdiri diatas kaki sendiri. Saya bikin brand SPTW tahun 2009. Brand didalam clothing. Disitu saya mulai bermain sendiri. Ya saya kerja di Arena dan saya punya brand sendiri juga. Alhasil saya punya beberapa pengalaman yang menarik tentunya. Enjoy the process dari ngojek, kenek, jaga counter tas, shopkeeper sampai apparel saya punya, dan sampai bubuk-nya lagi pun saya mengalami karena ada orang yang saya percaya menyia-nyiakan kepercayaan saya. Dan akhirnya ketipu lah saya. Lalu ngahuleng tarik di 2016 awal. Lalu 2017 akhir saya meng-ikhlaskan orang yang nipu tersebut. Hakikatnya ada sesuatu yang kejadian yaitu si gerobak Ipok Aleuh itu. Gimana caranya saya harus survive karena saya berdikari udah ga kerja lagi sama orang. Alhamdullilah sampai sekarang begini bunyinya. Saya berkarya diatas roda dua yang hakikatnya untukmenghibur banyak orang, karena mungkin menghibur banyak orang itu ibadah mang. Ga ada motivasi lain saya mah, hanya untuk menghibur teman-teman saja. Kalau  rejeki sudah ada yang mengatur moal
pahili jeung sendal tarompah..

 

SPTW. Nah itu mungkin sudah tidak menggeliat lagi. Hanya menjadi pendukung aja kalau ada momentum tertentu secara limited edition. Karena sudah redup energi-energi si SP Toughwear ini. Karena saya lagi bikin wadah yang lebih menarik dengan Sirkus rimba ini. SP adalah Sang Penakluk dan TW adalah Tough Wear. Jadi itu cerita tipis-tipis mengenai SPTW 2009-2016 sebelum ditikung dan didustai orang Yogya Bantul heee.. Gitu mang ceritanya.

 

“Almarhum Mas Dany adalah mentor saya yang paling memberikan warna di kehidupan saya sampai sekarang. Dia orang baik. Meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang sampai sekarang masih saya rasakan.”

 

Lalu siapa lagi kawan-kawan yang berpengaruh pada pergerakan mang Dudung?

 

Gebeg (Taring, Extreme Moshpit) berpengaruh di industri pertemanan saya dengan yang teman-teman yang lain. Saya kenal ama Gebeg udah lama juga alhamdulillah sekarang Gebeg juga sudah menjadi bagian dari skena temen-temen per-distroan dan permusikan. Gebeg sangat berpengaruh di pergerakan saya. Themfuck Jeruji juga berpengaruh juga. Azis Blind to See juga. Saya punya hutang budi sama mereka.

 

 

Satu lagi mang…Apalagi dengan yang namanya almarhum Mas Dany… (terdiam lama). Mentor saya yang paling… (terdiam). Yang paling.. memberikan warna di kehidupan saya sampai sekarang. Tapi beliau sudah.. Dia orang baik. Meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang sampai sekarang masih saya rasakan.

 

Kalau kembali membicarakan peradaban, tadi Dudung sempat bilang ingin meninggalkan hiruk-pikuk kota dan lebih mendekati alam. Apakah peradaban sekarang sudah terlalu hiruk pikuk untuk Dudung?

 

Alam memberikan segalanya mang. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Seperti kita menanam kebaikan terhadap seseorang pasti balasannya ada kebaikan juga. Jika berbicara tentang saya menciptakan peradaban di rimba, saya sekarang bercocok tanam, berkebun. Terus jualan kopi juga alhamdulillah jalan. Terpikir juga oleh saya temen-temen kebun itu agar menjadi sedikit lebih sejahtera. Yang tadinya hasil kebun dijual ke tengkulak (bandar) murah. Disini passion nya jadi mahal, karena kita direct dengan karya. Seperti lemon juice yang sekilonya cuma dihargai 6,000 sekarang dijual 30,000 karena saya ngedirect orang kota untuk menghirup padat oksigen di rimba. Sudah terlalu hiruk pikuk di kota, luar biasa dukdek. Dengan kurangnya oksigen, pepohonan yang jarang, cuaca dan banjir. Tapi di rimba ini saya memang ingin menciptakan peradaban, bukan mengikutinya.

 

 

Yang tadinya tukang kebon dihargai murah, mudah-mudahan dengan adanya saya berkarya kembali di habitat asal saya. Dulu saya ngojek nganter-nganter tukang sayur sekarang saya jadi tukang sayurnya. Tapi tukang sayur yang culture mang. Alhamdulillah dari segi nominal hulu ke hilir-nya bisa saya direct ke yang punya kafe-kafe di kota. Sinergi mang, simbiosis mutualisme. Jadi konsep kehidupan di rimba di tahun 2022 nanti ke depan mungkin banyak orang yang akan melakukannya. Sekarang hutan-hutan yang dikelola pemerintah dibuka untuk usaha warga yang ingin berdagang di sana seperti di Cikole. Tapi saya kurang setuju dengan banyaknya investor masuk sehingga mengakibatkan pohon-pohon tidak terjaga malah penumpukan sampah. Kalau disini saya ada edukasinya juga. Edukasi sampah di rimba: jangan buang sampah di rimba. Konten padat digital. Saya bikin kolaborasi dengan Cosmic bikin bak sampah di rimba. Kenapa bak sampah di rimba? Orang yang jogging, hiking, trekking dan bersepeda kadang buang sampah begitu saja. Jadi saya bikin konten padat digital yaitu bak sampah di leuweung untuk mengingatkan juga. Karena menggunakan media sosial seperti instagram dan Youtube semoga sampai edukasinya.

 

 

Selain Sirkus Rimba Cup dan Interview di Youtube Sirkus Rimba, Konten-konten apa yang berikutnya akan ditampilkan Dudung di Sirkus Rimba?

 

Saya mau bikin sirkus Rimba karnaval di 5 kota di Jawa Barat. Salah satu konsepnya adalah humanity charity. Jadi 20% dari sponsor atau keuntungan akan kita bikin mushola atau infrastruktur di sekitaran tempat yang kita tuju. Ada motor yang saya bawa di mobil truk sebagai logistiknya, menggunakan truk Mercedez Unimog yang dikaryakan dulu sebelum pergi. Trus ada kolaborasi makanan dan kolaborasi akan ada di truk tersebut juga. Di setiap daerah akan ada balapan nya dan sharing season seperti kolaborasi sinergi dengan Adi Panungtun 9 Matahari, Ade Habibie, Warpopski, temen-temen di seluruh nusantara akan disinergikan di Sirkus Rimba Karnaval ini mang. Jadi cita-cita 2022 ini udah beres proposalnya. Jadi tinggal share ke temen-teman dan sponsor. Lalu bikin bak sampah rimba juga di event-event tersebut masih bareng Cosmic. Lalu menanam pohon menggunakan hashtag #menanam_adalah_melawan_kepunahan.

 

 

 

 

 

Top 5 kopi paling enak versi mang Dudung?
1. Ipok Aleuh pastinya: Kopi Keclak rasa nangka
2. Seduh Sembuh
3. Kopi Kedai Juru
4. Armor Kopi
5. Kopinya si Ipin,

 

“Sudah terlalu hiruk pikuk kehidupan di kota. Dengan kurangnya oksigen, pepohonan yang jarang dan banjir. Tapi di rimba ini saya memang ingin menciptakan peradaban, bukan mengikutinya.”

 

 

https://www.instagram.com/dudungsp

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Dudung’s Archives
Kalau membicarakan toko merchandise musik di Indonesia, mungkin toko Quickening tidak akan uput dari pembicaraan. Yongki Perdana mulai berjualan dari tahun 2005 dengan sistem PO skala kecil dan mendistribusikan dagangannya dengan sistem “retail on the street”, dimana Yongki bertemu para konsumennya di jalanan. Sekarang di 2021, Quickening sudah memiliki 2 cabang di Jakarta dan di Bandung, dan tidak hanya menjual merchandise musik hardcore/punk saja, Quickening juga menjual merchandise musik genre lain dari ‘90s indie rock sampai kaos-kaos black metal yang cukup obscure. Vinyl records dan CD yang tersedia di Quickening pun sudah terkurasi dengan baik: segmented namun tetap bervariasi. Sebut saja vinyl Turnstile, Teenage Wrist, Yo La Tengo sampai Burzum bisa kalian dapatkan disini.

 

Dengan adanya Quickening Exchange, Yongki juga mulai memasarkan produk di luar merchandise musik: Action Figure Akira, T-shirt film Blade Runner sampai pernak-pernik Studio Ghibli dan Carhartt bisa kamu temukan di tokonya yang berlokasi di daerah Kemang Selatan, Jakarta. Mari berbincang dengan Yongki mengenai kecintaannya pada musik ‘90-an, brutal-nya moshpit era Saparua dan Soto Padang hidden gem favoritnya…


“Awal berdiri Quickening itu sebenernya tahun 2005 tapi belum ada toko dan waktu itu masih sistem pre-order dan cara pendistribusian-nya juga masih “retail on the street” ya gue jualan di jalan atau nganterin barangnya ke temen-temen di lingkaran gue aja di Bandung”

 

Halo Yongki apakabar! Ki, bisa ceritain ga perjalanan si Quickening dari awal sampai sekarang?

 

Halo Aldy alhamdulillah kabar baik nih. Dulu kalo ga salah kita awal-awal ketemu pas lo masih di Ripple ya? Dan gue juga masih inget waktu itu kita masih sering ketemu di Cihapit dan gue waktu itu jual plat, kaos dan CD sama lo. Sebenarnya ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan ketika ada suatu tanya jawab tentang toko atau band…

 

Dulu kan pas awal kita ketemu di Cihapit lo masih belum ada toko dan pakai sistem COD ya? Kalau gak salah tahun 2005-2006 pas gue beli vinyl Telefon Tel Aviv dan kaos Athlete..

 

Awal berdiri Quickening itu sebenernya tahun 2005 tapi belum ada toko dan waktu itu masih sistem pre-order dan cara pendistribusian-nya juga masih “retail on the street” ya gue jualan di jalan atau nganterin barangnya ke temen-temen di lingkaran gue aja di Bandung. Sampe 2007 waktu itu gue kepikiran buka toko karena ada sedikit uangnya untuk sewa di jalan Tamansari.

 

“Musik itu tidak akan pernah mati, cuma trend-nya aja yang ganti.”

 

Nama Quickening udah jelas dari band Vandals. Top 5 records yang ngerubah hidup lo sampe sekarang apa saja?

 

Ini sebenarnya pertanyaan yang agak sulit untuk gue jawab soalnya kalau cuma dipersempit 5, terlalu banyak band yang gue suka. Tapi kalau 5 album yang ngerubah hidup gue sebagai standar anak ‘90-an ya ini:

 

  • Green Day – Dookie (1994)
  • Smashing Pumpkins – Siamese Dream (1993)
  • Youth of Today – We Are Not in This Alone (1988)
  • New Found Glory – S/T (2000)
  • Belle & Sebastian – If You’re Feeling Sinister (1996)

 

Standar lah ga obscure-obscure banget kaya orang-orang lah..

 

Apa pros & cons nya dalam bisnis jual-beli kaos import yang selama ini lo jalankan? Apa pandemi berpengaruh terhadap bisnis lo?

 

Kayanya kalimat tersebut sering dipake belakangan ini ya? Dan gue tidak begitu paham maksudnya apa. Tapi kalau seperti yang lo bilang keuntungan dan kelemahan-nya, keuntungannya yang gue jual itu band merch, records dan pernak-pernik nya. Dan musik itu tidak akan pernah mati, cuma trend-nya aja yang ganti. Bandnya, artist nya sendiri.

 

 

Kelemahannya sih ya itu dia, karena ini bukan produk massal gue ga bisa menjual dalam jumlah yang langsung banyak dan mendapat profit yang begitu besar. Jadi ya Quickening seperti ini aja; Ada progress-nya tapi slow-moving. Efek pandemi ke bisnis gue sebenernya ga begitu mengganggu sih. Justru 2 tahun belakangan penjualan stabil dan membaik. Mungkin karena efek gabut juga ya dari orang-orang, apa aja yang berbentuk hobby ngetrend: bisnis cupang, tanaman, mancing, camping dan sepeda.

 

Lalu darimana lo mengkurasi dan menentukan merch yang lo jual itu band-band apa saja? Agar tetap unik apakah lo hanya menjual band-band yang lo suka dan lo tahu saja?

 

Sebenernya untuk kurasi band-band itu sendiri bukan yang gue suka aja. Awal-awal banget sih dari yang gue suka aja, karena sistem pre-order dan gue ngumpulin orang. Tahun 2005 itu gue pengen beli kaos band untuk gue cuma karena faktor ongkir yang mahal kalau ordernya sedikit.

 

Setelah buka toko ada yang namanya kompromi dengan pasar “kira-kira band apa nih yang dicari orang-orang? Band apa aja yang bisa gue jual dan bisa bikin toko gue beda sama yang lain?”. Dari Sanalah gue coba memilah dan mencoba membangun image toko gue agar berkarakter dengan adanya pilihan merchandise yang berbeda dengan toko lain.

 

Lalu lo bikin juga Quickening Exchange dan Quickening Limited yang produk-produknya berbeda dengan merch music yang lo jual pada umumnya. Bisa elaborasi sedikit mengenai itu?

 

Untuk exchange sebenarnya waktu itu 2018 si Quickening Jakarta pindah tempat dan gue nyewa satu ruko. Ada satu lantai kosong. Karena coffee shop sudah terlalu banyak, gue memutuskan untuk membuat Quickening Exchange. Terinspirasi dari toko Village Vanguard di Jepang yang menjual segala macem dari permen, merchandise Studio Ghibli, kaos musik Hi-Standard sampai Carhartt ada. Walaupun ciri khas tokonya ga ada gue bilang itu toko ya keren aja. Alhasil gue kurasi barang-barang-nya karena gue juga suka nonton film dan koleksi mainan yang diluar merchandise musik. Kenapa engga gue bikin toko seperti itu di jakarta?Cuma karena pandemi gue kesulitan mendapatkan source barang-barang-nya. Karena beda beli online dengan mendatangi thrift shop itu sendiri. Jadi sementara gue cuma masukin barang-barang dari HMV.

 

 

Untuk Quickening Limited sendiri gue bikin 5 ato 6 tahun yang lalu tanpa toko. Mostly itu barang-barang pribadi gue yang mostly udah kekecilan atau jarang gue pake. Ada juga beberapa barang yang gue order cuma 1-2 pcs aja dan tidak secara wholesale, jadi ga gue masukin toko karena harga jual-nya akan lebih mahal. Buyer akan mempertanyakan “kenapa ini kaosnya mahal?”. Karena kalau kaosnya cuma ada 1 atau 2 pcs orang mau membelinya walaupun sedikit mahal, tapi kalau dijual dengan quantity tinggi orang-orang akan keberatan untuk membelinya.

 

“Justru 2 tahun belakangan penjualan stabil dan membaik. Mungkin karena efek gabut juga ya dari orang-orang, apa aja yang berbentuk hobby ngetrend: bisnis cupang, tanaman, mancing, camping dan sepeda.”

 

Ada Quickening Bandung dan Jakarta. Apakah kedua toko tersebut memiliki stok yang sama atau berbeda pilihan merchandisenya?

 

Untuk stok barang antara Quickening Jakarta dan Quickening Bandung sebenernya ga ada perbedaan
sih ya. Ada perbedaan sih ya, tapi paling 10%. Hampir sama sih kalau menurut gue.

 

Kalau bernostalgia mengenai konser-konser terbaik yang pernah lo datengin, konser apa saja yang paling berkesan buat lo?

 

  • Saparua tapi lupa nama acaranya apa. Yang main Puppen, Jeruji, Blind to See, Savor of Filth, Dajjal. Dan gue inget ketika Jeruji manggung  gue masuk kedalam lewat pintu samping belakang dan kebawa arus orang yang moshing. Tiba-tiba gue sampe depan panggung karena padatnya arus org yang di moshpit. Itu gokilnya moshpit pada era itu.
  • Era Laga Pub kali ya. Ini era kita dan era lo juga kan? Banyak band-band hardcore, metalcore, screamo, melodic punk dan emo main disana.
  • Mogwai di Dago tea house bandung. Selain Mogwai salah satu band yang gue suka banget, acara itu secara produksi dan lighting emang gila banget.
  • New Found Glory yang kedua kalinya di Jakarta. Pocket camera gue hilang di moshpit dan gue gatau kapan itu dicopetnya.
  • Rancid 2019 kemarin ya sebelum pandemi. Akhirnya kesampean nonton band ini di Tokyo dengan setlist yang begitu panjang. Mungkin sekitar 28 lagu kali ya..
 
Apa lo masih update mengikuti perkembangan band-band hardcore baru?

 

Nu anyar? Sangat mengikuti sih, karena jualan saya disini. Band-band hardcore yang baru-baru menurut gue sangat bagus progressnya. Baik lokal atau band luar sana. Gue lagi demen dengan band-band South Bay atau San Jose hardcore seperti: Gulch, Drain, Sunami dan terakhir ada Scowl ya. Gimana sih bacanya? Yang vokalisnya cewek itu. Dan tentunya Turnstile yang sangat-sangat Hype. Siapa yang ga tau dan ga suka sama Turnstile sekarang?
 

 

Band-band lokal juga sangat banyak yang bagus sekarang seperti yang under the radar Insane dari Depok. Kalau Bandung ada Bleach, terakhir gue suka band Ratrace yang ada di kompilasi Grieve Records. Mereka mainin crossover hardcore.

 

Pertanyaan terakhir: dulu mungkin lo ngerasain susahnya menemukan musik baru di era fan-mail, trading, dan pre-order di jaman warnet. Dan sekarang kita hidup di era yang serba instan dimana musik lebih gampang untuk didapatkan: one click away dengan Spotify atau Youtube. Apa yang seru menurut lo digging musik di jaman pre-Spotify?

 

Jaman baheula teh maneh oge ngarasakeun mereun nya Dy, informasi teh terbatas. Terus rek meuli kaos band oge kajeun aya duit kaos na eweuh. Mun aya parebut jeung batur, teu kabagian manyun hahaha. Seru-nya lagi jaman dulu itu mungkin karena keterbatasan informasi ya kita mendengarkan satu band itu sampai khatam dari lagu pertama sampai habis, sampai pita kasetnya kusut. Dulu gue punya CD Supertouch, band post-hardcore dari Revelation. Sebenernya band itu ga enak cuma karena ga ada lagi yang bisa didengekeun, kapaksa ngadengekeun eta. Lila kalilaan jadi beuki weh. Sedangkan jaman sekarang itu semua serba instan. Jangankan mendengarkan musik, kaya beli kaos aja misalnya gue kepikiran pengen kaos Drug Church dan sold out di websitenya. Nah tinggal cari di Grailed, eBay, Depop. Kalau jaman dulu gue ngulik satu genre kaya misalnya oi atau streetpunk: Antisocial, Blitz sampe dapet kaya Dropkick Murphys dan Flogging Molly. Kalau sekarang kan tinggal ketik di Spotify atau buka Youtube semua-nya udah ada.

 

“Seru-nya lagi jaman dulu itu mungkin karena keterbatasan informasi ya kita mendengarkan satu band itu sampai khatam dari lagu pertama sampai habis, sampai pita kasetnya kusut.”

 

Sebagai keturunan Padang, tentunya lo tau hidden gem kuliner Padang / Minang yang ga banyak orang tau. Bisa sebutin beberapa favorit?

 

  • RM Sepakat di Pasar Mayestik Taman Puring
  • Pincuran 7 di Pasar Blok A Tanah Abang
  • Pak Malin basement Blok M Square. Soto padangnya top!
  • Malah Dicubo di Stasiun Hall Bandung. Karena terakhir gue di Bandung 2013 sebelum ke Jakarta, seinget gue yang top dan ngeunah pisan Malah Dicubo
  • Tentunya Dendeng Batokok Dago, Bandung.
  • Sate Padang Sutan Ali Kramat Jati
  • Lontong pakis Cililitan
  • Bopet Mini masih masuklah, Padang Surya menurut saya udah agak kurang rasa-nya. 
 
Interviewed by Aldy Kusumah
Photo : Yongki’s Archive
Sukses dengan Normal Normal Vol.1, LisdiaEntertainment dan Microgram kembali sukses menyelenggarakan Normal Normal Vol.2 di Mr Roastman Experience(26/12). Yang menarik, gelaran yang satu ini selalu menyajikan line up yang memiliki warna musik yang berbeda. Dari mulai hip-hop, pop, sampai electronic music hadir di Normal Normal Vol 2.

 

Lisdia dan Microgram mendaulat Whiteskkeleton sebagai pembuka Normal Normal Vol.2. Lagu-lagu yang diputar oleh Clara yang merupakan salah satu personil White Chorus ini menemani sore sambil bercengkrama bersama rekan-rekan indie di Mr. Roastman Experience yang terletak di kawasan Jl Ciumbuleuit. Lalu ada penampilan dari The Sugar Spun, trio alternative rock yang di bulan Oktober lalu merilis album perdana bertajuk A Thousand Tiny Thoughts. Setelah break adzan Maghrib, ada Cito, Belva dan Putt yang tergabung dalam sebuah grup hip-hop bernama Why Me Out mengambil alih stage. Why Me Out sempat membawakan lagu “Self Control” dari Frank Ocean dan menutup set mereka dengan lagu “Summer Dream”.

 

 

Setelah Why Me Out, terlihat pria-pria berambut gondrong dan berbaju hitam merangsek ke depan stage untuk melihat penampilan dari Lizzie yang pada malam itu membawakan tiga materi lagu baru yang “belum tau kapan akan rilisnya”, ujar Izma. Berikutnya ada Polyester Embassy yang menjadi salah satu band yang ditunggu-tunggu penampilan live-nya. Elang dkk membawakan lagu-lagu baru Polyester Embassy dan juga beberapa lagu dari album Tragicomedy, Fake Faker dan Since Tomorrow yang membuat banyak yang hadir pada malam itu untuk bernyanyi bersama. Lampu di area stage Normal Normal Vol.2 di Mr Roastman dimatikan untuk menandai akan tampilnya trio Electronic Body Music asal Bandung, Asylum Uniform. Danu, Adit dan Toni dibantu oleh Rambo dengan modularnya untuk menambah suara-suara yang keluar dari Asylum Uniform. Sebagai penutup kembali ada Whiteskkeleton, berbeda dengan penampilannya di awal, untuk penutup Clara memainkan set dengan memainkan roland 404.

 

 

Normal Normal Vol.2 berjalan lancar tanpa kendala dan meninggalkan senyum di semua penikmat musik dengan berbagai warna yang hadir di Mr Roastman Experience, Sejenak melupakan kalo keesokan harinya harus kembali melakukan rutinitas di hari Senin.

 

Words by Firman Oktaviawan
Photo by: Sunday Creative Lab