Pada tahun 2021 lalu, Avhath merilis FELO DE SE/ HALLOWED GROUND dalam bentuk digital. Dan mendapatkan AMI Award untuk kategori Karya Produksi Metal Terbaik. Bukan Avhath kalau merilis sesuatu tuh biasa aja. Nah, Di awal tahun ini, 5 piece metal/hardcore dari Jakarta ini merilis tiga lagu covers version dari Dua Lipa dalam bentuk live session. Bootleg Culture bisa dibilang menjadi konsep dasar dari versi “kemas ulang” tiga lagu dari Dua Lipa. “Kalau merchandise artis pop bisa di approach menggunakan metal inspired, lagu harusnya bisa juga kali ya?” tambah Satan’s Heir, vokalis dari Avhath.

Tiga lagu yang dipilih Avhath untuk di “kemas ulang” merupakan hits-hits dari album Future Nostalgia yaitu Cool, Levitating dan Dont Start Now. Mengutip dari press release yang Jeurnals terima, tidak ada alasan khusus untuk pemilihan tiga lagu tersebut, cuman ketiga lagu itu merupakan peronal favorit dari personil personil Avhath. Avhath covers Dua Lipa ini juga merupakan bentuk respect Avhath untuk dua dunia yang berbeda, yaitu pop dan metal. Untuk aransemen lagunya, Avhath kembali melibatkan Alyuadi Febryansyah dari Heals sebagai produser, yang sebelumnya menjadi produser juga di FELO DE SE/HALLOWED GROUND. Alyuadi juga mengisi bass untuk live session Avhath covers Dua Lipa dikarenakan Indra sedang berhalangan untuk hadir.

Cool, Levitating dan Don’t Start Now versi Avhath ini tidak akan tersedia di seluruh layanan musik streaming, hanya akan ada di kanal youtube Avhath dalam bentuk video live performances. Kalau untuk urusan video live performance, Avhath menggunakan teknik one-take-long-shot dengan dominasi warna merah yang menjadi ciri khas mereka dan juga mempercayakan Arief Wahyudi (@simpletapiplain) sebagai sutradara. Arief sendiri bukanlah orang baru bagi Avhath, Arief sering menjadi photographer atau videographer Avhath ketika manggung.

Video live performance Avhath Covers Dua Lipa sudah bisa disaksikan mulai tanggal 7 Maret 2022 di kanal YouTube Avhath Rites. Kalau kamu pengen tau lebih lanjut mengenai Avhath, simak interview Jeurnals dengan Avhath.


Photos by Dimas Asmoro (@low.framerate)

Bingung nyari tempat untuk WFH dikala internet rumahmu bermasalah? Atau bosan dengan bekerja terus di rumah? Jeurnals kasih rekomendasi tempat yang cocok untuk bekerja sambil bersenda gurau bersama teman-teman, yaitu CO&CO Hub yang terletak di kawasan Jl Dipati Ukur No 33, Bandung. Kalau bingung, patokannya deket banget sama UNPAD Dipati Ukur.

Di akhir tahun 2021, tepatnya 17 Desember 2021, CO&CO Space memperluas ekspansi jaringan wilayah dengan membuka cabang kantor baru. Dengan luas bangunan lebih besar dari CO&CO lainnya ini memiliki berbagai fasilitas dan Iservices yakni, Coworking Space, Office Space, Meeting Room, Event Hall, Makerspace, Content Studio, Fashion Retail Spaces, Food Stalls, dan Coffee Shop dimana dengan banyaknya ruang yang luas dan bervariasi dapat menjadi tempat hangout sambil bekerja.

Taruk adalah salah satu band yang aktif berkarya di masa pandemi ini. Kamu pasti sering melihat fonts Taruk dengan typeface-nya yang khas itu mewarnai flyers-flyers gigs lokal. Live set mereka selalu dipenuhi moshpit yang penuh dengan keringat dan canda tawa. Dibalik tema-tema lirik yang gelap, justru Taruk mengajak kalian untuk live life to the fullest dan berdansa dengan kawan-kawanmu di sela canda tawa live set mereka, yang cenderung fun. Mari berbincang lebih dalam dengan para personil Taruk..

“Dari letusan gunung berapi akan terbentuk tanah yang subur. Disrupsi yang terjadi selama pandemi, baik itu di 2020 maupun 2021 diibaratkan gunung berapi yang meletus.“

Halo Taruk! Bisa perkenalkan dulu masing-masing personil dan aktivitas kalian diluar band?
BOBBY: Halo! Saya Bobby sebagai gitaris. Aktivitas di luar band adalah bekerja sebagai content editor di sebuah startup properti, penulis lepas, sekarang lagi membangun kembali media musik lama saya (Surnalisme), main game, sisanya WFH di rumah sama istri.

BOY: Halo. Saya Muhammad Zulyadri, biasa dipanggil ‘Boy’. Saya memegang posisi pemain bass. Aktivitas di luar band: setelah menjalankan usaha yang dirintis sendiri (dan bersama teman) sepanjang 2019-2021, sekarang sedang dalam perjalanan “banting setir” menjadi pekerja kantoran (baca: mencari pekerjaan lagi).

KAREL: Halo nama saya Karel. Saya kebetulan memegang departemen vokal di Taruk. Daily activities saya adalah sebagai kepala barista di salah satu warung kopi di kota Bandung. Selain itu pun saya juga sebagai penulis lepas, membuka jasa rilis pers bagi band-band dan penyiar di salah satu program radio Extreme Moshpit.

ADUL: Saya M.Matin Mahran atau biasa di panggil ‘Adul’. Posisi saya di Taruk main drum. Tidak hanya di Taruk, saya juga bergabung dengan band Grindcore asal Bandung ‘Crackdown’. Di situ saya memainkan instrumen Bass. Aktivitas diluar bermain musik saya juga bekerja di salah satu Clothing lokal Bandung.

2021 mungkin tahun yang sangat buruk, tapi karena banyak yang WFH, karantina dan omong-kosong lainnya, malah bermunculan album-album keren dan semakin produktif nya para seniman/musisi. Bagaimana pendapat kalian mengenai itu?
BOBBY: Karena aksesnya serba terbatas, bisa jadi musisi memiliki banyak waktu untuk ‘berdua’ dengan pikirannya. Alhasil kesunyian tersebut berbuah karya.

BOY: Dari letusan gunung berapi akan terbentuk tanah yang subur. Disrupsi yang terjadi selama pandemi, baik itu di 2020 maupun 2021 diibaratkan gunung berapi yang meletus. Album-album yang keren adalah tumbuhan yang tumbuh subur di tanah bekas letusannya. Intinya: selalu ada sesuatu yang baik dari setiap kejadian. Kita nikmati saja yang baik-baiknya.

KAREL: 2021 adalah tahun terbaik bagi musisi yang gatal membuat karya. Karena situasinya cukup depressed pasti ya, membuat orang-orang menelurkan ide brilian dan tak biasa. Secara komposisi dan produksi, banyak yang tak terduga memiliki kualitas yang hebat, menurut saya.

ADUL: Dikarenakan adanya WFH mungkin banyak musisi/seniman yang bermunculan ide-ide kreatif yang membuat mereka tetap produktif untuk membuat karya.

Lalu apa saja 5 album rekomendasi kalian masing-masing yang kalian repeat di playlist selama 2021?
LUAR
1. Converge – Bloodmoon: I (Bobby)
2. Sgàile – Ideals & Morality (Debut album dari one-man progressive metal band asal Scotland. Asli keren banget!) (Boy)
3. Enforced – Kill Grid (Adul)
4. SPY – Habitual Offender (Karel)
5. Fiddlehead – Between The Richness (Karel)

LOKAL
1. Muchos Libre – Rock Datang Bulan (Bobby)
2. Mesin Tempur – Serem (Boy)
3. Milledenials – 5 Stages of Doom Romance (Karel)
4. The Brandals – Era Agressor (Adul)
5. Wanderlust – A Glimpse to Death (Karel)

“Bara Dalam Lebam” sendiri jauh dari musik hardcore atau metal tradisional karena ada juga elemen-elemen rock n roll, blackened, speed-metal, punk bahkan surf di lagu “Bertanduk Malam”.

Masing-masing bisa elaborasi sedikit mengenai konsep album ini dan referensi musikal dibaliknya?
BOBBY: Konsep album ini memang eksploratif secara musik, dalam artian benar-benar mencoba segala hal karena value yang kita usung adalah tentang perjalanan hidup. Referensi pribadi saya Converge, Dissection, Black Breath. Lagu “Bertanduk Malam” itu terinspirasi Christian Death dan ingin ngejar post punk, tapi gara-gara lagi gandrung Los Saicos juga pada saat itu, jadi keblinger ini teh post punk apa surf hahaha.

BOY: Referensi pribadi saya berkutat di sekitaran Metalcore seperti While She Sleeps, Of Mice & Men, dan Bad Omens. Mungkin itu yang membuat album ini terdengar eksploratif karena masing-masing band tadi adalah band yang baru-baru ini muncul, jauh dari metal tradisional, dan memang sudah eksploratif dari sananya. Mungkin itulah yang meng-influence saya untuk bertindak eksploratif juga, atau kalau saya lebih suka menyebutnya bertindak ‘naluriah’ dalam mengisi album ini.

KAREL: Di album BDL sendiri ketika proses kreatifnya, kami banyak mengeksplor sound berbeda di style sebelumnya yang sangat Swedish hardcore seperti DS-13. Ketika itu kami lebih banyak mendengarkan oldschool death metal seperti Obituary atau Entombed dan blackened death metal seperti album pertamanya Darkthrone, ‘Soulside Journey’. Dengan gaya vokal saya yang banyak mengambil kurang lebih seperti band-band macam Black Breath, All Pigs Must Die hingga Cursed.

ADUL: Lagu-lagu di album ‘Bara dalam Lebam’ ini mungkin banyak merespon keadaan suasana sekitar dan perjalanan hidup. Karena referensi di masing-masing personil beda-beda jadi kita menggabungkan apa yg kita dengarkan dan kita suka. Referensi saya ketika sedang mengerjakan Album saat itu Dissection, Palm, Bolt Thrower, Downfall of gaia, Mötley Crüe hingga Marilyn Manson.

“Selipan catchy didapatkan ketika saya dan Boy yang dasarnya suka emo atau post hardcore mendengarkan album-album awal dari Thursday dan Funeral For a Friend bahkan saya dan Bobby menyukai hook-hook dari Quicksand dan Jimmy Eat World pastinya. Hahaha.”

Diluar semua peleburan genre berbeda tersebut, racikan musik kalian tetap terdengar catchy dan akan mengundang pendengar untuk berdansa. Menurut kalian, apakah preferensi kalian pribadi lebih menyukai musik-musik yang catchy seperti Kvelertak atau malah yang sulit dicerna seperti Godspeed! You Black Emperor misalnya? Atau keduanya?
BOBBY: Catchy ada, yang ribetnya ada. Misal yang catchy kayak Converge – All We Love We Live Behind terus Dissection album tahun 1995. Ada juga yang susah dicerna (lebih ke karena lagu-lagunya panjang aja kali ya) kayak Bathuska atau Fall of Efrafa. Selebihnya selalu bawa preferensi musik pribadi yang ga pernah hilang, The Who.

BOY: Kalau saya berdiri di sisi “lebih sering dengerin yang catchy” hehe. Seperti yang saya sebutkan tadi, saya suka While She Sleeps, Of Mice & Men, dan Bad Omens yang menurut saya semuanya terbilang catchy. Saya dengerin yang ribetnya kadang-kadang aja, misalnya apa ya, mungkin Eighteen Visions atau From Ashes Rise.

KAREL: Yep, kadang selipan catchy didapatkan ketika saya dan Boy yang dasarnya suka emo atau post hardcore mendengarkan album-album awal dari Thursday dan Funeral For a Friend bahkan saya dan Bobby menyukai hook-hook dari Quicksand dan Jimmy Eat World pastinya. Hahaha. Ada part yang cocok untuk diselipkan di beberapa materi Bara Dalam Lebam sendiri.

Ngomongin soal artwork, sepertinya dari EP “Sumpal” sampai “Bara Dalam Lebam” benang merahnya sudah ada. Bagaimana proses konsep kedua ilustrasi kover tersebut dan cerita dibalik pemilihan ilustratornya?
BOBBY: Kalau buat EP, awalnya karena Gama Dwisetya, salah satu teman kita, dia bikin artwork gambar tiga sosok bertudung yang kemudian kita bikin jadi kaos. Kemudian kita sekalian minta dia bikin cover EP deh. Karena nama EP Sumpal sih karena namanya “Sumpal”, jadi gambarnya mulut disumpal.

Nah, berbicara soal tiga sosok yang digambar Gama, kita terinspirasi buat membawa tiga sosok tersebut ke artwork album. Nah, artwork album pertama dibuat Indra “Morgg” Wirawan karena saya dan Karel selalu berandai-andai bisa digambarkan oleh beliau yang sudah berpengalaman. Lagian Rajasinga juga favorit kami, jadi kita dapet dua benefit: digambarin artwork album sama musisi favorit hahaha.

Soal tiga sosok ini, saya pribadi menganalogikan tiga sosok tersebut sebagai antitesis dari tiga dewi takdir dalam mitologi Yunani. Di album, ceritanya tiga sosok tersebut membakar patung berhala sebagai penggambaran menghancurkan dogma, rezim, anggapan lama, atau apapun itu. Intinya tiga sosok tersebut hadir untuk melawan takdir dan menentang prinsip kerja alam.
Mungkin nanti album kedua bakal bawa tiga sosok ini lagi, tapi inginnya dikonsep lebih kalem dan reflektif, nggak ada api-apinya kayak album pertama.

Album kalian dirilis oleh Grimloc Records. Apa yang memutuskan kalian untuk merilis dan berkerja-sama dengan Grimloc pada awalnya? Apa saja rilisan-rilisan Grimloc favorit kalian?
BOBBY: Karena kalau saya pribadi suka dengan Grimloc baik dari segi pergerakan, band, konsep, dan sebagainnya. Rilisan favorit juga hampir semua, terutama Ayperos, Bars of Death, Forgotten, dan Krowbar. Rilisan ulang Hark kemarin juga gila sih, langsung beli hehehe.

KAREL: Tidak bisa berbicara jelek. Semua rilisannya bagus-bagus dan intelek isiannya. Benar adanya, seperti membayangkan Dischord Records atau Alternative Tentacles buka ‘cabang’ atau distrik di Bandung hehehe. Rilisan favorit Grimloc saya sejauh ini, yakni Kompilasi ‘Memobilisasi kemuakan’, Krowbar, MV x Doyz, Ametis, Ayperos, Rounder dan remastered ‘Dorr Darr Gelap Communique’ milik Hark Its Crawling Tar-tar yang menjadi heavy rotation hingga saat ini. Paling menanti adalah reissue Balcony dan Full of Hate.

Di file dokumen mengenai lirik yang kalian kirimkan, gue baca mayoritas lirik ditulis oleh BAP dan ada juga oleh ADL. Siapa yang menulis lirik-lirik di album ini? Sejak EP Sumpal kalian juga sudah membuat lagu berbahasa Indonesia. Apa saja kesulitan yang kalian temui dalam menulis lirik Indonesia?
BOBBY: BAP kebetulan saya sendiri, jadi saya sebagian besar penulis liriknya. ADL itu Adul (drummer), dia nulis fondasi utama lirik lagu “Hilang”. Kenapa memilih bahasa Indonesia, karena saya terobsesi bikin lirik yang epik dan megah kayak syair melayu klasik zaman dulu. Kalau kesulitan cenderung nggak ada, lebih ke memerhatikan EYD dan KBBI aja supaya nggak salah tulis.

Beberapa rencana Taruk yang masih tertunda dan belum terealisasikan?
BOBBY: Bikin showcase album, tur luar kota, dan lebih mengaktifkan konten Taruk di ranah video semisal YouTube atau reels.

KAREL: Showcase spesial, membuat rilisan split dengan sahabat kami. Tunggu saja kabarnya. Semoga semesta mendukung.

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Taruk’s Archive (Fahmi Ramdhani, Meilda Amdza, & @.z011)

Satria NB atau Iyo, memiliki banyak aktivitas: founder majalah Ripple, vokalis Pure Saturday (dulu sempat jadi manager nya), Bassist Teenage Death Star, sampai mendirikan brand outdoor water sports yang bernama Indian Summer. Wawancara dilakukan di depan toko Indian Summer yang berlokasi di Hallway Space Bandung, ditemani oleh kopi dingin dan lalu-lalang tukang es kiloan. Mari berbincang dengan Iyo mengenai trip mancingnya ke Mongolia, bekerja di agensi, menjadi relawan pandemi bersama Bikers Brotherhood dan Fiersa Besari…

“Gua mah dari dulu ga pernah targetin gua dapet duit dari satu bidang usaha. Dari apa ajalah. Sampe sekarang juga gua ga ngerti, kenapa ada duit masuk. Tiba-tiba dari TDS dan PS ada duit masuk. Dari kantor ada, dari mancing sekalipun gua dapet duit. “

Yo! Kesibukan akhir-akhir ini apa aja?
Standar lah umur lewat 40an mah ngantor, cari duit, ngurus anak.. Masih ngantor di agensi, terus gue buka toko Indian Summer ini di Hallway Space tema nya outdoor watersports lah. Nge band masih sama PS. TDS mah kaya band panggilan aja lah, teuing lah urang teu ngarti haha. Gue bikin makanan seafood (Fisherman’s Paradise) juga sambil pergi mancing..

Indian Summer ini konsep awalnya gimana Yo?
Dari pas jaman Ripple juga gue udah bikin ini sebenernya cuma gue tinggalin lama banget. Terus yaudah gue bikin lagi aja sekarang. Pandemi kan bingung ya mo ngapain selain ngantor. Yaa bikin apa aja lah. Pas awal pandemi kan semua serba ga mungkin. Semua orang juga kaya gitu, tiba-tiba ada yang dipecat dan jadi supir Grab lah. Sama aja gua juga kaya gitu, bikin aja dulu. Gua juga tau ga bakalan langsung jadi, cuma minimal gua gak telat gitu. Gue bikin toko ini pas lagi pandemi.


Pengaruh pandemi ke kehidupan personal dan profesional lo?
Zaman paling aneh sih ini kata gua mah. Pas saat pandemi gua ga ngumpet, justru turun ke lapangan dan jadi relawan bersama komunitas dan klub motor Bikers Brotherhood. Gue sampe datang ke kuburan covid di Cikadut, nge supply alat medis ke rumah sakit. Dan itu intens pisan, alhamdulillah sampai sekarang belum kena covid. Ini sekarang jaman paling aneh sesudah devaluasi (moneter), dimana rutinitas itu serba berubah. Inget pas moneter dulu salah satu pencetus 347 terbentuk. Sebuah fase dimana semua orang muter otak. Kalau dipikirin terus malah makin pusing, gua mah sekarang bodo amat lah. Gua mah dari dulu ga pernah nargetin gua dapet duit dari satu bidang usaha. Dari apa ajalah. Sampe sekarang juga gua ga ngerti, kenapa ada duit masuk. Tiba-tiba dari TDS dan PS ada duit masuk. Dari kantor ada, dari mancing sekalipun gua dapet duit.

Oh yang acara TV mancing itu ya?
Bukan. Kalau yang acara TV udah beres. Ada brand-brand alat mancing yang ngajak gue. Lebih ke ngebiayain gua buat trip mancing, jadi ambassador dan gue ngasih konten aja. Gue pikir ga usah diambil pusing, segala sesuatu pun jaman sekarang bisa jadi duit. PR terberat adalah intensitas dan fokusnya. Gue dari dulu untuk stay di satu bidang usaha susah pisan, walaupun semua yang gua lakuin itu gua lakuin dengan sungguh-sungguh dan itu yang jadi bekas sebenernya.

Kalau ngomongin majalah Ripple, tentunya itu terlahir dari kecintaan lo sama design dan media cetak ya? Bisa elaborasi sedikit?
Gue kuliah seni grafis (di seni rupa), otomatis gue berhubungan dengan seni cetak. Gua suka banget dulu sama majalah; The Face, Raygun, I-D, itu majalah-majalah yang pada jamannya avant-garde semua. Dimana si visual itu konsep banget. Jaman dulu sebelum internet peran dan influence majalah itu sangat signifikan. Sosmed jaman sekarang itu adalah aplikasi dari majalah: foto yang bagus, narasi yang bagus, visual yang bagus, semua output yang itu kan turunan dari majalah. Gue ama Dendy (347) awalnya bikin Ripple itu sebagai media promosi si 347. Gua masuk, gua involved dan akhirnya gua terusin.

Walaupun aplikasi majalahnya sekarang terlihat lebih instan ya..
Ya mungkin kan tawaran nya banyak sekarang, sebelum orang itu pindah ke tawaran lain, misal lagi baca artikel lo malah nge klik ke Tribun Jabar atau Okezone atau naon lah.. Tapi kalau kata gua mah makin kesini yang berbicara tetap kualitas. Ya lo percaya aja sama kualitas (konten) lo sebenernya. Kualitas tuh banyak turunan kan, bagaimana memperkuat apa yang kita buat dan juga mencuri perhatian. Kalau ngomongin yang paling mainstream mah teori Deddy Corbuzier lah.. rujit lah. Kata gua mah dia semuanya full-acting. Buat mencari perhatian dan engagement. Kalau konten yang lagi viral atau engga itu mah konten aja sih itu pilihan, tapi dari act dia itu waduk pisan gitu. Bisa seperti itu cuma ada cara lain. Dan gua percaya dari anak-anak selalu punya cara lain untuk bikin dan menyajikan sesuatu.

Pure Saturday (PS) apa kabarnya nih? Ada materi-materi baru?
Ada sih beberapa materi yang udah siap rekam tinggal take aja. Ada 4-5 lagu mah udah siap. Ada juga yang kolab lagi sama si Rekti (The Sigit, Mooner). Diminta kolab akhirnya bikin lagu ama dia. Judulnya Utopian Dream part 2. Emang dari dulu juga emang jarang ketemu sih sama anak-anak PS. Kalau band lain mungkin bisa sampe makan, nongkrong dan mabok bareng. Di PS mah engga dari dulu juga. Gua bisa deket ama anak-anak PS karena awalnya sekampus ama Adhi dan Ucok (Herry Sutresna) di ITB.

Kalau intensitas bertemu jarang apa engga bikin kendor semangat ngeband?
Entar juga lo.. Eh, Lo ngeband ga?

Baru bikin lagi sih..
Anjing edan, hurung keneh hahaha. Ya kalau gua sih udah lewat fase itu. Jadi kalau misalnya sekarang lebih simple ngobrolnya. Ok bikin album ya, gini gini gini, kapan beres, yaudah kerjain. Jiga gawean sih tapi ga dianggap kerjaan juga. Santai, itu buat acuan ngatur waktu aja. Kadieu-kadieu mah maneh beuki kolot mah urusan na soal ngatur waktu aja. Kalau masalah chemistry mah ntar juga kebentuk sendiri, masalah referensi udah gausah diobrolin lagi. Kalau dulu kan bikin band pengen kaya ini, kaya itu, digging yang lagi rame di luar apa. Sekarang sih nggak. Kalau PS mah udah bagian dari hirup. Anjing. Hahaha. Bikin lagu udah bagian dari alur hidup kita, cuma on-off nya kapan itu ya timing aja. Kalau ada rekaman atau panggung ya tinggal maen, tinggal rekaman.

Udah nyaman dengan formasi sekarang?
Awal-awal bingung lah ga ada dua anak itu (Adhi-Udhi). Dikumahakeun nya. Balik lagi ke nothing to lose aja. Ketika kita bikin album, Lo suka atau ga suka bodo amat.

“Ngeband itu bukan soal skill tapi soal karakter. Karakter gitaris lo, karakter drummer atau bassist lo itu yang jadi mahal sebenarnya.”

 

PS mah kalo kata gua udah ada formulanya sih, perubahan formasi juga masih PS musiknya..
Nggak juga. Touch mah beda. Terus terang gua rindu banget sama touch drum nya si Udhi. Eweuh nu boga siga si eta. Penyakit di band teh itu. Lo mau ngomongin sekelas siapa juga, sebenernya ngeband itu bukan soal skill tapi soal karakter. Karakter gitaris lo, karakter drummer atau bassist lo itu yang jadi mahal sebenarnya. Semoga aja lah ada lagi hidayah nya.. Sekarang mah PS gini aja sa-breh na weh lah. Ga muluk-muluk juga, sok aja jalan.

Dari album pertama sampe sekarang main songwriternya siapa aja sih sebenarnya kalau di PS?
Beda-beda sih. Album 1-2 banyak jamming di Gudang Cokelat. Dan itu teh chemistry nya edan pisan. Vibe nya teh golden years banget ga bisa diulang sampai kapanpun juga momen itu teh. Dan kita pun misal dalam formasi lengkap ya tetep ga akan bisa kaya gitu lagi. Apalagi personil berkurang. Yang album ketiga masuk ke jaman-jaman FL Studio. Yang bikin basic song nya Udhi-Adhi, da urang-urang mah belegug software kabeh. Si eta weh nu ngarulik. Kalau ditanya awalnya dari siapa ya album 3 dan 4 ngegambar di komputer. Grey setengahnya lah. Tapi finishing tetap jamming seperti biasa.

Kemaren-kemaren baru denger materi Burgerkill (BK) yang baru, dan mereka tetap solid. Bahkan makin kenceng. Si PS dan BK mungkin salah satu band yang mengalami banyak pergantian formasi tapi masih tetap bisa deliver karya-karya yang relevan..
Keren kata gua mah. Kenceng. Kalau misal masalah romantisme gitu sih kita juga ngalamin. Pendengar yang baik mah pasti legowo dan menerima perubahan formasi bandnya. Band itu bisa ngasih pleasure atau bisa juga ngasih kekecewaan. Ya lu musti siap sama dua-duanya. Kalau engga ya lo gausah ngikutin band itu. Sarua sih urang ge da hoream Smashing nu anyar atau Metallica nu anyar misalnya. Yaudah stay di album-album lamanya aja. Tapi balik lagi ke si BK bukan cuma output musiknya aja yang kita hargain. Kalo lu bisa menikmati usaha berdarah-darah nya mereka itu lebih asik lagi kalau kata gua. Susah pisan untuk menjadi seperti itu. Effort Nya teh edan pisan. Tipikal orang yang bisa kaya gitu gue sih salut. Bikin format baru itu ga gampang. Urusan ganti format dan personil band itu urusan berat.


Lalu bagaimana dengan band garage punk lo Teenage Death Star (TDS)? Sekarang banyak merch nya ya seru si TDS..
Emang mau jadi kaya Giordano itumah, bukan band hahaha. Kita juga sebenernya ga pengen kaya gitu. Merch banyak dan diminati. Ya gapapa sebenarnya kalau laku-laku aja. Cuma kalau dulu emang kita berpikir seperti itu? Nteu oge. Motorhead dan Misfits juga emang mikir 10 tahun lalu ntar gua mau bikin sendal ah pake logo band.

Sebenarnya kondisi bandnya ga jauh sama si PS. Kalau ada manggung ya tinggal kumpul. Tapi syaratnya kade tong aneh-aneh lah, engke malah ngalieurkeun batur. Tiba-tiba gua pengen rekaman collab sama Feist. Geus maneh tong aneh-aneh lah kalem weh kitu. Gua liat juga ada beberapa band yang semangatnya harus sama terus. Ketika ada satu orang yang semangat nya overlap malah bisa jadi api yang ga bener buat si band. Ngeband itu kaya ngurus keluarga, mengkondisikannya perlu trik khusus. Jangan ditiru lah band TDS mah, sesat hahaha. Plat albumnya aja gua gapunya haha. Dulu pas rekaman album aja ada beberapa lagu gua ga bisa take karena lagi mancing, geus we lah si Rekti atau Adit yang rekam. Gua lebih menikmati karakter orang-orangnya sih. Gua ketawa sendiri liat si Acong ngaco, si Alvin ama Helvi lupa chord gitar, malah kadang si Firman terlalu bagus ngedrum nya malah ga kepake hahaha.

Pernah juga ya kalau ga salah pas TDS main di sebuah bar di Jakarta gua lihat ampli bass nya lo matiin..
Teu di hurungkeun amplina. Dipareuman ku urang. Urang geus mabok pisan, poho wae jadi nge-blank. Salah wae basslines na. Geus weh pareuman. Terus dinyalain lagi ama si David. “Ngapain lu nyalain udah aja matiin.”. Iya hiburan lah TDS mah..

Tadi lo sempet ngomong masak seafood juga untuk party-party, itu gimana sih?
Jadi di Fisherman’s Paradise itu terlahir karena basicnya gua suka mancing. Gua bawa ikan dan udang hasil mancing, ya gua bakarin aja buat temen-temen gua aja sebenernya. Awalnya gua bakar dari hasil yang gua pancing. Cuma kalo misalnya pas mancing cuma dapet 20 ikan dan orang yang makan ada 50 orang ya sisanya gua beli aja. Spirit nya seperti itu. Lo gausah ada lat bakarnya, gua bawa, gua datang bawa alat-alat lengkap bersama ikan dan udang nya.

“Mancing teh sebenernya ada 2: kaya mancing orang-orang pemalesan di kolam. Mancing goblok gitu yang diem kaya mancing pengangguran. Nah gua lakuin ini sport fishing. “

Kalau acara mancing lo udah engga lagi ya?
Sebenernya gua jadi host di MNC, gara-gara diminta temen. Eksekutif produsernya suka jadi gua kejebak disitu 3 tahun lebih hampir 4 tahun. Tapi fun karena gua suka mancing dan gua bisa keliling Indonesia. Bahkan sampai Mongolia…

Ngeunah teu dahareun na di Mongolia?
Makanan nya ga enak dan ga jelas di Mongol. Serba dingin makanan nya. Lu tau kan rumah yang kaya eskimo gitu?

Iglo?
Iya itu kan iglo yang dari es. Ini mah apa ya lupa namanya. Pas masuk kesitu.. Anjing! Bau nya edan. Parah! Makanan, orang dan ternak semua disitu. Banyak makanan yang diawetkan karena musim dingin. Kaya dendeng berbahan dasar kambing, llama atau apa lah. Wah anjing edan baunya itu! Ga enak dan susah untuk gua cerna makanan nya.

Mancing teh sebenarnya ada 2: kaya mancing orang-orang pemalesan di kolam. Mancing goblok gitu yang diem kaya mancing pengangguran. Nah gua lakuin ini sport fishing. Umpan nya pake segala macem, tapi mayoritas pake umpan palsu. Iini teh fisik banget, edan. Dari mancing gua sebenernya banyak sub-nya: sport fishing, aktivitas outdoor, hiking udah include, tempat ekstrim, cuaca ekstrim juga. Minimal badan dan fisik lu harus siap. crew TV gue aja ga siap, salah kostum kamera kebawa sungai. Pas mancing jalan 4-5 kilo udah biasa. Sebenernya lo bisa aja sih tidur di hotel cuma gue gak suka dan gamau. Lebih seru aja sih camping.

Tidur dibawah bintang yah, Yo? Hahaha..
Engga anjis. Engga tidur dibawah bintang juga sih ketutupan tenda hahaha. Tapi dulu gua pergi ke Papua keren banget. Lu liat langit sebersih-bersihnya di Papua. Atau ke pedalaman Kalimantan malem-malem tanpa lampu. Mungkin orang lain perlu meditasi untuk merasakan seperti itu. Lu camping di pinggir sungai pagi-pagi ada Cendrawasih atau burung Rangkong. Ya yang penting jaga etika, jangan melanggar dan jaga kebersihan aja setiap camping. Ya yang ini tips nya agak garing sih agak Fiersa Besari ya..

Fiersa Besari?
Aya CS urang eta hahaha. Maneh teu nyaho? Gelo anjis hahaha. Eta anjir nu musisi senja-senja eta. Lu terlalu cult anjis gatau Fiersa Besari. Anak Bandung si eta, ngefans ke si PS juga. Maneh teu nyaho? Gelo anying.. Follower Youtube na 2,8 juta anjir hahaha..

Interview by Aldy Kusumah
Photos By Iyo & Pure Saturday Archive’s, TDS photo by Aldy

Selain menjadi frontman band garage-punk, Eka Annash juga membuat sebuah channel Youtube yang bernama Diskas Media. Setelah 10 tahun tidak membuat album, Eka dan The Brandals kembali dengan album barunya “Era Agressor (2021)”. Mari berbincang dengan Eka mengenai band post punk nya yang tampil di Boiler Room, perubahan ke nama awal BRNDLS menjadi The Brandals dan buruknya kebijakan-kebijakan pemerintah.

Halo Eka apa kabar? Terakhir gue interview The Brandals masih yang formasi original lineup ya. Bagaimana dengan formasi BRNDLS sekarang, apakah banyak perbedaan dengan yang dulu?
Formasi yang lama dengan yang sekarang udah jelas berbeda soalnya kita ngomongin karakter, personality dan cara bermain yang berbeda. Di album DGNR8 (2011) basically udah formasi baru dan konsep musik yang lebih eksperimen, jadi perubahan sebenernya udah mulai terjadi dari tahun 2011. 3 album sebelum itu masih formasi klasik yang tadi lu bilang ya; ada Bayu, Tony, almarhum Rully dan juga Dodi. Di DGNR8 album keempat kita mulai eksperimen dengan 2 personil baru PM sama Radit. Kita ubah aja sekalian menjadi identitas baru. Terjadi gap 10 tahun di 2021 udah ada Firman (Teenage Death Star) sebagai drummer. Jadi kita ngomongin approach dari 5 kepala berbeda yang pada akhirnya mempunyai output berbeda di setiap fase nya.

Lo juga sempat main di Boiler Room ya dengan Kareem Soenharjo (BAP / Bapak), memainkan musik yang sedikit post-punk/noise rock. Bagaimana kolaborasi itu terjadi? Apakah akan direkam juga materi-materi nya?
Kalau sama si Kareem itu namanya The Bosens. Mungkin dia adaptasi dari Boredoms yang band Jepang itu. Dia inisiatornya. Kareem punya teman-teman yang tinggal di London dan mereka punya afiliasi sama team Boiler Room disana. Mereka punya program Respect the Elders. Semacam program kolaborasi antar genre, antar musisi yang berbeda generasi. Mereka nawarin Kareem untuk terlibat dan dia nawarin ke gue akhirnya. “Bang mau ikut ga programnya Boiler Room?”. Ya gue terimalah dengan sukacita, gila kapan lagi main di Boiler Room walaupun cuma online streaming.

Gue juga sebelumnya pernah ngundang dia ke channel gue Diskas Media untuk interview. Gue juga penggemar musik dia, karena dia salah satu musisi lokal yang paling prolific dan produktif ya. Jadi diajak dia tuh menurut gue satu kehormatan banget. Kita ngajak Ariel drummernya Bedchamber. Kita bertiga mainin noise rock sih kayaknya. Template nya sih sebenarnya dia pengen kaya Death From Above 1979 sama beberapa band Jepang kaya Boredoms dan Otoboke Beaver. Anyway misi kita itu adalah membuat noise outfit yang paling berisik dan kita bikin 3 lagu yang terdokumentasikan di Youtube tersebut. Kayanya ga ada omongan untuk direkam dan dirilis, itu cuma proyek one-off aja sih..


Videoklip Preambule BRNDLS ini lo kan yang direct? Gimana konsep awalnya menggabungkan estetika raksasa ala Ultraman dengan situasi Indonesia sekarang?
Ya betul itu debut gue sebagai director video klip. Gue kan kerja di iklan udah lama biasa direct untuk TV cuma untuk band sendiri baru pertama kali hehehe. Tapi gue akan jujur itu terinspirasi dari klipnya Coldplay yang Up&Up. Di Youtube Maternal udah banyak yang komen oh ini dari Up&Up ya memang dari situ gue akui aja, come clean. Gue terinspirasi dari mereka secara visual tapi implementasinya mau gue bawa ke konteks Indonesia. Dalam artian gue pengen menyorot kejadian, situasi dan insiden buruk yang terjadi di Indonesia dan bagaimana dampaknya bila itu semua terus dibiarkan terjadi. Pembakaran hutan, Bentrok SARA, agama, antar golongan politik, perusakan alam, macem-macem lah ya situasi yang tergambarkan di video itu. Indonesia bisa aja hancur seperti Syria kalau itu semua dibiarkan terjadi. Negara yang terpecah belah gara-gara perang saudara, bencana alam yang terjadi karena alamnya ga dijaga. Pesan-pesan yang mulia sih cuma gue pengan ngebungkus dengan cara kontemporer untuk memprovokasi biar kita semua tersadar kita punya tugas dan tanggung-jawab untuk Indonesia. Mayoritas 80% syuting green screen ya. Dibantu sama PH lokal Hero bersama teamnya yang menampung semua ke BM an gue dan hasilnya kita sangat puas. Hasil kerjasama team yang baiklah intinya.

7 tahun yang lalu lo juga pernah bikin single Abrasi ya, yang menggabungkan rock dengan hip hop, dengan adanya kolaborasi dengan dedengkot hip hop Morgue Vanguard (Herry “Ucok” Sutresna). Bisa elaborasi sedikit mengenai kolaborasi tersebut dan juga video klipnya yang di-direct oleh Anton Ismael?
Kalau ngomongin Abrasi adalah single dari album keempat DGNR8 (2011). Kita ganti nama dari The Brandals jadi BRNDLS (walaupun ga permanen), ganti personil, dan mulai bereksperimen dengan sound yang diluar comfort zone kita. Awalnya ditawarin oleh Joseph “Iyub” Saryuf (Sinjitos / Santamonica) untuk jadi roster label dia. Pertama kali juga bekerja dengan produser. Dia yang berjasa untuk nunjukin kita ke pintu-pintu eksperimental yang kita ga tau sebelumnya kalau opsi-opsi tersebut itu ada. Walaupun karakter Brandals sebagai band rock n roll juga tetap ada.


Ada banyak lagu yang dirombak dia dari demo yang masih raw seperti punk, dan akhirnya di produce menjadi Abrasi. Karakter post punk, gitar minimalis, bass dan drum lebh prominent. Ada influence elektronik dan hip hop. Ada bagian gap kosong panjang ditengah, Iyub dan Beben bilang ini bagus diisi rap nih. Kata mereka “elu band rock berbahaya, harus diisi sama MC yang berbahaya juga”. Kalau ngomongin MC yang berbahaya di Indonesia, ga ada lagi selain si Ucok hahaha. Alhamdulillah dia menyambut dengan baik. Bahkan kata Ucok sendiri itu kolaborasi pertama dia dengan band rock selain metal dan hardcore. Untuk klipnya sendiri itu mas Anton Ismael yang datang ke kita dan offer karena dia suka banget sama lagunya. Setau gue dia ga sembarangan terima order, cara kerja dia ga kaya gitu. Seinget gue kita tuh ga keluar budget karena dia udah punya konsepnya dan itu merupakan passion project dia.

“Gue sendiri penikmat semua musik, tapi gue agak fasis kalau soal musik hahaha”

Gue selalu inget sama The (International) Noise Conspiracy kalau dengerin The Brandals. Kalau lo sendiri sebenernya lagi dengerin apa aja pas menggarap album Era Agressor?
Ya The (International) Noise dan Refused sudah lama kita dengerin dan menjadi reference. Tapi ada satu band underrated yang konsepnya dicuri sama The (International) Noise, namanya The Make-up. Mereka dari Washington DC dan labelnya Dischord Records. Mereka ngebawa konsep sosialisme dan konteks politik di musiknya. Anyway kalau kita sendiri untuk album ini ngambil influence secara organik. Brandals itu band jamming pada intinya. Kita rekam pakai handphone dan kita pilih best partnya lalu kita jahit satu-satu. Lalu pas ngerjain mixing baru kita ambil reference kaya misal oh gitar untuk lagu ini bagus kaya gini nih. Karakter soundnya seperti lagu ini. Era Agressor sendiri lebih ke post-punk, yang justru keluar dari pakem rock n roll. Ini adalah album yang pengen kita bikin sejak awal DGNR8. Bass dan drum prominent di depan, punk influence, gitar minimalis.

Into Madness dan Black Pages kita ambil referensi dari David Bowie Young Americans yang banyak ngambil motown soul. Komposisi groove bass nya terinspirasi dari situ. Way Down Below kita ambil komposisi Gang Of Four, band post-punk Inggris. Ketukan stacattonya, scratch-scratch kasar. Ada juga groove ala Josh Homme seperti Queens of the Stone Age. Bisa dibikin jogetlah, dia bikin ritem enak banget. Lagu Momentum kita ambil aura dingin dan gelap ala Joy Division dan band-band Factory Records. Jadi ada banyak influence yang kita ambil terutama saat proses mixing dan mastering. Kalo gue sendiri penikmat semua musik, tapi gue agak fasis kalau soal musik hahaha. Gue denger semua musik tapi cuma yang menurut gue bagus. Jelek dan bagusnya versi gue pastinya. Tapi gue kagum dengan perkembangan musik lokal 5 tahun terakhir ini, kaya BAP dan Bapak menurut gue gokil banget sih. Ada Streetwalker band stoner Jakarta juga keren banget. Trio funk Mad Mad Men, trio funk masih muda tapi jenius skillnya. Jason Ranti gue suka lirik-liriknya. Amerta, Avhath, Tarrkam, Total Jerks, Taring dari Bandung, Rollfast. Gue lahap semua tuh. Gue juga sangat-sangat terinspirasi sama mereka.

Top 5 band favorit lo apa aja?
Fugazi
Sex Pistols
Guns N Roses
David Bowie
The Cramps

Tema-tema lirik apa aja yang ingin lo sampaikan di Era Agressor?
Menurut gue Era Agressor ini adalah album Brandals yang paling politikal. 10 tahun sejak rilis DGNR8, practically Indonesia tuh udah melalui banyak insiden dan dinamika sosial-politik. Dan elu sebagai warga negara ga bisa escape, selalu bersinggungan seperti dicekokin ke mulut lu on a daily basis. Gue ga bisa lagi sih nulis hal lain selain dari apa yang gue alamin dan gue liat, which is kejadian-kejadian sosio-politik ini. Dan semua ini tentunya berpengaruh sama hidup gue, keluarga gue, temen-temen gue, dan semua di sekeliling gue. Itu jadi porsi hampir 70% konten dan berita yang kita konsumsi setiap hari.

Gue dan temen-temen Brandals yang lain datang dari kelas pekerja middle-class yang terdampak banget dengan kondisi-kondisi ini. Dari pemilihan presiden, kebijakan-kebijakan pemerintah otoriter yang dibikin untuk rakyatnya dan mayoritas merugikan kita. Secara sadar ga sadar pasti mempengaruhi gue dalam menulis lirik. Kenapa gue kasi judul Era Agressor karena album ini lahir dari era kekerasan. Hampir semua kasus dan insiden di negara kita diselesaikan dengan cara kekerasan. Itu kira-kira genesis atau bibit dari album ini.

2 tahun terakhir ini kan banyak sekali musibah dalam skala global. Bagaimana relevansi Era Agressor dengan semua itu?
Iya betul 2 tahun terakhir ini kan musibah on a global scale, pandemi yang terjadi di seluruh dunia pastinya jadi tantangan untuk semua negara untuk mencari solusinya. Semua negara kacau balau, banyak terlihat pemerintah otoriter yang masih meraba-raba, bahkan sampai sekarang masih dalam tahap mencoba kebijakan. Gue yakin belum ada formula yang ideal untuk menanggulangi pandemi ini. Setiap negara ada masalah dan isu yang berbeda. Jadi emang kondisi ini jadi testing ground buat kita semua. Tapi koneksi ke album ini lebih menyorot ke Indonesia aja sih, soalnya relevansinya ya gue tinggal disini dan 2 tahun ini kita terkurung dirumah dengan pergerakan terbatas. Konteksnya tentang Indonesia walaupun ada beberapa lagu bahasa Inggris. Ada juga lagu yang berjudul The Truth is Coming Out. Bercerita tentang konspirasi-konspirasi yang terjadi tetapi pada akhirnya kebenaran akan terbuka juga. Kita kerjasama sama Kontras untuk video klipnya, mengenai para pembela HAM yang dihilangkan atau dibunuh.

“Hampir semua kasus dan insiden di negara kita diselesaikan dengan cara kekerasan”

Lo juga bikin Diskas Media kan, channel interview yang mengupas subkultur musik, fashion dan lain-lain. Bagaimana cerita dibalik Diskas Media? Dalam sesi tanya jawab apakah lo lebih prefer menjadi narasumber atau interviewer?
Sebenernya Diskas terjadi secara tidak sengaja. Gue sebenernya punya cita-cita untuk mempunyasi suatu media atau portal berita yang menyajikan berita-berita alternatif. Tapi bentuknya bukan format interview. Tiba-tiba ditengah pandemi ada penggemar Brandals namanya Aflah, yang sampai sekarang ngebantu gue ngejalanin Diskas Media. Kata dia Jimi dan Buluk bikin channel interview kenapa lo ga bikin? Gue pikir udah ada mereka ngapain bikin lagi yang seperti ini? Tapi akhirnya kita eksekusi, dan di edisi pertama kita ngajak Jimi sama Sir Dandy. Ternyata gue sadar betapa sulitnya jadi host atau pewawancara. Sebenernya gue dari dulu kerja broadcasting di radio, sempet jadi penyiar, proses tanya jawab itu bukan hal baru. Tapi begitu kita ditodong kamera dan ekspresi muka kita kelihatan, gue jadi self-conscious banget. Jadi bloon lagi hahaha. Kalau lo lihat beberapa episode Diskas pertama gue kelihatan banget nervous nya, jadi bloon. Tapi justru itu jadi challenge buat gue. Betapa sulitnya menjadi seorang vlogger atau konten kreator. Mereka yang yang ngomong sendiri dengan pede di Instagram atau Tiktok itu gila sih. Kita bisa aja ngetawain mereka tapi lo coba lu duduk depan kamera dan seolah ada penonton disitu. Itu susah banget, gue angkat jempol sih buat mereka. Terutama yang kontennya bermanfaat. Kalau lu komparasi mungkin channel gue yang paling dikit ya subscribers nya, tapi ga masalah karena tujuan gue cuma untuk menggali insight atau pengalaman hidup narasumber. Dan semoga bisa menginspirasi para viewersnya.

Interviews by Aldy Kusumah
Photos by Eka Annash archive’s

 

Anindya Anugrah yang lebih dikenal lewat moniker art-brand nya “Phantasien” adalah seorang seniman dan ilustrator asal Jakarta. Kolase Phantasien mempunyai karakter yang sudah terbentuk: palet warna yang vibrant, tema-tema fantasi, magical dan okultisme. Peleburan tema medieval, renaissance dan budaya pop kontemporer pun menjadikan karya-karya Phantasien lekat dengan anakronisme. Mari berbincang dengan Phantasien mengenai seru nya mengambil source image dari public domain, tema-tema occult dan bagaimana dia membanting setir dari cita-cita nya sebagai guru piano menjadi full-time artist…

Apa yang membuat lo memutuskan berkarya dengan tema-tema magical, medieval, renaissance dan mengandung unsur-unsur okultisme? Dan lo juga ada anakronisme nya ya; kaya artwork medieval yang digabung dengan referensi kontemporer?
Awal mulanya gue berkarya dengan karakter ini tuh pas aktif jaman kuliah, dari 2012 udah eksplor ke arah sini karena gue tidak pede dengan kemampuan gambar gue. Dulu kan kuliah hukum. Karena suka kolase gue banyak nyari source dari public domain. Karena boleh dibikin turunan nya tanpa izin dulu dan lain-lain karena ga ada copyright nya.

Emang tema-tema nya condong seperti yang Aldy bilang: tema okultisme, dan suka banget sama visual abad pertengahan. Soalnya di society abad pertengahan tuh, magic dan okultisme tuh ada banget. Kalau di kita mungkin primbon. Sesuatu yang biasa dan ga di condemn gitu. Walaupun di Eropa medieval agama katolik lagi gencar tapi diem-diem ada di masyarakat.

Jadi pas tahun 2017 gue ikut seleksi pameran di Jepang Unknown Asia. Si Ykha juga ikut kok. Salah satu jurinya juga kasih masukan ke gue dengan menambahkan unsur-unsur modern dan kontemporer biar ada humornya, dan lebih relate kepada orang-orang. Dari situ lebih banyak bisa eksplor tema sih. Sekarang juga lagi belajar animasi, yang lebih banyak juga unsur kontemporernya.

What makes you interested in occultism? Kita lihat ada Tarot, witches, pagan dan referensi mystical lain nya di karya-karya lo..
Sebenernya gue takut banget nonton horror, cuma gue tertarik sama okultisme gitu. Walaupun gue tidak mempraktekkan hal-hal tersebut. Gue suka estetika tarot dan alchemy. Kaya Davinci dan Dante. Tapi ga dimasukkan ke setiap karya sih simbol-simbolnya. Dari kecil tuh di keluarge gue emang kaya percaya superstition gitu, kaya masih ada kejawen gitu sih. Dari okultisme Jawa juga, walaupun di artwork gue lebih ke okultisme Eropa middle ages. Mungkin kedepan gue akan masukin unsur-unsur Indonesia seperti wayang atau yang lain tapi belum kepikiran sih hehehe…

Bisa ceritakan juga ga awal dari kolaborasi dengan Khruangbin, Mitski & Diskoria? Biasanya lo harus menyukai musiknya dulu ga sih sebelum bikin artwork nya?
Kalau Mitski itu kan dulu promotor disininya Noise Whore kan, lalu mereka commission ke gue untuk bikinin posternya. Terus kebetulan si Mitski nya suka dan dia posting di Instagramnya. Baik banget hehe. Kalau Khruangbin gue di kontak sama Laura vokal dan bassistnya. Katanya dia liat dari Instagram dan dia email gue. Kalau teori gue sih mereka nemuin IG gue karena Khruangbin sering kerjasama sama calon suami gue (Kendra Ahimsa). Tapi mereka gatau kalau kita pacaran waktu itu, terus pas ketemu kita mereka baru tau hahaha. Kalau Diskoria gue di kontak sama manajernya, Daiva. Lo mau ga bikinin poster sama merch? Mau banget. Lalu mereka ngebebasin gue untuk bikin artworknya untuk kebutuhan tour mereka di Tokyo, cuma dikasih referensi warna aja.

Kalau suka musiknya dulu iya banget, soalnya kalau musik itu kan personal banget kan Dy. Jadinya kalau gasuka musiknya bingung ngerjain artworknya. Dari selera musisinya juga kita bisa mengira-ngira kira-kira dia suka apa. Dari riset, ngobrol dulu dan kepoin IG nya. Makanya gue jarang sih ngerjain musik mungkin karena gue milih banget juga kali yah hehehe..

“Kalau lagi cari inspirasi gue harus dengerin musik-musik klasik gitu. Kedengeran nya pretensius banget, tapi kalau ingin bikin karya dengan mood tertentu gue bikin playlist nya dulu.”

Ada notasi John Coltrane & Debussy di karya-karya lo. Musik-musik apa yang lo biasa dengarkan selagi menggambar atau berproses kreatif? Apa pengaruh musik besar untuk artwork lo?
Gue tuh dulu pengen jadi guru piano kan hahaha. Jadi dari SD sampe kuliah itu ikut pelatihan teori dan performance. Tiba-tiba kaya yang “ah engga deh..”. Soalnya gue memang suka musik klasik juga sih. Musik klasik yang gue suka emang dari era Baroque. Kalau Debussy kaya post-modern kan, impresionistik musiknya. Kaya bikin gue ngebayangin visualnya tiap denger musik-musik gitu. Jadi ngayal. Kalau lagi cari inspirasi gue harus dengerin musik-musik gitu. Kedengeran nya pretensius banget, tapi kalau ingin bikin karya dengan mood tertentu gue bikin playlist nya dulu. Kalo yang ada partitur Coltrane dan Debussy itu lebih ke tribute aja, kesini-sini gue bikin juga score dan partitur musik gue sendiri. Gue juga suka banget ama pianist jazz Bill Evans.

Karya lo udh di aplikasikan ke media apa aja selain kaos? Gue liat ada puzzle Rekarekat juga. Bisa elaborasi sedikit?
Lebih banyak ke packaging sih karya gue, packaging kue misalnya. Skincare juga pernah. Kover album pernah Polka Wars dulu album “Bani Bumi (2019)”. Kalau yang puzzle Rekarekat itu kan belum ada brand Indo yang fokusnya puzzle. Jadi gue kaya yang excited dan langsung mau. Itu kan koleksi pertama gue bareng Ykha dan Sarkodit.

Ini pembahasan klasik: Kan selalu ada peribahasa “there’s nothing new under the sun”. Ada kubu yang benar-benar ingin original dan ada juga yang menganggap udah ga ada yang original di era sekarang. Pendapat lo gimana?
Gue sih setuju dengan kata-kata ga ada yang 100% original. Setiap hari tuh kita lihat apa aja tuh lewat internet, informasi itu banyak dan gampang banget aksesnya. Even musik. Sampe kaya ga sadar “aduh gue tuh udah dengerin apa aja ya”. Sedangkan jaman gue dulu kan apapun harus beli ke toko, ga bisa buka laptop langsung. Secara ga sadar kita semua itu meniru, ngambil kecil-kecil dari hal-hal yang kita suka. Sejauh ini sih ga ada illustrator yang 100% original pasti terinspirasi oleh seseorang, tapi diolah lagi dengan pengalaman dan cerita yang berbeda. Itulah yang membedakan setiap illustrator. Kalau dibilang “original banget nih”, kayanya jaman sekarang tuh susah kalau mau orginal banget. Even kaya Gaudi aja bilang dia ga original karena dia nyontek dari alam.

Lalu seberapa tipis sih perbedaan antara homage, tribute, parody, bootleg dan rip off?
Kalau dari perspektif hukum aja ya, karena background kuliah gue hukum. Kalau parodi harus ada unsur komikalnya. Konteks humor untuk sesuatu yang sudah existing. Itu gapapa, tapi kalau di hukum Indo sebenernya kalau mau dikomersialisasikan harus izin. Kalau di Amerika sah-sah aja ga usah izin dulu ke yang punya karya aslinya. Kalau bootleg ada kreativitasnya sih gapapa, kalau dari perspektif hukum emang gaboleh. Gue juga sempat follow dan punya beberapa bootleg juga yang bagus. Tapi yang namanya copyright tergantung artist nya, karena copyright itu delik aduan, bukan pidana yang harus dihukum. Terserah artist nya kalau selama artist nya ga ngerasa dirugiin secara ekonomi ya gapapa. Tapi bukan berarti 100% gapapa juga. Kaya misal Astrud Gilberto kover albumnya jelek, tapi ada yang ngebikin ulang re-imagine dan ada kreativitasnya. Kalau skalanya emang Astrud peduli ya dengan brand Indo kecil, paling dia seneng sih kalau liat apalagi bagus. Ada yang bikin bootleg album gue nih dalam bentuk T-shirt..

Apa lo dan Kendra kalian mempengaruhi atau influence nya sama? Karena walaupun style dan tekniknya berbeda tapi sekilas color palette lo dan Kendra mirip ya..
Iyah aduh.. Si Kendra tuh inspo gue. Gue ngefans banget ke dia dari dulu, ke Ykha juga. Kenapa gue bisa warna-warni gini juga karena saran Kendra. FYI, gue dulu ga se warna-warni ini. Ternyata bermain warna ini lebih menyenangkan. Kita kan sering bareng, baca buku nya sama, nonton film sama, hahaha.. Mudah-mudahan kalau lancar bentar lagi dia bakal jadi suami gue. Nanti makin jadi mirip pasti. Cuma bukan berarti sama dan saling meniru hehe..

Hayao Miyazaki orangnya cenderung depressing tapi karyanya colorful dan penuh harapan. Sedangkan Satoshi Kun orangnya cheerful tapi karyanya dark. Apakah kadang karya-karya seseorang itu mirror image dari karakter nya atau malah antitesisnya? Kalau lo sendiri gimana?
Kalau gue sendiri gue gatau sih.. Karya gue cuma menceritakan apa yang gue suka aja sih, gue gatau kalau itu kepribadian gue atau bukan hahaha.. Itu kayaknya orang lain yang decide sih bukan gue hahaha.. Yang gue tau pasti, karya gue warni-warni tapi pengalaman karir gue 180 derajat banget, betapa kontras nya dengan hidup gue.. Kalau kepribadian gue cheerful gue gatau juga sih.. Kayaknya gue juga ga yang happy tiap hari gitu. Kalau Miyazaki emang gitu kali orangnya hahaha..

Kalau rip-off sih kasian yang udah bikin capek-capek. Cowok gue sempet pengalaman lagi di rip-off di NFT. Pinternya orang yang nge rip-off itu karena dia, menurut gue, karena dia tau cowok gue ga punya eksistensi di NFT. Di dunia NFT lo start dari nol, bodo amat IG lo followersnya banyak. Si doi ini ngaku-ngaku gitu di Youtube dia udah “berkarir cukup lama dan sering pameran”. Kita gatau dia pernah pameran dimana. Twisted Vacancy namanya. Aduh panjang banget ntar gue kasih link nya deh soalnya panjang banget. Sempat di reportase di Finery Report dan komen-komen banyak yang asbun juga, draining banget deh bacanya juga haha. Segini awamnya orang-orang mungkin karena ga tertarik dan ga pengen tahu juga. Classic Netizen comments hahaha.

Kalau dekonstruksi di hip hop kan ada mereka memakai sample-sample dari berbagai macam source dan menjadi entitas atau lagu baru. Tapi tetap ada aturan nya sendiri. Kalau dalam desain grafis dan ilustrasi aturan nya versi lo gimana sih?
Kalau di Indonesia aturan nya ga jelas. Undang undang hak cipta nya tuh terinspirasi dari sana-sini, ada yang pasalnya kaya hukum Amerika. Ada aturan visual ada fair use kalau lo gapapa pake karya orang tapi ada porsi nya. Apakah lo ambil konteks full nya ga? Ada indikator jelasnya. Kalau di Indo ga ada, cuma ada penggunaan yang pantas. Kalau misal ada yang niru karya gue dan gue mau tuntut itu susah sih di Indo. Seniman ga dirugiin juga sih, cuma ga dilindungi aja walaupun udah lo daftarin aja copyright nya. Trus kalau suatu hari ada yang nyontek itu ga ngejamin lo bakal dilindungi. Contek-contek visual disini tuh kaya ga bisa di proses kasarnya. Masih abu-abu banget kecuali kalau emang nyontek dan dikomersilin, kaya cowok gue di rip-off dan karyanya di NFT-in dan dia dapet 80 juta misalnya. Kiblat nya tuh faktor ekonomi. Apakah lo ngerasa dirugikan atau engga.

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Anindya Anugrah archive’s

Prejudize mengawali tahun 2022 ini dengan merilis maxi single Coward and Vague, berisikan dua lagu dengan nuansa yang berbeda. Maxi single dari unit metallic hardcore ini dirilis oleh Greedy Dust, salah satu label yang rajin merilis band-band baru. Selain merilis maxi single, Prejudize juga memperkenalkan personil barunya yaitu Alfi dari Eazz yang mengisi posisi guitar. Jadi sekarang Prejudize diisi oleh Arga (vokal), Keniro (gitar), Alfi (gitar), Ryan (bass), dan Hilman (drum).

Sesuai dengan judulnya, maxi single dari Prejudize ini berisikan dua lagu yaitu Coward dan Vague. Di lagu Coward, Prejudize mengajak Satan’s Heir dari Avhath untuk mengisi beberapa part pada bagian vokal dan ada juga Alyuadi dari Heals yang membantu untuk mengarahkan vokal dari Satan’s Heir. Dengan adanya Satan’s Heir, di lagu pertama ini terdengar nuansa black metal melalui karakter vokal Satan’s Heir dan riff guitar yang tiba-tiba berubah. Tapi, perubahan itu cuman pas dibagian Satan’s Heir aja, seterusnya kembali lagi ke beat dan riff metallic hardcore dari Prejudize.

Lagu kedua yang berjudul Vague agak berbeda dengan lagu-lagu Prejudize sebelumnya, bahkan di demo mereka yang rilis pada tahun 2021 silam tidak ada lagu yang bernuansa seperti Vague yang terkesan lebih atmospheric. Bisa dibilang lebih santai, tapi tetep dengan suara vokal dari Arga yang penuh energi.

Selain Satan’s Heir dan Alyuadi. Dalam pembuatan maxi single Coward and Vague, Prejudize juga melibatkan Kefin Raff dari Bleach untuk membantu di proses rekaman pada lagu Coward dan Acil dari Wreck untuk membantu dalam penulisan lirik. Untuk cover Coward and Vagu ini merupakan hasil karya dari Stephanie Shakila Cornelia atau lebih dikenal dengan Saint Mary.

Maxi single Coward and Vague dirilis secara resmi pada tanggal 13 Februari 2022 di bandcamp Greedy Dust dan bisa dibeli di Store Front.

 

Cover rilisan yang catchy dengan warna hitam putih yang memperlihatkan kaki memakai sepatu boots membentuk huruf Z yang diikuti oleh huruf I dan P. Ya, itu ternyata adalah ZIP, sebuah band baru asal Jakarta yang berisikan orang-orang lama. Seperti, Jan (Raincoat, vague), Chino (Final Attack), Indra (Frack), Regy (Brave Heart) dan Bagas (Tarrkam, BAP). Deretan nama yang sudah tidak asing lagi di perskenaan hard core ibukota. Simak obrolan Jeurnals dengan supergroup hardcore/punk berikut ini.

Gimana cerita dibalik terbentuknya ZIP?
Semuanya berjalan organik, iseng-iseng ngobrol satu sama lain, nemuin kesamaan taste dan referensi musik. Kebetulan semua bisa, mau diajakin untuk mulai projek ini, ngalir deh sampai akhirnya rilis dan bisa manggung.

Kenapa memilih ZIP sebagai nama band?
Soalnya kalo Zap jadinya klinik kecantikan, hahaha. Kita nyari beberapa nama yang catchy untuk represent band ini secara whole package.

Kenapa lebih memilih membuat band baru dan merilis album baru, dibanding bikin album baru dengan band sebelumnya?
Kita mau bikin wadah baru yang fresh, baik secara estetika musik, feel, referensi, dan sebagainya.

Gimana rasanya bikin band dan album di masa pandemi?
Excited. Projek ZIP ini sebenarnya diinisiasi dari sebelum pandemi, disaat pandemi kita makin fokus untuk ngonsepin & finalisasi untuk semua aktifitas yang akan ZIP lakukan.

Kalo boleh digambarkan ZIP ini musiknya kayak gimana? Lebih old skool kah? Atau gimana?
HARDCORE/PUNK.

Bagaimana proses kreatif pembuatan lagunya? Kan semua personilnya mempunyai kesibukan masing-masing?
Setelah satu sama lain sepakat untuk bikin projek ini, prosesnya diawali dari bikin grup WhatsApp, ngobrol-ngobrol, lanjut ke kopdar, jamming-jamming distudio, dan pastinya selalu mencoba mencari waktu sih buat make things happen (Either workshop bikin lagu baru/ngobrol-ngobrol/rekaman/touring/dsbnya).

Lirik di album kebanyakan bercerita tentang apa?
Untuk spektrum lirik, kita banyak berbicara tentang kejahatan perang, arogansi militer, situasi internal semasa pandemi, dan hegemoni standard moralitas.

Cover album siapa yang ngerjain?
Album cover dibuat oleh Regi dan ilustrator Wisely Handy. Wisely yang bikin logo ZIP sama layout di cover aja. Untuk warna sama layout design sleeve dikerjakan sama Regi.

Ada pesan yang mau disampaikan lewat artwork cover tersebut?
Gak ada pesan apa-apa, cukup straight forward aja dengan logo ZIP. In your face!Y ang pasti biar beda dan lebih stand out aja dengan pemilihan artwork yang simple dengan warna-warna yang jarang dipakai di artwork-artwork album band Hardcore/Punk pada umumnya, warna silver chrome untuk rilisan vinyl dan pink/putih untuk rilisan kaset, serta kaset juga dibikin beda warna tiap sisinya (hitam dan pink).

Lagu atau band yang jadi referensi atau didengerin ketika bikin album?
Rahasia dapur 😉

Seberapa pentingkah konsep visual artwork buat ZIP?
Penting banget, soalnya gak terpisahkan ya artwork sama musik; sepaket aja gitu, dan dua-duanya sama-sama krusial. Makanya kita bikin sesimple mungkin tapi langsung to the point aja, baik dari pemilihan warna dan cara ngelayoutnya. Alhasil, akan beda dengan rilisan-rilisan album Hardcore/Punk yang udah pernah dirilis selama ini.

Semua personil ZIP bisa dibilang udah malang melintang di permusikan hard core hehehe.. gimana melihat perkembangan regenerasi band HC di Indonesia atau Jakarta khususnya?
Seru sih, tiap kali ngeliat ada band-band baru yang bermunculan, antusiasme-nya gak mati gitu aja di satu generasi, karena selalu ada nafas baru yang nerusin keberlangsungan regenerasi di scene.

Ada rekomendasi band lokal baru yang masuk radar Zip?
Crucial Response, Savage, Odd Justice, Suspek, Glyph Talk, Beta Daemon, Bizarre, No Excuse, Crawl, Insane, NaaS, Maio, Bright, & Rage of Despair.

Zip ini akan menjadi project senang-senang aja atau ada goals yang ingin dicapai bareng?
ZIP itu projek serius tapi santai. Pasti ada sih goals yang ingin dicapai tapi kita tetap realistis dan gak mau terlalu maksain juga. Seru-seruan untuk ngilangin stress dari penatnya rutinitas dan pekerjaan.

Rencana kedepan nya ZIP, akan bikin album baru, video clip atau apa gitu?
Mungkin materi baru, rilisan baru, atau aktifitas lainnya, ditunggu aja ya. Rahasia 🙂

Interview by Firman Oktaviawan
Photos by Damar Anjar

Decky Sastra adalah salah satu icon custom culture lokal: tipografi raw nya yang khas mungkin sudah sering kamu lihat di motor-motor custom BBQ Ride sampai di kap mobil-mobil custom. Decky pun mendirikan brand nya, Raw Type Riot, yang ter-influence gaya American vintage dan Japanese classic. Mari berbincang dengan Decky mengenai perjalanan karir nya dari seorang mahasiswa design, menjadi illustrator freelance sampai mengerjakan proyek destinasi wisata di Pangalengan…

Halo Decky. Sebelum mendirikan Raw Type Riot (RTR) kan lo suka bikin jaket dan helm custom, bikin artwork-artwork dan lettering menggunakan mobil/motor sebagai media.. Bisa ceritakan sedikit tentang background Decky?
Jadi awalnya itu di 2017 memang basically setelah yang tadi dibicarain, emang bener Decky itu suka bikin artwork, lalu memulai ikut banyak event-event, dan pas ikut event tersebut memang belum punya merchandise, jadi kepikiran untuk memulai bikin si RTR. Awalnya juga cuma bikin 2 lusinan. Alhamdulillah RTR lahir di BBQ Ride 2017. Dan itu juga stok langsung sold out. Di tahun berikutnya langsung lebih fokus untuk bikin artikel-artikel outer. Awal karirnya emang seperti itu karena basicnya DKV Unikom design. Lalu merambah ke handwriting dan lettering manual. Akhirnya keluar lah aliran desain yang disebut si “Raw Type” ini..

Lalu bagaimana lo transisi dari seniman menjadi brand owner dan creative director di RTR?
Jadi transisinya memang secara organik saja sih ‘a. Jadi sebelum 2017 itu Decky sering design-design freelance dan pernah juga jadi in-house designer di Unionwell, dan juga di Von Dutch USA. Udah kebentuk dari situ cuma emang belum berani bikin brand. Nah di RTR ini mulai coba untuk ngehandle dan bikin brand. Jadi design bisa sendiri, dan gara-gara Decky juga sering main kesana-kesini akhirnya bisa memperkenalkan prodak dan bisa jalan sampai sekarang.

Gue ngeliat influence American vintage dan Japanese classic di RTR. Sebenernya influence dan referensi lo saat bikin brand RTR ini apa saja?
Ya sih bener banget. Karakter dari RTR itu memang mengusung American style dan vintage Jepang sih. Awal-awal sih lebih seneng ke vintage military akhirnya berkembang di 2017 akhir itu udah mulai develop si varsity jacket. Jadi memang banyak terinspirasi dari brand-brand Jepang gitu. Kalau untuk yang technical nya seperti yang kita ketahui Neighborhood, WTAPS, Visvim. Kalau vintage nya itu lebih kaya ke Sugar Cane & Co terus The Real McCoys dan Toy McCoy. Kurang lebih seperti itulah..

Display si RTR kemarin di USS menarik juga ya. Seperti scene high school Amerika lengkap dengan loker dan varsity jacket nya. Bisa ceritain sedikit tentang konsep display tersebut?
Iya bener. Di USS kemarin itu kita coba menyajikan untuk mengkuatkan karakter varsity ini yang lebih populer digunakan di American high school, dan ekskul-eksul universitas disana. Kita mengangkat tema ini tuh kaya loker-loker sport gitu biar nguatin karakter varsity jacketnya. Karena kita dari 2017 memang sudah mengusung tema varsity. Karena sekarang kan semua brang lagi bikin varsity gitu hahaha. Ya meskipun memang varsity itu sudah ada dari jaman dulu kala. Cuma kita ingin menampilkan varsity yang kuat secara detail, pemilihan bahan, bordir teknikal sampai ke kualitas packagingnya. Kita coba ngambil jargon “The King of Jackets”. Itu yang pengen kita kuatin.

Dengan banyaknya event-event custom culture yang lo ikutin dan aktifnya lo di komunitas otomotif, sudah pasti lo sangat jatuh cinta dengan dunia otomotif. Motor atau mobil klasik apa yang awalnya membuat lo suka dengan otomotif?
Otomotif atau custom culture itu emang sangat mempengaruhi gaya-gaya design soalnya di era itu secara tipografi sangat di highlight. Design-design gambar jelek pada saat itu malah menjadi ciri khas yang otentik. Dan tentunya sangat-sangat berpengaruh ke stylenya si RTR. Kalau ngomongin otomotif dari awal tuh sebenenernya lebih seneng ke motor-motor vintage. Kaya Honda Bebek. Lalu berkembang di masa pandemi ini, karena kita ga bisa motor-motoran kemana-mana akhirnya jadi ngulik mobil Jepang.

Mobil atau motor favorit lo apa saja? Dan wishlist yang belum kesampean lo punya?
1. Honda C102
2. Honda C50 New old stock,
3. Harley-Davidson Sportster 1200 sekarang lagi bangun
4. Astrea 800 warna biru
5. Kalau mobil yang sering dipake sekarang itu Toyota Raum CBU (built up).
6. Jimny Katana Long yang saya suka itu di-convert jadi JDM style
7. Honda Stepwagon.

Kalau wishlist sih pengen Jimny JB74 yang baru, modern-klasik dapet. Kalau motor mungkin pengen punya Harley Sportster Ironhead yang belakangnya pake boot tail..


Kalau unit bisinis lo yang lain: Motor Nasional dan AI Diary Studio itu konsepnya seperti apa?
Untuk Motor Nasional lebih kaya forum hobby yang Decky kumpulin di Instagram. Mengenai informasi motor, informasi kelangkaan. Kaya ngumpulin temen-temen yang suka motor tua dan lebih ke tips n trick dan lain-lain. Kalau AI Diary Studio ini basic nya design-design juga dan kita ngerjain konsep rumah, konsultan dan tahun ini sekarang kita lagi menggarap salah satu destinasi wisata di Pangalengan, yang akan dibikin sekeren mungkin hehehe…

Seniman-seniman influential yang lo look up siapa saja? Yang sangat menginspirasi style lo sampai sekarang ini?
Wah banyak banget ya. Kalau seniman diluar tuh ada Ed “Big Daddy” Roth yang pencipta Rat Fink itu. Kalau yang jaman sekarang itu ada Ornamental Conifer..

Lalu brand-brand favorit lo apa aja?
Jujur banget ya ini, saya seneng banget sama Easthood hehe. Itu brand nya almarhum Mas Dany ya. Selain kenal juga sama almarhum, saya memang senang konsep Easthood dari dulu masih di Dago Atas. Saya udah punya beberapa koleksi dari stylenya yang horod. Walaupun sekarang lebih ke musik teteplah itu brand favorit. Kalau luar banyak juga yah.. Fundamental, Visvim, Moon Eyes mungkin ya kalau brand custom culture nya…


Pendapat Decky soal industri fast fashion vs slow fashion gimana? Brand-brand yang akan sustainable versi Decky idealnya seperti apa?
Sebenernya fast-fashion dan slow-fashion sama-sama bergerak di industri kreatif ya. Mereka udah punya visi yang berbeda dari segi jualan maupun bisnis. Tapi pada akhirnya yang menurut saya akan bertahan adalah yang secara value brand nya itu kuat banget. Dan punya karakteristik yang otentik dan tentunya punya pembeda aja sih dari brand-brand lain. Itu aja sih yang terpikirkan saat ini hahaha…

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Decky Sastra archive’s

Menonton film dokumenter memerlukan sedikit niat untuk menyelesaikannya. Terkadang ketika sedang menonton film dokumenter di tengah-tengah cerita mata terasa berat lalu tertidur. Hal itu sering terjadi ketika film dokumenter yang ditonton terkesan membosankan dan bahasannya kurang menarik. Untuk menanggulangi hal tersebut, Jeurnals dengan baik hati akan merekomendasikan lima dokumenter yang berhubungan dengan musik supaya kamu tidak tertidur ketika menontonnya. Semua pasti suka musik kan? Simak nih daftar rekomendasi berikut ini.

Such Hawks Such Hounds
Buat kamu yang suka musik rock, psychedelic, stoner, doom atau musik semacam itu. Film dokumenter satu ini sangat wajib hukumnya untuk ditonton. Film yang dirilis pada tahun 2008 silam ini menceritakan bagaimana sejarah dan perkembangan musik hard rock Amerika dari tahun 1970 sampai 2007. Dengan menampilkan nama-nama band seperti Pentagram, Earthride, The Obsessed, Kyuss, Sleep, Om, High On Fire dan lainnya, Such Hawks Such Hounds dijamin tidak akan membuat matamu terasa berat ketika menonton film dokumenter.

Until The Light Take Us
Film dokumenter yang satu ini akan menambah wawasan akan musik black metal. Until The Light Take Us memperlihatkan bagaimana perkembangan musik Black Metal sebagai subkultur di Norwegia yang terkenal kontroversial. Dimulai dari pembunuhan, bunuh diri dan pembakaran. Nama-nama besar di skena musik black metal seperti, Fenriz (Dark Throne), Hellhammer, Abbath, Bard Eithum (Emperor) dan lainnya menjadi narasumber yang di interview di film dokumenter ini. Yang menarik ada interview dengan Varg Vikernes (Burzum) bagaimana dia menjelaskan kenapa dia melakukan pembakaran gereja dan semua hal-hal kontroversi yang telah dia lakukan.

American Hardcore
Berawal dari buku hasil karya Steven Blush dengan judul American Hardcore – A Tribal History kemudian dibuat menjadi sebuah film dokumenter oleh Paul Rachman. Film ini membahas kelahiran dan evolusi punk rock hardcore dari tahun era 1980 sampai 1986. Film dokumenter ini memperlihatkan cuplikan video live dari band-band punk hardcore dan wawancara orang-orang yang terlibat di skena musik punk hardcore pada masa itu. Ini menampilkan wawancara eksklusif dengan band punk hardcore awal seperti Black Flag, Minor Threat, Bad Brains, dan banyak lagi.

A Fat Wreck
Kalo kamu tau NOFX, Lagwagon, Strung Out, Me First And The Gimme Gimme’s dan band melodic punk lainnya pasti familiar dengan Fat Wreck Chord. Film dokumenter ini menceritakan bagaimana terbentuk dan jatuh bangunnya perjuangan untuk mempertahankan sebuah record label dengan nama Fat Wreck Record oleh pendirinya Fat Mike(NOFX) dan mantan istrinya Erin Burkett. Selain interview dengan orang-orang yang terlibat langsung atau tidak langsung dengan Fat Wreck Chord ada juga reka adegan perjuangan Fat Mike dan Erin Burkett yang perannya digantikan oleh dua
boneka yang menyerupai mereka berdua.

Beastie Boys Story
Perpaduan sempurna antara konsep, visual, dan cerita merupakan sebuah gambaran singkat dari film dokumenter tentang Beastie Boys yang dibuat oleh Spike Jonze. Beastie Boys story tentu saja bercerita tentang sejarah trio hip hop ini dari awal pertama mereka terbentuk sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidak meneruskan Beastie Boys ketika Adam Yauch meninggal dunia. Konsep yang sangat unik diperlihatkan oleh Spike Jonze dengan karena selain memperlihatkan footage-footage yang langka dari Beastie Boys, semua footage itu diberikan kata pengantar cerita langsung oleh Mike D dan Adam Horovitz di sebuah panggung teater yang ditonton langsung oleh orang-orang yang hadir di dalam teater tersebut. Mike dan Adam menceritakan tentang Beastie Boys ketika footage sedang akan diputarkan sangat-sangat cerdas, bagus dan menghibur.