Karakter superhero yang dilabeli sebagai “the world’s best detective” ini sudah malang-melintang di dunia sinema dari tahun 1966 sampai 2022. Tentu saja banyak pro dan kontra mengenai siapa Batman terbaik dan film mana yang paling setia mengadaptasi komiknya. Dari Val Kilmer, Christian Bale, Michael Keaton, Ben Affleck, Robert Pattinson sampai George Clooney pernah memerankan Bruce Wayne. Mari simak film Batman favorit kita di Jeurnals (dan beberapa yang sebaiknya dilupakan saja)

Batman & Robin (1997) Dir. Joel Schumacher
Jika keputusan menggunakan Arnold Schwarzenegger sebagai Mr. Freeze dan George Clooney sebagai Batman tidak cukup buruk, kami ingatkan sekali lagi kalau ini adalah satu-satunya film Batman yang menampilkan nipple pada kostum Batsuit nya. Bahkan George Clooney pun mengakui kalau film ini bisa “Menghancurkan franchise film Batman”. Nuff said.

Batman (1966) Dir. Leslie H. Martinson
Setidaknya Batman versi Adam West ini menampilkan kostum dan Batmobile yang cukup ikonik dan mirip dengan versi komik Batman awal-awal. Film Batman pertama ini berdasarkan serial televisinya yang tayang tahun ‘60an, dibintangi Adam West (Batman) dan Burt Ward (Robin). Ada humor dan komedi yang lumayan sebenarnya, tapi dengan kualitas produksi yang murahan dan ketinggalan zaman, tentunya film ini tidak layak untuk ditonton di tahun 2022.

Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) Dir. Zack Snyder
Pertemuan sinematik pertama antara vigilante dari kota Gotham dengan anak favorit planet Krypton. Tentunya momen dimana kedua superhero tersebut mempunyai nama ibu (Martha) yang sama adalah salah satu plot twist terburuk yang pernah ditampilkan di sebuah film superhero. Tapi film ini menghancurkan ekspektasi orang yang menganggap Ben Affleck akan menjadi Batman yang buruk. Setidaknya lebih baik dari George Clooney lah..

Batman Forever (1995) Dir. Joel Schumacher
Lagi-lagi sutradara Joel Schumacher berulah. Sebagai periode transisi dari Batman Tim Burton yang dark menjadi lebih colourful, tentunya film ini cukup ikonik. Menampilkan The Riddler versi Jim Carrey yang malah berakting seperti Joker, dan Two Face versi Tommy Lee Jones disini juga terlihat seperti badut. Origin story Robin lumayan ditampilkan dengan baik disini, dan Val Kilmer sebagai Batman pun sangat underrated, yang menurut saya justru lebih baik daripada versi Ben Affleck. Jika kamu bisa melupakan kota Gotham yang terlihat seperti neon warni-warni dan perkelahian ala Power Rangers, film ini cukup lumayan layak untuk ditonton. Soundtracknya pun cukup ikonik pada masa nya dengan menampilkan Seal dan U2.

The Dark Knight Rises (2012) Dir. Christopher Nolan
Part terakhir dari trilogi Christopher Nolan ini terinspirasi dari komik arc “No Man’s Land”. Tom Hardy sebagai Bane memang menakutkan, tetapi tanpa subtitle, dia hanya terdengar seperti pemabuk beraksen cockney yang sedang menggumam. Beberapa scene yang ikonik disini justru bukan scene action, melainkan scene ketika Jim Gordon menenangkan Bruce Wayne muda saat baru kehilangan orang tua nya, dan scene terakhir dimana Alfred melihat Bruce Wayne yang sudah melepas jati diri Batman nya. Dibanding Batman Begins dan The Dark Knight, tentunya ini adalah yang terlemah dari trilogi Nolan. Durasi yang terlalu panjang, plot yang sedikit membingungkan dan tentunya villain yang kurang menarik. Tema class-war yang diangkat disini cukup menarik, dan tidak ada salahnya kamu me re-watch film yang satu ini.

Batman Returns (1992) Dir. Tim Burton
Dianggap sebagai film Batman yang paling dark, ketika SD saya menonton film ini di bioskop pun merasa seperti menonton film horror ketimbang film superhero. Adegan intro saja menampilkan orang tua Penguin yang membuang bayi nya ke solokan. Damn, that’s pretty dark for a superhero film, Tim. Penguin yang ditampilkan oleh Danny DeVito sangat menyeramkan, apalagi dengan make up nya yang menyerupai witch dan beberapa scene sang aktor memakan ikan mentah on screen. Tidak bisa dipungkiri, Catwoman yang diperankan Michelle Pfeiffer adalah Catwoman terbaik (maaf Zoe).

Batman Begins (2005) Dir. Christopher Nolan
Christopher Nolan banyak mengambil resiko di film Batman pertama nya. Dengan mengambil tema yang lebih relevan dan real, hilanglah kota neon ala Joel Schumacher dan Gotham versi gothic ala Tim Burton. Disini Gotham terlihat seperti kota pada umum nya: Terang dan modern. Uniknya, walaupun banyak menampilkan scene siang hari, Batman versi Nolan ini terasa padat dan tetap gritty. Batman Begins adalah sebuah film Batman yang baik, menandakan era baru sinematik Batman. Lupakan saja suara serak Christian Bale saat mengenakan kostum Batman, dan kalian sudah menyaksikan Bruce Wayne versi terbaik.

Batman (1989) Dir. Tim Burton
Tidak bisa dipungkiri, Michael Keaton adalah Batman terbaik versi saya. Tim Burton seperti biasa menggunakan ciri khas gothic nya dalam film ini. Visual yang keren dan tentunya penampilan Jack Nicholson sebagai Joker disini memang paten. Disini juga ditampilkan origin story Joker yang sedikit dimodifikasi. Untuk angkatan ‘90an, tentunya film Batman inilah yang menemani kalian semua tumbuh dewasa. Film ini lebih terasa unsur komik nya daripada versi Nolan yang lebih grounded. Lupakan George Clooney dengan kostum nipple nya dan lupakan suara serak Christian Bale. Karena Michael Keaton adalah Batman yang sangat ikonik. Film inilah yang bertanggung-jawab membuat karakter Batman menjadi ikonik dalam media film.

The Dark Knight (2008) Dir. Christopher Nolan
Film ini bukan saja film Batman yang bagus, tapi film ini adalah film yang bagus secara umum: visual, plot, akting, sound dan produksi benar-benar di handle Christopher Nolan dengan sangat baik. Siapa yang bisa melupakan intro perampokan bank yang di shoot dengan kamera IMAX? Joker yang membakar uang sambil tertawa? Disini ditampilkan juga sebuah Chase scene yang keren dan menghancurkan 1 kamera IMAX (yang sampai saat ini adalah kamera termahal di dunia). Tentunya kesuksesan film ini sangat dipengaruhi oleh akting Heath Ledger sebagai Joker dengan versi yang lebih seram dan pintar ketimbang versi Jack Nicholson. Konon Heath mengambil inspirasi cara Joker berbicara dari sebuah interview musisi bernama Tom Waits. Jika kalian menyukai heist movie, tentunya film ini adalah film Heat (1995) versi Nolan; Batman hadir menggantikan Al Pacino dan Joker menggantikan Robert Deniro dalam salah satu film perampokan terkeren abad ini.

The Batman (2022) Dir. Matt Reeves
Jika The Dark Knight adalah Heat versi Batman, maka film ini adalah Se7en (1995) dan Zodiac (2007) versi Batman. Jika kita telusuri, DC Comics pada awalnya bernama Detective Comics, dan Batman pun ditampilkan sebagai detektif yang piawai dalam komik-komik awalnya di Detective Comics. Sayangnya, keterampilan Batman sebagai detektif jarang ditampilkan di film-film Batman versi Tim Burton maupun Nolan. Disini Matt Reeves ingin melupakan sejenak gadget-gadget canggih Batman, dan ingin menampilkan sisi Batman sebagai detektif hard-boiled seperti pada film-film noir pada umum nya. Disini Batman ditampilkan dengan sangat seram dan moody: Suara boots nya yang melangkah pelan saat menghampiri penjahat di awal film adalah salah satu scene terkeren dalam sejarah film Batman. Batman pun disini lebih ditampilkan sebagai seseorang yang pandai berkelahi dengan tangan kosong ketimbang menggunakan Batarang atau senjata lain nya. Apa yang mau dikata, Paul Dano memerankan Riddler dengan sempurna dan menyeramkan, sehingga Riddler lebih menyerupai seorang serial killer dan teroris ketimbang super-villain pada umum nya. Zoe Kravitz pun memainkan Catwoman yang cukup sexy. Matt Reeves berhasil membuat Gotham Terlihat dark tanpa menjadi terlalu gothic seperti versi Tim Burton. Jika kamu berhasil membuat penonton duduk di ujung kursinya selama 3 jam, maka kamu telah membuat film bagus yang jauh dari membosankan. Oh ya, jika Keaton adalah Batman terbaik dan Christian Bale adalah Bruce Wayne terbaik, maka Robert Pattinson adalah the best of both worlds. Dia mampu menjadi Bruce Wayne dan Batman dengan baik dan benar. Pattinson was born to play Batman.

Words by JEURNALS

Dadan Ruskandar atau yang lebih dikenal dengan Dadan Ketu adalah sosok dibalik layar band metal Burgerkill. Dadan sudah menjadi manager BK dari tahun 2011 sampai sekarang. Selain itu, Dadan juga dikenal sebagai salah satu founder Riotic Records dan event organizer Berandalan Bandung yang pernah mendatangkan Himsa dan The Exploited ke Bandung. Mari berbincang dengan Dadan mengenai band punk nya Kontaminasi Kapitalis, berjualan di pinggir jalan sampai memanajeri salah satu band besar seperti Burgerkill ini.

Halo Dadan apa kabar? Gimana kabarnya Burgerkill (BK) dengan formasi baru sekarang ini?
Halo mas Aldy Kentang gimana kabarnya juga? Alhamdulillah kabar baik. Si BK ada perubahan signifikan yang sangat mempengaruhi mental anak-anak. Tapi alhamdulillah so far anak-anak tuh mental pejuang lah. Mereka bangkit kembali bikin single dan segala macem. Bisa dibilang (formasi baru ini) hasilnya memuaskan.

Sudah berapa lama Dadan managerin BK? Awal-mula nya gimana bisa diajakin managerin BK?
Untuk pertama kali diajak itu prosesnya lumayan alot. 2007 diajakin sama Eben tapi saya ga bisa soalnya masih pegang salah satu band juga. Akhir 2011 Eben ngajak lagi dan saya lagi santai karena band yang saya pegang lagi vakum. Akhirnya join sama BK dan butuh adaptasi lama saya itu. 2 sampai 3 tahun baru bisa adaptasi sama kebiasaan dan pola mereka itu seperti apa. Agak riskan karena dulu saya megang band rock populer yang punya manajemen yang lebih tertib. Di BK lebih kekeluargaan manajemen nya. Akhirnya saya rombak dikit-dikit, ya hasilnya ya terlihat sekarang. Lebih stabil dari keuangan dan program ada terus. Ketika saya masuk juga BK sebenernya band nya sudah jadi, jadi saya cuma nerusin aja sebenernya.


Ada cerita-cerita tour unik ga selama touring sama BK keluar negeri?
Kalau cerita konyol banyak banget! Karena basic-nya mereka itu senang bercanda. Jahil nya itu super-jahil. Hal yang pernah saya lakukan bodoh itu ga antisipasi ketika ada panitia yang kita manggung diluar kota sangat jauh, kita kan harus pake pesawat. Saya dengan bodohnya dikasih tiket berangkat doang, dan kita belum menerima tiket balik. Pas beres acara panitia nya kabur hahaha. Gak ngasih tiket balik. Akhirnya kita terlunta-lunta di Aceh sekitar 4 hari dan akhirnya saya pake uang sendiri beli tiket pesawat yang harga nya lumayan banget. Bodoh lah itu pelajaran. Kalo yang konyol-konyol mah mereka paling juara, nanti bakal kita upload juga video konyol mereka selama karirnya di Youtube..

Next project si BK apa saja?
Untuk saat ini kita fokus single ke-2. Insyallah tahun ini keluar album baru..

Dadan juga kan founder Riotic Records. Bisa ceritain sedikit ga tentang Riotic dari awal sampai sekarang?
Kalau cerita klasik Riotic itu ya berawal dari anak-anak punk rock yang nongkrong di pelataran belakang BIP. Dari obrolan muncul ide untuk jualan sambil nongkrong. Awal nya 1996-1997 di depan BIP kita di emper pinggir jalan. Terus karena kondisi pindah ke belakang BIP, mulai jual macem-macem dari T-shirt sampai aksesori punk. Dulu sekitar 15 orang kita tuh yang ngebentuk. Lalu sempat pindah ke rumah Azis Blind to See. Bikin Riotic Squad di paviliun Azis yang ga dipake. Orang-orang dari luar kota atau luar negeri lagi tour ditampung di penginapan gratis kita. Lalu kita kena krismon dan ditawarin di rumah keluarga Ucay eks-Rocket Rockers. Sekarang jadi McDonalds Dago simpang. Sewa perbulan disitu. Karena banyak kerjaan, waktu pindah ke simpang sisa 5 orang yang fokus ngerjain. Pas rumah itu dibeli McD kita pindah lagi, mulai ngeluarin bujet kontrak yang tinggi dan penjualan cuma cukup untuk hidup. Lalu pada mengundurkan diri. Tadinya mau saya bubarkan sih, tapi eweuh gawe oge jadi saya terusin. Nomaden pindah ke Cimanuk, Dago Atas dan Jl. Sumbawa, paling lama lah 12 tahun disitu. Kontrakan makin naik, balik lagi ke rumah saya yang di Cijerah, gudang disana sekarang. Sekarang nyewa di Hallway Space karena biaya sewa realistis. Gitu mas Aldy..


Suka-duka Dadan selama menjalankan Riotic selama ini apa saja?
Jadi banyak banget lah, dulu pas di pinggir jalan banyak bersentuhan dengan premanisme, satpol PP, dengan kondisi anak-anak yang hidup dijalan. Dari dulu kita ga ngambil keuntungan, cuma cukup untuk biaya hidup sehari-hari, makan bareng. Kalau hari ini ga dapet duit ya ga makan. Gitu terus selama bertahun-tahun. Selama ini Riotic Records juga belum ada yang menguntungkan sih.. Saya juga akhirnya bikin event organizer Berandalan Bandung sama anak-anak. Suka nya itu ya mungkin dari hobby jadi bisa buat hidup, akhirnya saya memilih profesi ini walaupun saya punya gelar sarjana, ya saya pilih disini, dunia entertain (manager BK). Dari hobby jadi menguntungkan akhirnya..

Buat orang awam yang belum tahu, A to Z Dadan sebagai manger BK itu apa saja sih jobdesc nya?
Jadi memang dalam satu manajemen band itu punya sistem sendiri lah. As a manager, manajer bisnis, keuangan dan lain-lain. Kalau part saya di BK agak unik: saya bisa jadi road manager, business manager, road man juga. Mengatur segala macem lah di BK. Tapi saya lebih fokus ke BK untuk panggung sih, segalanya harus disiapkan sama saya. Dari mulai keberangkatan, safety, lighting, sound system dan memastikan agar riders nya dipenuhi juga..


Apa sih yang dimiliki BK yang mungkin ga dimiliki band lain?
BK itu emang konsisten dan full-time band. Jadi emang kerjaan nya nge band, bukan part-time band. Orang kan biasanya sambil kerja sambil nge band. Kalau di BK itu orang-orangnya memang fokus di musik. Itu yang membedakan sama band-band lain. 100% fokus di band. Pekerjaan sampingan itu nomor dua. Dan mereka ga pernah berhenti membuat proses kreatif, selalu ada aja idenya. Mereka itu full-time band, semua fokus di band ga ada yang kerja kantoran. Mereka ga pernah berhenti berkarya.

Bisa ceritain sedikit soal Berandalan Bandung?
Dibentuk sama saya, Arian (Seringai) dan Wale. Dibentuk karena ada band Amerika, Himsa, yang mau tour ke Bandung. Kita bikin kolektif ini untuk menghandle kerjaan seperti ini. Setiap ada band luar kita kerjain, dan pernah juga ngerjain event ulang tahun Burgerkill dan Puppen Last Show. Event si Exploited juga pernah. Sekarang kita vakum, jualan merch laku sampai dibajak di Tanah Abang dan Alun-alun. Jadi kampungan kieu dibajak dimana-mana. Akhirnya kita berhentikan merch nya. Terakhir saya bikin event launching album sekarang sih stop dulu karena kondisi juga ga memungkinkan untuk buat event.


Dulu juga Dadan sempat nge band ya sama Kontaminasi Kapitalis ya?
Jadi bikin KK itu sama Pam karena kita se-propaganda aja sih dulu. Indonesia juga lagi dihajar krismon, kondisi parah dan pemerintah ngahuleng oge. Itu band cuma propaganda aja sih soalnya Pam kan bikin zine juga. Ayolah bikin band, manggung ama siapa aja juga gatau sih, pas main selalu banyak polisi, intel. Tapi sempet main di Yogya, dimana. Seru-seruan aja manggung under the radar. Lama-lama lieur oge kikieuan wae akhirnya saya cabut dan digantiin orang lain. Sekarang mah udah ga ngeband lagi, lieur ah, maen musik nya aja geus paroho deui hahaha..

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Dadan Ketu’s Archive

Eone adalah salah satu turntablist dan DJ hip hop yang cukup prolifik. Permainan scratch nya bisa kamu dengar menghiasi lagu-lagu Homicide, Bars of Death, Krowbar dan tentunya Eyefeelsix, group hip hop yang sudah bersama Eone sejak awal karir nya. Eone juga memiliki kesibukan lain, yaitu mengurusi label musik nya, Grimloc bersama Herry Sutresna dan Febby Herlambang. Label fashion dan zine hip hop nya pun yang bernama Uprock 83 sudah merilis beberapa koleksi dan mixtape. Let’s get to know him a lil’ bit closer…

Selain menghiasi track-track hip hop dengan permainan turntablism lo, lo juga tergabung dalam team produser Grimloc yang bernama Napalm Squad bersama Ucok dan Jaydawn. Bisa ceritakan sedikit mengenai Napalm Squad dan jobdesc lo disitu?
Napalm Squad ini teh kaya Bomb Squad nya Public Enemy. Ada Ucok, Jay ama saya. Lebih ke nyatuin ide yang outputnya tuh basically kita semua senang. Semua punya peran masing-masing. Saya lebih banyak mengisi track scratching. Tapi saya nge produce juga, kaya Bars of Death backbone nya dari saya yang pengen kaya Run DMC, dengan basic backbone turntablism. Jay sebagai engineer dan beatmaker. Ucok itu sebenarnya otak nya. Dia cari narasi, bikin konsep, nyari samples dan bikin alur. Jay dan saya lebih banyak eksekusi tapi memberikan ide-ide juga. Dan alur kerjaan pun lebih cepat karena udah sebagai team. MC Doyz, Bars of Death, Krowbar adalah beberapa dari yang kita kerjakan.


Selain mengisi scratch di lagu-lagu hip hop, lo juga kadang berkolaborasi dengan band-band luar genre hip hop. Sudah pernah mengisi dan collab dengan band apa saja? Apakah ada perbedaan style turntablism yang lo pakai di lagu hip hop dengan genre diluar hip hop?
Burgerkill dan Mesin Tempur saya pernah isi juga. Taring, ada band ska dan dub juga. Banyak sih, cuma pasti style isian saya beda. Di band-band metal lebih ke mainin sound effect. Lebih ritmik scratch nya. Mereka juga pengen kelihatan ada featuring DJ nya soalnya. Dibikin simple tapi tetap menonjol dan tetap keren. Ga tabrakan juga sama band nya. Saya juga selalu memilih part yang cocok, sample dan efek yang cocok. Misal Mesin Tempur kemarin di lagu “Beatdown” almarhum Ebenz pengen sahut-sahutan. Jadi saya juga pakai sample beatdown yang sought-sahutan..

Apa kabarnya Grimloc Records? Bagaimana suka-duka nya mengurus label rekaman? Sepertinya rilisan kalian selalu masif dan tidak pernah berhenti, walaupun ada pandemi ya?
Memang keseharian saya, Febby dan Ucok di Grimloc adalah musisi dan seniman. Otaknya satu jalur dan se-frekuensi semua. Jadi kita semua enjoy dengan semua ini. Beratnya tuh mungkin kaya banyak rilisan pas awal pandemi, kita masih ragu “orang mau ga ya beli rilisan pas pandemi?”. Soalnya album musik kan mungkin kebutuhan keempat atau kelima lah di masa pandemi ini. Tapi ternyata enggak juga. Malah orang-orang banyak membeli rilisan kita. Kita juga pas pandemi banyak waktu luang jadi kita arrange gimana caranya band-band yang ada di Grimloc itu biar bisa survive selama pandemi. Biar kawan-kawan masih bisa tetap hidup. Kita bikin merchandise atau rilisan atau apa. Banyak juga yang ngomong “Grimloc edan kieu loba rilisan na” ya kita kan record label ya jual rilisan. Ngarana oge record label boss.. Hahaha.. Ya record label mah ya jual musik.. Kalau saya di Grimloc ngerjain produksi dan distribusi.


DJ-DJ luar yang mempengaruhi lo dalam menjadi seorang DJ siapa saja?
1. DJ Lethal. Sebagai pentolan House of Pain dan Limp Bizkit. Dia keren aja. Dia ga sejago DJ lain, ga kaya Mix Master Mike yang sangat skillful. Band-band dia bagus dan hasil produce nya juga keren.

2. DJ Shadow. Endtroducing itu banyak mengubah pandangan saya terhadap musik. Dia agak trip hop tapi ya hip hop. Dia hanya menggabungkan semua elemen musik yang dia dengarkan. Album Endtroducing ini 100% dari samples yang ida bikin pake turntable dengan MPC.

3. DJ Premier no 3 mah. Sebagai produser New York. Produser kenamaan dia sudah jelas. Nas, Ja Rule dia produserin. Grup rap-nya juga keren, Gang Starr. Musiknya saya seneng, dia punya ciri khas. Dengan style scratch chorus. Diambil dari potongan-potongan rapper lain dan dijadikan chorus aja.Bars of Death dan Eyefeelsix tuh scratch chorus ny DJ Premier. Kaya kita nge-chorus tapi dari scratch.

4. Mix Master Mike. Brilian dan punya karakter musik. Dia senangnya space-based samples. Karakter Beastie Boys banget lah, drum breaks yang kasar. Kalau DJ Shadow lebih smooth. Mike lebih liar dan kenceng.
5. DJ Babu. Dia dari Dilated People dan DJ Crew Beat Junkies. Turntablism oge. Suka ikut kompetisi juga. Kalau lokal belum ada favorit soalnya belum ada yang bikin album. Soalnya parameter saya dari karya yang mereka buat..

Bagaimana kabarnya Uprock 83? Apakah ada upcoming projects atau collab?
Kebetulan kita udah vakum 2 tahun. Mudah-mudahan tahun ini kita jalan lagi. Proyek pertama nya kolab bikin sepatu sama Word Division. Baru rilis ini. Kita menggabungkan narasi mengenai orang-orang yang pakai sepatu di tahun ‘90an. Dan tentunya ada mixtape juga. Kalau sekarang si Uprock pengen yang kita banget. Karena awalnya basic si Uprock 83 ini berkembang dari zine nya Ucok, dan akhirnya menjadi brand dengan culture hip hop, yang kebetulan belum ada disini. Sekarang jalan lagi, koleksi terbaru nya tahun ini lebih punk! Hip hop tapi punk, bingung kan? Hahaha. Kalau bikin zine nya itu sebenarnya ngariweuhkeun sorangan hahaha. Harus ada mixtape, ada zine, bagu nya tuh kalau ada yang nanya, boleh beli zine nya dulu, soalnya ada history hip hop culture yang kita masukin ke design-design nya. Uprock 83 karena tahun 1983 itu pertama Ucok mengenal hip hop dari breakdance dan lagu Ice-T. Filosofinya si Ucok banget sih. Basic style nya anak breakdance dan B-boy. Rocksteady crew, zulu nation.

Pengalaman paling menyenangkan selama jadi DJ selama ini apa saja?
Yang paling senang mah di apresiasi. Dari semua komunitas dan genre mengapresiasi saya. Contoh kecilnya pas 2014 pas mo ke London semua support saya: Band-band Bandung, clothing bahkan tukang dahareun oge mere duit jang indit ka ditu. Achievement terbesar sih buat saya apresiasi dari kawan-kawan sih. Saya juga bisa ketemu banyak orang dan alhamdulillah kemanapun saya pergi disambut oleh kawan-kawan dari komunitas kota tersebut. Dibikinin event atau apa. Saya juga punya Cutz Chamber Collective. Biasanya tiap tahun bikin tour ke luar negeri, yang dekat dulu Asia. Jalan-jalan sambil nge DJ hahaha..


Jika disuruh memilih: Menjadi produser atau DJ?
Mending duanana brad bisa teu? Hahaha. Karena sekarang saya lebih fokus nge DJ ya saya pilih DJ. Tapi DJ juga basically produser juga kan.

Lo juga punya bisnis (@Cutz2Cutz) jual Turntable dan speaker juga ya?
Berawal dari dulu pas awal saya mulai nge DJ susah pisan nyari tools untuk nge DJ di Indonesia. Susah dan mahal disini tuh. Jadi saya memfasilitasi. DJ scratch kan beda tools nya dengan DJ mix. Jarum DJ scratch mixer crossfader nya harus optik. Biar anak-anak baru juga lebih gampang nyari tools nya. Dulu harus nitip-nitip, aksesnya susah pisan. Dan orang-orang juga jadi banyak yang ingin mencoba.

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Eone’s archive

 

Sejak Maret 2020 Saint Barkley mempersiapkan satu sistem dan infrastruktur untuk mendukung kolaborasi Saint Barkley x Burgerkill. Genap selama dua tahun, Saint Barkley dan Burgerkill mempersiapkan kolaborasinya untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Diskusi mengenai hal terkait detail desain, kenyamanan, hingga bagaimana produk tak hanya tersampaikan ke konsumen, tetapi juga menjaganya istimewa tak lekang ruang dan waktu dilakukan oleh tim dari Saint Barkley bersama Eben.

Akhirnya, pada tanggal 26 Maret 2022 bertempat di Laswee, Bandung, Saint Barkley x Burgerkill secara resmi rilis dalam sebuah perhelatan bertajuk Burgerkill’s 25th Anniversary Exhibition In Collaboration With Saint Barkley. Perhelatan yang diselenggarakan bersamaan dengan tanggal lahirnya Eben ini menampilkan perilisan Music video lagu “Undefeated” Burgerkill yang dibuat oleh Qrimson Pictures, pameran foto Burgerkill karya Anggra Bagja, serta gathering keluarga besar dan sahabat- sahabat Burgerkill, Begundal Hell Club, dan Saint Barkley.

Diskusi yang lumayan memakan waktu dari bulan Maret 2020 lalu itu menghasilkan Burgerkill x Saint Barkley Shoes di dalam kemasan-kemasan trilogi produk sebagai upaya memanjakan kompleksitas hasrat dan cita rasa para pecinta sepatu dan khususnya fans Burgerkill. Trilogi produk ini akan dirilis secara berkala.

Burgerkill x Saint Barkley Shoes Cullen slip on dirilis tanggal 6 Maret 2022. Produk ini hadir hanya 25 buah, dalam kemasan box set package yang terdiri dari Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Cullen, t- shirt Burgerkill XXV Years Anniversary, sertifikat, 2 buah pick gitar, 1 buah pick bass, 2 buah patch Burgerkill, CD Burgerkill XXV Year Anniversary Live Virtual Concert, 4 buah pin Burgerkill x Saint Barkley, poster, softbox acrilyc packing & plat besi Burgerkill x Saint Barkley dengan harga Rp1.465.000,00. Sepatu ini rilis pertama mengawali perilisan rangkaian trilogi kolaborasi Burgerkill x Saint Barkley Shoes.

Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Glasgow edisi istimewa, mempertahankan model ikonik sepatu running dengan logo Burgerkill di bagian lidah dan logo Burgerkill 25th Anniversary di bagian belakang. Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Glasgow dirilis tanggal 17 Maret 2022 dan hadir secara istimewa hanya 25 buah dalam kemasan box set yang terdiri dari sepatu Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Glasgow, t-shirt Burgerkill XXV Years Anniversary, sertifikat, 2 buah pick gitar, 1 buah pick bass, 2 buah patch burgerkill, CD Burgerkill XXV Year Anniversary Live Virtual Concert, 4 buah pin Burgerkill x Saint Barkley, Poster, Softbox Acrilyc packing & Plat besi Burgerkill x Saint Barkley dengan harga Rp1.465.000,00. Sepatu ini merupakan rilisan ke dua rangkaian trilogi kolaborasi Burgerkill x Saint Barkley Shoes.

Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Midlothian, mempertahankan model ikonik sepatu skate-hi dengan logo Burgerkill di kedua bagian sisinya. Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Midlothian dirilis tanggal 26 Maret 2022 dan hadir secara istimewa hanya 25 buah dalam kemasan box set yang terdiri dari Burgerkill x Saint Barkley Shoes: Midlothian, t-shirt Burgerkill XXV Years Anniversary, sertifikat, 2 buah pick gitar, 1 buah pick bass, 2 buah patch Burgerkill, CD Burgerkill XXV Year Anniversary Live Virtual Concert, 4 buah pin Burgerkill x Saint Barkley, Poster, Softbox Acrilyc packing & Plat besi Burgerkill x Saint Barkley dengan harga Rp1.700.000,00.


Trilogi produk Burgerkill X Saint Barkley Shoes juga hadir dalam kemasan regular. Informasi-informasi lebih lanjut mengenai produk Burgerkill x Saint Barkley Shoes bisa diikuti di website Saint Barkley Shoes.

Photos by Ardi Lazuardi

Unit post hardcore asal Semarang, Vice Versa untuk pertama kalinya pada akhir maret ini akan berlabuh ke 3 kota Jawa Timur, yaitu Batu (25/3), Malang (26/3) dan Surabaya (27/3). Sinking Along East Coast Tour 2022 ini didukung penuh oleh brand asal Bandung yang bernama Husted Youth. Selain untuk mempromosikan rilisan fisik album Compass yang telah rilis tahun 2019 lalu, Vice Versa juga akan meluncurkan kolaborasi merchandise Vice Versa X Husted Youth yang dirilis secara online.

Batu menjadi titik pertama pada Sinking Along East Coast Tour 2022 yang di organize 2 kolektif Titik Dua dari kota Batu yang bekerja sama dengan Heartfelt dari Malang, selain acara mereka juga bakal menyuguhkan pameran persembahan Conbini Style bersama 959. Band pengisi Heartfelt Between A Threat yaitu Sugar Thrills (Bali), Eastcape (Blitar), Grey, Decemberism & Pathway Out.

Titik kedua Sinking Along East Coast Tour 2022 akan diadakan di kota Malang yang di organize Light Creative, kali ini berkesempatan menjadi pembuka Good Morning Everyone band Semarang juga yang lagi adain tour. Surabaya menjadi titik terakhir pada Sinking Along East Coast Tour 2022 juga pertunjukan tour acara persembahan Greedy Dust yang sebelumnya juga ada di Semarang dan Yogyakarta. Band pengisi Greedy Dust Showdown 2022 yaitu Sugar Thrills (Bali), Eastcape (Blitar), Enola, Timeless, Decemberism, Drizzly.

Jeurnals

Reyandi Mardian, yang lebih dikenal dengan moniker Timtimebroy sudah tidak asing lagi. Ilustrasi ala komik half-tone nya sering malang-melintang di feeds timeline Instagram kamu. Sosoknya pun tidak asing karena selain menjadi gitaris band hc/punk Possed, dia juga sering menjadi talent foto untuk Maternal Disaster. Mari berbincang sejenak dengan Reyandi yang lebih akrab dipanggil Lae ini mengenai kecintaan nya terhadap film horror dan komik-komik buatan Jack Kirby…

Kenapa namanya Timtimebroy?
Hallo Bang! Aku dulu pernah main di scene musik punk di Jambi, banyak informasi musik yang belum aku tau, sebelum aku tau dan suka musik dc hardcore, sebagai remaja yang mencari jati diri, aku juga di cekoki oleh Yudha Brothers Brandals, dengerin oi, celtic punk, rockabilly, punk rock, Ska Punk sampe ujung-ujungnya aku dengerin Rancid, saat itu aku liat Tim Armstrong itu sosok yang keren menurut ku, dengan nama Instagram Timtimebomb, lalu aku berfikir, untuk mempleseti Timtimebomb “bomb” nya aku ganti jadi “broy” yang artinya bro atau kawan.


Ilustrasi lo kalau gue liat banyak terpengaruh komik Amerika dan juga ada sedikit style Raymond Pettibon. Darimana aja inspirasi Lae dalam berkarya?
Hahaha, aku dari SD memang sudah sering ngeliatin gambar-gambar dari komik, aku dulu beli di mas-mas yang jual mainan di depan sekolah, judulnya singet aku “Pocong Bohong”, terus buku siksa neraka, semenjak saat itu aku mulai iseng corat-coret di buku sekolah yang dibagian belakang tea bang. Kalo visual komik amerika, sih aku awalnya ngga ngeh sama visual-visual tersebut, aku cuman tau kartun aja nonton di kaset bajakan dengan harga 5000 yang dibelikan nenek saya dulu hahaha. Waktu itu aku sangat mengidolakan detektif kelelawar dari kota Gotham. Waktu itu saya sering merengek untuk dibelikan buku komiknya, tapi dengan ketersediaan di kota saya dulu, untuk mendapatkan buku komik Batman sangat susah. Nah! temen sekolah saya punya tuh bang, Detective Comic No. 31 doi emang keluarga yang ada lah, terus aku pinjem tuh bang, saat itu lah aku mulai ngerasa terpukau, soalnya aku baru ini baca komik yang berwarna, komik lokal yang saya beli di mas-mas mainan di depan SD itu visualnya hitam putih.

Kalo style gambar Raymond Pettibon sendiri sih, emang saya waktu itu iseng aja, kebetulan saya waktu itu lagi suka dengerin DC Hardcore, sebagai remaja puber tea bang hahahah. Nah pas di Black Flag, aku ngeliat si albumnya gaya gambarnya sama terus menerus, waktu itu sih ngak ngeuh, iseng lagi searching flyer Black Flag, “ WAW” aku itu kagum lagi untuk yang kesekian kalinya, mulai iseng digging si artisnya, baru deh tau yang gambarnya ternyata Raymond Pettibon, Jadul saya suka nge-rip-off gambar doi, mulai belajar gambar pake Tinta Cina, terus saya ke Bandung untuk kuliah, zaman itu style gambar dotting, hatching, kegelapan lagi booming. Mungkin aku punya dunia aku sendiri, jadi aku ga terlalu tertarik, aku malah fokus belajar warna, anatomi dan digging lagi artis komik-komik jadul seperti Bill Finger, Jack Kirby. kayanya seru aja gaya gambar dari artis-artis tersebut aku mix.

Komik-komik favorit yang menginspirasi?
Komik yang mengspirasi, mungkin udah aku sebutin di atas, seperti komiknya Tatang S yang judulnya “Pocong Bohong” (alasannya, komik tersebut yang membuat saya menjadi tertarik dengan visual komik bang, walau aku waktu itu nggak terlalu memperdulikan ceritanya, aku malah lebih suka liatin visualnya aja, terus Detective Comic No.31 komik ini membuat aku menjadi lebih suka sama komik, bisa dibilang ini awal mula aku suka komik Amerika bang, dan aku baru tau sisi lain Batman, yaitu detektif. Comic Tales From the Crypt, Komik ini termasuk komik yang membantu aku buat belajar warna, karena warna dari komik ini ajaib-ajaib, terus ada cetak offset dimana ada texture titik-titik di warnanya, nah itu aku akalin pake halftone dengan warna yang berbeda.


Lae juga tergabung di band hc/punk Possed. Gimana awalnya gabung band itu? Kenapa lebih terdengar seperti band-band hc/punk klasik daripada tang modern?
Yap! bener bang, aku merupakan salah satu personil di grup band Pössed. Pössed sendiri merupakan proyek Jeff Voc, Haramarah yang tiba-tiba nyamperin aku di gigs waktu itu di Spasial. ngajakin main HC punk, terus aku tolak, soalnya Haramarah nya juga mainin Hc Punk, saran ku mening main Hc Punk, tapi lebih ke Umea Hardcore, unsur-unsur klasik Hc Punk sendiri tetap ada, karena kami memiliki kecocokan musik yang sama, sama sama suka DC hardcore, dan saat itu yang memainkan Hardcore ngebut bisa dihitung dengan jari.

Merch ilustrasi Lae juga di aplikasikan dan dijual di One Some Shit. Gimana konsep dibalik merch store itu? Kedepannya akan merilis apa lagi?
On Some Shit sendiri merupakan proyek merch dari timtimebroy, disana aku lebih bebas mengaplikasiin visual gambar aku berupa produk, bukan kaos doang, aku juga pernah bikin flag, papercraft dengan tema siksa neraka, untuk next mungkin aku mau bikin gitar/bass dengan visual yang aku buat, terus lagi bikin komik sih yang terdekat.

Sudah berkolaborasi dengan brand apa saja menggunakan Timtimebroy? Projek akan datang?
Maternal Disaster, waktu itu sekalian pameran tunggal, dan juga ikut di pameran ulang tahun ke 17 maternal, nuhun mas Vidi dan kawan-kawan. Lawless Jakarta, aku ngerjain proyek album dari roaster mereka Angry Retards. Berak, ini sih si buat visual produknya aja bang, Filosofi Kopi, bikin merch sama pameran di kedai-nya, nah yang lagi jalan mau kolaborasi sama Bastard of Young, ditunggu aja visualnya bakal menggebrak! hahaha..

Lalu sekarang lagi sibuk beraktivitas apa aja nih? Masih “merecik” terus pastinya ya?
sekarang mah sibuk “merecik” dan “niis” hahaha, engga bang aku sibuk ngedesain, menggambar, dan foto, bukan ngefotoin yah bang, tapi yang di foto hahahha kebetulan aku juga model katalog di Maternal, dan selain gambar, aku juga suka videoin band lagi perfom, bisa di cek di Toxic Labs.

Pertanyaan terakhir: 5 film horror favorit lo?
Re- Animator oleh H.P Lovecraft, film ini menceritakan tentang seorang ilmuwan yang mengakali kematian, dan pada akhirnya manjadi malapetaka, film ini banyak memasukan unsur dark comedy pada filmnya, seperti bola mata yang meletus, kucing zombie, anggota badan yang putus, dan kepala yang bisa berbicara hingga badan tanpa kepala yang meraba-raba, dan pada tahun itu film ini termasuk kreatif karena spesial efek tradisionalnya.

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Tim’s Archive

 

Oscar Lolang, seorang solois pria yang telah mencuri perhatian lewat single “Eastern Man” pada tahun 2016 silam. Setelah itu di tahun berikutnya merilis full album bertajuk “Drowning in a Shallow Water”. Butuh enam bulan bagi Oscar untuk merilis kembali full album di tahun 2022 ini. Sebelum rilis album, Oscar sempat merilis single bertajuk “Dewasa” dengan lirik yang katanya merupakan proses pendewasaan dari seorang Oscar Lolang. Jeurnals penasaran kenapa perlu waktu selama itu untuk merilis lagi full album? Akhirnya kami pun mempunyai kesempatan untuk berbincang bersama Oscar Lolang. Simak obrolan Jeurnals bersama Oscar Lolang berikut ini.

Oscar, bisa diceritain bagaimana pertama kali tertarik dengan musik?
Pertama kali tertarik sama musik dari bokap awalnya. Bokap suka dengerin Queen, Rolling Stone, sama Guns and Roses. Awal perkenalan sama musik dari situ. Kalau mulai tertarik deng musik itu, waktu kecil aku pernah ikut ekskul band. Tapi, itu masih band-band an aja belum terlalu menyukai musik. Menyukai musik itu, pas masuk SMP liat MTV aku suka banget sama Velvet Revolver. Abis itu tapi sama temenku di bully “ah ini musiknya kuno nih” pada waktu itu yang keren tuh emo sama indie lah. Dari situ aku mulai mengikuti trend dan akhirnya jadi menyukai musik akhirnya.

Berarti bisa dibilang awal pengenalan musik seorang Oscar tuh diawali dengan musik Rock?
Iyah dari rock gitu. Lebih ke musiknya bokap sih. Cuman, gara-gara ada MTV jadinya rock-rock yang turunannya bokap yang ada juga di MTV.

Rock tuh kebanyakan kan band. Kenapa Oscar lebih memilih untuk menjadi soloist?
Sebelumnya aku waktu SMP pernah ngeband emo, metal gitu. Pernah juga seband sama ade bawainnya Sigur Ros hehehe… Sebenarnya pertama aku tuh nggak ada niat bermusik tuh buat manggung. Cuman have fun doang hobi. Tapi, aku punya tandem gitaran di kostan tuh namanya Hugo. Aku sama Hugo ini mainnya musik-musik folk lah. Terus sewaktu-waktu ada temen dateng ke kostan, terus bilang “udah diseriusin aja”. Terus udah jadi, nggak taunya Hugo lulus duluan dan pindah ke Jakarta. Jadinya, aku terusin sendiri. Awalnya gitu.

Dulu apa nama band nya sama Hugo? Sempet rilis lagu?
Namanya Jam Malam. Nah, dulu sempat rekaman-rekaman gitu tapi nggak pernah rekaman serius. Dulu sempet upload di soundcloud yang sekarang jadi soundcloud ku. Lagu yang pernah rilis tuh Bila sama Ode to Mami Mami yang pernah aku rekam ulang itu sebenernya lagu aku sama Hugo.

Ouhh.. Dua lagu itu nggak ada di album yah cuman single doang? Kenapa memilih direkam ulang buat single?
Iyah cuman singles aja. Di rekam ulang lagi karena lagu-lagu itu tuh punya follower juga ternyata hahaha.. Jadi pas rilis Eastern Man pertamanya rilis di Soundcloud, terus ada perubahan dari Oscar Lolang ke Jam Malam. Terus karena Hugo pulang ke Jakarta, aku balikin lagi nama Soundcloudnya ke Oscar Lolang, lagu-lagu lamanya nggak aku hapus. Pas rilis Eastern Man masih ada lagu Bila sama Ode to Mami Mami, tapi nggak pernah aku bawain kalau manggung. Eh gak taunya dua lagu itu di Soundcloud banyak yang suka.

Dua lagu itu pakai lirik bahasa Indonesia, kenapa di album pertama kebanyakan pake bahasa Inggris?
Karena aku lebih nyaman bikin lirik Bahasa Inggris. Mungkin karena musisi yang aku liat keren tuh rata-rata pada pake Bahasa Inggris. Kadang-kadang kalo bahasa Indonesia tuh suka cringe gitu, kalo bahasa Inggris tuh se cringe-cringenya tuh masih terdengar keren hahaha… Jadi lebih pede, lebih ada validasi lah gitu.
Kalau untuk bikin lagu gimana Car? Kamu kan soloist jadi apakah semuanya sendiri?
Kalau untuk album kedua nanti aku ada tandem sih. Tandem nya tapi beda-beda, kayak kalo medies aku bikin berdua sama Estu. Lagu-lagu yang lain aku bikin basenya, terus ada temen produser yang bantu terjemahin lagi. Kalo di album pertama lebih sendiri dibantu sama produser juga. Tapi, kalo buat album kedua nanti kolaboratifnya lebih gede.

Kenapa lebih milih musik seperti sekarang Car. Musik kamu ini bisa dibilang folk kan yah?
Aku menyebutnya folk sih. Karena pertama aku suka banget Bob Dylan sama Nick Drake. Mereka berdua bawainnya musik folk. Buat aku, musik folk itu musik yang sederhana tapi sebenernya gak sederhana. Sisi kompleksnya tuh muncul dari kesederhanaannya itu. Karena musik folk tuh rata-rata liriknya tuh ngeri-ngeri. Mungkin karena aku juga suka cerita gitu, lagu-lagu folk itu kan storytelling rata-rata.

Ngomongin folk, folk tuh kan musik rakyat yah lebih sederhana mungkin kalau di Indonesia ada Iwan Fals atau Franky Sahilatua. Tapi seiring berjalannya ada perubahan nih jadi folk tuh identik dengan hal yang dibilang senja hahaha.. Gimana pendapat kamu tentang hal ini?
Pada awalnya aku memaklumi folk itu disebut musik senja. Karena emang, musik folk di Indonesia tuh yang bercerita banyak. Tapi ada juga yang memakai musik folk itu liriknya puitis, musikalisasi puitis. Di lirik puitis itu, kata senja tuh emang kata yang populer sih. Mungkin karena musik folk itu musik sederhana, tema yang diangkat juga nggak berat. Kata senja tuh sering dipakai buat menggambarkan setting tempat, nuansa yang nggak berat itu. Jadinya banyaklah yang pakai kata senja itu. Jadi menurut aku kalo trend nya seperti itu sah aja, tapi cuman agak disayangi nya orang jadi lebih tertutup buat ngeliat folk.

Ini sedikit intermezzo, jadi menyinggung tentang puisi di sebuah lagu. Sempat ada salah satu musisi yang pake puisi di liriknya tanpa menyertakan kredit, gimana menurut seorang Oscar melihat masalah itu?
Hahahahaha… Mungkin yang bikin kasus itu rame tuh karena dia plagiat kali yah. Puisinya aku nggak tau puisi siapa, sama musiknya juga jarang aku dengerin. Karena rame kemarin jadi aku sempet dengerin lagunya sama baca puisinya. Awalnya aku nggak ekspep apa-apa karena, sebenernya aku banyak ngambil lirik tuh inspirasinya dari puisi-puisi. Tapi pas aku dengerin hook dari lagunya pakai dari puisi itu juga. Agak berat kayaknya kalo dia mengharapkan kalo yang suka puisi nggak notice hal itu.

Kalau dari segi lirik, Oscar biasanya mendapatkan inspirasi darimana?
Macem-macem kalo aku sih. Dari yang aku liat, aku baca atau pengalaman langsung gitu. Aku nggak tau kalo cara yang aku pake ini konvensional atau nggak. Jadi biasanya aku bikin lirik tuh aku nentuin narasinya dulu. Karena, kalau aku nggak tau mau bahas apa, musiknya juga jadinya aku nggak tau apa yang mau aku sampaikan. Jadi aku harus tau dulu apa yang mau aku ceritain sih.

Kalau bikin lagu gimana Car? Dari genjreng-genjreng dulu kah atau gimana?
Yang pasti dari narasi dulu sih aku bikinnya. Tapi, aku genjreng-genjreng juga sih biasanya aku rekam jadi tabungan. Kadang juga lagi genjreng-genjreng teringat ada narasi yang belum ada temennya jadinya akhirnya kebawa jadi melodi dulu. Ada juga yang lirik dulu baru musiknya.

Album pertama kan 2017 yah? Setelah itu single-single. Kenapa nggak langsung rilis album lagi?
Ehmmm… Sebenernya aku pengen album lagi. Aku rencananya album kedua nanti tuh awalnya di tahun 2018. Mungkin belum saatnya aja kali yah. Dulu sempet muncul ide dari temanku “itu kan ada lagu Bila, dll kenapa nggak kamu bawain manggung dan rekam ulang”. Oh iya juga yah. Sembari aku menyusun album kedua ini, aku rilis lagu Bila dan itu pun aku rilisnya baru tahun 2019.

Oogitu. Sekarang ceritakan tentang single terbaru dari Oscar dong yang berjudul Dewasa.
Dewasa itu rilis bulan Desember 2021. Di awal bulan Februari 2022 aku rilis video liriknya. Lagu Dewasa itu lagu tentang proses pendewasaanku sih. Sebenarnya isi lagunya tuh ada beberapa hal yang aku harus kuasai dalam proses pendewasaanku. Kan belum tentu hal mengganjal itu nyata. Itukan bagaimana aku bisa ngemaintain rasa insecure, pikiran yang enggak-enggak. Intinya Dewasa itu bagaimana aku nge maintain kepekaanku terhadap dunia. Tapi, juga bagaimana aku memaintain sensitivitas terhadap dunia. Kan kadang orang tuh jomplang yah ada yang peka banget jadinya sensitif banget. Saking sensitifnya jadi menarik diri dari dunia. Ada juga yang nggak peka, nggak sensitif sama sekali. Menurut aku Dewasa itu bisa menemukan formula yang tepat diantara keduanya.


Oscar sudah menemukan hal itu belum?
Sampai sekarang belum sebenarnya hahahah.. Tapi untuk proses pendewasaan itu udah tua juga masih akan terus mencari itu. Karena, menurut aku proses pendewasaan itu bentuk belajar sih, kan kita tuh belajar nggak henti-henti yah. Sampai kita bener-bener nggak bisa lagi.

Untuk lagu Dewasa ini ada orang-orang lain yang terlibat didalamnya nggak?
Untuk rekamannya aku dibantu sama Vai dan Estu. Terus kalo rekaman nya aku di Escape sama di rumah Vai Siagian. Terus disitu ada choir isinya ada Vando, Wildan, sama temen-teman lainnya. Kalau produser buat lagu ini aku ngeproduce sendiri.

Dewasa kan jadi salah satu lagu yang akan ada di album barunya Oscar, secara garis besar album baru itu bercerita tentang apa?
Garis besarnya tentang proses pendewasaan sih. Tapi, kalau mau denger album baru ini, ada baiknya dengerin dulu album aku yang pertama. Jadi buat ngasih gambaran storynya. Karena, di album pertama itu aku bercerita tentang hal diluar aku terus aku refleksikan. Kalo untuk album kedua itu dibalik, aku lebih ngeliat ke dalam. Harapannya dengan kita ngeliat kedalam tuh sebenernya kita bisa berkaca keluar. Karena kita bisa peduli terhadap sesuatu tuh ketika kita bisa memanifestasikan kita disana. Baru disitu kita bisa berempati lalu disitu kita bisa jadi dewasa.

Apa yang terjadi sama Oscar sehingga ada perbedaan konsep di album pertama dan kedua yang akan rilis?
Hmmm…Sebenarnya banyak kejadian sih. Tapi, aku seiring jalan tuh sempet mikir. Jadi kenapa aku sempet kepikiran bikin album kedua ini di tahun 2018 karena, tahun 2018 itu tahun yang bikin aku kaget. Meskipun kalau skala beratnya 2020 – 2021 lebih berat sih. Tapi, 2018 tuh bikin aku kaget. Aku kepikiran bikin album tuh di akhir tahun 2018. Aku mikirnya itu tuh jadi proses pendewasaan aku. Timbul pertanyaan kok aku bikin album pertama seperti itu yah? Aku kan belum pernah ke Papua tapi bisa bikin Eastern Man lagu tentang Papua. Terus aku belum pernah ke candi Bojong Menje tapi aku ngerasa itu rumah yang pengen aku ceritain. Tapi at the same time juga, ketika aku cerita tentang itu. Terus aku juga nanya, kenapa ada orang yang menafikkan itu. Mungkin di situ aku egois juga. Tapi di tahun 2018 itu juga lagi rame deket-deket pemilu. Banyak orang yang saling menyerang satu sama lain. Mereka merasa paling bisa menjudge orang. Mungkin jawabannya, ketika orang sedang mengalami masa terberatnya atau terindahnya, sering kali mereka lupa untuk berkaca untuk menghargai yang terkecil. Menghargai kehadiran diri sendiri di society atau menghargai keluarga.

 

Di Album kedua nanti akan ada berapa lagu?
Nggak nyampe 10 lagu pastinya.

Kalau yang ngebedain album pertama dan kedua apa? Selain refleksi diri tadi.
Nah ini, waktu dulu aku rilis lagu Drive to School dan Dewasa banyak yang nanya. Kok nggak bikin lagi lagu tentang isu sosial? Atau ngritik lagi? Sebenernya aku tetap mengkritik, tapi nggak segamblang album pertama. Untuk album kedua nanti aku mengkritik diri sendiri dan orang-orang yang mungkin melihat isu ini dengan cara melihat kedalam. Kalau secara musik di album kedua nanti lebih kaya tetap dengan garis benang merah folk.

Kasih tau dong, kenapa album kedua Oscar Lolang nanti patut ditunggu dan didengarkan.
Karena album yang akan datang ini, aku merangkum eksperience orang-orang terhadap musisi-musisi sekarang yang akan menjadikan satu eksperience baru lagi. Yaitu album Glory Glory Glory nanti.

Interview by Firman Oktaviawan
Photos by Gladinasaska

Bastards of Young, brand apparel asal Bandung kembali lagi dengan kolaborasi menarik, setelah sebelumnya mengeluarkan Bastards Music Series dengan Diskoria tahun kemarin, kali ini mereka merilis Bastards Artist Series Vol. 1 bersama Ken Terror, illustrator yang sudah cukup veteran di bidang design dan ilustrasi. Untuk line up produknya, kolaborasi ini merilis capsule collection secara limited yang berupa 3 artikel T-Shirt dan 1 sticker pack yang berisi ilustrasi-ilustrasi ikonik Ken Terror.

Ilustrasi kaos “Monalithrone” adalah sebuah homage terhadap band black metal legendaris Dark Throne, dimana typeface Dark Throne di parodikan menjadi Bastards of Young. Lalu lukisan Monalisa dari Leonardo Da Vinci dimainkan Ken dengan kostum spike medieval dan make-up corpse paint ala black metal. Untuk artikel “BOY” Ken memparodikan fonts Charged GBH, band punk asal Inggris yang di finishing secara digital. Untuk “Infinite”, Ken membuat ilustrasi tribute untuk salah satu album alternative rock ‘90an favoritnya dengan style tengkorak dan teknik stippling ciri khas Mayhem Studio, sebuah studio ilustrasi milik Ken Terror.

Disini, konsep dasar dari design yang ditampilkan adalah homage Bastards dan Ken Terror terhadap 3 sub-genre musik yang cukup berpengaruh kepada brand Bastards dan juga kehidupan Ken Terror. Ketiga sub-genre yang ditampilkan dalam produk ini adalah Norwegian black metal, ‘90s alternative rock dan punk. Sebagai salah satu veteran musik punk, Ken Terror juga dikenal sebagai personil Hark! It’s A Crawling Tar-tar dan Kontrasosial, dan kini Ken lebih berfokus kepada band alternative rock nya yang bernama Sunbath. Produk-produk capsule collection limited ini bisa didapatkan lewat instagram Bastard of Young.

Photos by Feri Alan Romadon

Adymas Haryo atau yang lebih akrab dipanggil Dimas adalah salah satu skater veteran yang sudah merasakan skate spots Bandung dari tahun ‘90an. Sebut saja: Balai Kota, ITB, Hobbies Jl. Tera, dan tentunya skate spot legendaris Taman Lalu-Lintas. Selain itu, Dimas juga pernah tergabung di unit hardcore Take A Stand dan Neighborhood sebagai vokalis. Kini dia mempunyai unit bisnis dan skate shop bernama Blab dan This That Media, sebuah platform musik untuk penggemar drum ‘n bass, breakbeat dan jungle. Mari berbincang dengan Dimas mengenai skate spot favoritnya di Bandung, Blab dan tentunya output musik nya bersama This That Media..

Halo Dimas, apa kabar? Bisa ceritakan sedikit soal Blab Store dan current projects nya?
Halo Aldy, kabar sehat! Semoga sehat juga semuanya happy 2022! Blab itu singkatan dari Bandung Lab. History nya emang terinspirasi dari mimpi. Dan Kalo Konsep sih dari Homies-homies sk8 yang punya similar visi dan misi juga untuk memajukan industri lokal khusus nya di Bandung. Current project untuk Blab sendiri masih di Then & Now. Terakhir kita lagi ada Special Edition – Order 2 Destroy. Yaitu deconstruction culture. Kalo collab untuk saat ini Belum ada..

Lo kan salah satu skateboarder Bandung yang lumayan veteran, awal lo maen skate dulu diajakin siapa? Sama bisa ceritain sedikit ga buat pembaca pernah ikut kompetisi apa aja..
Veteran ya? Iya sih kebetulan dulu Hobbies di Jl. Veteran hahaha.. Tertariknya secara ga sengaja. Waktu itu lagi sepedaan ke Taman Lalu-Lintas (TL) pas kelas 5 SD. Tiba-tiba ada skatepark dan banyak yang main skateboard. Pas mau masuk SMP ketemu sama Ari Maulana atau Ariboy. Dia main skate duluan. Ga pake baju seragam SMP dia pake baju bebas. Terus ngobrol-ngobrol kenapa pake baju bebas, katanya mau maen skate di TL, terus diajak sama dia. Awal main di TL, sebelumnya udah ngulik dulu depan rumah. Setelah itu kita pindah ke Hobbies Jl. Tera. Terus mulai main ke Balkot, Samsat, UPI, Gedung Sate, ITB. Bisa dibilang semua skate spot Bandung kita kunjungi rame-rame..

Kalau kompetisi sejauh ini so far paling berkesan kompetisi Philips di tahun 2000an kalo gasalah. Kalau yang internasional di Bangkok yang di Phuket. Dapet juara 11 ga masuk 10 besar cuma termasuk pengalaman pribadi yang ngebuat gue kaya sekarang. Kalau yang lokal selalu ikut, selain tuntutan sponsor karena pengen ketemu temen-temen dari luar kota juga sih..

Top 3 trick favorit lo apa aja?
Ollie, Tre Flip, dan Switch frontside flip. Kalau yang gue ga bisa: frontside flip kaki asli, lazer flip dan frontside crook.


Kalau top 5 skate video yang menginspirasi lo apa aja? Yang sampai sekarang masih memorable?
Pertama “Goldfish” dari Girl Skateboards, kedua “Welcome to Hell” dari Toy Machine, ketiga “101 Trilogy” (World Industries/Blind). Keempat “Geber”, skate video pertama dari Bandung, yang buat Arin Sunaryo. Lalu terakhir “Unforgettable” , video gue sama Xonad dari Cerahati.

Shooting part video skate lo yang paling memorable?
Yang paling memorable udah pasti “Unforgettable: soalnya gue sama anak-anak punya visi dan misi untuk buat portfolio masing-masing. Yang sampai sekarang gue jadi punya Blab, Indra Gatot dengan Rosemary, Maskom dengan Ouval nya. Dulu ada Kribo Neraka. Masluk dan Maskom juga dulu sempat punya M Clothing. Jadi pas Unforgettable Emang misi Gw pengen punya portofolio buat gw sama anak-anak pada jaman itu. Sebenernya video “Unforgettable” terjadi karena butuh salah satu porto untuk masuk kuliah di SG..

Lo juga sempat ngeband bareng Take A Stand dan Neighborhood ya? Ga tertarik ngeband lagi sekarang? Hahaha
Sebenernya ngeband pertama tuh dulu diajakin Ale Andre di Full of Hate. Abis main skate diajakin nyanyi tiba-tiba untuk nyanyi lagu “Lalat”. Jadi Full of Hate adalah inspirasi gue untuk bikin band kaya Take a Stand dan Neighborhood. Seru banget karena memang belum mikir apa-apa. Belum ada tetek-bengek lainnya. Kalau ngeband lagi tertarik sih mungkin collab sama yang modular, atau band asli juga. Gatau sih pengen aja hahaha.. One day.. Mungkin sama kamu? Haha..


Bisa ceritakan sedikit ga tentang This That Media yang lo bikin?
Kalo This That Media salah satu platform gue untuk ngelakuin ego gue dan anak-anak yang suka jungle, drum ‘n bass, breakbeat.. Tujuan awalnya karena emang pengen ngeluarin lagu-lagu dari hardisk hahaha. Scope nya untuk ngerangkul anak-anak baru untuk suka jungle dan DNB mungkin ya. Tapi emang belum ada physical evidence nya, baru di Spotify, iTunes Music. Tapi mungkin nanti akan ada physical evidence yang lebih ke collectible items. Udah jarang nge-DJ tapi masih sering produce. Jadi ya pengen ngeluarin unek-unek lah. Cannot contain that creativity hahaha..

Lo kemaren-kemaren sempat cedera juga ya? Selama main skate cedera paling parah yang lo alamin itu pas kapan?
Sebenernya itu bukan pas skate day. Shit happens bro. Shit happens when i’m about to skate. I’ve got injured and broke my ankle. Healing up now for a bit. Hopefully will be back next year 2023. Cedera paling parah 2012 seminggu sebelum gue nikah, ligamen gue sobek. Menurut gue itu momentum yang cukup parah..

Trick-trick yang pernah lo coba dulu dan cukup gnarly apa aja?
Dulu ada challenge skateboard di ITB namanya drop-in morbid. Kalau masuk ITB dari depan kita belok kiri terus keatas, belok kanan dan belok kiri lagi. Disitu ada gap yang ngelewatin selokan dan rumput. Tinggi nya 5 kali tinggi gue. Dan yang kedua favorit gue pas di “Unforgettable” 360 flip di Jl. Padjajaran. Diluar Bandung di UNTAR ada switch frontside flip cuma 3 kali coba, lumayan effortless. Ya seenggaknya itu menurut gue cukup gila dan kompeten lah hahaha. I can send you the footage tonight if you want..

Top 5 skater versi lo siapa aja?
Of course Arief Maskom dengan tweaked ollie nya, kedua ada Robby Gondrong TL karena dia bisa kiri-kanan, switch stance kickflip, combo banget pokoknya. Ketiga Bima Girindra, he got all the style. Keempat untuk sekarang Indra Dom Dom. Kelima Dirtysat. Ada anak baru. Too little to mention sih kalo fav skateboarder haha. Kalau yang luar nya, Jack Curtin, Eric Koston, Rodney Mullen, Paul Rodriguez, kelima guilty pleasure gue lah, Nyjah, hahaha..

Last shout outs?
Shout out to all my homies, you know who you are. Buat skateboarder baru don’t forget your roots and your elders, this is what you become that’s why you’re here. Please survive, stay healthy, safe and sound. Big up Aldy dan Bastards of Young nya. Thank you for having me!

Interview by Aldy Kusumah
Photos by Adymas’s archive

 

Solois Danilla Riyadi mengawali tahun 2022 dengan mengeluarkan video klip baru bertajuk “MPV”. “MPV” merupakan jembatan yang manis untuk menuju album baru Danilla yang bertajuk Pop Seblay yang juga disematkan di akhir video clip “MPV”. Pop dan seblay mungkin terkesan rancu untuk disatukan untuk dijadikan sebuah frasa. Tapi, dua kata itu disatukan oleh seorang Danilla Riyadi seakan cocok untuk mewakili 12 lagu yang ada didalamnya.

Danilla terinspirasi oleh Fluxcup salah seorang seniman yang sempat membuat sebuah video monyet seblay. Untuk album ini, Danilla menggaet Otta Tarrega sebagai producer dan Lafa Pratomo, nama yang tidak asing lagi dengan karya-karya Danilla. Untuk mengisi instrumen pun, Danilla mengajak orang-orang yang menenaminya disaat tampil live mulai dari Rendi James (gitar), Gallang Perdhana (bas), Edward Manurung (drum), Otta (kibor) dan Lafa (gitar). Selain nama-nama tadi, ada juga beberapa kolaborator yang terlibat di album “Pop Seblay”, seperti Sigit Pramudita (Tigapagi), Teddy Adhitya, Fluxcup, sampai Bobby Mandela (BKR Brothers) pun ikut turut bagian di album ketiga Danilla ini.

Pop Seblay dibuka oleh lagu “Kudikan” yang diawali oleh monolog Fluxcup yang tentu saja absurd yang disambung oleh suara haunting Danilla seolah memberikan ucapan selamat datang di Pop Seblay. Agak mengagetkan di akhir-akhir ada sedikit bassline seperti musik orkes dan akhirnya pun ternyata ada nuansa dangdut yang disertai suara Fluxcup mengucapkan sajak yang berisi kata-kata ciri khasnya yang absurd. Berikutnya ada “MPV” yang mengisi track dua. Melalui lirik di lagu “MPV” ini terdengar Danilla ingin mengenalkan karyanya yang baru atau mungkin sisi asli pribadi dirinya. Di track tiga ada lagu “Bukan Otomata” diawali dengan lirik “siapa makhluk paling paripurna” dan di lagu ini terdengar suara petikan gitar akustik dari Sigit (Tigapagi).

Setelah beres mendengarkan “Bukan Otomata”, tetiba terdengar nada dengan nuansa game konsol nintendo, ternyata itu adalah intro untuk lagu “Berat Badan” yang liriknya sebuah keresahan akan kenapa harus ada standar tertentu untuk sebuah bentuk atau berat badan. Track ini sedikit mengingatkan dengan lagu-lagu lo-fi-nya Mac Demarco. Berikutnya ada “S E N J A di Seberang Nusa” yang mengobati akan rindunya lagu-lagu Danilla terdahulu. Masuk ke track yang bikin menohok terkagum dan bergoyang yaitu track lima dengan judul “KIW” yang mengajak kita bergoyang dengan alunan nuansa funky dan groovy. Sejujurnya kalau bukan Danilla, nggak tau harus bereaksi apa ketika mendengar kata “KIW” dijadikan lirik lagu beserta judul. “Dibalik Selimut” menjadi lagu berikutnya. Di lagu ini Danilla menampilkan juga seekor kucing bernama Lupus Mutiara. Ketika awal-awal mendengarkan Dibalik Selimut terdengar musiknya sederhana sepertinya cocok untuk menemani tidur. Eh, tapi ditengah lagu tiba-tiba tempo bertambah dengan bassline groovy tapi menjadi pelan lagi. Ah, ini rasanya ketika tidur tiba-tiba alarm menyala terus dimatikan alarmnya dan tidur lagi. Dan ada juga terdengar suara meongan Lupus juga di menuju akhir lagunya.

Lalu ada lagu “Dimana” yang dimulai dengan suara terompet yang sensual. Ditambah ada voice over suara dari Bobby Mandela (BKR Brothers) dengan kata-kata yang menggoda. Suara Teddy Adhitya mengisi track sembilan berjudul “Fel d 1” yang soulful. Suara Teddy Adhitya bersahutan dengan Danilla seperti soundtrack untuk tidur bersama. Tapi ternyata, lagu ini bercerita tentang tidur bersama kucing. Lalu ada aransemen sederhana Danilla di lagu Dungu-Dungu yang diwarnai dominasi suara gitar akustik. Sebelum track terakhir, kita diajak kembali bergoyang di lagu Dalam Nirvana yang kental dengan nuansa city pop. Sebagai penutup ada lagu “Maka Dari Itu” yang bertempo pelan dengan diawali suara piano. “Maka Dari Itu” menjadi penutup yang cantik untuk album Pop Seblay.

Secara keseluruhan album “Pop Seblay” dari Danilla Riyadi ini menjadi sebuah album yang bisa menggambarkan kata serius tapi santai. Penggarapan aranseman lagu yang sangat bagus terdapat banyak unsur didalamnyat, terkadang ada yang ditabrakan tapi ternyata cocok untuk digabungkan. Santai, bisa dilihat dari segi lirik dengan kata-kata dan makna yang terkadang beda dengan apa yang kita bayangkan. Penempatan urutan lagunya pun sangat enak untuk didengarkan satu album.

Words by Firman Oktaviawan
Photos by Danilla’s Archive