Jamaican Records Label Archive, sebuah buku referensi visual yang mendokumentasikan label-label rekaman yang membentuk perkembangan musik Jamaika sejak era 1950-an. Diinisiasi oleh Said & His Project, didesain oleh Satu Collective, dan diterbitkan oleh KAMENGSKI Press, buku ini mengarsipkan identitas visual dari berbagai rilisan piringan hitam yang menjadi bagian penting dalam sejarah musik Jamaika.

Lebih dari sekadar arsip desain, buku setebal 148 halaman ini juga mengulas konteks sejarah dan budaya di balik setiap label rekaman. Pembaca diajak melihat bagaimana musik Jamaika melalui budaya sound system, toasting, dan inovasi musikal memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan genre seperti reggae, dub, jungle, grime, hingga menjadi salah satu fondasi lahirnya hip-hop dan budaya remix.

Dirancang sebagai buku koleksi, Jamaican Records Label Archive hadir dalam box set khusus dengan berbagai elemen desain yang terinspirasi dari piringan hitam, termasuk die-cut cover dan halaman pop-up. Buku ini telah tersedia untuk pembelian internasional melalui Said & His Project, sementara pemesanan di Indonesia dapat dilakukan melalui platform daring KAMENGSKI.

Brand denim lokal Rockmaker Denim resmi mengumumkan koleksi terbarunya, “Relic of Heritage”, yang dijadwalkan rilis pada 13 Juni 2026. Koleksi ini menghadirkan kembali karakter denim rigid melalui siluet regular loose fit yang modern, dipadukan dengan proses washing premium yang lebih matang dan penuh karakter.

Mengusung konsep “denim yang tumbuh bersama cerita”, Relic of Heritage mengangkat tekstur, efek fading, dan siluet yang terinspirasi dari arsip workwear vintage, namun tetap relevan untuk kebutuhan berpakaian sehari-hari. Koleksi ini menonjolkan proporsi yang lebih santai, konstruksi kuat, serta tampilan visual yang terasa autentik seiring waktu pemakaian.

Pada peluncuran kali ini, Rockmaker Denim memperkenalkan lima varian produk: Legacy Blue, Rope Blue, Antique Blue, Classic Black, dan Salty Blue Raw Denim. Setiap produk dalam lini Relic of Heritage dibangun dengan siluet regular loose fit, menghadirkan potongan yang lebih rileks namun tetap menyeimbangkan kenyamanan, kebebasan gerak, dan kekuatan visual. Proses washing premium khas Rockmaker, yang juga digunakan pada koleksi-koleksi terbarunya, memberikan efek seperti pakaian yang telah melalui perjalanan waktu, tanpa menghilangkan struktur denim yang kokoh.

“Relic of Heritage adalah tentang menjaga jiwa denim itu sendiri, mentah, personal, dan tak lekang oleh waktu. Kami ingin koleksi ini terasa seperti arsip lama yang ditemukan kembali dan dihadirkan dalam bentuk yang lebih modern,” ujar perwakilan Rockmaker Denim.

Secara visual, koleksi ini mengusung nuansa vintage yang lebih tenang, tekstur tegas, atmosfer industrial, serta pendekatan styling yang sederhana namun berkarakter, seluruhnya dirancang untuk memperkuat identitas dan cerita di balik setiap produk. Produk terbaru dari Rockmaker dapat didapatkan di sini

Berawal dari ketertarikan pada dunia clothing sejak kecil, Eba menapaki perjalanan kreatifnya melalui Popscenes, Poison, Mischief, hingga Mankind, Space Available dan EIGER. Dari seorang desainer yang belajar secara otodidak, ia kini tengah membangun BLEND, sebuah laboratorium kreatif yang berupaya menghubungkan ide, talenta, dan kolaborasi dalam satu ekosistem yang terus berkembang.

Dari Popscenes ke brand-brand besar, gimana awalnya kamu bisa masuk ke dunia kreatif dan industri ini?

Sedikit throwback ke pas waktu kecil dulu mungkin sekitar tahun 2005-2006, Dulu orang tua sempet punya bisnis konveksi di rumah. Mungkin itu kali ya awal benih-benih ketertarikan ke dunia clothing haha. Pas waktu SD dulu sempet coba-coba belajar dan ngulik software desain ‘Corel Draw’ kayak cuma asal bikin desain-desain kecil terus biar bisa di screen-printing ke baju sendiri. Lanjut pas SMP, aku mulai tertarik suka brand-brand kayak Kick Denim, Skaters, Peter Says Denim, Proshop, dll. Yang selalu jadi wishlist waktu itu kalo belanja setelan bedug haha. Mulai lanjut ngulik dan belajar Photoshop juga waktu itu kayak buat bikin merch-merch buat temen-temen kelas study tour sampe sempet ikut-ikut beberapa lomba poster haha.

Dulu sebenarnya pas awal masuk SMA sekitar tahun 2016-2017 Pop Scenes jadi salah satu tempat yang kayak sieun dan malu gitu kalo kesana haha, karena dulu kayak tempat gaul aja haha, paling kalo kesana pas beli baju lebaran aja, sisanya cuman ngelewat atau liat” di Instagram haha. Tapi dari semenjak tau Pop Scenes, dari sana aku jadi mulai belajar dan nyari tau brand-brand clothing yang ada disana. Beberapa brand lokal waktu itu kayak East Hood, Based Club, Pot Meets Pop, Hijack Sandals, Mischief, Badhabit, Pattent Goods, UH!, KZL, dll. Ketertarikan sama dunia clothing ternyata terus berlanjut sampai akhirnya ngambil kuliah jurusan DKV di UPI tahun 2019, masih inget dulu pas pertama ke Bandung awal kuliah salah satu tempat yang dikunjungi pertama itu Mischief yang di Jalan Riau dan itu jadi produk Mischief pertama yang kupunya waktu itu. Di tahun 2020 awal waktu itu perkuliahan sempet di rumah-kan karena pandemi COVID-19 jadinya pulang ke Tasik. Beberapa minggu pas udah di tasik, A Frima sempet ngajakin ketemu dan nawarin kerja di Pop Scenes jadi Graphic Designer. Jadi kebanggaan sendiri aja & ngerasa kesempatan yang besar buatku waktu itu. Tempat yang dulu ku segani akhirnya beberapa tahun kemudian bisa kerja dan jadi bagian dari keluarganya. Terima kasih A Frima udah ngasih kesempatan + buat semua teman-teman yang sudah ngasih ilmu dan pengalamannya. Semenjak kerja di Pop Scenes, aku jadi banyak belajar tentang dunia clothing dari temen-temen disana, mulai jadi tau beberapa brand luar kayak Neighborhood, WTAPS, FPAR, Wacko Maria, dll. Awal mulai suka beberapa musik-musik yang gak pernah sama sekali kudengerin haha. Dulu masih inget di toko tuh sempet liat tape EP-nya Collapse Grief kalo gasalah yang warna merah ya haha. Terus semenjak di Pop Scenes jadi mulai suka dan ngulik beberapa band-band 70’s – 90’s kayak Joy Division, Depeche Mode, Sonic Youth, New Order, Pet Shop Boys sampe Blur, Pulp, James dll. Bahkan yang lucunya dulu pas di Pop Scenes kita pernah bikin Public Market namanya DSM (Dewi Sartika Market) yang si identity nya dulu ngebootleg Dover Street Market Haha. Ternyata beberapa tahun kemudian aku bisa dapet kesempatan untuk ngerjain kolaborasinya Space Available sama DSM yang asli haha. Awal tahun 2021, A Ebho ngontak aku nawarin kerja jadi Graphic Designer di Poison. Mix feeling rasanya senang dan gak nyangka aja, bersyukur bisa dapet kesempatan lagi untuk kerja di brand yang sebelumnya cuman ngeliat di rak etalase toko haha. Di Juni 2021 awal pertama masuk kerja di Poison dan banyak banget pengalaman dan pelajaran-pelajaran baru yang kudapat dari temen-temen disana. Dulu awal-awal kerja di Bandung hampir tiap hari ikut ngintilin Lucas haha, pulang kerja ke Majorminus. Kadang belajar dan konsultasi apapun dulu selalu nanya ke Lucas, sampe kalo bingung jawab chat ini gimana dll juga nanya ke dia haha. Makasih A Lucas udah mau di-intilin dan selalu ngajarin apapun itu. Setahun kemudian di tahun 2022, aku decide buat keluar dari Poison, rencana awalnya pengen lanjutin dan fokus kuliah, karena sempet cuti dan lumayan ketinggalan semenjak kerja. Tapi karena satu dan lain hal ternyata kalo gak kerja fulltime ekonomi gak baik-baik aja nih haha jadi sebulan setelahnya aku coba apply ke Mischief. Di sana aku belajar banyak tentang product making sama developing, banyak hal-hal baru juga yang kudapet pas di Mischief, last project yang masih kuinget tuh waktu itu pas kolaborasi Mischief sama Seringai. Tahun 2023 awal, aku keluar dari Mischief dan bikin studio desain sendiri, sempet nge make-over kos-an jadi kantor dan ternyata bikin studio/bisnis gak segampang dan se-stabil itu juga secara ekonomi haha karena client ga terus-terusan ada dan gak segampang itu untuk nyarinya ternyata haha. Di pertengahan 2023, Aku dapet tawaran dari temen nawarin mau kerja di Bali gak di Space Available. Tanpa pikir panjang aku kirim portfolio-nya. Karena pas waktu itu juga udah apply-apply lagi ke beberapa brand di Bandung haha, semua yang buka lowongan di apply aja waktu itu.

Seminggu setelahnya akhirnya ada jadwal interview dari Space Available dan yang bikin kaget ternyata interview-nya pake bahasa inggris haha. Banyak hal-hal baru, ilmu ilmu baru, dan sangat bersyukur aja selalu dipertemukan
dengan orang-orang yang selalu support, orang-orang baik dan orang-orang yang selalu ngasih tau apapun itu. Tuhan sangat baik, dan mungkin semuanya gak terlepas juga dari doa-doa orang tua, keluarga, dan teman-teman terdekat.

Popscenes itu kayak jadi fondasi buat kamu, apa yang paling kamu bawa dari sana sampe sekarang?

“Sing bisa mihapékeun maneh” atau kalo di terjemahin ke bahasa indonesia “Harus bisa menitipkan diri”. Salah satu peribahasa sunda yang selalu ku dengar dan orang titipkan dulu dari mulai orang tua, keluarga, dan temen-temen kerja pas di Pop Scenes dulu. Dan itu mungkin jadi salah satu yang jadi fondasi atau nasehat yang selalu kusimpen sampai saat ini.

Kamu pernah lintas dari brand lokal kayak Mankind, Mischief & Poison ke brand outdoor besar kayak Eiger, cara kerja kreatifnya beda nggak? adaptasinya gimana?

Super beda. Haha. Waktu pas aku kerja di Mischief, Poison, Mankind, Fondness, Norrm Radiobar, Set N Rise, bahkan Space Available, approach kreatifnya mungkin lebih bebas. Audience-nya relatif lebih spesifik, dan ruang untuk bereksperimen-nya juga lebih besar. Tapi pas masuk EIGER, semuanya ternyata beda haha. Dari mulai ekosistem, lingkungan, dan cara bekerja. Dan jadi pelajaran baru buatku kalo ternyata creative work itu gak hanya soal bikin sesuatu yang keren/bagus, tapi juga tentang bangun sistem komunikasi yang bisa digunain semua orang, di banyak touchpoint, dan audience yang jauh lebih luas. Di EIGER, aku banyak belajar tentang cara memahami segmentasi-segmentasi audience yang jauh lebih kompleks, gimana sebuah ide harus diterjemahin jadi satu sistem yang scalable, dan gimana cara ngekomunikasiin sesuatu agar bisa diterima oleh berbagai kelompok audience tanpa kehilangan esensi si-brand nya sendiri. Aku juga belajar kalo kerja bareng tim yang jauh lebih besar, kreativitas ternyata gak bisa cuman bergantung pada intuisi individu. Perlu ada kayak framework, guideline, dan sistem yang lebih jelas biar semua orang bisa gerak bareng ke arah yang sama. Dan menurutku itu salah satu pelajaran yang besar yang kudapet di EIGER. Jadi, adaptasinya bukan tentang ngubah cara berpikir kreatif, tapi lebih banyak belajar tentang gimana ngubah ide bisa jadi satu sistem yang bisa works untuk banyak orang

Apa project atau output yang sampai sekarang paling bikin kamu bangga

Salah satu project yang jadi kebanggaan ku sendiri salah satunya Kolaborasi Space Available x DSM Ginza tahun 2024 dulu. Karena itu jadi salah satu kolaborasi global pertama yang ku kerjain + karena dulu aku sempet bootleg-in DSM yang kemudian bisa kesampean buat ngerjain DSM yang asli nya haha.

Kamu pernah ngerasa di titik stuck secara kreatif? Cara kamu keluar dari situ kayak gimana?

Sering haha, dan hampir tiap hari. Tapi, biasanya yang kulakuin sekarang kalo pas stuck sih jalan-jalan bentar buat cari si-mood-nya haha, kadang sehari aku bisa pindah-pindah 3-4 coffee shop haha, kadang waktu-waktu pas dari coffee shop 1 ke yang lain itu jadi prosesku buat refresh/restart haha.

Ceritain soal ke Bali tanpa modal bahasa Inggris, itu lebih ke nekat, impulsif, atau emang udah direncanain? Dan apa yang kamu dapet dari situ?

Hahaha, dulu pas interview awal online-meet sama Dan Mitchell + Aldo (Studio Manager SA waktu itu) pas awal meet semuanya berjalan lancar karena ya cuman jawab (Hallo, Ya/Yes) Haha. Pas disuruh ‘Can you explain your portfolio please?..’ mulai geter kayak gimana ya ngomong dan ngejelasinnya. Untungnya waktu itu Aldo bantu buat translate-in, jadi aku bisa ngejelasin portfolio nya pake Bahasa Indonesia haha. Dulu sih kayaknya nekat dan impulsif + gak pikir panjang buat berangkat ke Bali, bahkan dulu gak punya kenalan/temen disana, cuman bermodalkan nekat + pamit dan minta doa dari orang tua, temen-temen terdekat. Sampe pas awal-awal dulu ada satu momen duduk bareng sama Dan buat ngerjain desain, pas dia ngomong aku gak bisa jawab cuman bengong haha sampe akhirnya Dan yang buka Google Translate. Bahkan selama awal-awal dulu pas di Bali kadang suka ngehindar buat papasan atau duduk disebelah Dan karena suka gak enak aja gak bisa jawab/create conversationnya haha. Pelajaran dan pengalaman yang kudapet super-super banyak selama kerja di SA, salah satunya SA banyak ngerubah cara pandang dan cara berfikirku tentang apapun itu dan jadi mulai sadar, Oh dunia tuh ternyata luas banget ya, haha.. Dan bersyukur banget juga temen-temen kerja pas di Bali dulu semua nya sangat supportive ngebimbing dan ngajarin, ngejelasin apapun itu. Awal-awal dulu rasanya kayak mimpi aja bisa kerja di SA, karena beberapa brand yang dulu bahkan mungkin cuman bisa beli yang second-nya itu juga kadang kebeli kadang enggak atau cuman jadi reference aja, pas disana tiba-tiba jadi collab, kayak Goldwin, Greater Goods, Suicoke, Western Hydrodynamic Research (WHR), Nike, Peggy, dll. Sangat bersyukur, dulu mungkin gak pernah ada terlintas bisa sampai di titik ini, tapi tuhan selalu punya rencana yang gak pernah kita tau

Ceritain kenapa kamu tertarik gabung di Space Available bersama Daniel Mitchell?

Awalnya dulu liat Space Available pertama tuh pas kolaborasi sama Peggy sama tau karna bahas tentang history logo recycling kalo ga salah dulu, di sisi lain juga dulu sebenernya decide untuk kerja di Bali cukup berat karna pilihannya lanjut kuliah beresin S1 atau kerja ke Bali. Akhirnya aku decide buat kerja ke Bali. Setelah kerja kurang lebih 3 tahun di SA, Sangat bersyukur. Dan dan temen-temen kerja pas disana selalu ngasih kesempatan untuk-ku bisa terus growth pieces by pieces. Bahkan dulu pas di SA ga cuman nge design aja pernah coba ngerjain Web SA, fotoin SA, dll. Huge thank you to Dan and everyone who has supported me throughout this journey. I’m incredibly grateful and proud to be part of this team. Thank you for the trust, guidance, opportunities, lessons, support, and kindness you’ve shared along the way. Every experience has helped me grow, piece by piece. Forever Grateful ❤️

Referensi visual atau kreatif lo sekarang datangnya dari mana, lokal, luar, atau justru dari hal-hal di luar dunia desain?

Sebagian besar referensi visual dan kreatif ku sekarang mostly datang dari hal-hal yang kadang justru di luar dunia desain itu sendiri. Selalu penasaran aja dan pengen eksperimen ngegabungin something yang beda-beda jadi satu. Jadi mostly proses creative-nya berawal dari blending apapun yang sebenarnya mungkin gak nyambung-nyambung banget, haha. In any case sebenernya, creative process ku sesederhana A + B = C. Ngambil dua hal yang ada, lalu coba ngeblend itu jadi satu yang terasa baru. Mungkin konsepnya mirip kayak evolusi manusia. Menurutku gak ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dan sepenuhnya baru. Semuanya menurutku berkembang dari proses adaptasi, pengaruh, dan kombinasi dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Dan sebenarnya itulah jadi reason ku pake nama BLEND. Karena aku percaya satu yang baru mostly lahir di centre point berbagai disiplin, budaya, perspektif, dan pengalaman yang berbeda. At the end, menurutku kreativitas bukan tentang create something dari nol aja tapi tentang nemuin connection between dari hal-hal yang sudah ada.

BLEND didefinisikan sebagai “interdisciplinary creative laboratory”, buat kamu, kata laboratory itu ngandung arti apa yang biasa studio kreatif lain nggak punya?

Aku ngedefinisiin arti ‘laboratorium’ itu tempat buat bereksperimen. Tempat untuk coba sesuatu yang belum tentu berhasil, tempat untuk bertanya, belajar, dan menemukan hal-hal/kemungkinan-kemungkinan yang baru. Pada akhirnya BLEND bukan dibangun sebagai tempat yang selalu punya semua jawaban dan solusi, tapi jadi tempat/playground untuk terus belajar dan cari jawaban/solusi bareng-bareng. Harapannya BLEND bisa jadi playground untuk siapapun entah itu designer, creator, brand, maupun community untuk saling tukar ide, bereksperimen, dan tempat untuk eksplorasi tanpa takut salah atau gagal.

BLEND ngomongin “circular design” dan membangun sistem yang bisa evolve, konsep itu datang dari mana? Ada referensi atau momen spesifik yang jadi trigger-nya?

Triggernya sebenernya pas aku ngerasa masih banyak proses kreatif yang berjalan kepisah-pisah. Rasanya seperti puzzle yang kepingannya ada di mana-mana. Dari mulai visual identity, design, production, dll. Dari situlah approach Circular Design lahir. Menurutku, Circular Design jadi salah satu cara berpikir tentang gimana setiap node di ekosistem kreatif bisa saling connect dan terus berkembang. Satu idea bisa berawal dari strategy, lalu berkembang jadi identity, product, content, experience, hingga community. Dari community muncul feedback, insight, dan peluang-peluang baru yang kemudian ngelahirin ide-ide berikutnya. Jadi prosesnya gak berhenti di satu titik, tapi terus berputar dan berevolusi. Di saat yang sama, salah satu tujuan terdekatku adalah pengen industri kreatif ini bisa lebih dihargai sekaligus bisa lebih mudah diakses sama semua orang. Karena pas ku liat industri lain kayak Gojek/Halodoc berhasil buat layanan yang kompleks jadi jauh lebih sederhana dan bisa jadi lebih close sama usernya. Dari pemikiran sederhana itu, kita lagi coba create BLEND App jadi satu eksperimen buat coba apply approach yang sama, tapi di industri kreatif. Mimpinya sederhana: nyiptain creative ecosystem yang lebih connect dan guyub + lebih gampang dalam satu platform. Tempat di mana seseorang bisa konsultasi, cari kreator, membangun tim, dan jalanin proyek di satu alur yang lebih mudah dan transparan. Mulai dari designer, photographer, videographer, producer, hingga creative specialist yang lain bisa saling terkoneksi. Sementara lain client juga bisa dengan mudah ngeliat progress, tracking timeline, komunikasi, hingga proses kerja secara lebih terbuka. Buatku BLEND bukan cuman laboratorium/studio desain. Kita ingin coba bangun satu ecosystem yang bisa connect-in semua creative nodes & client dan bisa jadi tempat untuk create dan growth bareng.

Tiga tahun dari sekarang, BLEND udah launch dan berjalan, kamu pengen creative professionals yang pakai BLEND ngerasain apa yang berbeda dari cara mereka kerja sebelumnya?

Harapannya, tiga tahun dari sekarang BLEND bukan cuma jadi studio atau aplikasi, tapi mudah-mudahan bisa jadi satu platform yang benar-benar ngebantu creative professionals bekerja jadi lebih mudah, lebih transparan, dan lebih connect satu sama lain. Kalau hari ini banyak kreator yang harus cari project sendiri, ngebangun network sendiri, ngatur workflow sendiri, dan sering kali ngehadepin proses-proses yang cukup rumit, harapannya BLEND bisa membantu menyederhanakan semua itu. Kalo hari ini kita ngomong “Create Together, All in Your Pocket.”, semoga tiga tahun dari sekarang itu bukan lagi sekadar tagline/mantra, tapi bisa jadi sesuatu yang benar-benar bisa dirasakan dan bermanfaat bagi orang-orang yang menggunakannya.

Interview by Andika Surya

AKROSS dan DEVÁ STATES kembali mempertemukan pendekatan desain mereka dalam sebuah koleksi kolaborasi untuk musim Spring/Summer 2026. Menggabungkan DNA footwear aktif milik AKROSS dengan bahasa visual khas DEVÁ STATES, koleksi ini berangkat dari gagasan tentang mobilitas, fungsi, dan gaya hidup luar ruang yang semakin melebur dengan aktivitas sehari-hari di perkotaan.

AKROSS XA-02 “BUSTER”, hadir dalam warna baru Sage Green dengan aksen Iris Purple pada bagian strap. Sepatu ini juga dilengkapi detail eksklusif berupa woven label kolaboratif dan pola grafis khusus pada insole. Dirancang untuk berbagai kebutuhan aktivitas, XA-02 mempertahankan karakter ringan, fungsional, dan fleksibel yang menjadi benang merah kolaborasi kedua brand.Selain footwear, koleksi ini juga menghadirkan rangkaian apparel hasil perpaduan lini Akrossfabrix dengan sentuhan visual DEVÁ STATES. Salah satunya adalah “GEMINI”, jaket windbreaker reversible berwarna hitam dan silver yang menawarkan dua tampilan berbeda dalam satu produk. Sementara itu, jersey “HAZE” hadir dalam pilihan lengan pendek dan panjang, menggabungkan siluet activewear dengan grafis khas kedua brand.

Melengkapi koleksi tersebut, “MODULAR” convertible trail pants dirancang untuk beradaptasi dengan berbagai situasi. Siluetnya dapat diubah dari celana panjang menjadi celana pendek, menawarkan fleksibilitas bagi pengguna yang aktif berpindah antara lingkungan urban maupun aktivitas luar ruang. Melalui kolaborasi ini, AKROSS dan DEVÁ STATES menghadirkan interpretasi baru tentang keseimbangan antara fungsi, desain, dan kebutuhan bergerak dalam kehidupan sehari-hari.

Koleksi AKROSS x DEVÁ STATES Spring/Summer 2026 akan tersedia secara eksklusif di BrightspotCITY yang berlangsung pada 27–31 Mei 2026 dan berlanjut pada 4–7 Juni 2026.

SSST berkolaborasi dengan Dendy Darman dalam sebuah proyek yang tidak berangkat dari hasil akhir, melainkan dari proses, medium, dan ruang ketidakterdugaan. Alih-alih menawarkan pilihan, kolaborasi ini justru menghapusnya, mendorong audiens untuk masuk ke dalam pengalaman yang lebih intuitif dan eksperimental.

Hadir dalam format blind-pack, setiap paket berisi satu t-shirt dan satu poster dengan desain yang tidak diketahui sebelumnya, mengadopsi mekanisme acak layaknya gacha. Dari enam desain yang dirilis, satu di antaranya hadir sebagai edisi lebih terbatas, dilengkapi poster bertanda tangan langsung menambahkan lapisan nilai yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi sejak awal.

Di balik format tersebut, terdapat pendekatan yang lebih mendasar. Bagi Dendy Darman, manual screen printing memiliki akar yang kuat pada medium kertas. Kolaborasi ini mengembalikan posisi tersebut dengan menjadikan poster sebagai karya utama, sementara t-shirt berfungsi sebagai ekstensi sebuah turunan dari proses yang sama, bukan pusatnya.

Melalui sistem yang berbasis acak ini, SSST dan Dendy tidak hanya merilis produk, tapi membangun pengalaman: tentang menerima ketidakpastian, merayakan proses, dan menemukan nilai dalam hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dikontrol.

Kanky melanjutkan dialog kreatifnya bersama SBTG (Mr. Sabotage) lewat rilisan terbaru K-Split, sebuah siluet yang berdiri di antara eksplorasi desain dan storytelling visual. Bukan sekadar lanjutan kolaborasi, proyek ini terasa seperti evolusi: lebih matang, lebih terarah, namun tetap menyisakan ruang untuk interpretasi.

Mengusung konsep “Desert on Earth”, K-Split menerjemahkan lanskap yang sunyi tapi berkarakter ke dalam komposisi warna dan detail. Earth tone menjadi fondasi, coklat dan olive membangun nuansa dasar, disusul abu-abu yang mengaburkan batas seperti fatamorgana, sementara aksen kuning di lidah sepatu hadir sebagai pecahan cahaya yang kontras. Setiap elemen bekerja tidak hanya secara estetika, tapi juga sebagai bagian dari narasi yang utuh.

Kolaborasi ini bukan titik awal. Sejak 2023, Kanky dan SBTG telah membangun rangkaian rilisan yang bergerak progresif dari Kitadake, proyek bersama Jeff Staple, hingga Mule dan EXC 01 Misfit. K-Split hadir sebagai kelanjutan dari perjalanan tersebut: sebuah fase baru yang memperlihatkan bagaimana bahasa desain mereka terus berkembang tanpa kehilangan karakter.

Dirilis pada 13 April 2026 melalui kanal resmi Kanky, K-Split menjadi penanda bahwa kolaborasi ini belum mencapai garis akhir, melainkan masih terus bergerak, mencari bentuk berikutnya.

Maternal Disaster memperluas spektrumnya, dari sekadar brand clothing ke ruang yang lebih hidup lewat hadirnya Maternal Cafe & Records. Berlokasi di Braga8, Bandung, ruang ini menjadi perpanjangan identitas Maternal yang selama ini lekat dengan subkultur, kini diterjemahkan ke dalam pengalaman fisik yang bisa ditempati, dirasakan, dan dijelajahi.

Bukan sekadar kafe, Maternal membangun ekosistem kecil yang berangkat dari obsesi personal: musik, koleksi, dan visual. Di dalamnya, pengunjung tidak hanya menemukan kopi dan menu ringan, tapi juga lanskap yang dipenuhi rilisan fisik lintas genre, toys bertema musik, hingga buku-buku yang dikurasi. Semua elemen ini tidak berdiri sebagai dekorasi, melainkan bagian dari narasi yang membentuk karakter ruangnya padat, personal, dan penuh referensi.

Pendekatan total khas Maternal tetap terasa kuat. Identitas visual mereka hadir hingga ke detail terkecil dari desain menu, treatment es krim, sampai cutlery yang bahkan bisa dibawa pulang sebagai objek koleksi. Logo “threat” muncul sebagai penanda yang konsisten, mengikat seluruh pengalaman dalam satu bahasa visual yang solid.

Dibuka mulai 13 April 2026, Maternal Cafe & Records bukan hanya ekspansi, tapi pernyataan: bahwa brand bisa hidup di luar produk, dan berkembang menjadi ruang yang mengakomodasi kultur, memori, dan kebiasaan sehari-hari.

Setelah memulai kolaborasi di Jabodetabek pada akhir tahun lalu, TUKU dan CASIO kini memperluas jangkauannya ke berbagai kota di Indonesia. Bandung menjadi salah satu titik penting lewat hadirnya kolaborasi ini di TOSERBAKU Ambon, disusul Surabaya, Malang, Yogyakarta, Tangerang, hingga Bali menandai pergeseran dari sekadar kolaborasi lokal menjadi gerakan yang lebih luas dan kontekstual.

Mengusung tema “Affordable Luxuries: Living for the Little Moments”, TUKU dan CASIO mengajak publik untuk mendefinisikan ulang kemewahan bukan sebagai sesuatu yang besar atau eksklusif, melainkan sebagai momen-momen kecil yang sering terlewat. Waktu, dalam hal ini, menjadi medium utama: sesuatu yang sederhana, tapi menentukan bagaimana setiap pengalaman dirasakan.

Narasi tersebut diterjemahkan ke dalam pengalaman langsung lewat fun walk bersama komunitas Kakibesi di TUKU Ambon, Bandung (10/04). Alih-alih sekadar berjalan, peserta diajak berinteraksi melalui serangkaian permainan berbasis waktu menggunakan CASIO F-91W mulai dari membaca sinyal kedipan, estafet presisi, hingga eksplorasi tak terduga. Sebuah pendekatan yang playful, namun tetap grounded pada ide utama: memperlambat ritme, dan memberi ruang untuk benar-benar hadir di setiap momen.

Lebih dari sekadar aktivasi, kolaborasi ini menegaskan posisi TUKU dan CASIO sebagai bagian dari keseharian itu sendiri dekat, relevan, dan tidak berjarak. Kini, pengalaman tersebut dapat diakses di berbagai titik: Bandung, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Tangerang, hingga Bali.

Di tengah ritme harian yang makin padat dan serba cepat, SYMA. Utilized tidak lagi sekadar membuat tas, mereka merancang cara orang untuk beraktivitas. Lewat semangat “Play Your Part”, brand asal Bandung ini kembali mendorong fungsi jadi sesuatu yang personal. Fable Sling Bag hadir sebagai pernyataan baru: bukan hanya soal membawa barang, tapi tentang bagaimana kamu membawa peran kamu sehari-hari.

Fable Sling Bag jadi titik eksplorasi baru SYMA. menggabungkan desain kasual dengan sentuhan teknologi sederhana seperti magnetic button yang bikin akses terasa instan. Siluetnya bold, tapi tetap grounded. Pilihan warna yang lebih luas dari rilisan sebelumnya membuka ruang ekspresi yang lebih bebas, tanpa kehilangan identitasnya.

Di balik tampilannya yang catchy, Fable sling bag Kompartemen laptop 14 inci, ruang luas, hingga detail kecil seperti mesh pocket, bottle holder, dan key holder dibangun untuk satu hal, keep everything in place tanpa ribet. Dengan kapasitas 19 liter dan konstruksi yang nyaman dipakai seharian, tas ini bukan cuma menemani dalam beraktivitas, dia jadi bagian dari cerita yang kamu bangun setiap hari.

Di tengah derasnya kolaborasi yang sering kali terasa generik, pertemuan antara SURA dan No Masters Gear justru datang dengan pendekatan yang lebih dalam bukan sekadar grafis tempel, tapi sebuah narasi yang dibangun dari sejarah, persepsi, dan subkultur.

Titik berangkatnya cukup tidak biasa. Alih-alih mengambil referensi visual yang aman, kolaborasi ini menengok ke tahun 1943, ke momen ketika Albert Hofmann mengalami apa yang kemudian dikenal sebagai “Happy Bicycle Trip.” Sebuah perjalanan pulang dengan sepeda yang berubah menjadi pengalaman distorsi realitas asing, cair, dan penuh rasa ingin tahu. Dari sini, sepeda tidak lagi sekadar alat transportasi, tapi medium untuk berpindah kesadaran.

Narasi itu diterjemahkan ke dalam bentuk yang tidak sepenuhnya stabil. Jersey dan topi dalam koleksi ini bermain dengan distorsi, repetisi pola, dan rasa gerak yang seolah tidak pernah benar-benar diam. Visualnya terasa “tidak jelas,” tapi justru di situlah letak energinya sebuah refleksi dari akar No Masters Gear yang dekat dengan kultur hardcore, punk, dan metal, lalu dipertemukan dengan pendekatan sistem visual milik SURA yang lebih terstruktur.

Menariknya, hasil akhirnya tidak jatuh menjadi produk yang terlalu konseptual hingga kehilangan fungsi. Justru sebaliknya ia tetap wearable, tapi dengan lapisan cerita yang terasa. Ada tensi antara bentuk dan makna, antara kontrol dan chaos. Sebuah keseimbangan yang jarang berhasil dicapai dalam rilisan kolaboratif.

Dalam lanskap streetwear dan cycling apparel lokal yang terus berkembang, rilisan ini terasa seperti pengingat bahwa produk bisa menjadi medium bercerita. Bukan hanya soal bagaimana sesuatu terlihat, tapi juga bagaimana ia membawa konteks dan dalam kasus ini, sedikit rasa “trip” di dalamnya.