Hailing from Tampa, Florida, Contention is part of a new wave of straight edge hardcore reshaping the genre with a sharper, more personal edge. Fresh off sharing stages with Poison the Well, the band reflects on influence, identity, and staying grounded as their momentum grows. In this interview, vocalist Cosmo reflects on that experience, alongside the band’s influences, their approach to identity in a resurging scene, and how they navigate the realities of balancing music with everyday life.

Having a legendary band like PTW hand-pick Contention and Domain is a massive endorsement. Do you feel a certain responsibility to represent the “new breed” of Florida Straight Edge on this specific stage?

We all grew up as PTW fans so it’s surreal getting to play shows with them. When you meet a band you admire there’s always that risk that they’re going to be pricks, or have a rockstar attitude, but everyone was incredibly kind and accommodating to us. Their singer Jeff helped me load in merch the first night, their guitarist Ryan warmed up with the riff from our song Nuclear Peace, I punished Vadim at length about his time in This Day Forward—just all around great dudes in my experience.

Many reviews point out that being from Tampa, Florida, the “Death Metal DNA” naturally seeps into your hardcore sound. How much of that is a conscious tribute to the local legends (like Morrisound-era bands) versus just an inevitable result of your environment?

Very rarely is that a conscious tribute, we just happen to be influenced by bands that are influenced by Florida death metal. Most of us are into obituary/death/morbid angel and occasionally those reference points get mentioned (primarily by Bayly and I) but for the most part the guitarists are pulling from bands like The Swarm, Morning Again, Reprisal, Arkangel, Culture. To my ears, there’s more Slayer in there than there is death metal.

You’ve cited a massive list of influences, McCarthy, Camus, Dostoevsky, and Vonnegut. Which of these authors’ “worldviews” is most prevalent in the current state of Contention?

Vonnegut has a battered and cynical but humanist perspective that I really resonate with, but McCarthy’s bleak view of war and human nature is certainly more an influence on Contention’s writing. It’s a chaotic and fucked up world, it always has been, and my writing is a distillation of that.

There is a major resurgence of 90s-style metallic hardcore (Magnitude, Ecostrike, etc.). How does Contention maintain its own identity without becoming a “throwback” or “tribute” act to that era?

Playing in the year of our lord 2026 we have the fortunate position of drawing from over 40 years of hardcore music. There’s certainly bands that we are directly influenced by but there’s such a massive well to draw from that it keeps things from getting boring. All of us different tastes so while there’s plenty of undiluted metallic hardcore influence (like All Out War) in there, there’s also plenty of modern hardcore elements, death metal parts, and emotive shit (like Unbroken) woven in.

You’ve mentioned that longer tours are difficult due to jobs and family. How do you decide which “sick offers” are worth the sacrifice, and how does this limitation affect the band’s creative energy?

We do things by a code, and the first tenant on the list is whether or not something is going to be a good time. We like playing with bands that we’re fans of, we like playing new places. Whether or not something is a “good opportunity for our career” doesn’t factor in much.


We never set out to be a full time professional band. We’re just 5 fucked up dudes with chaotic lives who happened to stumble into some small measure of success with music we wrote in a farm garage. It’s difficult for us to write music regularly and it’s painful to say no to offers with legendary bands, but the upside of not being a pro band is that we’re not beholden to anyone. We don’t have to sign any contracts and we only work with people we trust.

Text and interviews by Andika Surya
photos by Evan (@emphotos98)

Thee Marloes memilih jalur yang berbeda: bergerak pelan, rapi, dan penuh perasaan. Berangkat dari Surabaya, trio ini meramu soul dan nuansa retro dengan cara yang tidak sedang berusaha meniru masa lalu, tetapi mencoba memahami apa yang membuat musik itu jujur. Hasilnya adalah karakter suara yang terasa familiar sekaligus tidak bisa sepenuhnya ditempatkan dalam timeline tertentu.

Ini adalah percakapan yang tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang kejujuran, posisi, dan arah yang ingin mereka tempuh ke depan.

Musik kalian sering disebut “retro soul dari Indonesia.” Apakah kalian nyaman dengan label itu?

Sebetulnya kami tidak terlalu mengambil pusing dengan adanya istilah tersebut, mungkin karena kami merupakan band pop yang banyak ter-influence oleh grup dari era ‘60 hingga ‘70an (tidak hanya soul), sehingga secara tidak sadar musik dan sound yang dihasilkan terkesan “retro”.

Banyak yang bilang Thee Marloes terdengar seperti band dari luar negeri bagaimana kalian menanggapi anggapan bahwa apresiasi baru datang setelah musik kalian “terdengar tidak lokal”?

Di era digital di mana semua orang bisa meniru sound 70-an dengan plugin, bagaimana kalian membedakan vintage taste dari sekadar vintage gimmick?

Kami merasa terlalu bias untuk penggunaan kata “vintage” pada sound, dan bisa saja kita mereplika sound “vintage” dengan instrumen modern atau VST, namun yang membedakan adalah cara memainkan instrumennya, mungkin contohnya adalah jika kamu memainkan bass seperti James Jamerson, meskipun menggunakan bass Squier keluaran tahun 2022 maka hasilnya akan tetap terdengar ‘70-an, namun jika menggunakan bass vintage precision dan memainkan dengan style Thundercat, maka akan tetap terdengar “modern”.

Seberapa banyak kompromi yang kalian lakukan antara menjaga keaslian sound analog dengan kebutuhan produksi modern?

Kami masih memakai plug in bawaan DAW untuk memberi warna, tetapi semua instrumen direkam tanpa VST; menggunakan drum, piano, perkusi, dan gitar asli dengan amps. Di album terbaru, kami juga menambahkan sound sitar elektrik hasil dari modifikasi gitar asli.

Dalam musik soul, konteks sosial dan sejarah sangat penting. Bagaimana kalian menempatkan soulfulness itu di realitas sosial Indonesia hari ini?

Sebetulnya kami lebih menempatkan musik yang kami buat sebagai cerminan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Ada beberapa lirik seperti “Mungkin Saja” dan “Logika” itu sebetulnya cerminan keadaan kita sehari-hari, juga kemalangan yang kadang disebabkan oleh bobroknya sistem di atas.

Bagaimana akhirnya Thee Marloes bisa dilirik dan bekerjasama dengan Big Crown Records?

Hal itu terjadi karena interaksi di media sosial. Pada tahun 2020, Big Crown Records memperhatikan karya Thee Marloes dan menanyakan apakah ada demo lagu lain. Dari situlah kerja sama kami dengan mereka berjalan.

Label luar seperti Big Crown Records membawa kalian ke pasar global. Apakah kalian merasa Thee Marloes lebih “dimiliki” oleh audiens luar ketimbang audiens lokal?

Kami merasa Thee Marloes milik semua pendengar.

Apa tantangan terbesar ketika musik kalian lebih diapresiasi oleh pendengar asing ketimbang publik di rumah sendiri?

Justru poin itu sepertinya tantangannya.

Kalau Thee Marloes bukan band soul, kira-kira kalian akan main musik seperti apa?

Pilihan jatuh kepada reggae, hehe

Ada lagu dari musisi lain yang akhir-akhir ini jadi guilty pleasure kalian?

If it’s please you then it’s not a guilt

Kalian bakal tampil di Joyland Session apa yang paling kalian nantikan dari festival ini?

Merasakan Joyland session, yang sepertinya akan lebih intim daripada Joyland Festival.

Joyland punya reputasi sebagai festival yang menyorot musik dengan karakter kuat. Apa yang ingin kalian tunjukkan di panggung kali ini?

Performance yang baik, seperti panggung-panggung lainnya.

Banyak musisi bilang Joyland punya audiens yang sangat present dan menghargai detail. Apakah itu memengaruhi cara kalian membangun setlist atau perform?

Kami selalu mencoba memaksimalkan sound dan tata panggung saat melakukan penampilan di Joyland

Kalau kalian bisa mendeskripsikan energi panggung Thee Marloes di Joyland dengan satu kata, apa dan kenapa?

Apa adanya.

Ali muncul sebagai salah satu band yang menawarkan sesuatu yang berbeda: perpaduan funk yang hangat, ritme afro-beat yang menular, dan aksen Timur Tengah yang terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Sejak merilis Malaka, trio asal Jakarta ini konsisten membangun identitas yang tidak hanya terdengar segar, tapi juga memiliki kedalaman kultural yang jarang disentuh musisi lain. Setelah tampil di panggung internasional, meramaikan festival besar, hingga membawa energi mereka ke Joyland Session, Ali terus menunjukkan bahwa musik yang jujur pada akarnya bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.

Kami mencoba menelusuri perjalanan mereka: dari proses kreatif, identitas musikal, sampai bagaimana mereka memaknai ruang baru yang semakin luas. Berikut percakapannya.

Hai, gimana kabar Ali belakangan ini?
Halo, kabar baik.

Banyak yang menyebut musik kalian sebagai “funk Timur Tengah” dari mana awalnya ide perpaduan itu muncul?
Ide ini muncul secara organik setelah kami saling share playlist dan menemukan jika di Indonesia pernah ada musik funk era 70an dengan nuansa dan lirik Arab yang dibawakan oleh Munif Bahasuan yang berjudul “Naghm El Uns”. Itu menjadi salah satu trigger kami untuk kemudian memadukan elemen timur tengah di musik Ali, karena ternyata sudah ada di Indonesia sejak lama. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh lagi sudah ada jauh sebelum era 70an juga dan sudah terasimilasi secara organik. Jadi menurut kami menjadi make sense jika Ali hadir dengan perpaduan musik ini di era sekarang, agar menyuguhkan sesuatu yang “fresh” bagi penikmat musik. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita pernah punya juga musik semacam ini di masa lampau.

Apa momen pertama yang bikin kalian sadar kalau arah musik Ali harus seperti ini soulful, groovy, tapi tetap punya akar budaya yang kuat?
Tidak ada keharusan sebenarnya, tapi memang secara organik referensi musik kami di seputar musik yang groovy sebagai elemen utamanya, seperti funk, disco, dan afro beat misalnya. Unsur budaya dimasukkan agar membawa pesan dan tidak “kosong” secara value.

Beberapa lagu Ali menggunakan bahasa Arab seberapa penting unsur bahasa dan spiritualitas dalam karya kalian?
Pemilihan bahasa Arab digunakan agar semakin melengkapi tema musiknya. Disamping itu, karena penulis lirik sekaligus frontman (Arswandaru) memang bisa berbahasa Arab secara pasif dan masih keturunan Arab. Tidak ada unsur kesengajaan dalam aspek spiritualitas, karena makna liriknya pun tidak mengacu ke sana. Jika ditangkap pendengar dengan makna berbeda, itu tidak bisa dihindari, biarkan mengalir saja.

Apakah ketika manggung di luar negeri rasa nasionalitas akan Indonesia perlu ditampikan? sebagai contoh mungkin seperti memasang bendera negara di amps
Kami menampilkannya secara verbal dan implisit, melalui greetings di jeda set lagu. Kami selalu menyampaikan bahwa kami band dari Indonesia, dan selalu mendapatkan tanggapan yang sangat apresiatif. Menurut kami itu sudah cukup.

Pada tahun 2025 ini Ali kembali akan tampil di Joyland, tapi untuk tahun ini Joyland dalam format yang berbeda, apa yang disiapkan Ali untuk Joyland Session tahun 2025?
⁠Kami akan mencoba menyiapkan set list yang cukup berbeda di Joyland tahun ini. Agar audience yang mungkin juga menyaksikan kami di Joyland tahun lalu mendapatkan experience yang berbeda

Apa pendapat Ali mengenai Joyland?
⁠Joyland adalah festival yang sangat nyaman dan cukup ideal, baik bagi musisi yang bermain dan penonton yang datang untuk menikmati musik. Pemilihan line up juga terkurasi dengan baik.

Plainsong Live memperkenalkan Joyland Sessions, program baru yang hadir menggantikan jeda Joyland Festival di tahun 2025. Acara ini akan berlangsung pada 29–30 November 2025 di GBK City Park, Jakarta, sebagai versi yang lebih kecil namun tetap menghadirkan pengalaman musik berkualitas tinggi. Edisi perdananya menampilkan sederet musisi internasional dan Indonesia, dipimpin oleh dua headliner: L’Impératrice dari Paris dan TV Girl dari San Diego.

Pada hari pertama, panggung Joyland Sessions akan diisi oleh L’Impératrice, Bright Eyes, The Pains of Being Pure at Heart, Bernadya, Jirapah, Galdive, dan The Cottons. Hari kedua menampilkan TV Girl bersama Soccer Mommy, Luna Li, Oddisee & Good Compny, serta tiga nama Indonesia yang aktif di kancah internasional: Ali, Reality Club, dan Thee Marloes. Walau mengusung format dua hari dengan satu panggung, Joyland Sessions tetap membawa semangat Joyland dengan hadirnya area White Peacock serta pilihan makanan dan minuman lokal.

Plainsong Live menegaskan bahwa skala yang lebih kecil tidak mengurangi kualitas produksi maupun kurasi. Harga tiket setara Joyland Festival mencerminkan upaya menghadirkan musisi internasional dan pengalaman yang terfokus bagi penonton. Joyland Sessions dibuat agar tahun 2025 tidak berlalu tanpa “serpihan Joyland” bagi publik, dan tiket harian maupun dua hari kini sudah tersedia melalui joylandfest.com.

LaLaLa Fest 2025 siap mengguncang Jakarta dengan menghadirkan 30 musisi internasional lintas genre selama tiga hari, 22–24 Agustus 2025 di Jakarta International Expo. Di bawah promotor The Group, festival ini kembali dengan konsep yang lebih inklusif dan imersif, menghadirkan pengalaman visual “artificial forest” yang megah, khas LaLaLa. Lineup eksklusif untuk kawasan Asia mencakup LANY, Alina Baraz, Do As Infinity, Mayer Hawthorne, Keshi, hingga debut festival Hearts2Hearts dan farewell show dari band legendaris Mew. L’ArcenCiel juga akan tampil memukau dengan lagu-lagu ikonik mereka.

Tiket festival telah dijual mulai Rp600.000, dengan berbagai kategori seperti Early Entry, General Admission, dan VIP yang sudah diminati banyak pembeli. LaLaLa Fest 2025 bertransformasi menjadi panggung yang memadukan nostalgia, eksplorasi musik baru, serta pengalaman imersif yang bisa dinikmati semua generasi, dari 90-an hingga Gen Z. Respons di media sosial menunjukkan antusiasme tinggi untuk menyaksikan kembali kemegahan visual dan sensori LaLaLa Fest. Informasi lebih lanjut dan pembaruan terbaru bisa diikuti melalui Instagram @lalala.fest dan situs resmi www.lalalafest.com.

Apa kabar Prejudize? Gimana rasanya punya full album pertama?

Alfi: Alhamdulillah baik nih, rasanya punya album pertama menyenangkan, kaya pecah telur aja gitu. Setelah proses panjang dan aku puas dengan semua hasilnya, cuma tetap pingin bikin lagi.

Rian: Halo Jeurnals, Alhamdulillah baik. Wah, rasanya seneng banget kaya punya ijazah, ngerasa punya SIM sebagai anak band haha!

Arga: ⁠Sedikit anugerah yang lumayan beresiko punya album perdana di hidup saya, karena harus menurunkan ego saya yang udah “bm” pingin ngerjain materi lagi langsung, dimana temen-temen lain masih menikmati dulu kehangatan album Echoes of Life ini.

 

Diluar jalinan pertemanan, kenapa kalian ngajakin Kevin (Bleach) untuk jadi produser untuk album ini?

Alfi: Kevin mempunyai kemampuan yg memumpuni dalam aransemen dan bikin komposisi yang kecee anjay. Yang pasti dia hatam metal sih hahaha.

Rian: Kevin selain hubungan dekat sebagai teman, aku pribadi ajak lagi kevin karna Prejudize dari demo awal dibantu Kevin juga sebagai produser dan di album pingin ngerangkum semua rilisan Prejudize. terus ngobrol dan Kevin langsung nerima dengan baik dan ngerti apa yg aku maksud.

Arga: Kevin bisa mendeliver apa yang ada di otak saya sejauh ini, mungkin personil lain juga. cuma alasan paling kuat adalah dia sebagai produser bisa membuat formula musik Prejudize jauh lebih matang.

 

Band/artis apa sih yang kalian dengerin ketika penggarapan album ini?

Alfi: ⁠Year of the knife, Judiciary, Pain of Truth, Jesus Piece, Slayer yang pasti hahaha enggak hilang hilang dari soul aku.

Rian: ⁠Kalau aku waktu album lagi dengerin semua rilisan Prejudize lagi. Di luar itu lagi dengerin God’s Hate, Korn, balik lagi dengerin Suburban Scum kaya waktu bikin demo.

Arga: Banyak banget sih apalagi gw pribadi mulai dari All Out War, Biohazard ke Limp Bizkit sampe yang paling ekstrem Infectious Grooves yang kalo dipikir-pikir gimana ya caranya masukin ke musik kami dan sampe kami setuju kalo titik temu selera kami pada saat itu di God’s Hate.

Gw ngerasa sentuhan Death Metalnya kental banget, kalau ga salah Arga dulu punya band Death Metal ya? Apakah itu mempengaruhi dengan gaya penulisan lagu untuk album ini?

Alfi: Sebenernya engga ngaruh sih, cuma aku pertama bikin Blazing Pledge dengan secara alamiah aku masukin sentuhan death metalnya dikit, terus jadi ngaruh ke lagu2 lainnya.

Rian: Betul, Arga dulu punya band Death Metal sebagai bassist , 60-70% penulisan album ini direct Death Metalnya dari Arga.

Arga: Yes! Dulu gw main band Death Metal sekitar tahun 2011an. Kalau dibilang pengaruh atau engga sepertinya lumayan ngaruh di fundamental band ini terbentuk, karena pas udah jalan sampe saat ini rasa Death Metalnya dalam penulisan lagu sangatlah organik dari personil lain juga.

 

Ceritain dong ketika kalian approach Arian 13 dan alasan kalian ngajak Arian 13

Rian: ⁠Awalnya Arga di Futura sempet ada project sama Mas Arian, nah pas penulisan Against My Self yang dimana itu cerita tentang aku. Aku “bm” pengen pake lirik bahasa Indonesia tapi pingin engga biasa juga jadi tercetus pingin featuring. Waktu itu langsung terbesit Mas Arian dengan proses pitching yang cepet, Alhamdulillah Mas Arian mau. Hats off Mas Arian!

Arga: Kebetulan waktu itu memang ada lagi ada project buat Futura Free, setelah itu gw dan Mas Arian lumayan agak sedikit ngobrol-ngobrol perihal featuring untuk salah satu track di album Echoes of Life dan gak disangka dia mau. Kalau dalam pemilihan sebenernya karena pinginn ada lirik bahasa Indonesia di album dan kami pikir kayaknya kalo Arian yang ngisi lirik Indonesia ini bakalan jadi valid akreditasi haha.

 

Apakah ada wishlist kalian masing-masing mau ngajakin siapa untuk featuring di album ini?

Alfi: ⁠Pengennya mah sama Kerry King atau Gary Holt biar full ngajuit!

Rian: Waktu itu aku ada beberapa wishlist buat featuring selain sama Mas Arian dan Shafa. Waktu itu pingin sama Agan (Dazzle), Sansan (Peewee Gaskins) tapi dengan suara scream kecilnya

 

Echoes Of Life menjadi cerminan gimana kalian melihat kehidupan ini melalui lirik dan musik yang kalian buat, elaborasikan dong kehidupan akhir-akhir ini dari sudut pandang kalian masing-masing? Is it sucks?

Alfi: Kehidupan aku hanya diserahkan kepada Allah aja, mau hancur mau senang mau gerus aja terus.

Rian: ⁠Echoes of Life dari setiap lagunya berisikan cerita anak-anak. Waktu Arga nulis lirik Arga interview kami satu-satu buat dijadiin lirik. di Against My Self cerita tentang ke fucked-up-an hidup aku pada saat itu, is it sucks? buat aku pada saat itu sucks banget mas, harus ngadepin kondisi-kondisi yang engga terbayang sebelumnya dan kondisinya harus dihadepin sendiri banget. Luv Arga udah sempurna ngerangkumin cerita aku yg pahit jadi keren <3

Arga: Melihat kehidupan sekarang yang makin hari makin explicit memperlihatkan banyak hal yang menurut gw enggak masuk akal sampe yang diakal-akalin. Track yang kayanya sih vibesnya for family and friends cuma track Blessed doang, sisanya ngetai-tai fenomena sekarang di sekitar gw.

 

False Perception adalah lagu favorit gw di album ini, kalau kalian masing-masing lagu favoritnya apa?

Alfi: ⁠Blessed, False Perception juga sama tapi ketika sudah aku kasih lead gitar, harusnya lagu itu ada leadnya cuman baru kepikiran waktu ketika udah kelar semua materi dan beres mixing & mastering, jadi leadnya dipake pas dibawain live aja.

Rian: Udah pasti Against My Self dan Blessed. Karena Blessed cerita Arga yang kehilangan teman semasa dulu belajar dan kenal musik serta main band. Fun fact aku juga ngalamin hal yg sama.

Arga: NOT BREAK salah satu track yang paling gw suka, akhirnya gw bisa beresin track yang lumayan challenging. Tau kan kenapa? dengerin deh.

Dengan rilisnya album Echoes Of Life apakah kalian masih menyebut genre Prejudize hardcore? Atau kalian punya terminologi sendiri akan musik kalian?

Alfi: ⁠Metalic hardcore tenagaaa kudaaaaaaaaaaaaaaa!

Rian: ⁠Soal genre aku masih ngerasa Hardcore sih, cuman balik lagi gimana persepsi orang-orang yang dengerin dan aku sangat open orang-orang mau bilang genre Prejudize apapun.

Arga: ⁠Dari awal Prejudize terbentuk kita main musik Hardcore, cuman karena sekarang banyak elemen kategori permetalan yang bikin musik kita lebih tereksplor.

 

Apa tanggapan kalian mengenai fenomena crowd killer?

Alfi: Crowd killer is sucks! Orang datang ke acara buat senang-senang, bukan buat ngarah-ngarah orang buat dipukulin.

Rian: Crowd killer kalau aku sangat tidak membenarkan sih, apapun yang akan kalian ekspresikan di moshpit tolong hanya untuk bersenang-senang jangan sampai ada pihak yang disudutkan dan dilukai

Arga: Gw sih gamau ambil pusing perihal itu, karena gw pribadi masih menikmati moshpit sampe sekarang dengan segala macam-macamnya. Tapi kalau untuk crowd killer yang penting bisa tanggung jawab aja, karena balik lagi Hardcore itu soal mindset.

 

Album lokal rekomendasi kalian

Alfi: Yang pertama aku lagi dengerin Swarm “Badai”, Colorcode “Check My Sanity”, Amerta “Nodus Tollens”.

Rian: ⁠White Chorus (Limbo +)

Arga: Karmax – Sambartaka

 

Interviewed by Andika Surya
Photos by Lucas Benedict & Zirlyanpaja

 

Joyland Festival Jakarta 2024 kembali membuktikan diri sebagai salah satu festival musik yang paling dinantikan di setiap tahunnya. Selama tiga hari (22–24 November), sekitar 45.000 pengunjung memadati Stadion Baseball GBK Senayan untuk menikmati pengalaman tak terlupakan. Festival ini menghadirkan panggung yang memukau, mulai dari aksi artis internasional hingga musisi lokal yang membawa energi luar biasa.

Penampilan luar biasa dari artis lokal hingga internasional menjadi highlight festival yang ramah untuk membawa anak ini. Dengan sajian visual dan sound yang memukau, headliner Air menjadi penutup yang manis Joyland 2024 di hari pertama. Tidak lupa St. Vincent memukau pengunjung dengan aksi panggungnya yang karismatik dan sound yang berkelas. Selain itu dihari pertama ada penampilah dari band-band lokal seperti, Feast, White Shoes and The Couples Company, Bank, The Sigit, dan lainnya. Di hari kedua dibuka oleh penampilang di Cottons di stage Lily Pad. Yang menarik di hari kedua Joyland ini ada penampilan set spesial dari Efek Rumah Kaca dengan set Rimpang yang menghiasi panggung dengan tatanan visual yang ERK pakai ketika merayakan peluncuran album Rimpang pada Juli 2023 lalu. Dan ada set “Hujan Orang Mati” dari Majelis Lidah Berduri yang menampilkan aksi teatrikal di atas panggung Plainsong. Tentu saja di hari kedua ini, [AAA] kolaborasi Hyukoh dari Korea Selatan dan Sunset Rollercoaster dari Taiwan menjadi salah satu line up yang ditunggu tampil tanpa celah kekurangan sedikit pun. Hari ketiga dibuka oleh band asal Jepang DYGL, lalu disambung oleh Teenage Death Star di Lily Pad stage dan Brainstory di Joyland stage. Blueboy menjadi salah satu band yang ditunggu penampilannnya di Joyland Festival 2024. Tampil dengan set yang minimalis, Blueboy berhasil membawa romantisme era kejayaan Indie pop. Bombay Bicycle Club menjadi band yang tampil terakhir di Joyland Festival 2024.

Di panggung Lily Pad pun tidak kalah menarik dengan panggung besar Joyland dan Plainsong. Panggung yang dikurasi oleh White Shoes and the Couples Company ini menghadirkan The Panturas, The 5,6,7,8, Idiotape sampai Dj seperti dari Jazzy Sport, Daniella Dee sampai Habibi Funk berhasil menarik perhatian para pengunjung. Panggung-panggung lainnya seperti Shroom Stage, yang dikurasi oleh Soleh Solihun, menampilkan stand up comedian dari yang emang kita sering jumpai layar televisi sama comic dari komunitas pun hadir menghibur penonton yang hadir di Joyland Festival 2024. Dan tidak lupa pemutaran film hasil kurasi Joko Anwar di Cinerillaz menjadi suguhan menarik. Bagi pengunjung yang mebawa putra-putrinya ada sajian sajian activity yang disuguhkan di area White Peacock. Dimulai dari puppet show yang dibacakan langsung oleh Sal Priadi, tempat menitipkan stroller sampai story telling dari conductor MRT ada semuanya di area White Peacock.

Joyland Festival merupakan salah satu festival yang sangat disayangkan bila dilewatkan. Kami sangat tunggu kejutan berikutnya dari Plainsong untuk ramuan Joyland tahun 2025 mendatang.

 

Teks by Firman Oktaviawan

Photos by Plainsong Live doc’s

Dari thrift shop di masa pandemi hingga menjadi brand lokal yang mengedepankan inovasi dan sustainability. Jason, founder 2TIMESTOO, berbagi cerita tentang passion-nya terhadap sneakers, proses kreatif repurpose, hingga membangun sister brand Nostal. Temukan bagaimana ia menemukan titik balik dan eksistensi di industri streetwear lokal

Hallo Jason, lagi sibuk ngerjain apa nih akhir-akhir ini?
Halo-halo! Akhir-akhir ini pastinya tetap sibukin rilisan 2timestoo nih, setelah kemaren rilis sneakers sekarang lagi sibuk proses persiapan rilis 2timestoo collection SS25, sama sibuk ngonten juga hahaha.

Bisa ceritakan tentang latar belakang berdirinya 2TIMESTOO Studio? Apa yang menginspirasi lu untuk mendirikan brand streetwear di tahun pandemi?
2timestoo itu berdiri pas covid mulai, saat itu gw masih semester 1 kuliah. Fun factnya 2xt itu awalnya adalah thriftshop yang baru seiringnya waktu gw belajar jahit jd  berkembang2 jadi kaya sekarang. sekarang 2timestoo itu “roots” nya lbh ke sneakers. karena gw sendiri jg penikmat sneakers, gw selalu berusaha buat clothing pieces yang akan compliment sneakers2 , dengan buat piece yg unik tp ga terlalu loud, supaya sneakers lu yg bisa jadi point dari fit tersebut.

Ceritain dong mengenai masa kecil lu? Apakah di keluarga lu ada yang mendorong lu untuk bisnis di dunia fashion?
Masa kecil gw itu sebenarnya engga ada hubungannya sama sekali dengan dunia fashion, gw besar di keluarga yang “angka banget”, “matematika banget” dan “harus fokus sekolah banget” . tapi uniknya itu nenek dan ibu gw dua-duanya bisa dan suka menjahit saat muda.

Kenapa lu memilih recycle dan sustainabilty dalam proses berkarya lu? Apakah ada satu sosok atau movement yang menginspirasi lu?
Sebenarnya proses recycling yang suka dilakukan di 2timestoo pada masa awal-awal (sekarang di @officialnostal) itu idenya mulai muncul saat gw bisa jahit. gw mulai iseng dan bosen (karna lg covid) dan lihat dari creator luar @defectivegarments dimana dia lakuin proses reworked. Akhirnya gw mulai coba dan ketagihan sendiri karena bisa manfaatin barang pribadi gw, jadi barang baru dan 1 of 1.

Bagaimana lu mendeskripsikan pendekatan dalam merepurposing pakaian recycle? Seperti apa proses desain yang lu lakukan?
Untuk proses recycle yang dilakukan di 2timestoo sekarang itu mungkin lebih cocok dinamain “repurpose” dimana kami selalu aware dengan material yang kami pakai, apakah ada material sisa yang bisa kami gunakan di artikel lain, contoh: material cotton ripstop yang kita buat produksi tas, selalu akan menyisakan potongan-potongan kecil, yang akhirnya kami repurpose jadi kerah kemeja di artikel lain. kurang lebih seperti itu. Untuk proses design ini yang makan waktu lumayan lama, karena gw design sendiri, jadi semuanya masih idealis gw banget untuk design hahaha, jadi gw benar-benar spend time waktu yang cukup lama dari proses design sampe sampling sebelum rilis. Semua produk masih “nempel” banget dengan gw, karna gw yang design dan control produksi.

Sustainability menjadi inti dari brand lu. Tantangan apa yang lu hadapi selama ini dalam berkarya?
Tantangan terbesar pasti dari butuhnya ide dan pemikiran berat (buat gw ya hahaha) untuk repurpose material-material ini. Baik itu dilempar ke produk lain di 2xt. atau dilempar ke Nostal. jadi lebih ke harus selalu aware dengan ketersediaan dan sisa bahan, dan mikir mau dipake kemana tuh hahaha, kasarnya gitu.

Bagaimana lu memastikan bahwa setiap produk tetap unik dan inovatif meskipun menggunakan bahan recycle?
Yang gw selalu jual di 2timestoo itu adalah ide dan inovasi. Gw selalu berusaha bikin design dengan kata kunci: unik tapi engga lebay. Barang yang unik, tanpa grafik besar, dengan permainan kombinasi bahan dan cuttingan serta detil-detil kecil lainnya. Puji tuhan sejauh ini feedbacknya ok dan udah mulai kebentuk market 2timestoo yang “barang keren ga harus ber logo/grafik gede” dan “dari jauh biasa aja, pas diliat dari deket baru keliatan keren detil-detilnya” kurang lebih begitu. Untuk 2xt bukan menggunakan bahan recycle dari tempat lain, tp lebih ke repurpose bahan, baru bahan sisanya dilempar ke Nostal.

Industri streetwear sering kali dikaitkan dengan fast fashion. Bagaimana 2TIMESTOO berupaya menjadi contoh yang berbeda dalam industri ini?
Kami selalu berusaha dan puji tuhan sudah menemukan sweet spotnya. Dimana kami bakal rilis banyak artikel per-bulan (6-10 artikel) tapi 90% produk di 2xt itu tidak restock, jadi kami engga mau overproduce juga barang-barang kami. Benefit untuk customer pastinya rasa exclusivenya tetap dapet, engga terlalu banyak orang pake. Selain menurut gw lebih keren logo kami ada di banyak artikel, dibanding di beberapa artikel aja. Dari sisi gw, sistem ini sweet spot bagi gw karna gw jadi bisa design terus produk baru tiap bulannya hahahaha.

Ceritain dikit dong tentang Nostal?
Nostal ini adalah sub-brand/sister brand dari 2timestoo. Fokusnya itu recycle high-end vintage items, digabung dengan scraps material dari 2timestoo. Fokusnya ini benar-benar beda dengan 2timestoo. Kalau 2xt lebih mengedepankan “Keren ga harus lebay, simple item with unique detailing”, Nostal benar-benar loud, ekspresif, lumayan gila dan rame. Gw harap Nostal ini bisa jadi brand reworked yang tetap wearable banget buat sehari-hari. Meskipun loud, tapi ga over.

Bagaimana perkembangan brand sejak pertama kali didirikan? Apakah ada momen atau pencapaian penting yang menandai perjalanan kalian?
Wah! perkembangan brand sih puji tuhan terasa banget. Rilisan pertama kami sebagai “local brand” itu baru dari tahun 2022, dimana kami masih proses rebranding dari thriftshop, reworked, and modern bootleg to local brand, jadi complete switch. Puji tuhan tahun 2024 ini jadi titik balik dimana orang sudah mulai notice dan mengenal kami. Apalagi sejak USS 2023 kemarin, ditambah dengan beberapa event kami di tahun ini. Kami juga sempet diundang ke acara WWF yaitu Conscious Couture di Wisma Atria Singapore, dimana itu kami lakuin live reworked session. Gw bisa bilang itu adalah titik paling besarnya sih dimana gw sadar kalau kami sudah “dianggap” bahkan oleh orang luar.

Ceritakan sedikit dong tentang 2XT Terra Wave. Apa alasan lu memilih siluet sepatu outdoor? Dan ceritakan juga tentang proses kreatifnya.
Terra wave itu hadir di momen switch juga, dimana awalnya gw bergantung untuk buat sneakers sama pihak lain. Pikirannya switch jadi “asik jug kalau bisa develop sendiri”, “bisa ga ya gw rilis sneakers sendiri?“. Untuk pemilihan siluete outdoor itu karena produk-produk dari 2xt itu arahnya lebih ke workwear inspired, jadi menurut gw make sense buat bikin sneakers fushion, dengan look dan build outdoor tapi dengan teknologi kenyamanan buat daily. Kami kombinasiin outdoor rubber outsole dengan genuine suede, dengan teknologi “peredam” di insolenya, yang biasa dipakai di sneakers basket, jadinya nyaman.

Terakhir, gw liat lu aktif memakai, mempromosikan dan kerjasama dengan brand lokal. Pendapat lu mengenai ekosistem industri brand lokal saat ini, terutama di kota Bandung.
Menurut gw asik banget! Brand-brand hari ini menurut gw semua beradu design dan lebih berani buat keluar dari yg biasa dilakuin mereka masing. Dan dari gw yang tinggal di Bandung, support dan ekosistemnya yang gw rasa asik banget ya. Meskipun kita brand baru, tapi gw sudah rasain banget supportnya!

Interview by Andika Surya
Photos from Jason’s Archive

Majelis Lidah Berduri adalah nama baru yang diusung oleh band legendaris asal Yogyakarta, sebelumnya dikenal sebagai Melancholic Bitch. Setelah lebih dari dua dekade berkarya, mereka memutuskan untuk melakukan transformasi identitas sebagai bentuk refleksi terhadap perjalanan panjang mereka di dunia musik. Mari simak perbincangan Jeurnals dengan Melbi mengenai proses kreatif, filosofi di balik nama baru mereka, serta bagaimana Daerah Istimewa Yogyakarta membentuk musikalitas Majelis Lidah Berduri

Apa alasan utama di balik perubahan nama dari Melancholic Bitch menjadi Majelis Lidah Berduri?

Richardus Ardita: 1. karena formasi baru 2. media-friendly
Yossy Herman Susilo: 1. Seperti mas didit.. formasi baru, bosen juga nama yg lama.. Hehe
Yennu Ariendra: Nggak tau aku, aku sih setuju aja
Paulus Neo: Mungkin, karna formasi baru. Eh gatau ding
Danis Wisnu: Agar ramah publikasi, penyelenggara dan sponsor ;)))
Ugo Prasad: Iya gitu

Setelah merubah nama, sebenarnya apa yang Melbi harapkan?

Richardus Ardita: Menambah pendengar
Yossy Herman Susilo: Tidak menjadi band mitos
Yennu Ariendra: Juga nggak tau
Paulus Neo: Sama kayak mas (YA)
Danis Wisnu: Biar kalau pamit sama orang rumah lebih enak aja, biar ga canggung
Ugo Prasad: Gitu boleh

Bagaimana pendapat dari para pendengar yang lebih dahulu mengenal nama Melancholic Bitch?

Richardus Ardita: Beberapa kurang setuju, beberapa setuju
Yossy Herman Susilo Beberapa tidak setuju, beberapa setuju, sebagian tidak peduli 🙂
Yennu Ariendra: Beberapa orang merasa aneh, tapi seiring dengan berjalannya waktu itu tidak menjadi masalah
Paulus Neo: Belum pernah mendengar pendapat tentang nama
Danis Wisnu: Ndak tau, tapi apapun itu toh kita lahir tidak untuk menyenangkan semua orang apalagi yang hanya sebagian.
Ugo Prasad: Betul

Majelis Lidah Berduri terdengar seperti memadukan berbagai genre seperti rock, folk jazz, dan unsur lokal dengan lirik yang penuh kritik sosial. Bisa jelaskan bagaimana proses kreatif Melbi dalam menciptakan lagu untuk Majelis Lidah Berduri?

Richardus Ardita: 1. Jam session 2. Salah satu personil menawarkan lagu dengan aransemen yang sudah jadi, kemudian personil lain mengisinya.
Yossy Herman Susilo Biasanya kita sesi studio
Yennu Ariendra: Tidak terlalu memikirkan tentang genre, penggarapan musik disesuaikan dengan imaginasi yang diciptakan oleh lirik. Lirik menciptakan sebuah dunia yang komplek dan dari sanalah unsur unsur musiknya ditemukan. Tidak ada pembicaraan tentang genre sebelumnya.
Paulus Neo: Di studio ngejam dari 0 (mentah), atau mengolah ide yg sudah ada sebelumnya. Tapi semuanya diolah tanpa menghilangkan karakter masing2 person dan diselaraskan dengan maksud dari lirik. Tidak terkotak genre dan tidak terkotak teknik ataupun skill.
Danis Wisnu: Sing penting jujur aja, ga nuruti orderan algoritma viral
Ugo Prasad: Kayaknya ya standar band-bandan biasanya

Bagaimana peran latar belakang artistik antar personil yang berbeda, dalam membentuk musik Melbi?

Richardus Ardita: Perbedaan latar belakang artistik membentuk musik yang kaya ragam dan mengembangkan kemampuan adaptasi dan improvisasi personil.
Yossy Herman Susilo: Cukup menguntungkan..kadang muncul hal hal yg mengejutkan di setiap komposisi
Yennu Ariendra: Menurutku, Setiap anggota band memiliki kecenderungan, selera dan bahkan keahlian yang berbeda. Namun disini, kita berpegang pada dunia imaginasi yang diciptakan lirik, jadi itu memudahkan kita untuk tau batasan batasan dan tahu dimana kita memposisikan diri kita sendiri ketika berkarya. Menurutku juga kita tidak asal mencampur selera masing – masing, tetapi sepakat untuk menempuh sebuah perjalanan menyusuri konsep ini bersama sama dan menemukan perca musik satu persatu.
Paulus Neo: Sudah terwakilkan dijawaban pertanyaan sebelumnya
Danis Wisnu: Ya namanya ada 5 orang lebih, janjian masak yang satu bawa terong satunya bawa daging satunya bawa badan aja. Bisa di bayanginkan ya.. Btw saya bagian bawa badan aja.
Ugo Prasad: Saya sama dengan Neo

Melbi – TIba-tiba Marabahaya Denpasar – foto by Kevin

Banyak lirik Melbi yang terasa puitis sekaligus penuh kritik tajam. Apakah ada proses tertentu dalam memilih kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan pesan Melbi?

Richardus Ardita: Ugo lebih kompeten untuk menjawab ini.
Yossy Herman Susilo: Biasanya Ugo melakukan ritual bertapa
Yennu Ariendra: Penulisan tanggung jawab Ugo, soalnya lainnya tidak ada yang mampu. Tetapi, secara konsep kita mengembangkan liriknya bersama sama (bukan pada penulisan tetapi menentukan arah dari konsep tersebut). Kita sama sama melihat apa yang kurang dan apa yang keterlaluan.
Paulus Neo: Mas Ugo aku padamu
Danis Wisnu: Waktu dan tempat kami persilahkan kepada bapak ugoran prasad, monggo
Ugo Prasad: Saya biasanya aja, nulis dari kiri ke kanan sama kayak orang berbahasa Indonesia lainnya. Prosesnya ya dipikir-pikir, dicoba-coba sampe enak. Kalo mentok baca buku nonton film, denger musik, jalan-jalan. Kalo masih gak nemu ya diulangi dari awal. Ya biasanya aja. Bertapa ya bisa juga, tapi biasanya itu untuk belajar nyantet.

Seberapa besar kekuatan lirik pada sebuah lagu?

Richardus Ardita: Untuk Melbi 100%
Yossy Herman Susilo: Turun dikit lah ..75%
Yennu Ariendra: Susah menentukannya, apa yang tidak tertulis di lirik diwakili oleh musik, jadi pada akhirnya semua saling melengkapi
Paulus Neo: Musik 100%, lirik 100%
Danis Wisnu: Lirik itu hook sebuah lagu, musik membantu menjadikan abadi untuk didengar terus menerus.
Ugo Prasad: Jangan di inflasi begitu. Ya kira2 23,2 %.

Apakah tema atau isu tertentu di dalam lirik yang Melbi ingin sampaikan harus sampai ke pendengar selaras dengan maksud dari liriknya?

Richardus Ardita: kami hanya mencoba menyampaikan dengan sepenuh hati & tenaga, untuk penerimaan tergantung dari penerimanya.
Yossy Herman Susilo: Nggak juga
Yennu Ariendra: Lirik di album ini sebenarnya lebih ke puisi. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sebuah puisi. Pendengar akan paham atau tidak, atau selaras dengan pemahaman penciptanya, itu hal yang sulit dijawab. Puisi menciptakan ruang imaginasi yang bagi pendengar mungkin tidak dipahami sama sekali, atau justru maknanya berkembang, karena pendengarnya memiliki imajinasi yang lain. Secara pribadi aku tidak memikirkan apakah Lirik bakal dipahami atau tidak, tetapi aku punya keyakinan, lirik tersebut akan menjadi bahan diskusi yang baik buat publik
Paulus Neo: Dikembalikan ke publik
Danis Wisnu: CMIIW setahuku kalau karya sudah dilempar ke publik ya mau ga mau karya itu sudah milik publik, mau saklek segimanapun pasti jatuhnya akan multitafsir.
Ugo Prasad: Bukan puisi deh. Ya awalnya karena teman2 dekat pergi duluan. Tapi ya sejak awal emang udh banyak yang meninggal pas di waktu Covid kan. Semakin lama semakin melebar temanya. Dari tema kematian dari kacamata personal ke kacamata antar-person. Ya kami cerita ttg itu. Tapi tetep, liriknya gak puisi. Kecuali yang emang puisinya Chairil dan Cindhil

Apakah pernah menghadapi ancaman akibat tema-tema berani dalam lagu-lagu Majelis Lidah Berduri?

Richardus Ardita: Setahu saya belum
Yossy Herman Susilo belum
Yennu Ariendra: Mungkin ada
Paulus Neo: Aman aja
Danis Wisnu: Kayaknya pernah deh, hampir ga boleh manggung waktu di makassar! Itu dikasih tau setelah setahun dari acara
Ugo Prasad: Hehe

Melbi – Hujan Orang Mati Listening Session Bandung – foto by Djionk

Beberapa waktu lalu Majelis Lidah Berduri menyelenggarakan sesi dengar album baru “Hujan Orang Mati”, judul yang menarik. Bisa sedikit elaborasi mengenai album “Hujan Orang Mati?

Richardus Ardita: Berawal dari kepergian beberapa teman dekat, kemudian karena penggarapannya memakan waktu lama, tema berkembang merespon kondisi masyarakat terkini.
Yossy Herman Susilo: idem 👆
Yennu Ariendra: Semua anggota band sebenarnya punya interpretasi lain atas album ini. Aku sih soal ketakutan dan kecemasan dalam konteks sekarang (situasi politik lokal-global, isu lingkungan, friksi antar kelas di dalam masyarakat, dsb). Kegelisahanku ada di dalam lirik-lirik di album ini.
Paulus Neo: Idem 👆🏼
Danis Wisnu: Mati yang paling menakutkan adalah mati yang kamu masih hidup tapi tidak mampu berbuat apa-apa, sisanya setuju sama pakdhe pakdhe diatas.
Ugo Prasad: Iya, begitu.

Hujan Orang Mati album penuh ke 4 yah? Butuh berapa lama untuk merampungkan album ini?

Richardus Ardita: sekitar 1,5 tahun lebih sedikit.
Yossy Herman Susilo idem 👆
Yennu Ariendra: 2 tahun lebih ah
Paulus Neo: 2 tahun lebih tapi dikit aja
Danis Wisnu: Semenjak pamitnya pak djaduk, mas gendel dan mas cindil, tepatnya berapa ga tau aku selalu gagap soal menghitung.
Ugo Prasad: dari pengumuman nama 2 tahun lebih dikit. Tapi kayaknya bener Didit soal titik mulai garapnya.

Ketika band-band pada saat ini lebih memilih untuk merilis single – single yang banyak baru rilis album, kenapa Majelis Lidah Berduri lebih memilih untuk merilis Album?

Richardus Ardita: Mungkin karena di melbi banyak yang sudah berumur
Yossy Herman Susilo ya krn single juga sdh di rilis.. album rilis juga
Yennu Ariendra: Kenapa nggak? Secara global, album masih relevan (khususnya bagi artist artis papan bawah, kalo artis papan atas kan sudah cukup dari single). Kita mah tau posisi sebagai band underground
Paulus Neo: Single udah, saatnya album, mungkin
Danis Wisnu: Pencapaian sebuah band itu adalah album, perkara bagus atau tidak, perkara laku atau tidak tapi saya masih mengamini itu. Semoga tidak berubah ya semenjak gerai musik digital isinya cuma playlist lagu/single bukan playlist album. (read : Spotify)
Ugo Prasad: kebiasaan aja.

Dari album Anamnesis (2005), Balada Joni Susi (2009) dan NKKBS Bagian Pertama (2017) untuk Hujan Orang Mati ini ada cara atau trik tersendiri nggak untuk “memasarkan” albumnya?

Richardus Ardita: Kami mencoba menjualnya di bandcamp & storefront terlebih dahulu untuk beberapawaktu, sebelum dilepas di gerai musik digital.
Yossy Herman Susilo idem👆
Yennu Ariendra: Idem
Paulus Neo: Idem
Danis Wisnu: Selain diatas, kayaknya melbi udah mulai lebih peduli sama rumahnya di instagram dll.. Jadi ga cuma update setahun sekali sekarang.
Ugo Prasad: Kalo memasarkan pake tanda petik anak melbi pada gak bisa jawab. Bisanya kami ya maen musik.

Melbi – Cherrypop2024 Jogja – foto by Wandirana

Bagaimana kota dan budaya Yogyakarta mempengaruhi musikalitas Majelis Lidah Berduri, dan apakah merasa itu memberikan perspektif yang unik dalam melihat skenamusik Indonesia?

Richardus Ardita: Banyak musisi di Jogja yang menginspirasi secara personal. Setiap daerah punya keunikan skena musiknya masing-masing yang bagi saya itu menjadi pengayaan perspektif.
Yossy Herman Susilo: idem 👆
Yennu Ariendra: Berpengaruh kayaknya, karena di Jogja orang bisa mengkritik, berghibah, saling ngatain tanpa kita merasa sakit hati, menurutku itu justru jadi modal untuk memperkaya wawasan. Aku tidak merasa kita bagian dari apa yang disebut sentral, jadi seluruh standar ditentukan dan diciptakan sendiri, ya begitulah band pinggiran.
Paulus Neo: Idem
Danis Wisnu: Secara sepihak aku bilang kalau jogja itu adalah laboratorium.. Jadi kalau sampai kejogjaannya tidak dimaksimalkan ya rugi deh sepertinya.. Banyak yang bisa di captured di kembangkan dengan lintas disiplin antar seni jadi berprosesnya ga membosankan, bikin musik pake term seni rupa & teater, misalnya.
Ugo Prasad: Batas batas disiplin seni kayaknya juga gak terlalu kaku, bisa selonongan ke seni rupa, teater, pentas ketoprak, tari, jathilan dll.

Penampilan live Majelis Lidah Berduri terasa penuh emosi. Seberapa besar peran visual dan konsep artistik dalam setiap penampilan live?

Richardus Ardita: Besar, karena itu membangun emosi dasar & perspektif personil sebelum naik panggung.
Yossy Herman Susilo: Cukup besar karena konsep artistik selalu menjadi pijakan awal personil
Yennu Ariendra: Masak sih, perasaaan normal-normal saja waktu naik panggung
Paulus Neo: Ada ngga adapun, kita tetap emosional, entah apapun penyebabnya
Danis Wisnu: Inderakan bukan cuma pendengaran ajakan ya, ada penglihatan baru indera perasa (tidak secara harafiah) dll. Ya memenuhi kebutuhan indera saja meski sak madyone.
Ugo Prasad: Betul, pertumbuhan emosinya terhambat ya, gampang emosian.

Dari kacamata sebagai penampil, festival musik seperti apakah yang bagus dan ideal untuk dikunjungi?

Richardus Ardita: Yang nggak terlalu banyak penampil, supaya bisa mencerna dengan baik setiap pertunjukan.
Yossy Herman Susilo: Karena saya basicnya audio, ya festival musik yang produksi audionya bagus
Yennu Ariendra: Idem sama RA dan YHS
Paulus Neo: idem mas YN
Danis Wisnu: Yang penampil dan enthusiast diberi porsi dan kenyamanan sama.
Ugo Prasad: yang baik sama penonton dan penampil. Baiknya gimana, jawabannya juga gak bisa macam2. Jenis musik aja gak satu masak jenis festival cuma satu.

Di tahun 2024 ini pertama kali yah tampil di Joyland? Sebelumnya sempat denger tentang Joyland?

Richardus Ardita: Pertama kali main di Joyland. Pernah mendengar sebelumnya.
Yossy Herman Susilo: Iya.. udah denger lama
Yennu Ariendra: Idem dengan YHS
Paulus Neo: Udah
Danis Wisnu: Iya ini tahun pertama menjadi penampil, 2 tahun lalu ke joyland tapi jadi tim produksinya Frau (usung-usung stand dan ngolor kabel)
Ugo Prasad: Ya sering denger

Apa hal spesial yang disiapkan oleh Majelis Lidah Berduri sebelum akan tampil di Joyland Festival?

Richardus Ardita: Pentas perdana album baru.
Yossy Herman Susilo: Full album Hujan Orang Mati
Yennu Ariendra: Idem
Paulus Neo: HOM
Danis Wisnu: Majelis LIdah Berduri – Hujan Orang Mati set (paket rombongan 20 orang lebih)
Ugo Prasad: latihannya capek, 2 sesi dari pagi smp malem. Untungnya gak cuma sm orang-orang ini. Awas kalo gak nonton.

Teks & Interview by Firman Oktaviawan

 

 

Hallo Bet! Apa kabar? Lagi sibuk ngerjain apa nih akhir-akhir ini?

Halo! Puji Tuhan kabar baik nih. Belakangan ini sedang bekerja menggambar dan sedang menyiapkan beberapa persiapan untuk bikin pameran kecil-kecilan dan merch aja nih.

 

Pengen tahu masa kecil lu, seberapa besar pengaruh musik di masa kecil lu? Dan siapa yang memperkenalkan lu waktu kecil pada dunia seni musik?

Gw lahir dan tumbuh di dalam keluarga yg biasa biasa aja namun cukup erat dengan kesenian dan budaya. Dulu tau kesenian dari Bapak dan Ibu yang mana kebetulan mereka tergabung dalam kelompok Choir di gereja Katedral Sanggau. Jadi dari kecil sudah sering ikutan kalo mereka latihan bahkan ketika sedang Ibadat di gereja. Lalu mulai suka banget sama nyanyian gereja dan kebetulan di lingkungan gereja ada komunitas muda mudi gereja gitu dan mereka sering berlatih musik juga disitu. Jadi suka nontonin dan instrument pertama yg nyantol di gw itu emang gitar tapi akhirnya malah beralih ke drum dulu yg mulai ditekunin hahaha. Tapi pas SMP balik lagi main gitar karena waktu itu pengen banget bisa kaya Kurt Cobain dan keterusan sampe sekarang.

 

Waktu kecil rilisan fisik pertama yang lu beli dengan uang sendiri apa Bet?

Dulu waktu SD kelas 4 pertama kali beli kaset tape itu album “Nevermind” Nirvana sama “Freakshow” Silverchair. Sebenernya gara gara ke trigger sama kakakku yg emang doi cukup banyak nyimpen koleksian kaset tape yg lumayan sering disetel dirumah dan dia juga banyak ngenalin band band rock MTV pada masa itu dan akhirnya nyantol dan kedua kaset tape tadi itu yg gw beli. Kalo si Freakshow nya Silverchair pertama murni karena suka aja sama cover artworknya. Kaya sirkus gitu padahal tadinya gatau itu band apaan hahaha

 

 

Kalau ga salah lu tinggal di Sanggau, Kalbar. Apa yang membuat lu pindah ke Yogyakarta?

Iya bener, gw lahir dan tumbuh di kota Sanggau, Kalbar. Kota bagian kabupaten dari Pontianak. Kota kecil tapi sangat berarti buat gw sendiri. Dulu sebenernya pengen SMA di Jogja tapi karena anak bontot dan rada susah pastinya kalo ngide tinggal jauh dari keluarga makanya gajadi dan tetep di Sanggau waktu itu. Tapi Kakak pertama gw emang sudah tinggal di Jogja waktu itu. Akhirnya waktu mulai kuliah gw diem diem ngajuin transfer kampus ke Jogja. Tahun 2012 gw tinggal di Jogja sampai sekarang.

 

 

Denger-denger dulu di Sanggau punya band Hardcore modelan Strife gitu ya?

Yes bener, dulu gw punya band hardcore namanya “Fight For Free” dan bandnya masih aktif sampai saat ini. Itu dulu isinya temen temen nongkrong aja karena seinget gw dulu komunitas hardcore, punk dan metal di Sanggau itu cukup aktif. Dulu waktu smp gw ketemu dan kenal sama temen gw namanya Bow (gitaris FFF) gara gara jamming maenin Greenday di salah satu studio musik di Sanggau. Akhirnya kita temenan dan diajakin nongkrong bareng. Dari tongkrongan itu gw mulai kenal rilisan-rilisan band hardcore dan apa aja musik hardcore itu. Kebetulan salah satu temen kita di tongkrongan itu yg mana dia juga yg sering supply rilisan-rilisan band “underground” pada masa itu ke sanggau. Namanya Bang Firman dulu dia salah satu orang dari “Napi Records” nah lewat beliau kita jadi tau banyak band-band hardcore dan metal pada masa itu. Mulai dari kompilasi Victory Style nya Victory Records, European HC compilation dll. Kecantol dan nyambung sama anak anak trus diajakin ngeband deh sama FFF. Kebetulan waktu itu kita emang seneng banget sama Strife, Rykers, Only Attitude Counts sama Snapcase trus kita Mix semuanya dan jadilah waktu itu.

 

 

Gitar pertama yang lu punya apa? Apakah lu punya wishlist gitar yang pengen lu miliki saat ini? 

Gitar pertama yg gw punya itu Fender Mexico stratocaster tapi partnya diboongin sama yg jual hahaha. Itu gitar yg gw beli waktu ultah ke 14 tahun dan gitarnya udah gw jual buat beli papan skateboard sama sepatu Circa hahaha. Kalo wishlist gitar saat ini kayanya  pengen punya Gibson SG jr, Fender 12 string jazzmaster, sama itu gitarnya si Tom delonge yg stratocaster aja.

 

Ceritain dong awal mula lu ketemu anak-anak Skandal, kalau ga salah lu gantiin posisi Jampes ya?

Awal mula ketemu anak-anak malahan sebenernya ketemunya Aga duluan. Dulu Aga pernah nonton band lama gw di salah satu gig di Jogja trus diajakin kenalan dan diajakin maen di acara kantornya dia pada waktu itu. Tapi sebelumnya emang udah tau Skandal dari temen kosan dan gw ikutin twitternya dulu. Setelah gw denger ternyata musiknya persis nih sama musik yg gw suka dan dengerin. Jadi beberapa gig Skandal gw dateng dan beberapa kali nonton karena emang seru dulu kalo liat skandal maen. Nah balik lagi ke ceritanya si Aga tadi, pas nawarin Dinosaur Youth maen (band lama gw) doi sambil bawarin juga mau gak jadi additionalnya skandal trus gw jawab aja “ayo, gw hapal kok lagu lagu kalian” hahaha keterusan sampe sekarang.

Ketika gw dengerin album Melodi, gw ngerasain vibes tangga lagu ‘Bursa Musik Indonesia’ 90-2000an, apa yang lu dengerin sih ketika proses pembuatan album Melodi?

Sebenernya di skandal itu sendiri cukup unik untuk pendekatan musiknya. Masing masing punya selera dan referensi masing masing. Si Rheza gitu kuping sama tastenya emang pop banget sementara gw banyak nguliknya emang band-band indierock atau alternatif. Ajaibnya kita malah bisa ketemu di tengah-tengah nih dan malah jadi warna musik Skandal saat ini. Kalo gw sendiri pada saat proses bikin album itu gw banyak dengerin Texas is The Reason, Failure, Alex G, Tony Molina sama Sugar.

 

3 album indonesia 90-2000an yang menurut lu penting banget dan kenapa?

  1. Sheila On 7 ( Self Titled )
  2. Netral ( Album Minggu Ini)
  3. Album kompilasi New Generation Calling.

Menurut gw 3 album itu buat gw sendiri itu berkesan membuka pintu sama jendela bermusik yg gw rasain belakangan ini. Gw jadi banyak belajar nada, cara nyanyi, nulis lirik sama bikin lick atau riff gitar yg menurut gw itu cukup mewakilkan perasaan sama warna musik yg emang lo pengen maenin aja gitu.

 

Selain Sakarin, gw suka banget lagu Utara, ceritain dong tentang proses kreatif pembuatan lagu tersebut?

Terimakasih ya! Jadi lagu Utara itu adalah lagu tercepat yg pernah gw tulis. Gw tulis liriknya sama nadanya itu kurang lebih satu jam sebelum workshop sama Skandal. Cerita lagu itu sebenernya tentang ungkapan gw yg sedang ngalamin kesepianlah tahun lalu. Terus temen temen buka warung di daerah plemburan Jogjakarta dan gw lumayan intense kesana dan lumayan sering nongkrong dan berbagi cerita disana. Jadi utara itu ceritanya tentang ungkapan rasa syukur gw atas nemuin teman yg seperti keluarga dan gw tulis jadi lirik untuk lagu ini dengan akord gitar dari sisaan lagu lagu Skandal yg belom sempat gw olah.

Apa yang lu bisa deskripsiin ketika gw menyebut 3 gitaris ini: Tony Molina, Bob Mould dan J Mascis?

Tony Molina : Poet , Bob Mould : Melancholic shredder, J. Mascis : Gandalf ( The wizard of indierock)

 

Interview by Andika Surya