Ali muncul sebagai salah satu band yang menawarkan sesuatu yang berbeda: perpaduan funk yang hangat, ritme afro-beat yang menular, dan aksen Timur Tengah yang terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Sejak merilis Malaka, trio asal Jakarta ini konsisten membangun identitas yang tidak hanya terdengar segar, tapi juga memiliki kedalaman kultural yang jarang disentuh musisi lain. Setelah tampil di panggung internasional, meramaikan festival besar, hingga membawa energi mereka ke Joyland Session, Ali terus menunjukkan bahwa musik yang jujur pada akarnya bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.
Kami mencoba menelusuri perjalanan mereka: dari proses kreatif, identitas musikal, sampai bagaimana mereka memaknai ruang baru yang semakin luas. Berikut percakapannya.
Hai, gimana kabar Ali belakangan ini?
Halo, kabar baik.
Banyak yang menyebut musik kalian sebagai “funk Timur Tengah” dari mana awalnya ide perpaduan itu muncul?
Ide ini muncul secara organik setelah kami saling share playlist dan menemukan jika di Indonesia pernah ada musik funk era 70an dengan nuansa dan lirik Arab yang dibawakan oleh Munif Bahasuan yang berjudul “Naghm El Uns”. Itu menjadi salah satu trigger kami untuk kemudian memadukan elemen timur tengah di musik Ali, karena ternyata sudah ada di Indonesia sejak lama. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh lagi sudah ada jauh sebelum era 70an juga dan sudah terasimilasi secara organik. Jadi menurut kami menjadi make sense jika Ali hadir dengan perpaduan musik ini di era sekarang, agar menyuguhkan sesuatu yang “fresh” bagi penikmat musik. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita pernah punya juga musik semacam ini di masa lampau.

Apa momen pertama yang bikin kalian sadar kalau arah musik Ali harus seperti ini soulful, groovy, tapi tetap punya akar budaya yang kuat?
Tidak ada keharusan sebenarnya, tapi memang secara organik referensi musik kami di seputar musik yang groovy sebagai elemen utamanya, seperti funk, disco, dan afro beat misalnya. Unsur budaya dimasukkan agar membawa pesan dan tidak “kosong” secara value.
Beberapa lagu Ali menggunakan bahasa Arab seberapa penting unsur bahasa dan spiritualitas dalam karya kalian?
Pemilihan bahasa Arab digunakan agar semakin melengkapi tema musiknya. Disamping itu, karena penulis lirik sekaligus frontman (Arswandaru) memang bisa berbahasa Arab secara pasif dan masih keturunan Arab. Tidak ada unsur kesengajaan dalam aspek spiritualitas, karena makna liriknya pun tidak mengacu ke sana. Jika ditangkap pendengar dengan makna berbeda, itu tidak bisa dihindari, biarkan mengalir saja.

Apakah ketika manggung di luar negeri rasa nasionalitas akan Indonesia perlu ditampikan? sebagai contoh mungkin seperti memasang bendera negara di amps
Kami menampilkannya secara verbal dan implisit, melalui greetings di jeda set lagu. Kami selalu menyampaikan bahwa kami band dari Indonesia, dan selalu mendapatkan tanggapan yang sangat apresiatif. Menurut kami itu sudah cukup.
Pada tahun 2025 ini Ali kembali akan tampil di Joyland, tapi untuk tahun ini Joyland dalam format yang berbeda, apa yang disiapkan Ali untuk Joyland Session tahun 2025?
Kami akan mencoba menyiapkan set list yang cukup berbeda di Joyland tahun ini. Agar audience yang mungkin juga menyaksikan kami di Joyland tahun lalu mendapatkan experience yang berbeda
Apa pendapat Ali mengenai Joyland?
Joyland adalah festival yang sangat nyaman dan cukup ideal, baik bagi musisi yang bermain dan penonton yang datang untuk menikmati musik. Pemilihan line up juga terkurasi dengan baik.
