Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek "Fade Into Obscurity" langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation - Blood Oath (2009)
https://www.youtube.com/watch?v=pGFU2P3IQvg&t=3s
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
https://www.youtube.com/watch?v=qkzAgaHASkA
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity - Extermination of Millions (2007)
https://www.youtube.com/watch?v=62QK3EERipE
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond - The Strongest Stand Last (2010)
https://www.youtube.com/watch?v=3Eez98tqvXg
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya".
Awalnya kepincut artwork-nya pas digging materi, tapi trek “Fade Into Obscurity” langsung bikin nempel. Groove dan heaviness-nya sangat masuk ke karakter Prejudize, dengan riff bernuansa Suffocation versi modern. Pendekatan aransemen ini ideal dijadikan referensi tanpa meniru mentah-mentah. Secara musikal dan visual pun terasa klop dengan formasi band kami: dua gitaris yang pas dengan citra gahar, basis yang tetap bebas beraksi khas hardcore, serta drummer yang solid menjaga tempo dan mengeksekusi kebutuhan lagu. Intinya, ada kesinambungan antara sound yang heavy dan identitas band.
Gilang
Suffocation – Blood Oath (2009)
Kalo riffs, gue banyak masukin 2 unsur dari band classic dan band modern. Kalo classic gue ngambilin formula solo guitar nya Suffocation, groovy nya Internal Bleeding, dan heavy nya Cannibal Corpse.
Kalo modern nya gue ngambilin formula kotornya Caustic Wound, dan serem nya Revenge.
Dari situ gue campurin semua, dibikin satu ‘adonan’. Kira-kira kaya gitu cara gue bikin riffs untuk EP State To Kill.
Ruly
Obituary – Inked in Blood (2014)
Baru gabung dua minggu sebelum rekaman, bagan dan ketukan lagu sebenarnya sudah dirancang rapi oleh sang gitaris. Peran di sini lebih ke merapikan struktur dan memberi sentuhan fill-in tipis agar flow-nya makin pas. Fokus utama justru mengejar karakter sound drum yang terinspirasi dari gaya Donald Tardy di album ini. Dry tapi nampol, namun tetap bertenaga. Dengan mengincar karakter snare yang crack dan snappy dengan artikulasi drum yang padat tanpa kehilangan nuansa raw serta tetap menyatu dengan visi awal band.
Ale
Inveracity – Extermination of Millions (2007)
Riff technical dan groovy berbalut brutal death metal di album ini jadi referensi utama saat Prejudize beralih haluan genre. Album ini juga membawa nostalgia masa SMA ketika skena death metal Bandung sedang jaya-jayanya lewat kompilasi legendaris Padiga. Riff-riff gahar dari masa lalu itulah yang akhirnya menginspirasi proses kreatif pembuatan EP State to Kill.
Rian
Hellbeyond – The Strongest Stand Last (2010)
Momen callback muncul saat guide lagu pertama selesai; vibes dan riff-nya langsung mengingatkan ke album ini di jalan balik ke kosan. Sebagai personil yang tidak terlalu mendalami death metal, album ini terasa sangat compact untuk dijadikan referensi—riff, karakter sound gitar, hingga drumnya sangat heavy, sementara sisi hardcore yang diinginkan tetap terwakili. Menariknya, saat take drum di Funhouse, Om Edz (gitaris Hellbeyond) yang jadi operator sempat nyeletuk, “jiga Hellbeyond nya“.
Pangaloe! seorang MC dan penyanyi yang tidak hanya bermain hiphop, tapi juga terkadang membawa sample-sample easy listening pop yang membawa pendengar ke dalam bahasan filsafat dan eksistensialisme Zarathustra. Mendengar Pangalo seperti membaca buku-buku Nietzsche, Kierkegaard, Camus, Sartre, De Beauvoir, juga beberapa dari Husserl dan Heidegger. Mungkin tepat jika menyebutnya Ubermensch asal Parapat, karena album yang disokong tahun 2018 berjudul Hurje! Maka Merapallah Zarathustra, sangat erat hubungannya dengan Nietzsche. Sama-sama ingin bebas, karena Pangalo sendiri dalam bahasa batak yaitu mempunyai makna; pemberontak.
Kami mencoba mengobrol lebih panjang tentang proses pembuatan album dan juga pandangannya tentang beberapa hal, selepas bermain di agenda perilisan buku “Jalan Menuju Penjara” yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, di Fragment Project pada Sabtu, 5 September 2026. Berikut obrolan kami, silahkan disimak sampai habis!
Perkenalkan nama, Bang?
Ehm.. Pangalo!
Dari kapan ke Bandung?
Oh udah… semingguan dari tanggal.. dua berapa gitu, dua sembilan kayanya.
Memang sengaja ke Bandung?
Iya, ada urusan. Ga ada sengaja manggung gitu.
Oh awalnya ga ada niatan ke LBH buat manggung?
Ga ada, Memang kawan-kawan tuh bikin acara, terus aku diajak. Ya, sok gas aja. Jadi memang, inilah bantu kawan-kawan acaranya.
Gimana kemarin main di Sukahaji, beberapa kali kabelnya putuskan?
Wah Sukahaji… Iya, nggak apa-apa, tapi seru. Karena maksudnya kalau main tuh kan biasanya di sound-soundnya bagus gitu kan, venue apa gitu. Sukahaji itu kayak, jadi ingat kampung sendiri gitu. Dengan sound seadanya, tempatnya tanah gitu kan, kawan-kawan juga, ya santai gitu. Jadi kayak ingat kampung sendiri gitu. Harusnya lebih banyak, apa sih, manggung-manggung gitu, gigs-gigs seperti itu kan, lebih intim sama kawan-kawan juga, terus dekat sama warga juga kan, sebagai dukungan juga gitu. Iya, kalau masalah sound itu kayaknya memang ya wajar gitu kan. Justru seninya di situ, yang mati-mati tiga kali itu, serunya disitu.
Kemarin-kemarin liat di story instagram, itu kan, Bang, udah nikah atau belum sih?
Oh… belum-belum haha. Itu, masih prewed.
Kesannya main di Bandung, Bang, setelah main tadi di LBH?
Wah, Bandung sih selalu sama ya dari dulu ya. Maksudnya kawan-kawan tuh… selalu apa ya, selalu seru, gitu dari dulu juga. Bahkan aku kan lama di Ciroyom dulu kan sama Bang Tarjo, Senartogok kan. Sama aja vibesnya. Nggak terlalu ada yang beda. Justru semakin inilah, makin-makin banyak anak muda tuh makin ramailah dibanding dulu, ya yang aku liat. Kalau dulu acara metal-metalan doang yang ramai kan. Sekarang sudah lebih ramai nih, udah lintas genre, udah banyak. Selalu ramai. Apalagi kayak di Sukahaji kemarin kan rame. Ya, setidaknya mereka sudah mau datang kesitu kan, gitu. Berarti udah, udah paham juga gitu maksud tujuan dari acara itu kan.
Bang, mau nanya soal kesukaan musik. Dulu awalnya suka musik gimana sih? Dan musik apa dulu yang disuka gitu?
Semua sih, aku suka semua musik sih. Makanya aku nyanyi juga kan bahkan lagu bahasa Indonesia tuh bahkan ada yang nyanyi, ada yang me-rap. Ada akustik, ada yang format band, ada yang macam-macam gitu, karena aku suka musik gitu, engga cuman ngerap. Iya, bahkan aku awalnya nyanyi doang, karena rap di zamanku itu masih mewah, terkesan orang-orang kaya yang bisa. Di zamanku tuh, kaya trio-trio kan, trio Batak, akustikan gitu-gitu aja. Kalau ketertarikan sih, ya maksudku siapa yang nggak suka musik sih. Maksudnya, aneh kalau nggak suka musik tuh. Kebetulan mungkin aku lebih suka gitu dibanding orang lain, gitu aja. Sebenernya aku suka seni, semua. Desain juga aku suka, gambar juga aku suka, semua. Bahkan film aku suka banget. nulis suka, lihat tarian-tarian juga suka, memang suka seni, Le. Nggak spesifik di musik, nggak, di banyak hal.
Tapi kalau di musik itu, abang yang ngegitar juga?
Ada beberapa yang gitar. Beberapa aku, ada beberapa teman juga, gitu. Kalau di awal-awal tuh aku sendiri. Main gitar sendiri, bikin beat sendiri, ngerap sendiri, rekam sendiri.
Kalau mulai-mulai bikin lagu itu kapan?
Bikin lagu sudah dari SMA, Le. Tahun 2009, 2008 bahkan. Tapi gak pernah rilis, karena dulu memang, ya baru-baru datang internet juga kan. Medsos juga belum ramai. Pun aku dari kampung. Jadi memang asing dengan dunia-dunia kayak internet, bahkan musik itu, bagiku dulu masih di kampung tuh, ya musik yang aku dapat dari televisi doang. Bahkan rap dulu aku tahu dari lagu-lagu Kera Sakti yang soundtracknya itu. Kalau temen-temen tuh kan dari kecil sudah denger Run-D.M.C, KRS-One, CD gitu yak, Maksudnya aku nggak, gitu. Aku sampai kuliah bahkan aku dengar, ya Kerasakti itu tadi, iya asli, Bondan Prakoso. Cuman maksudku, aku perkenalkan ke rap tuh dari lagu itu. Justru makanya kan kebanyakan tuh lagu-lagu ku sangat tidak hiphop kan beatnya. Lebih ke random kan, beda sama Kids (Vicious) tadi kan dia agak nge-boom bap gitu kan, karena memang awal ya aku berasal dari kampung gitu maksudnya, ya musikalitas ku lebih ke pop kan, gitu, maksudnya. Ke yang viral di zaman itu lah. Gitu sih, makanya agak mungkin lebih nyanyi-nyanyi gitu kan. Kayak Bondan kan nyanyikan, Kera Sakti.
Bikin album itu tahun berapa bang, dan bisa diceritain gimana pembuatannya?
Album bikinnya 2016, rilis 2018. Yang Hurje! Maka Merapallah Zarathustra. Itu apa ya… Itu 15 track itu kayaknya beatku sendiri, tiga track tuh dari Bang Senartogok. Awalnya sih aku waktu di Rubel tuhkan, di Ciroyom dulu, selalu lihat Bang Senartogok tuh nge-take nge-take rap gitu kan. Terus aku bilang, maksudnya, ah, gampang doang ngerap, gitu, maksudnya namanya orang kampung. Ditantangin tuh, gitu. Baru aku bikin satu, bikin lagi, bikin lagi. Jadi Album Hurje! tuh kumpulan single, sebenarnya. Ga direncanain bikin album. Cuman karena itu udah terlalu banyak nih lagu kan “bikin album lah”, gitu. Satuin aja. Makanya tuh kan asli acak aja gitu kan. Nggak ada, nggak ada ininya. Kayak engga ada terkonsep gitu kan. Cuman paling pertaliannya karena tema-nya doang, gitu. Karena aku tema eksistensialisme gitu kan, sama ya, rebel-rebel anak muda lah. Karena umurku di situ 22, 23 waktu itu bikin itu. Bayangin tuh 22, 23 tahun, bikin Hurje!. Jadi pas putus kuliah aku ngerjain itu. Ya 22 lah, anjir, maksudku tuh udah bahas Nietzsche aja itu, anjir. Maksud, makannya aku kalau dengar Hurje! sekarang tuh “Kau ngapain sih, anjir?” maksudnya gitu.
Tapi menurutku, justru semakin relevan bahkan
Iya, iya gitu maksudnya. Maksudnya aku kayak mikirnya, kau di umur segitu ngapain sih mikirin gitu. 22 tahun, emangnya 22 tahun kan, baru, ya masih kuliahlah harusnya kan, gitu kan. Pacaran ke, atau apalah ke. Ini mikirin dunia, anjir! Apaan mikirin makna filsafat. Gitu maksudku.
Nah, itu, Bang, pengen tahu kan dasarnya, kan layernya itu dengan filsafat dan Nietzsche. Apa Hubungannya dengan Hurje!?
Hurje itu kayak panggilan ya, panggilan untuk ternak gitu. Kau manggil di Batak tuh kan zaman dulu kan jauh-jauh tuh rumahnya kan dikit-dikit kecil-kecil, lahannya gede-gede. Jadi, babi ya bebas aja gitu. Jadi waktu manggil “Hurje, Hurje gitu”. Jadi ya, ya aku mengandaikan diriku sebagai Ubermensch di situ. Jadi si album itu ya kayak ya petuahku bagi manusia, gitu. Aku sebagai, ya namanya anak muda mikir. “Aku Ubermensch nih, gini.”. Gitu kan, jadi aku analogikan seperti itu. Karena memang di zaman itu juga aku cukup, ya rakus baca buku, kan, memang gila gitu. Jadi aku ketemu Nietzsche itu, bayangin nih orang kampung, dididik agama, pun aku SMA dulu semi militer gitu kan. Kayak Taruna Nusantara, kayak Matauli gitu kan. Jadi waktu ketemu Nietzsche itu kayak, iya jungkir balik tuh apa ya yang dipahami gitu. Iya, anjir. Dia kan menganjurkan sebebas itu. Pun usiaku masih 22 tahun. Aku kenal Nietzsche bahkan 18 tahun. Baca terus tuh sampai Zarathustra gitu.
Maksudnya kalau hilang arah pun kan, maksudnya hilang arah justru kayaknya hidup itu harus hilang arah. Iya, maksudnya kan kalau kita enggak hilang arah berarti terkontrol sama kuasa, sama aturan-aturan yang ada, kan gitu kan? Justru maksudnya, kayak aku bilang tadi, babi-babi yang keluar-keluar itu kan bebas, gitu. Ketika dia di dalam kandang, dia nggak hilang arah, ada yang kontrol. kan gitu kan? Jadi relevansinya ke Anarkisme, masuk dia. Hilang arah sama ya tanpa kontrol, gitu. Gitu, jadi aku nangkepnya dulu Anarkisme itu ya, ya bebas saja gitu sebagai diri, gitu kan. Apalagi aku baca Striner, gitu. Wah, anjir, gitu. Wah, mending gua bakar dunia aja, kan ya.
Asli, iya apalagi anak muda ya, maksudnya kalau baca Nietzsche sekarang itu berbeda ketika aku baca dulu, gitu. Dulu tuh kaya ada feel-nya, gitu, kayak dapat gitu. Jadi kayak, kayak sahabat yang lagi ngomong sama mu tuh, gitu. Kalau sekarang tuh kayak awak baca kayak orang gila, gitu. “Apaan sih?”. Karena hidup sudah berjalan tuh kan, udah banyak tanggung jawab, banyak ini, banyak itu. Makanya milih Hurje itu tadi, gitu sih.
Oke Bang, bahas tadi soal main di LBH, kan lagi rilis buku ‘Jalan Menuju Penjara’, itu kan banyak yang ditangkap saat demo kemarin. Bagaimana menurutmu, Bang?
Ya, sebenarnya enggak ada yang baru dari situ sebenarnya. Maksudnya kan dari dulu memang ya gini loh, maksudnya ada nih ada satu, ngga tahu ya, maksudnya satu perbedaan, bukan perbedaan mungkin. Opini lah, mungkin tanggapan, ya pendapat gitu, sama kawan-kawan yang membahas hal seperti inilah. Kebanyakan kawan-kawan tuh menuntut negara supaya jangan ini, jangan itu, jangan kekerasan, jangan korupsi, jangan bikin proyek sembarang, kan gitu-gitu kan? Padahal kalau aku sudut pandang itu, ya problemnya memang negara. Iya. Maksudnya itu kayak kita bilang ke badut tuh jangan ngelawak. Ngerti nggak? Iya, maksudnya premis mereka sebagai negara memang udah kejahatan, gitu. Ya memang bakal kaya gitu. Logika negara kan memang kayak Bakunin bilang tuh, negara berbicara dengan kekerasan. Bahasanya memang bahasa kekerasan. Jadi akan konyol ketika kita menuntut negara jangan kekerasan. Itu ibarat kau bilang ke petinju jangan mukul, gitu. Ya kan memang si negaranya sudah jahat, gitu. Maksudnya, maksudnya daripada kita ngabisin waktu, protes soal-soal itu mulu, nuntut jangan korupsi, jangan ini, kan berulang-ulang teruskan. Karena memang hakikatnya negara seperti itu.
Ya, menurutku kayak tadi yang aku bilang solusinya ya memang harus bubarin negara. Memang itu, Le, maksudnya solusinya. Apakah itu susah? Ya, susah. Apakah resikonya gede? Ya, gede. Ya memang perubahan macam apa yang enggak gede resikonya, kan? Anjing, semua gitu. Ya kau pindah kos aja kau harus repot ngangkat-ngangkat. Ya, kayak gitu, keringatan, panas, segala macam, kan gitu. Ya, memang repot. Ya, kalau engga mau, ya kayaknya aku nggak masuk akal kalau ketika kita memperbaiki negara dari mengikuti konsep si negara itu sendiri, gitu. Paham, paham nggak maksudku? Jadi kasus-kasus kaya kayak di penjara itu ya dari dulu kan ada Marsinah, Wiji Thukul, Udin wartawan tuh ya. Sondang bahkan bakar diri, gitu. Udah banyak penulis=penulis, yang sekarang banyak juga kawan-kawan. Iya, nanti juga bakalan banyak juga. Bisa jadi aku, bakalan banyak yang ditangkap, kan gitu. Ya, maksudnya selama negara eksis, kekerasan itu ya makanan kita sehari-hari kayanya, perampasan, apalagi dia kombinasi sama kapitalisme kan. Ya, ngga terkejut aku melihatnya, karena memang seperti itu bahasanya. Terus mau diapakan, ya menurut aku untuk sekarang ya kita dukung kawan-kawan biar keluar atau dengan cara apapun, gitu kan, dengan dukungan apapun, gitu. Karena besok kan enggak bisa langsung revolusi kan, misalnya, kan gitu. Jadi lakukan yang sebisanya dulu, ya termasuk aku di sini gitu. Waktu aku datang ke Bandung dan bisa ya, ya datang, gitu. Sebisanya aja, le, gitu. Apapun itu, gitu. Ya termasuk kawan-kawan yang dipenjara tuh, ya bantu sebisanya aja. Karena cuman itu kan, sebisanya, opsinya itu, sebisanya atau revolusi. Revolusi ya repot kan, gitu. itu seram kan. Kesannya seram kan gitu.
Mau nanya dong, Le, kita kesampingkan negara karena sumber masalah, pilihannya berarti tanpa negara. Gimana dogma di Batak menurutmu?
Ya, sebagai tatanan aku ga suka sama Batak, cuman kan gini, cuman aku lahir disitu, Le, maksudnya bahasa ibuku itu, makanya aku nyebut Pangalo! itu. Pangalo itukan bahasa batak artinya pemberontak, kan gitu artinya. Sama musik-musiknya juga aku terbiasa dengan hidup seperti itu, jadi bukan karena pemahaman jadi aku denial, jadi benci sama diriku gitu. Paham nggak maksudnya? Aku dibesarkan dengan cara seperti itu, bahasaku ya bahasa seperti itu, bukan berarti aku setuju dengan si adat Bataknya. Karena, aku justru di beberapa lagu tuh, bahas kayak “Rimbak Otorita” itu aku bilang, melawan Horjabius. Horjabius itu sangat sakral di Batak, aku bilang bahkan mandiri gitu. Gitu, maksudnya dari sistemnya aku sangat tidak suka Batak bahkan. Tapi kalau produk budayanya, termasuk seninya, kayak aku lahir dari situ, Le. Maksudnya gini kau bisa suka sama batik tanpa harus mengikuti apa yang diajarkan sama Jawa, gitu. Karena gini, kita itu sering gini, sering lupa sama masyarakatnya, terfokus sama konsepnya. Seolah-olah masyarakat batak itu, ya merepresentasikan Batak ini doang, padahalkan engga, masyarakatnya dulu kemudian ada kuasa yang membentuk, seolah-olah mengkultuskan ada nih batak nih, “Kita ini batak nih”, gitu. Ngertikan?
Ibaratnya kita gabung sering nih, terus ada kebiasaan tuh, kita udah seneng dengan cara seperti itu. Terus ada aja orang yang brengsek itu, yang pengen kuasa, ya kan? Terus bikin “Wah sebut aja diri kita Viking”, atau “Kita bikin aja partai” dipisah-pisah gitu, padahalkan enggakan, seru aja.Tiba-tiba aja ada yang ganggu bikin aja Indonesia gitu, jadi hierarki. Kaya Indonesialah tiba-tiba Batak jadi Indonesia, Papua jadi Indonesia, ya kan ga tau, Le, gitu maksudku. Ya jadi aku cuman sesimple menggunakan bahasa di mana aku lahir, gitu aja. Ya karena memang itu bahasa yang ku mengerti. Ya, bisa jadi kalau aku lahir di Papua, ya aku pake bahasa Papua, di Jawa pake bahasa Jawa, ga ada keberpihakan tertentu.sama dogma sama tatanan yang diajarkan si Batak ini.
Karena ya bayanginlah, Batak itu ratusan tahun bisa jadi ribuan tahun yang lalu, masa kita masih percaya sama hasil pemikiran ribuan tahun yang lalu, ibaratnya gitu, udah ketinggalan zamanlah. Feodal-lah, apalah, Batak kan sangat feodal, nepotisme, marga ke marga, rasis bahkan. Jadi Pangalo! itu ga ada sangkut pautnya sama adat bataknya, sama produk budayanya udah pasti, ya jelas. Kan aku lahir disitu, Le. Ya, ngga mungkin aku dari orang Batak, tiba-tiba bikin namaku bahasa Papua gitu, toh orang lain pake bahasa Inggris, gitukan. MC ini MC itu apaan gitu, maksudnya ngga bahasa aku gitu, Le.
Makanya di lagu ku itu kan “Kami benci polisi”, aku ngga bilang “Fuck The Police”, ngerti nggak? Pake bahasaku aja, kayak gitu. Aku sering memang gitu, pake bahasaku aja. Terbiasa nyaman disitu, jadi sangat jarang aku merepresentasikan budayaku dengan budaya orang lain. Makanya beatku pun seperti itu, ya bahasaku seperti itu, musik-musiknya, aku ngga kaya New York, rap-rap New York. Boom Bap apa gitu, engga aku itu. Ya bisa, bisa aja, kan gitu. Cuman kayanya lebih seru kalau datang tuh bawa rumahmu ke orang, perkenalkan nih aku nih, kan gitu. Ya makanya aku ngomongkan “kali”, maksudnya aku selalu pake “aku” nih, kan gitu kan? ada orang yang terbiasa “gue”, bukannya salah, aku terbiasa disitu, aku nyaman disitu aja. Ngga salah juga kalau bilang “gue” atau apa gitu. Alasannya itu, Le. Makanya aku sering pake instrument Batak, pake sound-sound Batak, gitu.
Mungkin dua pertanyaan terakhir Bang. Tiga album yang menarik menurutmu?
Wah, musik nih. Aku suka apa ya? Aku dengerin semua sih, gitu, maksudnya. Iya, aku, wah aku maksudnya, Led Zeppelin suka, albumnya yang apa tuh, Mountain itu apa tuh. Yang merah itu. Lupa aku. Aku Led Zeppelin tuh suka. Yang kedua, Bob Marley, aku suka Bob Marley. Maksudnya bukan album ya, maksudnya aku, aku nggak tahu, ya, aku ngeliat musisi itu nggak pernah per-album. Aku justru, justru menurutku… itu lebih, maksudnya aku, ya random aja, gitu. Aku dengerin per-lagu aja, per-single. Maksudnya album tuh kaya ribet kali. Harus bikin satu konsep, bikin ini apa, gitu, maksudnya apa terlalu banyak gimmick. Iya, kau nyanyi-nyanyi ajalah. Gitu.
Ini loh, ada ini ya, karena kita bahas album ya. Banyak tuh kawan-kawan tuh yang banyak tertunda project-nya karena ada gitu. “Ah, udah buat album belum?” gitu-gitu. Padahal kan nyanyi-nyanyi ajalah, Le, kau punya satu lagu, emang kenapa? Kan enggak harus ada target album juga. Makanya itu tadi Hurje! tumpukan. Gitu, jadi maksudku album itu kayak, apaan sih? Gitu, pahamkan maksudku, Le? Jadi seolah-olah kau bisa jadi musisi itu setelah ada album. Ya kau nulis-nulis aja lah. Gitu, jadi aku lihatnya. Led Zeppelin aku suka lagu-lagunya, ya Bob Marley aku suka lagu-lagunya, aku gatau album apa gitu. Maksudnya, ya pun sekarang gampang nyari Chat GPT tanya aja, kalau mau jadi sok-sok paham musik, gitu. Tinggal search aja gitu di Google.
Cuman yang aku tangkap, itu ya menurut aku perspektif sama kesan yang mereka sampaikan melalui lagu itu yang lebih esensial, menurut aku. Kayak Bob Marley ngomong soal perdamaian, cinta, meskipun aku gatau judul albumnya, gitu kan. Tapi, aku tau pesan yang disampaikan gitu. Kayaknya kawan-kawan gitu juga dengerin aku, gitu kan. Ya mana mereka tau itu, Le, ini sample-nya apa, ini itunya apa. Karena pointnya gitu kan, Le. Musik itu pointnya itukan. Maksudnya gak terlalu serius juga. Gitu jadi, ya itu tadi aku suka Led Zeppelin
Berarti 3 band/musisi aja, ganti pertanyaannya Bang, Hahaha.
Led Zeppelin, Bob Marley, sama… sebenarnya ada empat. Bob Dylan, sama The Beatles.
Oh berarti bukan Rap ya?
Karena gini, Le. Karena gatau ya, gini maksud rap itu bagiku, nanti kawan-kawan jadi tersinggung, cuman, rap bagiku kurang musikalitasnya, tuh, karena looping itu, Le. Ya jadi aku lebih, kalau bicara rap itu lebih ngeliat rap itu sebagai puisi ketimbang musik. Ngerti ngga maksudku? Iya, lebih dominan, bukan ke musiknya, tapi ke pesan yang disampaikannya. Lebih ke apa ya? Lebih ke… ya musikalisasi puisi. Gitu maksudku, kalau aku denger rap tuh, jarang ku terpukau sama beatnya atau musiknya, aku lebih fokus ke liriknya. Sedangkan musik yang ku bilang tadi, ya Led Zeppelin kan lebih ngebahas cinta misalnya, soal-soal kehidupan dia yang narkoba, atau apa, tapi, musiknya tuh… anjing, ko bisa gitu. Gitu, Le. Meski dia cuman ngomong “yeyeyeye” dia gitu doang pun enak. Gitu alasannya, makanya aku ga terlalu fokus ke rap waktu berbicara musik gitu.
Makanya pun lagu ku kebanyakan musik ku sangat harmonik sebenarnya, main chorus, hook, main sample-sample yang ku pakai juga udah enak duluan kan gitu. Beda sama kawan-kawan lebih flat gitu kan. Jadi memang musisi favoritku tuh lebih banyak dari genre lain, bukan hiphop. Tapi ya, rap-pun aku ada suka, tapi bukan berdasarkan musiknya, tapi lirik sama flownya, gitu, kayak Company Flow, cara dia ngerap gimana atau kayak disini tuh ya ada Senartogok, ada kawan-kawan juga, ada Kids tadi gitu lebih ke liriknya sih. Karena kayaknya pun orang itu, jarang bicara musiknya. Iya lebih fokus ke lirik, main multis, main ini, iya lebih kesitu. Iya itu musisi yang kusuka, ya itu tadi. Led Zeppelin sebagai band, Bob Marley sebagai solo, Bob Dylan sama The Beatles. The Beatles tuh, siapa yang nggak ngakuin The Beatles, kan gitu maksudnya.
Mungkin pertanyaan terakhir, tiga film yang berkesan?
Yang berkesan jelas “Into The Wild” sangat berkesan. Itu nonton waktu kuliah dulu kan, jadi kaya, menuntun kau jadi berbeda lah, kan gitu maksudnya, ya kaya “Badut”-lah, ada lagu ku “Badut” hampir sama lah kaya “Into The Wild”. Yang kedua tuh, aku sangat suka tuh “The Dark Night” yang Christopher Nolan, yang triloginya yang si Joker. Ehmm… ada yang sih yang bagus, banyak kan, cuman aku ga terlalu berkesan. Kebanyakan orang kan gitu saking orang gatau tuh kayanya keren gitu, kaya “Memento”, “Fee” apalah segala macem. Sama “V for Vendetta”. Tiga itu, tapi banyak sih sebenernya kayak “Fight Club”, yang pop-pop lah tanda kutip, cuman memang di zaman itu yang nyampe ke aku ya itu, jadi berkesan gitu, kalau sekarangkan lebih eksplor, cuman kesannya udah beda. Kayak nonton “The Man From Earth” gitu-gitu. Jadi, beda kesannya, bagus ya bagus-bagus aja, gitu. Aku suka nonton. Kalau disuruh manggung atau nonton, aku lebih milih nonton, sumpah haha. “Ada nih job manggung” ahh ya aku mening nonton. Abis itu maen game. Aku suka maen game soalnya.
Makanya lebih baik mabar daripada konsol, haha?
Iya, serius. Ya, maksudnya, kayanya mau seberapa kuat pun aku ngomong soal diriku, kayanya ngga bakalan ada yang berubah, termasuk itu tadi, Le, memang problemnya ada di negara itu, itu dulu lah ancurin. Ya kalau engga diancurin, mening aku mabar, kan gitu. Tapi kalau diajak ngancurin, ayoklah, mati pun awak gapapa, haha.
Terimakasih, Bang!
Ya, sama-sama, Le.
Teks & interviews: Iman Hadiansyah Photos: Iman Hadiansyah
Hailing from Tampa, Florida, Contention is part of a new wave of straight edge hardcore reshaping the genre with a sharper, more personal edge. Fresh off sharing stages with Poison the Well, the band reflects on influence, identity, and staying grounded as their momentum grows. In this interview, vocalist Cosmo reflects on that experience, alongside the band’s influences, their approach to identity in a resurging scene, and how they navigate the realities of balancing music with everyday life.
Having a legendary band like PTW hand-pick Contention and Domain is a massive endorsement. Do you feel a certain responsibility to represent the “new breed” of Florida Straight Edge on this specific stage?
We all grew up as PTW fans so it’s surreal getting to play shows with them. When you meet a band you admire there’s always that risk that they’re going to be pricks, or have a rockstar attitude, but everyone was incredibly kind and accommodating to us. Their singer Jeff helped me load in merch the first night, their guitarist Ryan warmed up with the riff from our song Nuclear Peace, I punished Vadim at length about his time in This Day Forward—just all around great dudes in my experience.
Many reviews point out that being from Tampa, Florida, the “Death Metal DNA” naturally seeps into your hardcore sound. How much of that is a conscious tribute to the local legends (like Morrisound-era bands) versus just an inevitable result of your environment?
Very rarely is that a conscious tribute, we just happen to be influenced by bands that are influenced by Florida death metal. Most of us are into obituary/death/morbid angel and occasionally those reference points get mentioned (primarily by Bayly and I) but for the most part the guitarists are pulling from bands like The Swarm, Morning Again, Reprisal, Arkangel, Culture. To my ears, there’s more Slayer in there than there is death metal.
You’ve cited a massive list of influences, McCarthy, Camus, Dostoevsky, and Vonnegut. Which of these authors’ “worldviews” is most prevalent in the current state of Contention?
Vonnegut has a battered and cynical but humanist perspective that I really resonate with, but McCarthy’s bleak view of war and human nature is certainly more an influence on Contention’s writing. It’s a chaotic and fucked up world, it always has been, and my writing is a distillation of that.
There is a major resurgence of 90s-style metallic hardcore (Magnitude, Ecostrike, etc.). How does Contention maintain its own identity without becoming a “throwback” or “tribute” act to that era?
Playing in the year of our lord 2026 we have the fortunate position of drawing from over 40 years of hardcore music. There’s certainly bands that we are directly influenced by but there’s such a massive well to draw from that it keeps things from getting boring. All of us different tastes so while there’s plenty of undiluted metallic hardcore influence (like All Out War) in there, there’s also plenty of modern hardcore elements, death metal parts, and emotive shit (like Unbroken) woven in.
You’ve mentioned that longer tours are difficult due to jobs and family. How do you decide which “sick offers” are worth the sacrifice, and how does this limitation affect the band’s creative energy?
We do things by a code, and the first tenant on the list is whether or not something is going to be a good time. We like playing with bands that we’re fans of, we like playing new places. Whether or not something is a “good opportunity for our career” doesn’t factor in much.
We never set out to be a full time professional band. We’re just 5 fucked up dudes with chaotic lives who happened to stumble into some small measure of success with music we wrote in a farm garage. It’s difficult for us to write music regularly and it’s painful to say no to offers with legendary bands, but the upside of not being a pro band is that we’re not beholden to anyone. We don’t have to sign any contracts and we only work with people we trust.
Text and interviews by Andika Surya photos by Evan (@emphotos98)
Thee Marloes memilih jalur yang berbeda: bergerak pelan, rapi, dan penuh perasaan. Berangkat dari Surabaya, trio ini meramu soul dan nuansa retro dengan cara yang tidak sedang berusaha meniru masa lalu, tetapi mencoba memahami apa yang membuat musik itu jujur. Hasilnya adalah karakter suara yang terasa familiar sekaligus tidak bisa sepenuhnya ditempatkan dalam timeline tertentu.
Ini adalah percakapan yang tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang kejujuran, posisi, dan arah yang ingin mereka tempuh ke depan.
Musik kalian sering disebut “retro soul dari Indonesia.” Apakah kalian nyaman dengan label itu?
Sebetulnya kami tidak terlalu mengambil pusing dengan adanya istilah tersebut, mungkin karena kami merupakan band pop yang banyak ter-influence oleh grup dari era ‘60 hingga ‘70an (tidak hanya soul), sehingga secara tidak sadar musik dan sound yang dihasilkan terkesan “retro”.
Banyak yang bilang Thee Marloes terdengar seperti band dari luar negeri bagaimana kalian menanggapi anggapan bahwa apresiasi baru datang setelah musik kalian “terdengar tidak lokal”?
Di era digital di mana semua orang bisa meniru sound 70-an dengan plugin, bagaimana kalian membedakan vintage taste dari sekadar vintage gimmick?
Kami merasa terlalu bias untuk penggunaan kata “vintage” pada sound, dan bisa saja kita mereplika sound “vintage” dengan instrumen modern atau VST, namun yang membedakan adalah cara memainkan instrumennya, mungkin contohnya adalah jika kamu memainkan bass seperti James Jamerson, meskipun menggunakan bass Squier keluaran tahun 2022 maka hasilnya akan tetap terdengar ‘70-an, namun jika menggunakan bass vintage precision dan memainkan dengan style Thundercat, maka akan tetap terdengar “modern”.
Seberapa banyak kompromi yang kalian lakukan antara menjaga keaslian sound analog dengan kebutuhan produksi modern?
Kami masih memakai plug in bawaan DAW untuk memberi warna, tetapi semua instrumen direkam tanpa VST; menggunakan drum, piano, perkusi, dan gitar asli dengan amps. Di album terbaru, kami juga menambahkan sound sitar elektrik hasil dari modifikasi gitar asli.
Dalam musik soul, konteks sosial dan sejarah sangat penting. Bagaimana kalian menempatkan soulfulness itu di realitas sosial Indonesia hari ini?
Sebetulnya kami lebih menempatkan musik yang kami buat sebagai cerminan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Ada beberapa lirik seperti “Mungkin Saja” dan “Logika” itu sebetulnya cerminan keadaan kita sehari-hari, juga kemalangan yang kadang disebabkan oleh bobroknya sistem di atas.
Bagaimana akhirnya Thee Marloes bisa dilirik dan bekerjasama dengan Big Crown Records?
Hal itu terjadi karena interaksi di media sosial. Pada tahun 2020, Big Crown Records memperhatikan karya Thee Marloes dan menanyakan apakah ada demo lagu lain. Dari situlah kerja sama kami dengan mereka berjalan.
Label luar seperti Big Crown Records membawa kalian ke pasar global. Apakah kalian merasa Thee Marloes lebih “dimiliki” oleh audiens luar ketimbang audiens lokal?
Kami merasa Thee Marloes milik semua pendengar.
Apa tantangan terbesar ketika musik kalian lebih diapresiasi oleh pendengar asing ketimbang publik di rumah sendiri?
Justru poin itu sepertinya tantangannya.
Kalau Thee Marloes bukan band soul, kira-kira kalian akan main musik seperti apa?
Pilihan jatuh kepada reggae, hehe
Ada lagu dari musisi lain yang akhir-akhir ini jadi guilty pleasure kalian?
If it’s please you then it’s not a guilt
Kalian bakal tampil di Joyland Session apa yang paling kalian nantikan dari festival ini?
Merasakan Joyland session, yang sepertinya akan lebih intim daripada Joyland Festival.
Joyland punya reputasi sebagai festival yang menyorot musik dengan karakter kuat. Apa yang ingin kalian tunjukkan di panggung kali ini?
Performance yang baik, seperti panggung-panggung lainnya.
Banyak musisi bilang Joyland punya audiens yang sangat present dan menghargai detail. Apakah itu memengaruhi cara kalian membangun setlist atau perform?
Kami selalu mencoba memaksimalkan sound dan tata panggung saat melakukan penampilan di Joyland
Kalau kalian bisa mendeskripsikan energi panggung Thee Marloes di Joyland dengan satu kata, apa dan kenapa?
Ali muncul sebagai salah satu band yang menawarkan sesuatu yang berbeda: perpaduan funk yang hangat, ritme afro-beat yang menular, dan aksen Timur Tengah yang terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Sejak merilis Malaka, trio asal Jakarta ini konsisten membangun identitas yang tidak hanya terdengar segar, tapi juga memiliki kedalaman kultural yang jarang disentuh musisi lain. Setelah tampil di panggung internasional, meramaikan festival besar, hingga membawa energi mereka ke Joyland Session, Ali terus menunjukkan bahwa musik yang jujur pada akarnya bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.
Kami mencoba menelusuri perjalanan mereka: dari proses kreatif, identitas musikal, sampai bagaimana mereka memaknai ruang baru yang semakin luas. Berikut percakapannya.
Hai, gimana kabar Ali belakangan ini? Halo, kabar baik.
Banyak yang menyebut musik kalian sebagai “funk Timur Tengah” dari mana awalnya ide perpaduan itu muncul? Ide ini muncul secara organik setelah kami saling share playlist dan menemukan jika di Indonesia pernah ada musik funk era 70an dengan nuansa dan lirik Arab yang dibawakan oleh Munif Bahasuan yang berjudul “Naghm El Uns”. Itu menjadi salah satu trigger kami untuk kemudian memadukan elemen timur tengah di musik Ali, karena ternyata sudah ada di Indonesia sejak lama. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh lagi sudah ada jauh sebelum era 70an juga dan sudah terasimilasi secara organik. Jadi menurut kami menjadi make sense jika Ali hadir dengan perpaduan musik ini di era sekarang, agar menyuguhkan sesuatu yang “fresh” bagi penikmat musik. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita pernah punya juga musik semacam ini di masa lampau.
Apa momen pertama yang bikin kalian sadar kalau arah musik Ali harus seperti ini soulful, groovy, tapi tetap punya akar budaya yang kuat? Tidak ada keharusan sebenarnya, tapi memang secara organik referensi musik kami di seputar musik yang groovy sebagai elemen utamanya, seperti funk, disco, dan afro beat misalnya. Unsur budaya dimasukkan agar membawa pesan dan tidak “kosong” secara value.
Beberapa lagu Ali menggunakan bahasa Arab seberapa penting unsur bahasa dan spiritualitas dalam karya kalian? Pemilihan bahasa Arab digunakan agar semakin melengkapi tema musiknya. Disamping itu, karena penulis lirik sekaligus frontman (Arswandaru) memang bisa berbahasa Arab secara pasif dan masih keturunan Arab. Tidak ada unsur kesengajaan dalam aspek spiritualitas, karena makna liriknya pun tidak mengacu ke sana. Jika ditangkap pendengar dengan makna berbeda, itu tidak bisa dihindari, biarkan mengalir saja.
Apakah ketika manggung di luar negeri rasa nasionalitas akan Indonesia perlu ditampikan? sebagai contoh mungkin seperti memasang bendera negara di amps Kami menampilkannya secara verbal dan implisit, melalui greetings di jeda set lagu. Kami selalu menyampaikan bahwa kami band dari Indonesia, dan selalu mendapatkan tanggapan yang sangat apresiatif. Menurut kami itu sudah cukup.
Pada tahun 2025 ini Ali kembali akan tampil di Joyland, tapi untuk tahun ini Joyland dalam format yang berbeda, apa yang disiapkan Ali untuk Joyland Session tahun 2025? Kami akan mencoba menyiapkan set list yang cukup berbeda di Joyland tahun ini. Agar audience yang mungkin juga menyaksikan kami di Joyland tahun lalu mendapatkan experience yang berbeda
Apa pendapat Ali mengenai Joyland? Joyland adalah festival yang sangat nyaman dan cukup ideal, baik bagi musisi yang bermain dan penonton yang datang untuk menikmati musik. Pemilihan line up juga terkurasi dengan baik.
Majelis Lidah Berduri adalah nama baru yang diusung oleh band legendaris asal Yogyakarta, sebelumnya dikenal sebagai Melancholic Bitch. Setelah lebih dari dua dekade berkarya, mereka memutuskan untuk melakukan transformasi identitas sebagai bentuk refleksi terhadap perjalanan panjang mereka di dunia musik. Mari simak perbincangan Jeurnals dengan Melbi mengenai proses kreatif, filosofi di balik nama baru mereka, serta bagaimana Daerah Istimewa Yogyakarta membentuk musikalitas Majelis Lidah Berduri
Apa alasan utama di balik perubahan nama dari Melancholic Bitch menjadi Majelis Lidah Berduri?
Richardus Ardita: 1. karena formasi baru 2. media-friendly Yossy Herman Susilo: 1. Seperti mas didit.. formasi baru, bosen juga nama yg lama.. Hehe Yennu Ariendra: Nggak tau aku, aku sih setuju aja Paulus Neo: Mungkin, karna formasi baru. Eh gatau ding Danis Wisnu: Agar ramah publikasi, penyelenggara dan sponsor ;))) Ugo Prasad: Iya gitu
Setelah merubah nama, sebenarnya apa yang Melbi harapkan?
Richardus Ardita: Menambah pendengar Yossy Herman Susilo: Tidak menjadi band mitos Yennu Ariendra: Juga nggak tau Paulus Neo: Sama kayak mas (YA) Danis Wisnu: Biar kalau pamit sama orang rumah lebih enak aja, biar ga canggung Ugo Prasad: Gitu boleh
Bagaimana pendapat dari para pendengar yang lebih dahulu mengenal nama Melancholic Bitch?
Richardus Ardita: Beberapa kurang setuju, beberapa setuju Yossy Herman Susilo Beberapa tidak setuju, beberapa setuju, sebagian tidak peduli 🙂 Yennu Ariendra: Beberapa orang merasa aneh, tapi seiring dengan berjalannya waktu itu tidak menjadi masalah Paulus Neo: Belum pernah mendengar pendapat tentang nama Danis Wisnu: Ndak tau, tapi apapun itu toh kita lahir tidak untuk menyenangkan semua orang apalagi yang hanya sebagian. Ugo Prasad: Betul
Majelis Lidah Berduri terdengar seperti memadukan berbagai genre seperti rock, folk jazz, dan unsur lokal dengan lirik yang penuh kritik sosial. Bisa jelaskan bagaimana proses kreatif Melbi dalam menciptakan lagu untuk Majelis Lidah Berduri?
Richardus Ardita: 1. Jam session 2. Salah satu personil menawarkan lagu dengan aransemen yang sudah jadi, kemudian personil lain mengisinya. Yossy Herman Susilo Biasanya kita sesi studio Yennu Ariendra: Tidak terlalu memikirkan tentang genre, penggarapan musik disesuaikan dengan imaginasi yang diciptakan oleh lirik. Lirik menciptakan sebuah dunia yang komplek dan dari sanalah unsur unsur musiknya ditemukan. Tidak ada pembicaraan tentang genre sebelumnya. Paulus Neo: Di studio ngejam dari 0 (mentah), atau mengolah ide yg sudah ada sebelumnya. Tapi semuanya diolah tanpa menghilangkan karakter masing2 person dan diselaraskan dengan maksud dari lirik. Tidak terkotak genre dan tidak terkotak teknik ataupun skill. Danis Wisnu: Sing penting jujur aja, ga nuruti orderan algoritma viral Ugo Prasad: Kayaknya ya standar band-bandan biasanya
Bagaimana peran latar belakang artistik antar personil yang berbeda, dalam membentuk musik Melbi?
Richardus Ardita: Perbedaan latar belakang artistik membentuk musik yang kaya ragam dan mengembangkan kemampuan adaptasi dan improvisasi personil. Yossy Herman Susilo: Cukup menguntungkan..kadang muncul hal hal yg mengejutkan di setiap komposisi Yennu Ariendra: Menurutku, Setiap anggota band memiliki kecenderungan, selera dan bahkan keahlian yang berbeda. Namun disini, kita berpegang pada dunia imaginasi yang diciptakan lirik, jadi itu memudahkan kita untuk tau batasan batasan dan tahu dimana kita memposisikan diri kita sendiri ketika berkarya. Menurutku juga kita tidak asal mencampur selera masing – masing, tetapi sepakat untuk menempuh sebuah perjalanan menyusuri konsep ini bersama sama dan menemukan perca musik satu persatu. Paulus Neo: Sudah terwakilkan dijawaban pertanyaan sebelumnya Danis Wisnu: Ya namanya ada 5 orang lebih, janjian masak yang satu bawa terong satunya bawa daging satunya bawa badan aja. Bisa di bayanginkan ya.. Btw saya bagian bawa badan aja. Ugo Prasad: Saya sama dengan Neo
Melbi – TIba-tiba Marabahaya Denpasar – foto by Kevin
Banyak lirik Melbi yang terasa puitis sekaligus penuh kritik tajam. Apakah ada proses tertentu dalam memilih kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan pesan Melbi?
Richardus Ardita: Ugo lebih kompeten untuk menjawab ini. Yossy Herman Susilo: Biasanya Ugo melakukan ritual bertapa Yennu Ariendra: Penulisan tanggung jawab Ugo, soalnya lainnya tidak ada yang mampu. Tetapi, secara konsep kita mengembangkan liriknya bersama sama (bukan pada penulisan tetapi menentukan arah dari konsep tersebut). Kita sama sama melihat apa yang kurang dan apa yang keterlaluan. Paulus Neo: Mas Ugo aku padamu Danis Wisnu: Waktu dan tempat kami persilahkan kepada bapak ugoran prasad, monggo Ugo Prasad: Saya biasanya aja, nulis dari kiri ke kanan sama kayak orang berbahasa Indonesia lainnya. Prosesnya ya dipikir-pikir, dicoba-coba sampe enak. Kalo mentok baca buku nonton film, denger musik, jalan-jalan. Kalo masih gak nemu ya diulangi dari awal. Ya biasanya aja. Bertapa ya bisa juga, tapi biasanya itu untuk belajar nyantet.
Seberapa besar kekuatan lirik pada sebuah lagu?
Richardus Ardita: Untuk Melbi 100% Yossy Herman Susilo: Turun dikit lah ..75% Yennu Ariendra: Susah menentukannya, apa yang tidak tertulis di lirik diwakili oleh musik, jadi pada akhirnya semua saling melengkapi Paulus Neo: Musik 100%, lirik 100% Danis Wisnu: Lirik itu hook sebuah lagu, musik membantu menjadikan abadi untuk didengar terus menerus. Ugo Prasad: Jangan di inflasi begitu. Ya kira2 23,2 %.
Apakah tema atau isu tertentu di dalam lirik yang Melbi ingin sampaikan harus sampai ke pendengar selaras dengan maksud dari liriknya?
Richardus Ardita: kami hanya mencoba menyampaikan dengan sepenuh hati & tenaga, untuk penerimaan tergantung dari penerimanya. Yossy Herman Susilo: Nggak juga Yennu Ariendra: Lirik di album ini sebenarnya lebih ke puisi. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sebuah puisi. Pendengar akan paham atau tidak, atau selaras dengan pemahaman penciptanya, itu hal yang sulit dijawab. Puisi menciptakan ruang imaginasi yang bagi pendengar mungkin tidak dipahami sama sekali, atau justru maknanya berkembang, karena pendengarnya memiliki imajinasi yang lain. Secara pribadi aku tidak memikirkan apakah Lirik bakal dipahami atau tidak, tetapi aku punya keyakinan, lirik tersebut akan menjadi bahan diskusi yang baik buat publik Paulus Neo: Dikembalikan ke publik Danis Wisnu: CMIIW setahuku kalau karya sudah dilempar ke publik ya mau ga mau karya itu sudah milik publik, mau saklek segimanapun pasti jatuhnya akan multitafsir. Ugo Prasad: Bukan puisi deh. Ya awalnya karena teman2 dekat pergi duluan. Tapi ya sejak awal emang udh banyak yang meninggal pas di waktu Covid kan. Semakin lama semakin melebar temanya. Dari tema kematian dari kacamata personal ke kacamata antar-person. Ya kami cerita ttg itu. Tapi tetep, liriknya gak puisi. Kecuali yang emang puisinya Chairil dan Cindhil
Apakah pernah menghadapi ancaman akibat tema-tema berani dalam lagu-lagu Majelis Lidah Berduri?
Richardus Ardita: Setahu saya belum Yossy Herman Susilo belum Yennu Ariendra: Mungkin ada Paulus Neo: Aman aja Danis Wisnu: Kayaknya pernah deh, hampir ga boleh manggung waktu di makassar! Itu dikasih tau setelah setahun dari acara Ugo Prasad: Hehe
Melbi – Hujan Orang Mati Listening Session Bandung – foto by Djionk
Beberapa waktu lalu Majelis Lidah Berduri menyelenggarakan sesi dengar album baru “Hujan Orang Mati”, judul yang menarik. Bisa sedikit elaborasi mengenai album “Hujan Orang Mati?
Richardus Ardita: Berawal dari kepergian beberapa teman dekat, kemudian karena penggarapannya memakan waktu lama, tema berkembang merespon kondisi masyarakat terkini. Yossy Herman Susilo: idem 👆 Yennu Ariendra: Semua anggota band sebenarnya punya interpretasi lain atas album ini. Aku sih soal ketakutan dan kecemasan dalam konteks sekarang (situasi politik lokal-global, isu lingkungan, friksi antar kelas di dalam masyarakat, dsb). Kegelisahanku ada di dalam lirik-lirik di album ini. Paulus Neo: Idem 👆🏼 Danis Wisnu: Mati yang paling menakutkan adalah mati yang kamu masih hidup tapi tidak mampu berbuat apa-apa, sisanya setuju sama pakdhe pakdhe diatas. Ugo Prasad: Iya, begitu.
Hujan Orang Mati album penuh ke 4 yah? Butuh berapa lama untuk merampungkan album ini?
Richardus Ardita: sekitar 1,5 tahun lebih sedikit. Yossy Herman Susilo idem 👆 Yennu Ariendra: 2 tahun lebih ah Paulus Neo: 2 tahun lebih tapi dikit aja Danis Wisnu: Semenjak pamitnya pak djaduk, mas gendel dan mas cindil, tepatnya berapa ga tau aku selalu gagap soal menghitung. Ugo Prasad: dari pengumuman nama 2 tahun lebih dikit. Tapi kayaknya bener Didit soal titik mulai garapnya.
Ketika band-band pada saat ini lebih memilih untuk merilis single – single yang banyak baru rilis album, kenapa Majelis Lidah Berduri lebih memilih untuk merilis Album?
Richardus Ardita: Mungkin karena di melbi banyak yang sudah berumur Yossy Herman Susilo ya krn single juga sdh di rilis.. album rilis juga Yennu Ariendra: Kenapa nggak? Secara global, album masih relevan (khususnya bagi artist artis papan bawah, kalo artis papan atas kan sudah cukup dari single). Kita mah tau posisi sebagai band underground Paulus Neo: Single udah, saatnya album, mungkin Danis Wisnu: Pencapaian sebuah band itu adalah album, perkara bagus atau tidak, perkara laku atau tidak tapi saya masih mengamini itu. Semoga tidak berubah ya semenjak gerai musik digital isinya cuma playlist lagu/single bukan playlist album. (read : Spotify) Ugo Prasad: kebiasaan aja.
Dari album Anamnesis (2005), Balada Joni Susi (2009) dan NKKBS Bagian Pertama (2017) untuk Hujan Orang Mati ini ada cara atau trik tersendiri nggak untuk “memasarkan” albumnya?
Richardus Ardita: Kami mencoba menjualnya di bandcamp & storefront terlebih dahulu untuk beberapawaktu, sebelum dilepas di gerai musik digital. Yossy Herman Susilo idem👆 Yennu Ariendra: Idem Paulus Neo: Idem Danis Wisnu: Selain diatas, kayaknya melbi udah mulai lebih peduli sama rumahnya di instagram dll.. Jadi ga cuma update setahun sekali sekarang. Ugo Prasad: Kalo memasarkan pake tanda petik anak melbi pada gak bisa jawab. Bisanya kami ya maen musik.
Melbi – Cherrypop2024 Jogja – foto by Wandirana
Bagaimana kota dan budaya Yogyakarta mempengaruhi musikalitas Majelis Lidah Berduri, dan apakah merasa itu memberikan perspektif yang unik dalam melihat skenamusik Indonesia?
Richardus Ardita: Banyak musisi di Jogja yang menginspirasi secara personal. Setiap daerah punya keunikan skena musiknya masing-masing yang bagi saya itu menjadi pengayaan perspektif. Yossy Herman Susilo: idem 👆 Yennu Ariendra: Berpengaruh kayaknya, karena di Jogja orang bisa mengkritik, berghibah, saling ngatain tanpa kita merasa sakit hati, menurutku itu justru jadi modal untuk memperkaya wawasan. Aku tidak merasa kita bagian dari apa yang disebut sentral, jadi seluruh standar ditentukan dan diciptakan sendiri, ya begitulah band pinggiran. Paulus Neo: Idem Danis Wisnu: Secara sepihak aku bilang kalau jogja itu adalah laboratorium.. Jadi kalau sampai kejogjaannya tidak dimaksimalkan ya rugi deh sepertinya.. Banyak yang bisa di captured di kembangkan dengan lintas disiplin antar seni jadi berprosesnya ga membosankan, bikin musik pake term seni rupa & teater, misalnya. Ugo Prasad: Batas batas disiplin seni kayaknya juga gak terlalu kaku, bisa selonongan ke seni rupa, teater, pentas ketoprak, tari, jathilan dll.
Penampilan live Majelis Lidah Berduri terasa penuh emosi. Seberapa besar peran visual dan konsep artistik dalam setiap penampilan live?
Richardus Ardita: Besar, karena itu membangun emosi dasar & perspektif personil sebelum naik panggung. Yossy Herman Susilo: Cukup besar karena konsep artistik selalu menjadi pijakan awal personil Yennu Ariendra: Masak sih, perasaaan normal-normal saja waktu naik panggung Paulus Neo: Ada ngga adapun, kita tetap emosional, entah apapun penyebabnya Danis Wisnu: Inderakan bukan cuma pendengaran ajakan ya, ada penglihatan baru indera perasa (tidak secara harafiah) dll. Ya memenuhi kebutuhan indera saja meski sak madyone. Ugo Prasad: Betul, pertumbuhan emosinya terhambat ya, gampang emosian.
Dari kacamata sebagai penampil, festival musik seperti apakah yang bagus dan ideal untuk dikunjungi?
Richardus Ardita: Yang nggak terlalu banyak penampil, supaya bisa mencerna dengan baik setiap pertunjukan. Yossy Herman Susilo: Karena saya basicnya audio, ya festival musik yang produksi audionya bagus Yennu Ariendra: Idem sama RA dan YHS Paulus Neo: idem mas YN Danis Wisnu: Yang penampil dan enthusiast diberi porsi dan kenyamanan sama. Ugo Prasad: yang baik sama penonton dan penampil. Baiknya gimana, jawabannya juga gak bisa macam2. Jenis musik aja gak satu masak jenis festival cuma satu.
Di tahun 2024 ini pertama kali yah tampil di Joyland? Sebelumnya sempat denger tentang Joyland?
Richardus Ardita: Pertama kali main di Joyland. Pernah mendengar sebelumnya. Yossy Herman Susilo: Iya.. udah denger lama Yennu Ariendra: Idem dengan YHS Paulus Neo: Udah Danis Wisnu: Iya ini tahun pertama menjadi penampil, 2 tahun lalu ke joyland tapi jadi tim produksinya Frau (usung-usung stand dan ngolor kabel) Ugo Prasad: Ya sering denger
Apa hal spesial yang disiapkan oleh Majelis Lidah Berduri sebelum akan tampil di Joyland Festival?
Richardus Ardita: Pentas perdana album baru. Yossy Herman Susilo: Full album Hujan Orang Mati Yennu Ariendra: Idem Paulus Neo: HOM Danis Wisnu: Majelis LIdah Berduri – Hujan Orang Mati set (paket rombongan 20 orang lebih) Ugo Prasad: latihannya capek, 2 sesi dari pagi smp malem. Untungnya gak cuma sm orang-orang ini. Awas kalo gak nonton.
Prita “Darkofmoist” adalah seorang stage photographer yang akhir-akhir ini karyanya cukup sering tampil di linimasa sosial media. Selain berkerja di Maternal Disaster sebagai fotografer, Prita juga sangat aktif mengikuti eksibisi yang memamerkan karya-karya fotografinya dan juga menjadi narasumber di event-event fotografi. Beberapa band yang sudah didokumentasikan oleh Prita adalah Eyehategod, Speed, Jesus Piece, Wormrot, Doldrey, GAG, Sial dan tentunya band-band lokal seperti Ssslothhh, Collapse, Haul, Perunggu, Kuntari, Pure Wrath, Komunal, Ancient dan masih banyak lagi.
“Kalo buat aku equipment bisa nomer dua ya, yang terpenting buat aku insting ketika kita nangkap momennya atau gimana cara kita setting kamera nya. Kalo untuk stage photography sih menurutku ya kita harus tau momen dan sweet spot nya”
Halo! Sedang sibuk mengerjakan apa saja akhir-akhir ini?
Hallooo… Sehari-hari sih kerja di Maternal sebagai fotografer. Selain itu juga untuk sekarang lagi collect beberapa karya aku yang rencananya pengen dibikin pameran tunggal tahun ini. Doakan! Hehehe..
Lo sudah banyak mendokumentasikan banyak band. Band apa aja sih yang sudah pernah lo capture performa live nya?
Lumayan banyak ya kalo yang udah pernah aku foto, seinget aku sekarang sih Speed, GAG, Doldrey, EYEHATEGOD, SSSLOTHHH, Collapse, Haul, dan lain-lain. Kalo yang terbaru seinget aku Jesus Piece, Wormrot, Komunal.. Sisanya agak lupa hahaha.. Kalo yang terfavorit sejauh ini Jesus Piece sama Haul karena waktu Jesus Piece harus sedikit naik rigging demi hasil yang okeee, kalo Haul set panggung dan lightingnya menurutku cakepp siih..
Menurut lo equipment penting ga sih untuk membuat sebuah karya yang ikonik?
Kalo buat aku equipment bisa nomer dua ya, yang terpenting buat aku insting ketika kita nangkap momennya atau gimana cara kita setting kamera nya. Karena ngga jarang juga aku pake kamera lo-fi tapi hasilnya bisa cantik hehe..
Equipment favorit lo apa aja?
Standar sih sebenernya.. Kamera dan lensa yang mendukung atau menyesuaikan sudah cukup menurutku, dan juga flash untuk lighting panggung yang kurang mendukung atau kalau ingin hasil yang lebih tajam.
Untuk para fotografer-fotografer baru, apa aja tips & tricks lo dalam melakukan stage photography, editorial fashion dan foto profil band/artist?
Kalo untuk stage photography sih menurutku ya kita harus tau momen dan sweet spot nya. Misal kalo vokalis pas lagi loncat atau pas lagi ngasih mic nya ke penonton untuk ngajak sing along. Misal ya itu… Terus kalo untuk editorial fashion menurut aku kita sebagai fotografer harus tau persona atau brand image nya kaya gimana, biar pesan secara visual nya tuh nyampe ke audience. Hmm.. Kalo untuk foto profile band sih biasanya aku menyesuaikan kepengen mereka aja, kadang aku cuma suggest vibe lighting sama ekspresi nya aja.
Lo juga sudah sudah memamerkan karya foto-foto lo di beberapa eksibisi dan juga menjadi guest talkshow acara fotografi. Apakah senang bisa berada di posisi sekarang sebagai seorang fotografer yang karyanya sudah cukup dikenal?
Kalo senang pasti, tapi kalo puas sih belom yaa hahahaha. Karena aku juga punya beberapa target/cita-cita di dunia yang aku sukai ini, semoga aja satu-satu bisa tercapai hehe. Kalo exhibition ada beberapa diantaranya “Kilas #00” yang dibikin sama temen-temen “Kilas Archive”. Nah kalo talk show dulu pernah juga ngisi sebagai narasumber, dengan tema “Peran Wanita Dalam Dokumentasi Musik” yang dibikin sama Kilas Archive juga, dan baru kemarin mengisi acara talk show ”Bagaimana Memulai Dan Bersikap” yang dibikin sama Stage ID Bandung. Semuanya seru dan berkesan karena bisa ketemu temen-temen sesama fotografer di luar panggung dan banyak banget sharing perihal industri ini.
Ada beberapa band atau talent yang sudah terbiasa difoto dan ada juga yang perlu pengarahan khusus. Bagaimana lo biasa mengarahkan talent/band yang sedikit kaku dan tidak biasa difoto?
Kebetulan belum pernah ngalamin itu.. Soalnya beberapa band/artis yang kerja bareng sama aku tuh banyaknya temen dan obrolannya nyambung, jadi ga susah untuk aku direct dan komunikasi sama mereka.
Berapa lama waktu yang lo butuhkan untuk mengedit sebuah foto? Biasanya apa aja sih yang lo suka edit biar hasilnya Darkofmoist banget?
Nah kalo yang ini agak tricky, karena kalo lagi mood banget ngedit dalam hitungan jam beres haha! Tapi kalo mood lagi kurang bagus bisa berhari-hari. Tapi rata-rata sih hmm bisa 2 hari deng hehe… Kalo apa aja yang aku suka edit sih lebih ke tone dan “ngebersihin” objek-objek yang bisa dibilang mengganggu. Misal kalo foto stage kan sering banget tuh ada sampah minuman air mineral, nah itu aku bersihin dulu biar fotonya cakep dan sedikit clean haha
Di satu sisi analog photography menjadi hobby yang sedang ramai, tapi disisi lain kemarin Seni Abadi baru saja tutup karena kekurangan peminat. Bagaimana pendapat lo mengenai trend fotografi analog ini? Apa lo mengikuti dan tertarik juga untuk mencoba mengaplikasikan kamera analog untuk karya-karya berikutnya?
Trend fotografi analog tuh kan ga pernah turun ya, ada aja yang baru maen atau yang masih maen analog tuh banyak banget. Means kalo dari dulu maen analog berarti banyak uang karena film nya mahal haha! Tapi aku salut sama yang maen analog, karena hasilnya kan ga bisa kita cek dulu dan skill yang maen analog tuh mantep-mantep haha. Tapi lebih seru maen analog yang fully manual gitu lohhh, ngelatih aku buat cari fokus atau atur shutter speed, ISO, aperture dan lain-lain. Ga seru nya kalo ternyata hasilnya blur atau filmnya kebakar HAHAHA! Untuk mengikuti trend fotografi analog sih sudah pasti iyaa.. Jaman aku SD kakek-ku kasih aku kamera Pentax K1000 dan P30 dan cukup sering aku pake. Beberapa tahun kemarin sempet aku pake tapi belum sempat aku cuci sampe sekarang hahaha, selain belom sempet.. Liat harga film semakin melejit mahal kok agak mikirrr yaa.. Badidaaaamm….!!!
Kukuh Rizal adalah sosok dibalik music company / record label yang bernama Sun Eater. Sun Eater dikenal lewat output-output kerjasamanya dengan Hindia, Lomba Sihir, Mantra Vutura dan Feast. Selain menjadi founder Sun Eater, Kukuh juga sedang mempersiapkan dan mendevelop label-label lainnya, beberapa diantaranya adalah SDY yang banyak merilis merchandise, sebuah label koplo dan dangdut, dan juga partnership dengan Greedy Dust untuk merilis musik-musik dengan variasi genre yang lebih luas.
“Label yang Gue bedah pas bikin Sun Eater adalah Big Hit Music yang sekarang rebranding menjadi HYBE. Turunan nya banyak: NewJeans, BTS.. 5 tahun terakhir ini gue perhatiin banget gerakan mereka.”
Halo Kukuh! Bisa ceritakan sedikit ga gimana Lo awalnya membuat Sun Eater? Sebelumnya Lo juga sempat berkerja di S.C.A.N.D.A.L. (Divisi publishing 347) ya?
Iya dulu sempat magang di SCANDAL, karena Gue lumayan penasaran gimana proses kreatif dibelakang 347. Jadi waktu itu iseng ngontak teman-teman di SCANDAL untuk bisa terlibat di beberapa projek mereka, walau ga banyak lumayan bisa ngasih pengalaman berharga banget. Sempat bikin creative house di Bandung namanya House the House (Keuken). 2013 sempat join Nike Indonesia, bikin aktivasi kaya Bajak Jakarta, mirip konsep reclaim the street nya Keuken cuma ini event lari. Sempat megang retail, lalu pindah ke Phillip Morris. Lalu ngerjain Soundrenaline, dan ada beberapa direct communication marketing dengan beberapa influencer dan kerjasama dengan Arian 13, Anton Ismael dan kawan-kawan lain.
Dengan beberapa pengalaman Gue di bidang urban design, marketing, event dan digital content Gue ke trigger untuk membuat Sun Eater. Tapi ada 3 artikel yang paling nge-trigger Gue. Satu adalah Gue penasaran model bisnis Radiohead yang ternyata lumayan luas. Salah satu wartawan Guardian membedah model bisnis mereka. Kedua artikel mengenai kolaborasi Interscope & Google yang membuat label UnitedMasters. Dan ketiga artikel mengenai fenomena 88Rising yang dibedah oleh Forbes dan media bisnis lain. 3 artikel ini membuat Gue kepikiran kalau bisnis musik itu bisa se-beyond ini dan ada beberapa loophole dan insight menarik juga. Kayaknya Gue udah punya plan untuk apa yang mau Gue lakukan di bisnis musik dan akhirnya Gue bikin Sun Eater.
Denger-denger Lo juga berencana membuat sebuah media ya? Seperti apa Lo membayangkan output finished product media tersebut? Konsepnya seperti apa?
Iya betul, sebenarnya ga cuma media tapi Gue membayangkan music dan media community. Gue juga sudah beberapa kali membuat konsep media dengan community base dan user generated content. Sun Eater bisnisnya artist-centric driven banget dan dengan ledakan jumlah talent di Indonesia masih ada ketimpangan di industri musik salah satunya akses ke pengetahuan investment/bisnis musik dan artist management. Harusnya ada sebuah platform dimana orang bisa cari tahu, belajar dan sharing tentang informasi apapun terkait musik. Harusnya dalam waktu dekat akan segera di launch dan akan ada aktivasi music-con under company ini di bulan Juli.
Lalu bagaimana dengan label koplo yang akan menjadi divisi baru Sun Eater? Apa yang membuat Lo kepikiran untuk membuat sebuah label koplo?
Sun Eater secara model bisnis adalah multi-label group. Mungkin orang tau nya Sun Eater hanya Feast dan Lomba Sihir, tapi kita uga aktif nge-scale up record label lain seperti Greedy Dust dan Riuh Records. Label ini sebenarnya ga pure koplo tapi menyasar ke musik Indonesia karena secara revenue pop Indonesia itu posisi ke-3 dan posisi ke-1 adalah dangdut dan no 2 adalah campur sari. Jadi menurut Gue melihat market share ini Gue melihat potensi bagus untuk mengangkat musik Indonesia ke skala yang lebih besar, bisa jadi koplo, campur sari atau dangdut. Tapi kita sedang planning label lain juga seperti label untuk games, label untuk Gen-Z dan beberapa label lain yang sedang kita kembangkan.
Divisi merchandise Sun Eater yang dinamakan Sun Dong Yang sudah merilis berbagai merch menarik. Apakah Lo bakal nge-treat divisi merch ini seperti merch band atau Lo lebih suka pendekatan brand fashion?
Kita sudah rebranding menjadi SDY. Dan itu bukan divisi merch dari Sun Eater, sudah benar-benar beda perusahaan, beda PT, beda pembukuan dan beda partner, cuma kebetulan under Sun Eater group. Ini sebenarnya kita pas bikin bisnis pasti pinpoint secara konsumen itu seperti apa. Kalau udah ketemu product marketnya enak untuk kita scale up. Seperti Gentle Monster di Korea atau Uniqlo, ga cuma musik tapi kita benar-benar perhatikan fitting, siluet dan material selayaknya brand fashion. Lalu akan ada in-house SDY product dan juga kolaborasi dengan artist lain. Kita ingin music merch ini dapat diakses dengan mudah dan seluas mungkin, mungkin seperti Uniqlo kita pengen ada di mall juga. Mall adalah salah satu titik yang akan kita coba reach untuk SDY.
Sudah collab dengan siapa saja SDY?
Pee Wee Gaskins, Rendy Pandugo, Mahalini, Phum Viphurit dari Thailand, ada juga Maudy Ayunda yang mainstreamnya. Ada Feast, Hindia, Lomba Sihir, Rayhan Noor dan upcoming akan ada banyak musisi juga yang akan segera kita rilis. Ga cuma T-Shirt basic, kita udah mulai ngeluarin baby tees, boxy cut, tumbler, totebag, kita pengen varian nya seluas mungkin juga.
Tentunya Sun Eater lekat dengan Hindia, Feast dan Lomba Sihir. Tapi adakah roster atau upcoming artist Sun Eater yang menurut Lo tidak kalah menarik?
Upcoming artist kita yang baru ada satu dari Jawa Timur dan satu lagi dari Jakarta. Secara musik akan sangat menarik karena agak sedikit berbeda dengan musik zona nyaman kita. Tungguin aja pergerakan-pergerakan dari Sun Eater yang pastinya ga akan membosankan lah hehe..
Apakah Lo lebih memposisikan Sun Eater sebagai record label, artist management, atau event organizer?
Sebagai music company memang kita ada beberapa core business-nya. Sebagai record label kita merilis Mantra Vutura, Agatha Pricilla, Rayhan Noor, Feast, Lomba Sihir dan beberapa artist lain. Artist management dan event juga kita handle sendiri, sampai digital content. Mudahnya kita itu memang music company sih.
6 record label favorit Lo apa saja?
Kalau lokal Gue suka banget Grimloc, cara mereka merilis, cara memilih artist, artist repertoar nya bagus, komunitas jalan dan direct fans service nya bagus banget. Mereka salah satu yang terbaik so far, bahkan di compare sama label luar juga Grimloc masih jadi favorit Gue. Future Classic salah satu yang Gue perhatiin banget walaupun Gue gak terlalu into electronic music, mungkin entry point Gue karena coolness nya, Gue mulai dengerin Flume dan G Flip. Modular juga salah satu label Australia yang dulu Gue ikutin, ada Cut Copy dan kawan-kawan cuma mereka sempat ada drama dan ga Gue ikutin lagi. Warp mungkin lebih ke positioning labelnya walaupun jujur Gue kurang mendengarkan katalog musiknya, selain musik banyak diversifikasi bisnisnya ada label film nya juga. XL Recording juga Gue suka. Label yang Gue bedah pas bikin Sun Eater adalah Big Hit Music yang sekarang rebranding menjadi HYBE. Turunan nya banyak: NewJeans, BTS.. 5 tahun terakhir ini gue perhatiin banget gerakan mereka.
Kolaborasi Sun Eater dengan Teenage Death Star tentunya sangat diantisipasi. Kenapa memilih TDS sebagai kolaborator? Setelah tidak membuat full album selama 17 tahun, bagaimana Sun Eater bisa mengajak mereka untuk kembali ke dapur rekaman? Hahaha..
Ini hubungan 2 belah pihak sih karena gue lumayan kenal dengan beberapa personil dan kita juga sudah ngobrolin soal kreatif jauh-jauh hari sebenarnya. In gila sih, vibes nya kaya gue di Bandung lagi: ketemu Acong, Alvin, Firman, kang Iyo dan kang Helvi. Kadang gue harus bikin template dan S.O.P. di Sun Eater, tapi dengan TDS gue bisa keluar dari kebiasaan itu. Dan mereka juga tertarik dengan beberapa hal yang kita bicarakan jadi kita jalan bareng, walaupun kadang gue bikin plan tahunan, di TDS ini jadi playground untuk ide-ide gila gue, yang mungkin tanpa plan bisa kejadian atau plan nya tiba-tiba berubah 100%. Ada beberapa hal yang kita rencanakan untuk dilakukan sepanjang tahun ini bakal menarik banget.
Untuk meng-elevate Indonesia ke level berikutnya, perlu ada apa aja sih di ekosistem industri musik Indonesia?
Wah banyak banget.. Tapi ada beberapa hal yang harus gue highlight. Satu adalah akses ke informasi atau knowledge. Harus ada platform yang menjembatani gap antara generasi record label konvensional dan artis-artis independen baru. Ada jarak juga antara musisi dengan entrepreneurship karena pada akhirnya kita butuh banyak pertimbangan dari sisi bisnis musik. Namanya industri musik kadang ga semuanya dari sisi idealisme juga. Salah satu yang paling penting itu adalah Indonesia adalah local content driven market banget, jadi kita seperti hidup di bubble-nya sendiri. Kita kadang butuh akses ke industri global baik itu promotor luar atau musik media luar mengcover musisi Indonesia. Keempat mungkin mengenai regulasinya, kita tuh kaya pemberontak di Star Wars, dan pada akhirnya harus ada peran pemerintah sebagai regulator. Perbaikan di industri musik akan jauh lebih mudah dipercepat ketika regulator turn tangan. Sebenarnya banyak banget sih yang harus di highlight karena industri musik Indonesia masih butuh banyak berbenah banget.
Alkateri dibentuk di era pandemi, lebih tepatnya pertengahan tahun 2021. Sebuah unit indie/alternative pop dari Bandung yang beranggotakan Fauzan Ghifari (vokal), Reza Zulmi (guitar), Galuh Ilham (guitar), Hadiyan Fazari (bass), Rifqi Maulana (synth), dan Felmy Herdianto (drums).
Halo Alkateri! Sudah sampai mana proses untuk debut albumnya? Bagaimana konsep awal dibalik pembuatan album ini dan proses recordingnya? Kabarnya diberi judul “Kontemplasi” ya? Felmy: Allhamdullilah sudah rampung semua, tinggal rilis saja. Gak ada konsep yang gimana sebenernya, cuma sekenanya aja hehe, kalo proses seru banget banget banget, karena rata2 dari kita dah lama hiatus ngeband kurang lebih masing2 personil kaya 3-4 taun lalulah ngeband.
Serunya jadi semua kaya mulai dari 0 lg, bedanya sama dulu sekarang kita di bimbing sama @+62 878-1276-8691 sebagai operator merangkap produser jadi banyak hal yg baru belajar lg dan baru ngerti kudu gimana nih ngeband yang technically.
Yaps, kontemplasi. Yaps kalo dari konsep mungkin trigger awalnya ini yah, kek kita lg cape aja sama musik yang cadas atau eclectic akhir-akhir ini hehe Dan kangen sama nuansa musik Bandung era Pure, Milo, Cherry Bombshell dll
Zulmi: Yaa, untuk konsep si sebenernya semua berjalan bersamaan dengan proses rekaman, namun yang perlu digaris bawahi adalah pengambilan genre pop itu sendiri, bisa dibilang saya dan kawan kawan mungkin bisa dikatakan lelah dengan genre band yang ada di kota bandung yang kebanyakan bergenre cadas. Dari situ muncul hasrat untuk melanjutkan atau bisa dibilang meramaikan kembali pop bandung pada semestinya, ya bisa dibilang niatan saya pribadi untuk membentuk grup alkateri ini melanjutkan legacy yang sebelumnya bandung terkenal dengan pure saturday, themilo dan sebagainya. Keputusan untuk mengambil kontemplasi sebagai nama album sebenarnya cukup sederhana, diambil dari salah satu track pada album dan bisa dijadikan bentuk represntatif dari topik yang dibahas pada album ini.
Untuk proses rekaman sendiri itu menghabiskan waktu kurang lebih selama 3 tahun, karena personil dari alkateri pun misah2, ya mungkin ini salah satu hambatan kami mengapa proses ini cukup mengambil banyak waktu. Alasan lainnya adalah bisa dikatakan ini adalah momentum kembalinya felmy, hadiyan, galuh melakukan rekaman, jadi masih ada kaku-kakunya dan bisa dibilang ‘telat panas’ untuk melakukan rekaman, karna memang secara teknis proses rekaman kami tidak pernah masuk tahap jamming di studio, untuk saya, piki dan ojan yang baru pertama kali melakukan rekaman dengan bimbingan hadiyan yang sangat berpengaruh dalam penggarapan album ini.
Fauzan: mau nambahin di proses rekaman dari POV aku yang dibanding teman-teman lain lebih khatam dalam proses bermusik karena mereka berangkat dari pelaku. Sedangkan aku pribadi berangkat dari penikmat, reporter media musik dan akhirnya jadi pengalaman masuk studio pertama. Karena suka nulis dan punya relatable musik yang didengerin, dipercaya ngisi vokal yang dimbimng setengah mati sama Hadiyan (karena deal-dealan awal kepengen dibimbing cara bener nyanyi tuh kaya gimana yang masih terus belajar sampe sekarang hehe).
ternyata bikin karya dari penulisan sampe publishing tuh amat sangat memakan banyak waktu dan tenaga. Disyukurinya jadi tau karakter masing-masing sekalian jadi bonding juga. Seru pol!
Cuma yang jadi kendala karena kita ben LDR kali ya Kang. Aku di Jakarta, Galuh di Bogor/Jakarta, Piki di Bali, dan sisanya Bandung. Hambatan jarak dan nyocokin jadwal ini akhirnya memakan wkatu sampe 3 taun buat ada di tahap ini.
Single Egosentris MV nya dan promo nya berkerjasama dengan Studio Pancaroba. Bagaimana awalnya kalian memilih Studio Pancaroba sebagai kolaborator? Tentang apa tema besar lagu Egosentris tersebut? Fauzan: akhirnya kenapa mutusin buat ngegarap video lyric sama SP karena pertama proximity sih haha kebetulan adik kelas SMA dan cukup intens nongkrong dan kontekan. Kedua, ngerasa punya benang merah yang sama; seneng bikin karya yang punya pesan-pesan subliminal. terlebih si Egosentris ini tuh ditulis karena ngerasa resah dan sedih ngeliat orang-orang yang mentingin kepentingannya sendiri tapi gak mikirin orang lain. Dibuktiin sama covid yang mana jalan keluar dari pandemi teh sabenerna kolektifitas, gak bisa jalan sendiri sesuai egonya (Lagu ditulis jaman covid)
Zulmi: Egosentris yang berkolaborasi dengan Studio Pancaroba itu bukan music video, namun lirik video saja sebenarnya, mengapa studio pancaroba alasan terkuatnya adalah dia mempunyai ciri khas yang paten dan secara visualpun selaras dengan yang alkateri inginkan, untuk tema besar lagu egosentris itu mungkin bisa dikatakan bentuk sarkasme atas prilaku ego berlebihan pada manusia aja si. mungkin untuk lebih detail tema besar lagu egosentris nanti bisa dijabarkan oleh ojan sebagai penulis lirik yaaa a
Dengar-dengar beberapa personil Alkateri adalah teknisi The Panturas ya? Bagaimana jika The Panturas dan Alkateri manggung di hari yang sama apakah akan menjadi kendala? Zulmi: Hadiyan adalah soundman dari The Panturas, Felmy teknisi drum dan saya fotografer/videografer dari the panturas sebelumnya. Kalau bentrok dengan The Panturas yang paling mungkin untuk diganti oleh additional adalah Hadiyan karna role dia di The Panturas sangat krusial. Jadi kami pun akan memahami hal itu
Hadiyan: Iya , kalo ada bentrok sama panturas misalkan, aku pasti sama panturas a, karena aku mulai meniti karir dari pertama sama panturas. Jadi udah badamian sama anak anak alkateri sih kalo ini. Begtu kurang lebih
Kover art kalian “Egosentris” dan “Lebih Dari” terlihat memiliki konsep yang senada. Siapa yang membuat kover-kover single dan album kalian? Zulmi: Itu hasil fotografi Piki, keyboardist kami. Itu diambil dari dokumentasi pribadi dia saat melakukan perjalanan menggunakan sepeda di Jepang
“Lebih Dari” sangat menarik dari penulisan lirik. Tema apa yang ingin kalian angkat dari lirik lagu itu? Siapa yang paling banyak bertanggung-jawab menulis lirik di band ini? Zulmi: Lebih Dari ditulis saat hampir semua personil berada dalam kondisi paling bawah dalam kisah percintaannya, terutama Ojan sebagai penanggung jawab lirik dari keseluruhan album Kontemplasi.
Fauzan: Hatur nuhun sateuacanna kangge respon positifna Kang. Lirik aku tulis karena putus setelah 7 taun pacaran — asa ngajaagan jodoh batur wkwk. Lebih ingin ngebuktiin kalo misal mau bertahan dan sedikit lebih sabar, indah-indah nudipikahayang eta teh bakal dileuwihan lah kasarna haha kurleb kitu Kang. Direspon sama anak-anak buat bikin aransemen yang kedengaran ‘happy’ dan akhirnya setuju karena jadi kepikiran kaya konsep si The Smiths, musik seneng tapi lirikna barubuk..
Kalian terbentuk di era pandemi 2021. Apa yang membuat kalian memutuskan untuk membuat sebuah band indie pop dengan gitar jangly? Eureka momen apa yang membuat kalian memilih nama Alkateri pada saat itu? Felmy: Kalau nama, awalnya sih ingin ingin keren2an pake bahasa inggris, tapi kalo dipikir2 karena kita ingin bernuansa Bandung tempat dimana kita dibesarkan ini jadi makin pol aja sih.
Setelah ngelist nama2 jalan yang keren di Bandung, alkateri lah yang menurut kita okay dan dan secara history juga gokil.
Jalannya juga kebanyakn orang bandung tau tapi cukup underated, secara pengucapan dan pencarian di kanal digital juga okay hehe jadi yaudah deh alkateri aja. Ohiya jalannya estetis karena heritage
Zulmi: Bicara gitar jangly itu sebenarnya saya juga gatau gitar-gitar jangly itu seperti apa, namun yang pasti dotted 8th delay menjadi kuncian saya dalam penggarapan album ini, atas dasar suka aja sih dengan suara delay yang seperti itu, main gitar sendiri tapi kaya ada temennya
Fauzan: kalo ditanya kenapa; pengen bring back pop Bandung yang kami konsumsi selama tumbuh kembang (karena keseluruhan dari kami sepakat dengan PS). Walaupun PS atau Kang Suar gak minta digantiin keberadaannya, kami kaya ngerasa punya semangat buat ada meneruskan jejak mereka.
Terus pandemi teh akhirnya banyak dipake digging sampe akhirnya nemu band pop hebeul kaya Plester Kuning, Karma, My Violaine Morning, Astrolab. Nama-nama yang aku pribadi harapin panjang umur tapi kudu hiatus panjang
Album favorit atau album yang paling berpengaruh untuk masing-masing personil apa saja? Dan kenapa?
Fauzan: favorit Bloodflowers – The Cure dan hampir semua album si Peterpan. Cuma spesfikasi yang bikin berpengaruh mah album The Glow punya DMA’S. ngerasa dipengaruhi karena eksplorasi musik pop jadul yang dijual teh bisa seluas itu dibawa ke masa sekarang.
Zulmi: – The Cure – Bloodflowers (liriknya sedih dan instrumennya sangat mendukung)
– The Smashing Pumpkins Machina/The Machines of God (karna ada lagu try,try,try dan this time yang menjadi acuan groove yang diinginkan)
– Peterpan – Taman Langit (tanpa sadar album ini menjadi pondasi saya sebelum menulis lagu dan album ini siapa yang ga suka? Hahahaha)
Felmy: Peterpan – Taman Langit & Alexandria (Ketukan drum yang gak ngerepotin org kalo ngulik, trs yang genit nemenin bassline, chord gitarnya gak nyusahin yang nongkrong, leadsnya bisa dinyanyiin itu gue banget)
The Stone Roses – The Stone Roses (banyak terinfluence ketukan drum tanggung dari lagu mereka)
Spiritualized – Ladies and Gentleman We Are Floating In Space (Belajar ngemanage nuansa pada lagu, kayanya gara2 suka banget album ini)
Untuk departemen gitar Zulmi dan Galuh, apakah kalian seorang gearheads yang selalu merubah susunan pedalboard kalian? Menurut kalian efek-efek apa saja yang paling esensial untuk karakter sound Alkateri yang dipakai selama ini? Zulmi: Untuk saya pribadi dengan skill pas-pasan tentunya harus ngulik efek sebagai ‘make up’ hahahahaha, untuk pedalboard saya pribadi masih terus bongkar pasang, namun yang paling krusial adalah delay, overdrive dan compressor ajaa. Delay: Boss DD-20, overdive: masih mencari-cari, sejauh ini Boss OS2, compressor: ngambil dari zoom MS-70CDR
Galuh: Senada dengan Zulmi. Di album pertama ini bisa dibilang jadi kesempatan pertama buat eksperimen ngulik2 efek yang ada. Saya bukan orang yang bongkar2 efek gitu sih, karena budget terbatas dan males jual beli. Di album ini lagi coba eksplor overdrive karena dapet peran ngisi rhythm kebanyakan. OD dan distorsi yang dipake: Ibanez TS Mini, Providence Red Rock OD, Suhr Riot Distortion.
Pertanyaan terakhir: 5 tempat makan sunda favorit versi kalian di Bandung yang semua orang harus coba? Dan kenapa alasan nya memilih tempat-tempat tersebut? Zulmi: Laksana euy paten. Semua menu sama sambelnya ngeblend
Fauzan: 1. Nasi Babat Berkah Dago Atas
2. Empal Gentong Cihapit
3. Lomie Lombok
4. Bu Imas
5. Lotek Jl. Mahmud
Galuh: Bukan makanan Sunda tapi boleh dicobain. Bubur di Jalan ABC/Alkateri. Sebenernya ini favorit temen. Dulu pernah diajakin sama temen, sengajain dari Nangor ke sana. Boleh di cobain buburnya + suasana pagi Jalan ABC/Alkateri pagi-pagi hehe
Felmy: Aduh dari aku Warung SS Jatinangor lagi, Beda rasanya sama SS yg di Bandung. Percayalah wkwk
Hadiyan: Warteg di gerlong hilir a, murah soalnya 4 macem 13 rebu
Words & interview by Aldy Kusumah Live photos by Luthfi Ali Qodri
Skandal adalah Yogha Prasiddhamukti (vokalis, tamborin), Rheza Ibrahim (gitaris), Robertus Febrian Valentino (gitaris, vokalis), dan Argha Mahendra (drummer). Sebuah unit indie-rock dari Yogya yang tentunya sudah mempunyai beberapa single yang melekat di hati para penggemarnya. Para personilnya tumbuh mendengarkan lagu-lagu radio dan TV di awal akhir ‘90an dan awal ‘2000an, yang tentunya didominasi band-band pop rock Indonesia, jauh sebelum mereka mengenal style musik yang lebih beragam lagi seperti indie rock yang didominasi oleh guitar music seperti: Superchunk, Teenage Fanclub, Lemonheads dan The Replacements. Sebentar lagi mereka akan merilis sebuah album bertajuk “Melodi” yang menggabungkan dua spektrum tersebut. Sebuah sweet spot diantara pop rock radio hits dengan DNA musik indie rock dan alternative rock. Let’s have a chat with the boys from Skandal..
“Album ini yang ngegabungin dua spektrum tersebut, nemu titik tengah antara pop rock radio dengan DNA musik indie rock dan alternative favorit kami.”
Halo Skandal! Dengar-dengar sedang mempersiapkan album “Melodi” ya? Sudah berapa persen progressnya? Bisa elaborasi sedikit tentang konsep dan proses pembuatan album ini?
Siddha: Halo Jeurnals! Iya benar, kami sedang dalam proses nyelesaiin album Melodi nih, lumayan seru sekaligus challenging karena ini sebenarnya adalah debut album penuh kami, setelah sebelumnya hanya ngeluarin EP dan single-single saja. Prosesnya bisa dibilang sudah 75% lah, kurang lebih.
Kalau ngomongin proses, sebenernya rencana bikin album udah ada sejak lama, tapi baru bener-bener mulai tuh pertengahan menjelang akhir tahun 2023 kemarin. Kebetulan juga, kami beruntung bisa dapet label, Disaster Records, dan dibantu banget sama mereka supaya bisa jalan rekaman. Proses rekamannya agak unik. Sebagian besar materi udah siap dari lama, tapi juga ada yang digarap sembari jalan rekaman. Butuh effort lebih memang, cuma kami bisa dibilang menikmati prosesnya. Kami jadi belajar satu sama lain lagi soal songwriting, desain sound, dan banyak hal lainnya, termasuk relasi antar personel. Prosesnya jauh lebih berkembang dibanding sebelumnya.
Konsep album Melodi sebenernya sederhana. Kami mencoba untuk merangkum kecintaan kami akan musik-musik gitar yang jadi first musical interest kami dulu, yaitu style musik yang kalau diinget-inget, dulu bikin kami masing-masing pengen ngeband at the first place–music we grew up listening to, kind of thing. Lebih ke ngegabungin perasaan nostalgic dengan sentuhan kami sendiri based on musik yang udah kami bikin sebelumnya, sepanjang perjalanan band ini. Di sini kami juga coba mengeksplor kemungkinan lain, nyoba nulis lagu dengan sense pop yang kuat, dan sebagainya. Buat kami, album ini adalah tentang menyampaikan rasa yang majemuk dan ngerayain dualitas dalam tiap aspek kehidupan, senang dan sedih; puas dan kecewa; dan lainnya.
Apakah single-single seperti Terbang, Lemon, Bosan dan Percuma akan masuk juga ke album ini?
Siddha: Materi kami di album mendatang adalah materi baru semua, termasuk empat lagu yang ada di EP Dengar yang baru rilis tempo hari. Single-single terdahulu nggak akan masuk, karena memang mereka udah jadi materi yang berdiri sendiri, dan kami sebagai musisi juga pengen nge-push sejauh mana kami bisa terus menciptakan karya-karya baru, nggak hanya bergantung sama lagu-lagu lama saja. Ditambah, banyak materi baru yang sayang kalau nggak digarap dan dirilis. Tapi, ada satu single terdahulu yang bakalan diaransemen ulang untuk versi albumnya. Tunggu aja.
Beberapa single terakhir kalian dan tentunya yang “Mimpi” ini terdengar lebih effortless dan straightforward guitar rock ya. Tetapi diluar dari DNA musik indie rock Amerika / Inggris, gue masih mendengar unsur alternative pop seperti band-band Indonesia era ‘90an. Secara direksi musik apa yang kalian tuju di album “Melodi” ini? Apa yang membuatnya berbeda dari EP “Sugar” atau beberapa single sebelumnya?
Siddha: Seperti yang sempat saya bilang tadi, kami nyoba nulis lagu yang jadi semacam ode untuk kecintaan kami akan musik-musik gitar yang jadi ketertarikan musikal pertama kami, ketika dulu kami mulai ngeband atau bahkan lebih jauh lagi ketika remaja, masing-masing dari kami tumbuh mendengarkan lagu-lagu lewat radio dan TV di awal akhir 90an dan awal 2000an, yang didominasi band-band pop rock Indonesia, jauh sebelum kami mengenal style musik yang lebih beragam lagi. Album ini yang ngegabungin dua spektrum tersebut, nemu titik tengah antara pop rock radio dengan DNA musik indie rock dan alternative favorit kami. Kalau dibandingin sama rilisan sebelumnya, saya pikir materinya lebih eklektik, ada yang energik dan upbeat, mid-tempo yang punchy, dan ada lagu slow di antaranya. Sound album ini lebih tergarap dengan baik, songwriting tetap simple tapi mungkin lebih solid. Di sisi lain, secara keseluruhan materinya juga jadi lebih crunchy, melodic, dan in general, poppier. And of course, more big hooks!
Lyrically, kalian salah satu band lokal yang berani menggunakan lirik straightforward dan gaya bahasa ringan tapi tetap terdengar cool dan tidak cheesy. Bagaimana proses kalian menemukan ramuan yang tepat dalam menulis lirik bahasa?
Siddha: Saya nggak tau apakah saya sudah bisa menemukan “ramuan tepat” atau belum, tapi terima kasih jika terdengar seperti yang Anda bilang. Saya pikir, saya juga dibantu banget sama aransemen lagu buatan Rheza atau Robert yang udah kedengeran enak duluan. Jadi, tinggal ngepasin lagi dengan liriknya, dan bikin nada enak. If it sounds good, the lyrics will follow, I guess.
Kalau buat saya sendiri, sebagai penulis lirik utama, selain Robert, prosesnya lumayan berasa ya, terutama ketika akhirnya beralih untuk mencoba menulis semua lirik dalam bahasa Indonesia, bahasa ibu sendiri. Dari yang ngerasa aneh sendiri, lalu mencoba kemungkinan diksi lain, hingga pada akhirnya yang dipakai adalah yang keluar sejujur dan senatural mungkin. Saya selalu suka lirik yang sentimentil, melankolis, tapi di satu sisi juga yang rasanya bersahaja dan ringan, dan itu bisa jadi secara nggak langsung saya terapkan ketika nulis lirik buat band ini.
Tentunya energi Teenage Fanclub, Superchunk, Sheila on 7 dan Oasis terdengar di lagu-lagu kalian, tetapi kalian mampu meramu semua influence menjadi racikan yang Skandal banget. Akhir-akhir ini, 5 lagu yang ada di playlist kalian apa aja sih?
Siddha: I’ll make it ten,
Three – “Swann Street”
Wilco – “I’m Always in Love”
Superstar – “Barfly”
Padi – “Bidadari”
Gigolo Aunts – “Everyone Can Fly”
Primal Scream – “Everybody Needs Somebody”
Sugar – “Believe What You’re Saying”
Firstrate – “Springtime”
Ex-Vöid – “Boyfriend”
Tossing Seed – “When You Come Around”
Rob: Teethe – “ Lucky “
The Db’s – “Love is for Lovers”
Blair – “By the C”
Milly – “ Grab the Wheel”
The Ergs! – “180 Emotional Ollie”
Texas Is the Reason – “Blue Boy”
Netral – “Sibuk”
Rheza: Laura Day Romance – “Sad Number”
Dr. pm – “Esok Bangunkan Aku”
L’Arc-en-Ciel – “Link”
Travis – “Closer”
Carpark North – “More”
Untuk departemen artwork cover single dan merch banyak dikerjakan oleh Rob. Seperti apa kalian ingin merepresentasikan Skandal terlihat secara visual? Baik dari asset grafis, foto band, fashion dan video klip kalian?
Siddha: Biasanya creative direction-nya saya yang nge-handle, dan memang banyak back to back dengan Rob untuk urusan ilustrasi jika dibutuhkan. Kadang pake ilustrasinya Rob, kadang temen-temen lain.
Dari dulu, saya udah tahu kalau saya pengen bikin pendekatan visual yang eye-catching, dengan palet warna bold dan bright serta pemilihan font tertentu untuk ngelengkapin musik kami yang poppy; semuanya dipengaruhi oleh estetika 90an yang kami gandrungi, mulai dari visual di rilisan musik era itu sampe ke banyak hal lainnya di ranah subkultur. Tentunya, tanpa mengesampingkan identitas kami sebagai band era sekarang.
Untuk urusan presentasi visual, jujur selama ini kami ngasih effort dan kepedulian yang sama seriusnya dengan ketika kami bikin lagu. Entah itu untuk layout dan artwork rilisan, foto band, estetika video musik, sampe desain merchandise, karena bagi kami, itu udah termasuk dalam paket karya audiovisual sebuah band, yang nggak bisa dipisahin. Jadi, terima kasih atas pertanyaan ini.
Untuk para gitaris Rob dan Rheza, bisa sedikit menceritakan loop efek dan setting ampli kalian untuk para pembaca gearheads? Sound gitar seperti apa yang ingin kalian beri untuk pendengar?
Rob: Biasanya dulu kalau ampli selalu pake Roland Jazz Chorus karena soundnya kerasa jujur banget buatku, plus clean-nya enak banget. Cuma, sekarang udah nggak pernah pake ampli lagi alias udah direct semua. Buat loop efek dari gitar langsung ke pedal overdrive trus masuk ke multi fx (buat cab sim, mic dan beberapa modulasi kecil buat keperluan lead) berakhir di pedal cab sim lamaku yang sekarang perannya udah ganti jadi semi-direct box sebelum nyambung ke mixer dan ke FOH. Sebenernya nggak pengen nyari sound yang heavy dan bising lagi sih, sekarang malah pengen yang crunchy aja, dengan harapan pas dan tepat guna aja untuk ngewakilin sound-nya Skandal saat ini. Terdengar poppish tapi crunchy here and there, dan sopan di kuping aja kalo bisa. Sesimpel pedal overdrive dengan ampli combo atau head cabinet dengan settingan clean tapi rada crunch itu aja udah cukup buatku. Udah mager euy nginjek-nginjek pedal kebanyakan, hahaha, pengennya jreng maen aja sambil nyanyi gitu.
Rheza: Kalau ampli biasanya pake Marshall JCM 900 atau Fender Deluxe 90. Cuma sekarang udah langsung direct pake amp simulator NUX Solid Studio. Efek yang dipake sih tergolong sederhana ya, menyesuaikan kebutuhan lagu-lagu di Skandal aja: tuner Polytune 3 (tc electronic), overdrive OD 3 (boss), distorsi Tone Bone (radial), delay Carbon Copy (MXR), dan amp simulator Solid Studio (NUX). Saya pengen sound yang cenderung distortif tapi masih dalam koridor warm dan tetep ada sensibilitas crunch-nya.
Nama band kalian cukup menarik. Skandal apa saja yang pernah kalian alami sebagai band atau individu?
Siddha: Bikin dan ngejalanin band ini sampe sekarang kayaknya salah satu skandal dalam hidup saya, deh, hahaha! Lainnya seinget saya nggak ada, atau ya nggak bisa dibahas di sini, LOL.
Rob: Nggak sampe skandal sih, tapi momen random aja, kayak joget di dalem ATM pas malem-malem mau ambil duit, cuma lupa kalo ada CCTV. Semoga aja nggak diambil ataupun diupload di kompilasi rekaman awkward CCTV, hahaha!
Rheza: Skandal asmara waktu masih lajang dulu, hahaha!
Kalau tidak salah Sid tinggal dan bekerja di Jakarta sedangkan personil lain berbasis di Yogya. Bagaimana kalian workshop, latihan atau rekaman? Misal ada panggung di Bandung, apakah kalian latihan dadakan dulu di kota tersebut sebelum manggung?
Siddha: Kalau dulu, begitu. Bolak balik antara saya ke Jogja untuk latihan (kalau manggung di Jogja), atau ya latihan dulu di kota tempat manggung. Workshop pun saya jarang ikut, paling hanya via online untuk presentasi lirik dan sebagainya. Ketika saatnya rekaman, baru saya pulang ke Jogja, dan seterusnya. Tapi, setelah sekarang saya memutuskan untuk balik lagi ke Jogja setelah 12 tahun tinggal dan kerja di Jakarta, salah satunya karena sedang menggarap album ini, ya jadi lebih enak untuk urusan band karena lebih fleksibel dan dekat jaraknya, udah sekota lagi.
Pertanyaan terakhir: Top 5 food spots di Yogya atau Jakarta menurut masing-masing personil dan alasan nya!
Siddha: Kalau di Jakarta banyak banget, tapi yang udah jadi kuncian banget dan deket sama tempat tinggal saya dulu adalah Pecel Boma Fatmawati dan Ayam Jeletot Bonsar. Kalau di Jogja itu Sego Telkem Mbak Nur, Cookroom Burger, RM Terang Mulyo, dan Bakmie Petbun. Terlalu banyak food spots favorit di Jogja, hahaha!
Rob: Di Jogja, yang jadi favorit saya ada BPK Lima Serangkai, Cookroom Burger, Siomay Shinchan, RM Baru, dan Bakso Jawi.
Rheza: Siomay Kang Is, Omah Kluwih, Cookroom Burger, Soto Pak Dalbe, dan Roka Ramen.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos from Skandal’s archives