Pangalo! seorang MC dan penyanyi yang tidak hanya bermain hiphop, tapi juga terkadang membawa sample-sample easy listening pop yang membawa pendengar ke dalam bahasan filsafat dan eksistensialisme Zarathustra. Mendengar Pangalo seperti membaca buku-buku Nietzsche, Kierkegaard, Camus, Sartre, De Beauvoir, juga beberapa dari Husserl dan Heidegger. Mungkin tepat jika menyebutnya Ubermensch asal Parapat, karena album yang disokong tahun 2018 berjudul Hurje! Maka Merapallah Zarathustra, sangat erat hubungannya dengan Nietzsche. Sama-sama ingin bebas, karena Pangalo sendiri dalam bahasa batak yaitu mempunyai makna; pemberontak.
Kami mencoba mengobrol lebih panjang tentang proses pembuatan album dan juga pandangannya tentang beberapa hal, selepas bermain di agenda perilisan buku “Jalan Menuju Penjara” yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, di Fragment Project pada Sabtu, 5 September 2026. Berikut obrolan kami, silahkan disimak sampai habis!
Perkenalkan nama, Bang?
Ehm.. Pangalo!
Dari kapan ke Bandung?
Oh udah… semingguan dari tanggal.. dua berapa gitu, dua sembilan kayanya.
Memang sengaja ke Bandung?
Iya, ada urusan. Ga ada sengaja manggung gitu.
Oh awalnya ga ada niatan ke LBH buat manggung?
Ga ada, Memang kawan-kawan tuh bikin acara, terus aku diajak. Ya, sok gas aja. Jadi memang, inilah bantu kawan-kawan acaranya.

Gimana kemarin main di Sukahaji, beberapa kali kabelnya putuskan?
Wah Sukahaji… Iya, nggak apa-apa, tapi seru. Karena maksudnya kalau main tuh kan biasanya di sound-soundnya bagus gitu kan, venue apa gitu. Sukahaji itu kayak, jadi ingat kampung sendiri gitu. Dengan sound seadanya, tempatnya tanah gitu kan, kawan-kawan juga, ya santai gitu. Jadi kayak ingat kampung sendiri gitu. Harusnya lebih banyak, apa sih, manggung-manggung gitu, gigs-gigs seperti itu kan, lebih intim sama kawan-kawan juga, terus dekat sama warga juga kan, sebagai dukungan juga gitu. Iya, kalau masalah sound itu kayaknya memang ya wajar gitu kan. Justru seninya di situ, yang mati-mati tiga kali itu, serunya disitu.
Kemarin-kemarin liat di story instagram, itu kan, Bang, udah nikah atau belum sih?
Oh… belum-belum haha. Itu, masih prewed.
Kesannya main di Bandung, Bang, setelah main tadi di LBH?
Wah, Bandung sih selalu sama ya dari dulu ya. Maksudnya kawan-kawan tuh… selalu apa ya, selalu seru, gitu dari dulu juga. Bahkan aku kan lama di Ciroyom dulu kan sama Bang Tarjo, Senartogok kan. Sama aja vibesnya. Nggak terlalu ada yang beda. Justru semakin inilah, makin-makin banyak anak muda tuh makin ramailah dibanding dulu, ya yang aku liat. Kalau dulu acara metal-metalan doang yang ramai kan. Sekarang sudah lebih ramai nih, udah lintas genre, udah banyak. Selalu ramai. Apalagi kayak di Sukahaji kemarin kan rame. Ya, setidaknya mereka sudah mau datang kesitu kan, gitu. Berarti udah, udah paham juga gitu maksud tujuan dari acara itu kan.
Bang, mau nanya soal kesukaan musik. Dulu awalnya suka musik gimana sih? Dan musik apa dulu yang disuka gitu?
Semua sih, aku suka semua musik sih. Makanya aku nyanyi juga kan bahkan lagu bahasa Indonesia tuh bahkan ada yang nyanyi, ada yang me-rap. Ada akustik, ada yang format band, ada yang macam-macam gitu, karena aku suka musik gitu, engga cuman ngerap. Iya, bahkan aku awalnya nyanyi doang, karena rap di zamanku itu masih mewah, terkesan orang-orang kaya yang bisa. Di zamanku tuh, kaya trio-trio kan, trio Batak, akustikan gitu-gitu aja. Kalau ketertarikan sih, ya maksudku siapa yang nggak suka musik sih. Maksudnya, aneh kalau nggak suka musik tuh. Kebetulan mungkin aku lebih suka gitu dibanding orang lain, gitu aja. Sebenernya aku suka seni, semua. Desain juga aku suka, gambar juga aku suka, semua. Bahkan film aku suka banget. nulis suka, lihat tarian-tarian juga suka, memang suka seni, Le. Nggak spesifik di musik, nggak, di banyak hal.
Tapi kalau di musik itu, abang yang ngegitar juga?
Ada beberapa yang gitar. Beberapa aku, ada beberapa teman juga, gitu. Kalau di awal-awal tuh aku sendiri. Main gitar sendiri, bikin beat sendiri, ngerap sendiri, rekam sendiri.
Kalau mulai-mulai bikin lagu itu kapan?
Bikin lagu sudah dari SMA, Le. Tahun 2009, 2008 bahkan. Tapi gak pernah rilis, karena dulu memang, ya baru-baru datang internet juga kan. Medsos juga belum ramai. Pun aku dari kampung. Jadi memang asing dengan dunia-dunia kayak internet, bahkan musik itu, bagiku dulu masih di kampung tuh, ya musik yang aku dapat dari televisi doang. Bahkan rap dulu aku tahu dari lagu-lagu Kera Sakti yang soundtracknya itu. Kalau temen-temen tuh kan dari kecil sudah denger Run-D.M.C, KRS-One, CD gitu yak, Maksudnya aku nggak, gitu. Aku sampai kuliah bahkan aku dengar, ya Kerasakti itu tadi, iya asli, Bondan Prakoso. Cuman maksudku, aku perkenalkan ke rap tuh dari lagu itu. Justru makanya kan kebanyakan tuh lagu-lagu ku sangat tidak hiphop kan beatnya. Lebih ke random kan, beda sama Kids (Vicious) tadi kan dia agak nge-boom bap gitu kan, karena memang awal ya aku berasal dari kampung gitu maksudnya, ya musikalitas ku lebih ke pop kan, gitu, maksudnya. Ke yang viral di zaman itu lah. Gitu sih, makanya agak mungkin lebih nyanyi-nyanyi gitu kan. Kayak Bondan kan nyanyikan, Kera Sakti.
Bikin album itu tahun berapa bang, dan bisa diceritain gimana pembuatannya?
Album bikinnya 2016, rilis 2018. Yang Hurje! Maka Merapallah Zarathustra. Itu apa ya… Itu 15 track itu kayaknya beatku sendiri, tiga track tuh dari Bang Senartogok. Awalnya sih aku waktu di Rubel tuhkan, di Ciroyom dulu, selalu lihat Bang Senartogok tuh nge-take nge-take rap gitu kan. Terus aku bilang, maksudnya, ah, gampang doang ngerap, gitu, maksudnya namanya orang kampung. Ditantangin tuh, gitu. Baru aku bikin satu, bikin lagi, bikin lagi. Jadi Album Hurje! tuh kumpulan single, sebenarnya. Ga direncanain bikin album. Cuman karena itu udah terlalu banyak nih lagu kan “bikin album lah”, gitu. Satuin aja. Makanya tuh kan asli acak aja gitu kan. Nggak ada, nggak ada ininya. Kayak engga ada terkonsep gitu kan. Cuman paling pertaliannya karena tema-nya doang, gitu. Karena aku tema eksistensialisme gitu kan, sama ya, rebel-rebel anak muda lah. Karena umurku di situ 22, 23 waktu itu bikin itu. Bayangin tuh 22, 23 tahun, bikin Hurje!. Jadi pas putus kuliah aku ngerjain itu. Ya 22 lah, anjir, maksudku tuh udah bahas Nietzsche aja itu, anjir. Maksud, makannya aku kalau dengar Hurje! sekarang tuh “Kau ngapain sih, anjir?” maksudnya gitu.
Tapi menurutku, justru semakin relevan bahkan
Iya, iya gitu maksudnya. Maksudnya aku kayak mikirnya, kau di umur segitu ngapain sih mikirin gitu. 22 tahun, emangnya 22 tahun kan, baru, ya masih kuliahlah harusnya kan, gitu kan. Pacaran ke, atau apalah ke. Ini mikirin dunia, anjir! Apaan mikirin makna filsafat. Gitu maksudku.

Nah, itu, Bang, pengen tahu kan dasarnya, kan layernya itu dengan filsafat dan Nietzsche. Apa Hubungannya dengan Hurje!?
Hurje itu kayak panggilan ya, panggilan untuk ternak gitu. Kau manggil di Batak tuh kan zaman dulu kan jauh-jauh tuh rumahnya kan dikit-dikit kecil-kecil, lahannya gede-gede. Jadi, babi ya bebas aja gitu. Jadi waktu manggil “Hurje, Hurje gitu”. Jadi ya, ya aku mengandaikan diriku sebagai Ubermensch di situ. Jadi si album itu ya kayak ya petuahku bagi manusia, gitu. Aku sebagai, ya namanya anak muda mikir. “Aku Ubermensch nih, gini.”. Gitu kan, jadi aku analogikan seperti itu. Karena memang di zaman itu juga aku cukup, ya rakus baca buku, kan, memang gila gitu. Jadi aku ketemu Nietzsche itu, bayangin nih orang kampung, dididik agama, pun aku SMA dulu semi militer gitu kan. Kayak Taruna Nusantara, kayak Matauli gitu kan. Jadi waktu ketemu Nietzsche itu kayak, iya jungkir balik tuh apa ya yang dipahami gitu. Iya, anjir. Dia kan menganjurkan sebebas itu. Pun usiaku masih 22 tahun. Aku kenal Nietzsche bahkan 18 tahun. Baca terus tuh sampai Zarathustra gitu.
Maksudnya kalau hilang arah pun kan, maksudnya hilang arah justru kayaknya hidup itu harus hilang arah. Iya, maksudnya kan kalau kita enggak hilang arah berarti terkontrol sama kuasa, sama aturan-aturan yang ada, kan gitu kan? Justru maksudnya, kayak aku bilang tadi, babi-babi yang keluar-keluar itu kan bebas, gitu. Ketika dia di dalam kandang, dia nggak hilang arah, ada yang kontrol. kan gitu kan? Jadi relevansinya ke Anarkisme, masuk dia. Hilang arah sama ya tanpa kontrol, gitu. Gitu, jadi aku nangkepnya dulu Anarkisme itu ya, ya bebas saja gitu sebagai diri, gitu kan. Apalagi aku baca Striner, gitu. Wah, anjir, gitu. Wah, mending gua bakar dunia aja, kan ya.
Asli, iya apalagi anak muda ya, maksudnya kalau baca Nietzsche sekarang itu berbeda ketika aku baca dulu, gitu. Dulu tuh kaya ada feel-nya, gitu, kayak dapat gitu. Jadi kayak, kayak sahabat yang lagi ngomong sama mu tuh, gitu. Kalau sekarang tuh kayak awak baca kayak orang gila, gitu. “Apaan sih?”. Karena hidup sudah berjalan tuh kan, udah banyak tanggung jawab, banyak ini, banyak itu. Makanya milih Hurje itu tadi, gitu sih.
Oke Bang, bahas tadi soal main di LBH, kan lagi rilis buku ‘Jalan Menuju Penjara’, itu kan banyak yang ditangkap saat demo kemarin. Bagaimana menurutmu, Bang?
Ya, sebenarnya enggak ada yang baru dari situ sebenarnya. Maksudnya kan dari dulu memang ya gini loh, maksudnya ada nih ada satu, ngga tahu ya, maksudnya satu perbedaan, bukan perbedaan mungkin. Opini lah, mungkin tanggapan, ya pendapat gitu, sama kawan-kawan yang membahas hal seperti inilah. Kebanyakan kawan-kawan tuh menuntut negara supaya jangan ini, jangan itu, jangan kekerasan, jangan korupsi, jangan bikin proyek sembarang, kan gitu-gitu kan? Padahal kalau aku sudut pandang itu, ya problemnya memang negara. Iya. Maksudnya itu kayak kita bilang ke badut tuh jangan ngelawak. Ngerti nggak? Iya, maksudnya premis mereka sebagai negara memang udah kejahatan, gitu. Ya memang bakal kaya gitu. Logika negara kan memang kayak Bakunin bilang tuh, negara berbicara dengan kekerasan. Bahasanya memang bahasa kekerasan. Jadi akan konyol ketika kita menuntut negara jangan kekerasan. Itu ibarat kau bilang ke petinju jangan mukul, gitu. Ya kan memang si negaranya sudah jahat, gitu. Maksudnya, maksudnya daripada kita ngabisin waktu, protes soal-soal itu mulu, nuntut jangan korupsi, jangan ini, kan berulang-ulang teruskan. Karena memang hakikatnya negara seperti itu.
Ya, menurutku kayak tadi yang aku bilang solusinya ya memang harus bubarin negara. Memang itu, Le, maksudnya solusinya. Apakah itu susah? Ya, susah. Apakah resikonya gede? Ya, gede. Ya memang perubahan macam apa yang enggak gede resikonya, kan? Anjing, semua gitu. Ya kau pindah kos aja kau harus repot ngangkat-ngangkat. Ya, kayak gitu, keringatan, panas, segala macam, kan gitu. Ya, memang repot. Ya, kalau engga mau, ya kayaknya aku nggak masuk akal kalau ketika kita memperbaiki negara dari mengikuti konsep si negara itu sendiri, gitu. Paham, paham nggak maksudku? Jadi kasus-kasus kaya kayak di penjara itu ya dari dulu kan ada Marsinah, Wiji Thukul, Udin wartawan tuh ya. Sondang bahkan bakar diri, gitu. Udah banyak penulis=penulis, yang sekarang banyak juga kawan-kawan. Iya, nanti juga bakalan banyak juga. Bisa jadi aku, bakalan banyak yang ditangkap, kan gitu. Ya, maksudnya selama negara eksis, kekerasan itu ya makanan kita sehari-hari kayanya, perampasan, apalagi dia kombinasi sama kapitalisme kan. Ya, ngga terkejut aku melihatnya, karena memang seperti itu bahasanya. Terus mau diapakan, ya menurut aku untuk sekarang ya kita dukung kawan-kawan biar keluar atau dengan cara apapun, gitu kan, dengan dukungan apapun, gitu. Karena besok kan enggak bisa langsung revolusi kan, misalnya, kan gitu. Jadi lakukan yang sebisanya dulu, ya termasuk aku di sini gitu. Waktu aku datang ke Bandung dan bisa ya, ya datang, gitu. Sebisanya aja, le, gitu. Apapun itu, gitu. Ya termasuk kawan-kawan yang dipenjara tuh, ya bantu sebisanya aja. Karena cuman itu kan, sebisanya, opsinya itu, sebisanya atau revolusi. Revolusi ya repot kan, gitu. itu seram kan. Kesannya seram kan gitu.

Mau nanya dong, Le, kita kesampingkan negara karena sumber masalah, pilihannya berarti tanpa negara. Gimana dogma di Batak menurutmu?
Ya, sebagai tatanan aku ga suka sama Batak, cuman kan gini, cuman aku lahir disitu, Le, maksudnya bahasa ibuku itu, makanya aku nyebut Pangalo! itu. Pangalo itukan bahasa batak artinya pemberontak, kan gitu artinya. Sama musik-musiknya juga aku terbiasa dengan hidup seperti itu, jadi bukan karena pemahaman jadi aku denial, jadi benci sama diriku gitu. Paham nggak maksudnya? Aku dibesarkan dengan cara seperti itu, bahasaku ya bahasa seperti itu, bukan berarti aku setuju dengan si adat Bataknya. Karena, aku justru di beberapa lagu tuh, bahas kayak “Rimbak Otorita” itu aku bilang, melawan Horjabius. Horjabius itu sangat sakral di Batak, aku bilang bahkan mandiri gitu. Gitu, maksudnya dari sistemnya aku sangat tidak suka Batak bahkan. Tapi kalau produk budayanya, termasuk seninya, kayak aku lahir dari situ, Le. Maksudnya gini kau bisa suka sama batik tanpa harus mengikuti apa yang diajarkan sama Jawa, gitu. Karena gini, kita itu sering gini, sering lupa sama masyarakatnya, terfokus sama konsepnya. Seolah-olah masyarakat batak itu, ya merepresentasikan Batak ini doang, padahalkan engga, masyarakatnya dulu kemudian ada kuasa yang membentuk, seolah-olah mengkultuskan ada nih batak nih, “Kita ini batak nih”, gitu. Ngertikan?
Ibaratnya kita gabung sering nih, terus ada kebiasaan tuh, kita udah seneng dengan cara seperti itu. Terus ada aja orang yang brengsek itu, yang pengen kuasa, ya kan? Terus bikin “Wah sebut aja diri kita Viking”, atau “Kita bikin aja partai” dipisah-pisah gitu, padahalkan enggakan, seru aja.Tiba-tiba aja ada yang ganggu bikin aja Indonesia gitu, jadi hierarki. Kaya Indonesialah tiba-tiba Batak jadi Indonesia, Papua jadi Indonesia, ya kan ga tau, Le, gitu maksudku. Ya jadi aku cuman sesimple menggunakan bahasa di mana aku lahir, gitu aja. Ya karena memang itu bahasa yang ku mengerti. Ya, bisa jadi kalau aku lahir di Papua, ya aku pake bahasa Papua, di Jawa pake bahasa Jawa, ga ada keberpihakan tertentu.sama dogma sama tatanan yang diajarkan si Batak ini.
Karena ya bayanginlah, Batak itu ratusan tahun bisa jadi ribuan tahun yang lalu, masa kita masih percaya sama hasil pemikiran ribuan tahun yang lalu, ibaratnya gitu, udah ketinggalan zamanlah. Feodal-lah, apalah, Batak kan sangat feodal, nepotisme, marga ke marga, rasis bahkan. Jadi Pangalo! itu ga ada sangkut pautnya sama adat bataknya, sama produk budayanya udah pasti, ya jelas. Kan aku lahir disitu, Le. Ya, ngga mungkin aku dari orang Batak, tiba-tiba bikin namaku bahasa Papua gitu, toh orang lain pake bahasa Inggris, gitukan. MC ini MC itu apaan gitu, maksudnya ngga bahasa aku gitu, Le.
Makanya di lagu ku itu kan “Kami benci polisi”, aku ngga bilang “Fuck The Police”, ngerti nggak? Pake bahasaku aja, kayak gitu. Aku sering memang gitu, pake bahasaku aja. Terbiasa nyaman disitu, jadi sangat jarang aku merepresentasikan budayaku dengan budaya orang lain. Makanya beatku pun seperti itu, ya bahasaku seperti itu, musik-musiknya, aku ngga kaya New York, rap-rap New York. Boom Bap apa gitu, engga aku itu. Ya bisa, bisa aja, kan gitu. Cuman kayanya lebih seru kalau datang tuh bawa rumahmu ke orang, perkenalkan nih aku nih, kan gitu. Ya makanya aku ngomongkan “kali”, maksudnya aku selalu pake “aku” nih, kan gitu kan? ada orang yang terbiasa “gue”, bukannya salah, aku terbiasa disitu, aku nyaman disitu aja. Ngga salah juga kalau bilang “gue” atau apa gitu. Alasannya itu, Le. Makanya aku sering pake instrument Batak, pake sound-sound Batak, gitu.
Mungkin dua pertanyaan terakhir Bang. Tiga album yang menarik menurutmu?
Wah, musik nih. Aku suka apa ya? Aku dengerin semua sih, gitu, maksudnya. Iya, aku, wah aku maksudnya, Led Zeppelin suka, albumnya yang apa tuh, Mountain itu apa tuh. Yang merah itu. Lupa aku. Aku Led Zeppelin tuh suka. Yang kedua, Bob Marley, aku suka Bob Marley. Maksudnya bukan album ya, maksudnya aku, aku nggak tahu, ya, aku ngeliat musisi itu nggak pernah per-album. Aku justru, justru menurutku… itu lebih, maksudnya aku, ya random aja, gitu. Aku dengerin per-lagu aja, per-single. Maksudnya album tuh kaya ribet kali. Harus bikin satu konsep, bikin ini apa, gitu, maksudnya apa terlalu banyak gimmick. Iya, kau nyanyi-nyanyi ajalah. Gitu.
Ini loh, ada ini ya, karena kita bahas album ya. Banyak tuh kawan-kawan tuh yang banyak tertunda project-nya karena ada gitu. “Ah, udah buat album belum?” gitu-gitu. Padahal kan nyanyi-nyanyi ajalah, Le, kau punya satu lagu, emang kenapa? Kan enggak harus ada target album juga. Makanya itu tadi Hurje! tumpukan. Gitu, jadi maksudku album itu kayak, apaan sih? Gitu, pahamkan maksudku, Le? Jadi seolah-olah kau bisa jadi musisi itu setelah ada album. Ya kau nulis-nulis aja lah. Gitu, jadi aku lihatnya. Led Zeppelin aku suka lagu-lagunya, ya Bob Marley aku suka lagu-lagunya, aku gatau album apa gitu. Maksudnya, ya pun sekarang gampang nyari Chat GPT tanya aja, kalau mau jadi sok-sok paham musik, gitu. Tinggal search aja gitu di Google.
Cuman yang aku tangkap, itu ya menurut aku perspektif sama kesan yang mereka sampaikan melalui lagu itu yang lebih esensial, menurut aku. Kayak Bob Marley ngomong soal perdamaian, cinta, meskipun aku gatau judul albumnya, gitu kan. Tapi, aku tau pesan yang disampaikan gitu. Kayaknya kawan-kawan gitu juga dengerin aku, gitu kan. Ya mana mereka tau itu, Le, ini sample-nya apa, ini itunya apa. Karena pointnya gitu kan, Le. Musik itu pointnya itukan. Maksudnya gak terlalu serius juga. Gitu jadi, ya itu tadi aku suka Led Zeppelin
Berarti 3 band/musisi aja, ganti pertanyaannya Bang, Hahaha.
Led Zeppelin, Bob Marley, sama… sebenarnya ada empat. Bob Dylan, sama The Beatles.
Oh berarti bukan Rap ya?
Karena gini, Le. Karena gatau ya, gini maksud rap itu bagiku, nanti kawan-kawan jadi tersinggung, cuman, rap bagiku kurang musikalitasnya, tuh, karena looping itu, Le. Ya jadi aku lebih, kalau bicara rap itu lebih ngeliat rap itu sebagai puisi ketimbang musik. Ngerti ngga maksudku? Iya, lebih dominan, bukan ke musiknya, tapi ke pesan yang disampaikannya. Lebih ke apa ya? Lebih ke… ya musikalisasi puisi. Gitu maksudku, kalau aku denger rap tuh, jarang ku terpukau sama beatnya atau musiknya, aku lebih fokus ke liriknya. Sedangkan musik yang ku bilang tadi, ya Led Zeppelin kan lebih ngebahas cinta misalnya, soal-soal kehidupan dia yang narkoba, atau apa, tapi, musiknya tuh… anjing, ko bisa gitu. Gitu, Le. Meski dia cuman ngomong “yeyeyeye” dia gitu doang pun enak. Gitu alasannya, makanya aku ga terlalu fokus ke rap waktu berbicara musik gitu.
Makanya pun lagu ku kebanyakan musik ku sangat harmonik sebenarnya, main chorus, hook, main sample-sample yang ku pakai juga udah enak duluan kan gitu. Beda sama kawan-kawan lebih flat gitu kan. Jadi memang musisi favoritku tuh lebih banyak dari genre lain, bukan hiphop. Tapi ya, rap-pun aku ada suka, tapi bukan berdasarkan musiknya, tapi lirik sama flownya, gitu, kayak Company Flow, cara dia ngerap gimana atau kayak disini tuh ya ada Senartogok, ada kawan-kawan juga, ada Kids tadi gitu lebih ke liriknya sih. Karena kayaknya pun orang itu, jarang bicara musiknya. Iya lebih fokus ke lirik, main multis, main ini, iya lebih kesitu. Iya itu musisi yang kusuka, ya itu tadi. Led Zeppelin sebagai band, Bob Marley sebagai solo, Bob Dylan sama The Beatles. The Beatles tuh, siapa yang nggak ngakuin The Beatles, kan gitu maksudnya.

Mungkin pertanyaan terakhir, tiga film yang berkesan?
Yang berkesan jelas “Into The Wild” sangat berkesan. Itu nonton waktu kuliah dulu kan, jadi kaya, menuntun kau jadi berbeda lah, kan gitu maksudnya, ya kaya “Badut”-lah, ada lagu ku “Badut” hampir sama lah kaya “Into The Wild”. Yang kedua tuh, aku sangat suka tuh “The Dark Night” yang Christopher Nolan, yang triloginya yang si Joker. Ehmm… ada yang sih yang bagus, banyak kan, cuman aku ga terlalu berkesan. Kebanyakan orang kan gitu saking orang gatau tuh kayanya keren gitu, kaya “Memento”, “Fee” apalah segala macem. Sama “V for Vendetta”. Tiga itu, tapi banyak sih sebenernya kayak “Fight Club”, yang pop-pop lah tanda kutip, cuman memang di zaman itu yang nyampe ke aku ya itu, jadi berkesan gitu, kalau sekarangkan lebih eksplor, cuman kesannya udah beda. Kayak nonton “The Man From Earth” gitu-gitu. Jadi, beda kesannya, bagus ya bagus-bagus aja, gitu. Aku suka nonton. Kalau disuruh manggung atau nonton, aku lebih milih nonton, sumpah haha. “Ada nih job manggung” ahh ya aku mening nonton. Abis itu maen game. Aku suka maen game soalnya.
Makanya lebih baik mabar daripada konsol, haha?
Iya, serius. Ya, maksudnya, kayanya mau seberapa kuat pun aku ngomong soal diriku, kayanya ngga bakalan ada yang berubah, termasuk itu tadi, Le, memang problemnya ada di negara itu, itu dulu lah ancurin. Ya kalau engga diancurin, mening aku mabar, kan gitu. Tapi kalau diajak ngancurin, ayoklah, mati pun awak gapapa, haha.
Terimakasih, Bang!
Ya, sama-sama, Le.
Teks & interviews: Iman Hadiansyah
Photos: Iman Hadiansyah