Unit indie rock asal Bogor yang bernama Rrag ini sudah merilis 2 single (Pelikan, Violet), 1 maxi single (Bayang) dan 1 EP (Eter). Sambil menunggu mereka merampungkan debut albumnya yang sedang dibuat, mari berbincang dengan Arafat Zawaid (Vocal / Gitar), Dhi Adjeng W (Vocal / Bass),  Damas Hermansjah (Vocal / Gitar), Dwika Tiano (Acoustic Guitar) & Wili Benardo M (drum) mengenai dinamika musik di Rrag dan makanan khas Bogor favorit mereka..

Dibanding unit-unit indie rock Bogor lainnya seperti Texpack dan Swellow, Rrag lebih terasa sensibilitas pop nya. Apa yang membuat Rrag berbeda dari band-band indie rock lain menurut masing-masing personil?
Acil: Kalo menurut aku sih biar beda aja kali ya sama band indie rock temen-temen Bogor yang lain. Kebetulan yang keluar di kepala kami ketika di Rrag emang lebih banyak yang cenderung pop, terus dibiarin aja ngalir gitu sama barudak. Jadi sekalian aja gitu biar beda sama yang lain hehe..

Damas: Kalo menurut aku pribadi sih sebenarnya mungkin aku yang paling pop diantara temen-temen yang lain wkwkwk, jadinya ngalir dan yang sejujurnya kita bisa juga..

Acil: Iya yang lainnya mah sebenernya reggae a haha..

Dwika: Kalo dariku sih di antara kedua band tersebut, mungkin Rrag agak ada manis-manisnya sedikit wkwk.

Wili: Menurut diriku, dibanding Texpack dan Swellow, Rrag lebih sederhana mungkin ya..

Oh iya, masing-masing personil bisa mengenalkan diri terlebih dahulu? Lagi sibuk ngapain aja kalian dan apa makanan Bogor favorit masing-masing?
Acil: Aku Acil. Sehari-hari kerja jadi tukang cukur di Rumah Papas. Aku suka toge goreng Sering makannya yang di turunan mall btw, dekat stasiun, karene sering lewat situ aja. Itu enak aja sih buat aku mah haha!

Adjeng: Aku adjeng. Sehari hari ngurusin podcast orang lain aja, makanan favorit dari Bogor yang gak Bogor-Bogor amat Surabi Oncom Telur..

Damas: Halooo a salam kenal sebelumnya, aku Damas, sehari-hari lagi istirahat dulu baru resign dari BNI, makanan favorite Bogor itu laksa Gang Aut (gatau ini asli Bogor atau bukan) sama rekomen toge goreng di depan Ngesti deket Tugu Kujang enak.

Dwika: Dwika di sini, kegiatan biasanya sih jadi kru band. Makanan favoritku ayam D’besto yang di Ciomas, soalnya 24 jam dan lokasinya di sebrang komplek.

Wili: Saya Wili. Saya freelancer konten kreator dan video editor. Saya suka Doclang.

Lirik-lirik lagu kalian banyak menggunakan bahasa Indonesia. Kesulitan yang kalian temu dalam membuat lirik Indo vs lirik Inggris? Sebagian besar tema lagu kalian tentang apa sih?
Damas: Kalo untuk lirik kebanyakan emang dari Acil, tapi biasanya sih Acil selalu ngelempar ke kita buat sekiranya ada penambahan dari masing-masing.

Dwika: Betul, setuju sama jawaban Damas.

Acil: Kalo bahasa Inggris, emang kurang menguasai bahasanya hehe. Kalo bahasa Indonesia paling kesulitannya nyari diksi yang enak didengar aja. Sebagian besar lirik yang ditulis sih tangkapan beberapa momen atau pengalaman. Seringnya nulis karena hasrat pengen nulis yang tiba-tiba muncul aja ketika ada yang lewat di kepala.

Bagaimana kalian menentukan antara Adjeng atau Acil yang menyanyi di lagu-lagu tertentu?
Acil: Biasanya kami pas bikin lagu teh seketemunya gitu, terus abis itu dikira-kira aja sih, ini enakan Acil apa Adjeng yang nyanyi..

Damas: Kalo pandangan aku jujur lebih ke feel sama mood lagunya sih a, dan biasanya kalo chord dasarnya buat Acil ketinggian kita lempar ke Adjeng buat coba vocalnya.. Disesuaikan sih dan bahkan nanti pun suka ketemu “kayaknya enak dinyanyiin berdua sama mereka”..

Gue mendengar ada DNA The Cure, Dinosaur Jr. dan Teenage Fanclub di lagu-lagu kalian. Album indie rock terbaik menurut masing-masing personil apa? Dan kenapa?
Acil: Guided By Voices – Bee Thousand
The Breeders – Last Splash
3Ds – Hellzapoppin
Swervedriver – Ejector Seat Reservation
Alasannya sama. Semuanya bangor dan aku suka wkwk

Kalo di Indo aku suka banget Pure Saturday – Utopia, Kubik (Self Titled), sama Rumahsakit – Nol Derajat. Semua terdengar 90s, banyak lirik bahasa Indo-nya dan autentik buatku.
Adjeng: Kalo Acil suka yang bangor-bangor, kusuka yang lucu-lucu.
Aku suka Brittle Stars – Brittle Stars

Damas: Kalo aku Toddle band jepang, album “Dawn Praise the World” rilisan tahun 2007. Sukanya karna aku ngefans sama Hisako Tabuchi dari jaman dia di Number Girl karena dia keren bangeeeet, paling kalo yang sering di dengerin lagi itu project solonya James Iha (The Smashing Pumpkins) soalnya manis banget dia kalo bikin isian gitar…

Wili: Luar negerinya aku suka Eggstone album yang Somersault, ga tau sih sebenarnya mereka indie rock apa bukan, tapi materi-materinya enak didengar kapan aja. Kalo Indonesia aku suka Texpack EP mereka yang Courageous. Karena EP ini bikin aku pengen ngeband indierock-indierock-an..

Processed with VSCO with b1 preset

Di Twitter / X kalian menyebut “Confused Youth Music Group”. Apa yang selalu membuat kalian bingung? Dan kenapa memilih Rrag sebagai nama?
Acil: Yang membuat bingung teh kahirupan weh a haha bingung kudu kumaha. Bikin lagu juga bingung kudu kumaha da skillnya pada pas pasan (kecuali Damas dulunya pernah les wkwk). Kalo nama band, Adjeng sama Damas mungkin yang bisa jelasin karena aku sama Wili masuknya nyusul dikit, Dwika nyusul agak belakangan hehe..

Adjeng: Aku jawab yang kenapa memilih RRAG ya. Dulu sebelum formasi ber 5 seperti sekarang ini, RRAG itu ada 4 orang. Nah, singkat cerita nama RRAG itu inisial dari 4 orang ini. Ada Raditya (Damas), Rijki (Basis sebelumnya), Adjeng dan Ganang (drummer sebelumnya). Lalu Acil, Wili, dan Dwika melengkapi formasi yang sekarang ini..

Damas: Kayaknya kita semua emang suka bingungan aja gitu a, entah spontan dan enggaknya Rrag itu sebenarnya dulu singkatan nama personil sebelumnya, berjalan setelah formasi awal itu, sisa aku sama Adjeng. Akhirnya sekarang lengkap sama Acil, Wili dan Dwika… Kebetulan namanya keren jadi kita terusin…

Wili: Aku ama Acil dulunya lebih ke reggae a..

Acil: Ini mah beneran a. Dulu aku sama wili waktu SMA ngebandnya ska reggae wkwk

Apakah single kalian “Janari” diambil dari bahasa Sunda yang berarti “dini hari”? Tentang apa lagu itu? Siapa yang menulis nya?
Damas: Betuuuul, waktu dan tempat kami serahkan kepada Acil a..

Acil: Iya betul dari bahasa Sunda. Aku waktu itu nulis waktu momen pulang dari rumah temen jam 2 dini hari. Trus kepikiran, ini aku jam segini pulang (selesai beraktivitas, mau istirahat), sedangkan sebagian lain ada yang baru mulai beraktivitas. Waktu itu liat pedagang-pedagang sayur yang di pasar dan pedagang-pedagang lainnya..

Setelah 2 single (Pelikan, Violet), 1 maxi single (Bayang) dan 1 EP (Eter), apa rencana kalian selanjutnya? Apakah kalian akan menyatukan semua ini di satu album atau lebih memilih untuk membuat lagu-lagu baru?
Dwika: Kalo nyatuin semua yang udah dirilis jadi album sih enggak ya. Tapi sejauh ini kami sedang menggarap lagu-lagu baru yang selanjutnya akan dibikin album pertama bagi kami.

Dwika bergabung untuk mengisi departemen gitar akustik yang membuat sound Rrag jadi terdengar lebih unik dan penuh. Kenapa kalian memutuskan untuk menambah gitar akustik?

Acil: Soalnya Dwika keren haha. Dwika dari pertama Rrag manggung udah banyak terlibat sebenarnya, terutama di perihal teknis. Terus makin sini lagu yang kami bikin banyak yang direkam pake gitar akustik. Jadi sekalian aja kami tambah personil buat mainin gitar akustik, dan langsung kepikiran Dwika. Karena sebelumnya juga Dwika sering backup Adjeng kalo Adjeng lagi kerja. Kami rasa menyenangkan juga kalo bisa eksplorasi pake gitar akustik yang tentunya suaranya beda lagi sama gitar yang aku dan Damas mainin.

Pertanyaan terakhir: Hal paling unik yang harus ada di riders kalian kalau manggung apa aja?
Acil: Paling kalo ada konsumsi, kalo bisa request, kami request makanan yang ga ada daging/ayam/ikan, buat Wili.. Kalo bisa request aneh-aneh, mungkin Adjeng request seblak, aku request kora-kora..

Wili: Betul a, sebab aku tidak makan daging karena takut luntur kesaktiannya hahaha..

Dwika: Sebenernya gak ada yang unik sih, cuma paling air mineral aja saat on stage, soalnya pernah manggung gak ada air mineral asa siga jadi Oscar Oasis wkwk..

Evil sudah cukup lama malang melintang di industri fashion lokal. Evil pun selalu dikaitkan dengan pergerakan musik karena dari awal selalu endorse band-band independen dan bahkan berkolaborasi dengan mereka. Sampai sekarang nafas dan energi tersebut masih dijalankan oleh Dega, creative director Evil yang juga menghadirkan ide-ide baru seperti sepatu Spills dan aktivasi-aktivasi segar lainnya. Let’s have a chat with Dega..

Halo Dega! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja sekarang di Evil?
Halo Jeurnals, Alhamdulillah sehat. Di Evil masih gitu-gitu aja, datang ke kantor bikin kopi, gosip 30 menit-an, cek kerjaan/target tiap divisi, cek email, cek whatsapp takut nya belum ada yang di bales, mantau band-band baru yang bisa di ajak kerjasama.

Kolaborasi kalian dengan Rusty Vintage Store sangat menarik karena kalian membuat furniture berbentuk kursi. Bisa ceritakan cerita dibalik collab dan konsep dari produk ini? Dan kenapa memilih Rusty sebagai kolaborator?
Awal nya Ipam (owner) beli beberapa produk di Rusty buat kebutuhan display, sampe akhirnya mas Budi (owner Rusty) ngajak ketemu saya sama Ipam buat ngobrol-ngobrol soal Evil dan hobi, iseng aja keluar kata “collab yuk, bikin apa gitu yang bisa masuk ke Evil sama Rusty”. Karena Rusty ini konsepnya vintage store, kepilih lah kursi vintage art chair karena kita pengen produk vintage yang bisa dipakai bukan hanya sekedar di pajang gitu, terus di retouch sedikit, tambahin sandaran, konsep bentuk lengan nya di ganti juga, di kasih pattern outline tiger camo biar bisa mewakili Evil tapi nggak ngilangin konsep vintage nya.

Evil Live Session sangat menarik. Bagaimana konsep dibalik live session tersebut dan bagaimana proses kurasi kalian terhadap band-band nya?
Kepikiran nya sih udah lama (Youtube Channel), cuman belum terealisasi karna sibuk ngurus Evil (clothing) nya, sama belum nemu konsep Live nya kaya gimana. Sampai akhir nya Collect record store pindah ke deket kantor Evil (Evil sama Collect masih 1 Group) baru deh kepikiran “bikin live di record store seru juga kaya nya”.

Gak ada kurasi yang gimana-gimana, biasa nya saya pas ketemu temen-temen musisi/band suka nawarin kerjasama bikin merchandise, nah disitu suka di selipin tuh obrolan/ajakan buat live di channel Evil atau produksi MV. tapi sekarang justru banyak band-band yang request untuk live session atau produksi MV untuk channel kita, biasa nya band langsung ngirim/ngajuin beberapa track untuk di cek sama team Evil, dari situ kita hearing session bareng team. Nah team Evil ini yang memutuskan gow atau nggak, bukan soal bagus apa nggak, lebih ke waktu produksi nya aja, soal genre gak kepatok harus genre tertentu.

Evil cukup aktif dalam mensupport band-band tour dan juga meng endorse beberapa musisi sekarang ini. Apa yang membuat Evil mengambil arah ini?
Sebenernya Evil era 2000 an (2003-2004) udah memposisikan image brand nya di situ (musik/band) deh kaya nya, ya menurut saya ya..sempet denger juga dulu toko Evil jadi tempat nongkrong musisi-musisi lokal, jadi saya pribadi sebenernya pengen bawa lagi image Evil kaya dulu.

Top 5 kolaborasi Evil favorit Dega apa saja dan kenapa?
Evil x Heineken:
Design sama produk nya simple tapi dapet aja gitu si image brand nya.

Evil x KFC:
Materi nya banyak, terus pihak KFC nya juga ngebebasin untuk explore soal produk, cuman rada pusing mau naro grafis ayam goreng nya dimana. Sama rilis nya di JFW (Jakarta Fashion Week) itu yang bikin deg-deg-an.

Evil x TMNT:
Sedikit rumit, dari pemilihan mau ambil type yang mana, ada yang 3D, classic, comic, 90’s. Pengiriman sample material, sample sablon, bordir, packaging dan lain-lain harus ke Singapura, proses ACC-an video campaign nya juga rada ketat, tapi seru lah.

Evil x Star Wars :
Pas nerima materi grafis dari pihak lisensi langsung terpukau lah pokoknya, keren pisan detail nya.

Evil x SBTG :
Saya tau Sabotage pas Nike rilis SB dunk low SBTG, tapi gak tau kalo Sabotage itu orang Asia.. Kesini-kesini baru tau kalo dia orang Singapura.. Takjub aja ada artist Asia yang dirilis produk nya sama brand-brand besar kaya Nike / New Balance. Pas Ipam (owner) bilang “nanti kita ketemu Sabotage, kita ajak collab” itu udah ngebayangin produk/grafis nya seperti apa, antara pattern camo, skate, atau punk, tau nya bener dia ngasih materi dengan konsep vintage punk ala ala Sex Pistols.. Saya coba bikin mock up di beberapa produk, akhirnya kepilih lah T-shirt, bowling shirt, hoodie, sama skate deck yang dirilis.

Bisa ceritakan sedikit background lo sebelum bekerja di Evil? Dulu pertama masuk Evil ngerjain apa saja dan sekarang menghandle departemen apa saja?
Gak ada yang menarik euy, lulus kuliah tahun 2005 (Teknik Informatika) langsung kerja di salah satu production house di Jakarta bagian lokasi, kerja nya cari lokasi shooting, nge clear-in area shooting, nego sama preman kalo shooting nya di area publik, biar gak ganggu maksudnya. Pernah jadi kepala gudang salah satu brand Skate n Surfing di Kemang, Jakarta juga. Gak nyambung sih sama jurusan kuliah yang di ambil. Pernah jadi bagian admin di kontraktor, tapi karena bos nya tau saya lulusan IT dan bisa photoshop, jobdesk saya berubah jadi tukang bikin surat palsu kalo ada tender.
Masuk Evil tahun 2009, bagian design grafis, beberapa tahun ke belakang (2020-an) geser jadi Creative Director, tapi masih nge bantu nge design juga, awal tahun 2023 di percaya buat jadi Direktur Utama sampai sekarang.

Pendapat Dega mengenai kultur diskon harga coret?
Di marketplace orange maksud nya ya? Gak ada masalah, hidup itu pilihan. Begitu juga dengan konsep bisnis. Tiap brand punya concern-nya masing-masing. tapi kalo Evil saat ini memang masih fokus selling nya di offline store sama di distributor-distributor di luar Bandung (wholesale). Evil masih menjaga hubungan kerjasama dengan distributor-distributor yang sudah bertahun-tahun terjalin. Yaaaa kalo kita ikutan trend “diskon di marketplace” bisa nge-jatoh in distributor kita dong.

Bagaimana awal histori dan konsep dibalik Spills Footwear? Kenapa memutuskan untuk terjun juga ke industri footwear dan apa yang membedakan Spills dari brand-brand sejenis lainnya?
Pengen melengkapi aja, karena Evil kelas nya apparel jadi agak susah masuk ke industri sepatu lokal jadi mending bikin brand baru aja yang kelas nya emang khusus footwear. Beda nya? Saya pastiin sepatu Spills nyaman, develop kurang lebih 2 tahun sampe akhirnya nemu siluet nya, insole nya seperti apa, material nya apa. Spills ngasih pilihan buat market sepatu lokal, sebab karakter nya Spills itu simple. Tone warna sangat basic, kalo gak black/off white, all black. Nyaman buat di pake daily.

Top 5 sepatu favorit lo sepanjang masa apa saja dan kenapa?

Spills Footwear, saya yang nge design, nyari pabrik buat produksi nya, nego harga nya, nentuin harga jual nya.

Vans Authentic, simple, nyaman, ringan, cocok pake celana apa aja.

New Balance 547, di pake jalan nyaman, di pake olahraga enak.

Nike Airmax 90, karna liat Jamey Jasta (Hatebreed) pake Airmax 90.

Dr Martens, harus punya, bisa buat ke gigs, ke undangan, ngelamar kerja, buat nendang maling, buat motor-motor an, kulit nya awet asal pake wonder balsam mencegah retak retak pada material kulit. dirancang untuk semua kulit kecuali suede. tahan noda dan hujan, formula nya dari lilin padat, mengembalikan warna kulit ke semula.

Next collabs / projects for Evil?
Collab sama minuman jamu favorit gen Z lah pokok nya, lagi develop design + produk nya. Collab sama salah satu bar/resto di Jakarta. Sama rencana mau rilis beberapa band merchs tapi bukan T-shirt, tunggu aja lah. takut gak jadi.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo from Dega & Evil’s archives

Morrgth atau Indra Wirawan adalah seorang grindrocker dan seniman otodidak dari Pekanbaru. Menghabiskan hampir 18 tahun di Bandung, menyelesaikan studi di UNIKOM dan juga mengisi departemen layout/grafis di Ripple Magazine. Sebagian besar karya-karyanya menggunakan tinta dan cat air di atas kertas. Bersama Rekti Yoewono (The SIGIT) Morrgth membuat studio kolektif bernama Månstråle (Diucapkan “mon-stro-la”). Morrgth bersama sahabatnya, Alexander Benedict / Mayatschism (Aneka Ria Petaka, Muntah, Distorsi Mulut Setan) membangkitkan semangat sinergi dalam Quest For Money, duo ilustrator yang melakukan live drawing untuk orang-orang di sebuah gigs atau event. Sebagai seorang musisi, Morrg mendirikan dan menulis musik di bandnya Rajasinga yang memainkan Grindcore, Vlaar yang bermain di wilayah blackmetal dan juga Kastil yang sedikit eksperimental. Kini, Morrg tinggal di Pamulang – Tangsel. Ia masih aktif memproduksi lebih banyak lukisan dan karya, mengerjakan commision untuk ilustrasi cover art, ilustrasi untuk merchandise band, brand lokal dan beberapa event musik. Let’s talk a bit with this dude…

“Dari dulu sebenarnya saya orang yang kurang nyaman jika berada di luar atau keramaian”

Halo Morrgth! Kemana aja nih? Lagi sibuk ngerjain proyek apa aja?
Halo Jeurnals. Sejak 2018, kebetulan hijrah ke Jakarta untuk berkehidupan. Blablabla trus pandemi, sehingga… here we are. Sekarang sedang sibuk dalam sebuah project bible dan IP character untuk sebuah cerita silat lokal di sebuah rumah produksi di bilangan Senayan, Jakarta. Selain itu, disela-sela waktu sebagai freelance artist di studio (Morrgsferatu Studio), rutinitas hanyalah membereskan pekerjaan dan tetek bengek dengan link relasi terdekat serta beberapa project personal.

Denger-denger lo ada proyek bernama Kastil yang single nya berjudul “Renfield” ya? Apa yang lo sukai dari nover Dracula nya Bram Stoker? Bisa ceritakan sedikit tentang konsep Kastil dan historinya?
Hahaha. KASTIL adalah project bebas dua orang Ekyno dan Padok [Dr.Abi borneo] bentuk kecintaan mereka berdua terhadap Bram Stoker Dracula, yang memang semua track di album nanti adalah persembahan balada kepada karakter-karakter yang ada didalam cerita tersebut. Awalnya saya cuma ikut membantu project visual single dan album mereka, tapi ketika sedang meeting di studio ketika mereka merekam materi, langsung ditodong untuk ikutan mengisi part bass dan back vocal untuk single Reinfield di Doors Studio di bawah arahan pakde Giox (Superglad) waktu itu, hahaha. Jadi aja…

Kalo personal saya memang senang membaca, dan sangat menyenangi karya sastra klasik gelap dan gothic seperti Bram Stoker salah satunya, yah…sampai sekarang masih misterus juga ya kebenaran kalo itu ternyata based kisah nyata ya?

Sekarang lo sedang sibuk manggung dengan unit blackmetal VLAAR ya? Itu gimana awalnya lo bikin band tersebut? Lalu kenapa nama band nya Ular, apa lo takut terhadap ular?
Yak, Vlaar baru saja merilis album kedua, bertitel BlekMetal dan sedang melakukan show dan mempersiapkan planning tour promo dalam waktu dekat.
Oke, sejauh mengingat pada awalnya mengisi posisi bass di Vlaar ngga ada sebelumnya terlintas di kepala saya. Karena beberapa bulan sebelumnya, saya dan Oces Rachmat (Carnivored, Hurt Em, Disinfected) dan Elvan Zaenal (Deadkrokodil) sepakat untuk sibuk menggarap materi project Black Metal kita, NANSURAM yang sempat merekam beberapa materi demo nantinya. Berjalannya waktu, Mitra dari Blackandje mengontak pengen minjem bass ketika saya lagi di rumah duka di Pekanbaru 2022 ceritanya. Ketika pulang kembali ke Jakarta waktu itu, saya datang membawa bass maen ke Blackandje tiba tiba ditodong sama mitra buat mendengarkan materi Vlaar. Merasa ada klik dengan musik yang didengarkan waktu itu, saya iseng maenin bass mengikuti lagu Vlaar yang diputar. Yang ternyata direkam oleh Mitra dan dikirim ke Kvli Arit yang langsung dimasukkan ke grup wa satanikasboncirle yang mana juga didalamnya ternyata sudah ada Oces juga didaulat sebagai MenantuBiadab untuk Vlaar.. (entah itu pertanda resmi masuk ato gimana, tidak ada kejelasan, aku ngikut aja hahaha)

Vlaar sendiri sudah merilis album pertamanya di 2012 silam, oleh Kvli Arit sebagai side projectnya diluar BVRTAN. Panggung kembalinya Vlaar setelah lama hiatus, tampil dengan formasi bertiga di acara Intimate Show Blackandje di House of Darktones pada Juli 2022 yang kemudian materi ini dijadikan EP Vlaar Pemuja Setan Live yang berisikan 4 track live, 1 coversong dari Darkthrone dan single baru, Anton Blekmetal sebelum masuk ke album kedua kemarin.

Apa kabarnya Rajasinga sekarang? Pada kemana Revan dan Biman? Bakal bikin album lagi kapan?
Rajasinga baik-baik saja dalam kevakumannya yang kebetulan para personilnya sedang pada pencar beda kota. Sempat ada keinginan kita untuk jalan lagi diawal tahun ini, tapi sepertinya masalah komunikasi jarak juga kesibukan kita masing-masing, belum bisa teratasi. Mungkin nanti.

Mari bahas seni sedikit. Akhir-akhir ini baru garap kover album Gergasi Api ya? Kover-kover album siapa aja sih yang sudah pernah lo garap untuk pembaca yang belum tahu? Dan favorit lo dari segi pengerjaan yang mana aja?
Iya ‘Red Knight’ album pertama dari Gergasi Api, penggarapan tepatnya itu tahun lalu, dimulai dengan trilogi single mereka yang dirilis berkala di 2021. Menyenangkannya adalah proses kreatif dan konsep kover art ini menjadi katalis saya untuk mengeksplore pendekatan teknis dan style yang pelan akhirnya saya dapat memasuki keinteresan dengan style lukisan klasik yang sudah lama. Sebelumnya, ilustrasi kover untuk solo project Sayiba Von Mencekam (Kelelawar Malam) bernama Gloom Wanderer (untuk style kitsch painting)

Beberapa kover art yang pernah di garap yang mungkin tidak terlalu berada di permukaan adalah ilustrasi untuk Jakarta Pseudo Blues/Rock/Stoner, TAMRA. Di 2021 mereka melepas EP dalam format kaset bertitel ‘Sandstone’ dibawah bendera Darnoc Records. Di produksi dengan sangat terbatas memang.

Kemudian, The Flowers ‘Roda Roda Gila’ yang tahun ini menginjak usia ke 4 semenjak dirilis di 2019 silam. Proses yang menyenangkan adalah karena seringnya mendengarkan lagu dari album mereka di waktu dulu untuk menemani beresin pekerjaan di studio kalo sedang buntu begitu atau bosan dengan hening, jadi ketika mengerjakan project album mereka ini, seperti yang sudah terbiasa saja begitu. Tanpa beban mengingat timeline yang pendek, dan ini termasuk dalam pengerjaan ilustrasi tercepat untuk sekelas kover album yang pernah saya bikin.

Top 5 album dengan kover favorit versi lo apa aja? Lokal / Luar dengan alasan nya
Akan ada banyak sekali kover favorit untuk sepanjang masa, seperti Iron Maiden ‘Fear of the Dark’, atau ‘Altars of Madness’-nya Morbid Angel…

Tapi saya akan mencoba mengambil yang benar menggugah perspektif seiring berkembangnya interest musik dan art saat sekarang, beberapa adalah karya foto yang dijadikan cover art.

Satyricon Munch. Konsep photografi yang simple tapi ngena dengan visual pesan yang disampaikan.

Komunal ‘Panorama’. Ilustrasi yang benar2 ‘jadi’ tapi catchy dari seorang Doddy Hamson yang mana adalah frontman Komunal itu sendiri, (bukan ilustrator layaknya pro) bisa jadi bentuk kegigihan dan ambisi memenuhi isi kepala tentang bagaimana visual yang diinginkan untuk band yang dibuatnya sendiri.
Liar dan straight.

Ghost ‘Impera’. Album terbaik dengan kover artwork yang megah, luxury! ..dari semua diskografi Ghost setelah Opus Eponymous.

Rotor ‘Behind the 8th Ball’. Album ngotot pembuka jalan arus musik thrash metal waktu itu, bertemu dengan ilustrasi kover yang stylenya sudah layaknya standar band thrash metal dunia waktu itu. Termasuk yang menginspirasi.

Deicide ‘Once Upon The Cross’. Dari pertama kali lihat, ilustrasi kover ini sangat catchy sekali. Dibuat oleh Trevor Brown, image yang sangat eksplisit kemudian mengalami sensor, tetap menjadi artsy, aku sangat penasaran dengan momen ketika mendapatkan ide brilian itu. Killer art, killer music.

Pilihan terakhir adalah berat, keduanya sangat penting dan catchy bagi saya personal, Plastik ‘Dengarkan Pada Saat Tenang’ dan The Flowers ‘17 Tahun Keatas’.

Dengar-dengan lo dulu di Pekanbaru waktu muda pernah bikin band black metal juga ya?
Hahaha, Ya. Itu medio ‘98 bentukan tiga remaja belia bernama SATAN memainkan musik Black Metal sempat membuat beberapa lagu sendiri selain membawakan cover song Marduk, Naglfar, Dissection dan menjajal beberapa panggung underground di Pekanbaru sekitarnya dan Padang. Tapi band itu engga berumur panjang karena setamat SMA di 2000 saya memutuskan untuk merantau dan melanjutkan studi di Bandung.

Proyek kolektif art print poster lo dengan Rekti yang bernama Manstrale gimana ceritanya? Apa akan aktif kembali?
Personal, masih ada kegigihan dan keinginan untuk menjalankan Manstrale sendiri, hanya saja screenprinting poster dan teknisnya membutuhkan konsentrasi total sehingga masih menjadi keinginan yang sementara ini lagi saya tunda karena kesibukan pekerjaan lainnya di studio.

Quest For Money lo jalankan dengan sahabat lo Alexander Benedict. Selain live drawing mau dikembangkan jadi apa lagi nih si QFM? Event-event apa aja yang pernah kalian ramaikan?
Quest For Money adalah style kita berdua untuk membuang waktu dengan penuh manfaat. Tercetusnya QFM sesimple saya yang sering nongkrong bareng Alex, nemenin dia habisi malam di OJ tavern waktu itu, dan kita iseng gambarin dalam bentuk sketsa cepat, teman dan kenalan yang datang hangout kesana dari meja kasir, akhirnya diajakin mengisi event-event teman dekat waktu itu seperti Omuniuum dan Keep Keep sampai ke beberapa event promo korporat dan dealer mobil, komunitas dog lover begitu… hahaha.

Pengembangan QFM selain ranah live drawing sebenarnya sudah dilakukan sebelum pandemi dulu tepatnya di 2018 kita menginisiasi acara market yang dinamakan Paid Dues di Keep Keep, yah bisa dikatakan kita sebagai event organizer yang pengen ngumpulin teman-teman illustrator yang mempunyai usaha mandiri duduk bareng dan bersilaturahmi saja.

Kemudian dari segi brand, sempat merilis tshirt dalam bentuk PO waktu itu yang ingin sekali dijadikan sebagai brand yang serius kita garap kan untuk waktu mendatang hanya saja sekarang kita masih kompromi mencocokkan jadwal saya dan alex yang kebetulan sekarang kita beda kota, Alex di Bandung, dan saya sementara ini masih kemana mana.., hahaha.

Untuk live drawing lo paling cepat gambar orang berapa menit? Apa kendalanya dalam melakukan live drawing?
Kendala dalam melakukan live drawing secara teknis, engga ada keknya. Lebih ke usaha mendapatkan spot karakter yang bisa ditonjolkan dari orang yang kita gambar untuk menjadi garis yang penuh keyakinan, kalo ini guratan sketsa yang pas dan dekat dengan bentukan rupa orang yang digambar.
Live drawing (dalam bentukan sketsa, dengan pensil, charcoal dan penghapus) tercepat, mungkin antara 10-20 menit.

Apa lo tipe orang yang sering datang ke gigs / konser? Akhir-akhir ini apa lo lebih memilih untuk diam di rumah atau berpergian dan hangout?
Dari dulu sebenarnya saya orang yang kurang nyaman jika berada di luar atau keramaian, jika ditanya bagaimana dengan urusan panggung semasa Rajasinga atau Vlaar sekarang, masih sama saja sepertinya.. lebih memilih mencari spot yang sepi ato sekedar cari angin jalan kecil di sekitaran venue. Maen terus pulang, udah begitu aja. Untuk event gigs yang ngga ada urusan biasanya lebih netapin ke- ‘sepenting apa dulu’. Hahaha. Biasanya, untuk band yang memang saya sukai untuk disimak, pasti menyempatkan datang untuk melihat performnya.

Apalagi masa masa seperti sekarang, semakin selektif saja. Lebih banyak berdiam di studio, bepergian lebih untuk pemenuhan kebutuhannya Ruby, seekor dachsund berumur 3 tahun, itupun sekedar mengajaknya jalan keluar rumah saja. Hangout lebih banyak dilakukan di studio saja sejauh ini, keluar hanya bila stuck ide di studio dan jika direncanakan bersama teman yang benar-benar dekat.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Rendha Rais, Irfan Nasution & Morrgth’s Archives

Hendry Sasmitapura, atau yang lebih akrab dipanggil Henhen, adalah creative director/founder dari beberapa brand seperti Pot Meets Pop, Volt & Fast, & Vaya Con Dios. Passion Henhen terhadap pot culture / cannabis culture mendorong dia untuk berkolaborasi dengan duo komedi stoner Cheech & Chong, Sublime dan Cypress Hill. Dia juga terlibat dan aktif di komunitas running BR20 Runners yang namanya diambil dari lokasi toko Pot Meets Pop / Vaya Con Dios di Jalan Bahureksa no 20, Bandung. Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan flagship store PMP di Bali dan upcoming collab-nya bersama majalah High Times, JEURNALS berkesempatan untuk ngombrol-ngobrol dengan Henhen. Let’s dive in..

“Tapi brand yang kemaren rame itu kan dia kaya meng-glorify kepalsuan nya dan itu yang menurut gue kurang benar ya hehe. Kalau niru banget kureng lah hahaha. Mun hayang beunghar mah menurut urang ulah didieu industri nya. Mending dagang apa kek atau jadi juragan angkot. Kenapa dia nyemplung di clothing?”

PMP selalu stand out dibanding brand lokal lain karena banyak mengangkat pot-subculture / cannabis culture. Hal-hal menarik apa aja yang lo angkat dari cannabis culture ini?
Emang awalnya kan kita sejujurnya suka sama (culture) itu. Kita pas bikin gak sok-sokan pengen bikin brand dengan nama ini dan paka campaign legalized.. Cuma pure suka aja. Ternyata seiring berjalan waktu si trend legalize marijuana itu berhasil dan proven bukan sekedar mimpi kita. Di US udah legal, Thailand legal. Kita tuh pengen nya jadi platform yang de-stigmatized kalau cannabis itu jelek, karena pemikiran itu sudah tertanam di pemikiran orang Indo. Itu kan pemikiran kolot, yang open-minded sih pasti sadar kalau cannabis itu adalah medis dan industri yang serat nya bagus. Kita ga pengen hard campaign juga cuma message nya seperti itu.

Film Cheech & Chong favorit lo yang mana: Up In Smoke atau Still Smokin? Gimana awalnya lo bisa berkolaborasi dengan para stoner legendaris tersebut?
Yang pertama, yang “Up In Smoke”. Gue nontonin semua tuh pas mau collab, kalau gak salah ada 5 gitu banyak pisan film mereka. Mereka tuh original banget jokes nya. Pada saat itu teh belum ada yang sama sekali mengangkat isu itu, mereka benar-benar pionir aja, ada satir politiknya juga.

Awalnya gue trade-show di Agenda (Las Vegas). Pas balik ke Indo gue sortir kartu-kartu nama yang gue kumpulin pas disana. Gue buka satu-satu websitenya, ada satu kartu nama ternyata dia agen lisensi yang megang banyak artis dan band kaya Blondie, taunya salah satunya ada Cheech & Chong. Kaget gue, jis yang mana orang yang ngasi kartu nama ini, ga inget. Entah gue terlalu “high” atau pas gue ke wc orangnya nitipin kartu nama di booth kita, antara 2 itu lah hahaha..

Hampir ga jadi projek itu karena kita ngajakin conference call tapi mereka old school cuma pengen via email aja, jadi susah dan lost contact akhirnya. Pas tahun berikutnya gue ikut Liberty Fairs Vegas dan gue kontak semua yang di kartu nama itu termasuk salah satunya agen lisensi Cheech itu “eh gue mau kesini, kalian pada kesini ga?”. Dia bilang ga akan dateng cuma jadi ada obrolan untuk continue the project. Cheech & Chong yang bantuin design itu si Molen (Deva States), tapi pakai asset-asset dari sana juga.

“Bodornya tuh ternyata Chong (Cheech & Chong) punya anak dan dia married sama Rahma Azhari. Jadi langsung gue DM mba Rahma Azhari “Mba Rahma gue mau collab sama mertua mba Rahma ya.” hahaha.. “

Rilisnya pas 50th Anniversary ya? Sempat ketemu ga sama mereka?
Harusnya tahun 2020 rilis cuma jadinya dipending 2021, ternyata itu pas dengan 50th Anniversary si Cheech & Chong, jadi pas emang hoki hahaha.. Sekarang kalau si Cheech pake jaket jeans itu pake jaket jeans PMP, dan walaupun gue gak ketemu gue sempat video call sama mereka sebelum mereka photoshoot PMP. Sempat ga boleh photoshoot gara-gara pas covid. Itu sih mastermind project gue. Soalnya gue dulu bikin PMP pas lagi di kamar si Maha kita pas lagi nonton Cheech & Chong, jadi emang roots banget lah. PMP terjadi gara-gara Cheech & Chong. Si Maha dapet buku Spliffs yang ada satu page bertuliskan Pot Meets Pop dan dibawahnya ada Cheech & Chong..

Fun fact: Bodornya tuh ternyata Chong punya anak (managernya) dan dia married sama Rahma Azhari. Jadi langsung gue DM mba Rahma Azhari “Mba Rahma gue mau collab sama mertua mba Rahma ya..” hahaha..

Bagaimana awal mula cerita dari kolaborasi PMP dengan Sublime dan Cypress Hill? Mereka picky ga soal design?
Sublime ribet prosesnya, Cypress juga ribet soal design. Cypress Hill kayanya paling ribet dalam sejarah collab kita haha.. Awal mulanya sih biasa weh kebanyakan begadang pak hehe.. Pandemi tea kan kebanyakan begadang, buka-buka website dan ada juga yang DM. Akhirnya dapet banyak calon collab, akhirnya gue pilih yang ada pot culture nya. Sublime kan “Smoke the Joint” dan Cypress Hill kan emang hiphop cannabis banget.

Cypress ribet, gue submit design di-reject melulu. Apeu kan gue collab sama Cypress cuma rilis 2 design, akhirnya gue fight (biar di-approve) yang 1 design foto B-Real belum pakai kacamata hitam. Gue gatau yang nolak itu licenser nya atau management mereka. Alasan mereka design nya ada yang udah pernah dipakai, padahal gue lihat-lihat gak pernah ada design yang seperti itu. Akhirnya cuma keluar 3 design. Kalau Sublime itu ribet soal logo matahari mereka tidak boleh digabung dengan tulisan Pot Meets Pop. Mereka takut orang nyangkanya Pot Meets Pop jadi slogan barunya Sublime.

Best 5 songs for smokin pot?
-Sublime – Smoke Two Joint
-Cypress – I Want To Get High
-Snoop Dogg. Masuk semua lah lagu-lagu dia haha.. Semuanya kayanya lagu “dur” nya dia..
-The Paps – Sementara. Yang liriknya “Ku Tak Mau Jatuh Cinta..” Hahaha..
-Rub Of Rub – Lepas.

Best food for munchies?
Brownies ice cream, gue lebih ke kue-kue yang munchies-munchies gitu haha. Pisang goreng pake es krim.. Yang gitu-gitu lah haha. Karena next gue di Bali rencana akan bikin PMP MUnchies club di toko gue. Kalo yang asin-asin martabak bisa banget.. Sangu mah nteu sih. Lebih ke snack-snack gitu lah. Indomie juga bisa sih haha..

Lo juga aktif di BR20 Runners. GImana awalnya BR20 mulai aktif?
Awalnya inisiatif anak-anak toko, keren-kerenan biasalah gara-gara Gyakusou. Gue teh baru balik liburan dari Hong-Kong, emang disana juga liat trend lari mulai rame pas 2013, pada pake running shoes dan legging. Terus yaudah gue ikutan lari aja sama anak-anak. Anak-anak yang lain udah ga aktif akhirnya gue yang bantu running IG nya, tapi sekarang gue justru belum lari lagi gue, tapi anak-anak generasi baru yang nerusin.

Menurut lo lari itu meditatif ga? Apa yang lo dapet dari olahraga lari yang ga lo dapet di olahraga lainnya?
Oh iya lari sih meditatif banget buat gue. Emang gue ga demen olahraga sebenernya, paling bola lah cuma itu kan terlalu kompetitif, nanti kalau ga gue nge gol-in ada yang komplen, kalau lari kan kalau capek yaudah tinggal jalan gak ada yang komplen. Tapi lari emang seperti meditasi buat gue, dan itu bisa sambil denger musik atau engga.

Apakah brand Vaya Con Dios lo berhubungan dengan tattoo parlor bernama sama? Kalau iya kenapa berubah dari studio tato menjadi brand?
Ya emang karena gue suka artwork-artwork tattoo, cuma itu kan ga masuk buat PMP. Dan gue punya media itu (Vaya Con Dios) yaudah gue masukin ke situ. Karena gue demen banget FUCT dan reference gue mungkin kesana, tapi style seperti itu ga masuk ke PMP. Kaya kemaren gue ngeliat illustrator si Frelan, urang beuki dan pengen ajak dia kolaborasi, tapi kan ga mungkin gue masukin ke PMP, bisanya dituangin ke Vaya.

Dulu awalnya studio tato di Cipaganti setahun, lalu gue harus pindah karena mau dijual atau apa si Cipaganti nya. Akhirnya nemu Bahureksa satu komplek, Vaya pindah ke situ dan PMP buka disitu. Satu lagi gue sewain ke OBEY dulu. Sekarang studio tato nya udahan, kayanya cuma setahun di Bahureksa, kayanya ga akan gue terusin studio tato sih karena lebih susah ngontrol manusia daripada ngontrol stock barang.

Apa yang membuat lo tertarik untuk membuat sports brand seperti Volt and Fast? Kesulitan mendevelop V&F dibanding PMP apa aja?
Karena gue udah aktif lari waktu itu sama BR20 Runners, gue juga sempet ikut race di Kuala Lumpur. Gue liat ada komunitas disana pada pake topi satu brand, dan gue menyadari kalau bikin topi untuk pelari gampang banget brandingnya. Nah gue jadi tertarik untuk develop brand sport, tapi kan gue gamau nyampurin PMP sama culture running. Gue akhirnya mencetuskan untuk bikin brand streetwear untuk komunitas-komunitas lari, dimulai dari komunitas sendiri.

Develop lebih susah sportswear mungkin ya, karena ada teknologinya. Harus beneran function, kalau dipake race bahaya kalau produknya ga bener, bisa bikin cedera pemakainya. Untuk riset produk yang handle lebih ke partner gue sih.

Mengambil dan menggabungkan referensi dari sana-sini untuk menciptakan entitas baru banyak dilakukan para brand/designer, tetapi banyak juga yang meniru tanpa merubah source referensi-nya. Opini pribadi lo mengenai brand-brand yang “menjiplak/meniru” dan meng-glorifikasi bootleg culture ini gimana?
Yahh niru mah semua juga meniru sih. Diluar negeri juga begitu. Tapi yang kemaren rame itu kan dia kaya meng-glorify kepalsuan nya dan itu yang menurut gue kurang benar ya hehe. Cuman kalau niru banget kureng lah hahaha. Mun hayang beunghar mah menurut urang ulah didieu industri nya. Mending dagang apa kek atau jadi juragan angkot. Kenapa nyemplung di clothing kan? Pasti awalnya lo suka clothing kan, dan di brand lo harus ada pride dan passion nya. Apa yang lo angkat dan banggain kalau sekedar niru mah.

Rapid questions:

–Pot atau Alkohol? Pot!

–Running atau Cycling? Running.

–Gorpcore atau Blokecore? Oh blokecore deh gue..

–Emo atau Reggae? Hahahahah!! Susah nih!. Eh gue nemu tuh ada vokalis di Instagram, dia bikin lagu-lagu emo jadi reggae. Tapi kalau suruh milih, ya gue punk deh hahaha..

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos by Brez

Fahmi adalah salah satu founder Hijack Sandals, yang kini juga sedang fokus mendevelop Akross, brandnya yang lebih versatile. Walaupun produk awal dari Akross adalah footwear, Fahmi tidak ingin Akross dibatasi menjadi brand footwear saja, karena Akross akan bereksperimen dengan bentuk, fungsi dan tentunya menjadi produk all-terrain, sehingga nyaman untuk dipakai jalan-jalan di perkotaan maupun hiking di medan yang sulit. Mari berbincang dengan Fahmi mengenai Akross..

“Gw berharap masing-masing brand bisa punya value unik yang di share..”

Halo Fahmi! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja sekarang di Akross?
Halo Aldy dan team Jeurnals! Baru beres tempur nih hehe Kabar baik, masih ngerjain Hijack dan Akross cuma sekarang memang fokus nya lagi di Akross karena akhirnya baru rilis kemarin setelah bertahun-tahun development. Ada beberapa upcoming collab tahun depan yang lagi kita develop dari material dan campaign nya. Pretty much itu sih yang lagi saya kerjakan di Akross sekarang.

Lo juga salah satu founder Hijack Sandals. Bagaimana transisi lo dari mendevelop sandal ke sepatu all-terrain? Apa ada kesulitan dan cerita unik dari proses ini? Dan kenapa kepikiran untuk membuat brand sepatu baru?
Sebenernya ga terlalu susah ya transisinya karena kita disini basicnya penyuka sneakers dan apapun yang berhubungan sama footwear. Sebenernya Akross dibuat karena ada sebuah keresahan dan ada beberapa material yang ga mendukung untuk footwear all terrain pas lagi ngerjain Hijack. Jadi awal membuat Akross itu dari situ. Saya, Zaky dan team Dash-A Lab (team R&D hijack) ide nya semakin liar, karena kita kurang suka yang standar-standar aja. Jadi semakin menyusahkan diri hahaha. Dan jadilah sepatu Akross tersebut. Tapi proses kreatif dan develop seru-seru aja. Cuma yang sulit ini tuh karena kita biasa main sendal dan baru masuk ke dunia sepatu, jadi kita mulai jadi anak bawang lagi. Tapi ada privilege dari Hijack dimana kita ada link di Jepang dan negara lain, sehingga kita juga bisa menawarkan sister brand kita ke mereka.

Sebenarnya Akross ini bukan brand sepatu, tetapi kita akan eksploratif dan mengeluarkan pendukung-pendukungnya. Bisa jadi apparel dan pendukung lainnya. Tetapi konsep all-terrain kita ya berarti ada untuk perkotaan nya juga. Jadi Akross semakin sini idenya semakin liar dan berkembang, ga cuma sendal sepatu dan outdoor aja.

Akross memiliki tagline #TowardsAllTerrain dan memiliki nama IG Akross.world. Apakah dari awal lo sudah menargetkan kalau sepatu ini harus mendunia? Konsep all terrain yang lo maksud itu seperti apa?
Betul sekali kita sudah langsung menargetkan pasar kita ke dunia karena kita percaya dari apa yang kita lakukan di Hijack bisa kita terapkan juga ke Akross. Dan somehow animo di dunia sudah lumayan ada dan keliatan, terlebih di Jepang, jadi di Maret nanti kita akan coba eksibisi juga. Di website juga kita bikin yang worldwide aja jadi bisa dibeli dimanapun. Dari segi campaign juga akan lebih keluar aja sebenernya.

Konsep all-terrain ini basically apa yang ga bisa di provide oleh Hijack. Karena Hijack ini kan cuma bisa dipake di perkotaan dan paling di curug haha. Kalau si Akross ini bisa dipakai hiking dengan segala material Vibram dan Ortholite yang kita pake. Sangat durable dan bisa diajak hiking dan trekking. Secara campaign kita main banget sih, ga cuma menampilkan hiking tapi ada pemakaian perkotaan nya juga.

Koleksi pertama kalian adalah The Horizon yang menampilkan sepatu Hotaru, Deserted Motel dan Riverbank dan juga turunan sendal nya. Konsep apa saja yang kalian terapkan di The Horizon dan kenapa tetap membuat sendal juga untuk koleksi pertama nya?
Karena memang setelah rilis sandals udah mulai develop sepatu ini, bahkan sebelum rilis sendal nya. Jadi emang ada continuitynya dari campaign sandals itu ke sepatunya. Kenapa bikin sandals? Karena memang source kita itu basicnya sendal jadi rilis sendal dulu. Cuma kedepan nya seperti yang gw bilang tadi Akross akan bikin yang lebih luas lagi, ga cuma sendal dan sepatu.

Top 5 sepatu daily-beater favorit lo apa saja dan kenapa?
Yang pasti Akross enak dipake kemana-mana, tiap hari gw pake. Mau jalan ke mall ato kemana juga bisa.
Nike Blazer dari dulu gue pake sih, karena gw suka yang klasik.
Nike Tailwind juga gue suka karena design klasik nya.
Asics Kayano gue beli pas pandemi ternyata enakeun pisan sampe sekarang kepake.
Clarks yang dikasih pacar hampir tiap hari dipakai, sudah mulai ke post sneakers era jadi yang tadinya pake sneakers sekarang saya mulai pake Clarks hahaha..

Kalian menggunakan Vibram outsole dan Ortholite insole di sepatu-sepatu Akross. Kenapa memilih 2 brand tersebut untuk di aplikasikan di sepatu Akross?
Karena sudah terbukti juga sih, brand-brand panutan kita juga banyak yang pake Vibram dan Ortholite. Dan kita juga udah dapet license nya jadi punya keleluasaan untuk memilih banyak produk Vibram yang ada di market, semua bisa kita pake. Kalau Ortholite jelas perlu untuk mendukung activitynya, kita butuh insole bagus untuk mendukung activity, mereka mengikuti arc support dan kenyamanan itu kuncinya ada di insole.

Pendapat Lo mengenai trend kultur footwear di Indonesia belakangan ini? Apakah lo juga seorang sneakerhead?
Trend footwear di Indo mah ya karena mass media yang sekarang bisa diakses siapapun juga yah. Kalau dulu kan saya cuma bisa baca majalah yang dibawa teman saya dari luar negeri. Sekarang sih resource banyak dan informasi ada dimana-mana. Kultur jaman sekarang sih gue seneng, kaya kemaren ke Jepang juga sudah banyak yang membicarakan footwear lokal disebut. Mungkin semakin banyak brand sepatu, semakin banyak produksian yang bikin juga, gw berharap masing-masing bisa punya value unik yang di share. Gue berharap brand-brand lain juga bisa masuk ke negara luar, karena secara bisnis dan finansial bisa mengembangkan banget brand lo. Gue sih dibilang sneaker head juga engga sih karena gue pake yang klasik-klasik aja dari dulu haha..

Bagaimana awal histori dan konsep dibalik Akross? Kenapa memutuskan untuk terjun juga ke industri footwear dan apa yang membedakan Akross dari brand-brand sejenis lain nya?
Awal histori 2018/2019 gue Zaky dan team Dash-A Lab diskusi dan sudah mulai develop ke arah yang versatile bahkan sebelum trend gorpcore itu beken. Kayanya kita perlu suatu footwear yang lebih versatile dan crossing berbagai activity, Vando dari team Dash-A Lab ngasi Namanya Akross aja pake “K”. Singkat ceritanya itu sih. Diperjalanan Develop nya makin seru dan nemu-nemu juga material yang bagus-bagus. Salah satunya Vibram dan Ortholite. Yang paling spesial ini gue, Zaky dan team lebih leluasa untuk ngedesign. Karena Akross masih baru jadi lebih seperti budak cengos yang bisa ngapain aja, spirit DIY nya masih ada dan liar. Secara planning pun sampai 2 tahun kita sudah ada. Seseru itu lah. Value Akross yang membedakan dari brand lain mungkin lebih versatile dan kelebihan nya pake Vibram dan Ortholite itu. Activity-activity yang nanti akan kita suguhkan juga akan menjadi kejutan lah dan bakal berbeda dari brand-brand lain nya..

Hijack baru saja merilis kolaborasinya dengan salah satu legenda footwear Indonesia; Swallow. Bisa ceritain dikit ga proses dan konsep dibalik kolaborasi ini? Bagaimana pengalaman lo dengan sendal Swallow dari kecil sampai sekarang?
Gagasan dari kolaborasi ini sejujurnya banyak reflek ke kehidupan sehari hari disekitaran kita yang gak pernah lepas dari sendal jepit. Mau ke warung, mesjid, ngambil orderan gofood, kalo jaman saya main boy-boyan sama main bola plastik yang sendal jepitnya bisa berfungsi jadi batas gawang atau jadi “glove” keeper.

Bagi team dari Hijack, ini sebuah pengalaman yang menyenangkan sekali. Karena bisa kerja sama dengan brand yg ada dari kita kecil, tumbuh bareng sampai akhirnya bikin campaign bareng .. buat gua pribadi mah ini project yg soulful banget.

Pertanyaan terakhir: Di usia lo sekarang kalau harus memilih salah satu, apa lo lebih mementingkan looks dari sebuah sepatu atau comfort nya pada saat dipakai?
Di usia gue sekarang itu.. Hmm dua-duanya sih. Karena looks itu sebuah tampilan yang mendukung lo sebagai seseorang. Jadi teu bisa milih. Comfort tapi looksnya butut gw juga gamau. Yang looksnya bagus tapi ga comfort apalagi haha. Buat gw dua-duanya penting euyy. Jadi kumaha tah? Kalo boleh milih di usia sekarang gue lebih wise untuk memilih yang enak dipake jalan.. Tapi looksnya bagus juga hahahah! Lieur ah Dy, geus nya hahaha..

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Fahmi’s & Akross archives

Bongabonga adalah supergroup thrash metal yang terdiri dari Daniel (Darksovls), Welby Cahyadi (Carnivored), Alvin Eka Putra (NOXA), Christopher ‘Coki’ Bollemeyer (NTRL) dan Bonny Sidharta (Eks-Deadsquad). Menariknya, Bongabonga tampil dengan visual yang tidak se-serius band-band thrash metal pada umumnya: kostum warna-warni, balon-balon di panggung dan merchandise yang berwarna cerah. Walaupun mereka tampak bercanda, tetapi kualitas musik para veteran metal ini tidak perlu diragukan lagi. Mari berbincang dengan BongaBonga kenapa T-Shirt merchandise warna hitam mereka hanya rilis setahun sekali…

“Namanya hidup kan dinamis, kadang manusia sering menjilat ludah & meminum air seninya sendiri dengan berbagai macam alasan”

Sebagai band thrash metal, BongaBonga cukup unik karena memakai visual yang warna-warni dan bahkan manggung pun pakai balon. Ini awalnya ide siapa dan kenapa memakai konsep unik ini sampai sekarang?

Bonny: Idenya sebenernya pengen nyari yang seger-seger aja sih, saat band ini kebentuk orang-orang juga lagi pada jenuh, era pandemi, ga ada acara off air, jadi semua promo otomatis cuma lewat sosmed, gimana caranya bisa bikin orang ‘nengok’ salah satunya ya pake konsep warna warni yang kaya sekarang ini. Kalo kita balik lagi ke Thrash Metal era 80an akhir / 90an awal, merch dengan warna-warna cerah selain hitam itu juga gak tabu. Cuma emang di BongaBonga ini sekalian kita mentokin non-hitamnya jadi warna warni… Norak ya norak sekalian, jangan nanggung. Dan yang kerennya sebenarnya… Ternyata semua mau dan setuju keluar dari kebiasaan masing-masing yang selalu berdandan hitam-hitam diatas panggung. Dan sisi baiknya juga, lemari baju gw agak bervariasi sekarang isinya, lebih cerah sedikit.

Daniel: Ide bersama sih tapi biang keladi segala kenorakan ini ya Boni. Yang paling ajaib secara visual di antara kita juga Boni. Kalo gw sih pengennya bikin panggung perpaduan Flaming Lips, Gorillaz dan Chemical Brothers tapi dananya belum ada nih hahaha.

Untuk departemen lirik, lirik-lirik kalian lebih menyerupai crust punk, D-beat dan power violence ya daripada thrash metal pada umum nya? Siapa aja influence Daniel dalam menulis lirik dan tema-tema apa yang selalu lo angkat?

Daniel: waktu penggarapan album bonga gw lagi banyak dengerin lagi band” kaya anticimex,wolfbrigade,tragedy,victims,charles bronson,propagandhi ,the virus,dishammer,disfear , discharge , disrupt dan band” “dis” laenya hahaha. Temanya lebih ke sosial politik sih kalo disini sama gw jg mengcapture fenomena” yang terjadi di dunia nyata dan dunia maya, karna pas penggarapan album pandemi masih edan . Influens untuk bonga gw kasih yg lokal aja kali ya karna gw nulis liriknya jg bahasa indonesia jg: ari ernesto ( domestik doktrin, hark! ) , ndaru widodo ( thrashline,betrayer ) kuki( sexy pig), Bembi (Anjing Tanah), otong koil,harry roesly ,dedy stanzah ,doel soembang .

Untuk para gitaris, bagaimana tips & tricks membuat solo gitar metal yang tidak membosankan dan tetap catchy? Bagaimana pendapat kalian mengenai band-band yang solo gitarnya hampir 2 menitan?

Welby: Yang solo Om Coki, gw gonjrang gonjreng doang hahaha, kalo pendapat gw untuk band yg bisa solo 2 menit itu hebat banget, soalnya gw gak bisa, dan gak tertarik buat bisa juga sih.

Daniel: kayanya Coki lagi sibuk maen game jadi ga bisa jawab sesi ini.

Album-album thrash metal favorit para personil apa saja dan kenapa?

Daniel: – slayer : south of heaven , reign in blood memang intens tapi SOH seperti roller coaster dan lebih dinamis
– Sepultura : beneath the remains , album paling harmonis nan sinis .

Bonny: karna gw abg di era ini,agak banyak yg gw dengerin, ini yg bener2 gw dengerin saat itu dan gw suka banget………….SLAYER : Season in the abyss….. harmony dan lirik2nya yg gelap . TESTAMENT: Practice what u preach, seinget gw ini album thrash pertama yg bisa gw cerna saat itu, gw denger pas kelas 6 SD, Nuclear Assault: Handle with care, pas smp album ini hampir setiap hari gw puter. SEPULTURA: Beneath the Remains…pertama kalinya dipegang Scott Burns, sound sama produksi lagunya meningkat jauh dr album Morbid vision dan Schizophrenia. KREATOR: Extreme Aggression….album thrash yg almost perfect buat gw pribadi.ANTHRAX: Among the Living…hampir smua lagunya anthemic banget. METALLICA: ini standart, Master of Puppets…..dan gara2 Cliff Burton gw jadi pengen maen Bass.

Kalian semua punya band lain selain BongaBonga, bagaimana kalian mengatur waktu, mana yang menjadi prioritas dan bagaimana kalian menghafal lagu-lagu dari semua band kalian? Hahaha..

Daniel: ini nih yg kadang jadi masalah gw haaha kalo dah nulis lirik di atas 60 judul ( di gabung sama band” gw yang lama ya ) kadang suka lupa kalo kelamaan ga di bawain.

Intinya dulu”an jadwal masuk aja, kalo ada yg bentrok dan ga memungkinkan ikut ya tinggal pake stuntman / additional.

Awalnya kan nama band kalian Bonga Bonga Atau Party. Memangnya arti dari Bonga Bonga Atau Party itu apa? Lalu di tahun 2023 ini party terbaik menurut definisi masing-masing personil itu party yang seperti apa?

Bonny: nama band dari awal itu emang BONGABONGA, cuman waktu kita mau bikin akun instagram nama itu udah gak available, jadilah cari2 yg available….kalo tambahan “atau party” nya itu plesetan dari “atau mati” dan ternyata ada, sementara Boongabonga dalam Bahasa Bugis itu artinya bersenang2…yaudah, cocok, jadi Bongabonga atau party itu cuma nama akun di IG aja, nama band ya tetep dan selalu BONGABONGA.

Daniel: duh sejak punya anak gw dah jarang party euy hahaha . Kalo dulu sebelum jadi ayah party yg gw demen sampe hang over the hang. Sampe mati lampu. Under subconcious state .

Menurut gosip kalian cuma membikin merch kaos hitam setahun sekali saja. Kenapa itu? Bukankah merch musik metal lebih identik dan lebih laku kalau warna hitam? Walaupun menurut kita BongaBonga itu keren karena berani merilis merch dengan warna-warna yang nyeleneh dan tetap laku..

Daniel: gw kan porsinya disini paling banyak ngurusin merch & jualan merch juga . gw tau banget kalo paling gampang tuh jual kaos warna item. Tapi di bonga kita bosen sama warna item karna band” kita yang lain & yang dulu kalo bikin kaos 90% warnanya item. Akhirnya pertama kali bikin kaos kita warna kuning , gokil jg ternyata ampir 500 kaos ludes ( ampe ada bajakanya kaos warna item hahaha ) . Ekspetasi kita saat itu kalo kaos kuning mah paling laku 100-150an jadi kita buka PO via WA . Sampe akhirnya kita nyerah dan memutuskan bikin akun tokped hahaha.

Ya waktu itu kita iseng karna banyak yang nanyain kaos warna item di ig, akhirnya kita asal aja ngetik kalo mau lisensi kaos warna item harus 1000 pieces , eh akhirnya harry bronx oblivion berani ngelisensi haha. Kalo ga ada yg lisensi paling kita sendiri yang rilis . Kaos yang parodi desain wanpis emang so far rekor sih, band sendiri cetak versi kaos berwarna ampir 500 kaos . Untuk ukuran band baru mayanlah bisa jualan quantity segitu.

Bonny: Soal merch warna hitam kita rilis staun sekali udah dijelasin sama Danil. Gw cuma mau nambahin knapa kita tetap konsisten untuk rilis merch dengan warna2 norak sampe yg tiedye, karna ini emang konsep yg kita bikin sendiri sedari awal. Harus bisa konsisten walopun godaan tawaran kerjasama selalu ada aja untuk bikin merch hitam. Penampilan luar boleh warnawarni, tapi didalam tetep gelap gulita. 🤘🤘🤘 (gw)

Bagaimana proses penulisan lagu di band kalian? Apakah jamming, kirim-kirm file atau workshop?

Daniel: Kalo album pertama prosesnya ga jamming karna kan di garap pas pandemi. Welby tinggalnya di lampung , yang lain di jakarta & tangsel , jadi ya kirim”an file aja via grup wa. Karna kita semua dah pernah ngeband bareng jadi prosesnya cepet & ga perlu latian sebelum rekaman album. Percaya aja sama isian masing” personil.

Btw kita sekarang udah masuk proses rekaman lagi, tapi belum tau muaranya bakal jadi album , EP ato album kolaborasi . Materinya sih udah ada 8 lagu . Walaupun udah ga pandemi prosesnya masih sama hahaha . Jadi kita workshopnya sambil nongkrong bukan jamming di studio. Misalnya gini : ” tar lagu 1 rada heavy metal masukin riff ala maiden campur butcher yah , lagu 2 masukin unsur HC kaya drain ,biohazard, cross over ala lee way campur obituary blablabla. Musik dasarnya tetep welby yang buat sama kaya album 1.

Apakah kalian pernah berhenti mendengarkan suatu band atau musisi karena sifat politikal / personal mereka kurang tepat? Misal Morissey kemaren sedang ramai karena pro-Israel atau vokalis As I Lay Dying yang membunuh istrinya..

Daniel: hmmm kalo gw biasanya berenti dengerin band itu kalo personil fave gw di band itu di ganti entah itu karna keluar / mati. Contohnya gw berenti dengerin semua lagu alice in chains pasca lane staley mati. Gw dah ga terlalu dengerin dying fetus sejak jason netherton cabut dan bikin misery index. Gw berenti dengerin album” slipknot pasca joy jordison di pecat. Gw denger sepultura cuma era Max doang.

Kalo moz album yg terakhir gw dengerin secara penuh tuh ring leader of tormentor. Setelah itu gw dah ga masuk / kena sama lagu barunya dan kalo mengenai kontroversi moz sih gw ga heran dan dah bisa nebak dari dulu, dia emang orang yg ruwet , ribet ,kalo gw baca dari beberapa bukunya & nonton documenternya.

Sejak doi pro “monarki” aja gw dah males , tapi ya namanya hidup kan dinamis kadang manusia sering menjilat ludah & meminum air seninya sendiri dengan berbagai macam alasan. Anggep aja lirik moz yg dulu itu bagian dari dirinya yang dulu . moz yg sekarang dah ga keren di mata gw pribadi secara karya , image & attitude jd ya gw dah ga dengerin lagu” pasca album ring leader. Mungkin titik puncak kreativitas doi mentok pas album you’re the quary.

Pertanyaan terakhir: Kuliner favorit BongaBonga apa saja kalau sedang ngumpul atau beres manggung? Riders kalian yang paling unik minta makanan / minuman apa aja?

Daniel: kita semua doyan banget babi,tapi ya beli sendiri pas lg ngumpul / workshop biasanya. Babi sih ga masuk riders,Ga mau ngeribetin panitia juga soalnya. Minuman mah standar lah kopi , beer , whisky. Tapi seringnya miras kita beli sendiri pake duit kas . Yang rada ribet di bonga tuh paling di props kalo mau manggung. Kita kadang lebih mikirin props di banding setlist . Kalo sound kita percaya sama crew kita, kita band yg males soncek 🤣.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by @111th

Aksara Records sudah merilis berbagai album klasik dan sudah tentu menambah warna ranah musik Indonesia. Sebut saja album-album seperti Sore – Centralismo (2005) & Ports of Lima (2008), White Shoes And The Couples Company – S/T (2005), The Adams – S/T (2005) & V2.05 (2007), Efek Rumah Kaca – Kamar Gelap (2008) dan yang terbaru Bilal Indrajaya – Nelangsa Pasar Turi (2013). Aksara Records juga cukup meledak dengan kompilasi JKT: SKRNG dan OST Janji Joni. Tetapi ada satu orang dibalik Aksara yang jarang tersorot oleh media. Mari berbincang dengan Hanin tentang all things about Aksara Records.

“Kata-kata indie label juga sudah bisa dibilang punah”

Halo Hanin, apa kabar? Bisa ceritakan sedikit ga tentang history awal lo bikin Aksara sama David Tarigan dulu sampai sekarang ini Aksara “comeback” untuk pembaca yang masih awam?
Dulu gue punya studio di Brawijaya, lalu gue diajak sama partner gue di Aksara dia mau buka toko buku. Terus gue disuruh manage toko musiknya. Jadi dia minta input-input gue. Orang yang pertama kali gue hire adalah Kumyka dan David Tarigan. Pas lagi jalan David ngasih tau ada band-band baru yang keren dan gue nonton kaya The Brandals, The Upstairs dan mulailah kita bikin-bikin acara di Aksara, Sore dan Mocca main. Lagipula kita juga banyak menjualnya yang rilisan indie-indie aja. Dari situlah kita mulai menciptakan ruang dan komunitas. Kita juga surprise bisa jualan album segitu banyak.

Mengapa kita comeback? Yang pertama kita lihat itu infrastrukturnya sudah jalan buat industri musik. Dan saya liat anak-anak millenial dan gen-z pada cinta sama musik Indonesia ga kaya jaman gue dulu tuh kebanyakan doyan nya hanya international bands. Karena itu kita kangen juga untuk buka Aksara Records lagi. Dan ada beberapa partner baru juga. Pertama Kali sih yang ketuk-ketuk pintu saya itu adalah Ario Kurosuke. Lalu kita bikin event di The Dutch, manggil band-band indie generasi berikutnya kaya Elephant Kind. Jadi intinya kita pengen bikin lagi Aksara seperti dulu dengan spirit yang baru.

Aksara Records lahir setelah Aksara Bookstore, dan memang musik dan buku yang disajikan di toko Aksara itu sangat well-curated, sampai ke display dan background music yang dimainkan di toko. Sebenarnya apakah lo hanya mempercayai taste lo untuk mengkurasi ataukah sedikit mengikuti pasar dunia juga pada saat itu?
Aksara Records sekarang itu.. Gue juga baru sadar ternyata Aksara itu namanya masih ada. Logo juga kita perbaharui karena kita perlu nafas baru. Aksara yang lama juga kita bebas aja sih yang penting lagu-lagunya bisa didengar sama semua. It’s all about the songs, masalah genre lo reggae atau metal kita terima. Intinya you have to sell your products. Bilal aja beda sound nya sama yang lain. Kurosuke pun berbeda. Cuma lagunya itu bagus, liriknya bagus, sangat melodius, dan sangat bisa dijual. Itu yang paling penting.

Mengutip Nick Hornby di High Fidelity; “What really matters is what you like, not what you are like… Books, records, films – these things matter.” Karena lo terlibat di Aksara yang meliputi records dan bookstore, menurut lo seberapa penting peran buku, film dan album musik itu di dalam hidup seseorang?
Buat gue penting banget itu semua: musik, buku dan film. Everything is related and it says a lot about you. Itu semua membuka cakrawala di sekelilingmu. Apa yang terjadi diluar sana. Sekarang lebih gampang lagi, internet udah kenceng bro. Informasi bisa didapat dengan mudah. Buat gue kita bisa relate lebih dengan informasi-informasi yang didapat dari semua itu (buku, film, musik, dll).

Memang sulit untuk memilih, tapi apa aja top 6 Rilisan Aksara yang menjadi personal favorites lo?
1. Sore – Centralismo (2005)
2. Sore – Ports of Lima (2008)
3. WSATCC – S/T (2005)
4. Bilal Indrajaya – Nelangsa Pasar Turi (2013)
5. The Adams – S/T (2005)
6. The Adams – V2.05 (2007)

Di pandangan lo, record label seharusnya lebih fokus ke produksi dan distribusi album atau harus juga mencakup artist management dan Event Organizer?
Ini agak sulit. Kalau kita sih ingin membuat “keluarga”. Kita punya spirit yang sama dengan roster band kita, we sound the same, sama-sama melawan pasar dan we support each other. Kata-kata indie label juga sudah bisa dibilang punah. Band-band kaya Sore dan White Shoes udah menjadi mainstream, udah ga ada bedanya gitu, cuma bagus dan tidak bagus paling sekarang ukuran nya. Menurut saya label itu harus komplit, yang pasti events harus dikerjakan karena itu main revenue, merchandise itu nomer 2, dan music is basically the marketing tool to sell the artist. Tapi kan sekarang paling banyak dari online jadi bisa dibilang ada mundurnya juga. Apakah kita harus punya event organizer sendiri sebagai label? Ya. Jadi Aksara itu dibagi 3 departemen: Label dikepalain sama Ario, event yang dikelola saya dan merchandise di handle partner kita Caca. Kita baru launch merch baru di Brightspot dimana pendekatan nya lebih ke fashion label. Sampai ada korek dan lain-lain.

Kompilasi JKT: SKRG yang dirilis pada tahun 2004 mungkin adalah salah satu benchmark penting di pemetaan musik independen Indonesia. Bisa elaborasi sedikit mengenai konsep kompilasi dan sedikit field notes cerita-cerita unik pada saat penggarapan nya?
Ini sangat penting karena kompilasi JKT SKRG adalah dokumentasi scene Jakarta pada saat itu. Kita dokumentasikan dalam bentuk sebuah kompilasi, dan menawarkan band-band keren ini ke masyarakat yang lebih luas lagi. Apalagi live nya, band-band ini lo harus liat live nya. Pada momen itu kita dianggap gila. Lalu kita launch di Citos yang notabene adalah tempat mainstream. Semua band main 3 lagu dan the rest is history. Lalu band-band di kompilasi itu ditarik Nia Dinata untuk soundtrack film Janji Joni. Akhirnya meledak lah band-band dan artist-artist tersebut yang terlibat di film itu. David Tarigan sebagai A&R yang mengkurasi kompilasi itu, ada lagu yang dipilih dan sudah jadi, lalu ada yang khusus beberapa band merekam lagu baru juga. It’s the most fun process, karena itu adalah album kompilasi pertama yang kita bikin.

Pada saat Aksara digandeng oleh Nia Dinata untuk menggarap dan mengkurasi Soundtrack film Janji Joni, apa aja konsep awal yang terlintas di benak lo untuk soundtrack film remaja? Dan bagaimana reaksi publik pada saat itu?
Basically Nia Dinata datang ke toko Aksara Kemang, kebetulan ada saya, “Darimana teteh?”. Dia bilang mau bikin filmnya Joko Anwar cuma lagunya ga ada yang cocok dengan nafas filmnya. Film anak muda dan kebetulan nama karakternya Joni. Aku tawarkan dia untuk dengerin kompilasi JKT SKRG. Lalu dia nelfon gue dan mau, apalagi si TDS nyanyi lagu Johnny in my Head dan langsung dipake jadi theme song nya Janji Joni. Nafasnya juga cocok banget sama filmnya, dimana film itu adalah potret keadaan Jakarta dan anak muda pada saat iu.

Aksara comeback dengan merilis koleksi 2004-SKRG yang meliputi beberapa artikel fashion yang juga berhubungan dengan Bilal Indrajaya dan Kurosuke sebagai roster terbarunya. Bisa ceritakan sedikit mengenai penggarapan koleksi ini dari segi konsep, design dan timing release nya?
Sebenarnya itu 2004-SKRG itu adalah design dan konsep dari Caca dan new partners kita, Fahmi. Fahmi lebih tau prosesnya jadi kalau mau sih bisa tanya dia juga. I think he does a good job using that name for the collection. Koleksi itu menceritakan perjalanan Aksara Records dari awal sampai sekarang. Kalau merch yang sekarang itu lebih kita treat sebagai fashion label daripada daripada sebagai merch musik biasa. Partner-partner saya Caca dan Fahmi juga background fashion nya sudah cukup malang-melintang, juga berpengalaman. I trust their fashion taste and designs. I’m very pleased to see their collection, and hope to see more.

Roster Aksara yang legendaris dari WSATCC, The Adams, The Upstairs, Sore, Goodnight Electric sampai Efek Rumah Kaca secara tidak langsung membentuk selera pasar musik independen di Indonesia. Apa yang ingin lo tambah untuk khasanah musik Indonesia ke depan nya dengan Aksara Records?
Basically thank you banget kita bisa dibilang membentuk selera pasar musik independen Indonesia. We we’re at the right time, memang pada saat itu musik dan band-band lagi pada keren semua. Sekarang juga lagi banyak banget band-band keren di Indo. We try to bring the best songwriters yang bisa produksi musik yang bagus, band yang solid dan visual yang bagus. Itu rumus yang biasa kita pake sih. Semoga kita bisa memberi warna baru untuk pemetaan musik Indonesia. Label-label baru keren banget, band-band baru bermunculan sampai jadi kover NME. Dari dulu itu yang kita paling senang adalah memproduce musik-musik yang kita sukai. Kita hanya mencoba memproduce satu-satu dan berproses dari hari ke hari, semoga bisa diterima di pasar Indonesia, itu ajd udah cukup ga muluk-muluk.

Di era kontemporer ini, apakah menurut lo diskursus mengenai genre dan indie label / major label masih relevan? Bisa elaborasi mengenai ini?
Emang udah ga perlu lagi ada pelabelan indie dan non-indie. Sekarang ini basically we’re all the same lah. There’s enough pie for everyone, musik Indonesia itu banyak, informasi cukup cepat dan gampang di era internet ini. Indie label atau major label sama aja sih seharusnya sekarang kalau menurut gue. Independen itu kasarnya ga ada aturan, there’s no rules yang harus diikuti. Mungkin juga seharusnya mainstream label harus lebih hati-hati apalagi yang internasional, tanggung jawab nya besar untuk mendapat target sales yang cukup besar. Kalau kita memang ada target dan angka juga, cuma kita lebih relax dari mereka secara operasional.

Pertanyaan terakhir: apakah menurut record label masih relevan di era dimana bedroom musicians bisa merilis karyanya sendiri di layanan streaming? Ataukah rilisan fisik tetap harus menjadi budaya utama dalam mengkonsumsi musik?
Bener-bener, emang sebenernya label itu udah ga relevan lagi sih. But what we’re trying to do and miss so much is basically helping bands and artist yang perlu producer / executive producer yang bisa sejalan ama label kita secara warna, ada benang merahnya. What we’re trying to do is to make families, have fun together, make music, maybe tour together. Itu sih yang missing dari aksara records dulu yang kita rasakan, proud to be in a label. Ga muluk-muluk sih. I know what you mean, Semua orang kalo punya gitar dan tempat recording dan komputer sendiri bisa langsung masuk ke Spotify sih. Tapi kita coba menawarkan sebuah payung dan sebuah rumah so we can create things together and just have fun and hang out together. We’ll just have fun basically.

We have two event IP’s, satu international, satu sama Lamunai namanya Plug & Play, satu lagi Sunday Music Club, partner kita Cork & Screw Senayan. Bawa artist internasional setiap tahunnya. So that’s about it, that’s Aksara Records for you. Semoga cukup penenarangan nya ini semua hahaha..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Hanin / Aksara’s Archives

Abigail sebagai brand lumayan mencuri perhatian; grafis-grafis dan estetika visual mereka yang dekat dengan subkultur film horror cukup stand-out dimana brand-brand seangkatan mereka masih sibuk mengangkat estetika Y2K. Ternyata kecintaan Gilang (Founder & Creative director Abigail) terhadap sinema horror cukup mempengaruhi output visual Abigail yang dark dan lekat dengan referensi-referensi film horror klasik. Mari berbincang dengan Gilang mengenai film-film horror A24, launching di bioskop dan kolaborasi upcoming Abigail dengan Bharata Dhanu dan Dwiky KA…

Koleksi terbaru lo “Serial Killer” terinspirasi dari film horror klasik. Kenapa memilih tema ini untuk sebuah koleksi? Dan kenapa memilih film-film seperti Hannibal, Texas Chainsaw dan American Psycho?
Kenapa banyak nya film klasik karena banyak estetika di scene pada film-film tersebut yang bisa gue tangkep dan jadi banyak referensi yang sekiranya bagus untuk dijadikan design produk.

Team Jeurnals sempat menghadiri invitation launching produk Abigail yang dilakukan di sebuah bioskop. Kalian memutar video lookbook koleksi terbaru sebelum memutarkan film Exorcist: The Believer. Kenapa harus di bioskop, tanggal 13 Oktober dan kenapa harus film Exorcist?
Kenapa menayangkan campaign di bioskop karena gue sadar abigail itu brand yang belum seberapa untuk dibawa ke dunia kalian, makanya kalian aja yang kita bawa ke dunia kita. Supaya bisa merasakan experience, memahami, dan mengerti dengan apa kami buat.
Film The Exorcist mungkin salah satu referensi buat design-design kita di season baru, jadi kita mau berbagi referensi aja sama audience kita.

Lalu, film-film horror favorit lo apa saja? Dan kenapa?
Gue akhir-akhir ini lagi seneng film-film nya A24, karena mereka bisa bikin film horror dengan perspektif lain dan buat gue itu ‘mind fuck’.

Konsep dan awal histori Abigail itu gimana sih? Kenapa tercetus ide untuk membuat brand dengan tema-tema yang cukup dark?
Gue pribadi memang hobi nonton film-film horror dan thriller, selain itu gue juga suka dengan design poster karena gue dulu kuliah jurusan seni rupa & design. Awalnya gue sering bikin design dan artwork untuk cover album dan merchandise band-band lokal, lama-lama gue belajar tentang produksi dan tercetus untuk bikin brand sendiri yang didasari dari apa yang gue suka aja sampai sekarang.

Fashion selalu beririsan dengan musik. Band-band dan subgenre apa aja yang menginspirasi lo saat mendesain atau membuat sebuah konsep untuk Abigail?
Kalau untuk grafis nya sih ada beberapa yang terinspirasi dari lyric, artwork cover album, dan merchandise band-band heavy metal, hardcore, post-punk, black metal, post-rock, soft grunge, noir jazz, new wave, shoegaze etc. Tapi kalo untuk fashion nya justru malah bukan dari sub-genre2 barusan hehehe.

Kalau lo boleh memilh konsumen brand lo, lo pengen Abigail dipakai dan dibeli oleh tipe-tipe pembeli yang seperti apa sih? (style nya, tipe musik yang didengarkan, etc)
Kalau boleh millih sih : muda, casual, mengikuti perkembangan, kalo tipe musik yang didengarkan sih kita bebas bebas aja.

Toko kalian yang di Hallway Space cukup menarik perhatian secara display, dan kalian juga pernah membuat fashion show di Hallway Space. Kenapa memilih Hallway untuk beroperasi dan menurut kalian apa yang harus terus dilakukan para brand agar toko tetap ramai dan tidak kalah oleh online?
Kita bikin aktivasi-aktivasi di Hallway point nya untuk meningkatkan traffic toko kita juga supaya banyak pengunjung. Kalo menurut kita sih karena ‘online shopping’ itu gak akan selamanya, kita banyakin content-content di socmed yang mengarahkan konsumen kita buat belanja langsung ke toko, juga banyakin benefit lain yang gak bisa mereka dapetin di online. Contoh kecilnya kita di toko jual poster yang ga dijual di online.

Kalian pernah berkolaborasi dengan Keek Media. Bisa ceritakan sedikit mengenai konsep kolaborasi itu? Dan kedepan nya Abigail ingin berkolaborasi dengan siapa saja?
Basic nya sebetulnya karena pertemanan aja, lalu kita bikin satu design yang mewakili 2 identity. Kita lagi ada kolaborasi dengan artisan sepatu boots untuk season depan, lalu 2024 ada kolaborasi juga bersama Vicious Pain dengan mengajak 2 artist lokal yaitu Bharata Dhanu dan Dwiky KA.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Gilang’s Archives

Saleh Husein yang lebih dikenal dengan panggilan Ale adalah gitaris dari White Shoes & The Couples Company dan juga The Adams. Permainan gitar Ale sangat versatile: dia bisa memainkan riff-riff power pop di The Adams tetapi bisa juga bermain lead melodius dengan progresi chords yang sedikit jazzy/bossanova di WSATCC. Mari berbincang dengan musisi veteran ini mengenai manggung 5 kali dalam sehari, kesibukan baru nya di Bakmie Sedjuk dan lupa chord saat manggung…

*Sesi interview dilakukan pada tanggal 19 Oktober 2023.

“Gue pernah dalam 1 hari itu manggung 5 kali hahaha..”

Ale, dengan banyaknya lagu White Shoes dan The Adams, bagaimana sih lo bisa menghafal riff-riff gitar dan melodi dari setlist kedua band tersebut? Apalagi keduanya mempunyai jadwal panggung yang cukup padat
Yang pasti sih kita kalau latihan pakai setlist, tapi kalau ngomong lupa udah pasti lupa gue hahaha. Lebih sering sih lupa White Shoes. Gue kadang bingung ini lagu yang mana ya? Siapa dulu yang mulai ya? Ada beberapa lagu yang jarang dibawain tiba-tiba ada di setlist. Tapi begitu kita main udah aman sampe belakang. Tapi ada momen dimana gue nge-blank pas harus nge lead. Ya gue sih cuek aja jadi improvisasi aja. Kadang nge blank kadang gue juga suka pengen jahil, misal gue pengen bedain lead nya nih.. Karena ini part nya part gue selama bar nya sama ya menurut gue ga ada masalah. Apalagi di lagu white shoes di part yang agak jazzy suka gue mainin dengan lead yang lain, biasanya mereka nengok aja bingung haha.. Tiba-tiba ada juga sih momen gue ngeblank pas nyanyi harus teriak tiba-tiba bingung abis ini part yang mana ya?? Terutama di The Adams ini.. Hahaha..

Memang lagu kita banyak, WSATCC dan The Adams sama-sama punya 3 album, The Adams itu punya EP 1 atau 2 kalau ga salah. Lebih banyak White Shoes, 3 album tapi EP nya banyak.. Gue pernah mainin 32 lagu di konser White Shoes, dan itu belum semua lagu haha..

Membicarakan jadwal panggung, bagaimana jika jadwal White Shoes dan The Adams bentrok?
Kalau bentrok sudah pasti sering karena 2 band itu udah jadi high demand di acara-acara. Kalau kasusnya hari yang sama tapi kota nya sama masih bisa kita crack masalah itu. Gue pernah dalam 1 hari itu main 5 kali hahaha.. Ada yang di Bekasi, sisanya di Jakarta. Kalau bentrok nya di luar kota biasanya siapa dulu nih yang di booking duluan. Misalnya Adams dapet tawaran duluan, langsung info ke White Shoes atau kebalikannya. Dan informasi antar 2 band ini yang ngatur Adit dan Dindin. Mereka berdua yang koordinasi untuk ngomongin jadwal. Atau kalau sepanggung bareng kita bisa ngatur crew nya biar sama, ngegabungin team. Kalau memang udah bentrok dan jadwal udah diambil dan misal gue ada pameran di luar negeri atau apa ya mau ga mau digantiin. Kalau di White Shoes suka dibantu Hans, atau gitar gue dibantu sama flute namanya Hari dia yang mainin flute untuk gantiin lead-lead gitar gue. Kalau di Adamas biasa diganti Vega Antares. Kadang kaya kemaren gue ga ada jadinya Pandu main gitar dan kita nyari bassist. Karena part gitar gue lumayan nyebelin dan sibuk harus sambil nyanyi hehe..

Denger-denger lo juga ada kesibukan baru dengan Bakmi Sedjuk ya Le? Gimana tuh ceritanya?
Awalnya sesederhana sih, gue diundang jadi salah satu narasumber podcast mereka. Lalu salah satu chief nya yang bernama Igor ngajak ngobrol gue dan kita jadi intens komunikasi. Sedjuk itu dibawah SMN (Sedjuk Media Network), dimana disitu ada designer, programmer, anak muda semua. Temen-temen ini butuh programming dan creative speciality di setiap outlet Sedjuk. Nah Igor ngajakin gue buat bantuin di SMN. Nah gue kan hampir ga bisa nolak kalau ada orang minta bantuan sama gue. Menurut gue SMN itu seperti sebuah agency dimana klien nya itu si Sedjuk. Dan tidak menutup kemungkinan si SMN ini bisa mengambil kerjaan diluar Sedjuk, karena team nya banyak. Lalu kita meeting dan pengen dengerin pandangan-pandangan mereka. Jadinya gue jadi think-thank lah di wilayah kreatif yang termasuk programming. Buat gue kalau di industri kreatif atau sekumpulan kolektif itu memang teman-teman perlu banyak main. Main itu kan secara fisik nongkrong atau nonton acara. Tapi perlu diajak “main” juga biar teman-teman ini berfikir. Ini yang sejauh ini lagi gue built di SMN.

The Adams saat manggung itu set panggung nya tidak berisik: Kalian tidak menggunakan ampli, pakai drum elektrik dan menggunakan in ear monitor. Gimana tuh teknis nya dan ngulik nya berapa lama? Apakah memangkas waktu check sound?
Karena di The Adams itu ada Ario yang punya kesadaran yang lebih terhadap sound. Dia mikir kalau kita pake floor monitor wedges di panggung sanget apalagi di tempat kecil, suara gitar gue bakal kenceng dan bisa berbalik ke backdrop dan penonton. “Gimana kalau kita pakai in-ear monitor?” Awalnya gue banget yang nolak, ah ga asik pasti ga bisa komunikasi sama penonton. Ternyata bisa aja kalau ada mic todong ke penonton, jadi gue ga ngerasa pake in-ear monitor. Akhirnya semua monitor wedges dan ampli panggung gak kepake, tinggal drum nih masih berisik. Soalnya drum akustik. Akhirnya kita pake drum elektrik, taunya kita nemu drum elektrik dengan bentuk drum akustik. Jadi kalau lo liat Adams manggung ya kaya pake drum akustik aja. Ternyata drum roland ini pernah dipake drummer nya Slipknot hahaha.. Kaya waktu itu Firman (TDS) dan Khemod (Seringai) nonton kita dari backstage dan mereka kaget “Anjir ga ada suara apa-apa gini di panggung cuma kletak-kletok” hahahha.. Dan teknisnya tuh tiap personil ngatur in-ear monitornya masing-masing pakai hp.

Awalnya belanjaan alat memang banyak tapi biasalah ngutang-ngutang hahahaha! Selama kita masih seneng dengan upgrade, terlepas dari membuat lagu, si The Adams ini bagusnya secara individual semua pengen nge-enhance performance lo. Kita juga punya mixer monitor dan FOH yang kecil. Anak-anak The Sigit juga sempet nawar mixer kita kalau dijual hahaha.. Kare secara audio ini outputnya aman dan bagus banget. Mau venue seperti apapun ya tetap aman. Kita pengen nya panggung clean aja ga ada ampli, wedges dan itu ga ada masalah. Check Sound jadi lebih cepet. Semua di wrapping dan bubar. Jadi di semua acara kita cuma minjem panggung dan speaker output. Sisanya semua sistem dari kita. Dan sistem ini juga bukan sistem yang mahal, jadi kita selalu cari posibilitas yang lain. Anak-anak tuh ngulik yang gini-gini jadi audio nya jadi bagus juga.

Sebagai seorang gitaris, top 5 pedal efek favorit lo apa aja dan kenapa?
Sekarang ini sih apa ya? Gue pake Line 6 Helix untuk pre-amp. Enak banget ini sound nya padahal efek digital. Tapi kalau mau sih gue pengen Fractal FM5 haha. Pernah pas rekaman dipinjemin Kemper tapi gue gasuka bentuk dan suaranya. Mau nambah lagi nanti mungkin dan bakal ditaro di mixer monitor nantinya. Biasanya gue minta tolong Ario settingin hahaha. Lalu pake Proco Rat. Dia punya suara kotor yang oke buat gue, gak terlalu digital dan ada fuzzynya, walaupun ga se fuzzy Big Muff. Karena diskusinya di The Adams antara gitar sama gitar harus saling melengkapi, dan warna nya harus lain. Otomatis pedalnya harus beda. Ada satu lagi gue pake Ibanez Tubescreamer 808. TS ini selalu ada disetiap lagu rock dan metal dari jaman dulu. Gue pake di lagu pelan kaya “Timur” atau “Hanya Kau” biar ada crank nya dikit ga clean-clean banget. Boss Space Echo RE-202 menarik sih. Bisa ngasi ruang, dia itu digital tapi juga analog katanya. Satu lagi Boss Metalzone aja deh hahaha! Favorit gue banget tuh walaupun bunyinya begitu.. Hampir semua anak band pasti semua pernah nyobain metalzone. Tapi gatau ya anak sekarang. Tapi di era ‘90an ‘2000an tuh metalzone pasti ada di setiap rental studio hahaha. Dan kepake banget. Apalagi di jaman Saparua dulu lo ga bawa metalzone salah masuk acara tuh hahaha..

Kecintaan lo terhadap lagu-lagu Indonesia tentunya sangat besar mengingat The Adams dan WSATCC menggunakan lirik berbahasa ibu. Lagu-lagu Indonesia favorit lo apa aja sih?
“Pemuda”-nya Chaseiro. Terus Margie Segers yang “Semua Bisa Bilang”. “Badai Pasti Berlalu” udah pasti lah, dan banyak nya sih yang kece-kece soundtrack film-film Indonesia jaman dulu. Bukan sound design ya tapi yang lebih ke scoring..

Sebagai musisi yang cukup veteran, apa menurut lo iklim bermusik sekarang berubah dengan adanya Tik Tok, marketing Social Media dan banyaknya strategi yang dilakukan band-band baru yang mungkin dulu tidak dilakukan musisi-musisi generasi lo?
Hmm.. Tapi jangan lupa dulu kita pernah ada RBT jangan lupa hahaha… Gue gatau gimana cara nikmatin, sambil nunggu lo dengerin lagu orang yang dipotong reff nya doang dan lo dapet duit, gue ga ngerti sih itu.. Sistem itu akhirnya ga kepake di kita dan kita gamau ada itu dulu. Kalau melihat dalam konteks ber-media sosial ya, kita dulu punya MySpace ya. Jaman itu kita pake untuk digging musik pas jaman hp belum ada kamera. Lalu ada Napster untuk download per lagu album-album yang susah lo dapetin dulu di Indonesia. Dan itu semua terjadinya di warnet. Gue kalo gasalah masih SMA itu, semua band hardcore dan metal dulu gue dapet dari Napster.

Kalau anak sekarang itu gue ga ngerti iklimnya gimana cara mereka menikmati lagu, apakah mendengar lagu full, album full atau mendengar potongan musik di Tik Tok dan Instagram. Tapi gue ga yakin itu menikmati musik ya, cuma bisa jadi untuk membangun mood dan ambience dari visual yang lagi ditawarin sama dia. Kalau dengerin musik doang lu ga mungkin pake platform IG atau Tik Tok, kecuali nonton live mungkin. Mungkin untuk penikmat musik dia akan masuk ke Spotify, Bandcamp, Soundcloud dan lain-lain tuh, Al. Tapi sebagai intro pintu awal orang menemukan musik baru bisa juga dari Tik Tok dan Instagram. MIsal lu ngepost lagunya keren banget, gue klik dong dan gue cari full nya di Spotify atau Youtube. Menurut gue menarik dan bagus juga tuh ada lagu di IG dan Tik Tok, beda lah sama RBT masa kita nanyain “woy tadi lagu siapa tuh di RBT lo?” hahaha..

BTW, WSATCC apa kabar nih? Rencana berikutnya buat White Shoes apa aja nih?
Kita lagi mau bikin satu single sebenernya tapi masih on process, dan belum dijalankan karena kemaren kita kesandung pandemi jadi yang keluar album “2020” itu, dan kemarin baru dirilis dalam versi vinyl Japan version, jadi kemarin kita tour ke Jepang, Korea dan Taiwan. Sekarang ini kita mau rayakan juga di Jakarta dengan cara listening session lalu kita main mungkin, tapi belum fix sih. Kesibukan nya selain manggung ya itu aja mungkin lagi sibuk mempersiapkan.

Waktu tampil di AOM Bandung, lo terlihat cukup atraktif di panggung. Apa itu cara lo untuk menikmati lagu saat sedang perform?
Gue emang kalo manggung dari dulu ga bisa diem. Karena cara gue menikmati lagu itu dengan bergerak. Dirumah aja kalau dengerin vinyl gue joget-joget sendiri Al, sampe di videoin sama bini dan anak gue. “Jir ini lagu bikin badan gue bergerak nih, dance-able banget”. Ada lagu yang buat lo dengerin doang, dan ada yang memang bikin lo joget. Kalau WSATCC lebih ritmis, jadi bandan lo udah pasti gerak, kaki-kaki lo ga mungkin diem. Kalau The Adams lebih band rock yang jumpalitan juga lah hahaha.. Katanya sih lebih maskulin ya, kalau White Shoes lebih flamboyan dan feminin, lebih dance-able.

Pendekatan lo bikin lagu The Adams & White Shoes gimana?
Kalau Adams itu mungkin lebih kepengen audionya yang “nyanyi” ya. Walaupun berdasarkan jam session, ya kita biasanya pas lagi latian suka tiba-tiba mainin Metallica dan Rancid haha.. Abis ketawa-ketawa baru bikin lagu. Pandu dan Gigih lebih banyak terinfluence melodic punk. Kita selalu musik duluan. Kalau White Shoes variabel nya lebih banyak bisa tiba-tiba jazzy banget, disko atau orkes melayu. Kalau Adams itu di album Agterplaas lebih pengen memperlihatkan suasana urban Jakarta, walaupun gue dan Gigih di Tangsel, Pandu dan Aryo di Bekasi. Tapi karena kita banyak berkecimpung di Jakarta apakah bisa musik kita mewakili kota nya? Kota Jakarta itu seperti apa? Noisy, kalau di jalanan ga hati-hati bisa ketabrak. Jadi kita translate ke lagu “Esok” timecode nya berubah-ubah. Pake sound design jalanan juga, ada suara mobil-motor dan jalanan di lagu “Lingkar Luar”. Jadi ada yang progresif banget juga. Jadi musik kita itu sangat visual.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken by Jin Panji

Kami sudah melihat gerak-gerik Adit Bosborot dari jaman dulu ketika dia masih tergabung di RNRM (Dulu masih Rock N Roll Mafia), berkecimpung di beberapa brand fashion dan saat dia membuat Keepkeep Musik bersama sahabatnya Michael Lesmana. Kini selain menjadi selector yang selalu hadir di event-event subculture, Adit juga ternyata berkerja dibalik layar untuk menjadi music director di beberapa tempat. Selain memiliki selera musik yang cukup versatile, Adit juga memiliki fashion-sense yang sedikit out-of-the-box. Mari berbincang dengan Adit mengenai tips-tips menjadi selector, brand-brand favoritnya dan juga sedikit mengenang masa-masa RNRM pada saat awal dibentuk…

“Tugas lo sebagai selector adalah membuat orang senang, kasih lah mereka senang, gausah ribet, buat aja mereka senang dengan pilihan lagu lo, maupun itu lagu mainstream pop, atau idealis, blend aja, lama-lama lo juga tau cara buat mereka seneng.”

Halo Dit! Apa kabar? Akhir-akhir ini lagi sibuk mengerjakan apa saja?
Baik-baik.. Sehat-sehat.. Akhir-akhir ini lebih sibuk jadi music director dan buat event. Lagi konsen di AOM dulu..

Lo juga menjadi music director untuk beberapa tempat. Biasanya apa aja yang lo lakukan sebagai music director dan bagaimana awalnya lo diajak oleh beberapa tempat itu untuk menjadi music director?
Iya sih kalau sekarang. Kan ada beberapa outlet kaya AOM, Yabe Izakaya, Nona Manis dan mungkin nanti (mereka) bakal buka beberapa outlet lagi. Yang gue lakuin sebagai music director sih studi market nya dulu, kaya AOM emang lebih resto dan cocktail bar jadi emang observenya kesana dulu sih baru mikirin vibes-nya mau dibuat seperti apa. Kalo Yabe Izakaya apakah mau dibuat Jepang banget kah, atau misal kalo Nona Manis kan mungkin bisa dibuat lebih mainstream, karena marketnya mainstream dan lokasi di Jalan Braga, jadi emang gimana menjaga suatu tempat biar engga katro aja sih haha.. biar ada standard yang kita set cukup tinggi tapi tetap ga sombong. Dulu juga sempat jadi music director di radio OZ jadi ada bekal untuk setting mood orang dari pagi, kerja, kuliah sampe mau tidur, jadi agak gampang untuk nyeting feelings dan mood.

“Kalau ada konsep yang baru mungkin gue akan mengembalikan Keepkeep seperti dulu. Gue gak butuh greed dari FnB dan bullshit lainnya hahaha..”

Lo juga salah satu founder Keepkeep Musik. Bisa ceritain awal histori Keepkeep sampai sekarang?
Keepkeep mungkin sudah hampir 7 tahun kali ya. Dari awal memang kita berangkat dari musik, record store ya. Jadi berarti tugas gue dan Michael untuk giving back to community ya bikin gigs di area belakang. Ga melulu tentang records store. Apapun itu yang community based dari skateboard, otomotif dan lain-lain. Tapi semenjak pandemic dan reopen, ya emang kita lebih aktif dulu. Sekarang lagi buat konsep baru dan belum menemukan partner yang cocok. Yang gue kerjain sekarang pun dan yang membuat gue tetap “zen” itu adalah nonton konser atau festival, itu tuh yang ga dilakuin Keepkeep sekarang kayaknya. Gue tuh ga membutuhkan kopi dan FnB sebenarnya di Keepkeep. Visi misi gue agak berseberangan aja sama yang sebelah sana. Jadi gue udah ga nyaman. Gigs terakhir yang gue buat di Keepkeep adalah showcase Efek Rumah Kaca dan itu juga karena gue masih mencoba dengan pihak yang satu lagi. Pengen nya balik ke Keepkeep yang dulu. Kalau ada konsep yang baru mungkin gue akan mengembalikan Keepkeep seperti dulu. Gue gak butuh greed dari FnB dan bullshit lainnya hahaha..

Dulu kalau tidak salah lo juga sempat menjadi personil RNRM saat masih memakai nama Rock N Roll Mafia ya? Lalu sempat menjadi managernya juga? Bagaimana keterlibatan lo dengan RNRM dari dulu sampai sekarang?
Dulu RNRM memang konsepnya mafia, berbondong-bondong seperti hyena. Jadi emang based nya dirumah Hendra di Sarijadi, semua alat-alat dari groovebox, sampler, synth ada di situ. Gue dulu sempat minta kado ultah pas SMA turntable dan coba-coba groovebox juga. Waktu di Batukaras pertama kali kita main ditanya panitia nama band nya apa ya Rock N Roll mafia disitu kita bikin mendadak. Terbentuknya emang organik, album pertama main nya rembukan, dulu sempat cover Underworld, Primal Scream, dan personil-personil sih kita konsepnya jamming kali ya. Hendra bikin bagan, Imot dan Gerry ngisi jadinya ya kaya gitu aja. Bocah-bocah sok ngerti elektronik aja dulu. Abis itu mulai tau ngeband itu seperti ini.

Pas album “Outbox” udah tau skill gue ga sehebat yg lain, yaudah gue jadi manager disitu sampe album “Prodigal”. Album pertama dirilis Groove Recordings, kedua sama Ffwd Records dan ketiga sama Organic Music. Manage RNRM dari jaman rave party Bandung masih jaya, sampe era Jakarta Movement, Embassy Playground. Sebelum DWP sih ya yang masih relate. Electronic scene nya masih asik ya, Chicane masih ke Jakarta. Itu scene rave yang masih relate sama kita. Lalu masuk Ekky dan RNRM menjadi lebih pop dan new wave. Sekarang sih apa ya, kalau disebut keluarga terlalu cliche, tapi udah ga bisa seaktif dulu, ngeband juga kita bukan Maliq & D’essentials, bukan main job nya. Beberapa orang doesn’t pay the bills with RNRM mungkin hahaha… Jadi lebih ke garap materi masing-masing dan disatuin, dijahit dan jamming. Udah beda kota, udah pada nikah, ada yang udah nikah lagi. Jadi keterlibatan gue sih selama konteks nya gue bisa bantu ya gue bantu RNRM sih. Referensi juga udah beda-beda, itu PR besarnya. Gue sih pengen nya balik lagi se-raw dulu kaya Chemical Brothers. Karena kita bisa dibilang salah satu, bukan pioneer ya, tapi salah satu yang memulai main elektronik di Indonesia, harusnya terserah kita, Anak-anak generasi baru mau ga mau harus look up ke kita. Either lo suka ato engga. Gue ga bilang kita bagus cuma harusnya gak usah ngikutin scene elektronik yang sekarang sih. Gatau sih itu cuma pandangan gue aja.

Program AOM Sundown sangat menarik dengan mendatangkan WSATCC, Diskoria sampai Jamie Aditya. Konsep dan kurasi apa yang lo terapkan di AOM Sundown?
Terima Kasih hehe. Dulu sebenarnya garap AOM itu se-simple apa yang gue lakuin di Keepkeep sih. Emang itu playground gue sih. Kalau di Keepkeep gue undang White Shoes, Krowbar, Fariz RM, Polyester Embassy.. Itu kurang lebih sama kaya elu lah Tang, elu juga punya kewajiban. Sama kaya Grimloc lah cuma Grimloc kan lebih high standard dan underground haha. Gue pengen kaya gitu juga cuma ga mungkin ya kalau di AOM kan resto dan cocktail bar haha. List kurasi sebenernya udah banyak dan pengen ngasih tau banyak kok yang kece-kece, pernah kece atau akan kece. Baru 4-5 kali kita bikin AOM Sundown tuh. Kurasi nya sih segampang apa yg menurut kita bagus.

Kadang nemu band baru secara random kaya misal gue menemukan Jangar di Custom War Bali. Ngobrol berteman tapi ga mungkin juga gw taro di AOM, tapi kalau di Keepkeep bisa. Kalau di AOM mungkin lebih intimate aja, cuma mungkin agak intimidating tempatnya sedikit fancy. Cuma ga sama sekali kok, semua juga naik kursi, naikin air mancurnya. Lo di AOM nge DJ juga ga harus nge mix juga, asal pilihan lagunya bagus dan bisa jadi selector yang asik. Konsepnya sih sesimple asal performanya bagus dan cocok sama tempatnya. Kita selalu ngasih tau limited space. Lo beli cocktail dan lo bs liat musik intimate session yang asik. Kemaren terakhir BAP dan Batavia Collective. Udah banyak yang dikeceng, nanti mungkin ada juga White Chorus dan lain-lain juga.

Album-album yang akhir-akhir ini nyangkut di telinga lo apa aja?
Anjir gue sebenernya ga denger band-band baru haha. Gue cuma ke hook si Tujiko Noriko yang album “Crepuscule I & II”. The Smile gatau 2023 bukan? Haha.. Sama boygenius. Itu aja yang gue dengerin terus-terusan. Mungkin ga semua yang gue sebut itu rilisan 2023 tapi ini yang gue denger akhir-akhir ini. Yang lokal paling Collapse yang kemarin yang ada “Rute Menuju Ivory”, Leipzig yang album baru sama Asylum Uniform. 3 band ini ngelakuin semuanya dengan benar, gimmick, video klip dan perform-nya semua dipikirin dan tidak pretensius. Boygenius gampang aja buat telinga gue, dan mereka emang superband. Oh iya satu lagi White Chorus yang “Limbo”. Sedikit UK Garage seperti NewJeans jadi gue suka haha..

Dulu juga lo sempat berkerja di industri fashion. Beberapa brand lokal dan luar yang lo sukai apa saja?
Iya gue dulu sempet di 16 Dscale dan Anti Sweden. Kalau brand lokal yang gue suka dan gue pake Ican Harem, La Creme dan Moral. Kalau brand luar Comme des Garcons dan Yohji Yamamoto karena mungkin mata gue terbuka gara-gara mereka. Kalau di Jepang gue bisa pake apa aja kaya rok, kalau disini di judge hahaha, jadi curhat anyengg.. Gue kurang suka brand yang naro brand di tees nya. Gue suka yang polos-polos, cuttingan, layers dan siluet. Jadi yang gue pake paling Vearst karena cutting dan siluetnya bagus. Maternal juga jaket kulitnya sangat bagus. Sebenernya pake apa aja asal siluet nya bagus dan cocok di gue.

Problem nya cuttingan sih kl gue tuh. Siluet tiap orang tuh kan beda-beda. Gue belum nemu produk lokal yang pas kalau buat celana, karena gue suka drop crotch kaya Rick Owens. Gue diajarin sama senpai gue di Jepang katanya lu gak apa-apa kelihatan lebih fashionable dari customer selama respectnya tetep dijaga. Jadi dress to impress itu gapapa, kalau lo berpakaian bagus ya udah menghormati sekitar lo juga. Kalau sepatu sih Compass. Urusan gue dengan sneakers selesai setelah menemukan Compass. Siluetnya si Velocity gue bantu test harian naik motor jalan lari nge-gym. Dan compass Velocity ini sangat compact, bisa gue pake fitness, ke konser sampe Jakarta fashion week, Joyland sampe disko. Gue udah ga perlu beli yang lain kalau untuk sneakers. Anyeng kaya pesan sponsor gini haha. Sisanya kaos polos gue tuh Merchons beli di Tokopedia haha. Kalau umur udah 50-60 mungkin pake Standard Denim. PMP dan Bastards of Young gue juga pake yang simple-simplenya haha..

Top 5 Fashion item wajib lo apa aja?
Mungkin since gue bolor kacamata gue harus stand out. Gue pake bowler hat, pork pie hat, barrette hat. Jaket kulit itu penting. Mungkin jaket gue pake buat intro aja pas duduk dilepas haha. Handbag harus, gue sih lagi hustling buat beli mens handbag walaupun itu Celine, Yves Saint Laurent atau LV. Itu juga berfungsi kaya intro jadinya. Atau tote bag brand sendiri. Yang penting satu lagi ya sepatu lo sih.

Sebagai seorang selector, apakah lo menyesuaikan lagu dengan tema acara dan crowd atau lo lebih cuek saja memutarkan lagu favorit lo?
Kalau nyesuain dengan acara udah pasti dan ngeliat juga lo diundang ke acara apa. Crowd juga pasti. Cuma yang paling esensial menjadi selector itu lo diundang di acara itu untuk bersenang-senang jadi gausah pengen terlihat sok keren dengan pilihan lagu lu yang berbeda. Yang penting sih seisi ruangan itu seneng. At the end of the day orang bakal ngundang lo karena mereka tau lo bisa bikin orang seneng. Kalau memutar lagu favorit dan memaksakan itu di playlist gue selalu ada momen-nya tapi harus pas timing-nya. Tugas lo sebagai selector adalah membuat orang senang, kasih lah mereka senang, gausah ribet, buat aja mereka senang dengan pilihan lagu lo, maupun itu lagu mainstream pop, atau idealis, blend aja, lama-lama lo juga tau cara buat mereka seneng.

Words & interview by Aldy Kusumah