Thee Marloes memilih jalur yang berbeda: bergerak pelan, rapi, dan penuh perasaan. Berangkat dari Surabaya, trio ini meramu soul dan nuansa retro dengan cara yang tidak sedang berusaha meniru masa lalu, tetapi mencoba memahami apa yang membuat musik itu jujur. Hasilnya adalah karakter suara yang terasa familiar sekaligus tidak bisa sepenuhnya ditempatkan dalam timeline tertentu.

Ini adalah percakapan yang tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang kejujuran, posisi, dan arah yang ingin mereka tempuh ke depan.

Musik kalian sering disebut “retro soul dari Indonesia.” Apakah kalian nyaman dengan label itu?

Sebetulnya kami tidak terlalu mengambil pusing dengan adanya istilah tersebut, mungkin karena kami merupakan band pop yang banyak ter-influence oleh grup dari era ‘60 hingga ‘70an (tidak hanya soul), sehingga secara tidak sadar musik dan sound yang dihasilkan terkesan “retro”.

Banyak yang bilang Thee Marloes terdengar seperti band dari luar negeri bagaimana kalian menanggapi anggapan bahwa apresiasi baru datang setelah musik kalian “terdengar tidak lokal”?

Di era digital di mana semua orang bisa meniru sound 70-an dengan plugin, bagaimana kalian membedakan vintage taste dari sekadar vintage gimmick?

Kami merasa terlalu bias untuk penggunaan kata “vintage” pada sound, dan bisa saja kita mereplika sound “vintage” dengan instrumen modern atau VST, namun yang membedakan adalah cara memainkan instrumennya, mungkin contohnya adalah jika kamu memainkan bass seperti James Jamerson, meskipun menggunakan bass Squier keluaran tahun 2022 maka hasilnya akan tetap terdengar ‘70-an, namun jika menggunakan bass vintage precision dan memainkan dengan style Thundercat, maka akan tetap terdengar “modern”.

Seberapa banyak kompromi yang kalian lakukan antara menjaga keaslian sound analog dengan kebutuhan produksi modern?

Kami masih memakai plug in bawaan DAW untuk memberi warna, tetapi semua instrumen direkam tanpa VST; menggunakan drum, piano, perkusi, dan gitar asli dengan amps. Di album terbaru, kami juga menambahkan sound sitar elektrik hasil dari modifikasi gitar asli.

Dalam musik soul, konteks sosial dan sejarah sangat penting. Bagaimana kalian menempatkan soulfulness itu di realitas sosial Indonesia hari ini?

Sebetulnya kami lebih menempatkan musik yang kami buat sebagai cerminan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Ada beberapa lirik seperti “Mungkin Saja” dan “Logika” itu sebetulnya cerminan keadaan kita sehari-hari, juga kemalangan yang kadang disebabkan oleh bobroknya sistem di atas.

Bagaimana akhirnya Thee Marloes bisa dilirik dan bekerjasama dengan Big Crown Records?

Hal itu terjadi karena interaksi di media sosial. Pada tahun 2020, Big Crown Records memperhatikan karya Thee Marloes dan menanyakan apakah ada demo lagu lain. Dari situlah kerja sama kami dengan mereka berjalan.

Label luar seperti Big Crown Records membawa kalian ke pasar global. Apakah kalian merasa Thee Marloes lebih “dimiliki” oleh audiens luar ketimbang audiens lokal?

Kami merasa Thee Marloes milik semua pendengar.

Apa tantangan terbesar ketika musik kalian lebih diapresiasi oleh pendengar asing ketimbang publik di rumah sendiri?

Justru poin itu sepertinya tantangannya.

Kalau Thee Marloes bukan band soul, kira-kira kalian akan main musik seperti apa?

Pilihan jatuh kepada reggae, hehe

Ada lagu dari musisi lain yang akhir-akhir ini jadi guilty pleasure kalian?

If it’s please you then it’s not a guilt

Kalian bakal tampil di Joyland Session apa yang paling kalian nantikan dari festival ini?

Merasakan Joyland session, yang sepertinya akan lebih intim daripada Joyland Festival.

Joyland punya reputasi sebagai festival yang menyorot musik dengan karakter kuat. Apa yang ingin kalian tunjukkan di panggung kali ini?

Performance yang baik, seperti panggung-panggung lainnya.

Banyak musisi bilang Joyland punya audiens yang sangat present dan menghargai detail. Apakah itu memengaruhi cara kalian membangun setlist atau perform?

Kami selalu mencoba memaksimalkan sound dan tata panggung saat melakukan penampilan di Joyland

Kalau kalian bisa mendeskripsikan energi panggung Thee Marloes di Joyland dengan satu kata, apa dan kenapa?

Apa adanya.

Ali muncul sebagai salah satu band yang menawarkan sesuatu yang berbeda: perpaduan funk yang hangat, ritme afro-beat yang menular, dan aksen Timur Tengah yang terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Sejak merilis Malaka, trio asal Jakarta ini konsisten membangun identitas yang tidak hanya terdengar segar, tapi juga memiliki kedalaman kultural yang jarang disentuh musisi lain. Setelah tampil di panggung internasional, meramaikan festival besar, hingga membawa energi mereka ke Joyland Session, Ali terus menunjukkan bahwa musik yang jujur pada akarnya bisa berdiri sejajar dengan siapa pun.

Kami mencoba menelusuri perjalanan mereka: dari proses kreatif, identitas musikal, sampai bagaimana mereka memaknai ruang baru yang semakin luas. Berikut percakapannya.

Hai, gimana kabar Ali belakangan ini?
Halo, kabar baik.

Banyak yang menyebut musik kalian sebagai “funk Timur Tengah” dari mana awalnya ide perpaduan itu muncul?
Ide ini muncul secara organik setelah kami saling share playlist dan menemukan jika di Indonesia pernah ada musik funk era 70an dengan nuansa dan lirik Arab yang dibawakan oleh Munif Bahasuan yang berjudul “Naghm El Uns”. Itu menjadi salah satu trigger kami untuk kemudian memadukan elemen timur tengah di musik Ali, karena ternyata sudah ada di Indonesia sejak lama. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh lagi sudah ada jauh sebelum era 70an juga dan sudah terasimilasi secara organik. Jadi menurut kami menjadi make sense jika Ali hadir dengan perpaduan musik ini di era sekarang, agar menyuguhkan sesuatu yang “fresh” bagi penikmat musik. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita pernah punya juga musik semacam ini di masa lampau.

Apa momen pertama yang bikin kalian sadar kalau arah musik Ali harus seperti ini soulful, groovy, tapi tetap punya akar budaya yang kuat?
Tidak ada keharusan sebenarnya, tapi memang secara organik referensi musik kami di seputar musik yang groovy sebagai elemen utamanya, seperti funk, disco, dan afro beat misalnya. Unsur budaya dimasukkan agar membawa pesan dan tidak “kosong” secara value.

Beberapa lagu Ali menggunakan bahasa Arab seberapa penting unsur bahasa dan spiritualitas dalam karya kalian?
Pemilihan bahasa Arab digunakan agar semakin melengkapi tema musiknya. Disamping itu, karena penulis lirik sekaligus frontman (Arswandaru) memang bisa berbahasa Arab secara pasif dan masih keturunan Arab. Tidak ada unsur kesengajaan dalam aspek spiritualitas, karena makna liriknya pun tidak mengacu ke sana. Jika ditangkap pendengar dengan makna berbeda, itu tidak bisa dihindari, biarkan mengalir saja.

Apakah ketika manggung di luar negeri rasa nasionalitas akan Indonesia perlu ditampikan? sebagai contoh mungkin seperti memasang bendera negara di amps
Kami menampilkannya secara verbal dan implisit, melalui greetings di jeda set lagu. Kami selalu menyampaikan bahwa kami band dari Indonesia, dan selalu mendapatkan tanggapan yang sangat apresiatif. Menurut kami itu sudah cukup.

Pada tahun 2025 ini Ali kembali akan tampil di Joyland, tapi untuk tahun ini Joyland dalam format yang berbeda, apa yang disiapkan Ali untuk Joyland Session tahun 2025?
⁠Kami akan mencoba menyiapkan set list yang cukup berbeda di Joyland tahun ini. Agar audience yang mungkin juga menyaksikan kami di Joyland tahun lalu mendapatkan experience yang berbeda

Apa pendapat Ali mengenai Joyland?
⁠Joyland adalah festival yang sangat nyaman dan cukup ideal, baik bagi musisi yang bermain dan penonton yang datang untuk menikmati musik. Pemilihan line up juga terkurasi dengan baik.

Joyland Festival Jakarta 2024 kembali membuktikan diri sebagai salah satu festival musik yang paling dinantikan di setiap tahunnya. Selama tiga hari (22–24 November), sekitar 45.000 pengunjung memadati Stadion Baseball GBK Senayan untuk menikmati pengalaman tak terlupakan. Festival ini menghadirkan panggung yang memukau, mulai dari aksi artis internasional hingga musisi lokal yang membawa energi luar biasa.

Penampilan luar biasa dari artis lokal hingga internasional menjadi highlight festival yang ramah untuk membawa anak ini. Dengan sajian visual dan sound yang memukau, headliner Air menjadi penutup yang manis Joyland 2024 di hari pertama. Tidak lupa St. Vincent memukau pengunjung dengan aksi panggungnya yang karismatik dan sound yang berkelas. Selain itu dihari pertama ada penampilah dari band-band lokal seperti, Feast, White Shoes and The Couples Company, Bank, The Sigit, dan lainnya. Di hari kedua dibuka oleh penampilang di Cottons di stage Lily Pad. Yang menarik di hari kedua Joyland ini ada penampilan set spesial dari Efek Rumah Kaca dengan set Rimpang yang menghiasi panggung dengan tatanan visual yang ERK pakai ketika merayakan peluncuran album Rimpang pada Juli 2023 lalu. Dan ada set “Hujan Orang Mati” dari Majelis Lidah Berduri yang menampilkan aksi teatrikal di atas panggung Plainsong. Tentu saja di hari kedua ini, [AAA] kolaborasi Hyukoh dari Korea Selatan dan Sunset Rollercoaster dari Taiwan menjadi salah satu line up yang ditunggu tampil tanpa celah kekurangan sedikit pun. Hari ketiga dibuka oleh band asal Jepang DYGL, lalu disambung oleh Teenage Death Star di Lily Pad stage dan Brainstory di Joyland stage. Blueboy menjadi salah satu band yang ditunggu penampilannnya di Joyland Festival 2024. Tampil dengan set yang minimalis, Blueboy berhasil membawa romantisme era kejayaan Indie pop. Bombay Bicycle Club menjadi band yang tampil terakhir di Joyland Festival 2024.

Di panggung Lily Pad pun tidak kalah menarik dengan panggung besar Joyland dan Plainsong. Panggung yang dikurasi oleh White Shoes and the Couples Company ini menghadirkan The Panturas, The 5,6,7,8, Idiotape sampai Dj seperti dari Jazzy Sport, Daniella Dee sampai Habibi Funk berhasil menarik perhatian para pengunjung. Panggung-panggung lainnya seperti Shroom Stage, yang dikurasi oleh Soleh Solihun, menampilkan stand up comedian dari yang emang kita sering jumpai layar televisi sama comic dari komunitas pun hadir menghibur penonton yang hadir di Joyland Festival 2024. Dan tidak lupa pemutaran film hasil kurasi Joko Anwar di Cinerillaz menjadi suguhan menarik. Bagi pengunjung yang mebawa putra-putrinya ada sajian sajian activity yang disuguhkan di area White Peacock. Dimulai dari puppet show yang dibacakan langsung oleh Sal Priadi, tempat menitipkan stroller sampai story telling dari conductor MRT ada semuanya di area White Peacock.

Joyland Festival merupakan salah satu festival yang sangat disayangkan bila dilewatkan. Kami sangat tunggu kejutan berikutnya dari Plainsong untuk ramuan Joyland tahun 2025 mendatang.

 

Teks by Firman Oktaviawan

Photos by Plainsong Live doc’s

Majelis Lidah Berduri adalah nama baru yang diusung oleh band legendaris asal Yogyakarta, sebelumnya dikenal sebagai Melancholic Bitch. Setelah lebih dari dua dekade berkarya, mereka memutuskan untuk melakukan transformasi identitas sebagai bentuk refleksi terhadap perjalanan panjang mereka di dunia musik. Mari simak perbincangan Jeurnals dengan Melbi mengenai proses kreatif, filosofi di balik nama baru mereka, serta bagaimana Daerah Istimewa Yogyakarta membentuk musikalitas Majelis Lidah Berduri

Apa alasan utama di balik perubahan nama dari Melancholic Bitch menjadi Majelis Lidah Berduri?

Richardus Ardita: 1. karena formasi baru 2. media-friendly
Yossy Herman Susilo: 1. Seperti mas didit.. formasi baru, bosen juga nama yg lama.. Hehe
Yennu Ariendra: Nggak tau aku, aku sih setuju aja
Paulus Neo: Mungkin, karna formasi baru. Eh gatau ding
Danis Wisnu: Agar ramah publikasi, penyelenggara dan sponsor ;)))
Ugo Prasad: Iya gitu

Setelah merubah nama, sebenarnya apa yang Melbi harapkan?

Richardus Ardita: Menambah pendengar
Yossy Herman Susilo: Tidak menjadi band mitos
Yennu Ariendra: Juga nggak tau
Paulus Neo: Sama kayak mas (YA)
Danis Wisnu: Biar kalau pamit sama orang rumah lebih enak aja, biar ga canggung
Ugo Prasad: Gitu boleh

Bagaimana pendapat dari para pendengar yang lebih dahulu mengenal nama Melancholic Bitch?

Richardus Ardita: Beberapa kurang setuju, beberapa setuju
Yossy Herman Susilo Beberapa tidak setuju, beberapa setuju, sebagian tidak peduli 🙂
Yennu Ariendra: Beberapa orang merasa aneh, tapi seiring dengan berjalannya waktu itu tidak menjadi masalah
Paulus Neo: Belum pernah mendengar pendapat tentang nama
Danis Wisnu: Ndak tau, tapi apapun itu toh kita lahir tidak untuk menyenangkan semua orang apalagi yang hanya sebagian.
Ugo Prasad: Betul

Majelis Lidah Berduri terdengar seperti memadukan berbagai genre seperti rock, folk jazz, dan unsur lokal dengan lirik yang penuh kritik sosial. Bisa jelaskan bagaimana proses kreatif Melbi dalam menciptakan lagu untuk Majelis Lidah Berduri?

Richardus Ardita: 1. Jam session 2. Salah satu personil menawarkan lagu dengan aransemen yang sudah jadi, kemudian personil lain mengisinya.
Yossy Herman Susilo Biasanya kita sesi studio
Yennu Ariendra: Tidak terlalu memikirkan tentang genre, penggarapan musik disesuaikan dengan imaginasi yang diciptakan oleh lirik. Lirik menciptakan sebuah dunia yang komplek dan dari sanalah unsur unsur musiknya ditemukan. Tidak ada pembicaraan tentang genre sebelumnya.
Paulus Neo: Di studio ngejam dari 0 (mentah), atau mengolah ide yg sudah ada sebelumnya. Tapi semuanya diolah tanpa menghilangkan karakter masing2 person dan diselaraskan dengan maksud dari lirik. Tidak terkotak genre dan tidak terkotak teknik ataupun skill.
Danis Wisnu: Sing penting jujur aja, ga nuruti orderan algoritma viral
Ugo Prasad: Kayaknya ya standar band-bandan biasanya

Bagaimana peran latar belakang artistik antar personil yang berbeda, dalam membentuk musik Melbi?

Richardus Ardita: Perbedaan latar belakang artistik membentuk musik yang kaya ragam dan mengembangkan kemampuan adaptasi dan improvisasi personil.
Yossy Herman Susilo: Cukup menguntungkan..kadang muncul hal hal yg mengejutkan di setiap komposisi
Yennu Ariendra: Menurutku, Setiap anggota band memiliki kecenderungan, selera dan bahkan keahlian yang berbeda. Namun disini, kita berpegang pada dunia imaginasi yang diciptakan lirik, jadi itu memudahkan kita untuk tau batasan batasan dan tahu dimana kita memposisikan diri kita sendiri ketika berkarya. Menurutku juga kita tidak asal mencampur selera masing – masing, tetapi sepakat untuk menempuh sebuah perjalanan menyusuri konsep ini bersama sama dan menemukan perca musik satu persatu.
Paulus Neo: Sudah terwakilkan dijawaban pertanyaan sebelumnya
Danis Wisnu: Ya namanya ada 5 orang lebih, janjian masak yang satu bawa terong satunya bawa daging satunya bawa badan aja. Bisa di bayanginkan ya.. Btw saya bagian bawa badan aja.
Ugo Prasad: Saya sama dengan Neo

Melbi – TIba-tiba Marabahaya Denpasar – foto by Kevin

Banyak lirik Melbi yang terasa puitis sekaligus penuh kritik tajam. Apakah ada proses tertentu dalam memilih kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan pesan Melbi?

Richardus Ardita: Ugo lebih kompeten untuk menjawab ini.
Yossy Herman Susilo: Biasanya Ugo melakukan ritual bertapa
Yennu Ariendra: Penulisan tanggung jawab Ugo, soalnya lainnya tidak ada yang mampu. Tetapi, secara konsep kita mengembangkan liriknya bersama sama (bukan pada penulisan tetapi menentukan arah dari konsep tersebut). Kita sama sama melihat apa yang kurang dan apa yang keterlaluan.
Paulus Neo: Mas Ugo aku padamu
Danis Wisnu: Waktu dan tempat kami persilahkan kepada bapak ugoran prasad, monggo
Ugo Prasad: Saya biasanya aja, nulis dari kiri ke kanan sama kayak orang berbahasa Indonesia lainnya. Prosesnya ya dipikir-pikir, dicoba-coba sampe enak. Kalo mentok baca buku nonton film, denger musik, jalan-jalan. Kalo masih gak nemu ya diulangi dari awal. Ya biasanya aja. Bertapa ya bisa juga, tapi biasanya itu untuk belajar nyantet.

Seberapa besar kekuatan lirik pada sebuah lagu?

Richardus Ardita: Untuk Melbi 100%
Yossy Herman Susilo: Turun dikit lah ..75%
Yennu Ariendra: Susah menentukannya, apa yang tidak tertulis di lirik diwakili oleh musik, jadi pada akhirnya semua saling melengkapi
Paulus Neo: Musik 100%, lirik 100%
Danis Wisnu: Lirik itu hook sebuah lagu, musik membantu menjadikan abadi untuk didengar terus menerus.
Ugo Prasad: Jangan di inflasi begitu. Ya kira2 23,2 %.

Apakah tema atau isu tertentu di dalam lirik yang Melbi ingin sampaikan harus sampai ke pendengar selaras dengan maksud dari liriknya?

Richardus Ardita: kami hanya mencoba menyampaikan dengan sepenuh hati & tenaga, untuk penerimaan tergantung dari penerimanya.
Yossy Herman Susilo: Nggak juga
Yennu Ariendra: Lirik di album ini sebenarnya lebih ke puisi. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sebuah puisi. Pendengar akan paham atau tidak, atau selaras dengan pemahaman penciptanya, itu hal yang sulit dijawab. Puisi menciptakan ruang imaginasi yang bagi pendengar mungkin tidak dipahami sama sekali, atau justru maknanya berkembang, karena pendengarnya memiliki imajinasi yang lain. Secara pribadi aku tidak memikirkan apakah Lirik bakal dipahami atau tidak, tetapi aku punya keyakinan, lirik tersebut akan menjadi bahan diskusi yang baik buat publik
Paulus Neo: Dikembalikan ke publik
Danis Wisnu: CMIIW setahuku kalau karya sudah dilempar ke publik ya mau ga mau karya itu sudah milik publik, mau saklek segimanapun pasti jatuhnya akan multitafsir.
Ugo Prasad: Bukan puisi deh. Ya awalnya karena teman2 dekat pergi duluan. Tapi ya sejak awal emang udh banyak yang meninggal pas di waktu Covid kan. Semakin lama semakin melebar temanya. Dari tema kematian dari kacamata personal ke kacamata antar-person. Ya kami cerita ttg itu. Tapi tetep, liriknya gak puisi. Kecuali yang emang puisinya Chairil dan Cindhil

Apakah pernah menghadapi ancaman akibat tema-tema berani dalam lagu-lagu Majelis Lidah Berduri?

Richardus Ardita: Setahu saya belum
Yossy Herman Susilo belum
Yennu Ariendra: Mungkin ada
Paulus Neo: Aman aja
Danis Wisnu: Kayaknya pernah deh, hampir ga boleh manggung waktu di makassar! Itu dikasih tau setelah setahun dari acara
Ugo Prasad: Hehe

Melbi – Hujan Orang Mati Listening Session Bandung – foto by Djionk

Beberapa waktu lalu Majelis Lidah Berduri menyelenggarakan sesi dengar album baru “Hujan Orang Mati”, judul yang menarik. Bisa sedikit elaborasi mengenai album “Hujan Orang Mati?

Richardus Ardita: Berawal dari kepergian beberapa teman dekat, kemudian karena penggarapannya memakan waktu lama, tema berkembang merespon kondisi masyarakat terkini.
Yossy Herman Susilo: idem 👆
Yennu Ariendra: Semua anggota band sebenarnya punya interpretasi lain atas album ini. Aku sih soal ketakutan dan kecemasan dalam konteks sekarang (situasi politik lokal-global, isu lingkungan, friksi antar kelas di dalam masyarakat, dsb). Kegelisahanku ada di dalam lirik-lirik di album ini.
Paulus Neo: Idem 👆🏼
Danis Wisnu: Mati yang paling menakutkan adalah mati yang kamu masih hidup tapi tidak mampu berbuat apa-apa, sisanya setuju sama pakdhe pakdhe diatas.
Ugo Prasad: Iya, begitu.

Hujan Orang Mati album penuh ke 4 yah? Butuh berapa lama untuk merampungkan album ini?

Richardus Ardita: sekitar 1,5 tahun lebih sedikit.
Yossy Herman Susilo idem 👆
Yennu Ariendra: 2 tahun lebih ah
Paulus Neo: 2 tahun lebih tapi dikit aja
Danis Wisnu: Semenjak pamitnya pak djaduk, mas gendel dan mas cindil, tepatnya berapa ga tau aku selalu gagap soal menghitung.
Ugo Prasad: dari pengumuman nama 2 tahun lebih dikit. Tapi kayaknya bener Didit soal titik mulai garapnya.

Ketika band-band pada saat ini lebih memilih untuk merilis single – single yang banyak baru rilis album, kenapa Majelis Lidah Berduri lebih memilih untuk merilis Album?

Richardus Ardita: Mungkin karena di melbi banyak yang sudah berumur
Yossy Herman Susilo ya krn single juga sdh di rilis.. album rilis juga
Yennu Ariendra: Kenapa nggak? Secara global, album masih relevan (khususnya bagi artist artis papan bawah, kalo artis papan atas kan sudah cukup dari single). Kita mah tau posisi sebagai band underground
Paulus Neo: Single udah, saatnya album, mungkin
Danis Wisnu: Pencapaian sebuah band itu adalah album, perkara bagus atau tidak, perkara laku atau tidak tapi saya masih mengamini itu. Semoga tidak berubah ya semenjak gerai musik digital isinya cuma playlist lagu/single bukan playlist album. (read : Spotify)
Ugo Prasad: kebiasaan aja.

Dari album Anamnesis (2005), Balada Joni Susi (2009) dan NKKBS Bagian Pertama (2017) untuk Hujan Orang Mati ini ada cara atau trik tersendiri nggak untuk “memasarkan” albumnya?

Richardus Ardita: Kami mencoba menjualnya di bandcamp & storefront terlebih dahulu untuk beberapawaktu, sebelum dilepas di gerai musik digital.
Yossy Herman Susilo idem👆
Yennu Ariendra: Idem
Paulus Neo: Idem
Danis Wisnu: Selain diatas, kayaknya melbi udah mulai lebih peduli sama rumahnya di instagram dll.. Jadi ga cuma update setahun sekali sekarang.
Ugo Prasad: Kalo memasarkan pake tanda petik anak melbi pada gak bisa jawab. Bisanya kami ya maen musik.

Melbi – Cherrypop2024 Jogja – foto by Wandirana

Bagaimana kota dan budaya Yogyakarta mempengaruhi musikalitas Majelis Lidah Berduri, dan apakah merasa itu memberikan perspektif yang unik dalam melihat skenamusik Indonesia?

Richardus Ardita: Banyak musisi di Jogja yang menginspirasi secara personal. Setiap daerah punya keunikan skena musiknya masing-masing yang bagi saya itu menjadi pengayaan perspektif.
Yossy Herman Susilo: idem 👆
Yennu Ariendra: Berpengaruh kayaknya, karena di Jogja orang bisa mengkritik, berghibah, saling ngatain tanpa kita merasa sakit hati, menurutku itu justru jadi modal untuk memperkaya wawasan. Aku tidak merasa kita bagian dari apa yang disebut sentral, jadi seluruh standar ditentukan dan diciptakan sendiri, ya begitulah band pinggiran.
Paulus Neo: Idem
Danis Wisnu: Secara sepihak aku bilang kalau jogja itu adalah laboratorium.. Jadi kalau sampai kejogjaannya tidak dimaksimalkan ya rugi deh sepertinya.. Banyak yang bisa di captured di kembangkan dengan lintas disiplin antar seni jadi berprosesnya ga membosankan, bikin musik pake term seni rupa & teater, misalnya.
Ugo Prasad: Batas batas disiplin seni kayaknya juga gak terlalu kaku, bisa selonongan ke seni rupa, teater, pentas ketoprak, tari, jathilan dll.

Penampilan live Majelis Lidah Berduri terasa penuh emosi. Seberapa besar peran visual dan konsep artistik dalam setiap penampilan live?

Richardus Ardita: Besar, karena itu membangun emosi dasar & perspektif personil sebelum naik panggung.
Yossy Herman Susilo: Cukup besar karena konsep artistik selalu menjadi pijakan awal personil
Yennu Ariendra: Masak sih, perasaaan normal-normal saja waktu naik panggung
Paulus Neo: Ada ngga adapun, kita tetap emosional, entah apapun penyebabnya
Danis Wisnu: Inderakan bukan cuma pendengaran ajakan ya, ada penglihatan baru indera perasa (tidak secara harafiah) dll. Ya memenuhi kebutuhan indera saja meski sak madyone.
Ugo Prasad: Betul, pertumbuhan emosinya terhambat ya, gampang emosian.

Dari kacamata sebagai penampil, festival musik seperti apakah yang bagus dan ideal untuk dikunjungi?

Richardus Ardita: Yang nggak terlalu banyak penampil, supaya bisa mencerna dengan baik setiap pertunjukan.
Yossy Herman Susilo: Karena saya basicnya audio, ya festival musik yang produksi audionya bagus
Yennu Ariendra: Idem sama RA dan YHS
Paulus Neo: idem mas YN
Danis Wisnu: Yang penampil dan enthusiast diberi porsi dan kenyamanan sama.
Ugo Prasad: yang baik sama penonton dan penampil. Baiknya gimana, jawabannya juga gak bisa macam2. Jenis musik aja gak satu masak jenis festival cuma satu.

Di tahun 2024 ini pertama kali yah tampil di Joyland? Sebelumnya sempat denger tentang Joyland?

Richardus Ardita: Pertama kali main di Joyland. Pernah mendengar sebelumnya.
Yossy Herman Susilo: Iya.. udah denger lama
Yennu Ariendra: Idem dengan YHS
Paulus Neo: Udah
Danis Wisnu: Iya ini tahun pertama menjadi penampil, 2 tahun lalu ke joyland tapi jadi tim produksinya Frau (usung-usung stand dan ngolor kabel)
Ugo Prasad: Ya sering denger

Apa hal spesial yang disiapkan oleh Majelis Lidah Berduri sebelum akan tampil di Joyland Festival?

Richardus Ardita: Pentas perdana album baru.
Yossy Herman Susilo: Full album Hujan Orang Mati
Yennu Ariendra: Idem
Paulus Neo: HOM
Danis Wisnu: Majelis LIdah Berduri – Hujan Orang Mati set (paket rombongan 20 orang lebih)
Ugo Prasad: latihannya capek, 2 sesi dari pagi smp malem. Untungnya gak cuma sm orang-orang ini. Awas kalo gak nonton.

Teks & Interview by Firman Oktaviawan

 

Ferry Dermawan, otak kreatif di balik Joyland Festival, telah berhasil membawa konsep festival musik yang berbeda di Indonesia. Dengan fokus pada kenyamanan dan aksesibilitas bagi semua kalangan, termasuk keluarga, Joyland setiap tahun menghadirkan line-up yang selalu dinantikan. Festival ini tak hanya sekadar hiburan, tetapi juga ruang alternatif yang mempromosikan ide-ide segar melalui para penampilnya. Dalam wawancara kali ini, Ferry berbagi kisah dan tantangan dalam merancang festival di Indonesia, mulai dari proses kurasi hingga strategi membuat acara musik yang bisa dinikmati segala usia. Joyland berdiri sebagai contoh bagaimana sebuah festival dapat bertransformasi menjadi pengalaman inklusif tanpa mengorbankan kualitas artistik.

 

Hai Mas Ferry, pada tahun 2009 pertama kali anda membuat festival Djakarta Artmosphere. Apa yang menjadi trigger Mas Ferry membuat festival?

Ingin punya platform baru yang menampilkan band-band yang saat itu sedang banyak rilisan-rilisan bagus. Hanya, dulu ngerasa enggak ada ruang atau acara yang menampilkan band-band itu dalam satu acara.

 

Tapi dulu sempat bikin gigs atau acara kecil-kecilan dulu gitu enggak Mas?

Tidak pernah. Jadi dulu pertama bikin Djakarta Artmosphere itu konsepnya kolaborasi. Band-band yang aktif pada masa itu dan musisi-musisi yang bisa kita bilang legend.

 

Kalo Joyland gimana Mas?

Kalau Joyland hampir sama sih, pengen punya acara dengan band-band yang kita seneng main di satu acara yang sama dengan suasana yang intim. Secara skala memang kita merasa kemampuannya belum bisa yang besar. Jadi, sebenernya trigger kami untuk bikin festival biasanya dari venue dulu. Kalau ketemu venue yang asik, turunannya akan ke program di dalam acaranya. Makanya kalo diperhatiin beberapa venue Joyland seringkali berubah-ubah.

 

Pada saat membuat Joyland Festival, apa yang menjadi “goals” dari Mas Ferry? 

Menawarkan pengalaman datang ke festival yang berorientasi ke kenyamanan penonton, syukur-syukur bisa jadi festival alternatif yang menampilkan pengisi acara yang menawarkan gagasan-gagasan menarik.

 

Ketika membuat Joyland, festival besar apa yang menjadi acuan Mas Ferry?

Dari awal referensinya ke festival mid-scale di UK/EU yang biasanya program dan suasananya lebih seru dan intim. Greenman, End of The Road dan Laneway (AUS)

 

Dengan skala yang sebesar Joyland, bagaimana cara meyakinkan sponsor untuk ikut bekerjasama? Dan bagaimana cara mengajak band-band luar untuk tampil di Joyland festival? 

Soal sponsor, kita fokus memperkenalkan nilai-nilai dan karakter Joyland lalu pada akhirnya akan ketemu partners yang sejalan dengan apa yang kita percaya. Soal booking international bands, memang butuh waktu untuk mengumpulkan kredibilitas festival dan karakter band-band yang kita booked di Joyland, setahun pertama lumayan sulit karena kita gak ada portofolio nge-booked International band sebelumnya.

Pada tahun 2015-2019 Joyland sempat vakum, setelah memutuskan kembali lagi, beberapa waktu kemudian ada pandemi. Pada waktu itu apa yang ada di benak mas Ferry?

Waktu itu di Desember awal 2019 kita bikin Joyland, lalu berencana bikin headline show band asal Chicago namanya Whitney di Maret 2020. Tiket kalau nggak salah dijual di bulan Januari, dan sudah terjual sekitar 60-70%. Band sudah lunas, venue sudah lunas tinggal jalan produksi aja. Tapi setelah 2 minggu kita announce, berita-berita di luar mulai ada virus covid tuh. Awal bulan Maret ada kasus pertama covid, ya sudah cancel deh semua. Joyland tahun 2020 juga otomatis enggak ada karena semua pihak masih mantau perkembangan kasus covid di regional masing-masing.

 

Waktu itu sempat kepikiran enggak Mas kedepannya akan seperti apa?

Waktu itu lumayan naif. Mungkin kita liat 3 bulan kedepan kali yah. Mungkin akhir tahun udah bisa kali yah. Saya rasa semua orang kayak gitu kali yah karena belum punya pengalaman, taunya bertahun-tahun. Setelah 3 bulan itu akhirnya mikir ini kayaknya bakalan lama deh. Akhirnya kita mikirin apalagi nih yang mesti kita kerjain biar tetep aktif tapi bisa dikerjain dengan segala keterbatasan. Akhirnya kita bikin aktivasi online Plainsong Live Sessions, konsepnya nyamperin musisi, nge-bebasin formatnya mau ngapain aja. Kita bikin 1 season itu 4 episode, total 12 band, sampai 2021 total kita jalan 3 season waktu itu.

 

Kalo yang kita lihat di Indonesia, kebanyakan festival melibatkan sponsor dengan range umur 18+, bagaimana caranya Joyland menjadi festival musik yang ramah untuk keluarga?

Di 2016 sampai 2018 saya sering dateng ke beberapa acara dan festival. Jadi punya standar sendiri untuk sebuah festival, pengen punya festival yang ramah keluarga dan bisa bawa anak juga. Jadi waktu itu, kita coba approach sponsor dengan beberapa ketentuan. Kayak rokok dan alkohol itu ada areanya sendiri, nggak boleh keluar dari area itu.

 

Untuk pemilihan line up Joyland Festival, apakah Mas Ferry hanya menggunakan taste sendiri untuk mengkurasi line-up atau sedikit mengikuti trend festival di luar? 

Pertama, kita punya wish list sejak awal band atau artis yang mau kita book buat Joyland jadi secara garis besar jadi karakter festivalnya. Kedua, tentu menyesuaikan trend yang disesuaikan dengan market di Indonesia. Ketiga, gue merasa dua tahun terakhir tuh festival-festival di Barat lagi nengok banget ke band atau artis Asia dan karena sejak 2022 kita juga sudah banyak slot band Asia, jadi gue melihat Joyland cukup mewakili wajah mid-scale International Music Festival di Asia, terutama dari sisi kurasi lineup.

 

Pada pengumuman final line-up muncul nama Hyukoh dan Sunset Rollercoaster, Kenapa memilih mereka sebagai headliners?

Itu sebenernya dari awal Februari kita udah dapet kabar kolaborasi album mereka sudah jadi, dan mereka ada plan untuk tour di asia di bulan Agustus keatas lah. Lalu mereka meminta kita untuk menggarap show AAA ini di Jakarta, lalu secara hitungan untuk headline show enggak masuk budgetnya, jadinya kita alihkan ke Joyland dan mereka setuju.

 

Ada enggak band yang Mas Ferry kenal lalu menawarkan ingin tampil di Joyland, tapi kurang cocok nih buat di Joyland, bagaimana cara Mas Ferry menolaknya? 

Sering, biasanya memilih band untuk tampil karena cocok dengan ruang (jam tampil, panggung) dan suasana tampil.

 

 

Masih sekitaran line-up, ketika Joyland di Jakarta tahun 2023 dan 2024 ini hampir ada kesamaan line-up dengan salah satu festival di Thailand, adakah hubungannya?

Iya, mereka memang nyamain tanggal acara dengan Joyland supaya bisa shared artists.

 

Menurut Mas Ferry, seberapa besarkah peran festival musik bagi perkembangan industri musik di Indonesia?

Gue sering banget dapet komentar kalau band-band yang main di Joyland tuh inspirasi utama beberapa orang untuk bikin band, contohnya Cornelius (Jakarta ‘22), Black Midi (Bali ‘23) dan Interpol (Jakarta ‘23). Jadi, karena emang pertimbangan utama gue book band buat Joyland tuh titik beratnya yang punya live set yang seru, karena nonton konser tuh yang dicari kan pengalaman visual sekaligus audio dari artis yang tampil.

 

Festival-festival musik di luar kalo diperhatikan beberapa ada yang disupport oleh pemerintah setempat, untuk Joyland sendiri ada dukungan nggak dari pemerintah?

Sejauh ini belum ada support langsung, sepertinya belum prioritas juga bidang musik buat diperhatikan oleh pemerintah.

 

Joyland tidak hanya menghadirkan penampil band atau musisi, ada juga stand up comedy yang dikurasi oleh Soleh Solihun dan Cinerillaz yang dikurasi oleh Joko Anwar. Kenapa hal itu bisa ada di Joyland? Dan kenapa memilih Soleh Solihun dan Joko Anwar sebagai kurator?

Pertama, alasan P.O.V sebagai penonton festival yang biasanya durasi orang hadir di festival sekitar 5-10 jam tuh butuh alternatif tontonan selain musik atau untuk istirahat kuping. Kedua, gue ngeliat ada kebutuhan ruang tampil alternatif untuk dua program tersebut yang sebenarnya juga selalu punya irisan penonton di festival musik.

 

Sebutkan festival favorit seorang Ferry Dermawan

Untuk mid-scale festival dan menawarkan programs & experience menarik itu Greenman & End of the Road (keduanya di UK), untuk large-scale festival dan kurasi lineup selalu bagus itu Primavera Sound & Laneway.

 

5 musisi yang pengen banget Mas Ferry bawa ke Joyland? 

Banyak nama sudah kesampean main di Joyland, untuk yang belum ada dua alasan. Kategori pertama, band atau artis yang masih possible dibook oleh Joyland tapi sulit untuk beberapa alasan: karena jarang tour atau mau mampir Asia tapi kurang kuota negara disini, contohnya: Beach House, Jungle, Phoebe Bridgers, Toro Y Moi dan The Smile. Kedua, kategori band-band yang secara produksi sangat berat atau biasa tampil skala stadion tapi di sini ya marketnya enggak segitunya, contohnya: The Cure, Blur, HAIM.

 

 

Mas, sempat ada yang bilang kalo harga tiket menentukan market audience yang datang ke sebuah pagelaran musik. Bagaimana pendapat Mas Ferry tentang hal tersebut?

Alasan yang lebih struktural lagi, saya yakin karena industri kita masih sangat baru  dan muda jadi banyak hal yang masih mencari bentuk, dari sisi perilaku penonton dan tingkat apresiasi.

 

Mas Ferry sudah banyak terlibat di banyak festival besar di Indonesia, sebenernya festival musik yang bagus tuh yang seperti apa? 

Yang konsisten menawarkan gagasan berbeda dan menstimulasi untuk terbentuk gagasan baru.

 

Mas, kalo beberapa band bikin album terus sukses banget. Untuk membuat album berikutnya akan menjadi tantangan tersendiri dan mungkin beban ingin mengulang kesuksesan atau melebihi album sebelumnya. Apakah hal itu berlaku juga untuk Mas Ferry dalam membuat festival musik?

Mirip lah, tapi ya semakin luas penonton kita gak bisa juga memuaskan ekspektasi semua orang. Contohnya, buat saya lineup tahun ini jauh lebih puas dan bagus kalau dilihat dari lineup dan program keseluruhan, gue sangat bisa ngerasain dari sisi program tiap edisi kita selalu berkembang ke arah yang sesuai dengan karakter Joyland.

 

Di salah satu interview, Mas Feri sempat bilang “Kalau festival uang produksinya sudah tercover oleh uang sponsor, itu tidak sehat”. Kenapa seperti itu mas?

Kalau secara bisnis yang ideal itu kan kita bergantung pada tiket. Tapi, di interview itu saya bilang, kita tuh sebenarnya secara industri tergolong baru. Festival di Indonesia baru bermunculan rame tuh mungkin di tahun 2015-an era konser atau festival yang independen bukan dibikin oleh brand. Mungkin 10 tahun kebelakang kita masih mencari bentuk yang pas, meskipun tidak dipungkiri kalau mayoritas festival masih bergantung dengan sponsor. Tapi kalau di regional Asia, udah banyak festival yang bergantung dengan tiket sales. Tapi kalau dibandingin sama negara lain, infrastruktur kita tuh belum memadai untuk sebuah festival. Jadi memang ada banyak pertimbangan.

 

Pertanyaan terakhir mas, berikan alasan kenapa harus banget datang ke Joyland Festival 2024? 

Ide kita membuat Joyland itu ingin merayakan musik dengan pengalaman terbaik dan nyaman, juga apresiasi kita untuk creative scene di sini.

 

Words & Interview by Firman Oktaviawan
Photos taken from Ferry’s archive