Yudi ‘Ryuka’ Setiawan, atau yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Baruz, adalah vokalis yang sudah malang-melintang bermain di beberapa band. Dari unit hardcore era Saparua-nya, Balcony, sampai proyek-proyek metal-nya seperti Konfliktion dan Godless Symptoms. Mari berbincang dengan Baruz mengenai reissue diskografi Balcony, album baru Godless Symptoms dan alasan kenapa Baruz resign dari Konfliktion. Here goes…

 

“Saya juga gatau ya kenapa tiap ketemu orang atau teman mereka bilang album (“Metafora Komposisi Imajinar”) ini tuh masterpiece pisan. Saya juga sempet bingung dan ga ngerti kenapa orang punya penilaian seperti itu. Materi yang kita buat saat itu berarti masih relevan untuk didengarkan sekarang.”

Halo baruz! Sekaranglagi aktif main band apa aja? Bisa elaborasi sedikit?

Halo Aldy alhamdulillah damang. Sehat-sehat? Sekarang aktivitas band yang saya jalananin full cuma Godless Symptoms. Setelah Balcony bubar di tahun 2017 dan baru saja resign dariKon:flik:tion di Maret 2021 kemaren..

 
Bisa ceritain sedikitproses reissue Balcony dengan Grimloc Records?

Balcony album “Metafora Komposisi Imajinar” bakal di reissue sama Grimloc dan Disaster records. Rencananya dibikin vinyl. Sebenernya ini rencana dari tahun 2016. Saya sempet punya source agak lumayan terus di remaster ulang di Red Studio. Tapi hasilnya masih jauh dari harapan. Waktu berlalu dan kita cari sumber yang paling bagus. Akhirnya Febby (Drummer Balcony, Kidsway) sempet nemu file-file lama Balcony album Metafora Komposisi Imajinar” itu. Lalu Grimloc kasih ke Hamzah Kusbiyanto yang orang Semarang itu. Hasilnya agak lumayan. Lalu di share di hearing session ke temen-temen. Dan itu sudah paling maksimal. Alhamdulillah hasilnya layak untuk dibikin vinyl.

 

 
Susah banget euy ngumpulin datanya. Waktu itu nemu master tapi CD nya bermasalah, dari lagu awal sampe lagu akhir ada featuring scratch dari DJ Eone. Tapi lagunya terus muter. Sudah diakalin scratch-nya masih tetap kebawa. Setelah hampir 6 tahun kita akhirnya bisa menyelesaikan remaster-nya. Mudah-mudahan lancar lah untuk dirilis ke dalam bentuk 12 inch vinyl. Lalu ada Balcony x Homicide 7 inch vinyl, karena sudah 2 kali kolaborasi dengan Homicide di “Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan”, dan juga di album reuni Balcony (Februari 2013) yang lagu “Memoar 98”. Setelah 2 vinyl ini rilis rencana-nya mo rilis CD complete discography. Karena baru minggu kemarin ini saya juga nemu master album “Terkarbonasi” (1999) yang hasil audionya masih sangat aman. Sambil mencari master album-album atau single-single yang tercecer diluar.
 
Bisa ceritakan sedikit tentang materi-materi album baru Godless Symptoms; “Satir Getir”,  yang baru dirilis Disaster Records?
 
Prosesnya itu selepas 2017 kita merilis album keempat “The Deaf and the Wasted”, dan melakukan promo dan tur pendek. 2018 Tommy (founder dan eks-gitaris Godless Symptoms) yang juga adik saya, keluar. Setelah 15 tahun bareng dan dia keluar agak berat juga, jadi saya sempat memvakumkan band ini. 2020 awal pas masa pandemi saya pikir band ini harus tetap menghasilkan sesuatu. Pas awal-awal pandemi studio-studio pada tutup dan kita hanya bisa ketemu via video call. Tapi karena sudah diniatkan akhirnya bisa menyusun materi-materi yang dibikin dari jarak jauh via sharing Whatsapp.
 

Memang Febi (bassist) dan Ryan, gitaris baru kita, saya kondisikan untuk berkumpul di rumah Febi untuk membuat recording digital, dengan materi-materi yang sebelumnya sudah dibuat oleh gitaris lama kita Dicky. Kemudian di share ke saya dan Goestie drummer kita. Setelah lagu-lagu-nya fix saya masukin vokal dan coba bikin demo. Akhirnya 8-9 lagu fix kita record di Red Studio dengan kondisi workshop cuma 3-4 kali. Ga terlalu banyak waktu di studio rehearsal. Album ini cukup berbeda dari yang sebelum-sebelum-nya karena kita sempat membuang 20 lagu yang saya pikir sudah pernah ada di album-album sebelumnya. Dengan ada gitaris baru dan tuning gitar yang semakin rendah, jadi lebih low dan heavy sound-nya sekarang.

 

 
Menurut Grimloc album “Metafora Komposisi Imajinar” layak dijadikan vinyl karena ini album esensial dan mercusuarnya Balcony. Kalau personal favorite lo sendiri dari diskografi Balcony yang album mana? “Instant justice” yang lebih hardcore tradisional atau “Terkarbonasi” dengan sound yang lebih modern mungkin?

Jelas “Metafora Komposisi Imajinar” karena di album ini melebur semua komponen. Album satu straight hardcore, di album kedua banyak referensi band-band mainstream, kaya kita mengadopsi Snapcase dan Refused. Jadi lebih variatif dan dark. Nah di album ketiga semua komponen ini melebur di dalam satu karya. Ya saya juga gatau ya kenapa tiap ketemu orang atau teman mereka bilang album (“Metafora Komposisi Imajinar”) ini tuh masterpiece pisan. Saya juga sempet bingung dan ga ngerti kenapa orang punya penilaian seperti itu. Materi yang kita buat saat itu berarti masih relevan untuk didengarkan sekarang.


 
Album reuni juga sangat berkesan buat saya. Dibuat setelah ga ketemu 8 tahun. Karena Red Studio menawarkan membuat EP saat itu. Ada 4 lagu baru dan 3 lagu lama yang kita rekam. Sesama personil jarang ketemu pas recording kecuali pas take vokal. Kesibukan masing-masing pada saat itu ya Febby di Noah, almarhum Jojon jadi road manager Geisha dan d’Masiv. Ramdan di Burgerkill, dan saya di Godless Symptoms. Awalnya dari panggung reuni sih jadi ngobrol dan ketemu lagi, lalu keluarlah album reuni itu.
 

 

“Dulukan jaman analog ya mau ga mau harus briefing pake gitar kopong, direkam pake walkman yang ada recorder. Jadi semua emang kumpul. Tapi karena saya masih ngeband sampai era sekarang berarti saya juga menikmati semua perubahan tersebut. Ya mau gimana lagi. Teknologinya udah deras kaya gini.”

 

 


Bagaimana rasanya ngeband di era digital dengan adanya sharing file Whatsapp, Zoom, Google Drive, virtual concert dan streaming Spotify? Mengingat lo udah ngeband dari era Saparua, apakah sulit untuk beradaptasi?

Akhirnya kita semua harus beradaptasi dengan itu. Dulu kan jaman analog ya mau ga mau harus begitu kalau mau punya karya. Briefing nya pake gitar kopong direkam pake walkman yang ada recorder. Jadi emang ga sekedar share gitu aja, semua emang kumpul. Lalu kita bawa ke studio latihan buat merealisasikan apa yang kita udah briefingkan. Sekarang sebenarnya kerjaan-kerjaan dipermudah dengan adanya file sharing dan lain-lain. Tapi karena saya masih ngeband sampai era sekarang berarti saya juga menikmati semua perubahan tersebut. Ya mau gimana lagi. Teknologinya udah deras kaya gini. Tapi bagi saya menarik-menarik aja karena kita juga bisa spread musiknya lebih luas, orang dimana aja bisa dengar musik kita. Kalau jaman analog kan ya kaset kita emang harus beredar sampe ke temen-temen di Malaysia, Eropa, Singapur, Amerika agar mereka bisa dengar. Buat saya ya plus minus, selama saya masih bisa enjoy dengan itu semua sih ga ada masalah.

Lalu bagaimana dgn Kon:flik:tion? Saya juga melihat lo suka perform pakai topeng di panggung? Lalu kenapa akhirnya memutuskan untuk resign dari Kon:flik:tion?

Emang saya bikin Kon:flik:tion pengen beda dengan Balcony dan Godless. Musiknya lebih fresh dan heavy. Kenapa saya pake topeng sebenernya saya pengen orang liatnya itu bukan saya haha. Akhirnya jadi keterusan. Setelah 2 EP, 1 LP dan 1 kaset live dan DVD “The First Two Years”, saya memutuskan untuk keluar karena udah ga se visi dengan personil yang ada. Saya memutuskan untuk fokus lagi di Godless. Kon:flik:tion saya bikin pas Godless vakum setelah Tommy resign dari Godless. Karena ada ketidak cocokan lagi yang terjadi di Kon:flik:tion itu sendiri jadi akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari band
itu.

 




Lo tadi nyebutin Refused dan Snapcase sebagai pengaruh besar untuk Balcony. Kalau band dan album-album yang nge-shape musikalitas lo dari dulu sampe sekarang apa aja?

 

Selain main band sedang sibuk kerjain apa aja? Denger2 siaran juga ya di ext moshpit?

Menjual merch import / lokal dari vinyl sampe kaos di Krow Music Dealer. Dari dulu dijalanin sampe sekarang. Siaran juga di Extreme Moshpit hari kamis jam 4 s/d jam 6 nama acara-nya Rebel Yell, sebuah acara yang dirancang almarhum Ebenz untuk memutarkan lagu-lagu klasik angkatan kita. Saya ngebahas album Minor Threat bersama sejarahnya, juga movement si Ian MacKaye misalnya. Ngebahas The Clash, atau ngebahas thrash Bay Area. Atau grindcore awal-awal era Earache records.

Personal fave saya dari Balcony adalah “Terkarbonasi”, karena pas tahun 1999 beli kasetnya, cukup berbeda dengan band-band hardcore lokal lainnya. Mungkin ada sound yang sekilas terdengar seperti peleburan dari Refused, Deftones, dan Korn, yang jauh dari musik hardcore tradisional. Bisa cerita sedikit tentang album “Terkarbonasi”?

Sebenarnya setelah “Instant Justice” kita masih berlima. Pas mau buat album kedua bassist yang lama dan gitaris yang satu lagi cabut dari band. Cuma ada 3 orang tersisa dari 5 orang yang ada di album pertama. Kita punya rasa yang sama saat itu, apalagi ada gejolak-gejolak reformasi tahun 1998, terus ditambah banyak faktor lainnya, jadi mengalir begitu saja. Setelah 2 personil keluar, kita bertiga jaid lebih intens bertemu dan keluarnya seperti itu, sebuah album yang lebih dark.

Rencana-rencana selanjutnya dengan Godless Symptoms?

Yang jelas bakal terus promo, mau bikin music video dan beberapa projek lainnya yang juga udah saya susun. Ada juga projek solo saya udah jadi sekitar 4 lagu, cuma masih belum yakin apakah materi-nya sudah matang atau belum. Ada beberapa lagu yang udah jadi sih. Yang pastimah saya bakal terus main band aja. Ya sudah disini aja saya, main band aja total dan bisnis yang masih ada hubungannya dengan band atau musik. Masih menjalankan Krow Music Dealer juga. Tetap yakin aja dan konsisten, insyaallah semua bakal ada jalannya.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Ari Copet & Baruz’s archives

Korea Selatan terkenal dengan dunia entertainment-nya yang terkenal. Dimulai dari girlband atau boyband yang mengusung k-pop sukses mencuri perhatian dunia. Belum lagi bagaimana dominasi serial drama Korea yang mampu menarik remaja putra-putri ataupun orang dewasa untuk meninggalkan sinetron atau FTV yang ceritanya sungguh membosankan. Di Luar itu, ada juga film Korea yang menarik perhatian dengan kualitas yang sangat bagus. Salah satunya adalah film Parasite yang banyak mendapatkan penghargaan di festival-festival film berskala besar. Selain Parasite, ada juga film-film Korea yang harus kamu tonton. Untuk itu, kami akan kasih tau nih 5 film Korea yang harus kamu tonton.

Oldboy (2003)
Setelah nonton film yang diadaptasi dari manga ini langsung terdiam beberapa detik mencoba mencerna terkejut dengan film apa yang baru ditonton barusan. Meskipun diadaptasi dari Manga tapi Oldboy versi film ini memiliki ending yang berbeda. Film yang disutradarai oleh Park-Chan Wook ini digadang-gadang sebagai film Korea terbaik sepanjang masa. Sampai pada tahun 2013 lalu sempat di remake sama Spike Lee. Film yang menjadi bagian dari trilogy Vengeance dari Park Chan Wook ini bercerita tentang seorang pria bernama Oh Dae Su (Choi Min Sik) yang dikurung di sebuah ruangan rahasia selama 15 tahun. Setelah keluar dia mecari siapa yang mengurungnya dan apa motif pelakunya. Aksi perkelahian pun dimulai ketika Min Sik berhasil keluar dan akhirnya menemukan siapa yang mengurung nya selama 15 tahun. Dan yang mengurung Oh Dae Su ini Lee Wo Jin (Yu Ji Tae) setelah ditemukan memberi waktu 5 hari kepada Dae Su untuk mencari alasan kenapa dia mengurungnya dengan imbalan kalau tau alesannya Ji Tae akan membunuh dirinya sendiri. Perjalanan dalam menemukan jawaban inilah yang membuat lebih menarik lagi nih film Oldboy.

 




The Chaser (2008)
Siapkan mental kamu sebelum nonton film yang satu ini. Film debut dari sutradara Na Hong-Jin ini sangat menguras emosi. Menceritakan tentang seorang mantan detektif Eom Jong-Hoo (Kim Yoon Seok) yang beralih menjadi seorang mucikari mendapati hilangnya beberapa perempuan penghibur yang bekerja dengannya. Hingga suatu saat ketika ada yang mau memakai jasa perempuan penghibur dia sadar kalo nomer telepon yang dipakai oleh si pelanggan itu sama dengan pelanggan sebelumnya yang menyebabkan wanita penghibur yang mendatanginya hilang. Dari situ Jong-Hoo pun menyelidiki keberadaan si pelaku dan menemukan Jae Yeong Min (Ha Jeong Woo) orang yang diduga membunuh para pekerjanya. Konflik lebih besar pun dimulai ketika Yeong Min ditahan oleh polisi. Tapi, tidak cukup bukti untuk menjadikan Yeong Min sebagai tersangka. Jong Hoo pun hanya memiliki waktu 12 jam untuk menemukan wanita penghibur dan membuktikan kalau Yeong Min adalah pembunuhnya.

 

 

I Saw The Devil (2010)
Cocok buat kamu yang seneng sama film-film yang terlihat sadis. Film yang disutradarai oleh Kim Jee-Won ini bercerita tentang seorang agen rahasia Kim Soo-Hyeon (Lee Byung-Hun) yang mencari pembunuh dari tunangannya. Ternyata yang mebunuh tunanganya itu adalah seorang pembunuh berantai Jang Kyung-Chul (Choi Min-Sik) yang telah diburu oleh polisi karena telah beberapa melakukan pembunuhan. Soo-Hyeon pun berhasil menemukan Kyung-Chul karena skill nya yang dulu merupakan seorang agen rahasia Korea. Yang menarik adalah ketika Soo-Hyeon menemukan Kyong-Chul, dia tidak langsung membunuhnya. Tapi, dia sengaja menyiksa Kyong-Chul dengan cara yang tidak biasa. Jadi mau dibunuh pas mau mati diselamatkan lagi agar bisa tetap hidup dan kembali berusaha dibunuh. Terus aja gitu sampai akhirnya nonton aja sendiri yah. Seru banget ini bagaimana perlakuan Soo Hyeon terhadap Kyong-Chul.

 


The Wailing (2016)
Setelah mencuri perhatian di film The Chaser, Na Hong-Jin kembali membuktikan kualitasnya sebagai sutradara di film The Wailing. Film ini bercerita tentang keadaan sebuah desa yang asri tiba-tiba dilanda dengan sebuah musibah dimana satu persatu penduduknya meninggal dengan cara yang tragis. Hasil penyelidikan polisi pun mengatakan kejadian itu karena adanya wabah penyakit yang melanda desa. Tapi ada seorang anggota polisi Jong-Goo (Kwak Do-Woon) ketika berjaga bersama temannya di salah satu TKP tiba-tiba didatangi seorang wanita muda yang entah darimana datangnya. Setelah pergi Jong-Goo pun mendengar desas desus kalau di desanya ada seorang pria misterius dari Jepang mendatangi desanya. Katanya, setelah pria itu datang kematian pun terjadi di desa.  Dari situ pun hal-hal aneh menimpa Jong-Goo sampai akhirnya putrinya kesurupan dan orang tuanya meminta bantuan dari orang pintar. The Wailing ini durasinya 2 jam lebih tapi tidak terasa lama. Cerita yang dibangun dari pertama sukses membuat ngeri ketika hal-hal misterius terjadi kepada Jong-Goo dan keluarga.

 




Memoirs of a Murderer (2017)
Film yang disutradarai oleh Won Shin Yun ini sangat menarik karena menceritakan bagaimana seorang mantan pembunuh berantai Byung Soo (Sol Kyung Gu) yang mengidap Alzheimer karena memiliki sejarah sebagai pembunuh berantai dia bertemu dengan seorang pria misterius Kim Nam Gil yang ternyata sebagai pembunuh berantai juga. Kecurigaan Byung Soo terjadi karena insting dia sebagai pembunuh berantai keluar ketika dia bertemu dengan Nam Gil di sebuah persimpangan. Nam Gil pun menyadari kecurigaan Byung Soo, dan untuk menyelamatkan dirinya, Nam Gil mendekati dan berhasil menjadi pacar dari Kim Syeol Hun yang merupakan putri dari Byung Soo. Hal-hal yang tidak terduga pun terjadi diantara mereka bertiga. Kecurigaan Byung Soo yang terus membuntuti Nam Gil ditambah Alzheimer yang diderita oleh Byung Soo membuat film ini semakin menarik. Kayak nonton Memento dicampur sama Shutter Island.

 
curated by Firman Oktafiawan

Mini album “Boyish”,  single “Ocean Waves” dan “Things I Could Never Say To You” milik Noni jika digabungkan, sudah memiliki lebih dari 5,000,000 streams di Spotify. Menurut artist pagenya, 242,343 monthly listeners setia mendengarkan single-singlenya. Jika kalian mendengar mini album Boyish, kalian mungkin tidak percaya kalau EP itu dibuat Noni menggunakan FL Studio / FruityLoops. Dikenal dengan suaranya yang khas dan kolaborasinya yang sangat produktif, Noni sudah pernah berkolaborasi dengan musisi/produser seperti Andre& (Pon Your Tone), Dexfa, Clever, Kenny Gabriel, Zehan dan CVX. Single Noni yang berkolaborasi dengan Basboi juga cukup menarik perhatian karena keluar dari pakem-pakem R&B dan condong ke house music. Mari berbincang dengan penyanyi dan produser muda ini mengenai Astrud Gilberto, dampak buruk NFT untuk lingkungan dan suka-duka-nya menjadi solois independen.

 

“Gue ingin mendorong musisi perempuan untuk mulai belajar menjadi produser dan memproduksi lagu-lagu lo sendiri. Karena bisa dihitung jari produser musik perempuan di indonesia.  Lo harus tau apa yang lo mau dan harus bisa bikin apa yang lo mau.”

 
 

Halo Noni! Apakabar? Darimana datangnya moniker “Noni” itu?
kabar gue baik banget, engga sih sebenernya ga baik-baik banget, in the middle of a freakin pandemic haha, gue agak susah sih buat nyari inspirasi but i’m still trying to cope with this whole thing.. So far so good, but i wouldn’t say i’m that good. Anyway, sebenernya untuk moniker gue itu sendiri itu bukan moniker, it’s not a stage name. Karena dari kecil gue dipanggilnya emang Noni. Terakhir gue nanya sama nyokap itu arti dari Noni itu karena gue anak cewe sendiri di keluarga. Itu pertanyaan yang ga pernah luput dari hidup gue selama hidup 21 tahun hahaha..

Mulai dari kapan lo mulai menulis lagu dan menulis lirik sampai belajar self producing?
Kalau belajar nulis lirik tuh gue dari kecil emang suka nulis-nulis lirik. Sekitar umur 7 tahunan udah mulai nulis-nulis puisi. But the real starting period gue mulai menulis lagu itu pas 15 tahun. Sebelum itu awalnya gue mulai dari Soundcloud cuma cover-cover lagu Kpop. I was so obsessed with Kpop back in the days so i’ve covered a lot of my fav Kpop songs. Umur 16 tahun gue udah mulai capek “ah masa sih gue mau kaya gini terus” akhirnya gue coba nulis lagu dan upload original songs di Soundcloud.


Kalau producing itu gue mulai produce umur 17 tahun. Itu pertama kalinya gue diajak collab sama producer namanya Zehan. Karena dia bikin lagu R&B dan techno gue tanya ke dia “lo bikin lagu-lagu kaya gini tuh gimana sih?”. Karena gue tau lagu-lagu kaya gini tuh ga dibikin pake instrumen tradisional kaya gitar atau keyboard. Lalu dia introduce me to Fruity Loops (FL Studio). Sebenernya gue udah familiar sama DAW (audio workstation), soalnya waktu kecil gue udah sering (main) di studio, tapi cuma ngerti soal record-record doang, gatau cara producing itu gimana. Dari situ gue mulai coba-coba produce sampe akhirnya sekarang gue udah bisa, back then i was so shit, skill gue jelek banget hahaha.

Collab sama zehan itu titik pertama gue mulai masuk ke industri sebenarnya, cuma itu bukan breakthrough-nya gue. Breakthrough-nya gue itu pas gue collab sama produser bernama Andre& (Pon Your Tone). Dia nemu gue dari soundcloud, where i began everything. Gue rilis “Toxic Ovr Ya” sama kak Andre&. Ever since then, gue banyak tawaran untuk collab dan segala macem. Dari situ gue memberanikan diri pas 2020 untuk bikin EP. Cause i need people to know kalau gue ga cuma capable buat collab doang tapi bisa berdiri sendiri. Kalau yang bantu produce EP gue itu kak Ikki (CVX).

 

“Gue gatau chord yang gue mainin itu apa tapi as long as sounds right  to me, bakal gue masukin ke lagu gue.”

 

Instrumen apa aja yang lo kuasai? Basic lagu-lagu lo dari piano atau gitar?
Oh man! i wouldn’t say i master instruments ya tapi secara basic gue punya decent skills di gitar dan keyboard. Dan itu juga sebenernya gue buta banget chord. Gue gatau chord yang gue mainin itu apa tapi as long as it sounds right  to me, bakal gue masukin ke lagu gue. Bahkan skill gue itu a bit below decent.


Lo credited juga sebagai produser di lagu-lagu lo. Ada tips-tips producing untuk orang-orang yang baru memulai home recording dengan musik R&B sejenis lo?
Kalau choosing softwares lo harus pilih yang paling nyaman buat lo. Gue pernah ditanya sama orang yang pake macbook “Gimana sih caranya pake FL di macbook?”. Gue bilang ke dia jangan pake FL di Macbook, i don’t think its suitable for Macbook. Gue tadinya mau pindah  ke Ableton cuma kaya FL aja gue belum fully

mastered it. Kaya baru ngerti 50-60% lah. Menurut gue kalau lo punya Macbook jangan pake FL, use that macbook privilege, pake aja Logic. Gue liat temen-temen gue yang pake Logic juga jauh lebih gampang. Jadi ya intinya pilih software yang lo udah nyaman aja. Di peers gue yang pake FL itu juga kaya cuma gue doang, jadi susah relate-nya ama temen-temen gue soalnya mereka tuh either pake Logic atau Ableton. Gue pengen sih pindah ke Ableton, tapi i don’t think i have the time and the capability to learn it again hahaha..

When it comes to songwriting and song producing, ini sebenarnya penyakit gue juga: jangan terlalu terpaku sama inspirasi lo. Ketika lo terlalu terpaku sama inspo lo, lo akan seeking to be as “perfect” as that inspo. Jadi dikurang-kurangin sih. Having inspirations are great. Cuma kalau lo udah terlalu terpaku sama inspirasi lo, ya lo ga akan “nyampe” untuk copying inspo lo.

 

 

“Ini sebenarnya penyakit gue juga: jangan terlalu terpaku sama inspirasi lo. Ketika lo terlalu terpaku sama inspo lo, lo akan mencoba menjadi “sempurna” untuk menjadi seperti inspirasi lo.”

 
 
 

Mini album lo “Boyish” sangat fresh diantara rilisan-rilisan lokal genre lain yang dirilis di 2020-2021. Gue ngedenger beberapa pengaruh R&B 2000-an disitu tapi ngeblend juga dengan nuansa musik kontemporer seperti neo-soul dan chillhop. How would you describe your music in “Boyish”?
Emang main inspirations gue di “Boyish” tuh emang lagu-lagu dari tahun 90-an dan 2000-an. Juga lagu-lagu sekarang yang terinspirasi dari lagu-lagu R&B 90-an dan 2000-an. Dan juga Korean hip hop & korean R&B sih. All of my craft and music kebanyakan inspirasi-nya dari Korean hip hop / R&B sih. Karena mereka punya style yang lebih distinctive dari hip hop/R&B bule.


Lagu “Go Figure”  dan “You dont have to (rush)” terdengar seperti perpaduan dari Janet Jackson era “Velvet Rope” dan Erykah Badu. Dan kedua lagu itu memiliki unsur piano jazzy. Bagaimana cerita dibalik kedua lagu itu? Apakah lo menggunakan sampling juga? Karena di kedua lagu itu terdengar berbagai genre yang melebur dengan apik..
Lagu “Go Figure” tuh that was like the proudest moment for me. Walaupun mayoritas EP “Boyish” itu emang dibantu kak Ikki (CVX) yang ngerapihin. Tapi “Go Figure” sendiri adalah satu track yang gue bangga banget, karena itu satu-satunya track yang mayoritas gue kerjain. Jadi cara kerja kita tuh emang gue yang produce demo-nya dan gue minta kak Ikki rapihin. Kak Ikki tuh suka nambah-nambah-in sedangkan kalau di lagu “Go Figure” itu hampir keseluruhan gue. Ketika gue bikin lagu “Go Figure” , gue ngerasa “ini nihh!” lagu yang gue pengen bikin kemaren tuh yang kaya gini. And YES! it was Fruity Loops. hahaha. Berkat tangan ajaib kak Ikki juga, he also did the mixing and mastering.


Sejauh ini gue belum bisa memakai sampling dari lagu orang, jadi i was making beats from scratch. Bukan karena gue gamau tapi gue emang belum mahir untuk pake samples. Chord piano-nya emang agak jazzy sih. Our whole family is an avid music fan. Nyokap gue mengenalkan gue ke bossanova kaya Astrud Gilberto, Jobim. Dia juga ngenalin gue ke Nat King cole, Aretha Franklin, tony bennett. abang2 gue dengerin rock jadi gue juga suka. lalau eksplor sendiri kpop. jadi selera gue emang campur2, walaupun fokusnya ke R&B. gue selalu mencoba memasukan berbagai elemen (dari genre lain) di lagu-lagu gue.

Orang-orang kan lagi into Kpop mainstream, padahal banyak underrated artist kaya Yerin Baek, Heize, SUMIN, Hyukoh dan lain-lain yang kurang dapet exposure. Apa yang lo suka dari artist-artist skena independen Korea ini?
Mereka tuh seperti mempunyai dunia sendiri. Gue ga bisa membayangkan lagu-lagu Korea ini dinyanyiin dalam bahasa Inggris. Walaupun gue tau beberapa musisi Korea tersebut memiliki inspirasi dari musik barat, mereka terlihat nyaman dengan keunikannya masing-masing. They’re so creative and so unique sehingga susah untuk di describe. Mereka juga mungkin ga bermaksud untuk ngebikin lagu mereka ga bisa dinyanyiin sama orang bule. It’s like they have their own little world, tapi mereka nyaman dengan itu. Dan mereka juga tidak ingin keluar dari comfort zone mereka. Tapi mereka bisa memaksimalkan diri mereka.

Ga mencoba juga untuk membuat lagu berbahasa Indonesia?
Waktu itu pernah ditawarin sama kak Ikki untuk nulis lagu buat artist lain. “Coba deh lo bikin melodinya dan tulis liriknya pake bahasa indonesia”. Setelah gue bikin dan kirim ke kak Ikki “melodinya bagus sih tapi liriknya…”. OK! I still need to learn more. Susah banget, susah parah. I’m not proud of it. Karena itu bahasa ibu gue, harusnya gue bisa tapi kenapa gue gabisa. Tapi gue ga ada planning untuk bikin lagu Indonesia sih karena gue udah nyaman dan orang-orang juga nyaman-nya ngedenger gue nyanyi dalam bahasa Inggris…

Tema-tema apa yang ingin lo angkat di lirik-lirik EP “Boyish”? 
“Boyish” sendiri tuh as a whole adalah gue being the most boyish form of myself gitu. Mencoba untuk “slengean” sih di EP itu. Calling out people without any remorse. Di lagu “Go Figure” itu sendiri kan gue calling out orang-orang yang take me for granted. Padahal dulu tuh pas kita “kenal” lo ga pernah ada effort untuk komunikasi sama gue. Tapi sekarang mereka yang “Eh Noni apa kabar lo?”. Lagu “Boyish” juga kaya gitu. Disitu tuh gue mencoba untuk bodo amat, i’m not gonna regret or feel bad about this. “Boyish” EP adalah Noni yang paling slengean, walaupun di track terakhir “You Don’t Have to Rush” lebih delicate.

I do admit that i’m a bit tomboy and i’m not against it. But i do have my own fair share of feminine side. Cuman ada orang-orang yang ngeliat gue tuh bener-bener tomboy kaya versi cowok-nya mereka. Padahal ga kaya gitu. I personally feel very offended kalo mereka ngeliat gue kaya cewek yang kecowok-cowokan gitu. Dan mereka punya perspektif itu terhadap gue karena gue berdandan agak “boyish”. Karena gue lebih suka pake celana daripada rok, pake sneakers daripada flat shoes atau high heels. Di EP “Boyish” ini gue mencoba merangkul sisi boyish tersebut sekaligus menjelaskan pada orang-orang that i’m not that boyish. Gue juga perempuan gitu. 

 

 

“Sejauh ini gue belum bisa memakai sampling dari lagu orang, jadi i was making beats from scratch.”

 



Single lo dengan Basboi; “Written in the Stars” sedikit berbeda dengan EP lo ya? Ada elemen house music disitu. Bisa ceritakan sedikit background pembuatan dan produksi lagu ini? 
Sebenarnya “Written in the Stars” itu emang agak eksperimental ya. Basic musik gue itu adalah R&B. Gue terinspirasi ketika melihat Kaytranada dan Joe Hertz gitu. Kan kaya Kaytranada suka ngajak collab-collab artis R&B juga padahal basic musik dia adalah house kan? Dari situ gue mikir ternyata musisi R&B bisa mainin musik house juga, so why can’t i? Jadi gue coba lah untuk eksperimen. Cuma kalau ditanya apa kedepannya akan buat lagu seperti ini mungkin jawabannya adalah… maybe?


 

Awal nulis lagu ini dari iseng nyobain pedal gitar abang gue yang baru kan. Chorus atau Tremolo gitu gue lupa. Terus gue dapet chord. Pas di coba di gitar elektrik gue “kok enak chord ini”. Gue udah kebayang beat nya yang “DEB DEB DEB” ya kaya
tipikal house traditional gitu. Gue bahkan ga familiar sama house music karena gue ga into EDM. Waktu itu perspektif gue terhadap EDM ya ala-ala David Guetta dan Martin Garrix gitu kan haha. Gue iseng upload di soundcloud akhirnya jadi house.

Lalu lo memutuskan untuk mengajak Basboi untuk mengisi part rap di lagu ini? 
Nah ini lucu. Sebenernya gue udah kenal manager kak Bas, namanya kak Andre. Kebetulan kita ada shooting barengan. Terus gue kasi lagu “Written in the Stars” ke kak Andre. Tadinya lagunya cuma sampe chorus dan outro yang agak-agak Tron Legacy gitu kan. Durasi lagunya masih pendek. Dia komen “tambahin rapper asik sih ni lagu”. Gue bilang siapa rappernya ya yang cocok?. “Si Bas aja!”. Jadi kita kasih denger ke kak Bas dan dia suka. All is full of coincidence gitu, awalnya gak di planning sama sekali. It happened.

Lagu “Written in the Stars” tentu mengenai astrologi. Seberapa percaya lo dengan astrologi? 
Hmm i would say… 60% hahaha. Gue lebih percaya kalo lo bintang-nya ini ya orangnya kaya gini misalnya. Karena gue sendiri suka mengobservasi orang gitu. I see the patterns in them. Zodiak ini tuh perilaku nya kaya gini. Emang ada pattern-nya dan gue melihat itu. Waktu itu gue pernah ngeliat tweet orang di Twitter, jadi dia dulunya kontributor rubrik horoskop di sebuah majalah. Dan dia mengakui dia nulis asal-asalan aja hahaha.

Apa tertarik untuk melakukan live performance dengan full band? 
Belum pernah tapi gue tertarik banget. It’s my dream! Soalnya pas kelar ngerjain EP “Boyish” gue mikir “ini lagu-lagu-nya dibawain full band seru nih.” Apalagi yang track pertama “More” pengen banget sih gue (lagu ini) dibawain sama band. Lebih dapet sih sound nya. Apalagi drumnya, if they can play it very well.. i’ll be fuckin’.. UGH! Seneng banget sih kayanya.

Tell us your top 5 albums of all time then… Getz / Gilberto (1964)
Yang ada “Girl from Ipanema”, “Corcovado”, “Doralice”.. Yang kover kuning itu. It was the staple of bossanova music. Ini juga vinyl pertama yang gue beli haha.

The Sylvers – Self Titled (1972)
Rilis tahun 70-an juga. Ini adalah album soul. It was my best discovery of soul R&B. Cukup obscure. Walaupun band ini beberapa kali disample oleh J Dilla dan bahkan Ariana Grande. Cuma waktu itu pas gue nyari album ini susah banget dan tinggal 1 yang jual di indonesia.

SUMIN – Your Home (2018)
Produser cewek dari Korea.. Ni orang ibarat Tuhan-nya gue when it comes to producing. Album ini jadi motivasi paling gede buat gue. Untuk nyari produser di Korea jarang banget yang cewek dan jarang banget yang sebagus SUMIN. She’s very experimental.
 
SUMIN & Slom – Miniseries EP (2021)
Mereka emang deket dan akhirnya berkolaborasi membuat EP ini. Track per tracknya beda-beda dan memperlihatkan ke gue bahwa ada musik Korea yang berbeda.

Little Simz – Sometimes I Might Be Introvert (2021)
Rapper dari Inggris. Dia ga mengikuti trend hip hop yang trap dan hardcore hip hop. Most of her songs are soulful, walaupun pas ngerap dia agak tough. Di album ini kebanyakan tracknya soulful. Soul ala-ala tahun 70-an gitu.

 

 

“Waktu nulis anggaran kok gue ga ngitung sama duit buat kehidupan sehari-hari? That’s very sad. Gue rela menghabiskan uang sebanyak ini hanya untuk merilis sesuatu? Apakah ini semua akan worth it?”

 

 

 

Pandemi dan lockdown atau apapun namanya itu banyak membuat musisi berkarya. apa lo salah satunya juga yang lebih produktif gara-gara pandemi ini?
It’s hard for me. Gue soalnya nyari inspirasi itu dari dunia luar gitu. Gue gabisa sepenuhnya liatin HP bacain cerita orang-orang di IG atau Twitter. Ada sekat atau barrier yang gabisa gue bikin jadi lagu dengan baik. Karena inspirasi juga ga bisa masuk secara konstan. Gue ga bisa lihat sekitar gue, kaya cuma liat kamar doang. Sekarang gue try not to think about it. Ketika gue bikin beat dan segala macem yaudah “Bikin ajalah Non, coba aja”. Mau beat nya seaneh apa dibikin aja. Susah sih jujur.

 


Sempat ada fase dimana gue ngerasa stuck. Tapi kalau misalnya lockdown ga ada, mungkin EP “Boyish” juga ga bakal ada. So blessing in disguise. Dibanding dengan pas dunia lagi biasa-biasa aja, ya bisa dibilang sekarang lebih produktif bikin lagu. Jadi di satu sisi gue produktif bikin beat tapi di sisi lain inspirasi gue minim. I’m still trying to adapt in these situations.

Beberapa musisi ada yang mulai menjual lagu-lagu-nya di NFT, dan menurut beberapa sumber, major streaming services kurang menghasilkan. Bermusik di era virtual concert ini buat lo kaya gimana? 
I’m not against NFT, tapi gue ngerti orang-orang yang ga into NFT dan ada orang-orang yang terjun juga ke NFT. Major streaming platforms emang unfair sih. The future of music is going to be ok menurut gue. Dengan ada NFT musisi juga punya banyak alternatif dan tidak tergantung sama major streaming platforms. Baru-baru ini juga gue denger ada Storefront, yang menurut gue adalah sebuah inisiatif yang bagus.

Di masa virtual ini juga banyak temen-temen yang kehilangan sumber penghasilan mereka. Walaupun yang struggling bukan cuma musisi tapi pihak dari acara-acaranya juga susah buat bayar musisinya. We’re all in this together. Rapi yaudah mau gimana lagi. Selagi ada kesempatan take the risk aja. NFT juga gue denger it’s
not environmentally good for the earth. Cuma kalau di masa-masa gini kita semua udah desperate, jadi gue ngerti kenapa mereka memilih NFT.

Anehnya di tengah pandemi ini gue justru banyak dapat tawaran live virtual haha. Padahal dulu sebelum pandemi gue ga pernah dapet tawaran sama sekali. Setiap perform feel-nya beda dengan manggung beneran didepan audience. Soalnya penonton asli itu ngasih vibe dan energi. I hate virtual concerts, but I have to do it, mau gimana lagi.

Last words and future projects? 
Gue lagi mulai produksi buat single gue yang akan rilis Februari-Mei 2022. Untuk memperoleh uang yang gue butuhkan untuk materi promo seperti video musik, it’s quite hard. Waktu nulis anggaran kok gue ga ngitung sama duit buat kehidupan sehari-hari? That’s very sad. Gue rela menghabiskan uang sebanyak ini hanya untuk merilis sesuatu? Remarkable. Apakah ini semua akan worth it? Tapi disisi lain gue bangga juga bisa sampe di tahap ini. It’s very conflicted.

Gapapa lo ga beli merchandise, ga beli ini-itu. Tapi kalau ngasi kritik ke artist, lo juga harus ingat mereka juga effort: blood, sweat, tears and MONEY! for everything to happen. Pada suatu titik semua musisi harus mencoba menjadi independen tanpa team. Belajar sisi bisnisnya. dan merasakan struggle-nya haha.

I want to encourage Y’ALL female musicians untuk mulai belajar menjadi produser dan memproduksi lagu-lagu lo sendiri. Karena bisa dihitung jari produser musik perempuan di Indonesia. Ngikutin arus terus tuh ga enak. Lo harus tau apa yang lo mau dan harus bisa bikin apa yang lo mau.Gue belajar 5 tahun dan masih terus belajar untuk produce. I hope people will anticipate my future release, for now i’m trying to experiment the shit out of everything hahaha!


https://www.instagram.com/amarangganii

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Noni’s archives, Satria Lingga, Ucalonon
Pernah pengen terlihat stylish dengan pakaian mahal tapi duit pas-pasan? Mungkin gaya hidup La Sape cocok buat kamu. La Sape adalah sebuah gaya hidup yang tumbuh di Congo, dimana ada beberapa orang disana yang lebih suka memiliki pakaian bermerek dengan harga jutaan meskipun untuk makan sehari-hari aja susah. 
 

 
La Sape ini merupakan singkatan dari bahasa Prancis Societe Des Ambianceurs Et Des Personnes Elegantes kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya masyarakat yang menaikan atmosfer suasana dan orang elegan. Kira-kira gitulah. Sapeur atau orang yang menganut gaya hidup La Sape ini mempunyai stelan jas dengan brand-brand terkenal seperti Dolce Gabana, Chanel, Loui Vitton, Gucci, dan lainnya. Semua pakaian itu tertata rapi di sebuah rumah kecil sempit bukan di walking closet. 

 


 

La Sape sendiri diyakini telah hadir pada masa penjajahan Prancis dan Belgia di Congo. Pada masa itu para penjajah suka menghadiahi pakaian-pakaian mewah dari eropa ke para pekerjanya. Kalau dari penelitian Steinkopf-Frank, Hannah Rose yang berjudul La Sape: Tracing the History and Future of the Congos’ Well-Dressed Men bahwa pada tahun 1976 ada pemuda dari Congo bernama Jean Marc Zeta yang merantau ke Paris dan membuat perkumpulan remaja Congo di Prancis. Mereka berpakaian fashionable seperti layaknya orang Paris. Dan mereka memakainya ketika mudik kembali ke Congo agar terlihat sukses. Hmmm nampak familiar yah dengan ceritanya. 
 

 

Para Sapeu ini mengharamkan untuk memakai barang KW. Karena, bagi mereka itu merupakan sebuah penghinaan. Untuk mendapatkan pakaian mewah ini tidak sedikit dari mereka yang rela tidak makan berhari-hari, berhutang atau menjadi pengedar narkoba. Apapun akan mereka lakukan untuk menjadi terlihat elegan meskipun tidak makan. 
 
Words by Firman Oktafiawan
Langit sore Bandung dikala itu tanggal 14 November 2021 terlihat cerah. Berawal dari keinginan untuk datang ke salah satu gigs yang akan diadakan di salah satu tempat di Jl Riau, menyempatkan untuk belok dulu ke Grammar yang terletak di kawasan Jl Cihapit untuk melihat pameran Notes From The Underground: Pengarsipan Kompilasi Musik Independen Bandung (1997-2017) dari Idhar Resmadi. 
 

 

Ketika masuk ke dalam Grammars pandangan langsung menuju ke sebelah kanan dimana ada meja besar dengan banyak rilisan berupa kaset dan CD yang tertata dengan rapi. Mulai mendekat baru terlihat jajaran rilisan yang tergeletak itu merupakan rilisan kompilasi koleksi dan kurasi dari penulis sekaligus dosen Idhar Resmadi. Banyak sekali rilisan kompilasi seperti Masaindahbangetsekalinpisan yang dirilis oleh 40.1.24 Records yang menjadi rilisan kompilasi independen pertama di Bandung, Bandung Burning Vol 2, Kami Percaya Kau Pun Terbakar Juga Tribute To Koil, dan masih banyak rilisan kompilasi lainnya. Melalui pamerain ini, Idhar ingin memperlihatkan relasi antara musik, desain, dan subkultur musik dalam aspek relasi sosial teknologi dan budaya.

 

 

Bergeser lebih kedalam lagi di tembok Grammars banyak nempel flyer-flyer atau poster gigs mandiri yang telah diadakan di Bandung merupakan pameran Pengarsipan Flyer Gigs Mandiri dari Deden Erwin Suherman. Pengarsipan dari Deden ini sukses membawa romantisme cerita dulu ketika dateng ataupun terlibat di beberpa gigs mandiri yang tertempel di dinding Grammars

 

 

Words by Firman Oktaviawan

 

Sempat tertunda dikarenakan masalah keamanan, pada hari Sabtu(18/12) Husted Youth salah satu brand dari Bandung sukses mengadakan Husted Fest Vol 4. Meskipun venue berpindah ke Villa Istana Bunga yang agak jauh dari pusat kota Bandung, tidak menjadi halangan bagi pemuda dan pemudi yang rindu akan sebuah gigs. Hal ini dibuktikan dengan tiket yang sudah terjual habis sebelum acara dimulai.
 

 

Tanpa basa basi, sesuai dengan rundown pada jam empat sore Husted Fest Vol 4 langsung dibuka oleh riff-riff cepat dan padat dari unit thrash metal dari Bandung Iron Voltage yang sukses membuat hall Istana Bunga tidak terasa dingin. Lalu dilanjut oleh Prejudize yang ternyata pada malam itu mereka hanya tampil dengan 4 personil. Ternyata bassist Prejudize telah mengundurkan diri dan Ryan yang sebelumnya mengisi posisi gitar ditarik untuk mengisi bass yang telah ditinggalkan oleh Reza. Setelah  Prejudize, tongkat estafet pemanas moshpit pun diteruskan oleh Maio. Sebelum break maghrib, ada Hooded yang pada hari itu mereka tampil kembali setelah terakhir manggung pada tahun 2013 lalu. Di sela waktu yang lumayan cukup lama itu, Hooded ternyata telah mempersiapkan materi baru dan pada Husted Fest Vol 4 sempat membawakan dua lagu baru mereka. Sempat terjadi kesalahan teknis ketika Hooded tampil di lagu kedua listrik tiba-tiba mati. Cukup memakan waktu lama, sekitar sepuluh menitan akhirnya listrik menyala kembali dan Hooded pun meneruskan penampilannya.

 

 

Setelah Hooded, giliran Bleach yang memanaskan Husted Fest Vol 4. Alvin, mantan vokalis Bleach sempat mengisi vokal dan juga Vay dari The Couch Club menggantikan adiknya Axel di posisi bass di salah satu lagu yang menjadi setlist  Bleach. Lalu berikutnya yang ditunggu-tunggu ada Zip dari Jakarta. Nggak usah ditanyakan lagi bagaimana penampilan Zip di Husted Fest Vol 4. Meskipun band baru, tapi isinya orang-orang lama di skena hardcore Jakarta. Tapi, karena satu dan lain hal malam itu Zip tampil tanpa Regi yang digantikan oleh Kevin dari Modern Guns. Kidsway dengan energi yang meledak-ledak meski sudah tidak muda lagi menjadi band berikutnya yang mengisi panggung. Kevin dan Mike dari Bleach sempat mengisi vokal di lagu “Redup” sebelum Kidsway menutup set nya dengan mengcover lagu Bandung Hardcore dari Full Of Hate. Sebagai penutup Husted Fest Vol 4 ada Under 18 memulai penampilannya dengan memutarkan lagu dari The Smith sebagai intro yang membuat barisan belakang penonton merangsek ke depan panggung untuk bernyanyi bersama Seeon. Under 18 pun menjadi penutup yang pas untuk menghabiskan energi di area moshpit.

 

 

Husted Fest Vol 4 sukses mengobati rindu untuk kembali merasakan suasana dan energi sebuah gigs dengan melihat band secara langsung tanpa harus melalui sebuah layar.

 

Words by Firman Oktaviawan
Photos by Fauzi Ramadhan | TitikxCerah 
Diskoria adalah duo DJ yang mengembalikan euforia disko nusantara ke lantai-lantai dansa. Diawali dari kegundahan mereka karena lagu disko Indonesia di anak-tirikan di club-club, akhirnya kegundahan tersebut berhasil membawa mereka untuk tampil di pesta-pesta dan gigs menarik, sampai tahun ini DIskoria tampil di ajang Piala Citra 2021 dan bahkan meraih 2 piala AMI Awards (kategori Karya Produksi Kolaborasi Terbaik dan Produser Rekaman Terbaik). Karya-karya mereka selalu bersifat kolaboratif, sebut saja dengan produser Laleilmanino, sampai juga dengan para pengisi vokal Dian Sastro, Eva Celia, Tara Basro, Joe Taslim, Afifah Yusuf sampai Arditho Pramono dan Isyana Sarasvati. 
 

 

Kali ini Diskoria berkolaborasi dengan label street wear asal Bandung, Bastards of Young. Bastards of Young yang juga sudah sering berkolaborasi dengan seniman seperti Ken Terror, Amenkcoy, Ykha Amelz kali ini membuat sub-label Music Series untuk berkolaborasi dengan para musisi. Di capsule collection kolaborasi ini, terlihat design-design Bastards of Young yang merespon lagu dan lirik-lirik Diskoria yang unik. Seperti pada T-Shirt “Pelangi Cinta”, Bastards menggunakan asset kover art single Pelangi Cinta dengan menambahkan notasi nada lagu Pelangi Cinta pada backprint-nya. Pada T-Shirt “Serenata” dan “Rose” mereka merespon lirik-lirik lagu “C.H.R.I.S.Y.E” dan “Serenata Jiwa Lara” dengan menampilkan penggalan lirik lagu-lagu tersebut di backprint-nya. Terlihat juga parodi logo Compact Disc yang dimainkan menjadi logo “Indonesian Disco Bastards Audio” yang tampil di T-Shirt dan juga menghiasi Totebag dan Corduroy Polo Cap dalam kolaborasi ini. Tidak lupa, logo “ebony” Diskoria yang ikonik dan typeface Bastards pun menghiasi detail-detail grafis produk-produk ini. Tunggu apalagi, segera klik link berikut ini dan amankan beberapa produk koleksi ini, karena sepertinya koleksi ini benar-benar terbatas. https://www.tokopedia.com/bastards

 

 

Text by Jeurnals Team

Photos by Brez 84

 

 

 

Saat ini, shitposting adalah genre ekspresi kreatif yang sangat populer dan diadopsi secara luas untuk iklan dan pemasaran produk, pesan sosial, atau bahkan untuk membangun citra selebriti. Dari banyaknya akun shitpost, ada satu yang menarik perhatian kami karena kontennya bisa dibilang “Edgy” tapi tidak melepaskan identitas kearifan lokalnya. Banyak konten menarik lahir dari akun yang bernama Not Fussed ini, contohnya memparodikan band-band sidestream menjadi suatu hal yang lucu. Simak obrolan Jeurnals dengan admin dibalik Not Fussed mengenai Meme adalah “Narasi Baru” dan rilisan dari band favorit mereka pada tahun 2021.

 

 
Siapa sih orang dibalik Not Fussed?
Anon aja deh, haha.

 

Kalo enggak ngasih tahu, kenapa pengen jadi Anonymous?
Bebas aja gitu berekspresi, enggak ada yang tau itu siapa, wkwk. Ranah privasi kami juga sekarang sudah punya publik, dari data KTP sampai nomer HP semua bocor, masa buat akun shitpost juga harus pake identitas pribadi sih, hihi.

 

 

Ingat enggak bikin Not Fussed itu tepatnya pada tahun berapa?
Tahun 2017, isinya cuman postingan random aja, belum banyak konten shitpost kaya sekarang, cuman arsip konser-konser musik yang pernah aku tonton sama konten pop culture ala-ala gitu, haha.

 

Alasan pertama bikin akun shit post?
Pas serius di shitpost gitu mah waktu pandemi, gatau bingung mau ngapain diam di rumah terus, ya udah iseng buat konten lucu-lucuan gitu daripada stress, eh keterusan sampe sekarang, haha.

 

Kenapa namanya Not Fussed? Ada arti dibalik nama itu?
Dulu teh aku fans Bring Me The Horizon banget. Notfussed diambil dari nickname akun medsosnya si Matthew Nicholls yang dulu, keren aja gitu namanya, haha. Terus pas coba cari artinya cocok aja gitu ‘’Kumaha maneh weh’’ (gimana kamu aja) mungkin gitu, haha. Enggak mau ambil pusing harus posting apa.

 

Postingan pertama Not Fussed?
Otong Koil, kaya udah jadi figur aja gitu Kak Ots teh dalam kehidupanku ini.

 

Postingan pertama yang bikin meledak?
Mungkin video mashupnya ‘’Marry Me, Yantie’’ milik Alvvays dengan dibumbui kearifan lokal, wkwk.

 

Gimana reaksi kamu ketika notifnya sebanyak itu?
Pas pertama kali konten itu meledak ada kali 500 notif masuk di waktu 30 menit, kaget juga dan agak risih litany, haha. Makanya sekarang aku matiin notifnya kalo mau buat konten.

 

Ide konten yang akan diposting itu dari mana biasanya?
Kebanyakan di kamar atau di jalan. Suka ada aja gitu kepikiran dikepala yang lucu the, aneh wkwk. Sama suka liat apa aja yang lagi rame di internet, gimana kita manfaatin momen aja sih intinya.

 

 

Ada postingan yang berujung negatif nggak? Kayak ada yang enggak suka kalo artis atau dirinya dibercandain?
Sejauh ini sih masih baik-baik aja, yang liat juga kayanya dah open minded juga. Tahu kalau si Not Fussed teh cuman akun shitpost hore doang, gada yang baper. Gatau tuh kalau si artisnya mah hehe. Mudah-mudahan sih enggak ya.

 

Pernah dapet DM yang mengancam?
Alhamdullilah belum ada, dan jangan sampe juga sih.

 

Lebih milih Instagram atau Twitter? Alasannya kenapa?
Dua-duanya juga OK sih, ada lebihnya ada kurangnya. Kalau di Instagram insightnya konsisten aja gitu. Kalau Twitter kadang suka untung-untungan, harus tahu kapan momen yang pas. Tapi kalo disuruh milih mending Twitter sih, cocok aja gitu platformnya. Tempat yang pas buat mengekspresikan diri apa adanya, haha.

 

Dari Instagram Not Fussed ini menghasilkan enggak? Kalau menghasilkan ada klien apa aja yang pernah masuk pengen dipromosiin sama Not Fussed?
Kalau dibilang menghasilkan si belum juga, belum bisa dijadiin penghasilan tetap, ‘’eweuh duitna, meakeun waktu’’. Tapi kemarin ada yang percayain Not Fussed buat endorse dan bantu promoin acara, lumayan juga buat jajan mah ada, hehe.

 

Tantangan yang sering dihadapi dalam membuat konten untuk Not Fussed?
Ga ada A, santai aja sih ga usah dipikirin konten mah nanti juga suka muncul sendiri di kepala, haha.

 

Apa tujuan yang ingin dicapai Not Fussed kedepannya?
Tetap Menghibur aja deh. Pusing di Internet isinya orang marah-marah mulu.

 

 

Rencana kedepan mau bikin apa? Melebarkan ke platform lain atau bikin apa gitu?
Masih belum ada sih. Sempet kepikiran mau buat media musik rada nyeleneh gituh, sama mau buat merchandise. Tapi gatau mau diseriusin atau enggak. Mood-moodan akunya, haha.

 

Best meme 2021?
Haduh, apa ya bingung juga kalo ditanya gini, haha. Paling yang lagi rame kemarin di sosmed mah si Meme Billboard Kepak Sayap Kebhinekaan itu. Bosen enggak sih kalau di jalan ketemu billboard itu mulu, wkwk.

 

Karena Not Fussed sering ngeekspos band-band lokal, kira-kira 5 band/rilisan terfavorit versi Not Fussed pada tahun ini apa?
Sebenernya tahun ini banyak rilisan favorit aku euy. Kurang 5 mah, wkwk. Daftar hi-rotation aku aja kali ya.

 

Debut EP dari unit shoegaze slowrock asal Surabaya. Ambientnya dapet banget. Sepi, muram, berisik ngebangun mood sekacau-kacaunya, hihi. Cocok didengar di sepertiga malam, sambil intropeksi diri.

 

Bogor kota angkot Indie Rock! Komposisi musik yang catchy tak meluap-luap dan terkesan santai, tapi bikin ketagihan, candu euy. Kalau di era MTV Alternative Nation mah, Swellow udah masuk dalam daftar seharusnya.

 

Orkes kegelapan Rock n roll! Bayangin aja kombinasi Motley Crue, Baptists dan Darkthrone dijadiin satu. Udah deh itu aja ga bisa berkata-kata lagi. Much respect! Gaspol! Skena musik Bandung emang baik-baik saja.

 

Belakangan ini musik Bali lagi rame-ramenya. Gak melulu soal Punk Rock atau Rockabilly. Satu yang nempel ya si Mille ini. Shoegaze kenceng kalo kata mereka mah, haha. Eksplorasi musik mereka gokil sih, berani keluar dari pattern Shoegaze itu sendiri.

 

Album penuh kedua dari unit rock alternative Surabaya. Dari segi aransemen mereka tetap memainkan riff-riff ala band alternative 2000an. 11 nomor di album ini ibarat soundtrack kehidupan, walau banyak cobaan kita harus bergerak maju, yang udah mah biarin aja berlalu. Nuhun JAGUAR!

 

onorable mentions:
Matisuri – Wafat Suri
Amuk Redam – The Album
Prejudize – EP (Demo Album)
Ametis – Ritus Hancur
Mama Djana – Tanana Kubra

 

Kalian yakin enggak dengan membuat meme kalian bisa merubah pola pikir orang lain atau membuat narasi baru tentang suatu hal?
Bisa banget sih itu. Sekarang Meme itu kaya udah jadi alat propaganda di era digital, semua orang bebas berpendapat dan mengeluarkan keresahannya lewat Meme dan terbukti itu berhasil meski terkadang satir dan memojokan satu pihak. Lihat aja tagar di setiap trending yang lagi viral, pasti ada aja meme yang muncul dan menggiring opini public, wkwk.

 

Akun meme favorit versi Not Fussed

 

Kalau ini mah akun meme intelek, harus paham dulu kasus yang dibecandain, suka nyerempet pemerintah sama teori konspirasi Mas Elon Musk. Wajib difollow nih buat abang-abangan kampus postmodernists anti kapitalist 4.0

 

Shitpost andalan gue ini mah hha. Pandemi kemarin aku produktif banget mantau ini akun, wkwk. Bahannya teh dapet aja gatau darimana. Spam instastory bahkan sampe titik-titik. Mood booster banget deh buat hati yang lagi kacau mah. Badan Arsip Meme Nasional aku nyebut si Tai Bandeng, wkwk.

 

Kolektif meme Bali ini mah, haha. Adminnya banyak. Aku ngikutin mereka dari 2019an. Dari postingan receh-receh sampe punya brand sendiri. Keren aja managementnya. Akun meme bisa diseriusin sampe punya beberapa platform.

 

Kalau liat music meme pages khususnya dari luar, mereka tuh kaya saling support dan berjejaring, kaya udah jadi media tandingan dari media musik besar. Dengan diselingi humor dan opini tajam mereka tentang musik hari ini. Music memes jadi media yang pas, mungkin karena pembawaannya yang slengean dan tongkrongan aja kali ya, gak terlalu berat jadi gampang diterima. Akun ini khususnya jadi favorit aku kalo mau liat info yang lagi rame, kemarin bahkan mereka bikin konten ala-ala Grammy gitu, minta followernya buat vote siapa aja yang berpengaruh di dunia permusikan tahun ini. Bahkan sampai ada nominasi music meme pages terbaik, gokil.

 

Interviewed by
Firman Oktaviawan & Andika Surya

 

“Kami jadi dengan mudah dikenal orang karena jarang yang mengusung genre ini, jadi ketika bicara soal genre ini kami akan jadi salah satu band yang disebut.”

 

Siapa sangka salah satu band surf rock terbaik di Indonesia lahir dari dataran tinggi Sumedang? Rupanya selain dikenal dengan tahu Sumedangnya, surf rock lokal kontemporer juga lahir di Sumedang. Mari berbincang dengan The Panturas mengenai Quentin Tarantino, vampir oriental, reverb basah dan kuliner murah di Jatinangor…

 

Halo The Panturas! Congrats atas rilisnya ‘Ombak Banyu Asmara’. Ceritakan sedikit bagaimana musik surf rock bisa lahir dari dataran pegunungan Sumedang? Kenapa memilih surf rock dan tidak memainkan musik folk khas dataran tinggi? Hahaha

 

Halo JEURNALS! Terima kasih banyak. Pemilihan genre musik surf rock sebenernya gagasan Kuya. Pada saat itu Kuya sedang intens menonton film-film Quentin Tarantino yang khas dengan suara gitar dibalut dengan reverb yang basah. Dan pada saat itu di kampus tempat kami kuliah juga jarang yang memainkan genre itu. Jadi kami sepakat memilih genre itu agar terlihat fresh di antara genre folk yang ramai pada saat itu.

 

“Pemilihan genre musik surf rock sebenernya gagasan Kuya. Pada saat itu Kuya sedang intens menonton film-film Quentin Tarantino yang khas dengan suara gitar dibalut dengan reverb yang basah.”

 

Tidak banyak band surf rock di Indonesia. Bagi saya kalian adalah band surf rock lokal kedua yang saya temukan setelah Southern Beach Terror. Apa keuntungan dan kerugian memainkan jenis musik yang tidak umum ini? We love those wet reverb sounds!

 

Keuntungannya kami jadi dengan mudah dikenal orang karena jarang yang mengusung genre ini, jadi ketika bicara soal genre ini kami akan jadi salah satu band yang disebut. Tapi sebenarnya setelah era Southern Beach Terror masih ada penerusnya seperti The Beertubes, bahkan yang seangkatan kami pun tidak cuman kami, ada juga Bitzmika band dari Bandung yang juga mengusung genre agak mirip.

 

Kerugiannya pada awal band ini terbentuk kami sedikit kesulitan mencari referensi, apalagi surf rock yang diisi vokal seperti kami. Karena kebanyakan genre ini pure instrumental tanpa adanya vokal. Selain itu juga susah menemukan komunitas yang genrenya surf rock, yang pada akhirnya kami berbaur dengan komunitas musik punk sampai rockabilly pada saat kami memulai. Efek gitar yang kami gunakan itu jenisnya spring reverb.

 

 

“Kompilasi Java-Java itu jadi satu trigger juga kalo ternyata musik-musik surf indonesia di tahun ‘70an itu keren-keren.” 

 

Apa yang mengekspos kalian pertama kali dengan musik surf rock? Terlalu banyak menonton intro Pulp Fiction? Menemukan koleksi kaset / piringan The Ventures & The Shadows milik orang tua? Atau karena terlalu banyak mendengarkan Beach Boys di Pangandaran?

 

Karena suka dengan suara gitar yang menohok dan menjadi menu utama di genre ini. Awalnya dari film-film yang salah satunya Pulp Fiction. Kemudian selain itu, pas awal-awal Kuya tertarik sama satu kompilasi bernama Java-Java:  Indonesia Screaming Fuzz. Jadi itu tuh semacam kompilasi band-band Garage Stomp, Indo-Rock dan Beat Surf  dari Indonesia. Kompilasi itu jadi satu trigger juga kalo ternyata musik-musik surf indonesia di tahun ‘70an itu keren-keren. Dari situ kemudian menjadi trigger kami untuk mencari lagi referensi dari rekan-rekan yang mengerti genre ini.

 

Video ‘Tafsir Mistik’ menampilkan homage terhadap film vampir klasik. Seperti gabungan Nosferatu karya F.W. Murnau dan From Dusk TIll Dawn nya Robert Rodriguez. Apa saja film vampir / horror favorit masing-masing personil?


Izal:
Pengabdi setan (1980). Karena cuman film Pengabdi Setan film horor yang saya tonton dengan serius. Baik yang tahun 2017 atau yang tahun 1980. Sisanya saya kurang suka film genre horor.


Abyan (Acin):
Jarang nonton film vampir kecuali film-film vampir cina yang ada di TV yang ga tau judulnya apa..


Gogon:
Sama kaya Acin, jarang nonton film vampir. Tapi kalo horor klasik suka banget. Battle Royal (2000). Alasannya simple, filmnya keren banget anyinggg…


Kuya:
Kalo inget vampir, top of mind saya pasti Shaolin Popeye II. Anjir itu vampir pertama kali sebagai anak SD bisa tertawa terbahak-bahak ngelihat vampir. Wu di Fan Dou Xing (film Boboho). Tapi kalo yang ngeri-ngeri masih film Suzzana sih. Beranak Dalam Kubur. Bikin males diam di rumah malam-malam sendiri. Hahaha..


Lalu apakah ada hal-hal mistik yang dialami The Panturas yang menginspirasi lagu
‘Tafsir Mistik’?


Enggak ada sih. Tafsir Mistik mah ditulis dengan alasan yang sangat duniawi dan kurang gaib sih kalau ga salah waktu itu..

 

Apa saja yang kalian cintai dari Jatinagor dan Sumedang? 

 

Suasana nyamannya. Dari udaranya yang masih jauh dari polusi, sampai makanan enak dan murah yang gampang kami jumpai. Terus kalo zaman kuliah ya semangat kolektifnya sih. Berasa banget.

 

Berapa lama kalian menggarap album ‘Ombak Banyu Asmara’? Ceritakan sedikit mengenai proses songwriting, rekaman dan pembuatan ilustrasi cover nya…

 

Album ‘Ombak Banyu Asmara’ prosesnya 13 bulan kurang lebih. Untuk songwriting sih awalnya kita workshop selama 2 minggu di studio Lontar punya bang Awan Sore yang lokasinya di Kramar Lontar, Jakarta. Terus lanjut tuh rekaman drum di Studio Lontar dan Syailendra Studio. Sisa instrumen lainnya di Ruang Waktu Music. Yang rada ribet waktu proses mixing mastering karena waktu itu PPKM jadi semuanya dikerjakan secara online sih pake zoom dan Audiomovers. Terakhir buat cover kita kerjasama dengan seniman lukis asal Bali, Andre Yoga. Kita pilih karena emang liat porto nya keren banget dan masuk lah sama mood album ini.

 

‘Balada Semburan Naga’ memiliki nuansa oriental dan sedikit mengingatkan saya pada The Cramps. Bagaimana awalnya memutuskan untuk berkolaborasi dengan Adipati The Kuda dan memasukkan tema lirik dan nada oriental pada single ini?


Sebenernya tema oriental lebih dulu muncul waktu kita jamming di studio Lontar karena emang kebetulan Acin ngisi gitar dengan nuansa tersebut. Terus waktu itu kita sepakat vokalnya itu saut-sautan dan memutuskan buat featuring. Kita pilih Adipati karena udah kebayang suara teriak-teriak dia cocok buat ngegambarin bapak yang galak. Terus dia beneran udah jadi bapak-bapak yang punya anak perempuan jadi kayaknya feel-nya bakal dapet. Hahaha…

 

 



“Kolaborasi tuh selalu seru. Kita gak pernah expect orang mencerna apa yang kami buat diserap jadi medium lain dengan cara mereka yang unik.”

 

Kalian juga pernah bekerja sama dengan almarhum Pak Supomo Senikanji. Ceritakan sedikit mengenai kolaborasi tersebut dan juga kolaborasi-kolaborasi dengan seniman / ilustrator lain..

 

Kuya: Seni Kanji itu saya tahu dari Twitter, Julius Pop Store waktu itu nge-share kalo bapaknya udah pensiun jadi pegawai pabrik dan pengen ngelanjutin passion-nya sebagai tukang gambar. Saya tertarik sama story itu dan tercengang ketika melihat artwork yang Sir Dandy, “Anjir ini otentik gini!” Kayak ada perasaan nostaljik yang gak pernah gua alami ketika lihat gambarnya. Pak Supomo waktu itu merespon lagu ‘Sunshine’ dan Album ‘Mabuk Laut’ untuk keperluan merchandise. Ketika dapat hasilnya, saya langsung puas sih. Kayak gak usah diotak-atik ini mah. Kolaborasi tuh selalu seru. Kita gak pernah expect orang mencerna apa yang kami buat diserap jadi medium lain dengan cara mereka yang unik. Kami selalu nyari-nyari dan terbuka untuk segala kolaborasi, terutama illustrator. Moga saja ada teman-teman ilustrator yang belum kami kenal atau ketemu bisa senggol langsung dan kerjasama ya hehehe.

 

 Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from The Panturas archives

“Instinct of survival: ajaib ketika kita sadar punya kemampuan luar biasa dengan segenap keyakinan bahwa kita akan baik-baik saja. Shit happens anytime tapi kita tetap bisa bertahan.”

 

Ken Terror adalah seorang ilustrator (Mayhem Studio) yang karya-karyanya banyak terlihat di kover-kover band punk dan metal. Selain membuat logo-logo band dan mengerjakan beberapa komisi untuk record label dan brand, Ken juga pernah menabuh drum di Hark! It’s a Crawling Tar-tar dan menjadi bassist Kontrasosial. Mari berbincang dengan Ken mengenai Rachel Goswell, ilustrasi pointilisme nya, band alternatif baru nya Sunbath dan tips relaksasi selama pandemi agar tidak overthinking dan burnout…

 

Apa kabar Ken! Kemana saja selama ini? Sedang sibuk mengerjakan proyek ilustrasi apa saja?

 

Kabar baik! Mengurung diri menjadi anti-sosial di ruang kerja, sama seperti biasanya bahkan ketika belum ada istilah PPKM. Sedang disibukkan oleh overthinking. Kidding! Haha. Selain komisi ilustrasi band dan brand, juga personal project merch – Mayhem Studio.

 

Ternyata PPKM tidak terlalu berpengaruh ya untuk orang-orang seperti kita yang anti-sosial dan banyak berkerja dirumah? Hahaha. Gimana efek positif dan negatif pandemi yang elo rasakan dari sisi profesional dan personal lo?

 

Betul! Tapi ada sedikit keanehan, justru ketika orang-orang mulai terbiasa di rumah, saya yang introvert dan pemalu, mempunyai keinginan untuk keluar rumah yang kadang lumayan meronta. Haha. Efek positifnya bisa lebih fokus mengerjakan berbagai pekerjaan dan hobi karena tidak ada pilihan lain selain tinggal di rumah, cuma ada kala nya burnout. Lalu bisa lebih relax dengan berbagai hiburan rumahan sebagai penyeimbang kesehatan hati dan pikiran.

 


 

Bagaimana situasi relax terbaik versi Ken Terror?

 

Dalam konteks bekerja dengan metode manual, bekerja secara digital pun menjadi salah satu cara untuk berelaksasi. Ujung-ujungnya kerja lagi, haha. Short trip, hiking manja, hotsprings, vinyl spinning, Netflix, dan bermain musik adalah kebahagiaan tersendiri. I need a break from my singleness…

 

Bagaimana dengan sisi musikal lo? Ceritain dong sedikit tentang band alternatif baru lo, Sunbath…

 

Iya, setelah lepas dari band punk yang satu, yang ini mulai diseriuskan. Saya dan teman-teman ingin mengajak beromantisme ke dekade 90an. Secara musical kami mengambil referensi dari Throwing Muses, The Juliana Hatfield Three, The Cranberries, Hole, L7, Lemonheads, dan The Smashing Pumpkins. Tercatat dalam voice note, lagu-lagu kami mulai dibuat tahun 2017. Awalnya kami hanya bertiga yaitu Moyan yang juga bermain gitar di Bananach dan Zali, drummer Ancient yang memutuskan untuk bermain bass. 3 tahun kemudian seiring bertambahnya personel yaitu Zulfi yang banyak malang melintang di band-band metal. Setelah 3 tahun berjalan, kami kemudian menyelesaikan rekaman dengan budget seadanya yang kami mampu dengan rencana awal mau self-release. Kemudian tawaran datang dari Oblivion Records, setahun kemudian resmilah CD EP kami bertajuk ‘Strange Day’ yang dirilis oleh label tersebut.

 

Karya lo yang ada di cover “Dasawarsa Kebisingan” terlihat terpengaruh poster Rusia konstruktivist. Apa saja influence-influence lo dalam departemen design dan ilustrasi?

 

Itu tidak terlepas dari sang penggagas kompilasi, saya hanya meng custom dengan style saya sendiri. Yang pasti Pushead, dari awal selalu terpengaruh karya-karyanya. Dari sini lah saya mulai tertarik dan belajar pointillism dengan pengetahuan seadanya. Lalu flashback ke masa remaja, dari sisipan komik di Majalah Remaja Hai saya dulu menemukan Don Lawrence. Komik Letnan Blueberry! Haha urang nyimpen keneh. Alus gambarna jon. Itu ejaan terjemahan bahasa Indonesia. Judul aslinya Lieutenant Blueberry. Lalu dari komik Letnan Blueberry saya menemukan Jean “Mœbius” Giraud. Kemudian terperangah oleh karya Todd McFarlane dengan Spawn nya, dimana saya terobsesi oleh ilustrasi hitam putih high contrast. Semakin kesini seiring arus informasi mulai melimpah ruah, begitupun dengan influence yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena banyak, haha. Tapi beberapa di antaranya adalah Jim Phillips, Virgil Finlay dan Dan Seagrave.

 


“Getting older is weird. Amazing how time turns out to be the most expensive thing.”

How’s getting older feels like to you?

 

Haha, yes. Getting older is weird. Amazing how time turns to be the most expensive thing. Tapi bagaimanapun juga tetap menyenangkan, hanya sedikit merubah perspective and you’re good.

 

Orang-orang terobsesi dengan pola hidup sehat sekarang ini, dan itu semakin terlihat di sosial media. Apakah menurut kamu itu adalah sebuah coping mechanism to feel in control in these tough times?

 

Bisa jadi, sebagian orang juga memang lebih aware akan kesehatan mereka. Saya Pun demikian dengan power walk tiap weekend. Berolahraga dapat memancing rasa bahagia. Sepertinya orang-orang perlu melakukan aktivitas yang bisa membuat bahagia. Tentunya aktivitas-aktivitas yang bisa menghasilkan hormon endorphine, dopamine, oxytocin, dan serotonin.

 

Apa hal-hal positif yang baru kamu temukan di saat krisis 2020-2021 ini?

 

Menggali instinct of survival, ajaib ketika kita sadar punya kemampuan luar biasa dengan segenap keyakinan bahwa kita akan baik-baik saja. Shit happens anytime tapi kita tetap bisa bertahan.

 


“Rasanya seperti mimpi walaupun sekedar say hi atau sharing tentang kucing hilang dengan Rachel Goswell (Slowdive).”

 

Pertanyaan terakhir: Bagaimana rasanya bisa keep in touch dengan seorang Rachel Goswell (Slowdive)? Dari seorang fans menjadi sahabat pena?

 

Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, haha. Rasanya seperti mimpi walaupun sekedar say hi atau sharing tentang kucing hilang dan topik lainnya yang ringan atau berat. Yang pasti kita harus tau waktu dan kondisi kapan berkomunikasi dengan mempertimbangkan privacy. 

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from Ken Terror archives

 

 

Â