Brez adalah founder dari beberapa brand yang mungkin sudah sering kita dengar namanya: Berak, Neats, Scuttle, Passenger Pax, coffeeshop Mental Vacation, record label Lisdia Records sampai rental sound system Lisdia Sound. Hobbynya dalam menangkap momen menggunakan kamera film 35mm membuat foto-foto hasil karya Brez cukup ikonik juga di skena fashion lokal. Mari berbincang dengan Brez mengenai idol-idol Jepang, lookbook seksi, beruang kutub sampai semur jengkol terenak di Indonesia..

 

Kita juga pake slogan “Start Today” karena saya suka si CIV dari Gorilla Biscuits. Karena kalau kita mau pergi dan memulai hari itu kan pertama kita memakai sepatu, karena itu slogan nya “Start Today”

 

Halo Brez! Bisa ceritain sedikit history brand Berak dari awal?

 

Jadi awalnya mah sebuah proyek canda tawa. Dulu pas manajerin band Billfold, awalnya bikin gimmick stiker tulisan “Berak” pas tahun 2010 bulan 8. Dibawah stikernya ada website Billfold. Lalu nyablon kaos satu lusin untuk crew Billfold. Waktu itu kan band-band menamai crew mereka, seperti Burgerkill dengan “Hellcrew”, Rocket Rockers dengan “Rocket Rockcrews”.. nah pada keren tuh kan. Saya pengen yang ga keren! Hahaha. Saya bikin aja Berak crew untuk menamai crew Billfold. Karena saya ga bisa nge-design awal-nya saya parodikan logo Nike. Lalu dipake lah kaosnya ama crew-crew kita.

 

Jalan sebulan, kalau gasalah di acara Bandung Berisik 2012, Gania (eks-vokalis Billfold) pake kaos Berak dan viral, kalau bahasa jaman sekarang mah. Social media Billfold kan saya yang pegang, banyak yang nanya beli baju ini dimana? Akhirnya saya ngomong ke anak-anak band kalau Berak mau dijadiin brand. Lalu saya buat kaosnya masih tetep 1-2 lusin karena ga ada modal dan masih nangkring hahaha. Berjalan 8 bulan saya ga dagang walaupun Instagram Berak sudah ada dari tahun 2012. Karena urang eweuh konten dan eweuh barang, dan karena interest juga ke fotografi akhirnya saya fotoin wanita-wanita seksi. Beberapa memang model, ada yang teman juga, dan ada juga yang muka-nya gak mau keliatan karena terlalu seksi fotonya. Akhirnya stok foto-foto seksi jadi banyak dan itu masih jadi sesuatu yang “baru” lah untuk jadi konten brand lokal. Walaupun sebenarnya di luar negeri sudah bukan sesuatu yang baru.

 


 

Selain fotografi, interest-interest dan pengaruh apa saja yang lo coba ramu di brand Berak ini?

 

Dulu melakukan semuanya masih sendiri dan cuma ada 1 pegawai yang jadi admin. Saya mulai jualan serius sekitar tahun 2014, udah mulai berani produksi diatas 2 lusin, dan sudah tidak menggunakan style rip-off karena sudah mulai meng-hire designer. Sebenarnya pas saya baca filosofi awal-awal brand lain juga banyak yang melakukan rip-off atau bootleg di tahap-tahap awal-nya. Mungkin karena keterbatasan ide atau skill. Dan ternyata itu merupakan sebuah formula yang bagus untuk sebuah brand. Rip-off, parodi atau bootleg ini juga masih tetap dilakukan brand-brand besar di luar sono sampai sekarang juga. Kalau Berak sampai sekarang juga masih tetap organik pertumbuhannya karena saya tidak mengejar target untuk menjadi brand besar atau brand legend. Pokoknya berjalan aja sesuai kahayang urang hahaha!

 


 

2015 udah mulai Jepang-jepang-an. Rame dari idol-idol group seperti JKT48 disini. Mengendorse member JKT48 tidak berbayar. Setelah dipakai cukup memboosting penjualan tanpa sengaja. Ada juga interest ke idol-idol Jepang dan mulai berfikir wah saya harus mulai foto-foto di Jepang. Saya juga terinspirasi dari foto-foto American Apparel, mereka memakai model amatir yang unik dan tidak memakai 100% model agensi. Kalau brand Jepang yang menginspirasi saya awalnya KIKS TYO lah. Basic-nya sneaker, tapi mereka ngefoto wanita seksi dan di print di T-shirt. Dari awal bikin Berak sebenernya udah pengen ngejalanin konsep seperti itu. Cuma baru terealisasi tahun ini nama koleksinya “CLX Member”. Konsepnya model-model atau idol-idol Jepang yang memiliki fanbase dan difoto seksi untuk di print di produk Berak. Karena seks adalah salah satu daya tarik yang menjual di dunia ini dari jaman dulu juga. 

 

Untuk tahun ini hal-hal baru apa aja yang lo coba develop untuk Berak? tentunya di masa pandemi ini online harus lebih kuat dari offline ya..

 

Dari dulu sampai sekarang Berak itu terlalu organik. Mulai sekarang pengen-nya sih tiap bulan ada kolaborasi yang menarik. Sistem sendiri di Berak memang masih belum sempurna. Tapi secara penjualan dari 2017-an ibaratnya udah kaya sayur lah, ga ada dead stock. Dari awal kita memang kuat di online dan sekarang toko offline cuma sebagai bonus lah, saya ga terlalu prioritaskan untuk punya toko sebenarnya. Karena toko juga dari dulu cuma satu aja ga nambah, ibaratnya “meh aya weh toko mah”. 

 

Awalnya kontrak untuk bikin kantor, cuma dibawahnya pengen juga ada display produk. Konsep toko juga saya ga ingin present itu sebagai pure toko, ada sedikit unsur hobby shop dan mungkin clubhouse “dulpas” lah ya haha. Lo bisa main dingdong, duduk santai, dengerin musik. Ada juga aktivasi band-band live di toko. Istilahnya mah offline ga laku dan ga ada yang datang juga saya ga peduli karena memang penjualan online yang utama. Apalagi setelah Corona ini yang datang juga sepi jadi sudah tidak ada lagi target penjualan harian toko. 

 

Sudah ada berapa divisi under Berak nya? Saya dengar ada record label, Tee’s Shop dan rental soundsystem ya..

 

Sebenernya yang under Berak ada record label cuma lagi hiatus. Mau jalan lagi dikit-dikit lah. Kemaren sempet jalan Lisdia Records bareng almarhum Dicki (GM Berak, Sunny Summerday). Cita-cita kita adalah merilis 100 band indie pop terus bubar. Karena non-profit saya ama Dicki cari band-band yang kita suka aja, karena sharing ama band nya juga kita cuma minta modal produksi, semua keuntungan untuk bandnya. Setelah Dicki meninggal jadi hiatus. Sempat tercetus ide kemarin untuk jalan lagi tapi ga cuma rilis indie pop aja. Urang teh hayang nyieun record label yang profit 100% untuk band. Karena hidup saya udah dari profit Berak, record label mah passion aja gausah ambil duitnya yang penting modal balik untuk muterin rilisan berikutnya. Kemaren juga baru sempet rilis Sunny Summerday dan Twisterella. 

 

Aktivasi yang jalan sekarang Tee’s Shop show, yang menampilkan live performance band-band di toko Berak. Sekarang udah episode ke 20 berapa lah. Itu juga rencanya-nya cuma sampe 100 episode setelah itu gatau mau lanjut lagi atau gimana. Mungkin nanti cari ide lain, manggungnya ga di toko tapi mungkin.. di susukan hahaha. Saya juga investasi ke alat-alat sound system karena aktivasi kita banyak berhubungan sama musik. Jadi intinya harus jalan disitu.

 

Awalnya lo menemukan passion di dunia film photography darimana? Kan sempet sampai jualan kamera 35mm dan roll film juga ya..

 

Berawal dari tahun 2015 akhir, saya melihat foto-foto lookbook Supreme dan American Apparel kok warna-nya beda ya. Dan banyak main flash ala Terry Richardson. Ternyata kata teman itu foto Supreme pake kamera film. Nah kan di tahun 2015-an belum banyak brand yang foto pakai kamera film. Ditambah waktu itu pas main ke Jepang nemu kamera Contax dan Olympus Mju II. Waktu itu belum serame sekarang brand-brand pake kamera film. Sekarang kan artis-artis kaya Kendall Jenner sampe Frank Ocean pake kamera film jadi viral lah. Kamera Fuji Klasse sama Rollei juga selalu menjadi pegangan saya untuk foto fashion. Dari foto-foto jadi nambah temen lah, model, fotografer lain, kolektor. Di Shizuoka saya juga sempat dapat banyak roll film murah. Cuma sekarang udah jadi trend dunia harga film jadi mahal juga dimana-mana. 

 

Foto-foto editorial dan lookbook Berak kan terkenal seksi-seksi. Apa lo pernah mendapat masalah karena itu?

 

Sejauh ini sih alhamdulillah ga ada masalah. Paling yang modelnya minta di take down itu sering dan banyak terjadi. Pas photoshoot mereka mau di foto seksi, atas dasar kesadarannya masing-masing. Tapi mungkin ada yang ketahuan pacarnya atau keluarganya sehingga minta di take down. Mungkin karena hal-hal seperti foto seksi itu masih dianggap negatif. Mungkin orang-orang sekarang sudah open minded ya, cuma di tahun 2013-an belum seperti sekarang. 

 


 

Karena mungkin sudah terjadi chemistry antara saya fotografer dan model, sehingga mereka nyaman dan tidak risih. Karena menurut saya harus ada chemistry dulu antara fotografer dan model. Ga bisa yang “besok foto ya”. Kalau jaman dulu lebih seru, sebelum photoshoot nge-modal dulu, nangkring dulu di cafe sama model-model Jepang misalnya, biar pas di foto juga mereka ga kaku atau awkward. Cuma karena sekarang saya sudah berumah tangga jadi ya kaya fotografer-fotografer lain aja cuma janjian foto via DM haha. 

 

 

“Jangan terlalu serius berbisnis, jangan ikut kelas bisnis online maupun offline, banyakin nongkrong, temen dan canda tawa. Hahaha..”

 

Lo juga punya passion terhadap dunia kuliner kan, dengan membuat coffee shop dan berencana juga membuat resto Jepang ala izakaya sampai bakmi. Bisa ceritakan sedikit tentang unit-unit bisnis kuliner lo?

 

Sebenernya itu sih sampingan. Kalau coffee shop Mental Vacation sama temen band Billfold dulu, si Gania (eks-vokalis Billfold). Udah jalan 2 tahun. Dulu emang paling sering nongkrong dan ngafe bareng si Gania. Karena sering ngopi-ngopi kepikiran pengen bikin coffee shop yang enak kopinya, bukan sekedar enak tempatnya. Tapi gamau namanya kaya kopi senja atau kopi cinta. Kata Gania namanya Mental Vacation aja, karena dia mungkin lebih pintar lah bahasa Inggrisnya. Bagus juga namanya, mentalnya liburan, tapi otak ngajedog di kota hahaha. Jadi liburan-nya cuma sekedar mental. 

 

Sempet juga mau merger ama temen dari Jepang untuk bikin izakaya. Pas bayar kontrakan ruko, bulan depannya malah pandemi. Dia yang pegang resep makanan-nya, tapi malah jadi susah masuk ke Indonesia. Emang pengen-nya rasanya otentik jadi buat orang-orang Jepang yang tinggal disini kepake. Jadi-nya di takeover sama coffee shop aja dulu. Karena saya hobby juga masak dirumah dan emang paling favorit makanan nusantara. Kemarin dapet ilham gara-gara makan bakmi Tasik Bu Ade di pasar Tasik ngeunah pisan, ada rasa ebi-nya. Bakmi Tasik dan Rajim masing-masing punya karakter, harga sekitar 40 ribu-an. nah tujuannya pengen bikin bakmi enak berkarakter seharga 25-ribuan. Ya gamau jual mahal-mahal juga sih di era krismon seperti sekarang. 

 

Bisa ceritakan sedikit mengenai brand sepatu lo, Neats?

 

Di Neats kita bertiga. Saya, Ferin sama Choki. Namanya dari si Ferin. Dari lagu The Damned yang “Neat neat neat”. Kata slank pergaulan lah. Artinya keren, bersih. Logo polar bear-nya karena saya suka brand X-Large dengan logo gorila-nya dan Ben Davis dengan logo monyet nya. Saya cari icon beruang kutub karena dia adalah binatang yang kuat di cuaca apapun bisa survive. Saya juga ingin brand ini mo ada pandemi atau apalah, bisa tetep survive. 

 

Konsepnya pengen jualan diluar sebenarnya. Kita ngebidik pasar Australia, udah ngebidik 3 toko. Cuma karena pandemi agak terhambat. Neats lahir sebenarnya tahun 2018 dan sepabrik sama Compass. Pas era kejayaan sepatu lokal. Kita gamau bikin setengah-setengah dengan kualitas apa adanya. Kita brand independen DIY tapi kita bikin insole PU dan juga outsole. Kalau kita keluar dengan something special impresi orang akan berbeda. Setelah briefing konsep, karena kita pake foto kamera film, yaudah sekalian kita adopsi iklan-iklan vintage dan classic advertising. 

 

Kita juga pake slogan “Start Today” karena saya suka si CIV dari Gorilla Biscuits. Karena kalau kita mau pergi dan memulai hari itu kan pertama kita memakai sepatu, karena itu slogan nya “Start Today”

 

Top 10 tempat makan favorit kamu dari Cimahi sampai Tokyo dimana saja? Hahaha..

 

1. Ayam Goreng Mat Lengket – Jakarta Timur. Terbaik di dunia ayam gorengnya. Semur jengkolnya juga enak.

2. Yamachan – Shinjuku dan Nagoya. Chicken Wings terbaik di dunia.

3. Sop Saudara – Makassar. Rata-rata sop saudara di Makassar enak-enak. Sop selera nusantara.

4. Dapur Solo – Solo. Garang asem terbaik!

5. Gudeg Pawon – Yogya. Menurut saya sih lebih enak dari Gudeg Yu Djum.

6. Angkringan Pak Gik – Semarang. Gorengan-nya terbaik.

7. Ayam Olie / Ayam Goreng Nikmat – Bandung. Bingung milihnya. Ayam Olie enak sambel dadak-nya.

8. Seafood Warung Teras -  Tarakan, Kalimantan. Sebenarnya ini Chinese Food tapi terkenal dengan menu seafood dan lobster terbaik di kota Tarakan.

9. Mie Kocok Mang Nanang – Jl. Ternate, Bandung.  Di pengkolan deket Baso Mas Tato, pengkolan Saparua.

10. Warung Nasi Pojok – Jl. Gambir Anom. Warteg legend ini mah di deket kantor Maternal dan Vearst Jeans. Sama yang di jalan Maleer depan gerbang. terbaik ini rasanya..

 

Last shout?

Jangan terlalu serius berbisnis, jangan ikut kelas bisnis online maupun offline, banyakin nongkrong, temen dan canda tawa. hahaha..

Waahh.. bakalan ada film sci-fi Indonesia. Itu respon pertama ketika mendengar Netflix akan merilis film dengan judul A World Without. Setelah beberapa lama, muncullah trailer-nya. Tambah penasaran kan bakalan gimana nih filmnya dan juga nama-nama besar di perfilman Indonesia terlibat di film ini. Nia Dinata sebagai sutradara sudah tidak asing lagi, film-film hasil karyanya seperti Ca-bau-kan, Arisan, Berbagi Suami, Arisan 2 dan film lainnya mendapatkan respon positif dari para pecinta film Indonesia. Aktor dan aktris yang sering menghiasi film layar lebar pun menjadi pemeran di film produksi Netflix ini. Seperti, Chicco Jerikho, Ayu Shita, Amanda Rawles, Maizura, dan Asmara Abigail. 
 
A World Without bercerita tentang tiga wanita bernama Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) yang masuk kedalam sebuah perkumpulan bernama The Light dengan mengambil latar distopia Indonesia di tahun 2030 setelah pandemi melanda dunia. The Light merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh Ali Khan (Chicco Jerikho) dan istrinya Sofia (Ayu Shita) yang berawal dari sistem perjodohan yang berkembang menjadi tempat pelatihan untuk anak muda. Beneran sistem perjodohan? Iyah kayak tinder gitulah. Jadi, dulu waktu kuliah Ali Khan bikin sistem matchmaking dan berkembang sampai menjadi sebuah perkumpulan. Nah, ada beberapa hal yang dilatih di The Light ini, seperti cara membuat konten digital dan hal-hal mengenai perawatan wajah. Tentu dua hal itu sangat penting untuk mengarungi kehidupan di tahun 2030 mendatang, menurut penulis ceritanya yahhh.

 

 

Konflik pun dimulai ketika Salina bertemu Hafiz (Jerome Kurnia) di kelas editing video dan mereka jatuh ke jurang cinta terlarang. Karena, anggota The Light ketika umurnya 17 tahun baru akan dijodohkan dengan sesama anggotanya berdasarkan sistem yang dibuat oleh Yang Istimewa. Keren kan panggilannya? Yang Istimewa adalah panggilan untuk Ali Khan. Lanjut lagi konfliknya ketika ternyata Hafiz dinikahkan dengan Ulfah karena match di sistem bikinan Yang Istimewa, jadinya cinta segitiga antara Salina, Ulfah dan Hafiz. Lalu Tara dijodohkan untuk menikah dengan seorang pria tampan anak dari orang yang selalu memberikan donasi untuk The Light. Tara mengalami kekerasan seksual karena diperkosa oleh pria entah darimana, nggak tau temen suaminya nggak tau siapa. Pokoknya tiba-tiba muncul dan merkosa sambil dilihat oleh suaminya Tara. Sangat jelas sekali bukan??

 

 

Puncak dari konfliknya ketika Salina mengetahui kalau Ali Khan memuja setan, menjual organ manusia, mengadakan perjamuan dengan setan, dan ternyata Yang Istimewa itu adalah Lucifer. Sayangnya bukan itu, bukan.. bukan itu. Jadi, Salina mau dinikahi oleh Yang Istimewa untuk meneruskan Sofia yang baru mengalami keguguran. Dari situ, tiga sahabat ini memutuskan keluar dari The Light dengan susah payah melewati penjagaan yang sangat ketat sekali. Karena halangan satu-satunya ketika mereka kabur adalah ketika Ulfah melahirkan di mobil.

 

 

A World Without menjelaskan bagaimana Indonesia di tahun 2030 dengan teknologi yang canggih tapi masih melestarikan bangunan heritage. Dialog yang sangat “JakSel” banyak sisipan bahasa Engreess di hampir semua dialognya. Penjelasan mendalam mengenai asal muasal The Light dengan menceritakan itu hanya berasal dari sistem matchmaking perjodohan yang dibuat oleh Yang Istimewa. Seneng banget tiap denger kata “Yang Istimewa”. Secara keseluruhan film ini cocok buat ditonton untuk menghabiskan waktu dan setelah menonton filmnya, kamu pun akan bingung. Apa yang telah kulakukan selama 1 jam 47 menit tadi?

 

 

Words by Firman Oktaviawan

Marcel Thee adalah seorang pria yang memiliki 6 akun Bandcamp, belasan proyek bermusik dan (mungkin) ratusan lirik / lagu unreleased di Hardisknya. Marcel adalah sosok dibalik lirik-lirik witty Sajama Cut, eksplorasi suara Roman Catholic Skulls & Strange Mountain, juga proyek kolaboratif inisiasi musik The Knife Club. Simak perbincangan JEURNALS dengan Marcel mengenai menulis lirik multiinterpretasi, lebih menghargai kaum wanita, ego dalam band dan kenapa album dengan 9 lagu itu lebih baik…

 

___________________________________________________________________________________

 

“Kalau “Payudara” ini tentang victim blaming. Bagaimana orang yang biasa menghakimi cara wanita berpakaian, adalah orang yang sebenarnya paling sempit pikirannya dan paling ngeres. Sedih banget kalau kita hidup di society yang bisa menghakimi cara orang berpakaian.”

 

___________________________________________________________________________________

 

 

Single terbaru Sajama Cut “Payudara (Bijaksana Beriman)” kenapa ga masuk ke album “Godsigma”? Padahal rekaman-nya di session yang sama ya?
Karena judul dan topiknya sih. Topiknya tuh sangat amat penting untuk kita sampaikan tanpa distraksi. Kalau dalam konteks album kan “Godsigma” itu bahasa Indonesia dan itu album pertama SC setelah 5 tahun. Jadi banyak yang kita harus jelaskan tentang album itu, tentang liriknya khususnya, musikalitasnya kenapa kita udah lama ga rilis. Orang kan pasti paling banyak nanyain “Kenapa bahasa Indonesia? Kenapa judul lagunya begitu?”. Kalau ada satu lagu “Payudara” ini gue merasa diskusi nya ga nyampe. Kalau dari musik masih nyambung soalnya direkam di sesi yang sama banget. Tadinya mau masuk, cuma di momen terakhir gue putuskan untuk mencabut lagu ini. Alasannya selain yang tadi tuh karena gue penggemar album yang isinya cuma 7-8-9 track, kaya Slint – Spiderland, atau Tortoise – Millions Now Living Will Never Die. Kalo 9 lagu gitu padet kan ga ada fat-nya. Ceritanya sih all killer no filler harusnya hehe. 

 



Topik yang ingin lo angkat di tema lagu “Payudara (Bijaksana Beriman)” ini tentang apa?
Gue ngerasa diskusi tentang lirik di lagu ini terlalu bahaya kalau dicampur-campurin. SC tuh ga pernah ingin menyampaikan sesuatu. Khususnya topik yang berunsur sosial atau humanis. Gue selalu mau pendengar punya interpretasi sendiri. Cuma kalau lagu ini orang jangan sampai punya interpretasi sendiri. Setidaknya mereka jangan sampai salah tangkap. orang kan pasti “wah ini judulnya lucu porno nih..”. Dan kita udah ngalamin hal itu di lagu “Mari Kita Bunuh Diri”. Sampe sekarang orang kaya mention kita kalau mereka lagi down dan depresi pake lagu itu. Bahkan itu lagu yang paling dikenal dari album “Apologia”. Emang bahaya sih itu lagu. Takutnya orang salah ngertiin.

 

Kalau “Payudara” ini tentang victim blaming. Bagaimana orang yang biasa menghakimi cara wanita berpakaian, adalah orang yang sebenarnya paling sempit pikirannya dan paling ngeres. Gue tuh menghindari banget isu-isu seperti ini dipakai angle marketing. Hal bagus sih kalau band-band generasi ini mengangkat topik-topik ini, socially woke. Cuma ada bahaya juga ini menjadi sebuah trend. Bandwagoning. Kalau sesuatu jadi trend itu kan kita tahu trend bisa habis. Sedangkan hal2 seperti ini tuh kan kontinyu, perjuangan nya ga habis-habis. Payudara gue tulis udah lama, waktu itu lagi rame ttg RUUPKS. GUe dari kecil bokap nyokap gue tuh open minded soal seksualitas padahal mereka tua banget generasi VOC. Anak gue yang paling gede juga perempuan kan, dan bukannya sebelum punya anak gue ga peduliin hal ini. tp dia udh mau remaja dan bertambah dewasa kan, udh mulai suka bergaya. Sedih banget kalau kita hidup di society yang bisa menghakimi cara orang berpakaian padahal anak gue misalnya bilang baju itu bagus, padahal anak gue remaja aja belum. Judul “Payudara” ini sendiri kaya umpan. Kalau misalnya lo bilang wey payudara judulnya jorok banget lagu itu. Nah berarti lo adalah orang yang gue nyanyiin, lo adalah subjek lagu itu hahaha. Kalau toket kan jorok konotasinya, tapi kan payudara kan konteksnya ya nyokap kita punya payudara, itu ga jorok. Jadi semuanya tergantung persepsi.

___________________________________________________________________________________


“Lagu cinta kan orang biasanya bikin pas lagi panas-panasnya kan? Pas baru mau jadian atau kalau engga pas baru putus. Sedangakan ga ada lagu yang ditengah-tengah dimana lo udah menjalani rutinitas bersama, satu badan dan satu pikiran. “

 

___________________________________________________________________________________

 

Kalau “Adegan Ranjang 1981-1982” itu tema liriknya tentang apa?
Kalau lagu ini harfiah sih. Ya itu tentang ngewe haha. Tentang bercinta lah bukan ngewe. Itu maksudnya gue buat lagu cinta yang segamblang mungkin sih. Kan itu tahun lahir gue ama istri gue kan. Kita udah lama banget temenan dan gue pengan bikin lagu cinta untuk istri gue. Lagu cinta kan orang biasanya bikin pas lagi panas-panasnya-kan? Pas baru mau jadian atau kalau engga pas baru putus. Sedangakan ga ada lagu yang ditengah-tengah dimana lo udah menjalani rutinitas bersama, dimana lo udah jadi satu badan dan satu pikiran. Stinky. Satu thinking hahaha. Katanya dulu nama band Stinky dari situ hahaha. 

 


Balik lagi ke “Payudara”, lo bikin juga ya video klip-nya?
Iya karena gue mau berusaha sejelas mungkin pesan nya. Ada message-nya. Video klip-nya juga lebih direct lah. Ada storyline, kalau video kita yang lain-lain istilahnya lebih indie rock lah. Shootingnya kita ga ikut sih, itu semua si Nitya. Jadi “Payudara” tuh lagunya kebagi 2 section. Dibelakang ada bagian lagunya ngedrop sebentar terus naik lagi, nah itu baru band nya ada disana cuma ya shootingnya terpisah sendiri-sendiri. Gue udah 1 setengah tahun ga ketemu anak-anak band. Cuma lumayan ngebut ini bikin storyline dan brainstorming visual video-nya. Karena lumayan mepet dari proyek sebelumnya yang “Terbaring di Pundak Pesawat…”.


Bisa ceritain sedikit tentang Roman Catholic Skulls? Rencananya bakal merilis split dengan Kuntari (Tesla Manaf) ya via label Grimloc Records?
RCS tuh sebenernya sama Danif Pradana awalnya, musisi noise dari jaman dulu. Dia salah satu orang yang dari dulu surat-suratan. Dari tahun 2000-2001an gue kepikiran ngontak dia untuk bikin proyek RCS ini. Gue kontak dia untuk bikin proyek musik yang berfokus pada pembentukan suara, struktur suara, dan bagaimana musik itu sendiri dibuat. Macem-macem sih dari field recording, processed recording.. 


Kaya band-band majalah WIRE lah ya? Hahaha.. 
Iya bener-bener haha. Kan kita ada split sama Kuntari (Tesla Manaf), itu cuma gue sih pas di situ. Tapi materi yang sebelum itu tuh gue masih sama Danif, cuma dia cabut karena kesibukan keluarga. Kalau si Daniel (Mardhany) tuh pengen banget dia dari dulu di proyek RCS ini, dia pengen kontribusi ke RCS, karena kebetulan Danif udah cabut, Daniel ikutan meskipun ga banyak, cuma dia terlibat. Dia tapi lebih suka harsh noise dan industrial jaman dulu. Nah album yang baru ini akan dirilis sama Ucok (Grimloc Records) juga, ini salah  satu karya favorit yang pernah gue buat. Jadi setelah split Kuntari akan ada album full ketiga RCS yang juga dirilis oleh Grimloc. Kalau yang di split Kuntari itu RCS cuma satu track dan lagunya panjang banget, lebih ke motorik dan field recordings gitu sih.


Gue sama Ucok emang udah rencana rilis album ketiga RCS, cuma kata Ucok kenapa ga bikin split dulu ama si Tesla, sebagai penghangat-nya sebelum album ketiga. Yaudah, asik juga nih kata gue. Karena RCS kebetulan udah lama ga rilis sesuatu. Kalau RCS yang album sebelum nya tuh yang gambar katedral itu. 


Kalau solo album lo yang “With Strong Hounds Three” itu dirilis dalam format apa saja? Yang cover gunung itu ya?
Iya Solo album gue yang covernya gambar gunung itu. Ada vinyl-nya, kaset dan CD juga. Itu rilisan pertama Majemuk Records (vinyl), dan dirilis juga oleh paviliun records versi CD-nya. Kasetnya belum lama ini baru dirilis, awal tahun oleh Sabda Nada.

 


Kalau The Knife Club itu gimana background awal mula terbentuknya?
Itu kolaboratif banget sih, itu awalnya gue sama Baldi Calvianca (Strange Fruit). Kita buat kaya fondasi musik lalu diisi oleh macem-macem kolaborator. Pemikirannya sih lebih kaya inisiatif musik, kolektif besar yang fluid banget sama keanggotaan. Fleksibel banget. Kalau soal musiknya ga diomongin sih Dy, gue ama Baldi kaya cuma buat draft, saling mengisi dan kita siapkan list kolaborator yang sudah siap kita kontak. Lalu kita oper aja ke mereka “lo mo coba lagu yang mana?”. Tapi diobrolin sama setiap kolaborator aransmen dan partnya. Jadi bukan cuma mereka nimpa yang udah ada tapi kita aduk-aduk lagi. Seru sih, itu salah satu proyek yang paling seru cuma sayang aja belum jalan lagi. Lo omongin ini gue jadi pengen sih jalanin lagi si The Knife Club.

 


Bagaimana dengan proyek lo dengan Haikal Azizi (Sigmun, Bin Idris) yang bernama Nakatomi Plaza itu? Lo berdua pasti fans John McClane-nya Diehard ya haha..
Awalnya kita punya acara ‘Recollecting’ di Sunset Limited Kemang. Punya-nya Fandy Susanto dari Table Six. Dulu sih semacam Coffee House dan Agency Table Six diatasnya. Jadi Sajama Cut maen di coffee house itu dan kita undang si Haikal. Itu pertama kali gue ama Fandy nonton Haikal solo. Haikal main-nya bagus banget. Kata Fandy “lo coba deh bikin Cel art project sama Haikal, nanti kita rilis”. Si Fandy punya record label Scouting Unit. Akhirnya gue kontak-kontakan ama Haikal dan karena kelamaan proyeknya, akhirnya dirilis sama Orange Cliff Records, karena Fandy-nya sibuk sekali. 


Haikal itu gampang banget diajak kerjasama karena dia itu main songwriter di band-nya. Jadi gue kirim apa aja ke dia, aransmen dan struktur lagu nya kita sepemikiran. Simple lah ga banyak diskusi. Kalau soal nama dari film Die Hard si Haikal bebasin sih, lo mo kasih nama apa? Dari dulu gue pengen punya band namanya Nakatomi Plaza, cuma gue takutnya orang nyangka “wah Jepang nih  J-rock lah atau city pop musiknya hahaha”. Kalau gue sih nama band dari dulu  pengennya kalau disebut gampang, disebut di bahasa Indonesia atau Inggris sama. 

 



Sajama Cut itu awalnya proyek solo baru jadi band atau gimana?
Engga sih, band dulu sebenernya. Dulu gue pulang dari belanda tahun 1994, sekolah bentar karena bokap gue akademia jadi kesana sebagai visiting fellow. Pas 14 tahun gue balik Indonesia banyak ngebawa banyak musik di kepala gue dari sana. Tahun ‘90an kan susah ya cari musik baru, di Indo kan terbatas alternative rock cuma yang terkenal aja. Pas disana semua gue embat dan devour semua. Nirvana dengerin nya apa sih? Dulu kan ga ada internet. Kurt Cobain pake baju Daniel Johnston kan, nah gue cari tuh tentang Daniel Johnston. Lalu gue pulang kesini bawa influence-influence baru gue. SC awalnya namanya Idioteque terus jadi Roswell baru jadi Sajama Cut. Tapi basically isi orang-orangnya sama, anak-anak komplek, sekolah dan temen-temen deket gue. Malah awalnya band banget si SC, tapi tengah-tengah sempet ga “ngeband”.


Kalau “Osaka Journals” itu background lo nulis lagu-lagunya memang di Osaka atau dimana?
Haha.. engga. Gue nulis lagu-lau itu kebanyakan di Perth sebenarnya pas kuliah. Ini kesannya gue jetset banget ya hahaha, ini kebetulan loh. Gue bukan jetset, anak pejabat atau anak diplomat. Gue mesti jelasin ini. Ini semua kebetulan aja karena bokap gue kerja kaya gitu. Sederhana banget hidup kita di luar negeri. Waktu itu gue kuliah di Curtain. Pas kuliah itu gue tersiksa karena kangen bermusik bareng anak-anak SC. “Apologia” itu album kedua kita sebenarnya. Pas masih bernama Roswell kita udah rekaman merilis “album pertama”, lebih kaya alt-rock kaya Weezer, Nirvana. Ini tahun 1999 Jakarta masih susah banget untuk cetak cover juga. Gue ama Eric  Wirjanata (Deathrockstar) ngeprint digital, dulu mungkin design-nya masih di Coreldraw. “Apologia” tuh gue berusaha nge-expand musik SC yang tadinya sederhana dengan lirik dan aransmen yang kompleks dan panjang. Gue dengerin black metal, Darkthrone, sampe Cradle of Filth. Jadi lagu-lagunya panjang. “Mari Bunuh Diri” dan “Terdampar” itu yang paling nge-pop di album itu, sisanya lagu-lagu 7-8 menitan. 


Nah “Osaka Journals” itu nge-kontras “Apologia” lagi Dy. Gue pengen buat lagu yang singkat dan berbahasa inggris, berbeda dengan “Apologia” yang durasinya panjang dan berbahasa Indonesia. SC tuh gitu, memang selalu nyusahin diri sendiri sih. Gue balik ke Jakarta bawa lagu-lagu itu tahun 2003, rekaman ama anak-anak ya jadi udah album itu. Abis itu David Tarigan denger, di Bandung juga cepet banget menyebarnya soalnya Helvi dan anak-anak FFWD Records pada denger juga. Hal-hal itu ngebuat kita kaya mulai diterima nih. Scene-nya pada saat itu kan gila banget Dy, banyak yang seangkatan ama kita pada saat itu kaya The Brandals. Momentum yang amat sangat.. Beruntunglah kita bisa ada disitu. Lalu ada soundtrack Janji Joni, kompilasi JKT: SKRG. Gak kebayang sebelum itu bisa ketemu orang-orang sejawat yang bisa ngomongin Pavement, Joy Division. Sekarang sih mungkin siapa aja tau ya hahaha. Kalau dulu tuh susah, kaya kita pernah nyamperin orang karena kaosnya keren kaya anak band, lalu ngobrol ama orang itu. Saking langka banget orang-orang seperti itu, ingin mencari teman yang bisa diajak ngobrol musik hahaha…

____________________________________________________________

“Gue tuh ga pernah buat album untuk orang lain. Sajama Cut ga pernah masif karena gue tau gue buat lagu itu self-indulgent lah. Tapi Godsigma itu udah dibuat dari awal untuk panggung. Untuk berinteraksi dengan penonton. Tapi ngehe nya, ada pandemi hahaha.”

 

____________________________________________________________

Bagaimana band lo beradaptasi dengan keadaan sekarang?
Kalah sih, kalah sama keadaan. Kita berusaha beradaptasi , tapi kita cuma bisa kreatif secara studio. Kita tuh ga begitu jago teknologi. Awal-awal orang kan suka virtual concert yang kamera-nya bisa pindah-pindah itu sih, kita juga sempat ditawarin tapi ga nyaman.  Karena beberapa hal kita juga belum ambil sih tawaran-tawaran itu. “Godsigma” itu kan album yang diperuntukkan untuk dibawakan live. Gue tuh ga pernah buat album untuk orang lain. SC ga pernah masif karena gue tau gue buat lagu itu insular, self-indulgent lah. 

 



Waktu promo album “Hobgoblin” tuh kita pernah sepanggung ama Morfem di acara Thursday Noise. Itu kan acaranya Jimmy Morfem, dan ya band-bandnya semua tuh band rock lah. Gue pas liat band-band itu kaya “anjing, seneng ya main musik rock yang simple dan straight forward”. Godsigma itu udah dibuat dari awal untuk panggung. Untuk berinteraksi dengan penonton. Setelah menulis lagu begitu lama lo taulah trik-trik aransmen, momen dimana dinamika lagu ini bagus naik atau turun, part ini seru buat crowd, quiet-loud dynamics. Bagian ini bisa kita stop, bagian ini bisa jadi jamming, ya macem-macem sih, itu semua gue terapkan di Godsigma. Gue dari dulu selalu menghindari trik-trik seperti itu, tapi untuk Godsigma, ayo lah. Ayo kita seru-seruan di panggung. Ya itu ide nya Dy, tapi ngehe nya, ada pandemi hahaha..
________________________________________________

“Gue bingung sama orang-orang yang anti masker gitu,

keren padahal pake masker”

 

________________________________________________

Jadi belum pernah manggung membawakan lagu-lagu “Godsigma”?
Sempet kita manggung sekali, launching single pertama “Kesadaran/ Pemberian Dana/ Gempa Bumi” dan itu pun sudah mulai ada kabar dari Wuhan. Orang-orang belum pada pake masker tuh, gue pake masker ke venue soalnya keren juga kaya ninja gitu. Gue bingung sama orang-orang yang anti masker gitu, keren padahal pake masker. Kalau gasalah sekitar akhir Maret atau awal April, pokoknya pas Indonesia masih denial gitu. Di bulan yang sama itu kita udah ada kaya 5 show. Lalu satu-satu kita cancel. Jadi ga tau deh kapan bisa balas dendam nya, manggung-manggung lagi.


Bagaimana proses songwriting lo dan treatment terhadap tiap album Sajama Cut?
Beda-beda. Sajama Cut selalu berbeda. Kaya “Manimal” kita kan di studio banget, cuma gue sama produser gue, bukan produser sih, anggota Sajama Cut ke 6. Gue buat lagu pake gitar nylon terus dia pake controller. Lalu kita ngomongin konsep.. Lebih banyak in the box lah, Dy. Lalu album “Hobgoblin” gue buat pakai piano karena gue ga bisa main piano. “Godsigma” kita buatnya di studio latihan, ga pernah tuh soalnya SC nge-jam di studio latihan. Gue buat dasar lagunya lalu kita aransmen bareng. Tiap rilisan beda-beda. Strange Mountain bisa membuat dan merilis lagu tiap bulan, tapi untuk Sajama Cut prosesnya lama, sekitar 5 tahunan tiap album. Gue berusaha ngebuat seru sih soalnya udah 30 tahunan membuat lagu walaupun instrumen yang paling gue kuasai gitar, tapi gue selalu berusaha men-challenge diri sendiri menggunakan instrumen-instrumen yang gue buta seperti synthesizer dan drum machine untuk membuat lagu. Bikin susah diri sendiri. Meskipun pakai gitar pun gue selalu memakai alternate tuning. 


Jadi formasi Sajama Cut sekarang adalah formasi tersolid Sajama Cut? 
Engga hahaha. Kita masih ganti-ganti terus. Gue lagi membentuk SC baru. Udah lumayan lama kan anak-anak yang kemarin. Jadi SC itu ada band intinya dan ada band live nya. Jadi meskipun kita memainkan lagu lama kita selalu ada nuansa baru deh. Kalau sekarang sih kita lagi nyari lagi sih.


Lo adalah satu-satunya personil SC yang bertahan dari awal sampai sekarang. Apakah lo Ahmad Dhani versi indierock? 
Gua tau sih orang suka ngomong gitu, cuma ego gue tuh ga segitu sih. Gue ga pernah mau orang menganggap SC itu Marcel. Konsep SC itu band karena gue ingin mencari partner dalam bermusik. Itu lebih seru Dy, dibandingkan gue main musik sendiri. Gue juga ga ada keinginan untuk dikenal sebagai tokoh dan menjual diri gue sebagai itu, apalagi berusaha kesana. Tapi gue punya visi SC itu apa, dan standar musik-nya harus gimana, itu emang ada tapi fleksibel banget kok. Memang belum ada aja sih yang nempel banget. Cuma ada tuh yang bantuin rekaman dari jaman “The Osaka Journals”, “Manimal”, dan “Hobgoblin”. namanya Yosi, dia multi-instrumentalist juga. Tapi memang gue belum dapat sih.. Ini tanpa mengecilkan peran anak-anak yang pernah dan sedang ngeband ama gue. Cuma SC tuh buat gue yang penting musiknya. Jadi kalau memang musik-nya ingin ke arah sini tapi yang formasi ini ga bisa buat ya diganti. Misalnya gue pengen buat yang nuansa vokalnya seperti apa dan gue ga bisa nyanyi pun, ya nanti yang nyanyi orang lain. Gue ga akan memaksakan. Serving the songs. di “Hobgoblin” juga gue hampir ga main gitar soalnya permainan gitar gue itu cuma menjadi distraksi disana. 

 



Tapi gue ngerti emang orang dari dulu suka ngomong Ahmad Dhani.. hahahaha.. Gue dari dulu suka bilang ke anak-anak juga. Jangan terlalu menganggap pujian yang datang ke kita. Kaya misalnya di media atau ada yang bilang “jenius” misalnya. Ya gue ga percaya itu. Gila deh kalau gue mulai percaya kata orang tentang gue. Itu bakal ngerusak diri gue. Gue bilang ke anak-anak meskipun lagi tinggi lo bangga boleh, respect itu lo nikmatin. Apresiasi orang. Tapi lo harus ada filter lah kalau ada yang bilang lo keren banget nih, albumnya brilian. Gimana ya kaya balance lah antara lo percaya musik lo bagus tapi tetap humble. Kalau lo ga menganggap musik lo bagus engga ga lo buat kan? Istilahnya kaya percaya nggak percaya sih. Jangan sampai kita kaya yang “anjing emang musik gue hebat, SC hebat”. Banyak yang memuji “The Osaka Journals” dan “Manimal”, sampai ada yang bilang “The Osaka Journals” top 10 album indonesia. Rusak lah gue kalau gue percaya sama itu, karena begitu ada kritik lo akan denial “engga, gue jenius, gue brilian!”.  Lo harus ada visi jelas tentang diri lo, kelebihan dan kekurangan lo.


https://sajamacut.bandcamp.com/
https://strangemountainmusic.bandcamp.com/
https://romancatholicskulls.bandcamp.com/music
https://marcelthee.bandcamp.com/
https://theknifeclub.bandcamp.com/releases
https://thehouseoffaithandmirrors.bandcamp.com/releases
https://orangecliffrecords.bandcamp.com/track/let-the-midnight-come

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from Marcel archives

Mungkin kita mengenal suara vokal Anindita dari album “Curiouser & Curiouser”-nya Santamonica yang cukup seminal dan ramai diperbincangkan oleh media di era tahun 2000an. Ternyata Dita memutuskan untuk merilis single baru dari proyek solonya, Sistine di tahun ini, yang menurutnya akan memanjakan telinga para penggemar neo-soul / hip hop seperti seperti SZA, Kali Uchis dan Jorja Smith. Mari berbincang dengan Dita mengenai aksen Jamaica Jorja Smith, Karedok, dan unsur kapitalisme dalam wabah pandemi ini..

 

Kemarin Santamonica baru ngerilis EP Remix ya? Bisa elaborasi sedikit mengenai itu?

 

Jadi gue ama Iyub (Santamonica, Sugarstar) udah lama banget ga rilis apa-apa karena kita berdua sibuk banget ngejar cuan. Jadi inspirasi kita tuh kaya ilang gitu. Karena pandemi dan setahun lebih dirumah terus proyek-proyek banyak yang postponed juga kan. Iyub mulai terinspirasi lagi untuk bikin musik. Kalau mau bikin album, walaupun kita udah rekaman banyak lagu baru, kita pikir waktunya ga tepat kalau rilis pas pandemi gini. Susah konser juga, mo bikin aktivasi juga ribet. Yaudah kita keluarin mini album dulu aja. Sebelum EP ini Iyub juga ada proyek sama Joox. Proyek nya tuh kaya collab antara artist baru dan artist lama. Gue sama Kimokal kan genre nya mirip. Trus sama-sama duo juga. Kebetulan mereka punya judul lagu “Wanderlust” juga sama judulnya dengan lagu Santamonica yang jaman dulu. Kenapa engga Kimokal ngecover lagu “Wanderlust” Santamonica dengan versi mereka, dan Santamonica melakukan hal yang sama dengan lagunya Kimokal yang “Wanderlust” juga. 

 

Ternyata animo orang-orang tuh pada bagus banget. Media-media tuh masih excited sampe masuk NME Asia, padahal kita bikin video klipnya juga cuma pake iPhone doang gue. Sutradara yang biasa kerja ama kita, Arya Wijaksana, dia pake footage-footage fashion shoot dia yang dirombak. Karena dulu kita sering bikin video fashion buat Elle Magazine. Digabung ama footage yang gue shoot di kamar pake iPhone. Album mungkin awal tahun depan ya, semoga sih udah bisa konser lagi. Karena gue ama Iyub lumayan perfeksionis. Mo rilis apa-apa tuh kita harus bener-bener pikirin konsepnya segala macem. Kalau sekarang beda sama dulu. Dulu formulanya kita udah tau: videoklip dan keluarin fisik, udah beres. Kalau sekarang kan beda, digital. Jadi mending single, single, single dan baru album keluar. Kita lagi mikirin caranya juga biar mateng.

 

 

 

Dulu EP “189” lo yang sebelum album “Curiouser and Curiouser” masih agak bossa nova ya?

 

Dari album pertama ke album kedua tuh kalau kita konsepnya harus nyambung. Walaupun gue sama Iyub evolved secara musik dan segala hal dalam hidup. Udah berapa belas tahun kan. Untuk menjembatani album ke satu dan kedua walaupun Santamonica ada perubahan tetep ada rasa Santamonica nya juga. Dan ini dikasih liat nya di mini album itu. Sebenarnya kan EP “189” itu dibagiin limited edition pas gue ama Iyub married. Masih bossa nova, jazzy, swing, waltz. Yang ini beda. Sebenarnya ini adalah remix-an kita sendiri pas live PA kalau ga mungkin bawa full band, jadi di remix, jadi agak electronic disco-techno gitu-gitu. Dan ada beberapa temen juga yang mau nge-remix. Dan beberapa lagu gue nyanyi ulang karena kualitas rekaman nya dulu kurang bagus.

 


 

Lalu lo juga ada proyek Girls Girls bareng Iyub ya?

 

Nah itu masih proyek yang bareng Joox. Iyub punya ide udah lama banget, kaya mo bikin talent show tapi audisinya digital. Kalau talent show yang lain-lain di TV kan orang kan datang. Kalau kita engga kan, karena sudah ada teknologi. Dan Gen-Z ini kan apa-apa digital, apa-apa social media. Kenapa kita ga pake platform itu untuk audisi. Rencana nya kita bikin girlband yang belum ada di indonesia, secara look keren fashion-nya dan musikalitas-nya juga  bagus. Ga ada Korea atau Jepang-Jepang nya sih, soalnya kita pengen unik. Bajunya juga kerjasama ama designer dari shanghai gitu. Sekarang lagi ada proses masalah kontrak sih sebenernya. Ini kan 4 orang yang punya karir sendiri diluar Girls Girls. Kedepannya kita lagi rundingin sih sama member-membernya.

 

Kalau solo projek lo dengan moniker Sistine itu gimana ceritanya?

 

Jadi sebenarnya gini, gue kan dari awal suka hip hop. emg musikalitas gue sama iyub tuh ada yang sama dan ada yang beda juga. Gue ngasi influence ke dia kaya bossas, hip hop. Dia ngasi ke gue kaya Cinematic Orchestra, Battles. Di Santamonica sendiri gue tuh kaya pengen bikin musik yang menurut Iyub ga cocok buat lagu band Santamonica. Akhirnya gue bilang ke Iyub kalau gue tuh pengen bikin solo album dari lagu-lagu yang kemaren ga kepake sama Santamonica. Kata Iyub “ngapain pake lagu2-lagu bekas. Udah bikin yang baru aja sini konsepnya deh yang keren”. Kenapa gue pake nama dan moniker Sistine tuh karena suka Michaelangelo yang menurut gue renaissance enlightening lah. Kalau dipikir-pikir secara nama Santamonica juga masih ada nuansa biblical nya juga walaupun gue ga beragama Katolik. Jadi masih nyambung-nyambung lah, dan gue juga terinspirasi pas gue kesana, ke Sistine Chapel. Tapi alesan paling pentingnya sih gue ga mau pake nama asli gue biar orang-orang ga bingung. Biar pekerjaan gue diluar musik jadi nyaru dengan musik gue. Jadi kalau orang nyari musik bisa browse nya Sistine. Kalau mau pekerjaan fashion gue yang profesional bisa pake nama asli gue. Biar ga jadi ambigu dan bingung, kenapa dia fashion director dan stylist tapi kok ada musik hip hop nya. Jadi gue pengen memisahkan pekerjaan profesional dengan proyek musik pribadi gue.

 


 

Apakah pekerjaan lo sebagai fashion director di Elle dan stylist freelance berpengaruh ke output-output musik lo?

 

Jadi dulu gue emang kerja di Elle Indonesia sebagai fashion director, 8 tahunan lah. 2017 gue udah ga kerja lagi di majalah. Sempet punya bisnis salon Toni & Guy yang di Kelapa Gading, PI dan di Kemang dengan owner yang lain juga. Sempat juga bisnis kosmetik dengan beberapa teman gue, Nude Cosmetics. Tapi gue ngerasa hairdressing bukan passion gue, gue ga bisa melakukan sepenuhnya karena basicnya gue ga ngerti. Dengan franchise juga banyak limitations kan produknya harus pake ini itu, ga bisa bebas juga. Akhirnya ga gue terusin, yang kosmetik juga ga gue terusin karena direction nya berubah. Karena gue mau ngerjain sesuatu yang sesuai dengan passion gue juga. dan gue juga ga bisa 100% di bisnis itu karena masih megang Elle dan ngerjain iklan juga. Gue mikirnya print media udah masa lalu, dan gue udah merasakan the golden years-nya. Lo harus bisa adapt dengan perubahan, kalau lo ga bisa adapt ya elo akan tertinggal. Dan memang semuanya mau ga mau harus move ke digital. Karena gue liat dalam musik juga gue gak bisa pake formula lama kaya dulu. Semua pake analog synth bla bla bla kaya jaman dulu. Ternyata sekarang Iyub juga ngerasa bikin pake midi juga oke nih. Asal lo bisa ngerti cara manipulasi-nya agar sesuai dengan standard lo. 

____________________________________________________________

 

“Lo harus bisa beradaptasi dengan perubahan tapi lo juga ga merubah identitas lo. Soalnya kalau gue disuruh nyanyi pake aksen Jamaica kaya Jorja Smith ya gue ga bisa hahaha.”

____________________________________________________________

 

Lalu gimana cara Santamonica tetap terdengar “organik” walaupun beradaptasi dengan teknologi dan musik kontemporer?

 

Beradaptasi dengan platform nya, strategi bisnis dan media-nya. Tapi diri lo sendiri kan ga bisa sekejap berubah langsung. Misal gue tiba-tiba berubah jadi afrobeat atau suara gue jadi aksen Jamaica hahaha. Itu kan bukan diri gue, gue gamau merubah hal-hal seperti itu. Lo harus bisa beradaptasi dengan perubahan tapi lo juga ga merubah identitas lo. Ga sell-out dalam arti disini gue ga memaksakan menjadi sesuatu yang gue ga suka dan ga bisa. Soalnya kalau gue disuruh nyanyi pake aksen Jamaica kaya Jorja Smith ya gue ga bisa hahaha. 

 


 

Kalau ngomongin influence, lo di Santamonica sekilas terdengar seperti perpaduan dari Stereolab, Battles dan Astrud Gilberto. Sementara upcoming single proyek solo lo (Sistine) terdengar kekinian dengan pengaruh kontemporer dari SZA, Kali Uchis, Jorja Smith dan Doja Cat. Bisa elaborasi sedikit?

 

Gue tipe orang yang selalu melihat talent-talent baru. Ada juga kan orang yang stuck kaya “kalo gue udh Cocteau aja Cocteau! Heavy metal nya ini aja yang lama-lama. Yang baru-baru ga mau dengerin” . Ya buat gue sih good music is good music. Gue kagum ama Jorja Smith, Kali Uchis, SZA. Buat gue ya gue ga bisa kaya mereka. Gue kagum sama performance dan musikalitas mereka. Lagu-lagu nya gue suka banget. Influence itu ya gue juga ga mencoba menjadi seperti mereka. Influence mungkin dari beat nya.. Gue juga ga berubah total. Lo kalau denger Sistine juga tau itu tetep suara gue. Lucunya gini Dy, selama bertahun-tahun orang pikir vokal gue kalau nyanyi tuh kaya di efek-efek in dan autotune gitu. Pas ketemu dan gue nyanyi ternyata suara gue emang gitu. Paling cuma di layer tinggi-rendah aja, dan reverb-chorus dikit. 

 

Dystopia tahun 2020-2021 menurut lo?

 

Gue ngeliat nya kaya apa ya, sebenarnya manusia tuh udah bisa memprediksi dirinya sendiri. Apa-apa yang terjadi itu dari mulai perang, wabah pandemi, ya bisa dibilang itu ego nya manusia sendiri yang bikin itu. Bukan dari alam. Mana ada alam kaya gitu. Alam cuma memastikan bahwa kita ga over-populated. Gue ngomong ama beberapa orang yang memang geneticist, dokter dan mereka real people bukan artikel dari internet. Menurut mereka tuh mutasi-nya nature ga kaya begini. Kalau dibilang virusnya dari kelelawar yaudah beratus-ratus tahun orang di Sulawesi Utara makan kelelawar ya ga ada masalah. Setelah diperiksa secara mutasi genetiknya ya ga terlihat natural. Aneh. Mereka sih bilangnya allegedly it’s man made. Kalau dilihat dari sequence genetik nya segala macem. Gue sih sceptical about all the conspiracy theories. Tapi ya people are greedy. Semua perang yang ada itu karena keserakahan manusia, mau jualan senjata, mau punya power disini, bisa punya power over oil lah, political interest nya lah. Jadi ya gue sih ga heran kalo ini dibuat untuk kepentingan kapitalisme dan controlling the population. 

 

Jadi kaya survival of the fittest ya?

 

Iya karena yang diuntungkan big pharmacies kan. Yang dirugikan UMKM, small independent companies. Ya balik lagi, semua berubah dengan cepat dan kita harus beradaptasi. Ini kan survival of the fittest. Lo kemaren lockdown banyak kan yang kena depression, anxiety, mental issues segala macam. Kalau lihat dari perspektif negatifnya ya memang menyebalkan. Kalau gue selalu berusaha untuk melihat sesuatu dari  sisi yang “yaudah mau gimana caranya sekarang soalnya lo harus survive”. Menurut gue positive mindset itu membuat lo jadi ga sakit, elo menjadi lebih beruntung dalam hidup. Resilient dan looking at the silver lining nya lah. 

 


 

Looking at the bright side?

 

Iya. Gue awalnya hidup kaya di flip lah. Sabtu-Minggu lo biasa pergi ama temen-temen atau clubbing misalnya. Tapi setelah harus banyak dirumah, gue akhirnya menyadari selama bertahun-tahun itu gue banyak mengejar hal-hal yang sifatnya instant gratification. Bukan-nya melihat ke dalam diri sendiri: Apa yang gue pengen? Lo tuh siapa? Purpose hidup lo apa? Hidup lo tuh maunya gimana? Are you happy being with yourself? Gue ngerasa kalau sendirian gue kesepian. Gue harus ada temen-temen yang bisa ngasih gue energi. Ternyata pada saat gue sendirian gue bisa liat apa yang gue missed-out dalam hidup. Ternyata gue kangen musik dan berkarya. Gue selama ini banyak abandon myself. Ga ngurus diri sendiri cuma ngurusin orang lain, ngurusin pekerjaan doang, ngejar karir ngejar cuan. Tapi diri gue terbengkalai.

 

Selama ini mungkin orang-orang ngerasa taking for granted ya dulu bisa makan di pinggir jalan, bebas kemana-mana tanpa masker dan lain lain…

 

Iya. Kebebasan kita dulu hilang, bisa kemana-mana ga pake masker, ketemu temen, pelukan sama temen. Kemaren-kemaren tuh gue juga ngerasa taking for granted aja semua-nya. You don’t know what you’ve got till it’s gone. Tapi gue seneng secara soul, spiritual dan mindfulness, gue merasa menjadi lebih baik dengan gue discovering myself dan lebih mencintai diri sendiri. Klise ya semua orang bilang meditasi atau apa tapi buat gue beneran ngebantu banget. Dulu gue suka merasa bersalah kalau taking me time atau liburan. Sekarang kaya tidur jam 9 malam dan bangun pagi nginjekin kaki di rumput aja udah blessing. Orang ngajak party gue prefer tidur, kalau party gue minum, besok gue hangover kehilangan satu hari dalam hidup gue. Buat apa? Jadi ini adalah momen krusial  dimana lo bisa flip hidup lo jadi lebih baik atau going downhill..

 

____________________________________________________________

 

“Mungkin juga karena jaman dulu generasi kita ga terlalu digital. anak-anak jaman sekarang gue lihat social skill nya agak kurang. Gampang kecewa, awkward. Tapi mungkin generasi kita dulu juga dulu ignoring the problem atau emang denial aja hahaha.”

____________________________________________________________

 

Kemarin Sugarstar sempet rilis single baru kan? Dan ada lagu “Delirious” featuring lo juga kan di salah satu lagu nya?

 

Sugarstar itu kan punya lagu sekitar 30-40an dari tahun 2001 atau 2002 mereka ngeband. Nah hardisk nya Iyub rusak dan crash pas mau rilis. Kebetulan gue punya beberapa lagu-lagunya di komputer gue. Gue kan selalu rapi, selalu gue simpen semuanya. Iyub akhirnya ngambil dari beberapa yang gue punya dan dia remaster. Lagu “Delirious” yang gue nyanyi itu sebenarnya yang mau dia rilis pas Hardisk-nya crash. Jadi dia akhirnya bikin lagu baru dan minta gue untuk nyanyi. 

 

Itu sebenarnya tentang mental health. Selain itu kaya tentang lo ngomong ama diri lo sendiri. Seperti penggalan liriknya yang “You’re standing there in a crowded room of yourself”. Sebenarnya semua itu ada di pikiran dia. Itu dari pengalaman gue sebenernya. orang-orang yang gue temuin, kaya anak buah gue dulu itu yang Gen-Z banyak yang kena mental depression, bipolar. Mungkin generasi kita juga dulu banyak cuma kita gatau aja soalnya dulu kan malu mengakui hal-hal yang berhubungan dengan mental health. Bagusnya tuh di generasi sekarang ini semua itu di akuin. Mungkin juga karena jaman dulu kita ga terlalu digital. Anak-anak jaman sekarang gue lihat social skill nya agak kurang. Gampang kecewa, awkward. Ya itu hidup. Mau kecewa mau happy harus lo jalanin. Tapi mungkin antara generasi kita dulu juga ignoring the problem atau emang denial aja hahaha. Nah yang “Words of Farewell” itu dibikin easter egg di dalamnya ada semacam hidden song yang delirious itu.

 


 

Top 5 records that changed your life?

 

1. My Bloody Valentine  – Loveless (1991)

2. Blonde Redhead – Misery is a Butterfly (2004)

3. Air – Talkie Walkie (2004)

4. Broadcast – Haha Sound (2003)

5. Cocteau Twins – Heaven or Las Vegas (1990)

 


 

Top 5 foods that you can’t live without?

 

1. Risoles Ragout. Ini nih yang paling gue suka. Kalau gue boleh makan ini tanpa bisa jadi gendut, itu adalah risoles ragout buatan sepupu gue atau yang di Bintaro Bakery. Nomer 1 ini, ter-the best.

 

2. Dim Sum atau Siomay-siomay gitu gue suka banget.

 

3. Indomie Goreng. Jujur harus banget. Sebenernya ga boleh makan cuma cheat day gue ya ini hahaha..

 

4. Nasi Campur yang di Bali, di Kerobokan. Nasi Campur Salmon di Kerobokan sama sop kepala salmon nya enak banget. Kalau bisa makan ini tiap hari gue makan tuh tiap hari. Namanya Warung Padi di Kerobokan. Kalau pesen ga bisa Gofood harus Goshop hahaha..

 

5. Karedok gue suka banget. Gue harus makan itu. Sebenarnya kalau di resto Sunda dimana-mana udah paling enak pasti. Apalagi di Bandung hahaha. Makanan gue semua ga ada sophisticated nya ya haha. Gue bisa sih makan apa aja kecuali anjing, kuda, kelelawar atau ular. Soalnya gue pernah terjebak di Manado makan anjing. Gue manggung disana, dijamu kan. Kaya makanan padang kan modelnya di piring-piring banyak. Asal makan aja trus tiba-tiba katanya itu doggy. Mau nangis rasanya. 

 

Top 5 fashion designer favorit lo?

 

1. Alexander McQueen. Dia itu visioner. Dia bukan cuma sekedar fashion doang. The whole show, the whole concept-nya mateng banget dan semua ada meaning nya. Jujur pas dia meninggal gue nangis sih. Fashion jadi kehilangan the whole fantasy, the whole drama. sekarang fashion week biasa-biasa aja, dulu tuh kaya teater. Show-show McQueen selalu ditunggu. Walaupun bajunya ga wearable tapi tiap piece-nya bagus dan teknik nya gokil.

 

2. Elsa Schiaparelli. Designer Perancis di era-nya Jean Cocteau, Picasso, Salvador Dali. Lo pernah denger lobster dress? Nah ini dari karya-nya Dali dia bikin jadi dress. Designer-nya sekarang juga bisa mentranslate DNA nya Schiaparelli menjadi modern. Kalo punya duit sih gue pengen beli semuanya dari baju sampai perhiasan nya walaupun gak wearable, ya tetap akan gue pake hahaha..

 

3. Miuccia Prada. Menurut gue dia itu visioner. Design-design-nya klasik dan long lasting. Dia bisa membuat perempuan jadi strong tanpa terlihat intimidating.

 

4. Rei Kawakubo-nya Comme des Garcon. Gue seneng konsep “ugly beauty” dia, dekonstruksi-nya dia buat untuk menghancurkan norma-norma yang ada. Lo ga harus mengikuti norma dalam design dan berpakaian.

 

5. Harry Halim. Dia temen gue sendiri sih. Karena Harry melihat keindahan perempuan itu bukan cewek cantik kurus kaya supermodel. Mau bentuknya kaya gimana juga dia ngeliat ke dalamnya, bukan yang terpancar keluar. 

 

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos from Dita archives

Band yang beranggotakan Edi (vokal), Yowdy (gitar), Rega (gitar), Eka (Bass), dan Geri (drum) ini telah merilis Demo yang berisikan tiga lagu dan satu single. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Iron Voltage, simak interview kami dengan unti thrash metal asal Bandung berikut ini.

Gimana rasanya bikin band pas lagi pandemi?
Emang awalnya karena pandemi. Jadi nggak ada kegiatan gabut, nongkrong-nongkrong. Yaudah ngeband aja.

 

Masih inget nggak pertama manggung dimana?
Pertama manggung di acaranya Beat Heaven, di Sabilulungan, Soreang waktu itu. Ada yang nonton tapi kapasitasnya dibatasi. Itu sebelum PPKM kalo gak salah.

 

 


Dari Mana asal nama Iron Voltage?
Nyari nama cukup sulit, liat Iron Maiden. Iron nama depannya kayaknya cocok. Terus inget judul lagunya ACDC, High Voltage. Lalu kita satukan aja jadi Iron Voltage.

 

Asal muasal terbentuknya Iron Voltage
Jadi awal pertama bikin Iron Voltage tuh, kalo nggak salah tahun 2016 atau 2017 gitu. Waktu itu namanya belum Iron Voltage. Tapi musiknya emang udah thrash metal. Jadi awalnya Yowdy sama Edi bikin Unsight dulu namanya. Udah sempet recording satu lagu tiba-tiba nggak jalan lagi kesibukan masing-masing. Pas Pandemi awal-awal gak ada kegiatan, akhirnya Yowdy ngajak Edi buat ngeband lagi. Terus narik Eka dari Gasm buat main bass, Fahmi di drum, sama Rega adiknya Yowdy dari Gasm juga buat main gitar. Akhirnya jalan ngerjain demo 2020. Terus setelah demo beres, karena Fahmi sibuk kerja. Mutusin narik Geri dari Ayperos buat ngisi posisi drum yang ditinggalkan sama Fahmi.

 

Ngomongin Demo dulu rekamannya dimana?
Itu home recording semuanya, kalau drum ada direkam di studio nya temen. Kebetulan ada temen Amos namanya Twenty DB. Punya fasilitas di rumahnya, jadi nyoba recording di sana. Ngulik-ngulik mastering dan lainnya. Jadilah Demo itu.

 

Hasilnya memuaskan nggak menurut kalian?
Masih belum sebenarnya, karena masih demo juga sih yah.

 

Demonya kan jadi 3 lagu, itu dirilis dalam bentuk apa?
Dirilis dalam bentuk CD. Dibikin 100pcs buat dibagi-bagi, bukan buat dijual.

 

Kalau Immortal Crush nggak masuk ke Demo yah?
Nggak masuk, itu single baru yang rilis April kemarin, rencana bakalan masuk di album. Tapi semua lagu yang ada di Demo mau direkam ulang dan dimasukin juga nanti di album.

 

Kalau lirik, kenapa semuanya pake bahasa Inggris?
Iseng aja sih sebenernya, pengen aja nyoba. Jadi pengen nyoba dulu pake bahasa Inggris, nanti pengenalan bahasa Inggris sudah aman baru mau nyoba pake bahasa Indonesia. Mungkin nanti dicoba pake bahasa Indonesia liriknya.

 

Kalau liriknya sendiri kebanyakan nyeritain tentang apa?
Kalu lirik, kami biasanya nyeritain tentang perang pada masa lalu hingga saat ini. Meskipun motifnya beda. Tapi, banyak terinspirasi dari film – film World War, tentang warfare gitu. Awalnya pengen kayak Sodom atau Slayer. Intinya bercerita tentang perang tapi dikembangkan lagi dibikin fiksi aja gitu.

 

Banyak yang bilang kalau dengerin Iron Voltage kayak denger Power Trip
Soalnya kita sering denger thrash-thrash old school. Terus, thrash hardcore kayak Cro Mags, Lee Way kan emang warna-warna musiknya emang mirip kayak gitu. Ya natural aja, jadinya kayak gitu. Terus kita juga beda-beda selera musik. Ada yang suka hard core punk, ada yang suka death metal kita satuin. Ya jadinya kayak gitu.

 

Seberapa penting konsep visual artwork buat Iron Voltage?
Sangat sangat penting. Bayangin aja kalo beli rilisan tapi nggak ada gambarnya, kayak kurang yah.. Apalagi Yowdy, Rega sama Geri tuh banyak ngerjain ilustrasi. Jadi paham bagaimana pentingnya visual itu sama musik kayak sepaketlah nggak bisa dipisahin gitu. Visual sendiri fungsinya banyak. Bisa buat merchandise, backdrop stage, atau poster. Jadi lebih bisa dinikmati, ketika dengerin musik ditambah visual yang bagus dan cocok dengan musiknya tuh jadinya keren.  Dari visual art-nya juga jadi bisa menceritakan tentang lirik-liriknya. Orang-orang juga kebanyakan tertarik dari luar dulu, kalo visual artwork-nya keren orang jadi tertarik. Entah dari sampul album atau t-shirt. Jadi orang tuh penasaran dan menggali lebih dalam. Itu alasannya kenapa Iron Voltage mengonsep visual artwork harus se-catchy mungkin.

 

Kalo merchandise siapa yang bikin? Terus kenapa artwork nya seperti itu?
Design dari Yowdy kalo produksi yang ngerjainnya Edi. Kayak liat design Anthrax atau album awal-awal Testament, Judas Priest cocok aja gitu style designnya kayak gitu. Kalo artwork biasanya dari Yowdy dulu diliatin ke anak-anak. Karena kalo buat merchandise yang agak bawel tuh yah Yowdy.

 


Kalau buat Iron Voltage, bikin merchandise band tuh penting juga nggak?
Sangat penting, soalnya buat pelengkap karya. Kayak kurang aja kalau nggak ada merchandise-nya. Kita kalau suka band A, dengerin musiknya bagus, visual art-nya bagus terus kita jadinya pengen nyari dan dapetin merchandisenya. Dibalik itu juga bisa jadi keuntungan buat band. Dari segi finansial maupun medium promosi. Misalnya orang lagi nongkrong, pake kaos band yang artworknya keren, ditanya sama temennya “kaos band apa itu?” dijawab kaos band anu, jadinya temennya juga penasaran dan akan mencari tahu tentang band itu sendiri. Ditambah personil Iron Voltage, orang-orangnya suka mengoleksi merchandise band.

 

Kira-kira merchandise band itu sendiri bisa menghidupi band nggak?
Bisa dibilang bisa. Soalnya di jaman sekarang untuk media mempromosikan merchandise udah banyak. Asalkan bikin merchandise tuh emang harus bener-bener kualitasnya bagus, yang artwork-nya keren, jadi orang banyak yang ngeburu merchandise band kita. Apalagi saat ini Iron Voltage sendiri masih jalan mandiri dan tetap harus hidup bandnya sendiri. Dari merchandise juga kita jadi bisa recording, bisa produksi kaset atau buat latihan. Merchandise dapat sangat menjanjikan kalau di manage dengan baik dan packaging juga harus bagus.

 

Rencana ke depan dari Iron Voltage?
Lagi fokus ke album dulu. Rencananya mau rilis di awal tahun 2022 sama Disaster Records. Sama pengen tour keliling Indonesia. Pengen juga gitu kebayang pengen manggung di Obscene Extreme atau Bloodstock festival gitu.
Djaya Selalu adalah jawaban bagi kamu yang suka bersepeda tapi males buat mencucinya. Kamu tau nggak? Kalo sepeda tuh ada tata cara mencucinya. Ada beberapa bagian di sepeda yang nggak bisa sembarangan tersemprot air dan untuk menghindari karat setelah mencuci sepeda tidak boleh didiamkan lama, harus cepat dikeringkan. Lumayan cukup ribet kan? Semua hal ribet itu dapat kamu lewati dengan cukup datang ke Djaya Selalu yang terletak di kawasan Kantin The Panas Dalam, Jl Ambon No 8A, Bandung. 
 
  
 
Ada beberapa menu yang disediakan oleh Djaya Selalu untuk mencuci sepedamu. Yang paling murah, dengan membayar Rp.10.000,- kamu bisa mencuci sepeda sendiri, ini hanya cuci saja nggak termasuk poles dan pelumas untuk part sepeda. Ada menu cuci cepat dengan harga Rp.20.000,- sepeda kamu dicuci dengan cara cepat dengan finishing semir ban. Yang ketiga ini rekomen banget sih, cuci ditambah poles dengan harga Rp. 30.000,- sepeda kamu akan dicuci, poles menggunakan cairan khusus ditambah pelumas untuk rantai dan sprocket. Yang terakhir di menu Djaya Selalu ada “Bobolokot” harganya Rp. 50.000,- ini diperuntukan untuk sepeda yang dilumuri lumpur atau kotor banget, biasanya sepeda-sepeda downhill atau cross country.
Tempat yang dibuka pada awal tahun 2010 lalu ini siap melayani pesepeda setiap hari dari jam 10.00 pagi sampai jam 18.00. Kenapa bukanya siang? Karena yang punyanya suka sepedaan juga, jadi mereka bisa buka setelah bersepeda terlebih dahulu. Cocok kan? Jadi setelah bersepeda sebelum masuk ke rumah sepeda menjadi bersih. Atau mungkin bisa juga cuci sepedanya sore-sore biar keesokan paginya sepedamu terlihat bersih dan mengkilap. Nggak ada sistem book dulu yah, jadi dateng aja langsung kalo mau nyuci sepeda.

 

 

Selain salon sepeda, kalo kamu mau ngerakit atau service sepeda bisa juga di Djaya Selalu dan akan dilayani oleh tim Maju Bersama Bike. Bukan hanya itu aja, ada juga part sepeda bekas yang bisa kamu beli dan part yang dijual telah dikurasi oleh SDX Supply.co.  Satu lagi nih, kalau pengen potong rambut, ada juga Djaya Pangkas Rambut. Jadi, sambil nunggu sepeda beres dicuci bisa sekalian potong rambut. Setelah selesai, sepeda dan yang punya jadi lebih fresh.

 

Djaya Selalu, Jl Ambon No 8A, Bandung
Instagram: @djayaselalu.id

 

Words by Firman Oktaviawan

Butuh rekomendasi untuk netflix and chill? Nih kami kasih tau 5 serial Netflix yang perlu kamu tonton agar selera makan bertambah. Gak apa-apa lah sekali-kali nontonnya tentang makanan, jangan film romantis terus. Serial tentang makanan di Netflix ini emang kurang ajar, bikin rencana diet selalu gagal. Pengambilan gambar yang detail membuat makanan terlihat nikmat sekali, ditambah slow motion-nya itu loh aduh pasti bikin ngiler. Simak list berikut ini untuk menambah khasanah wawasan kuliner semakin luas, jangan teralihkan dengan tampilan makanannya yah. Karena narasi yang dibangun pun ceritanya bagus-bagus.
 
Street Food Asia
Mata dan telinga kamu akan dibawa jalan-jalan keliling asia untuk mencicipi street food yang ada di Bangkok, Osaka, Delhi, Yogyakarta, Chiayi, Seoul, Ho Chi Minh, Singapore dan Cebu. Setiap episode yang berdurasi 28 menit ini menceritakan sejarah dari bagaimana street food berkembanng dari sebuah usaha yang kecil sehingga dapat menjadi sebuah ciri khas dari masing-masih kota dan bagaimana si penjual dapat bertahan lama berjualan makanan yang mereka sajikan  dengan cita rasa yang otentik.

 

 

 

Korean Cold Noodle Rhapsody

Kebayang nggak sih makan mie dingin kayak gimana rasanya? Di Indonesia kuliner mie dingin tidak sepopuler di Korea. Apalagi ketika musim panas, di Korea banyak restoran yang menyajikan Mie Dingin dengan ciri khas nya masing-masing. Proses pembuatan mie yang masih dilakukan dengan cara tradisional, lalu bagaimana proses mie bertemu dengan kuah dingin dan toping dengan warna yang menarik membuat kuliner yang terdengar aneh ini menarik untuk dicicipi. Ditambah cara bagaimana orang Korea menikmati mie dingin ini, huuuu bikin perut tiba-tiba terasa kosong.

 

 

 

Chef’s Table BBQ

Yang suka makanan serba daging pasti nggak akan tahan liat empat episode dari Chef’s Table BBQ. Serial yang pernah masuk nominasi AMI Awards ini, memperlihatkan tempat-tempat legendaris yang menyajikan daging BBQ di Amerika, Australia, dan Mexico. Semua daging BBQ yang disajikan merupakan resep turun temurun sehingga dari mulai proses pembuatannya pun bikin ngiler. Ketika daging sedang diasapi terus ditaburi bumbu rempah dan terkena percikan percikan air berisikan bumbu rahasia membuat tiba-tiba menelan ludah. Lambung semakin berontak ketika daging udah disajikan terus dipotong potong, arghh lambung seperti ada yang menggaruk-garuk dengan lembut.

 

 

 

Somebody Feed Phil

Phil Rosenthal, orang yang membuat serial Everybody Loves Raymond mengajak kamu berkeliling dunia untuk mencicipi makanan-makanan khas dimulai dari Bangkok, Copenhagen, Venice, Montreal dan banyak kota lainnya. Di Setiap kota Phil ditemani oleh penduduk setempat untuk mencicipi makanan khas dari kota-kota tersebut. Narasi yang dibangun olh Phil sangat menarik, apalagi ekspresia dia ketika menggigit makanannya terlihat sangat nikmat. Di kebanyakan setiap episode, di akhirnya Phil selalu melakukan video call dengan keluarganya di rumah. Dan suka menyebutkan gurauan-gurauan garing ala bapak-bapak yang terkadang lucu.

 

 

 

Flavorful Origins

Setiap episode-nya tidak lebih dari 15 menit, tapi dengan waktu segitu cukup untuk menceritakan tentang kuliner khas pedesaan China secara mendalam. Ternyata setiap pedesaan di China tiap provinsinya memiliki kuliner khas nya masing-masing. Proses pembuatan makanannya pun semua masih menggunakan cara tradisional. Kadang bahannya ada yang diambil dari hasil tanam sendiri atau hasil ternak warga. Hal itu menjadikan prosesnya sangat menarik untuk disimak dan tentu hasil akhir tampilannya itu loh, duhhhhhh nikmat banget kayaknya.. Meskipun makanan tradisional, tetep aja tampilannya bikin lapar.

 

 

 

Curated by Firman Oktaviawan

 

Gebeg adalah sosok ikonik yang sudah malang-melintang di scene musik kota Bandung dari era tahun ‘90an awal. Karakternya yang friendly, enerjik, sering bercanda dan pantang menyerah sudah dikenal oleh banyak orang yang mengenal Gebeg secara personal maupun professional. Permainan drumnya sudah memberi nyawa bagi live performance RNRM, Homogenic, dan sekarang tentunya Taring dan Powerpunk. Puluhan band lainnya pun sudah pernah Gebeg bantu dalam departemen drum sehingga Gebeg pun piawai dalam memainkan berbagai genre musik dalam setiap performa-nya. Mari berbincang dengan pria humoris yang baru merilis kaset komedi “Bodoran Sunda Vol. 1” mengenai asal muasal Extreme Moshpit, album ke-3 Taring yang diproduseri almarhum Ebenz, clothing Anti-Class miliknya, dan tipsnya untuk tetap waras di era pandemi ini…

 

 

Dari dulu juga bikin Extreme Moshpit sama Pak Eben komitmen nya “Bro didieu mah ulah neangan beunghar, urang neangan manfaat”

 

 

 

Apa kabar Gebeg? Akhir-akhir ini sibuk apa aja? 
 
Sehat Dy! Alhamdulillah. Kalau sibuk mah sibuk ngurusin nerusin Extreme Moshpit Radio, Extreme Moshpit TV, beresin Taring album ke 3 yang belum beres, tinggal take vocal. Insyallah tahun depan rilis, mudah-mudahan sama Grimloc tapi belum ngobrol detailnya. Jualan di Anti-Class, ngurus keluarga, kehidupan lah hahaha. Ngajar drum dirumah sama di Chronic Rock, tapi masih private gitu lah. Bukan sekolah resmi, yang pengen belajar langsung aja via DM.

 

Band Gebeg selain Taring dan Powerpunk apalagi yang sedang aktif?
 
Ada projekan The Ubz, Dy. Bawain kover lagu-lagu ‘80an, sama mang Ade (Pure Saturday),  Ramdan (Burgerkill), Babam, Ayie (Sonic Torment). Banyak projek-projek yang dibikin sih Dy. Sama si Jahkunx Krass Kepala, sama Ucok Ayperos, Ais Kaluman. Nama band nya “Meledak”. Lagi bikin-bikin lagu. D-beat punk gitu lah. Satu lagi mah sama Elmo Eyefeelsix dan Utink (Polyester Embassy). Lagi bikin-bikin lagu dulu, belum ketemu dan latihan. Pengen nya mah kaya Body count-nya Ice-T hahaha. Bertiga weh dulu sambil jalan.

 


 

Beg, ada cerita-cerita seru selama menjadi drummer selama ini?
 
Senang nya mah ya Gebeg bisa keluar negri ke Jepang, Singapura, Kuala Lumpur, Eropa. Itu karena main drum Dy. Kalau ke Eropa awal tour sama Insanity, kita tur Eropa. ngegantiin si Rudal. Ga bisa libur panjang 14 hari dia. 2019 sama Taring ke Wacken. Terus tour Jepang 2019 sama Taring juga, bareng Insanity, Seringai dan Kandarivas (Jepang). 2019 tour sama Krass Kepala ke Kuala Lumpur. 2016 sama Taring ke Bangkok ngebuka Madball. Kalau ditanya senang bermain drum mah sangat menyenangkan. Banyak temen, networking semakin dimana-mana, ngebuka ke pekerjaan lain. Dari drum dan main musik semua link dan pertemanan kebuka. Soalnya musik kita mah musik pertemanan. Dari dulu bermusik ga pengen gimana-gimana, jalan aja. Sisanya mah bonus, rejeki mah ga bakalan kemana. Yang pasti mah tong berharap lebih masalah duit di industri dan komunitas ieu. Idealis yang berhasil itu adalah konsisten. Terus weh konsisten main drum Gebeg mah, sampe menemukan titik temu yang “anjing keren pisan aing teh” hahaha. sampe di endorse alat musik. Kan itu bonus yang sangat menyenangkan.

 

Gimana Gebeg membagi prioritas dan membagi waktu dengan banyaknya band dan proyekan yang dijalani?

 Kalau Gebeg mah pasti prioritas Taring. Cuma kalau misalkan masih bisa ngebagi waktu mah, semua menurut Gebeg di fokus-in aja. Gebeg mah drummer weh. Resep memainkan alat musik drum. Siap pakai kami mah. Dulu juga pernah nge-drumin Jolly Jumper yah Bikasoga, 2000an awal. Mawakeun Finch teu latihan heula hahaha. 

 

Bisa ceritain dikit ga tentang Album ke-3 Taring yang sedang direkam? 

 Semua rekaman di studio Chronic Rock dan produser nya Pak Eben. Itu musik semua produser Pak Eben. Ketika mau masuk vokal, kan pandemi. Ada halangan dan masing-masing pada sibuk. Akhirnya Pak Eben cuma bisa nge-direct vokal baru 3 lagu. Masih ada sisa 5 lagu. Total 9 lagu, instrumen 1 lagu. Jadi harus meneruskan album ini tapi sebagian take vokal-nya ga dibarengin sama Pak Eben. Secara garis besar musik semua sampe drum produser nya Pak Eben. Kalau menurut Gebeg sih ini beda lagi dari album sebelumnya Dy. Kalau album baru itu musiknya harus baru mun urang mah kudu beda. Album ke-1 dan album ke-2 aja urang mah kudu beda. Kebetulan album ke-3 produser nya Pak Eben yang orangnya perfect. Pengen sesuatu tuh yang keren. Baru aja sih musiknya dari beat sampa iyang lain, itu semua baru-baru Dy. Sampe urang mah stress album ieu. Tapi pas denger hasilnya.. Anjing! Puas ini mah. Jadi euy. Yang udah beres di vokalin sih 3 lagu. Sisanya awal November dilanjutin, engineer nya Zoteng (Forgotten) dari take gitar, bass, drum sampe vokal. Wah kudu perfect Zotenk mah. Perpaduan sempurna antara Zotenk dan produser Eben. Nyiksa drummer anjis. Komo gitaris hahaha. 

 

Powerpunk gimana kabarnya?

Sudah ada materi 8 lagu udah jadi dan mau direkam. sudah berkeluarga araredun nu hiji kaditu, nu hiji kadieu. Terus pada punya band masing-masing juga kan. Si Aldi band Keparat-nya jalan lagi, Badick di Konfliktion, Pengex jalan lagi sama Jeruji, Kiming bikin band baru. Tapi kalau Powerpunk mau bikin suatu karya, barudak eta ngarumpul, Komitmen. Cuma sekarang kehidupan dulu, si Kiming di Irian lagi ngurus PON. Si Badick sibuk kerja, Aldi juga sibuk kerja. Tapi mau bikin album ke-2 sih katanya. Kalau Gebeg mah kan bisa terus kapanpun da urang mah ga punya gawean tetap selain main band dan jadi boss Anti-Class hahaha. Jadi Gebeg aja yang harus toleransi-nya. Hayu urang mah iraha wae asal Rabu-Kamis jadwal siaran jangan diganggu. Selain itu mah gow rek poe Jumat jam 12 peuting aya latihan ge hayu lah hahaha…

 

Ceritain dong Beg tentang brand clothing lo, Anti-Class..

Gebeg dulu bikin Anti-Class sama si Icha, vokalis The End 32, bekas personil Turtles Jr era Restart the Punk. Dia juga sempet di Powerpunk sama Gebeg. Icha teh ngeliat sosok Gebeg yang main band all genre,
ulin kaditu kadieu, main sama anak punk, barudak elektronik, ngedugem, rek jeung pejabat ato saha ge hayu. Sama siapapun Gebeg berteman tanpa melihat latar belakang siapa-siapa. Geus nongkrong sama kita mah maneh barudak aing, baturan urang. Da urang mah beuki dugem oge, beuki disko oge. Urang mah teu munafik Dy beuki lah semua genre hahaha. Si Icha melihat itu dan ngobrol, “Gimana kalau kita bikin Anti-Class ”. Awalnya mah ga langsung produksi Dy, bikin selusin, Gebeg pake sisanya bagi ke anak-anak. bikin instagram terus posting. Tiba-tiba ada yang nyaut nanya-nanya. Nah udah nanya-nanya mah pasti beli hahaha. Akhirnya bikin logo-logoan aja terus belum ada artwork yang lain. Modal 500 ribu sama si Icha bikin label doang. Kebetulan dulu si icha punya tempat produksi jadi bisa moonwalk, bayar mundur hahaha. Budaya barudak kan kitu Dy, pertemanan deui wae. Berkembang bikin artikel lain, topi bikin di Elang, sweater bikin di siapa.. Ya masih lingkaran barudak lah. 

 


 

Berkembang dan bertahan. Sebenerna teuing ieu bati na meunang sabaraha, modal na sabaraha aing teu nyaho hahaha. Jalan weh reresepan. Singkat cerita si Icha keluar dari Powerpunk dan Anti-Class karena kesibukan-nya, bilang ke saya suruh neurusin aja si Anti-Class. Akhirnya Gebeg lanjutin sendiri. Awalnya toko di Wirangun-angun udah tutup, terus di Hallway pas latihan Boxing tiap Jumat, ada yang nawarin space. “Om Anti-Class masih?” Ya saya jawab masih tapi udah frustrasi. “Oh jangan frustrasi terusin aja itu ada space kosong satu”.  Dia kasih peluang bisa bayar mundur, tapi urang mikir barangna aya teu nya? Haha iya aja dulu. Pas udah jadi ngebangun barang jualan-nya mana ya? Ga ada hahaha. 

 

Hardcore mah tong elehan anying, hardcore mah tong elehan. Dek payu teu payu jalan weh terus nu penting mah ikhtiar.

 

Lalu gimana ceritanya Anti-Class sampai buka toko di Hallway Space?
 
Ya pas pisan Extreme Moshpit lagi menghasilkan. Gaji-nya ditabungin dipake buat produksi dan bangun toko aja, untuk vendor sampe tukang las hahaha. Selama ini konsultasi  masalah toko juga ke Pak Eben. Sebelum toko buka itu sempet ngobrol sama beliau. Akhirnya dia setuju dan mendukung Anti-Class buka toko di Hallway. Dibantuin kaya dekorasi dan lain-lain. Toko Anti-Class di Hallway adalah salah satu warisan dan dukungan beliau Dy sebenernya. Makanya berkah dan bertahan sampai sekarang. Dan beliau selalu nitip kata-kata: “Hardcore mah tong elehan anying, hardcore mah tong elehan. Dek payu teu payu jalan weh terus nu penting mah ikhtiar”. Jangan liat modal dikit modal gede yang penting mah kemauan dan semangat tinggi. Konsisten aja. Alhamdulillah dari Anti-Class udah bisa cicilan rumah sekarang mah hahaha..
 
Lalu gimana pengaruh pandemi ini ke bisnis lo? Kemaren lo juga sempat kena Covid ya, Beg?
 
Ngaruh pisan euy untung waras keneh oge hahaha. Berpengaruh Dy cuma ya dijalanin aja. Alhamdulillah masih punya kerjaan virtual, maen band, jadi host. Yang beli online ada 1-2 untuk bayar pegawai dan lain-lain. Yang pasti mah tetep berjalan aja cuma emang turun aja. Gebeg sempet kena Covid, Dy. Si Iyus  (Popstore, Senikanji) juga kena. Se Hallway weh barudak beunang hahaha. Tapi alhamdulillah udah pada sehat udah divaksin juga Dy. Yang pasti mah kita nunggu situasi normal lagi, nunggu konser dan gigs kembali lagi. Soalnya industri kita mah kaya clothing dan band-band kan movement-nya juga harus jalan ya. Kalau movement-nya mudun ya jualan mudun juga hahaha. 

 

 

Ngeband mah gow aja, mo laku mo engga yang penting berkarya aja dan udah membikin sesuatu. Masalah laku engga mah bonus eta mah.

 

Bisa ceritain tentang Extreme Moshpit dan pergerakan-pergerakan nya?
 
Nah dari dulu juga kita mah kan orang-orang pergerakan. Susah gerak sekarang mah bingung. Untungnya Gebeg masih bisa berkarya sama Bapak Eben ngerjain Extreme Moshpit dan lain-lain. Disaat batur bingung urang mah berkarya we Dy. Bae meunang duit atau teu meunang duit, yang penting mah memberikan sesuatu buat industri ini. Jangan sampe industrinya melempem juga, harus terus bergerak kita-kitanya juga. Bener ga? Dari dulu juga bikin Extreme Moshpit sama Pak Eben komitmen nya “Bro didieu mah ulah neangan beunghar urg neangan manfaat”. Manfaat buat temen-temen banyak dan ekosistem.
 

 
Soalnya kita-kita mah orang-orang yang selalu bergerak, siga nu gelo Dy, urang-urang mah hahaha. Dipikir-pikir nanaonan kikieuan wae teh hahaha. Berapa generasi dilewati tapi tetep weh kieu weh. Tapi menyenangkan gitu, menyenangkan pisan. Ngeband mah gow aja, mo laku mo engga yang penting berkarya aja dan udah membikin sesuatu. Masalah laku engga mah bonus eta mah. Kalau band nya aktif kan mendapatkan sesuatu yang lebih. Burgerkill aja bisa besar karena dia salah satu yang selalu aktif, balik lagi ke diri kita. Disaat pandemi mah barudak mah cararuek weh padahal mah garelo, tapi terus weh berkarya barudak mah siga digaji ku negara hahaha..

 

 

Ada program-program apa saja di extreme moshpit?
 
Kalau radio Senin-Jumat dari jam 2 sampai 10 malem program udah banyak Dy. Senin ada Monday Voltage, Roots Bloody Roots, malam nya ada black metal, Selasa ada death metal dan lain-lain, ada hip hop juga si Elmo dan Gaya (Eyefeelsix), Ekky dan Elang (Polyester Embassy) juga mau siaran. Jahkunx kamis di Grind Your Mind, Baruz dan lain-lain. Senin s/d Jumat mah udah padat sih radio. Kalau yang Gebeg Extreme Moshpit TV Live tayang buat di website Extreme Moshpit. Dulu di Youtube sekarang di website. Tapi masih ada juga beberapa tayangan yang dimasukkan juga ke Youtube. Kalau yang siaran Kamis yang Gebeg biasa sama almarhum sekarang mah jadi sendiri aja. Paling ditemenin siapa. Kalau yang Rabu biasa sama almarhum diganti sama Andre (Jeruji) host nya. Kalau yang TV udah ada beberapa program kaya Extreme Moshpit Corner dan Cuts yang sama Irvine, talkshow dan live. Tahun ini insyaallah mau bikin award tahunan kaya yang kemarin tahun 2021 virtual juga. Tapi gatau nih kelanjutan konsepnya. Festival dan stage juga mau jalan lagi kalau udah ga pandemi.

 

Jadi sekarang Gebeg meneruskan legacy dan spirit Eben ya? Soalnya Extreme Moshpit menurut saya udah jadi salah satu media yang penting untuk ekosistem musik independen.
 
Gebeg juga sedih ditinggal Bapak Eben. Gebeg juga bingung kieu. Cuma barudak bilang “Lanjutin aja Beg, ini legacy”. Meskipun tiap siaran urang masih sok sedih keneh Dy, aya keneh Dy.. Kebiasaan babarengan terus, spirit nya dari sharing sama dia. Ya kehilangan lah. Tapi ini harus dilanjutin sih Dy. Soalnya medianya udah kebentuk, sayang. Radio Extreme Moshpit juga mau pindah ke Hallway bulan ini. Tapi yang live mah tetep di Chronic Sawah Kurung. 
 

5 drummer yang menginspirasi lo siapa aja, Beg?
 
1. Andry Rudal. Awal pertama liat dia jaman dia Full of Hate dan Insanity, ya keren weh. (Yang) menginspirasi Gebeg awal-awal untuk main drum teh dia
2. Richard Mutter. Drummer keren.
3. Bubun Turtles. Dia salah satu drummer favorit juga soalnya konsisten, dari dulu sampe sekarang main drum nya gitu aja. Gebeg paling seneng yang konsisten.
4. Mike Portnoy. Dia keren dan cerdas.
5. Lars Ulrich. Dia mah jeger, apapun mau dia pasti dituruti da nu boga Metallica. Mau komplain juga males da dia mah Metallica, main salah oge moal aya nu nyarekan haha.
 
Top 5 album lokal favorit?
 
1. Pure Saturday – Grey (2012). 
 

 
Album terbaik sepeninggalan si kembar Adhi-Udhi, dan banyak sekali ceritanya.. Kaya Iyo masukin vokal nya edan pisan. Beres album itu personil dua eta kalaluar hahaha. Keren lah kaya dengerin band-band progresif luar cuma temen kita. Ga nyangka.
 
2. Burgerkill – Adamantine (2018).
 

 
Fresh albumnya. Harus didengerin nya sealbum dari lagu pertama sampe akhir. Emang moodnya udah nyambung. Harus didengerin semua. Emang jenius bapak Eben mah euy. 
 
3. Balcony – Instant Justice (1997). 
 

 
ini mah simple: hardcore. Hahaha..
 
4. Homicide – Illsurrekshun (2008).
 

 
Formasi yang masih ama Lephe, Azsi. Hade weh pada jaman itu ada rapper-rapper hip hop edan siga kitu, nyarekan batur kitu hahaha. Wanian lah, edan. 
 
5. Ticket to Ride compilation (2000).

 


 
Edan eta kompilasi all genre. The Jonis, Piece of Cake, Rosemary masih bertiga. Burgerkill ada, Jeruji, Full of Hate, Puppen, itu kompilasi yang lengkap.
 
Gimana awalnya terjerumus ke dunia boxing bareng Boxing Ceria, Beg?
 
Gebeg teh dulu emg suka ke Rumah Cemara. Dulu latihan sama almarhum Ginan (Jeruji), tau dasar-dasarnya. Sebenarnya lebih suka sepakbola cuma labuh wae, ankle. Awak mereun nya geus kolot hahaha. Umur sudah diatas kepala 4 sieun oge main bola dipaksakan. Ya tau kapasitas lah ya. Terus sempat berhenti boxing lama. Awal-awal pandemi kan pada bingung olahraga apa, awalnya bikin Boxing Ceria di saparua sambil donasi, pelatih-pelatihnya ga ada yang dibayar. Gebeg sebagai perwakilan dari musisi. Dulu banyakan ada si Badick, Buux, ngan teu kuat latian ngan 2 kali pada kapok haha. Yang bertahan cuma Gebeg, trus akhirnya pindah ke Hallway. Pelatih dan koordinir nya bang Jimmy dari Rumah Cemara. Ngerintisnya bareng Ubey (Alone at Last) dan Ilham (Hollow Cane). Sekarang jadi program Solidaritas si Boxing Ceria, tiap latihan dikumpulin, tiap bulan donasi untuk Bandung Kolektif, SSB, dapur umum dan lain-lain. Ada bagian penyaluran-nya. Filosofi-filosofi boxing teh ternyata bukan olahraga preman, boxing teh sexy, Dy. Kalau kita udah terlatih mah hoream da gelut. Justru kalau lihat yang berantem ku urang-urang mah disengseurikeun hahaha. Ketagihan jadinya tiap jumat minimal sehat lah keluar keringat, keluar nafsu. Pada akhirnya mah ngejar olahraga nya aja, bukan mau jadi preman atau ormas hahaha.. Boxing teh tingkat solidaritasnya tinggi. Da awak urang mah gendut moal bisa dijieun begang haha. Da moal jadi atlit oge, yang pasti mah kita punya bekal beladiri, olahraga sehat, punya cara menahan nafsu dan pikiran jadi kaleum.. Rasa takut berkurang jadi lebih percaya diri. Jadi tambah enjoy dan bijaksana hahahaha.
 
Last words? 
 
Konsisten aja lah. Idealis yang berhasil adalah konsisten. Toko leutik kumaha-kumaha ge jalankeun. Semua dijalanin aja yang lagi dikerjain. Kalau menyenangkan mah terusin aja. Sesuatu kalau udah ga menyenangkan gausah. Mo ngeband keroncong, debus apapun terusin aja, yang mendesain dan ngegambar gow keun aja terus berkarya..
 

 

Interview by Aldy Kusumah
Photo Gebeg’s Archive
Sebagai penghormatan terhadap icon pada musik Jazz. Brand asal California, HUF merilis kolaborasi terbaru mereka dengan Miles Davis. 
 

 
Kalau kamu belum tau Miles Davis, dia adalah salah satu tokoh musik abad ke-20 yang paling berpengaruh, Davis telah mendapatkan delapan Grammy Awards dan menerima tiga puluh dua nominasi sepanjang karirnya. Album Miles Davis yang bertajuk Kind of Blue yang dirilis tahun 1959 masih tetap menjadi salah satu album jazz paling populer sepanjang masa dengan penjualan mencapai lebih dari lima juta eksemplar.
 

 
Untuk kolaborasi ini, HUF menampilkan pakaian dengan tampilan era “Electric Miles” pada tahun 70 – 80an yang merupakan perpindahan jazz Miles Davis dengan adanya penggabungan musik funk dan psikedelik ke dalam musiknya. 
 

 
HUF x Miles Davis meletakan grafis dari terompet signature, penampilan live, cover album sampai artwork buatan dari Miles Davis sendiri ke varsity jackets, crewnecks, hoodies, open-collar shirts, T-Shirts, dan sweatpants. Tidak hanya itu, ada juga aksesoris berupa trucker hat, bucket hat, sock, dan juga deck skateboard.

 

Words by Firman Oktaviawan

Dielus dengan manja, lalu diakhiri dengan pukulan bertubi-tubi adalah gambaran rasa takut ketika menonton film The Medium. Film horor yang banyak menarik perhatian di penghujung tahun 2021 ini disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun yang berhasil membuat bulu kuduk berdiri melalui film Shutter dan Alone. Lalu ada penulis naskah sekaligus produser Na Hong-jin yang terkenal dengan penulisan cerita yang tidak mudah ditebak di film The Chaser dan The Wailing, sampai dijuluki sebagai master of ambiguity asal Korea Selatan.

 

 
The Medium menceritakan tentang kru film dokumenter yang berkeliling Thailand untuk meneliti kehidupan orang pintar atau dukun. Akhirnya mereka menemukan Nim, seorang dukun wanita yang tinggal di desa Isan, Thailand secara turun menurun dirasuki oleh Dewa Bayan. 10 menit pertama kita disuguhkan oleh pengambilan gambar ala-ala national geographic desa Isan yang asri dan bagaimana masyarakat desa melakukan ritual untuk menghormati dewa, disertai narasi  dari Nim yang menjelaskan bagaimana awalnya dia menjadi dukun juga banyaknya dewa yang dipercayai. Termasuk Dewa Bayan yang merasukinya. Tidak ada yang tahu Dewa Bayan asal muasal Dewa Bayan, tapi masyarakat desa Isan sudah mempercayainya sejak lama.

 


 

Suatu saat, Min harus menghadiri pemakaman Willow yang meninggal karena penyakit. Willow merupakan suaminya Noi saudara kandung Min. Harusnya, Noi ini menjadi penerus untuk menjadi dukun tapi dia menolak. Karena Noi menolak, akhirnya Dewa Bayan pun memilih Min untuk menjadi perantaranya. Di acara pemakaman ini Nim, putri satu-satunya Noi beberapa kali memperlihatkan tingkah yang aneh. Min pun mulai merasakan ada yang aneh dengan keponakannya ini. Sebagai tante dan memiliki kekuatan, Min mencari sebab mengapa Nim tiba-tiba menjadi aneh

 

 

Sepanjang film ini pun memperlihatkan berbagai cara atau ritual dilakukan oleh Min untuk menyembuhkan Nim. Disitulah pengambilan gambar dari tim dokumenter pun berubah drastis menjadi lebih tidak stabil dan suasana pun berubah menjadi lebih suram sehingga menimbulkan efek yang lebih mencekam. Akhirnya Min pun meminta bantuan dari dukun yang lebih kuat. Dari situ ada hitungan mundur enam  menuju ritual penyembuhan Nim. Selama enam hari itu tiap harinya ada terus hal mistis yang terjadi dan semakin
 

Alur cerita yang dibangun dengan baik, dimulai dari pengenalan budaya, kisah hidup dukunnya, ritual-ritual yang dilakukan sampai berujung petaka yang menyeramkan menjadi terlihat berbeda dari film-film horor lainnya. Pemerannya pun bagus banget, jadinya kayak emang beneran natural aja gitu filmnya kayak orang-orang biasa aja yang diwawancara. Dengan pendekatan konsep dokumenter yang nonton terasa masuk secara tidak sadar ke dalam ceritanya sehingga membuat The Medium menjadi film terseram di tahun 2021 ini.

 

Words by Firman Oktaviawang