Suatu saat saya membaca sebuah tulisan dari salah satu portal berita online yang terkemuka sedang membahas lagu yang banyak diputar di sebuah platform digital music. Ada kalimat kalau pop punk ternyata Kembali digandrungi para pendengar. Salah satu pemicu nya adalah MÃ¥neskin, band rock asal Italia. Potongan kalimat itu membuat ada dua genre music yang berbeda disebabkan oleh penulisnya untuk satu band. Jadi MÃ¥neskin ini band rock atau pop punk?

Dan ketika mendengarkan album  barunya Deafheaven “Infinite Granite” yang terdengar sangat berbeda dengan album-album sebelumnya. Terus ketika ada yang bertanya Deafheaven tuh genre music nya apa? Sebagai penikmat kita pasti sedikit bingung, atau mungkin kalo nggak males dan butuh bahan untuk obrolan dijelaskan secara terperinci kalo di album ini genre music mereka gini, kalo di album berikutnya jadi gitu dan seterusnya.

Dari dua kejadian itu saya pun menjadi penasaran dan menanyakan pertanyaan “Masih Perlukah Pelabelan Genre Musik Kepada Suatu Band Atau Musisi?” kepada lima orang kawan saya. Dan inilah jawaban mereka.

 

Idhar Resmadi ( Penulis, Jurnalis ) 
 

 

Pertanyaan simple tapi berat. Kalau saya melihatnya dari banyak faktor sesuai kebutuhan musisi mencantumkan genre tersebut untuk keperluan apa dulu. Untuk kebutuhan marketing atau identitas atau branding dan konsumsi musik para pendengarnya. Cuman untuk membicarakan perkembangan musik atau trend memang eranya tuh udah “hybrid”. Kayak ada musik Afrika yang ada unsur musik rock-nya udah mulai bisa diterima di media-media besar, jadi dalam artian itu sudah sangat lebur dengan campuran sana sini jadi makin beragam. Kalau dari sudut pandang si musisi mereka jelas perlu kebebasan untuk mengekspresikan karyanya. Kalau kita telaah sejarah penyebutan genre music itu selalu datang dari media, dari jurnalis atau bahkan dari industri itu sendiri. Karena di era sekarang statement itu penting meskipun tidak bisa sesederhana mencantumkan rock, jazz, pop dan sebagainya. Sekarang udah punya keleluasaan untuk bisa bilang  psychedelic southern metal misalnya. Hal seperti itu tetap butuh karena cara berpikir manusia itu lewat informasi, otak tuh banyak memproses informasi. Jadi kalau kita melihat sebuah band tapi kita tidak punya informasi tentang music band tersebut rock, pop, atau apapun itu. Salah satu penyampaian informasi tersebut adalah lewat statement genre music yang memang di klaim oleh musisi itu. Tapi pada satu sisi kalo kita bicara tentang genre music itu sudah tidak relevan, ya bisa jadi juga. Karena spotify pun sudah tidak menyebutkan atau melabeli sebuah genre music. Kalau diperhatikan mereka lebih menjual nuansa Seperti, music galau, music senja, music olahraga atau untuk menemani belajar. Spotify melihat genre music Sekarang ini udah tidak relevan dan yang lebih relevan itu suasana. Kalau kita mau mendengarkan musik ya pasti kita lebih beli rilisan fisik yang bener niat untuk didengarkan. Kecenderungan platform ini memang menjual suasana. Tapi pada satu sisi kalo menurut saya tetep band tuh butuh klaim. Karena bingung juga yah kalo ada satu band yang membebaskan genre musiknya apa. Malah jadi akan membingungkan audience jadi klaim itu penting. Mau musiknya jadi berbeda tapi sebuah klaim itu bisa datang. Karena itu tadi manusia tuh berpikir melalui informasi. Jadi kalau kita nemu satu benda terus benda itu asing terus kita mengetahui informasi tentang benda itu, pasti orang akan bingung dan orang akan menjauh dari benda itu. Mungkin dengan adanya pelabelan genre akan membuat relate antara musisi dengan fansnya.

 

Adib Hidayat ( Penulis dan Pemerhati Musik) 
 

 

Istilah mereka mau label tertentu dengan genre musik yang mereka usung saat ini, itu sebenernya dikembalikan ke musisinya itu sendiri. Ada yang fanatik dengan jalur musik tertentu misal hardcore, metal, punk dan pop gitu. Tapi pada prinsipnya nanti kedepan mereka tidak tahu influence apa yang akan memasuki musik mereka. Tapi tidak berubah ekstrim seperti Pantera dari hard rock berubah menjadi metal misalnya. Cuman sebenarnya dikembalikan kepada band dan musisinya itu sendiri. Dia mau se-elastis apa mengakui roots musiknya, kalo misalkan dia rock nanti ada influence-influence lain. Misalkan jadi prog, art atau ada asupan musik lain. Kalo pop pengen lebih berkembang lebih jazzy misalkan, atau mungkin soul r&b bisa lebih menjelajah kemana lagi. Jadi sebenernya dikembalikan ke musisinya. Kalo menurut saya penting nggak penting lagi, karena kedepan kita tidak tau genre musik apa yang mereka pilih sesuai dengan update yang terjadi sesuai zamannya. Walaupun tetap saja ada yang tetep mengusung satu genre itu terus.

 

Baruz (Godless Symptoms, Konfliktion, Balcony)
 

 

Kalau menurut saya sebagai pemain band, sekarang sebetulnya genre tuh jadi bias. Namun kenyataannya bila orang telah dihadapkan dengan media, band akan menjelaskan genre musik apa yang dia usung. Penyebutan genre itu asih perlu sih yah, karena untuk menjelaskan roots-nya band atau musisi itu sendiri. Hal itu akan menjelaskan basic roots nya musisi tersebut darimana. Meskipun nggak mau dilabelkan, itu jadi urusan belakangan. Tapi roots-nya dan pelabelan pasti akan tetap kebawa.

 
Ekrig (Avhath, 630 Records)

 

 

Menurut gw nggak perlu untuk ngelabelin satu warna musik terhadap band atau musisi tertentu. Karena, reference makin banyak dan makin cepat datangnya lewat ke telinga lo hampir perdetik lebih cepat informasi yang didapat dan informasi yang dicari. Ketika orang sudah meng-crossover genre yang sebelumnya belum di-crossover sudah tidak lagi bisa dilabeli dengan genre A atau B. Karena it’s just a matter of how you experiment with your reference sih kalo menurut gw. Nggak penting sih jadi nikmatin aja.

 
Michael (Bleach) 
 

 

sebenernya buat aku pribadi pelabelan genre itu sendiri untuk sekarang ini udah ga begitu perlu sih, soalnya dari musik-musik yang aku dengerin sendiri juga dalam sebuah band atau musisi itu mereka mencampur berbagai macam genre dari referensi mereka sendiri. Itu yg membuat sekarang pelabelan genre itu bisa aku anggap kurang relatable dengan kapasitas musik-musik yang sekarang ada, yang dimana pengemasannya itu sangat sangat keren hingga dapat membuat warna baru yang belum pernah kita dengar sebelumnya.

 

 
Words by Firman Oktaviawan 

1UP adalah sebuah grup graffiti vigilante dari Berlin. Dengan bersenjatakan cat kaleng spray, mereka sudah mendominasi scene graffiti yang terlihat di beberapa video online mereka yang viral. Dengan masifnya graffiti-graffiti yang mereka buat, sudah seharusnya mereka mendapatkan medali emas jika ada Olimpiade graffiti. Mereka juga pernah berkolaborasi pada tahun 2017 dengan Museum Urban Nation untuk sebuah serangan aerosol pada dinding museum mereka. 1UP mengerjakan ini di siang hari dengan menggunakan topeng kabuki. Mereka juga bahkan pernah melakukan tag didalam air menggunakan karang di pulau Nusa Penida dekat Bali. Aksi ini adalah sebuah statement untuk menjaga lingkungan alami.


Sejak tahun 2003, kolektif anonimus ini sudah meninggalkan karyanya pada gerbong-gerbong kereta U-Bahn, mobil polisi, dinding-dinding perumahan dan atap-atap pertokoan. Ada sebuah beberapa video epik mereka yang memperlihatkan anggota 1UP menyemprot cat pada mobil polisi yang lewat. Di video lainnya terlihat mereka tagging seluruh gerbong kereta dalam hitungan menit lalu kabur lewat rel kereta. Ya, video-video viral ini yang sudah ditonton jutaan viewers di Youtube tentunya membuat nama 1UP semakin notorious. Sebuah pengakuan dan testamen terhadap jiwa pemberontakan dan solidaritas mereka. Bahkan fotografer legendaris Martha Cooper dan Ninja K menghabiskan satu minggu bersama crew 1UP pada tahun 2018 untuk sebuah proyek bernama “ONE WEEK WITH 1UP”, yang kemudian dijadikan sebuah buku bernama sama yang memperlihatkan potret-potret intim terhadap grup graffiti artist ini.


Mungkin karya mereka yang paling terkenal adalah video 2018 mereka yang berjudul “Graffiti Olympics”. Pada video tersebut mereka menggunakan drone untuk mendokumentasikan kru-kru 1UP saat mereka tagging dan “memperindah” kota Athena (Yunani), bombing dan tagging di siang hari bolong. Aksi-aksi seperti inilah yang membuat reputasi mereka sebagai salah satu group graffiti paling berbahaya di dunia. Mereka juga telah mendefinisikan standar baru dalam membuat karya mural dan melakukan aksi-aksi illegal berbahaya. 



Layaknya anggota Project Mayhem di film Fight Club, mereka menjalani 2 kehidupan: merangkak di terowongan-terowongan kotor pada malam hari, lalu kembali bekerja pada pagi harinya layaknya orang normal seolah mereka tidak kurang tidur.



1UP yang kepanjangannya adalah “One United Power” adalah sekumpulan graffiti artist yang berbasis di Berlin. Mereka lebih dikenal melalui singkatan 1UP nya yang tentu saja diambil dari Super Mario Bros. Tidak ada yang mengetahui berapa orang anggota 1UP atau umur dan edukasi mereka. Tentu saja tidak ada yang mengetahui siapa juga otak dibalik 1UP ini karena mereka selalu anonymous dalam setiap aksinya. 



Karya-karya mereka dapat dilihat di atas ribuan permukaan kota Berlin dan kota-kota lainnya. 1UP telah mengubah pengalaman seseorang untuk mengeksplor suatu kota dengan dinamisme yang berbeda secara artistik. Karena itulah 1UP merupakan sebuah pengalaman urban: karena seluruh kota adalah museumnya, dan mencari karya mereka adalah seperti menemukan harta karun atau hidden gems. Aksi-aksi mereka yang sebenarnya tidak sepolitikal Banksy ini justru malah berdampak politis secara tidak sengaja. Dengan banyaknya bombing mereka di seluruh kota Berlin, maka pertanyaan “Siapakah yang menguasai Berlin?” layak untuk ditanyakan. 



Words & curated by team JEURNALS

Dari film tentang Nicolas Cage yang murka kehilangan babi piaraan-nya, body-horror ala David Cronenberg, legenda medieval tentang King Arthur dari A24 sampai team super-villain yang melawan kaiju, berikut adalah beberapa rekomendasi film-film pilihan JEURNALS untuk menemani weekend-mu…


The Suicide Squad (Dir. James Gunn)
 



Lupakanlah Suicide Squad (2016) yang disutradarai oleh David Ayer. James Gunn, sutradara Guardians of the Galaxy membelot sebentar ke DC untuk mendirect “The Suicide Squad”. Ya, penekanan pada kata “The”. Bukanlah prekuel, bukan juga sekuel, film ini dibuat seolah James Gunn tidak pernah menganggap Suicide Squad versi David Ayer eksis. Dengan diberinya kebebasan penuh atas input dan output kreatif, James Gunn akhirnya bisa membuat film “superhero” ala James Gunn: Sadis, tidak terlalu serius, visual yang bombastis, dan banyak mengangkat tema-tema serius dibaliknya, tapi tetap FUN. Plot yang menyerupai film perang ala Platoon ini diisi oleh karakter-karakter obscure DC comics seperti Ratcatcher 2, Polka Dot Man, T.D.K., Bloodsport, Peacemaker sampai Starro The Conqueror. Dengan humor dan tingkat kesadisan yang cukup tinggi, ini adalah sebuah film superhero, eh, supervillain yang berbeda. Tapi dibalik semua tema anti hero yang aneh itu, tanpa disangka beberapa scene terbaik di film ini justru malah bisa menyentuh emosi penonton. Lupakanlah The Avengers, The Suicide Squad is one of the best anti hero films ever made.



Bad Trip (Dir. Kitao Sakurai)
 



Untuk sebuah film penuh dengan gimmick hidden camera, Bad Trip karya Kitao Sakurai (dan produser Jackass, Jeff Tremaine) cukup menyenangkan dan fresh. Walaupun diselipi sedikit bumbu drama, 90% yang kamu lihat disini adalah orang-orang yang kena prank dan tertangkap kamera tersembunyi. Walaupun kadang komedi-komedi prank seperti ini membuat orang-orang tidak bersalah terlihat tolol, disini malah sebaliknya: banyak orang yang malah mencoba membantu atau menolong komedian Eric Andre, pemeran utama di film ini, agar tidak terlihat tolol. Dari 5 menit pertama saja saya sudah dibuat terpingkal oleh kelakar Eric Andre di sebuah scene tempat cuci mobil. Uniknya para “korban” prank disini terlihat sangat toleran (walau ada beberapa yang terlihat asshole). Sambil menunggu Jackass Forever, tidak ada salahnya untuk pemanasan dulu dengan yang satu ini.


Pig (Dir. Michael Sarnoski)
 


 

Nicolas Cage kembali lagi, kali ini dengan Pig yang critically acclaimed dimana-mana. Tidak lagi berakting over-the-top seperti biasanya, kali ini Nicolas Cage seolah bertransformasi menjadi versi terbaik dari dirinya. Plot-nya cukup sederhana: Nicolas Cage telah mempersembahkan performa terbaiknya disini dengan berperan sebagai seorang chef yang menjadi penyendiri dan tinggal di hutan bersama piaraan babi kesayangannya. Setelah babinya dicuri, dia kembali ke kota untuk mencari babinya yang hilang. Tapi ini bukan film revenge ala John Wick, lebih seperti cerita fabel dibandingkan sebuah film genre. Sutradara Michael Sarnoski tidak mengambil langkah plot balas dendam standar disini, seolah menghancurkan ekspektasi para penonton. Ini adalah sebuah perjalanan yang menyentuh, metaforik dan penuh dengan filosofi-filosofi eksistensial. Penonton akan dibawa dari restoran mahal ke tempat perkelahian bawah tanah. Kekuatan makanan untuk menyembuhkan dan melepas emosi-emosi yang lama tertahan seolah mengalir menjadi tema sentral film ini. Pig adalah sebuah cerita mengenai bagaimana kita akan kehilangan semua hal yang kita sayangi sampai kita sendiri akan menghilang pada akhirnya.


Nobody (Dir.Ilya Naishuller)
 


 

Bob Odenkirk, pemeran utama serial Better Call Saul kali ini bertransformasi menjadi seorang ayah yang tinggal di daerah suburbia, dan tiba-tiba berurusan dengan mafia Rusia. Disutradarai oleh Ilya Naishuller (sutradara film action first-person, Hardcore Henry) dan diproduseri oleh David Leitch (John Wick, Deadpool 2), sudah tentu ini adalah film action kinetik ala John Wick. Dalam beberapa adegan pun sepertinya film ini ada di universe yang sama dengan John Wick, karena penulis skripnya pun David Kolstad (screenwriter John Wick). Overall, sebuah film action yang entertaining dengan koreografi dan set-pieces menarik. Dengan ramuan yang sudah berhasil di franchise John Wick, tentunya Nobody pun akan bisa menjadi franchise yang menarik di kemudian hari. Melihat Bob Odenkirk  bertarung dan menjadi survivalist yang resilient tentunya sangat menarik, dan bahkan lebih unik dibandingkan melihat jagoan-jagoan tipikal seperti Liam Neeson atau Stallone…


A Quiet Place: Part II (Dir. John Krasinski)
 


 

Sekuel film horror invasi-alien karya John Krasinski ini memiliki intensitas yang sama dengan prekuelnya yang dirilis pada tahun 2018. Dibuka dengan flashback hari pertama alien-alien tersebut datang ke kota Millbrook, lalu tanpa jeda meneruskan story arc yang berakhir di ending film pertamanya. Setelah kematian suaminya, Evelyn Abbott (Emily Blunt) berjuang untuk mencari tempat aman untuk anak-anaknya: Regan (Millicent Simmonds), Marcus (Noah Jupe), dan bayi nya yang baru lahir. Dengan tambahan cast Cillian Murphy sebagai Emmett yang labil, film ini semakin menarik. Krasinski menyutradarai dengan penuh percaya diri. Permainan suara yang keren di film ini (dikarenakan para karakter tidak bisa bebas berbicara) benar-benar menjadi komoditas utama, karena berbagai pesan harus disampaikan secara visual melalui bahasa sinema. Dibalik semua jumpscares dan performa para aktornya, yang membuat A Quiet Place Part II spesial adalah pacing film ini yang terasa begitu pas, ditangan seorang filmmaker yang handal.

The Green Knight (Dir. David Lowery)
 


 

Interpretasi David Lowery terhadap cerita klasik legenda King Arthur ini benar-benar di dekonstruksi olehnya. Lagi-lagi di tangan rumah produksi/distribusi A24 (yang sukses dengan film-film seperti Hereditary, Midsommar, The VVitch) tentunya teknik marketingnya pun akan sedikit unik. Di beberapa bioskop pun hanya ditulis “Dev Patel memegang kapak” pada papan iklannya. Ketika suatu makhluk misterius yang berbentuk seperti pohon muncul, Gawain (Dev Patel) pun mengejar sosok tersebut yang disebut sebagai “Green Knight”, walaupun dia tahu bahwa ini adalah misi yang akan membahayakan nyawanya. Sebuah cerita fantasi dengan visual indah yang membiarkan penonton memiliki interpretasi masing-masing mengenai tema sentralnya. Mungkin para penggemar film medieval-fantasy ala Excalibur (1981), Legend (1985) atau The Princess Bride (1987) akan menikmati film ini.

Titane (Dir. Julia Ducournau)


 

Setelah membuat film tentang seorang kanibal dengan “Raw”, Julia Ducournau kembali mendorong titik-titik ekstrim dan kecintaannya pada sinema. Pada bagian awal film Titane sulit untuk membedakan apakah kita sedang melihat film paling gila tentang “keluarga” atau film paling romantis mengenai seorang pembunuh seri yang “bercinta” dengan mobilnya. Pada bagian-bagian selanjutnya film ini, sudah jelas bahwa film ini adalah kombinasi dari  keduanya; sebuah film yang sangat “fucked up” dan sekaligus romantis pada saat yang sama. Ya, film ini tidak bisa menjadi salah satu aspek tanpa aspek lainnya. Apapun itu hasilnya, tidak bisa dipungkiri kalau Titane adalah sebuah karya dari visioner nyentrik yang memegang kendali penuh atas imajinasinya. Anggap saja Titane seperti anak dari film body-horror karya David Cronenberg yang berjudul “Crash” dengan karya gila Shinya Tsukamoto “Tetsuo: The Iron Man”. Film ini juga memenangkan penghargaan Palme d’Or (mengalahkan The French Dispatch-nya Wes Anderson), penghargaan tertinggi di festival film Cannes.

Words & curated by team JEURNALS

 

Jeremy Dean, atau yang lebih dikenal dengan moniker Deansnuts seperti username Instagramnya adalah seorang designer, yang dikenal dengan T-shirt bootleg Grateful Dead x Black Flag nya. Mayer mulai mengenal Jeremy Dean saat dia sering touring bersama band Dead & Company, yang terdiri dari mantan para personel Grateful Dead (band rock legendaris yang dipimpin oleh Jerry Garcia). Setelah rilis ‘The Search for Everything’, tampaknya John Mayer sibuk mengerjakan materi-materi untuk album berikutnya. Dan ternyata pembicaraan Mayer dan Dean pada akhirnya mengarah ke ide kreatif untuk album John Mayer berikutnya, lengkap dari tema nostalgia musik rock ’80an sampai estetika visual, merchandise, teknik marketing dan tetek bengek lainnya. Beberapa T-shirt teaser yang di desain John Mayer dan Jeremy Dean pun langsung sold out dalam sekejap. Tentunya John Mayer sang dewa Visvim tidak akan sembarangan mencari designer untuk mengerjakan cover album terbarunya. Mari berbincang dengan Jeremy Dean mengenai karir awalnya mendesain cover-cover album hardcore di Jade Tree records dan lagu-lagu soft rock favoritnya…

 

I’ve read that you’ve done a lot of work for Jade Tree records (one of the pioneer emo/punk/hardcore labels)? That is one of my favorite record labels growing up! Tell us a bit about some of your work on Jade Tree…

I was lucky enough to meet Tim and Darren of Jade Tree in the late 90s. We are from the same hardcore scene of the mid to late 80s. So we hit it off right away. As soon as I met them I told them I wanted to work with bands and do album covers. They threw me in the mix immediately with the first Kid Dynamite LP and we were off and running from there. I was able to work on albums for The Explosion, Turning Machine, Pedro the Lion, Paint it Black, as well as Merch for Euphone, Joan of Arc, Promise Ring & Jets to Brazil. I had so much fun doing that work. It really let me stretch my legs design wise and helped me explore new ways to approach projects.

 

I’ve seen that you’ve done some work too with legendary bands like The Rolling Stones and Grateful Dead / Dead & Company.. How did you meet those guys?

I have been very lucky to have worked / worked with both bands. The Rolling Stones project came from someone on their team requesting me after seeing my work. Their merchandising team got in touch and set me loose on a series of posters and shirts. The Rolling Stones are one of my all time favorites so I was beside myself that I got to work for the band. The Dead / Dead & Company connection came from me making Dead bootlegs for years. Sounds weird I know but it has led to one of the best working relationships I’ve ever had. Truly a dream come true. It’s never lost on me how great it is I get to do stuff for one of the most iconic bands in the world.

 

I’ve read in your interviews that your love of ‘90s video games also inspires your works. What are your favorite ‘90s games? 
(I have no idea where you read that) HA! The only game I ever played in the 90s was Donkey Kong Country and I was obsessed. I was never a video game person, but that for some reason captured my attention.

 

So can you tell us a bit about your design and creative process?
Lots of thinking and mentally sketching. Looking through old books and gathering info. Doodles on paper, planning and then finally executing. At that point it hopefully comes out they way I see it in my head. I’m finally at the point, 25+ years in that what I have in my head can translate to paper most of the time. Sometimes I’m surprised because it comes out a little different, maybe better than I anticipated. That’s always fun.

 

So how did you meet John Mayer? And how do you start that ’Sob Rock’ project? It’s like you both really brainstormed about those cool aesthetics on ’Sob Rock’…
It’s all thanks to my spin on a bootleg Dead shirt. John saw it and wanted one. I brought him a few shirts at a Dead & Company show and we just kept in touch. I ended up working on his last LP “The Search for Everything” and I guess I did an ok job because here we are with “Sob Rock”. John has a very clear vision of what he wants, which really helps as a designer. It makes my job way easier and the end product very very clear. This whole project had a clear vision from the get go. We were both on the same wavelength from the beginning.

 

I really liked the small details on ‘Sob Work’ visual designs and promo stuff. Like the “price cut” stickers on the cover or those old-school billboards designs.. Where do you get inspirations for ’Sob Rock’ designs? 
The period correct details without being kitschy or hokey can be tough. We wanted it all to feel very authentic. Old advertising played a huge role in  this project. The details, the typography, the photography were a fine line to walk where it felt real and not cartoony. The devil is in the details as they say.

 

 

Last questions: tell us your 8 of your favorite soft rock / AOR / city pop songs that you listen to while making the ‘Sob Rock’ designs…
Hall & Oates – She’s gone
Christopher Cross – Sailing
REO Speedwagon – Can’t Fight this Feeling
Foreigner – I Want to Know What Love Is
Mr. Mister – Broken Wings
America – A Horse with No Name
Seals and Crofts – Summer Breeze
Little River Band – Reminiscing

 

 

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Deansnuts Instagram

Skena musik Bandung baik-baik saja. Sebuah pernyataan yang sangat perlu ditegaskan setelah mencuatnya pertanyaan “Ada Apa Dengan Bandung?” disalah satu kanal youtube. Kita tidak akan membahas secara mendalam mengenai hal tersebut. Tapi, kita akan memberikan rekomendasi 5 band baru asal Bandung yang patut masuk playlist kalian.

 

Suarloca
 

 

Band yang beranggotakan beranggotakan Fahman Fauzi (drum), Husein Muhammad (gitar), Lana Syahbani (gitar), dan Pahlevi Arie (vokal, synth) ini baru merilis debut album mereka yang bertajuk Penumbra. Bagi yang suka musik rock seperti Kadavar, Graveyard atau The Sigit album Detourn. Suarloca wajib masuk ke dalam barisan heavy rotation playlist kalian.

 
Eastern Boys
 
 
Mengusung genre surf rock, Eastern Boys telah merilis single yang berjudul “Hijrah” pada tahun 2019 dan di tahun 2020 band yang di tunggangi oleh Thian Ngalogo (vocal & gitar), Gilang Hade (Bass), Wildan Zulkarnain (gitar & vocal), dan Ridho Insani (drum) telah merilis single kedua mereka yang bertajuk “Sisi Gelap Kuda Besi.” Dua lagu yang cocok untuk membayangkan diam dipinggir pantai ditemani air hasil fermentasi gandum.
 

 
Di single terbaru ini mereka ingin terlihat seperti band-band pop pada umumnya, dengan ketukan drum yang lebih santai dan sound gitar yang minim overdrive. “Dikarenakan single terbaru kami memakai lirik, akhirnya saya dipaksa untuk bernyanyi dengan suara pas-pasan”, ujar Thian sang vokalis. Preman-preman yang biasanya mengendarai sepeda motor (RX King) dijadikan inspirasi dalam penggarapan artwork di single ini. Single “Sisi Gelap Kuda Besi” ini di produseri dan di mixing mastering oleh Noise Excel. Mulai mengudara di layanan musik digital favorit pada tanggal 6 November 2020.

 

 
Prejudize
 

 
Unit metallic hardcore yang digawangi oleh Arga (vokalis), Rian (gitaris), Reza (bass), Keniro (gitar), dan Hilman (drum) telah mencuri perhatian setelah merilis debut demo ep di platform music digital. Nuansa hardcore sangat kental terdengar di demo ep Prejudize. Diproduseri oleh Kevin Rafs dari Bleach dan Vai Siagian dari The Couch Club menghasilkan 1 intro bernuansa electronic RnB bertajuk The Whisper Of Our Generation, yang di selimuti oleh gaya spoken word dengan narasi yang mengambarkan dari generasi ini, sementara 3 trek lain, Misery, Inner Hatred, dan Redemption. Menawarkan riff-riff yang tidak biasa dengan penuh kemarahan mereka siap menjejali telinga dengan gaya hardcore punk yang cukup kentara. 
 

 

Bekerja sama dengan teman-teman di Bandung, Prejudize akan merilis full-pack lagu Promo 2021 mereka dalam bentuk kaset dengan paket bundling bersama merchandise dan lainnya. Debut self titled mereka bisa di dengarkan pada Band camp dan platform lainya.

 

Rounder

 

 
Band chaotic metal yang terbentuk pada tahun 2017 ini telah merilis satu album bertajuk Disclosure pada tahun 2020 lalu dan juga cukup rajin merilis music video. Musik yang agresif dibalut dengan lirik yang depresif menjadi nuansa yang ditawarkan oleh Rounder. Nuansa dalam lagu ini berbeda dibandingkan dengan lagu-lagu mereka sebelumnya dimana dalam single ini mereka lebih banyak memainkan chord-chord yang agresif dan lebih gelap dan lirik yang lebih emosional. Loveless Suffering menggambarkan antara penderitaan, keputusasaan dan cinta dimana digambarkan dari sudut pandang yang berbeda, hal ini tercermin dalam video klip yang juga mereka rilis dimana di dalamnya mengandung unsur-unsur yang gelap menggambarkan situasi penderitaan dan keputusasaan terhadap cinta juga kemarahan.

 

 

Video ini pun didirect langsung oleh gitaris dan vokalis mereka Razaq Caesar dan Fikri Hadyan dibantu oleh Bimantara Septianto selaku DOP dan Editor. Pengerjaan lagu ini tercetus setelah terjadi pandemi Covid-19 yang mengharuskan mereka untuk berdiam diri di rumah sehingga tercetuslah ide untuk membuat single ini. Selain itu seluruh produksi single ini dikerjakan oleh mereka sendiri di Southside Paradise. Dalam single ini Rounder juga menjalin kerjasama dengan Kalimasada Records sebagai record label digital.

 

 
Maio
 

 
Merubah motor matic serasa motor balap dengan mendengarkan perpaduan antara hardcore, punk, crust, d-beat hingga rock n roll di jalan dengan volume mentok ke kanan adalah sebuah gambaran ketika mendengarkan band yang baru merilis album Negative Thoughts ini. Setelah merilis dua single yang ber-titel “The Justice Trap” dan “Circle Jerks” tahun lalu,
para bedebah sialan yang membaptis diri dalam nama Maio, akhirnya mengejewantahkan debut
albumnya. Ada jarak yang lumayan jauh dari rilisnya single sampai album ini. Terbentuk di 2019
dengan kolaborator Aziz (vokal), Valard.ss (gitar kanan), Abuy (gitar kiri), Kikim (bass), dan
Wisong (drum). Mengoplos hardcore punk, crust, d-beat sampai benang merah rock n’ roll paripurna secara
musikalitas, album ini banyak bercerita tentang apa yang terjadi di sekitar kita dalam departemen
lirikal.

 

 

Bertajuk “Negative Thoughts”, judul ini berasal dari salah satu lirik yang ada di tracklist
album. Dirilis via HSTD Records asal Bandung dengan dua pengemasan berbeda; versi bundle pack
berisi kaset, stiker, pin button 1 inci, cup popcorn, kacamata 3D dan poster A2, kemudian versi
reguler yang hanya berisikan kaset pita tunggal. Dalam setiap kaset pita disematkan sebuah cetakan
yang berisi catatan pinggir perihal album ini yang ditulis oleh kesebelasan, mulai dari kolega,
jurnalis, dan penggiat musik yang kami kultuskan.

 

 
Words by Firman Oktaviawan
Photos from Band Archive
Layout by Prita
Avhath, band asal Jakarta yang menimbulkan suatu fenomena  baru di dunia permusikan. Khususnya di dunia per-merchandise-an. Selain karya-karya dan visual mereka yang mencuri perhatian khalayak. Tidak sedikit juga yang memperhatikan bagaimana merchandise mereka dapat terjual secara cepat dan sampai ada yang menjual lagi dengan harga lebih tinggi. Di sela-sela waktu sibuknya Ekrig, Indra, Insan dan Yvd sempat berbincang bersama kami. Simak obrolan berikut ini.
 
Awal mulanya terbentuk Avhath?
 

 
Pertama kali nge-jam tuh di tahun 2012 akhir, yang pertama ngumpulin semuanya tuh Ekrig. Aslinya mungkin di band itu Indra kenalnya sama Ekrig, terus Ekrig kenalnya sama Insan sama Rey. Jadi kayak dicomblangin gitu. Kalau Insan sebelumnya memang suka ikut sama For The Flames band Ekrig dulu. Malah sempat beberapa kali bantuin juga di posisi drum kalau drummer nya For The Flames berhalangan.

 

Arti dari kata Avhath?
Avhath itu kayak lose translated dari kata of hatred yang artinya “akan kebencian”. 

 

Kalau dari awal terbentuknya Avhath ada target nggak apa yang ingin dicapai?
Targetnya sih nanti pengen bubar terus bikin full discography dan akan jadi album sama farewell show. Pengen tour dunia dulu juga sih. Pokoknya kita pengen die as a legend. Tujuan utama sih pengen biar nggak stress aja. Karena waktu itu mulainya gara-gara lagi jenuh aja.

 

Jadi dari pertama terbentuk nggak pernah ada rencana apa yang disiapkan untuk mencapai target-target itu?
Nggak ada sih, kalau dari segi promosi band juga kita lebih learning by doing aja. Jadi ngerjainnya sambil belajar. Kalau bahasanya Indra, yang lagi kita pengen ya itu yang kita jalani. 

 

Ngomong-ngomong tentang album, kenapa Avhath selalu rilis EP nggak pernah full album?
Karena pengennya rilis album pas menjelang bubar. Mungkin lebih ke proses aja kali yah, soalnya kalo bikin EP tuh jadi apa yang dirasakan pada saat itu. Kalau album tuh anggap aja harus sepuluh lagu, bisa jadi pengerjaannya tiga lagu dikerjain saat ini tapi harus nunggu satu tahun berikutnya untuk sisa lagunya. Jadi perasaan yang yang dirasa jadi beda aja gitu. Kalau ngerjain EP atau singles tuh ada dua atau tiga lagu udah PD sama lagunya langsung rekam lalu release aja gitu in a ways lebih fun aja gitu ngerjainnya. Kalau kata Rey, dari satu album berisi sepuluh lagu biasanya cuman dua sampai tiga yang nyampe di telinga pendengar. Kalau EP ada tiga atau empat lagu bisa didengar sampai habis. Selain itu waktu hemat dan schedule juga hemat. Jadinya nggak kebawa beban, tujuan awal band ini kan biar nggak jadi stress. Kalau album bisa jadi tekanan juga bagi kita takutnya karyanya kurang maksimal.

 

Kalau sebelumnya disetiap EP Avhath tuh nggak melibatkan produser, kenapa di Felo De se/Hallowed Ground melibatkan seorang produser?
Pengen nambah kepala aja sih jadi enam, kalau sebelumnya yang terlibat tuh cuman lima kepala. Penasaran juga dengan adanya kepala keenam itu idenya bakalan senyebrang apa sih. Apalagi orang keenamnya ke-indie-an kayak beliau.

 

Kenapa memilih Aldead sebagai produser?
Karena dia indie, kita ngefans juga sama itu orang. Doyan juga approach-nya dia ke Fuzzy, I, Heals atau ke band-band dia sebelumnya kayak Caravan Of Anaconda sama Attack This Town. Jadi lebih penasaran aja kalo ide-ide kita ditambah idenya dari Aldead jadi bakal kayak gimana. Dan biar ada aspek nyebrangnya juga, out of the box. Karena aspek nyebrang itu selalu dikaitkan dengan Avhath.

 

Tapi kalian puas dengan hasilnya?
Puas dengan hasilnya, dari skill dan knowledge sesuai dengan ekspektasi kita.

 

Kalau liat performances Avhath selalu berkonsep. Seberapa pentingkah konsep visual bagi Avhath?
Sangat penting. Karena, itu yang merepresentasikan.

 

Kalau di persentase dibagi antara audio dan visual lebih penting mana?
 

Photo by Ignas @ignxsbc

 

Kalo dibagi persentase gitu nggak bisa. Jadi musik harus total 100% dan visual pun harus total 100%. Karena itu tuh totally different aspect, tapi dua-duanya saling menopang satu sama lain. Dua-duanya harus dipikirkan secara terpisah.

 

Ide-ide visual itu biasanya datang dari siapa? Kayak waktu showcase Avhath di The Room Hotel Monopoly itu.
 

 Photo by @simpletapiplan

Kalo konsep nyebrang, semuanya punya konsep yang sama kayak gitu. Tapi kalo yang into detail sampai eksekusi itu Ekrig. Kalau yang di Monopoly tiba-tiba kepikiran aja sih pengen bikin spesifik bareng sama Tontey. Kebetulan waktu itu Monopoly lagi nyari band buat main di The Room. Plus itu setelah main di acara ulang tahunnya Seringai ada satu foto langsung kepikiran title dari showcase-nya itu The Moon Is Black And Red.

 

Berlanjut ke pertanyaan tentang merchandise. Masih inget nggak merch pertama yang Avhath bikin?
Kalau pertama yang dibikin tuh yang sama Maternal. Tapi kalo yang Avhath sendiri bikin tuh kaos ketika manggung sama Rajasinga di acara Sepsis Records di Singapura.

Avhath merupakan salah satu band di Indonesia yang harga merchandise-nya diatas rata-rata tapi selalu sold out, kenapa tuh bisa kayak gitu?

 


Kayaknya sih karena emang konsisten dari awal konsepnya. Kan konsepnya sekali print doang dan selalu limited. Terus jadinya orang berlomba-lomba buat mendapatkannya. Soalnya mungkin kalo diliat dari konsistensi graphic design, nggak juga sih. Karena  dari semua yang pernah dibikin banyak yang berbeda konsep graphic design-nya.

 

Kenapa memilih konsistensi sekali print dan limited?
Karena indie aja.. Hehehe.. Mungkin sama halnya kayak membahasa EP dan Album tadi, ini yang nyaman buat kita nih sehingga akhirnya ada fenomena tersendiri. Limited bukan gara-gara eksklusifitas tapi emang gara-gara modalnya juga yang limited. Kita lebih suka ngebayangin satu orang punya 20 design Avhath tapi beda-beda dibanding 20 orang punya satu design Avhath yang sama. Orang Indonesia tuh doyan banget FOMO (fear of missing out) gitu kan. Nah, ketika temen lo ngelakuin A tapi lo nggak ngelakuin itu tuh jadinya kayak gimana gitu, ngerasa ketinggalan.  

Untuk pemilihan graphic design atau artworker yang mengerjakan merchandise Avhath itu biasanya dari siapa?



Awal-awal ramean sih siapa yang BM. Tapi terakhir-terakhir ini udah Ekrig aja. Kayak biasanya Indra atau Rey BM siapa yang pengen artwork dari siapa bilang ke Ekrig, lalu dia yang ngarahin gitu. Ide sih bebas dari siapa aja, cuman yang execute biasanya Ekrig.

 

Pernah dapet info nggak harga termahal merchandise Avhath di harga berapa?
Terakhir sih liat Rp. 666.666,- . Itu kita tau juga anjir siapa yang jual. 

Pendapat kalian tentang reseller kayak gitu gimana?
Baru banget nih dapet pencerahan tentang hal itu. Ternyata kalo band ini bikin orang punya mata pencaharian sendiri ya hamdalah. Drama keuangan harga itu terserah deh di para reseller atau pembeli. Cuman yang penting dari band-nya sendiri udah ngasih rejeki untuk diputar. Bisa jadi investasi juga buat mereka yang beli. 

Ngomongin merchandise, sempet ada pendapat kalo lo mau pake kaos band minimal harus tau 10 lagu dari band yang merch nya lo pake. Menurut kalian gimana?
Kita nggak mewajibkan “lo kalo nggak dengerin Avhath nggak boleh pake kaos Avhath”. Kita lumayan anti akan hal itu. Kalo lo sekantor sama gw tapi nggak dengerin Avhath kalo mau pake kaosnya, ya pake aja. Dulu temen-temen Insan pun dulu di Unpad mau cewek atau cowok pada pake kaos Avhath meskipun mereka nggak dengerin lagunya. Mungkin hal itu menimbulkan aspek suportif di lingkungan sekitar. Orang beli karena suka desain nya aja kita nggak apa-apa, duit-duit dia juga.


Menurut Avhath, Merchandise bisa menjadi sesuatu yang menjanjikan nggak buat sebuah band?
Menjanjikan, tapi lo harus liat dulu band lo kayak gimana. Kayaknya yang paling penting lo bentuk dulu urge orang untuk membeli merchandise-nya. Ngebentuknya gimana? Mungkin dari band image, design yang lo pake kayak gimana. Itu yang penting. Kalau hal itu sudah kokoh baru lo bikin merchandise. 

Ceritain dong gimana pertamanya bisa ada di kontennya salah satu brand besar?
Brand itu selalu bikin konten itu kan. Mungkin, kita beberapa kali main di acaranya brand itu, mungkin dari familiar aja sama bandnya.

Okey, sebenernya pertanyaan itu jadi bridging ke pertanyaan selanjutnya. Bisa ceritain tentang kolaborasi dengan brand tersebut? 
Mungkin itu jadi salah satu drama corona kali yah.. Hahahahah… Kayaknya itu miskom kali yah pertamanya. Tadinya di kontraknya nggak ada mau bikin merchandise sih. Yang pertama ngeh tuh Rey, dia nanya “itu merch yang di end screen siapa yang bikin?”. Anjir, terus langsung cek kontraknya. Di kontraknya juga nggak ada tentang merch itu. Jadi basically itu bikinnya ngawur aja.

 

Jadi merch-nya dengan design pertama itu sudah keluar?
Jadi kalo nggak salah merch “collab” itu bakal dibagikan di episode kedua. Jadi nanti jawab apa gitu di kolom komentar episode pertama nanti dipilih dan dapet giveaway kaos itu. Setelah dibicarakan secara lebih lanjut dengan beberapa opsi akhirnya masalahnya sudah terselesaikan dengan baik. 

 

Ngomongin kontrak nih tadi, menurut Avhath sendiri penting nggak sih kontrak hitam di atas putih itu?
Kebetulan lengkap nih isi bandnya, salah satunya ada Insan yang berprofesi lawyer. Penting banget sih, cuman kadang-kadang harus disesuaikan juga sama kebiasaan-kebiasaannya. Mesti di pas-pasin sih kapan kita mesti tegas kapan kita mesti engga. Kalo kayak kejadian kemarin sih kita concern juga dengan isu merchandise kayak gitu. Harus agak tegaslah, kemarin sempet ada nego agak alot tentang harga kompensasinya. Mereka minta turun tapi kita nggak kasih. Takutnya jadi bad preseden kedepannya buat brand brand lain. Kita pengen ngasih liat juga kalo kita merhatiin lah kontrak itu. Mungkin kita pakai kontrak bukan untuk menyerang orang, tapi memakainya agar tidak diserang. Apalagi kejadian kemarin itu soal visual yang sudah dibangun Avhath bertahun-tahun.

 

Pertanyaan terakhir, apa harapan kedepan Avhath?
Ekrig: Jalanin aja, kayak kata beliau.
Indra: Pengen menjadikan Avhath menjadi kendaraan buat gw pindah ke luar negeri. Dan menjadikan Avhath sebagai sumber penghasilan utama.
Yvd: Pengen menjadikan Avhath sebagai alasan utama untuk resign. Tetep bikin kita waras setelah mengahadapi rutinitas
Insan: Terus jadi tempat refreshing gw dari kerjaan yang serius banget.

 

Words & interview by Firman Oktaviawan
Photos from Avhath archive & Instagram
Layout by Prita

 

 
 

 

 
 

Agung adalah gitaris di salah satu unit metal terbaik di Indonesia, Burgerkill. Tentunya ada banyak pengalaman menarik dari tahun 2002 sampai 2021 Agung berada di Burgerkill. Mari simak obrolan JEURNALS dengan Agung mengenai pedal efek favoritnya, unit bisnis parfum nya, sekolah musik AGC sampai kenangan-kenangan lucu bersama Burgerkill dan almarhum Aries “Eben” Tanto.

 

____________________________________________________________

“Tapi yang pasti posisi Eben di panggung tidak akan kita gantiin.”

____________________________________________________________

 

Apa kabar Agung! Turut berduka untuk almarhum Eben. Sedang sibuk dengan proyek apa saja sekarang?

 

Kabar baik Dy! Alhamdulillah baik. Kemaren kan di band sendiri juga lagi ada kabar duka, jadi sekarang lebih ke recovery sih kita. Mau ga mau kita juga harus berpikir cepat agar si band nya sendiri tidak selalu terpuruk dalam kesedihan. Dikit-dikit kita saling support satu sama lain supaya bisa balik lagi lah mental untuk melanjutkan band (Burgerkill) ini. Doain deh Dy..

Ya, kemaren juga gue lihat postingan Burgerkill di Instagram, semuanya berarti memang sudah sepakat untuk melanjutkan perjuangan almarhum ya di Burgerkill?

 


Betul kita sepakat untuk lanjut. Mudah-mudahan dengan segala kondisinya, apapun kondisinya itu kita sepakat untuk lanjut lagi. Kita sama-sama saling nguatin satu sama lain. Saling rangkul.. Apalagi kalau saya sendiri sih di band ya room mate nya gitu, sama almarhum tuh. Dari tahun 2003 udah bareng ngeband. Sangat kehilangan lah dengan kejadian ini. Dari sisi lain sih teman-teman yang gak terlalu deket juga banyak yang ngerasa kehilangan apa lagi yang memang selalu bareng tiap hari selalu ketemu..


Berarti lo sudah bareng Burgerkill dari era
‘Berkarat’ yang dirilis Sony Music ya? Dulu sebelum join di Burgerkill apa sudah mendengarkan album ‘Dua Sisi’ sebelumnya? Bagaimana perjalanan lo pribadi terekspos dengan musik BK? 

 

Sebetulnya tau BK dari pas sekolah, dulu sempet almarhum Ivan (Scumbag) main ke sekolah. Semua heboh “Itu ada Ivan!”. Bisa dibilang saya juga dulu fans nya BK. Dari jaman Saparua saya sering banget nontonin mereka. Sampe akhirnya dulu ada satu panggung pas ngeliat BK gue kepikiran “Wah anjir kalau kayanya gw punya band kaya si BK seru nih!”. Dan ternyata ada rencana Tuhan saya tuh dijodohkan sama BK. Dulu pertama kenal BK itu dari Ujungberung. Dulu saya tinggal di daerah Panghegar Ujungberung Dy. Anak-anak BK juga nongkrongnya di daerah Ujungberung. Mereka tuh suka main basket di belakang rumah saya. Sebagian teman-teman Burgerkill kaya Eben emang suka basket. Eben juga sempat tinggal di Panghegar di rumah tetangga saya. Dari situ saya mulai kenal dia. Terus di transisi dari album ‘Dua Sisi’ itu ada penambahan gitaris namanya Ugum, orang Panghegar juga, tetangga saya juga. Jadi ya udah bisa dibilang sudah satu circle ama anak-anak BK. Lebih deketnya lagi pas 2002 Eben ngajakin gue jadi teknisi BK, pas saya masih ngeband sama Jeruji. Pas jadi teknisi gitar di BK, gitaris yang satu nya lagi (Ugum) ngundurin diri. Tepatnya di 2003an sudah diajak gabung sama almarhum Eben ke BK. Pada saat itu kita mau sign kontrak sama Sony Music. Dulu dari manajemen ada issue untuk memilih satu band, dan dikasih pilihan mau BK atau Jeruji? Akhirnya dengan terpaksa harus memilih salah satu dan akhirnya saya memilih BK.

 

Dari era album ‘Berkarat’, ‘Beyond Coma & Despair’, ‘Venomous’ sampai terakhir ‘Adamantine’, personal favorite lo album yang mana?

 

Hmmm.. paling favorit tuh.. Sebetulnya semua karya itu sama buat saya jadi berat kalo harus memilih. Kaya anak lah, ga mungkin kita milih anak favorit, susah hehe. Yang pasti pas waktu proses bikin album ‘Berkarat’ gue ngerasa seneng banget sih bikin album itu. Intinya sih setiap album ada nilai dan kepuasan sendiri. Cuma kalau boleh memilih, mungkin saya pilih album ‘Beyond’ dan ‘Adamantine’. 

 

Kalau dari proses songwriting, recording dan aransmen album BK yang paling tinggi tingkat kesulitan nya secara teknis pas bikin album mana?

 

Pas jaman bikin album ‘Beyond Coma & Despair’ kita masih manual, kita rekam pake recorder 1 track yang suaranya juga belum enak, dan kita banyak menggodok materi di studio langsung, briefing dulu. Sekarang bisa pake teknologi kaya drum di gambar dulu, kirim-kirim file. Dulu memang ribet tapi seneng banget kita bisa ngerasain songwriting proses dari era yang serba analog. Sekarang bisa rekam di rumah masing-masing dan kirim-kirim file. Tapi BK masih bisa dibilang sering ketemu, latihan, ngumpul masih tetap jalan walaupun pandemi. Album terakhir ‘Adamantine’ itu paling sulit, karena dia itu kaya retrospektif rangkuman dari beberapa album sebelumnya. Semua di muntahin kesitu. Kalau buat saya sih kaya pengalaman bermusik di BK disatuin disitu. Gw tuh main musik udah dapet apa aja sih? Secara pengalaman dan ilmu ya dikeluarin semua disitu.

 

Lalu cover ‘Adamantine’ yang digambar Fajar Alanda itu apa punya makna tertentu?

 

 

Itu kan beruang ya. Kalau beruang tuh lebih ke apa ya.. Dia tuh hewan yang sebetulnya ga mengganggu. Tapi kalau misalnya dia diganggu kan bisa menjadi hewan yang sangat kejam gitu hahaha. lebih kesitu sih hahaha..

 

Kalau ngomongin hewan, lo sendiri kan iconic dengan sebutan Hellfrog. Gimana ceritanya dari panggilan sampai bisa jadi nama brand apparel?

 

Dari kecil tuh yang gue rasain hidup gue selalu berhubungan dengan kodok. Waktu kecil tinggal di daerah namanya Cibangkong. Masuk SMP gue dipanggil temen-temen dengan nama bangkong (kodok) karena jalan nya kaya kodok, rada-rada ngaclog tea kaya agak loncat jalan nya hahaha.. Pas SMA dipanggil juga si kodok padahal ga pernah ngenalin ke orang dengan nama kodok. Karena mata nya rada belo kata nya. Pada saat itu juga seneng banget sama album ‘Cowboys From Hell’ nya Pantera. Salah satu album favorit pas SMA. Jadi diplesetin dengan “frog from hell”. Cuma untuk sebuah nickname kayaknya terlalu panjang jadi nya dibikin lebih compact “Hellfrog”. Secara harfiah emang artinya kodok dari neraka. Tapi kalau gue sih lebih ke penekanan kaya kalau ditanya “Are you ready? Hell yeah i’m fucking ready!” kaya gitu aja sih. Brand nya sendiri jalan dari tahun 2007, awalnya sih dari konsep sederhana ngeliat Steve Harris bassist Iron Maiden. Dia pake jersey bola yang belakangnya ada nama dia “Harris”. Wah seru juga nih kayaknya bikin kaya gini. Bikin lah jersey dengan tulisan Hellfrog yang sampai sekarang masih jadi salah satu produk unggulan kita. Ada ide dari temen jual aja bikin selusin dan ternyata habis, dan akhirnya repeat lagi dan diseriusin jadi brand clothing.

 

Selain di fashion lo juga bikin brand parfum ya. Gimana tuh ceritanya?

Dari SMA gue seneng parfum. Emang seneng wewangian lah haha. Kalau untuk parfumnya sendiri dulu kepikiran pengen buat parfum custom dari aroma-aroma yang saya sukai. Ga sengaja ketemu teman dan diajakin bikin produk. Kita juga bikin dari aroma-aroma yang masing-masing suka, dari parfum-parfum yang kita pakai. Dan ada team yang develop, meracik dan riset aroma parfumnya. Sekarang ada juga series sendiri disebut Frogman series. Kalau nama brandnya Frago itu dari plesetan “Fragon”, karakter dengan spesies dragon frog yang dipakai di brand saya. Lalu dipake aja jadi nama brand parfum nya dengan disingkat jadi Frago Perfume.

Selain apparel dan parfum, lo juga bikin kursus musik A.G.C. Music School. Bisa ceritakan sedikit?

Betul dulu kan kita belum ada lokasi, masih dari rumah ke rumah. Kerumah lu juga kan sama ke rumah lope (eks Rocket Rockers) hahaha. AGC sempat pindah-pindah beberapa tempat, dulu di Ujungberung (Bandung Timur), terus kita sempet pindah beberapa kali ke daerah Surapati, Martanegara, sekarang kembali ke Bandung Timur, tepatnya di Cipadung. Alhamdulillah AGC juga disupport sama salah satu company, jadi bisa lebih leluasa untuk bergerak. Sewa gedung disewakan, jadi kita bisa lebih fokus ke movement nya ga sekedar di bisnisnya. Pengajar kita ada Hin Hin Akew dari Nectura, Gan Gan dari Forgotten, ada Abo (Nectura) yang juga team AGC tapi ga masuk ke team pengajar. Di program drum ada Putra Burgerkill. Di program bass ada Aul. Divisi kurikulum dipegang sama Hin Hin Akew. Dia juga mau coba ngerekrut pengajar-pengajar dari luar komunitas. Jadi image nya tidak selalu metal. Tapi ada juga yang belajar musik jazz dan classical. Karena kebetulan gue juga mengajar yang fokusnya di program metal dan classical.

Lalu bagaimana impact pandemi ke bisnis-bisnis lo tadi?

Kita harus keluar dr zona nyaman dan berpikir lebih keras agar bisa tetap survive. Tapi dari pandemi malah nemuin ide-ide bisnis baru dan ngembangin yang lain. Alhamdulillah cari sana cari sini dapet juga sih beberapa pengembangan kegiatan usaha. Ya mungkin itu hikmah dari pandemi ya. Dengan kita memaksakan untuk terus mencari yang bahkan tadinya sebelum pandemi ga kepikiran.

Kembali ke BK, sekarang setelah recovery apa saja rencana-rencana BK dalam waktu dekat ini?

Untuk sekarang kita sambil rehat sebentar dan recovery sambil ngobrol-ngobrol dulu, kita mo ngapain aja dalam waktu dekat ini. Rencana-rencana kita mau kaya gimana. Jadi lebih ke brainstorming sama temen-temen di BK sambil nyusun dan mikir kedepannya kita mesti gimana? Apa yang mau kita kerjain? Sebenarnya rencana kita kemarin itu sudah ke fase menyusun rencana kalau bulan-bulan ini kita ngumpulin lagu, menulis lagu untuk bikin single. 


 

Cuma dengan kondisi seperti ini kita harus gimana nih dengan rencana-rencana yang udah kita buat. Apalagi udah ada rencana juga dengan pihak luar. Jadi kita udah ada beberapa rencana dan juga kegiatan yang udah jalan dengan pihak luar. Jadi ya lebih ke bagi-bagi tugasnya gimana, proses kreatifnya gimana. Selain itu juga ada bentuk-bentuk kolaborasi lain kaya kolaborasi produk sepatu, sama Core Burger juga lagi merencanakan sesuatu. Cuma mereka juga paham dengan kondisi seperti ini mereka ga ngeburu-buru juga ke kita nya untuk menenangkan diri.

 

____________________________________________________________

 

“Sebetulnya vokalis juga kita sudah ada. Nah, tadinya kita mo rilis single baru sambil announce vokalis baru kita siapa. Tau nya kondisinya seperti ini. Tapi kita harus tetap stick to the plan lah ya.”

_____________________________________________________________

 

Kalau kondisi BK sekarang ini gimana? Sekarang ada kekosongan vokalis ya? 

 

Kondisi BK bisa dibilang lagi tidak fit 100%. Kemarin kita harus ada kekosongan vokalis. Sebetulnya vokalis juga kita sudah ada. Nah, tadinya kita mo rilis single baru sambil announce vokalis baru kita siapa. Tau nya kondisinya seperti ini. Tapi kita harus tetap stick to the plan lah ya. Harus tetap jalan. Cuma paling untuk waktunya agak sedikit mundur nih. Kalau vokalis baru nya siapa itu sih ya let’s see aja. Tapi ya masih dari komunitas musik ekstrim juga. Tapi ya liat nanti ya haha.

 

Kalau kemarin itu kolaborasi apa sama Daniel (eks Dead Squad)?

 


 

Kalo sama Daniel (eks- Deadsquad) itu sebetulnya karena kita kekosongan vokalis dan ada panggung kemarin kita ngajak dia. Sebenarnya dari main virtual di Hellprint udah pake 3 vokalis ada Baruz (Konfliktion, Balcony), Nyank Nyank (Taring) & Anggi (Revenge the Fate). Rencana nya tuh pas manggung yang sama Daniel ngajak Aji juga dari Down for Life. Sebetulnya kita udah ada vokalis nya cuma pas single aja baru mau nampilin vokalis barunya sekalian announce. Kita kemarin fokus proyek ngecover lagu Dewa sama Ahmad Dhani, dan ada juga event sama Godbless anniversary. Baru setelah itu tadinya rencana mau workshop bikin single baru sama vokalis baru BK.

 

Gimana respon lo bisa sepanggung sama legenda-legenda dan icon musik Indonesia kaya Godbless atau Ahmad Dhani yang mungkin pas sekolah lo dengerin lagu-lagunya, terus sekarang bisa satu panggung?

 


 

Ya pasti buat kita sih kita ngerasanya ini seperti salah satu bentuk apresiasi juga buat BK. Ternyata semakin kesini walaupun jenis musik yang sangat jauh berbeda tapi kita bisa saling lebih terbuka satu sama lain. Dibandingkan dulu secara tidak langsung di musik ekstrim kita kaya dapet bentuk-bentuk cibiran “Ngapain lo maen musik kaya gitu, musik apaan tuh ga jelas..”. Dulu ga pernah kepikiran bahwa musik ini tuh bisa bersentuhan dengan musik mainstream. 

 


 

Ada ajakan dari Dewa, ada ajakan dari Godbless. Ternyata musik metal itu sudah di apresiasi lebih, bukan hanya oleh publik tapi bahkan ada pengakuan dari musisi-musisi senior.
 

‘Adamantine’ kemarin tour Eropa dan Amerika. Pengalaman tour-tour BK yang dari crowd, makanan sampai negara nya paling fun dimana saja?  

 

Sebetulnya setiap negara yang kita datengin punya cerita menarik di dalam nya dan semua fun. Kaya pertama kalinya kita tour dan main ke Australia. Terus ke Eropa ngerasain atmosfer berbeda. Di Amerika juga seru banget, semua menyenangkan. Kalo urusan makanan sih ya lo tau sendiri Dy, dimana juga gue makan mah enak-enak aja hahaha. Tadinya kita udah ada jadwal sebelum pandemi mau Asian Tour salah satunya Jepang, terus mau ke Australia dan Eropa lagi, rencananya gitu cuma pandemi terjadi dan semuanya cancel. Tapi numbuhin lagi ide-ide baru sih basically. 

 

Kalo ngomongin gear gimana nih… Sekarang lagi seneng pake apa aja di rig lo untuk rekaman, manggung atau bikin lagu?

 


 

Kalau gitar sih gue masih pake Schecter. Dari dulu sampai sekarang, ga kerasa dari 2008 udah mulai kerjasama dan di endorse Schecter. Ampli tabung masih pake juga cuma sekarang lebih digital lah Dy. Ada teknologi yang lebih simple dan sudah aman untuk perform. Dikit-dikit kita berangsur pindah ke digital. Karena untuk kebutuhan sekarang kaya tour ada teknologi yang lebih simpel dan compact. Sekarang pake Fractal Audio. Seru lah kita sekarang cari yang simpel aja. Mungkin karena udah pada tua juga kali ya, bawa yang berat-berat males hahaha. Kalo pedal efek mungkin yang paling setia dari dulu nempel di pedalboard ya paling whammy sama pedal wah, lebih ke expression pedal aja yang diluar Fractal. Kalau delay dan kebutuhan modulasi dari Fractal juga sudah terwakili untuk musiknya BK. Distorsi juga dari situ sih. Kalau panggungnya leluasa dari waktu dan segala macemnya, dari Fractal ada yang masuk ke ampli juga dan masuk direct ke FOH/mixer. Jadi 2 channel D.I. satu masuk ampli, dipisah lagi sama 2 microphone jadi bisa 4 channel. Sebetulnya kalau pergi ga lebih dari 15 orang teknisi nya, mungkin sama lah kaya band-band pada umumnya. Teknisi kita ga banyak, produksi juga ga terlalu banyak sekarang, dulu selalu bawa head cabinet sekarang udah dipangkas pake digital. Ampli di panggung apa aja ya tetap aman. Kalau dulu sih repot haha. Cuma memang analog lebih kuat karakter dan suaranya. Tapi kalau ada pilihan yang lebih simple dan cukup untuk kebutuhan perform ya kita pilih itu. Kalau tuning kita udh ngerasa paling nyaman di C. Udah paling enak frekuensinya.

 

 

____________________________________________________________

 

 

“Eben membuka pemikiran gue untuk meredam sedikit ego gue sebagai gitaris. Dia membuka sudut pandang gua kalau gitaris itu ga harus shredding dan full technique. .”

 

____________________________________________________________

 


Lo ngalamin banyak pergantian personil di BK dari tahun 2003 sampai tahun 2021 ini. Apa yang melekat dari karakter bermain dan musikalitas tiap personil yang sempat lo rasakan?

 


 

Semua punya karakter kuat. Drummer dari Toto ke Abah (Andris), dari Abah ke Putra. Dan ga bisa disamain salah satu lebih bagus jadi ga bisa kita compare dari situ nya. Tapi paling dari teknis si A, tone si B lebih kasar, si C lebih hardcore style. Paling hardcore menurut gua Toto, paling teknikal Putra. Kalo karakter Abah emang raw, kasar. Tapi tone color nya emang metal banget. Bassist ngerasain perpindahan dari Abah ke Ramdan. Kalau dulu Abah pas main bass di BK kan emang aslinya dia pemain drum, bukan bassist. Abah bagus ngisi bass nya. Kalau Ramdan yang kita rasain lebih into dan concern banget ke bass, walaupun dia aslinya pemain gitar sebelumnya di Balcony. Kalau bahas vokalis Ivan lebih gelap, suara dan liriknya juga gelap. Vicky cenderung lebih modern. Dia bisa nyanyi dan emang seneng nyanyi orangnya. Jadi emang gak terlalu bermasalah dengan nada. Kalau karakter almarhum Eben itu kuat. Terutama untuk urusan rhythm section. Dia membuka sudut pandang gua kalau gitaris itu ga harus shredding dan full technique. Dengan bermain riff dan ritem juga kalau bisa buat karya yang bagus dari situ, ya itu gitaris yang keren. Ga harus memainkan melody. Banyak gitaris seperti itu keren-keren. Pada saat awal-awal di BK gue memilih jadi shredder pada awalnya, tapi Eben membuka pemikiran gue untuk meredam sedikit ego gue, banyak sisi lain yang awalnya ga gue pikirin dari segi ritmis. 

 

Lalu sekarang dengan kekosongan yang ditinggalkan oleh almarhum, apa nanti akan ada gitaris ritem baru atau lo take over rhythm section dan lead sekaligus? 

 


 

Kita sekarang ga kepikiran untuk mencari pengganti almarhum Eben. Kita lebih memilih untuk mencoba aja dulu dengan yang sekarang, kita pikirin teknis nya mau digimanain. Tapi yang pasti posisi Eben di panggung tidak akan kita gantiin. 

 

Karya-karya bagus bisa lahir dari keterbatasan skill dan keterbatasan equipment. Gimana pendapat lo mengenai itu?

 

Gue setuju banget sama itu. Kita bisa lihat yang real aja. Kurt Cobain dari skill main gitar tidak seperti Yngwie kan? iya kan hahaha. Tapi siapa yang ga tau Nirvana. Itu semua dibuktikan dengan karya nya mereka yang besar. Bisa diterima masyarakat luas. Itu sudah menyimpulkan kalau main musik itu ga ada patokannya. Ramones, Oasis, mereka semua ga berangkat dari skill dan teknik yang ngejelimet dan susah. Bukan juga dari equipment canggih. Bukan jaminan juga kalau kita punya teknik bagus, kita bisa buat lagu bagus. Banyak karya-karya musik yang secara teknik susah, tapi malah kita belum tentu bisa menerima nya. Taste dan referensi juga menentukan. Mungkin banyak juga yang terlalu ego “Pokoknya gue bikin karya pengen keliatan jago.” mungkin ada juga yang seperti itu sudut pandang nya haha..

 

Pertanyaan terakhir, kenangan-kenangan bodor (lucu) apa aja yang lo alamin sama almarhum Eben pas bareng di Burgerkill?

 


 

Wah.. Banyak pisan Dy. Gue tuh tiap keluar kota pasti satu kamar sama Eben. Almarhum setiap waktu suka bercerita mengenai hal apapun, yang lucu, sedih, menyenangkan. Yang pasti sih kalau sama almarhum itu, gue selalu partneran sama dia kalau lagi jailin orang. Kaya misalnya gue lagi ngerjain si Andre (Jeruji), pasti gue selalu partneran sama Eben. Dia juga suka ngide jail “Tuh Gung, kita jailin si ini yuk, jailin si itu yuk”. Partner jail gue Eben teh. Sering banget kita ngerjain orang tuh cuma untuk ngejar ketawa enak doang. Ya gue sekarang kehilangan partner banget. Roommate lah. Dia juga terkenal jokes nya, prank nya dan tukang bodor. Dulu pernah ngerjain si Andre pas di kota Medan. Si Andre tuh udah pasti tau kalau pergi sama kita udah pasti di jailin. Dia sampe ga mau ngasih tau kamarnya nomor berapa. Tapi kan itu gampang. Almarhum kadang bilang “Gua udah dapet info nih kamarnya si Andre nomer berapa.” Pas kita ke kamarnya, si Andre masih diluar. Sepatunya gue shampoo-in. Terus kan kita harus ke bandara subuh-subuh. Si Andre pas sampe hotel mau siap-siap checkout ke lobby, dia pake kan sepatu itu. Trus disiram malah berbusa, akhirnya kesel dia buang sepatunya. Gue sama almarhum udah nungguin si Andre di lobby. Pas si Andre turun ke lobby dia akhirnya pake sendal sambil marah “Anjing sepatu gua di shampoo-in!” Hahaha. Emang barbar sih tapi menyenangkan. Apalagi ya? terutama urusan kentut sih kalau sama Eben. Almarhum terkenal kentutnya selalu paling bau. Gue juga sering banget kena prank dia. Kadang kamar hotel kita itu dapet yang sekasur. Nah pagi-pagi dia kentut di selimut hotel yang tebal, dia kumpulin sampe puas, terus dia buka selimutnya pagi-pagi. Gue lagi tidur sampe bangun saking bau nya “Anjing bau pisannn!” Hahaha…

 
 
Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Agung archives, Discogs & Burgerkill Instagram
Layout by Prita

Siapa sangka kamu akan menemukan boxset Sonic Youth atau vinyl Miles Davis di sebuah pusat belanja grosir kain, peralatan kantor dan makanan? Musik Antik adalah salah satu spot digging favorit di kota kembang ini, dan bagi sebagian record collectors, Musik Antik merupakan sebuah hidden gem dimana kamu bisa menemukan rilisan-rilisan rare dari Yanti Bersaudara first press sampai Sunn O))). 



Terletak di Balubur Town Square, atau yang banyak dikenal dengan sebutan Baltos, record store ini cukup strategis, walaupun hidden in plain sight karena bersebelahan dengan beberapa toko reparasi printer dan service telepon seluler. Musik Antik mulai membuka gerainya di baltos dari tahun 2012 sampai sekarang, Agustus 2021 ini. Sebelumnya, Nunu Nugraha (owner Musik Antik), bergerilya dengan menjual CD dan kaset di trotoar BIP pada tahun 1998-2003. Sekitar tahun 2004-2007 Nunu berkerja di toko kaset antik Cipaganti (yang sekarang sudah tutup). 



Pada tahun 2008-2011 Nunu kembali tergerak untuk membangkitkan kembali Musik Antik dengan berjualan secara online dari kostan. Sekarang bahkan Musik Antik pun sudah membuat akun di marketplace seperti Tokopedia, yang tentunya menjadi pilihan utama para pembeli luar kota untuk browsing koleksi Musik Antik selama pandemi ini. 



Menariknya, ketertarikan Nunu terhadap berbagai ragam genre musik membuatnya sebagai sosok ramah yang enak diajak mengobrol. Pengetahuan musik era ’70 sampai ‘90annya yang hampir menyerupai ensiklopedi musik banyak membuat beberapa pelanggannya lupa waktu selama berbelanja di tokonya. Apalagi Nunu pun cukup piawai dalam mereparasi turntable dan ampli, tentunya servis inilah yang tidak dimiliki beberapa toko vinyl lainnya. 



Tidak hanya CD, kaset dan vinyl saja, variasi barang yang dia jual pun lumayan banyak: dari action figure Metallica McFarlane, soundsystem McIntosh atau NAD, speaker-speaker besar, turntable Lenca sampai kaos dan poster band vintage. Segeralah kunjungi Musik Antik dan nikmatilah suasana digging yang nyaman sambil mencoba musik-musik favoritmu yang akan terdengar lebih mantap dari soundsystem dan speaker Musik Antik yang akan memanjakan telinga para audiophile…

Musik Antik, Balubur Town Square Lt.1 Blok F no. 09, Bandung

Words by team JEURNALS
Photos from Musik Antik archives