Aries, Brand luxury streetwear asal London berkolaborasi dengan Umbro untuk merilis capsule-collection secara terbatas untuk koleksi S/S 2021-nya. Produk-produk limited edition ini tentunya dikurasi dan di design oleh duo founder Aries, designer fashion Sofia Prantera dan seniman grafis Fergus Purcell. Koleksi dan artikel-artikel Aries Arise selalu berada di antara streetwear dan high-end couture fashion, dengan pengaruh dari kultur punk dan rave ’80 sampai ‘90an. Untuk koleksi dari kolaborasi Aries X Umbro ini, mereka terinspirasi dari kultur Football dan gabber-rave (sejenis musik electronic hardcore yang berasal dari skena rave Belanda). 

 


 
Beberapa artikel dan style yang menarik dari koleksi ini adalah jersey football dengan fitur pola grafis berwarna merah, pink dan biru. Pola ini juga terdiri dari bentuk-bentuk dan dots yang kontras. Dengan fitting yang nyaman dan sedikit oversized, ada kancing di kerah dan ada juga berbagai pilihan dari lengan pendek sampai long-sleeves. Set training yang terdiri dari jaket zip-up dan celana pasangannya yang memiliki corak monokrom striking dan tie-dye hitam, ala gabber-rave.

 

 

Koleksi Aries dengan sport brand heritage Umbro ini juga bertujuan untuk membuat fashion football yang genderless. Range dari jersey, sweat pants, hoodie dan jaket tie-dye ala corak splatter cat ini memang sangat mencolok. Dihargai dari £100 dan £275 (sekitar 2 sampai 5 juta rupiah), capsule collection ini menggabungkan style comfort ala estetika Aries pada printing produk nylon-nya, dengan design praktis ala Umbro yang ready to wear. 

 

 

Campaign dan foto editorial pun di shoot oleh Lea Colombo, yang dikenal lewat hasil fotografinya yang sangat berwarna mencolok, sesuai dengan produk koleksi ini. Dengan shot-shot close-up yang intim sampai editing efek yang memperlihatkan style gabber-rave. Sofia Prantera mendapatkan inspirasi dan ide untuk koleksi ini dari bermain sepak bola bersama anjing-anjingnya. Selagi melakukan riset dengan Lea Colombo selama lockdown, karena tidak bisa bermain sepakbola di lapangan Sofia mencoba bermain bersama anjing-anjingnya sambil mengetes kenyamanan artikel-artikel pakaian koleksi ini. Sofia juga terinspirasi dari foto-foto Messi yang bermain sepakbola bersama anjingnya dan juga seniman asal Belanda, Rineke Dijkstra. 

 

Koleksi ini di launch pada akhir Juni bertepatan dengan ronde lanjutan dari Euro 2020. Bagi kamu yang beruntung bisa mendapatkan koleksi training jacket Aries X Umbro ini sebelum kehabisan, maka tidak ada salahnya menggunakan koleksi ini untuk menonton pertandingan Persib berikutnya setelah lockdown.

 

Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita
 
Mari berbincang dengan Merdi, ½ dari Diskoria dan juga sempat tergabung di band shoegaze “urban legend” dari Jakarta, Sugarstar. Simak perbincangan kami mengenai single baru Sugarstar, kolaborasi dengan Iwan Fals, spot-spot hangout terbaik di Jakarta dan Bandung versi Merdi, dan tentunya proses penggarapan album Diskoria…

 

Halo Merdi! Apa kabar? Sepertinya sedang sibuk mengerjakan proyek Studio Pop ya? Ceritakan sedikit tentang Studio Pop dan kolaborasi-kolaborasinya

 

 

 

Halo Aldy, kabar gue baik, semoga lo dan keluarga juga dalam keadaan baik ya. Studio Pop iya nih, tapi sebenarnya untuk season 2 sih itungannya sudah rampung ya, tinggal tunggu lagunya rilis secara resmi aja di kanal digital. Jadi untuk Studio Popnya sendiri sekarang paling dalam tahap preliminary membahas rencana season berikutnya aja. Untuk detail kolaboratornya jujur masih dalam pembahasan sih, jadi belum ada nama pasti. Sekedar info Studio Pop itu kaya wadah kolaborasi antar musisi, seniman, penyanyi gitu dan kebetulan Diskoria adalah host-nya. Untuk pemilihan kolaborator memang bisa datang dari industri yang diluar musik juga, asal dirasa cocok spirit dan karakternya.

 

Sudah sampai mana nih proses pengerjaan album Diskoria?

 

 

Diskoria sekarang masih dalam tahap menyicil lagu buat album sih, masih tahap awal banget hitungannya. Setiap minggu sebisa mungkin kita kumpul untuk update progress lagu-lagunya. Tapi kita juga masih harus menyelesaikan beberapa project yang harus rampung sebelum album sih, masih berhubungan dengan single-single yang sudah rilis sebelumnya, semacam follow up promo setelah rilis gitu lah kira-kira.

 

Setelah berkolaborasi dengan Dian Sastro, Joe Taslim, Eva Celia dan Afifah Yusuf, siapa lagi yang sedang diincar untuk kolaborasi? Dengar-dengar sedang mengerjakan proyek dengan om Iwan Fals juga ya?

 


 

Untuk di beberapa lagu yang akan datang memang banyak nama yang rencananya mau diajak kolaborasi

 

Bagaimana dengan single yang dikerjakan dengan FLEUR! dan Tara Basro? Ceritakan sedikit mengenai konsep dan proses awal mula kerjasamanya

 


 

 
Kalau Tara lebih karena kita semua selalu suka dengan karya dia di film-film yang dia kerjakan, dan kalau kita pantau di media sosialnya, kelihatan juga kalau Tara juga punya passion di musik, dia suka nyanyi dengan referensi yang ada elemen retrospective-nya, jadi kayaknya seru kalo diajak isi vokal di lagu gitu. Untuk FLEUR! karena sebelumnya kita sudah pernah kerja bareng Yuli (bassist Fleur!) di penggarapan single Simfoni Rindu yang featuring Joe Taslim dan Fathia Izzati. Jadi kebayang bakal seru kalau kolaborasi dengan mereka full band. Akhirnya kita masuk studio bareng aja, ngobrol referensi musik dan akhirnya kebayang mau dibawa kemana musiknya gitu.

 

Selain Diskoria, ada kesibukan apa lagi nih? Club-club ditutup, bagaimana lo sebagai musisi dan selektor menyikapi ini?

 

 

Sekarang ini gue bersyukur banget masih ada kerjaan sampingan jadi music director salah satu grup FNB di Jakarta, jadi walaupun ga ada DJ gigs/events, gue masih bisa kerja seperti mengkurasi playlist untuk di outlet-outlet restoran. Selain itu juga ada beberapa kerjaan lepas yang masih berhubungan sama musik sih, jadi untungnya walaupun di rumah tapi masih bisa beraktivitas yang tetap berhubungan sama musik gitu.

 

Kabarnya Sugarstar baru rilis single baru ya? Congrats! Apakah ini sesi rekaman baru atau stok lagu lama yang dirilis dan di mastering ulang?

 

 
Thank you! Jadi sebenernya ini lagu lama yang dirapihin lagi sound nya sama Joseph (frontman Sugarstar), sama beberapa lagu lain juga. Judulnya “Tellabye”, tapi sebelumnya lagu ini kesebutnya dalam judul “Bitter Kiss”.

 

Kemana aja Sugarstar selama ini? Gimana ceritanya Sugarstar terbentuk sampe jadi urban legend di skena shoegaze lokal?

 


 

Sugarstar itu terbentuk di tahun 2001 atau 2002, personilnya rata-rata teman sekolah di SMA (beberapa saling kenal dari SMP juga). Waktu lulus SMA di tahun 1999 kita sempat bikin semacam tribute band untuk Smashing Pumpkins gitu (maklum anak SMA 90an hahaha). Tapi kemudian bandnya sempat berhenti karena Joseph (vocal/guitar) dan Sulung (guitar) di tahun 2000 itu pergi ke luar negeri untuk sekolah. Selang 1 atau 2 tahun kemudian mereka kembali ke Indonesia dan langsung membuat materi lagu bareng. Di situ gue (bass) dan Haryo (drums) yang juga tergabung dalam band sebelumnya akhirnya ikutan lagi. Selang beberapa waktu juga akhirnya gue ajak seorang teman di band gue yang lain; Christ (guitar) untuk melengkapi formasi jadi 3 gitaris biar soundnya lebih rame gitu. Bedanya dari band yang dulu, di band yang ini kita langsung mengulik lagu sendiri. Dan karena Joseph sepulang dari Jerman juga bikin studio Sinjitos, akhirnya lagu-lagu ini sekaligus bisa direkam juga, dan jumlahnya banyak banget sih, kalau tidak salah sampai 60 lagu sudah terekam.

 

 

 

Kalau akhirnya sampai jadi bahan omongan itu bisa dibilang karena faktor “apes” band-nya kali ya, hahaha karena hard disk Joseph crashed dan tidak ada backupnya. Jadi tidak ada official release apa-apa selain ikutan di 2-3 album kompilasi. Sedangkan materi lagu yang saat itu sudah terlanjur beredar di antara teman-teman dekat malah dapet respon yang bagus. Nah waktu itu impactnya ke band jadi kaya ada sedikit pergantian direction music; semacam mau bikin fresh start lagi gitu, yang akhirnya membuat beberapa personel memilih untuk tidak ikut melanjutkan (termasuk gue) dengan alasan karena keterbatasan skill kali ya hahaha. Akhirnya band ini jadi stagnan aja, dan jadi tenggelam di kesibukan masing-masing. Padahal orang yang saat itu udah denger demonya jadi pada ngobrolin lagu-lagunya, malah sampai ada yang ngebuatin myspace tribute page gitu, dari situ akhirnya malah jadi dibilang “band mitos”; band yang hanya diobrolin di tongkrongan saking minimnya informasi selain beberapa foto dan lagu yang beredar di internet hahaha.

 

Ada beberapa cool spots favorit untuk hangout?
 
Kalo gue dulu sebelum pandemi selalu ke Zodiac atau ke Slits sih, weekdays gitu abis meeting-meeting mampir dulu sebelum pulang. Kalo lagi di Bandung gue suka banget ke Peels sih. Selain karena kenal sama orang-orangnya, di tempat-tempat tadi itu kaya gue bisa dapet knowledge baru soal music gitu juga. Kaya di Zodiac, gue kan ga begitu dengerin jazz, tapi pas kesana hari Selasa biasanya ada acaranya Bergas (Insound) yang muter macem-macem jazz dan turunan interpretasinya, jadi seru denger musik baru yang gue belum pernah denger sebelumnya sambil ngobrol sama temen gitu.
 

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Merdi archives , Wahyuacum & Diskoria.Selekta
Layout by Prita
Street artist legendaris Futura 2000 menuntut The North Face (TNF) karena diduga meniru motif dan style signature Futura dalam koleksi terbarunya TNF yang bernama FUTURELIGHT.  Futura Mengklaim TNF mengkopi design atom miliknya yang sudah bertahun-tahun menjadi trademark secara ilegal. 

 

 

TNF menggunakan logo atom yang mirip dengan design Futura pada seri outerwear waterproof mereka bernama FUTURELIGHT.  Tentu saja, team JEURNALS pun melihat beberapa kesamaan pada kedua design atom ini. Bentuk dasarnya sama, dengan outline yang membedakan atom standar dengan style Futura, dan penggunaan warna kontras dengan desain putih dan latar yang gelap.

 

 

Setelah pihak Futura berbulan-bulan mencoba bernegosiasi dengan TNF dan menuntut atas dasar pelanggaran hak cipta, Futura akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi mengenai update kasus ini. Pihak Futura hanya menginginkan TNF untuk menarik kembali semua produk mereka yang menggunakan logo FUTURELIGHT, karena design Futura tersebut sudah established dalam karya-karya lamanya dan banyak digunakan untuk kolaborasi antara Futura dengan pihak-pihak lain.

 

 

Awalnya Futura mengetahui TNF menggunakan simbol atom yang menyerupai karyanya ini karena komunitas kreatif dan para penggemar Futura mengirim pesan DM di Instagram menanyakan apakah TNF berkolaborasi dengan Futura. TNF pun mencoba mengintimidasi Futura untuk mengganti semua fee pengacara TNF atas “penuduhan” ini. Menurut beberapa pakar seni, kesamaan dalam design grafis dan penggunaan nama FUTURE ini bukan merupakan suatu kebetulan.

 

 

Pihak Futura pun mengeluarkan statement bahwa TNF dengan sengaja menggunakan kemiripan ini untuk mengasosiasikan produknya dengan Futura. Kasus ini pun di submit ke pengadilan pusat California dengan tujuan akhir agar pihak TNF menarik kembali semua produk FUTURELIGHT dari pasaran. The North Face sering sekali berkolaborasi dengan brand-brand keren seperti Supreme sampai Maison Margiela, dan TNF pun memiliki reputasi yang baik di kalangan streetwear sampai high-fashion. Menurut Jeff Gluck, pengacara Futura, yang dikutip dari Artnet News, “Ini mungkin satu-satunya perbuatan TNF selama ini yang terlihat uncool”. Seniman veteran yang bernama asli Leonard McGurr ini juga sudah menjadi legenda di kalangan street-art dan streetwear, dengan kolaborasinya yang banyak. 

 

 

Futura sudah pernah collab dengan Nike, Uniqlo, Comme Des Garcons. Bahkan seniman ini pernah mendesign sebuah jaket custom untuk North Face pada tahun 2004. Sebagai seorang New Yorker sejati, Futura membuat namanya dikenal melalui design-design abstrak dan futuristiknya di kereta subway pada awal ‘70an (pada saat itu masih menggunakan moniker Futura 2000). 

 

 

Pada dekade setelahnya Futura membuat showcase di galeri-galeri bersama Keith Haring, Basquiat dan Kenny Scharf, mereka bertiga kadang disebut sebagai seniman subway. Mengutip kata-kata ikoniknya, Futura pernah berkata: “Ambisi untuk menjadi sukses secara finansial tidak menarik bagi saya. Saya hanya ingin mensupport keluarga saya dan mengurus anak-anak saya, dan ternyata, dibalik kesabaran saya, semua hal menjadi lebih baik bagi saya.” Bagaimanakah kasus ini akan berakhir? Karena keduanya, TNF dan Futura, adalah dua nama ikonik yang sudah legendaris. Semoga ada mediasi yang baik untuk kasus ini.

 

 
Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita
Mungkin kita mengenal Alvin Yunata dari band garage punknya Teenage Death Star. Tetapi banyak yang tidak mengetahui kalau ex-vokalis Harapan Jaya ini juga adalah seorang archivist kultur musik lokal. Dengan platform Irama Nusantara-nya, Alvin dan David Tarigan mengarsipkan dan melestarikan musik-musik nusantara lama yang obscure maupun mainstream. Kali ini Alvin mencoba merangkum sejarah sebuah gedung musik ikonik yang telah menjadi “kuil” bagi para penikmat musik underground dalam film dokumenternya, Gelora: Magnumentary of Saparua, yang dia kerjakan bersama teamnya Hazed TV. Selain itu, dokumenter ini juga berkolaborasi dengan Rich Music Online dan distorsiKERAS. Simak obrolan JEURNALS bersama Alvin berikut ini…

 

Apa yang membuat lo tergugah untuk membuat dokumentasi Gelora Saparua ini selain untuk pengarsipan?

 

 
Awalnya Khemod nelepon, dia dan tim Rich Music Online punya rencana untuk bikin dokumenter, dan Khemod minta gw yang handle. Awalnya punya niat untuk melanjutkan dokumenter “Membakar Batas” tapi mengingat tenggat waktu yang singkat dan lain hal sepertinya lebih baik mengganti judul dan tema. Akhirnya tema yang paling masuk akal dengan tenggat waktu yang singkat sepertinya tema Saparua dalam perspektif sebuah gedung. Tema tersebut menarik dan masuk akal. Selain memang secara personal gw punya cerita dengan gedung Saparua semasa SMA di tahun 1994.

Ceritakan sedikit proses development sampai syuting dan post-produksi film dokumenter ini…

 

Yang menantang memang masalah deadline 3 bulan, untungnya beberapa arsip khususnya era 90an memang sudah terkumpul dari bank film “Membakar Batas”, setidaknya tidak memulai dari nol banget. Itu pun kurangnya masih banyak banget, proses pengumpulan arsip memang selalu sangat menarik, arsip terus berdatangan sampai detik-detik akhir. Arsip yang paling sulit didapat yakni arsip-arsip di era 80-90 awal. Semua dikerjakan paralel, lab story adalah bagian awal yang paling berat karena perubahan cerita terus terjadi bahkan hingga masa-masa post production. Disamping itu ada masalah urusan hak cipta arsip dan lagu yang memakan banyak waktu.

Bagaimana kendala membuat film dokumenter di era pandemi?

 

 

 

Untuk urusan syuting masih tidak ada masalah karena toh tim produksi untuk ukuran film dokumenter tidak terlalu banyak kru, yang terpenting pengaturan jadwal narasumber yang sengaja dipadatkan di setiap hari dan kotanya. Hal yang paling terberat adalah ketika memulai editing offline yang bersamaan dengan libur lockdown lebaran kami terpaksa melakukannya via online, sangat menyulitkan sekali

 

Siapa saja team inti yang terlibat dan menggodok ide-ide sebelum proses syuting dimulai?

 

 

 

Saya membawa tim Hazed TV, kami memang pernah membuat dokumenter pendek Burgerkill berafiliasi dengan Amvibe. Hazed memang diarahkan untuk menjadi story lab, wadah bagi para penyuka audio dan visual serta film dokumenter budaya populer. Ada saya sebagai sutradara, Probo sebagai art director, Rio Tantomo untuk skrip dan cerita dibantu juga oleh Gerry dari Irama Nusantara yang juga mengepalai pengumpulan arsip.

Apa saja dokumenter luar dan lokal favorit lo? Mungkin Dig! yang membahas Dandy Warhols dan Brian Jonestown Massacre atau yang baru-baru seperti The Pedal Movie?

 

Banyak euy.. ya Dig! film yang menarik tentu. Namun untuk film ini gw lagi banyak nonton Tropicalia, Don’t Think I’ve Forgotten: Cambodia’s Lost Rock and Roll, Salad Days, Under The Influence: 2 Tone Ska, White Riot.

 

Bagaimana proses pengumpulan arsip foto dan video untuk dokumenter ini?

 

 

Lebih sulit mencari sih kalo memilih justru part yang paling seru, banyak banget yang udah terkumpul tapi sayang ga bisa keluar semua. Ya itu tadi seperti gw bilang bahkan ampe menit-menit terakhir masih banyak arsip yang berdatangan, bahkan setelah film beres mulai banyak lagi bermunculan hahaha…

 

Apa ada narasumber yang sempat ingin dimasukkan tetapi tidak jadi karena ada kendala?

 

Ya ada Gustaf Common Room. Adalah satu dan lain hal membuat beliau urung gabung. Untungnya beliau masih mau bantu dalam brainstorming awal.

 

Bandung disebut-sebut sebagai “kota musik” tetapi disisi lain proses perijinan gigs sulit dan juga minimnya venue musik. Bagaimana pendapat lo?

 

 
Saya membawa tim Hazed TV, kami memang pernah membuat dokumenter pendek Burgerkill berafiliasi dengan Amvibe. Hazed memang diarahkan untuk menjadi story lab, wadah bagi para penyuka audio dan visual serta film dokumenter budaya populer. Ada saya sebagai sutradara, Probo sebagai art director, Rio Tantomo untuk skrip dan cerita dibantu juga oleh Gerry dari Irama Nusantara yang juga mengepalai pengumpulan arsip.

Beberapa gigs Saparua yang berkesan buat lo?

 

Gw cuma punya 3, tapi bukan berarti yang lain gak berkesan ya…
– Pensi SMA 2 tahun 1994 karena itu panggung gw pertama saat itu gw masih kelas 2 SMA dan tergabung dalam big band SMA 2 yang gw inget banget abis gw perform ditutup 2 bintang tamu Puppen dan Roxx.
– Hullabaloo 1 paling berkesan acara yang punya diversitas yang cukup luas bisa liat The Waves, Full of Hate, Pure Saturday dalam satu panggung. Salah satu momen yang akhirnya membuat gw berniat mendalami alternative dan britpop.
– Ticket To Ride mungkin itu terakhir gw menginjakkan nonton konser di Saparua tahun 2001, acara yang paling sempurna dalam segala sisi dari band pengisi acaranya, kompilasinya dan juga gerakannya.

 

Band-band favorit lo era saparua apa saja? Ada yang lo harapkan untuk reuni?

 

Runtah, Turtles Jr, Full of Hate, Closeminded, Koil, Electrofuxx, Puppen, Sieve, Pure Saturday mostly di genre punk rock, hardcore, alternative. Wah yang mesti reuni siapa ya kayaknya gak usah deh biar jadi kenangan aja, kalo bisa ada video show jaman dulunya itu lebih keren hahahaha…

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Alvin archives
Layout by Prita
Ini adalah beberapa item pilihan team Jeurnals yang mungkin bisa menjadi referensi buyer’s guide kamu. Dari buku yang berisikan logo-logo record label Asia Tenggara, gitar Yamaha favorit John Frusciante, poster karya almarhum Bapak Supomo (Seni Kanji), sacoche bag dari Based Club, kaos tie-dye Easthood sampai beberapa rilisan fisik pilihan kami. Here goes…

 

 

Peace Freedom merilis buku yang mengarsipkan logo-logo record label dari label-label Asia Tenggara setelah sebelumnya merilis buku label-label rekaman Indonesia A-Z. Logo dari label-label obscure asal Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia dan negara-negara lainnya bisa kamu temukan disini. Penggunaan kertas warna-warni dan layout buku ini cukup menarik, tentunya ini salah satu buku esensial untuk para music-geek dan music aficionado. Dengan layout ciamik dan hasil riso printingnya, buku 160 halaman garapan Munireng ini tentunya wajib kamu miliki. Sebuah coffee table book yang menarik untuk ditaruh di ruang tamu.

 

 

 

Poster berukuran A2 (60 x 42cm) ini adalah salah satu art print Seni Kanji yang dijual secara terbatas. Hanya dicetak sebanyak 300pcs dengan nomor seri,  poster bertuliskan “Langit Tak Perlu Menjelaskan Bahwa Dirinya Tinggi” ini dicetak secara offset dengan bahan art paper 230 gram. Sebagai home decor, tentunya poster berukuran besar ini akan eye catching, palagi ditaruh sebelah tanaman monstera kamu. Nilai plusnya kamu pun akan terlihat seperti orang bijak yang betul-betul memahami quotes tersebut.

 

 

 

 

Yamaha SG2500 adalah penyempurnaan dan modifikasi dari seri Yamaha SG sebelumnya berdasarkan hasil kolaborasi mereka dengan gitaris Carlos Santana, Santana yang dikenal menggunakan SG2000 dan juga signature gitarnya yaitu SG175. Fitur yang dimiliki SG2500 adalah fitur paling ideal sebuah gitar electric, yaitu konstruksi neck thru body dengan kombinasi material mahogany dan maple dengan ebony fretboard yang merupakan kayu dengan kualitas premium, disisi elektrikal Yamaha SG2000 menggunakan open humbucker yang di desain spesial dengan 3-points adjustment, dan fitur keren lainnya yaitu push-push split coil untuk mencapai fitur single coil yang menjadikan SG2000 adalah gitar yang sempurna fitur termutakhirnya adalah dengan penambahan sustain plate yang ditanam tepat dibawah saddle senar untuk hasil sustain yang lebih panjang. Bahkan dari melimpahnya fitur tersebut banyak orang menjuluki SG2000 sebagai Les Paul Killer.

 

Banyak sekali gitaris yang menggunakan Yamaha SG sebagai senjata andalan mereka dalam recording ataupun diatas panggung, selain Santana, ada nama-nama lain seperti Issey Noro dari Casiopea, John McGeoch dari Siouxie and the Banshees dan Public Image Ltd., Bob Marley, Bill Kelliher dari Mastodon, Jeff Schroeder dari The Smashing Pumpkins, hingga John Frusciante yang terkenal dengan Fender Stratocaster kemudian beralih, menggunakan dan mengkoleksi ke Yamaha SG.

 

 

 

 

Sendal Ahsen Black rilisan Easthood ini terbuat dari material lotto polyester dan menggunakan aplikasi sablon polytex. Detailing orange pada strap dan logo Easthood yang disablon memanjang semakin membuat item ini eye catching dan tetap low-key disaat yang sama. Dengan insole soft flex dan outsle heavy, Ahsen sangat nyaman dipakai tetapi tetap memiliki eksterior rigid yang kuat untuk dipakai ke gunung, berjalan jauh atau bahkan sekedar beraktivitas sehari-hari. This sandals is the right thing to wear for any occasions

 

 

Olson Sacoche Bag dari Based Club ini memiliki colorways yang unik: perpaduan royal blue, hijau dan broken white. Dengan material sherpa polyester, para-cord stopper dan detailing poket luar yang menggunakan logo dari karet, tentu saja ini adalah salah satu rilisan Based Club yang sebaiknya tidak kamu lewatkan. Dengan dimensi 27 x 19,5cm, ukuran tas ini terasa pas dan praktis untuk dipakai sehari-hari dalam setiap kesempatan. Keamanan barang-barang kamu aman juga dengan kompartemen full zip tertutup dan dengan adanya tambahan pocket didepan, kamu bisa membuat semua barang esensial kamu cukup dengan tas ini.

 

 

 

Band alt-rock pendatang baru ini baru saja merilis debut albumnya ‘Bloodsports & Modern Arts’ yang berisikan 11 tracks beraroma space-rock, jangly indierock, shoegazing sampai post-hardcore. Dirilis oleh Disaster Records, album ini juga cukup asik untuk disetel dengan volume kencang dengan mixingan yang cukup keren dari Adhit Android. Selain itu, art direction dan design yang dikerjakan A.K. dan di layout oleh Herry Sutresna membuat kemasan CD ini semakin menarik. For fans of: Cheatahs, Swervedriver, Hum, Adorable.

 

 

 

Unit hardcore Jakarta ini merilis mini album pertamanya melalui Greedy Dust records. Pressing 7” pertamanya hanya dicetak sebanyak 50pcs dan kabarnya sudah sold out. Tapi rilisan ini juga tersedia dalam format kaset yang masih bisa kamu dapatkan. Mereka memainkan hardcore ‘80an ala SSD dan The F.U’s. Kabarnya mereka juga sedang mengerjakan video klip dalam waktu dekat.

 

 

 

Salah satu artikel T-shirt dari koleksi terbaru Easthood yang bertajuk “Guilty Future” ini sangat eye catching dengan corak tie-dye hijaunya. Dilengkapi sablon biru dengan typeface yang mengingatkan kami pada Suicidal Tendencies dan ilustrasi raster molotov di backprintnya. Bahan katun 240gsm dan sablon cat plastisol, tentunya ini adalah salah satu T-shirt yang nyaman untuk dipakai sehari-hari.

 

 

 
Words & curated by team JEURNALS
Layout by Prita

Almarhum Pak Supomo (Fu He Po) adalah seorang pensiunan pabrik garmen kelahiran 1955 yang hobi menggambar dan belajar menggambar secara otodidak. Sepertinya seorang pelukis berumur 66 tahun adalah hal terakhir yang kamu pikirkan jika kamu melihat ilustrasi merchandise T-Shirt band Gabber Modus Operandi atau Lingkar Ganja Nusantara (LGN). Interview ini dilakukan pada bulan Juni, sebulan sebelum kepergian beliau pada 25 July 2021. Mari simak interview terakhir kita dengan Pak Supomo mengenai kesibukannya selama pandemi, kekagumannya terhadap Basuki Abdullah dan Creedence Clearwater Revival…

 

 Â 

 

Halo Pak Supomo. Apa kabar? Sibuk apa saja akhir-akhir ini?

 

Hello.. Baik. Gimana disana? Selama pandemi ini sibuk menggambar saja, kolaborasi sama seniman-seniman muda, sama brand-brand lokal yang keren-keren. Selain menggambar, saya mengisi waktu dengan membaca buku dan mendengarkan musik dari kaset pita dan juga dari youtube. Setiap pagi saya juga berolahraga, senam di taman dekat rumah.

 

 

Bagaimana awal mula menemukan passion untuk menggambar? Sempat berhenti berkarya berapa lama? 
 
Saya senang menggambar sebagai sarana untuk relaksasi saja setiap hari sepulang dari kerja. Sejak kecil tahun 1960 an sampai sekarang saya setiap hari selalu menggambar di kertas.

 

 

Mulai kapan menggambar dengan style yang digunakan Seni Kanji sekarang ini? Kenapa memilih hitam pada ilustrasi, kanji merah dan latin biru sebagai karakter?
 
Saya menggambar ilustrasi sejak kecil, tahun 1960 an.. Sebagai hobi aja sih.. Ga pernah pede sama karya sendiri karena kalo ngeliat karya orang lain bagus-bagus, beruntung sejak 2019 diarahkan oleh anak saya (Yulius Iskandar) untuk menggabungkan ilustrasi tadi dengan quotes-quotes dan huruf mandarin, akhirnya banyak yang suka. Pemilihan warna itu juga terjadi secara spontan saja yang akhirnya saya sendiri merasa nyaman dengan kombinasi warna biru-merah dan hitam tersebut hingga akhirnya terus menggunakan ketiga warna itu sebagai ciri khas warna Seni Kanji hingga saat ini.

 

 

Tema-tema apa saja yang diangkat di ilustrasi dan caption-caption Seni Kanji?
 
Rata-rata saya menggambar tema yang terjadi sehari-hari saja di kehidupan, baik itu di dunia nyata maupun maya (online). Untuk tema besar setiap karya Seni Kanji biasanya awalnya datang dari anak saya, Yulius, lalu kita diskusikan dan brainstorming bersama-sama.

 

 

Sudah berkolaborasi dan mengerjakan komisi untuk siapa saja?
 
Kalo untuk project music: Sir Dandy, Gabber Modus Operandi, The Panturas, Muchos Libre, Iwan Fals, dll. Untuk brand: SSST, Vearst, Berak, Sepatu Compass, Lingkar Ganja Nusantara, Kamengski, Toidiholic, dll.

 

 

Yang paling banyak untuk coffee shop / kedai bakmie / resto, diantaranya: Hagia Terra, Kopi Pasar Lama, Satu Pintu, Bakmie Tjo Kin, Mee Pandjang Umur, Kedai Juru, Diantara Kopi, dll

 

 

 

Pelukis atau seniman favorit Pak Supomo siapa saja?

 

Basuki Abdullah, Chu Sin, Nyoman Nuarta.

 

Apa tips-tips Pak Supomo untuk anak-anak muda yang baru memulai berkarya? 
 
Kalau kamu suka menggambar, konsisten aja terus, nanti juga lama-lama ketemu karakternya.

 

 

Bagaimana pendapat Pak Supomo mengenai semakin buruknya pandemi corona ini? 

 

Ya udah terima aja, tapi tetap patuh pada protokol kesehatan ya. Makan dan istirahat cukup, jaga imun tubuh dengan tetap berbahagia melakukan hal yang kamu suka.

 

 

Apakah ada pesan bijak bagi generasi millenial?
 
Jaga kesehatan supaya badan tetap bugar hingga tua nanti. Rajin berinvestasi untuk masa depan. Bergaul seluas-luasnya dengan berbagai kalangan.

 

 

Pertanyaan terakhir, album-album favorit pak Supomo sejak muda dan yang baru-baru apa saja?
 
Saya mendengarkan CCR (Creedence Clearwater Revival), Tom Jones, Pat Boone, Victor Wood, Edi Peregrina, Engelbert Humperdinck, Cliff Richard, Conny Francis, Conway Twitty, The Beatles, Tety Kady, Koes Plus, Erni Djohan, Titiek Sandora & Muchsin Alatas.

 

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos Lisdianto @brez84
Layout by Prita
Mari berbincang dengan Ykha Amelz mengenai brand fashion-nya Dibba, comic strip Babbot-nya yang ikonik, dampak positif NFT bagi para seniman dan kekaguman-nya kepada Eva Green..

 

 

 

 
Halo apa kabar Ykha. Lagi sibuk apa aja nih selama pandemi? Ada perubahan signifikan semenjak pandemi ini?

 

Halooo.. Sempat berasa kaya survival mode di awal-awal pandemi, parno parah, makan terus, kerjaan pada ke-cancel. Tapi untungnya tengah-tengah malah mengarah ke perubahan yang lebih baik kalau ke gue pribadi. Gue jadi bisa lebih fokus ngembangin karya secara fisik dan digital dibandingkan beberapa tahun terakhir sebelum pandemi. Tahun lalu dan tahun ini akhirnya jadi tahun kolaborasi Babbot tersibuk buat gue karena itu.

 

Mungkin karena treatment penyakitnya sudah lebih jelas dibanding tahun lalu dan vaksin mulai menyebar malah (masyarakat) pada jadi lebih santai ya… kalo gue sih masih tetep parno sih jujur aja. Vaksin kan bukan berarti jadi kebal sama penyakitnya. So stay safe everyone.

 

 

 

How do you stay sane with all the deadlines and the crazy pandemic situations in Indo?

 

I don’t… Hahahahaha. I guess none of us are really sane anymore right now.

 

Crypto dan NFT lagi rame nih. Bagaimana reaksi lo melihat seni yang berbentuk materi kedepannya akan digantikan oleh seni digital yang hanya bisa dinikmati lewat layar hp/laptop saja? How’s the future of the art world in this digital age?

 

Menurut gue sih gak akan tergantikan, karena anggaplah satu sama lain berbeda dimensi. Gue rasa seni secara fisik tidak akan tergantikan begitu saja, metaforanya mungkin seperti menikmati main game fisik dan main game online, berbeda rasanya dan kenikmatannya. NFT memberi kesempatan dan platform kepada creator-creator digital untuk dihargai secara sama dengan creator fisik, bukan cuma dijadikan konten saja. Selain itu yang gw rasa merupakan point plus-nya adalah tidak adanya middle man pada transaksi NFT, creator sendiri yang bisa menentukan cara penjualan dan harga NFT-nya, dan seniman akan selalu mendapatkan royalty dari setiap penjualan secondary oleh kolektor-kolektor karyanya dan berlaku seumur hidup. Dari yang gue sudah lihat sejauh ini, adanya NFT berhasil membentuk sebuah komunitas yang saling suportif di dunia digital dan juga menjadi sebuah bentuk semangat baru dalam berkarya, dua hal yang sepertinya mulai pudar karena efek negatif social media.

 

 

Ceritakan sedikit dong tentang brand Babbot lo.. Sekarang udah mulai jual di marketplace juga ya?

 

Babbot adalah karya yang paling jujur dan paling menyenangkan bagi gue. Dimulai dari iseng-iseng gambar anjing gue, yang namanya memang Babbot, tiap lagi lelah sama deadline-deadline gambar lainnya. Tanpa sadar sketsa-sketsa kecil ini semakin banyak, dan kemudian merambat menjadi comic strip/meme yang suka gue share di socmed. Senangnya adalah ternyata banyak orang yang terhibur sama gambar-gambar Babbot ini (apalagi mereka yang sudah terbiasa melihat Babbot aslinya yang seliweran di socmed gue), mereka ngerasain yang gue rasain, terhibur dengan adanya Babbot 🙂

 

Lalu lama-lama mulailah ada demand untuk karya-karya yang berhubungan dengan Babbot, hingga mengarah ke merchandise, buku, lukisan, collectable toy, dan kolaborasi-kolaborasi berbagai produk lainnya dengan beberapa brand. Product development Babbot gue nguliknya berdua sama suami gue, Hendra. Untuk retail dan marketplace merchandise Babbot kita sempat bekerja sama dengan BLAB Bandung, KeepKeep, Museum Macan, Dialogue Artspace, dan yang paling baru ini masuk ke marketplace Sonderlab.

 

Mengenai DIBBA, gimana awalnya DIBBA terbentuk?

 

Bermula di tahun 2014, pas lagi makan pizza bareng Faisal (partner gue di DIBBA), dia lempar ide gimana kalo kita coba bikin clothing brand berbasis print. Dia sangat passion soal fashion dicombo dengan gue yang passion untuk ngembangin ilustrasi gue. Semenjak hari itu kita partneran dan terbentuklah DIBBA. Sempat ada dua partner juga yang berperan di 2 tahun pertama Dibba, Swaragita Andhika dan Claudia Adinda yang kini sudah jadi full-time mom dan Claudia sekarang tinggal di Singapura. 

 

Konsep DIBBA sebetulnya sesimple kita cuma ingin bikin koleksi yang vibrant, wearable art yang bisa dipakai sepanjang hari dengan pola desain yang kita sendiri suka untuk pakai. Print dan desainnya berisi variasi konsep dan cerita yang ingin kita sampaikan dari mulai budaya atau sejarah Indonesia yang dikombinasikan dengan estetik yang modern, hingga sesederhana inspirasi dari apa yang kita lakukan sepanjang karantina kemarin: makan dan tidur. Akhir April kemarin kita baru saja mengeluarkan koleksi baru berjudul ’Quarantine Dreams’, dari koleksi ini cukup membuat kita jadi ingin develop ke arah produk-produk homeware juga.
 

 

 

 

Belakangan ini, Jack Dorsey (founder Twitter) menjual tweet pertama dia sebagai NFT. Almarhum musisi MF DOOM menjual AR topengnya sebagai crypto art sebelum meninggal dan seniman seperti Daniel Arsham saja mulai menjual crypto art. Apa lo sudah mulai merambah juga menjual NFT dan crypto art sekarang?

 

Yesss.. Gak pernah ada salahnya mencoba platform baru yang mensupport dunia kreatif. Beberapa marketplace NFT juga sudah mulai menerapkan sistem transaksi CleanNFT dan terus mencari solusi untuk lebih eco friendly, hope this can lead to a brighter future for crypto art.

 

 

 

Siapa aja seniman yang mencuri perhatian lo belakangan ini?

 

Roby Dwi Antono & Andre Yoga

 

You are a TV geek. give us some TV shows recommendations and tell us why that show is worth binge-ing…

 

-The Big Bang Theory:  Because I will always be a geek at heart. Terus gue tetep ketawa walau udah ulang-ulang terus nontonnya.
-Penny Dreadful: Because.. Eva Green.
-The Serpent:  Must watch. Inspired by real crime events.
-Raised by Wolves: Hooked from the start! Udah lama gak nonton sci fi sebagus ini, ceritanya kompleks dan visualnya keren banget.
-Tales from the Loop: Visually stunning sci fi series! Based from Simon Stålenhag art book.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Ykha archives
Layout by Prita
Disaster Records akhirnya mereissue 2 album Komunal yang cukup seminal pada masanya. Sebelumnya, “Hitam Semesta” Pertama kali dirilis dalam format cakram padat pada tahun 2008 oleh Progresiv Barbar Musik. Hitam Semesta adalah album kedua dari Komunal yang semakin mengukuhkan bahwa mereka adalah salah satu band Heavy Metal terbaik yang dimiliki Indonesia. Mereka telah memainkan musik stoner/doom dan sludge sebelum genre ini menjadi trendy di ranah musik lokal. Berisi 18 lagu yang ganas dan berat dengan lirik-lirik jujur dari Doddy Hamson secara apa adanya sesuai dengan kondisi sosial dan personal mereka. Riff-riff gitar M. Anwar Sadat yang memiliki hook-hook catchy juga patut diperhitungkan. 

 

 
 

 

 
Tema-tema lirik mereka menggambarkan kondisi Komunal pada saat itu yang memang sedang produktif dan berbahaya. Mungkin akan sulit bagi mereka bisa membuat album baru sehebat Hitam Semesta di masa sekarang, karena album ini merupakan benchmark tinggi yang bahkan mereka sendiri akan tertantang untuk melampauinya. Album ini bahkan masuk ke list 20 album terbaik 2008 versi majalah Rolling Stone Indonesia.

 

 

 

 
Komunal adalah band heavy metal yang banyak terpengaruh sound southern sludge dan stoner. Pada saat “Gemuruh Musik Pertiwi” dan “Hitam Semesta” rilis, Komunal beranggotakan Doddy Hamson pada vokal, Muhammad Anwar Sadat pada gitar, Arie Khomaini pada bass dan Rezha H.K. pada drum. Hitam Semesta dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam, kaset pita, dan cakram padat ganda (satu paket dengan album Gemuruh Musik Pertiwi), di mixing ulang oleh Edo Djatmika di Funhouse Studio, Bandung dan di mastering ulang oleh James Plotkin di Plotkinworks, New Jersey. Sudah tentu rilisan ini akan terdengar berbeda denga format awalnya dengan sound yang lebih baik. Dan untuk pengerjaan sampul album dan tata letak tetap oleh Morrg.

 

 

Sementara Gemuruh Musik Pertiwi dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam, kaset pita, dan cakram padat ganda (satu paket dengan album Hitam Semesta). Untuk format piringan hitam juga di mastering ulang oleh James Plotkin di Plotkinworks, New Jersey, format CD masih dari hasil mixing dan mastering format awal yang dikerjakan oleh Indra Q di Jakarta. Pengerjaan sampul album oleh Riandy Karuniawan dan tata letak oleh Morrg. Sebelumnya album ini pertama kali dirilis dalam format cakram padat pada tahun 2012 oleh Progresiv Barbar Musik. “Gemuruh Musik Pertiwi” adalah album ketiga dari Komunal yang terdengar jauh lebih matang dari 2 album sebelumnya.

 

 

Sound hangat ala stoner rock yang mereka definisikan sebagai “musik rawa”, tempo dengan beat yang pas dan lirik-lirik yang sebagian besar bercerita tentang keadaan sosial yang lebih umum dan tentunya masih relevan sampai saat ini. Ada 9 lagu yang sebenernya mampu membuat mereka sebesar Slank, bahkan ICEMA awards sempat menobatkan “Gemuruh Musik Pertiwi” sebagai album dan lagu terbaik di tahun 2012 untuk kategori “Best Rock/Hard Rock Song & Album”.

 

Tunggu apa lagi? Untuk para kolektor dan die-hard fans sudah tentu diskografi Komunal kamu tidak akan lengkap tanpa reissue versi vinylnya yang kabarnya stoknya sudah hampir habis pas tulisan ini ditulis. Dengan format piringan hitam, tentu saja artwork dan ilustrasi dari Morrg dan Riandy Karuniawan akan lebih terlihat detailnya. Dan remaster oleh James Plotkin ini sepertinya adalah sound Komunal yang paling ideal pada kedua album ini, dan tanpa mendengar versi vinyl ini, sepertinya kita belum mendengarkan “Gemuruh Musik Pertiwi” dan “Hitam Semesta” dengan baik dan benar. Go get ‘em now at Disaster records webstore. 
 

 

 

Words by Aldy Kusumah
Photo from Disaster Records archives
Layout by Prita

1. COLORS X STUDIOS (Germany)


 

COLORS X STUDIOS adalah sebuah platform musik dengan estetika yang unik. Mereka mempersembahkan talenta-talenta eksepsional dari seluruh dunia. Difokuskan lebih kepada showcase musisi-musisi baru yang memiliki sound original. Beberapa seniman mengakui setelah tampil di COLORS, karir mereka membaik dikarenakan mereka mendapat respon yang bagus di Instagram, plays Spotify yang naik dan meningkatnya engagement di Twitter. COLORS dimulai sebagai start-up yang dikendalikan 2 orang. Dibuat oleh Philipp Starcke dan Felix Glasmeyer pada tahun 2016, channel ini sudah menjadi salah satu tastemaker dan menjadi bagian vital ekosistem musik yang didominasi oleh major label dan platform-platform streaming. Dengan 40 juta views setiap bulannya, channel ini juga membesarkan Billie Eilish, Tom Misch dan Jorja Smith di awal karir mereka. Menemukan musik-musik baru di era sekarang sudah sangat berbeda dari eksplorasi kita 1 dekade lalu. Secara radikal, hari-hari digging di toko musik dan menyelami blog-blog obscure sudah lewat dengan adanya streaming platform dan Youtube. Dengan mengikuti channel yang satu ini, kamu akan menemukan sebuah pengalaman intim dari performa berbagi musisi, yang fokus kepada musisi dan lagunya. Dengan set yang minimalis, para musisi ini diberi kesempatan untuk menunjukkan kualitas dan merepresentasikan musik mereka tanpa distraksi.

 

 

2. Continue? (USA)

 

 

Continue adalah sebuah gaming channel yang sedikit unik dan berbeda. Simpelnya, Paul Ritchey, Nick murphy dan Josh Henderson memainkan sebuah game retro dalam waktu 30 menit, lalu mereka memutuskan apakah akan berhenti memainkan game tersebut atau melanjutkan (continue). 3 orang sahabat memainkan game oldschool sambil bercanda secara couch co-op tentunya akan membawa kita ke tahun 1995 dimana belum ada game yang memakai koneksi internet, dan semua game dimainkan secara tatap muka. Sebuah channel yang cukup menarik, membahas game obscure klasik seperti Dragon Breed, Ikari Warriors, dan Sunset Riders sampai yang populer seperti Zelda 2, Golden Axe dan Tony Hawk Pro Skater 2. Jangan takut, game-game butut seperti Shaq Fu sampai Captain Planet pun mereka mainkan (sambil diejek tentunya). Yang paling menarik adlah mereka melakukan ini semua bukan untuk review, tapi sekedar sharing mengenai game-game retro dan seolah mengajak penonton duduk di ruangan yang sama untuk menikmatinya. All in good vibes. Tentunya di setiap videonya, mereka tampak sedikit tidak sadar… 
 

 

 

3. SKATEISM (Athens)

 

 

SKATEISM adalah sebuah platform skateboarding dengan misi jurnalistik dan aktivisme. Ditemukan di Athena pada tahun 2012 sebagai sebuah majalah online, SKATEISM sudah didistribusikan dan dipublikasi secara internasional pada tahun 2017 dengan jejaring kontributor, fotografer dan skateboarder yang mendedikasikan diri untuk menjadi pemersatu kultur skateboarding itu sendiri. Sebuah platform bawah tanah yang cukup menarik dan juga terhubung antar satu sama lainnya. Video-video mereka selalu menarik, seperti membahas skater-skater perempuan dari Istanbul, kumpulan skateboarder dari Iraq dan tour NIKE SB X SKATEISM. Jika Berrics adalah euforia dari skill dan seni skateboarding, maka SKATEISM membahas kultur skate ini dari sudut pandang lain. Semua video mereka dikemas dengan kualitas dokumenter kelas dunia dan tentunya sarat akan informasi dan visual yang menarik. Walaupun upload video mereka masih belum masif, tapi tidak ada salahnya melihat beberapa video yang mereka tawarkan. You won’t regret it.
 

 

 

4. Mamank Kuliner (Indonesia)

 
 

 

Diantara banyaknya channel-channel dan food-blogger lokal, menurut kami channel Mamank Kuliner ini adalah salah satu hidden gems di Youtube lokal. Walaupun tidak sepopuler katakanlah, Nex Carlos atau JWestbros, channel ini memiliki konten-konten yang tidak kalah seru. Pembawaan si Mamank Kuliner yang tidak menempatkan dirinya sebagai expert kuliner justru membuat channel ini lebih humble dan nyaman untuk ditonton. Dari segi sinematografi, visual dan audio channel ini pun digarap dengan serius, dipenuhi oleh beauty shots makanan yang membuat kamu berliur dan segera memesan Gofood. Pemilihan backsoundnya juga menarik, channel ini bahkan bisa disebut lebih berkualitas dari channel-channel food-blogger lain. Walaupun lebih banyak mereview makanan dari rumah, Hanif kadang melakukan voice-over layaknya sebuah iklan fastfood di TV atau bahkan memberi voice-over dengan narasi ala dokumenter setiap mereview sajian street foodnya. Kebanyakan, video-video di channel ini dikerjakan seorang diri oleh Mamank Kuliner alias Hanif. Dia menshoot, membuat naskah, mengedit dan memakan semua makanan di setiap videonya. Nilai plus Mamank Kuliner adalah saat Hanif mengatakan alasannya lebih memilih mereview dari rumah saat pandemi adalah agar tidak menormalisasi-kan penonton untuk sering makan diluar di situasi pandemi sekarang ini. Setidaknya dia tidak hanya mengejar konten dan clout saja tetapi masih bertanggung jawab karena memiliki subscribers yang lumayan banyak.

 

 

5. Virtual Japan (Japan)
 
 

 

Channel-channel seperti virtual Japan ini sangat dibutuhkan dalam masa-masa pandemi, dimana sekarang travelling adalah hal yang berbahaya dan bukanlah sebuah prioritas. Jika kamu kangen jalan-jalan di Ginza, Tokyo, atau melihat street food di Dotonburi, Osaka, ya tinggal lihat saja video-video yang tersedia di channel ini. Dengan konsep virtual walk-nya, kamu akan serasa berjalan kaki di Jepang dengan kualitas video resolusi 4K. Tanpa narasi dan minim editing, channel ini akan membawamu untuk bernostalgia melihat nightlife di Shibuya atau jalan-jalan menelusuri gang-gang sempit di Shinjuku yang dipenuhi izakaya dan ramen bar. Bahkan untuk yang belum pernah ke Jepang pun, tidak ada salahnya untuk subscribe ke channel ini dan melihat nuansa yang ditawarkan disini. Dengan sound ASMR dan kualitas visual yang jernih, lapar mata mu akan terobati dengan seketika. Sebuah pengalaman virtual seolah kamu teleportasi dan tiba-tiba muncul ditengah Harajuku, ini adalah channel yang mengobati rasa kangen akan travelling, menyemangatimu untuk menabung atau bahkan sekadar melihat kehidupan sehari-hari orang di Jepang. Setidaknya sampai pandemi ini berakhir.

 

 

6. Audiotree (USA)

 

 

Audiotree adalah sebuah channel yang tentunya sudah tidak asing lagi. Sejak tahun 2011 channel Audiotree mengundang band-band dari berbagai genre seperti punk, indie rock, hiphop, sampai folk dan instrumental ke studio mereka untuk tampil live. Awalnya channel ini dibuat oleh audio engineer bernama Michael Johnston untuk mengundang band-band baru tampil di studio profesional tanpa dipungut biaya sepeserpun. Tentu saja ini akan menghasilkan engagement yang baik dengan band, ekosistem musik dan para fans. Dengan baik, performa mereka ditangkap dengan sinematografi yang profesional dan tata suara yang sangat bagus, karena background Michael Johnston di dunia audio engineering. Channel ini juga dibuat karena ketidakpuasan Michael karena banyak melihat performa live suatu band di Youtube dengan kamera amatir atau tata suara yang tidak memadai: antara terlihat bagus dan terdengar buruk, atau terdengar bagus dan terlihat buruk. Setelah Johnston bertemu partner bisnisnya Adam Thurston yang memiliki visi yang sama, mereka mulai menjalankan Audiotree dengan serius, bahkan sekarang sudah ada sekitar 800 band yang tampil di Audiotree dan 4 juta hits di channel Youtubenya. Sekarang bahkan Audiotree bisa membayar band-band yang tampil di channel mereka dan menjadi sebuah platform bagi fans untuk menemukan band favorit baru mereka. Temukanlah band favorit baru kamu di dan subscribe ke channel ini.

 


Curated Aldy Kusumah
Surf Nazis Must Die –  (Dir. Peter George, 1987)
 
Dirilis pada tahun 1987, Surf Nazis Must Die adalah sebuah film exploitation low-budget yang dirilis oleh Troma Entertainment, yang dikenal lewat The Toxic Avenger. Jangan salah, James Gunn (sutradara Guardians of the Galaxy) adalah alumnus dari Troma Entertainment. Film ini sangat mengibur dibanding eksekusinya yang konyol. Dengan rating 3 bintang dari IMDB, tentunya kita tidak bisa berharap banyak. Film ini tidak seperti tipikal rilisan Troma, tetapi memiliki tone yang lebih serius. Walaupun serius akan terdengar konyol dengan judul seperti Surf Nazis Must Die, film ini digarap dengan baik oleh Peter George. Bercerita mengenai California era futuristik yang telah berubah menjadi wasteland yang dikuasai oleh komplotan surfer jahat. Gang surfer yang paling ditakuti adalah Surf Nazis yang dipimpin oleh Führer pantai bernama Adolf, yang diperankan oleh Barry Brenner. Adolf pun dilindungi oleh anak buahnya yang menggunakan tangan besi bernama Hook, yang ditampilkan di poster film ini. 
 
 
 
Beberapa chase scene di 20 menit terakhir film ini pun memperlihatkan Adolf dengan impersonasi Jason Vorhees buruknya. Surf Nazis Must Die adalah film yang cukup kompeten untuk sebuah film low-budget. Bahkan di list ini, menurut saya ini adalah film terbaik. Sebuah film exploitation untuk para penggemar action ‘80an, dan film ini berhasil menjadi hiburan ringan tanpa menjadi ironis seperti Sharknado atau The Room. Para aktor di film ini berperan dengan baik dan dialog di film ini menurut saya ditulis dengan baik. Walaupun memiliki tema yang aneh dan struktur plot yang nyeleneh, film ini dapat dinikmati dengan mudah. Departemen soundtrack yang dibuat Jon McCallum pun sangat menarik dengan synth ala John Carpenter (vinyl OST film ini banyak dicari oleh kolektor). Grab some beers and see this one with friends. 

 

Robo Vampires –  (Dir. Godfrey Ho, 1988)

 

Robo Vampires adalah film yang sangat buruk. Melihat judul dan posternya saja mungkin sebagian besar orang pada umumnya akan menghindar jauh-jauh dari film ini. Untungnya saya tidak termasuk ke kategori orang-orang yang menghindari film ini, bahkan sempat menonton film ini 2 kali. Robo Vampire bercerita mengenai agen narkotika Tom WIlde yang berubah menjadi tiruan murahannya Robocop. Pada posternya saja mereka menggunakan ilustrasi yang jelas-jelas memperlihatkan Robocop, padahal visual robot dalam film ini jauh berbeda. Haha. Robot, vampir cina, kartel narkoba dan action bela diri memenuhi film aneh ini, layaknya sebuah cocktail yang diisi dengan ide-ide buruk. Dengan bujet yang sangat-sangat rendah dan produksi super-amatir, mereka bahkan menggunakan beberapa adegan untuk diulang dalam scene-scene yang lain.  
 
 
 
Ditambah dubbing yang buruk dan tidak sync dengan mulut para aktornya, lengkaplah sudah keburukan film Robo Vampire ini. Beberapa adegan martial-arts dan koregrafinya justru terlihat baik, walaupun tidak impresif. Setidaknya para stuntmen dan aktor beladiri di film ini tahu apa yang mereka lakukan. Lalu ada adegan seperti Rambo dimana peluru tampak tidak habis-habis dan anehnya tanah selalu meledak setiap ada scene tembak-tembakan ini. Robot disini terlihat seperti cosplay yang buruk dan ada beberapa adegan gore untuk kamu yang menggemari film splatter. What a terrible movie. What a strange, terrible, beautiful movie.

 

The Room –  (Dir. Tommy Wiseau, 2003)

 

The Room dan Tommy Wiseau menjadi cerita sentral didalam film komedi The Disaster Artist (2017). Diperankan oleh James Franco sebagai Tommy, The Disaster Artist memperlihatkan bagaimana film buruk ini dibuat dan menjadi sensasi cult. Film ini bahkan dilabeli sebagai disasterpiece (bukan masterpiece) oleh para fansnya. Dirilis pada tahun 2003 dengan aktor-aktor yang tidak dikenal: Juliette Danielle, Greg Sestero dan Tommy Wiseau, yang berperan, menjadi produser eksekutif, sutradara dan juga menulis film ini. Bahkan sampai sekarang masih menjadi misteri siapakah Tommy Wiseau ini, karena dia tiba-tiba muncul dan membuat film dengan dana sendiri. Bahkan ada gosip bahwa kabarnya dia menggelapkan uang mafia untuk membiayai film ini.
 
 
 
Film ini menampilkan skrip dan dialog yang sangat buruk, plot yang tidak masuk akal dan 3 adegan seks yang sangat-sangat tidak perlu (adegan seks pertama tiba-tiba ditampilkan dalam 10 menit di awal film). Pada satu scene, ada seorang karakter yang berkata bahwa dia kena penyakit kanker, tetapi hal itu tidak di mention lagi di seluruh film. Mungkin pada awalnya Tommy Wiseau berniat membuat drama yang serius, tetapi film ini berakhir menjadi film komedi yang sampai sekarang membuat saya tertawa sampai sakit perut setiap menontonnya. Di Amerika, bahkan ada perkumpulan penggemar film The Room yang menscreening film ini di bioskop pada tanggal tertentu. Ya, film yang mendapat rating 23% dari Rotten Tomatoes dan 2 bintang IMDB ini adalah sebuah cult sensation.

 

Plan 9 From Outer Space – (Dir. Ed Wood,1959)

 

Plan 9 From Outer Space bukanlah film pertama Ed Wood dan ini bukanlah film terburuk dia, tetapi ini adalah film Ed Wood yang sangat enjoyable dan gampang untuk dinikmati. Dan jangan salah sangka: karena ini bukanlah film terburuk Ed Wood, tetap saja ini adalah film yang sangat buruk untuk standar Hollywood, karena Ed Wood adalah sutradara yang dikenal sebagai sutradara terburuk di Hollywood pada masanya. Bahkan Tim Burton dan Johnny Depp (yang memerankan Ed Wood) membuat film berjudul Ed Wood yang plotnya adalah membahas pembuatan film Plan 9 From Outer Space ini. 
 
 
 
Ed Wood adalah sutradara nyentrik yang hobi cross-dressing dan memakai pakaian istrinya saat menyutradarai. Dia dikenal dengan proses shooting nya yang cepat. Adegan buruk dan akting buruk pun tidak dia ulang dan langsung lanjut syuting ke adegan berikutnya. Konon Ed Wood membereskan syuting suatu film dalam satu hari saja. Hasilnya adalah film ini: UFO yang terbuat dari piring kertas, setting kardus yang tampak jelas, mikrofon audio yang bocor ke kamera, dialog dan akting buruk, aktor-aktor yang terlihat membaca naskah, editing stock footage yang awkward dan kostum seadanya. Jika vampir, alien dan robot dalam satu film membuatmu penasaran untuk menontonnya, ya, ini adalah film untukmu!

 

Sharknado –  (Dir. Anthony C. Ferrante, 2013)

 

Siapa yang menyangka konsep se-absurd ini bisa dijadikan film. Dari judul saja, Sharknado adalah gabungan dari kata shark dan tornado. Dan sebagai sutradara yang menepati janjinya, Anthony C. Ferrante menampilkan tornado yang menerupai ikan hiu di filmnya. Terlepas dari casting aktor-aktor yang lumayan dikenal seperti Ian Ziering dan Tara Reid, anehnya Sharknado mendapat rating 78% di Rotten Tomatoes (tidak seperti film lainnya di list ini). Setidaknya sutradara Anthony C. Ferrante dan penulis skrip Thunder Levin tau apa yang mereka lakukan di film ini dan dengan bangganya mempersembahkan film kelas B movie ini kepada para penonton channel TV Syfy.  
 
 

 

Ya, ini adalah film TV yang dengan sengaja memang dibuat agar menyerupai B movie, tapi dengan hasil yang lebih menyerupai film kelas C atauh bahkan D karena terlihat sangat amatir. Sharknado juga sudah menelurkan 5 sekuel (!!!) dan 3 film spinoff. Ajak teman-temanmu, sediakan snack dan minuman dingin, lalu nikmatilah Sharknado dengan ekspektasi yang sangat rendah.

 

Road House –  (Dir. Rowdy Herrington, 1989)

 

Seorang sahabat dekat merekomendasikan film Road House ini dan ternyata dia menyukai film ini tidak sebagai guilty pleasure yang ironis, bahkan menyebut film ini sebagai salah satu film favoritnya. Sederhananya, film ini bercerita mengenai seorang bouncer klab malam yang diperankan Patrick Swayze (Ghost, Point Break, Dirty Dancing). Karakter ini terlihat seperti orang paling cool di seluruh jagat raya dan hal ini adalah sesuatu yang lumrah untuk film-film action rilisan 1989.  
 
 
 
Film ini dipenuhi dialog one-liners yang cringe, ledakan yang muncul (walaupun seharusnya tidak ada ledakan) dan plot yang.. Ah, lupakanlah tentang plot. Pada suatu scene, Swayze membunuh seorang pria secara kasual dengan menggunakan tangan kosongnya untuk menyobek tenggorokan sang musuh, layaknya sebuah adegan dari game Mortal Kombat. Road House mendapatkan 5 penghargaan Razzie. Razzie adalah penghargaan untuk film-film jelek, antitesis dari piala Oscar. Ya, saya pun setuju dengan sahabat saya yang merekomendasikan film ini. Road House adalah tontonan esensial ketika kalian mencari film action ’80an yang buruk.
 
Curated & compiled by Aldy Kusumah
Layout by Prita