Sepertinya Supreme dan The North Face tidak bisa berhenti untuk berkolaborasi dan mempersembahkan drop-drop tech-gear khas mereka. Untuk season Spring 2021 ini, mereka kembali berkolaborasi untuk merilis shell jacket dengan detailing lapisan tape, coach jacket, mountain pants dan camp caps. Koleksi ini akan menjadi suatu outfit weatherproof yang breathable jika dikombinasikan.  

 

 
 

 

 
Sebuah outfit outdoor yang fungsional ala TNF dan tetap terlihat stylish layaknya koleksi Supreme tradisional. Ditambah backpack route rocket khas TNF, maka dapat dipastikan barang bawaan kamu akan tetap kering dan bersih bahkan dalam kondisi cuaca tidak menentu sekalipun. Ada juga neck pouch mini yang bisa menjadi fan favorite para kolektor Supreme. 

 

 
 

 

Koleksi ini dirilis pada 27 Mei kemarin di Amerika dan Eropa, sedangkan untuk Jepang mendapat tanggal rilis berbeda yaitu 29 Mei. Supreme dan TNF rupanya sedang gatal untuk berkolaborasi, padahal pada bulan maret kemarin mereka baru saja merilis koleksi  jaket outdoor puffer dengan print tebal dan colorways yang menarik. Kolaborasi mereka sebelumnya menghasilkan Nuptse jacket, Nuptse vest, Nuptse pants dan Nuptse blanket dengan 3 colorways: merah, biru dan hitam. Koleksi ini cukup digemari karena menggunakan bahan berkualitas seperti breathable nylon dan juga memiliki fitur anti air.

 

 

Seluruh item di drop ini sangat layak untuk dikoleksi dan tentunya sangat eye catching. Dengan colorways metallic gold dan pink untuk visibilitas tinggi saat sedang camping di gunung dengan cuaca buruk. Dengan seam yang menggunakan tape, mereka juga memastikan fungsi anti air jaket ini berfungsi optimal dan tetap menghangatkan tubuhmu dalam cuaca buruk sekalipun. Bahkan pada detailingnya ada logo Supreme pada bagian brim shell jacketnya.

 

 

Rupanya Supreme tidak berhenti untuk melakukan kolaborasi besar, dan kolaborasi dengan The North Face ini jelas langkah berikut yang mereka ambil setelah melakukan kolaborasi masif dengan Timberland apparel. Kolaborasi ini mengambil tema Summit Series-nya TNF. Sebuah koleksi signature TNF yang didesain untuk dipakai dalam cuaca dingin yang ekstrim dan dataran tinggi. Kali ini dibuat dalam range yang terbatas untuk Supreme dengan sentuhan streetwear mereka yang stylish. Ada juga sweatpants dan crewneck dengan logo di bordir yang tentunya nyaman untuk dipakai dirumah pada musim dingin.    

 

 
 
Backpack route rocket-nya menggunakan fitur nylon Shredstop 420D yang mempunyai durabilitas tinggi. Bahkan neck pouchnya memiliki detailing jendela kaca transparan dan tentunya memiliki fungsi water-resistant juga seperti jaket-jaketnya. Sepertinya ini adalah suatu koleksi fungsional yang mempunyai estetika tinggi.This is a drop you must cop! 

 

Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita
Kuintet hardcore dari skena Baltimore ini mengejutkan para penggemarnya dengan merilis EP berisi 4 lagu “Turnstile Love Connection” secara tiba-tiba. EP ini berisi 4 track seperti “HOLIDAY”, “MYSTERY” (yang baru-baru ini dirilis), “NO SURPRISE” dan T.L.C. (Turnstile Love Connection)”. Ya, semuanya menggunakan ALL CAPS karena sepertinya mereka kerasukan hantu MF DOOM. Menariknya, mini album ini juga didampingi dengan film pendek yang disutradarai vokalis Turnstile; Brendan Yates. 

 

 

 

 
Baru saja bulan lalu Turnstile merilis single “MYSTERY” yang merupakan single pertama mereka setelah merilis album Time & Space pada tahun 2018, yang juga menjadi album terbaik 2019 di beberapa situs dan majalah musik. Setelah menjadi band hardcore yang cukup besar (dan sempat dilabeli new kings of hardcore) dan menjadi personal favorite kami, band ini juga ternyata sudah mempersiapkan 3 single lainnya. Film pendek T.L.C. (Turnstile Love Connection) ini pun terlihat digarap dengan serius, terlihat dari produksinya yang memadai dan di shoot di berbagai kota dan lokasi selama beberapa minggu.

 

 Â 

 

Film pendek ini dibuka dengan shot sebuah lapangan baseball yang tidak terurus dan BAM! Lagu “HOLIDAY” dimulai seolah menendangmu tepat dimuka. Lagu ini memiliki riff-riff gitar yang catchy dan mengingatkan saya ke era rap metal tahun 2000an akhir.

 

 

 

Vokal Brendan Yates semakin mantap disini, dengan part yang mengingatkan saya pada Ad Rock dari Beastie Boys dan juga part bernyanyi yang membuktikan Brendan mempunyai range vokal yang luas. Seperti biasa telihat aksi enerjik Brendan, Daniel Fang, Pat McCrory, Brady Ebert dan tentunya Franz Lyons, yang tidak jauh berbeda dari penampilan liar mereka saat live.

 

 

 

Track berdurasi pendek “NO SURPRISE”  adalah Franz Lyons yang bernyanyi merdu ala part-part singing di lagu trap hiphop modern, lengkap dengan backsound ambient electronic. “MYSTERY “ menampilkan beatdown asik dan lead gitar dengan efek flanger yang basah. Dengan video yang menampilkan energi anak muda yang ditangkap dengan beberapa scene slo-mo, mengingatkan saya pada karya-karya Spike Jonze era ’90-2000an. Part ini juga menampilan Delia Parrish sebagai talent.

 

 

Segmen “T.L.C. (Turnstile Love Connection)” yang bertempo cepat mengingatkan kepada kejayaan oldschool NYHC, menampilkan Turnstile dengan performa livenya di sebuah ruangan tertutup, dan terlihat seperti di shoot menggunakan handy-cam ‘90an. Turnstile memang terdengar dan terlihat seperti band yang mendobrak batas dan genre. Kalian akan mendengar berbagai pengaruh dan influens di lagu-lagu EP ini. Turnstile pun selalu terdengar seperti band punk yang menyukai Bad Brains, Refused dan Jay Z pada saat yang sama. Dengan visual fashion menggunakan Polo Ralph Lauren sampai Supreme, Yep, mereka selalu menjadi yang terdepan.

 

 

 

Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita
Sudah jelas kalau Kyle Ng, co-founder Brain Dead adalah seorang cinephile (penggemar film). Dia juga adalah seorang horror movie buff yang film favorit sepanjang masanya adalah Alien buatan sutradara Ridley Scott. 2 sutradara favoritnya saja adalah Dario Argento (Suspiria) dan Paul Verhoeven (Robocop). Bertahun-tahun sebelum Brain Dead dibuat, Kyle Ng pindah ke Los Angeles untuk membuat film dan video musik, tetapi mimpinya terhambat oleh kendala finansial. Sehingga ketika Kyle membuat brand fashion Brain Dead, yang produk-produknya dia gunakan sebagai salah satu caranya untuk bercerita. Dengan semakin besarnya Brain Dead, Kyle mempunyai kapabilitas untuk membuat konten semakin banyak.
 

 

Walaupun popularitas Brain Dead berkembang dari kolaborasi masifnya dengan brand-brand besar seperti A.P.C. dan The North Face, Kyle Ng tidak pernah melupakan cinta pertamanya: sinema. Para die-hard fans Brain Dead pasti tahu kalau beberapa artikel awal T-Shirt Brain Dead mengambil referensi ke poster-poster film horror dari Ghana yang dilukis dengan tangan. Beberapa film pendeknya pun yang memperlihatkan makhluk luar angkasa dan boneka kayu di kolab mereka bersama Reebok pun sangat memperlihatkan kecintaan Kyle Ng terhadap dunia sinema.

 

 

Film-film cult adalah estetika sentral dari brand Brain Dead, jadi secara alamiah, langkah berikut mereka tentunya adalah membuka bioskop mereka sendiri dengan film-film hasil kurasi Kyle Ng. Pada bulan oktober, lokasi Silent Movie Theater di 611N Fairfax diambil alih dan dibuka menjadi Brain Dead Studios. Bisnis baru ini berharap bisa mempersembahkan film-film keren, musik terkurasi dan seni/kultur ke komunitas Los Angeles didalam venue historikal ini, Brain Dead juga menyediakan toko yang menjual produk fashion mereka dan mengoperasikan sebuah restoran Vietnam di dalam bioskopnya.

 

 

 

Setelah sebelumnya membuat konten-konten dengan NTS Radio, Brain Dead Studios adalah respon yang tepat dalam situasi Covid-19 ini. Melihat banyaknya teater, venue musik dan bioskop yang tutup karena tidak bisa beroperasi lagi secara finansial, Kyle Ng memutuskan untuk mengkurasi program-program film dan musik yang akan berlangsung di Brain Dead Studios. Tempat ini juga ingin dijadikan sebuah cultural hub yang bisa menghubungkan komunitas-komunitas kreatif di LA. Bioskop ini pun dibuka dengan sebuah screening film horror klasik “Nightmare on Elm Street” yang kemudian di launch bersama produk-produknya.

 


 

 
Rencana kedepannya selain memutar film-film cult, Kyle juga ingin memutar film pendek, animasi, film-film art house, independen sampai film-film besar yang sedang diputar di bioskop mainstream. Selain merch Nightmare on Elm Street, mereka juga sempat membuat T-Shirt dari film “Dead Ringers” karya sutradara body-horror David Cronenberg, yang kaosnya sold out dalam hitungan jam saja. T-Shirt ini dirilis bersamaan dengan program film mereka “News Flesh” yang bertemakan film-film body-horror.

 

 

Words by Aldy Kusumah
Layout by Prita
Mufti Priyanka, atau yang biasa kita kenal dengan Amenkcoy adalah seorang ilustrator yang dikenal lewat karya sarkasnya yang menggabungkan kultur lokal dengan barat, dan juga sarat dengan sentimen sosial & politis. Amenk juga mengajar dan menjadi dosen disalah satu perguruan tinggi di Bandung. Mari berbincang sedikit dengan Amenk mengenai warteg favoritnya, Miles Davis, koleksi piringan hitam/kaset pita dan crypto art…
 

 


 

 
Halo Amenk. Apa kabarnya? Sedang sibuk dan mengerjakan aktivitas apa saja di masa pandemi ini?

 

Kabar baik nih… kebetulan kesibukan biasa dimasa pandemi ini mengajar daring, proyek kolaborasi, & berkarya Drawing. Masih sekitar-sekitar itu saja hehehe

 

Sekarang kan dunia seni lagi diramaikan oleh crypto art dan NFT. Bagaimana pendapat Amenk mengenai orang-orang yang membeli karya digital dan menjual karyanya secara digital? Apakah seni berbentuk materi dikemudian hari akan ter-digitalisasi? 

 

Ahh, iya fenomena terakhir-akhir itu lagi ramai yah. Pendapat aku sih syah-syah aja disatu sisi, justru dengan pendekatan seperti itu bisa menyederhanakan pendistribusian karya seniman ke khalayak lebih luas. So, kayaknya galeri bakal DIE sih hahahaha tapi entahlah. Nah perihal material seni bakal jadi lebih digital dikemudian hari itu pasti kayaknya, karena pendekatan tersebut relevan dengan kondisi masa kini.

 

 

Lalu bagaimana pendapat Amenk terhadap kasus Kendra Ahimsa yang kemarin sempat ramai karena ada yang menjual karya crypto meniru stylenya? Kabarnya terjual cukup mahal juga…

 

Ini semacam resiko besar yang dialami para seniman yang melintang karya-karyanya di jagat maya dan tentunya belum ada penanganan khusus perihal hak cipta secara spesifik untuk kasus Kendra. Dilematis, sementara kita sebagai penggiat seni perlu wadah mengenalkan karya-karya di jagat maya namun resiko dari fenomena crypto art menghantui setiap saat.

 

Apakah masih penting membahas originalitas di tahun 2021 menurut Amenk?

 

Sudah tidak begitu penting bagi saya pribadi… Ya, sederhananya yang dialami peradaban manusia pada saat ini ialah merupakan sebuah pengulangan-pengulangan dari era sebelumnya. Bentuk penemuan, kreasi, hingga fenomena ilmu pengetahuan pun lebih banyak mengeksplor hal-hal dari sebelumnya. Orisinalitas mutlak dipunya oleh zat satu itu…

 

Menurut pendapat pribadi Amenk, apakah dekonstruksi lazim dalam seni ilustrasi/design layaknya penggunaan sampling dalam musik hiphop? Menggunakan design-design yang sudah ada digabung menjadi suatu karya baru? Apa bedanya parodi, tribute dan homage menurut Amenk?

 

Praktek memodifikasi image dalam dunia ilustrasi maupun desain merupakan hal yang lazim menurut saya. Definisi modifikasi lebih mengadaptasi / menyadur dari spirit visual sebelumnya lalu disajikan kembali dengan bentuk varian yang lebih baru. Artinya si seniman pasti mempunyai kepekaan dari banyak sumber referensi yang melatari pemahaman ketika bereksperimen membuat sebuah karya dan mengkombinasikan semua itu dengan beberapa pendekatan tema / teknis maupun material.

bedanya parodi, tribut dan homage menurut saya beda-beda tipis sih… parodi lebih kepada teknis menyadur imaji dari sebelumnya namun cenderung menyajikan ulang lewat kesan humor atau jenaka. Sedangkan tribut dan homage mempunyai kemiripan istilah satu sama lain Kedua istilah tersebut merupakan sebuah bentuk respon dalam rangka menghormati seseorang / kelompok yang mempunyai sejarah prestasi dibidang tertentu dengan mengeksplor, menggubah, atau memperkarya khasanah karya sebelumnya dengan sajian lebih baru.

 

 

Bagaimana pengaruh pandemi ini terhadap kehidupan pribadi Amenk? 

 

Pengaruhnya banyak banget sih, terlebih pada saya pribadi yang terbiasa dikondisikan sangat mobile diluaran dan ketika masa pandemi ini justru segala sesuatunya dimonitoring dari rumah. Pekerjaan diluar mengajar cenderung sangat berkurang, seperti halnya: kegiatan workshop, berpameran, komisi melukis dinding, talkshow hingga kegiatan kolaborasi pun berimbas sepi. Masyarakat menurut saya sudah jengah dengan fenomena pandemi saat ini dikarenakan bersliwerannya data / informasi dari berbagai media yang sebetulnya tidak begitu baik dikonsumsi. Hal tersebut berimbas pada kesadaran masyarakat terhadap menjaga dan tetap waspada pada kontrol peningkatan perluasan Covid-19 itu sendiri.

 

 

 

Saya lihat Amenk mempunyai kegemaran meracik sambel. Coba rekomendasikan pada kami 5 tempat makan terbaik di Bandung favorit Amenk…

 

1. Warteg Bahari (Dago Simpang)
2. Sate & Gule RM Harris
3. Empal Gentong Cihapit
4. Katupek Kapau Rita Palasar
5. Warung Ceu Umin (Di bawah Jembatan Layang Pasupati Kebon Bibit – Tamansari, Bandung)

 

Kembali lagi ke crypto art, bukankah aneh jika membeli suatu karya seni yang hanya bisa dinikmati dari layar hp atau layar komputer saja? Bukankah karya seni lebih baik jika bisa dipegang atau dipajang untuk dinikmati?

 

Pada hakikatnya memang membeli sebuah karya seni lebih otentik dinikmati secara langsung, seperti halnya memajang ataupun meletakannya dimanapun kita senangi. Pendekatan dalam Crypto Art cenderung mempersingkat apresiasi terhadap bentuk secara keseluruhan. Makna menikmati karya seni dengan pendekatan Crypto Art ialah seperti halnya kita memaknai hal-hal yang tadinya “menjulang tinggi” dapat diakses secara mudah, efesien dan compact.

 

 


 

Bagaimana dengan hobby mengkoleksi piringan hitam dan kaset pita Amenk? Apakah hunting dan digging masih berjalan pada saat pandemi ini?

 

Untuk hobi yang satu itu tetap ditekuni hingga saat ini. Namun untuk masa pandemi ini, saya memanfaatkan kanal-kanal jagat maya dalam memperoleh informasi keberadaan rilisan fisik yang diinginkan. Lebih simpel, jadi tinggal order via Whatsapp dan kirim deh kerumah kita

 

Pertanyaan terakhir: Rekomendasikan 5 album terbaik yang Amenk putar saat sedang berkarya atau mencari inspirasi… 

 

Rekomendasi 5 album sebagai teman ketika saya berkarya, diantaranya:
1. Slowdive – Pygmalion (Creation records ©? 1995)
alasannya, materi-materi tembang di album ini cenderung deep, noisy, dan cenderung mengawang jadi cocok banget buat temen deadline ngerjain karya. Tau-tau karya rampung deh, saking gak kerasanya hehehe.
2. Dead Meadow – Dead Meadow (Tolotta records ©? 2001)
Alasannya, album perdana Dead Meadow ini cenderung lebih bold statement memainkan rock yang heavy, groovy stoner nan gagah ditambah mengalun manja mengawang mengisi ruang hampa dalam benak pikiran saya ketika berimajinasi sebelum mengekspresikannya kedalam bentuk karya.
3. Soft Machine – Third (CBS records ©? 1970)
Alasannya, album ini syarat dengan eksperimentasi musik rock progresif dengan sentuhan kental fusion jazz yang bikin betah nemenin saat-saat saya mengerjakan karya dengan bidang besar.
4. Yockie Suryo Prayogo, Feat. Chrisye – Jurang Pemisah (Aquarius Musikindo ©? 1977)
Alasannya, materi musik di album ini bervariasi secara aransemennya. Balutan rock progresif yang masif dipadu padankan dengan irama-irama janggal minor maupun mayor bikin isi materi-materi album ini lebih varian dan gak ngebosenin untuk dinikmati saat berkarya tentunya.
5. Miles Davis – Sketches of Spain (CBS records ©? 1959)
Alasannya, album ini cocok diperdengarkan saat berkarya ditengah malam hari dengan kondisi senyap, dingin lembab + hujan lebih cocok. Suka aja materi-materi di album ini karena kepiawaian Davis meracik ulang beberapa komposisi dasar lagu khas Spanyol disajikan ulang dengan gaya fusion jazz nan syahdu. Ahhh, keren… itu aja hehehe

 

 

Interview & words by Aldy Kusumah
Photo from Amenk archives
Layout by Prita
My Bloody Valentine baru-baru ini mempublish bahwa mereka telah menandatangani kontrak dengan Domino Records dan akan mereissue seluruh diskografi atau full catalog mereka dalam format vinyl. Band misterius ini juga akhirnya mengikuti perkembangan jaman dan telah berproses untuk mendigitalisasi seluruh lagu-lagu mereka dan menambahkannya ke semua aplikasi music streaming. Kini album self titled 2013 mereka, “m b v’ dan kompilasi EP 1988-1991 and rare tracks sudah tersedia di layanan streaming seperti Spotify. Kini band shoegaze influensial dan katalog rilisan Creation Recordsnya akan hadir di seluruh layanan streaming seperti Apple music, Spotify dan Youtube. Bahkan akun Instagram MBV pun terlihat memasang ads di IG dan juga aktif dalam memposting. Beberapa die-hard fans tentunya kecewa dengan marketing seperti ini, karena mereka MBV, dan legenda seharusnya lebih effortless dalam memasarkan produknya.

 

 

 

Domino Records dengan bangga mempersembahkan seluruh katalog MBV dalam format streaming untuk pertamakalinya, dan edisi fisik untuk setiap rilisan telah dirilis pada 21 mei 2021 kemarin. Isn’t Anything dan Loveless telah di-remaster dari analog untuk rilisan format deluxe LP dan juga mastering hi-res yang tidak dikompres untuk rilisan format LP standard nya. Bahkan track-track analog dari album “m b v” akan hadir pertama kalinya dalam format deluxe dan standard LP secara global. Tentunya sebuah pressing yang akan dicari para kolektor dan die-hard fans MBV. MBV juga sedang dalam proses untuk merestorasi seluruh video musik mereka dan melakukan premiere di channel Youtubenya untuk videklip seperti “Soon”, “To Here Knows When”, “Swallow”, “Only Shallow”, “You Made Me Realise”, dan “Feed Me With Your Kiss”.

 

Kompilasi EP 1988-1991 and rare tracks juga cukup dinantikan versi fisiknya oleh para fans karena didalamnya terdapat hidden gems seperti “You Made Me Realise”, “Feed Me With Your Kiss”, “Glider”, dan “Tremolo”.  Domino juga akan me-reissue 3 album MBV dalam format CD dan EP 1988-1991 dalam format double CD set. “Loveless” hadir dengan double CD set dan sleeve 6 panel. Debut album mereka “Isn’t Anything” (1988), “Loveless” (1991), dan “m b v” (2013) akan dirilis dengan format gatefold sleeves dan di press di heavyweight 180gr vinyl. Reissue “m b v” akan ada bonus 5 artwork prints (264mm x 264mm). Akan ada 2 versi dari setiap vinyl, yaitu versi digital dan deluxe, dimana versi deluxenya akan lebih limited dan sepertinya sudah sold out dimana-mana ketika tulisan ini ditulis.

 

 

Bagi yang belum familiar, MBV adalah kuartet shoegaze beranggotakan Bilinda Butcher (Gitar, Vokal), Kevin Shields (Vokal, Gitar), Deb Googe (bass) dan Colm O Ciosoig (Drums). Band ini dianggap seminal dan cukup ground-breaking pada masanya. Band ini berhasil menciptakan suatu sound yang terdengar futuristik dan klasik disaat yang sama. Teknik glide guitar yang dimainkan Shields dan Butcher terdengar sedikit fals tetapi bisa menciptakan ambient dan noise-wall yang mengawang sekaligus noisy disaat yang sama. Sound shoegaze yang kita kenal sekarang ini tidak bisa dipungkiri banyak terpengaruh oleh 2 album MBV yang dirilis pada tahun 1988 dan 1991. Mereka juda dikenal sebagai salah satu band dengan live-show “terkeras” selain Sunn O))). Disetiap konser mereka selalu disediakan earplug dan sebuah peringatan kalau earplug tidak dipakai, pihak penyelenggara tidak bertanggungjawab atas kerusakan telinga para penontonnya.

 

 

Kevin Shields juga baru-baru ini bersabda bahwa MBV akan merilis 2 album baru (!!!) yang prosesnya sedikit terhambat karena COVID. Kevin Shields menjanjikan kalau album barunya akan terasa “hangat dan melodius” sedangkan yang satunya lagi akan lebih eksperimental. Bilinda Butcher pun telah menjanjikan pada media kalau band ini akan membereskan sesi rekaman album barunya pada akhir tahun ini. Apakah album baru mereka akan keluar tepat waktu? Karena MBV mempunyai kebiasaan untuk mendelay rilisan mereka, bahkan pada saat merilis Loveless di tahun 1991 dulu, MBV nyaris membuat Creation Records bangkrut dengan budget studio yang membengkak (Kevin Shields hobi pindah-pindah studio dan mengulang sesi rekaman). Kevin Shields pun membuat pernyataan “I don’t want to be 70-something wanting to make the next record after m b v. I think it’d be cooler to make one now.”. Mari kita nantikan 2 album baru mereka, dan marilah menabung untuk mengkoleksi seluruh diskografi reissue mereka.

 

Untuk sementara, dengarkan diskografi mereka di Spotify dan cek juga restorasi videklip “Soon” di tautan dibawah ini:

 

 

Words Aldy Kusumah
Simak perbincangan kami dengan The Throne Room, sebuah toko yang menjual music related stuff dari vinyl, alat-alat musik (efek gitar, bass, gitar, aksesoris, etc) sampai ampli dan collectible items/toys. Didirikan oleh Deathless Ramz, yang juga merupakan seorang luthier atau artisan yang membuat gitar/bass dengan Doomwood Guitars. Dia juga tergabung dalam beberapa proyek musik seperti moniker solo doom/drone/noise nya Deathless, atau moniker techno/ambient/elektroniknya Profound Grief. Selain disibukkan dengan proyek musik alt/rocknya Nearcrush yang akan merilis debut albumnya via Disaster Records, Deathless Ramz juga memiliki future plans untuk mengembangkan The Throne Room menjadi sebuah fasilitas recording studio dan platform untuk para musisi/produser musik. 

 

 

 

 
Bagaimana awalnya memutuskan membuat Throne Room? Konsep awalnya seperti apa?

 

Berawal di tahun 2000an dari kebiasaan gw hunting dan mengkoleksi barang-barang, yang sebagian besar merupakan music related stuff, mulai dari rilisan fisik, merch band, sampe alat musik dan alat recording, selain itu ada juga toys dan collectible items lainnya. Nama The Throne Room sendiri gw pake mulai sekitar tahun 2008-2009 ketika gw mulai posting ke socmed Facebook pada saat itu dan ketika instagram mulai populer, gw bikin akun The Throne Room dan lebih sering posting di instagram. Konsepnya awalnya buat archive barang koleksi gw tapi ternyata mulai berkembang ke hal lain.

 

 

Apakah ada kesulitan dalam memanage banyaknya stock seperti efek gitar, ampli, parts dan lain-lain? Apa ada list inventory dan rutin di maintain atau pada awalnya sambil jalan saja?

 

Kalo kesulitan sih hampir sama kaya gear hoarder lainnya sih, masalahnya di space aja, kadang ada keinginan punya gudang besar buat jadi storage room dan ada studio space, kaya studionya Metallica atau Foo Fighters gitu oke sih kayanya hehe. Gw terbiasa mendata barang-barang yang gw dapet ke google sheets langsung, jadi semua data inventory lumayan lengkap mulai dari informasi data, sampe tanggal gw dapetin dan juga ketika gw jual.

 

 

Apa kendala dalam bidang bisnis jual/beli di The Throne Room?

 

Kendala nya sih klo ada yang rusak dan susah dibenerinnya atau susah dapet part penggantinya, alat tersebut jadi ga berfungsi. Selain itu paling kalo gw dapet barang yang sangat gw pengenin tapi terkendala shipping yang mahal. Pernah nih gw dapet ampli head dan cabinet yang gw mau sejak lama tapi ternyata biaya shipping nya mahal, karena gw pengen banget, gw ambil resikonya yaitu biaya shipping lebih mahal dari harga beli barangnya. Selain itu kalo gw terpaksa jual barang favorit, suka berat hati, karena effort pas dapetinnya susah ato barang-barang yang ada historynya, kadang suka nyesel aja hehe.

 

 

Top 5 pedal efek gitar favorit dan top 5 wishlist yang belum kesampaian?

 

Top 5 efek favorit:
1. Roland Space Echo RE-201
2. Zvex Fuzz Factory Hand painted
3. Ehx Big Muff 90’s reissue
4. VFE Alpha Dog
5. Eventide H9 Max

 

Top 5 efek yang belum kesampaian:
1. Maestro Echoplex EP-3
2. Klon Centaur
3. Vintage Deluxe Big Muff
4. Moogerfooger Analog Delay
5. Eventide H9000 Rack

 

Lo juga berprofesi sebagai guitar builder dan mempunyai brand gitar Doomwood. Ceritakan sedikit tentang awal mula Doomwood dan bagaimana rencana berikutnya…

 

Iya dari beberapa koleksi ampli vintage dan gitar butik yang gw punya gw terinspirasi buat bikin Doomwood, awalnya gw pengen bikin head amp dan custom cabinet, tapi biaya R&D-nya (research & development) ternyata lumayan gede dan projectnya harus tertunda, kemudian gw beralih ke custom guitars, karena kebetulan gw ada basic bisa ngedesain dan gw punya temen yang jual part gitar premium dan pickups butik, dari situ gw coba bikin prototype dan minta tolong temen-temen gw yang gitaris buat cobain manggung, ternyata banyak yang suka. Akhirnya beberapa gitar prototype tersebut ada yang menjadi andalan mereka di panggung dan beberapa akhirnya dibeli juga oleh mereka. Selain itu banyak juga yang akhirnya inquiries untuk order, puncaknya ketika gw di interview oleh Reverb.com, orderan sampe flooding, dan kita sebagai builder kecil cukup overwhelmed. Bahkan suatu hari pabrik brand gitar besar sempet kontak gw dan kita beberapa kali meeting, mereka nawarin Doomwood buat produksi massal, waktu itu mereka ngajak bikin 100 ribu gitar, tapi mereka minta gw buat nurunin standard kualitas Doomwood, gw keberatan dan hal tersebut ga pernah terjadi. Setelah sempet break karena pandemi, Kedepannya Doomwood bakalan mulai produksi small batch buat series guitar dan bass, kita juga bakalan bikin efek pedal series, dan aksesoris yang masih seputaran gitar dan pedal efek seperti guitar case, gigbag, pedalboard, strap, dan lainnya.  Oh iya, Doomwood juga mempunyai divisi record label yang baru-baru ini merilis Sacred Witch, sebuah band baru yang terdiri dari member Ssslothh, Daud, dan ALICE.

 

 
 

 

Siapa saja yang di support oleh Doomwood selama ini? Kenapa memilih orang-orang tersebut untuk merepresentasikan Doomwood?

 

Doomwood support beberapa gitaris yang sebagian besar merupakan teman baik gw, ada Andika Surya dari ALICE dan Collapse, Angga (Taring & Ssslothh), Alyuadi dari Heals, Tiong dari Tools of the trade & Code Error, Haikal Azizi (Sigmun & Bin Idris), Jay dari Detention, Pandu Morfem & Zzuf, Raja Humuntar (Revenge & Amerta), Achack dari Sang Matahari Tidur Mati, dan nama lain seperti Nicky dari Nothing, Ayi Peewee Gaskins, Angee Grrrl Gang, Robi Navicula dan banyak lainnya yang udah mencoba Doomwood dalam panggung-panggung live mereka. Alasannya adalah karena kebetulan mereka berteman baik dengan gw dan juga gw butuh feedback dari mereka untuk kepentingan R&D Doomwood.
 

 

Sekarang sepertinya sedang menggeluti modular sebagai hobby/racun baru. Apa alasan awal ketertarikan lo terhadap modular?

 

Haha iya, gw kadang perform dan membuat album, gw juga saat ini aktif sebagai sound designer untuk beberapa project termasuk scoring untuk games dan film. Dulu basic system/setup gw kebutulan adalah theremin, desktop synth, drum machine dan sekumpulan efek, yang setupnya selalu bertambah dan berubah seiring waktu dan progresi musik yang gw mainkan, terkadang setupnya melibatkan terlalu banyak gear. Sekitar tahun 2015 gw mulai beralih ke format semi modular dan gw mulai planning untuk pindah ke format Eurorack/Modular Synth, gw melihat peluang untuk bisa bermigrasi ke full eurorack karena bisa memangkas size ke ukuran yang lebih kecil dengan fungsi yang sama, bahkan lebih banyak. Pada tahun 2019 gw menyelesaikan system eurorack dan mulai perform bahkan showcase dalam rangka peluncuran album gw kemaren. Bahkan dengan sistem tersebut gw lebih aktif dalam berkarya dan tampil live, selain itu komunitas Indomodular sangat supportif dalam berbagi pengetahuan dan juga sukses dalam meracuni gear seputar eurorack modular.

 

 

 

Lo juga cukup sibuk dengan proyek-proyek bermusik. Sebutkan dan ceritakan band-band dimana lo terlibat didalamnya.. 

 

Oh iya kebetulan gw juga merupakan performing artist di ranah drone/ambient dan noise, dengan moniker Deathless yang tahun ini akan merilis split album bersama modular artist bernama Baseput yang akan dirilis oleh Blank Orb. Beberapa tahun terakhir juga gw tertarik dengan music electronic terutama techno dan mulai membuat komposisi dengan moniker Profound Grief yang baru saja merilis debut single “Budh Perangai” di kompilasi V/A “Arsip 001” bersama dengan para produser/DJ dari beberapa kota di Indonesia yang dirilis oleh Non Archive sebuah label asal Bali. Gw juga saat ini tergabung di Nearcrush bersama temen gw Aldy (ex-gitaris Jolly Jumper) dan vokalis/gitaris Kevin Sidartha, sebuah unit 90’s alt-rock/indie-rock yang berawal dari kegemaran kita atas lagu-lagu era tersebut yang berkembang menjadi lagu-lagu yang kita tulis bersama dan sudah merilis 3 buah single dalam bentuk digital dan sebuah cassingles, Nearcrush rencananya pertengahan tahun ini akan merilis debut album oleh Disaster Records. Sementara band Sludge/Doom gw Vrosk, saat masih dalam dalam kondisi defunct karena para membernya yang tinggal di kota yang berbeda, walaupun terakhir kita punya beberapa materi baru.

 


Terakhir, ada rencana apa saja untuk mengembangkan Throne Room?

 

Rencananya The Throne Room akan membuka offline store dan jasa service musical instruments terutama gitar dan amplifier dan juga akan berkembang menjadi sebuah fasilitas recording studio dan platform untuk mendukung para produser muda dan band-band dari Bandung dan kota lainnya.

 

Interview Team Jeurnals
Photos from The Throne Room archives
Popstoreindo adalah sebuah unit dagang yang berdiri sejak 2014 dan memiliki tagline: “Kami Menjual Kejutan! “. Didirikan oleh Yulius Iskandar, yang selain mengurus Popstoreindo juga memiliki kesibukan memanage beberapa talent seperti Seni Kanji (Pak Supomo) dan Bottlesmoker. Dia juga aktif membuat aktivasi baik online maupun offline. Popstoreindo adalah one-man army yang menganut prinsip D.I.Y. dan mengerjakan segala sesuatunya secara independen. Selain menggunakan logo yang mengadaptasi logo Royal Air Force, kalau membutuhkan design extra Yulius membayar komisi lepasan ke teman-teman. Baru-baru ini Popstoreindo pernah bikin kehebohan karena menjual Surat Cerai Soekarno – Bu Inggit seharga Rp. 25 Miliar 
 

 

 

Barang apapun, bekas ataupun baru, kuno, retro, vintage, klasik, atau apapun sebutannya, semua memiliki nilai tersendiri. Hal inilah yang dilihat sebagai peluang oleh Popstoreindo, maka dari itu janganlah heran, kamu bisa menemukan apapun di Popstoreindo. Dari sepatu Docmart sampai Zippo, dari kacamata Rayban sampai cangklong Dunhill, dari turntable Technics sampai mobil Mini Cooper, semua pernah laku dijual di instagram @popstoreindo. Barang-barang Popstoreindo juga sering disewa & dibeli untuk kebutuhan property, foto product, wedding / pre-wedding, syuting iklan, video klip, web series, sampai film. Sebut saja video klip Glenn Fredly, Petra Sihombing, Angsa dan Serigala, Jolly Jumper, Anarcute, sampai Iris Bevy. Sementara, film-film seperti Pengabdi Setan, AADC 2, Dilan 1990,  dan web series Asrama Dahlia (Tinder South East Asia) juga pernah menyewa dan membeli property unik dari Popstoreindo.

 

 

Yang unik, di Popstoreindo kamu bukan cuma bisa membeli barang, tapi juga bisa menjual, titip jual, tukar tambah, dan bahkan barter. Ya, kamu bisa menawarkan barang kamu kesana. Popstoreindo juga dikembangkan Yulius menjadi divisi-divisi lain seperti Popstoreindo Gadget, Popstoreindo Apparel dan departemen F&Bnya Popstoreindo Kitchen. Kolaborasi juga merupakan hal yang esensial dalam spirit Popstoreindo, dimana Yulius sudah berkolaborasi dengan Isa Panic Monsta, Invictus, Senikanji, Eyesouth, Good Tees, dan beberapa venue bazaar / thrift market di Bandung & Jakarta.

 

 

Saat ini Popstoreindo menempati toko di The Hallway Space Pasar Kosambi Bandung. Sebelumnya Popstoreindo juga sudah pernah menempati lokasi lain seperti Pasar PSPT Tebet Timur Dalam, Jakarta Selatan (2014 – 2015), Pasar Antik Cikapundung Bandung (2015 – 2019), Rumah Musik Harry Roesli Bandung (2019 – 2020), sampai sekarang menetap permanen di The Hallway Space Pasar Kosambi Bandung yang memiliki semangat kolektif dan vibes bisnis-bisnis retail baru yang segar.

 

 

Untuk info lebih lanjut silahkan langsung aja follow instagram @popstoreindo atau kontak Telepon /  Whatsapp ke 08122385759

 

Words Aldy Kusumah
Photos from Popstoreindo archives
Layout by Prita
Nike menuntut MSCHF Product Studio, sebuah art collective yang berbasis di Brooklyn New York, karena produk Satan Shoes mereka dianggap melanggar undang-undang hak cipta. Satan Shoes adalah kolaborasi antara MSCHF dengan musisi Lil Nas, yang merupakan sebuah custom Nike Air Max 97 yang dimodifikasi dan dipasarkan sebanyak 666 pasang. Seluruh 666 pasang tersebut telah terjual dalam waktu satu menit saja, dimana satu pasangnya dijual dengan harga $1,018 (sekitar 14 juta rupiah). MSCHF pun tidak merespon kepada tuntutan itu pada awalnya, dan juga tidak membuat pernyataan kepada media. Beberapa reseller bahkan sudah membuat listing di eBay, bahkan ada yang menjual kembali sepatu ini dengan bandrol $2,500, dua kali lipat lebih dari harga asli retailnya.

 

 

Pada komplain tuntutan tersebut, Nike meminta pengadilan untuk menghentikan MSCHF menjual sepatu Lil Nas X Satan Shoes itu secara permanen. Menariknya, para pengguna media sosial malah mengecam aksi Nike dan mengancam akan memboikot perusahaan Nike untuk membela sepatu kontroversial itu. Lil Nas tidak tersangkut paut oleh tuntutan Nike tersebut, karena pada akhirnya ini adalah urusan hukum antara Nike dan MSCHF saja. Nike juga keberatan dengan penggunaan logo ikonik swoosh mereka di sepatu tersebut, dan khawatir publik akan mengasosiasikan Nike dengan image satanik, dan tentunya akan menimbulkan kebingungan publik di marketplace, apakah ini produk Nike official atau bukan. Pada intinya Nike tidak mengijinkan produk custom ini untuk diperjualbelikan.

 

 

Menurut Nike, mereka tidak mempunyai hubungan partership dengan Lil Nas atau MSCHF dan Nike tidak mendesign atau merilis sepatu tersebut. Nike pun tidak ingin terlihat meng-endorse collab tersebut atau bahkan di-asosiasikan dengan Satan Shoes tersebut. Sepatu custom tersebut adalah modifikasi dari Nike Air Max 97 yang memiliki colorway merah dan hitam. Dengan detailing pentagram perak dan setetes darah manusia pada bagian mid-sole. Air bubble cushioning sole ini juga adalah trademark Nike yang sudah menjadi ciri khas mereka, dan kali ini diisi oleh setetes darah manusia yang didonasi oleh para anggota MSCHF. Sepatu ini juga menampilkan design kontroversial dengan inverted cross dan juga tulisan “Luke 10:18”. Sebelumnya perusahaan MSCHF tersebut juga pernah merilis sepatu kontroversial lainnya yaitu “Jesus Shoes” di tahun 2019.

 

 

Kontroversi ini juga semakin hangat dengan dirilisnya video musik untuk single terbaru Lil Nas yang berjudul “Montero (Call Me By Your Name)”. Video tersebut menunjukkan musisi tersebut berpakaian sangat provokatif dan berdansa di neraka. Influencer sepatu @Saint pun meramaikan promosi sepatu ini sebelum rilis dengan memposting berbagai teaser di media sosial. Beberapa konservatif seperti gubernur Kristi Noem dan sebagia npublik juga mengkritik design kontroversial sepatu kolaborasi Lil Nas X MSCHF ini di Twitter. Lil Nas X merespon gubernur dan para kritikus dengan men-tweet berbagai meme. Kontroversi ini semakin ramai dengan banyaknya komentar pembeli yang sudah membayar sepatu ini. Mereka khawatir dengan adanya tuntutan Nike, sepatu tersebut tidak akan sampai ke tangan mereka. Pada akhirnya kasus ini selesai dan seluruh pasang sepatu ini akan ditarik dari pasaran. Menurut Nike, MSCHF setuju untuk membeli kembali seluruh Satan Shoes dan Jesus Shoes yang sudah dijual ke pasaran untuk menarik kedua design tersebut dari sirkulasi pasar. Bahkan pengadilan pun menghentikan pengiriman sepatu-sepatu tersebut ke tangan pembeli. Nike wins again. Lil Nas X mengkritik bahwa kebebasan berekspresi sangat sulit dilakukan, dan MSCHF pun berdalih kalau ini semya adalah sebuah karya seni. Tentunya kebebasan ekspresi, statement politis dan narasi yang berbeda selalu menjadi kontroversi. Apakah kamu akan membeli sebuah sepatu seharga 14 juta dengan darah manusia?

 

Words Aldy Kusumah

NPR Tiny Desk (USA)

NPR (National Public Radio) adalah media non-profit yang berbasis di Washington D.C. dan California. Mereka memulai seri Tiny Desk Concert-nya pada tahun 2008 dan setelah hampir 13 tahun dan sekitar 1000 performa dari musisi yang beragam, Tiny Desk Concert (TDC) dianggap sebagai kesempatan emas bagi para musisi untuk menunjukkan performa terbaik mereka dalam setting yang intim. Beragamnya musisi dari berbagai genre yang tampil disini berhasil memberikan para penggemar musik sebuah konser intim sekaligus melihat bagaimana interaksi para musisi tersebut dari “dekat”. Kurasi yang tepat dari TDC dan kebebasan bagi para musisinya untuk menampilkan karya mereka seminimalis mungkin atau bahkan se-eksperimental mungkin telah memberikan momen-momen terbaik dalam sejarah live performance. Kalian bisa menemukan performa Phoebe Bridgers, American Football, Jorja Smith yang effortless, Freddie Gibbs / Madlib dengan full-band, bahkan sampai Coldplay, Thou, Tyler the Creator dan Pedro the Lion yang tampil lebih minimalis.

Rossatron (England)

Ross Peacock, yang lebih dikenal sebagai Rossatron membuat video essay dan analisis film-film yang berbasis action dari perspektif teknisnya. Rossatron membuat beberapa essay menarik seperti membahas film Predator, koreografi Jackie Chan di Drunken Master, dan genre film-film ninja tahun ‘80an yang sudah tidak populer lagi. Kadang beberapa videonya juga terlihat lebih serius, seperti membahas editing film action dan aspek-aspek teknis koregrafi film-film bela diri. Kadang Ross pun membuat beberapa film pendek, seperti Acere, yang memperlihatkan perkelahian dua orang yang saling berebut senjata tajam. Selain menjadi Youtuber, Ross berkerja sebagai video editor, karen itu kadang sulit mengatur jadwal rilisnya video baru di channelnya tapi tetap mempertahankan kualitas yang konsisten. Dengan Patreon, Ross berharap bisa membuat video-video lebih berkualitas dan bahkan membuat channel Rossatron ini sebagai pekerjaan full-timenya. 

Boiler Room (England)

Sebuah channel yang tentunya sudah tidak asing lagi. Sejak 2012, channel Boiler Room berhasil membawa club culture dan energi lantai dansa ke ruang tamu kamu. Dimulai dari sebuah webcam yang di-lakban di dinding dan disiarkan dari sebuah gudang di London, kini Boiler Room sudah membawa kultur musik dance dari seluruh dunia ke setiap ruang tamu yang memiliki wifi. Sebuah pengarsipan berisi lebih dari 7500 performa dari 250 kota, semangat DIY mereka telah membuka wawasan setiap penontonnya ke skena-skena dance bawah tanah yang obscure maupun mainstream. Boiler Room berhasil membawa para subscribernya mengeksplor kolektif techno, menikmati vibe party-party underground di London, Amsterdam, Berlin, Tokyo, Sao Paulo, New York sampai memperkenalkan subculture kontemporer baru ke viewersnya. Dari Kaytranada, Madlib sampai Gabber Modus Operandi pernah tampil di Boiler Room. Berdansalah di rumah masing-masing seperti tagline mereka: Watch, listen & dance. 

Ichika Nito (Japan)

Lupakanlah John Mayer, Tosin Abasi atau Mateus Asato karena Ichika Nito adalah guitar hero baru kalian. Di channel ini, Ichika Nito akan memainkan gitar-gitar berbentuk aneh, menggunakan hanya 1 senar, gitar 14 senar, gitar $100 sampai gitar $10,000. Dia akan memainkan progresi chord post-rock, ethereal, midwest emo, math-rock, djent, blues, jazz atau apapun itu sampai kamu ingin berhenti bermain gitar. Virtuoso gitar ini juga kadang memberikan sedikit tips-tips tuning yang nyentrik, arpeggio sampai tips memainkan chord-chord obscure yang tentunya akan sulit ditiru para subscribersnya. Coba saja tiru orang ini memainkan gitar dengan tuning ABCDE atau EEEEEE. Atau nikmati saja dia mengkover soundtrack Zelda, Enter Sandman dan memainkan chill-hop dengan progresi chord jazz. This guy is insanely talented. 

Heungsam’s Family (Korea)

Melihat para Youtubers memakan sesuatu yang lezat sudah menjadi bagian dari kultur mukbang dan ASMR. Menariknya, channel Heungsam’s Family ini selain bisa meningkatkan selera dan memuaskan dahaga kita akan sajian-sajian eksotis, juga menunjukkan kebahagiaan berkumpul bersama untuk menyantap sesuatu. Lee Du-hyung memberikan experience mukbang yang tidak ditunjukkan oleh Youtuber lain. Dia memasak bersama kedua orang tuanya dan menyantap sajian-sajian epic dengan latar pemandangan pedesaan yang indah. 1,8 jutal subscribers dari seluruh dunia sudah terkesima dengan menariknya video-video yang telah di upload Heungsam’s Family. Dimulai dari tahun 2016 di sebuah rooftop, kini Lee Du-hyung sudah mengupload ratusan video yang menunjukan betapa menyenangkannya proses memasak sampai melahap sajian tersebut. 

Gaming Historian (USA) 

Gaming Historian adalah sebuah seri dokumenter Youtube yang mengeksplor sejarah video game. Pasangan suami istri Norman Caruso dan Kristin Caruso adalah orang-orang dibalik channel ini. Kristin adalah seorang jurnalis dan reporter yang melakukan riset mendalam dan menulis narasi Gaming Historian, sementara Norman membawakan acara ini dan memproduksinya. Documentary series yang dimulai pada tahun 2008 ini dimulai dari kecintaan Norman terhadap sejarah dan video gaming, sehingga dia pun menggabungkan kedua passion tersebut. Ingin mengetahui sejarah Super Mario Bros, Tetris atau history dibalik perusahaan Nintendo, Sony dan Sega? Ini adalah channel yang tepat untuk kamu subscribe. Beberapa video meraka yang menarik adalah mengenai anak 9 tahun yang menuntut Nintendo, persaingan Nintendo vs Blockbuster video dan bagaimana LJN menjadi perusahaan pembuat game-game terburuk yang pernah ada. Dalam setiap videonya, Gaming Historian mempersembahkan editing keren, riset mendalam dan narasi yang ditulis dengan baik.

Motherboard (USA)

Motherboard adalah video series buatan Vice international, yang mengunjungi berbagai belahan dunia untuk memperlihatkan teknologi dan cerita-cerita sains yang akan meredefinisikan masa depan. Apa yang akan datang di kemudian hari? Ya, kemungkinan semua pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah dibahas disini sebelum terjadi. Motherboard bergantung pada reportase panjang, blogging mendalam dan kualitas video dengan produksi yang baik, sehingga setiap cerita di channel ini bisa di representasikan dengan kemasan yang paling menarik. Mereka mendedikasikan risetnya untuk memperlihatkan masa depan apa yang akan kita hadapi secara gamblang, sehingga para viewers dan subscribers akan mendapat informasi untuk membuat keputusan yang lebih baik. Pada tahun 2018 pun, Motherboard berkerjasama dengan Netflix untuk merilis dokumenternya “The Most Unknown”, yang mengikuti 9 ilmuwan di seluruh penjuru dunia yang merespon pertanyaan-pertanyaan manusia paling mendalam dengan riset-risetnya. 

Pogo (Australia)

Christopher Nicholas Bertke, yang lebih dikenal lewat nama panggungnya Pogo, adalah musisi elektronik asal Australia. Kejeliannya dalam mengedit quotes film, TV dan suara-suara dari film animasi menjadi sebuah lagu patut diacungi jempol. Bayangkan saja Pogo sebagai Madlib jika Madlib tidak digging musik jazz melainkan kartun-kartun Disney, serial Star Trek, film The Shining dan iklan permen M&M’s. Semua suara dan melodi yang dia temukan dalam media-media tersebut dijadikan sebuah komposisi musik yang benar-benar baru dan fresh, layaknya seorang seniman dekonstruksi sejati. Dengan skill chop dan beat selevel J Dilla, Pogo sudah merilis puluhan video lagu-lagu originalnya yang dikemas dengan video editing yang canggih. Lihat saja bagaimana dia membuat beats hiphop menggunakan sample-sample dari kartun Snow White. Sudah 8 tahun video ini dia posting di Youtube tapi tetap saja berada di garda depan.

Curated Aldy Kusumah