Setelah eksis selama lebih dari 5 tahun dan sempat hiatus untuk renovasi, Kedai Juru Meals & Coffee kembali dengan logo baru, konsep interior yang fresh dan tentunya menu-menu baru yang diracik oleh team Kedai Juru. Setelah pre-opening pada tanggal 25 Februari lalu, kini Kedai Juru sudah membuka pintunya kembali untuk menerima kalian yang kangen tempat ini. Menu-menu mereka yang variatif menjadikan destinasi ini fleksibel untuk sarapan, makan siang, dinner ataupun ngopi-ngopi sore. Hidangan seperti Spaghetti Carbonara, Croissant ice cream choco oreo dan bakmie signature mereka, Mie Gobang akan selalu menjadi favorit para pelanggannya.



Tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan, Kedai Juru juga sempat menjadi exhibition space untuk pameran Seni Kanji dan juga tempat terlahirnya komunitas sepeda CTCT. Gelaran Saparua Street Market juga tidak lengkap tanpa adanya makanan dan minuman dari Kedai Juru. Dengan lokasi yang strategis di dekat GOR Saparua dan bersebelahan dengan Arena Xprnc Store, tidak heran Kedai Juru menjadi tempat persinggahan banyak orang dan meeting spot yang ideal. Kamu bisa menjadikan Kedai Juru sebegai pit stop setelah bersepeda dan memesan minuman segar seperti Strawberry Squash, atau mungkin ngopi santai dengan kerabat dengan menu favorit signature mereka Flavoured Coffee Latte.  





Sebagai sebuah melting pot yang mempertemukan berbagai kalangan dari seniman, musisi, skater, penggemar otomotif, vendor brand sampai coffee snob, sudah pasti banyak ide-ide, komunitas dan relasi baru yang terbangun dengan adanya coffeeshop dan kedai seperti ini. Kurasi musik dan pernak-pernik vintage pun akan memanjakan teliga dan mata kamu selagi menunggu makanan datang. Tunggu apalagi, segera mampir dan coba rekomendasi kami Tapsilog Sandwiches ala Filipina, dengan sunny side up egg, beef tapsilog, onion, pepper, chilli, soy sauce, sesame seed, aioli sauce, ditambah french fries & coleslaw salad. Order juga Vietnam Drip coffee dan bala-bala khas mereka sebagai side dish untuk menemani perhelatan kalian. 

Kedai Juru Jl. Ambon No.9, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 022-4206040

Instagram: @Kedaijuru 

BEAMS yang dimulai dari sebuah toko kecil di distrik Harajuku, Tokyo pada tahun 1976 sudah berkembang menjadi brand fashion yang influensial. Di Harajuku saja, kurang lebih sekarang ada sekitar 10 toko BEAMS yang menyediakan koleksi pakaian-pakaian keren untuk anak muda Jepang, dari street wear sampai brand-brand import yang high-end, range pilihan di BEAMS sangat luas dan variatif. BEAMS sekarang sudah menjadi nama yang influensial sebagai benchmark fashion keren di Jepang, bahkan diluar Jepang juga sangat diperhitungkan. Memang pengaruh fashion Jepang dan street culture terhadap menswear tidak bisa dipungkiri lagi. Dari pionir-pionir street fashion seperti Jun Takahashi dan Hiroshi Fujiwara, sampai designer-designer papan atas seperti Yohji Yamamoto dan Rei Kawakubo, Jepang selalu melahirkan figur-figur berpengaruh. Jangan juga lupakan para trendsetter dari jalan-jalan seperti Harajuku, disiplin ilmu menswear yang dimiliki Jepang sudah menjadi studi secara mendetail oleh para fashion bloggers, konsumen dan designer-designer dari seluruh dunia. Dari adopsi kepada kultur barat dan revival American workwear klasik yang digabung dengan tradisininya, menswear dari Jepang selalu berada di garda depan.
 


 
Toko retail ini sekarang sudah memiliki lebih dari 100 toko. Setelah berbisnis lebih dari 40 tahun, tidak hanya apparel saja yang disediakan di gerai-gerainya. Sebuah record store, galeri yang dipenuhi seragam, sampai toko suvenir Tokyo yang menjual figur-figur anime dan manga yang bersebelahan dengan T-shirt dari designer-designer terkenal. Berbelanja disini berarti semua kebutuhan terpenuhi, layaknya sebuah one stop shop. Nama BEAMS sudah bersinonim dengan “Japan style” sama seperti Ferrari bagi Italia dan dunia otomotif. Sudah menjadi rahasia umum kalau setiap aspek dari raksasa retail fashion ini adalah benchmark yang patut ditiru siapapun yang ingin menjalankan bisnis retail fashion. BEAMS adalah titik temu dari semua sudut fashion yang tumbuh berkembang di Jepang, dan menjadi narasi yang terdepan untuk para konsumennya.

 

Rizzoli, penerbit dari New York yang sudah menerbitkan beberapa buku fashion seperti Carhartt WIP Archives, FUCT, Supreme dan Hiroshi Fujiwara: Fragment juga menerbitkan sebuah buku yang membahas BEAMS. Berjudul BEAMS: Beyond Tokyo, buku ini dipenuhi koleksi-koleksi BEAMS, foto gerai toko-tokonya di berbagai lokasi, sejarah dan tentunya beberapa tulisan kontributor seperti sutradara Sofia Coppola, Nigo (BAPE, Human Made), Stella Ishii, Toby Bateman (Mr. Porter) dan Chitose Abe (Sacai). Buku ini memberikan visual eksklusif terhadap kinerja BEAMS sebagai salah satu brand Jepang yang paling inovatif. Lengkap dengan foto-foto katalog produk, sketsa, esai-esai yang mendalam dari kolaborator dan kurator, buku ini secara mendetail merangkum bagaiman BEAMS membangun reputasinya dari pertama berdiri di tahun 1976 sampai era kontemporer. Buku BEAMS terbitan Rizzoli ini adalah sebuah testimoni terhadap bisnis fashion dan juga selebrasi bidang kreatif. Ini adalah kitab fashion yang tidak hanya membahas satu brand atau satu designer, melainkan operasi retail besar dilihat dari perspektif orang dalam. Buku yang sangat edukatif dan enak dibaca.

 

 

 

Agar tetap resilient dan adaptif terhadap berubahnya pola kehidapn konsumen dan juga trend fashion selama empat dekade, BEAMS menaruh kolaborasi sebagai filosofi intinya. Dengan berkolaborasi dengan designer-designer muda dengan ide yang fresh dan dinamis, sudah terbukti collab-collab BEAMS bisa menjadi daya tarik sendiri layaknya sebuah magnet untuk menjerat para konsumennya. Beberapa kolaborasi mereka adalah dengan brand-brand besar seperti Adidas, Nike, Reebok dan Levi’s. Fotografer sekelas Terry Richardson saja sudah pernah berkerja sama dengan BEAMS. Selama 4 dekade, BEAMS sudah mengumpulkan dan berkerjasama dengan designer-designer dan figur-figur kreatif penuh talenta. Sampai tulisan ini dibuat, BEAMS tetap menjadi market leader dan inovator dalam dunia menswear. Kehadiran BEAMS dalam dunia fashion global sudah diperhitungkan karena roots BEAMS dalam sejarah fashion Jepang. Dengan dedikasi para staffnya yang mencakup shopkeeper sampai designernya, kurasi-kurasi BEAMS tidak pernah salah. Meminjam quotes dari Nigo, BEAMS adalah “Ujung tombak dari kultur Tokyo.”
 
 
 
 

 

Words by Aldy Kusumah

 

 

Every Frame A Painting (Unknown)
Every Frame a Painting (EFaP) adalah sebuah seri yang terdiri dari 28 esai berbentuk video yang membahas film editing dan sinematografi. EFaP dibuat oleh Taylor Ramos dan Tony Zhou dari tahun 2014 sampai 2016. Selain dirilis di Youtube mereka juga merilis video-video esainya di Vimeo. EFaP mengeksplor beberapa topik dari sutradara atau aktor tertentu dengan sajian yang sangat informatif dan mendetail untuk kamu-kamu yang ingin mengeksplor dunia film lebih mendalam. Zhou melakukan riset dan penulisan mengenai temanya, dan Ramos mengorganisir tesis tersebut menjadi sebuah animasi. Mereka berdua mengerjakan proses editing finalnya sebelum di upload. Bahasan yang menarik dari film “Memories of a Murder” karya Bong Joon-ho, komposisi film Akira Kurosawa, teknik-teknik action-comedy yang digunakan Jackie Chan sampai penggunaan scoring orkestra di Marvel Cinematic Universe adalah beberpa pembahasan esai mereka. Setelah proyek EFaP ini berakhir, Zhou dan Ramos memproduksi video-video esai untuk segmen special features rilisan DVD/Blu-ray Criterion Collection dan layanan streaming FilmStruck. 

 

 

Reactistan  (Pakistan)
Reactistan adalah sebuah channel yang cukup menarik dari Pakistan. Dengan mengumpulkan beberapa orang dari suku-suku berbeda, mereka menampilkan reaksi tulus orang-orang ini terhadap beberapa makanan populer. Di tangan Youtuber amatir, mungkin sajian dengan konsep ini akan menjadi sangat rasialis. Tetapi Reactistan berhasil mengemasnya dengan sangat baik. Orang-orang Pakistan disini kebanyakan adalah penggembala domba, dan mereka mereview makanan populer seperti KFC, Samyang, Dunkin Donuts, Sushi, bubble tea sampai air mineral botolan. Reaksi jujur dan interaksi mereka tentu saja akan menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak. Simak komen mereka yang membandingkan boba di dalam sedotan dengan feses domba yang mampet di usus. Pure comedy gold.

 

 

BBQ Mountain Boys (Indonesia)
2 orang ini memasak dan menyantap hidangan-hidangan lezat di sebuah lokasi rustic yang cukup unik: daerah pegunungan terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Mereka mengumpukan bahan-bahan tambahan dari kebun dan hutan dekat kabin mereka, dan menyajkan daging barbeque yang terlihat juicy di layar kaca kamu. Berlokasi di sebuah kabin kayu yang diselimuti pohon pinus, tempat ini juga menjadi creative space dan kebun kopi yang mereka namakan Saux. Sajian kopi manual brew, rawon dari brisket, membuat burger dengan Lawless crew sampai membuat se’i sapi bersama bintang tamu chef Renata membuat video-video mereka selalu dinantikan para pecinta daging. Dibantu sinematografi dan produksi yang baik, this channel is finger-licking good.

 

 

 
Soft White Underbelly (USA) 
Ya, kamu sudah menemukan salah satu channel Youtube yang gelap, dingin dan sedikit depressing. Soft White Underbelly adalah buah karya fotografer Mark Laita yang ingin menampilkan sisi gelap dari human condition, dimana dia menginterview seorang mucikari, anggota geng, pemadat heroin, PSK, gelandangan sampai penjual narkoba. Ya, individu-individu ini adalah mereka yang tidak diperdulikan oleh masyarakat dan menjadi entitas yang hidup diluar norma-norma sosial. SWU memanusiakan individu-individu ini dengan memperlihatkan emosi dan realitas dari kehidupan di setiap sajian interviewnya. Ternyata mereka tidak terlalu berbeda dengan kita, they are human after all. Memang beberapa interviewnya sangat mengintimidasi penonton baru, tapi bersiaplah untuk menemukan adiksi baru yang tear-jerking, deep thinking, binge-worthy dan tentunya akan mencuri waktu tidurmu.

 

 

Jacques Slade (USA)
Jacques Slade adalah seorang kontributor Complex Sneakers dan sutradara/produser sekaligus host acara This Week in Sneaks. Tentunya dia juga seorang Youtuber expert dengan fokus dan konsentrasi kepada sneakers culture. Apa yang Jacques Slade lakukan di channel Youtubenya? Unboxing. Kami menemukan channel ini setelah melihat The World According to Jeff Goldblum, dimana aktor Jurassic Park itu menginterview Jacques mengenai seni unboxing. Menurutnya, antisipasi kita saat membuka suatu kemasan akan meningkatkan kadar endorphin yang akan membuat kita jauh lebih senang daripada produk didalam kemasan tersebut. Mungkin karena itulah jutaan penggemar mensubscribe dan menonton channel ini yang hanya berisikan Jacques meng-unboxing ratusan sepatu dengan editing yang menarik. 

 

 

Binging With Babish (USA)
Kegemaran Babish terhadap film dan seni memsak direalisasikan dengan channel Binging With Babish. Babish Culinary Universe yang sebelumnya dinamai Binging With Babish dibuat oleh Andrew Rea alias Oliver Babish, seorang chef dan filmaker asal Amerika. Babish me-rekreasi resep-resep dan hidangan kuliner dari film, serial TV dan video game dalam seri video Binging With Babish-nya. Sebuah acara memasak yang berdedikasi untuk menunjukkan seperti apa rasanya makanan fiksi yang kita lihat di layar kaca, yang menurut Babish beberapa memang enak dan beberapa adalah ide buruk. Temukan video-video baru setiap minggunya sambil melihat proses memasak yang fun dan kualitas suara ASMR di channel ini. Babish akan menyajikan Crabby Patty dari Spongebob, hidangan Ratatouille, “kristal biru” Breaking Bad, Shawarma dari The Avengers sampai sajian sarapan dari Studio Ghibli Howl’s Moving Castle. We might learn a thing or two.

 

 

 
Gaming Off The Grid (USA)
Gaming Off The Grid adalah sebuah channel yang dibuat atas kecintaan kedua kreatornya, Wes dan Robert, terhadap retro-gaming dan bir dingin. Ya, mereka mereview games dan bir dingin sebagai konten utamanya. Euforia nostalgia dan tribute kepada console gaming klasik seperti NES, SNES, Sega Genesis, PS1 sampai Sega Saturn akan kamu temukan disini. Secara harafiah, channel ini memang terlahir dengan sebuah bir dingin di satu tangan, dan light gun Nintendo di tangan lainnya.  Sebuah channel dengan konten-konten yang dibuat atas passion terhadap gaming bersama teman secara offline atau couch co-op tentunya akan menarik bagi kamu yang tumbuh besar dengan Sonic, Contra, Castlevania dan Zelda. Dengan konten berkualitas yang update setiap minggunya, tunggu apalagi, klik saja tombol subscribenya.

 

 

Licking Guy (USA)
Beberapa tahun kebelakang, orang yang menamai dirinya sebagai “Licking Guy” berhasil mencapai status viral setelah menjilati sebuah kaktus pada tahun 2015. Pesawat jet militer, dinding kantor Youtube, pagar Area 51 sampai kereta lokomotif sudah dia jilati. Kenapa? No one really wants to know. Dalam setiap jilatan di video-videonya, Licking Guy selalu menggunakan ski mask dan kacamata hitam, membuat situasi aneh yang kalian tonton menjadi semakin creepy. Selamat, kalian sepertinya sudah menemukan salah satu channel paling aneh dan tidak berfaedah di Youtube.

 

 

Curated by Aldy Kusumah

Senyawa – Alkisah (Disaster Records)


Duo musisi garda depan dari Yogyakarta ini keluar dari comfort zonenya dengan meninggalkan bambu wukir, instrumen custom yang telah mendefinisikan sound Senyawa setelah 10 tahun. Di album ‘Alkisah’ ini, tidak ada satu lagu pun yang menggunakan instrumen bambu wukir yang biasa dimainkan Wukir Suryadi. Eksplorasi sonik yang ditawarkan duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi akan mengajakmu untuk berpetualang ke teritori-teritori yang jarang kita kunjungi. Dengan instrumen bambu yang baru, kali ini Wukir menawarkan tone-tone strings yang unik dan suara perkusi yang lebih fresh. Concept album ini secara naratif bercerita mengenai hancurnya sebuah bangsa. Imajinasi apokaliptik ini dibuka dengan track minimalis berdurasi 40 detik yang berjudul ‘Kekuasaan’ dengan lirik introspektif “Apa arti kuasa bila akhir sudah diujung mata?”. Pada single ‘Istana’, suara Rully ditemani oleh bisingnya distorsi yang droning. Track penutup ‘Kiamat’ adalah sajian genderang perkusi tribal yang bertemu chant-chant shamanic, dan Senyawa pun terdengar seperti dukun industrial yang menyambut hari akhir. Ketika Sunn o))) dan Attila Csihar menggunakan desibel yang lebih keras, Senyawa justru menemukan dinamisme keras-pelan yang lebih bernuansa magis. Senyawa merilis ‘Alkisah’ melalui 44 record label di seluruh dunia, dengan packaging dan bonus remix yang berbeda dari setiap label. Pada rilisan versi Disaster ini, versi remixnya dikerjakan oleh Audioscum, Xin Lie, Dark Torrent dan Bagvs, yang meredefinisikan 4 lagu Senyawa. Kover art yang dibuat oleh Vidi Nurhadi disini sangat menarik, semakin membuat rilisan versi Disaster ini wajib dikoleksi. Get this one before it runs out.


Taruk – Bara Dalam Lebam (Grimloc)



Band hardcore punk/metal asal Bandung ini mempersembahkan 10 track dalam album perdananya ‘Bara Dalam Lebam’. Dibandingkan  dengan EP mereka sebelumnya yang berjudul ‘Sumpal’, karya-karya baru mereka terasa lebih solid, tight dan matang. Meleburnya agresi hardcore punk dan riff-riff black metal membuat track ‘Mencekam’ yang dipenuhi drumming blast beat ini menjadi lebih atmosferik. Taruk bereksperimen diluar sound hardcore punk generik, dan mengimplementasikan sound violin, beat-beat post-punk dan riff-riff metal klasik. Untuk penggemar Baptist, From Ashes Rise atau bahkan Entombed, album ini sudah pasti akan menjadi high-rotation baru kamu. Sepuluh track yang yang dimainkan dan direkam oleh Karel (vokal), Bobby (gitar), M. Zulyadri Boy (bass) dan Matin Mahran (drum) di album ini adalah all killer no filler. Dimastering dengan sangat baik oleh Edo Jatmika, dan seperti layaknya rilisan Grimloc lainnya, departemen artwork selalu mendapat perhatian khusus. Kali ini dengan ilustrasi kover dari Morrgth dan desain grafis oleh Herry Sutresna.



Sieve – Biara EP (Anoa/self released)



‘Biara’ adalah satu rilisan yang cukup ikonik pada tahun 1999, karena pada saat itu cukup jarang band lokal goth rock yang merilis album. Mungkin Koil, Getah dan Kubik lebih dikenal pada saat itu. Alexandra J. Wuisan (vokalis pertama Cherry Bombshell) mengerjakan departemen vokal dan lirik dibantu Richard Riza (bassist SEL) yang mengerjakan produksi instrumentasi. Setelah Regina Rina bergabung (gitar & back vocal), Sieve semakin solid dan merilis salah satu EP ikonik yang versi kasetnya mungkin sekarang sudah jarang ditemui. Dirilis pada 6 Juni 1999, EP 4 lagu ini sangat padat. Track pembuka ‘Vitreus Wish’ terdengar dingin dengan synth ala dark wave dari Richard Riza yang disambut gitar berdistorsi pada reff. Track kedua ‘Mars’ yang anthemic masih tetap terdengar rocking setelah 22 tahun tidak saya dengarkan. Catchy and danceable too, if a DJ was playing this in a halloween party. Setelah “terkubur” selama 22 tahun, akhirnya Biara EP yang berisi 4 lagu ini bisa dinikmati kembali di kanal-kanal music streaming. Semoga ini pertanda Sieve akan merilis dan berkarya lagi.


                                                             
                                                                                                                                                                                      

Jaydawn – Darkest Dawns Ahead (Grimloc)



Satu lagi rilisan Grimloc yang sedikit underrated, kali dari anggota unit produksi Napalm Squad. Walaupun hanya dirilis secara digital pada bulan Juni tahun 2020, kami rasa EP Darkest Dawns Ahead dari Jaydawn ini perlu mendapat perhatian lebih. Dipenuhi oleh beat-beats grimy yang gelap, teknik chop tingkat tinggi dan produksi yang renyah, 7 komposisi yang diproduksi oleh beatmaker asal Bandung ini memperkaya ranah musik hiphop Indonesia. Jaydawn yang juga anggota Eyefeelsix sudah membuat beats dari awal tahun 2000an sejak dia memproduksi dan merilis album dengan D’Army. Jaydawn juga banyak terlibat dalam produksi album-album lokal seperti ‘9051’ milik Rand Slam dan ‘Swagton Nirojim’nya Krowbar. Sampling drumbeats obscure melebur dengan spoken words dan puisi dari berbagai sumber. Dibuka dengan “Ufuk Tanpa Cahaya” yang sepintas terdengar seperti scoring film noir yang melebur dengan beats-beats yang catchy. Track ‘Penunggang’ yang merefer ke 4 horsemen of the apocalypse (atau Lord of the Rings karya Tolkien?) juga sangat menarik. Track favorit kami adalah ‘Bengawan Kala Subuh’ dengan layer reverse delay synth dan sound snare drum yang jazzy. Sedangkan ‘Normal Baru dan Kebusukan Lama’ terdengar seperti DJ Muggs yang bertemu dengan Godspeed You! Black Emperor, lengkap dengan spoken words politis dan sampling “Mmm.. drop” dari Adrock Beastie Boys. Menurut Grimloc Records, album penuh Jaydawn mengalami delay rilis karena pandemi. Untuk sementara, kita bisa menikmati EP ini layaknya J Dilla ‘Donuts’ dengan soundscape yang lebih gelap. 



Bleach – S/T EP (HSTD Records)



Unit hardcore asal Bandung ini layak diperhitungkan. Mereka merilis EP berisi 3 lagu yang dipenuhi dengan riff-riff hardcore ‘90an, breakdown yang catchy dan sound yang tight. Ketiga lagu di EP ini berdurasi pas, tidak terlalu panjang dan tidak pendek juga. Opening track ‘No Regret’ sangat punchy dan tentunya akan membuat seluruh moshpit berdansa. Pada saat tulisan ini ditulis, mereka juga baru saja merilis video klip ‘No Regret’ yang menampilkan kelima personil Bleach bersenang-senang sambil memainkan lagu ini dengan instrumennya masing-masing. Pada track kedua, ‘Sacred Space’ mereka bermain cepat. Track berdurasi 2 menit ini cukup straight forward dan menjadi langsung menjadi personal favorite. Breakdown yang danceable di akhir lagu ini akan setidaknya membuatmu mengetuk kakimu. Aransemen di lagu ’The Deep is Calling’  sedikit lebih rumit, tetapi tetap menarik. EP ini pun ditutup dengan bassline yang sangat groovy. Kabarnya mereka sedang mempersiapkan debut albumnya dalam waktu dekat ini. In the meantime, you can jam to these 3 groovy songs.



Curated by Aldy Kusumah