Kolaborasi-kolaborasi Aimé Leon Dore adalah legenda. Setelah me-reinvent New Balance dengan kolaborasi sebelumnya, dan menghasilkan koleksi yang langsung sold out dengan Woolrich, kali ini mereka berkolaborasi dengan brand mobil klasik: Porsche. Ya, ini bukan hiperbola. Menyebut kolaborasi Aimé Leon Dore sebagai sesuatu yang legendaris adalah fakta. Karena sepertinya lebih gampang menemukan loch ness dan bigfoot daripada membeli drop-drop kolaborasi mereka yang biasanya sold out secara instan.
 

 


 

 
Meneruskan kolaborasi ALD dan Porsche yang sebelumnya telah terjadi pada awal 2020, kini mereka telah merilis sebuah video teaser yang menunjukkan 911 Porsche Carrera 4 type 964 yang di custom oleh team ALD, yang tentunya akan membuat “becek” para fans dari kedua brand keren tersebut. Dicustom secara elegan oleh Teddy Santis, owner dari ALD, mobil Porsche ini tampak semakin elegan (sepertinya tanpa dicustom pun Porsche ini sudah elegan). Dilengkapi koleksi pakaian seperti jaket, pullovers, T-Shirt grafis dan aksesoris dengan bahan kulit Schott dan bahan wool yang di craft oleh Loro Piana. Kolaborasi ini meneruskan ketertarikan ALD dengan brand-brand otomotif yang belakangan ini sedang marak kolaborasinya: KITH X BMW, Yohji Yamamoto X Lamborghini dan Virgil Abloh X Mercedes-Benz. 

 

 

Mobil 911 Porsche Carrera 4 type 964 ini adalah sebuah design sentral dalam partnership ALD X Porsche ini. Label asal New York ini merestorasi dan mengcustom 911 Porsche Carrera yang pertama kali diperlihatkan ke publik dan media di New York Fashion Week 2020 dengan restorasi 911 Super Carrera-nya. Founder dan creative director ALD, Teddy Santis telah merealisasikan mimpinya dengan 911 berwarna olive green yang memiliki kenangan personal dengan keluarganya. Dengan restorasi dan kustomisasi ini, Teddy ingin memperlihatkan Porsche dengan intimasi lain dengan ciri khas ALD. Masa kecil Teddy di Yunani dan visi bahwa benda-benda yang semakin antik akan terlihat keren ditumpahkannya pada design-design di kolaborasi ini. Mobil 911 SC ini akan memiliki colorways eksterior olive green ala pabrik Porsche, lampu auxilliary pada bonnetnya, 16” ban pabrik Fuchs dan roof rack yang fungsional. Interior kendaraan ini juga di custom penuh dengan kombinasi kulit sapi, karpet Persia vintage sebagai floor mats dan panel pintu bawah yang menggunakan suede dari banteng Buffalo. Menariknya, driver seat menggunakan finishing Recaro wooden beads selain kulit full grain dibawahnya. Porsche ini juga di display di flagship store mereka di Mulberry dari 21 Mei sampai 23 Mei kemarin.

 

 

 

Aimé Leon Dore adalah sebuah brand fashion dan lifestyle yang dibuat pada tahun 2014 dan berbasis di Queens, New York. Teddy Santis selalu terinspirasi oleh kehidupan sehari-hari dan kultur jalanan dalam merepresentasikan produk-produknya.  Dengan ciri khas yang clean dan estetika klasik, ALD membawa men’s fashion ke level selanjutnya. Dengan apresiasi dan visi yang tepat dari pihak ALD, Porsche pun tidak berpikir panjang untuk berkolaborasi dengan mereka. Menurut Teddy Santis, kolab ini adalah sebuah privilege dan sekaligus menjadi pengalaman yang sangat berharga. Sebuah testamen terhadap dedikasi, rencana Porsche dan ALD pun tidak terhenti dengan adanya krisis virus corona malah semakin kuat untuk bekerja sama sebagai kolektif. Tentunya, ini adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Teddy Santis, dari yang sebelumnya hanya penggemar Porsche, kemudian diberi kesempatan untuk mengcustom dan me-restorasi Porsche 911 SC yang selalu menjadi signature dari Porsche itu sendiri.

 

 

Words by Aldy Kusumah
Semua pernah mendengar atau mengetahui tentang KIDULT. Beberapa jendela toko brand fashion high-profile di seluruh dunia sudah menjadi “kanvas” tagging dan dihias ulang olehnya. Seperti Banksy, seniman ini pun kerap berurusan dengan hukum karena sering melakukan aksinya di toko-toko seperti YSL, Kenzo, Louis Vuitton, Agnes B sampai Marc Jacobs, Colette Paris sampai Supreme New York. Kalau kamu tidak tahu mengenai “karya”nya, mungkin kamu hidup di planet lain. KIDULT adalah seorang seniman graffiti yang cukup notorious. Aksi-aksinya selalu masif, menarik perhatian dan diulas berbagai media. Tetapi mungkin aksinya justru mengingatkan kita kalau graffiti adalah mengenai protes dan ekspresi diri, dan beberapa orang menganggap aksi Kidult sebagai vandalisme.

 

 

 

Lahir di Paris dan tinggal di New York, signature style seniman ini adalah teknik graffitinya: mengisi tabung pemadam api dengan spraypaint agar bisa dengan cepat menuntaskan taggingnya dalam skala besar. Menamakan dirinya KIDULT karena terinspirasi oleh quote Pablo Picasso: “Every child is an artist; the problem is how to remain an artist once we grow up”. Kejujurannya dalam berkarya sebebas-bebasnya menjadikan KIDULT  terlihat memaintain kreatifitasnya dengan menjadi seperti “anak kecil” yang berkarya dengan jujur, simple dan efisien. Beberapa karyanya bahkan memperlihatkan pola-pikirnya yang menentang kapitalisme dan memiliki state of mind ala seorang anarkis. Lihat saja caption di bio Instagramnya yang memparodikan quotes libertarian: “No gallery, no masters”. Walaupun jarang membicarakan motif-motif dibalik karyanya, rupanya seperti Banksy, KIDULT juga selalu menyampaikan sebuah pesan dalam setiap karyanya.
 

 

Tagging-taggingnya sudah tentu menjadi ikonik. Sosoknya pun menjadi duri dalam daging brand-brand fashion terkemuka, karena ketika KIDULT men-tag sebuah toko dalam hitungan detik, menghapusnya adalah sebuah mimpi buruk bagi target-target tagging KIDULT. Memulai aksi tagging masifnya pada tahun 2011 ketika KIDULT mentarget JC/DC (Jean-Charles de Castelbajac) karena designer tersebut menggunakan style graffiti untuk tujuan kapitalis. Lalu KIDULT pun meneruskan aksinya di jalanan Paris dan men-tag Colette, LV, Hermes,  Agnes B, YSL dan Kenzo. Salah satu aksinya yang ikonik adalah saat KIDULT bombing toko Marc Jacobs yang terletak di SoHo New York  dengan graffiti bertuliskan “ART”. Karya tersebut ditampilkan juga di video klip ‘Fashion Killa’ milik ASAP Rocky. Respon Marc Jacobs pun cukup cerdik, foto graffiti KIDULT di eksterior tokoknya pun dijadikan T-Shirt yang dijual seharga $686 dengan sebuah caption bertuliskan “Art by Art Jacob$”. Lalu KIDULT merespon kembali dengan menjual kaos serupa versinya dan kembali melakukan bombing di toko Marc Jacobs Paris dengan tulisan “686”. Tagnya pada toko APC di tahun 2015 pun disorot berbagai media karena KIDULT menulis tulisan “N*GGA” di luar toko APC atas respon founder APC Jean Touitou yang pernah menuliskan “Last N*GGA IN PARIS”. Eksibisi “Visual Rape” nya pun yang diselenggarakan pada tahun 2015 selama 2 hari di Tokyo cukup menarik, dengan berbagai artwork dan instalasi baru.

 

 

 

KIDULT mulai diperbincangkan di lingkungan streetwear setelah men-tag eksterior toko Supreme di Lafayette New York. Karena brand Supreme sudah memiliki kredibilitas tinggi di kalangan streetwear, maka reputasi KIDULT sebagai “pengganggu” butik-butik couture di Paris kini merambah juga sebagai “gangguan” di dunia streetwear. KIDULT seolah ingin mengetes kredibilitas Supreme yang besar di “jalanan”, seperti apakah respon Supreme terhadap graffiti tag-nya? Karena akan menjadi ironis jika Supreme mengganggap karya KIDULT sebatas vandalisme saja. Pihak Supreme pun melarang orang-orang yang memfoto toko Supreme pada saat sedang menghapus graffiti tagnya. Beberapa aksi KIDULT terakhir ini adalah saat dia meng-hijack big screen SONY Modi di Shibuya Tokyo dengan sebuah pesan “Obey and conform” dan juga menulis tulisan “CRISIS” di depan toko Balenciaga. Semua brand besar kini mempunyai paranoia karena hanya Tuhan dan KIDULT saja yang tahu siapa target berikutnya. 

 


Words Aldy Kusumah