This dude needs no introduction. Tapi buat yang belum mengenal sosok Herry Sutresna a.k.a. Ucok a.k.a. Morgue Vanguard a.k.a. Babap Kobra, dia adalah seorang lyricist handal yang lirik-lirik politisnya sudah malang-melintang di album-album Homicide, Bars of Death, Pure Saturday, proyek-proyek solonya dan masih banyak lainnya. Kini Ucok disibukkan oleh record labelnya, Grimloc dan juga brand apparel/media-nya Uprock83. Selain menjadi rapper dan produser musik, Ucok juga sudah menulis beberapa buku dan karya design grafisnya sudah banyak dipakai band-band dari Peterpan, Seringai sampai Pure Saturday. Mari simak bincang-bincang JEURNALS dengan Ucok.

 

____________________________________________________________________________________

“Saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget.”

____________________________________________________________________________________

 

Halo Cok! Bagaimana kabarnya Grimloc? Kabarnya akan merilis beberapa reissue menarik dari Hark dan Balcony? Apa saja yang akan dirilis dalam waktu dekat ini?

Kabar baik, survive so far. Kalo ngomongin rilisan agak banyak memang, ada proyek reguler, ada proyek reissue. Yang reissue ini agak bermasalah, numpuk karena akumulasi dari gagalnya perilisan di 2020. Hampir setengahnya lebih perilisan di tahun 2020 gagal rilis karena lockdown dan pandemi era pertama. Jadi banyak PR-nya di taun ini. Kayak reissue Forgotten, Balcony, Hark dan Full of Hate itu sudah direncanakan dari lama, cuma banyak halangan teknis. Yang album baru juga cukup banyak, hanya sebagian udah dirilis di kwartal awal 2021. Sisanya ada CD Inhell, CD album proyeknya Tesla Manaf, kaset Roman Catholic Skulls, Rounder dan beberapa lainnya. Ada proyek Klab 7” yang kita mulai taun ini, agendanya merilis single-single baru dan singel klasik era lawas, meski beberapa gak lawas-lawas amat. Yang baru itu Krowbar, pre-ordernya baru dibuka. Kemudian, Eyefeelsix bulan depan, yang lagi proses single klasik milik Koil, ada dua lagu baru kolabo saya sama Doyz, lalu split antara Haramarah dan Total Jerks, lalu kolabo dua lagu lama Balcony x Homicide. Sebetulnya ada juga satu 7” yang direncanakan bareng Eben kemarin, dua lagu baru Burgerkill, tapi nampaknya udah nyaris mustahil karena seperti yang kita ketahui, Eben mendahului kita semua beberapa minggu lalu. Ada beberapa yang lain, tapi ntar lah, belum fix prosesnya.

Kalau yang reissue CD, kemaren itu Homicide, lalu yang baru rilis banget Hark! It’s A Crawling Tar Tar. Sekarang momen tepat 15 tahun album itu, kita pengen rilis ulang dengan layak, di-remaster musiknya, ada booklet isinya liner notes dan arsip dokumentasi mereka. Ada album Ayperos juga, dulu sempet bikin kasetnya, sekarang pengen remaster dengan proper dan cetak CD-nya, dengan tambahan lagu singel lepas mereka. Kalau soal Balcony saya bersyukur ditunda. Karena dulu ga ada master wav-nya dan kita mencoba me-remastering dari kaset. Baru belakangan ternyata kita akhirnya nemu WAV yang lebih proper. Untung ga dirilis tahun kemarin haha. Sebenernya ga sengaja juga nemunya, karena awalnya mau nyari artwork cover untuk dibikin ulang, taunya pas si Febby nyari mentahan cover malah nemu file WAV hahaha. Kalo versi vinyl kita rilis yang mercusuarnya dulu, ‘Metafora Komposisi Imajinar (2003)’ kita anggap sebagai album esensial dan rilisan terbaik dari Balcony. Album-album Balcony lain juga akan kita rilis dalam format CD complete discography lengkap dengan booklet liner notes dan lain-lain. Sebagai tambahan spesialnya, ada beberapa versi unreleased yang ditulis almarhum Jojon. Lagu-lagu yang sempat dia tulis akan kita rilis juga di CD complete discography tersebut.

Agenda lainnya dalam waktu dekat mungkin album remix dari album saya Fateh dalam format CD. Saya ngundang beberapa band/musisi yang saya senangi dan saya pikir bakal menarik kalo mereka melakukan versi remix dari lagu-lagu di album Fateh. Ada Oktopus eks member Dalek, Mike dari Destructo Swarmbots, Nishkra, Vladvamp dari Koil, Senyawa, Tesla Manaf, Efek Rumah Kaca dan beberapa lainnya. Yang versi Senyawa malah bukan remix lagi, udah masuknya cover version sih. Sebuah kebanggaan tentunya. Bagi saya yang pasti, hasil-hasil remix yang sudah masuk sangat mengejutkan. 

Ya kurang lebih itu sih agenda dalam waktu dekat ini. Ada beberapa lagi, tapi lupa, hahahaha. Saking banyak dan tumpang tindih jadi sering lupa apa aja.

 

Lalu bagaimana nasibnya reissue album Full of Hate, yang merupakan salah satu album hardcore terbaik yang pernah dirilis di kota kembang pada era Harder Records?  

 

Masih proses remastering sekarang. Udah cukup lama memang, bahkan kelamaan. Permasalahan FOH sama dengan beberapa band lain pada era itu, ga ada masternya yang proper. Masternya dulu pake DAT yang sekarang entah kemana dan belum sempat di-digitalisasi. Jadi kita mastering pakai kaset. Di situ masalah dimulai. Permasalahan besar remastering dari kaset, tiap kaset itu surfacenya beda-beda. Kaya kaset saya lagu ke-1 dan ke-2 bagus, lagu ke-3nya jelek. Pinjam lagi dari si Baruz lagu ketiga bagus, lagu lainnya jelek. Pinjam lagi ke Aris Metalgodz dia punya yang lebih bagus. Jadi sampai sekarang tinggal 2 lagu lagi yang belum nemu versi bagusnya. Lu punya kaset Full of Hate dan saya punya juga, bakal beda-beda jeleknya dimana. Kalo masih segel belum otomatis bagus juga. Karena lama disimpan kemungkinan lebih buruk karena berjamur. Tadinya FOH ini mau rilis versi vinyl tapi kayaknya CD aja dulu.

 

Lalu apa saja 5 album independen lokal klasik favorit lo? 

 

Puppen – MK II (1998)

 

Sudah pasti Puppen EP pertama dan album MK II. Tapi atas alasan tertentu kayaknya saya pilih MK II. Bukan karena saya terlibat juga di dalam proses album itu. cuma memang banyak sekali inspirasi yang datang baik dari prosesnya, melihat mereka rekaman di studio, melihat Puppen sebagai band, atau dari album itu sendiri. “Atur Aku” bagi saya adalah salah satu lagu lokal terbaik yang pernah ditulis.

 

Rotor – Behind the 8th Ball (1992)
 

 

Album yang bagi saya membuka banyak cakrawala pisan.Saat itu mikirnya kalau album (thrash metal) dengan sound ekstrem seperti itu aja bisa, harusnya bikin hip hop yang gak lazim juga bisa. Jadi mau se-ekstrim apapun kalian main musik bisa aja. Sebelumnya kan emang pesimis. Selain faktor hegemoni industri yang dominan saat itu, pengalaman nol, juga karena memang belum ada contoh juga sebelum Rotor bikin album ini. Tentunya juga atas alasan saya fan thrash metal sejak berkenalan dengan genre itu di penghujung 80-an. Untungnya pengarsipan mereka bagus jadi ketika di-reissue, WAV-nya masih sangat bisa dibuat lebih layak pas Elevation bikin vinyl-nya.

 

Pure Saturday – Self-Titled (1995)
 

 
Yang satu ini lebih personal nampaknya, tapi saya gak bisa menampik pengaruh besar dari mereka di era itu. Saya menyaksikan proses mereka pas bikin album itu dan bukan hanya menghibur saya tapi juga sangat menginspirasi. Bukan karena ini album para sahabat saya dari kecil, tapi lebih karena membuka banyak perspektif buat saya. Hampir sama kaya Rotor lah membuka perspektifnya. Cuma kalau Rotor kan orang lain yang berbeda kota dan saya ga (belum) kenal, kalau PS kan kenal, notabene temen yang sehari-hari main bareng, literally. Sesimpel itu. Tentunya juga atas alasan karena album ini memang bagus secara artistik. Gak ada lagu jelek di album ini, sama sekali.
 
Koil – Blacklight Shines On (2007)
 

 
Saya udah lama jadi fans Koil semenjak album self-titled yang ada lagu ‘Matahari’ dan ‘Hujan’. ‘Megaloblast’ juga saya suka. Cuma saya ga pernah sebegitu takjub nya dengar Koil sampe kemudian dengerin Blacklight. Anjing! Bisa kaya gini Koil tuh! Ternyata lu bisa bikin album se-solid itu di era yang berbeda. Ternyata konsistensi sangat menentukan. Itu album 2007 pas Homicide udah mau bubar dan era akhir-akhir majalah Ripple. Saya nulis alasan mengapa saya mengagumi album ini di liner notes rilisan reissue vinyl yang Grimloc bikin 3 tahun lalu. Alasan lebih lengkapnya saya sebut semua di situ.

 

Efek Rumah Kaca – Self-Titled (2007)
 

 

 
Atas banyak alasan, tapi yang paling mencolok adalah bagaimana mereka menulis album yang bisa didengar saat sendu sendirian, berduaan dengan istri atau ditemukan di tengah sebuah diskusi panel tentang kekerasan militer di era pasca-reformasi, semuanya dilakukan seolah effortless dan tanpa terdengar pretentious.

Ya itu kalo lima sih, itu pun yang langsung kepikiran. Rata-rata album favorit saya datang dari era 90-an ke sini. Banyak lagi sebetulnya kalo dipikir lebih lama atau daftarnya lebih dari lima. Album Balcony – Metafora Komposisi Imajinar (2003), Burgerkill ‘Dua Sisi (2000)’, ‘Future Syndrome’-nya Forgotten, album semata wayangnya Hark! It’s A Crawling Tar-Tar, misalnya.

 
Lima rekomendasi band-band Bandung baru?
 

Rounder: Band generasi sekarang yang lahir pasca Alice mempopulerkan chaotic metal begituan. Bentar lagi rilis EP, dan tahun depan rilis album.
Bleach: Hardcore dengan suara dan tone kekinian juga.
Iron Voltage: Bisa jadi band thrash lokal paling favorit saya hari ini. Bentar lagi bikin album katanya.
Arrived Consilium: Neo-crust dengan vokal cewek, baru rilis EP di Bandcamp-nya kemaren.
Harm: Band crustcore Bandung Selatan, entah sekarang udah selesai belum EP-nya. Band-band crust Bandung Selatan ini belakangan berbahaya sih, banyak yang bags.

Bagaimana kabarnya dengan brand Uprock83? We miss the zine and those old school hip hop mixtape!

 

Photo by Domdom GNDHI

Basically Uprock itu dijalanin sebagai media dulu. Media saya sebagai fan hip hop berbagi apa yang saya senengin dari kelebayan saya jadi fan hip hop. Apparelnya itu belakangan setelah saya ngajak Iwan. Nah, belakangan saya gak punya energi untuk bikin medianya tadi. Bikin mixtape berenti, bikin Newsletter/Zine juga berhenti. Ya udah, saya juga gak tertarik juga bikin apparel-nya. Tentu juga ada alasan lain, misalnya saya dan Iwan overwhelmed oleh Grimloc, jadi kita istirahatkan dulu si Uprock, sampe satu waktu kita bisa nemuin lagi energi dan momentumnya. Kemarin Iwan ada ide kalo mo bikin apparel ya bikin aja, cuma saya ga mau kalau kita belum bisa bikin zine dan mixtapenya. Ga lengkap aja kalau cuma bikin apparel doang. Meskipun pasti laku-laku aja. Uprock83 itu ekspresi fandom, jadi selama ekspresi itu belum bisa keluar, (atas alasan waktu dan energi atau apapun), ya udah, istirahat dulu aja.

 

____________________________________________________________________________________

 

“Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali kan? Lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival musik hahaha…”

____________________________________________________________________________________


Apa saja hal-hal paling menyebalkan yang lo alami di masa pandemi ini? Dan apa saja hal-hal terbaik yang lo temukan di masa sulit ini? 

 

Photo by Hanas Duvanc
 
Yang paling menyebalkan ya tentu seperti banyak orang lain yang kehilangan teman dan kerabat. Itu paling tai. Yang lainnya sih sekunderan, misalnya beberapa hal yang ga bisa kita lakukan pas pandemi, gagal eksekusi padahal perencanaan sudah lama. Kita pengen 2020 itu merayakan ultah satu dekade Grimloc. Tadinya mau bikin Grimloc Fest tepat di bulan Juni 2020. Pas lagi gila-gila nya pandemi, gak mungkin banget bikin festival. Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali ‘kan? Bisa dibayangin, lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival hahaha. Mimpinya luar biasa; semua roster Grimloc main semua, kawan-kawan SSSLOTHHH, Eyefeelsix, Goredath, Forgotten, Wethepeople, Krowbar sampe Mesin Tempur dan Koil maen. Tapi ya sudahlah, kita ganti aja sama kompilasi ‘Dasawarsa Kebisingan’, tadinya malah ga ada rencana bikin kompilasi cuma ya pengen bikin milestone aja pas ultah Grimloc. Hal lain? Omunibus Law lah pasti, plus hal-hal lain yang yang urusannya sama otoritas di lapangan di luar sana yang males saya ceritain di sini.
 
Kalau yang personal sih mungkin saya gagal rilis buku. Salah satu benefit rilis buku adalah tour-nya. Saya ada buku baru cuma gara-gara ga bisa tour ya mendingan saya tunda. Saya ga pengen rilis buku tapi ga bisa tour. Males kalau tournya pindah ke zoom, ga fun ga bisa ketemu teman-teman. Apalagi ya? Paling sisi lainnya, pandemi mengizinkan saya beririsan dengan inisiatif-inisiatif mutual aid kaya dapur umum, yang mungkin kalau ga ada pandemi lebih sulit diorganisir. Tapi pas ada pandemi ini momennya untuk terlibat di dalamnya.

 

Hal terbaik? Apa ya? Mungkin hal-hal sepele kayak bikin webstore. Dari dulu tuh kita ga pernah beres mengeksekusi mau bikin webstore. Intinya mah males dan ga punya duit. Cuma duit bisa dicari tapi kalau udah males sulit ya? Haha. Gara-gara pandemi, offline tutup dan kita ga nyaman di marketplace, jadi yaudah kita investasi untuk bikin aktivasi jualan di webstore. Berlaku juga sama workshop artprint kita, dulu rasanya males banget buat mulai, tapi kemaren gara-gara pandemi dan ikutan pameran grafis di Grammars Cihapit, jadi punya workshop setelah mikirin apa yang bisa dilakuin di saat karantina begitu.

Apakah bisa mengelaborasi sedikit mengenai gagasan awal kawan-kawan di Solidaritas Sosial Bandung (SSB) dengan dapur umum dan kebun warga nya? Sudah se-masif apa pergerakan kolektif tersebut?

 

Pengukuran masif atau engganya kalau buat saya lebih ke bagaimana ter-diaspora gerakan nya daripada membesar. Saya bersyukur ide-ide kawan-kawan berdiaspora dan menyebar. Bukan inisiatif 1-2 orang, tapi inisiatif banyak orang. Jadi bahkan orang-orang yang random dan ga saling kenal jadi terhubung dan berinisiatif. Kaya rhizomatic gitu. Gagasannya sih sederhana, bagaimana merespon realita sosial di luar sana yang butuh direspon sama kawan-kawan, terutama dalam wilayah krisis pangan, wilayah distribusi dan logistik dan lain sebagainya. Bukan cuma gara-gara isoman-isoman, karena isu isoman baru belakangan. Awalnya banyak kawan-kawan berhenti kerja dan ga bisa makan. Dari situ kita bagi-bagi tugas, siapa yang cari logistik, siapa yang organisir dapur, siapa yang masak, siapa yang distribusi dsb. Pada akhirnya yang terjangkau melampaui ekspektasi, bukan kawan-kawan yang bisa diraih, tapi juga warga lain yang juga terdampak.
 
Proyek dapur umum ini gerakannya memang simultan dengan kebun warga. Bukan kayak logika duluan mana ayam atau telur, tetapi kedua gagasan itu muncul berbarengan. Resource-nya beragam, dari mulai donasi terbuka, fundraising jual kaos termasuk bikin album kompilasi dan juga dari kawan-kawan yang menyediakan ruang-ruang untuk berkebun. Donasi itu ga selalu berupa uang. Bisa juga tanah kosong yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Di Bandung pernah sampe ada 17 posko SSB, karena ini bukan sistem yang terpusat. Bagaimana kawan-kawan bisa mengemansipasi kawan-kawan lain untuk bikin dapur umum terdekat di lingkungan mereka. Lu punya tanah, lu punya potensi kerja-kerja kewargaan, lu bisa kontakan ama warga sekitar, ya lu bikin. Jangan sampai ada kawan berkebutuhan di Bandung Timur ngambil logistik di Bandung Barat. Udah aja lu masak di Bandung Timur. Itu positifnya dari sistem desentralisasi, ga ada pusat. Justru antar titik bisa saling berbagi sumber daya, misalnya ada surplus tomat di Bandung Barat bisa ngabarin ke titik lain yang membutuhkan. Jejaring ini yang coba dirawat dan mencoba terkoneksi dengan yang serupa di kota lain. Kadang kalo di kita ada surplus sumber daya keuangan, kita salurkan ke titik di kota lain yang membutuhkan. Seiring waktu memang ada pengurangan karena memang mempertahankan lebih susah dari bikin. Ada beberapa kendala personal atau kolektif yang memang harus dimaklumi. Pas gila-gilanya naik angka/curva covid, kawan-kawan kena juga. Jadi ada yang overlap masak iya, delivery iya, pemetaan juga, nganterin logistik jadi kecapean, dan banyak juga yang kena covid.
 

___________________________________________________________________

 

“Barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.”  


___________________________________________________________________

 

 

Mungkin selain menulis lirik di proyek solo, Bars of Death dan Homicide, banyak juga yang tidak percaya kalau beberapa judul lagu dan lirik Pure Saturday lo yang tulis. Gimana ceritanya dulu bisa menulis lage bareng mereka? 
 
Sebenarnya banyak sih bukan Pure Saturday aja, cuma saya ga akan bilang. Ghostwriting hahaha. Kalau PS emang saya ada di credit. Kalo ditanya gimana bisa gitu, basically, ya memang sebelum jadi ngapa-ngapain di kemudian hari, kita semua teman main, sejak SMP. Gimana sih temen, saya punya masalah ya sharing sama teman. Begitu juga mereka ketika mereka ada kendala teknis cerita sama saya. Ya teman bantu teman aja. Ya mungkin kalau pada saat itu mereka temenan sama siapa gitu yang bisa nulis lirik lebih proper, cuma kebetulan pada saat itu saya yang ada di sana. Selama itu juga saya besar bersama mereka. Gede bareng ti ABG. Si Adi (Aditya Ardinugraha) malah teman sebangku saya. Sesederhana itu aja sih. Jadi jawaban gak pastinya; barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.
 
Sebagai graphic designer, lo juga banyak membuat logo-logo band dan juga brand. Dari logo Peterpan sampai membantu mendesain cover album Pure Saturday. Album-album dan logo-logo apa saja yang sudah dikerjakan? 
 
Photo by Easthood
 
Hhmm lupa. Apa ya? Sampul album? Basically saya itu desainer grafis, level teknis nya berbeda beda. Ada yang dari awal sama saya dibikin, dari mulai ilustrasinya, layoutnya, bahkan ada yang sampe typeface-nya saya sengaja bikin. Ada yang saya cuma layout aja, ada yang artwork-nya aja, ada yang Cuma tipografinya aja. Dan dari semua macemnya itu kalo diitung banyak banget, malah udah banyak yang saya lupa. Ada yang artworknya setengah-setengah, kayak album Taruk, ‘Bara Dalam Lebam’, sampul depan oleh Morgan, layout dan artwork dalam oleh saya. Ada yang bikin konsep sampai hurufnya kaya album si D’Army – ‘Negeri Kutukan (2007)’. Hampir semua rilisan Grimloc saya yang layout. Mostly sih pada akhirnya pas Grimloc jalan 5 taunan, saya jadi lebih kayak creative/art director dan layout aja. Kayak sampul album Krowbar misalnya, saya yang ngonsep tapi sampe level eksekusi saya minta si Tahu yang motret. Begitu juga album reissue debut Forgotten, saya minta Aditia Wardhana eksekusi ide saya. Anjing Tanah – “Complete Discography” juga, foto sampulnya yang si Lumax digulung badut Winnie The Pooh itu saya yang usulkan, saya minta Pepey yang motret, itu orang-orang yang lagi lewat di jalan Banda pada heran, kenapa ada orang digebukin badut. Selanjutnya saya cuma eksekusi fotokopi dan layout, tipografi aja, ilustrasi dalamnya si Lukita yang saya minta kerjakan.
 
Jadi lo kaya Alfred Lion dan Franciss Wolff nya di Grimloc ya?
 
Jeung tukang setting oge. Tukang setting Pagarsih. Kabeh lah hahaha. Saya pernah ngeburuh di pabrik percetakan, jadi skill setting saya lumayan cakep, hahahaha. Apalagi ya? Banyak sih, Pure Saturday dan beberapa yang lain. Kalau cuma layout doang kaya album Seringai yang ‘Seperti Api’, Arian kasih mentahan saya yang layout. Kalo di luar Grimloc saya udah hampir lupa apa aja dan mungkin setengahnya rilisan Lawless Records kayak albumnya Hurt Em misalnya, juga rilisan-rilisan Elevation Records kayak reissue vinyl trilogi Gombloh dan Rotor kemaren. Mostly sih layout aja, nya jiga album maneh lah hahahaha (Nearcrush‘Bloodsports & Modern Arts’). Album Peterpan ‘Suara Lainnya (2012)’ dari ide, moodboard sampai layout akhir saya yang bikin meski pada akhirnya layout jadi agak menyebalkan karena permintaan tambahan ini itu dari pihak label. Album debut Risa Saraswati yang tahun 2011, begitu pula album Godless Symptoms yang baru akan dirilis sama Disaster Records sebentar lagi. Yang lebih dari 10 tahun sih udah lupa banget, harus lihat daftarnya di komputer, hahaha. 

 

Selain swiss design dan inspirasi dari label seperti Stones Throw, Def Jux atau Dischord, inspirasi-inspirasi grafis/visual terbesar lo apa saja?
 
Saya teh fans pisan sama David Carson dari jaman dulu. Dia ada di tengah-tengah antara swiss desain dan punk rock. Walaupun ga terukur, dia tuh anti-grid banget. Memanfaatkan negative space-nya tuh swiss design banget. Saya juga fans banget sama poster-poster Rusia, ya konstruktivist pada umumnya. Brutalist, Bauhaus dada-dada gitu lah. Ya itu mah mazhab ya. Hip hop juga tentu, terlebih visual hip hop era 80-an akhir sampe 90-an awal. Era grafis Memphis gitu, modelan Yo! MTV Rap. Juga penggayaan hardcore 90-an awal. Sebenernya referensi desain terbesar saya mah punk rock karena saya besar dengan punk rock meskipun pada akhirnya seringnya mikir grid kayak swiss desain banyak ngebantu. Kaya Gee Vaucher (Crass) dengan kolasenya. Sampe sekarang saya mainin kolase, kemaren Domesticrust dari mana lagi kalau bukan dari Gee Vaucher. Dari punk referensi paling paling favorit itu Mark McCoy dari era Charles Bronson-nya. Anjing bagus pisan! Sampe sekarang saya fans berat Mark McCoy. Ajaib gimana dia maenin metode fotokopi manual, drawing-fotokopi bolak-balik, komputer-manual-komputer-manual.

 

Kaya album Balcony yang ‘Metafora Komposisi Imajinar (2007)’ itu juga fotokopi ya? Pakai lakban segala kan di foto-fotonya?
 
Itu mostly sih Febby yang buat. Kesetanan David Carson juga. Semua album Balcony juga pada eranya pake teknik jadul. Basically karena keterbatasan teknik pada era itu ya harus kaya gitu, kalau jaman sekarang bisa digital, tinggal nempelin tekstur. Jaman dulu ada lakbannya di-layout album Balcony ya karena emang nya’an lakban hahaha. Ya balik lagi ke desain, ya inspirasi terbesar mostly punk rock lah. Majalah Heartattack, Maximum Rocknroll, Profane Existence. Album-album crust core meskipun beda-beda desainer tapi mirip-mirip kan hahaha.
 
Apakah sulit untuk membuat semua rilisan album Grimloc Records memiliki nuansa visual dan karakter yang senada? Yang gue liat juga kaya rilisan Stones Throw, Dischord, Grimloc walaupun berbeda designer dan karakter tapi terlihat “Oh ini album rilisan Dischord, ini rilisan Grimloc”..
 
Sulit sih ngga, Cuma emang gak pernah direncanain untuk senada juga. Tapi kadang saya nyadar suka ada yang senada. Paling engga pemilihan tipografi dan layout, ya betul sepakat sih dalam hal itu. Cuma -nya beda-beda tergantung arahan artistik-nya. Saya ga bisa nyamaratain desain album Koil dengan album Anjing Tanah hahaha. Rand Slam ga bisa saya bikin dengan feel-nya Sacred Witch. Sesuatu yang sangat berbeda secara mood-nya juga. Mostly arahan artistik dari saya, tapi ada juga diskusi dengan band-nya, atau dengan senimannya. Kaya untuk Bars of Death saya diskusi sama Riandy, bagusnya kaya apa ilustrasinya. Ongoing project kita lagi bikin sampul Eyefeelsix, saya diskusi sama Fajar Alanda yang bikin cover Burgerkill ‘Adamantine’. Tapi kadang-kadang ga melibatkan band. Kaya Anjing Tanah, saya pikir ga perlu ngobrol sama band-nya, sikat-sikat aja hahaha, yang penting saya liatin hasilnya dan mereka memberi lampu hijau “Okeyy”..
 
Ada niat pameran?
 
Ada sih, tapi ntar. Si Vidi (Maternal Disaster) sempet ngajak. Pameran artprint saya. Harusnya tahun kemaren juga ada rencana pameran di beberapa kota, dan dapet undangan pameran di Tokyo dan sekaligus residensi di Rotterdam, tapi ya sekali lagi, pandemi mengubah semua rencana.

 

____________________________________________________________________________________
 

 

“Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan milik kita sendiri.”

 

____________________________________________________________________________________
 

Apa saja hal-hal terbaik yang dimiliki oleh Harder Records dan tidak dimiliki oleh Grimloc? Dan sebaliknya…

 

Harder itu embrio-nya Grimloc. Kalau ga ada pengalaman sama Harder saya mungkin ga akan punya pengalaman untuk membangun Grimloc. Otomatis Grimloc memperbaiki banyak hal yang dulu miss di Harder. Saya sama Febby (Herlambang) tentunya ya. Karena, yang dulu di Harder dan sekarang di Grimloc ya cuma saya sama Febby. Sekarang lebih terorganisir dan mencoba buat sustainable. Makanya kemudian umurnya Grimloc lebih lama dari Harder. Dulu pada zamannya Harder itu ya begitu, jadi tempat komunitas, kaya melting pot dari berbagai komunitas. Sekarang juga sama tapi sekarang kita ga harus nongkrong di Grimloc, sekarang kita bisa nongkrong dimana aja, tapi semacam episentrum lah si Grimloc. Buat saya juga itu positif negatif karena saya juga gasuka Grimloc jadi sentralisasi. Seharusnya lebih menyebar aktivitasnya. Positifnya dari ngumpul bareng itu jadi banyaknya aktivitas yang bisa lahir dengan cepat karena nongkrong bareng. Dulu mungkin ga ada sosmed. Jaman dulu untuk hal-hal yang teknis kita harus ketemuan dan janjian di Harder. Sekarang semua diselesaikan oleh teknologi. Kalau sekarang mo ngurus cetakan bisa langsung ketemu di percetakan atau kirim file, kenapa harus ketemu di Grimloc? haha. Mungkin untuk beberapa hal teknis sekarang ga harus ketemu. Sekarang tuh mengefektifkan waktu untuk orang-orang seperti kita yang udah bapak-bapak itu penting. Manajemen waktu seperti itu kita ga pernah ngeh pas jaman Harder. Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita dulu seolah punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan punya kita sendiri. Dulu Harder ga serapih Grimloc dalam mengatur cash flow produksi, agenda dan lain-lain, jadi kaya take it to the next level lah.

 

_________________________________________________________________
 

 

“Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam.”

 

____________________________________________________________________________________
 

 

Apakah menurut lo covid ini adalah defense mechanism mother nature untuk melindungi diri, a freak random accident atau human made bio-weapon? Bagaimana lo menyikapi ini semua dengan padatnya arus informasi dan hoax yang bertebaran… 

 

Sejujurnya saya selalu mencari rujukan dalam banyak hal. Kaya misalnya lu gatau sound lu belajar sound ke yang ngerti sound. Lu mau benerin gitar ya tanya ke teknisi gitar. Benerin boombox ya ke Cikapundung. Nah, untuk hal medis dan ekologi saya belajar ke banyak orang yang ngerti. Ya tanya ke orang yang lebih tau banyak soal hal medis, kaya ke nyokap saya salah satunya yang lebih tahu banyak tentang medis. Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam. Lu ngerusak habitat dimana virus hidup, kaya lu rusak hutan tempat kelelawar cari makan, ya kelelawarnya ke tempat manusia lah cari makan sambil bawa virus. Ya habitatnya lu rusak. Global warming juga bukan sesuatu yang datang begitu saja. Kaya misalnya lu belajar ideologi biar ga dogmatis ya lu baca juga tandingannya. Misal Marxisme, belajarlah dan dibuktikan secara empirik, baca teks buku lain yang berlawanan dengan ideologi lu. Ya sama seperti sekarang dengan banyaknya arus informasi walaupun kita punya keterbatasan untuk absorb informasi, ya cari aja yang relevan dengan hidup lo. Dan juga cari info yang berhubungan dengan itu semua. 

Lalu bagaimana pendapat lu terhadap orang-orang yang menyebarkan informasi tidak benar di era pandemi ini?

 
Agak problematik untuk nentuin apa yang benar dan tidak di era chaos seperti ini. Meski demikian, saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget. Pertanyaan soal kebebasan untuk gak divaksin dan irisannya dengan publik, juga soal kepentingan korporasi dibalik politik dagang dan kesehatan publik. Saya berusaha untuk ga peduli beberapa hal dan lakuin aja apa yang diporsi saya aja. Ya saya sih nyuruh orang terdekat dan temen-temen vaksin aja dulu, tentu dengan prasyarat medis tertentu, yang orang medis pasti lebih tau. Dalam level propaganda, sama aja kayak ada orang yang mempromosikan ideologi neolib, ya upaya tandingannya agitasi propaganda ide-ide tandingannya.
 
Saya gak punya masalah sama orang yang berbeda pandangan, malah upaya kriminalisasi orang-orang yang kayak begitu buat kemudian di penjara kayak JRX kemaren itu harus dilawan juga. Cuma yang jadi masalah buat saya adalah ketika orang-orang itu mulai masuk ke DM atau di sosmed untuk ngajak debat dengan memulai kaya “Lucu banget, anti kapitalisme ngapain lo vaksin?”, itu kan males banget debatnya juga. Udah kelewatan gobloknya sampe males ngeladenin. Ya bisa aja masuk ke debat meskipun saya punya jawabannya, tapi ya wasting time aja gitu. Banyak lah yang ajak debat soal ini, ya adalah gausah disebut lah orangnya tar jadi drama hahaha. Intinya mah udah aja jalanin aja dulu apa yang kita yakinin.
 

Ngomongin soal informasi, ada waktunya tarung ideologi, diskursus, wacana atau apapun namanya. Lain tempat dan waktu. Saya juga suka nyerang dalam hal-hal yang sangat politis. Namanya juga perjuangan politik ada agitasi dan propaganda. Tapi itu beda konteks, dan harus dipastikan premisnya kagak goblok. Ada waktunya buat merealisasikan ide-ide, menjalankan praktek-praktek, membumikan gagasan dsb. Ada waktunya juga buat refleksi, diskusi, kritik-otokritik dan perang wilayah gagasan. Ada waktunya juga buat perang di wilayah imaji, karena kita tau para politikus beroperasi dan membuka medan juga di situ. Kayak Ridwan Kamil, orang Bandung udah paham gimana dia memanfaatkan kekuatan citra untuk mengkonstruksi realitas di luar sana. Dan saya pikir harus dilawan spectacle itu, Guy Debord guerilla squad style.

 

Jadi sekali lagi, saya mah gak heran pandemi hadir, memang mungkin sudah seharusnya seperti sekarang dengan semua yang manusia udah lakuin. Sistem hari ini busuk bukan gara-gara pandemi, pandemi cuma menelanjangi apa yang memang udah busuk. Buat saya sih gimana sekarang kita ngerespon sesuatu yang sudah terjadi diluar, dan kemudian kita saling jaga aja. Dari pada ngabisin energi untuk mencoba merubah hal-hal yang jauh dari jangkauan kita. Kalau ngomongin negara, kebijakan-kebijakan negara yang sudah ada itu sebenarnya sama horornya dengan pandemi. Omnibus Law yang kemaren rame-rame dilawan itu misalnya. Karpet merah buat korporasi untuk buka lahan misalnya. Politik upah murah dan segala tetek bengeknya. Ga ada salahnya buat kawan-kawan yang mau meneruskan mengkritik negara saat ini, go on. Mungkin ini memang saatnya untuk melakukan itu lebih intens lagi. Tapi harus juga dibarengi dengan upaya-upaya, ikhtiar-ikhtiar agar kita sesama warga bisa survive. Ngebangun basis ekonomi warga, bikin mutual aid, berserikat, berjejaring, bersolidaritas dan sebagainya. Ini bukan cuma buat pandemi, karena jauh sebelum pandemi, kapitalisme sudah melahirkan krisis.

 
Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Herry Sutresna archives, Easthood, Domdom GNDHI & Hanas Duvanc

 

Jojo’s Bizarre Adventure (JBA) adalah salah satu pengalaman paling gila, unik dan aneh bagi kami saat membaca manga atau menonton animenya. JBA sudah berjalan lebih dari 30 tahun dan terjual lebih dari 100 juta kopi. Untuk sebuah manga dan anime series, franchise JBA adalah salah satu anomali paling menarik: Di satu sisi menjadi franchise yang sangat populer tapi di sisi lain memiliki niche-market dan membutuhkan acquired taste untuk menikmati karyanya. Sebut saja unsur kekerasan, hiper-seksualitas, pose-pose awkward, fashion flamboyan, referensi musik pop, unsur supernatural sampai fakta-fakta sejarah dunia ada disini. Berbagai referensi menarik dari selera musik Araki yang bagus dan memiliki range luas tersebar di seluruh seri anime dan manga JBA. Seri 5 (Golden Wind) yang berlokasi di Italia dan seri 7 (Steel Ball Run) yang menampilkan road-trip cross-country keliling Amerika diperoleh Araki dari riset mendalam setelah mengunjungi Italia dan liburan keliling Amerika. Experience unik sudah tentu akan didapatkan oleh para pembaca manga atau penonton animenya. Spin-off Jojo’s Bizarre Adventure yang berjudul ‘Thus Spoke Kishibe Rohan’ adalah perpaduan antara kekaguman Araki terhadap filosofi Nietzsche (Thus Spoke Zarathustra) dan budaya pop. Di setiap part dan season JBA, tema, setting, dan genre storytelling Araki selalu berbeda, sehingga selalu menarik, tidak seperti Dragonball Z atau One Piece yang plot dan strukturnya story arcnya cenderung sama.

 

 
Sebagai salah satu manga yang paling influensial, mendeskripsikan Jojo’s Bizarre Adventure ternyata cukup sulit. Setelah diadaptasi menjadi anime pada tahun 2012, JBA sebentar lagi akan memasuki Season 5 (Stone Ocean). Banyak konsep karakter, visual dan ide-ide seperti konsep “Stand” menjadikan Jojo’s berbeda dari anime dan manga lain. Tidak seperti Dragon Ball Z atau Fist of the North Star dimana para karakter berkelahi pada umumnya, para karakter Jojo’s (mulai dari Stardust Crusaders) bertempur menggunakan “stand”, manifestasi fisik dari kekuatan mental para penggunanya. Dengan uniknya kekuatan para stand tersebut, pertempuran di Jojo’s tidak pernah membosankan. Beberapa stand dan karakter bahkan menggunakan nama yang diambil dari album, lagu atau nama band tertentu: Rubber Soul (Beatles), Steely Dan, Iggy (Iggy Pop), Foo Fighters, Crazy Diamond (Pink Floyd), Tusk (Fleetwood Mac), Love Deluxe (Sade) dan masih banyak lagi. Menurut Araki, beberapa karakter pun terinspirasi dari musisi dan aktor. Protagonis Jotaro Kujo terinspirasi dari Clint Eastwood, sedangkan serial killer Yoshikage Kira terlihat seperti David Bowie. Antagonis serial ini pun (DIO Brando) dinamakan dari Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath. 
 

 

 
Tentunya para penggemar anime akan mendapat sensasi yang aneh saat pertama kali menonton Jojo. Karena interest Araki pada high-fashion (Christian Dior dan Gianni Versace adalah favoritnya), selera pakaian para karakternya pun terlihat sangat flamboyan dan sedikit cross-dressing. Tentunya kamu yang memiliki toxic-masculinity akan “terganggu” saat melihat karakter-karakter androgini dari Golden Wind (Vento Aureo), Steel Ball Run atau Diamond is Unbreakable. Selera humor Araki pun selalu berusaha menyentil norma sosial, memecah tabu dan kadang menjadi offensive untuk beberapa pembaca / penonton Jojo baru. Araki mengakui banyak terpengaruh oleh seniman/pelukis Perancis Paul Gauguin sebelum memulai karirnya di dunia manga. Kejeniusan Araki akhirnya diakui di Perancis. Karya nya “Rohan at the Louvre”, yang menggunakan karakter Jojo Kishibe Rohan, dipamerkan  di museum Louvre Paris pada tahun 2009. Pada tahun 2011 Araki juga sempat berkolaborasi dengan brand fashion couture Gucci untuk eksibisi Gucci x Hirohiko Araki x Spur magazine yang dipamerkan di Gucci store Shinjuku. Eksibisi yang bertema “Rohan Kishibe Goes to Gucci” ini adalah selebrasi ulang tahun Gucci yang ke-90. Eksibisi ini juga menampilkan figure life-size Rohan Kishibe dan juga berbagai ilustrasi (termasuk 2011-2012 fall/winter collection yang menampilkan Rohan dan Jolyne Kujo menggunakan Gucci). Araki juga pernah berkolavborasi dengan brand footwear Vans. Sampai-sampai Billie Eilish pun terlihat memakai baju Jojo (walau menurut kami dia hanya poser otaku saja). Tapi tentunya yang paling epic adalah patung life-size Jotaro Kujo yang dipamerkan di Comic Con New York 2017.
 

 
Karir Araki dimulai dari manga bertemakan koboy Poker Under Arms (1980) yang tepilih dalam penghargaan Tezuka Awards. Pada tahun 1983 Araki mulai membuat manga series berjudul Cool Shock B.T., mengenai seorang ahli sihir yang memecahkan berbagai misteri. Araki pertama kali menggunakan kekerasan dan gore pada tahun 1984 dengan manga berjudul Baoh, yang diadptasi menjadi anime di tahun 1989. Baoh adalah salah satu anime yang sangat kami rekomendasikan dari visual dan storytellingnya. Seri berikutnya yang Araki kerjakan adalah magnum opusnya, yaitu Jojo’s Bizarre Adventure. Sebuah serial yang menceritakan dinasti keluarga Joestar dan rivalnya Dio Brando. Part 1 adalah Phantom Blood, sebuah cerita mengenai Jonathan Joestar yang melawan vampir bernama Dio Brando dan bersetting di Inggris tahun 1880an. Kedua karakter utama disini terinspirasi dari Arnold Schwarzenegger dan Sylvester Stallone. Part 2 menceritakan Joseph Joestar dan petualangannya untuk melawan pillar men. Pada kedua part ini terlihat sekali inspirasi karakter kekar dan muskular ala Fist of the North Star. Part 3 yang berjudul Stardust Crusaders adalah yang pertama memperkenalkan pertempuran dengan “stand”. Menceritakan Jotaro Kujo yang berpetualang keliling dunia (dari Jepang, India, Hongkong sampai Cairo) bersama kakeknya Joseph Joestar, untuk menyelamatkan ibunya dari kutukan DIO. Stardust Crusaders pun banyak terinspirasi dari Indiana Jones dan horror ‘80an. Pada part 4 (Diamond is Unbreakable) Araki mencoba storytelling ala murder-mystery. Dimana satu kota kecil diterror oleh seorang serial killer yang menyerupai David Bowie dan memiliki fetish terhadap tangan wanita. Part 5 (Golden Wind) terinspirasi dari obsesi Araki terhadap budaya Italia dan film Godfather. Bersetting di Itali, Golden Wind bercerita mengenai sebuah geng yang dikejar-kejar oleh boss mafia dan komplotannya mengelilingi Italia. Favorit kami tentunya adalah part 7 yang berjudul Steel Ball Run. Bersetting koboy ala wild west, imajinasi terliar Araki ini menampilkan lomba balap kuda 6000km, hantu, dinosaurus, biarawati Vatican yang cross-dressing, musuh yang bisa memanipulasi waktu sampai presiden Amerika yang mencari mayat Yesus. Diselipi tema rasialisme dan protagonis yang difabel, ini mungkin adalah salah satu manga terbaik yang pernah ditulis. Dari art-style yang unik sampai world-building franchise yang aneh, beri hadiah kepada dirimu sendiri dan mulailah menonton serial ini. You owe it to yourself to experience the weirdness of Jojo’s Bizarre Adventure and the fucked-up mind of Hirohiko Araki.
 

 

Words Aldy Kusumah

Turtles.Jr adalah band punk yang telah lama mewarnai blantika musik underground tanah air sejak tahun 1992. Turtles Jr terdiri dari Drummer Boentar, vokalis Boodfuck, bassist Dohem, dan gitaris Buux Frederiksen. Turtles Jr adalah sebuah ikon punk di Indonesia, kalau membahas movement punk di negeri ini, pastilah wajib menyebut nama Turtles Jr.
Tahun ini Turtles Jr mendapat undangan dari Rebellion Festival, sebuah perhelatan musik & budaya punk terbesar di dunia tepatnya di Blackpool, Inggris dan menjadi sebuah sejarah band punk pertama Indonesia yang diundang untuk main di acara tersebut.

The Rebellion Festival, sebelumnya Holidays in the Sun and the Wasted Festival adalah festival punk rock Inggris yang pertama kali diadakan pada tahun 1996. Festival ini telah menarik liputan pers dari berbagai belahan dunia seperti The Guardian, the Independent, The Daily telegraph, Kerrang, dan masih banyak lagi.


Ini menjadi pembuktian untuk semua bahwa Turtles Jr layak untuk tampil di gelaran tersebut, dan Turtles Jr berkesempatan bermain bersama band-band besar international seperti Bad Religion, GBH, Conflict, The Exploited, Sham 69, Anti-Flag, The Addicts, UK Subs, Discharge, The Dickies, dll.

Turtles Jr saat ini sedang menggalang dana untuk keberangkatan ke Inggris tanggal 31 Juli 2022 nanti, mereka dijadwalkan tampil di Rebellion Festival tanggal 5 Agustus 2022.

Setelah merilis album Memorandum di semua platform musik digital. Akhirnya, Perunggu merilis debut albumnya ini dalam bentuk cakram padat oleh Disaster Records.

Sudah bukan rahasia umum bagi musisi, merilis karya di masa pandemi adalah sebuah keharusan. Sebagai suatu tanda keeksisan demi memanaskan jiwa kesenian dalam diri mereka. Seperti yang dilakukan trio Perunggu yang digawangi Adam Adenan (bass, kibor, piano, vokal latar), Ildo Hasman (dram, vokal latar) dan Maul Ibrahim (gitar, vokal utama) pada Jumat (11/3/2022) ini, melempar debut album penuh mereka berjudul Memorandum yang merupakan kepanjangan dari memo, atau pengingat.

Makna album ini berfungsi sebagai catatan. Secara garis besar berkaitan dengan irisan hidup para personel ketika menginjak fase usia paruh baya bersama segala macam dinamika dan problematikanya.

Semua itu tampak jelas tergambar dalam sebelas nomor yang disajikan: Tarung Bebas (tentang kejadian baku hantam secara harfiah), Canggih! (tentang kecintaan mereka terhadap musik), Pastikan Riuh Akhiri Malammu (tentang makna jatuh cinta seorang bapak yang baru dikaruniai anak), Membelah Belantara (tentang kritik sistem politik domestik), Haru Paling Biru (tentang kesedihan yang mendalam), Ini Abadi (tentang kisah percintaan hubungan jarak jauh), Biang Lara (tentang kejujuran atas perasaan kecewa), Per Hari Ini (tentang semangat kerja anak kantoran), Kalibata, 2012 (tentang kematian orang terdekat), Prematur (tentang makna sebuah keinginan), dan 33x (tentang pengingat atas diri sendiri).

Corak musik rock apik gubahan Perunggu sanggup mendorong semangat kita untuk tegar menjalani hari demi hari kehidupan. Ditambah lirik lagu yang bercerita dalam bahasa Indonesia memastikan para pendengar tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami maksud dan pesan yang disampaikan.

Ide album ini bermula pada Februari 2020 sewaktu Adam Adenan tengah menempuh studi di Inggris dan proses kreatif terjadi lewat pengiriman demo mentah via surel. Tak lama berselang pandemi Covid-19 menghantam. Surutnya aktivitas membuat energi mencipta karya tidak terbendung, walhasil total 18 lagu berhasil tertulis selama masa itu.
Agar materi mentah mampu digarap secara rapi serta elegan, anak-anak Perunggu menggamit Giovanni Rahmadeva, penabuh drum unit indie rock Polka Wars yang telah ‘menemani’ Perunggu sejak pengerjaan EP Pendar (2020) sebagai produser album ini. Di tangan beliau sejumlah lagu dieliminasi dalam upaya mencapai kematangan sebuah karya penuh sehingga tidak ada satu pun formula aransemen yang redundan di setiap lagunya.
Beberapa musisi tamu juga dihadirkan di sini. Dennis Ferdinand diajak sebagai co-producer. Lalu tiga gitaris Bima Errawan, Wiku Anindito, dan Lafa Pratomo yang membuat kedalaman Memorandum terdengar layaknya pesta sonik enam senar. Ada juga hara, penyanyi perempuan yang syahdu bersenandung untuk lagu Prematur.

Dengan pengerjaan yang cukup panjang, memperlihatkan kesungguhan Perunggu dalam memeluk kecintaan mereka terhadap musik. Dan persembahan Memorandum inilah pembuktian terbaik untuk dibingkai sebagai sebuah tonggak.

“Musik adalah hal yang sama sekali tidak mungkin kami tinggalkan. Ini album yang dikerjakan dengan serius. Meskipun waktu dan biaya yang dikeluarkan cukup besar, lucunya kami tidak merasa rugi. Karena kami cinta mati sama musik, dan mengerjakan album ini membuat kami senang menjalani segala macam pengorbanannya,” pungkas Maul Ibrahim.

Hardcore Pagebluk adalah follow-up Kidsway atas debut mereka tahun 2017 lampau. Beranggotakan (eks) personil Balcony, Take A Stand dan Asia Minor, mereka melanjutkan rangkaian proyek bersenang-senang dengan hardcore punk yang mereka usung sejak 2018.

Kidsway memperlihatkan sisi fun dan introspektif dari hardcore 90-an yang berakar pada band-band NYHC seperti CIV dan Warzone, selain tentunya band PMA Hardcore serupa H2O. Format dan vibe yang di era Bandung 90-an diwakili oleh Full of Hate, yang pada album ini secara ekstensif mereka aduk dengan pengaruh Snapcase hingga Beastie Boys.

Hardcore Pagebluk, sesuai judulnya, merupakan materi yang mereka tulis selama pengalaman di 2 tahun salama pandemi. Dirilis dalam format CD atas kerjasama dua label, Grimloc dan Disaster. 9 lagu yang dikemas dengan padat dalam durasi album hardcore pada umumnya; kurang dari 30 menit, padat dan cepat. Dengan sampul album yang dikerjakan oleh Ken Terror. mencatat beragam hal dari mulai tema emansipasi moshpit, catatan polemik saat hiruk pikuk senyap pagebluk, hingga memo introspeksi ketika krisis menerpa hingga level yang sangat personal.

Bertamukan rap Tuan Tigabelas, vokal Vansu (dari salah satu unit HC gelombang baru Bandung, Revival Mode), dan sentuhan impresif Alicetriana pada single mereka yang mengadopsi pengaruh Shelter, “Gelap”. Sebagai penutup, lagu ikonik Full of Hate “Bandung Hardcore” mereka bawakan sebagai pengingat zaman dan semangat.

Tahun lalu, Mars Volta yang sudah lama tidak terdengar mengeluarkan sesuatu yang baru lewat sosial medianya. Ternyata pada tahun lalu itu, Mars Volta merilis menjadi boxset La Realidad De Los Suenos yang dirilis secara terbatas, dengan berisikan lagu-lagu dulu termasuk materi yang belum pernah dirilis dari debut mereka tahun 2003 De-Loused In The Comatorium.

Setelah semua itu, band yang telah menyatakan bubar pada tahun 2012 ini tidak mengeluarkan apapun sampai di pertengahan Mei 2022 ini, Mars Volta telah kembali dengan lagu baru pertama mereka dalam lebih dari 10 tahun.

Sebelum rilis lagu terbarunya, sempat sebuah kubus muncul di LA Grand Park. Dianggap sebagai instalasi yang didirikan untuk menceritakan kisah kembalinya Mars Volta, setiap pengunjung juga akan mendengar teaser pertama “Blacklight Shine.” Mengenai lagu itu sendiri, Cedric Bixler-Zavala mengatakan lagu itu tentang “a wave of rolling blackouts washing memories onto shore, a heartbeat that still remembers everything.”

Harry “Bronx” Hardiyansyah sudah malang-melintang menjual T-shirt dan merchandise musik import dari tahun 2009. Dari kecintaan nya terhadap musik dari berbagai genre, Harry pun memutuskan untuk merintis Oblivion merch & Oblivion Records, yang sampai sekarang sangat aktif menjual merch lokal dari The SIGIT, Seringai, Homicide sampai Avhath. Simak perjalanan Harry dari kolektor kaos band sampai membuat toko dan record label. Let’s dig ini..

“Sekarang ada Avhath baru masuk. 350 pieces cuma 24 menit habis di Tokopedia. Upload di Tokopedia, ditinggal tidur, di menit ke 24 udah sold out stock nya. Tinggal nge print, di packing anak-anak dan request pick up. Hahaha..”

 

Bronx! Bisa ceritain ga history Oblivion pada awalnya?
Sebenernya ga ada rencana untuk jadiin Oblivion kaya sekarang. Jadi memang organik aja si Oblivion mah. Tadinya berawal dari jualan iseng karena pada saat itu saya masih kuliah. Jual kaos-kaos yang saya pake. Biasana mun hayang meuli baju anyar kudu jual kaos lila soalna eweuh duit na hahaha. Tapi ada beberapa juga kaos lama yang masih disimpan walaupun kekecilan. Awalnya jualan dari tangan ke tangan. Jual BU awal nya sih sebenernya. Karena rame yang beli akhirnya mulai PO sendiri pas 2008-2009. Awal jual di Kaskus sebelum marketplace dan Instagram. Kaskus dan jual COD. Pas jaman dulu nongkrong dan masih gawe di Evil sama Chandra (Nearcrush), boss urang baheula hahaha..

2009 mulai muncul nama Oblivion yang saya ambil dari lagu pertama Crack the Skye nya Mastodon. Urang embung ribet, udah aja ambil dari lagu itu kebetulan saya suka banget lagu nya.

“Tanggal 1 gajian, sore jam 5 ditagih sama leasing cicilan motor jadi beak hahaha.. Numpang lewat gaji.“

 

Sebelum Oblivion aktivitas lo apa aja?
Nah ieu bodor dan panjang haha. Dulu direkomendasi kuliah akunting sama almarhum Babeh.. Teu sajalur jeung kehidupan urang hahaha.. Kuliah cuma 3 bulan lalu di DO. Mulai freelance di Evil diajak Chandra jadi shopkeeper malahan. Nyambung ngobrol musik ama Chandra nyambung jadi diajakin juga. Tapi penghasilan jaman itu kurang. Tanggal 1 gajian, sore jam 5 ditagih ku FIF leasing cicilan motor jadi beak hahaha.. Numpang lewat gaji. Mulai muter otak lagi untuk cari sampingan lebih nya. Mulai kuliah perhotelan dan gawe juga di hotel. Sempat kerja di Hyatt dan Hilton. Tau nya si Oblivion makin rame pada saat itu. Setelah dihitung ternyata sampingan saya si Oblivion lebih gede dari kerjaan hotel saya. Lalu sempat bikin Poison Stockroom sama Ebho. Karena Oblivion masih keteteran saya memutuskan keluar baik-baik dari Poison. Oblivion itu ibarat anak pertama saya masa di anggurin. Dan Oblivion juga nyambung dengan passion saya ke musik.

Persentase kaos lokal dan luar di Oblivion sekarang banyak mana?
Lokal dong. Kalo dulu yang kaos import rutin, sekarang mah import nya dikurangi, kalau dulu lebih rutin. Awalnya 2016 toko pertama kita ga jual band lokal sama sekali. Dulu di Gandok-Siliwangi 2016 toko nya. Dulu masih jual band-band yang saya suka aja yang D-beat. Idealis mungkin ya. Dulu cuma nyetok Disfear, Discharge, Wolfbrigade, Amebix.. Kaya Metallica ama Lamb of God malah ga saya jual. Lama-lama kompromi ikutin pasar. Mulai masukin big 4 kaya Iron Maiden dan lain-lain biar membludak orderan nya. Lalu ada penawaran merchandise dari The Sigit 2016. Penawaran eksklusif pas mereka mau ke Australia. Deal nya wholesale ambil semua biar eksklusif cuma Oblivion yang jual. Dan kalau ada orang lain mau beli atau wholesale diarahkan mereka ke Oblivion juga. Saya sempat ragu laku ga ya jual kaos lokal, soalnya jaman itu orang sepertinya masih gengsi pake kaos band lokal. Jigana nyak. Taunya 2 hari sold out itu. Per artikel sekarang 1000 pieces kalau The Sigit sekarang.

“Kebetulan si Ken Terror (Sunbath) teh adik kandung almarhum Babeh (Bapak). Jadi om saya si Ken teh haha.. Kalau Sunda mah Mang. Dulu pas SMP kalau main kerumah Ken diracunin Los Crudos, Wolfpack, Hellshock..”

 

Kaos-kaos lokal yang paling laku di database toko lu apa aja?
No 1 sudah pasti The Sigit, karena sudah lama kerjasama sama mereka. Image nya di orang-orang kalau mau beli kaos The Sigit udah pasti cari nya ke Oblivion. No 2 Seringai. Ke-3 semua kaos rilisan Grimloc, kaya Homicide dan band-band Grimloc lain nya. Kaya misal Grimloc mau rilis apa, turunan merch nya pasti penjualan nya bagus. Sekarang ada Avhath baru masuk. 350 pieces cuma 24 menit di Tokopedia. Kalau via Whatsapp udah ga akan kekejar. Upload di Tokopedia, ditinggal tidur, di menit ke 24 udah sold out stock nya. Tinggal nge print, di packing anak-anak dan request pick up. Hahaha..

Oblivion juga punya divisi baru: Oblivion Records. Apa saja rilisan nya?
Baru 2 sih rilisan: Vinyl Forgotten (Future Syndrome), reissue album pertama Forgotten yang tahun 1997. Satu lagi CD Sunbath, band alternative rock nya Ken Terror. Kan sudah lama kerjasama sama Grimloc di bagian merchandise. Tertarik bikin record label dan banyak ngobrol sambil belajar ke Ucok (Grimloc). Pas ngobrol ama Ucok ditawarin mau ga rilis reissue Forgotten? Wah anjir! Tertarik banget. Sebuah kehormatan diajak split sama Grimloc. Jadi aja bikin record label kecil-kecilan. Produksi di Inggris waktu itu. Nah terus dari Forgotten kan jauh ke Sunbath, lintas genre hahaha! Nah kebetulan si Ken Terror (Sunbath) teh adik kandung almarhum Babeh (Bapak). Jadi om saya si Ken teh haha.. Kalau Sunda mah Mang. Dulu pas SMP kalau main kerumah Ken diracunin Los Crudos, Wolfpack, Hellshock.. Jadi suka band-band seperti itu, band dia juga kaya gitu kan Kontrasosial, Hark dan Domestik Doktrin. Pas lagi ngobrol dia bilang punya band alternatif ‘90an. Saya rilisin aja format CD si Sunbath sebagai rilisan Oblivion yang kedua.

Upcoming projects Oblivion dan Oblivion Records apa aja Bronx?
Kalau record label sih tadinya mau rilis si Bleach bareng Disaster Records, tapi belum ada obrolan lagi sih. Kalau Oblivion Store sih banyak banget rencana upcoming nya. Karena merchandise kan memang bisa kapan aja rilis nya. Tapi sekarang terbalik, biasanya saya yang apply ke band, sekarang band yang nawarin ke saya. Kalau cocok langsung ditarik dan rilis.

Jadi sejauh ini semua rilisan merch dan record label kurang lebih sesuai selera lo ya?
Iya kurang lebih begitu, tapi kalau Oblivion merch ada konten merch request tiap bulan. Jadi customer request pengen band lokal apa aja. Lalu dari sekian banyak komen saya tampung. Avhath juga hasil dari merch request para customer asalnya. Ternyata edan hasilnya. Sekarang yang lagi jalan Jason Ranti, The Sigit, Sunbath artikel baru. Wah banyak banget sebenernya. Tapi justru Oblivion lisensi produksi merch baru satu, Kontrasosial aja. Sisanya mah wholesale ke band atau record labelnya. Karena saya ga ada team produksi.

Lo pasti koleksi kaos band kan? Top 5 band T-Shirt lo apa aja? Ada wishlist yang belum kesampaian?

Setiap hari juga saya ke kantor pake kaos band terus Dy, hahaha. Ini top 5 kaos favorit saya:
1. Darkthrone – Sardonic Wrath
2. Corrosion of Confirmity – Animosity
3. Godflesh – Hymns
4. Mayhem – Deathcrush
5. Dropdead. Yang ini hampir tiap hari dipakai hahaha..

Wishlist T-Shirt saya yang belum kesampaian:
1. Malignant Altar
2. Entombed – Left Hand Path
3. Killing Joke
4. Gulch, baru bubar kemaren-kemaren, kaos nya rada jarang.
5. Gauze, yang band Jepang.
6. GISM, band Jepang juga.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Bronx’s Archives

Sesuai janjinya pada postingan di akun instagram CAL (@gilanghadee), ia akan merilis E.P perdananya tepat pada tanggal 20 Mei 2022. Unit Shoegaze asal bandung ini berhasil merangkum dan menetaskan E.P perdannya bertajuk “Anthracite Grey”, nama “Anthracite Grey” dikutip dari nama judul track ke-3 yang ada di dalam E.P.

CAL merupakan proyek solo alter ego dari Gilanghade, dengan riff gitar yang dibuat sesederhana mungkin, dan juga warna musik Nugaze/Alternatif. CAL dibantu oleh Vian (Bass/Rounder), Biman (Gitar/Grief), dan Jordy (Drum/Saint Fiction) sebagai pelengkap penuh dalam formasi band.

“Saya sudah memikirkan semua konsep dan timeline rilisan CAL mulai dari single perdana sampai E.P perdana dengan sangat matang, aktivasi CAL selama setahun penuh sudah saya susun di timeline saya.” ujar Gilanghade. E.P ini berisi 5 track yaitu single perdana “Spending”, single kedua “Chemical”, “Anthracite Grey” yang dikutip jadi judul E.P ini, lalu ada “Myself” yang menjadi intro/pembuka, dan “Sulfate” yang menjadi track penutup di E.P ini.

E.P “Anthracite Grey” ini sudah bisa di akses dan di nikmati di berbagai layanan streaming musik.

 

Jeurnals

Eric Wirjanata adalah salah satu founder Deathrockstar (DRS), sebuah webzine dan media musik yang dulu sering mereview band-band independen lokal era tahun 2000an. Eric bersama Marcel (Sajama Cut) dan Ryan aktif mereview gigs, album dan interview band di website Deathrockstar. DRS terkenal dengan reviewnya yang jujur: kalau jelek mereka bilang jelek, kalau bagus, mereka akan menaruh karya itu di sebuah pedestal sebagai selebrasi. Berbagai kritik pun dari band-band yang tidak terima disebut jelek mulai membanjiri DRS sehingga mereka cukup viral pada masanya, dan menjadi salah satu portal musik independen yang paling notorious. DRS juga cukup aktif membuat gigs-gigs lokal di Bandung dan Jakarta pada era itu.

“Dari dulu band dan musisi Indonesia pengen go internasional lewat band pop dan indie rock. Ternyata malah yang eksperimental seperti Kuntari, Senyawa, LAIR dan Gabber Modus Operandi yang go internasional hahaha..”

Ric, kalau ngobrol sama lo sudah pasti gue akan nanya soal Deathrockstar. Apa kabar nya DRS? Bisa ceritakan sedikit ga mengenai DRS pas lo bikin di awal-awal?
Si DRS saat ini sedang menikmati masa-masa the has-been ya. Hehe. Pada masa nya pernah berjaya. Emang gue lagi bikin beberapa plan. Mungkin ga harus berjaya banget ya, tapi paling enggak masih ada purpose nya. Dulu awal mulai si DRS tuh pas SMA gue kenal si Marcel (Sajama Cut). Kita sering ngobrol tuh karena anak-anak musik jarang di sekolah gue. Gue ga ngeband tapi sangat into musik aja dulu. Pas kita SMA walaupun kita pisah sekolah, kita mulai mengenal skena independen. Dari melihat banyak zine dan majalah-majalah yang terbit secara independen, sampai menikmati rilisan-rilisan fisik independen.

Waktu itu gue kuliah di Bandung, di UNPAR HI. UNPAR kan dekat ke Harder Records (cikal bakal Grimloc Records). Pertama kali kenal sama si Andre Vincent (Jeruji, Soldier Fight) dan anak-anak Balcony juga. Liat zine yang dijual di Harder gue mulai bikin zine fotokopi juga dengan nama Confusion. Tentunya dapat nama dari Confusion is Sex-nya Sonic Youth. Ditaro berapa biji abis. Ternyata orang-orang senang dengan media pada saati itu. Nah pas masa itu warnet lagi berkembang kan, Geocities, mIRC. Di mIRC gue pake nickname Deathrockstar, sebenarnya salah tulis, harus nya dari lagu Thurston Moore “Elegy for all the Dead Rock Stars”. Ternyata “death” lebih keren dari “dead”. Yang satu (dead) sudah mati, tapi kalau death ini kematian, lebih mengancam hehe..

Lalu awal mula lo bikin website Deathrockstar itu gimana?
Waktu itu dot com banyak dibagikan gratis. Keren nih kayaknya pake dot com. Si Marcel langsung beli aja. Karena waktu itu kita senang membaca Pitchfork Media, kita mulai mereview ala Pitchfork pada masa itu, mulai dari review kaset-kaset yang kita punya. Si Marcel bikin nama sendiri, gue juga ada yang pake nama orang. Si Marcel pernah pake nama Tobin Sprout, personil Guided By Voices hahaha. Kita bikin-bikin aja nama biar kesan nya banyak orang, padahal cuma kita berdua hahaha.. Lalu pas kuliah gue juga ketemu si Ryan. Dia hobby foto dan suka nulis juga. Akhirnya dia bantuin foto, bikin event dan menulis juga.

Lo juga sering buat event dan gigs ya bareng DRS?
Nah setelah ada Ryan, enak tuh kan ada partner nya. Jadi mulai juga bikin event. Pernah bikin gigs di BB’s Jakarta sama Marcel. Nama nya Rock Music Parade. Acara sepi tapi yang datang lumayan buat nambah-nambah temen. Arian Seringai, David Tarigan, Anak-anak Superman is Dead pada dateng. Yang main resmi sebenarnya ada band gue juga main, nama nya Snort, tapi pada gak dateng anak-anak nya hahaha. Akhirnya dibantuin Akbar dan almarhum Andri, sebelum mereka bikin A Stone A. Ada Toilet SOunds, Henry Foundation (sebelum jadi Goodnight Electric), dan Sajama Cut. Anak-anak Superman is Dead manggung terus tiba-tiba minta manggung, alat-alat nya minjem. Mereka pake nama Devildice kalau ga salah.

Lalu kita bikin-bikin juga acara di Bandung. Tahun 2004 bikin Rock Circus kalau gak salah. Bikin ama si Bayu, manager The Sigit yang dulu. Akhirnya bikin di Classic Rock Cafe. Abis dari 347 atau Spills Records kalau gak salah ketemu Koseng atau si Iyo (Pure Saturday), gue lewat ada kafe gitar nya gede banget. Akhirnya gue masuk dan minta kontak nya. Gue kasih tau Bayu dan Marin. Akhirnya jadi acara itu. Line up nya lumayan seru: Seringai, The Sigit, A Stone A, Sajama Cut dan Teenage Death Star.

Lalu sekarang DRS sedang merencanakan dan mengerjakan apa?
Si DRS sih 3 tahun terakhir bisa dibilang ada dan tiada. Tapi gue bikin lebih personal sih sekarang. Kalau bisa dapet partner atau investor mau gue kembangin brand nya. Gue suka brand kaya Maternal Disaster, mereka rilis buku, punya divisi record label juga. Gue juga pengen kaya gitu cuma karena gue sendiri jadi kurang bisa banyak gerak. Maternal jadi benchmark buat gue sih. Ga harus ada semua tapi yang pasti DRS harus ada divisi merch dan event. Sekarang DRS cuma gue sendiri, nulis aja sudah jarang nih soalnya gue sibuk ngerjain digital marketing untuk beberapa klien.

Dulu DRS terkenal dengan review yang benar-benar jujur. Pernah ada yang protes karena lo review jelek atau apa ada cerita-cerita unik?
Sebenarnya karena dulu media yang bahas musik masih jarang, mereka (band-band) itu ga ambil pusing mau dibilang jelek atau bagus. Yang penting di review atau di repost. Beda nya musik dan makanan itu, kalau musik dibilang jelek atau engga lo tetep bisa ngasih sample musik nya disitu, orang masih dengerin juga musik nya. Coba makanan, gue bilang “ini makanan ga enak Dy”, lo ga akan makan disitu hahaha. Setiap gue review gue taro juga preview musiknya. Orang tetap bisa dengerin dan menentukan sendiri sih..

Lo inget ga dulu yang pernah lo review jelek album apa aja? Hahaha..
Kebanyakan rata-rata yang gue kritik band besar sih. Yang gue bilang jelek biasanya yang sudah terkenal sih. Band-band baru sih jarang. Dulu Homicide aja pernah gue kritik hahaha. Ternyata setelah beberapa tahun gue baru nyadar ternyata Mini Compo gue yang rusak. Gobloknya Compo gue nya yang suara nya jelek sebenarnya. Padahal anak-anak Hardcore Bandung itu punya sound tahun 2000an aja sampe sekarang masih belum bisa dikalahin. Kaya Balcony aja album “Metafora Komposisi Imajinar” keren banget sound nya dulu di kaset. Album “Terkarbonasi” aja musik nya jadi keren lagi tuh jaman sekarang banyak band-band baru seperti Balcony era “Terkarbonasi”. Ternyata tahun 2000 sound band hardcore Bandung udah keren semua. Kalau Jakarta dulu yang bagus sound nya si Step Forward. Gitarisnya Step Forward Ricky Seringai kan, pas pertama manggung tahun 2004 aja main di acara gue udah bawa head cabinet sendiri.

Menurut lo untuk menjadi jurnalis musik yang kredibel itu lo harus bisa bermusik atau engga? Soalnya opini publik terbagi mengenai isu ini dari dulu hahaha..
Orang-orang itu masih banyak yang ketuker antara nge-jurnal, nge-kritik dan nge-review. Nah kalau si jurnalis tersebut bisa main musik tulisan nya akan lebih objektif. Jaman dulu gue lebih juga agak subjektif lebih seperti komentator daripada mereview. Kaya cuma nulis “ini album butut pisan..”. Soal enak atau engga kan subjektif tergantung orang nya. Misal “bala-bala ini enak karena terbuat dari bahan ABCDE, digoreng dengan temperatur yang pas”. Atau misalnya ini band ketukan nya sinkopatik 2/4 dan selama hidup cuma menemukan 2 band seperti ini. Dulu gue suka banget tulisan almarhum Rully The Brandals di majalah Juice, dia gabungin komentar, review dan bahasan teknis.

Album-album lokal yang berpengaruh buat palet musik lo?

Koil – Self Titled (1996): Yang ada Matahari, Lagu Hujan dan Burung Hantu.

Feast – Abdi Lara Insani (2022): Kaya King Crimson dan turunan-turunan nya nih. Menurut gue secara musik dan produksi bagus sih buat musik rock. Bikin makin yakin musik Indonesia masih bisa maju.

LAIR – Kiser Kenamaan (2019): Band dari Jatiwangi. Musiknya campuran Tarling dan psychedelic. Sekarang lagi tur Eropa mereka. Sampe disuruh residensi.

Balcony – Metafora Komposisi Imajinar (2003): Pas kemaren lagi dengerin ulang album ini, ada yang nanya ke gue album lama apa yang menurut gue masih bagus sampai sekarang, kalo gak salah si Samack. Gue bilang ke dia album Balcony ini secara sound dan produksi keren banget, menurut gue melompati zaman. Gak lama dari obrolan itu taunya Ucok announce mo reissue album ini.

Kuntari – Last Boy Picked (2021): Dari dulu band dan musisi Indonesia pengen go internasional lewat band pop dan indierock. Ternyata malah yang eksperimental seperti Kuntari, Senyawa, LAIR dan Gabber Modus Operandi yang go internasional hahaha..

Lo juga bikin platform Bakmi Club (@bakmi.club) yang mereview Bakmi-bakmi enak di Bandung-Jakarta. Top 5 bakmi favorit lo?

ONG Noodle Bar – Pasar Tjihapit.
Menurut gue dia bikin kaldunya sangat serius. Jarang ditemukan di kota Bandung.

Mie Anugerah – GOR Padjajaran
Mie Anugerah favorit gue di Setiabudi Supermarket sudah tutup. Sekarang di GOR Padjajaran. Ditemukan saat gue masih tinggal di Bandung. Kayaknya ini yang bikin gue jadi suka berburu. Kerupuk Dorogdog dan lobak nya bikin khas. Sayang cabangnya banyak berkurang sekarang.

Ho Liaw – Kelapa Kopyor Raya, Kelapa Gading.
Bakmi ini mulai di waktu yang hampir bersamaan dengan Bakmi Club berdiri. Salah satu bakmi non-halal yang bikin topping pork belly tapi resepnya fusion. Jadi wangi dan rasanya cukup ramai. Tips: pesan topping jangan terlalu banyak. Siobak dan ayam garam saja, lalu minta sambal rahasianya: Andaliman.

Bakmi Rudy – Hj.Nawi
Gue ngikutin bakmi ini sejak awal buka, dari kios kecil di Kelapa Gading sampai sekarang di Hj.Nawi. Gue suka karena bakmi ini fokus ke kualitas bahan, jadi selain enak di mulut, di badan juga enak. Dia pakai tepungnya dari Jepang. Rekomendasi: coba mie shirataki plus swekiau.

Mie A Tjuan – jl. Summagung
Rahasianya ada di kaldu ayam kampung yang medok dan gurih. Favorit gue pesan mie karet porsi kecil saja. Coba hirup harumnya, seruput dikit kuahnya, kasih sambel sedikit-sedikit dulu. Surga dunia. By the way ini bakmi kadang habisnya cepat, jadi mesti datang agak pagian.

Interview by Aldy Kusumah
Photos from Eric’s Archives

Fikri Hadyan (Vocal), Ramzy Fauzansyah (Guitar), Razaq Caesar (Guitar), Bimo Dwi Anandi (Bass) dan Ihsan Akbar (Drum) tergabung dalam Rounder, yang menurut para penggemarnya salah satu yang terbaik di genre math-core / chaotic / metalcore. Mari berbincang dengan mereka mengenai kecintaan Rounder kepada band-band seperti The Secret, Chamber, dan Dillinger Escape Plan. Dan pastinya, simak juga EP “Mausoleum” mereka yang dirilis Grimloc.

“All-Rounder tuh bisa ke berbagai macam jalan. Kaya di Youtube ada sepeda atau motor itu disebut all-rounder vehicle yang bisa ke berbagai macam medan. Arti lain nya Rounder itu berani menaruh resiko tertinggi, bagaimana pun untuk mendapatkan sesuatu.”

 

Bisa elaborasi sedikit mengenai single “Loveless Suffering”? Lalu bagaimana konsep EP “Mausoleum”?
“Loveless Suffering” itu menceritakan mengenai kehilangan seseorang yang dikemas dengan gelap dan depresif. “Loveless Suffering” adalah jembatan dari Rounder yang dulu ke Rounder yang sekarang. Dulu materi kita ga terlalu agresif dan gelap. EP yang sekarang lebih agresif dan chaotic hehe..

Mendengarkan “Mausoleum” EP gue teringat sama band Chamber dan Dillinger Escape Plan era “Miss Machine”. Walaupun tidak mirip cuma teringat sama 2 band itu pas dengerin Rounder. Kalian mendengarkan apa saja sih pas bikin EP?
Kebetulan salah satu yang gue denger itu sih mas, apalagi pattern drum-drum nya. Garis besarnya sih itu hehe. Kita dengerin The Secret juga yang “Intoxication”. Sebagian riff gitarnya ngikutin kesitu sih.

Siapa main songwriter di Rounder?
Biasa kita bikin riff gitar lalu anak-anak nge gabung-gabungin. Awalnya kirim-kiriman lagu. Ga cuma Ramzy (Gitar) yang bikin riff awal, kadang Fikri (Vokal) juga bikin lagu dan riff nya. Terus Vian (Gitar) juga suka bikin riff awal. Semua awal nya dari gitar sih basically.

Awal bergabung sama Grimloc untuk merilis EP “Mausoleum” gimana ceritanya? Lo yang nawarin atau Grimloc yang approach duluan?
Awalnya sama-sama mau sih hehehe.. Pas rilis “Loveless Suffering” Grimloc nge-notice dan tiba-tiba Babap (Herry Sutresna) komen lalu nge DM. Terus kita ketemuan di Grimloc Suryalaya. Ngobrolin dulu mau kaya gimana kedepan nya di Grimloc. Mereka nyaranin bikin album tapi kita baru menyanggupi EP dulu dan kebetulan mereka mau rilis kaset juga. Akhirnya rilis kaset dan merchandise baju. Lagu kita ada juga di Bandcamp, dan kedepan nya akan ada di platform streaming lain.

Berikutnya lagi mempersiapkan apa aja Rounder?
Kita lagi nyiapin album insyaallah rilis akhir tahun. Kalau yang sekarang tuh bakal dirilis Grimloc dan Disaster Records. InsyaAllah ada vinyl nya haha.. Pengen banget sih.

Selama ini bagaimana proses rekaman si Rounder? Upcoming album rencana mau memakai proses recording yang sama atau mau mencoba sesuatu yang berbeda?
Pengen nya sih nyoba yang beda. Karena kebetulan EP itu operatornya mas Yoni di Funhouse tapi untuk drum aja. Gitar, bass dan vokal di studio sendiri di Southside, punya FIkri (Vokal). Lokasi nya di Ciwastra. Disini bisa take smua cuma drum nya electric. Yahh seada nya aja yang dipake hehe..

Kemarin gue liat video Rounder – Mausoleum Live Session di Youtube nya Maternal. Bisa ceritakan sedikit mengenai konsep nya yang sedikit teatrikal?
Awalnya kita main ke Maternal untuk ngomongin konten yang lain. Terus mas Vidi nawarin mau music video atau live session. Karena “Mausoleum” ini kebetulan belum ada konten digital maka akhirnya bikin video live session itu. Kalau manggung sih udah pernah dibawakan materi-materi EP. Awal konsep dasarnya dari anak-anak, yang performing art yang menari, lalu mas Vidi ngasih ide juga mengenai konsep layout dan set design live session itu. Shooting nya di IFI.

Itu di lagu terakhir “Loveless Suffering” ada scene yang menikam lengkap dengan EFX darah nya. Apa lo semua suka film horror dan gore atau itu representasi dari lirik nya?
Hahaha! Anak-anak sih. Kebetulan single itu menceritakan kematian, jadi di part akhirnya Fikri BM pengen nusuk orang padahal itu mannequin sih. Darah nya aja beli pewarna di toko kue kalau ga salah haha. Kalau pake darah ayam bau dong mas hahaha…

Biasanya band-band chaotic dan metalcore pake gitar-gitar humbucker. Tapi uniknya Rounder pake Fender ya walaupun tetap terdengar heavy..
Engga sih sebenernya itu body nya aja Fender, pickup nya sih humbucker.. Cuma mungkin ketutupan tangan pas lagi main haha. Biar unik lah dikit. Tapi banyak kok yang pake Fender kaya Slipknot juga si Jim Root pake Fender..

Sudah dari tahun berapa si Rounder? Personil dari dulu masih sama dan sudah solid ya? Sebelum bergabung di Rounder kalian masing-masing memainkan musik apa?
Awal dibentuk tahun 2017 mas. Personil dari dulu sama, dan kita ga mau bongkar pasang hahaha.. Anak-anak kebanyakan waktu SMA mainin musik post-hardcore. Ya itulah post-hardcore / emo hehehe..

Arti kata Rounder buat kalian?
All-Rounder tuh bisa ke berbagai macam jalan. Kaya di Youtube ada sepeda atau motor itu disebut all rounder vehicle yang bisa ke berbagai macam medan. Arti lain nya Rounder itu berani menaruh resiko tertinggi, bagaimana pun untuk mendapatkan sesuatu. Pengen nya sih bisa eksplor juga ke genre lain dan nyoba banyak eksperimen InsyaAllah kalau kesampaian..​​

Pertanyaan terakhir: Album-album lokal favorit kalian apa saja?

Fikri:
1. Morgue Vanguard – Demi Masa
Tidak perlu alasan.
2. Noise From Under – Aliquem Alium Internum
Liriknya gogon, kasarnya konsisten dari zaman “Substansi”, mirip Latif vokalisnya Swarm.

Ramzy:
1. The SIGIT – Visible Idea of Perfection
Alasan suka album ini karena Rekti.
2. Peterpan – Taman Langit
Alasan suka album ini karena Ariel.

Bimo:
1. CUTS – Rrradarrr.
Simpel sih pertama liat CUTS dari LA Lights Indiefest langsung suka aja dengan materi lagunya ditambah duo vokalis yang energik dan ya ini album terakhir mereka jadi seperti bring back the old memories aja.
2. White Shoes And The Couples Company- Vakansi. L
ove at the first sight, pertama liat di acara berita salah satu tv nasional waktu SMP langsung suka dengan gaya busana unik dan musik pop era 50-70an langsung nempel aja di telinga.

Vian:
1. KOIL – Megaloblast.
Karena ga ngerti aja di tahun segitu ada album sekeren ini dengan lirik-lirik yang relate keadaan di masa itu.
2. Hark! It’s Crawling Tar Tar – Dorr Darr Gelap Communique.
Karena madep pisan album nya.

Ihsan:
1. Burgerkill – Venomous.
Suka banget sama album ini.
2. Rocket Rockers – Ras Bebas.
Pas jaman SMP dikasih denger album ini sama kakaknya temen langsung suka dan merasa paling rebel di kelas.

 

Interview by Aldy Kusumah
Photos from Rounder’s Archives