Pria ini sebenarnya tidak membutuhkan introduksi lagi. Hiroshi Nagai yang lebih dikenal dengan panggilan Hiroshi Penguin Joe (yang juga menjadi moniker akun Instagram beliau) adalah seorang ilustrator dan desainer grafis dari Jepang. Karya nya sudah banyak terlihat dimana-mana: dari kover-kover album city pop favorit kamu, sampai ke iklan-iklan di berbagai media cetak. Walaupun kadang ilustrasi nya terlihat mirip-mirip, aplikasi dari ilustrasi Hiroshi sudah menyentuh berbagai medium. Hiroshi pun sudah berkolaborasi dengan banyak brand, dari Tower Records sampai Uniqlo. Bahkan Fujiwara Hiroshi (Fragment, Good Enough) pun pernah berkolaborasi dengan Hiroshi Nagai.

Pria yang terlahir di tahun 1947 ini mulai bekerja sebagai desainer grafis secara profesional di tahun 1970an dan sampai sekarang sudah dianggap sebagai salah satu illustrator / graphic designer paling ikonik di Jepang. Karya ikonik nya adalah pantai, tanaman tropis, mobil-mobil vintage dan langit biru, yang menurut beberapa media menginspirasi Hiroshi saat dia liburan ke Guam pada tahun ‘70an.

Karir Hiroshi Nagai mulai bersinar saat dia mulai mengerjakan kover-kover album, terutama album untuk musisi City Pop bernama Eiichi Ohtaki “A Long Vacation”, yang covernya bahkan lebih ikonik daripada musik nya. Termasuk saya, ketika dulu tersihir untuk membeli vinyl “A Long Vacation” hanya karena suka covernya. Selain terkenal akan karya-karya visual nya, Nagai pun adalah seorang DJ (yang tentu memutarkan lagu-lagu city pop), dan sudah pernah menerbitkan 2 buku yaitu “Time Goes By…” dan Tropical Modern”.

Hiroshi Nagai juga adalah bagian dari City Pop art movement yang berkembang dari akhir 1970 an. Terinspirasi dari estetika soft pop yang juga dikenal dengan sunshine pop, yang berasal dari Kalifornia selatan. Musik-musik sunshine pop ini banyak terdengar di jingle-jingle iklan dan sangat populer di Jepang, karena membawa para pendengarnya seolah berada di pantai lengkap dengan sinar matahari nya. Nagai juga terinspirasi dari Rene Magritte dan Salvador Dali, tetapi pop art adalah inspirasi utama nya. Begitu juga surealisme dan hyperrealism yang membuatnya mulai menggambar langit-langit yang sangat biru. Sejak 1980 an awal sampai sekarang, karya-karya berwarna Hiroshi Nagai sudah memanjakan mata para penggemar city pop, pop art sampai industri fashion.

 

Words by Aldy Kusumah

Thursday Night Club, sebuah program on air di Oz Radio Bandung merayakan eksistensinya yang telah berjalan satu tahun dengan mengadakan gelaran “A Year On Air Ceremony” di Vandal Gigs and Bar(4/7). Selain diadakan secara off air, Thursday Night Club “A Year On Air Ceremony” juga disiarkan secara langsung on air di 103,1 FM Oz Radio Bandung.

Thursday Night Club “A Year On Air Ceremony” dibuka oleh Arrived Consilium, unit dbeat asal Bandung. Arrived Consilium tampil dengan formasi baru dengan membawakan lagu-lagu yang ada di EP mereka yang bertajuk Pium. Setelah mendengarkan musik kencang, lalu ada The Couch Club yang membuat suasana menjadi chill. The Couch Club menampilkan set full band dengan dibantu oleh Emir (White Chorus) pada guitar dan Prama (Polyester Embassy, Lamebrain) mengisi drum. Nearcrush didaulat menjadi penampil ketiga di Thursday Night Club “A Year On Air Ceremony” yang tampil dengan full personil dengan drummer awal mereka. Pada saat lagu The Fountainhead Pallace, Nearcrush dibantu oleh Mixxit untuk mengisi departemen vocal. Terakhir ada sang iblis leksikon, Krowbar. Dj Evilcutz memberikan nuansa baru pada lagu-lagu Krowbar dengan mengaransemen ulang di beberapa part lagunya. Krowbar mengakhiri penampilannya dengan Senjata Pemuas Masal.

Nuansa yang intim dengan wajah-wajah familiar sangat kental mewarnai perayaan eksistensi di “udara” Thursday Night Club. Selamat ulang tahun Thursday Night Club!

 

Words by Firman Oktaviawan

Photos by Prita @darkofmoist_

Laswee Creative Space yang berlokasi di Jalan Laswi No. 1 ini sudah diresmikan tahun 2021 lalu oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Bangunan yang dulu nya adalah bekas Kantor Dinas Bina Marga Jabar ini “didaur ulang” menjadi pusat nongkrong produktif dengan area outdoor maupun indoor. Laswee ini diharapkan akan menjadi melting pot yang bisa meleburkan ide dari berbagai lintas komunitas. Setelah Gudang Selatan yang banyak diisi tenant kuliner, brand-brand fashion dan menjadi studio beberapa seniman Bandung, atau mungkin transformasi pasar Kosambi menjadi Hallway Space, kini tampaknya Laswee Creative Space ini juga bisa menjadi opsi lain untuk para pekerja kreatif untuk membuka usaha atau ruang aktivasi.

Laswee juga pernah menjadi main venu dari Bandung Design Biennale 2021, yang bekerjasama dengan jejaring Kota Kreatif UNESCO. Tempat ini sangat ideal untuk event-event dan program aktivasi brand juga karena mampu menampung 300 pengunjung dalam setiap event nya (dengan lahan seluas 2.833 meter persegi). Lokasi nya pun cukup strategis dan gampang untuk dicapai menggunakan berbagai metoda transportasi. Ada juga retail space yang disewakan untuk kebutuhan para tenant: bisa menjadi toko, area kuliner, coffee shop, studio, kantor atau display sebuah event aktivasi.

Transformasi ruang publik atau properti yang kurang aktif bisa menjadi dampak positif bagi creative culture di Bandung dan juga menjadi daya tarik kota itu sendiri, selain juga menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat Kota Bandung. Kota Bandung seakan tidak habis menghadirkan tempat-tempat unik yang bisa bermanfaat lebih selain hanya nongkrong dan makan saja.Karena budaya nongkrong dan diskusi itu kadang-kadang melahirkan ide-ide yang pada akhirnya bisa menjadi “sesuatu”. Segera kunjungi Laswee Creative Space di Jalan Laswi No. 1, Bandung, Jawa Barat. (Buka setiap hari dari jam 07:00 – 22:00).

Setelah trend normcore, dadcore (dad’s hat, chunky sneakers) dan blokecore (jersey bola), muncul lagi sebuah “trend” fashion yang tanpa kalian sadari sudah sporadis. Memang trend ini sudah ramai diluar sana. Jika kamu sering memakai atau memiliki jaket nuptse puffer North Face, kaos Carhartt, Patagonia X-fleece jacket, botol minum Nalgene dan sepatu Salomon, kamu adalah salah satu Gorp Core enthusiast yang akan kita bahas disini. Ketika Jason Chen pertama kali menyebut kata “gorpcore” di media The Cut pada tahun 2017, dia tidak menciptakan estetika fashion baru, tetapi melabeli sesuatu yang sudah banyak dipakai orang-orang (dengan atau tanpa disadari) dan mereka yang memakai nya pun tidak bisa mendeskripsikannya dengan mudah.

Gorpcore dinamakan dari “Good Ol’ Raisins and Peanuts (G.O.R.P.)”, yang berarti kismis dan kacang tanah yang enak. Kismis dan kacang adalah trail mix yang biasa dimakan dan dibawa para hiking & outdoor enthusiast saat mendaki gunung, hiking atau camping. Karena praktis, mengenyangkan dan enak, term GORP ini sudah sering menjadi satu kalimat dengan sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas outdoor di Amerika. Gorpcore ini adalah sebuah style fashion yang berfokus pada penggunaan gear-gear yang terinspirasi oleh aktivitas outdoor dan mempunyai fungsi utiltas yang baik. Gorpcore sendiri berada diluar fashion style normcore dan techwear, dan beberapa brand gorpcore sendiri (diluar TNF atau Patagonia) bahkan belum menjadi mainstream.

Estetika fashion gorpcore sendiri adalah palet warna yang colorful dan cenderung mencolok, sebagaimana camping gear pada umumnya: oranye, hijau, ungu, biru sampai pink. Mungkin beberapa colorways nya terinspirasi dari warna hijau hutan, air biru sampai bunga-bunga terang dan gradasi sunset yang indah. Brand ACG dari Nike mungkin lebih ke arah earth tone. Tidak seperti techwear yang lebih fit, fashion gorpcore lebih berbicara volume: celana yang lebar, jaket fleece yang oversized, dan apapun yang nyaman untuk bergerak bebas di luar ruangan, apakah itu hiking, mancing, memanjat tebing sampai camping. Layering juga menjadi ciri khas gorpcore, seperti menggunakan nuptse puffer jacket TNF dengan zip terbuka dan memakai fleece didalamnya, yang tentunya tidak cocok di iklim Indonesia yang tropis (kecuali kamu sedang benar-benar hiking di gunung Bromo misalnya). Logo-logo brand gorpcore pun berperan penting, lihat saja logo Patagonia, The North Face, Montbell, Columbia bahkan sampai Snow Peak, Nike ACG, Adidas Terrex dan Arc’teryx gampang dikenali dan terlihat sangat kuat design nya.

Dari partnership Gucci dengan The North Face, collab Salomon dengan COMME des GARCONS, sampai brand ski Italia seperti Moncler juga sudah memasuki ranah dan trend gorpcore. Dari puffer dress Moncler yang di design Pierpaolo Piccioli untuk koleksi autumn/winter 2019, sampai spring.summer 2021 JW Anderson yang mengeluarkan koleksi sebagai tribute dengan tema laut. Dan tentunya kolaborasi epik dari The North Face dengan Maison Margiela untuk koleksi autumn/winter 2020. Seri MM6 ini menghadirkan presisi dan fungsionalitas design ciri khas TNF dengan konsep out-of-the-box nya Margiela, tanpa menghilangkan ciri khas siluet-siluet basic nya TNF di “reissue” di koleksi ini. Dari Frank Ocean yang terlihat menggunakan Mammut puffer dan beanie Arc’teryx, Rihanna dan Bella Hadid yang memakai sepatu Salomon S/Lab XT-6, Hailey Bieber yang memakai jaket denali TNF X Margiela, tentunya popularitas gorpcore ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Popularitas brand-brand nya pun semakin meningkat, sebut saja The North Face, Patagonia, Nike ACG, Snow Peak (Jepang) sampai pendatang baru Hoka One One. Tidak perlu menjadi hikers atau pendaki gunung (walaupun itu lebih baik hehe) untuk memakai style gorpcore. Sudah saatnya menormalisasikan memakai puffer jacket, sepatu trail running dan double-layering, bahkan saat pergi ke warteg atau commute ke kantor sekalipun.

 

Words by Aldy Kusumah

 

Setelah merilis Morbid Extinction pada bulan Februari 2022 lalu. Masakre melakukan tour untuk merayakan rilisnya EP ketiga dari unit death/crust asal Jakarta ini. Morbid Extinction Tour 2022 dimulai dari Surabaya, Malang, Jogjakarta, Bogor dan terakhir di Bandung. Untuk Morbid Extinction tour 2022 edisi kota Bandung diselenggarakan oleh Husted Youth di Chinook(31/7). Morbid Extinction Tour 2022 di Bandung sangat menarik karena Band-band yang sudah lama tidak muncul di gigs-gigs, kembali menghiasi jajaran pengisi acara.

Spellforger

Morbid Extinction 2022 edisi Bandung dibuka oleh Spellforger unit heavy metal maniacs asal Bandung yang baru merilis album Upholder of Evil pada akhir bulan Juni 2022. Riff-riff guitar ditambah ketukan drum ala metal maniacs dari Spellforger sukses membuat headbang dan circle pit. Penikmat musik yang hadir di Chinook pada malam itu seakan tidak diperbolehkan untuk istirahat. Karena, setelah Spellforger ada Blackhawk yang membuat “rusuh” area moshpit.

BLCKHWK
OATH

Berikutnya ada Oath, band Sludge asal Bandung yang terakhir manggung di 2019 dan manggung lagi di Morbid Extinction Tour 2022. Lalu, ada juga band yang sudah lama tidak hadir di flyer-flyer gigs, Haul. Setelah merilis video clip Adamar, banyak yang menunggu penampilan dari Haul. Pada set-nya malam itu, Kenny dkk mengcover lagu dari Bastards dan mengakhiri penampilannya dengan lagu Adamar.

HAUL
Masakre

Terakhir, penampilan yang ditunggu-tunggu dari Masakre akhirnya datang juga. Tanpa basa-basi Ipul dkk langsung memainkan set-nya. Masakre menjadi band yang ditunggu di Bandung. Meskipun band-nya aktif merilis sesuatu tapi kalau untuk manggung termasuk jarang. Sebelum di Morbid Extinction Tour 2022 ini mungkin sebelumnya Masakre manggung di Bandung di tahun 2019 lalu untuk membuka Eyehategod.

 

Words by Firman Oktaviawan

Photos by Prita @darkofmoist_

Kolaborasi pertama dari Opiuci dan LONER, dua entitas berbeda yang mencari kesenangan yang sama : kebebasan dalam sebuah aktivitas yang cukup melelahkan. Kolaborasi ini mencoba untuk menggambarkan kesenangan yang meresahkan, yang mungkin bisa di dapat saat melakukan keduanya secara bersamaan. Tidak ada yang salah akan hal itu, selama segala halnya tidak dilakukan secara berlebihan.

Kolaborasi ini pun disertai dengan satu produk pakaian yang sengaja dibuat, dan sangat mungkin digunakan untuk olahraga lari atau dikenakan saat harus pergi ke bar.

Keserbagunaan produk ini agaknya menandai bahwa baik Opiuci atau LONER merupakan dua brand yang mampu untuk menjadi wadah untuk komunitas yang spesifik (dalam hal ini adalah komunitas lari), untuk mereka berikutserta, berkumpul, dan bertukar nilai satu sama lainnya.

Item ini eksklusif dan tersedia pada 24 Juli 2022 di opiuci dan akan tersedia di situs web loner  pada 28 Juli 2022.

 

Photos by Aldiansyah Waluyo

Selain menjadi frontman band space rock n’ roll bernama Polyester Embassy, Elang juga menekuni industri garment, lebih tepatnya untuk produksi topi. Karena memang musik dan fashion selalu beririsan, diluar segala tetek bengek “passion before fashion” atau apapun itu. Elang sudah aktif di industri ini dari tahun 2010, dengan membuat brand dan tempat produksi sendiri. Mari berbincang dengan Elang mengenai Capslock, Polyester Embassy dan trend fashion retail…

“Kalau melihat sekarang, mungkin ini analisa gembel gue ya: pasar menengah itu engga ada, yang ada sekarang mungkin cuma pasar bawah banget atau pasar atas banget.”

Brand headwear lo, Capslock, gue liat makin kesini semakin menjadi sportswear ya? 
Emang diawali nya dari running caps dan cycling caps, kalau ngomongin pakaian yang di bawah kepala kan belum. Sportswear emang teknologi nya harus lebih advanced sih. Kalau sebatas headwear sudah cukup pede lah.

Berarti riset dan develop produk lo sebagai headwear yang dipakai olahraga harus lebih advanced ya?
Karena gue diawali dari topi, ketika bikin topi running atau cycling tuh harus dengan Bahan dry fit yang lebih tipis dari bahan topi biasa. Inner line nya dibikin lebih nyaman, menyerap keringat. Dan tentunya langsung di tes ke yang melakukan nya. Gue juga emang suka olahraga dan memakai topi sih. Produksi Capslock untuk topi nya udah jelas develop nya cukup lama. Performance tuh level untuk develop produk nya lebih dari produk biasa. Karena Capslock itu brand topi pada awalnya, walaupun kita ada jaket, celana, kaos dan sarung tangan sepeda, buat kita itu semua jadi produk aksesoris, karena tetap yang main nya itu topi. Ya tapi kedepan nya ga ada yang tahu ya. Kita lebih ke ngalir aja planning nya. Kita juga sekarang mulai develop lagi produk-produk casual untuk daily basic

History lo bikin Capslock dan vendor produksi topi awalnya gimana? 
Sebenarnya dulu gue buat nya barengan: si brand dan tempat produksi. Dulu nama nya Cool Caps. Jadi awalnya gue develop 2 tempat yang berbeda, karena kebutuhan brand dan tempat produksi itu beda ya. Dulu tuh awalnya pengen punya brand topi. Kalau brand yang dulu sih dari 2010. Trus kalau Capslock ini starting mulai seriusnya 2015.

Berarti lo dari hulu ke hilir ya, punya tempat produksi topi dan punya brand topi juga? Apa terkadang 2 kepentingan yang berbeda itu memecah fokus lo?
Sebenarnya keduanya punya porsi masing-masing. Bisa 50-50 atau ingin berat kemana dulu. Tapi memang yang utama nya sih si produksi. Lebih sibuk di produksi, cuma ga sampai keteteran sih.

Lo kan olahraga banget nih, dari tennis, lari sampai sepeda. Brand sportswear favorit lo apa aja? 
Kalau sekarang ya tetep sih kalau ngomongin sportswear pasti Nike. Apalagi yang seri Gyakusou nya Jun Takahashi dari Undercover, dia memang selalu gila untuk develop dan detailing performance product nya. Ciele kali yah kalau untuk headwear nya. Si Patagonia juga sebenarnya untuk outdoor dan sports nya lumayan detail produknya. Apa lagi ya? Oh iya kalo produk Tennis selain Nike Court saya suka Babolat dan Sergio Tacchini.

Trend budaya diskon menurut lo bahaya ga kedepan nya untuk brand-brand?
Jir gue teh selalu membahas ini dengan beberapa orang hahaha. Kalau ngomongin perjuangan brand di satu sisi mungkin ya, jaman dulu gue kerja di Airplane menjual kaos dari 65,000 dan semakin naik. Kita teh udah susah proses naikin harga menuju sekarang, tapi sekarang harga nya turun lagi. Sekarang semua lebih masif dengan ada nya marketplace dan social media. Pandemic teh emang merubah banyak hal secara cepat. Brand gue beban pegawai nya ga terlalu banyak, kita mungkin masih bisa bertahan. Beban operasional kita ga sebesar brand-brand yang banyak orang bergantung di dalamnya. Dan ketika kompetitor mereka melakukan itu akan lebih sulit bagi mereka untuk tidak melakukan itu.

Memang jauh berbeda ya kultur fashion retail 5 tahun yang lalu dan sekarang ini..
Jaman dulu kalau kita bikin brand itu punya duit, 80% untuk produksi, 20% untuk promo. Sekarang bisa 50:50 atau malah sebaliknya karena ada kebutuhan ads dan digital marketing yang cukup besar. Kalau melihat sekarang, mungkin ini analisa gembel gue ya: pasar menengah itu nggak ada, yang ada sekarang mungkin cuma pasar bawah banget atau pasar atas banget. Pasar menengah pindah ke bawah, dan yang menengah sok-sok an mending pilih keatas. Kalau mau up ya mending up sekalian dengan meningkatkan detail atau kualitas misalnya, kalau mau dibawah ya siap quantity.

“Kalau ngomongin perjuangan brand di satu sisi mungkin ya, jaman dulu gue kerja di Airplane menjual kaos dari 65,000 dan semakin naik. Kita teh udah susah proses naikin harga menuju sekarang, tapi sekarang harga nya turun lagi jadi hpp lebih dikit hahaha”

Jadi posisi lo di situasi ini gimana?
Kalau sebagai tempat produksi kita harus lebih siap sih dengan kebutuhan quantity yang di order sama brand-brand yang serius di marketplace tadi sih, karena speed jualan mereka cepet banget. Kalau gue pribadi di sisi produksi gue banyak memproduksi brand-brand yang melakukan itu.  Tapi kalo untuk brand Capslock ga terlalu ngejar kesana malah cenderung lebih santai dan lebih ngulik detail sambil terus belajar develop yang belum pernah kita develop sebelumnya aja sih. Jadi sekarang tuh kayaknya momen vendor dan momen konsumen marketplace yang terus dimanjakan untuk terus berbelanja haha.

Kalau ngomongin musik, apa kabarnya Polyester Embassy?
Kayanya album yah Tang? Tadinya mau EP 4 lagu, dan gak beres-beres. Sekarang lagi rekaman dan garap materi di rumah si Prama (drummer). Rumah kosong, tapi ada drum dan grand piano. Ada ruang akustik. Jadi tinggal bawa speaker dan laptop. Kemarin cuma nambah 3 lagu baru di sesi itu, tapi sekalian retake beberapa file rekaman EP yang hilang. Up and down seperti kepergian drummer kita Givari yang sangat mendadak ketika itu, proses kreatif nya juga kepotong pandemic. Pengen nya beresin dulu ini dan di compile. Baru sesudah ini beres kita mau bikin follow-up nya dengan formasi sekarang. Dan sekarang kehadiran Prama sebagai drummer pengganti lumayan menambah energi. Kita udah nyaman sama dia sebagai drummer, banyak involved dan sense of belonging nya udah kaya personil. Lumayan kebantu sama energi dia, karena masih muda mungkin ya jadi semangat.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Elang’s Archives

 

Beberapa waktu kebelakang, Bandung di kala akhir pekan selalu dihiasi oleh adanya gigs di berbagai venue. Tidak jarang dalam sehari ada dua sampai tiga gigs diadakan secara bersamaan. Banyaknya gigs yang diadakan sebuah penanda ramainya skena musik di Bandung. Salah satunya yang menarik perhatian adalah gigs yang diadakan oleh Greedy Dust dan Futura Free di Grun Resto & Bar Setiabudi(24/7), dengan line up band-band hardcore dari Bandung, Jakarta, Malang, dan Blitar.

Greedy Dust Futura dibuka oleh Nousonix band hardcore punk asal Bandung yang telah merilis M.O.B Demo. Lalu disambung oleh unit hardcore chaotic Ametis yang tampil dengan penuh energi. Berikutnya, ada penampilan dari Centra band asal Jakarta yang memanaskan Grun Resto & Bar. Setelah Centra, giliran Bleach yang mengisi stage. Setelah tampil di Greedy Dust Futura, dikabarkan tidak akan manggung untuk beberapa waktu kedepan.

Hadd didaulat menjadi penampil setelah Bleach, disambung oleh penampilan dari band asal Malang Keep It Real yang membuat area moshpit semakin “rusuh”. Berikutnya, ada Prejudize yang pada malam itu di tengah set nya sempat membawakan Numb, But I Still Feel It dari Title Fight yang langsung disambut sing a long di area moshpit. Unit hardcore yang berisikan orang-orang lama di skena hardcore Jakarta, Zip yang membuat area moshpit kembali panas walaupun sudah diiringi oleh beberapa band sebelumnya. Terakhir ada Bizzare yang menjadi penutup Greedy Dust Futura.

Angkat topi buat Greedy Dust dan Futura Free yang selalu sukses mengadakan gigs. Meskipun sempat berpindah venue tidak menyurutkan niat muda-mudi Bandung dan sekitarnya untuk menghadiri gelaran Greedy Dust Futura.

 

Words by Firman Oktaviawan

Photos by Prita @darkofmoist_

 

Jamu memang sudah lama melekat pada orang Indonesia dari yang muda hingga yang tua. Mulai dari khasiat hingga fungsi rekreasionalnya juga sangat dekat dengan kultur pop dan kultur anak muda. Kurang lebih, kami anggap jamu adalah multivitamin asli indonesia dengan beragam fungsinya.

Hubungan baik antara UNKL 347 dan Kamengski telah terjalin sejak lama, hal itu dibuktikan dengan rilisan kolaborasi pertama mereka terjadi di tahun 2018, dan 4 tahun kemudian ditahun 2022 mereka kembali berkolaborasi untuk merespon budaya pop yang kita lihat di sekitar kita. Kali ini, tema besarnya adalah jamu.


Karena UNKL347 sangat erat berkaitan dengan budaya skatebord dan surfing, maka tercetuslah gagasan menciptakan jamu jago surfing dan jamu jago skateboard. Berandai andai saja jikalau ada jamu yang berkhasiat untuk membuatmu jadi lebih jago main skateboard atau surfing. Kenapa kolaborasi 2 brand ini malah rilisnya jamu? Ya biar beda dan ngga umum aja. Tentu saja dengan material pendukung lainnya seperti jacket, tote bag, long sleeve, short sleeve t-shirt, bucket hat, dan skateboard deck agar terlihat seperti capsule collection yang akan di rilis pada Jumat, 22 July 2022 kemarin ini di toko UNKL347, dan juga berbagai platform online dari kedua brand.

Kemudian Dendy Darman (Founder UNKL347) tidak sengaja mendengarkan lagu Waljinah yang berjudul “Suwe Ora Jamu”. Sepertinya lagu ini dinilai cocok untuk dijadikan soundtrack kolaborasi ini dan menamainya menjadi ”Suweg Ora Jamu 347”.

Walaupun nggak beneran bikin jadi jago main skateboard atau surfing, setidaknya pegalmu berkurang dan keren aja.

“Saya hanya ingin sebanyak mungkin pemain mengalami kegembiraan yang datang dari mengatasi kesulitan” -Hidetaka Miyazaki (Elden Ring creator)

Setelah memainkan (dan menamatkan) Elden Ring selama ± 150 jam, menurut saya Elden Ring adalah sebuah masterpiece yang absolut. Bayangkan saja betapa epic nya sebuah open-world Souls game. Hidetaka Miyazaki (CEO FromSoftware, game director, creative director, designer dan scriptwriter) pernah mengakui kalau Elden Ring terpengaruh juga oleh aspek eksplorasi open-world dari game Elder Scrolls dan Zelda: Breath of the Wild. Aspek design pun dipengaruhi oleh game Shadow of the Colossus yang cukup ikonik lanskap nya. Pengalaman pertama saya memainkan “Souls” game dari FromSoftware bukanlah Demon’s Souls atau Dark Souls 1, melainkan Dark Souls 3. Cukup berkesan rupanya pengalaman saya memainkan DS3. Karena sebagai gamer yang dibesarkan dengan game “menantang” semacam Contra, Castlevania 2, Zelda, Metroid dan Megaman series, ternyata DS3 pada awalnya cukup membuat stress. Tidak ada hand-holding disini. Dari awal kalian langsung dilempar ke sebuah dunia yang dipenuhi musuh-musuh yang bisa membunuhmu dalam 1-2 hit. Dan dalam mayoritas waktu selama saya bermain, saya tidak tahu harus kemana dan tujuan akhir game ini apa. And that’s fun. Uniknya, dalam Souls Series tidak ada map. Lupakanlah navigasi dan kompas, game ini membutuhkan kalian untuk menggunakan memori dan sense-of-direction yang canggih. Untuk menambah kesulitan, game ini tidak bisa di pause dan memiliki checkpoint yang jaraknya sangat berjauhan (lupakanlah checkpoint sebelum ruangan boss, kalau kalah, biasanya kalian harus ulang area tersebut dari awal).

“Untuk cerita dan world-building, kali ini Hidetaka Miyazaki selaku director dan owner FromSoftware dibantu oleh George R.R. Martin, penulis dari Game of Thrones”

Untungnya Elden Ring sedikit lebih “memaafkan” dari Souls Series: Kalian bisa menggunakan map dan ada sistem fast travel yang lebih seamless dari DS3. Ketika saya memainkan Elden Ring, game ini terasa lebih aksesibel untuk pemain-pemain yang tidak pernah memainkan Souls Series sebelumnya. Mari kita lihat dan bahas semua elemen nya: Grafik dan visual sudah tidak perlu diragukan. Art direction yang menggambarkan dunia medieval yang sudah rusak (apocalypse wasteland versi medieval?), dengan konsep keindahan yang dikelilingi oleh kegelapan, struktur-struktur megah yang hampir runtuh, gunung, hutan dan danau semua divisualisasikan dengan detail yang menakjubkan. Menurut Miyazaki: “Cahaya terlihat lebih indah dalam kegelapan.

Ketika ada sesuatu yang indah di tengah gurun, kita bisa lebih menghargainya. Satu permata tidak terlihat indah di antara tumpukan permata lain, tetapi jika Anda menemukan satu permata di tengah lumpur, itu jauh lebih berharga.” Bayangkan saja hampir setiap frame game ini terlihat seperti lukisan. Belum lagi desain karakter, armor, senjata, kastil dan detail-detail lain nya yang bisa saya bahas seharian disini. Sound? Coba saja memainkan game ini dengan headphone. Dari opening title saja kalian sudah dimanjakan oleh orkestra yang megah nan epic dari komposer Tsukasa Saitoh (yang juga mengerjakan musik latar untuk Bloodborne dan Sekiro). Belum lagi sound efek suara pedang yang menghantam tameng great shield dan transisi suara kuda yang berlari dari rumput ke air, semua itu terdengar sangat detail dan menakjubkan, seolah kamu benar-benar berada di “the lands between”.

“Cahaya terlihat lebih indah dalam kegelapan. Ketika ada sesuatu yang indah di tengah gurun, kita bisa lebih menghargainya. Satu permata tidak terlihat indah di antara tumpukan permata lain, tetapi jika Anda menemukan satu permata di tengah lumpur, itu jauh lebih berharga.” -Hidetaka Miyazaki (Elden Ring creator)

Untuk cerita dan world-building, kali ini Hidetaka Miyazaki selaku director dan owner FromSoftware dibantu oleh George R.R. Martin, penulis dari Game of Thrones. Lore dan narasi cerita Elden Ring tidak se-obscure Souls Series sebelumnya yang menurut Miyazaki adalah environmental storytelling, layaknya sebuah jigsaw puzzle dimana cerita keseluruhan akan kita dapatkan dari deskripsi items yang kita temukan, dialog NPC yang cryptic, musuh yang kita kalahkan dan lokasi yang kita kunjungi. Dalam 17 hari sejak rilis, game ini terjual 12 juta kopi. Tidak aneh, karena Elden Ring memiliki semua nya: gameplay yang tidak linear (kebebasan untuk pergi kemanapun, melawan siapapun), sistem pertarungan yang sempurna, visual yang surreal & hyper-realistic disaat yang sama, sound dan musik latar yang bagus, dan tentunya world-building yang keren.

Memang tidak semua orang “sabar” untuk menamatkan game yang susah seperti ini (konon jika semua optional boss dihitung, ada sekitar 200 boss battles yang harus kamu kuasai). Untuk melawan salah satu boss di awal game pun saya harus mencoba grinding sekitar 10-15 jam untuk bisa mengalahkan nya. Kebanyakan players game ini mungkin akan menyerah setelah bertemu boss sulit seperti Margit atau Godrick. Kalian pun akan terjebak untuk meng-eksplorasi lanskap yang masif untuk beberapa items yang (mungkin) tidak akan kalian gunakan. Tapi bagi kalian yang berhasil menamatkan game ini, selamat! Kalian telah memainkan salah satu game terbaik di abad ini. Mungkin di kehidupan ini. Mengutip quotes Miyazaki mengenai tingkat kesulitan game-game yang dia buat, menurutnya: “Saya hanya ingin sebanyak mungkin pemain mengalami kegembiraan yang datang dari mengatasi kesulitan”. Ya, sebuah karya seni memang tidak selalu dimaksudkan untuk setiap orang.

 

Words by Aldy Kusumah