Setelah beberapa kali manggung, akhirnya CJ1000 siap untuk memperkenalkan diri mereka lebih lanjut dengan sebuah album debut berjudul Midnight Ambush.

Kuartet asal Bandung yang beranggotakan Muhammad Fardlan Hakim (vokal), Rangga Widya Putra (bas), Fattah Abdul Malik (gitar) dan Muhamad Naufal Jordie (drum) ini sejatinya sudah menyelesaikan seluruh proses penggarapannya sejak tahun 2021 lalu. Namun selayaknya sebuah band dengan berbagai dinamikanya, mereka memutuskan untuk merilis sang album debut di bulan Juli 2022, bisa dibilang sebagai sebuah perayaan akan selesainya lika-liku dan segala campur aduk perasaan yang mereka lalui, walau pada prakteknya tantangan sesungguhnya akan dimulai setelah ini.

Secara tema, CJ1000 ingin menyampaikan ragam cerita dalam Midnight Ambush, yang mana cerita-cerita tersebut diakui oleh mereka bahwa seringkali terlihat dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari.

 

Untuk departemen post-rock, jika Kanada memiliki Godspeed You! Black Emperor, maka Flukeminimix adalah jawaban dari Bandung. Unit eksperimental rock ini baru saja mengeluarkan album ketiga yang sangat menarik dan tentunya tetap niche dan eksperimental dari segi sonik dan konsep. Mari berbincang dengan para personilnya mengenai efek Big Muff, rekaman di Bosscha, dan Neurosis..

Halo apa kabar Flukeminimix? Bisa ceritakan sedikit ga perbedaan “Pulsating Star”, “Between Spaces Into Space” dan “The Unsound of Partial Edges”?
Dinar: Karena saya baru gabung pas album sekarang, dan berangkat dari fanboy mereka kayaknya yang paling kentara perbedaan nya itu output sound (yang dulu) sama yang album terakhir ini lebih dark dan gloomy kali ya.

Farris: Halo, baik pak Aldy. Kalo perbedaan untuk ketiga album itu “Pulsating Star” yang paling berbeda dikarenakan narasi dan proses nya yang memang “Pulsating Star” membawa narasi data “Bintang Mati” dari Bosscha dan kolaborasi bersama Bosscha dan Gustaff H. Iskandar.

Untuk “Between Spaces into Space” & “The Unsound of Partial Edges” album yang sekarang ini mungkin penggarapan secara sound nya cukup berbeda yang dimana album Between ada sedikit unsur melancholy, di album sekarang ini secara vocabulary sound lebih “keras” bisa dibilang. tapi tetap membawa narasi kontemplatif secara spiritual, sosial maupun personal di tiap judul lagu nya.

Rangga: “Pulsating Star” dari segi sound masih bereksperimen.. “Between Spaces into Space” lebih banyak clean sound dan composing melankolis didalamnya. “The Unsound of Partial Edges” ini dari segi rekaman lebih detail, mulai dari gear sampai proses mixingnya.

Ibrahim: “Pulsating Star” di rekam semua secara live. Karena kebutuhan menangkap momen. Pada saat itu Bosscha (Lembang) sedang merayakan ulang tahun. Karena ajakan Gustaff kita bisa bermain secara live di salah satu ruangan disana. Karena momen tersebut langka, kita membawa seperangkat alat rekam dan instrumen lain nya. Dan menjadilah suatu album. Dan di album tersebut memang kita dalam proses mencipta lagu dimulai dari observasi suara-suara bintang di semesta sana.

Untuk “Between Spaces into Space” unsur melancholy sangat terasa disitu karena kehadiran cello yang cukup. Kuat. Dan di “The Unsound of Partial Edges” sangat tidak ada unsur melancholy tersebut. Selain tidak ada nya instrumen violin. Kondisi pembuatan album di masa pandemi ini pun menjadi berpengaruh.

Godspeed You! Black Emperor (GY!BE) bisa menyiratkan pesan yang politis tanpa adanya vokal yang berlirik. Apa yang Flukeminimix ingin sampaikan melalui “The Unsound of Partial Edges“?

Dinar: Untuk urusan politik dan lain sebagainya yang berhubungan dengan itu saya ga pernah tertarik. Ga pernah juga mau tau cause we’re locked out since day one haha!

Farris: GY!BE selain secara simbolis memang menyiratkan unsur perlawanan politis, mereka memang terjun langsung ke lapangan. Dengan cara seperti itu dan memang soul band nya seperti itu maka “gagasan” medium penyampaian musik nya sangat terasa.

The Unsound of Partial Edges secara garis besar judul album adalah fragmen tentang pandangan kita di saat ini, dimana yang menurut kami hubungan antara manusia dan manusia, manusia dan alam nya, bahkan manusia dengan diri nya sedang dalam keadaan yang urgensi nya tidak baik. Kondisi personal seperti itu akan mengakibatkan response energi yang sama kurang baik nya kepada manusia lain nya bahkan alam di sekitar nya, kita mencoba mengkaji jawaban itu kepada 7 lagu di album tersebut. Lagu dengan judul yang cukup kontemplatif yang menurut kami sebelum kita “taking a side” kami berusaha menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Mungkin itu singkatnya yang ingin coba disampaikan, lebih ke self notes sih.. Tidak berusaha mengingatkan diluar diri kita masing-masing.

Rangga: Secara personal ingin memperlihatkan Flukeminimix yang lebih dewasa, dan pas bikin album ini lagi jaman pandemic banget kan ya.. Jadi lebih menunjukan kita bisa struggle saat masa-masa pandemic.. Dan tetap berkarya di masa-masa sulit.

Ibrahim: Musik instrumentalis (nir vokal) sangat melekat pada pribadi pencipta nya. Menurut saya yang dilakukan GY!BE adalah seperti perjalanan hidup dan statemen dari personil yang dijadikan suatu karya musik. Menjadi politis karena pemberian judul”cerita” dan posisi personil yang memang terjun langsung di dunia sosial dan politik. Untuk The Unsound of Partial Edges saya idem dengan pernyataan Farris.

Bisa elaborasi sedikit mengenai proses rekaman “The Unsound of Partial Edges”?

Rangga: Album “The Unsound of Partial Edges” segi rekaman nya sangat detil dari mulai gear sampai bagian composingnya. Masing-masing harus memahami betul dari materi yang sudah terbentuk. Dari memilih karakter sound hingga proses mixing.

Dinar: Saya gabung dengan Flukeminimix ini ketika semua materi nya sudah rampung. Bahkan draft drum nya pun sudah ada, jadi saya tinggal take ngikutin pattern drum yang ada, bisa dibilang dikit banget improvisasi nya. Tapi yang unik dari rekaman ini tuh total ga pake metronome, karena Flukeminimix itu lagunya dinamis, keinginan mereka juga emang gitu, tempo nya naik turun. Ini kali pertama saya setelah sekian lama recording ga pake metronome, jd semua nya harus one take. Dan ada satu lagu yang menarik judulnya “Gargantua” yang emang drum nya out of tempo dibanding instrumen lain. Kalo secara sound ga banyak nemuin kesulitan karena kalo sound drum buat flukeminimix itu ga beda tone nya sama band lain saya Ssslothhh.

Farris: Proses rekaman yang sekarang mungkin lebih optimal dari tiap personal nya, karena sudah ada pemahaman yang lebih baik dari album sebelumnya. Secara sound design dari tiap personal sudah lebih terbentuk. Secara tekstur ada beberapa yang hilang tapi banyak kehadiran tekstur sound yang lebih diperkuat keberadaan nya. Mungkin karena kondisi psikis kita yang di masa itu “buang yang ga perlu amat” meh bisa ngebut haha.. Untuk proses rekaman engineer nya Ibrahim Adi yang mungkin lebih mengenal dari tiap proses nya secara lebih teknis..

Ibrahim: Proses rekaman “The Unsound of Partial Edges” terjadi lebih organik. Karena kita semua sudah jadi lebih tau apa yang akan dihasilkan di akhir album (secara sound). Tidak banyak melakukan sulap di mixing, karena source yg di rekam sudah cukup mewakili. Tapi tetep lama penggarapan nya karena terjadi pergantian posisi drum. Dan rekaman drum yang sudah dilakukan oleh drummer terdahulu, di rekam ulang oleh posisi Dinar. Mastering dikerjakan oleh ramuan James Plotkin, benar-benar gak ada revisi. Sekali kirim langsung kita sepakati jadi.

Cover album kalian menggunakan artwork dari Arin Dwihartanto Sunaryo. Bisa ceritain ga konsep nya apa, dan background bisa kerjasama dengan Arin itu gimana?

Dinar: Kalo ini biar Farris yg jawab haha..

Rangga: Iyaaa hahaha

Farris: Sebetul nya di tahun 2017 mas Arin meminta album kita untuk beliau yang menjadi cover artwork nya, tentu nya kami sangat menyambut dengan hormat dan bahagia. Dan ajakan beliau yang membuat kami menjadi lebih semangat lagi untuk menyelesaikan album ini (walaupun tetap terpaut waktu yang cukup panjang). Seperti di album sebelum nya, album ini pun di layout oleh Ucok. Di album ini kami sangat bersyukur bisa berkolaborasi dengan seniman-seniman yang kami kagumi. Bahkan di album ini ada karya tulisan Nishkra, yang secara personal bisa mengenal langsung baru 2 tahun belakangan ini. Tapi sudah sering mendengar cerita legend beliau sejak dulu.

Kami selalu tertarik untuk bekerja sama dengan Ucok, beliau selalu bisa membahasakan musik kita dengan baik. Tanpa banyak diskusi sudut pandang beliau menjadi sudut pandang yang sangat menarik dan selalu beririsan dengan kami secara nyata.

Ibrahim: Ketika karya musik sudah dilempar ke pendengar, maka akan terjadi respon-respon yang sangat alami. Kita bersyukur yang merespon adalah orang-orang yang hebat dan tentu kita kagumi. Maka terjadilah di album The Unsound of Partial Edges.

Album-album favorit masing-masing personil apa aja? Bisa ceritain juga kenapa suka album tersebut?

Dinar: Neurosis – Through Silver in Blood. Pertama kali tau Neurosis tuh album ini dan langsung suka. Waktu pertama denger intro nya aja lumayan aneh sendiri, cuma drum doang yang dimainkan secara perkusif dan berlayer-layer. Dan Neurosis punya sejumlah riff gitar yang total heavy buat saya waktu itu pertama kali dengerin, karena jaman pertama kali dengerin Neurosis ini, saya lagi kerajingan banget sama hardcore/punk. Bisa dibilang ini life changing album buat saya, azeg.

Rangga: The Smashing Pumpkins – Siamese Dream dan Mellon Collie and the Infinite Sadness. Paling suka banget, kalau bisa dibilang ini album Smashing pisan, mulai dari vokal cempreng falsetto Billy Corgan yang ketara banget. Ketukan drum ciri khas Jimmy Chamberlin lebih banyak. Chord bass D’arcy yang simple tapi penting. Dan sound distorsi gitar James Iha yang menggawangi seluruh part lagu. Adanya di lagu Cherub Rock, Edan pisan bagi-bagi tugasnya.. The Smashing Pumpkins jadi salah satu influence sound gitar saya hehe..

Farris: ​​Untuk album favorit saya ingin bisa menjawab Turing Machine – A New Machine For Living, atau Simon & Garfunkel – Bridge Over Troubled Water yang bagi saya lagu tersebut bisa membuat peradaban dikala peradaban sudah runtuh, seperti monolith di film 2001: A Space Odyssey. GY!BE – A Slow Riot For New Zero Kanada yang dipenuhi dengan nada repetitif dan crescendo yang sangat apik. Dan masih banyak lainnya hahaha..

Tapi jika harus pilih hanya satu album, jawaban saya sangat umum. Radiohead – OK Computer; album yang dibuat di tahun 1997 dengan musikalitas yang cukup maju dengan statement komposisi yang kuat. Tekstur musik seperti di lagu The Tourist & Subterranean Homesick Alien yang dimana kehadiran tekstur dari gitar Ed O’Brien dan Jonny Greenwood sangat tidak terduga secara kehadiran dan nada nya. Bye dan maaf untuk yang tereliminasi.

Ibrahim: Pink Floyd – The Wall. Sebelum tau album nya saya nonton dulu DVD live concert yang di Berlin tahun 1990 (karena album The Wall rilis sebelum saya lahir). Pertunjukan tersebut yang membuat saya pengen punya band, dan bisa konser. Tata artistik, tata panggung dan momen (berlokasi di tembok Berlin) berkolaborasi dengan baik. Ditambah permainan gitar David Gilmour yang mengarahkan saya untuk menjadi pemain gitar, karena sebelumnya saya bermain drum.

Untuk para gitaris/bassist: Effect pedals that you can’t live without?

Ibrahim: Big muff Pi Russian. Pake satu pedal itu saya bisa mainin semua part saya di Flukeminimix hahaha..

Rangga: Overdrive pedal sama distorsi hahaha.. Super Overdrive Boss SD1, Turbo Distortion Boss DS2, dan Ibanez Tube Screamer TS9DX.

Farris: Big Muff Pi USA, Fender Twin Reverb Amp dengan mix speaker British dan American.

Background memilih label Grimloc dan Disaster untuk rilisan ketiga kalian?

Dinar: Sesimple karena mereka berteman lama dengan kami dan 2 label tersebut representatif buat Flukeminimix.

Farris: Grimloc sebagai label sudah sangat baik secara distribusi dan kenamaan branding mereka yang cocok dengan Flukeminimix, dan juga DSSTR yang memang kagum dengan bentuk support mereka ke skena musik.

Rangga: Sudah terjawab oleh Farris hehe..

Ibrahim: Grimloc dan Dsstr cocok secara branding dan memfasilitasi kami sebagai band yang banyak maunya ini. Hahaha..

Harusnya ini saya tanyakan di awal, tapi gapapa: Nama band kalian terdengar sedikit nyeleneh. Dari mana datangnya nama tersebut dan apa arti nya?

Faris: Flukeminimix mungkin tidak ada arti secara harfiah nya. tapi saya mengartikannya sebagai sesuatu yang jarang terjadi, sebuah keberuntungan dengan faktor ilahi. Bagi kami singkat nya Flukeminimix adalah sebuah momentum. Kami sendiri yang jadi momentum nya.. Dapat dan bisa membuat momentum nya sendiri.. Mungkin ini yang membuat kita selalu berkomitmen untuk membuat sesuatu atau sebuah karya dengan berbagai medium penyampaian. Keberuntungan juga dikarenakan hubungan antar personil yang sangat erat.. Teman dan sahabat, saudara yang belajar dan memahami musik sedari kecil bersama dan berkomitmen untuk membuat musik sampai tua.

Pada cerita nya Rangga dan Iqbal mengajak main band yang saya tolak beberapa kali, ketika saya mengiyakan.. Saya mau nih bikin band asal bisa bertahan puluhan tahun ke depan hahaha… Sebuah visi yang memang melihat dari awal nya akan menjadi musik yang tidak cepat untuk sampai ke para apresiator. Butuh medium-medium dari yang lain bahkan tidak jarang interdisiplin. Tapi kembali ke semua nya, seni kami hanya sampai penciptaan.. Penilaian sepenuhnya milik kalian, karya hanya akan kembali ke pencipta nya sebagai cerminan.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Flukeminimix’s Archives

 

Terletak di seberang taman umum pusat di Cibeunying, Bandung. Set N Rise adalah kedai yakitori dan bar eklektik yang disajikan di dalam ruang minimalis, abu-abu-&-kayu hangat. Diinisiasi oleh Chef Lucky Lukman bersama Taufik Nofrizal, Ari Triawan, Ginar Satria, dan Christian Willy yang berlatarkan ide dan praktik lintas disiplin: Kuliner-Musik-Desain-Fashion.

Melalui semangat DIY dari makanan hingga arsitektur, dan segala bentuk pengalaman di dalamnya. Set N Rise menyajikan makanan dan minuman siang dan malam untuk dikonsumsi dalam kehidupan yang menyenangkan dan serba cepat. Dengan praktik kreatif yang dibawa pada setiap komponennya, Set N Rise berusaha untuk menyajikan berbagai bentuk lifestyle yang diawali dengan ‘hidangan’.

Set N Rise buka setiap hari pada jam makan siang 11.00 – 01.00 dan juga 16.00 – 23.00.

Perunggu adalah trio indie-rock asal Ibu kota yang cukup menarik perhatian sejak mereka merilis single ‘Biang Lara’ dan ‘Tarung Bebas’ yang begitu fresh dan powerful dalam waktu yang sama. Tidak berlebihan apabila menurut kami band ini sangat menjanjikan dan bisa menjadi besar untuk meramaikan ekosistem musik Indonesia.

Bila kemudian waktu band ini tidak besar dan tetap menjadi “underdog”, maka ada yang salah dengan industri musik Indonesia. Tetapi seperti nama band nya, Perunggu memang sudah nyaman menjadi “underdog” dan tidak membutuhkan pengakuan, karena mereka nyaman dan enjoy dengan situasi apapun yang terjadi. Untuk para penggemar Death Cab For Cutie, Band of Horses & Silversun Pickups dengan sensibilitas pop Indonesia, kalian harus menyimak band yang satu ini. Mari sedikit berbincang dengan vokalis Perunggu, Maulana Ibrahim.

Sbplusix a.k.a Belva Prabowo rapper, penyanyi, penulis lagu, artis visual dan designer asal Bandung, akan merilis sebuah single yang berjudul “Colurgrade”. Single pertama yang di produseri oleh Sbplusix ini sendiri bekerja sama dengan singer dan co-produser yaitu Putra Baskoro (Putt Aprill) & Gilang Dhafir, “Colourgrade” merupakan single terbaru dari Sbplusix untuk awal dari mini album di tahun 2022.

“Colourgrade” menceritakan tentang bagaimana seseorang yang memiliki batasan disaat menjalin hubungan, batasan ini berkaitan dengan kondisi sosial saat ini yang dilanda berbagai persoalan pelik serta kekhawatiran pada setiap individu dan bagaimana mereka memecahkan masalah dengan prinsip masing-masing. “I sit back and hangover, I feel waves on the ocean, I’m try to find the motion, I’m try to feel the closure” – penggalan lagu dari “Colourgrade” adalah semacam refleksi yang ingin disampaikan oleh Sbplusix dan Putt April dalam single ini, dibalut dengan karakter musik yang cukup energetic demi mempertegas pesan yang disematkan didalamnya.

Colourgrade, sudah bisa didengarkan diseluruh platform musik digital pada 15 Juli 2022.

This dude needs no introduction. Dendy Darman adalah salah satu pionir dari masa-masa keemasan brand fashion lokal yang sudah membangun brand 347 dari tahun 1996. Mari berbincang dengan Dendy mengenai budaya diskon, Nyi Roro Kidul, dan koleksi Jenglot..

“Kita punya pengalaman, dan mereka (generasi muda) punya energi. Kalau digabung keren banget.”

Den! Apakabar 347 sekarang? Lagi banyak collab ya?
Lagi banyak collab supaya bisa gabung lagi sama darah muda. Soalnya kan dulu juga gue tuh banyak energi di masa itu, masa muda. Karyawan 347 sekarang regenerasi juga, karyawan nya anak-anak sekarang. Energi nya pasti lebih banyak. Lo juga dulu pas di jaman Ripple kan masih seumuran anak-anak generasi sekarang jadi banyak energi. Kalau seumuran gua kan udah banyak aspek lain kaya keluarga dan lain-lain.

Gue liat kemaren lo sempat juga collab sama White Chorus, Bleu House dan Couch Club ya?
Sebenarnya pas 3 band itu bikin satu musi bareng-bareng. Pengen nyambungin generasi aja sih sebenernya, jauh banget kan generasinya. Mereka appreciate sama kita dan kita juga appreciate sama mereka. Sekarang harus jalan lagi yang kaya gitu soalnya energi itu dapet dari banyak ketemu-ketemu orang, bikin sesuatu bareng, beredar lagi. Kita punya pengalaman, dan mereka punya energi. Kalau digabung keren banget.

Kemarin collab lo sama Compass yang 25 sepatu seru juga ya. Ada yang pakai lukisan Nyi Roro Kidul-nya Basuki Abdullah?
Iya! Itu collab nya dibikin se-organik mungkin. Mereka sampai effort bikin 25 sepatu untuk 25 tahun umur 347. Padahal biasanya mereka bikin satu model itu 1000 pcs, kemarin 1 varian nya cuma 100 pcs dibikin terbatas. Yang 24 itu dari archives lama, tapi 1 design itu bener-bener discuss dan akhirnya keluar yang Nyi Roro Kidul. Dia dikeluarin terakhir, setelah siangnya rilis yang 24 model, malam nya rilis yang Nyi Roro Kidul.

Tapi yang design Nyi Roro Kidul itu ga boleh dipake kan sepatu nya?
Ga boleh! Ceritanya panjang itu. Kita pengen tidak ada yang disakiti lah. Masa sih diinjak jadi sepatu, sebenarnya konteksnya bukan itu juga. Lukisan nya aja diambil dari Basuki Abdullah, jadi kita beli royalty lukisannya untuk dipakai di desain sepatu. Awalnya kita pengen setiap sepatu Nyai Roro Kidul itu box nya digembok, jadi kalau orang beli ga bisa dibuka karena kunci nya kita simpan di kantor kita ga dikasih ke pembeli hehehe. Tapi teknis nya susah banget. Kalau Compass tuh retail era sekarang, gue juga menyaksikan kalau mereka menjual barang itu ga sampai 10 menit. Gue takjub aja betapa majunya informasi sekarang bisa seperti itu jualan nya. Jaman gue dulu tuh udah berubah banget sama jaman sekarang, Tang. Budaya nya udah beda. Lo bayangin kita dulu bikin baju, abis bikin butuh berapa bulan untuk orang tau, sekarang cuma butuh berapa menit untuk menghabiskan. Gila sih. Salutlah sama anak-anak sekarang.

“Lo bayangin kita dulu bikin baju, abis bikin butuh berapa bulan untuk orang tau, sekarang cuma butuh berapa menit untuk menghabiskan.”

Pendapat lo mengenai trend marketing diskon gimana?
Sebenarnya ini cuma trend nya saja, dan kenyataan nya sudah terjadi. Gue aja sekarang mikir harus ikut gitu? Kalau enggak kan kita jadi closeminded gitu. Tapi kalau gue sih mikir mungkin pada akhirnya akan kembali pada track nya. Nah sekarang ga tau tuh siapa yang jadi leader nya tuh yang gitu-gitu hehehe.. Mereka memang bikin jalur baru dan akhirnya jadi budaya baru di industri retail. Harus diakui bahwa market leader nya seperti itu. Ya kita ikuti saja dulu, tapi gue juga punya cita-cita untuk mengembalikan trend nya kembali seperti dulu. Trend diskon ini sementara, hanya karena dibikin hype.

Dan bahkan sudah ada sebutan seperti “generasi diskon” ya di budaya retail sekarang..
Tapi ada beberapa orang juga yang beli barang karena memang suka dan ga ngejar diskon. Ini cuma dampak dari sosial media aja. Pada prinsipnya gue sih tetap aja bikin design dan produk yang bagus. Walaupun gue mau diskon juga, kalau design nya datang dari studio gue ya gapapa. Wayahna weh harga nya sekarang dibalikin lagi ke tahun 2000 hahaha..

“Walaupun gue mau diskon juga, kalau design nya datang dari studio gue ya gapapa. Harga nya sekarang dibalikin lagi ke tahun 2000 hahaha. (Padahal) Kita dari dulu bikin harga pelan-pelan naik “

Iya nih Den, harga kaos diskon sekarang kaya balik ke harga tahun 2000an lagi ya..
Agak kacau sih sebenarnya. Kita dari dulu bikin harga pelan-pelan naik. Anggap aja ini hiburan buat customer. Customer lah yang sekarang ini diuntungkan. Yang ga boleh di gue itu kalau gue bikin sesuatu karena barang model tersebut lagi laku, kecuali kalau gue memang suka trend yang lagi laku itu. Mungkin 7 tahun yang lalu gue itu udah engga ada di management unkl. Gara-gara social media ini gue juga udah 2-3 tahun ini jadi director nya lagi. Karena menurut gua ini bahaya, ini masa-masa krusial. Kalau salah gaul, ato apa.. Ke kiri ke kanan nya harus hati-hati lah. Makanya gue ada lagi. Analogi nya kalau di industri musik, karena Aldy tuh di musik, mungkin lo harus ikutin jalur bagaimana major label menyebarkan lagu nya, tapi lagu lo tetap lo yang bikin dan ideal buat lo. Yang pasti sih secara dibuat nya harus idealis, tapi cara penjualan nya adaptasi aja. Gue ga bisa idealis kalau jual barang, tapi kalau bikin barang gue bisa idealis. Pada prinsipnya buat gue sih barang nya idealis. Buat gue konteks itu masih on track lah, ga sakit hati banget. Ga jual diri lah hehehe..

Lo juga jual pernak-pernik di DFO store ya?
Ini salah satu hiburan gue juga sih. Mungkin gue tuh harus cari hiburan untuk membayar toleransi gue. DFO store tuh design sendiri, retail sendiri, kalau ada yang suka beli, kalau enggak ya gak papa juga. Itu obatnya hahaha. Ekspektasi gue dulu pas membangun 347 itu mungkin terlalu ideal, tapi di perjalanan nya gue harus toleransi dan adaptasi. Jadi gue harus punya obat. Iya kan? Harus banyak obat nya, kalau habis tinggal makan setengah, jangan sampai kosong hehehe..

Kalau Dendy & Darman Studio (DDS) sekarang lagi ngerjain apa aja nih, Den?
Banyaknya resort, dan mau lebih fokus ke rumah-rumah kecil. Gue cita-cita awalnya bikin DDS ini kan untuk bikin rumah buat teman-teman gue yang tadinya ga kepikiran untuk punya rumah. Lo pasti bisa punya rumah, berapa lo dapet sebulan nih. Rumahnya gausah gede-gede. Concern kedepan nya mo kesana sih. Sekarang sih lagi bikin project resort dan rumah pribadi. Soalnya untuk bikin stock rumah-rumah kecil gitu kita harus nabung dulu. Sebenarnya pengen bikin kawasan aja sih. Gue kan besar di lingkungan yang banyak anak-anak kreatif, tapi mereka kadang punya penghasilan tapi gatau mengolah uang nya. Jadi kaya berat banget untuk punya rumah padahal itu bisa direalisasikan dengan berbagai cara.

Btw kenapa DDS pake logo The Cramps sih Den? Lo suka banget The Cramps atau gimana?
Itu iconic aja sih logonya. DDS kan awalnya kan organik. Gue itu bukan arsitek tapi seniman grafis. Cita-cita gue itu suatu hari nanti kalau DDS besar akan pameran arsitek. Nanti pas kita masuk poster pameran arsitek dan logo kita bakal masuk, nanti yang bikin posternya akan bete “anjing ini log apaan sih” hahaha. Sebenarnya cuma itu goal gue pake logo The Cramps. Kaya pas lo design poster pameran, pasti ada kan yang “kenapa logo ini harus masuk ya” hahaha.. Akan gue challenge semua designer-designer dunia dengan logo gue yang akan mengganggu Biennale lo hahaha..

Pertanyaan terakhir nih: Koleksi Jenglot lo udah nambah belum?
Ohh nambah dong. Bukan Jenglot lagi tenang nanti bakal ada yang baru. Nanti bentar lagi gue posting kalau Jenglot dan teman-teman nya udah pada dateng. Jenglot kan buat pemula buat gua. Jenglot itu ga akan bagus kalau di sebelahnya ga ada Keyboard Roland Juno-60. Kalau Jenglot di sebelahnya ada Roland Jupiter 8 beda ceritanya.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos take from Unk347’s archive

Sebelum menggunakan alat tiup dan instrumen elektronik, Tesla Manaf adalah gitaris jazz yang sangat handal. Semua itu dia tinggalkan di tahun 2017: dia nekat berhenti bermain jazz dan mulai menekuni instrumen alat tiup & elektronik. Uniknya, Tesla mempelajari instrumen-instrumen barunya itu dari nol. Mari berbincang dengan Tesla mengenai rekaman di bunker Tentara Belanda, mempelajari alat tiup karena pandemi dan sintingnya musik Merzbow..

“Gue bikin musik tanpa referensi. Gak ada guidebook sama-sekali. Kalau jelek ya jelek aja ulang dari awal. Kalau bagus yaudah itu kepunyaan gue sendiri dan ga ada orang lain yang sound nya kaya gini.“

Tesla! Kita mulai dari pertanyaan sejuta umat dulu ya: Dulu kan lo gitaris jazz, gimana transisi lo dari jazz ke experimental music yang menggunakan instrumen Cornet dan electronics?
Anjirr sudah puluhan ribu orang nanya gue ini nih hahaha.. Dari 2017 tuh gue udah mentok banget di jazz, apa yang gue pengen dari jazz dan instrumen gitar udah kesampaian semua di tahun 2017 itu. Gue pengen ngasih kejutan ke diri gue sendiri: ga pengen main gitar lagi. Karena ntar suara dan musik yang gue ciptain akan gitu-gitu aja bunyinya. Gue pengen milih instrumen elektronik yang ga gue pegang sebelumnya dan memasuki skena yang ga pernah gue datengin sebelumnya. Akhirnya gue nekat disitu.

Belajar dari nol semua ya berarti? Cornet / Trumpet sebelumnya sudah bisa?
Dari nol banget. Cornet gabisa. Baru belajar iseng pas pandemi. Gue belum pernah pegang terompet sedikitpun, apalagi niup. Nekat-nya gue beli pake seluruh tabungan gue saat itu. Ah bodo deh, sikat aja daripada gue bengong pas pandemi. Sekarang jadi instrumen jagoan gue.

Video performance “Larynx” yang kerjasama dengan Maternal itu gimana konsep awalnya?
Sebenarnya itu cuma ngasih tau ke khalayak luas kalau gue tuh ada 2 format kalau manggung: format elektronik dan format organik. Disitu gue maen elektronik, sample dan main gitar, Tapi main gitarnya ga dipencet, cuma disentuh doang permukaan senarnya, biar suaranya senarnya terdengar seperti perkusi…

Kalau video performance lo yang collab bareng Ssslothhh itu gimana awalnya?
Si Dinar (drummer Ssslothhh) yang ngajak, dia nge message di Twitter ngajak collab bareng. Wah udah ga mikir lah, Ssslothhh nya keren gitu. Lalu mereka ngasih kesempatan dan porsi cukup banyak ke Kuntari. Bebas nih Tesla mau ngapain aja. Bener nih bebas? Akhirnya kirim draft materi, mereka cocok dan kita cuma sekali latihan langsung cocok, yaudah besoknya langsung syuting video nya.

Lo juga sempat memakai konsep improv dalam bermusik ya?
Sebenarnya konsep improv ini di 2019-2020 awal, pas alatnya masih electronic. Tapi pas album “Last Boy Picked” keluar dan format electronic dan cornet ini udah terbentuk, ga improvisasi lagi sih kasarnya sekarang tuh. Memang ada improv ditengah-tengah tapi tetap ada pattern atau pola di dalam setiap lagunya.

Banyak musisi/band pop mainstream ingin go international tapi ternyata yang malah go internasional malah yang eksperimental seperti Senyawa atau Gabber Modus Operandi (GMO). Bagaimana pendapat lo mengenai ini?
Ya sesimple ini aja sih mas, musisi pop dan mainstream banyak banget, jutaan orang kali yang berebut floor dan porsi yang sama. Kalau mas denger Senyawa atau GMO ya cuma mereka aja yang seperti itu di dunia ini.

Kadang dibanding musisi pop yang sangat effort untuk go international, musisi eksperimental lebih terlihat effortless ya bisa menembus batasan-batasan bahasa..
Sebenarnya mereka ada effort juga sebenarnya, meskipun kita ga melihat di depannya gimana, tapi ada agent nya, si mas Wok the Rock (Yesnowave). Biarpun musiknya bagus atau se-original apapun, kalau ga pintar mempromosikan dan tidak mengerti brand image atau strateginya kemana akan sulit juga dijual pada akhirnya. Misal Senyawa bagus tapi main nya di acara Kemenkraf atau Kemendikbud, atau main di Dubai Expo atau acara kedutaan Austria, orang-orang juga ga akan bisa dengar. Management, agent, label dan kemasan itu penting banget. Harus tau mereka bakal dijual kemana, diarahkan kemana, siapa yang nonton, strategi marketing yang jelas..

Tapi kalau ngomongin marketing, lo juga ga ada Instagram ya? Hahaha..
Hahaha.. Kan media marketing bukan Instagram doang.. Masih ada Twitter hehe.. Sebenarnya strategi gue juga udah pasti ada, arahnya mau kemana. Cuma ga ngotot banget, dari 2 tahun pandemi ini udah jadi pelajaran banget ya. 2 tahun kita disuruh berhenti dan istirahat. Ambisi boleh tapi jangan terlalu berlebihan ingin ini ingin itu. Kalau kita tetap usaha terus, dan musik kita bagus, target dan jualan nya jelas, cepat atau lambat pasti ada waktu nya kok.

Di album “Last Boy Picked” itu cover siapa yang mengerjakan? Dan kenapa memutuskan untuk co-release dengan 2 label (Orange Cliff dan Grimloc)?
Itu yang bikin si Nitya Putrini dan yang layout si Anindito (owner Orange Cliff Records). Kalau ketemu Nitya dari saran Dito, kata Dito si Nitya kayaknya bisa translate isi kepala lo untuk album “Last Boy Picked”. Akhirnya cocok dan dibikin sama dia, bagus banget. Karena waktu itu mau di release oleh Orange Cliff, awalnya gue bilang boleh ga gue co-release sama Grimloc. Akhirnya gue ajukan ke mas Ucok (Grimloc) lalu dia oke yaudah deh co-release bareng. Kalau Orange Cliff itu dulu tahun 2020 album pertama Kuntari yang “Black Shirts Attracts More Feather” dirilis mereka, jadi pas “Last Boy Picked” pengen sama mereka lagi. Kalau Grimloc itu gue suka udah lama. Gue akhirnya nekat kontak mas Ucok. Taunya dia suka banget dan akhirnya kita collabs di banyak kesempatan, kaya remix di “Fateh”, dan split album Roman Catholic Skulls X Kuntari.

Ketika membuat komposisi, kapan lo memutuskan bahwa sebuah lagu itu sudah selesai?
Proses gue bikin lagu malah bisa bulanan dan tahunan, tapi itu ga pernah masuk ke draft. Apa yang ada di kepala dicatat dulu dan sengaja ga dibawa ke meja recording. Karena apa yang kita bunyiin sekarang tuh akan beda dengan apa yang kita bunyiin 2 bulan atau tahun depan. Karena referensi kita berjalan terus, referensi terhadap sound juga berjalan terus. Keinginan juga banyak berubah pastinya. Catat aja dulu apa aja yang penting, bikin moodboard, kerangka berpikir, instrumentasi apa aja, manggung nya ntar gimana. Setelah arah nya jelas baru coba dibuat konsep dan pola-polanya. Lalu dicoba latihan. Kalau bagus jalan terus ke rekaman, kalau ga bagus semua moodboard yang sudah dibuat bertahun-tahun itu coret aja udah. Konsep nya ga bagus, mulai lagi dari awal.

Kalau semua draft direkam malah bakal numpuk ya?
Iya mas. Waktu di jazz dulu tiap ada ide gue rekam. Kalau di jazz jelas kan: bunyi gitar seperti apa, ada bunyi drum, piano, bass dan alat tiup. Semua instrumentasi lebih jelas karena kita ada referensi, pasti ada referensi musik barat. Misal Bebop di New York atau Swing di New Orleans. Karena ada referensi ga ada ketakutan untuk buat musik. Suara gitar dan drum pengen kaya gini ah. Ada kali 300-400an lagu gue di hardisk yang belum direkam secara benar. Tapi di musik di genre gue yang sekarang ini, gabisa kaya gitu karena gue jalan tanpa referensi apapun. Walaupun dengar dari kiri-kanan ada inspirasi tapi ga pernah ada sound yang baku dan pasti yang bisa kita colong sedikit pun. Semua mulai dari nol, trial and error nya gila-gilaan. Gak ada guidebook sama-sekali. Kalau jelek ya jelek aja ulang dari awal. Kalau bagus yaudah itu kepunyaan gue sendiri dan ga ada orang lain yang sound nya kaya gini.

“Album Last Boy Picked kita buat dari nol sampai jadi album selama residensi 3 hari. Tiap hari nya latihan 12 jam.”

Yang album “Black Shirt Attracts More Feather” lo rekaman di bunker tentara kan ya? Untuk ambil reverb ruangan nya kah? Lalu bagaimana proses recording yang “Last Boy Picked”?
Yes bener, itu bunker bekas tempat tentara Belanda ngumpet dari tentara Jepang jaman dulu gitu. Bunkernya tuh panjang banget dan reverb-nya bagus banget. Kalau “Last Boy Picked” itu kita residensi 3 hari di Leitstar Studio Kebon Jeruk, tempat nya teman namanya Dhani Siahaan. Jadi sebuah rumah besar dan ada recording studionya. Kita semua berempat ngumpul disitu, dari pagi jam 10 pagi kita latihan sampai jam 10 malam, tidur, makan, istirahat, mandi segala macam disitu kaya residensi aja. Biar ga mikir apapun dan fokus ke musik. Kita buat dari nol sampai jadi album selama 3 hari. Tiap hari nya latihan 12 jam.

Kalau musik electronic apa lo juga dengar band-band avant-noise dan experimental Jepang?
Banyak sih tapi ga pernah dijadiin referensi atau apapun. Musik noise nya juga banyak denger cuma kan ga terlalu nyaman kalau didengar tiap hari…

Coba tiap hari dengar Merzbow mas..
Hahaha udah gila. Udah pasti nih orang sakit kalau tiap hari dengerin Merzbow. Paling nyaman tuh nonton live nya dari band-band seperti itu. Kerasa power dan adrenaline nya. Energinya kerasa banget.

 

Words & interview by Aldy Kusumah


Prabu Pramayougha adalah seorang musisi dan penulis musik asal Bandung. Tulisannya sempat dimuat di koran Pikiran Rakyat, qubicle.id dan beberapa media musik lokal.
Dia dikenal sebagai penulis musik yang memiliki kisaran pendengaran musik yang beragam serta kerap kali menyuguhkan penulisan yang mendalam.

Prabu pun dikenal sebagai sosok punggawa band punk rock lokal Saturday Night Karaoke yang telah berdiri sejak tahun 2008 dan sukses menjalankan tur Jepang selama dua kali dalam waktu lima tahun terakhir. Don’t Read This! : Catatan Melodic Punk Bandung Dari Masa ke Masa adalah sebuah buku yang ditulis oleh penulis musik asal Bandung, Prabu Pramayougha, yang membahas sejarah sekaligus dinamika yang terjadi di kancah musik ‘melodic’ punk di Bandung pada era keemasannya.
Buku ini diterbitkan oleh Bukune pada tahun 2022.

Don’t Read This! akan dijadikan sebagai acuan landasan untuk berbagai program yang bisa dikembangkan dalam bermacam format.

Zanun mungkin sekarang disibukkan oleh retail space Grammars dan Los Tropis, sebuah tropical fruit bar. Selain itu, Zanun adalah sosok dibalik design cover album dari The SIGIT, RNRM, Maliq & D’Essential sampai Jolly Jumper. Mari berbincang dengan Zanun mengenai passion nya terhadap desain interior, buku-buku home decor, zine, makanan warteg sampai dengan izakaya..

“Gelombang baru gairah F&B angkatan sekarang berani dengan eksplorasi bahan dan identitas nusantara. Memecah kebuntuan F&B Bandung yang sempat duplikasi ayam geprek dan seblak aja. Perlu banget diapresiasi.“

Nun, bisa ceritain ga proses awal nya lo bikin Grammars bareng partner-partner lo?
Versi ga disensor dan jujurnya tuh pertama kita semua kerja di bidang design yang project-based. Semua kerjaan nya tuh linear: ada awal dan akhir projek. Ritme nya gitu terus, ada masa yang intens dan masa yang lengang. Kadang penghasilan nya juga gitu, dari ada nya output bisa penagihan, bukan dari prestasi.

Nah kita seneng juga ngeliat teman-teman yang di bidang F&B, mereka punya ritme yang berbeda. Mereka fight nya harian, ada sales harian. Jadi akhirnya kita punya konsep punya toko. Secetek itu sih. Awalnya bareng sama Artiandi Akbar karena memang banyak juga projek dengan dia. Tadinya Ardo Ardhana (Norrm) mau isi ruang atas untuk menjalankan program-program di space yang lebih intim dari Spasial dulu. Lalu seiring perjalanan kenapa ga kita satukan aja retail space kita dengan program-program Ardo dan network yang dia punya. Jadi dedicated space. Bisa nih melebur jadi satu dan akhirnya partnership ini bertiga.

Kenapa memutuskan untuk membuat Grammars di lokasi yang cukup unik, seperti Cihapit?
Buat gue Cihapit adalah memori masa kecil. Banyak memori karena dari dulu tinggal dan tumbuh dekat situ di Terusan Ciliwung. Jadi hawa-hawa nya menyenangkan, dan lokasi juga masih di daerah Riau. Kenapa ga dilirik secara komersial ya? Temen-temen yang studio nya di Gudang Selatan juga sering banget kalau bulan puasa buka puasa di Cihapit. Pas sering lewat Aloha (Resto yang sekarang dipakai Grammars) kita lihat lokasi ini bagus dan sudah vacant atau kosong.

Ada cerita menarik juga nih soal si Tante owner lokasi kita. Kita bukan orang pertama yang mau nyewa lokasi itu. Sempat ada chain minimarket yang ditolak sama si Tante. Kata si Tante kalau minimarket ini diambil sewanya, nanti pasar-pasar dan pedagang sekitar bisa mati bisnis nya. Padahal secara angka dan komitmen bisa lebih menjanjikan dari kita (Grammars). Keren banget si Tante punya kepedulian sosial terhadap sesama warga nya. Kita juga presentasi ke dia soal apa yang mau kita buat dan seperti apa mood nya si Grammars. AKhirnya disetujui lewat proses seleksi juga. Selain itu, Kita sewa Cihapit no. 6 itu cukup luas, kita ga berani sewa sendiri. Jadi akhirnya kita kontrak tempat itu berempat sama si Acong Gang Nikmat. Gang Nikmat ambil belakangnya untuk outlet mereka.

Di Kanada ada toko Better Gift Shop yang pada awalnya jual stationery dan sekarang sudah menjadi brand yang bisa kolaborasi dengan botol minum Nalgene sampai sepatu Salomon. Apa lo ingin mengembangkan Grammars untuk menjadi brand seperti Beams atau Better Gift Shop atau lo punya konsep lain?
Sebetulnya kita udah mulai bergerak ke arah sana. Beberapa tahun lalu kan Isu-nya apakah offline retail bisa bertahan melawan online retail yang menawarkan banyak kemudahan. Kalau kita carry satu brand di Grammars dan mereka punya kanal penjualan sendiri, apa jaminan Grammars tidak akan di bypass oleh customer? Mereka lihat barang di Grammars dan beli nya online kanal brand itu sendiri. Jadinya kita cuma jadi showcase aja. Sebagai select store, kita punya opsi yang lebih banyak, bisa membeli multiple brand di satu tempat. Dengan adanya produk eksklusif yang hanya ada di Grammars atau kolaborasi dengan brand tertentu, itu akan lebih menarik. Seperti toko Kanada yang lo bilang tadi, atau mungkin Beams Jepang lah. Beams kan banyak kolaborasi. Kita harap suatu saat itu akan meningkatkan leverage dan bagus untuk branding kita. Extra exposure.

Kategori dan varian barang-barang yang ada di toko lo apa aja?
Paling banyak memang stationery, zine, publikasi lain termasuk buku, home decor juga salah satu kategori yang paling banyak. Fashion justru paling sedikit, aksesoris juga mulai masuk tapi kuota nya dikit. Itu juga dilakukan secara sadar karena skena retail di bidang fashion itu lahan nya udah ter develop. Kalau kita seperti itu juga akan makin bikin crowded. Lebih blue ocean strategy lah. Dari start cuma 16 brand, sekarang kita nge handle hampir 80-90 brand. Kalau harus nyebutin brand nya aja nanti gue picky deh hahaha. Ga adil hahaha..

“Kita sengaja bikin blank canvas putih biar warna buah-buahan nya Los Tropis ter-highlight. Orang Indonesia ga punya istilahnya tapi orang Jepang punya: Komorebi. Yaitu sinar matahari yang tembus di antara pepohonan dan menghasilkan bayangan yang seru secara visual. “

Kalau Los Tropis itu konsep awalnya seperti apa, Nun?
Ini awalnya dari Gang Nikmat. Si Sandiyuda Dananjaya (Gang Nikmat) ngejalanin kitchen consultation yang mendevelop menu untuk orang-orang. Menjelang nikah dia pengen punya usaha sendiri. Ngobrol lah kita pas awal dia mau bikin Gang Nikmat. Lalu keresahan kita tuh kenapa di Bandung bidang F&B trend nya itu terus. Lagi rame ayam geprek, semua jual geprek. Mozzarella juga jadi rame. Dari situ mulai banyak movement yang membuat F&B di Bandung jadi lebih beragam dan membentuk karakter masing-masing. Lalu gue diajak untuk design si Los Tropis di Gempol. Seiring perjalanan, karena gue selalu bantu sisi kreatif sampe social media nya. Lalu akhirnya diajak jadi partner, sekarang kita berempat. Kebetulan salah satu partner kita si Farhan Suryadi, bapaknya memang pedagang buah di pasar induk Kramat Jati. Jadi kita punya akses untuk buah dengan kualitas bagus dan harga yang belum di mark up oleh banyak tangan.

“Karena kedua lokasi Los Tropis ga ada kanopi jadi emang misbar. Gerimis bubar. Tapi kalau lagi enak, ya bisa enak banget. Istilah nya high ceiling low floor.”

Design Los Tropis yang di Jl. Gempol dan yang baru di Jl. Padjajaran itu sangat khas dan berkarakter ya..
Yang lokasi di Gempol itu udah dipayungin sama pohon. Kita sengaja bikin blank canvas putih biar warna buah-buahan nya ter-highlight. Karena ada bayangan pohon juga harus ngasih bidang polos. Orang Indonesia ga punya istilahnya tapi orang Jepang punya: Komorebi. Sinar matahari yang tembus di antara pepohonan dan menghasilkan bayangan yang seru secara visual. Ada kedai yang memajang buah nya juga jadi secara visual kelihatan itu tempat buah bukan coffee shop. Pas lo dateng kesana matahari lagi enak ga? Cuaca Bandung itu enak banget. Cuma kalau hujan bubar. Karena kedua lokasi kita ga ada kanopi jadi emang misbar. Tapi kalau lagi enak, ya bisa enak banget. Istilah nya high ceiling low floor. Semoga jadi experience yang bagus apalagi kalau dateng pas matahari sore, pas golden hour.

Sebagai interior designer, menurut lo good interior design itu yang seperti apa?
Yang bagus itu yang pasti tidak terikat sama budget. Tapi dengan ada nya batasan budget malah bisa bikin kita lebih kreatif. Dengan space dan budget yang tidak terbatas itu malah bikin bingung. Design tuh harus bisa menengahi batasan budget, ruang dan operasional si user nya. Menemukan solusi dari semua itu adalah design yang bagus.

“Kalo design service / jasa ada rasanya kita mengabdi ke kaum bourgeois, sementara pernah merasakan semangat egaliter dari scene musik Bandung kan. Tapi sekarang gue jadi agen gentrifikasi hahaha.. Jadi bikin Cihapit mahal.”

Bisa ceritakan transisi lo dari interior ke retail?
Gue merasa yang gue jalanin sebagai profesi (interior) mulai merasa membosankan, karena sebatas mencari nafkah. Apalagi yang diolah bukan sesuatu yang bisa dinikmati oleh publik luas. Bukan sesuatu yang relate dengan banyak orang. Rasanya ga ada kontribusi ke semangat anak-anak yang ada selama ini. Bahkan ketika Spasial harus tutup juga ga punya daya apa-apa. Kalo temen-temen yang di musik kontribusinya direct gitu. Yang punya record label misalnya. Kalo design service / jasa ada rasanya kita mengabdi ke kaum bourgeois, sementara pernah merasakan semangat egaliter dari scene musik Bandung kan. Tapi sekarang gue jadi agen gentrifikasi hahaha.. Jadi bikin Cihapit mahal.

Lo juga kadang bikin cover album kan?
Nah itu history kita juga ya, dulu pernah bikin cover Jolly Jumper hahaha.. Nah ini kerjaan design gue yang jarang dibahas. Dulu pertama mulai dari bikin kover RNRM yang album Outbox. Pas Jolly Jumper punya rencana untuk bikin album dulu, kita kan ngobrol. Ternyata proses nya lebih panjang dari yang kita rencanain. Ilustrasi yang udah dibuat harus diganti karena ada pergantian personil dan photoshoot ulang haha. Hampir mundur 2 tahun mungkin ya dulu? Tapi proses nya yang seru sih dan nempel karena sama-sama ngejalanin nya. Dulu jaman Factory Records ada Peter Saville ya. Ga Tau sekarang bikin cover album jadi spesialisasi ga sih. Terakhir gue bikin cover dan ilustrasi vinyl si Munir yang kompilasi Tanamur. Dulu sempat juga bikin cover Maliq & D’Essentials yang Sriwedari dan Musik Pop.

Total udah bikin kover album siapa aja?
RNRM – Outbox (2007)
Jolly Jumper – Feels (2012)
The SIGIT – Detourn (2013)
Maliq & D’Essentials – Sriwedari (2013), Musik Pop (2014)
Laleilmanino – Sayang (2021)
VA – Tanamur City (2021)

Sebagai pengusaha F&B, Top 5 hidden gem tempat makan favorit lo di Bandung apa aja?

1. Ayam Goreng Pa Nanang:
“Kemarin baru makan ini, di Lembang sebelah Ayam Brebes. Ini asli definisi hidden gem. Tempatnya kaya time capsule, gak disentuh waktu. Ayam goreng, sambal dadak & petai nya enak banget.”
2. Nasi Telur Sumber Rezeki:
“Ini di Pasar Cihapit. Sederhana, murah meriah dan enak. Ini highlight gue juga.”
3. Bakmi Tasik San Jose:
“Lagi nongkrong di Los Tropis Padjadjaran, kemarin makan Lau Cu Pan enak banget. Kalau lagi di Los Tropis Padjajaran bisa gojek nih Lau Cu Pan nya, enak banget.”
4. Set n Rise:
“Ini tempat baru punya temen-temen, masih fresh. Izakaya ala Jepang. Berlokasi di Cibeunying. Ada bakar-bakaran yakitori dan minuman kaya highball dan beer. Sangat cocok untuk laidback after hours, pulang ngantor.”
5. Seroja Bakery:
“Ini baru pindah ke Cihapit. Gelombang baru gairah F&B angkatan sekarang yang berani dengan eksplorasi bahan dan identitas nusantara. Memecah kebuntuan F&B Bandung yang sempat didominasi oleh duplikasi ayam geprek dan seblak aja. Perlu banget diapresiasi. Favorit: Taco Kambing Muda & Pavlova Buah Musim.”
Honorable mention: Warung Nasi Teh Neng Muararajeun
“Untuk tanggal tua ini sip banget hahaha.”

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Zanun’s Archives

Mungkin kita mengenal Vidi Nurhadi dari brand Maternal Disaster yang lebih dikenal dengan homage logo Winston Smith / Dead Kennedys nya. Logo M yang ditusuk pedang tersebut bisa kamu lihat dimana-mana, dan rupanya Maternal pun sudah mempunyai anak perusahaan dalam departemen record label (Disaster Records) dan publishing house (Consumed). Uniknya, Maternal tidak hanya membuat konser-konser yang banyak didatangi crowd hardcore/punk, doom dan stoner-rock saja, pada awal berdiri sampai sekarang mereka masih banyak mengadakan eksibisi seni juga. Tema-tema gelap yang diusungnya pun tidak berhenti di T-shirt saja; sports bra, bola basket, jigsaw puzzle, headphone bluetooth, gitar sampai selimut pun sudah mereka produksi. Simak obrolan JEURNALS bersama Vidi berikut ini…

_____________________________________________________

“Sebenarnya yang dijalankan di hidup saya atau Maternal itu ga ada planning sama sekali. Sialnya, Maternal itu ga pernah ada strategi atau target yang ingin dicapai. Soalnya dari dulu saya teh emang ga punya cita-cita.” -Vidi Nurhadi

_____________________________________________________


Apa yang membuat lo tergugah untuk membuat Maternal Disaster pada awalnya? Brand-brand atau band apa saja yang menginspirasi lo untuk masuk ke subculture ini?

 


 

Yang tergugah sebenernya ga ada. Awalnya cuma ikut-ikutan aja sih. Karena lingkungan pada saat itu memang lagi seru-serunya. Anak-anak di tongkrongan lagi eksperimen sesuatu, nyablon ini itu, ya jadi nya cuma nyalurin hobi aja sih. Dulu suka nongkrong di Venom (Distro) yang jual rilisan dan merch musik. Anak-anak itu memang suka pada nyablon sendiri. Awalnya cuma ikut-ikutan aja, kebetulan suka gambar juga. Brand yang menginspirasi sih Volcom dan Insight. Band mah ga ada yang menginspirasi, paling mungkin Puppen karena Puppen pake Volcom, jadi akhirnya tau Volcom. Cuma band yang menginspirasi ke design sih kayaknya ga ada.

 

Sepertinya Maternal juga memiliki ketertarikan di bidang book publishing dengan Consumed. Ceritakan sedikit mengenai proses development buku “Ken” dan “Forever 16” yang dirilis oleh Consumed… 

 


 

Niat awalnya si Consumed tuh mau bikin majalah cetak, udah lama pisan mungkin dari tahun 2013-2015 idenya. Cuma ga ada yang nge-running aja. kebetulan ada obrolan sama Ken juga untuk bikin buku dia. Prosesnya sekitar 5 tahunan. Pas udah beres yaudah dirilis di Consumed aja bukan di Maternal. Waktu itu tuh awalnya mau bikin majalah cuma agak susah ngumpulin waktu dan orangnya. Jadi nya jadi publisher. Produk buku Ken itu pengerjaannya lama di pengarsipan dan ngumpulin plus scan gambar-gambarnya. 


Bisa kerjasama sama Ken itu berawal dari obrolan iseng aja, tapi saya juga memang banyak terinspirasi dari gambar-gambarnya dia. Beres itu lanjut bikin buku Forever 16. Sebenarnya waktu ultah ke 16 Maternal bingung mau bikin apa, dan kebetulan pengarsipan tiap issue / koleksi kita selalu ada walau ga lengkap. Kita bikin buku ini untuk merangkum instalasi toko dan konsep dari tiap issue. Ada juga testimoni-testimoni dari temen-temen yang pernah kerjasama bareng kita. 

 

Projek Consumed berikutnya akan merilis apa nih? 

 

Sebenernya udah banyak rencana kaya bukunya Riandy Karuniawan, Morrgth dan ada juga rencana bikin buku sama Ucok (Herry Sutresna). Semuanya terhambat gara-gara pandemi ini. Sekarang yang lagi jalan sih bukunya Paste While Wheat. Mudah-mudahan bisa produksi bulan depan.

 

Mengenai departemen musik Maternal; Disaster Records, apa saja yang ingin lo capai dengan membuat record label?

 

 

Sebenarnya yang dijalankan di hidup saya atau Maternal ga ada planning sama sekali. Dari awal bikin Maternal juga ga ada yang ingin dicapai atau pengen apa-apa, cuma kebetulan (saya) ada di situ dan ikut-ikutan. Sama juga dengan Disaster, dari awal juga ga ada rencana bikin record label. Awalnya dulu kita sering kolab sama band harus selalu ada rilisannya, kaya kolab sm A.L.I.C.E dan Polyester Embassy ada CD nya, cuman ada kaset, Avhath kaset, nah dari situ banyak orang pengen rilisan nya aja, kadang ga pengen merchnya. Sampe banyak juga yang salah paham Maternal disangkanya record label, jadi banyak yang pengen dirilis. Oh ya udah kita bikin record label aja akhirnya. Kalo pencapaian mah ga ada sih.. Cuma seneng aja bikin-bikin gitu.. Resep lah..

 

Ceritakan sedikit mengenai Top 5 record labels versi lo yang menginspirasi si Disaster Records…

 

Harder Records, Southern Lord, Sacred Bones, Grimloc, Sub Pop.. Standar lah. Saya tuh dari SMP-SMA jarang banget dengerin album luar sebenarnya. Akses terbatas. Rumah orang tua saya teh dulu udah mah di Cimahi, terpelosok lagi di Cibeber, jadi akses ke kota Cimahi juga repot. Naik sepeda atau angkot aja jauh. Satu-satunya akses musik teh paling yang dibawa temen. Jadi ada temen yang bawa kaset, kebanyakan kaset lokal rilisan Harder dan Riotic Records kaya: Blind to See, Jeruji, Savor of Filth, Puppen, Balcony, kompilasi Brain Beverages, atau kaset-kaset bonus dari majalah Ripple dulu. 


Akses hanya dari situ, dan pada saat itu belum ngerti juga apa itu record label? Saya nyangkanya Harder juga dulu toko aja ga tau record label teh gimana..  Jadi cuma beli atau pinjem dan dengekeun weh.  Jadi korelasi dari band ke record label gatau blank aja. Kadang cuma dengerin bandnya ga tau juga record label nya apa. Kalau Southern Lord awalnya dari lihat brand campaign brand apa gitu pas liat kredit lagunya Sunn O))), naha kieu lagu teh? Oh Sunn O)))  teh band Southern Lord, jadi lebih digging. Kalo sebelum itu sih lebih ngalamin Drive-Thru Records atau Fat Wreck Chords.. Haha.. 

 

Dengan lesunya perdagangan disaat pandemi ini, tentunya berakibat ke melemahnya penjualan toko-toko offline dimana-mana, dan bahkan beberapa parbrik kain pun terancam tutup. Harga bahan naik, Supply and demand menurun. Apa aja strategi yang lo terapkan sekarang untuk tetap bisa mengejar target dan survive? 

 


 

Sialnya, Maternal itu ga pernah ada strategi atau target yang ingin dicapai. Dengan adanya pandemi saya juga bingung. Maternal itu melemah atau masih bagus (penjualannya). Analisanya juga belum ada. Masih pada belajar. Tapi kalau misalnya memang turun ya strategi yang diterapkan ya ga ada. Paling intuisinya mengurangi budget promosi dan mengurangi produksi. Kemarin sempet ada promo free ongkir Gojek tetap saja kurang efektif. 

 


 

Sebenarnya bisa dibilang penjualan online masih bagus. Selama saya dagang malah 2020 paling bagus. Cuma masuk 2021 mulai online terdampak, apalagi offline. Strategi sekarang mah yang penting sehat-sehat dulu aja, agar penyebaran (Covid) ga terlalu luas. Soalnya bingung juga mau strategi apa. Mau diskon gede-gedean juga ntar orang ga boleh kumpul..

 

Lo sudah pernah membuat boxing glove, bola basket, headphone bluetooth, pentil motor, sports bra sampai board game ular tangga. Produk-produk nyeleneh apa lagi yang ingin lo bikin tapi masih belum kesampaian? 

 


 

Sebenarnya yang pengen banget, nu hayang pisan mah ga ada. Cuma ada yang pernah mau dibikin ga jadi tuh handphone. Tapi yang cuma bisa sms dan nelpon. Kita ga jadi takutnya ada hubungan dengan provider, misal HP nya ga cocok sama sim card GSM sini dan taunya Supreme juga bikin handphone. Intinya mah gajadi aja. Kita juga disini sama anak-anak ga terlalu memaksakan sih, jadi yang bisa dibikin ya dibikin, yang ga bisa ya gausah. Sebenarnya saya juga dapat input dari komen-komen Instagram. Ada yang nanya iseng produk yang ga ada yaudah saya bikin aja. Kagok jadiin data aja si comment section Instagram daripada dipikiran teuing. 


 

 

Ada yang komen “bikin cangcut (celana dalam)” ya emang udah pernah bikin juga cangcut segitiga hahaha. Nah kalau ada yang komen produk yang kita belum bikin ya akhirnya kita bikin aja, kita ikutin.  

 

Apa saja produk tidak umum lo yang ternyata banyak sekali peminatnya diluar dugaan lo?

 


 

Sebenernya hampir 90% laku. Kebanyakan yang kurang laku yang merknya kurang terlihat. Orang beli produk tuh pengen dilihat orang lain juga kan? Jadi seperti produk mangkok kita yang disimpan dirumah aja ya kurang bagus penjualannya. Seperti botol minuman kan kelihatan, aksesoris motor kaya tempat plat nomer laku soalnya kelihatan.

 


 

Dengan brand lokal dan luar sudah berkolaborasi dengan siapa saja? Bisa ceritakan sedikit tentang kolaborasi-kolaborasi berikutnya?

 

Kalau brand lokal mah udah banyak banget, saya juga udah ga bisa hitung. Sama Bastards Of Young aja kan udah pernah 2 kali. Kalau brand luar memang saya ga ngejar, tapi pernah sama Corpse Board New York, Singapore This Is Alley. Yang ngajak banyak banget, cuma ga pernah direspon soalnya bahasa inggris saya kurang bagus, dulu juga kita produksi ga selancar sekarang, jadi ga pede pas dulu diajakin Bowery Australia.


Pernah juga mau kolab sama Anti Sweden Anti Denim, cuma gajadi karena kitanya yang dulu ga sanggup. Kalau next sih banyak ada sama TDS, Swell, Mesin Tempur. Ada juga Family Values yang banyakan. Kolab brand-brand Bandung, ga semua sih, cuma memang kan awalnya planning si Brez, cari dulu aja brand yang dekat-dekat dulu dan kenal biar prosesnya bisa cepet. Pengennya sebanyak mungkin cuma karena ada sisi urgent buat donasi ya harus cepet. Jadi Fam Values ini teh kolab brand-brand yang hasil penjualannya akan di donasi kan ke Solidaritas Sosial Bandung. 

 

Dengan banyaknya restriksi dan ruang gerak selama pandemi ini, kita harus lebih kreatif dan efisien dalam beraktivitas. Apakah dampak pandemi signifikan untuk kehidupan personal dan profesional lo?

 


 

Kalau saya pribadi sih sebelum pandemi juga udah jarang nongkrong, udah jarang main. Apalagi setelah punya anak agak rada susah apalagi anak ada 2. Jadi pas pandemi sebenarnya untuk saya pribadi sih ga banyak berubah. Paling yang bikin bete ga bisa ke bioskop aja dan susah ketemu temen-temen. Da saya mah jarang nongkrong atau makan di resto. Jadi ga terlalu kehilangan juga kalau ga bisa dine-in. Kalau dari sisi bisnis banyak terkendala soalnya banyak pabrik ada yang WFH (Work From Home) atau tutup. Proses produksi dan kreatif jadi lambat, terhambat oleh WFH dan masalah komunikasi.

 

Jika ada satu atau beberapa hal yang bisa lo rubah dari Maternal, apa yang akan lo rubah?

 

 

Ga ada sih, (walaupun) Maternal teh sampai saat ini masih banyak masalah intern atau organisasi yang masih berantakan dan harus dibenerin. Kalau dirubah flow gawe ntar jadi ga nyaman. Kalau lebih diketatkan apalagi. Paling ya saya terus belajar aja sih. Cuma saya sih pribadi ga pengen berubah. Kalau bisa mah saya pengen dengan kondisi seperti sekarang tapi harga tanah masih harga jaman dulu hahaha. 

 

Sebenarnya kalau orang lain mah ngomong pengen keluar dari zona nyaman, kalau saya mah gamau. Kalau saya sih justru kalau udah nyaman ya ngga mau keluar dari zona nyaman. Justru aneh kalau menurut saya hahaha. Yang ada sih justru saya sampai sekarang tuh belum nyaman-nyaman. Posisi ngeunah teh can beunang wae. Flow produksi belum enak. Karena itu saya pengen ngejar kenyamanan dulu. Soalnya kalau ngomongin keluar dari zona nyaman, tanpa dicari juga bakal selalu ada ketidaknyamanan tersebut hahaha..

 

Jika lo bisa kembali ke masa lalu, apa yang bakal lo katakan ke Vidi Nurhadi 20 tahun lalu?

 


 

Hmm 20 tahun lalu.. Vidi yang masih SMA? Ngomong naon nya hahaha. Kalau saya bilang suruh dia bikin brand malah beda ntar akhirnya malah ada universe Vidi yang lain hahaha. Kayaknya kalau saya punya mesin waktu saya ga akan ngomong apa-apa sama Vidi yang dulu. Paling cuma pengen lihat memori-memori dulu saya gimana. Soalnya dari dulu saya teh emang ga punya cita-cita. Masuk Itenas juga gara-gara ada skatepark nya. Pas udah kuliah juga malah ga maen skate hahaha. 

 

Mungkin satu-satu nya yang saya bilang ke Vidi 20 tahun lalu: Kumpulin kaset-kaset jangan dipinjemin. Di apik-apik barang-barang nya. Dulu soalnya suka ada covernya, kasetnya ga ada. Jual mobil kasetnya kebawa juga. Tapi pernah sih dulu beli kaset Balcony album ‘Terkarbonasi’ dapet kasetnya doang, nah saya kebetulan punya covernya doang jadi cocok. Majalah-majalah kaya Ripple dan Boardriders juga pengen nya mah dulu teh diapik-apik.

 

Apa hal paling gila dan pengorbanan terbesar lo untuk Maternal?

 

Pengorbanan terbesar sih ya waktu. Sama dulu pernah pinjam sertifikat rumah orang tua sebagai jaminan buat modal. Sertifikat rumah kan bukan yang saya sebenarnya hahaha. Dulu teh ga pernah pulang kerumah, kuliah gak lulus-lulus, dateng-dateng kerumah pinjam sertifikat hahaha. Dulu  kebetulan adik saya baru kerja di bank dan ada target. Jadi akhirnya dikasih pinjem juga sertifikat sama orang tua. Padahal orang tua saya ga ada basic di bisnis jadi pasti was-was minjemin sertifikat rumah hahaha. Cuma untungnya aja dulu tuh dikasih pinjem sertifikatnya. Sekarang sudah lunas juga jadi ya udah tenang sih. 

 

Sekarang keterlibatan di Maternal apa aja? Masih nge design dan mengerjakan departemen lain juga?

 


 

Masih nge design. Hasil akhir worksheet dan PO juga masih saya sendiri yang bikin. Cuma udah dibantu aja untuk jumlah quantity. Ilustrasi juga dibantu gambar sama Dannus dan Bejo. Mungkin karena saya masih suka nge design kali ya. Dan saya kalau ga ngelakuin sesuatu tuh kaya geje aja. Jadinya ga enak dan stress. Siga nu gering teu pararuguh…

_____________________________________________________

 

“Saya emang lebih sibuk dari pada anak Maternal yang lain. Saya juga tipikalnya digaji, jadi saya absen juga. Posisi saya disini ya karyawan. Saya juga sering banget disuruh-suruh sama anak-anak lain malah haha. Cuma kalau ada meeting saya memposisikan diri saya sebagai direktur. Saya semacam punya dua kepribadian disini” -Vidi Nurhadi

_____________________________________________________

 

Soalnya pernah dulu ke kantor lo malem-malem dan gue liat lo masih ngedit video dan foto sendirian..

 

Iya emang lebih sibuk saya dari pada anak-anak Maternal yang lain. Yang lain mah bisa nongkrong hahaha. (Saya masih nge design sendiri) Bukan nya karena ga percaya ya, cuma kadang masalah selera dan keinginan saya yang berbeda. Dan jujur saya agak jelek dalam masalah komunikasi, saya tipikal yang paling ga bisa nyuruh orang. Disini juga saya jarang nyuruh-nyuruh, ada perasaan ga enak takutnya disangka gimana. Misalnya ada hasil foto yang saya kurang suka, dari pada saya nyuruh-nyuruh untuk dibenerin mending saya aja yang benerin. Lebih ke efisiensi sih sebenernya. Cuma sekarang udah belajar dikit-dikit untuk bilang kalau misalnya ada hasil yang kurang sesuai. 

 

Jam kerja saya tuh dari jam 11 siang sampai jam 9 malam. Dan saya juga tipikalnya digaji, jadi saya absen juga. Posisi saya disini ya karyawan. Saya juga sering disuruh-suruh sama si Dinar bikin poster atau apa. Saya sering banget disuruh-suruh sama anak-anak lain malah haha. Cuma kalau ada meeting saya memposisikan diri saya sebagai direktur. Saya semacam punya dua kepribadian disini. Kalau lagi nge design ya saya jadi karyawan aja. Dulu sih pulang kerumah juga masih nge design, cuma sekarang udah ga boleh sama istri hahaha...

 

_____________________________________________________

 

“Dirumah udah ga bisa denger lagu keras, pusing juga ada anak-anak teriak terus lagunya teriak-teriak juga haha. Dirumah mah ya itu: Dua Lipa, Tayo sama Baby Shark..” -Vidi Nurhadi

_____________________________________________________

 

Last question: sedang mendengarkan band-band apa saja yang baru-baru? Apa ada rekomendasi untuk pembaca Jeurnals?

 

 

Terakhir sih ngedengerin Turnstile Love Connection, Loathe, Baby Metal sama Dropdead yang baru. Sebenernya udah jarang nge denger lagu, lagi bosen aja, yang fresh teh justru Turnstile, bikin seneng lagi denger lagu. Kalau lokal banyak sih yang bagus kaya Pleasure and Pain dari Medan, ZIP, Brigade of Crow, Senyawa yang baru, Ametis, Rounder, Nearcrush paling tah nu keur hot pisan mah hahaha… Ya itu sih rekomendasi beberapa rilisan Disaster Records. Malah sering nge denger Dua Lipa sekarang gara-gara istri haha. Soalnya dirumah udah ga bisa denger lagu keras, pusing juga ada anak-anak gogorowokan (teriak-teriak) terus lagu nya gogorowokan juga haha. Saya paling denger lagu kalau lagi kerja atau di mobil. Dirumah mah ya itu: Dua Lipa, Tayo sama Baby Shark..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Vidi archives
Layout by Prita
Â