This dude needs no introduction. Tapi buat yang belum mengenal sosok Herry Sutresna a.k.a. Ucok a.k.a. Morgue Vanguard a.k.a. Babap Kobra, dia adalah seorang lyricist handal yang lirik-lirik politisnya sudah malang-melintang di album-album Homicide, Bars of Death, Pure Saturday, proyek-proyek solonya dan masih banyak lainnya. Kini Ucok disibukkan oleh record labelnya, Grimloc dan juga brand apparel/media-nya Uprock83. Selain menjadi rapper dan produser musik, Ucok juga sudah menulis beberapa buku dan karya design grafisnya sudah banyak dipakai band-band dari Peterpan, Seringai sampai Pure Saturday. Mari simak bincang-bincang JEURNALS dengan Ucok.
____________________________________________________________________________________
“Saya ga peduli sih sama orang-orang yang anti-vaksin lah, atau apa lah, orang mau percaya bumi datar juga saya ga peduli. Ini era krusial dimana debat-debat soal kebebasan individu dan kepentingan banyak orang beririsan banget.â€
____________________________________________________________________________________
Halo Cok! Bagaimana kabarnya Grimloc? Kabarnya akan merilis beberapa reissue menarik dari Hark dan Balcony? Apa saja yang akan dirilis dalam waktu dekat ini?
Kabar baik, survive so far. Kalo ngomongin rilisan agak banyak memang, ada proyek reguler, ada proyek reissue. Yang reissue ini agak bermasalah, numpuk karena akumulasi dari gagalnya perilisan di 2020. Hampir setengahnya lebih perilisan di tahun 2020 gagal rilis karena lockdown dan pandemi era pertama. Jadi banyak PR-nya di taun ini. Kayak reissue Forgotten, Balcony, Hark dan Full of Hate itu sudah direncanakan dari lama, cuma banyak halangan teknis. Yang album baru juga cukup banyak, hanya sebagian udah dirilis di kwartal awal 2021. Sisanya ada CD Inhell, CD album proyeknya Tesla Manaf, kaset Roman Catholic Skulls, Rounder dan beberapa lainnya. Ada proyek Klab 7†yang kita mulai taun ini, agendanya merilis single-single baru dan singel klasik era lawas, meski beberapa gak lawas-lawas amat. Yang baru itu Krowbar, pre-ordernya baru dibuka. Kemudian, Eyefeelsix bulan depan, yang lagi proses single klasik milik Koil, ada dua lagu baru kolabo saya sama Doyz, lalu split antara Haramarah dan Total Jerks, lalu kolabo dua lagu lama Balcony x Homicide. Sebetulnya ada juga satu 7†yang direncanakan bareng Eben kemarin, dua lagu baru Burgerkill, tapi nampaknya udah nyaris mustahil karena seperti yang kita ketahui, Eben mendahului kita semua beberapa minggu lalu. Ada beberapa yang lain, tapi ntar lah, belum fix prosesnya.
Kalau yang reissue CD, kemaren itu Homicide, lalu yang baru rilis banget Hark! It’s A Crawling Tar Tar. Sekarang momen tepat 15 tahun album itu, kita pengen rilis ulang dengan layak, di-remaster musiknya, ada booklet isinya liner notes dan arsip dokumentasi mereka. Ada album Ayperos juga, dulu sempet bikin kasetnya, sekarang pengen remaster dengan proper dan cetak CD-nya, dengan tambahan lagu singel lepas mereka. Kalau soal Balcony saya bersyukur ditunda. Karena dulu ga ada master wav-nya dan kita mencoba me-remastering dari kaset. Baru belakangan ternyata kita akhirnya nemu WAV yang lebih proper. Untung ga dirilis tahun kemarin haha. Sebenernya ga sengaja juga nemunya, karena awalnya mau nyari artwork cover untuk dibikin ulang, taunya pas si Febby nyari mentahan cover malah nemu file WAV hahaha. Kalo versi vinyl kita rilis yang mercusuarnya dulu, ‘Metafora Komposisi Imajinar (2003)’ kita anggap sebagai album esensial dan rilisan terbaik dari Balcony. Album-album Balcony lain juga akan kita rilis dalam format CD complete discography lengkap dengan booklet liner notes dan lain-lain. Sebagai tambahan spesialnya, ada beberapa versi unreleased yang ditulis almarhum Jojon. Lagu-lagu yang sempat dia tulis akan kita rilis juga di CD complete discography tersebut.
Agenda lainnya dalam waktu dekat mungkin album remix dari album saya Fateh dalam format CD. Saya ngundang beberapa band/musisi yang saya senangi dan saya pikir bakal menarik kalo mereka melakukan versi remix dari lagu-lagu di album Fateh. Ada Oktopus eks member Dalek, Mike dari Destructo Swarmbots, Nishkra, Vladvamp dari Koil, Senyawa, Tesla Manaf, Efek Rumah Kaca dan beberapa lainnya. Yang versi Senyawa malah bukan remix lagi, udah masuknya cover version sih. Sebuah kebanggaan tentunya. Bagi saya yang pasti, hasil-hasil remix yang sudah masuk sangat mengejutkan.Â
Ya kurang lebih itu sih agenda dalam waktu dekat ini. Ada beberapa lagi, tapi lupa, hahahaha. Saking banyak dan tumpang tindih jadi sering lupa apa aja.
Lalu bagaimana nasibnya reissue album Full of Hate, yang merupakan salah satu album hardcore terbaik yang pernah dirilis di kota kembang pada era Harder Records? Â
Masih proses remastering sekarang. Udah cukup lama memang, bahkan kelamaan. Permasalahan FOH sama dengan beberapa band lain pada era itu, ga ada masternya yang proper. Masternya dulu pake DAT yang sekarang entah kemana dan belum sempat di-digitalisasi. Jadi kita mastering pakai kaset. Di situ masalah dimulai. Permasalahan besar remastering dari kaset, tiap kaset itu surface–nya beda-beda. Kaya kaset saya lagu ke-1 dan ke-2 bagus, lagu ke-3nya jelek. Pinjam lagi dari si Baruz lagu ketiga bagus, lagu lainnya jelek. Pinjam lagi ke Aris Metalgodz dia punya yang lebih bagus. Jadi sampai sekarang tinggal 2 lagu lagi yang belum nemu versi bagusnya. Lu punya kaset Full of Hate dan saya punya juga, bakal beda-beda jeleknya dimana. Kalo masih segel belum otomatis bagus juga. Karena lama disimpan kemungkinan lebih buruk karena berjamur. Tadinya FOH ini mau rilis versi vinyl tapi kayaknya CD aja dulu.
Lalu apa saja 5 album independen lokal klasik favorit lo?Â
Puppen – MK II (1998)
 
Sudah pasti Puppen EP pertama dan album MK II. Tapi atas alasan tertentu kayaknya saya pilih MK II. Bukan karena saya terlibat juga di dalam proses album itu. cuma memang banyak sekali inspirasi yang datang baik dari prosesnya, melihat mereka rekaman di studio, melihat Puppen sebagai band, atau dari album itu sendiri. “Atur Aku†bagi saya adalah salah satu lagu lokal terbaik yang pernah ditulis.




Ya itu kalo lima sih, itu pun yang langsung kepikiran. Rata-rata album favorit saya datang dari era 90-an ke sini. Banyak lagi sebetulnya kalo dipikir lebih lama atau daftarnya lebih dari lima. Album Balcony – Metafora Komposisi Imajinar (2003), Burgerkill ‘Dua Sisi (2000)’, ‘Future Syndrome’-nya Forgotten, album semata wayangnya Hark! It’s A Crawling Tar-Tar, misalnya.
Rounder:Â Band generasi sekarang yang lahir pasca Alice mempopulerkan chaotic metal begituan. Bentar lagi rilis EP, dan tahun depan rilis album.
Bleach: Hardcore dengan suara dan tone kekinian juga.
Iron Voltage: Bisa jadi band thrash lokal paling favorit saya hari ini. Bentar lagi bikin album katanya.
Arrived Consilium: Neo-crust dengan vokal cewek, baru rilis EP di Bandcamp-nya kemaren.
Harm:Â Band crustcore Bandung Selatan, entah sekarang udah selesai belum EP-nya. Band-band crust Bandung Selatan ini belakangan berbahaya sih, banyak yang bags.
Bagaimana kabarnya dengan brand Uprock83? We miss the zine and those old school hip hop mixtape!

Basically Uprock itu dijalanin sebagai media dulu. Media saya sebagai fan hip hop berbagi apa yang saya senengin dari kelebayan saya jadi fan hip hop. Apparelnya itu belakangan setelah saya ngajak Iwan. Nah, belakangan saya gak punya energi untuk bikin medianya tadi. Bikin mixtape berenti, bikin Newsletter/Zine juga berhenti. Ya udah, saya juga gak tertarik juga bikin apparel-nya. Tentu juga ada alasan lain, misalnya saya dan Iwan overwhelmed oleh Grimloc, jadi kita istirahatkan dulu si Uprock, sampe satu waktu kita bisa nemuin lagi energi dan momentumnya. Kemarin Iwan ada ide kalo mo bikin apparel ya bikin aja, cuma saya ga mau kalau kita belum bisa bikin zine dan mixtapenya. Ga lengkap aja kalau cuma bikin apparel doang. Meskipun pasti laku-laku aja. Uprock83 itu ekspresi fandom, jadi selama ekspresi itu belum bisa keluar, (atas alasan waktu dan energi atau apapun), ya udah, istirahat dulu aja.
____________________________________________________________________________________
Â
“Lebaran tahun kemarin itu kita ga keluar rumah sama sekali kan? Lebaran aja ga jadi apalagi bikin festival musik hahaha…â€
____________________________________________________________________________________
Apa saja hal-hal paling menyebalkan yang lo alami di masa pandemi ini? Dan apa saja hal-hal terbaik yang lo temukan di masa sulit ini?Â

Hal terbaik? Apa ya? Mungkin hal-hal sepele kayak bikin webstore. Dari dulu tuh kita ga pernah beres mengeksekusi mau bikin webstore. Intinya mah males dan ga punya duit. Cuma duit bisa dicari tapi kalau udah males sulit ya? Haha. Gara-gara pandemi, offline tutup dan kita ga nyaman di marketplace, jadi yaudah kita investasi untuk bikin aktivasi jualan di webstore. Berlaku juga sama workshop artprint kita, dulu rasanya males banget buat mulai, tapi kemaren gara-gara pandemi dan ikutan pameran grafis di Grammars Cihapit, jadi punya workshop setelah mikirin apa yang bisa dilakuin di saat karantina begitu.
Apakah bisa mengelaborasi sedikit mengenai gagasan awal kawan-kawan di Solidaritas Sosial Bandung (SSB) dengan dapur umum dan kebun warga nya? Sudah se-masif apa pergerakan kolektif tersebut?
___________________________________________________________________
“Barangkali Bandung memungkinkan untuk itu, kalian bisa sebangku sama siapa, temenan sama siapa, terus bikin band yang berbeda dan pada akhirnya tetap nangkring bareng.â€Â Â
___________________________________________________________________
Photo by Easthood
“Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan milik kita sendiri.â€
Apa saja hal-hal terbaik yang dimiliki oleh Harder Records dan tidak dimiliki oleh Grimloc? Dan sebaliknya…
Harder itu embrio-nya Grimloc. Kalau ga ada pengalaman sama Harder saya mungkin ga akan punya pengalaman untuk membangun Grimloc. Otomatis Grimloc memperbaiki banyak hal yang dulu miss di Harder. Saya sama Febby (Herlambang) tentunya ya. Karena, yang dulu di Harder dan sekarang di Grimloc ya cuma saya sama Febby. Sekarang lebih terorganisir dan mencoba buat sustainable. Makanya kemudian umurnya Grimloc lebih lama dari Harder. Dulu pada zamannya Harder itu ya begitu, jadi tempat komunitas, kaya melting pot dari berbagai komunitas. Sekarang juga sama tapi sekarang kita ga harus nongkrong di Grimloc, sekarang kita bisa nongkrong dimana aja, tapi semacam episentrum lah si Grimloc. Buat saya juga itu positif negatif karena saya juga gasuka Grimloc jadi sentralisasi. Seharusnya lebih menyebar aktivitasnya. Positifnya dari ngumpul bareng itu jadi banyaknya aktivitas yang bisa lahir dengan cepat karena nongkrong bareng. Dulu mungkin ga ada sosmed. Jaman dulu untuk hal-hal yang teknis kita harus ketemuan dan janjian di Harder. Sekarang semua diselesaikan oleh teknologi. Kalau sekarang mo ngurus cetakan bisa langsung ketemu di percetakan atau kirim file, kenapa harus ketemu di Grimloc? haha. Mungkin untuk beberapa hal teknis sekarang ga harus ketemu. Sekarang tuh mengefektifkan waktu untuk orang-orang seperti kita yang udah bapak-bapak itu penting. Manajemen waktu seperti itu kita ga pernah ngeh pas jaman Harder. Dulu bodo amat sama manajemen waktu. Kita dulu seolah punya seharian semalaman untuk kita sendiri. Sekarang engga. Hidup kita bukan punya kita sendiri. Dulu Harder ga serapih Grimloc dalam mengatur cash flow produksi, agenda dan lain-lain, jadi kaya take it to the next level lah.
“Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam.â€
Apakah menurut lo covid ini adalah defense mechanism mother nature untuk melindungi diri, a freak random accident atau human made bio-weapon? Bagaimana lo menyikapi ini semua dengan padatnya arus informasi dan hoax yang bertebaran…Â
Sejujurnya saya selalu mencari rujukan dalam banyak hal. Kaya misalnya lu gatau sound lu belajar sound ke yang ngerti sound. Lu mau benerin gitar ya tanya ke teknisi gitar. Benerin boombox ya ke Cikapundung. Nah, untuk hal medis dan ekologi saya belajar ke banyak orang yang ngerti. Ya tanya ke orang yang lebih tau banyak soal hal medis, kaya ke nyokap saya salah satunya yang lebih tahu banyak tentang medis. Sejauh ini kesimpulan saya, ini seperti yang saya yakini tentang sebab akibat. Secara makro ini akibat dari segala hal yang dibuat manusia terhadap alam. Lu ngerusak habitat dimana virus hidup, kaya lu rusak hutan tempat kelelawar cari makan, ya kelelawarnya ke tempat manusia lah cari makan sambil bawa virus. Ya habitatnya lu rusak. Global warming juga bukan sesuatu yang datang begitu saja. Kaya misalnya lu belajar ideologi biar ga dogmatis ya lu baca juga tandingannya. Misal Marxisme, belajarlah dan dibuktikan secara empirik, baca teks buku lain yang berlawanan dengan ideologi lu. Ya sama seperti sekarang dengan banyaknya arus informasi walaupun kita punya keterbatasan untuk absorb informasi, ya cari aja yang relevan dengan hidup lo. Dan juga cari info yang berhubungan dengan itu semua.Â
Lalu bagaimana pendapat lu terhadap orang-orang yang menyebarkan informasi tidak benar di era pandemi ini?
Ngomongin soal informasi, ada waktunya tarung ideologi, diskursus, wacana atau apapun namanya. Lain tempat dan waktu. Saya juga suka nyerang dalam hal-hal yang sangat politis. Namanya juga perjuangan politik ada agitasi dan propaganda. Tapi itu beda konteks, dan harus dipastikan premisnya kagak goblok. Ada waktunya buat merealisasikan ide-ide, menjalankan praktek-praktek, membumikan gagasan dsb. Ada waktunya juga buat refleksi, diskusi, kritik-otokritik dan perang wilayah gagasan. Ada waktunya juga buat perang di wilayah imaji, karena kita tau para politikus beroperasi dan membuka medan juga di situ. Kayak Ridwan Kamil, orang Bandung udah paham gimana dia memanfaatkan kekuatan citra untuk mengkonstruksi realitas di luar sana. Dan saya pikir harus dilawan spectacle itu, Guy Debord guerilla squad style.
Jadi sekali lagi, saya mah gak heran pandemi hadir, memang mungkin sudah seharusnya seperti sekarang dengan semua yang manusia udah lakuin. Sistem hari ini busuk bukan gara-gara pandemi, pandemi cuma menelanjangi apa yang memang udah busuk. Buat saya sih gimana sekarang kita ngerespon sesuatu yang sudah terjadi diluar, dan kemudian kita saling jaga aja. Dari pada ngabisin energi untuk mencoba merubah hal-hal yang jauh dari jangkauan kita. Kalau ngomongin negara, kebijakan-kebijakan negara yang sudah ada itu sebenarnya sama horornya dengan pandemi. Omnibus Law yang kemaren rame-rame dilawan itu misalnya. Karpet merah buat korporasi untuk buka lahan misalnya. Politik upah murah dan segala tetek bengeknya. Ga ada salahnya buat kawan-kawan yang mau meneruskan mengkritik negara saat ini, go on. Mungkin ini memang saatnya untuk melakukan itu lebih intens lagi. Tapi harus juga dibarengi dengan upaya-upaya, ikhtiar-ikhtiar agar kita sesama warga bisa survive. Ngebangun basis ekonomi warga, bikin mutual aid, berserikat, berjejaring, bersolidaritas dan sebagainya. Ini bukan cuma buat pandemi, karena jauh sebelum pandemi, kapitalisme sudah melahirkan krisis.