SUISSAC Super Group/Essentials Rock, dari Bandung, muncul dengan semangat dan ambisi tinggi. Dibentuk oleh proyek visioner yang diprakarsai oleh Angga Kusuma (Asiaminor/SSSLOTHHH/Billfold/Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy/Rock N’ Roll Mafia), mereka berusaha menciptakan suara segar dan berbeda dari band-band sebelumnya. Dengan dukungan dari Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor), proyek ini akhirnya dikenal sebagai Suissac. Gabungan talenta para musisi yang beragam telah menghasilkan karya yang unik dan menggugah, membuat Suissac menjadi sebuah proyek menjanjikan dalam industri musik.

EP “Magnanimous” yang dirilis oleh Disaster Records ini mengeksplorasi keberagaman manusia dan fenomena kehidupan sehari-hari, serta pentingnya menjalin hubungan tulus dengan lingkungan sekitar. Dalam era modern yang penuh perubahan dan tantangan, EP ini mengajak pendengar dalam perjalanan emosional yang mendalam dengan kekuatan lirik yang menggugah dan melodi yang memukau. “Magnanimous” menjadi cerminan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkan. Lagu-lagu ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan manusia dalam perjalanan hidup ini, serta bagaimana tindakan kecil dapat membawa perubahan besar bagi dunia di sekitar kita. EP ini menjadi sajian yang menarik, khususnya dengan sentuhan suara distorsi hingga ketukan yang padat, yang semakin dikuatkan dengan kolaborasi dengan produser Alyuadi “Heals/Fuzzy I”.

Gergasi Api adalah duo yang diperkuat Ekyno (Full of Hate, Plum) dan Alexandra J. Wuisan (Sieve, Cherry Bombshell). Mereka baru saja merilis debut albumnya “Red Knight” via Lawless Records. Sebuah debut album yang atmosferik, dan dipenuhi elemen-elemen dari post-metal, industrial, dream pop, shoegaze dan ambient electronica. Tentu saja album ini gelap, apalagi mereka mengajak illustrator Morggth dari Rajasinga untuk menghiasi kover dan booklet albumnya. Mari berbincang dengan Alex dan Eky jika kalian penasaran dengan 3 album apa saja yang akan mereka bawa jika terdampar di sebuah pulau kosong..

“Bikin album tapi ga ada rilisan fisik kayak gimana gitu ya, walaupun kita tau industri nya sekarang lagi ke streaming online kita tetap berprinsip kalau rilisan itu harus ada bentuk fisiknya”

Halo Gergasi Api, congrats atas perilisan debut album nya! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja nih sekarang?
Alexandra: Halo Jeurnals. Kabar baik. Terima kasih sudah mau mewawancarai kami. Kami sedang mempersiapkan diri untuk showcase.

Ekyno: Kita lagi mau bikin video kedua juga, lagi mikirin konsepnya..

Kalian kan datang dari background yang cukup berbeda, dimana Alex sebelumnya bermain di genre dream pop dan goth rock (Cherry Bombshell, Sieve), dan Eky di hardcore / industrial (Full Of Hate, Plum). Apa yang menyatukan kalian di Gergasi Api? Kalian lebih nyaman disebut sebagai band apa? Post metal mungkin?
Alexandra: Ini menariknya. Konsep Gergasi Api semenjak awal memang akhirnya, sesuai proses berkarya adalah menitikberatkan pada eksperimen menggabungkan polaritas karakter-karakter yang muncul dari eksplorasi bermusik kami. Banyak unsur selain post metal. Karena alur bermusik kami dalam satu lagu pun bisa berubah. Unpredictable.

Ekyno: Karena memang kita dulu di Bandung satu tongkrongan, bisanya kita saling support dan gue pun dengerin banyak genre, termasuk dream pop dan shoegaze. Dari dulu gue memang doyan vokalnya Alex, emang bisa nyanyi dia hahahahah. Kalo genre… Hmmm disebut post metal ga juga sih, kalo terinfluence iya. GA lebih ke experimen sih… Bebunyian dan mengexplore lebih jauh vokalnya Sandra juga, dulu kan vokal Sandra lebih ngambang, karena tuntutan musiknya juga kali…. Sekarang kita maksimalkan skill bernyanyi nya Alex, lebih lugas. lebih berwarna lah. Yang menyatukan nya apa Lex? Hahaha.. Mungkin ternyata kita punya kesamaan visi dalam bermusik, pengen bikin sesuatu yang baru, at least menurut kita.

Alexandra: Nah iya ini penting. Visi kita sama. Sangat “rare” menemukan “jodoh” berkarya musik seperti Eky. Chemistry kita sangat spot on. Nah ini chemistry penting. Skill kreativitas dan eksplorasi Eky menggabungkan influence-influence yang ada menjadikan sesuatu yang baru gila sih. Bukan type copy paste dia. Avantgarde orangnya. Hahaha..

Gergasi Api itu dimulai dari kapan? Apakah ini proyek pandemi dimana biasanya orang-orang lebih produktif berkarya disaat pandemi?
Ekyno: Cikal bakalnya GA sebetulnya harus ditarik jauh ke tahun 200, ketika gue bikin projek musik sendiri, dan gue pengen Alex ngisi vokal salah satu lagunya, tapi ga kesampean….. Hahaha.. Kemudian pas mulai pandemi, disaat stress melanda gue coba bikin lagu lagi. Dapet beberapa lagu dan gue teringat sama Alex lagi untuk mengisi satu lagu. Berharap WA gue dijawab, karena kita udah lama banget ga kontakan….. Eh ternyata dijawab… Dan dia semangat mau bantuin.

Dari situlah kita intens lagi kontakan sampe akhirnya tercetus… Apa buat band aja ya? Lagu pertama yang jadi cikal bakal GA itu yang judulnya “Sacred Second”, tadinya bukan lagu buat GA. Untuk menyesuaikan dengan konsep GA kemudiaan gue aransemen ulang.

Alexandra: Pas banget momentumnya gua pengen bermusik lagi, Eky kontak kasih lagu kerangka “Sacred Second” untuk proyek solonya “Puerta”. Dia nge-push gua juga untuk bervokal tidak seperti sebelum-sebelumnya. Begitu mendengarkan lagunya, langsung merasa, nah ini, tantangan baru. Sulit tapi berasa “at home”. Lagu-lagu Eky, terdengar sophisticated dari awal, baik konsepnya mau raw maupun polished.

Kalian lebih prefer mana kalau boleh memilih: Jadi band yang prolifik merilis karya atau band yang sering manggung dan tour?
Ekyno: Kalo gue pribadi sekarang…. Pengen manggung / tour…. Tapi mungkin intensitasnya tidak terlalu padat, karena gue pun ada pekerjaan lain. Tapi dengan rilisnya album inipun buat gue sudah sebuah pencapaian, jadi let see lah ini akan kemana. Kurang afdol juga kalo ga mnggung ya hehehe..

Alexandra: Yes setuju. Kalau bisa seimbang. Tapi seperti yang Eky bilang, sesuai flow sajalah. Kita bukan band ngoyo, tapi bukan pemalas juga. Yang pasti karena visi kita sama, segala sesuatu sampai saat ini berjalan sesuai dengan hasrat bermusik kita. Semua dipertimbangkan secara matang. Sesuai momentum.

Kenapa memilih Lawless Records untuk merilis album debut kalian? Awalnya gimana ceritanya proses nawarin ke Lawless?
Alexandra: Lawless Jakarta Records sudah kami incar sedari dulu sebenarnya. Karena kami berpikir ada kontribusi baru yang bisa kami tawarkan lewat musik kami yang eksploratif dan berkembang. Kami juga cocok dengan cara kerja Lawless yang jernih, jelas dan detail dari awal. Selain rilisan fisik yang selalu hasilnya maksimal. Ini salah satu alasan yang kita kejar. Kerjasama Morrgth sebagai desainer dan seniman untuk cover juga cocok dengan konsep Lawless.

Ekyno: Bikin album tapi ga ada rilisan fisik kayak gimana gitu ya, walaupun kita tau industri nya sekarang lagi ke streaming online kita tetap berprinsip kalau rilisan itu harus ada bentuk fisiknya dengan artworknya. Karena semua menjadi satu kesatuan yang ga bisa dipisahkan menurut gue. Menikmati cover art dan content nya sambil mendengar musiknya adalah sebuah kesatuan konsep dan Lawless masih true seperti itu. The old ways.

Kenapa memilih artwork dikerjakan oleh Morrgth? Tema-tema apa saja yang kalian angkat di artwork dan lirik-lirik lagu kalian?
Alexandra: Hahaha… Morgan atau Morrgth selain memiliki gaya ilustrasi seni yang kita suka, dia dapat menginterpretasikan konsep musik dan lirik dengan unsur simbolik yang dia serap menjadi sesuatu kesatuan yang epic. Warna dan nuansa sesuai warna musik juga yang dibuat Eky. Temanya sesuai storytelling yang gua buat. Nah ini panjang…

Storytelling bisa didapat di poem per lagu dan liriknya. Bebas interpretasinya sesuai visual yang dipersembahkan Morgan buat album “Red Knight”. Asik lagi maen tebak-tebakan hihihi.. Unsur mitologi dan spiritual sangat kencang. Overall perjalanan, Death/Life cycle ruh yang kita bisa relate, with mythical/psychological/spiritual journey.

Pertanyaan terakhir: jika kalian terdampar di suatu pulau, 3 album apa yang akan kalian bawa dan kenapa?
Alexandra: Terus terang jarang lho gua suka seluruh musik di satu album. Tapi emang ada beberapa album yang hampir seluruh musiknya gua suka. Seperti:
1. Florence + The Machine – “Dance Fever”, Biar semangat hidup, cari cara keluar dari pulau.
2. Emma Ruth Rundle – “Engine of Hell”, When all hopes seemed all gone, siap jadi orang “gila” sesaat biar kembali “waras”.
3. Playlist Kpop yang gua bikin. Stress ga sih terdampar di pulau. Hahaha

Ekyno:
1. David Bowie – “Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders From Mar”s
2. Killing Joke – S/T
3. Black Sabbath – S/T
Semuanya merupakan album yang buat gue membawa perubahan setelahnya, progresif, lebih maju dari zamannya.
4. Faith No More – “Angel Dust”, Kalau boleh nambah satu ini juga deh, ga bosen-bosen juga denger nya.

Text by Aldy Kusumah
Photo from Gergasi Api’s archives

Tenanggg. Tidak akan ada pembahasan soal stereotip dan analisis mendalam soal terminologi emo di dalam tulisan ini. Jadi kalau kamu mencari poin-poin soal dinamika (atau potongan-potongan opini) perihal per-emo-an di sini sebagai bensin pemantik kericuhan seperti cuitan netizen di Twitter beberapa waktu lalu soal istilah midwest, sayangnya kamu salah kamar. Bagaimana kalau saya sarankan kamu untuk membaca artikel Jeurnals yang lainnya di sini? Oke? See you later~

Nah, mari kembali ke topik yang payung bahasannya sudah terpapar lumayan jelas di judul tulisan ini. Emo. Entah kenapa istilah ini masih terkesan anomali sampai sekarang. Meski sudah banyak publikasi dan juga sejumlah paparan diskursus soal sisi etimologi juga runutan historis istilah tersebut, tetap saja yang menjadi deskripsi top-of-mind di dalam benak kebanyakan khalayak ramai global adalah sebuah estetika musik dan fashion yang sempat mengalami peak-nya di pertengahan tahun 2000-an silam.

Kalau kamu lupa akan preferensi dominan dari publik akan emo, silahkan cek foto-foto di bawah ini.

Okay. Mungkin bagimu yang sempat mengalami atau mengamati fase Y2K emo di kala itu tentunya akan langsung click akan momentum yang lumayan krusial di gelembung musik dan subkultur global tersebut. Untukmu yang masih tak paham, akan saya paparkan konteksnya sedikit.

Di pertengahan tahun 2000-an muncul fenomena gerombolan pemuda-pemudi berdandan gothic maksimal yang biasanya menggunakan moda Myspace – media sosial anak skena pada zamannya yang ngetop – untuk berjejaring dan mengekspresikan dirinya sendiri. Golongan emo era ini sangat distingtif di berbagai aspek dengan para predesornya di era Revolution Summer, gelombang skramz awal atau pun gelombang Jade Tree Records juga Revelation Records di tahun 90-an.

Apabila para predesor emo sebelum era Y2K masih terbilang ‘normies’ untuk aspek fashion, kawanan Y2K emo terbilang lebih all out untuk urusan penampilan. Choker, eyeliner, tebaran piercing, tato, lipstik hitam ahhh you name it. They got every goth item to amplify their ‘emotional’ aspect.

Dari segi musik sendiri, musik dari band-band emo populis yang lalu lalang di berbagai media massa kala itu adalah identitas bagi para kawanan Y2K emo. Band-band macam My Chemical Romance, Paramore, Hawthorne Heights dan semacamnya menjadi soundtrack kehidupan para emo MTV ini dan tak jarang ditemui di kolom bio Myspace mereka – karena mungkin lirik musik dari band-band tersebut terasa relate untuk para anak muda depresif itu.

Geliat pergerakan para kawanan Y2K emo ini terbilang berdurasi singkat – karena tiba-tiba di paruh awal tahun 2010-an jumlah mereka drastis menurun seiring di berbagai halaman media sosial mau pun pemberitaan kala itu. Belum lagi band-band favorit mereka mulai banyak yang mengalami fase gamang. Entah memang tiba-tiba berhenti seperti apa yang My Chemical Romance lakukan di saat itu atau band-nya sendiri mengambil manuver musik yang lumayan jauh dari nuansa musik yang membesarkan mereka di era keemasannya. In a flash, Y2K emo was gone for good. At least for a while.

Hampir satu dekade berlalu setelah senyapnya hiruk pikuk keberadaan Y2K emo di berbagai halaman media sosial. Sampai akhirnya kurang lebih setahun yang lalu hingga kini, entah bagaimana tiba-tiba ada gelombang kemunculan baru dari para kawanan itu  di platform media sosial favorit masa kini bernama Tiktok – dan menariknya, kini gerombolan ini bak mengalami regenerasi yang mumpuni. Bukan hanya para millennial yang sempat khusyuk tergabung di lingkup tren keniscayaan zaman itu saja, tapi kini para generasi di bawah mereka pun ada yang lebih all out untuk mengekspresikan estetika Y2K emo di platform tersebut.

Coba tengok sosok influencer Tiktok macam Mad Molly, Hopey Hazbin atau Fernie Mac yang kerap kali mengunggah banyak konten soal trivia Y2K emo lengkap dengan dandanan mereka yang super all out. Ring any bell? Atau seperti sosok Jessica Conrad, salah satu yang dikenal paling fenomenal di Tiktok karena bisa menyuguhkan konten penuh humor tentang skena Y2K yang super duper relevan.

What happened with this resurgence of Y2K emo on Tiktok?

@madmolly #scene #scenekid #scenekids #scenequeen #alternative ♬ Spelljam – SVDDEN DEATH


Eksistensi elder emos adalah benih utama penyebaran trennya di Tiktok
Tentu riak akan paparan estetikan Y2K harus dimulai dari hal yang kecil untuk bisa menciptakan gelombang yang lebih besar bukan? Sepertinya memang ada faktor dimana para pengguna atau influencer Tiktok di kisaran umur 30-an macam Jessica Conrad-lah yang memberikan pengaruh akan paparan perdana banyak user Tiktok – yang mayoritas masih muda dan sama sekali belum lahir ketika tren Y2K emo muncul.

Patut diingat kalau algoritma Tiktok punya salah satu sistem yang terbaik dibandingkan jajaran media sosial masa kini lainnya. Sudah bukan rahasia kalau kode algoritma feed personalization milik Tiktok lebih wahid  dibandingkan dengan apa yang dimiliki Meta – dan itulah mengapa tren Y2K emo bisa dipaparkan ke generasi di bawah para penggiat Y2K dengan lebih efisien.

Mari ambil sampel konteks kasus sesederhana ini: kalau kita mengikuti Jessica Conrad di Tiktok yang kerap kali mengunggah konten seputar lika liku dan anekdot tren Y2K emo dan kita kerap kali menyukai konten yang ia buat tersebut, algoritma Tiktok akan dengan sigap melancarkan kodenya untuk menyajikan banyak konten yang temanya berkaitan dengan konten milik Conrad. Setiap swipe setelah melihat konten Y2K emo milik Conrad, akan muncul lebih banyak lagi konten-konten bernuansa serupa untuk feed sang pengguna.

Dengan metode macam itu, tentu paparan konten yang dilihat oleh sang pengguna lambat laun akan tertanam di benaknya dan tinggal urusan brainware-nya saja untuk menerimanya. Tapi dengan ramainya konten Y2K yang bertaburan di sana, sepertinya memang banyak pengguna Tiktok yang akhirnya tergaet oleh pesona tren Y2K emo haha!

@phonyghost #greenscreen #emo #throwback #fyp #scene #blackveilbrides #bvb ♬ Oh No! – Marina and The Diamonds

Y2K emo adalah salah satu produk ‘unggulan’ monokultur 2000-an
Tidak seperti hari ini dimana semua orang punya platform media sosial yang memberikan mereka konten sesuai dengan algoritma perilaku penggunanya, di era pra-akses internet personal hampir seluruh asupan informasi (termasuk aspek informasi budaya pop serta musik) masih dikekang oleh beberapa media yang terpusat macam televisi, radio sampai media cetak – hal itu menyebabkan arus penyebarannya masih bersifat tunggal alias mono. Dan Y2K emo adalah salah satu produk hasil dari proses monokultur tersebut.

Coba kamu ingat-ingat masa itu. Ketika kamu belum terlalu paham akan manfaat internet terbatas pada kala itu untuk mencari informasi seputar musik atau pun subkultur, apa yang kamu gunakan sebagai acuan selera fashion dan musikmu? MTV? Majalah Hai? Program radio yang memutarkan lagu-lagu populer? Itulah yang saya maksud. Band-band Y2K emo justru mendapatkan spot menguntungkan di moda-moda monokultur tersebut.

Bagaimana video klip “Helena” dari My Chemical Romance yang mondar mandir tayang di MTV akhirnya membuat anak muda non-komplek masa itu akhirnya terpapar oleh emo atau bagaimana lagu “Misery Business” dari Paramore yang kerap kali high-rotation di berbagai stasiun radio seluruh dunia pada masa itu bisa merubah daftar putar Nokia N-Gage banyak anak sekolah masa itu yang terlalu picisan menjadi emo adalah hanya dua contoh konkret tentang begitu besarnya pengaruh ‘mesin’ monokultur pada masa itu untuk membuat eksistensi Y2K emo semasif itu.

Berkat moda monokultur macam itu, maka tak mengherankan pengaruh tren Y2K yang masif itu masih terasa imbasnya sampai hari ini – baik dari hanya sekedar pembahasan atau pun sebagai runutan historis yang tak bisa terelakkan. Itulah pula alasan kenapa artis-artis Y2K emo terasa masih everlasting keberadaannya sampai hari ini – karena mereka sempat berada di puncak arus industri musik kala itu berkat sokongan ‘mesin’ media monokultur saat itu. Dan ketika ada sebuah artis atau band yang sempat menaiki pacuan mesin monokultur itu, setidaknya eksistensi dia (meski secuil) akan tertoreh terus di benak masyarakat populis sampai kapan pun. Setidaknya sampai generasi berganti dan mereka sudah dianggap sebagai budaya primitif ketika waktu itu datang.

Poin ini berkaitan dengan poin sebelumnya tentang elder emos yang menjadi biang awal kemunculan Y2K emo di platform Tiktok. Bayangkan berapa banyak elder emos di berbagai belahan dunia yang merupakan hasil ‘doktrinisasi’ monokultur ini? Sudah jelas tak terhitung jumlahnya. Maka tak mengherankan ketika banyak orang yang sempat mengalami fase Y2K itu akan tetap membawa fase nostalgia itu ke unggahan media sosial mereka sampai kapan pun – dan turut mempengaruhi pengguna lain untuk tak malu mengekspresikan fase itu atau pun para pengguna muda yang lain untuk turut larut ke dalam euforia Y2K sebagai penangguhan jati diri mereka di dunia media sosial.
***
Penelusuran di atas tentu hanya masih terbilang dangkal. Mungkin masih banyak aspek yang bisa ditelaah lebih jauh akan kembalinya tren Y2k emo – bisa jadi dari sisi psikologi atau pun sosialnya belum sempat terjamah di tulisan ini. But in any possible way, kembalinya tren ini ke generasi hari ini adalah hal yang lumayan menyenangkan. Bagaimana tidak? Sebuah produk ‘budaya’ yang datang dari generasi yang dianggap menyebalkan oleh para generasi muda di bawahnya bisa menjadi relevan dan mewakili banyak identitas. Entah karena sebatas tren atau memang ada aspek lebih personal akan hal itu, one thing for sure emo ain’t gonna fade away anytime soon.

Text by Alis

Ada satu lagi destinasi kuliner unik dan nikmat di Bandung, dan lokasinya pun cukup unik: di ruko Segitiga Mas Kosambi. Ruko yang dari dulu terkenal menjual pernak-pernik komputer dan hardware itu kini salah satu lapaknya ditempati oleh TON Kedai. Sebuah kedai yang menyajikan makanan Asian fusion, masih persembahan dari team Gang Nikmat Cihapit dan chefnya Sandiyuda Dananjaya. Sandi dikenal lewat menu-menu sajian nusantara di Gang Nikmat: Sop Ayam Stamina, Sidat Asap dan Ayam Gulung. Kini Sandi mempersembahkan menu-menu yang cukup unik dan tidak akan kamu temukan di tempat lain: Nasi Ton Sapi Gulung & Mie Ton Sapi Gulung.

Seperti Gang Nikmat, makanan di TON Kedai adalah comfort food. Kaldu yang strong menyelimuti kedua menu andalan tersebut. Walaupun Mie TON masih bisa disebut sebagai modifikasi dari ramen, tetapi Nasi Godog Ton Sapi Gulung tidak bisa kamu temukan di tempat lain. Begitu versatilenya perpaduan dari onsen egg, ginseng dan kaldu ramen. Uniknya, setiap pesanan Mie & Nasi TON dapat kerupuk paru goreng kecil yang cocok di pairing bersama kedua menu tersebut. Kami pun memesan baso goreng, ayam crispy dan teh manis dingin. Biasanya jika sebuah tempat makan teh manis nya saja sudah enak, maka saya yakin mereka serius dalam menyajikan menu-menu mereka sampai ke detail terkecil. Kondimen baso goreng adalah salad dengan onion dilengkapi dengan saus mayo yang terasa seperti wijen sangrai, lezat sekali! Chilli oil nya pun salaman dengan ayam crispy nya yang menurut saya salah satu highlights disini. Tentunya sajian TON Kedai akan membuat kangen para pengunjungnya, apalagi kami yang masih belum mencoba sisa menu mereka: ayam panggang.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Indan Gustian

Jane Birkin, penyanyi/aktris yang menginspirasi tas Hermès Birkin, telah meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kematian Birkin diumumkan oleh kementerian kebudayaan Perancis, yang mengatakan bahwa Birkin ditemukan meninggal di kediaman nya di Paris. Sampai tulisan ini diketik, belum ada penyebab kematian yang diberikan. Birkin juga baru-baru ini membatalkan konser karena alasan kesehatan yang tidak ditentukan; dalam beberapa tahun terakhir, dia juga menderita stroke dan melawan leukemia. Birkin awalnya tidak ingin namanya dikaitkan dengan tas Hermès Birkin itu, tetapi kemudian menyetujuinya dengan syarat Hermès memberikan sumbangan ke beberapa badan amal pilihannya. Uniknya, band experimental rock Sonic Youth juga pernah membuat merchandisenya T-shirt ringer dengan foto Jane Birkin dibawah logotype Sonic Youth-nya.

Perempuan kelahiran Inggris yang tenar di Perancis ini juga dikenal sebagai seorang penyanyi dan aktris film. Pada saat berusia 20 tahun, Birkin pindah ke Perancis tanpa mengetahui bahasa Prancis. Ketenaran Birkin dimulai tak lama setelah kedatangannya di Paris, ketika dia jatuh cinta dengan aktor dan penyanyi Perancis Serge Gainsbourg. Keduanya dengan cepat menjadi daya tarik publik yang luas, karena menjalin hubungan dengan Gainsbourg yang hampir 20 tahun lebih tua dari Birkin. Pasangan ini sering berkolaborasi secara profesional, tampil menyanyikan duet bersama di lagu “Je t’aime… moi non plus,” dengan lirik eksplisitnya yang membuat lagu itu dilarang di beberapa negara. Birkin kemudian menjadi kesayangan dunia perfilman Perancis, dia muncul di lebih dari 70 film dan bekerja dengan beberapa sutradara paling terkenal di Prancis, termasuk Jean-Luc Godard, Agnes Varda, dan Bertrand Tavernier. Dia membintangi film-film terkenal seperti Blow Up (1966), La Piscine (The Swimming Pool) pada tahun 1969 dan Death on the Nile (1978).

Polyester Embassy kembali dengan merilis album terbaru yang bertajuk “EVOL”. Disaster Records sebagai label yang menaungi mereka mengumumkan perilisan album ini, yang berisi delapan lagu eksploratif yang mencerminkan evolusi musik band tersebut dalam format compact disc dan cassette. Sebagai band yang seringkali disebut sebagai band eksperimental, Polyester Embassy selalu mencoba berbagai eksplorasi dalam musik, lirik, dan tampilan visual mereka untuk memperkuat identitas suara yang berbeda.

Dalam album “EVOL”, Polyester Embassy menghadirkan konsep evolusi musik yang mengadaptasi hal-hal lama. Mereka mempercayai bahwa evolusi manusia adalah tentang beradaptasi dengan situasi, bukan meninggalkan hal-hal lama, melainkan mengadaptasinya. Album “EVOL” menjadi bukti nyata dari evolusi tersebut. Sebelum merilis mini album ini, Polyester Embassy telah merilis beberapa lagu sebagai pengantar, seperti “Parak” dan “Laugh and Swell”. Lagu-lagu ini menunjukkan bahwa band ini tidak meninggalkan esensi musik mereka sejak awal, tetapi terus berkembang dan matang dalam setiap karya yang mereka ciptakan.

Cinta atau “LOVE” juga menjadi tema yang erat hubungannya dengan mini album baru Polyester Embassy. Cinta terhadap musik dan persahabatan antar anggota band adalah yang mempertahankan eksistensi mereka sejak awal berdirinya. Meskipun perjalanan ini tidak selalu mudah, Polyester Embassy telah melewati masa-masa sulit seperti kehilangan drummer mereka, Givari, dan ketidakaktifan sementara rekan Givari, Tomo. Eksplorasi, evolusi, dan cinta terhadap musik tetap ditanamkan dalam karya-karya mereka, termasuk dalam 8 lagu di mini album “EVOL”.

Mundae., membuat kejutan dengan kembalinya mereka setelah hiatus yang cukup lama. Tendi Ahmad Hidayat (Gitar/Vokal), Riski Indriyana (Drum), dan Meigy Saputra Dewa (Bass) kembali dengan formasi baru yang diperkuat oleh anggota baru Rizqi Taufik Hidayat (Gitar/Vokal), Mundae. siap menyuguhkan sesuatu yang segar. Unit rock alternatif asal Bandung ini menandai kembalinya dengan merilis single perdana berjudul “Kelak” yang diiringi dengan video klip, sebagai bagian dari album yang rencananya akan dirilis pada akhir tahun 2023.


Melalui “Kelak”, Mundae. ingin menyampaikan pesan introspektif tentang tujuan hidup dan takdir di masa depan. Mundae. berusaha untuk berinovasi dalam aransemen musik dan menciptakan suasana baru yang menarik.

Fr3lan adalah seorang illustrator yang sudah lumayan lama berkecimpung mengerjakan logotype band-band seperti Dongker, Bleach, ZIP, dan lain-lain. Logo-logo buatan Elan sudah mempunyai karakter yang cukup kuat. Selain itu, Elan juga mengerjakan cover art, flyers bahkan sampai design merchandise beberapa band dan brand. Sekarang seniman asal kota Palu ini pindah ke Bali untuk menekuni seni tato dan menjadi tattoo artist. Mari berbincang dengan Elan mengenai band hardcore dia, Defy dan mendapat sebuah tawaran menarik dari Travis Barker..

Halo Elan! apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan proyek apa saja nih sekarang?
Halo, kabar baik nih!!! Wah lumayan penuh nih akhir-akhir ini hahaha seperti biasa ngerjain band dan brand.

Waktu JEURNALS interview Mike Bleach, dia cerita lo juga dulu aktif di scene kota Palu. Bisa ceritakan seperti apa scene musik independen di kota Palu?
Yes bener, ya sebenernya perkembangannya hampir sama aja dengan kota-kota lain cuman mungkin di Palu pada saat itu belum ter-expose ke kota-kota luar karena emang beneran cuman hiburan yang ada dikota Palu saat itu ya kalau bukan gigs pasti festival musik, tapi belakangan ini mulai rame kembali nih gigs dan festival yang ada di kota Palu, setelah gempa yang terjadi 2018 itu cukup memberi dampak yang lumayan buruk sih sampai berapa tahun gak ada gigs atau event musik sama sekali.

Lo dari kapan mulai mengerjakan ilustrasi secara serius? Oh ya, dengar-dengar mau ngerjain sebuah ilustrasi ya untuk Travis Barker?
Kalau mulai serius tuh kalau gak salah pas gue ngerjain flyer United Force 3 di Padang dan itu gambar gue pertama kali dipakai oleh orang lain hahaha, seneng banget sih Kempeng waktu itu yang support banget ama gue. Waduh dah kesebar aja nih hahaha yes bener gue lagi garap Famous dalam waktu dekat ini cuman ya gitu Travisnya kadang balesnya cepet kadang lama juga hahaha….

Oh btw gue lupa ngasih tau juga nih haha, gue juga udah beres ngerjain Dropdead untuk artikel terbarunya dan salah satu logotype gue udah rilis di webnya dan Olivernya langsung yang nge DM gw buat ngerjain itu hahaha.. Kalau gak salah ada beberapa seniman indo juga yang diajak ama doi…

Top 5 logo band yang paling lo suka?
1. FURY. Salah satu logo band yang gak ada matinya dan menurut gw bagus banget!
2. MORBID ANGEL. Siapa sih yang gak suka logonya MA hahaha..
3. VELOCITY, LIBERTY, COUNTDOWN, EKULU, BURST OF RAGE. Kenapa banyak ya karena semua bikinan Chrism Wilson salah satu favorite artist gue dan itu semua band dia hahaha..
4. DEAD HEAT. Logonya gue suka banget karena yang bikin juga gitaris nya sendiri dan salah satu inspirasi gue dalam buatin logo band gue sendiri.
5. DIZTORT. You now what i meaaannn….. Band yang dari segi logo, materi sampai personilnya POWERFULL!!!
Sebenernya 5 mah ga cukup mas hahaha cuman aku kasih yang menurutku Oke banget nih…

Lo juga ngeband di Defy & Nobody Safe. Apa kabarnya 2 band itu? Sedang sibuk ngapain nih sekarang band-band lo?
Kalau Nobody Safe sih terakhir lagi garap satu lagu lagi sih mas setelah rilis single kemarin yang “Demise”. Nah kalau Defy dalam waktu dekat ini kami ada agenda tour East Java dan Bali bulan di Juli, lebih tepatnya bisa cek ig @defyhc. Agenda tour ini sekaligus mempromosikan EP kami, 3 lagu yang udah rilis di bandcamp Defy yang dirilis oleh label Thailand yaitu Holding On Records.

Kembali lagi membahas design, bisa ceritakan sedikit kerjaan lo apa aja selain menjadi ilustrator freelance?
Kerjaan gue 3 bulan terakhir ini sih nyoba belajar tattoo, dan sekarang gue udah pindah di Bali sekaligus jadi apprentice di @redpeach.tattoo.

Apa yang membuat lo tertarik menjadi tattoo artist?
Yang buat gue tertarik sebenarnya lebih ke tekniknya kali ya, pada dasarnya kan sama basicnya ilustrasi juga dan gue juga mau coba lebih mengexplore aja lebih dalam sampai mana kemampuan gue. Kalau di dunia tattoo tuh mungkin lebih ke sabar dan teliti kali ya. Nah itu yang mau gue asah dari diri gue hahaha…

Fonts dan logotype band yang cenderung tajam-tajam ini sudah menjadi ciri khas lo sekarang. Tipe-tipe logo yang lo kerjakan ini masuk ke kategori / sebutan apa sih?
Hahahaha, gimana ya sebenernya kalau logotype tuh gue lebih suka ngeliatin font-font atau logo-logo band Death Metal Oldskool gitu-gitu sih, gak selalu mengarah ke hardcore karena menurut gue logo-logo band jaman itu tuh lancip-lancip terus kadang gak presisi tiap sudutnya, dan itu menurut gue keren banget liatnya gak boring, nah kalau itu gue gak bisa nyebutnya kategorinya apa ya, mungkin lebih ke style apa yang gue suka aja sih mas hahaha…

 

Interview and text by Aldy Kusumah

Photos taken from FR3LAN Archive

Kuartet punk rock asal Bandung, Saturday Night Karaoke, telah merilis single terbaru mereka yang berjudul “Smitten”. Meskipun dikenal dengan musik punk rock yang catchy, mereka berhasil mengeksplorasi sisi musikalitas baru dengan nuansa akustik dalam lagu ini. Mereka mengundang Dennis Ferdinand dan Rezki Delian untuk berkolaborasi, yang memberikan sentuhan harmonis paduan suara dan ketukan perkusi yang efektif. Single ini dipuji sebagai karya akustik yang mumpuni dan tetap mempertahankan identitas khas dari Saturday Night Karaoke, serta menunjukkan eksplorasi baru dalam karya musik Prabu dkk.

“Smitten” menjadi single keempat yang dirilis oleh Saturday Night Karaoke pada tahun 2023. Sebelumnya, mereka telah merilis single lain seperti “…Abnormal? Abnormal!!!”, “FILE UNDER: Aradaneks_Beta_Version”, dan versi bahasa Jepang dari single tersebut. Seluruh rangkaian single ini, bersama dengan beberapa single berikutnya, akan dirangkum menjadi sebuah EP dalam format piringan hitam 7″ oleh label Jepang I Hate Smoke Records, yang akan didistribusikan secara eksklusif di Indonesia oleh Disaster Records.

Maaf kalau terkesan agak bias, tapi jujur sepertinya saya agak berat hati untuk sekedar mengkategorikan Atarashii Gakko  sebagai sebuah girlband atau, ehm, idol group belaka. Memang kalau dilihat secara kasat mata dari berbagai konten visual macam video klip atau unggahan Tik Tok mereka yang selalu berseliweran di lini masa, mereka mungkin terkesan seperti just another music group – tapi kalau ditelusuri lebih mendalam, ada beberapa aspek detail di dalam kuartet vokal-plus-koreografi asal Jepang tersebut yang kini mampu menarik hati banyak penggemar musik seantero dunia.

Bagi kamu yang belum familiar dengan entitas musikal bernama Atarashii Gakko, mereka adalah unit vokal yang memulai kiprahnya di tahun 2015 silam sebagai sebuah indie idol group di negeri Sakura. Grup yang beranggotakan Suzuka, Mizyu, Kanon dan Rin tersebut mendapatkan big break-nya di tahun 2017 lewat rilisnya debut single label mayor mereka, “Dokubana (毒花)” , di bawah naungan Victor Entertainment.

Namun biggest breakout unit vokal tersebut justru terjadi di tahun 2021 ketika perusahaan musik internasional nge-hits 88rising meriliskan single terbaru mereka yang berjudul “Nainainai” ke gelembung pasar musik internasional. Seketika popularitas Atarashii Gakko meroket dan mereka pun beranjak dari unit J-Pop berkesal sektoral menjadi sebuah grup musik internasional yang sukses.

Kembali lagi ke poin paragraf awal di tulisan ini, rasanya ada faktor lain di luar popularitas Atarashii Gakko yang membuat mereka begitu terkenal dan disukai khalayak ramai. Setelah diselidiki dan diamati sedemikian rupa, rupaya ada lima aspek yang berhasil saya temukan dari eksistensi unit vokal asal Jepang tersebut – dan bisa dibilang berfungsi bak magnet yang mampu menggaet perasaan banyak orang untuk lebih menyukai mereka dari sekedar musiknya saja. Here they are!

Koreografi tarian mereka super enerjik dan rumit


Tanpa mendiskreditkan grup-grup vokal populer lainnya yang tentu punya koreografi yang sama-sama menarik untuk disimak, koreografi tarian dari Atarashii Gakko justru punya poin lebih karena terkesan lebih chaotic. Betul. Kalau dilihat terkesan seperti ugal-ugalan namun semuanya tetap tertata dan on point – dan hal itu terbilang lumayan langka untuk ukuran sebuah grup vokal J-Pop yang kalau kamu menyimak penampilan mereka lebih seksama memiliki banyak ‘template’ gerakan di berbagai bagian lagunya.

Untuk ukuran grup J-Pop, musik mereka terasa lebih ‘eksperimental’


Satu hal yang kerap kali sulit dilupakan dari musik asal Jepang adalah progresi akor serta bagan musiknya yang khas. Selalu ada kunci miring serta melodi vokal catchy yang seakan berteriak di dalam benak para pendengar musik: “Ini mah Jepang banget!”. Tapi hal itu tidak terlalu kentara di karya-karya Atarashii Gakko.

Kalau kamu simak musik mereka dengan lebih seksama, kebanyakan dari karya musik mereka justru lebih memiliki pengaruh musik ‘eksperimental’ yang lebih kental. Mulai dari pengaruh hip-hop, RnB, rock alternatif, new wave sampai disco terasa tumpah ruah di berbagai katalog musik dari Atarashii Gakko.

Ambil contoh di lagu “Nainainai” yang penuh dengan nuansa 90’s hip-hop dengan paduan drum track yang sangat vintage. Pure aces. Atau di lagu “Suki Lie” yang tidak ada satu pun melodi vokal kawaii ala musik J-Pop bisa ditemukan di lagunya. Malah lagu itu kental akan nuansa RnB plus ada kejutan bagan bossanova di paruh tengah lagunya. Gila.
Berbicara soal kawaii, poin berikutnya adalah…

Mereka punya estetika kawaii berbeda berkat persona mereka yang ‘aneh’


Sudah terlalu lama industri J-pop – terutama yang berada di ceruk idol – kerap kali menjunjung tinggi nilai ‘kepolosan’ untuk mengamplifikasi persona kawaii dari para artisnya. Hal itu mungkin memang sudah menjadi salah satu torehan parameter industrinya yang mendarah daging untuk ranah musik tersebut. Tapi beberapa tahun ke belakang muncul fenomena alternative idol yang mendobrak norma usang tersebut dengan menampilkan sisi lain yang lebih humanis dan unik dari para idolnya.

Salah satu dari gelombang alternative idol itu tentunya adalah Atarashii Gakko sendiri. Dengan persona konyol nan aneh ala murid sekolah berstatus badut kelas yang mereka kerap tampilkan di berbagai publikasinya, kuartet ini seakan menjadi relatable bagi banyak pendengar musik yang menyukai sosok artisnya sebagai manusia yang ‘apa adanya’.
Lucunya, persona mereka selama ini memang diproyeksikan sebagai ‘pemimpin SMA’ yang bersemangat. Tapi entah memang sengaja dikonsepkan seperti itu atau ada eksplorasi publisitas yang mereka terapkan, sejauh ini hal itu malah membuat persona mereka sangat komikal dan charming. But then again, people seem to love them for that.

Atarashii Gakko sukses melampaui AKB48 sebagai delegasi J-Pop masa kini


Tenang 48 fans, bukan maksud ingin menyepelekan grup favorit kalian. Toh saya pun masih menyukai musik 48 group sampai hari ini – meski sebatas beberapa katalog saja. Tapi harus diakui bahwa upaya AKB48 sejak beberapa tahun lalu yang ingin menggaet pendengar internasional dengan berbagai macam effort-nya dilibas dengan entengnya dengan hadirnya Atarashii Gakko. Artinya, kuartet itu muncul gelembung industri musik pada momentum yang tepat.

Ketika AKB48 masih terlalu identik dengan ruang lingkup penggemar dari stereotip wota atau pun weeaboo sampai sekarang, kemunculan Atarashii Gakko langsung disambut riuhan para penggemar populis – dan terasa effortless. Tentu faktor utamanya adalah berkat mereka digaet 88rising yang notabene sebagai salah satu manajemen artis keniscayaan penggemar musik populis hari ini.

Tanpa harus ekspansi ke berbagai negara sebagai bentuk sosialisasi kekaryaan atau positioning di industri, Atarashii Gakko langsung bisa menembus gelembung industri musik internasional dan disambut baik oleh banyak orang dari berbagai macam latar belakang preferensi musik.

Mereka meng-cover “Intergalactic” dari Beastie Boys

Nothing cooler than a J-Pop group paying homage to one of the greatest hip hop acts in the world with justice. Sebetulnya sudah ada alternative idol group lainnya bernama Denpagumi Inc yang meng-cover “Sabotage”. Tapi ya, you’ll be the judge. Bagi saya Atarashii Gakko menang telak dalam urusan ini dan mutlak dinobatkan (setidaknya bagi saya) idol group terkeren sepanjang masa.

So what do you think? Are you into Atarashii Gakko as well?