Bagi kami, salah satu kolaborasi terbaik (yang paling diremehkan) mereka hingga saat ini adalah dengan Timberland pada tahun 2021, ketika label yang didirikan oleh Teddy Santis mengambil alih sepatu 3-eye Lug Boat Shoe milik Timberland. Iconic sejak tahun 1978, sepatu 3-eye Lug Boat Shoe Timberland mendapat pembaruan dan modifikasi sederhana yang berkarakter dari Aimé Leon Dore yang tersedia dalam 3 warna yang akan selalu menjadi timeless.

Terlepas dari upaya terbaik kami, semakin sulit untuk mengabaikan fakta bahwa Aimé Leon Dore sangat pandai dalam berkolaborasi. Kami belum tentu penggemar berat New Balance 550 mereka, atau bahkan pengagum berat Clarks Wallabees mereka, tetapi kami tahu kolaborasi yang bagus ketika saya melihatnya – dan sepertinya kolaborasi-kolaborasi menarik tersebut selalu melibatkan Aimé Leon Dore.

Sedikit latar belakang: Timberland pertama kali memperkenalkan sepatu perahu chunky 3-Eye yang sangat berpengaruh ini pada tahun 1978, menggabungkan bagian atas kulit buatan tangan premium dengan sol luar sepatu boot yang kokoh dari The Original Timberland Boot. Sekarang, lebih dari 45 tahun kemudian, itu tetap menjadi bahan pokok di lemari pakaian pria modern.

ALD dan Timberland bersatu kembali musim ini untuk tiga rilisan dari si cantik bermata 3, yang mendarat di toko dan online 19 Mei 2023. Pertama kali disinggung dalam lookbook SS23 ALD yang baru-baru ini dirilis, sepatu tersebut hadir dalam beberapa jalur warna yang diberi nama unik: Grape Leaf, Sleek White, dan Classic Black, serta mempertahankan semua catatan desain yang kamu harapkan dari salah satu siluet paling ikonik di Timberland. Namun, apakah kamu akan memasangkan sepatu ini di kaki atau tidak, kita semua pasti setuju bahwa tidak diragukan lagi, sepatu-sepatu ini memang timeless dan klasik.

 

Text by Aldy Kusumah

Entah kenapa, nama beberapa band lokal dengan huruf “Z” sering kami temui akhir-akhir ini, entah di IG Story, cuitan Twitter maupun invitation flyers-flyers gigs. Entah ini sebuah trend atau bukan, yang pasti musik-musik dari band seperti ZIP, Dazzle, EAZZ, dan beberapa band lainnya lumayan mencuri perhatian kami. Mari simak beberapa band lokal yang menggunakan huruf “Z” di namanya (and if we missed any, feel free to comment on our Instagram feeds!)

ZIP
ZIP adalah kuintet asal Jakarta yang memainkan hardcore dengan referensi yang cukup obscure. Para personil ZIP pun tergabung di beberapa band dan project lainnya, sehingga wajah mereka tentunya sudah tidak asing lagi. Uniknya, band ini tidak memiliki social media seperti Twitter ataupun Instagram seperti band-band lain pada umumnya, tetapi jadwal panggung mereka cukup padat dan merchandise mereka selalu diburu.

EAZZ
EAZZ adalah Alfi, dan Alfi adalah EAZZ. Proyek solo dari Alfi yang juga gitaris dari Prejudize ini kadang kerap melibatkan beberapa temannya dari band seperti Rounder, Swarm dan lain-lain. Alfi memainkan shoegaze repetitif yang lebih terdengar menyerupai rilisan Creation Records era ‘90an ketimbang band nu-gaze modern. Simak 2 single terbaru dari EAZZ yang kabarnya dalam waktu dekat ini akan merilis debut albumnya.


DAZZLE
Dazzle memainkan musik hardcore crossover dengan sound modern. Band ini pun sudah sangat matang untuk perform dan beberapa kali tampil di panggung-panggung besar. Jika kalian menyukai Mizery, Take Offense atau Red Death, mungkin Dazzle akan menjadi salah satu local acts favorit kamu. Simak EP 2021 mereka, “Vanity & Void” dan single 2022 mereka , “Revenge is Mine”.

PREJUDIZE
Unit hardcore asal Bandung ini cukup menyita perhatian kami, mereka memainkan metallic hardcore yang cukup intens dan selalu tampil dengan sound yang solid di setiap performanya. Bermodalkan sebuah DEMO EP berisi 4 lagu yang dirilis pada tahun 2021, dan maxi single “Coward & Vague” pada tahun 2022, Prejudize juga kerap berkolaborasi dengan musisi-musisi seperti Satan’s Heir dari Avhath, Kevin Bleach dan Vai dari The Couch Club. Artwork kover EP pertama mereka juga dikerjakan oleh Fr3lan dari band Defy. Simak single terbaru mereka “Constant Burning” yang video klipnya baru dirilis pada bulan Februari 2023.

PLEAZURE AND PAIN
Band hardcore asal Medan ini sudah merilis album “Hidden Agenda” pada tahun 2020 kemarin. Pada tahun 2022 mereka kembali merilis EP berisi 6 lagu (1 lagu cover Stone Roses). Sedikit groovy, PAP mungkin akan sedikit mengingatkan kalian pada Biohazard era album “Urban Discipline”. Mari kita tunggu kejutan-kejutan baru apa yang akan mereka rilis pada tahun 2023 ini.


DAZED
Band punk dari Bandung Selatan ini sudah merilis sebuah EP berjudul “Distort Reality” melalui label Grimloc Records. Dengan bermodalkan 7 track segar yang dipenuhi oleh referensi band-band hardcore/punk Skandinavia, Dazed sudah siap untuk membakar gigs-gigs punk lokal di kota kamu. Kami juga penasaran untuk menyaksikan performa live mereka. Untuk sementara, segera dengarkan mini album mereka yang tersedia melalui format cassette tape.

https://grimlocstore.com/product/dazed-distort-reality-e-p/

FLYZAD
Satu-satunya di list ini yang bukan band, melainkan solo rapper. Flyzad adalah rapper dari Bukittinggi yang mulai berkarya di Kota Bandung sejak tahun 2016 sampai sekarang. Dalam waktu dekat Flyzad akan merilis “Diksi Reduksi” melalui label asal Bandung, Grimloc Records. Diproduseri oleh Napalm Squad, sudah pasti single ini patut ditunggu. Untuk sementara, cek single “Nawaitu” yang dirilis pada tahun 2022 kemarin.

BIZARRE
Bizarre adalah unit hardcore dari kota Malang yang diperkuat oleh Jaka Permadi (vokal), Wildan Salis (gitar), Yossy Andreas (bass), dan Galih Arlanosa (drum). Bizarre memainkan hardcore crossover ala band-band seperti Leeway, Agnostic Front dan mungkin sedikit Cro-Mags. Simak EP 3 lagu mereka yang diberi judul “Promo 2022”. Can’t wait to see more of them in the future.


ZEAL
Pada tanggal 14 Februari lalu, Bertepatan dengan Valentine, band pop punk Zeal merilis single “Lionheart”. Dengan aransmen yang catchy dan durasi yang cocok untuk kamu yang sedang sibuk, single ini terdengar lebih fresh walaupun masih mengamini benang merah seperti EP yang mereka rilis di tahun 2022. For fans of: (early) The Story So Far, Man Overboard, No Pressure.

ZIGI ZAGA
Band baru dengan wajah-wajah yang tidak asing, salah satu personil Zigi Zaga adalah Eka Annash dari The Brandals yang bermain bass disini. Juga ada Ricky Putra dari Alpha Mortal Foxtrot pada departemen gitar. Nadya Syarifa pada departemen vokal mengisi kekosongan yang ditinggalkan vokalis terdahulu dan Wizra Uchra bertugas menjaga beat band yang beraroma post-punk ini. Setelah merilis debut album “Psycho Mob” pada tahun 2019, kini mereka kembali di tahun 2023 dengan single terbaru “Push it Out”.


ZZUF
Proyek lain dari Pandu “Fuzztoni” bersama tiga cohortsnya: Freddy Alexander Warnerrin, Achsan Pradiansyah, dan Gomz Gomien. ZZUF menurut beberapa teman saya mirip Ozma. Tetapi karena saya tidak mendengarkan Ozma, impresi saya terhadap Zzuf adalah sebuah unit alt/indie rock dengan nuansa power pop yang kental. Suara gitar fuzz bertemu dengan lagam vokal yang catchy. Band ini sempat bernaung di Leeds Records dan kini bersama Anoa Records.


DRIZZLY
Drizzly adalah band bergenre dreampop dari kota Sidoarjo. Drizzly pada awalnya hanya dimotori dan menjadi proyek dari Amanda (Vocal). Walaupun pada awalnya ini hanya proyek solo, akhirnya Drizzly pun bertransformasi menjadi sebuah band. Sekarang formasi Drizzly adalah Amanda (Vocal), Moza (Bass), dan Faye (Guitar). Untuk merchandise dan kover single pun mereka kadang berkolaborasi dengan Conbini. Simak 2 single mereka “Bitter to See You” dan “If We Know Each Other Well Enough..” yang catchy dan upbeat di Spotify.


LEIPZIG
Leipzig memainkan post-punk disaat banyak orang menjauhi post-punk, karena itu mereka cukup stand out dan unik. Debut albumnya sangat catchy dan hanya berdurasi 13 menit saja. Lirik mereka mencampurkan bahasa Indonesia, Inggris dan kadang Sunda, dan kalian pun akan menemukan line-line seperti “Tapi lapar itu temporary / yang eternal hanya miskin” atau “Di kepalaku ada Astrud Gilberto yang menyanyi Nega Do Cabelo Duro”. Band punk mana lagi yang name-dropping Astrud Gilberto dan Noam Chomsky di album yang sama? Saat perform, mereka kerap membawa bendera berlogo Macan Siliwangi, yang lebih menyerupai logo perguruan silat ketimbang logo band.

Rapper dan penyanyi asal Bandung, Sbplusix, telah merilis single terbaru berjudul “WHEREIM@”. Single yang diproduseri oleh Sbplusix sendiri dan berkolaborasi dengan Gilang Dhafir ini menjadi bagian dari mini album yang akan dirilis oleh Sbplusix tahun ini. “WHEREIM@” menggambarkan perjalanan dan perkembangan Sbplusix di suatu tempat, sambil menghadirkan pesan tentang pentingnya mengingat tempat pulang melalui lirik lagu yang energik.

Dalam single terbarunya ini, Sbplusix mencoba menyampaikan refleksi tentang tumbuh dan berkembang di suatu tempat, serta kekhawatiran yang terkait dengan lingkungan tersebut. Dengan energi musik yang kuat, Sbplusix ingin menekankan pentingnya mengingat tempat pulang dalam perjalanan hidupnya. Sebagai seorang seniman multifaset, Sbplusix telah menciptakan karya musik yang menggabungkan hip-hop dan R&B dengan sentuhan artistiknya sebagai seorang desainer dan artis visual.

S terbaru Sbplusix berjudul “WHEREIM@” telah tersedia di berbagai platform streaming musik.

Jaydawn merilis single ‘Cek TKP’ ini sebagai foreplay sebelum album penuh nya rilis. Di single yang dirilis pada hari ulang tahun nya ini, Jay menggandeng Nartok dan Al Smith sebagai MC. Produser hip hop mana lagi yang membuka lagunya dengan sebuah sampling dari film bokep semi kaset betamax hasil ngerental? Lagu ini dibuka dengan sample dialog dari film “Golok Setan (1983), Lalu disambut basslines yang cukup familiar dari score film Inglorious Basterds-nya Tarantino. Sound bass empuk yang enak ini pun menyelimuti lagu. Beat gelap Jay yang khas dan sudah diperkenalkan di EP “Darker Dawns Ahead” 3 tahun lalu kembali menghantui track ini. Delivery Nartok di verse awal sangat lugas dan padat. Kamu pun akan bertanya-tanya “berapa lama MC ini kuat menahan nafas didalam air?”.

Al Smith menyambut verse 2 dengan flow yang lebih santai pada awalnya “Tendang rima ke kepala gaya popo Kanjuruhan di tengah kerusuhan beat ala Jaydawn“, sebelum he goes all loco rappin in full speed di beberapa bar terakhir. Lagu ini juga mempunyai beberapa rima yang cukup memorable, salah satunya adalah: “Tulisan ku dicuri bak Lukisan Raden Saleh / tapi ku takkan peduli karna kau takkan peroleh style rima orisinil ala Arab Condet”. Lagu berdurasi 4 menit ini pun diakhiri dengan outro jazz, dan kalian pun serasa di teleport ke sebuah jazz bar obscure di tengah kota. ‘Cek TKP’ adalah sebuah single yang sangat menjanjikan.

Beats-beats, produksi sample dan hasil remix Jaydawn mungkin sudah pernah kamu dengarkan di full album Krowbar yang bernuansa psychedelic, Bars of Death yang layer lagunya dipenuhi horn section dan sampling film, Rand Slam, Taring, Jeruji, Homicide, Efek Rumah Kaca dan tentunya group hip hop Jay yang bernama Eyefeelsix. Sound-sound gitar busuk dari website psychedelic Vietnam sampai film-film kung fu dari tahun ‘70-an pun Jay jadikan sample di beat-beats yang dia buat. Bersiaplah, karena dalam waktu dekat ini Jaydawn akan merilis full albumnya yang bertajuk “Sekte Air Mata Odin”. Tentunya dirilis oleh the usual suspects; Grimloc Records.

Bukan Black Mirror  namanya kalau di setiap episodenya tak memiliki alur cerita dan seringkali plot twist yang membuat mata kita terbelalak sampai terheran-heran. Serial yang awalnya tayang di Channel 4 – sebuah stasiun televisi publik di Inggris – dan kini semakin sukses berkat diakuisisi Netflix tersebut memang seringkali tak pernah gagal untuk memberikan suguhan tontonan yang berkesan sejak awal kemunculannya di tahun 2011 silam. Bagi saya pribadi, the series is sometimes stranger than fiction and that’s what good about it.

Bukan tanpa alasan kenapa Black Mirror terkesan stranger than fiction bagi saya. Pasalnya ada beberapa episode yang rasanya memang sedang terjadi di dunia nyata – meski teknologi fiktif yang kerap kali menjadi poros utama cerita di setiap episodenya belum hadir di masa sekarang. Ambil contoh episode “Nosedive” yang berkutat seputar rating di sebuah aplikasi media sosial akan perilaku setiap orang yang mempengaruhi reputasi mereka di dunia nyata. Tema episode itu terkesan agak deja vu bagi saya karena mengingat ada Social Credit System yang sedang berlangsung di RRC dan memberikan impresi yang kurang lebih sama akan penilaian publik melalui hitungan historis dari seorang individu via pengelolaan suatu instansi tertentu.

Contoh lainnya yang menarik soal konteks stranger than fiction dari Black Mirror adalah teknologi robot lebah di episode “Hated In The Nation” yang ternyata (spoiler alert) diproyeksikan oleh suatu instansi badan intelejen di dalam serialnya sebagai metode pengawasan publik. Bukankah isu penyadapan data pun sudah terkuak sejak beberapa tahun lalu di berbagai negara mana pun? If this doesn’t creep you out than you’re missing out that sensation of Black Mirror.

Dan kini di season terbarunya, Black Mirror pun memberikan sejumput kejutan stranger than fiction di beberapa episodenya dan juga kejutan transisi topik dari tema utama berbau teknologi yang menjadi kekuatan serialnya selama belasan tahun ini. Lantaran di season keenamnya, Black Mirror tak hanya berkutat soal tema technology gone wrong, tapi mulai merambah dunia supranatural dan dimensi gaib. Absurd.

Untuk memberikan konteks akan paparan saya di atas tadi, izinkan saya untuk memberikanmu gambaran besar akan lima episode yang terkandung di season keenam Black Mirror secara seksama. Ahhh, tentunya karena ini adalah tulisan review, saya ingatkan akan banyak spoiler berhamburan di bawah ini dan kalau kamu adalah tipe manusia yang anti-spoiler, silahkan berhenti membaca sampai sini dan langsung skip ke dua paragraf terakhir tulisan ini atau baca artikel lain dari Jeurnals dengan klik di sini . Okay, I cleansed my conscience so let’s get into it.

“Joan is Awful”
Meski minim adegan gore nan berdarah-darah, episode ini nyatanya lebih menyakitkan karena lukanya langsung menyayat ke dalam hati dan akan membuatmu berpikir dua kali untuk tidak membaca terms and condition ketika meng-install sebuah aplikasi di gawai personalmu.

“Joan is Awful” adalah sebuah episode bernuansa dark comedy yang akan menunjukkanmu seberapa buruk untuk menjadi pengguna teknologi yang begitu apatis akan detail-detail akan moda yang mereka gunakan sehari-hari dan sialnya akan merubah hidup mereka secara drastis. Well, it’s a lesson for us who always skip terms and conditions page. Haha!

“Loch Henry”
Episode ini adalah salah satu pertanda Black Mirror akan mengekspansi tema serialnya keluar dari tipikal tech gone wrong situation. Diceritakan bahwa ada kasus penculikan dan penyiksaan sadis yang kabarnya terkubur dan tak pernah diungkit kembali di suatu desa kecil daerah Inggris. Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian ada sepasang kekasih yang hendak membuat dokumenter tentang kasus itu dan malah menjerumuskan mereka ke penguakan tabir yang terlalu dekat dengan kehidupan personal mereka.


Menariknya dari episode ini adalah tidak ada aspek penyalahgunaan teknologi futuristik atau terkesan dystopic yang menjadi pemantik ceritanya, justru lebih condong ke aspek psychological thriller yang membangun kengerian di klimaks episodenya. Bagi saya ini adalah perubahan yang menarik untuk Black Mirror. Karena siapa sangka kini Black Mirror pun bisa menggarap sebuah cerita yang lebih realistis dan juga berporos akan alat teknologi yang bisa kita temui sehari-hari sebagai kuncian fakta horor yang menyelimuti cerita utamanya seperti di episode ini.

“Beyond The Sea”
Diceritakan di sebuah lini masa alternatif, pada tahun 1960-an terdapat dua astronot yang ditugaskan untuk menjaga satelit di luar angkasa sana selama empat tahun mendatang. Tapi guna menjaga kehidupan personal mereka di bumi, mereka pun diberikan semacam transmisi kesadaran yang bisa ditransfer ke sebuah replika (baca: robot) yang berada di bumi dan tinggal dengan keluarga mereka masing-masing. Namun siapa yang menyangka bahwa akan muncul konflik yang jauh lebih pelik dibanding jarak antar luar angkasa dan bumi di antara ke dua astronot tersebut.

Episode ini durasinya lumayan panjang dan alurnya sangat pelan – namun terbilang efektif untuk membangun kengerian di alur ceritanya. Paduan antara kesalahan teknologi dan rumitnya pola pikir manusia seakan menjadi pelengkap yang sahih untuk konflik yang terdapat di episode ini.

“Mazey Day”
Apa jadinya ketika paparazzi selebriti yang awalnya hanya bertugas untuk mengintil kehidupan para orang terkenal malah terjebak di rumitnya permasalahan ‘personal’ dari sang selebriti – dan sialnya masalah itu di luar nalar kehidupan manusia alias datang dari dimensi lain?


Lagi-lagi, Black Mirror memberikan kejutan di musim terbarunya ini dengan membuang jauh aspek tech gone wrong dan mengajak penontonnya untuk masuk ke alur cerita yang lebih mistis dalam episode ini. Sebetulnya dari alur cerita, episode ini memang tak seintens seperti kebanyakan episode Black Mirror lainnya. Namun berkat tema mistis yang disuguhkan, sepertinya episode ini menjadi titik putar yang penting bagi serial ini ke depannya – meski mungkin bagi beberapa penonton loyalnya harus menyesuaikan diri terhadap perubahan tema yang lumayan radikal ini.

“Demon 79”
Episode penutup di season keenam Black Mirror ini lebih absurd daripada “Mazey Day” – namun harus kamu simak seksama karena bisa jadi (lagi-lagi) ini adalah episode dari new age of Black Mirror yang mulai lebih ‘gaib’ temanya. Bahkan kalau kamu menonton title card di awal episode-nya, episode ini didaulat sebagai “Red Mirror”. Hmmm apakah Red Mirror ini akan menjadi subtema di serial ini ke depannya? We’ll see.


“Demon 79” menceritakan tentang keapesan seorang penjaga toko sepatu yang menemukan sebuah ‘jimat’ dan mengharuskan dirinya membunuh tiga orang dalam tiga hari agar mencegah datangnya kiamat. Tidak ada cerita soal teknologi di sini. Just pure black comedy about apocalypse. Endingnya pun akan membuatmu menggaruk kepala. Apa semua kejadian di kehidupan sang karakter utama itu kenyataan atau hanya fantasi belaka? You’ll be the judge.
***
Overall, this new season of Black Mirror is a great watch. Meski memang tak semua episodenya memiliki alur cerita yang kuat dan terkesan memiliki banyak plot holes, semuanya masih bisa dinikmati sebagai tontonan yang menghibur.
Belum lagi ada kesan di mana sepertinya Black Mirror akan mulai menghantui nalarmu tak hanya lewat alur cerita seputar teknologi, tapi juga dunia mistis seperti yang dicurahkan di episode “Mazey Day” dan “Demon 79”. Hal itu tentunya menjadi antisipasi terbaru akan serial ini. Apakah itu hanya sekedar guyonan di episode itu saja? Atau memang akan menjadi subtema baru di Black Mirror? Hanya waktu yang akan menjawab.

 

Text by Servo Barpinson

 

Unit rock asal Denpasar, Jangar baru saja meluncurkan single terbaru mereka yang berjudul “Artileri” pada Jumat (30/6). Single ini menjadi pengantar dan pembuka untuk album mini mereka akan datang bertajuk “Malam” yang direncanakan akan dirilis pada bulan Agustus 2023. “Artileri” memiliki inspirasi yang sama dengan lagu-lagu Jangar sebelumnya, yaitu masalah sosial politik. Band yang terdiri dari Dewa Adi Sanjaya (gitar), Pasek Darmawaysya (drum), Rai Biomantara (bass), dan Gusten Keniten (vokal) mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kekuatan yang menggunakan segala cara untuk mengendalikan sumber daya penting. Pasek menjelaskan bahwa lagu ini menyuarakan tentang bagaimana segala cara dianggap halal dengan alasan yang sama, entah itu untuk menengahi konflik atau memerangi terorisme. Lagu “Artileri” ini mengambil sudut pandang orang pertama, menempatkan pendengar sebagai pelaku atau algojo dalam skenario ini, yang mengikuti perintah tanpa ragu dan melakukan tindakan-tindakan kekerasan dalam nama negara.

Dalam proses pembuatan “Artileri”, Jangar mengubah sedikit kebiasaan dalam merekam lagu. Mereka memutuskan untuk tidak menggunakan studio rekaman konvensional dan memilih Indra Lesmana Space di Gianyar, Bali, sebagai lokasi recordin. Jangar membawa “Artileri” yang sudah selesai 80% untuk diselesaikan di lokasi tersebut dan merekamnya secara langsung. Pasek menjelaskan bahwa mereka terkejut karena menemukan studio rekaman di wilayah Gianyar yang tenang, hijau, dan segar. Tempat tersebut memberikan suasana yang baru bagi mereka setelah bosan dengan workshop dan latihan di Kota Denpasar. Selain itu, tempat tersebut juga dibangun oleh salah satu musisi senior Indonesia, yaitu Indra Lesmana, sehingga memenuhi standar yang harus ada dalam studio musik. Jangar percaya bahwa kondisi dan visual tempat rekaman juga memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir lagu yang direkam. Oleh karena itu, mereka menyisakan 20% dari proses rekaman untuk dilakukan di tempat tersebut.

Setelah melalui rangkaian dua maxi-single di “Simpul Tak Berdaya” dan “Jeruk Segar”, akhirnya Swellow resmi merilis album penuh pertama yang diberi judul “Katus”. Band indie-rock asal Bogor ini membuka album dengan sebuah track banger berjudul ‘Penjelajah Waktu’. Sebuah riff gitar slacker indie-rock yang menarik, lengkap dengan berbagai variasi chord minor, sus2 dan maj7. Track kedua ‘Segar’ dibuka dengan perkawinan riff gitar drive tipis dan melodi fuzz kotor. Pemilihan sound yang keren ini membawa saya ke era keemasan Matador Records, Drag City dan Kill Rock Stars. Swellow pun tampak effortless membawakan pakem-pakem indie-rock akhir ‘90an-awal ‘2000an ini.

Track ketiga yang berjudul ‘Serangga’ akan membuat para penggemar Wilco merasa nyaman seperti dirumah sendiri. Menariknya, Swellow bisa membuat lagu tentang “diserang” serangga tetap menarik: “Meninggalkan memar / Tak sanggup bekerja / Tangan kanan semakin besar / Lebam hariku diserang serangga”. Tema-tema yang mundane atau trivial seperti ini justru membuat lirik-lirik Swellow lebih berkarakter dengan ciri khas slacker indie-rocknya. ‘Simpul’ sudah pernah dirilis sebagai maxi-single sebelumnya. Tentunya lagu ini akan menjadi crowd-favorite jika mereka tampil, dengan melodinya yang catchy dan membius. ‘Penjara’ juga adalah sebuah balada pop yang cukup stand-out dengan kontribusi dari Harlan Boer. Jika kamu menyukai ‘Penjara’, maka ‘Nyali’ yang bernuansa melankolis juga adalah soundtrack yang tepat untuk leyeh-leyeh seperti slacker sejati. Mereka juga tidak segan untuk menampilkan layer-layer sound yang noisy ala Yo La Tengo seperti di lagu ‘Antrian’ dan ‘Segar’. Semoga mereka lebih banyak lagi membuat lagu seperti ini. Lirik-lirik mereka yang straightforward pun sangat menarik untuk divisualisasikan, seperti “terjun bebas dari teras” atau “tidur dengan lampu menyala” di lagu ‘Kita Semua Kalah’.

Lagu-lagu di album ini bagaikan sebuah selimut hangat; one of those albums that will give you a warm and fuzzy feeling inside. Track demi track masuk ke kuping ini secara effortless. “Katus” adalah sebuah sajian album all killer no filler. Tanpa terasa saya sudah berada di penghujung album dengan penultimate tracknya ‘Pasien’ dan ditutup oleh ‘Berkelana’ yang penuh energi. Menurut Bayu Ramadhan Dwi Azni, sang vokalis, “Katus” adalah perpanjangan dari lagu-lagu di EP “Karet” (2021), di mana Swellow bercerita tentang keseharian, fantasi, sampai perasaan terhadap pencapaian. Semua cerita tersebut ternyata tidak bisa lepas dari peristiwa kesialan,”. Overall “Katus” adalah sebuah album indie-rock yang bagus. Mungkin dewa-dewa indie-rock seperti Steven Malkmus, Robert Pollard dan Jeff Tweedy pun akan approve jika mendengar album ini. Tidak heran jika album ini akan menjadi pilihan AOTY untuk banyak orang.

For fans of: Guided By Voices, Pavement, Wilco, Pedro the Lion & Kitchens of Distinction

Key tracks: ‘Simpul’, ‘Segar’, ‘Antrian’, ‘Serangga’, & ‘Pasien’

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Rendyka Widya

Setelah merilis album kedua dan melakukan tur pertamanya, Oscar Lolang kembali dengan single terbaru berjudul “Python Lives In That House!” . Oscar menghadirkan lagu dengan latar musik energetik dan ritme cepat. Lagu ini diproduksi oleh Esa Prakasa dan ditulis dengan gaya storytelling khas Oscar Lolang. Meskipun memiliki pesan sedih, Oscar berharap lagu ini dapat menghibur pendengar dan mengajak mereka bersenang-senang. Ia menyatakan bahwa lagu ini memiliki komposisi yang berbeda dari karyanya sebelumnya, lebih hidup, dan membuat orang ingin menari.

Melalui lagu terbarunya, Oscar Lolang berharap pendengar dapat merasakan kesenangan meskipun ada kesedihan dalam liriknya. Lagu ini bukan hanya tentang ular piton di dalam rumah, tetapi juga mengangkat kisah-kisah manusiawi yang bisa dirasakan oleh semua orang. Oscar mengajak pendengar untuk ikut menyanyikan atau bahkan menari mengikuti lagu ini setelah mereka merasakan emosi dan ceritanya.


“Python Lives In That House!” oleh Oscar Lolang sudah bisa dinikmati melalui semua platform streaming digital.

Entah kenapa, band indie pop asal Sidoarjo/Surabaya ini mengingatkan dengan band asal Bandung Mocca dan Olive Tree. And that’s a good thing. Dimulai sebagai proyek solo, Drizzly telah berkembang menjadi kuartet musisi yang terdiri dari Manda (Vocal), Moza (Bass), Faye (Guitar) dan menyambut member terbaru mereka yaitu Rascillo (Drum). Seperti all-female band asal Jawa Timur pendahulu nya, Dara Puspita, para personil Drizzly juga piawai dalam memainkan alat musik dan selalu tampil enerjik di setiap performanya. Mari berbincang dengan Drizzly!

Halo Drizzly! Apakabar Manda , Moza, Faye dan Rascillo? Sedang membuat rencana-rencana apa saja nih?
Manda: Haloooo, baikkk! Setelah EP kita rilis, ada beberapa rencana yang bakal kita lakuin di waktu terdekat. yang paling terdekat kita bakal rilis fisik berbentuk CD & merch kaos EP Fairyland. Next, kita bakal juga collab merch dengan salah satu brand di Surabaya.

Faye: Nahh betulll..

Rascillo: Halo halo kak, alhamdulillah baik nih. Bener kata Manda ada beberapa project yang insyaallah bakal kita kerjakan di tahun ini, selain yang udah disebut sama Manda, kita juga akan ngerjain project split EP sama salah satu band asal medan hehe..

Bisa ceritain ga sedikit histori Drizzly dari awal sampai ke formasi yang sekarang ini?
Manda: Aku dari dulu emang pengen bikin band gara-gara film jepang Lindas Lindas kak. Keren ajaaa cewe-cewe pada ngeband hehehehe..

Moza: Iya klo perubahan ke format band ini, emang semua dari idenya Manda sih, aku awalnya gak kenal mereka sama sekali bahkan. Terus diajakin buat jamming bareng, ternyata cocok sama karakter anak-anaknya juga..

Faye: Kebetulan Drizzly ini dulunya waktu awal rilis ‘Bitter to See You’ masih berbentuk projek solo dari kak Manda, terus karena dari kak Manda sendiri waktu SMA pengen punya band cewe-cewe akhirnya gak lama setelah rilis ‘Bitter to See You’ dia coba cari-cari pemusik cewek-cewek dari kenalan-kenalan nya dan akhirnya ketemu sama aku, kak Moza sama kak Cilo juga yang kebetulan baru join Drizzly pas rilis EP ini heheh..

Kesibukan para personil diluar Drizzly apa saja?
Manda: Kesibukannya kerja kuliah wkwkwk.. Kalau untuk projek musik lain diantara kita ber 4, kak CIlo ada projek lain.

Moza: Kalo kesibukanku sekarang kerja jadi anak agency aja, sama mencoba mengumpulkan niat untuk menyelesaikan skripsi aja sih kak. Kalo proyek lain sebelum Drizzly itu udah lamaa banget, terakhir punya band itu sekitar 2015/2016 gitu waktu masih SMA, lulus SMA berhenti di band, baru aktif lagi tahun lalu waktu diajakin gabung ke Drizzly itu.

Faye: Kalau aku sendiri kesibukan diluar Drizzly saat ini cuman kuliah ajaa si kakk, kalo untuk sebelum Drizzly dulu pernah ngeband juga sama teman-teamanku waktu SMA, genrenya kebetulan juga bertentangan banget sama genre musik Drizzly, cuman setelah pandemi ini sudah bubar jugaa dan sekarang mau fokus ke Drizzly ajaa hehe..

Rascillo: Kalo aku kesibukannya kerja sih kak, kebetulan kerjanya di agency jadi nyantai dan masih bisa jalan band-bandan hehe, sebelum sama Drizzly aku juga udah ada band genre nya lumayan nyimpang dari Drizzly hehe, rock gitu, terus juga ada project band sama musisi asal Malang juga.

Kenapa memutuskan untuk merilis EP Fairyland dengan Lisdia Records? Gimana awalnya?
Manda: Awalnya memang kita sudah tertarik sama Lisdia dari awal waktu kita diajak main ke Bandung kak, yang acara Futura Free & Lisdia. Kita juga pingin punya relasi yang lebih luas.

Untuk Fairyland ini, tema besar apa saja yang mau kalian angkat dari liriknya?
Moza: Untuk tema besarnya ini sebenernya kita mengadaptasi karakter fiksi “peri” ini, yang sebenernya punya konflik dan juga cerita yang kurang lebih sama seperti manusia. Ada percintaan, konflik pertemanan juga.. Jadi sih Drizzly ibaratnya mau ngajak para pendengar ini ke negeri peri yang di dalamnya banyak warna warni kisah dan konflik hidup juga sih.

Bagaimana proses rekaman EP Fairyland ini? Masing-masing personil boleh bercerita sedikit mengenai proses nya?
Manda: Di proses EP ini kita juga dibantu teman-teman kami. ‘Bitter to See You’, dibantu Ekky dari band RE:NAN untuk aransemen. Untuk take drum dibantu Fery dari band Timeless. Di lagu ‘If We Know Each Other Well Enough, Maybe We Can Go On a Date.’ untuk take guitar lead dibantu Rizal Malewa dari band The Carolines & take drum dibantu Dela. Lagu ini juga featuring dengan Raka Pradana dari band Yellow Flower Living Water. 3 lagu Drizzly lainnya, ‘A Moon Parch’t’, ‘Peachy World’, & ‘Grasp all’, ‘Lose All’. Untuk take gitar juga dibantu sama Muhammad Firhan dari band Croud. Untuk pembuatan lirik ‘If We Know Each Other Well Enough, Maybe We Can Go on A Date’ juga dibantu sama Thomas Glaop. Lirik lagu ‘Peachy World’ juga dibantu sama Hilmo thio dari band Celestial Carnage. Kita bersyukur banyak temen-temen yang dukung & mau bantu. Untuk rekaman juga dibantu penuh sama Artefakt records, mixing mastering & recording dengan mas Ando Loekito dari band Cotswolds.

Moza: Kalo proses EP ini sih sebenernya kita cukup santai, dan kebetulan juga dibantu banyak temen-temen juga sih. Setiap materi yang ada di EP ini juga setiap dari kita juga punya kontribusi yang seimbang sih untuk setiap materinya, walaupun secara lirik ini lebih banyak dibuat oleh Manda, tapi untuk instrumennya kita semua bener-bener brainstorming buat nyiptain materi yang mateng dan itu seru banget sih.

Faye: Kalo dari aku kurang lebih sepenuhnya seperti yang dibilang sama kak Manda, selama proses rekaman juga lancar banget tanpa ada kendala, dan kita juga seneng banget akhirnya sudah kesampean buat ngerilisin EP pertama Drizzly.

Rascillo: Prosesnya sih seru, cukup cepat juga. Waktu take drum juga ga lama-lama, temen-temen sih mempercayakan isi drumnya sama saya hehe jadi saya sikat deh dan untungnya masih selaras hehe..

Band-band keren dengan personil perempuan di Indonesia sudah ada semenjak Dara Puspita. Hal-hal apa aja sih yang menurut kalian keren dari band-band lama tersebut? Pesan apa yang ingin kalian sampaikan pada para perempuan yang ingin mulai ngeband?

Moza: Kalo buat kita sih jujur aja band-band yang kaka sebutin di atas bisa dibilang panutan kita ya, walaupun umur mereka udah gak muda lagi, tapi spiritnya masih bisa kita rasakan saat ini. Kita juga sempat jadi band pembuka di tour The Dare tahun lalu di Surabaya, itu kita juga seneng banget, dan jadi makin semangat buat berkarya.
Kita juga setiap manggung terutama di kota-kota kecil, ngajakin buat cewek-cewek jangan malu dan takut kalau mau buat band, atau bermusik, kalo gak kita-kita yang mulai siapa lagi?

Ada cerita-cerita manggung / tour yang seru?
Manda: Kalo menurutku, paling berkesan waktu datang pertama ke acara di luar kota. Waktu kemarin di Jombang antusiasnya keren banget. Penontonnya rela hujan-hujanan buat nonton acara. Bukan cuma buat nonton Drizzly aja, tapi buat nonton band yang lain.

Album-album apa aja nih yang sekarang lagi kalian dengarkan masing-masing?
Manda: Kalo aku lebih ke solo kayak Ichiko Aoba, Weyes Blood, yang adem adem kakk..

Moza: Kalo aku sih akhir-akhir ini lagi sering denger split albumnya The Carolines, Loon, sama The Jansen yang judulnya “Flowery Melancholia”.

Faye: Kalo aku akhir-akhir ini lagi sering dengerin album dari Inner Wave sih kak yang “Apoptosis” hehehe..

Rascillo: Kalo aku influence musik-musiknya kalo band cewek ada Warpaint album “Heads Up”, terus ada 1975 albumnya tahun 2018 (“A Brief inquiry Into Online Relationships”) Sama Maliq & D’Essentials rata-rata dengerin yangg 1st..

Pertanyaan terakhir: Top 3 tempat makan favorit kalian masing-masing beserta alasan nya?
Manda: 1. babi guling Pak Dobil – Bali: “Enaaaaaaaak sekali, gurih, porsi pas, kuahnya sedep rempah rempah gitu. Sate babi nya enak.
2. Mak Beng – Bali: Ikannya enak, kayak gapernah makan ikan kayak gitu di surabaya..
3. Rujak cingur – Pasar Blauran Surabaya: Porsi pas, petis nya enak, cingur nya banyak, bumbunya gurih.

Moza: 1. Ahjumma, ini resto korea di Surabaya. Menurutku ayamnya juara banget, rasanya bener-bener otentik Korea.
2. Leko, ini sambel, kuah, sama kangkung gorengnya gak ada lawan.
3. Sama ada di Surabaya namanya Nasi Goreng Pak Yono, dekat UPN surabaya, ini nasgor krengsengan nya enak banget.

Faye: 1. Jimi 88, ini tempat makanan Chinese Food gitu di daerah Ahmad Yani Surabaya, mie nya enakk bgttt..
2. Moon Chicken, ayamnya juara banget..
3. Carpentier Kitchen, semua makanannya juara, tempatnya juga cozy banget.

Rascillo: 1. Carpentier Kitchen – selain makanannya enak-enak semua ga ada yang fail, ambience nya homey banget jadi betah lama-lama disana.
2. Leko – sambel iga sama cumi nya the best sih.
3. Ayam goreng Kalasan Bu Yanti – ini penyetan terbaik di kelasnya.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by @adelfinaa_ & @bayuktw

 

Beberapa orang rela menabung dan mengumpulkan $499 untuk sebuah pedal fuzz. Bukan sembarang pedal fuzz, ini adalah pedal gitar Fender Blender andalan My Bloody Valentine dan leadernya Kevin Shields. Jika kamu menyukai pedal gitar, kamu mungkin pernah melihat fuzz khas Fender ini, kali ini di reissue sesuai seperti apa yang digunakan Kevin Shields di rilisan-rilisan My Bloody Valentine. Kolaborasi ini dirilis terbatas hanya 700 pedal di seluruh dunia, dan masing-masing dilengkapi dengan buklet bertanda tangan dan kotak kardus yang mewah. 

Selain itu, ternyata ada juga “hadiah kejutan” di dalam 100 pedal ini: USB drive yang diisi dengan karya musik baru dan eksklusif dari Kevin Shields sendiri. Dan ada sebuah catatan dari Kevin Shields agar memainkan lagu tersebut di 80 dB (decibel) keatas pada speaker. Tidak ada kabar apakah semua flash drive memiliki musik yang sama di dalamnya, tetapi satu orang mengunggah lagu itu di YouTube dan menulis: “lagu dan USB itu hanya terdapat di 100 box dari total 700 Shields Blender yang dibuat. Tidak yakin apakah mereka semua atau tidak berisi audio yang sama. Musiknya terdengar belum selesai dan mungkin merupakan lagu yang tidak masuk ke album”. Apakah kalian rela mengeluarkan sekitar 5-6 juta rupiah untuk sebuah pedal fuzz? Pastikan saja kamu adalah salah satu dari 100 pembeli pertama.

Text by Aldy Kusumah