Setelah mendapatkan nominasi Anugerah Musik Indonesia untuk kategori  “Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik” di tahun 2022, White Chorus tiba-tiba drop sebuah album baru di tahun 2023. Setelah debut album “FASTFOOD” yang dirilis pada tahun 2021, kini mereka kembali dengan racikan yang lebih fresh secara produksi, aransemen dan direction. Mereka pernah mengatakan kepada Jeurnals di sebuah interview kalau pada awalnya berniat membuat sebuah album full dengan lagu trip hop ala Portishead dan Massive Attack yang tidak terealisasi di album “FASTFOOD”. Ternya di album “LIMBO” ini, mereka tetap tidak merealisasikan itu tetapi malah membawa direksi musikal White Chorus ke arah yang lebih fresh.

Dibuka dengan lagu ‘BLU’ yang di co-produseri oleh Alyuadi (Heals, Fuzzy I) dan Dhafir (The Sugar Spun), track ini dibuka dengan strumming gitar yang sedikit dreamy dibalas oleh lantunan dari Friska “what else can i do?”. Menarik, karena mereka mungkin bisa dibilang jarang membuka sebuah lagu dengan riff gitar. ‘Mystery’ adalah track yang tepat untuk meneruskan mood ‘BLU’. Highlight track ini terdapat di menit 1.29 dimana terdapat perubahan beat yang semakin intens yang berfungsi sebagai breaks sebelum kembali ke verse. Track ke 3 adalah ‘This Feeling’, single pertama yang sangat pop dan sedikit mengingatkan saya pada Homogenic di album kedua. Beat lagu ini juga sedikit mengingatkan pada single ‘Ditto’ milik NewJeans. ‘Somerset’ yang diambil dari sebuah nama daerah di Singapura adalah single ketiga dari album ini (yang video klipnya juga berlokasi di Somerset). Masih dalam wilayah electro-pop, track ini juga sangat catchy.


‘Don’t Want This To Be Over’ sangat menarik. Loop gitar akustik di yang bermain di seluruh lagu adalah nostalgia terhadap RnB tahun 2000an. Ya, White Chorus memang versatile dan dengan nyaman bisa bermain di genre electro-pop, RnB, house sampai trip hop. Membicarakan trip hop, ‘3AM’ adalah sebuah track bernuansa trip hop yang sedikit gelap. Co-produced juga oleh Tendi Ahmad dan menampilkan rapper Nartok. Ah, ternyata sebuah lagu berbahasa bilingual, menarik. ‘HoW cOuLd U’ sangat menarik, dengan beat dinamis dan gitar jangly. Saya bisa membayangkan track ini akan menarik jika dimainkan live dengan full band tanpa sampling dan sequencer. ‘KAFFEINE’ adalah penultimate track yang juga diproduseri oleh Kareem Soenharjo. Lagu tidak akan terdengar out of place apabila dirilis di akhir ‘90an atau awal ‘2000an. ‘Amarah’ menutup album ini dengan high-note. Dan menurut saya ini adalah track terbaik dan menjadi instant favorite setelah didengar. Mungkin White Chorus harus mempertimbangkan untuk membuat sebuah album full berbahasa Indonesia, karena mereka bisa melakukan nya dengan flawless. Overall “LIMBO” dipenuhi oleh produksi yang top notch dan versatilitas White Chorus untuk berpindah-pindah genre di beberapa lagu tanpa terdengar memaksakan. Walaupun para produser tamu disini mampu menambah warna yang menarik, lagu-lagu yang diproduseri oleh Emir Agung Mahendra sendiri menurut saya sudah cukup keren. Jika ada band yang mampu self produced dengan hasil yang keren, mungkin White Chorus bisa masuk ke list tersebut.

 

Text by Aldy Kusumah

Setelah merilis berbagai koleksi pakaian mulai dari kaos, celana pendek, topi, hingga sepatu hasil kolaborasi dengan Plantbids, Downtown Market telah merilis katalog baru siap pakai dan nyaman dari koleksi musim panas 2023 mereka. Terdiri dari total 14 item, koleksi yang ditawarkan mencakup mulai dari I-shirt, baby tee, short panfs, denim pants, work jacket hingga poster untuk menghiasi kamar tidur atau tempat kerja Anda.

Untuk koleksi musim panas kali ini, Downtown Market masih fokus merilis desain yang terinspirasi dari visual dan suasana kehidupan di tengah kota. Ada juga kaos dengan desain price tag membentuk logo bintang yang tersedia dalam Z warna (hitam, ungu dan pink) untuk baby tee, MoMA dupe yang tersedia dalam warna hitam di atas hitam, Baby tee dengan desain cowboy boots, hingga work jacket yang Tersedia dalam 2 pilihan, jaket resleting atau tanpa resleting. Hingga saat ini, perilisan koleksi musim panas 2023 dari Downtown Market merupakan perilisan dengan kuantitas perilisan terbanyak.

Ditambah dengan toko yang berlokasi di Jalan Mangga, Bandung, koleksi ini merupakan pemyataan tentang kehadiran sebuah brand yang meliput berbagai komunitas di koła kembang, mulai dari street-wear hingga music. Koleksi ini bisa dipesan melalui Instagram dan Tokopedia Downtown Market atau langsung ke offline store yang beralamat di Jalan Mangga No. 37A Kota Bandung.

Bodypack, brand lifestyle asal Bandung, dengan bangga mengumumkan rilisnya campaign, “Back to Class,” menyambut musim ajaran baru tahun 2023. Kampanye ini nunjukin pentingnya punya passion yang beragam untuk mencapai keseimbangan antara akademis dan kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, gaming, musik, dan banyak lagi.

Campaign “Back to Class” ini jadi komitmen Bodypack buat dukung pelajar dalam perjalanan akademik sambil menginspirasi mereka untuk eksplor minat dan bakat di luar kelas. Dengan menekankan konsep “Class” di luar mata pelajaran akademis pada umumnya, seperti kelas musik dan olahraga, Bodypack mendorong siswa untuk ngembangin kepribadian dan potensi mereka.

 

Adapun talent dalam campaign ini adalah dua sosok pelajar Indonesia, Mischka dan Devon, yang udah jadi panutan bagi generasi muda karena prestasi mereka yang luar biasa di kompetisi matematika dan sains internasional. Keduanya udah ngumpulin lebih dari 100 medali yang bikin Indonesia bangga. Mischka dan Devon juga tidak hanya dikenal karena prestasi mereka, tapi juga karena selera fashion yang unik dan mencuri perhatian para siswa di seluruh negeri.

Bodypack juga ngenalin banyak seri tas yang ga cuma ngutamain fungsi, tapi juga nampilin style yang lebih berkarakter. Tas-tas ini dibuat khusus untuk mencerminkan semangat fashion-forward dari Mischka dan Devon seraya menawarkan daya tahan dan kenyamanan yang dibutuhkan siswa untuk rutinitas sehari-hari. Semua koleksi tas “Back to Class” Bodypack udah bisa dipesan di marketplace dan situs web mereka www.bodypack.co.id.

 

Photo Credit: Alfian S. Prasetyo

Titan shoegaze veteran Slowdive telah membuat album baru setelah comeback dan merilis self-titled pada tahun 2017 silam. Album ini dikerjakan selama pandemi, dan akhirnya selesai. Gitaris Neil Halstead dengan santai menyampaikan berita tersebut saat tampil di podcast Australia Six Pack. “Kami benar-benar baru saja menyelesaikan rekor lain,” kata Neil kepada pembawa acara Gareth Pardon dan Ryan Matthew Merry. “Itu akan keluar di beberapa titik, tidak yakin kapan. Kami baru saja menyelesaikannya.”

Slowdive telah mengumumkan album pertama mereka dalam enam tahun; semuanya hidup akan dirilis melalui Dead Oceans pada 1 September. Album ini didedikasikan untuk ibu vokalis dan gitaris Rachel Goswell dan ayah drummer Simon Scott, yang keduanya meninggal pada tahun 2020. Di sosial media mereka, band ini mengatakan akan merilislagu baru berjudul ‘Kisses’ sebagai pemanasan akan pada hari Selasa ini (20/06). Mereka juga membagikan teaser single tersebut dan link ke video YouTube yang berisi jam hitung mundur untuk tanggal perilisan lagu tersebut.

Dipimpin oleh vokal membius Neil Halstead, pada single “Kisses” ini ia menemukan Slowdive dengan sensibilitas pop nya dan tetap bermain di ranah sound shoegaze-lite yang aerodinamis: “I know you dream of snowfields / Floating high above the trees”. Suara Rachel Goswell mewarnai latar belakang pada saat reff masuk. Permainan dan produksi Slowdive yang sangat keren ini memikat kita seolah mereka baru merilis “Souvlaki” tahun kemarin. Video untuk “Kisses” ini disutradarai oleh Noel Paul dan memperlihatkan beberapa remaja di larut malam Napoli.

Slowdive akan memainkan pertunjukan pertama mereka di tahun 2023 minggu depan di Melbourne, salah satu dari beberapa tanggal Australia yang mereka miliki sebelum mereka melompat ke Jepang untuk Fuji Rock 2023. Mudah-mudahan mereka akan memainkan setidaknya satu lagu baru dan akan mengunjungi Indonesia juga tahun ini. Finger’s crossed.

Taufiq Rahman adalah adalah sosok dibalik Elevation Records yang cukup prolifik dalam merilis vinyl reissue dan buku-buku menarik mengenai musik (This Album Could Be Your Life: 50 Album Musik Indonesia Terbaik 1955-2015, Flip Da Skrip). Baru-baru ini Elevation berkolaborasi dengan PHR Senayan untuk membuat pressing plant di Jakarta yang akan memudahkan musisi lokal untuk merilis format piringan hitam. Mari berbincang dengan Taufiq mengenai agenda-agenda Elevation dan juga vinyl pressing plant yang akan segra launch dekat-dekat ini…
PS: Mungkin pada saat interview ini publish Pressing Plant tersebut sudah launching

“Terserah mau diapakan vinylnya oleh konsumen, tapi sumber pendapatan untuk label, artis dan ekosistem adalah vinyl. Sah-sah aja kalau kita memperjuangkan keberadaan vinyl, karena alternatifnya lebih buruk.”

Halo mas Taufiq. Apa kabar nih sekarang Elevation Records? Ada rencana apa saja kedepan mengenai rilisan dan lain-lain?
Gak terlalu banyak yang dede sih. Ya masih jalan yang pasti, kalau Elevation Records sih mau rilis vinyl Panbers sebentar lagi, kalau buku masih nunggu naskah jadi belum terlalu aktif. Kalau saya pribadi nyiapin pabrik pressing plant, kalau Elevation sih banyak nyiapin rilis-rilis reissue berikutnya. Ngurus live performance David Semak Belukar juga kemarin. Kalau reissue sih pasti kita mengarahkan nya ke vinyl. Apalagi sekarang dengan adanya pressing plant disini pasti akan lebih mudah dan lebih banyak lagi format vinyl yang bakal kita rilis. Kompilasi musik Indonesia awal ‘60an “Kelana Ria” juga akan kita rilis. Musik melayu klasik Indonesia yang cukup obscure, proto-melayu yang mungkin sudah dilupakan orang dan menjadi dasar dangdut Indonesia, orang mungkin lebih tau versi barunya.

Elevation juga cukup prolifik merilis buku-buku, yang beberapa ada tulisan mas Taufiq juga. Bagaimana awalnya mas mengembangkan Elevation menjadi 2 unit: books & records?
Awalnya memang label kecil-kecilan, mungkin sampai sekarang juga masih kecil-kecilan dari cara beroperasi dan orang-orangnya masih itu-itu saja. Tapi dari awal semangatnya memang untuk merilis musik Indonesia di format vinyl. Ada Sajama Cut, Semak Belukar sampai Southern Beach Terror yang kita rilis di awa 2010an. Itu berlanjut sampai tahun 2018-2019 sampai kita mulai melihat musik Indonesia lama, yang sampai sekarang keterusan. Awalnya memang merilis records dulu baru publish buku. Saya kan dulu rajin menulis pas saya di luar negeri dan di Jakarta Beat, akhirnya dikumpulkan dan dijadikan buku saja. Tulisan saya ga penting-penting amat dan yang baca juga sepertinya tidak akan banyak, saya ga yakin kalau ditawarkan ke penerbit besar akan ada yang ambil dan menerbitkan secara baik dan benar. Jadi akhirnya self-publish. Setelah itu ada Boombox yang tulisan Ucok. Ucok itu sama kaya saya rajin menulis, jadi tinggal di compile dan dijadikan buku. Lala jadi semangat menulis lagi dan bikin buku “Pop Kosong” yang memang tulisan baru bukan hasil compile. Terakhir yang serius dikerjakan adalah “This Album Could Be Your Life: 50 Album Terbaik Musik Indonesia”. Terbit pas awal Covid. Proses riset, pengarsipan dan melibatkan banyak penulis, sehingga jadi proyek paling besar dan ambisius yang pernah kita lakukan di Elevation Books. Ada beberapa naskah yang belum sempat dikerjakan, mungkin untuk rilisan berikutnya.

“Sudah lama di Indonesia tidak ada pressing plant, hampir 60 tahun. “

Membicarakan pressing plant vinyl, menarik juga kolaborasi PHR dan Elevation Records yang akan membuat pabrik vinyl pertama di Indonesia. Bisa elaborasi sedikit mengenai gagasan dibalik kolaborasi tersebut?
Jadi kita tahu kan di Indonesia itu masalahnya ga ada pressing plant. Pressing plant terakhir yang ada di Indonesia itu tahun 1973, lalu diganti jadi pabrik CD dan kaset. Sudah lama di Indonesia tidak ada pressing plant, hampir 60 tahun. Masalah konkret di Indonesia adalah: banyak band dan label yang ingin cetak vinyl di Indonesia itu tidak ada sarana nya. Rilisan kompilasi Panbers hampir 2,5 tahun karena cetak di luar negeri, buang waktu hanya untuk 300 kopi saja. Akhirnya kami berpikir bagaimana kalau kita bikin saja pressing plant nya? Ide ini sudah kita obrolkan dengan PHR dari 2019, dan kita sudah bikin proposal disebar ke teman-teman untuk chip in, karena mesin nya itu mahal sekali untuk ukuran UKM. Karena modalnya besar sepertinya tidak banyak yang berminat. Ternyata di Jakarta itu sudah ada pabrik vinyl sejak 2019-2020, tapi dia tidak terbuka dan hanya menerima order dari rekan yang dia kenal saja. Karena mesin sudah beroperasi, secara cost lebih simple kalau saya dan PHR take over pabrik ini. Jadi akhirnya joint venture nya hanya berdua saja. Karena ongkosnya tidak sebesar membeli mesin dan membangun dari nol.

Apakah Adele yang memonopoli pabrik vinyl di seluruh dunia menjadi salah satu alasan anda untuk membuat pabrik sendiri? Hahaha..
Sebenarnya kasusnya sama dengan Metallica. Karena Metallica sudah sering press vinyl mereka di pabrik tersebut, dan hampir 80% kuota pressing pabrik tersebut dari Metallica, akhirnya pabrik tersebut mereka take over. Point nya adalah pressing plant di seluruh dunia itu menerima order ratusan ribu sampai jutaan dari Taylor Swift, Adele & Metallica, mencetak 300 keping itu pasti masuk di urutan belakang. Dan itu yang membuat survival atau upaya menghidupkan lagi vinyl menjadi kompleks buat orang-orang kecil seperti label kita yang tidak punya akses ke pressing plant. Karena order untuk artis-artis mainstream itu gede kan, dan pada akhirnya numpuk di toko dan gudang karena over supply dan gak laku. Siapa sih yang suka banget sama Adele sampe beli vinylnya? Musiknya kan gak terlalu mewah atau complicated sampai harus didengar di vinyl, cukup di Spotify saja haha..

“Tulisan saya ga penting-penting amat dan yang baca juga sepertinya tidak akan banyak, saya ga yakin kalau ditawarkan ke penerbit besar akan ada yang ambil dan menerbitkan secara baik dan benar. Jadi akhirnya self-publish”

Jujur walaupun mengoleksi vinyl, saya lebih banyak mendengar musik via streaming ketika sedang bekerja atau berkendara. Vinyl mungkin hanya didengar beberapa kali saja pas baru membeli. Apakah mas Taufiq begitu juga? Dan menurut survey 50% konsumen vinyl di Amerika bahkan tidak memiliki playernya. Apakah vinyl hanya menjadi semacam berhala untuk beberapa orang?
Sebenarnya lepas dari masalah diputar atau tidaknya, vinyl itu terdengar lebih bagus kalau turntable, jarum, kabel dan speaker nya memang benar. Kalau hanya dengan turntable 2,5 juta lebih baik didengar via Spotify saja. Tapi apapun itu motivasinya, saya pikir vinyl itu penting. Kalau sekarang itu metode terbesar penyaluran musik itu kan via streaming, dan streaming itu tidak ada uangnya. Label dan band kecil itu untuk dapat 1000 stream aja susahnya setengah mati, dan 1000 stream itu hanya bernilai 10 sen. Musik dari format streaming itu ga ada uangnya. CD juga turun banget karena format nya digital. Orang udah ga beli CD lagi. Memang vinyl yang trend nya naik terus, jadi yang menjanjikan potensi revenue bagi label dan artis adalah vinyl. Terserah mau diapakan vinylnya oleh konsumen, tapi sumber pendapatan untuk label, artis dan ekosistem adalah vinyl. Sah-sah aja kalau kita memperjuangkan keberadaan vinyl, karena alternatifnya lebih buruk.

So far wishlist vinyl yang belum kesampaian apa saja?
Kalau untuk vinyl-vinyl musik barat yang mainstream sepertinya sudah terkumpul semua. Jadi wishlist saya lebih banyak ke musik Indonesia lama, musik eksotis Mesir atau wold music Africa ‘60-’70an.
Ada band Zambia namanya Witch saya belum dapat sampai sekarang.
“Badai Pasti Berlalu” karena sudah ga mungkin lagi didapatkan haha..
“Semalam Di Malaya”-nya Syaiful Bahri, album Irama tahun 1963, masuk ke list 50 album terbaik Indonesia
The Byrds yang “The Notorious Byrds Brothers”, album terbaik mereka menurut saya.
Koes Plus yang “To The So Called The Guilties”.

Pertanyaan terakhir, apakah sebaiknya semua orang mempunyai waktu khusus untuk meng absorb sebuah album musik? Karena jaman sekarang musik bagi kebanyakan orang itu adalah untuk menemani berkendara, bekerja atau kegiatan lain nya..
Sama lah, kayaknya pengalaman kita sama lah. Selalu ada musik di belakang tapi itu lebih ke background music. Tapi kayaknya memang perlu waktu sendiri untuk mendengar musik itu. Kalau saya rutin setiap pagi ketika pikiran belum terlalu kotor, nyalain satu album full. Kalau weekend mungkin 1-2 jam full didepan sound system tanpa ada HP atau distraksi. Karena itu penting untuk mencari keseimbangan dalam hidup yang semakin banyak distraction kan? Cuma memang agak susah untuk mencari waktunya. Mungkin itu seperti pengalaman religius.

Last shouts untuk pembaca?
Dunia itu semakin banyak distraksi, musik tidak dianggap serius lagi. Sebagai akibatnya orang lebih memilih untuk mendengar via streaming, itu mungkin nyaman tapi tidak menimbulkan efek yang baik untuk label, artis dan para pekerja di bidang musik. Mereka gak dapet apa-apa. Mendengar musik itu lebih baik ada barang fisik didepan kita yang dipegang, dimasukin di CD tray atau ditaruh di turntable, sehingga musik masih mendapat penghormatan dan arti. Semua punya pilihan bebas tapi lebih baik membeli format yang menghargai dan memberi arti bagi seniman nya. Beli vinyl aja gapapa, walaupun belum punya turntable atau turntablenya belum bagus.

 

Text by Aldy Kusumah
Photos from Taufiq’s archives

Bekerja sama dengan Greedy Dust Records Eastcape, baru saja merilis singel terbaru mereka berjudul “Bloom in Time” . Singel ini menjadi batu loncatan bagi mereka menuju perilisan EP pertama yang akhirnya dirilis pada tanggal 16 Juni 2023 dengan judul “Falsified Pleasure, Blessing Given”.

Dalam EP ini, Eastcape berusaha untuk menampilkan sisi romantis yang lebih dalam dengan menyelipkan narasi personal pada setiap lagunya. Terdiri dari 5 lagu, dimana 2 diantaranya merupakan lagu instrumental, EP ini menegaskan posisi mereka sebagai kuartet Midwest emo.

EP ini telah dirilis di semua platform online dan akan dicetak dalam bentuk kaset oleh Greedy Dust & Haum Entertainment.

 

Humblezing merilis koleksi Yari 3L Technical Jacket yang akan menarik minat para pecinta kegiatan outdoor. Meskipun terlihat seperti jaket biasa pada pandangan pertama, Yari memiliki berbagai detail rumit yang membuatnya unggul dibandingkan dengan jaket sejenis lainnya. Humblezing juga menghadirkan pilihan warna yang lebih berani dan beragam, sepertiolive, midnight blue, petrol, dan terracotta, yang memberikan nuansa unik dan membedakannya dari produk sejenis lainnya di pasaran.

Yari dilengkapi dengan tali serut tersembunyi yang umumnya hanya ada pada pakaian luar ruangan mahal. Dengan bahan yang berkualitas jaket ini mampu mengatur suhu tubuh dengan baik, memberikan kehangatan tanpa mengurangi sirkulasi udara, serta memiliki ritsleting yang tersembunyi dengan rapi untuk memberikan estetika yang elegan saat dikenakan. Yari 3L Technical Jackesaat ini sudah tersedia melalui situs web resmi Humblezing, e-commerce, dan toko offline di Jalan Pulo Laut 9, Bandung.

Seperti apa yang Grimloc lakukan di kompilasi New Evidence yang dirilis di tahun 2022, kali ini New Evidence II telah hadir, tentunya berisikan 12 tracks dari 12 acts yang berbeda. New Evidence adalah sebuah usaha Grimloc untuk memperlihatkan “new blood” yang telah dikurasi oleh mereka. Menurut press release nya, New Evidence II adalah sebuah scene report tahunan berbentuk kompilasi. 14 track dalam kaset berdurasi 40 menit ini full of bangers, dan tidak ada filler disini. Semua bagus dalam karakternya masing-masing. Beberapa track favorit disini adalah Arrived Consilium dengan vokal perempuan yang powerful dan unik. Bricks juga cukup menarik, dengan aransmen hc/punk ‘80an yang raw. Track penutup kompilasi ini dipersembahkan dari Flyzad, hip hop Minang dengan musik jazz ala film noir, yang juga merupakan roster dari Grimloc.

Varian genre disini cukup luas: kamu bisa menemukan hardcore metal ‘90an dari Revival Mode dan Single Drop, agresivitas punk ‘80an dari Reticent, Bottled Violent, Dazed, dan Bricks, hardcore/punk dari Nousonix, d-beat crust gelap Harm dan Arrived Consilium, hip hop instrumentals dari Ways, rap Minang-noir Flyzad, hingga ramuan black metal post-rock dari Grimoire. Menurut press release dari Grimloc pun kompilasi ini adalah semacam “scene report”, dan tentunya bukan satu-satunya: “Kita bisa menemukan generasi baru di banyak daerah yang membuat band, mengorganisir gigs mandiri, mendistribusikan rilisan, berjejaring, membentuk komunitas, mendiskusikan gagasan dan mempraktekan ide-ide. Kompilasi ini merupakan upaya tahunan kami mendokumentasikan yang kami bisa. Mirip sebuah scene report di Bandung, versi kami. Dan tentu saja bukan satu-satunya versi.”. Seperti rilisan Grimloc lainnya, kompilasi ini di mastering untuk format kaset oleh Hamzah Kusbiyanto. Departemen artwork & graphic design oleh Herry Sutresna. Big ups untuk Grimloc yang “digging” dan mengkurasi band-band/artist newcomer ini. Semoga Grimloc tetap merilis kompilasi New Evidence setiap tahun nya dan tetap menjalankan tradisi “annual scene report” ini.

SIDE A
01. REVIVAL MODE – ALL OVER
02. RETICENT – WASTING TIME
03. BOTTLED VIOLENT – BOTTLED VIOLENT
04. ARRIVED CONSILIUM – SELF-INTROSPECTION
05. WAYS – BADMAN
06. BRICKS – LURKING
07. HARM – AIN’T WORSHIPPER
08. SINGLE DROP – AKSI BALISTIKA

SIDE B
01. NOUSONIX – PERISHED
02. DAZED – MANIPULATION NEWS
03. GRIMOIRE – VALAR OF ETERNAL DEVOTION
04. FLYZAD – DIKSI REDUKSI

Berawal dari proyek visioner yang diprakarsai oleh Angga Kusuma (Asiaminor/SSSLOTHHH/Billfold/Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy/Rock N’ Roll Mafia) yang ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar belum pernah mereka lakukan dan berbeda dari band-band mereka sebelumnya. Dengan bantuan Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) proyek ini dikenal dengan nama Suissac. Nama “Suissac” sendiri terinspirasi dari petinju legendaris Muhammad Ali, yang memiliki nama asli Cassius Clay. Dengan kecerdikan, mereka membalikkan nama depan “Cassius” untuk menciptakan julukan unik “Suissac”. Terikat oleh gairah musik yang sama, keempat individu ini memulai perjalanan untuk menembus batasan-batasan musik rock.

Chrome Colosseum menceritakan kisah kehidupan, menggunakan Colosseum sebagai representasi metaforis dunia, dimana seseorang harus bertarung dan bertahan hidup. Suasana chrome/mirror memungkinkan individu untuk merefleksikan diri mereka sendiri. Dalam narasi yang hidup tentang Chrome Colosseum, kehidupan diibaratkan sebagai pertarungan sengit di dalam dinding-dinding luas Colosseum. Ini menjadi arena simbolis, di mana individu harus terlibat dalam pertempuran tanpa henti untuk bertahan hidup dan meraih kemenangan.

Setelah merilis single “Spoiled” beberapa waktu lalu, Denisa secara resmi telah merilis album keduanya bertajuk “St. Bernadette,” pada tanggal 16 Juni 2023. Album ini menampilkan persembahan visual dan bunyi yang menggambarkan hubungan antara kehidupan dan kematian. Denisa menjelaskan bahwa album ini bukan hanya tentang antikristus atau nilai-nilai agama, melainkan tentang pahitnya perjalanan mencari makna. Album ini berisi 10 lagu yang merangkum pengalaman Denisa dalam hidup, mulai dari masa kanak-kanak yang terasing, remaja yang kacau, jatuh cinta yang belum matang, hingga penerimaan akan kematian. Solois asal Jakarta ini mengungkapkan bahwa “St. Bernadetta” mencerminkan bagian-bagian kecil memoar pribadinya yang memberikan makna besar.

“St. Bernadette” diproduseri oleh Haecal Benarivo dari Morgensoll dan Denisa sendiri. Adam Bagaskara dari Pelteras juga berkontribusi dalam beberapa lagu. Denisa mencampurkan berbagai referensi musik, mulai dari pendekatan vokal pop hingga bunyi gitar yang berat dan depresif, menciptakan suasana yang muram di album keduanya ini.

Denisa menjelaskan bahwa judul album diambil dari sosok St. Bernadette Soubirous, seorang wanita kuat yang menemukan pencerahan melalui pengakuan dan penebusan dosa meskipun meninggal dalam penderitaan pada usia muda. Denisa merasa terhubung dengan konsep ini karena mengalami penderitaan yang membawa sedikit cahaya terang dalam hidupnya. “St. Bernadette” merupakan hasil eksplorasi tulisan-tulisan Denisa yang lebih puitis dan alkitabiah.