Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu "Pasoepati" menjadi "Sambernyawa" sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu "Sambernyawa" yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
Setelah beberapa kali berkolaborasi dengan seniman dan beberapa brand, kini PERSIS berkolaborasi dengan unit hardcore metal, Down For Life, untuk merilis produk baru melalui PERSIS Store. Mereka ingin menerjemahkan ide kolaborasi ini untuk memperkuat hubungan dengan para penggemar Laskar Sambernyawa. Rilisan ini termasuk berbagai produk seperti jersey, topi bucket, jaket, celana track, dan syal. Jersey kolaborasi ini menjadi yang pertama di Indonesia antara band musik dan klub sepak bola, terinspirasi oleh kolaborasi serupa di kancah internasional.
Jersey PERSIS x Down For Life didominasi oleh warna merah khas PERSIS dengan motif hitam dari karya seniman lokal Jahlo Gomes. Warna emas juga ditambahkan untuk merayakan momen perayaan 100 tahun PERSIS dengan tema The Glorious Century. Identitas Down For Life yang terkait dengan musik metal juga terlihat melalui motif kawat berduri pada kerah jersey. Selain produk fashion, Down For Life juga merilis ulang lagu “Pasoepati” menjadi “Sambernyawa” sebagai bagian dari kolaborasi ini. Lagu ini direkam di Yogyakarta dan video musiknya diproduksi oleh Tim Media PERSIS.
Produk kolaborasi PERSIS x Down For Life akan tersedia mulai 10 Juni melalui marketplace dan toko fisik. Pembeli pertama sebanyak 200 orang akan mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan peluncuran lagu “Sambernyawa” yang akan digelar oleh Down For Life. Kolaborasi ini menjadi langkah PERSIS dalam menjalin koneksi lebih dekat dengan penggemar dan merayakan identitas klub serta kota kelahiran mereka.
UH! Adalah salah satu brand asal Bandung yang sudah dirintis dari tahun 2012. Identitas brand dengan kepanjangan United Hart ini selalu identik dengan kultur skateboarding dan streetwear yang cool. Attention to detail dari setiap produk pun selalu meningkat di setiap koleksinya, dan terlihat juga kalau mereka berani membayar lebih mahal ke vendor untuk menyuguhkan produk-produk dengan bahan dan detailing terbaik, tanpa melupakan fungsi dan kenyamanan nya. Mari berbincang dengan Indra mengenai video-video skate favorit dan brand-brand yang menginspirasinya.
Halo Ndra! Apakabar si UH! Sekarang? Sedang membuat rencana-rencana apa saja?
Halo JEURNALS! Kabarnya baik, dan menyenangkan. Ada beberapa rencana baru dan rencana lama yang belum terselesaikan sih.. Rencana baru itu bikin rilisan season baru dan campaign yang sesuai sama temanya (standar lah ya..), cuma kali ini pengen ditemani rilisan fisik yang bukan wearable/apparel gitu. Rencana lama sih pengen beresin video skate parts nya si UH, biar bisa segera rilis juga.
Bisa ceritain gak sedikit histori si UH! Dari awal sampai sekarang pindah toko ke 996 Council?
UH! dimulai di 2012, waktu itu masih sambil jaga toko di denim store namanya Mischief. Sempet nitip produk juga di Mischief.. Alhamdulillah rilisannya dapet respon bagus jadi bisa terus ngembangin. 2013 ijin cabut dari Mischief, terus fokus ngembangin si UH!, di 2016 dapet ajakan dari Om Dendy buat ngisi space di Tirtayasa, bikin toko lah disitu, Spacenya kecil, terus waktu itu experience interiornya sedikit cukup asing untuk toko yang jual apparel, minimal, moodnya monochromatic, dan produk yang dijualnya cuma dikit. Tapi alhamdulillah ternyata dapet apresiasi juga. Toko sempet tutup di 2022, mungkin sebagai bagian dari adjustment of the great reset; Pandemi Covid19. Terus awal 2023 diajakin Masluk buat isi space di 996 Council, tempatnya sangat menarik, di tempat “keramat†movement-nya clothing brand independen Bandung / Indonesia; Jl. Trunojoyo, sebelahan sama UNKL, record store, coffee shop, sama skateshop juga. Jadi kesempatan juga buat bikin toko yang interiornya berbeda dari yang sebelumnya, kali ini lebih ekspresif. Tapi tetap dengan moodnya UH! sih.
Kenapa memilih nama United Hart? Brand-brand apa yang menginspirasi lo awalnya untuk buat brand sendiri?
Nama United Hart sendiri sebenernya hasil akhir dari pemikiran: pengen bikin brand, yang nama-nya kalo dibaca, dilihat dan didengar oleh orang lain yang nyebut tuh kaya memancing respon. -Dan bisa juga sebagai ekspresi yang exciting-. Di logonya pake tanda seru dan underscore, kaya calling your attention gitu haha. Jadilah UH!, nah tapi mikir harus ada sesuatu yang berarti juga dari huruf itu, jadilah United Hart.
Hart itu rusa jantan yang umurnya udah 5 tahun, yang tanduknya udah jadi sempurna. Itu tuh hewan khusus yang hanya boleh diburu sama keluarga kerajaan Inggris disana. Doesn’t mean im a fan of royals or monarch or even the hierarcy things, tapi sepertinya itu cocok aja, kaya jadi ada kesan eksklusifnya gitu wkwk.
Brand yang sangat menginspirasi itu FUCT sih, dapet banget spirit kumaha aing-nya teh. Itu sesuatu yang menurut urang sangat fundamental. Selebihnya, pada waktu itu, brand-brand yang secara kultur produksi sangat memperhatikan detail dan kualitas ya.. Ya yang mereka juga sebenernya terinspirasi dari si FUCT, kaya Wtaps, NBHD dan lain-lain..
Apa pendapat lo tentang trend diskon sekarang ini? Tertarik untuk mengikuti trend tersebut? Atau menurut lo trend tersebut hanya angin lewat?
Trend diskon? Damn. Hahaha. Kita, yang lahir dari lingkungan kreatif – independen, membuat brand dan produk itu, menurut urang adalah sebagai hasil dari aktualisasi kreatifitas kita yang berasal dari lingkungan kreatif – independen tadi. Tapi sekarang teknologi sangat infiltrating, sampai mengubah perilaku dan persepsi pembeli, yang menyamarkan message atau spirit yang di carry sama brand-brand tadi, dan trend diskon ini seakan mempercepat proses pergeseran itu. Tapi i’m not complaining, kalo saya bilang sih teknologi mah tools, ini mungkin bagian dari proses pergeseran tadi, karena memang tak terhindarkan. Kita ga anti juga kok, kita ngebaca ini sebagai challenge, dan kita harus mampu jawab challenge itu, bukan keukeuh dan tenggelam dalam romansa sebelumnya. Tapi yang pasti menurut urang, identitas dan karakter yang kuat dari sebuah brand ga akan dikalahkan oleh trend diskon. Kita (brands) cuma harus bisa memanfaatkan tools baru ini aja.
Koleksi terbaru lo terlihat referensi Y2K culture dengan bermain dengan oversized cargo pants, parasut dan warna-warna neon. Konsep design dan fashion apa yang sedang lo kejar dan sukai akhir-akhir ini?
Eh baru-baru ini gw kepikiran, kayanya memang secara natural kita bakal mengapresiasi hal-hal 20+ tahun yang lalu deh, iya ga sih? Yang asalnya kita tinggalin, setelah dari jauh malah jadi terlihat menarik haha. Itu sebenernya jawaban kita dari gimana caranya bikin pakaian yang enak buat urban commuting, (since we are all now mostly kegiatan sehari-harinya memang di urban kan), enteng dipake harian, trus yang pasti harus enak dipake skating.. Nah sisanya, kaya konstruksinya, disesuaikan. Dan kalo ada warna neon-nya itu biar ada yang stand out aja sih dari overall background color si produknya
Apa kelebihan UH! dibandingkan brand-brand sejenis lain?
Gatau hahaha.. Itu mah netizen yang memutuskan hahaha.. Duh apa yah haha.. Mungkin mau bayar biaya produksi lebih mahal ke vendor, karena request kita suka banyak haha.
Apa kekurangan UH! dibandingkan brand-brand sejenis lain?
Nah, itu juga bisa jadi kekurangan.. Karena biaya produksi yang, setelah riset, lebih tinggi dibanding yang lain, kita juga jadi terbebani harus jual dengan harga yang sesuai dengan modal produksi yang dikeluarkan. Kita tau ada cheaper way, tapi kita sendiri yang pasang standar tinggi untuk sebuah detail dan kualitas untuk produk kita sendiri. Ga bilang yang lain lebih jelek, tapi kita yang milih materialnya paling bagus yang tersedia di supplier. Suka kabita sih liat brand-brand yang, dengan pilihan material dan detail, dan pricing yang mereka, mereka terlihat lebih basahh… Tapi kita tau masing-masing punya challenge-nya sendiri-sendiri. Jadi kita tetep berusaha enjoy aja sih dengan pilihan kita. Jadinya seringkali harga jualnya terlihat tak se-affordable yang lain.
Padahal secara visual produknya mungkin terlihat banyak yang sejenis. Apalagi di era digital sekarang, milih-milih itu kebanyakan dari layar hape. Jadi terlihat mirip-mirip aja, tapi harga beda jauh.
Photo by @iyofrd
Pertanyaan terakhir: apa lo menganggap UH! sebagai brand skateboard karena lo tumbuh di culture itu?
Kalo ngobrolin skate brand atau bukan itu terasa tidak ringan, karena pemahaman gw dulu, skate brand itu harusnya titik distribusinya itu di skateshop, idealnya punya skate team dari yang di flow, endorse, dari amateur sampai pro. Rajin rilis video parts, punya full-part, rilis parts-parts riders nya. Meskipun skater-owned and skater-operated, gw ga berani klaim UH! itu skate brand, tapi yang pasti, UH! ada skate-team, ada riders yang diflow dan yang digaji, dan kita lagi beresin video-parts… Kita baru pulang dari Jakarta dalam rangka filming buat kumpliti video parts, insyaAllah tengah tahun ini mau rilis.
Bagi gw personal, bisa colongan skating pulang kantor sebelum kebagian jadwal pegang anak dirumah itu juga udah alhamdulillah hehe. Dan berusaha terus membuat sesi sesi colongan itu.
Pertanyaan terakhir: 5 video skate favorit lo dan alasan nya?
1. Salah satu yang paling gw inget itu dulu partnya Toy Machine, karena pertama tau Explosions In The Sky gara-gara nonton video itu, lagu ‘First Breath After Coma’ di outronya.
2. Lakai yang Fully Flared, bertabur bintang pada masanya.
3. Ray Barbee – Ban This, that flow while cruising the street..!!
4. Oski – Orange Label parts, rilisan Nike SB. Ini bisa memancing polemik sih haha, disuruh milih video part favorit malah masukin parts yang dirilis Nike SB. Tapi bebaskeun.. Part nya Oski disini terasa resonates, flow di transisinya wheewww..
5. Terakhir itu Polar yang I Like It Here Inside My Mind, Don’t Wake Me This Time.
Video-video nya Polar selalu menginspirasi, big love!
Text by Aldy Kusumah Photo by @iyofrd, @farhanfadx & United Hart’s archive
Setelah merilis dua single “This Feeling” dan “Don’t Want This to Be Over” beerapa waktu lalu, pada Jumat (2/5) White Chorus secara resmi merilis album penuh kedua mereka yang bertajuk LIMBO. Menurut duo electronic asal Bandung ini, LIMBO mencerminkan campuran frustasi, keputusasaan, dan spektrum emosi yang mereka rasakan baru-baru ini. Mereka menggabungkan unsur-unsur pop elektronika, dance, R&B, dan rock dengan sentuhan magis, menghasilkan formula musik yang unik dan harmonis. Album ini juga menampilkan kolaborasi dengan beberapa produser ter seperti BF-131131525 (Mamoy dari BLEU HOUSE), Alyuadi Febryansyah (Aldead dari HEALS) yang memberikan nuansa dan perspektif musikal yang beragam.
LIMBO dibuka dengan trek “BLU”, diikuti dengan suasana misterius dalam lagu “Mystery”. White Chorus kemudian menghadirkan lagu-lagu seperti “This Feeling” yang memukau dan “Somerset” yang penuh dengan gelombang emosi. Mereka juga menggandeng Nartok dalam lagu “3AM” dan menampilkan lagu berbahasa Indonesia pertama mereka yang berjudul “Amarah”.
LIMBO dirilis di bawah label Microgram dan juga menjadi bukti keberanian Clara Friska Adinda (whiteskkeleton) dan Emir Agung Mahendra (analogchorus) dalam menembus batasan konvensional melalui musik sebagai proses penemuan diri mereka.
Moutley, baru-baru ini mengadakan acara menarik yang bertujuan untuk menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan gaya hidup di bawah bendera musik. Acara yang bertajuk ‘Chamber of Pleasure’ ini bertujuan untuk menghadirkan kembali kegembiraan dan kebahagiaan yang mungkin telah memudar seiring berjalannya waktu.
Acara Chamber of Pleasure yang diadakan di Tones No.6 Bandung pada tanggal 27 Mei 2023 ini menghadirkan kolaborasi Moutley dengan Namoy Budaya dan Muklay. Pemilihan musik yang cermat, membuat yang datang pada malam itu ke larut kedalam kegembiraan dan juga kebahagiaan.
Bukan hanya di Bandung, Moutley akan membawa Chamber of Pleasure keliling dan berkolaborasi dengan para seniman dari berbagai kota. Dengan memperluas jangkauan acara dan bekerja sama dengan bakat-bakat yang beragam, Moutley bertujuan untuk menciptakan efek domino kepositifan dan kesenangan di berbagai kota.
Nousonix, unit hardcore punk asal Bandung dengan merilis single terbaru mereka yang berjudul “Perished”. Single ini menjadi bagian dari album mereka yang akan dirilis tahun ini dan juga termasuk dalam kompilasi “New Evidence” yang dirilis oleh Grimloc Records.
Dalam karya terbaru mereka, Nousonix menghadirkan musik yang lebih agresif dengan menggabungkan tempo cepat dengan nuansa ala Scandinavian dan Japanese Hardcore. Nousonix awalnya didirikan pada tahun 2018 dengan nama Sonic Reducer, namun sempat mengalami hiatus sejenak sebelum akhirnya kembali dengan formasi baru. Saat ini, Nousonix diperkuat oleh Ucal (vokal), Keniro (gitar), Jurais (bass), dan Aldo (drum).
Sebelum merilis single “Perished”, Nousonix sebelumnya telah mengeluarkan demo berjudul “M.O.B DEMO” pada tahun 2019. Rilisan tersebut tersedia dalam format kaset melalui Necros Records dan juga dapat didengarkan secara digital melalui platform Bandcamp.
Saturday Night Karaoke, unit punk rock asal Bandung, kembali membuat gebrakan dengan merilis single baru berjudul “File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION” Hanya dalam waktu satu bulan setelah sukses merilis single “…Abnormal,” Saturday Night Karaoke menghadirkan lagu baru yang catchy dan poppy. Diproduksi oleh Dennis Ferdinand, lagu ini tetap mengusung identitas musik khas Saturday Night Karaoke yang telah dikenal sejak mereka berkiprah pada tahun 2008.
Dalam lagu ini, SNK masih menggunakan lirik Bahasa Indonesia, yang memberikan tantangan baru bagi mereka dalam menulis lirik yang lebih naratif. Saturday Night Karaoke juga memberikan bocoran bahwa mereka akan merilis beberapa single lain sebagai persiapan menuju perilisan EP mereka di paruh akhir tahun ini.
“File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION” dari Saturday Night Karaoke telah dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital, sementara video musik yang menampilkan banyak cameo dari musisi independen Bandung akan segera dirilis. Prabu, gitaris dan vokalis, menjelaskan bahwa lagu ini menciptakan suasana seperti obrolan santai tentang seseorang yang diidolakan banyak orang, tetapi juga diakui bahwa mereka berbeda dan terlalu keren untuk dapat disaingi.
Dengan premis road rage yang bernuansa komedi, episode 1 Beef dimulai dari premis yang cukup simple. Pertemuan “tidak sengaja†antara Danny (Steven Yeun) dan Amy (Ali Wong) dikarenakan mereka hampir saling menabrak di parkiran toko peralatan rumah tangga. Dari adegan klakson timbul lah chase scene yang dipenuhi adrenaline. Tetapi Beef lebih kompleks dari semua itu. Beef adalah sebuah efek bola salju: dimana sebuah road rage bisa berakibat fatal untuk para pelaku sampai keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Pertemuan 2 orang ini pun membuka trauma masa lalu. Tema-tema yang dipresentasikan show creator Lee Sung Jin disini sebenarnya cukup heavy, karena meliputi depresi, PTSD, class-struggle, bullying, toxic positivity, gap antar generasi, jeleknya komunikasi dalam rumah tangga sampai krisis identitas. Tetapi semua itu dikemas dengan “ringanâ€, lengkap dengan dark jokes, durasi yang padat dan soundtrack yang tepat. Menariknya, pelukis David Choe (yang juga berperan sebagai Isaac) menyumbangkan 9 lukisannya untuk opening setiap episode serial tersebut.
Soundtrack Beef pun yang dipilih oleh Tiffany Anders (music supervisor) adalah radio hits ‘90an akhir sampai ‘2000an awal. Beberapa ada yang cheesy seperti Hoobastank (The Reason), The Offspring (‘Self Esteem’) atau Incubus (Drive). Beberapa ada yang benar-benar nostalgic seperti Bjork (‘All is Full of Love’), Bush (‘Machinehead’) dan Smashing Pumpkins (‘Mayonaise’). Tetapi semua lagu yang tampil disini, apalagi beberapa yang ditaruh di ending credits setiap episodes terasa sangat pas, bahkan berhasil meng-elevate serial TV ini. Mungkin hanya di scene ending Beef episode 1 kamu bisa mendengar Hoobastank yang terasa begitu pas dengan adegan slow motion dan latar ceritanya. Scoring pun dibuat oleh Bobby Krlic yang pernah berkerja dengan Bjork, Goldfrapp dan membuat scoring Midsommar (2019). Overall, menonton 10 episode Beef terasa nyaman dan ringan. Walaupun ada 1-2 episode yang sedikit bermasalah dengan pacing, story arc para karakter disini diliput dengan lengkap dan tidak bertele-tele. Episode 10 mungkin sedikit berat dengan dialog filosofisnya, tetapi you’ll be glad seeing the ending. Tontonlah semua episodenya jika sempat, and tell us what you think.
Dubyouth dan BAP., telah berkolaborasi untuk menghadirkan kolaborasi musik yang memukau dalam single terbaru mereka yang berjudul “JUST DUB IT”. Dalam proyek kolaborasi ini, Dubyouth dengan gaya musik dub/reggae mereka yang santai bertemu dengan nuansa hip-hop yang khas dari BAP., menciptakan sebuah perpaduan yang segar dan unik.
Dubyouth, dengan pengalaman musik mereka sejak tahun 2003, telah menggabungkan berbagai genre musik seperti reggae, dub, oldschool jungle, hip-hop, ragga, house music, dan urban vibe. Di bawah keahlian Heruwa a.k.a Poppa Tee, Dubyouth menciptakan album debut yang sangat dinantikan, “Dubyouth”, pada tahun 2012. Sementara itu, BAP., dipimpin oleh Kareem Soenharjo, telah memperoleh pengaruh dari beragam genre seperti hardcore, punk, jazz, dan LA beat scene. Dengan kepiawaian dalam musik dan penampilan panggung yang mengagumkan, BAP. telah mencuri perhatian di skena musik Indonesia.
Dalam single “JUST DUB IT”, Dubyouth dan BAP. menciptakan suara yang unik dan menyegarkan. Ritme santai ala Dubyouth, bassline dengan sentuhan funk, serta suara synth yang luas, digabungkan dengan ketukan dan sajak yang kuat dari BAP., menciptakan harmoni yang sempurna. Lagu ini menampilkan vokal toasting yang penuh perasaan dari Poppa Tee, yang dipadukan dengan pembawaan rap yang rapat dari BAP., menciptakan lagu yang menyenangkan dan penuh energi.
“JUST DUB IT” merupakan bukti inovasi musikal Dubyouth dan BAP., yang berhasil menggabungkan genre yang berbeda dan menciptakan sesuatu yang benar-benar unik dan segar. “JUST DUB IT” sudah bisa dinikmati di semua platform streaming utama melalui DoggyHouse Records.
MANKIND, merilis koleksi houseware pertamanya yang sangat cocok untuk memperindah dan membuat suasana didalam rumah menjadi lebih tenang. Koleksi menarik ini menampilkan tempat pembakar dupa dan karpet, keduanya menawarkan suasana yang tenang yang dapat disesuaikan dengan berbagai interior.
Dengan mengedepankan nilai sentimental pada sebuah barang yang berharga, MANKIND bekerja sama dengan RAG. Home, pembuat karpet ternama dari Jakarta, untuk memperkenalkan koleksi karpet “Phoenicia” yang memikat. Tersedia dalam nuansa hijau, merah, dan putih-muda, setiap karpet adalah karya unik yang dikerjakan dengan cermat oleh pengrajin terampil di RAG. Home. Konstruksi benang yang padat memastikan daya tahan dan nuansa mewah saat diinjak.
Selain itu, ada juga tempat pembakar dupa yang terinspirasi oleh karakter “Howey” dan “Curtis. Dibuat dari 100% keramik, tempat pembakar dupa ini memiliki palet warna yang halus dengan nuansa beige, merah, dan zaitun, yang dapat dengan harmonis menyatu dengan dekorasi interior apa pun. Dengan lubang asap yang menciptakan efek visual menarik, bagian bawah yang dapat dilepas memudahkan dalam membersihkannya, memastikan kenyamanan bagi penggunanya.
Koleksi houseware pertama dari brand asal Bandung ini sudah tersedia eksklusif secara offline di FONDNESS, dan kalau ingin beli secara onlise bisa langsung kunjungi Thisismankind.com.
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.