Kanina adalah singer/songwriter asal Semarang. Kanina sudah cukup prolifik merilis berbagai single di tahun 2019 (‘Lust’, ‘I Survived Christmas’ & ‘Hell/High Water’ ) dan juga di tahun 2020 dengan maxi-single “The Tide is Nigh, I Dim the Light” yang berisi 2 lagu: ‘Soon Doesn’t Like What’s Coming, While Doesn’t Want to Know’’ dan ‘Lament Song’. Setelah merilis debut album pada tahun 2021 bertitel “Ode to all Odds”, akhirnya Kanina merilis albumnya dalam format CD via Disaster Records di tahun 2023. Mari berbincang dengan singer/songwriter ini mengenai lirik-lirik dan tema gelap yang terdapat di debut albumnya.

“Sejujurnya waktu menulis lagu-lagu ini i was not at a good place jadi mungkin ter-refleksi di beberapa lagunya.”

Halo Kanina! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja nih setelah merilis versi CD dari “Ode to all Odds”?

Kabar baik! Lagi sibuk ngelarin kuliah dan lagi mulai nabung-nabung materi baru buat album kedua sih sebenarnya..

Lo udah merilis “Ode to all Odds” tahun 2021, kenapa baru merilis versi fisiknya tahun 2023?

Awalnya tuh belum kepikiran sama sekali buat rilis fisik apalagi buat merchandise. Waktu itu cuma pengen rilis digital aja, soalnya jaman sekarang CD, vinyl dan kaset itu kan mostly punya value sebagai collectibles instead of diputar gitu kan. Jadi biar lebih praktis merilis digital aja dulu. Lalu makin kesini ada certain kind of pressure untuk bikin versi fisik, dan waktu itu sempat ngobrol sama mas Ucok Grimloc Records. Awalnya mau ngajuin proposal buat dirilis fisiknya sama Grimloc. Waktu itu mereka sedang ga bisa facilitate intinya. Lalu mas Ucok ngarahin ke mas Vidi dan mas Ody dari Disaster Records.

Lo sebelumnya ngeband di Foolish Commander, apa yang membuat lo memberanikan diri untuk membuat album solo? Dari mana ide dan momen “eureka” tersebut?

Sebenarnya ga ada eureka moment hehe.. Tapi mulai nabung materi solo, pertama bikin single dan karena responnya bagus, jadi rilis single lagi dan kemudian single lagi, lalu setelah merasa materinya cukup untuk sebuah album jadi bikin aja, jadi lebih ke step-by-step process sih dibanding eureka moment..

Photo by Nanda

Judul lagu ‘Hell/High Water’, ‘Heist Costs Money’ dan ‘House of Four Rooms’ seperti terinspirasi dari film. Film-film apa saja yang menginspirasi lo untuk membuat lagu atau lirik?

Hahaha iya ya.. Hmm sepertinya kebetulan aja sih.. Aku suka nonton film, mungkin juga secara gak sadar masuk ke cara aku ngasi judul gitu sih. Sebenernya ga suka nonton film perampokan atau heist, cuma karena itu terminologi film jadi cukup familiar aja sih. Single pertama yang aku bikin (‘Lust’) itu malah yang terinspirasi dari film. Dari film romance yang cukup depressing berjudul “Take This Waltz”, dan itu end up jadi lirik di bagian pertama nya. Malah aku belum nonton film “Hell / High Water”…

Beberapa lagu seperti mempunyai tema alienasi, grief dan loss. Pada saat menulis dan membuat album ini, hal-hal apa saja yang yang mendorong lo untuk membuat album yang dark seperti ini?

Hahaha.. Hmm apa ya.. Semua yang ditulis di album ini kan produk dari internal thoughts aku, jadi terbawa aja. To be totally honest waktu menulis lagu-lagu ini i was not at a good place jadi mungkin ter-refleksi di beberapa lagunya.

“Mungkin aku lebih nyaman menuliskan pengalaman-pengalaman yang dark and depressing daripada pengalaman-pengalaman yang menyenangkan..”

Gue pernah membaca sebuah artikel yang membahas kalau Hayao Miyazaki adalah pribadi yang depresif tetapi output karyanya cenderung hopeful dan “cerah”. Sedangkan Satoshi Kun (Perfect Blue) adalah pribadi yang ceria tetapi karyanya cenderung gelap dan depressing. Kalau lo sendiri bagaimana?

Gimana yah hehe.. Menjawab pertanyaan itu cukup susah.. Ya maksudnya mungkin aku pun bukan orang yang one-dimensional, ada saat-saat dimana aku memikirkan hal-hal yang depressing, tetapi ada saat-saat lain juga dimana aku ini menjadi periang dan bright gitu. Mungkin aku lebih nyaman menuliskan pengalaman-pengalaman yang dark and depressing daripada pengalaman-pengalaman yang menyenangkan..

Photo by @rottenslice

Produksi di album ini bagus banget. Siapa saja sih yang turut andil sebagai produser dan lo ajak untuk berkolaborasi dalam mengaransmen album ini? Apa alasan lo memilih para produser ini untuk menggarap “Ode to all Odds”?

Di album ini ada 2 produser, produser utamanya itu Mellonzz / Cosmicburp / Luthfi adianto. Terus dia itu produce almost every song di album ini. Di lagu ‘House of Four Rooms’ ini diproduseri Pitra Prabowo / Mac Dalen. Kalau gue jujur banget sih karena mereka itu teman-teman main dan kami memang punya interest in music, juga sering sharing-sharing musik tertentu juga. Cosmicburp punya interest di music production, kalau Mac Dalen itu interest nya lebih ke sound engineering kaya mixing / mastering. Tapi bukan cuma karena mereka teman main dan cocok, tapi karena menurutku mereka really good at what their doing, and they know their shit.

Ada pengaruh rock, soul, trip hop, elektronika dan sedikit gospel di lagu-lagu lo. Bagaimana lo mendeskripsikan album lo ke pendengar yang belum mendengar album ini sebelumnya? Apakah peleburan genre ini memang lo konsepkan atau mengalir begitu saja saat menulis aransmen nya?

Kalau ngejelasin mungkin aku akan propose mereka untuk dengerin dari awal sampai akhir. Kalau cuma dengar satu-dua lagu doang kaya mereka ga akan fully comprehend the whole genre mish-mash thing. Dari awal pun pembuatan album ini bukan direncanakan jadi album, tetapi dari tabungan materi-materi yang sudah ada dan dianggap coherent untuk dimasukin jadi satu album. Dan aku juga dibantu sama 2 produser ini agar secara produksi semua lagunya masih ngeblend..

Photo by @adtn

Lagu ‘and I’m Not Sorry’ bercerita tentang apa? Bisa elaborasi sedikit?

Hmm.. Permukaan nya sih aku menulis lagu itu karena aku ingin mengadvokasi para penyintas sexual assault. Intinya i’m with them, i’ve been there and i’m with them. Lebih ke political stance aja. Here’s my stance, i’m with these people, so if you can’t agree, i don’t want you to hear my songs if that make sense..

Di single ‘Soon Doesn’t Know What’s Coming..’ lo berkolaborasi dengan Aldrian Risjad dari Sajama Cut. Gimana proses penggarapan lagu dan awal terpikir untuk kolaborasi dengan Aldrian?

Kepikir collab sama Aldrian karena personally i’m a fan. Menurutku dia adalah salah satu musisi dan soloist terbaik di angkatan ku. Aku suka juga cara bagaimana dia menulis lagu-lagunya. Karena jarak jauh, semua dilakukan secara online, dimana dia home recording dari Jakarta dan aku juga rekaman di Semarang.

Di epilog lagu ‘Heist Costs Money’ ada beberapa pertanyaan interaktif yang bisa dijawab pendengar. Apa makna dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Tema lagu ini kalau dari sudut pandang Kanina tentang apa?

Inspirasi besarnya itu dari album ‘Candu Cinta’ Aksan Sjuman. Track terakhir album “Realitas Khayal” itu sama dengan spoken words di lagu ‘Candu Cinta’ tapi semua kata cinta nya diganti drugs atau substance gitu. Kalau maknanya aku kepikiran untuk taruh spoken words itu di akhir di parts yang depressing nya. Sebenarnya ini salah satu hal yang misunderstood atau gimana, cuma yang lagu ‘Heist Costs Money’ ini adalah soal prostitusi. Jadi kaya constant battle yang dialami para prostitutes, dimana mereka membutuhkan uang untuk hidup, tetapi mereka tidak bahagia bagaimana mereka mendapatkan uang tersebut.

Lirik dulu atau musik dulu? Apa lo sudah nyaman dalam membuat lirik berbahasa Inggris atau di rilisan selanjutnya akan ada lagu berbahasa Indonesia?

Lirik dulu sih. Biasanya kalau musik nya itu di jahit atau di combine dari beberapa parts yang sudah ada. Aku perform dan rekam dulu di voice notes hp dulu dalam beberapa parts dan akhirnya dijahit jadi satu lagu. Hmm aku sebenarnya sudah nyaman sih nulis lirik bahasa Inggris, dan belum ada urgensi untuk menulis dalam bahasa Indonesia, dan kurang pede juga dalam membuat lirik bahasa Indonesia, jadi bahasa Inggris dulu sementara..

Karena lo berasal dari Semarang, 5 rekomendasi makanan favorit lo di Semarang?

5 rekomendasi makanan di Semarang: Om Ndut (babi panggang gitu), bebek peking dan ayam panggang Pak Gembul, nasi empal Bu Marie, Gohyang Jib (masakan korea authentic gitu), sama Bakmi Karet Alung.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by Aditya Nugraha @adtn_, @rottenslice & Kanina’s archives

Sunny Summer Day adalah alamarhum Dicki Hermansyah (Voices & Guitar), Arief Norman (Lead Guitar)
, Vicky Stefanus (Bass)
 & Teguh Indraputra (Drums). Ferdy Destrian mengisi vokal pada dua dari tujuh lagu di album ini (‘There is a Way’ and ‘Symphony of Lights’). Album ini adalah kisah almarhum Dicki Hermansah dan istrinya yang melakukan perjalanan ke Hong Kong pada tahun 2017. Seharafiah judul “Dreams & Memories”, album ini berisi mimpi dan kenangan yang mereka buat, yang lalu dituangkan ke dalam beberapa lagu di album ini. Lagu yang secara konseptual lebih raw atau ‘kotor’ namun tetap nyaman untuk didengarkan. Produksi yang matang membuat album berisi 7 lagu ini terasa sangat nyaman untuk dinikmati, baik itu di sound system “hareeng” kamu , di mobil ataupun menggunakan earphone telepon genggam.

 

Dibuka oleh ‘Memories’ dengan intro basslines yang catchy, kemudian disambut oleh gitar jangly yang melodious. Entah kenapa, tipe-tipe lagu seperti ini selalu mengingatkan pada Bandung era tahun 2000an. Aransmen lagu ‘Memories’ cukup menarik, karena setelah intro instrumental dan verse, lagu pun ditutup oleh outro yang sama dengan intro. Short and sweet, dan pastinya akan membuat pendengar mengulang track ini. Track 2 berjudul ‘Pearl of Orient’, yang dari judulnya tentu bercerita mengenai kota Hong Kong tersebut. Dibuka oleh intro gitar yang shoegazing dan drumming pattern yang menarik, sedikit mengingatkan pada For Tracy Hyde. Ini adalah lagu favorit di album ini. Durasi 3 menit pun terasa singkat di lagu ini.

‘There is a Way’ adalah sebuah lagu indie pop ala Sarah Records, dengan sound modern. ‘Dusk and Moon (夕暮れと月)’ adalah sebuah track yang menarik, dengan lirik berbahasa Jepang dan diisi vokal perempuan dari Nana Furuya (Charlotte is Mine) yang membius, membuat vibes nostalgia semakin terasa. Track ke 5 ‘Spider Tale’ kembali menaikkan tempo album dengan drumming yang upbeat nya. Sound gitar di lagu ini terasa warm dengan setting drive dan reverb yang pas. Renyah sekali. SSD kembali menurunkan tempo di lagu ‘Symphony of Lights’. Untuk lagu ini tidak terlalu spesial, apalagi jika dibandingkan dengan 6 lagu lainnya yang benar-benar bagus. Track penutup ‘Tomorrow’ sangat menarik, dimulai dengan sinkop drumming dan pattern gitar yang sedikit ehm.. Math rock. Distorsi dan wall of sound shoegazing di lagu ini pun terasa pas membalut aransmen menjadi sedikit droning. Sebuah track yang sangat pas untuk menutup sebuah album yang juga menjadi tribute untuk almarhum vokalis terdahulu, Dicki Hermansah. Seolah mengucapkan selamat tinggal tapi tetap menyambut hari esok dengan penuh passion.

Tracklist:
1. Memories
2. Pearl of Orient
3. There is a Way
4. Dusk and Moon
5. Spider Tale
6. Symphony of Lights
7. Tomorrow

Text by Aldy Kusumah

Tentunya jika membicarakan spot-spot tempat ngopi, di Bandung sudah sangat umum dan berjamur, mulai dari coffee shop yang klasik, modern bahkan franschise yang membosankan. Setelah berhibernasi, kedai kopi milik Gania Alianda dan Brez ini hadir kembali dengan konsep baru, menu-menu baru dan tentunya design interior yang fresh. Dengan tagline Hi-Fi Coffee Bar, selain menjadi coffee shop, kamu akan dimanjakan dengan kurasi musik dan sound system yang memadai. Tidak main-main, mereka menggunakan turntable MK3, ampli McIntosh, dan speaker JBL 4311B + JBL 4642A yang langka.

Rupanya Mental Vacation juga terinspirasi dari listening bar ala Jepang, yang lebih berfokus kepada kurasi musik dan suara yang dihasilkan oleh perangkat sound systemnya. Kamu juga bisa digging dan membeli koleksi piringan hitam yang tersedia disitu. Tentunya interior pun sangat aesthetic, apalagi dengan banyaknya mainan, tanaman indoor, poster-poster, foto-foto dan furniture yang ditampilkan disitu. Untuk kamu yang ingin membuat acara pop-up atau spinning session juga bisa disini, karena pada hari-hari tertentu, akan ada selektor yang akan bermain langsung selagi kamu menikmati segarnya Eskosu signature dan mocktails khas mereka. Segera kunjungi Mental Vacation di Jl. Perintis 92, Sarijadi, Bandung (9am-10pm) dan follow IG mereka di @mentalvacation.bdg.

 

Text by Aldy Kusumah
Photo by @acaffeinman

Brand asal bandung, Bodypack, kembali merilis seri tas bernuansa over-pocket. Koleksi yang diberi nama Exodus Series ini memadukan material XPac dan polyester yang memberikan kesan bold dan stylish.

XPac sendiri adalah kain berkualitas yang diproduksi oleh Dimension-Polyant, yaitu produsen kain yang bermarkas di Jerman dan Amerika Serikat. Kain ini mulanya digunakan sebagai kain kapal layar yang anti air dan memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan tekanan. Maka dari itu, kain XPac dikenal ringan, kokoh, dan tahan lama. Exodus Series ini terdiri dari 5 jenis tas berbalut paduan warna hijau dan coklat terang.

Bergaransi seumur hidup, Bodypack Exodus Series ini sudah bisa dipesan di marketplace dan website www.bodypack.co.id

 

Photos by Alfian S. Prasetyo

Kuartet R&B/hip-hop The Couch Club dari Bandung mengumumkan perilisan single terbaru mereka “Can’t See Us” sebagai pengantar dari album perdana mereka. Lagu ini menggambarkan pengalaman mereka yang seringkali merasa diremehkan. Bassist Vai Siagian dan vokalis Gally Glitch menekankan bahwa lagu ini menyampaikan pesan kepada mereka yang pernah diragukan, bahwa mereka memiliki potensi besar untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Album perdana The Couch Club akan menghadirkan perpaduan genre musik yang unik, mencerminkan keberagaman dan kreativitas band ini. Mereka berkomitmen untuk menciptakan musik yang menginspirasi, memberdayakan, dan memotivasi pendengar.


Single “Can’t See Us” sudah dapat didengarkan di berbagai platform streaming, dan video musiknya akan dirilis pada tanggal 25 Mei 2023. Informasi lebih lanjut mengenai tanggal perilisan album akan segera diumumkan melalui media sosial band.

Band rock industrial asal Bandung, Koil, telah merilis lagu baru mereka yang sangat dinantikan berjudul “Pecandu N★rkotbah”. Lagu ini resmi dirilis pada Minggu, 14 Mei 2023, dan sudah tersedia di berbagai platform streaming musik. Dalam upaya menebus janji menuntaskan album keempat mereka yang tertunda selama lebih dari dua dekade. Sebelum perilisan lagu ini, Koil telah menghasilkan beberapa seri installment, termasuk album monumental Blacklight dan rekaman ulang lagu lama dalam EP “Lagu Hujan”.

Lagu “Pecandu N★rkotbah” sebenarnya telah diperkenalkan dalam seri installment pertama pada tahun 2020, namun versi yang dirilis saat itu masih dalam bentuk demo yang terbatas. Menurut Donnyantoro, gitaris Koil, lagu ini merupakan sisa penggarapan album ketiga mereka yang sejak lama tertunda, Blacklight Shines On. Setelah melalui perubahan aransemen yang berulang, lagu ini akhirnya mencapai bentuk seperti sekarang dengan sentuhan musik era Blacklight Shines On.

Lirik “Pecandu N★rkotbah” menyentuh fenomena kesalehan sosial dengan nada kritis, sambil tetap menghadirkan ciri khas humor dalam nukilan liriknya ala Otong. Koil tidak hanya merilis satu versi lagu, tetapi juga menyajikan beberapa versi reinterpretasi dengan nuansa yang berbeda.

“Larynx” adalah sebuah lembaran baru dari Kuntari setelah “Last Boy Picked” yang dirilis pada tahun 2021. Sebuah EP berisikan 5 track yang dimainkan oleh Tesla Manaf (Cornet, Sampler, Gitar) dan Rio Abror (Drums & Perkusi). Setelah sebelumnya dirilis oleh netlabel Yesnowave, kali ini “Larynx” hadir dalam format fisik berupa CD, dengan sebuah track tambahan berjudul ‘Stridula’. Dibuka oleh ‘Baopi’ yang terdengar sangat tribal dan eksplosif. Intensitas komposisi di lagu ini bagaikan seseorang yang meledak-ledak dan memiliki moodswings. Permainan drum dan perkusi dari Rio Abror berhasil mengelevate layer-layer instrumen yang dimainkan oleh Tesla. Those two guys can really go hand in hand. Walaupun lebih eksperimental, Tesla pun kembali bermain gitar di track ini. Track ini pun ditutup oleh sebuah suara hewan yang terdengar seperti ingin “berternak”. Track kedua ‘Larynx, Pt. One’ melanjutkan sesi “mating calls” hewan yang ada di menit-menit akhir track pertama. Permainan cornet Tesla di lagu ini terdengar seperti versi liarnya Miles Davis era “Bitches Brew” yang menggunakan efek-efek modern.

Track ketiga adalah ‘Larynx, Pt. Two’ yang berdurasi 12 menit. Track ini tidak akan terdengar out of place apabila dipakai menjadi film score di film-film seperti “Salo”, “Cannibal Holocaust” ataupun film-film bergenre folk-horror seperti “Midsommar” dan “Enys Men”. Overall, “Larynx” adalah sebuah mini-album dengan konsep yang dinamis dan fluid. Dari intensitas komposisi dan output yang bisa kita dengar di EP ini, saya bisa membayangkan Tesla dan Rio mengurung diri di sebuah tempat dan mengerjakan album ini dengan jamming yang dilanjutkan dengan sesi workshop, dari pagi sampai pagi lagi. Lalu merekamnya dengan berbagai revisi pada aransmen maupun eksplorasi sound. Setelah mendedikasikan dirinya memproduce beberapa album jazz, world music, neo-classical, Tesla pun mem-followup eksperimennya dalam menciptakan teknik embouchure yang tidak ortodoks untuk cornet/terompet. Menurut press releasenya: “Tujuannya adalah untuk meniru suara perkawinan hewan dan makhluk fiksi raksasa. Menggabungkan suara primal tersebut dengan irama Hadrah Kuntulan Banyuwangi, dan Sar Ping/Barongsai (tarian barongsai) Bali-Cina. Dan dengan sengaja mengaibaikan not.”. Whoa. Simak juga bonus track ‘Stridula’ yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan 4 track sebelumnya.

 

Text by Aldy Kusumah

Aneka Ria Petaka adalah inisiasi dari Vidi Nurhadi (Maternal Disaster) yang mengajak kedua sahabatnya: Alexander Benedict, seorang arsitek / illustrator dan Krowbar, rapper dengan lirik yang (mungkin) sekotor pikiranmu. Kecintaan mereka terhadap medium comic strip menginspirasi mereka untuk membuat 3 karakter sentral yang ikonik dan tentunya meleburkan budaya pop culture dengan kearifan “lokal”. Comic strip yang hadir setiap minggu ini tentunya dinantikan banyak pembaca dan sudah mulai gaining a cult following. Perbincangan yang penuh “insight” ini dilakukan malam hari sehabis Vidi pulang taraweh, dan tentunya ditemani tahu walik favorit Mayatschism yang dibuat secara D.I.Y. Entah dari mana, terdengar sayup-sayup musik dari Coldplay, band yang selalu menghantui Krowbar…

Ide Aneka Ria Petaka ini awalnya datang dari siapa? Dan kenapa namanya Aneka Ria Petaka? SIapa yang mengajak siapa disini?

Vidi: Dari awal sudah pengen bikin comic strip sih 2 karakter tokoh, yang anak hardcore dan anak black metal. Nah pas saya buka Twitter lihat tweet si Bembi (Krowbar) lucu-lucu, kayanya kalau dijadiin komik oke nih.. Lalu nambahin maskot Maternal yang bernama Threat Lord yang mirip grim reaper. Kayanya seru nih bikin komik yang membahas skena, tapi karena website sudah berat jadi di post di Instagram setiap minggu.

Alex: Awalnya lo juga nawarin ke gue dulu tapi selain ngegambar gue juga harus bikin ceritanya jadi weh lila hahaha…

Krowbar: Sama sih ceritanya emang begitu, tapi saya kurang tahu pas jaman Vidi kontak Alex dulu. Lalu Alex ngajakin saya pas habis diajak Vidi..

Saat ini sudah ada 127 edisi komik ARP. Apakah kalian pernah kehabisan ide atau malah sebaliknya? Datang dari mana saja ide-ide liar tersebut?

Krowbar: Kalau ide ga pernah dicari juga. Karena kalau dicari memang ga dapet dan susah. Ini kan hitungan nya kerjaan juga ya, soalnya minggu ada deadline, nah pas lagi dicari malah susah. Habis ide mah engga cuma kalau sengaja nyari malah ga dapet..

Vidi: Sebenarnya sih pengen angkat yang lagi panas dan hangat di obrolan anak-anak, tapi karena si Bembi kuper, jadinya semau dia aja hahaha. Kaya yang kasus Dongker pilkada kemarin juga gak jadi dibikin komiknya. Mau brainstorming di group juga ga aktif, karena ada satu orang yang ga pernah nongol di group hahahah..

Alex: Hahahaha! Soalnya si Bembi nge wa dan group nya di Line, si Vidi di wa lama juga balesnya hahaha..

Untuk Alex, berapa lama biasanya lo menggambar satu edisi ARP? Untuk Krowbar berapa lama biasanya lo menulis satu edisi ARP?

Alex: Sejam palingan juga beres sudah sama kover, cepat soalnya di iPad.

Krowbar: Kadang-kadang kita juga suka telat postingnya jadi hari senin, padahal harusnya minggu.. Tetapi itu karena hal teknis karena saya manggung jumat, sabtu, minggu atau Alex lagi sibuk di proyek atau pameran..

Komik-komik pendek inspirasi kalian bertiga apa saja sih?

Vidi: Kalau dibilang referensi komik justru ga ada sih.. Mungkin inspirasi kita comic strip pada umumnya aja.. Dulu di Tigabelas Zine juga ada komik tuh.. Ya mungkin dari komik-komik yang ada di zine juga sih..

Alex: Sebenarnya ini kan komik kritik sosial mengenai komunitas yang kecil sih.. Selama ini juga belum isu global sih ya.. Semua dilakukan dengan gaya gambar yang gue juga nyaman gambarnya.

Krowbar: Ruang lingkup pembahasan nya kecil sih. Inspirasi comic strip biasa aja sih..

Apakah pernah ada respon lucu atau unik dari pembaca? Misal ada yang ga ngerti punchline nya atau apapun itu..

Vidi: Banyak. Jangankan orang lain, kita aja kadang-kadang ga ngerti punch line nya si Bembi hahaha.. Kadang-kadang Bembi memang punya dunia sendiri dan punchline nya ada yang saya ga ngerti.

Alex: Kadang-kadang gue baca sekali skrip dari Bembi. Lalu gue bikin draft dan lempar ke Bembi lagi sebelum dilempar ke Vidi. Nah pas dibaca Vidi, si Vidi nih biasanya jadi polisinya. Yang udah kena sensor Vidi banyak juga sebelumnya. Banyak nih uncensored nya sebenarnya. Kadang Bembi nanya ke gue “aman ga nih Lex?” nah gue bilang aman aja. Taunya kata Vidi “wah ga bisa ini brutal teuing!” hahahah…

Vidi: Tapi kebanyakan sih orang-orang marah di komen, gara-gara cerita yang CD Coldplay diludahin.. Padahal saya suka Coldplay, tapi karena Bembi ga suka yaudah gapapa dong.. Banyak juga yang saya kurang setuju tapi karena deadline yaudah sikat hehe..

Alex: Nah gue juga kebetulan agak kurang suka Coldplay hahaha..

Krowbar: Hahahahha! Padahal kan saya cuma bercanda sih.. Tapi kagetnya ternyata banyak yang nunggu komik si Aneka Ria Petaka ini sih setiap minggunya. Entah nunggu komiknya atau komen-komen nya hahaha..

So far, jika dilihat dari likes dan comment, komik edisi mana yang paling sukses secara engagement? Kalau edisi favorit kalian masing-masing yang mana dan kenapa?

Krowbar: Biasanya yang engagement rame sih kalau ada yang marah-marah di komen. Tapi kalau sosial media sih kaya gitu sih ya, kalau hal yang ga ada yang ributnya ya gak akan rame. Ya kita juga niatnya bukan pengen bikin rame, cuma yang menurut kita keren aja. Favorit saya sih yang nyela-nyelain Coldpay sih..

Vidi: Bukan pengen bikin konten dan jadiin rame juga sih. Malah ada beberapa yang bakal rame tapi ga kita publish. Soalnya tau sendiri kan si Bembi selalu bermain di ujung jurang hahaha.. Favorit saya yang Beatles nya baru pulang dari TIbet dan mirip Harry Potter, kaya baru kuliah di Hogwarts..

Alex: Kalau edisi favorit gue sih yang kover Darkthrone, yang tenyata orangnya lagi di jamban. Anjir pas gue baca brilian pisan ini hahaha..

Apakah kepikiran untuk membikin format turunan lain ARP? Mungkin menjadi komik fisik, video Youtube atau membuat merch kaosnya?

Krowbar: Iya, rencana nya begitu.

Alex: Iya pengen jadi buku komik lah, anthologi ngumpulin 100 edisi pertama.

Vidi: Sebenarnya proyek tahun kemarin ya ini harusnya. Karena berbagai macam hal.. Tadi barusan aja baru meeting lagi..

Krowbar: Bapak Alex ini baru muncul lagi soalnya hahaha.. Harusnya beres 100 edisi langsung keluar bukunya, cuma yah biasa lah molor kitanya baru ngumpul lagi hahaha..

Vidi: Mau dibikin buku, action figure, merchandise kaos mungkin. Mulai ada pemasukan lah soalnya si ARP ini. Dulu sempat juga kepikiran bikin animasi, cuma kayanya ini aja dulu beresin satu-satu haha..

Sepertinya jika dilihat dari komik-komik ARP, kalian tidak menyukai Coldplay, Radiohead, Nirvana dan Sunn O))). Kenapa? Hahaha. Apa saja sih 3 band/artist yang kalian tidak sukai dan kenapa?

Krowbar: Kalau yang ga ngerti sih banyak, Nearcrush aja saya ga ngerti hahaha..

Vidi: Pamungkas saya ga suka. Kurang suka musiknya, kurang masuklah cengkok nyanyinya. Raissa juga saya kurang suka suaranya. Sama Tulus.

Alex: Peradaban itu Pamungkas kan? Oh bukan ya, atau Feast itu? Gue sih selalu merasa terganggu setiap ada lagu ‘Peradaban’ itu. Teuing lah eta. Oslo Ibrahim itu juga agak absurd. Hindia juga kurang suka saya. Ya selera aja lah ya itu..

Krowbar: Gue gak suka Feel Koplo, soalnya musiknya kagok, kalau mau dangdut kagok dangdut sekalian. Kelompok Penerbang Roket saya ga suka juga karena musiknya kurang masuk di telinga saya. Saya mah ga membenci, saya ga pernah membenci suatu musik cuma emang ada beberapa band yang ga masuk di telinga saya. Band Absar yang baru yang aneh apa sih? Ali ya? Nah itu juga saya kurang masuk.

Alex: Kalau Ali saya suka ada nuansa Timur Tengah nya..

Kalian datang dari background yang berbeda, yang satu musisi/rapper, yang satu arsitek/illustrator, yang satu lagi designer dan penjual kaos. Apakah kalian disatukan dari kegemaran kalian membaca komik atau gimana?

Alex: Kehidupan yang mempersatukan..

Vidi: Pertemanan sih. Kita kalau disebut dipersatukan oleh kecintaan akan medium komik juga engga kayanya. Gue awalnya tau Alex bukan dari arsiteknya tapi dari karya ilustrasinya, dan dia terkenal cepat gambarnya jadi itu awalnya yang bikin saya pengen kerja bareng Alex.. Bembi awalnya saya kenal pas dia main skate bukan dari pas dia ngerap.. Dan saya suka tweet dia di Twitter, Jadi klop aja kalau Alex dan Bembi digabungkan.

Krowbar: Awalnya mah heureuy sih.. Kalau dibilang gue anak komik ya engga juga lah.. Kita bukan anak komik banget lah. Sebenarnya kita ga ada di dunia komik juga gapapa sih.. Kalau pembagian tugas sih Alex gambar, gue yang bikin skripnya, nah Vidi punya media dan sekaligus jadi “rem” nya kalau misal kita nya terlalu nge “gas”..

Pertanyaan terakhir: Apa rencana berikutnya ARP?

Vidi: Saya dari sisi pedagang pengan ini jadi duit, harusnya bisa lebih. Dari perspektif pengusaha ya ini harus lebih menghasilkan.

Alex: Mungkin pengen bikin film animasi next nya. Atau bahkan next nya ada live-action nya hahaha.. Jadi ke medium film..

Krowbar: Pengen cobain bikin komik yang panjang, ada story arc nya. Satu buku tamat. Ambisius sih. Menantang soalnya, beda aja bikin cerita pendek dan cerita panjang.

Vidi: Semoga Netflix baca interview ini.

Last shouts?

Vidi: Pembaca jangan baper hahaha..

Alex: Nikmatin aja komik kita dan dengarkan Anal Cunt!!

Krowbar: Dengarkan Merzbow haha. Eh Anal Cunt belum pernah kita bahas di komik ya? Ah tapi moal aya nu apal sigana hahaha..

 

Interview & Text by Aldy Kusumah
Photos by Firman Rohmansyah

Tau Tau Festival kembali akan digelar pada tanggal 28 Mei 2023 di Lapangan Pusenif Bandung. Tautau Festival dikenal sebagai festival musik yang menghadirkan berbagai genre musik dari artis-artis terkenal Indonesia. Pada gelarannya di tahun 2023 ini Tau Tau Fetival aka dimeriahkan oleh The Jansen, Rub of Rub, Float, Fiersa Besari, Tulus dan masih banyak pengisi acara yang nggak akan kalah serunya.

Tidak hanya itu, Tautau Festival tahun ini akan menampilkan kolaborasi spesial antara dua band besar Indonesia, yaitu Efek Rumah Kaca dan Perunggu. Kolaborasi antara kedua band ini tentunya akan menjadi highlight dari Tautau Festival tahun ini. Ada juga kolaborasi lainnya seperti Ananda Badudu x Rai, dan juga Juici Luicy x Adrian Khalif

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan penampilan spesial kolaborasi Efek Rumah Kaca x Perunggu untuk pertama kalinya di Tau Tau Festival dan juga artis lainnya di Lapangan Pusenif Bandung 28 Mei 2023 mendatang. Tiket sudah bisa didapatkan secara online dengan harga Rp. 149.000,- dan harga spesial kalau kamu membelinya buat bareng temen-temen kamu.

Menurut pihak keluarga, Frank Kozik meninggal secara tiba-tiba pada hari Sabtu kemarin (06/05). Frank meninggal pada umur 61 tahun dan belum diketahui secara pasti penyebabnya karena keluarga ingin privasinya dijaga selama masa berkabung. Frank mengawali karirnya sebagai ilustrator setelah meninggalkan Angkatan Udara. Dia bekerja sebagai penjaga pintu di sebuah klub malam di Austin, dan secara tidak langsung menjadi bagian dari skena rock bawah tanah di kota tersebut. Dia pertama kali mendapat perhatian sebagai seniman bawah tanah yang berlatih sendiri pada awal 1980-an, membuat flyers dan poster untuk band-band punk Austin.

Pada tahun 1993 Kozik pindah ke San Francisco, dimana dia memulai sebuah record label dan mendirikan Man’s Ruin Records, yang merilis lebih dari 200 album punk dan band alternatif. Dia membubarkan label tersebut pada tahun 2001 untuk fokus pada seni rupa. Kozik sudah bekerja dengan Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Stone Temple Pilots, Red Hot Chili Peppers, Melvins, The Offspring, Butthole Surfers, dan Helmet. Kozik mendesain banyak sampul album, termasuk debut self-titled Queens of the Stone Age tahun 1998 dan The Offspring’s Americana. Dia menyutradarai video musik untuk lagu Soundgarden “Pretty Noose”.

Kozik menerbitkan beberapa buku termasuk Man’s Ruin: Posters and Art by Frank Kozik dan Desperate Measures Empty Pleasures. Kozik dianggap sebagai “salah satu ilustrator poster terbaik di dunia rock”, dan diwawancarai di majalah Rolling Stone. Kozik menciptakan karakter ikoniknya Smorkin’ Labbit dan menjadi Direktur Kreatif Kidrobot. Dia pernah menjual lukisan Labbit yang langka di acara lelang TV seharga £4.000. Frank secara tidak langsung mempopulerkan genre stoner rock, dessert rock, doom, dan sludge metal. Record label Man’s Ruin Records pernah merilis band-band cult seperti: Iron Monkey, Entombed, Electric Wizard, High on Fire, Kyuss, Cavity, Queens of the Stone Age, Acid King, Church of Misery, Fu Manchu & Alabama Thunderpussy. Selamat tinggal legenda!

 

Teks by Aldy Kusumah