Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul "Dekomposer" dan segera akan mendistribusikan album "Downfall Of A God Complex" dalam format vinyl 12" di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, "Downfall Of A God Complex", dirilis dalam format Vinyl 12" pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip "Dekomposer". Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Extreme Decay, unit grindcore asal Malang baru-baru ini merilis video musik terbaru yang berjudul “Dekomposer” dan segera akan mendistribusikan album “Downfall Of A God Complex” dalam format vinyl 12″ di Indonesia. Band yang digawangi oleh formasi baru Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Anizar (bass/vokal), dan Eko (drum) ini telah aktif selama lebih dari 25 tahun dan telah menghasilkan sejumlah karya rekaman, termasuk 4 album penuh dan proyek split serta kompilasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Meskipun mengalami pergantian personil, Extreme Decay tetap berkomunikasi secara intens, merancang materi lagu baru, dan siap untuk melanjutkan perjalanan musik mereka. Album terbaru mereka, “Downfall Of A God Complex”, dirilis dalam format Vinyl 12″ pada bulan Agustus 2023 dan ditandai dengan rilisnya videoklip “Dekomposer”. Video ini mencerminkan gaya musik grindcore yang kuat dengan sentuhan elemen-elemen lainnya seperti crust, hardcore, power violence, dan sludge, menunjukkan bahwa Extreme Decay masih tetap eksis dan lebih ngebut daripada sebelumnya. Album ini akan tersedia untuk dijual di Indonesia mulai pertengahan September 2023, dengan dukungan dari sepuluh label rekaman underground dari Eropa dan Amerika Selatan.
Lahir dan besar di Bali, Maira Yamanaka a.k.a. Mairakilla dibesarkan di lingkungan yang erat dan beririsan dengan musik: ibunya adalah seorang dancer dan ayahnya adalah seorang DJ. Perempuan berdarah Jepang-Indonesia ini adalah seorang DJ / Producer yang memutarkan musik eclectic dari bangers, softcore, gabber sampai intense house dan juga techno. Selain menjadi selector, Maira juga adalah seorang drummer dan juga breakdancer. Maira sudah meramaikan berbagai event dari underground rave sampai tampil di event NTS dan Boiler Room. Maira pun banyak terpengaruh oleh anime dan game-game era PS1 & PS2.
Melihat performa lo di Boiler Room, lo membuka set dengan sampling tari kecak. Apakah besar pengaruh musik-musik tradisional ke musik lo?
Hallo! Kabar sangat baikk! Semoga kalian semua baik juga.
Sebenarnya sih belum terlalu 😆
jadi lagu kecak itu original soundtrack dari game King of Fighters. Aku suka banget main game dan selalu suka ngulik lagu ost game. Terus karena boiler room di bali, aku lahir & besar di bali, jadi cocok banget kayanya untuk aku bawain lagu itu untuk opening setku. ✨ pada saat itu yang anak denpasar aku doang sepertinya. Jadi pas deh ðŸï¸
Sudah berapa lama lo menjadi DJ? Bisa ceritain ga awalnya lo belajar dari mana dan butuh waktu berapa lama untuk sampai ke tahap ini?
Aku start dari 2018 akhir. Jadi hampir 5 taun ya? 🤣
Pertama jadi dj itu sebenarnya cita cita mamaku dulu pas lagi hamil. Dulu sengaja ga nyari tau apa jenis kelamin waktu mengandung. Dia pingin anak cowo yang ngedj.
pas udah mau waktu lahiran dia malah wish punya anak cewe. jadi lah aku 🤣
Nah pas sebelum jadi dj, aku kerja sebagai manager flower shop jepang di hotel Ritz-Carlton Nusa Dua. saat itu udah jenuh banget kerja. Terus ibukku bilang ‘kenapa kamu ga belajar jadi dj aja’ dari situ lah dimulai.
Aku belajar dj di dsx dj school. mama dan papa aku juga ngedj. Tapi aku gamau belajar sama mereka. Takut di keplok 🤡🥊 ternyata ngedj itu seru. Paling suka beatmatching karena seperti main game
Lo mainin musik yang lumayan eclectic dari old school hip-hop, funk, intense house, techno, breakbeat sampai ke banger, softcore, gabber dan baltimore club. What made you fell in love with dance music dan bagaimana lo present energi lo ke crowd yang nonton?
I fell in love with dance music because its the only thing that sparks me purely.
untuk present energi: dengan good mixing skill. ngemix lagu 1 dengan yang lain secara smoothly. dan pilih lagu yang memang pas untuk momentnya.
Lo sudah bermain dari underground rave party sampai ke party-party besar yang diselenggarakan oleh NTS dan Boiler Room. Butuh berapa lama buat lo untuk di notice para partygoers dan event-event besar?
Hmm kurang tau ya 🤣 Kalau di tanya butuh berapa lama, ya dari start aku ngedj sih sebenarnya. Karena kan sekarang baru di notice sama mereka 😆
Intagram lo banyak foto postingan kucing ya. How many cats do you have in your house btw?
7 cats + 1 dog!! Aaa! ðŸ±ðŸ±ðŸ±ðŸ±ðŸ±ðŸ±ðŸ±ðŸ¶ semua aku rescueee
Di beberapa postingan IG lo terlihat terobsesi dengan Pikachu, Evangelion dan Megaman. Seberapa besar pengaruh game dan anime di hidup lo?
BESAAAR SEKALIII! semua itu yang ngebentuk aku sekarang. bisa bahasa inggris juga berkat game. Dan bisa lebih mengerti bahasa jepang malah lewat anime, bukan dari ibu wkwk 🤣 Mengerti tentang dunia juga dari game. Aku kadang meng- apply hidupku seperti game rpg. Quest dan side-quest ku banyaak 😆
1. Tekken 3
Tekken 3 adalah game pertamaku di playstation. Waktu itu masih SD kelas 3.
Dari pertama main udah jatuh cinta. fashion per-characternya dan musik yang bikin aku meledak! Dulu crushku jin kazama 😆 sekarang juga masih jin kazama
2. Mr. Driller
Game simple ter-fav. Dulu si bapak yang suka main ini. lagunya juga bagus. Also very Y2K
aku sekarang kalau lagi capek mainnya mr.driller di emulator 💗
3. Shin Megami Tensei: Persona 3
Game rgp paling ngena di hatiku. Ada mini dating sim juga di dalamnya. Terus ada mythological figures juga. all the things that i like in one game. LAGUNYA JUGA BAGUS 🤣 aku sampai beli album cd ostnya.
4. The Sims
I think I learned about life, people’s behavior, skills , and all about humans are thanks to the sims.
So the sims deserve the spot di 5 game fav ini. The sims favku the urbz sims in the city 🎉
But i think Harvest Moon will be on this spot.
Alasan suka harvest moon karena harvest moon bikin aku bisa nabung dan mencatat keluar masuk duit 😆
dan mengajarkan bahwa kita itu harus bersosialisasi demi kemajuan bersama. Sayang binatang dan tanaman!
Top 5 anime favorit lo dan alasan nya?
WAAH! *berpikir keras lagi 🤣 lagi bikin chart nih di kepala.. dari yang terlintas lagi ya 😆
1. Chobits
Alasannya karena ada romance to suspensenya, characternya lucu! Bener bisa ngebayangin kalo ada persocom human. i think people will fell in love and marry a persocom tho in the future.
2. GTO
Alasannya: cuz he is an outstanding teacher
3.Cardcaptor Sakura
Sakura always wear a different outfit when she on a mission. itu kenapa aku kalau perform bajunya suka lain terus 😆💗
4. Samurai Champloo
Yang mengenalkan aku pada Nujabes ✨ keren soalnya dia cerita tentang jaman dulu tapi fresh banget. Mugen juga fighting stylenya kaya orang breakdance.
5. Attack on Titan
Anime yang bikin meledak kepala.
salah satu anime yang aku tonton nonstop dari pagi sampai malam.
Tell us the 5 sexiest songs you’ve ever heard..
Waduh 🤣🧠*berpikir keras lagi
1. Hitmakerchinx – earthquake
2.Soundtracknya Jin Kazama in Tekken 3
3.Offer Nissim – first time
4. Vt-00 – Ultra Kolosal (Loreng Remix)
5. Britney Spears – Me Against The Music 😆
Kembali ke miuzik! Untuk seorang DJ dan music producer seperti lo, seberapa penting sih peran fashion menurut lo? Kenapa?
Penting karena fashion bisa mewakilkan seleraku secara visual. Dan bagus banget untuk sesama pecinta fashion. jadinya bisa berkolaborasi. Contohnya seperti di gig Joyland kemarin aku kolab sama teman dekatku yang seorang fashion designer. Seruuu!
Fashion lo terlihat seperti gabungan dari kultur Y2K, ‘90s dan sedikit eklektik. Influence terbesar lo untuk fashion itu siapa? Lalu brand fashion favorit lo apa aja?
Influence dari papa & mama di tahun 80an (gaul banget mereka dulu baju baju partynya) & thanks to them juga aku jadi terexpose game dan anime fashion. Brand fav aku mostly all of sports brand 😆
Venue bermain dan vibe ideal untuk kamu bermain seperti apa?
Undeground local parties / rave, karena bisa bebas berekspresi! I also enjoy main di dance battle. Apalagi vogue battle
Lo juga seorang drummer. Apakah lebih gampang untuk seorang drummer bertransformasi menjadi seorang DJ? Btw, dulu pas jadi drummer pernah ngeband bawain apa aja?
Karena sudah bisa basic untuk ketukan jadi sepertinya lebih gampang ya? 😆
pondasi dari skillnya hampir mirip soalnya. Dulu jadi drummer di band metal 😆🤣 sudah sekian tahun pingin ngeband lagi. yang butuh drummer mohon info 🤣🤣🤣
Pertanyaan terakhir: Cerita paling lucu / unik pada saat nge-DJ? Pengalaman terburuk dan terbaik saat main di event apa aja dan kenapa?
Boiler room sih😠pertama kali dapat energy sebanyak itu dari temen temen yang di kenal sampe ga kenal. Hebooh! Sampai mau roboh stagenyaa! Udah bouncing back 🤣
pengelaman terburuk: di book tapi yang booking gatau aku mainnya apa 🫠krik krik banget. ayo para bookers jangan malas mengulik informasi. Azeg 🤣
Words & interview by Aldy Kusumah Photo taken from Mairakilla’s IG Archives
Bojes dari A Little Less 16 mengungkapkan keinginannya untuk menciptakan lagu berbahasa Indonesia dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun radio. Baru-baru ini A Little Less 16 merilis maxi-single berisikan dua lagu berbahasa Indonesia, yaitu “Jarak” dan “Isi Kepala Menjelang Pulang,” yang menggambarkan kisah cinta dan jarak dalam hubungan. Bojes mengungkapkan bahwa proses penciptaan lagu-lagu ini berlangsung alami, tanpa perlu membuka draft materi sebelumnya, dan ia sangat menikmati prosesnya.
Lagu “Jarak” menceritakan tentang hubungan yang terhalang oleh jarak geografis, seperti anak dan orang tua yang tinggal di kota yang berbeda atau pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh. Sementara “Isi Kepala Menjelang Pulang” menggambarkan gagasan-gagasan yang muncul dalam pikiran selama perjalanan pulang. Kedua lagu ini sudah bisa dinikmati melalui semua layanan digital music streaming platform.
Mungkin kalau kamu hanya menilai tulisan ini dari judulnya saja, kamu akan kecewa besar. Tak akan ada pembahasan soal Blink-182 di tulisan ini – atau pun profiling sosok Tom DeLonge yang memang sudah vokal untuk urusan pembuktian kehidupan extraterrestrial sejak dari dulu. Tapi saya ingin mengajak kamu untuk melihat lebih dalam tentang potensi apa yang akan terjadi kalau ternyata alien atau pun apa pun makhluk non-manusia ternyata eksistensinya benar-benar ada. Shit, this is serious thing, you know.
Pembahasan soal alien, UFO atau pun UAP (unidentified Aerial Phenomenon) menjadi ramai kembali diperbincangkan karena sempat dihelatnya Congress Hearing di Amerika Serikat pada akhir bulan Juli lalu – dan betul, topik spesifiknya memang membahas soal pemaparan fakta dan data soal makhluk/benda extraterrestrial tersebut yang dipaparkan oleh tiga orang saksi kunci:
Letnan Ryan Graves, seorang pilot pesawat jet F/A-18 Super Hornet di US Navy yang terlah bertugas selama 10 tahun, Komandan David Fravor, pensiunan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang aktif di dunia militer selama 24 tahun dan David Grusch, seorang veteran Angkatan Udara Amerika Serikat yang pernah dinas di Afghanistan pada tahun 2013. Kalau kamu agak familiar dengan wajah Grusch, bisa dimaklumi karena dia seringkali muncul di berbagai pemberitaan soal UFO beberapa tahun ke belakang ini. Pasalnya, dia pernah bekerja di National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) [2021 – 2022], National Reconnaissance Office (NRO) & Unidentified Aerial Phenomena Task Force (UAPTF) [2019 – 2021].
Kembali kepada Congress Hearing soal UFO kemarin, tiga saksi tersebut memaparkan beberapa pengakuan dan juga memegang beberapa data soal penampakan dan juga interaksi mereka dengan fenomena atau pun makhluk yang berkaitan dengan hal itu selama bertahun-tahun ke belakang.
Beberapa paparan yang membuat publik tercengang soal keberadaan makhluk extraterrestrial dan UFO itu di antaranya tentang ditemukannya bangkai makhluk non-manusia yang mengendarai kendaraan interdimensi super canggih di beberapa kesempatan ketika jatuh ke bumi, sejumlah penampakan fenomena udara akan bentuk-bentuk UFO yang kasat mata sampai yang paling kontroversial: adanya retaliasi dari makhluk non-manusia dan juga beberapa pihak badan intelejen yang berkaitan dengan subjek UFO terhadap beberapa saksi mata atau pun beberapa orang yang bekerja di bidang tersebut.
If you put one to one together, kamu bisa paham bahwa ternyata urusan pembuktian soal alien dan UFO ini bukan lagi tentang kelegaan nalar bahwa ternyata ada makhluk lain di luar sana selain manusia. Tapi hal ini bisa menjadi sebuah ancaman yang potensial terhadap kehidupan umat manusia. No, this is not a science fiction movie premise. It’s a real thing.
Semua ini terasa masuk akal ketika kenapa banyak badan intelejen atau pun pihak pemerintahan yang menyembunyikan soal fakta-fakta akan keberadaan UFO, UAP atau alien yang sempat dilihat banyak publik namun tak pernah ada pemberitaannya. Ditambah ada satu paparan di Congress Hearing soal UFO kemarin bahwa ternyata ada beberapa perusahaan badan pemerintah mau pun swasta yang menyimpan banyak peninggalan teknologi UFO yang jatuh ke bumi untuk dijadikan contoh agar teknologi ‘asing’ itu bisa diimplementasikan ke produk-produk mereka.
Berbahaya bukan? Bayangkan kalau sialnya ternyata yang menyimpan artefak teknologi alien itu adalah perusahaan senjata yang ingin mengimitasi teknologi super canggih untuk membuat sebuah bom yang bisa saja menghancurkan setengah daratan bumi atas nama pertahanan dunia. That’s just bad as it’s heard.
Tanpa bermaksud mengantagonis entitas lain di luar manusia, harus diakui banyak hal di alam semesta ini yang belum diketahui manusia – entah untuk hal yang baik atau buruknya. Tapi untuk urusan alien atau UFO, rasanya ada beberapa paparan yang perlu dipublikasikan soal keberadaan mereka. Sesederhana apa tujuan mereka datang ke bumi atau dimensi manusia? Kenapa National Defense sampai harus turun tangan ketika ada fenomena makhluk atau benda asing di berbagai belahan bumi ini? Semuanya terasa mengerucut kepada aspek keamanan bukan? Bukankah ini mengerikan?
Meski semua revelation soal UFO ini terasa sangat kelam karena terlalu banyak kaitannya dengan urusan intelejen dan pertahanan dunia, satu hal baik yang harus kita terapkan di benak kita semua adalah manusia seharusnya bersatu – bukan terpecah belah oleh berbagai ancaman yang hadir di sekitar kita. Kalau pun memang ada intensi buruk yang datang dari para entitas extraterrestrial ini, kita harus yakin bahwa seluruh umat manusia kelak akan menanggalkan semua latar belakang dan prinsipnya demi menghadapi satu potensi ancaman yang sama. Damn, ini mah bukan Tom DeLonge was right, tapi Morrissey was right about what he sings in “Askâ€. “If it’s not love, then it’s the bomb that will bring us together.â€
Berasal dari dataran dan padang rumput terdingin Kanada yang tidak terbatas, Home Front berdansa dengan bebas seakan tidak ada hari esok, berbagai referensi yang saya tangkap di seluruh album ini adalah Suicide, The Cure, New Order, Echo & The Bunnymen dan tentunya Blitz era post-punk (“Second Empire Justice”). Home Front adalah sebuah momen hilang yang berada diantara “kematian†punk dan “kelahiran†new wave. Sebuah album keren yang dipenuhi oleh suara drums 808, loop gitar repetitif, analog synth dan vokal yang anthemic. Home Front adalah Gary Numan jika dia membuat band punk. Atau Tears For Fears jika mereka menonton GBH di akhir minggu. Kita bisa berbahagia karena eksistensi Home Front adalah nyata.
Home Front adalah gagasan dari Graeme MacKinnon (dari band punk No Problem dan Wednesday Night Heroes), dan Clint Frazier (dari band electro-dance Shout Out Out Out Out dan Physical Copies). Gabungan duo ini menyatu menjadi sesuatu yang istimewa — juga dibantu oleh drummer Fucked Up Jonah Falco pada departemen produksi, duo ini telah membuat album synth-punk penuh dengan riff berotot dan emosi yang menggelora. Ini adalah kumpulan seruan untuk berpesta di kondisi terburuk, sebuah ajakan untuk berdansa di malam yang dingin dan gelap. Jika 3 track awal seperti: ‘Faded State’, ‘Real Eyes’ dan ‘Nation’ tidak membuat kamu jatuh cinta pada band ini, maka jangan buang waktu untuk membaca sisa resensi ini. Lirik-lirik seruan untuk menikmati hidup dari MacKinnon bagaikan permata dalam lumpur. “nobody here gets out alive” adalah sebuah deklarasi yang juga merupakan kata-kata pertama yang muncul di album ini. Tema-tema eksistensi manusia modern di sebuah distopia kerap menjadi tema sentral di lagu ‘Real Eyes’ : “Material gain, material joy / Morally aimless dreams destroyed”
Mungkin untuk saat ini ‘Overtime’ adalah track favorit saya di album ini. Synth dan melodi gitar yang catchy dibalut oleh nada vokal anthemic di reff, dan tentunya sedikit mengingatkan saya kepada lagu ‘A Space Age Love Song’ dari A Flock Of Seagulls. Apa yang kamu dapatkan jika menggabungkan punk dengan new wave? Jawaban nya adalah spirit survival dari musik punk dan vibes musik ‘80an yang membuatmu semangat untuk bangun di pagi hari. Home Front rupanya mengambil elemen-elemen terbaik dari kedua genre itu. Debut album Home Front ini lebih terasa seperti album klasik yang obscure daripada sebuah debut album modern; sebuah peleburan menarik dari post-punk yang menyeramkan, krautrock yang motorik, dan semangat punk yang bergairah. Games of Power disatukan oleh kejelasan visi dan konsep, seluruh lagu album ini bagus dan tentunya bakal menjadi calon album of the year versi kami.
Wacko Maria adalah label yang mempunyai roots pemberontakan dan anti-konformitas, dengan design yang berakar pada pola yang berani dan grafis-grafis yang menonjol. Label yang berbasis di Tokyo ini bergabung dengan Clarks Originals untuk merayakan sensibilitas tersebut, membawa Wallabee yang selalu menjadi sepatu ikonik dan salah satu siluet andalan Clarks.
Sepatu yang sangat digemari ini diubah menggunakan kulit hitam bermotif buaya, sesuai dengan kegemaran Wacko Maria untuk hal-hal yang berani, dilengkapi dengan detail dan jahitan kontras kuning & merah untuk menambah visual yang khas. Sepatu ini dilengkapi detail dengan 2 fobs juga, satu bermerek Clarks Originals dan yang lainnya dengan Wacko Maria dalam foil emas.
Tentunya sepatu ini akan cocok jika dipadupadankan dengan hawaiian shirts Wacko Maria untuk tampilan ala bosozoku maupun rockabilly. Dan sepatu kolaboratif ini juga masih tetap keren untuk looks yang casual. Tentunya design ini menambah range Clarks Wallabee yang cukup ikonik di street style, dan banyak digunakan oleh hip hop heads maupun para rocker dari Inggris. Dua siluet Wallabee collab antara Wacko Maria dengan Clarks Originals ini dirilis untuk koleksi Spring/Summer 2023.
Roti RW adalah sebuah bakery dan breakfast spot alternatif yang konsepnya cukup fresh. Dengan menu Roti Bakar Daging Asap Jalapeno, Roti Bakar Jasuke, Homemade Mocca Yogurt, Cinnamon Roll Up dan favorit kami: Roti Daging Rempah. Memang beberapa menu mereka adalah memlalui sistem pre-order, tetapi ready stok nya pun sangat variatif dan freshly made. Untuk varian menu, range Roti RW cukup luas; dari roti bakar klasik yang biasa kalian temukan di toko roti jadul, kalian juga bisa menemukan menu-menu baked goods modern yang inovatif. Roti RW tercipta dan terinspirasi oleh kehangatan dan kesenangan sederhana berbagi roti panggang dengan orang tua, keluarga, dan kerabat.
Toko roti kecil ini pun berlokasi sangat strategis; terletak di jantung kota di sudut jalan Cimanuk Bandung, yaitu di Tanamu PAVILION Jl. Cimanuk no 42. Lokasi ini juga dekat dari dari Riau dan Cihapit. Ada turntable dan beberapa design interior menarik yang cukup aesthetic disini, apalagi suasana outdoor area pun sangat homey untuk bersantap dan hang-out bersama kolega-kolega setelah berolahraga ataupun sekedar bertemu untuk afternoon snacks. Toko roti ini adalah tempat bagi siapa saja yang menghargai masa lalu dan masa kini. Kamu akan disambut oleh suasana hangat dari masa lalu, lagu-lagu nostalgia piringan hitam memenuhi udara, membawa Anda kembali ke waktu yang lebih sederhana. Sempatkan untuk mampir kesini dan mencoba berbagai varian hidangan Roti RW, because they’re really know what they are doing with your bread.
@roti_rw
@tanamu__ PAVILION
Jl. Cimanuk no 42
Serving all day 10 am – 9 pm
White Chorus menghadirkan kejutan dengan merilis album berjudul LIMBO+. Hanya dua bulan setelah perilisan album penuh kedua mereka, LIMBO, album ekstensi ini menampilkan empat trek tambahan yang memberikan perspektif baru terhadap lagu-lagu yang sudah dirilis sebelumnya. Dengan 1 lagu baru berjudul “used to be used to be used to be” yang mengusung elemen elektronika dengan tempo cepat, serta tiga versi demo dari lagu-lagu seperti “Don’t Want This To Be Over”, “How Could You”, dan “I’m Trying”, White Chorus memberikan perspektif lain kepada pendengar untuk lebih mendalami proses kreatif lagu-lagu mereka. LIMBO+ sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming mulai 30 Agustus 2023 lalu.
Tak hanya itu, White Chorus juga bersiap untuk menggelar showcase yang dijadwalkan pada tanggal 8 September mendatang di Jakarta. Acara bertajuk “This Showcase Is LIMBO” ini akan menjadi momen spesial, di mana Emir dan Friska ini akan membawakan seluruh trek dari album LIMBO+ dalam format full band. Showcase ini juga akan diisi oleh sejumlah nama, seperti Hindia, BAP., Basboi, Adeliesa, Noni, Awan, dan Xandega.
Mungkin ini adalah film dengan pesan aktivisme yang cukup penting di tahun 2023 ini. Jika membicarakan efek rumah kaca dan krisis iklim, suka atau tidak suka tentunya efek perubahan cuaca ekstrim sudah mulai terasa langsung oleh kita semua. Apalagi dengan banyak nya heatwave yang memakan banyak korban jiwa di Asia, terutama di India dimana jalanan aspal pun meleleh. How To Blow Up A Pipeline diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andreas Malm yang diterbitkan pada tahun 2021. Sebuah buku yang mengusulkan tindakan kekerasan dalam menanggapi krisis iklim ini dikemas menjadi film heist-thriller yang menarik.
Andreas Malm berargumen bahwa status quo telah berkembang begitu parah sehingga para aktivis akan bodoh jika tidak melakukan sabotase, dan bahwa protes damai saja tidak mungkin mencapai hasil dengan cukup cepat. Karena seperti yang kita tahu, krisis iklim ini memiliki deadline yang cukup mepet. Disutradarai oleh Daniel Goldhaber (“Camâ€), yang mengubah ide Malm menjadi dasar untuk film thriller perampokan yang sangat efisien. Alih-alih masuk ke lemari besi atau museum, 8 karakter di film ini berkonspirasi untuk melakukan tindakan sabotase yang akan merusak harga minyak di seluruh dunia.
Para eco-terrorist ini adalah 8 orang dengan tujuan yang sama, walaupun memiliki motivasi personal yang berbeda pada awalnya. Struktur flashback ala Tarantino yang perlahan memperkenalkan kita dengan para komplotan ini cukup menarik. Dari Long Beach, California, Xochitl (Ariela Barer, juga salah satu penulis dan produser film) berduka atas kematian mendadak ibunya akibat gelombang panas dan resah atas kelesuan upaya divestasi bahan bakar fosil. Kami mengetahui bahwa Xochitl tumbuh bersama Theo (Sasha Lane), yang sejak awal ditampilkan di sebuah grup pendukung yang berbicara tentang “diagnosis” penyakit yang spesifiknya pada akhirnya akan terungkap. Di Dakota Utara, Michael (Forrest Goodluck) berkelahi dengan pria yang datang untuk bekerja di ladang minyak. Dia memperdulikan keselamatan fisiknya; pada satu titik, dia mengatakan dia tidak peduli tentang kemungkinan mereka akan meledakkan diri. Dwayne (Jake Weary) adalah pria keluarga Texas yang bayi perempuan dan istri penderita diabetesnya hanya ingin dia pulang untuk Natal. Dia marah karena jalur pipa telah mengganggu propertinya, dan dia membenci anggota kru film dokumenter yang bermaksud baik, termasuk Shawn (Marcus Scribner), yang memfilmkan cerita sedihnya tetapi sebenarnya tidak bisa membantu.
Alisha (Jayme Lawson), pacar Theo, siap membantu. Yang paling misterius adalah Rowan (Kristine Froseth), yang diam-diam memotret beberapa persiapan kolektif ini. Pacarnya, Logan (Lukas Gage), terlihat punk tapi sebenarnya anak orang kaya. Para karakter di film ini sangat menarik, dan tanpa banyak pemeran pendukung, sutradara Daniel Goldhaber bisa mengemas film ini secara utuh. Intensitas dan pricing di seluruh film tetap terjaga dari scene pembuka dimana Xochitl menusuk ban sebuah mobil SUV sampai adegan ending yang juga tidak kalah menarik dan cukup satisfying. Goldhaber bisa memacu tingkat ketegangan dan menerapkan efisiensi yang menjadi terlalu langka di film-film mainstream. Tetapi “How to Blow Up a Pipeline” dikemas sebagai film dengan sebuah pesan. Dalam semangat kolektivitas, ini disebut sebagai upaya kelompok. Jika mengingat prolog awal resensi ini, situasi krisis iklim yang semakin hari semakin berbahaya ini membutuhkan urgensi, dan sepertinya quotes “eco-terrorism is self-defense†akan sangat relatable di tahun 2023 ini.
Unit shoegaze asal dari Bandung, Heals, kembali dengan merilis single baru setelah menanti selama 6 tahun. Dengan anggotanya, Alyuadi Febryansyah, Reza Arinal, Octavia Variana, dan Adi Reza, Heals telah meluncurkan single bertajuk “Weathre” pada tanggal 25 Agustus 2023 lalu. Lagu ini diinspirasi oleh pengalaman selama pandemi dan mencerminkan perenungan serta pemikiran anggota band. Alyuadi menjelaskan bahwa liriknya lahir secara spontan dalam proses komposisi, menggambarkan perasaan ketika tidak bisa bertemu langsung dengan orang lain akibat berbagai faktor seperti alam atau mungkin sebuah konspirasi.
Secara musikal, “Weathre” memiliki sederhana dalam aransemen namun diberikan kompleksitas yang menunjukkan kedewasaan dan eksplorasi artistik Heals . Tak hanya itu, single ini juga disertai dengan video musik karya Nix Powell yang menggambarkan bagaimana setiap anggota Heals saling berkomunikasi dan proses kreatif dalam sebuah perang pikiran. Single “Weather” akan menjadi pengantar bagi album mendatang Heals yang berjudul “Emerald” dan dijadwalkan dirilis pada bulan Novembe