Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti 'utinks' Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Text by Aldy Kusumah
Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms†di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti ‘utinks’ Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly†yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.
‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly†seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellowâ€. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered†adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung†pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak†yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai†adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.
“Ruins (II)†adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruinsâ€). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins†yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruinsâ€. “Laugh And Swell†sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Lookingâ€, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kalaâ€, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala†memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.
Jeruji, unit hardcore punk asal Bandung siap kembali ke panggung musik dengan karya terbaru mereka setelah lebih dari dua dekade berkiprah. Dalam formasi yang tetap kuat dengan Rangga sebagai vokalis, Sani Harjasyah di drum, Hendy Hanafi di bass, dan Moh. Irsyad Ridlwan di gitar, Jeruji tetap berkomitmen untuk memberikan suara lantang dalam pergerakan kemanusiaan dan skena musik ekstrim. Mereka merayakan pencapaian luar biasa, memasuki usia ke-27 tahun mereka pada tanggal 30 September, menggambarkan konsistensi mereka dalam menciptakan lirik-lirik tajam yang mengangkat isu-isu penting.
Jeruji telah menghadapi berbagai tantangan sepanjang perjalanan mereka, tetapi mereka tetap fokus pada misi mereka. Dalam single terbaru mereka berjudul “Bernyawa,” band ini mengungkapkan perasaan, pilihan hidup, dan kebenaran serta kesalahan yang mereka hadapi. Dengan lirik yang kuat, Jeruji menegaskan bahwa mereka tidak peduli dengan pandangan negatif atau pengakuan dari luar, tetapi mereka akan tetap setia pada hati nurani mereka. Single “Bernyawa” akan segera tersedia di berbagai platform streaming digital mulai tanggal 16 September 2023, dan ini menjadi titik awal menuju rilis EP terbaru mereka yang dijadwalkan akan hadir pada akhir tahun ini.
Maja Family resmi membuka Papila Kids Club untuk umum di acara “PLAY MARKET†pada tanggal 16 – 17 September 2023 di lokasi House Tour-Uphill Hotel. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB di kedua harinya, dengan serangkaian acara kolaboratif untuk si kecil dan para orang tua di masing-masing harinya.
Dalam kesempatan ini, Papila Kids Club mengajak publik untuk turut serta mencoba fitur-fitur Kids Experience Playground-nya yang akan dimeriahkan oleh acara “PLAY MARKETâ€. Kids Games seperti Pirate Treasure Hunt dengan WonderKids Motoric Club dimana si kecil diajak berjelajah untuk mencari harta karun, Summer Party dengan Ruang Riang dimana anak-anak diajak waterplay dan asah kreatifitas, serta Sensory Exploration Class dengan Maincamacama dimana mereka akan dibantu eksplorasi rasa.
Kini waktu refreshing untuk si kecil dan para orang tua dapat dilakukan semua di satu tempat. Jadikan Papila Kids Club tempat yang nyaman, tenang dan tepat untuk si kecil berkreasi, eksplorasi dan berimajinasi tanpa batas.
Isyana Sarasvati, solois wanita kelahiran Bandung, semakin mengukir prestasi internasional dengan pengumuman baru-baru ini. Ia akan tampil di Jepang pada bulan Oktober mendatang, menjadi musisi Asia Tenggara pertama yang mengisi acara di venue bergengsi. Isyana akan menggelar dua konser di Jepang, pertama di Yokohama, di Billboard Live Yokohama, di mana ia akan membawakan lagu-lagu orisinalnya dari album keempatnya. Konser ini akan digelar dalam dua sesi, siang dan malam.
Yang membuat penampilan Isyana di Jepang semakin istimewa adalah kabar kolaborasinya dengan gitaris legendaris Marty Friedman dari band metal Megadeth. Marty akan berkolaborasi dalam salah satu lagu Isyana Sarasvati. Setelah Yokohama, Isyana akan mengunjungi Tokyo, di mana ia akan tampil di Yamaha Hall Ginza dengan konsep “Isyana Unplugged Live in Tokyo”. Venue ini dirancang khusus untuk menciptakan pengalaman bermusik yang lebih dekat dan intim antara penampil dan penonton. Pada konser ini, Isyana akan berkolaborasi dengan violinis terkenal asal Jepang, Emiri Miyamoto. Penampilan Isyana di Yamaha Hall Tokyo juga akan disiarkan secara langsung melalui internet pada tanggal 9 Oktober mendatang.
Penjualan tiket untuk kedua pertunjukan ini sudah dibuka. Untuk konser di Billboard Live Yokohama, tiket tersedia mulai dari ¥6.900 hingga ¥7.400. Sementara untuk konser unplugged di Yamaha Hall Tokyo, harga tiket berkisar antara ¥5.000 hingga ¥7.000.
Hari Raya, band asal Jatinangor, Jawa Barat, akhirnya merilis single ketiganya yang berjudul “Menunggu Detik Membiru” setelah beberapa bulan vakum dalam berkarya. Band ini terdiri dari Aisyah (vokal), Naufal/Ansul (Keys), Rayhan/Age (gitar), Rino (gitar), Ilham/Icam (bass), dan Mahen (drum). Perjalanan band ini tidaklah mudah, dimulai pada tahun 2019, mereka menghadapi berbagai rintangan, termasuk pergantian personel dan kesulitan menyesuaikan jadwal latihan karena kesibukan anggota. Namun, mereka berhasil merilis single pertama pada Desember 2021, yang kemudian di-take down, dan kemudian merilis single kedua berjudul “Neverland” pada Desember 2022. Sekarang, pada kuartal ketiga tahun 2023, Hari Raya kembali dengan single terbarunya, yang menjadi langkah awal menuju EP yang akan segera dirilis.
“Menunggu Detik Membiru” adalah lagu patah hati dengan sentuhan musik twee dan indie pop, dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang menunggu sesuatu yang tidak pasti akan datang, dan kata “Detik Membiru” menggambarkan waktu yang hampir tak bisa bernafas hingga terasa seperti membiru. Secara musikal, lagu ini menghadirkan melodi yang repetitif sepanjang lagu dengan nuansa twee dan indie-rock ala Captured Tracks atau band-band asal Inggris pada tahun 80-an yang dirilis oleh Sarah Records.
“Red Knight†adalah debut album dari Gergasi Api, duo yang diperkuat Ekyno (Full of Hate, Plum) dan Alexandra J. Wuisan (Sieve, Cherry Bombshell). Mereka meleburkan post-metal, dream-pop, shoegaze sampai sedikit elemen industrial menjadi racikan keren khas Gergasi Api (GA). Uniknya, di album “Red Knight†ini single berjudul ‘Red Knight’ malah tidak muncul. Dibuka oleh ‘Sacred Sound’ yang menurut saya kurang kuat untuk sebuah opener. Sound gitar raw dan synth sedikit mengingatkan saya ke NIN era “Downward Spiralâ€, and it’s a good thing. Nah, track kedua ‘Soul Bound’ tedengar lebih catchy dan dinamis untuk sebuah opener, tetapi malah ditaruh sebagai track kedua, tetapi tidak apa-apa, tetap keren. Lagu dengan tempo medium beat ini sedikit mengawang, tetapi itu tidak lama, karena gitar yang noisy dan produksi yang “in your face†membuat lagu ini tetap rocking. Sedikit notes, mungkin vokal terdengar sedikit terlalu depan dan agak menutupi instrumentasi yang kompleks. ‘Dead Eyes’ adalah lagu favorit kami di album ini. Sedikit trip-hoppy di verse, tetapi semua itu akan berubah pada saat masuk ke bridge dan reff. Single material indeed.
‘Void Glide Celestials’ adalah judul yang menarik. Dibuka dengan bait “I’ve swallowed shards of pain beforeâ€. Track yang moody ini cenderung downbeat dan lebih gelap jika dibanding 3 lagu sebelumnya. ‘Ghost Ascending’ adalah sebuah track yang catchy, dengen loop gitar melodius dan layer-layer vokal yang membius. Horn sections di lagu ini akan lebih baik jika menggunakan horn sections asli, semoga mereka melakukan nya suatu saat untuk format live. ‘Awakening (Mothra Remix)’ menurut saya adalah track remix yang keren, apalagi diremix oleh Aghi Narottama (Ape On The Roof), sayang saja mixing nya kurang terdengar nyaman. ‘Darkling’ meneruskan kembali mood album dari ‘Ghost Ascending’ yang sempat terputus akibat remix di track sebelumnya. Track berikutnya adalah ‘Mothra’, yang cukup aneh muncul setelah versi remixnya. Karena hanya selang satu lagu dari versi remixnya, mendengarkan ‘Mothra’ membuat pendengar yang antusias mendengar lagu berikutnya sedikit backtracking sejenak. ‘Dive’ yang bernuansa shoegazing mengajak pendengar untuk mengawang dan berserah diri menikmati piano dan distorsi raw yang menyelimuti aransemen lagu ini dengan hangat.
Overall, ini adalah debut album yang sangat baik dari Gergasi Api. Lagu-lagu mereka sudah bersinar dengan lirik haunting ala Alexandra dan instrumentasi yang mendetail dari Ekyno. Mungkin jika sedikit nitpicking, kelemahan album ini terletak pada susunan tracklist yang kurang tepat, terutama di track pembuka dan tengah-tengah, dab bisa mengakibatkan pendengar berhenti mendengarkan di tengah album, padahal track 7 sampai 12 dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Produksi album ini pun terdengar kurang nyaman di beberapa lagu, entah karena overproduced atau level vokal yang terlalu depan. Oh ya, packaging album ini juga sangat menarik, dengan ilustrasi dari Morrgth dan pemilihan kertas yang berkesan mewah. Now when can we see this guys perform live?
Bersama Pas Band dan Puppen, Pure Saturday adalah salah satu pionir band sidestream yang merilis albumnya secara independen. Energi mereka untuk bergerilya dan membuat musik yang mereka sukai terasa sampai sekarang mereka sudah berkarya selama 29 tahun. Mari berbincang bersama Iyo, Ade dan Arief “Toep†mengenai single terbaru mereka, kolaborasi degnan Burgerkill dan mitos pedalboard Arief yang dari tahun 1994 sampai sekarang konon tidak berubah.
“Kalau ada yang berpikiran main band itu harus punya visi-misi ya silahkan bikin PT aja! Hahahaâ€
Single “Fleeting Away†yang baru kalian rilis ini tentang apa tema liriknya?
Ade: Jadi si Fleeting itu kan pengertian nya sekilas, away nya cuma emphasize aja, penekanan aja. Lagu ini tentang mengingat sekilas tentang apa aja, gak cuma masa kecil aja. Ada 2 momen: Cerita sekilas tentang yang sudah lewat dan juga tentang hari ini dan kedepan nya, pas lirik “Another ship comes inâ€.
Iyo: Iya gitu hahaha. Band nya aja udah 30 tahun ini Tang, jadi apa yang kita semua udah lewatin, kerjakan dan kontribusi sayang kalau cuma lewat doang. Ini sebenarnya bukan buat band aja sih, untuk segala macam. Faktor “U†juga kali ya. Sampai sini juga semua ini adalah yang harus kita nikmatin dan syukurin, berlaku buat semua orang sebenarnya bukan cuma buat band ini doang.
Arief: Ya garis besarnya sih sama aja ya Ade. Apa yang udah kita lewatin bisa kita tuangkan di lirik lagu itu. Kata Iyo tadi selama 30 tahun kita berkarya ada pasang-surut, susah-senang dan semua proses itu kita nikmati. Jadinya bukan buat cerminan kedepan, tapi kalau menurut saya cuma bercerita mengenai masa-masa itu. Kilas balik.
Apakah ada rencana untuk memfollow up single “Fleeting Away†dengan album? Atau EP mungkin?
Arief: Kalau pembicaraan terakhir sih ya mau ngeluarin beberapa single dulu, jadi belum ada obrolan yang lebih jauh dari itu.
Ade: Mungkin kalau single nya udah keluar 10 kita jadiin album, atau EP-EP. Sekarang sih single aja dulu lah..
Apa bahasa pernah menjadi halangan untuk kalian membuat lagu? PS sepertinya terlihat effortless membuat lagu dalam bahasa Indonesia dan Inggris..
Arief: Album pertama hampir 80% pake bahasa Inggris dan sisanya Indonesia. Kunaon nya?
Ade: Biar keren aja dulu mah haha. Buat saya pribadi cari perbendaharaan bahasa Indonesia buat si PS mayan susah. Buat saya pribadi susah bikin lirik bahasa Indonesia. Apalagi sekarang banyak band-band folk senja kayaknya gampang gitu bikin lirik Indonesia. Dulu mikirnya gimana ya bikin lirik Indonesia tapi ga umum. Mau ga mau perbandingan lirik bahasa Indonesia kan dulu sama band-band yang liriknya menye-menye..
Iyo: Sayangku.. “Getek†bahasa barudak nya sih..
Arief: Padahal belum tentu bahasa Inggris kita dulu itu benar juga haha..
Iyo: Dulu malah pernah di protes orang Australia, si Platon (Sutradara) sampe bilang “lo pake bahasa ibu lo dongâ€. Ketika kita mendengar band-band ‘90an kan liriknya manis semua. Lagu lama yang gue suka liriknya tuh Keenan Nasution yang “Nuansa Beningâ€. Nah itu liriknya bagus banget dan memakai bahasa baku. Referensi saya juga banyaknya lagu berbahasa Inggris. Dinyanyikan enak bahasa Inggris, pas saya coba artikan malah “getekâ€. The SIGIT juga sama masalahnya, jadi bertahan pake bahasa Inggris. Karena referensi aja sih kayaknya. Pas album kedua PS (“Utopiaâ€) sepertinya anak-anak PS sudah menemukan jalan keluar dari hambatan lirik berbahasa Indonesia tersebut. “Coklat†dan “Kosong†juga bahasanya ga cheesy. Rambunya sih kalau di kita kalau bikin lirik yang “getek†yaudah ganti hahaha..
Arief: Kalau menurut kita sih ya itu tadi, kita sendiri yang membuat batasan dan rambu-rambu nya. Mungkin menurut kita liriknya cheesy menurut orang lain bagus. Di album kedua kita balik 80% liriknya bahasa Indonesia, tidak seperti album pertama. Sekarang sih ga dikonsep kalau bikin album harus bahasa apa atau gimana, ya mengalir aja.
Ade: Untuk beberapa single yang berdekatan dengan “Fleeting Away†ini ada beberapa lagu yang saya bikin berlirik Indonesia dan juga Inggris. Cuma kebetulan aja yang jadi duluan yang Inggris. Baru ada obrolan gimana kalau single berikutnya yang Indonesia misalnya. Single sekarang aja jadi setelah 5-7 tahun. Kebayang kalau harus bikin album 10 lagu, 70 tahun mungkin baru beres hahaha..
Menurut mitos, pedalboard Arief “Toep†dari awal PS ngeband sampai sekarang ga berubah-ubah, apa itu benar?
Arief: Bukan pedalboard nya, lebih tepatnya sih si efek Boss ME-8 nya. Justru di album pertama saya ga pake efek sama sekali, yang ada aja disitu hahaha.. Baru punya efek sendiri tuh di album kedua, si Boss ME-8 multi-effects itu.
Iyo: Oh nu suara wah-wah itu?
Arief: Iya. Sebenernya udah males bawa efek itu, soalnya ga semua lagu kepake. Ada lagu “Labirin†yang intronya saya isi ternyata pake efek lain gak dapet, harus pake si ME-8 itu. Efek itu teh udah sempat hilang. Saya beli lagi. Saya pernah beli pedal Boss Dynamic Wah dan Auto-Wah ternyata gak dapet juga pake efek itu. Terus pernah coba ME-50 dan ME-80, ternyata ga dapet. Akhirnya beli lagi si ME-8 jadul itu yang dipake sampe sekarang. Makin kesini tuh saya makin males bawa banyak-banyak, saya pernah bawa pedalboard gede pisan ternyata repot dan kalau manggung pake pedaltrain itu ngabisin tempat di panggung. Makin kesini saya kurangin pedalnya. Sesuai kebutuhan aja.
Album PS favorit masing-masing personil?
Ade: Album PS favorit saya mah “Greyâ€. Orang bilang album itu progresif padahal cuma karena 2 lagu itu aja, padahal lagu lainnya ga progresif. Saya sih suka album itu karena hampir semua karakter PS dari album sebelumnya ada di situ. Semacam album “alter ego†nya si PS, mau bikin yang kayak gimana hayu. Idealnya buat PS sih bikin album ya seperti itu, ada yang digambar pake DAW Fruity Loops, ada yang ngejam dan ada juga yang dibikin di studio. Lengkaplah lagu Indonesia ada, lagu bahasa Inggris ada, dan tentunya ada almarhum mas Yockie Suryo Prayogo disitu.
Iyo: Saya sih suka album kompilasi PS yang dicover band-band lain hahaha! Aralus eta bener. Seneng aja danger respon band-band lain ke lagu-lagu PS. Dan hasilnya bagus-bagus. Yang ada band lu juga kan? Lagu-lagu PS sih udah beres kan. Ternyata ada level selanjutnya, kan beda pemikiran dan treatment tiap band gak keotakan aja sama gue mah aransmen kaya gitu haha.
Arief: Nanya ka urang mah mending album nu dibenci weh hahaha! “Time For A Changeâ€. Karena lagu-lagu lama direkam ulang…
Ade: Royalty na teu cair-cair nepi ayeuna hahaha..
Arief: Bukan dibenci sih, cuma menurut saya konsepnya paling ga jelas. Kita terjebak romantismenya dulu. Pas jadi eh kok gini? Secara finansial ga ada. Orang juga pasti membandingkan lagu PS lama dengan yang direkam ulang, bukannya saya kebawa opini orang lai, tapi saya juga menilai album itu gagal, kecuali 2 lagu baru yang “Pagi†dan “Spokenâ€. Sisanya sih yang rekam ulang gak dapet aja spiritnya.
Ade: Terlepas dari “Spoken†dan “Pagi†album itu memang sedikit blunder ya. Di satu sisi ada bagusnya juga ada album itu, jadi pendengar gausah mencari materi yang lama, bisa denger yang versi itu di Youtube atau Spotify. Absurd haha..
Hmm.. Lalu lagu PS favorit masing-masing personil apa aja?
Iyo: Hese kieu pertanyaan na..
Ade: Favorit teh ada yang favorit didengar atau dimainin kan ya..
Arief: Kalau favorit dimainin buat saya sih masih tetap yang â€Labirinâ€.
Ade: Random yah, gimana momennya. Kadang-kadang latihan nih mau bawain lagu apa? Tiba-tiba nyobain bawain “Belatiâ€. Sekarang lagi senang banget saya bawain dan dengerin “Belatiâ€. Lagu itu udah lama banget ga dibawakan live. Beberapa kali manggung terakhir dibawakan kok enak? Padahal lagunya ga jelas. Mungkin baru sekarang baru nemu enaknya haha. Jujur di PS ada beberapa lagu yang pas dibawain ga enak ternyata pas didengar lagi oh ternyata salah chord nya hahaha..
Arief: Bener yah pas kemaren latihan dibawain enak. Siga ngagerung-gerung motor lagu na hahaha..
Iyo: Kalau saya sih “Mereka†hahaha. Karena anjing.. ngeselin laguya. Maneh dengekeun weh engke lagu “Mereka†dari album “Eloraâ€. Coba bawain juga tuh lagu hahaha. Sampai kita-kita aja ga bisa-bisa bawain nya. Pas udah bisa juga tetep ga enak. Ah rudet lah pokokna mah lagu itu..
Time signature gitar dan vokalnya juga terdengar tricky ya di lagu “Mereka†ini..
Ade: Ah pokoknya ini lagunya cenderung bikin panas pas latihan. Resiko sih lagu itu bisa bikin pasea pas latihan hahaha.. Jadi harus mood nya bagus baru bisa dibawakan..
Arief: Di lagu ini kita didikte oleh teknologi. Jadi ini adalah salah satu lagu yang digambar dulu di DAW Fruity Loops. Kita nyontek dari hasil gambar itu, kan digambar sih tinggal digeser-geser, pas dimainkan ternyata rumit hahaha..
Ade: Pas ngerjain lagu ini si PS lagi horny-horny nya ngerjain lagu pakai komputer. Si Ade-Udi lagi seneng-senengnya ngegambar lagu. Mereka produktivitasnya tinggi pisan dan kerumitan nya gak disaring haha. Hampir 70% materi di album “Elora†digambar walaupun ga utuh semuanya. Materi 50% tinggal kita kembangkan. Ternyata sulit mengembangkan nya karena cenderung kaku seperti vokal yang tanpa sustain dan lain-lain. Album ketiga itu begitu prosesnya, itu album pertama Iyo masuk. Nah di album “Grey†kita udah nemu pola nya, kaya ngegambar lagu cuma 30% maksimal, kesana nya dikembangkan sendiri.
Iyo: Si lagu “Mereka†itu tuh tight banget untuk gue sih, ya buat PS juga lumayan tight. Kaya gabungan musik prog, metal dan pop. Ada double-pedal segala, rudet lah itu lagu hahaha..
Setelah ngeband selama 29 tahun, apa aja sih yang belum kesampaian buat si PS? Atau kalian lebih mengalir saja?
Ade: Loba sih sebenarnya sih yang belum kacumponanâ€. Atau sudah semua kali ya? Hahaha.. Ya mungkin segampang berangan-angan pengen tour diluar. Pernah tapi cuma kunjungan. Eh tapi tour di Indonesia aja belum ya? Hahaha..
Arief: Can beunghar oge sih hahaha..
Ade: Kalau umur band nya udah hampir 30 tahun sih agak sangsi juga bakal kaya hahahah..
Iyo: Moal hahaha..
Arief: Tapi saya pernah ngobrol sama anak-anak lain juga sih, kalau di jalur seperti kita ini ya harus siap-siap aja kalau cuma gini-gini aja. Tinggal kita harus memilih mau tetap di jalur ini aja atau gimana? Harus siap. Tapi ya memang kalau dari segi finansial sih ya memang belum.
Kalau dari segi artistik sudah tercapai semua?
Ade: Ya pengen rekaman yang proper dengan standar band luar. Mungkin kaya Sting album “Ten Summoner’s Taleâ€. Nyewa kastil misalnya untuk rekaman..
Iyo: Udah sih tapi level sewa villa di Puncak aja pas sama si Burgerkill..
Arief: Itu mah tapi cuma proses kreatif dan workshop bikin lagu bareng aja, bukan recording. Banyak sih yang belum tercapai, saking banyaknya yang belum tercapai jadi paroho deui haha..
Ade: Jadinya ya fokus kita sekarang “kita bikin lagu baru aja yuk?â€. Yuk.
Kan dulu si PS pernah workshop bareng Burgerkill untuk kolaborasi bikin beberapa lagu bareng. Bahkan sampai sewa villa di Subang untuk beberapa hari. Proyek itu gimana kelanjutannya? Apakah pengen diterusin?
Iyo: Mana sih itu master file nya? Ada 5 lagu kalau ga salah, cuma ga tau itu masternya kemana. Ditelan bumi..
Ade: Kalau pengen diterusin sih ya pengen-pengen aja terlepas dari sekarang kan Eben udah engga ada. Ya intinya harus ngobrol lagi si PS dan BK. Terakhir pernah ngobrol sama almarhum Eben mau nerusin proyek ini “ayo urang teruskeun ieu lebarâ€, Eben pengen ngobrol lagi setelah dia ngerjain collab Godbless atau Dewa. Jadi kita latihan dan direkam. Lalu di backup ke CD. Ada 7 track kalau gak salah tapi ada beberapa track yang sama.
Iyo: Lagu yang Eben nyanyi ada? Bisa di convert ke mp3 kan?
Ade: Ada udah di backup ke komputer.
Iyo: Nah boleh deh nanti kita denger lagi dan obrolin..
Arief: Wah saya sih mau pisan nerusin…
Ade: Yang pasti sih secara musik ada karakter si Burgerkill dan PS nya. Kalau pas kita bikin itu di tahun 2008 mungkin belum banyak yang musiknya seperti itu, cuma mungkin kalau sekarang sih mungkin banyak ya yang seperti ini. Saya sih dengan sangat senang hati pengen nerusin ini. Temen-temen BK juga pengen nerusin ini, almarhum Eben juga. Cuma kan sekarang formasi PS udah beda udah ga ada Adi-Udi, dan si BK juga dulu pas di Subang ada Eben, Vicky dan Abah Andris. Memang harus dirembukin lagi soal proyek ini. Cuma terakhir Kimung yang menemukan dokumentasi visual nya. Eben kan rajin tuh arsip dan dokumentasinya tertib pisan. Rekaman demo pas latihan ada udah saya selamatkan dari CD disimpan di Soundcloud, dan dikasih ke temen-temen BK juga.. Intinya semenjak pulang dari Subang itu kita belum pernah ngobrol lagi bareng Burgerkill kelanjutan proyeknya mau gimana.
Definisi Pure Saturday untuk masing-masing personil? Hari sabtu yang seperti apakah itu?
Ade: Hari sabtu yang bisa mengisi saldo hahaha! Keluar dari rumah mo ngapain hari sabtu kalau nggak manggung? Untuk apa ke Jakarta kemaren nonton Mr. Big kalau engga sekalian manggung di event yang sama dengan mereka.
Iyo: Definisinya mungkin ya band untuk wisata weekend. Kalau saya pribadi sih hari sabtu yang sempurna adalah memancing..
Arief: Kalau misalnya dulu sih nama PS nya itu dari ngumpul tiap hari sabtu. Kalau sekarang sih ya jadi sebuah band aja yang mudah-mudahan bisa menghasilkan. Mau hari Sabtu atau Minggu juga kita ngeband.
Iyo: Jadi kaya udah bagian dari agenda kehidupan. Jadi kalau ada yang nanya ini band mau dibawa kemana harus gini harus gitu, emang harus gitu? Kalau ditanya prioritas ya ini band prioritas. Tapi kita udah lewat masa-masa itu, jadi enggak ngoyo aja..
Ade: Ya masa-masa itu udah selesai. Kaya rilis single juga “perlu ga sih kita rilis single lagi? Atau manggung aja?†Tapi kalau dipikir-pikir selama band nya masih ada dan masih bisa berkarya yaudah bikin lagu aja. Mau orang suka atau engga yaudah. Kita udah melewati fase yang “yuk kita mau bikin lagu yang gimana nih sekarang?†atau survey dulu market.. Bahh! Pusing lah! Urang nyieun lagu kalau mau denger dengerin, kalau engga yaudah. “Kok lagunya kaya gini?†Yaudah banyak band lain yang bagus denger aja yang lain hahaha..
Iyo: Kita musisi emang ya? Teuing. Si Toep kerja di bank. Bankir dan kolektor. Bangtor haha. Kalau Ade mungkin musisi full-time ya hampir tiap weekend biasanya manggung. Kalau saya sama Toep kan musisi bukan.. Punya band iya hahaha..
Ade: Urang musisi ge sisi teuing hahaha! Maneh musisi tapi ngagugulung bakar lauk! Hahaha! Jadi mau dibawa kemana? Ya jadi bagian dari hidup aja. Menghasilkan? Harus kalau sekarang mah. Kan isi dari lagu “Fleeting Away†itu ya membahas ini. Dulu ada masa nya kita dapet duit dari ngeband belanja, dipake nakal atau main. Kalau sekarang ada setoran, ada kewajiban lain-lain. Ada momen kaya “ngapain pergi dari malam pulang pagi kalau dapet nya cuma segini?†Ngapain ahaha.. Kalau ada yang berpikiran main band itu harus punya visi-misi ya mangga bikin PT aja! Hahaha.. Kita mah berkarya aja lah, bikin musik ajalah.
Apa yang akan terjadi apabila sebuah anime cult bertema dystopia berkolaborasi dengan salah satu brand ikonik dari Jepang? Wacko Maria x Ghost in the Shell adalah jawabannya. Kolaborasi anime seringkali merupakan fenomena untung-untungan. Merek fesyen terus menghasilkan persilangan dari waralaba manga dan anime Jepang yang paling cult / disukai, tetapi jarang sekali mereka berhasil dengan baik. Salah satu kolaborasi terbaik antara anime & street fashion ternyata datang dari anti-hero street fashion Tokyo: Wacko Maria. Mereka baru saja melakukan hal mustahil ini: berkolaborasi dengan sebuah anime dan berhasil dengan baik, jauh dari kata gagal atau terkesan memaksakan. Wacko Maria x Ghost in the Shell Collection adalah sebuah anomali.
Koleksi ini menampilkan kemeja cetak klasik Wacko Maria yang dihiasi dengan momen favorit para penggemar Ghost in the Shell dan artwork orisinil dari anime tersebut. Mereka juga menyelipkan sebuah crewneck dengan estetika serupa di antara hawaiian shirts trademark mereka. Brand bad boy yang berbasis di Tokyo ini membuktikan bahwa Anda tidak perlu menjadi kutu buku untuk menyukai hal-hal seperti anime dan manga. Kolaborasi The Wacko Maria x Ghost in the Shell sebuah kombinasi yang tidak terpikirkan dari dua raksasa dalam budaya Jepang. Sebuah kolaborasi yang kita tidak tahu kalau kita membutuhkan nya. Capsule collection ini hadir dalam berbagai warna dan desain. Drop ini hadir tepat pada waktu musim panas.
Bodypack, brand lifestyle asal Bandung, kembali menggelar acara Stereoff pada Jum’at, 8 September 2023. Acara ini diadakan di Flagship Store Bodypack yang terletak di Jalan Sumatera No. 38, Bandung.
Pada volume kedua kali ini, Bodypack berkolaborasi dengan Tones No.6, coffee shop asal Bandung yang memilki konsep “connecting people through coffee and musicâ€. Sesi live spinning dari Tones No.6 mampu membuat suasana lebih hidup. Para pengunjung pun dapat memilih makanan dan minuman dari Tones No.6, sehingga mereka bisa menikmati acara sambil menyantap menu pilihan yang ada.
Stereoff sendiri adalah acara yang dibuat Bodypack sebagai sarana untuk bersantai sejenak di hari Jum’at setelah melewati minggu yang melelahkan dengan mengadakan live spinning dan mengundang food stall dari sektor F&B Kota Bandung. Acara ini juga bisa menjadi tempat yang tepat untuk memperkuat relasi antar komunitas maupun brand.
Sisu adalah sebuah film yang jelas-jelas terinspirasi dari Inglourious Basterds, John Wick, franchise Mad Max dan karya-karya spaghetti-western Sergio Leone. Tetapi Sisu karya sutradara Jalmari Helander ini berhasil menemukan identitasnya sendiri. Ini adalah film thriller Perang Dunia II yang minim dialog, bercerita tentang seorang penyendiri beruban dan dia pun memiliki masa lalu yang gelap. Plot dimulai dari sang penyendiri yang menemukan lapisan emas yang sangat besar di pelosok Lapland, hanya untuk menemukan dirinya dikejar oleh satu peleton Nazi. Dengan setting tahun 1944 dimana Nazi Jerman sedang dipukul mundur oleh tentara sekutu, Nazi berusaha menghancurkan semua yang ada di jalan mereka. Saat Nazi mengejar sang protagnis, disitulah pacing menjadi sedikit intens.
Apa yang membuat Sisu menarik adalah set-pieces yang keren dan situasi yang tidak dapat diprediksi. Semua ini adalah ide-ide kreatif sutradara Jalmari Helander yang mempersembahkan intensitas kekerasan secara pelan, dimana film ini beralih dari penusukan kepala yang low-key menuju pecahan anggota tubuh lalu berakhir pada klimaks kekacauan yang lebih ambisius dan eksplosif. Fantasi sejarah dari Helander dan gaya yang disengaja membedakan Sisu dari epos Hollywood “orang tua balas dendam†lainnya bersandar pada visual keindahan negaranya yang luas sambil menunjukkan kekuatannya yang terlupakan di pertengahan abad ke-20. Sang protagonis, Aatami, pada dasarnya adalah simbol maskulinitas Finlandia — pendiam, rendah hati, dan kuat. Mungkin pesan dari film ini adalah: Jangan macam-macam dengan orang Finlandia. Protagonis Sisu sulit untuk dibunuh ini telah mendapatkan perbandingan dengan Keanu Reeves dalam John Wick. Tentunya tidak terlepas juga dari tren film-film action oktan tinggi yang diperankan aktor veteran seperti Bob Odenkirk (Nobody), Gerard Butler dan Liam Neeson di… semua filmnya. Mereka adalah para “kakek†yang mengambil tindakan sendiri. Beberapa orang akan mengatakan Sisu mengingatkan mereka kepada Mad Max: Fury Road atau Inglourious Basterds, tetapi menurut saya Sisu adalah apa yang terjadi jika Sergio Leone masih hidup untuk menyutradarai Crank: High Voltage.