Unit Hardcore asal Bandung, DEVĐAN, akan kembali mengunjungi Jepang pada 19 November 2023 dalam rangka Revival Japan Tour 2023. Tur ini merupakan kelanjutan dari tur sebelumnya di beberapa kota di Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, hingga Sulawesi. Sebelumnya, pada tahun 2019, mereka juga telah mengunjungi Tokyo bersama Kidsway dan Asia Minor sebagai bagian dari tour Endless Breathing 2019.

Dengan vokalis barunya, band ini akan mengunjungi 7 destinasi di sekitar Tokyo mulai 19 November 2023 hingga 29 November 2023, sebagai bagian dari upaya untuk tetap produktif dan memperkenalkan vokalis baru serta album baru yang akan segera dirilis. Setelah selesai Japan tour, mereka berencana untuk melanjutkan tur di Indonesia tahun depan. Selain mengadakan Revival Japan Tour 2023, DEVĐAN juga dikabarkan akan segera merilis single dan EP album terbaru dalam waktu dekat.

Setelah mini album Crowning (2019) dan debut album Bloodbuzz (2021), Denisa kembali menghadirkan album baru, St. Bernadette (2023) yang diambil dari nama baptisnya. Dibantu Haecal Benarivo (Morgensoll, Klab Diskorda) sebagai produser dan Adam Bagaskara (Pelteras) yang ikut co-produce 2 track (Spoiled dan This is a song About Revelation). Di album St. Bernadette ini, Denisa mempersembahkan 10 lagu yang lebih moody, heavy dan tentunya darker than their predecessors. Simak obrolan JEURNALS dengan Denisa mengenai resto vegan favoritnya, berteriak sebelum take vocal dan Avril Lavigne…

“Salah satu album paling life changing di hidup gue adalah Either/Or nya Elliot Smith. Cara dia nulis lirik lumayan jadi referensi gue nulis juga sampai sekarang”

Materi-materi Denisa di Crowning (2019) & Bloodbuzz (2021) terdengar lebih populist dan catchy. Apa yang membuat lo berputar haluan dan membawakan musik yang lebih dark dan heavy di St. Bernadette (2023)?
Awalnya karena nemu banyak referensi baru. Mulai dengerin genre-genre heavy sebelum ngerilis Bloodbuzz, dan kebetulan lagi banyak sharing referensi sama Rivo (Morgensoll) tahun lalu. Jadi lah, St. Bernadette. Kayaknya yang bikin gue pengen banget ganti ke darker genre simply gara-gara gue merasa lebih nyaman dan connected nulis lagu begini. Gue merasa lebih explorative juga di bagian lirik.

Apakah latar belakang pendidikan lo di SAE Institute jurusan Audio berpengaruh terhadap output musik dan pendekatan lo dalam menulis sebuah album?
Ngaruh banget, sih. Gue jadi bisa ngelewatin production secara cepat, dan ngejar sound & ngebrief engineer terasa simple.

Sound seperti apa yang lo inginkan di album-album lo?
Heavy guitars yang sedikit atmospheric dengan lead yang minor. Sound drum yang warm tapi masih significant setiap attack. Bass yang ada snap mid high. Vokal yang sound nya nyampein banget emosi lagu-nya. Overall, pengen yang warm, polished, dan pastinya balanced.

photo by Dimas Sugih

Bisa ceritain awal histori lo menulis materi-materi di St. Bernadette? Dari sketch, konsep awal sampai mengajak para kolaborator, produser dan merilis nya?
Seluruh album, gue dan Rivo nulis satu lagu dalam dalam satu hari. Kebetulan juga ada Adam Bagaskara (Pelteras) yang ikut co-produce 2 track (Spoiled dan This is a song About Revelation). Gue milih Rivo jadi produser setelah kita ngerilis Till I’m Forgiven, dari situ gue udah yakin kita bisa bikin album bareng. Kurang lebih, proses album dari songwriting sampai mastering itu 5-6 bulan.

Kabarnya lo sangat menyukai Avril, Dewa 19, Green Day, My Chemical Romance dan Justin Bieber ya?
Hahahaha menurut gue timeless aja. Semua musisi tersebut itu gue dengerin dari SD, dan mungkin sekarang kalo dengerin lagi jadi reminiscing jaman kecil. Yang paling memorable itu nonton music video Avril pertama kali di MTV abis pulang sekolah, sambil makan nugget.

Saya sempat meihat di sebuah konten di Youtube dimana Denisa bercerita mengenai vinyl-vinyl dan album-album favorit. Album-album apa aja sih yang merubah hidup lo sampai membawa lo ke titik sekarang? Seberapa banyak vinyl yang lo beli tiap bulan?
Salah satu album paling life-changing di hidup gue adalah Either/Or nya Elliot Smith. Cara dia nulis lirik lumayan jadi referensi gue nulis juga sampai sekarang. Gue udah lama ngga beli vinyl, tapi dulu gue jatahin 1 vinyl per bulan abis gajian. Kalau yang terakhir, ngga beli sih, dikadoin vinylnya Boygenius – The Record.

photo by Juan Akbar

Lo sempat berkolaborasi dengan Morgensoll dan Enola. Band-band apa aja yang sudah berkolaborasi dengan lo di rekaman atau live? Apa ada wishlist ingin berkolaborasi dengan band-band tertentu?
Kalau live, pernah jadi collaborator Perunggu di showcase mereka di Jakarta. Gue juga sempet manggung bareng Avhath untuk beberapa panggung. Kalau rekaman, gue bersyukur banget bisa rekaman bareng Bagas (Tarrkam, Morgensoll, ZIP) dan Adam B (Pelteras). Kedepannya, pengen banget collab sama TigaPagi, ngga tau kenapa, kayaknya bakal ngeri aja.

My Bloody Valentine menutup studio dengan gorden pada saat rekaman agar operator tidak bisa melihat aktivitas band di dalam studio. Ross Robinson (produser At The Drive-In) menyuruh Cedric Bixler untuk membayangkan bass drum sebagai denyut jantung setiap ibu yang kehilangan anaknya di Mexico pada saat take vocal. Beberapa vokalis yang saya kenal mematikan lampu studio dan menggunakan “substance” sebelum take vocal. Kondisi dan trigger apa yang Denisa butuhkan pada saat take vokal agar bisa berekspresi secara total?
Harus teriak sekali dua kali, yang kenceng dan lama. Kayak manasih mobil aja. Baru tuh bisa keluar emosi nya. Untuk power & lagu lagu yang lebih teriak, gue biasanya harus ada dingklik atau kursi yang gue bisa naikin 1 kaki gitu. Teknik vokal ngasal tapi it fucking works

Sebagai seorang vegan, apa lo bisa merekomendasikan 5 food spots / resto favorit lo untuk para pembaca? Dan alasan nya lo memilih tempat-tempat tersebut (highlight menu-menu rekomen dari setiap tempat)?
1. Kehidupan tak pernah berakhir (Bandung): Murah & ngga ngebosenin. Banyak banget menu nya, favorit gue sate vegan dan jamur crispy nya.
2. Burgreens: Template banget, tapi ter-aman dan ter-reliable. Gue selalu mesen salad-salad nya kalau di sini.
3. Loving Hut: Enak banget makanan Chinese & Indo-nya. Masih affordable juga. Gue selalu mesen ayam vegan cabe ijo atau nasi goreng dia.
4. Tiasa: Dia macem prasmanan/warteg food gitu. Tiap minggu menu nya diganti, selalu mesen dendeng balado vegan.
5. Bluezone Center: Makanan gue abis gajian. Porsi kuli, ada healthy food dan junk food, balanced banget. Selalu mesen vegan katsu salad.

photo by Dimas Sugih

Last question: 5 album lokal favorit lo dan alasan nya. Go!
1. Zaman, Zaman by The Trees and the Wild. Self explanatory…. indah… outer body experience..
2. Lantai Merah by Monkey to Millionaire. Seru liriknya. Gue suka banget album yang kedengeran nya bahagia tapi pas baca lirik kayak mau meninggal
3. CRIMSON EYES BY SIGMUN!!!! Ampe ada 2 poster gede di kamar gue. Ini album definisi sound mahal & timeless.
4. Dramaturgi Underground by Morfem. Motivating.
5. Upcoming Unreleased album by Pelteras. Gue belum tau exactly kapan sih. Tapi buset. Ancur. Nanti pas rilis dengerin aja, you’ll get what I mean.

Words & interview by Aldy Kusumah

Prejudize, unit hardcore asal Bandung, tak pernah kehabisan semangat untuk menciptakan nomor-nomor penuh energi. Kali ini, mereka mempercepat langkah menuju debut album dengan merilis nomor tunggal “Blazing Pledge” pada 8 November 2023 melalui platform digital. Dalam atmosfer yang penuh kesengsaraan, mereka memberikan apresiasi kepada orang-orang yang tetap gigih menjalani hidup, sambil menegaskan komitmen mereka terhadap sikap positif melalui lagu ini. Dengan lambang anjing galak di sampulnya, “Blazing Pledge” menjadi refleksi kesungguhan mereka untuk menghadapi segala persoalan.

Prejudize tidak hanya mengandalkan visual dan narasi, tapi juga membangun atmosfer berapi-api melalui tatanan audio yang memadukan harmoni hardcore beatdown dan riffs metal. Mereka menghadirkan pengalaman baru dengan menyuntikkan unsur elektronik ke dalam lagu hardcore mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah unit eksploratif yang tidak takut untuk mendobrak batasan musik. Single ini dirilis secara mandiri, diikuti dengan kabar perilisan t-shirt dan rencana peluncuran album penuh pada tahun mendatang. Dengarkan “Blazing Pledge” di berbagai kanal musik digital dan nantikan lebih banyak dari Prejudize!

Ekspektasi tinggi selalu menghantui NewJeans sejak perilisan EP debut mereka pada Agustus 2022, yang menjadi album debut pertama girl grup K-pop yang terjual lebih dari satu juta kopi. Mereka menaklukkan tangga lagu bulanan di layanan streaming musik terbesar di Korea, Melon, dan menjadi artis K-pop tercepat yang mencapai satu miliar streaming di Spotify setelahnya. Banyak yang menantikan EP terbaru mereka, “Get Up”, yang baru saja dirilis pada 21 Juli kemarin. Anggota NewJeans Haerin dan Danielle juga berpartisipasi dalam proses penulisan lagu, memberi mereka kredit kontributor, sebuah prestasi langka di K-pop. Penempatan lagu dan susunan tracklist sangat penting, karena lagu-lagu di “Get Up” menceritakan kisah cinta, dimulai dengan naksir crush di “Super Shy” hingga kecurigaan perselingkuhan di “ETA”.


Album dimulai dengan ‘New Jeans’, intro self-titled yang sedikit lo-fi. Ritme 2-step yang melompat-lompat berubah menjadi tendangan yang menghentak ditambah sound harpa yang menjadi highlight. Bermodalkan lirik yang diulang-ulang, aransemen sederhana, dan penyampaian vokal yang monoton. Track selanjutnya adalah ‘Super Shy’ dengan produksi yang energik. Track ini semakin bagus semakin sering kamu mendengarnya. Lagu ini juga menawarkan bassline dan departemen perkusi yang dipengaruhi elemen dance musik garage dari Inggris. Rap break dari Hyein adalah elemen lain yang menonjol. ini adalah pertama kalinya dia nge-rap di lagu NewJeans, dan akan menarik untuk melihatnya mengembangkan keterampilan ini lebih lanjut di rilisan mendatang.

“ETA” dimulai dengan loop bass yang keras dan terdistorsi yang sedikit out-of-place jika dibandingkan dengan rilisan NewJeans sebelumnya. Namun urgensi suara tersebut selaras dengan konsep lagu yang memperingatkan seorang teman tentang perselingkuhan pasangannya. Pengulangan dan sahutan “What’s your ETA? What’s your ETA?” juga menambah aksen pada urgensi tersebut, bersama dengan kalimat seperti “You deserve better than that” dan “Boys be always lying. Di ‘ETA’ terdengar klakson dari track Baltimore Club klasik “Samir’s Theme”, dan tidak lupa menambahkan layer sound synth yang nyaman untuk menyelimuti lagu. Sepertinya ketertarikan NewJeans pada genre Jersey club music yang dimulai di ‘Cookie’ dan balada pop dengan sound Baltimore club di lagu ‘Ditto’ telah mengarah ke momen ini. Ini adalah lagu pop dengan instrumen berlapis yang menyegarkan, dan mudah untuk membayangkannya menjadi crowd favorite saat dibawakan di konser. Lagu keempat ‘Cool With You’ terdengar lebih laidback dibandingkan 3 track sebelumnya, dan sedikit anti-klimaks. Video musiknya cukup viral dan sukses besar, berkat penampilan dari bintang film Hong Kong Tony Leung (Chungking Express) dan aktris serial TV Squid Game Hoyeon Jung. Di sisi lain, lagu ini terkesan datar (walaupun tetap catchy). Sayangnya setelah beberapa pengulangan, tidak terdapat “evolusi” di lagu ‘Cool With You’. Tidak seperti ‘Super Shy’ yang semakin bagus jika semakin sering didengar.

“Get Up”, lagu kedua dari terakhir di EP, mungkin hanya berdurasi 36 detik, tapi terdengar seperti hits RnB era 2000an yang mengawang, dan berhasil memaksimalkan vokal NewJeans yang ethereal dengan lirik berbahasa Inggris. Ini mungkin adalah sebuah kejahatan terhadap umat manusia dari “boss besar NewJeans” Min Hee-Jin: Memberi durasi 36 detik untuk salah satu lagu terbaik yang pernah direkam oleh NewJeans. Pffftt. Lagu terakhir, ‘ASAP’ adalah lagu favorit saya di EP ini. Vokal yang dreamy dibalut dengan elemen electronica yang minimalis. Apalagi part “tik tok tik tok..” yang sudah pasti akan diingat at least untuk setahun kedepan (sampai NewJeans membuat lagu catchy lainnya). ‘ASAP’ sedikit mengingatkan saya pada ‘Ditto’. Walaupun tidak bisa mengimbangi ‘Ditto’ secara aransmen, ‘ASAP’ adalah track yang keren. Penyanyi-penulis lagu RnB Erika de Casier juga membantu menulis lagu dan memproduseri beberapa track di “Get Up” ini (‘New Jeans’, ‘Super Shy’, ‘Cool With You’ & ‘ASAP’), dan karakter minimalis Erika sangat terdengar di ‘Cool With You’ dan ‘ASAP’. Anyway, EP ini bukanlah output terbaik dari NewJeans jika dibandingkan dengan EP pertama mereka (‘Attention’, ‘Hype Boy’, ‘Cookie’ & ‘Hurt’) dan 2 single ‘OMG’ & ‘Ditto’. Tetapi lagu-lagu NewJeans yang “biasa” pun tetap keren. Lagu NewJeans yang “aman” pun tetap berakhir sebagai lagu pop yang sangat baik. Jadi meskipun rilisan ini mungkin tidak mengungguli kualitas rilisan mereka sebelumnya, patut dikagumi bahwa manajemen mereka tidak takut merilis materi yang kurang konvensional. Mungkin eksperimen mereka akan membuahkan hasil pada waktunya dan NewJeans akan merubah atau memberi standar baru bagi K-pop untuk selamanya

 

Words by Aldy Kusumah

 

Setelah menunggu selama enam tahun, unit alternatif Heals akhirnya merilis album penuh kedua mereka yang diberi judul “Emerald.”  Alyuadi Febryansyah (Vokal, Gitar), Reza Arinal (Vokal, Gitar), Octavia Variana (Vokal, Bass), dan Adi Reza (Drum), menyatakan bahwa album ini merupakan perwujudan tingkat berikutnya dalam perjalanan bermusik band asal Bandung ini. Album “Emerald” menandai kedewasaan musikal mereka, dengan eksplorasi genre, instrumen, dan tema yang lebih luas daripada album pertama mereka, “Spectrum” (2017).


Album “Emerald” mencerminkan kepiawaian Heals dalam memberikan kejutan kepada pendengar melalui berbagai elemen musik, melewati batasan shoegaze, nu gaze, atau alternative rock. Salah satu contoh yang menonjol adalah lagu “Supra,” yang menggabungkan elemen elektronik dan riff gitar, menciptakan progresi musik yang khas. Seluruh materi dalam album ini bertujuan memberikan pengalaman estetika yang baru dan menyegarkan bagi pendengar. Sebelum album ini dirilis, Heals telah mengeluarkan tiga single sebagai pengantar, yang semuanya membawa nuansa dan elemen musik yang berbeda. “Emerald” adalah langkah penting dalam perjalanan Heals, menandai kembalinya mereka dengan karya baru dan kesiapan untuk meraih pencapaian-pencapaian berikutnya setelah tampil di panggung-panggung bergengsi seperti Laneway Festival Singapore (2018), Synchronize Fest, dan Soundrenaline.

Sammy Bramantyo adalah bassist Seringai, salah satu owner Lawless Burger Bar dan tentunya penggemar mobil & motor klasik. Kepiawaian Sammy dalam memanage sebuah bisnis FnB tentunya tidak bisa dipungkiri karena Sammy sudah berpengalaman di bidang itu, melakukan banyak riset, memberi “personal touch” dan tentunya memiliki team yang solid. Mari berbincang dengan Sammy mengenai burger vs hot dog, surreal nya menjadi opening Metallica dan muntah diantara setiap lagu…

“Gampangan masak burger lah daripada warteg atau warsun haha. Menurut data sih orang Indonesia lebih suka Burger daripada Hot Dog atau Pizza. Tapi (gue) lebih suka lagi sama nasi sih.”

Pada saat mencari nama Seringai, nama-nama lain apa sih yang ga jadi dipakai? Ada ga nama yang lo pengen pakai jika Seringai boleh ganti nama?
Kebetulan gue join Seringai belakangan setelah bassist pertamanya, Toan keluar untuk menyelesaikan kuliah. Jadi gue gak ada di dalam proses penamaan band. Untuk nama band lain selain Seringai, jujur gue gak pernah kepikiran. Namanya sudah cocok, sudah terbiasa juga, logonya keren, dan merchandisenya laku, so I can’t complain haha!

Pengalaman terbaik saat menjadi personil Seringai?
Momen ketika menjadi band opening Metallica susah tergantikan sih. Segala sesuatunya serba surreal dan sepertinya sulit untuk dapat pengalaman yang sebanding ke depannya. Tapi kita lihat saja nanti.

Pengalaman terburuk saat menjadi personil Seringai?
Mungkin suatu rentang waktu sekitar 1,5 tahunan yang lalu dimana gue kena GERD yang cukup parah. Setiap makan kenyang gue langsung mual, sebelum manggung selalu mual sampai muntah, bahkan mau zoom meeting aja gue muntah dulu. Gue pernah manggung dan muntah di antara setiap lagu. Ganggu banget. Tapi sekarang sudah nggak lagi.

Untuk para gearheads, Apa aja sih equipment (bass, amps, etc) dan pedalboard lo kalau perform bersama Seringai?
Fender American P-Deluxe, Orange AD200 + OBC 410 & OBC 115, Line-6 Helix Stomp Effects, Aguillar Agro, MXR 6-band EQ, Radial J48 active pre-amp, Sennheiser bass & ear wireless system

Hal tersulit dalam memanage bisnis FnB itu apa sih? Apakah lo ada background FnB sebelumny dan apakah ada tips untuk pembaca yang ingin memulai bisnis FnB?
Banyak yang sulit tapi beberapa yang paling sulit yaitu quality control dan human resource management. Enak banget kalo sebuah bisnis FnB itu bisa full automation, tapi belum tentu cocok untuk semua kan? Apalagi brand-brand yang sifatnya masih craft dan sangat bergantung sama personal touch. Gue udah pernah beberapa kali bikin warung, toko, dan restoran sebelum Lawless, tapi baru Lawless yang bener-bener pecah. Untuk pembaca yang mau mulai bisnis FnB, riset lah sebanyak-banyaknya sebelum mulai. Matangkan konsep dan menunya, kenali marketnya, perhitungkan resikonya, dan set up team yang solid.

Kenapa Lawless Burger Bar? Kenapa engga bikin Warteg Lawless, Lawless Sundanese Cuisine atau Sate Maranggi Lawless?
Gampangan masak burger lah daripada warteg atau warsun haha. Kalo Lawless punya restoran dan bar lebih cocok yang temanya western. At least untuk brand pertama. Ke depannya mah bisa apa aja.

Menurut lo orang Indonesia itu lebih suka burger, pizza atau hot dog sih?
Burger. Menurut data sih begitu. Tapi lebih suka lagi sama nasi sih.

Berbicara mengenai automotif, kapan terakhir kali lo mogok di jalan? Lagi pake kendaraan apa dan bagaimana lo menghandle nya?
Sepeda listrik masuk kategori otomotif lah ya, kan ada mesinnya. Gue baru beli sepeda listrik. Hari pertama gue pake, baru jalan 1 km mesinnya tiba-tiba mati, blackout. Akhirnya gue harus gowes balik ke tokonya, sekitar 5 km dari tempat gue mogok. Karena masih garansi dibetulin tuh 2 hari, abis itu gue ambil lagi. Besoknya gue pake ke kantor aman. Tapi pas pulang, di jalan mati lagi. Sampe sekarang gue belum pake lagi, masih males kalo mogok lagi. Asem.

Wishlist mobil / motor yang belum kesampaian apa saja?
1994 Porsche 911 Carrera Targa 964 warna hitam. Saat ini gue baru punya Legonya haha.

Konser terbaik yang pernah lo datangi? Bisa elaborasi sedikit mengenai konser tersebut?
Gimana kalo festival? Karena gue pernah datang ke Soundwave Festival tahun 2013 di Perth, AU bersama Seringai, (Alm) Ebenz Burgerkill, Arie Dagienkz, (Alm) Ardi Fotokonser, dan beberapa teman lain. Sejauh ini, itu adalah festival paling sempurna buat gue. Nonton Ghost, The Sword, Blink-182, Red Fang, Slayer, Tomahawk, Kyuss, Metallica, VOD, Orange Goblin, Gallows, Fucked Up, Anthrax, Cypress Hill, Sick Of It All, dan banyak lagi bersama teman-teman terdekat. Gimana mau ngalahin itu?

Setelah Lawless Records dan Lawless Burger Bar, next lo mau bikin apa lagi?
Wah banyak banget. Liat aja nanti deh. Yang jelas 2024 akan jadi tahun yang seru nih kelihatannya.

Pilih salah satu dan berikan alasan nya:
1. Slayer atau motorhead?
Slayer, karena FUCKING SLAYAARRGHH

2. Masakan Padang atau Sunda?
Padang, kayanya karena lebih sering gue makan aja.

3. Chopper atau cafe racer?
Chopper forever

4. Hotdog atau burger?
Burger, karena lebih banyak yang bisa dikreasikan dengan bentuknya. Kalo hotdog bentuk rotinya lebih kaku.

5. Nahan pipis pas lagi nonton film bagus di bioskop atau ke wc?
Tahan sampe ngompol, kalo filmnya sebagus itu. Entah film apa yang segitunya.

6. Jagerbomb atau whiskey cola?
JAGERBOMB LAH, karena teman-teman client gue di Jager mungkin akan membaca wawancara ini.

7. Mobil Jepang atau Eropa?
Eropa, karena lebih banyak merk dan jenis yang gue suka tanpa ngomongin harga dan ketersediaan spare parts ya.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Sammy Bramantyo Archives / IG

SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N’ Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnya”. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkan”. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?

Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP” ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatorium”. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.

‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.

Text by Aldy Kusumah
Photo by Vendrie Openk

Unit doom/stoner metal asal Jakarta, Matiasu, telah resmi merilis nomor terbaru mereka yang berjudul “Poseidoom.” Proyek ini melibatkan vokalis dan penulis lagu, Daniel Mardhany, yang sebelumnya terlibat dalam berbagai proyek musik seperti BISINGGAMA, BongaBonga, dan darksovls. “Poseidoom” menjadi rilisan terbaru Matiasu sejak karya sebelumnya pada tahun 2019 berjudul “Confusion.” Materi lagu ini sudah digarap sejak tahun 2014 oleh duo Iqra Nur Rizky (vokal/gitar) dan Haris B. Setyawan (eks-drum) sebelum akhirnya direkam ulang pada tahun 2022 di Syaelendra Studio, Jakarta. Mereka menjaga kesinambungan dengan album sebelumnya dalam genre doom-stoner metal, dengan sentuhan tambahan unsur sludge dan traditional doom metal, tempo sedang rendah, dan fokus pada esensi musik tanpa banyak basa-basi.

Sementara itu, dalam hal lirik, “Poseidoom” menandai percobaan Matiasu untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam karyanya. Mereka bekerja sama dengan Daniel Mardhany untuk menulis lirik yang cocok dengan karakter lagu. Konsep lirik “Poseidoom” merujuk pada sisi gelap industri bahari, terinspirasi oleh film Seaspiracy yang mengungkapkan berbagai kontroversi dalam industri ini. Penamaan judul lagu ini sendiri merupakan gabungan kata “Poseidon” dan “Doom” yang merujuk pada laut dan elemen misteriusnya. Matiasu berencana merilis “Poseidoom” melalui kanal YouTube mereka pada tanggal 27 Oktober 2023, bersama dengan video musik yang akan menyusul. Mereka juga terus bekerja pada karya-karya lain dalam bentuk single untuk memperluas repertoar mereka setelah album pendek “Doom Dance.”

Kuartet beranggotakan Ratta Bill (vokal, gitar), Abi Chalabi (gitar), Smita Kirana (bass) dan Ariel Kaspar (drum) merilis album baru bertajuk “Capa City” yang sedikit berbeda dari rilisan-rilisan mereka sebelumnya (Geography, Perennial EP). Pertama, band yang rilisannya biasa dirilis Kolibri Records ini kini menemukan “rumah” baru di La Munai Records yang merilis album ini. Kedua, tidak seberti predesesornya, kali ini Bedchamber lebih bereksperimen dengan ritme, lebih mengambil nada-nada disonan dari no-wave dan tentunya terdengar pengaruh post-punk yang cukup kuat. Tapi jangan takut, kalian tetap akan menemukan gitar jangly khas mereka dan basslines yang catchy di “Capa City”.

Title track ‘Capa City’ menjadi pembuka album ini dengan basslines yang groovy, dan disambut gitar jangly daru Ratta dan Abi. Vokal dreampoppy khas Bedchamber langsung menyambut pendengar di aransmen Bedchamber yang tidak asing. Spoken words disini semakin menguatkan karakter no wave / post-punk yang semakin lekat dengan direksi baru band ini. ‘Peak Season’ dimulai dengan intro gitar disonan yang dengan ajaib disambut oleh bass dan melodi yang catchy. Mungkin arah musikal yang sedikit berbeda ini adalah pengaruh dari side-project Ratta Bill (Glyph Talk) yang memang terlihat nyaman di ranah no wave / post punk / egg punk.

Track keempat ‘Elevator Pitch’ adalah sebuah instrumental dengan melodi synth yang manis dan drum midi. Memang terdengar seperti elevator music. ‘Mandatory’ melanjutkan mood yang sudah mereka bangun di 4 lagu awal. Reff lagu ini seakan membius pendengar dengan diucapkannya kata “mandatory” secara repetitif. ‘Tired Eyes’ adalah single yang sudah mereka rilis sebelum album ini rilis. Tentunya bakal menjadi crowd favorite di performance Bedchamber di kemudian hari dan siap mengganti ‘Out of Line’ menjadi lagu andalan. Track ke 7 yang berjudul ‘Riptide’ adalah track favorit kami: Sedikit mengingatkan pada Deerhunter di era Microcastle (2008), in a good way. Perpaduan vokal Smita dan Ratta di part chorus lagu sangat stand out, the’ve should do this more. Outro di lagu ini juga sangat cakep; berkurangnya intensitas dari instrumen dengan riff yang repetitif always works. Overall, “Capa City” adalah sebuah eksplorasi yang berhasi, dan berhasil membawa Bedchamber ke level baru. Semua lagu disini ter-elevate oleh produksi yang pas, tidak over-produced tetapi tetap nyaman di telinga. Can’t wait to see them perform these songs live.

Text by Aldy Kusumah

Justin Saunders sudah berhasil mengembangkan arsip kolaborasi dengan New Balance dan Reebok, lalu dia memulai partnership apparel dengan brand seperti Levi’s.
JJJJound bukanlah merek yang kamu tuju saat mencari desain yang mendorong inovasi atau mengambil langkah ke wilayah baru. Bagi sebagian orang, itu cukup untuk dianggap membosankan atau dilabeli kurang kreatif. Namun apa yang telah dilakukan oleh label asal Montreal ini dengan konsistensi adalah menciptakan barang kebutuhan pokok dengan kualitas tertinggi, dan ini tidak boleh diabaikan.

Kolaborasi merek yang paling populer adalah sepatu ketsnya dengan New Balance dan Reebok. Setiap artikel di-tweak agar lebih fresh, lapisan kain terry berwarna berbeda di Club C kulit putih atau suede berwarna earth-tone pada sepatu running New Balance. Di luar sepatu kets, brand ini mengambil langkah-langkah untuk membuat barang esensial terbaik, dan tidak takut merekrut kolaborator yang bisa meng-elevate contoh standar tersebut untuk melakukannya. Itu berarti membuat jaket dan jeans pengemudi truk dengan Levi’s atau mengajak Blackstock & Weber dari Chris Echevarria untuk membuat sepasang sepatu pantofel hitam yang ideal untuk setiap kesempatan. Untuk melengkapi sisa lemari pakaian, merek ini juga menyediakan chino santai, kemeja oxford, dan hoodies yang dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam rotasi pakaian siapa pun. JJJJound tidak membuat pakaian yang membosankan. Mereka menyempurnakan wardrobe setiap konsumen nya.

Sejak diluncurkan pada tahun 2006 sebagai website virtual untuk referensi desain dan moodboard yang dikuratori, JJJJound telah beralih dari inspirasi digital ke studio desain yang nyata. Di bawah direksi pendiri brand Justin Saunders, studio yang berbasis di Montreal Kanada ini memproduksi produk terbatas yang mencakup bola pengering mesin cuci sampai biji kopi. JJJJound juga telah meminjamkan style normcore mereka yang cerdas untuk berkolaborasi dengan A.P.C., Reebok, Vans dan tentunya dua New Balance 990.

​​Bagaimana JJJJound Beralih dari sensasi Tumblr ke studio desain yang nyata? Sejak 2008, estetika Internet telah bernavigasi ke JJJJound.com untuk menikmati kehidupan yang baik. Situs ini, dimulai oleh orang Montreal Justin Saunders, berisi estetika visual yang keren: foto interior tonal, mobil elegan, wanita cantik, busana minimalis, meme kelas atas — dan daftarnya masih terus berlanjut. Estetika pemersatu JJJJound adalah taste dan cita rasa Saunders yang sangat tinggi, yang sangat tepat sampai Kanye West pun sering membuka website ini. Seiring waktu, Saunders mengembangkan studio kreatif yang berbasis di Montreal secara diam-diam dan bekerja dibelakang layar untuk beberapa nama terbesar di industri fashion dan hiburan (seperti Kanye West). Dalam beberapa tahun terakhir studio itu perlahan-lahan berkembang menjadi desain studio yang langsung berhadapan dengan pelanggan: menjual totebag, cangkir kopi, topi, kaus kaki, Vans, dan barang-barang penting lainnya di bawah moniker JJJJound. Produk JJJJound bukanlah barang dagangan yang sembarangan, karena Justin Saunders tidak hanya mengandalkan design minimalis nya, tetapi dia juga menciptakan pasar-pasar dan estetika jenis baru secara diam-diam.

 

Teks by Aldy Kusumah