“Setelah Anda mengatasi hambatan subtitle setinggi satu inci, Anda akan diperkenalkan dengan lebih banyak film menakjubkan.” — Bong Joon-ho (Parasite, Memories of Murder, The Host)

Ledakan arus K-Pop dan K-Drama di era kontemporer tidak dapat dihindarkan, ketika semua kalangan (bahkan metalheads) menikmati album terbaru dari NewJeans dan Le Sserafim, dan streaming history (hampir) setiap pengguna Netflix dan Disney Plus adalah serial Korea. Tetapi bagi saya pribadi, sebelum K-Pop dan K-Drama saya terpapar oleh sinema Korea lebih dulu. Semenjak menonton film-film seperti Oldboy dan Memories of Murder di tahun 2000an, saya langsung digging film-film Korean new wave ini. Para sineas Korea memang terlihat lebih menyukai genre neo noir, horror dan action. Dan rata-rata ketiga genre tersebut men-glorifikasi kekerasan, bahkan kebanyakan menampilkan gore-level yang cukup tinggi. Sebut saja I Saw The Devil & Oldboy, unsur gore realistis yang ditampilkan di film-film ini tentu akan membuat penggemar film blockbuster Hollywood sedikit kaget. Mayoritas film Hollywood lebih menampilkan reaction shot wajah korban penusukan pada saat ditusuk (off screen kills), sebaliknya film-film Korea malah zoom in pada pisau yang menancap di perut sang korban. And most of the times, the violence works very well, dan kekerasan yang di glorifikasi tersebut menjadi “bumbu” penyedap yang membuat tone dan mood film lebih terbentuk.

Tidak bisa dipungkiri, nama-nama sutradara seperti Park Chan-wook, Bong Joon-ho, Kim Ki-duk dan Na Hong-jin adalah para auteur yang ada di garda terdepan sinema Korea. Jika pada video klip K-Pop dan serial K-Drama kalian banyak melihat coloring warna yang bright dan dipenuhi warna-warna pastel, para sineas ini malah bereksperimen dengan warna gelap, tone yang suram dan tentunya sedikit berbanding terbalik dengan citarasa bright yang menjadi template video Korea kebanyakan. Meskipun sejarah perfilman Korea ditandai oleh sensor dan lanskap politik yang bergejolak, industri film di negara tersebut telah mengalami kebangkitan yang sangat pesat sejak pertengahan tahun 1990an. Para filmmaker muda mulai terlibat dalam komentar politik yang relevan dalam karya-karyanya serta menghidupkan kembali eksperimen dengan genre. Upaya mereka membantu membuka jalan bagi kesuksesan global untuk film-film Korea baru-baru ini, termasuk penghargaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Parasite (2019) karya Bong Joon-ho yang menjadi film non-Inggris pertama yang memenangkan Oscar untuk Film Terbaik.

Komentar sosio politik bahkan merambah dunia film thriller aksi box office, sebuah genre yang menjadi sumber arus uang yang menggiurkan di Korea pada tahun 1990-an. Munculnya film action-thriller banyak disebabkan oleh pengaruh budaya Amerika, namun film seperti Shiri (1999), I Saw The Devil (2010), Crying Fist (2005) dan Tube (2003) membuktikan bahwa Korea dapat memproduksi film aksinya sendiri yang berkualitas tinggi dan menghasilkan keuntungan besar. Setelah Bong Joon-ho merilis Memories of Murder (2003), baik penggemar film Korea maupun internasional sudah menantikan karya berikutnya. Ketika filmnya The Host dirilis pada tahun 2006, film tersebut dengan cepat menjadi film terlaris di box office Korea yang pernah tercatat. Secara internasional, film tersebut diberi label, “film monster terbaik sejak Jaws.” Bong Joon-ho dengan lugas dan effortless bisa berpindah-pindah genre di setiap filmnya. Begitu pula dengan Park Chan Wook dan Na Hong Jin. Park Chan-wook mulai dilirik media dan publik setelah merilis Oldboy pada tahun 2003 yang langsung menjadi film favorit Quentin Tarantino. Konon, hanya Tarantino yang memberikan standing applause di festival film Cannes untuk film yang mempunyai tema (sangat) disturbing tersebut. Park memang dikenal lewat trilogi balas dendam Sympathy For Mr. Vengeance (2002), Oldboy (2003) & Sympathy For Lady Vengeance (2005) yang bergenre revenge-thriller, tetapi Park sebelumnya pernah membuat action-thriller yang menjadi sleeper hit berjudul Joint Security Area (2000). Lalu dia pun membuat rom-com (I’m Cyborg But That’s OK), horror (Thirst), sci-fi (Snowpiercer) sampai neo-noir (Decision To Leave). Jika Kim Ki-duk lebih bermain di area arthouse dan drama (3-Iron, filmnya yang paling terkenal hanya memiliki sedikit dialog), Na Hong-jin memilih untuk bermain di area neo-noir, police procedural dan detective thriller di The Chaser (2008) dan The Yellow Sea (2010). Tetapi dia banting setir ketika mendirect The Wailing (2016), sebuah film horror bertema supernatural, yang kemudian dia lanjutkan di The Medium (2021), sebuah film produksi Korea Selatan dan Thailand, walau kali ini dia bertindak sebagai produser. Jika kalian tertarik untuk digging film-film Korean New Wave ini, kalian bisa memulainya dengan beberapa rekomendasi dari kami:

Oldboy (Park Chan-wook, 2003)

Memories of Murder (Bong Joon-ho, 2003)

I Saw The Devil (Kim Jee-woon, 2010)

The Host (Bong Joon-ho, 2006)

The Chaser (Na Hong-jin, 2008)

The Wailing (Na Hong-jin, 2016)

Words by Aldy Kusumah

Aksara Records sudah merilis berbagai album klasik dan sudah tentu menambah warna ranah musik Indonesia. Sebut saja album-album seperti Sore – Centralismo (2005) & Ports of Lima (2008), White Shoes And The Couples Company – S/T (2005), The Adams – S/T (2005) & V2.05 (2007), Efek Rumah Kaca – Kamar Gelap (2008) dan yang terbaru Bilal Indrajaya – Nelangsa Pasar Turi (2013). Aksara Records juga cukup meledak dengan kompilasi JKT: SKRNG dan OST Janji Joni. Tetapi ada satu orang dibalik Aksara yang jarang tersorot oleh media. Mari berbincang dengan Hanin tentang all things about Aksara Records.

“Kata-kata indie label juga sudah bisa dibilang punah”

Halo Hanin, apa kabar? Bisa ceritakan sedikit ga tentang history awal lo bikin Aksara sama David Tarigan dulu sampai sekarang ini Aksara “comeback” untuk pembaca yang masih awam?
Dulu gue punya studio di Brawijaya, lalu gue diajak sama partner gue di Aksara dia mau buka toko buku. Terus gue disuruh manage toko musiknya. Jadi dia minta input-input gue. Orang yang pertama kali gue hire adalah Kumyka dan David Tarigan. Pas lagi jalan David ngasih tau ada band-band baru yang keren dan gue nonton kaya The Brandals, The Upstairs dan mulailah kita bikin-bikin acara di Aksara, Sore dan Mocca main. Lagipula kita juga banyak menjualnya yang rilisan indie-indie aja. Dari situlah kita mulai menciptakan ruang dan komunitas. Kita juga surprise bisa jualan album segitu banyak.

Mengapa kita comeback? Yang pertama kita lihat itu infrastrukturnya sudah jalan buat industri musik. Dan saya liat anak-anak millenial dan gen-z pada cinta sama musik Indonesia ga kaya jaman gue dulu tuh kebanyakan doyan nya hanya international bands. Karena itu kita kangen juga untuk buka Aksara Records lagi. Dan ada beberapa partner baru juga. Pertama Kali sih yang ketuk-ketuk pintu saya itu adalah Ario Kurosuke. Lalu kita bikin event di The Dutch, manggil band-band indie generasi berikutnya kaya Elephant Kind. Jadi intinya kita pengen bikin lagi Aksara seperti dulu dengan spirit yang baru.

Aksara Records lahir setelah Aksara Bookstore, dan memang musik dan buku yang disajikan di toko Aksara itu sangat well-curated, sampai ke display dan background music yang dimainkan di toko. Sebenarnya apakah lo hanya mempercayai taste lo untuk mengkurasi ataukah sedikit mengikuti pasar dunia juga pada saat itu?
Aksara Records sekarang itu.. Gue juga baru sadar ternyata Aksara itu namanya masih ada. Logo juga kita perbaharui karena kita perlu nafas baru. Aksara yang lama juga kita bebas aja sih yang penting lagu-lagunya bisa didengar sama semua. It’s all about the songs, masalah genre lo reggae atau metal kita terima. Intinya you have to sell your products. Bilal aja beda sound nya sama yang lain. Kurosuke pun berbeda. Cuma lagunya itu bagus, liriknya bagus, sangat melodius, dan sangat bisa dijual. Itu yang paling penting.

Mengutip Nick Hornby di High Fidelity; “What really matters is what you like, not what you are like… Books, records, films – these things matter.” Karena lo terlibat di Aksara yang meliputi records dan bookstore, menurut lo seberapa penting peran buku, film dan album musik itu di dalam hidup seseorang?
Buat gue penting banget itu semua: musik, buku dan film. Everything is related and it says a lot about you. Itu semua membuka cakrawala di sekelilingmu. Apa yang terjadi diluar sana. Sekarang lebih gampang lagi, internet udah kenceng bro. Informasi bisa didapat dengan mudah. Buat gue kita bisa relate lebih dengan informasi-informasi yang didapat dari semua itu (buku, film, musik, dll).

Memang sulit untuk memilih, tapi apa aja top 6 Rilisan Aksara yang menjadi personal favorites lo?
1. Sore – Centralismo (2005)
2. Sore – Ports of Lima (2008)
3. WSATCC – S/T (2005)
4. Bilal Indrajaya – Nelangsa Pasar Turi (2013)
5. The Adams – S/T (2005)
6. The Adams – V2.05 (2007)

Di pandangan lo, record label seharusnya lebih fokus ke produksi dan distribusi album atau harus juga mencakup artist management dan Event Organizer?
Ini agak sulit. Kalau kita sih ingin membuat “keluarga”. Kita punya spirit yang sama dengan roster band kita, we sound the same, sama-sama melawan pasar dan we support each other. Kata-kata indie label juga sudah bisa dibilang punah. Band-band kaya Sore dan White Shoes udah menjadi mainstream, udah ga ada bedanya gitu, cuma bagus dan tidak bagus paling sekarang ukuran nya. Menurut saya label itu harus komplit, yang pasti events harus dikerjakan karena itu main revenue, merchandise itu nomer 2, dan music is basically the marketing tool to sell the artist. Tapi kan sekarang paling banyak dari online jadi bisa dibilang ada mundurnya juga. Apakah kita harus punya event organizer sendiri sebagai label? Ya. Jadi Aksara itu dibagi 3 departemen: Label dikepalain sama Ario, event yang dikelola saya dan merchandise di handle partner kita Caca. Kita baru launch merch baru di Brightspot dimana pendekatan nya lebih ke fashion label. Sampai ada korek dan lain-lain.

Kompilasi JKT: SKRG yang dirilis pada tahun 2004 mungkin adalah salah satu benchmark penting di pemetaan musik independen Indonesia. Bisa elaborasi sedikit mengenai konsep kompilasi dan sedikit field notes cerita-cerita unik pada saat penggarapan nya?
Ini sangat penting karena kompilasi JKT SKRG adalah dokumentasi scene Jakarta pada saat itu. Kita dokumentasikan dalam bentuk sebuah kompilasi, dan menawarkan band-band keren ini ke masyarakat yang lebih luas lagi. Apalagi live nya, band-band ini lo harus liat live nya. Pada momen itu kita dianggap gila. Lalu kita launch di Citos yang notabene adalah tempat mainstream. Semua band main 3 lagu dan the rest is history. Lalu band-band di kompilasi itu ditarik Nia Dinata untuk soundtrack film Janji Joni. Akhirnya meledak lah band-band dan artist-artist tersebut yang terlibat di film itu. David Tarigan sebagai A&R yang mengkurasi kompilasi itu, ada lagu yang dipilih dan sudah jadi, lalu ada yang khusus beberapa band merekam lagu baru juga. It’s the most fun process, karena itu adalah album kompilasi pertama yang kita bikin.

Pada saat Aksara digandeng oleh Nia Dinata untuk menggarap dan mengkurasi Soundtrack film Janji Joni, apa aja konsep awal yang terlintas di benak lo untuk soundtrack film remaja? Dan bagaimana reaksi publik pada saat itu?
Basically Nia Dinata datang ke toko Aksara Kemang, kebetulan ada saya, “Darimana teteh?”. Dia bilang mau bikin filmnya Joko Anwar cuma lagunya ga ada yang cocok dengan nafas filmnya. Film anak muda dan kebetulan nama karakternya Joni. Aku tawarkan dia untuk dengerin kompilasi JKT SKRG. Lalu dia nelfon gue dan mau, apalagi si TDS nyanyi lagu Johnny in my Head dan langsung dipake jadi theme song nya Janji Joni. Nafasnya juga cocok banget sama filmnya, dimana film itu adalah potret keadaan Jakarta dan anak muda pada saat iu.

Aksara comeback dengan merilis koleksi 2004-SKRG yang meliputi beberapa artikel fashion yang juga berhubungan dengan Bilal Indrajaya dan Kurosuke sebagai roster terbarunya. Bisa ceritakan sedikit mengenai penggarapan koleksi ini dari segi konsep, design dan timing release nya?
Sebenarnya itu 2004-SKRG itu adalah design dan konsep dari Caca dan new partners kita, Fahmi. Fahmi lebih tau prosesnya jadi kalau mau sih bisa tanya dia juga. I think he does a good job using that name for the collection. Koleksi itu menceritakan perjalanan Aksara Records dari awal sampai sekarang. Kalau merch yang sekarang itu lebih kita treat sebagai fashion label daripada daripada sebagai merch musik biasa. Partner-partner saya Caca dan Fahmi juga background fashion nya sudah cukup malang-melintang, juga berpengalaman. I trust their fashion taste and designs. I’m very pleased to see their collection, and hope to see more.

Roster Aksara yang legendaris dari WSATCC, The Adams, The Upstairs, Sore, Goodnight Electric sampai Efek Rumah Kaca secara tidak langsung membentuk selera pasar musik independen di Indonesia. Apa yang ingin lo tambah untuk khasanah musik Indonesia ke depan nya dengan Aksara Records?
Basically thank you banget kita bisa dibilang membentuk selera pasar musik independen Indonesia. We we’re at the right time, memang pada saat itu musik dan band-band lagi pada keren semua. Sekarang juga lagi banyak banget band-band keren di Indo. We try to bring the best songwriters yang bisa produksi musik yang bagus, band yang solid dan visual yang bagus. Itu rumus yang biasa kita pake sih. Semoga kita bisa memberi warna baru untuk pemetaan musik Indonesia. Label-label baru keren banget, band-band baru bermunculan sampai jadi kover NME. Dari dulu itu yang kita paling senang adalah memproduce musik-musik yang kita sukai. Kita hanya mencoba memproduce satu-satu dan berproses dari hari ke hari, semoga bisa diterima di pasar Indonesia, itu ajd udah cukup ga muluk-muluk.

Di era kontemporer ini, apakah menurut lo diskursus mengenai genre dan indie label / major label masih relevan? Bisa elaborasi mengenai ini?
Emang udah ga perlu lagi ada pelabelan indie dan non-indie. Sekarang ini basically we’re all the same lah. There’s enough pie for everyone, musik Indonesia itu banyak, informasi cukup cepat dan gampang di era internet ini. Indie label atau major label sama aja sih seharusnya sekarang kalau menurut gue. Independen itu kasarnya ga ada aturan, there’s no rules yang harus diikuti. Mungkin juga seharusnya mainstream label harus lebih hati-hati apalagi yang internasional, tanggung jawab nya besar untuk mendapat target sales yang cukup besar. Kalau kita memang ada target dan angka juga, cuma kita lebih relax dari mereka secara operasional.

Pertanyaan terakhir: apakah menurut record label masih relevan di era dimana bedroom musicians bisa merilis karyanya sendiri di layanan streaming? Ataukah rilisan fisik tetap harus menjadi budaya utama dalam mengkonsumsi musik?
Bener-bener, emang sebenernya label itu udah ga relevan lagi sih. But what we’re trying to do and miss so much is basically helping bands and artist yang perlu producer / executive producer yang bisa sejalan ama label kita secara warna, ada benang merahnya. What we’re trying to do is to make families, have fun together, make music, maybe tour together. Itu sih yang missing dari aksara records dulu yang kita rasakan, proud to be in a label. Ga muluk-muluk sih. I know what you mean, Semua orang kalo punya gitar dan tempat recording dan komputer sendiri bisa langsung masuk ke Spotify sih. Tapi kita coba menawarkan sebuah payung dan sebuah rumah so we can create things together and just have fun and hang out together. We’ll just have fun basically.

We have two event IP’s, satu international, satu sama Lamunai namanya Plug & Play, satu lagi Sunday Music Club, partner kita Cork & Screw Senayan. Bawa artist internasional setiap tahunnya. So that’s about it, that’s Aksara Records for you. Semoga cukup penenarangan nya ini semua hahaha..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Hanin / Aksara’s Archives

Abigail sebagai brand lumayan mencuri perhatian; grafis-grafis dan estetika visual mereka yang dekat dengan subkultur film horror cukup stand-out dimana brand-brand seangkatan mereka masih sibuk mengangkat estetika Y2K. Ternyata kecintaan Gilang (Founder & Creative director Abigail) terhadap sinema horror cukup mempengaruhi output visual Abigail yang dark dan lekat dengan referensi-referensi film horror klasik. Mari berbincang dengan Gilang mengenai film-film horror A24, launching di bioskop dan kolaborasi upcoming Abigail dengan Bharata Dhanu dan Dwiky KA…

Koleksi terbaru lo “Serial Killer” terinspirasi dari film horror klasik. Kenapa memilih tema ini untuk sebuah koleksi? Dan kenapa memilih film-film seperti Hannibal, Texas Chainsaw dan American Psycho?
Kenapa banyak nya film klasik karena banyak estetika di scene pada film-film tersebut yang bisa gue tangkep dan jadi banyak referensi yang sekiranya bagus untuk dijadikan design produk.

Team Jeurnals sempat menghadiri invitation launching produk Abigail yang dilakukan di sebuah bioskop. Kalian memutar video lookbook koleksi terbaru sebelum memutarkan film Exorcist: The Believer. Kenapa harus di bioskop, tanggal 13 Oktober dan kenapa harus film Exorcist?
Kenapa menayangkan campaign di bioskop karena gue sadar abigail itu brand yang belum seberapa untuk dibawa ke dunia kalian, makanya kalian aja yang kita bawa ke dunia kita. Supaya bisa merasakan experience, memahami, dan mengerti dengan apa kami buat.
Film The Exorcist mungkin salah satu referensi buat design-design kita di season baru, jadi kita mau berbagi referensi aja sama audience kita.

Lalu, film-film horror favorit lo apa saja? Dan kenapa?
Gue akhir-akhir ini lagi seneng film-film nya A24, karena mereka bisa bikin film horror dengan perspektif lain dan buat gue itu ‘mind fuck’.

Konsep dan awal histori Abigail itu gimana sih? Kenapa tercetus ide untuk membuat brand dengan tema-tema yang cukup dark?
Gue pribadi memang hobi nonton film-film horror dan thriller, selain itu gue juga suka dengan design poster karena gue dulu kuliah jurusan seni rupa & design. Awalnya gue sering bikin design dan artwork untuk cover album dan merchandise band-band lokal, lama-lama gue belajar tentang produksi dan tercetus untuk bikin brand sendiri yang didasari dari apa yang gue suka aja sampai sekarang.

Fashion selalu beririsan dengan musik. Band-band dan subgenre apa aja yang menginspirasi lo saat mendesain atau membuat sebuah konsep untuk Abigail?
Kalau untuk grafis nya sih ada beberapa yang terinspirasi dari lyric, artwork cover album, dan merchandise band-band heavy metal, hardcore, post-punk, black metal, post-rock, soft grunge, noir jazz, new wave, shoegaze etc. Tapi kalo untuk fashion nya justru malah bukan dari sub-genre2 barusan hehehe.

Kalau lo boleh memilh konsumen brand lo, lo pengen Abigail dipakai dan dibeli oleh tipe-tipe pembeli yang seperti apa sih? (style nya, tipe musik yang didengarkan, etc)
Kalau boleh millih sih : muda, casual, mengikuti perkembangan, kalo tipe musik yang didengarkan sih kita bebas bebas aja.

Toko kalian yang di Hallway Space cukup menarik perhatian secara display, dan kalian juga pernah membuat fashion show di Hallway Space. Kenapa memilih Hallway untuk beroperasi dan menurut kalian apa yang harus terus dilakukan para brand agar toko tetap ramai dan tidak kalah oleh online?
Kita bikin aktivasi-aktivasi di Hallway point nya untuk meningkatkan traffic toko kita juga supaya banyak pengunjung. Kalo menurut kita sih karena ‘online shopping’ itu gak akan selamanya, kita banyakin content-content di socmed yang mengarahkan konsumen kita buat belanja langsung ke toko, juga banyakin benefit lain yang gak bisa mereka dapetin di online. Contoh kecilnya kita di toko jual poster yang ga dijual di online.

Kalian pernah berkolaborasi dengan Keek Media. Bisa ceritakan sedikit mengenai konsep kolaborasi itu? Dan kedepan nya Abigail ingin berkolaborasi dengan siapa saja?
Basic nya sebetulnya karena pertemanan aja, lalu kita bikin satu design yang mewakili 2 identity. Kita lagi ada kolaborasi dengan artisan sepatu boots untuk season depan, lalu 2024 ada kolaborasi juga bersama Vicious Pain dengan mengajak 2 artist lokal yaitu Bharata Dhanu dan Dwiky KA.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Gilang’s Archives

Seniman yang satu ini sudah tentu memiliki karya-karaya dan visual yang sangat iconic. Kolaborasi-kolaborasinya cukup masif, diantaranya adalah collab dengan brand dan seniman seperti seperti Puma, Stella McCartney, The Weeknd dan Pornhub. Hajime Sorayama lahir di Jepang dan lulus pada tahun 1969 dari Chubi Central Art School di Tokyo. Dia memulai karirnya di bidang periklanan sebelum menjadi pekerja freelance di Hollywood, di mana dia membantu memproduksi visual untuk sebuah film fiksi ilmiah. Karya-karyanya selalu berputar diantara gambar wanita, robot, dan erotisme, dan outputnya cukup dikenal baik di dalam maupun di luar Jepang. Dia adalah salah satu seniman langka yang diakui sekaligus oleh institusi paling bergengsi di dunia seni, serta oleh rumah fashion Haute-Couture terkenal, publikasi erotis, dan perusahaan multinasional yang berspesialisasi dalam teknologi baru. Karena Hajime berhasil memadukan senirupa, sci-fi, erotisme dan design secara effortless di setiap karyanya.

Karya Sorayama yang berfokus pada pencarian keindahan tubuh manusia dan mesin menerima pengakuan internasional yang tinggi, dan karya khasnya yang berjudul, “Sexy Robot” (1978-) telah menjadi visual yang ikonik. Reputasinya terpapar di seluruh dunia. Penggambaran yang memadukan keindahan estetika tubuh perempuan ke dalam konteks robot ternyata memberikan pengaruh yang signifikan terhadap formulasi citra robotik selanjutnya. Pada tahun 1999, ia memenangkan Good Design Award dan Grand Prize Festival Seni Media atas karyanya dengan Sony dalam desain konsep robot hiburan mereka ‘AIBO.’ Sorayama tinggal dan bekerja di Tokyo, Jepang. Karya-karyanya menjadi koleksi tetap Museum of Modern Art di New York dan Smithsonian Institution di Washington DC.

Belakangan ini, Hajime Sorayama secara terbuka mengontak Beyoncé mengenai visual yang dia gunakan dalam tur film RENAISSANCE yang sedang berlangsung. Grafik yang dimaksud Sorayama menunjukkan Beyoncé mengenakan hiasan kepala bot cyber femme dan setelan yang mirip dengan estetika lukisan yang terkenal dari seniman Jepang tersebut (terutama pada seri “Sexy Robot” nya). Di Instagram, Sorayama mem-posting ulang gambar dari tour tersebut, dengan cuek berkomentar: “Yo @beyonce, You should have asked me “officially” so that I could make much better work for you as like my man @theweeknd .” Pada saat artikel ini ditulis, masih belum jelas, setidaknya secara publik, apakah tim Beyoncé telah menanggapi tuduhan tersebut. Masih banyak kasus “penjiplakan” lain yang menimpa Sorayama, tetapi dengan karya-karya yang ikonik, seperti sudah tidak perlu dijelaskan lagi siapa pencipta ilustrasi-ilustrasi “Sexy Robot” tersebut. Sorayama adalah seorang living legend.

 

Words by Aldy Kusumah

Saleh Husein yang lebih dikenal dengan panggilan Ale adalah gitaris dari White Shoes & The Couples Company dan juga The Adams. Permainan gitar Ale sangat versatile: dia bisa memainkan riff-riff power pop di The Adams tetapi bisa juga bermain lead melodius dengan progresi chords yang sedikit jazzy/bossanova di WSATCC. Mari berbincang dengan musisi veteran ini mengenai manggung 5 kali dalam sehari, kesibukan baru nya di Bakmie Sedjuk dan lupa chord saat manggung…

*Sesi interview dilakukan pada tanggal 19 Oktober 2023.

“Gue pernah dalam 1 hari itu manggung 5 kali hahaha..”

Ale, dengan banyaknya lagu White Shoes dan The Adams, bagaimana sih lo bisa menghafal riff-riff gitar dan melodi dari setlist kedua band tersebut? Apalagi keduanya mempunyai jadwal panggung yang cukup padat
Yang pasti sih kita kalau latihan pakai setlist, tapi kalau ngomong lupa udah pasti lupa gue hahaha. Lebih sering sih lupa White Shoes. Gue kadang bingung ini lagu yang mana ya? Siapa dulu yang mulai ya? Ada beberapa lagu yang jarang dibawain tiba-tiba ada di setlist. Tapi begitu kita main udah aman sampe belakang. Tapi ada momen dimana gue nge-blank pas harus nge lead. Ya gue sih cuek aja jadi improvisasi aja. Kadang nge blank kadang gue juga suka pengen jahil, misal gue pengen bedain lead nya nih.. Karena ini part nya part gue selama bar nya sama ya menurut gue ga ada masalah. Apalagi di lagu white shoes di part yang agak jazzy suka gue mainin dengan lead yang lain, biasanya mereka nengok aja bingung haha.. Tiba-tiba ada juga sih momen gue ngeblank pas nyanyi harus teriak tiba-tiba bingung abis ini part yang mana ya?? Terutama di The Adams ini.. Hahaha..

Memang lagu kita banyak, WSATCC dan The Adams sama-sama punya 3 album, The Adams itu punya EP 1 atau 2 kalau ga salah. Lebih banyak White Shoes, 3 album tapi EP nya banyak.. Gue pernah mainin 32 lagu di konser White Shoes, dan itu belum semua lagu haha..

Membicarakan jadwal panggung, bagaimana jika jadwal White Shoes dan The Adams bentrok?
Kalau bentrok sudah pasti sering karena 2 band itu udah jadi high demand di acara-acara. Kalau kasusnya hari yang sama tapi kota nya sama masih bisa kita crack masalah itu. Gue pernah dalam 1 hari itu main 5 kali hahaha.. Ada yang di Bekasi, sisanya di Jakarta. Kalau bentrok nya di luar kota biasanya siapa dulu nih yang di booking duluan. Misalnya Adams dapet tawaran duluan, langsung info ke White Shoes atau kebalikannya. Dan informasi antar 2 band ini yang ngatur Adit dan Dindin. Mereka berdua yang koordinasi untuk ngomongin jadwal. Atau kalau sepanggung bareng kita bisa ngatur crew nya biar sama, ngegabungin team. Kalau memang udah bentrok dan jadwal udah diambil dan misal gue ada pameran di luar negeri atau apa ya mau ga mau digantiin. Kalau di White Shoes suka dibantu Hans, atau gitar gue dibantu sama flute namanya Hari dia yang mainin flute untuk gantiin lead-lead gitar gue. Kalau di Adamas biasa diganti Vega Antares. Kadang kaya kemaren gue ga ada jadinya Pandu main gitar dan kita nyari bassist. Karena part gitar gue lumayan nyebelin dan sibuk harus sambil nyanyi hehe..

Denger-denger lo juga ada kesibukan baru dengan Bakmi Sedjuk ya Le? Gimana tuh ceritanya?
Awalnya sesederhana sih, gue diundang jadi salah satu narasumber podcast mereka. Lalu salah satu chief nya yang bernama Igor ngajak ngobrol gue dan kita jadi intens komunikasi. Sedjuk itu dibawah SMN (Sedjuk Media Network), dimana disitu ada designer, programmer, anak muda semua. Temen-temen ini butuh programming dan creative speciality di setiap outlet Sedjuk. Nah Igor ngajakin gue buat bantuin di SMN. Nah gue kan hampir ga bisa nolak kalau ada orang minta bantuan sama gue. Menurut gue SMN itu seperti sebuah agency dimana klien nya itu si Sedjuk. Dan tidak menutup kemungkinan si SMN ini bisa mengambil kerjaan diluar Sedjuk, karena team nya banyak. Lalu kita meeting dan pengen dengerin pandangan-pandangan mereka. Jadinya gue jadi think-thank lah di wilayah kreatif yang termasuk programming. Buat gue kalau di industri kreatif atau sekumpulan kolektif itu memang teman-teman perlu banyak main. Main itu kan secara fisik nongkrong atau nonton acara. Tapi perlu diajak “main” juga biar teman-teman ini berfikir. Ini yang sejauh ini lagi gue built di SMN.

The Adams saat manggung itu set panggung nya tidak berisik: Kalian tidak menggunakan ampli, pakai drum elektrik dan menggunakan in ear monitor. Gimana tuh teknis nya dan ngulik nya berapa lama? Apakah memangkas waktu check sound?
Karena di The Adams itu ada Ario yang punya kesadaran yang lebih terhadap sound. Dia mikir kalau kita pake floor monitor wedges di panggung sanget apalagi di tempat kecil, suara gitar gue bakal kenceng dan bisa berbalik ke backdrop dan penonton. “Gimana kalau kita pakai in-ear monitor?” Awalnya gue banget yang nolak, ah ga asik pasti ga bisa komunikasi sama penonton. Ternyata bisa aja kalau ada mic todong ke penonton, jadi gue ga ngerasa pake in-ear monitor. Akhirnya semua monitor wedges dan ampli panggung gak kepake, tinggal drum nih masih berisik. Soalnya drum akustik. Akhirnya kita pake drum elektrik, taunya kita nemu drum elektrik dengan bentuk drum akustik. Jadi kalau lo liat Adams manggung ya kaya pake drum akustik aja. Ternyata drum roland ini pernah dipake drummer nya Slipknot hahaha.. Kaya waktu itu Firman (TDS) dan Khemod (Seringai) nonton kita dari backstage dan mereka kaget “Anjir ga ada suara apa-apa gini di panggung cuma kletak-kletok” hahahha.. Dan teknisnya tuh tiap personil ngatur in-ear monitornya masing-masing pakai hp.

Awalnya belanjaan alat memang banyak tapi biasalah ngutang-ngutang hahahaha! Selama kita masih seneng dengan upgrade, terlepas dari membuat lagu, si The Adams ini bagusnya secara individual semua pengen nge-enhance performance lo. Kita juga punya mixer monitor dan FOH yang kecil. Anak-anak The Sigit juga sempet nawar mixer kita kalau dijual hahaha.. Kare secara audio ini outputnya aman dan bagus banget. Mau venue seperti apapun ya tetap aman. Kita pengen nya panggung clean aja ga ada ampli, wedges dan itu ga ada masalah. Check Sound jadi lebih cepet. Semua di wrapping dan bubar. Jadi di semua acara kita cuma minjem panggung dan speaker output. Sisanya semua sistem dari kita. Dan sistem ini juga bukan sistem yang mahal, jadi kita selalu cari posibilitas yang lain. Anak-anak tuh ngulik yang gini-gini jadi audio nya jadi bagus juga.

Sebagai seorang gitaris, top 5 pedal efek favorit lo apa aja dan kenapa?
Sekarang ini sih apa ya? Gue pake Line 6 Helix untuk pre-amp. Enak banget ini sound nya padahal efek digital. Tapi kalau mau sih gue pengen Fractal FM5 haha. Pernah pas rekaman dipinjemin Kemper tapi gue gasuka bentuk dan suaranya. Mau nambah lagi nanti mungkin dan bakal ditaro di mixer monitor nantinya. Biasanya gue minta tolong Ario settingin hahaha. Lalu pake Proco Rat. Dia punya suara kotor yang oke buat gue, gak terlalu digital dan ada fuzzynya, walaupun ga se fuzzy Big Muff. Karena diskusinya di The Adams antara gitar sama gitar harus saling melengkapi, dan warna nya harus lain. Otomatis pedalnya harus beda. Ada satu lagi gue pake Ibanez Tubescreamer 808. TS ini selalu ada disetiap lagu rock dan metal dari jaman dulu. Gue pake di lagu pelan kaya “Timur” atau “Hanya Kau” biar ada crank nya dikit ga clean-clean banget. Boss Space Echo RE-202 menarik sih. Bisa ngasi ruang, dia itu digital tapi juga analog katanya. Satu lagi Boss Metalzone aja deh hahaha! Favorit gue banget tuh walaupun bunyinya begitu.. Hampir semua anak band pasti semua pernah nyobain metalzone. Tapi gatau ya anak sekarang. Tapi di era ‘90an ‘2000an tuh metalzone pasti ada di setiap rental studio hahaha. Dan kepake banget. Apalagi di jaman Saparua dulu lo ga bawa metalzone salah masuk acara tuh hahaha..

Kecintaan lo terhadap lagu-lagu Indonesia tentunya sangat besar mengingat The Adams dan WSATCC menggunakan lirik berbahasa ibu. Lagu-lagu Indonesia favorit lo apa aja sih?
“Pemuda”-nya Chaseiro. Terus Margie Segers yang “Semua Bisa Bilang”. “Badai Pasti Berlalu” udah pasti lah, dan banyak nya sih yang kece-kece soundtrack film-film Indonesia jaman dulu. Bukan sound design ya tapi yang lebih ke scoring..

Sebagai musisi yang cukup veteran, apa menurut lo iklim bermusik sekarang berubah dengan adanya Tik Tok, marketing Social Media dan banyaknya strategi yang dilakukan band-band baru yang mungkin dulu tidak dilakukan musisi-musisi generasi lo?
Hmm.. Tapi jangan lupa dulu kita pernah ada RBT jangan lupa hahaha… Gue gatau gimana cara nikmatin, sambil nunggu lo dengerin lagu orang yang dipotong reff nya doang dan lo dapet duit, gue ga ngerti sih itu.. Sistem itu akhirnya ga kepake di kita dan kita gamau ada itu dulu. Kalau melihat dalam konteks ber-media sosial ya, kita dulu punya MySpace ya. Jaman itu kita pake untuk digging musik pas jaman hp belum ada kamera. Lalu ada Napster untuk download per lagu album-album yang susah lo dapetin dulu di Indonesia. Dan itu semua terjadinya di warnet. Gue kalo gasalah masih SMA itu, semua band hardcore dan metal dulu gue dapet dari Napster.

Kalau anak sekarang itu gue ga ngerti iklimnya gimana cara mereka menikmati lagu, apakah mendengar lagu full, album full atau mendengar potongan musik di Tik Tok dan Instagram. Tapi gue ga yakin itu menikmati musik ya, cuma bisa jadi untuk membangun mood dan ambience dari visual yang lagi ditawarin sama dia. Kalau dengerin musik doang lu ga mungkin pake platform IG atau Tik Tok, kecuali nonton live mungkin. Mungkin untuk penikmat musik dia akan masuk ke Spotify, Bandcamp, Soundcloud dan lain-lain tuh, Al. Tapi sebagai intro pintu awal orang menemukan musik baru bisa juga dari Tik Tok dan Instagram. MIsal lu ngepost lagunya keren banget, gue klik dong dan gue cari full nya di Spotify atau Youtube. Menurut gue menarik dan bagus juga tuh ada lagu di IG dan Tik Tok, beda lah sama RBT masa kita nanyain “woy tadi lagu siapa tuh di RBT lo?” hahaha..

BTW, WSATCC apa kabar nih? Rencana berikutnya buat White Shoes apa aja nih?
Kita lagi mau bikin satu single sebenernya tapi masih on process, dan belum dijalankan karena kemaren kita kesandung pandemi jadi yang keluar album “2020” itu, dan kemarin baru dirilis dalam versi vinyl Japan version, jadi kemarin kita tour ke Jepang, Korea dan Taiwan. Sekarang ini kita mau rayakan juga di Jakarta dengan cara listening session lalu kita main mungkin, tapi belum fix sih. Kesibukan nya selain manggung ya itu aja mungkin lagi sibuk mempersiapkan.

Waktu tampil di AOM Bandung, lo terlihat cukup atraktif di panggung. Apa itu cara lo untuk menikmati lagu saat sedang perform?
Gue emang kalo manggung dari dulu ga bisa diem. Karena cara gue menikmati lagu itu dengan bergerak. Dirumah aja kalau dengerin vinyl gue joget-joget sendiri Al, sampe di videoin sama bini dan anak gue. “Jir ini lagu bikin badan gue bergerak nih, dance-able banget”. Ada lagu yang buat lo dengerin doang, dan ada yang memang bikin lo joget. Kalau WSATCC lebih ritmis, jadi bandan lo udah pasti gerak, kaki-kaki lo ga mungkin diem. Kalau The Adams lebih band rock yang jumpalitan juga lah hahaha.. Katanya sih lebih maskulin ya, kalau White Shoes lebih flamboyan dan feminin, lebih dance-able.

Pendekatan lo bikin lagu The Adams & White Shoes gimana?
Kalau Adams itu mungkin lebih kepengen audionya yang “nyanyi” ya. Walaupun berdasarkan jam session, ya kita biasanya pas lagi latian suka tiba-tiba mainin Metallica dan Rancid haha.. Abis ketawa-ketawa baru bikin lagu. Pandu dan Gigih lebih banyak terinfluence melodic punk. Kita selalu musik duluan. Kalau White Shoes variabel nya lebih banyak bisa tiba-tiba jazzy banget, disko atau orkes melayu. Kalau Adams itu di album Agterplaas lebih pengen memperlihatkan suasana urban Jakarta, walaupun gue dan Gigih di Tangsel, Pandu dan Aryo di Bekasi. Tapi karena kita banyak berkecimpung di Jakarta apakah bisa musik kita mewakili kota nya? Kota Jakarta itu seperti apa? Noisy, kalau di jalanan ga hati-hati bisa ketabrak. Jadi kita translate ke lagu “Esok” timecode nya berubah-ubah. Pake sound design jalanan juga, ada suara mobil-motor dan jalanan di lagu “Lingkar Luar”. Jadi ada yang progresif banget juga. Jadi musik kita itu sangat visual.

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken by Jin Panji

Showcase Dongker di Surabaya bersama Lobby dengan judul “Distopia Cinta,” tidak hanya sekadar pertunjukan musik. Acara ini juga menjadi panggung bagi gelaran multi-disiplin yang diperkaya dengan produk parfum dari REVERSEAS yang berjudul sama, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “LOVE DYSTOPIA.” Merujuk pada salah satu lirik lagu baru Dongker yang akan masuk dalam album perdana mereka tahun ini, acara ini memadukan tema “cinta terhadap sesuatu yang tidak semestinya.” Namun, keunikan Showcase ini tidak hanya terletak pada aspek musik, melainkan juga pada kolaborasi dengan Reverseas dalam menciptakan aroma parfum eksklusif.

 

Produk parfum utama yang dikembangkan oleh Reverseas memiliki aroma manis yang kuat, mencoba menginterpretasikan energi musik punk Dongker yang kasar dan penuh perlawanan. Campuran aromanya terdiri dari:
Top notes : Bergamot & Pink Pepper
Middle Notes : Clary Sage
Base Notes : Tonka Bean & Cocoa

Kolaborasi ini menampilkan enam artikel, yaitu parfum, dua kaos, celana baggy, topi, kalung, dan strap gitar. Seluruh rangkaian produk akan dirilis pada tanggal 21 Januari di Showcase Dongker yang akan diadakan di PosBloc Surabaya.

Kami sudah melihat gerak-gerik Adit Bosborot dari jaman dulu ketika dia masih tergabung di RNRM (Dulu masih Rock N Roll Mafia), berkecimpung di beberapa brand fashion dan saat dia membuat Keepkeep Musik bersama sahabatnya Michael Lesmana. Kini selain menjadi selector yang selalu hadir di event-event subculture, Adit juga ternyata berkerja dibalik layar untuk menjadi music director di beberapa tempat. Selain memiliki selera musik yang cukup versatile, Adit juga memiliki fashion-sense yang sedikit out-of-the-box. Mari berbincang dengan Adit mengenai tips-tips menjadi selector, brand-brand favoritnya dan juga sedikit mengenang masa-masa RNRM pada saat awal dibentuk…

“Tugas lo sebagai selector adalah membuat orang senang, kasih lah mereka senang, gausah ribet, buat aja mereka senang dengan pilihan lagu lo, maupun itu lagu mainstream pop, atau idealis, blend aja, lama-lama lo juga tau cara buat mereka seneng.”

Halo Dit! Apa kabar? Akhir-akhir ini lagi sibuk mengerjakan apa saja?
Baik-baik.. Sehat-sehat.. Akhir-akhir ini lebih sibuk jadi music director dan buat event. Lagi konsen di AOM dulu..

Lo juga menjadi music director untuk beberapa tempat. Biasanya apa aja yang lo lakukan sebagai music director dan bagaimana awalnya lo diajak oleh beberapa tempat itu untuk menjadi music director?
Iya sih kalau sekarang. Kan ada beberapa outlet kaya AOM, Yabe Izakaya, Nona Manis dan mungkin nanti (mereka) bakal buka beberapa outlet lagi. Yang gue lakuin sebagai music director sih studi market nya dulu, kaya AOM emang lebih resto dan cocktail bar jadi emang observenya kesana dulu sih baru mikirin vibes-nya mau dibuat seperti apa. Kalo Yabe Izakaya apakah mau dibuat Jepang banget kah, atau misal kalo Nona Manis kan mungkin bisa dibuat lebih mainstream, karena marketnya mainstream dan lokasi di Jalan Braga, jadi emang gimana menjaga suatu tempat biar engga katro aja sih haha.. biar ada standard yang kita set cukup tinggi tapi tetap ga sombong. Dulu juga sempat jadi music director di radio OZ jadi ada bekal untuk setting mood orang dari pagi, kerja, kuliah sampe mau tidur, jadi agak gampang untuk nyeting feelings dan mood.

“Kalau ada konsep yang baru mungkin gue akan mengembalikan Keepkeep seperti dulu. Gue gak butuh greed dari FnB dan bullshit lainnya hahaha..”

Lo juga salah satu founder Keepkeep Musik. Bisa ceritain awal histori Keepkeep sampai sekarang?
Keepkeep mungkin sudah hampir 7 tahun kali ya. Dari awal memang kita berangkat dari musik, record store ya. Jadi berarti tugas gue dan Michael untuk giving back to community ya bikin gigs di area belakang. Ga melulu tentang records store. Apapun itu yang community based dari skateboard, otomotif dan lain-lain. Tapi semenjak pandemic dan reopen, ya emang kita lebih aktif dulu. Sekarang lagi buat konsep baru dan belum menemukan partner yang cocok. Yang gue kerjain sekarang pun dan yang membuat gue tetap “zen” itu adalah nonton konser atau festival, itu tuh yang ga dilakuin Keepkeep sekarang kayaknya. Gue tuh ga membutuhkan kopi dan FnB sebenarnya di Keepkeep. Visi misi gue agak berseberangan aja sama yang sebelah sana. Jadi gue udah ga nyaman. Gigs terakhir yang gue buat di Keepkeep adalah showcase Efek Rumah Kaca dan itu juga karena gue masih mencoba dengan pihak yang satu lagi. Pengen nya balik ke Keepkeep yang dulu. Kalau ada konsep yang baru mungkin gue akan mengembalikan Keepkeep seperti dulu. Gue gak butuh greed dari FnB dan bullshit lainnya hahaha..

Dulu kalau tidak salah lo juga sempat menjadi personil RNRM saat masih memakai nama Rock N Roll Mafia ya? Lalu sempat menjadi managernya juga? Bagaimana keterlibatan lo dengan RNRM dari dulu sampai sekarang?
Dulu RNRM memang konsepnya mafia, berbondong-bondong seperti hyena. Jadi emang based nya dirumah Hendra di Sarijadi, semua alat-alat dari groovebox, sampler, synth ada di situ. Gue dulu sempat minta kado ultah pas SMA turntable dan coba-coba groovebox juga. Waktu di Batukaras pertama kali kita main ditanya panitia nama band nya apa ya Rock N Roll mafia disitu kita bikin mendadak. Terbentuknya emang organik, album pertama main nya rembukan, dulu sempat cover Underworld, Primal Scream, dan personil-personil sih kita konsepnya jamming kali ya. Hendra bikin bagan, Imot dan Gerry ngisi jadinya ya kaya gitu aja. Bocah-bocah sok ngerti elektronik aja dulu. Abis itu mulai tau ngeband itu seperti ini.

Pas album “Outbox” udah tau skill gue ga sehebat yg lain, yaudah gue jadi manager disitu sampe album “Prodigal”. Album pertama dirilis Groove Recordings, kedua sama Ffwd Records dan ketiga sama Organic Music. Manage RNRM dari jaman rave party Bandung masih jaya, sampe era Jakarta Movement, Embassy Playground. Sebelum DWP sih ya yang masih relate. Electronic scene nya masih asik ya, Chicane masih ke Jakarta. Itu scene rave yang masih relate sama kita. Lalu masuk Ekky dan RNRM menjadi lebih pop dan new wave. Sekarang sih apa ya, kalau disebut keluarga terlalu cliche, tapi udah ga bisa seaktif dulu, ngeband juga kita bukan Maliq & D’essentials, bukan main job nya. Beberapa orang doesn’t pay the bills with RNRM mungkin hahaha… Jadi lebih ke garap materi masing-masing dan disatuin, dijahit dan jamming. Udah beda kota, udah pada nikah, ada yang udah nikah lagi. Jadi keterlibatan gue sih selama konteks nya gue bisa bantu ya gue bantu RNRM sih. Referensi juga udah beda-beda, itu PR besarnya. Gue sih pengen nya balik lagi se-raw dulu kaya Chemical Brothers. Karena kita bisa dibilang salah satu, bukan pioneer ya, tapi salah satu yang memulai main elektronik di Indonesia, harusnya terserah kita, Anak-anak generasi baru mau ga mau harus look up ke kita. Either lo suka ato engga. Gue ga bilang kita bagus cuma harusnya gak usah ngikutin scene elektronik yang sekarang sih. Gatau sih itu cuma pandangan gue aja.

Program AOM Sundown sangat menarik dengan mendatangkan WSATCC, Diskoria sampai Jamie Aditya. Konsep dan kurasi apa yang lo terapkan di AOM Sundown?
Terima Kasih hehe. Dulu sebenarnya garap AOM itu se-simple apa yang gue lakuin di Keepkeep sih. Emang itu playground gue sih. Kalau di Keepkeep gue undang White Shoes, Krowbar, Fariz RM, Polyester Embassy.. Itu kurang lebih sama kaya elu lah Tang, elu juga punya kewajiban. Sama kaya Grimloc lah cuma Grimloc kan lebih high standard dan underground haha. Gue pengen kaya gitu juga cuma ga mungkin ya kalau di AOM kan resto dan cocktail bar haha. List kurasi sebenernya udah banyak dan pengen ngasih tau banyak kok yang kece-kece, pernah kece atau akan kece. Baru 4-5 kali kita bikin AOM Sundown tuh. Kurasi nya sih segampang apa yg menurut kita bagus.

Kadang nemu band baru secara random kaya misal gue menemukan Jangar di Custom War Bali. Ngobrol berteman tapi ga mungkin juga gw taro di AOM, tapi kalau di Keepkeep bisa. Kalau di AOM mungkin lebih intimate aja, cuma mungkin agak intimidating tempatnya sedikit fancy. Cuma ga sama sekali kok, semua juga naik kursi, naikin air mancurnya. Lo di AOM nge DJ juga ga harus nge mix juga, asal pilihan lagunya bagus dan bisa jadi selector yang asik. Konsepnya sih sesimple asal performanya bagus dan cocok sama tempatnya. Kita selalu ngasih tau limited space. Lo beli cocktail dan lo bs liat musik intimate session yang asik. Kemaren terakhir BAP dan Batavia Collective. Udah banyak yang dikeceng, nanti mungkin ada juga White Chorus dan lain-lain juga.

Album-album yang akhir-akhir ini nyangkut di telinga lo apa aja?
Anjir gue sebenernya ga denger band-band baru haha. Gue cuma ke hook si Tujiko Noriko yang album “Crepuscule I & II”. The Smile gatau 2023 bukan? Haha.. Sama boygenius. Itu aja yang gue dengerin terus-terusan. Mungkin ga semua yang gue sebut itu rilisan 2023 tapi ini yang gue denger akhir-akhir ini. Yang lokal paling Collapse yang kemarin yang ada “Rute Menuju Ivory”, Leipzig yang album baru sama Asylum Uniform. 3 band ini ngelakuin semuanya dengan benar, gimmick, video klip dan perform-nya semua dipikirin dan tidak pretensius. Boygenius gampang aja buat telinga gue, dan mereka emang superband. Oh iya satu lagi White Chorus yang “Limbo”. Sedikit UK Garage seperti NewJeans jadi gue suka haha..

Dulu juga lo sempat berkerja di industri fashion. Beberapa brand lokal dan luar yang lo sukai apa saja?
Iya gue dulu sempet di 16 Dscale dan Anti Sweden. Kalau brand lokal yang gue suka dan gue pake Ican Harem, La Creme dan Moral. Kalau brand luar Comme des Garcons dan Yohji Yamamoto karena mungkin mata gue terbuka gara-gara mereka. Kalau di Jepang gue bisa pake apa aja kaya rok, kalau disini di judge hahaha, jadi curhat anyengg.. Gue kurang suka brand yang naro brand di tees nya. Gue suka yang polos-polos, cuttingan, layers dan siluet. Jadi yang gue pake paling Vearst karena cutting dan siluetnya bagus. Maternal juga jaket kulitnya sangat bagus. Sebenernya pake apa aja asal siluet nya bagus dan cocok di gue.

Problem nya cuttingan sih kl gue tuh. Siluet tiap orang tuh kan beda-beda. Gue belum nemu produk lokal yang pas kalau buat celana, karena gue suka drop crotch kaya Rick Owens. Gue diajarin sama senpai gue di Jepang katanya lu gak apa-apa kelihatan lebih fashionable dari customer selama respectnya tetep dijaga. Jadi dress to impress itu gapapa, kalau lo berpakaian bagus ya udah menghormati sekitar lo juga. Kalau sepatu sih Compass. Urusan gue dengan sneakers selesai setelah menemukan Compass. Siluetnya si Velocity gue bantu test harian naik motor jalan lari nge-gym. Dan compass Velocity ini sangat compact, bisa gue pake fitness, ke konser sampe Jakarta fashion week, Joyland sampe disko. Gue udah ga perlu beli yang lain kalau untuk sneakers. Anyeng kaya pesan sponsor gini haha. Sisanya kaos polos gue tuh Merchons beli di Tokopedia haha. Kalau umur udah 50-60 mungkin pake Standard Denim. PMP dan Bastards of Young gue juga pake yang simple-simplenya haha..

Top 5 Fashion item wajib lo apa aja?
Mungkin since gue bolor kacamata gue harus stand out. Gue pake bowler hat, pork pie hat, barrette hat. Jaket kulit itu penting. Mungkin jaket gue pake buat intro aja pas duduk dilepas haha. Handbag harus, gue sih lagi hustling buat beli mens handbag walaupun itu Celine, Yves Saint Laurent atau LV. Itu juga berfungsi kaya intro jadinya. Atau tote bag brand sendiri. Yang penting satu lagi ya sepatu lo sih.

Sebagai seorang selector, apakah lo menyesuaikan lagu dengan tema acara dan crowd atau lo lebih cuek saja memutarkan lagu favorit lo?
Kalau nyesuain dengan acara udah pasti dan ngeliat juga lo diundang ke acara apa. Crowd juga pasti. Cuma yang paling esensial menjadi selector itu lo diundang di acara itu untuk bersenang-senang jadi gausah pengen terlihat sok keren dengan pilihan lagu lu yang berbeda. Yang penting sih seisi ruangan itu seneng. At the end of the day orang bakal ngundang lo karena mereka tau lo bisa bikin orang seneng. Kalau memutar lagu favorit dan memaksakan itu di playlist gue selalu ada momen-nya tapi harus pas timing-nya. Tugas lo sebagai selector adalah membuat orang senang, kasih lah mereka senang, gausah ribet, buat aja mereka senang dengan pilihan lagu lo, maupun itu lagu mainstream pop, atau idealis, blend aja, lama-lama lo juga tau cara buat mereka seneng.

Words & interview by Aldy Kusumah

Unit post-metal asal Jakarta yang bernama Morgensoll merils sebuah EP berjudul “COL” yang merupakan bagian pertama dari “COLORS” yang akan mereka rilis nanti. “COL” cukup mengejutkan karena kali ini mayoritas lagu tidak nir-vokal/instrumental seperti biasanya, karena bassist Adit mengambil alih departemen vokal. Musik mereka pun terdengar lebih agresif, intens dan sepertinya terpengaruh oleh metalcore 2000an, chaotic hardcore dan sound Boston hardcore. Mari berbincang dengan Haecal Benarivo (gitar), Faiz Aditda (bass, vokal), Yohanes Devin (gitar) & Bagas Wisnu Wardhana (drum) mengenai dinamika musik di Morgensoll dan makanan favorit mereka yang harus ada di dalam riders..

“Gue ngeliat The Rang-Rangs sangat bersenang-senang banget kalo ngeband, gw belajar dari mereka sih.”

Setelah eternal yang lebih bernuansa post-metal, COL lebih terasa ramuan dan terpengaruh chaotic hardcore dan metalcore ya? Apa yang memutuskan kalian untuk merubah direksi musik ke arah ini?

Rivo: Kayanya berpengaruh sama apa yg kita dengerin hari-hari juga kali ya, dan akhirnya gw coba untuk bikin materi dan pas udah jadi… Sepertinya cocok kali ada Vokalnya, dan kebetulan Adit juga nyanyi untuk Foreseen, dan dari situ gw mencoba untuk masukin vokal Adit.

Adit: Nambahin Rivo, selama pembuatan COL kita dengerin referensi musik yang sekiranya cocok untuk menambah ranah Morgensoll sesuai preferensi kami masing-masing juga.

Jon: Menurut kami ngga ada perubahan secara direksi musik. Tetap keras, tapi in a different way. Ini gak tiba-tiba berubah, sebenernya berproses juga. Materi yang sekarang dibentuk juga merupakan hasil referensi yang udah kami dengerin dari lama.

Bagas: Cukup dari gue ga ada tambahan wkwkwk

Bassist Adit mengisi departemen vokal di COL, apa yang membuat kalian memilih Adit untuk mengisi vokal?

Rivo: Kalo dari gw menurut gw Adit bisa nyanyi, dan makannya memilih dia diantara personil yang lain, tapi PR nya adalah gw mencoba untuk nge-adjust karakter vokal Adit itu supaya berbeda pas dia sama Morgen dan sama Foreseen.

Bagas: …Dan juga kita percayain dia ngisi vokal karena suaranya yang paling laki juga kali ya diantara kita, dan kita juga pengen nembus batasnya vocal Adit bisa sampe mana wadaw..

Adit: Sebenernya buat sampe “nge-gas” vokal gw cukup lama tuh proses nguliknya hahaha, tapi ternyata sekalinya udah dapet flow-nya sih langsung lancar.

Jon: Kalo gue pribadi ada keinginan juga sebetulnya vokal, kayak mungkin ini bisa jadi kesempatan dan wadah buat gue belajar. Tapi kalo gue pribadi di kendala main alat musik sama nyanyi masih kesulitan bagi otak nya hehe..

PHOTO BY FARHAN AKHBARI

Ketika membawakan materi lama dari era “Introvert” sampai “Eternal” yang mayoritas instrumental, kadang suka bingung dan lupa part ga saat sedang latihan atau perform?

Rivo: Mayaaaaaannnn hahaha.. Pernahhhh banget kalo gw hahaha.. Tau-tau suka “eeeeeeeeee mau kemaneee”..

Bagas: Real sulit… Karena bagan Morgen lumayan riweuh yang (tipenya) lama-lama dan panjang-panjang banget haha..

Adit: Masih terjadi kok hahaha! Kebetulan kami manusia.. Atau pas lagi keenakan mainin part itu jadi lupa hahahaha..

Jon: Sering salah mencet not sih, kalo lupa part enggak. Soalnya gue latihan sendiri dulu Boss sebelum latihan di studio hehe.. Tapi kalo nge-freeze pernah deng hahaha!

Pertanyaan untuk para gearheads: Gear dan efek apa aja sih yang kalian pakai selama perform dan recording?

Rivo: Gibson Les Paul Junior, Hx Effects. Hx Effects tuh dia cuman stompbox + IR doang sebenernya, ga ada amp-nya huhu.. Doain ada rejeki bisa beli amp yaa!

Adit: Fender Jazz Bass punya recording engineer kita si Janu, di-tweak soundnya sampe rasa-rasa Precision Bass + Valeton GP200. Manaa drumset lo Bagas? hahaha

Jon: Aku pake Hx Stomp malah. Sama gitarnya Orville Les Paul Standard.

Untuk Haecal yang bertugas sebagai produser disini; apa plus/minus nya memproduseri band sendiri?

Rivo: Kalo minusnya mungkin di budget ya dan jadwal anak-anak yang sibuk kerja, gw coba untuk minimalisir budget tapi tetep hasilnya memuaskan sih pengennya, biar balik modalnya ga berat-berat banget hahaha.. Semua rekaman direct semua, kecuali drum di Noiselab Studio, karena tetep pengen hasilkan suara yang organik juga. Kalo plusnya mungkin jadi ga terbatas aja kayanya. Mungkin jadi agak berantem sama ego sendiri ketika sebenernya udah cukup tapi masih mau lebih, tapi kayaknya harus tetep tau cukupnya juga sih. Kebetulan di EP yang akan release di tahun depan di Colors part II: ORS gw ngajak salah satu temen gw untuk co-produce di 1 lagu dan dia juga ikut nyanyi juga hehe..

PHOTO BY JUAN AKBAR

Saat tour ke Perancis, Belgium dan Belanda, apakah ada cerita-cerita menarik?

Rivo: Hamdallah penonton sana apresiasinya baik, kalo cerita menarik banyak banget sih terutama pas sedang ga manggung yaaaa haha.. Menyenangkan banget!

Bagas: Kebanyakan disana disediakan untuk konsumsinya yang vegan… Alias yang gue ga biasa makan…

Rivo: Gw kira antum kambing..

Jon: 1 hal yang asing buat kami: setiap habis main langsung turun panggung, bukan beres-beres alat buat performer selanjutnya. Baik di venue kecil maupun besar yang terjadi seperti ini. Lalu warga sana kalo mau appreciate ke performer itu kayak langsung aja kayak nggak ada gap antara penonton dan artist. Itu yang bikin kami merasa di welcome dengan baik juga. Treatment ke artist kecil maupun besar waktu di Dunkfest juga sama ya rasanya dari EO. Kami merasa hospitality nya bagus banget. Ini memang kami sudah denger-denger sih dari cerita orang-orang yang pernah main di Dunkfest maupun dari temen-temen yang baru kenal disana bahwa Dunkfest hospitality nya top notch.

Kenapa membuat COLORS menjadi 2 part COL dan ORS? Apakah kalian ingin mengikuti strategi K-pop dalam merilis EP?

Rivo: Biar panjang aja kayanya ya, karena abis COL, dan ORS bakal rilis full album ke-2 judulnya COLORS.. Gimana pak boss Luki (Manager)?

Luki: Sebenarnya itu salah satu cara biar pendengar Morgensoll saat ini gak kaget dengan perubahan Morgensoll, COLORS awalnya emang goal gedenya mau langsung jebret album, tapi anak-anak jg mikir seru kayaknya dipirit jadi dua EP. Jadi universe baru aja untuk Morgensoll haha..

Best advice dari kalian setelah bermusik selama ini untuk para band/musisi baru?

Rivo: Nikmatin prosesnya bikin lagu dan rekaman jangan terlalu terburu buru, karena bikin lagu dan rekaman fun bangetttttt, dan ketika ngehasilin yang sesuai ekspektasi lo pasti akan makin seru pas di bawain manggung, sama mainkan yang nyaman-nyaman aja ya hehehe.. Nikmatin prosesnya aja sebenernya sih, dan dari ngeband yang akhirnya jadi temenan banget itu seru banget sih bakalan jadi se-infested itu rasanya soalnya kita awalnya juga ketemu di acara-acara aja, terus akhirnya ngeband bareng dan jadi “berkeluarga” kali ya. Rasanya agak cringe sih tapi true hahaha! Intinya kudu seneng-seneng sih yaaa kalo ngeband. Kalo diambil contoh ngeliat kaya The Rang-Rangs mereka sangat bersenang-senang banget kalo ngeband, gw belajar dari mereka sih.

Bagas: Kalo dari gue kayaknya ngeband dibawa fun aja gitu ga usah ngoyo-ngoyo banget, kecuali emang kerjaan lo disana ya.. Sama cari partner band yang bener-bener nyaman sih kalo dari gue biar kesana sananya ga melulu cuma ngeband.

Adit: Lagu ga perlu langsung dijadiin di saat itu juga kok, jangan buru-buru bikin karya. Dan paling penting, seneng mainin musiknya.

Jon: Semangat untuk tulis lagu terus rekam. Coba terus jangan takut jelek. Kalo ga direkam dan dibawain nanti gatau jelek/bagus. Terus ternyata emang ga bisa secepet itu buat bisa “dewasa” dan nemuin karakter. Proses nya bertahun-tahun juga ternyata. Jelek-jeleknya gitu sih jadi ngasih tau di awal aja, yang penting seneng aja mainin musiknya. Banyakin main sama orang juga kali ya, soalnya inspirasi dan referensi sumbernya ga cuma dari Spotify tapi dari bergaul sama orang lain. Kayak kata Rivo tadi juga penting banget soal pas bikin materi untuk nentuin seberapa “mentok” nya si karya, kalo ga nanti ngikutin ego terus karena ga puas.

PHOTO BY FARHAN AKHBARI

3 album terbaik versi kalian masing-masing? Dan alasan nya..

Rivo:
1. Deftones – Saturday Night Wrist. Lengkap banget ni album menurut gw, produksian total banget, dari track “Hole in the Earth” sampe “Drive” naik turun banget rasanya campur aduk ahaha..
2. New found glory – Homecoming. Mungkin karena dengerin dari dulu juga kali ya jadi bisa gw denger dengan nyaman buat daily gitu, terus bisa karaokean haha
3. Cave In – White Silence. Menurut gw ini album mereka paling manteb banget setelah dia rilis album “Antenna” dan setelah dia keluar dari major label gitu. Treatment suaranya langsung balik lagi kaya album “Until Your Heart Stops” tapi songwriting lebih mateng.

Bagas: Iya lagi mikir nih haha! “Take Off Your Pants And Jacket” lah gila.. Grrrlgang album baru juga cakep sih ya.

Adit:
1. Elder – Innate Passage
2. The Black Dahlia Murder – Nightbringers
3. Heals – Emerald

Jon:
1. Isis – Panopticon
Isinya campuran rock, vokal serak metal yang bener-bener berkarakter, banyak progresi chord yang lucu-lucuan dan tempo yg progressive bikin ini jadi salah satu pilar musik post metal yang manis tapi heavy banget.
2. Amenra – Mass IIII
Di album ini rasanya semua lagu bener-bener enak, hits semua, musiknya cathartic, heavy banget.
3. Elder – Dead Roots Stirring
Salah satu album yg bikin gue jatuh cinta ke stoner rock terus jadi salah satu yang nge trigger gue buat aktif serius bermusik. Mereka bisa bikin musik yang mengalun heavy dengan part-part yang ajaib banget buat gue.

Makanan wajib yang harus ada di riders Morgensoll apa?

Luki: Babi kecap kan?

Rivo: Yaaaa boleeee juga ni babi kecap hahaha.. Maunya soto tapi kayaknya ribet makannya ya kalo sebelum manggung haha.. Buah-buahan, air putih sama Hokben kayanya gapapa. Ciaaahhhhhh ahaha! Kebetulan kita ber-4 memang doyan nyoto sih masing-masing haha!

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Dari film-film kelas Oscar, art-house, film horror independen, animasi, sampai action film action, menghiasi deretan film-film favorit JEURNALS untuk tahun 2023 ini yang sangat bervariasi. Ini adalah beberapa film yang sangat stand-out di tahun ini.

The Killer (Dir. David Fincher)
Michael Fassbender berperan sebagai pembunuh bayaran yang akhirnya menjadi target setelah pekerjaannya gagal. Sebuah thriller prosedural dari David Fincher (Seven, Fight Club, Gone Girl) yang presisi selalu menarik untuk ditonton. Fassbender dengan piawai memainkan seorang pembunuh bayaran yang dingin dan penuh kalkulasi. Melihat Fassbender melakukan gerakan yoga sambil mendengarkan The Smiths di film ini sangat menghibur dan meresahkan di saat yang sama.

Barbie (Dir. Greta Gerwig)
Anda tidak akan menemukan kritik terhadap pabrik mainan Mattel dalam Barbie karya Greta Gerwig, namun ada pesan-pesan self-empowerment, kritik terhadap budaya patriarki dan sedikit feminisme yang penting untuk diamini para penonton wanita dan para ayah yang mempunyai anak perempuan. Beberapa lelucon Greta lucu (Stephen Malkmus dan Pavement di-mention Ryan Gosling di sebuah dialog dan cuma saya sendiri yang tertawa di bioskop) dan ada beberapa yang cringe, tetapi tempo film yang cepat dan keberhasilannya untuk menampilkan hal-hal spektakuler membuat film ini fun untuk ditonton. Akting penuh komitmen Robbie dan Gosling membuat film ini tetap bertahan sampai end-credits akhir. Berdasarkan hukum karma box-office, setiap daftar film-film terbaik 2023 yang menyertakan “Oppenheimer” karya Christopher Nolan juga harus menyertakan Barbie karya Greta Gerwig, dan sebaliknya. Bagi siapa pun yang hidup hingga tahun 2023, keduanya akan selamanya bersatu dalam sebutan “Barbenheimer”. Barbie bahkan bukan film Greta Gerwig favorit saya (Little Women!!) — Tetapi apa pun yang dilakukan Gerwig selanjutnya, akan saya tonton dan tentunya akan saya tunggu.

Suzume (Dir. Makoto Shinkai)
Angin puyuh monster bertentakel, portal antar dimensi, dan kursi berbicara membentuk dunia fantasi supernatural yang menakjubkan dari sutradara Your Name & Weathering With You ini. Lupakanlah era emo Makoto Shinkai dalam “5 Centimeters per Second” dan “Garden of Words”, disini imajinasi Shinkai akan menyajikan visual yang sangat indah dan superficial. Tetapi momen-momennya yang lebih membumi tetap sama indahnya.

Talk to Me (Dir. Danny & Michael Philippou)
Horor remaja era media sosial ini menarik perhatian dengan bantuan tangan keramik jahat yang memungkinkan makhluk hidup dirasuki oleh roh tanpa tubuh. Sebuah ide yang segar dan eksekusi yang sangat efisien, “Talk to Me” berhasil meng-elevate ide-ide cerita dimana karakter-karakter bermain dengan jelangkung atau papan Ouija. Luapakanlah jump-scare murahan dari James Wan dan sambutlah duo sutradara horror pendatang baru ini.

Anatomy Of A Fall (Dir. Justine Triet)
Drama psikologis pemenang Palme d’Or yang sangat cerdas ini mengadili seorang istri yang dicurigai bertanggung-jawab atas kematian suaminya yang kejam. Sang istri Sandra mempertahankan kepolosannya, namun ia adalah seorang wanita yang cerdas sehingga ‘polos’ bukanlah label yang cocok untuknya. Dalam setiap reaksi simpatik, ada sedikit manipulas dalam diri Sandrai; dalam setiap flashback penuh amarah, sekilas terlihat sesuatu yang dingin… Di antara dua kutub absolut antara ‘bersalah’ dan ‘tidak bersalah’ terdapat spektrum kesalahan dan keterlibatan yang beragam. Anatomy of a Fall menavigasi kekeliruan moral ini dan mengungkap absurditas dalam mencoba mengambil keputusan biner yang sederhana darinya. Film ini adalah contoh bagaimana sebuah film bisa berhasil dalam beberapa genre sekaligus: Sebagai film thriller menegangkan yang membuat penonton terus bertanya siapa-, bagaimana-, dan mengapa hingga frame terakhir dan seterusnya, sebagai drama ruang sidang yang menegangkan, dan sebagai potret pernikahan yang retak dilihat dari serangkaian perspektif yang sedikit berubah. Sutradara Justine Triet berhasil membuat durasi dua setengah jam dari misteri pembunuhan art-house ini terasa lebih pendek daripada satu jam episode serial TV.

Oppenheimer (Dir. Christopher Nolan)
Epik sci-fi Christopher Nolan yang (sangat) serius tentang ‘bapak bom atom’ J. Robert Oppenheimer ini berfokus pada konfrontasi ruang sidang yang bertele-tele, tetapi sentuhan visual yang indah – dan penampilan introspektif Cillian Murphy yang layak dapat piala Oscar – menempatkan “Oppenheimer” jadi salah satu karya terbaik Christopher Nolan. Oppenheimer dengan cermat mewujudkan dunianya, mulai dari ruang kelas Berkeley hingga uji coba bom Trinity. Scoring Ludwig Göransson terus berlanjut; string-stringnya yang melengking dan crescendo yang obsesif membawa film ini ke level yang lebih indah. Sebuah pencapaian yang berhasil dari sisi narasi, teknis, visual dan suara. Siapa yang tidak merinding pada saat Oppenheimer berhasil meledakan bom atomnya dan membayangkan korban-korban dari pencapaian ilmiahnya?

Past Lives (Dir. Celine Song)
Chemistry instan bukanlah segalanya dan tolak ukur dalam urusan cinta. Film pertama Celine Song ini secara diam-diam berhasil menumbangkan konvensi romantic-comedy dengan cemerlang. Yang lebih luar biasa lagi adalah perlakuan seimbang dari kedua karakter pria di film ini, kegagahan mereka memungkinkan mereka diperlihatkan sebagai 2 pria yang menginginkan wanita yang sama, namun siap melepaskan wanita tersebut jika wanita itu menginginkannya. Sebuah drama yang sangat grounded dan di shot dengan indah, dimana penonton akan terbawa di momen-momen intim ketiga karakter tersebut dan turut merasakan keresahan, kesedihan dan closure yang diberikan film ini.

The Boy And The Heron (Dir. Hayao Miyazaki)
Film baru Hayao Miyazaki yang mistis – yang tidak lagi menjadi ‘yang terakhir’ – adalah pengalaman yang mendebarkan dan menyajikan hingar-bingar yang secara bertahap membuka diri terhadap sesuatu yang besar, bahkan apokaliptik. The Boy and the Heron adalah kisah tentang perlunya seseorang mengakui dan menerima tanggung jawab – Saya melihat ini adalah tentang dunia Studio Ghibli yang lahir dari imajinasi liar Miyazaki, dan bisa hancur seketika tanpa ada penerusnya. Sebuah dialog antara Miyazaki dengan inner childnya, dan sebuah metafora fantastis tentang menerima kematian. Semua ini divisualisasikan melalui serangkaian lanskap surealis dan berskala epik, tentunya dengan scoring Joe Hisaishi. Memang bukan karya terbaik Miyazaki, tetapi animasi mana yang bisa menandingi The Boy and the Heron di tahun 2023 ini?

Killers Of The Flower Moon (Dir. Martin Scorsese)
Epik berdurasi tiga jam ini bukanlah potret gangster stylish ala “Goodfellas”, neo-noir ala “Taxi Driver” ataupun horror psikologis seperti “Shutter Island”— mungkin bagi seorang pembuat film ulung berusia 81 tahun yang masih selalu mencari cerita baru untuk diceritakan, ini adalah sebuah mahakarya epik. Mahakarya Scorsese yang terakhir ini adalah kisah epik yang diceritakan secara mendalam tentang “perampokan” dan pembunuhan sistematis terhadap suku Indian Osage di Oklahoma, Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Ini adalah kisah nyata tentang suku Osage yang terpaksa menyaksikan pemberantasan mereka sendiri dan tidak berdaya untuk menghentikannya. Dan pusat moralnya adalah Mollie Burkhart yang diperankan dengan sangat baik oleh Lily Gladstone: seorang wanita yang terpecah antara keluarga tempat dia dilahirkan dan keluarga yang dia buat (karena dia menikahi pria kulit putih). Sebuah pertanyaan: Seberapa bagus film yang ingin kamu tonton? Pilihan Scorsese untuk membingkai pembunuhan berantai beberapa lusin orang Osage di Oklahoma tahun 1920-an dari sudut pandang pemukim kulit putih yang mengorganisir pembunuhan tersebut bagi saya bukan hanya pilihan yang dapat dipertahankan, tetapi juga pilihan yang berani. Yang terpenting, ini adalah film tentang kulit putih, ini hanya sepenggal kisah kebrutalan sejarah kulit putih Amerika, dan tentunya secara tidak langsung Scorsese menceritakan kepada penonton bagaimana sejarah Amerika yang dibangun dengan darah.

The Zone Of Interest (Dir. Jonathan Glazer)
Potret seorang komandan Jerman dan keluarganya di Auschwitz dari seorang Jonathan Glazer tentunya akan sangat menarik. Mungkin kalian mengenal Glazer dari direksi uniknya di video klip Radiohead, Blue, Massive Attack dan Jamiroquai, Jonathan Glazer juga sudah mendirect 3 film yang cukup “nyeleneh” sebelum mendirect film ini (“Birth”, “Sexy Beast”, “Under The Skin”). The Zone of Interest pada dasarnya adalah drama rumah tangga seorang perwira Nazi dan keluarganya, dimana mereka tinggal di sebuah rumah yang terisolasi dari kekejaman Auschwitz (mereka tetap mendengar suara-suara mengerikan dari Auschwitz tetapi secara “visual” mereka tidak melihat kekejaman Auschwitz secara langsung). Film ini adalah adaptasi dari novel karya mendiang Martin Amis yang menempatkan pemirsa di dalam pernikahan pasangan kehidupan nyata, komandan Auschwitz Rudolf Höss (Christian Friedel) dan istrinya Hedwig (Sandra Hüller. Keluarga Höss tinggal di dekat tembok batu tinggi yang memisahkan kompleks mereka dengan lokasi kamp konsentrasi Nazi. Meskipun bukti mengerikan mengenai pembunuhan massal yang terjadi di sebelahnya ada di mana-mana, Glazer tidak pernah mengizinkan kita melihat sekilas apa yang ada di baliknya. Yang membuat film ini mengerikan adalah bagaimana kejahatan murni itu bisa ada di orang-orang “biasa”.

Monster (Dir. Hirokazu Koreeda)
Siapa monsternya? Apakah kamu? Dia? Atau Saya? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu pikiran kita, tentunya ini adalah film yang harus ditonton lebih dari satu kali. “Monster” adalah sebuah karya Hirokazu Koreeda yang berhasil (lagi) setelah sutradara Jepang ini mendapatkan kesuksesan mainstream dari “Shoplifters (2018)” dan “Broker (2022)”. Monster adalah sebuah cerita yang melingkupi pertanyaan-pertanyaan ini, mengundang kita untuk bertanya mengapa/apa yang disakiti/disembunyikan oleh protagonis bernama Minato, saat dia berjuang untuk tumbuh sebagai anak tunggal dari seorang ibu tunggal, merindukan ayahnya yang sudah meninggal, mengalami intimidasi di sekolah dan hal-hal lainnya yang tentu akan menjadi spoiler bila saya sebutkan di resensi ini. Begitu banyak kemungkinan yang terungkap melalui struktur narasi multiperspektif ala Reservoir Dogs-Tarantino atau Rashomon milik Akira Kurosawa. Keluarga biasanya merupakan tempat berlindung yang aman, tetapi Minato malah menemukan tempat perlindungan dalam persahabatannya dengan sesama ‘monster’ bernama Yori. Dunia indah di mana hutan dan danau bergaya Miyazaki menjadi tempat bermain bagi anak-anak lelaki yang melarikan diri dari sakit hati karena dikucilkan. Di sana, mereka menemukan kenyamanan, dan akhirnya keselamatan, ‘dilahirkan kembali’ dengan harapan akan awal yang baru. Saya berharap saya dapat menonton ulang film untuk pertama kalinya lagi. Satu kata kunci: filmnya tentang “kesalahpahaman”, Bagaimana dua anak, seorang ibu, seorang guru, dan seorang sutradara dapat membuat alur cerita sebuah film menjadi begitu unik?

Honorable Mentions:
The Holdovers (Dir. Alexander Payne)
Infinity Pool (Dir. Brandon Cronenberg)
TÁR (Dir. Todd Field)
Poor Things (Dir. Yorgos Lanthimos)
Asteroid City (Dir. Wes Anderson)
Beau is Afraid (Dir. Ari Aster)
Showing Up (Dir. Kelly Reichardt)
Night of the 12th (Dir. Dominik Moll)
Sisu (Dir. Jalmari Helander)
Cocaine Bear (Dir. Elizabeth Banks)
Godzilla: Minus One (Dir. Takashi Yamazaki)
Godland (Dir. Hlynur Pálmason)

Words by Aldy Kusumah

Tahun 2023 adalah tahun yang menarik untuk musik. Dengan banyaknya album bagus yang dirilis. Tanpa berbasa-basi, ini adalah beberapa album yang selalu kami putar di playlist kami dengan volume kencang, dan tentunya album-album inilah yang mencuri perhatian kami. Jika kalian mempunyai beberapa rekomendasi, tell us in the comments! Tanpa disajikan secara berurutan, ini adalah beberapa rilisan favorit kami di 2023…

Parannoul – After the Magic
Di album ini, Parannoul menyuguhkan lagu-lagu anthemic yang cocok dibawakan di arena atau stadium. Padahal, lagu-lagu tersebut dibuat di sebuah ruangan kecil, suara 20 orang di studio rekaman yang berasal dari satu komputer, sebuah karya megah nan epik yang dibuat sebagian besar oleh satu orang. Pemilihan detail-detail soung di setiap lagu juga sangat presisi: Indahnya efek tremolo gitar di ‘We Shine At Night’, sound piano dan strings epik ala scoring Japan-RPG yang melebur dengan gitar akustik di ‘Parade’ , atau ritme musik yang menghanyutkan di penultimate track ‘Blossom’. Sangat euphoric. Sound gitar fuzz dan walking bass di ‘Arrival’ membuat saya membayangkan bagaimana Billy Corgan akan membuat simfoni gitar dengan style Siamese Dream pada tahun 2023— dengan menumpuknya layer-layer overdub kecil yang tak terhitung jumlahnya. Sebelum Parannoul, saya tidak membayangkan sound bedroom pop bisa semegah ini. Parannoul bisa meng-elevate bedroom pop menjadi sesuatu yang layak dipertontonkan di venue besar. Output album ini bisa dibilang jauh dari input satu orang yang merekam musiknya didepan sebuah laptop. Bagi saya, ini adalah AOTY material indeed.

Tomb Mold – The Enduring Spirit
Setelah merilis tiga album death metal klasik, Tomb Mold mengambil pengaruh dari luar angkasa (mungkin mengikuti jejak Blood Incantation?). Meskipun The Enduring Spirit penuh dengan part-part gitar yang clean dan aransmen instrumental yang rapih, lagu “Servants of Possibility” dan “Angelic Fabrications” menampilkannya Tomb Mold dalam versi yang lebih heavy, sedikit mengingatkan kita kepada pendahulu mereka di Atheist. Dengan elem-elemen dari jazz fusion, prog ‘70an dan dream pop ala 4AD records, “The Enduring Spirit” adalah album death metal yang cukup unik. Coba saja pasang “Will of Whispers” dengan volume yang kencang. Biarkan Tomb Mold mengguncang dunia kamu.

Yo La Tengo – This Stupid World
Jika kamu merindukan suara gitar Ira Kaplan yang terdengar seperti suara Stratocaster vintage-nya yang tercekik, maka album Yo La Tengo No. 17 ini; “This Stupid World,” adalah performa mereka yang paling keras dan paling epic selama bertahun-tahun bermusik. Dibuka dengan “Sinatra Drive Breakdown” yang berdurasi tujuh menit lebih. Diikuti oleh “Fallout,” yang memiliki riff gitar yang terdengar seperti sesuatu yang direkam pada tahun 1992 di puncak era alt-noisepop, dan kemudian “Tonight’s Episode,” yang dipenuhi feedback, dan sedikit mengingatkan influence terbesar Yo La Tengo: Velvet Underground. “Aselestine”, adalah sebuah track laidback yang dinyanyikan oleh drummer Georgia Hubley. Overall, hampir 40 tahun dalam karir mereka sebagai sebuah band, dengan “This Stupid World,” Yo La Tengo telah mencapai puncak teratas musikalitas mereka. This is indierock at it’s finest peak.

boygenius – the record
Album debut dari boygenius adalah ramuan terbaik dari para ratu indie-rcok: Julien Baker, Phoebe Bridgers, dan Lucy Dacus. Di album ini mereka menunjukkannya kepiawaian songwriting mereka dengan kekuatan penuh. Album ini mempertahankan kekuatan dan karakter dari masing-masing: Julien Baker dengan vokal antemik dan lick-lick gitarnya, folk spektral ala Phoebe Bridgers, dan puisi Lucy Dacus yang dibuat dengan tepat. BUkan masalah jika sebelumnya kamu tidak mendengarkan karya solo dari trio ini, “the record” tetap akan menjadi album bagus yang bisa kamu nikmati. Setalah mendengar album ini, saya yakin kalian akan mengecek kembali katalog dan digging rilisan lama dari trio ini.

Noname – Sundial
Bagaimana bisa album hip hop yang politically-charged seperti ini bisa didengarkan dengan mudah dan terdengar catchy? “Sundial” adalah album Noname yang dipenuhi lirik-lirik dengan tema ketidakadilan sosial, yang diilhami oleh teori anti-kapitalis. Rapper asal Chicago ini menunjukkan kecerdasan sosio politiknya terhadap segala hal mulai dari standar kecantikan bagi perempuan kulit hitam sampai teori-teori anti-konsumerisme dan sedikit bumbu marxisme. “She’s a shadow walker, moon stalker, Black author/Librarian, contrarian” dia lantunkan di lagu pembuka album, “black mirror,” sebuah lirik yang powerful yang diselipkan di tengah instrumental yang santai dan vokal latar yang dreamy. “Sundial” adalah karya Fatimah Warner dengan segala kehebatan nya untuk membuat sebuah album jazz hop / neo-soul yang bisa menyaingi “The Low End Theory” milik A Tribe Called Quest.

Caroline Polachek – Desire, I Want to Turn Into You
Jika pada album “Pang” Caroline masih dibanding-bandingkan dengan Kate Bush, di album ini Caroline benar-benar keluar dari ekspektasi tersebut. Lebih eksperimental tidak seperti “Pang” yang lebih dream pop, “Desire, I Want to Turn Into You” adalah Caroline Polachek yang berkarya sebebas-bebasnya. “Bunny Is a Rider” memiliki verse yang tidak catchy, yang justru semakin memperkuat chorusnya yang akan membawamu ke surga electro pop. S”ementara Billions” adalah sebuah lagu cinta yang secara tak terduga menawarkan sesuatu bagi para penggemar Elizabeth Fraser dari Cocteau Twins. Grimes dan Dido bertamu di ”Fly to You”, dan entah bagaimana, perpaduan itu terdengar epic. Meskipun drum’n’bass semakin banyak memasuki irama artis-artis mainstream AS, karya Caroline lebih terasa artsy dan tetap memiliki sensibilitas pop yang kental. Hanya Caroline lah yang bisa terdengar seperti menggunakan auto-tune padahal dia mungkin hanya menyindir trend auto-tune tersebut.

Grrrl Gang – Spunky!
Siapa sangka kalau album terbaik Grrrl Gang adalah sebuah album dimana mereka membuat lagu punk. Spunky! tidak hanya punk secara direksi musik, tetapi secara spirit riot grrrl nya. Lupakanlah lagu-lagu Grrrl Gang era “Bathroom” dan “Dream Grrrl” (walaupun di “Dream Grrrl” sudah tercium sedikit aroma punk), Spunky penuh dengan energi, dan seakan kerasukan Kathleen Hanna, vokalis Angeeta lebih banyak shouting, spoken words dan vokalnya terdengar lebih lantang disini. Tetapi dibalik semua itu, Spunky! Tetap memiliki sensibilitas pop yang selalu dimiliki Grrrl Gang.

XG – New DNA
New DNA adalah sebuah EP berisi 6 lagu, tapi persetan dengan itu, rilisan yang satu ini wajib masuk ke list ini. Tidak ada satu genre pun yang benar-benar dapat mendefinisikan XG. XG terdiri dari tujuh anggota berdarah Jepang, berbasis di Korea dan menyanyikan lirik berbahasa Inggris. Mereka tidak ingin disebut sebagai K-Pop maupun J-Pop, karena mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai “global pop”. Single mereka sebelumnya di tahun 2023, ‘Shooting Star’ dan ‘Left Right’ adalah lagu pop bernuansa R&B ‘90an yang membawa XG ke stratosfer. Namun girl grup ini tidak berpuas diri dengan mini album debut mereka ‘New DNA’. Proyek ini merupakan sebuah peleburan style, influens, dan genre, dilapisi dengan kemasan Y2K, cyberpunk dan sedikit surreal. Meskipun kita telah melihat gaya futuristik ini di K-pop, XG lah yang melakukan ini dengan berhasil. Mereka memainkan perpaduan musik Jersey club (yang kembali dipopulerkan oleh Ditto milik NewJeans), hip hop, ‘90s R&B dan tentunya electro pop. Kepiawaian Maya, Jurin dan Cocona dalam rapping dilengkapi juga oleh vokal dreamy dari Juria, Hinata dan Chisa. Dan tentunya jangan lupakan syle vokal/rap Harvey yang sangat berkarakter. Lupakanlah NewJeans, XG akan segera menguasai dunia dalam waktu dekat.

Swellow – Katus
Setelah melalui rangkaian dua maxi-single di “Simpul Tak Berdaya” dan “Jeruk Segar”, akhirnya Swellow resmi merilis album penuh pertama yang diberi judul “Katus”. Band indie-rock asal Bogor ini membuka album dengan sebuah track banger berjudul ‘Penjelajah Waktu’. Sebuah riff gitar slacker indie-rock yang menarik, lengkap dengan berbagai variasi chord minor, sus2 dan maj7. Pemilihan sound yang keren ini membawa saya ke era keemasan Matador Records, Drag City dan Kill Rock Stars. Swellow pun tampak effortless membawakan pakem-pakem indie-rock akhir ‘90an-awal ‘2000an ini.
Lagu-lagu di album ini bagaikan sebuah selimut hangat; one of those albums that will give you a warm and fuzzy feeling inside. Track demi track masuk ke kuping ini secara effortless. “Katus” adalah sebuah sajian album all killer no filler. Tanpa terasa saya sudah berada di penghujung album dengan penultimate tracknya ‘Pasien’ dan ditutup oleh ‘Berkelana’ yang penuh energi. Overall “Katus” adalah sebuah album indie-rock yang bagus. Mungkin dewa-dewa indie-rock seperti Stephen Malkmus, Robert Pollard dan Jeff Tweedy pun akan approve jika mendengar album ini. Tidak heran jika album ini akan menjadi pilihan AOTY untuk banyak orang.

HEALTH – RAT WARS
Berkat produser Demi Lovato, Stint, departemen vokal di album ini diberi lebih banyak ruang dan sering disajikan dalam layer double-track. Hal ini menimbulkan nuansa pop adalah pada lagu “ASHAMED”. Meski begitu, itu digunakan dengan cara yang sangat efektif. Meskipun saya tidak suka ketika band-band seperti Sleep Token menambahkan dimensi pop pada suara mereka, teknik rekaman tersebut bekerja lebih baik di sini karena suasana tertindas yang diciptakan oleh keseluruhan musik menyeimbangkan hal ini. Dan perpaduan musik industrial dengan vokal merdu ini mengingatkan saya pada Stabbing Westward era “Wither Blister Burn & Peel”, in a good way. Alur synth dari “HATEFUL” menciptakan suasana yang eksplosif. Sound gitar dinamis di “CRACK METAL” mengambalikan HEALTH pada roots noise rock mereka. Salah satu favorit saya adalah “CHILDREN OF SORROW”, yang memiliki riff yang sangat keren.
Segalanya berakhir dengan band yang paling dekat dengan balada dengan ‘DON’T TRY’. Hal ini mengingatkan kita pada momen-momen paling depresif dari Placebo, yang sekali lagi merupakan cita rasa yang mungkin tidak menarik bagi semua pembaca di sini, begitu pula album ini secara keseluruhan. Namun, menurut saya penggemar musik industrial dan beberapa penggemar musik eksperimental yang lebih kecewa secara sonik akan menganggap album ini sebagai soundtrack yang menyenangkan untuk zaman modern.

Sebagai penggemar band ini, ini adalah salah satu album terbaik dari genre apa pun yang pernah saya dengar selama beberapa waktu, jadi saya merasa tugas saya untuk menyanyikan pujiannya kepada mereka yang memiliki selera serupa yang menikmati suara suram dengan intensitas emosional tinggi yang dapat menjadi hal lain. rasa berat.

SZA – SOS
Dengan 23 lagu, “SOS” hadir sebagai puncak klimaks SZA dalam versi musikal. Ini bukan album berkonsep naratif, tapi lagu-lagunya dihubungkan oleh alur yang repetitif: rangkaian perselingkuhan, reuni, pengkhianatan dan koneksi, anxiety dan afirmasi. Lagu-lagunya melompat dari masalah pribadi ke masalah universal, tetapi secara musik, album ini terdengar ringan dan catchy. “SOS” melibatkan banyak produser dan kolaborator, menggunakan peleburan terbaik dari style musik lama dan memanfaatkan genre-genre modern. Dalam “Kill Bill,” SZA berfantasi tentang membunuh mantannya dan pacar barunya, terdengar ringan sekaligus berbahaya saat produksi menghadirkan balada R&B yang epic. “Too Late” dicuri secara sonik dari Janet Jackson era ‘80an, dan dalam “F2F,” dia memulai dengan folk-pop yang kemudian menjadi rock saat dia bersikeras bahwa dia hanya selingkuh dengan seseorang saat menyanyikan lirik “because I miss you”. ‘SOS’ adalah SZA dalam versi paling ambisius, dan dia berhasil. Siapa sangka patah hati bisa meng-elevate seseorang ke titik musikal yang jenius?

Home Front – Games of Power
Apa yang kamu dapatkan jika menggabungkan punk dengan new wave? Jawaban nya adalah spirit survival dari musik punk dan vibes musik ‘80an yang membuatmu semangat untuk bangun di pagi hari. Home Front rupanya mengambil elemen-elemen terbaik dari kedua genre itu. Debut album Home Front ini lebih terasa seperti album klasik yang obscure daripada sebuah debut album modern; sebuah peleburan menarik dari post-punk yang menyeramkan, krautrock yang motorik, dan semangat punk yang bergairah. Mungkin untuk saat ini ‘Overtime’ adalah track favorit saya di album ini. Synth dan melodi gitar yang catchy dibalut oleh nada vokal anthemic di reff, dan tentunya sedikit mengingatkan saya kepada lagu ‘A Space Age Love Song’ dari A Flock Of Seagulls. Games of Power disatukan oleh kejelasan visi dan konsep, seluruh lagu album ini bagus dan tentunya bakal menjadi calon album of the year versi kami.

Words by Aldy Kusumah