Banksy: seniman jalanan dengan karya yang bernilai ratusan ribu dolar
Banksy adalah seorang seniman yang karya-karyanya selalu relevan dengan zaman. Aktivisme dan sikap politisnya tersiratkan dari karya-karyanya yang anti-otoritas dan sering kali menyindir pemerintahan, kapitalisme, dan kondisi manusia. menggambarkan distopia kontemporer. Ketika majalah Time memilih seniman asal Inggris, Banksy—ahli grafiti, pelukis, aktivis, pembuat film, dan provokator serba guna—untuk masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia pada tahun 2010, ia berada di tengah-tengah Barack Obama, Steve Jobs, dan Lady Gaga. Foto Banksy di majalah itu adalah sebuah self-potrait dirinya dengan kantong kertas (yang dapat didaur ulang, tentu saja) di atas kepalanya. Sebagian besar penggemarnya tidak benar-benar ingin tahu siapa dia (dan dengan keras memprotes upaya Fleet Street untuk membuka kedoknya). Namun mereka ingin mengikuti perkembangannya dari grafitti ilegal—atau, istilahnya, “bombing”—dinding di Bristol, Inggris, pada tahun 1990an hingga seniman ini memiliki karya-karya yang bernilai ratusan ribu dolar di rumah lelang internasional seperti Christie dan Sothebys. Saat ini, dia sudah bombing di kota-kota dari mulai Wina hingga San Francisco, Barcelona hingga Paris dan Detroit. Dan dia kadang beralih dari grafitti di tembok kota dan mulai melukis di atas kanvas, membuat patung konseptual, dan bahkan shooting proyek film, dengan film dokumenter “Exit Through the Gift Shop”, yang dinominasikan untuk Academy Award.

Inspirasi Banksy dalam menggunakan stensil
Pest Control, organisasi yang didirikan oleh seniman untuk mengautentikasi karya seni Banksy yang asli, juga melindunginya dari pihak luar yang ingin tahu mengenai identitas aslinya. Bersembunyi di balik kantong kertas, atau, yang lebih umum, email, Banksy tanpa henti mengontrol narasinya sendiri. Wawancara tatap muka terakhirnya terjadi pada tahun 2003. Meskipun ia berlindung di balik identitas yang dirahasiakan, ia menganjurkan hubungan langsung antara seorang seniman dan masyarakat umum. Banksy adalah seorang seniman yang mengembalikan dunia seni borjuis menjadi milik rakyat. Dari dulu, Banksy menetapkan aplikasi karya stensilnya yang khas pada grafiti. Ketika dia berusia 18 tahun, dia pernah dikejar polisi saat sedang bombing di sebuah kereta api bersama sekelompok temannya. Ketika Polisi Transportasi Inggris muncul dan semua orang berlarian. Banksy menghabiskan lebih dari satu jam bersembunyi di bawah truk dengan oli mesin bocor ke sekujur tubuh nya. Dari pengalaman itu Banksy memutuskan dia harus memotong setengah waktu “bombing”nya atau berhenti sama sekali. Banksy pun terinspirasi oleh stensil di bagian bawah tangki bahan bakar ketika sedang bersembunyi di bawah truk tersebut, dan dari situlah Banksy mulai menerapkan aplikasi stensil pada karya-karya grafittinya, sehingga membuat proses bombingnya jadi 2x lebih cepat dari seniman-seniman grafitti lain. Banksy juga menyukai sisi politiknya dari perpaduan grafitti dan stensil tersebut. Semua grafiti adalah perbedaan pendapat tingkat rendah, tetapi stensil memiliki sejarah tambahan menurutnya. Menurut sejarah stensil telah digunakan untuk memulai revolusi dan menghentikan perang.

Banksy dan anonimitas
Banksy adalah seniman dan aktivis jalanan kontemporer Inggris yang, meskipun terkenal secara internasional, tetap mempertahankan identitas anonimnya. Ditujukan sebagai bentuk kritik budaya, sang seniman sering menyasar agenda sosial dan politik yang sudah mapan dengan ilustrasi cerdasnya yang dibuat dengan stensil dan cat semprot di kota-kota seperti New Orleans, New York, dan Paris. Meskipun rincian kehidupan artis tersebut sebagian besar tidak diketahui, diperkirakan bahwa Banksy lahir di Bristol, Inggris, pada tahun 1974. Dia memulai karirnya sebagai seniman grafiti di kota. Pada tahun 2015, Banksy membuka Dismaland Bemusement Park, sebuah pameran seni kontemporer yang difungsikan sebagai taman hiburan, seperti Disneyland versi gelap. Setelah berjalan selama 36 hari, pekerja dan materialnya dikirim ke kamp migran Calais di Prancis untuk membangun perumahan tambahan. Di antara aksi seniman yang paling terkenal termasuk lukisannya yang tercabik-cabik: Ketika lukisan karya Banksy dijual di lelang seharga $1,4 juta pada tahun 2018, sebuah mekanisme dipicu yang menyebabkan karya seni tersebut hancur sebagian, menghasilkan karya baru berjudul Love in the Bin (Cinta di Tempat Sampah (Love in the Bin). 2018). Pertanyaan yang sedang berlangsung tentang siapa Banksy terus menjadi berita utama ketika pada tahun 2017 Robert Del Naja, penyanyi dari band trip-hop Massive Attack, dirumorkan sebagai Banksy. Dalam beberapa media, sempat ditulis bahwa jadwal tour Massive Attack selalu pas dengan aksi bombing Banksy di kota-kota tersebut. Goldie, seorang musisi trip hop pernah keceplosan dalam sebuah interview dan menyebut Banksy dengan nama “Robert”. Gaya Banksy dan penggunaan perampasan kulturnya telah melahirkan sejumlah seniman jalanan lainnya, termasuk Mr. Brainwash dan Alec Monopoly. Anonimitasnya menambah lapisan misteri pada kepribadiannya, dan hal itu telah memicu spekulasi dan minat terhadap dunia seni dan seterusnya. Beberapa kritikus berpendapat bahwa anonimitasnya memungkinkan fokusnya tetap pada seni itu sendiri, sementara yang lain mempertanyakan ketulusan seorang seniman yang tetap bersembunyi. Meskipun anonimitas Banksy telah memicu intrik dan spekulasi, hal ini juga menimbulkan perdebatan tentang peran identitas dalam dunia seni.

Mengembalikan seni ke jalanan
Karya seni Banksy sering muncul di jalanan, tembok, dan jembatan di berbagai kota di seluruh dunia. Gaya khasnya mencakup gambar stensil dan slogan-slogan yang tajam dan jenaka. Karya-karyanya bisa sangat mencolok secara visual dan menggugah pikiran. Tidak seperti seniman-seniman kebanyakan yang hanya memperhatikan aspek estetika dan terkadang terkesan pretensius, karya seni Banksy sering membahas masalah politik dan sosial. Karya-karyanya mencakup topik-topik seperti perang, kemiskinan, imigrasi, dan pengawasan, memberikan kritik terhadap sistem yang sudah mapan dan menantang status quo. Pesan dalam karya-karya Banksy juga gampang dimengerti karena menggunakan gaya bahasa yang lugas, sehingga orang awam pun bisa menikmati karya seni Banksy tanpa harus mengerti teori seni rupa atau menjadi penikmat seni terlebih dahulu. Yang membuat Banksy menarik adalah dia berhasil merahasiakan identitasnya. Banksy mulai lebih dikenal secara luas setelah menyutradarai film dokumenter “Exit Through the Gift Shop” pada tahun 2010. Film ini mengeksplorasi dunia seni jalanan dan menampilkan seniman jalanan terkemuka lainnya. Namun, beberapa aspek keaslian film tersebut masih diperdebatkan. Karya Banksy mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap seni dan budaya kontemporer. Karya-karyanya sering mendapat perhatian luas dan mendapat harga tinggi di pasar seni. Terlepas dari sifat seni jalanannya yang tidak sah, seni jalanannya telah dicari dan bahkan dilindungi dalam beberapa kasus. Seni Banksy tidak hanya tentang estetika tetapi juga berfungsi sebagai bentuk aktivisme. Dia menggunakan platformnya untuk menarik perhatian terhadap isu-isu sosial dan menantang masyarakat untuk berpikir kritis tentang dunia di sekitar mereka. Banksy bahkan berani menggambar di tembok Gaza Strip pada tahun 2005, dan selama dia menggambar, sniper Israel sudah membidik kepala nya. Ada sebuah gosip beredar mengenai Brad Pitt yang ingin sekali memiliki karya Banksy. Karena karya-karya Banksy itu sulit untuk dibeli, Brad Pitt memutuskan untuk membeli sebuah tanah dengan bangunan nya di Inggris, dimana ada grafitti Banksy di bangunan tersebut, lalu Brad Pitt memugar tembok tersebut dan menjual kembali bangunan nya. Semua penduduk Inggris pun selalu berharap Banksy suatu saat bombing di tembok rumahnya. Overall, Pengaruh Banksy terhadap dunia seni dan budaya populer tidak dapat disangkal, dan karya-karyanya yang menggugah pemikiran terus memicu diskusi tentang titik temu antara seni, politik, dan masyarakat. Banksy adalah seniman terpenting di abad ini.

Words by Aldy Kusumah

 

Evil sudah cukup lama malang melintang di industri fashion lokal. Evil pun selalu dikaitkan dengan pergerakan musik karena dari awal selalu endorse band-band independen dan bahkan berkolaborasi dengan mereka. Sampai sekarang nafas dan energi tersebut masih dijalankan oleh Dega, creative director Evil yang juga menghadirkan ide-ide baru seperti sepatu Spills dan aktivasi-aktivasi segar lainnya. Let’s have a chat with Dega..

Halo Dega! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja sekarang di Evil?
Halo Jeurnals, Alhamdulillah sehat. Di Evil masih gitu-gitu aja, datang ke kantor bikin kopi, gosip 30 menit-an, cek kerjaan/target tiap divisi, cek email, cek whatsapp takut nya belum ada yang di bales, mantau band-band baru yang bisa di ajak kerjasama.

Kolaborasi kalian dengan Rusty Vintage Store sangat menarik karena kalian membuat furniture berbentuk kursi. Bisa ceritakan cerita dibalik collab dan konsep dari produk ini? Dan kenapa memilih Rusty sebagai kolaborator?
Awal nya Ipam (owner) beli beberapa produk di Rusty buat kebutuhan display, sampe akhirnya mas Budi (owner Rusty) ngajak ketemu saya sama Ipam buat ngobrol-ngobrol soal Evil dan hobi, iseng aja keluar kata “collab yuk, bikin apa gitu yang bisa masuk ke Evil sama Rusty”. Karena Rusty ini konsepnya vintage store, kepilih lah kursi vintage art chair karena kita pengen produk vintage yang bisa dipakai bukan hanya sekedar di pajang gitu, terus di retouch sedikit, tambahin sandaran, konsep bentuk lengan nya di ganti juga, di kasih pattern outline tiger camo biar bisa mewakili Evil tapi nggak ngilangin konsep vintage nya.

Evil Live Session sangat menarik. Bagaimana konsep dibalik live session tersebut dan bagaimana proses kurasi kalian terhadap band-band nya?
Kepikiran nya sih udah lama (Youtube Channel), cuman belum terealisasi karna sibuk ngurus Evil (clothing) nya, sama belum nemu konsep Live nya kaya gimana. Sampai akhir nya Collect record store pindah ke deket kantor Evil (Evil sama Collect masih 1 Group) baru deh kepikiran “bikin live di record store seru juga kaya nya”.

Gak ada kurasi yang gimana-gimana, biasa nya saya pas ketemu temen-temen musisi/band suka nawarin kerjasama bikin merchandise, nah disitu suka di selipin tuh obrolan/ajakan buat live di channel Evil atau produksi MV. tapi sekarang justru banyak band-band yang request untuk live session atau produksi MV untuk channel kita, biasa nya band langsung ngirim/ngajuin beberapa track untuk di cek sama team Evil, dari situ kita hearing session bareng team. Nah team Evil ini yang memutuskan gow atau nggak, bukan soal bagus apa nggak, lebih ke waktu produksi nya aja, soal genre gak kepatok harus genre tertentu.

Evil cukup aktif dalam mensupport band-band tour dan juga meng endorse beberapa musisi sekarang ini. Apa yang membuat Evil mengambil arah ini?
Sebenernya Evil era 2000 an (2003-2004) udah memposisikan image brand nya di situ (musik/band) deh kaya nya, ya menurut saya ya..sempet denger juga dulu toko Evil jadi tempat nongkrong musisi-musisi lokal, jadi saya pribadi sebenernya pengen bawa lagi image Evil kaya dulu.

Top 5 kolaborasi Evil favorit Dega apa saja dan kenapa?
Evil x Heineken:
Design sama produk nya simple tapi dapet aja gitu si image brand nya.

Evil x KFC:
Materi nya banyak, terus pihak KFC nya juga ngebebasin untuk explore soal produk, cuman rada pusing mau naro grafis ayam goreng nya dimana. Sama rilis nya di JFW (Jakarta Fashion Week) itu yang bikin deg-deg-an.

Evil x TMNT:
Sedikit rumit, dari pemilihan mau ambil type yang mana, ada yang 3D, classic, comic, 90’s. Pengiriman sample material, sample sablon, bordir, packaging dan lain-lain harus ke Singapura, proses ACC-an video campaign nya juga rada ketat, tapi seru lah.

Evil x Star Wars :
Pas nerima materi grafis dari pihak lisensi langsung terpukau lah pokoknya, keren pisan detail nya.

Evil x SBTG :
Saya tau Sabotage pas Nike rilis SB dunk low SBTG, tapi gak tau kalo Sabotage itu orang Asia.. Kesini-kesini baru tau kalo dia orang Singapura.. Takjub aja ada artist Asia yang dirilis produk nya sama brand-brand besar kaya Nike / New Balance. Pas Ipam (owner) bilang “nanti kita ketemu Sabotage, kita ajak collab” itu udah ngebayangin produk/grafis nya seperti apa, antara pattern camo, skate, atau punk, tau nya bener dia ngasih materi dengan konsep vintage punk ala ala Sex Pistols.. Saya coba bikin mock up di beberapa produk, akhirnya kepilih lah T-shirt, bowling shirt, hoodie, sama skate deck yang dirilis.

Bisa ceritakan sedikit background lo sebelum bekerja di Evil? Dulu pertama masuk Evil ngerjain apa saja dan sekarang menghandle departemen apa saja?
Gak ada yang menarik euy, lulus kuliah tahun 2005 (Teknik Informatika) langsung kerja di salah satu production house di Jakarta bagian lokasi, kerja nya cari lokasi shooting, nge clear-in area shooting, nego sama preman kalo shooting nya di area publik, biar gak ganggu maksudnya. Pernah jadi kepala gudang salah satu brand Skate n Surfing di Kemang, Jakarta juga. Gak nyambung sih sama jurusan kuliah yang di ambil. Pernah jadi bagian admin di kontraktor, tapi karena bos nya tau saya lulusan IT dan bisa photoshop, jobdesk saya berubah jadi tukang bikin surat palsu kalo ada tender.
Masuk Evil tahun 2009, bagian design grafis, beberapa tahun ke belakang (2020-an) geser jadi Creative Director, tapi masih nge bantu nge design juga, awal tahun 2023 di percaya buat jadi Direktur Utama sampai sekarang.

Pendapat Dega mengenai kultur diskon harga coret?
Di marketplace orange maksud nya ya? Gak ada masalah, hidup itu pilihan. Begitu juga dengan konsep bisnis. Tiap brand punya concern-nya masing-masing. tapi kalo Evil saat ini memang masih fokus selling nya di offline store sama di distributor-distributor di luar Bandung (wholesale). Evil masih menjaga hubungan kerjasama dengan distributor-distributor yang sudah bertahun-tahun terjalin. Yaaaa kalo kita ikutan trend “diskon di marketplace” bisa nge-jatoh in distributor kita dong.

Bagaimana awal histori dan konsep dibalik Spills Footwear? Kenapa memutuskan untuk terjun juga ke industri footwear dan apa yang membedakan Spills dari brand-brand sejenis lainnya?
Pengen melengkapi aja, karena Evil kelas nya apparel jadi agak susah masuk ke industri sepatu lokal jadi mending bikin brand baru aja yang kelas nya emang khusus footwear. Beda nya? Saya pastiin sepatu Spills nyaman, develop kurang lebih 2 tahun sampe akhirnya nemu siluet nya, insole nya seperti apa, material nya apa. Spills ngasih pilihan buat market sepatu lokal, sebab karakter nya Spills itu simple. Tone warna sangat basic, kalo gak black/off white, all black. Nyaman buat di pake daily.

Top 5 sepatu favorit lo sepanjang masa apa saja dan kenapa?

Spills Footwear, saya yang nge design, nyari pabrik buat produksi nya, nego harga nya, nentuin harga jual nya.

Vans Authentic, simple, nyaman, ringan, cocok pake celana apa aja.

New Balance 547, di pake jalan nyaman, di pake olahraga enak.

Nike Airmax 90, karna liat Jamey Jasta (Hatebreed) pake Airmax 90.

Dr Martens, harus punya, bisa buat ke gigs, ke undangan, ngelamar kerja, buat nendang maling, buat motor-motor an, kulit nya awet asal pake wonder balsam mencegah retak retak pada material kulit. dirancang untuk semua kulit kecuali suede. tahan noda dan hujan, formula nya dari lilin padat, mengembalikan warna kulit ke semula.

Next collabs / projects for Evil?
Collab sama minuman jamu favorit gen Z lah pokok nya, lagi develop design + produk nya. Collab sama salah satu bar/resto di Jakarta. Sama rencana mau rilis beberapa band merchs tapi bukan T-shirt, tunggu aja lah. takut gak jadi.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo from Dega & Evil’s archives

Kuartet rock Skandal dari Yogyakarta merilis single terbaru berjudul “Mimpi” dalam format video lirik pada 28 Februari. Langkah ini merupakan langkah awal dari persiapan album penuh mereka yang akan dirilis melalui Disaster Records, label rekaman Bandung, di pertengahan tahun 2024. Sebagai single pertama, “Mimpi” tidak hanya menjadi penanda perjalanan mereka menuju album baru, tetapi juga menandai langkah baru dalam eksplorasi mereka dalam dunia musik. Alasan mereka memilih format video lirik adalah karena belum pernah melakukannya sebelumnya, dan mereka melihatnya sebagai kesempatan untuk lebih memperkenalkan lirik lagu kepada pendengar, memudahkan mereka untuk mengikuti alur cerita dalam lagu.

Video lirik “Mimpi” dibuat oleh seorang illustrator muda berbakat yang berbasis di Yogyakarta, Nauval Taufiqul. Representasi visual tersebut mencerminkan ketertarikan pembuat video terhadap typography yang kuat dan permainan warna yang menarik, sembari menjaga keseimbangan dengan nuansa musik yang ditawarkan oleh Skandal. Lagu “Mimpi” sendiri diciptakan oleh gitaris Rheza Ibrahim, yang juga berperan sebagai produser di album yang sedang mereka persiapkan. Dalam lagu ini, Skandal menggabungkan elemen-elemen pop-rock dengan kesan indie rock dan alternatif yang mereka bawa sebelumnya, menciptakan suara yang semakin solid dan matang.

Morrgth atau Indra Wirawan adalah seorang grindrocker dan seniman otodidak dari Pekanbaru. Menghabiskan hampir 18 tahun di Bandung, menyelesaikan studi di UNIKOM dan juga mengisi departemen layout/grafis di Ripple Magazine. Sebagian besar karya-karyanya menggunakan tinta dan cat air di atas kertas. Bersama Rekti Yoewono (The SIGIT) Morrgth membuat studio kolektif bernama Månstråle (Diucapkan “mon-stro-la”). Morrgth bersama sahabatnya, Alexander Benedict / Mayatschism (Aneka Ria Petaka, Muntah, Distorsi Mulut Setan) membangkitkan semangat sinergi dalam Quest For Money, duo ilustrator yang melakukan live drawing untuk orang-orang di sebuah gigs atau event. Sebagai seorang musisi, Morrg mendirikan dan menulis musik di bandnya Rajasinga yang memainkan Grindcore, Vlaar yang bermain di wilayah blackmetal dan juga Kastil yang sedikit eksperimental. Kini, Morrg tinggal di Pamulang – Tangsel. Ia masih aktif memproduksi lebih banyak lukisan dan karya, mengerjakan commision untuk ilustrasi cover art, ilustrasi untuk merchandise band, brand lokal dan beberapa event musik. Let’s talk a bit with this dude…

“Dari dulu sebenarnya saya orang yang kurang nyaman jika berada di luar atau keramaian”

Halo Morrgth! Kemana aja nih? Lagi sibuk ngerjain proyek apa aja?
Halo Jeurnals. Sejak 2018, kebetulan hijrah ke Jakarta untuk berkehidupan. Blablabla trus pandemi, sehingga… here we are. Sekarang sedang sibuk dalam sebuah project bible dan IP character untuk sebuah cerita silat lokal di sebuah rumah produksi di bilangan Senayan, Jakarta. Selain itu, disela-sela waktu sebagai freelance artist di studio (Morrgsferatu Studio), rutinitas hanyalah membereskan pekerjaan dan tetek bengek dengan link relasi terdekat serta beberapa project personal.

Denger-denger lo ada proyek bernama Kastil yang single nya berjudul “Renfield” ya? Apa yang lo sukai dari nover Dracula nya Bram Stoker? Bisa ceritakan sedikit tentang konsep Kastil dan historinya?
Hahaha. KASTIL adalah project bebas dua orang Ekyno dan Padok [Dr.Abi borneo] bentuk kecintaan mereka berdua terhadap Bram Stoker Dracula, yang memang semua track di album nanti adalah persembahan balada kepada karakter-karakter yang ada didalam cerita tersebut. Awalnya saya cuma ikut membantu project visual single dan album mereka, tapi ketika sedang meeting di studio ketika mereka merekam materi, langsung ditodong untuk ikutan mengisi part bass dan back vocal untuk single Reinfield di Doors Studio di bawah arahan pakde Giox (Superglad) waktu itu, hahaha. Jadi aja…

Kalo personal saya memang senang membaca, dan sangat menyenangi karya sastra klasik gelap dan gothic seperti Bram Stoker salah satunya, yah…sampai sekarang masih misterus juga ya kebenaran kalo itu ternyata based kisah nyata ya?

Sekarang lo sedang sibuk manggung dengan unit blackmetal VLAAR ya? Itu gimana awalnya lo bikin band tersebut? Lalu kenapa nama band nya Ular, apa lo takut terhadap ular?
Yak, Vlaar baru saja merilis album kedua, bertitel BlekMetal dan sedang melakukan show dan mempersiapkan planning tour promo dalam waktu dekat.
Oke, sejauh mengingat pada awalnya mengisi posisi bass di Vlaar ngga ada sebelumnya terlintas di kepala saya. Karena beberapa bulan sebelumnya, saya dan Oces Rachmat (Carnivored, Hurt Em, Disinfected) dan Elvan Zaenal (Deadkrokodil) sepakat untuk sibuk menggarap materi project Black Metal kita, NANSURAM yang sempat merekam beberapa materi demo nantinya. Berjalannya waktu, Mitra dari Blackandje mengontak pengen minjem bass ketika saya lagi di rumah duka di Pekanbaru 2022 ceritanya. Ketika pulang kembali ke Jakarta waktu itu, saya datang membawa bass maen ke Blackandje tiba tiba ditodong sama mitra buat mendengarkan materi Vlaar. Merasa ada klik dengan musik yang didengarkan waktu itu, saya iseng maenin bass mengikuti lagu Vlaar yang diputar. Yang ternyata direkam oleh Mitra dan dikirim ke Kvli Arit yang langsung dimasukkan ke grup wa satanikasboncirle yang mana juga didalamnya ternyata sudah ada Oces juga didaulat sebagai MenantuBiadab untuk Vlaar.. (entah itu pertanda resmi masuk ato gimana, tidak ada kejelasan, aku ngikut aja hahaha)

Vlaar sendiri sudah merilis album pertamanya di 2012 silam, oleh Kvli Arit sebagai side projectnya diluar BVRTAN. Panggung kembalinya Vlaar setelah lama hiatus, tampil dengan formasi bertiga di acara Intimate Show Blackandje di House of Darktones pada Juli 2022 yang kemudian materi ini dijadikan EP Vlaar Pemuja Setan Live yang berisikan 4 track live, 1 coversong dari Darkthrone dan single baru, Anton Blekmetal sebelum masuk ke album kedua kemarin.

Apa kabarnya Rajasinga sekarang? Pada kemana Revan dan Biman? Bakal bikin album lagi kapan?
Rajasinga baik-baik saja dalam kevakumannya yang kebetulan para personilnya sedang pada pencar beda kota. Sempat ada keinginan kita untuk jalan lagi diawal tahun ini, tapi sepertinya masalah komunikasi jarak juga kesibukan kita masing-masing, belum bisa teratasi. Mungkin nanti.

Mari bahas seni sedikit. Akhir-akhir ini baru garap kover album Gergasi Api ya? Kover-kover album siapa aja sih yang sudah pernah lo garap untuk pembaca yang belum tahu? Dan favorit lo dari segi pengerjaan yang mana aja?
Iya ‘Red Knight’ album pertama dari Gergasi Api, penggarapan tepatnya itu tahun lalu, dimulai dengan trilogi single mereka yang dirilis berkala di 2021. Menyenangkannya adalah proses kreatif dan konsep kover art ini menjadi katalis saya untuk mengeksplore pendekatan teknis dan style yang pelan akhirnya saya dapat memasuki keinteresan dengan style lukisan klasik yang sudah lama. Sebelumnya, ilustrasi kover untuk solo project Sayiba Von Mencekam (Kelelawar Malam) bernama Gloom Wanderer (untuk style kitsch painting)

Beberapa kover art yang pernah di garap yang mungkin tidak terlalu berada di permukaan adalah ilustrasi untuk Jakarta Pseudo Blues/Rock/Stoner, TAMRA. Di 2021 mereka melepas EP dalam format kaset bertitel ‘Sandstone’ dibawah bendera Darnoc Records. Di produksi dengan sangat terbatas memang.

Kemudian, The Flowers ‘Roda Roda Gila’ yang tahun ini menginjak usia ke 4 semenjak dirilis di 2019 silam. Proses yang menyenangkan adalah karena seringnya mendengarkan lagu dari album mereka di waktu dulu untuk menemani beresin pekerjaan di studio kalo sedang buntu begitu atau bosan dengan hening, jadi ketika mengerjakan project album mereka ini, seperti yang sudah terbiasa saja begitu. Tanpa beban mengingat timeline yang pendek, dan ini termasuk dalam pengerjaan ilustrasi tercepat untuk sekelas kover album yang pernah saya bikin.

Top 5 album dengan kover favorit versi lo apa aja? Lokal / Luar dengan alasan nya
Akan ada banyak sekali kover favorit untuk sepanjang masa, seperti Iron Maiden ‘Fear of the Dark’, atau ‘Altars of Madness’-nya Morbid Angel…

Tapi saya akan mencoba mengambil yang benar menggugah perspektif seiring berkembangnya interest musik dan art saat sekarang, beberapa adalah karya foto yang dijadikan cover art.

Satyricon Munch. Konsep photografi yang simple tapi ngena dengan visual pesan yang disampaikan.

Komunal ‘Panorama’. Ilustrasi yang benar2 ‘jadi’ tapi catchy dari seorang Doddy Hamson yang mana adalah frontman Komunal itu sendiri, (bukan ilustrator layaknya pro) bisa jadi bentuk kegigihan dan ambisi memenuhi isi kepala tentang bagaimana visual yang diinginkan untuk band yang dibuatnya sendiri.
Liar dan straight.

Ghost ‘Impera’. Album terbaik dengan kover artwork yang megah, luxury! ..dari semua diskografi Ghost setelah Opus Eponymous.

Rotor ‘Behind the 8th Ball’. Album ngotot pembuka jalan arus musik thrash metal waktu itu, bertemu dengan ilustrasi kover yang stylenya sudah layaknya standar band thrash metal dunia waktu itu. Termasuk yang menginspirasi.

Deicide ‘Once Upon The Cross’. Dari pertama kali lihat, ilustrasi kover ini sangat catchy sekali. Dibuat oleh Trevor Brown, image yang sangat eksplisit kemudian mengalami sensor, tetap menjadi artsy, aku sangat penasaran dengan momen ketika mendapatkan ide brilian itu. Killer art, killer music.

Pilihan terakhir adalah berat, keduanya sangat penting dan catchy bagi saya personal, Plastik ‘Dengarkan Pada Saat Tenang’ dan The Flowers ‘17 Tahun Keatas’.

Dengar-dengan lo dulu di Pekanbaru waktu muda pernah bikin band black metal juga ya?
Hahaha, Ya. Itu medio ‘98 bentukan tiga remaja belia bernama SATAN memainkan musik Black Metal sempat membuat beberapa lagu sendiri selain membawakan cover song Marduk, Naglfar, Dissection dan menjajal beberapa panggung underground di Pekanbaru sekitarnya dan Padang. Tapi band itu engga berumur panjang karena setamat SMA di 2000 saya memutuskan untuk merantau dan melanjutkan studi di Bandung.

Proyek kolektif art print poster lo dengan Rekti yang bernama Manstrale gimana ceritanya? Apa akan aktif kembali?
Personal, masih ada kegigihan dan keinginan untuk menjalankan Manstrale sendiri, hanya saja screenprinting poster dan teknisnya membutuhkan konsentrasi total sehingga masih menjadi keinginan yang sementara ini lagi saya tunda karena kesibukan pekerjaan lainnya di studio.

Quest For Money lo jalankan dengan sahabat lo Alexander Benedict. Selain live drawing mau dikembangkan jadi apa lagi nih si QFM? Event-event apa aja yang pernah kalian ramaikan?
Quest For Money adalah style kita berdua untuk membuang waktu dengan penuh manfaat. Tercetusnya QFM sesimple saya yang sering nongkrong bareng Alex, nemenin dia habisi malam di OJ tavern waktu itu, dan kita iseng gambarin dalam bentuk sketsa cepat, teman dan kenalan yang datang hangout kesana dari meja kasir, akhirnya diajakin mengisi event-event teman dekat waktu itu seperti Omuniuum dan Keep Keep sampai ke beberapa event promo korporat dan dealer mobil, komunitas dog lover begitu… hahaha.

Pengembangan QFM selain ranah live drawing sebenarnya sudah dilakukan sebelum pandemi dulu tepatnya di 2018 kita menginisiasi acara market yang dinamakan Paid Dues di Keep Keep, yah bisa dikatakan kita sebagai event organizer yang pengen ngumpulin teman-teman illustrator yang mempunyai usaha mandiri duduk bareng dan bersilaturahmi saja.

Kemudian dari segi brand, sempat merilis tshirt dalam bentuk PO waktu itu yang ingin sekali dijadikan sebagai brand yang serius kita garap kan untuk waktu mendatang hanya saja sekarang kita masih kompromi mencocokkan jadwal saya dan alex yang kebetulan sekarang kita beda kota, Alex di Bandung, dan saya sementara ini masih kemana mana.., hahaha.

Untuk live drawing lo paling cepat gambar orang berapa menit? Apa kendalanya dalam melakukan live drawing?
Kendala dalam melakukan live drawing secara teknis, engga ada keknya. Lebih ke usaha mendapatkan spot karakter yang bisa ditonjolkan dari orang yang kita gambar untuk menjadi garis yang penuh keyakinan, kalo ini guratan sketsa yang pas dan dekat dengan bentukan rupa orang yang digambar.
Live drawing (dalam bentukan sketsa, dengan pensil, charcoal dan penghapus) tercepat, mungkin antara 10-20 menit.

Apa lo tipe orang yang sering datang ke gigs / konser? Akhir-akhir ini apa lo lebih memilih untuk diam di rumah atau berpergian dan hangout?
Dari dulu sebenarnya saya orang yang kurang nyaman jika berada di luar atau keramaian, jika ditanya bagaimana dengan urusan panggung semasa Rajasinga atau Vlaar sekarang, masih sama saja sepertinya.. lebih memilih mencari spot yang sepi ato sekedar cari angin jalan kecil di sekitaran venue. Maen terus pulang, udah begitu aja. Untuk event gigs yang ngga ada urusan biasanya lebih netapin ke- ‘sepenting apa dulu’. Hahaha. Biasanya, untuk band yang memang saya sukai untuk disimak, pasti menyempatkan datang untuk melihat performnya.

Apalagi masa masa seperti sekarang, semakin selektif saja. Lebih banyak berdiam di studio, bepergian lebih untuk pemenuhan kebutuhannya Ruby, seekor dachsund berumur 3 tahun, itupun sekedar mengajaknya jalan keluar rumah saja. Hangout lebih banyak dilakukan di studio saja sejauh ini, keluar hanya bila stuck ide di studio dan jika direncanakan bersama teman yang benar-benar dekat.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos from Rendha Rais, Irfan Nasution & Morrgth’s Archives

1990: Awal mula Fuct didirkan oleh Erik Brunetti dan Natas Kaupas
Brand ini lahir berdekatan dengan brand-brand ‘90an lainnya seperti Supreme. Fuct sudah pernah dipakai oleh Zack De La Rocha, sampai berkolaborasi dengan Rolling Stones. “Fuct” adalah brand streetwear yang didirikan oleh Erik Brunetti di Los Angeles pada tahun 1990. Merek ini terkenal dengan desainnya yang provokatif dan kontroversial, sering kali menampilkan bahasa eksplisit, pernyataan politik, dan citra satir. Nama “Fuct” sendiri menurut Erik Brunetti adalah singkatan dari “Friends U Can’t Trust”, tetapi Fuct merupakan plesetan dari pengucapan sumpah serapah “Fu*k”, dan merek tersebut telah menghadapi tantangan hukum terkait dengan namanya dan penggunaan bahasa eksplisit dalam desainnya. Pada tahun 2019, Mahkamah Agung AS memenangkan merek tersebut dalam kasus merek dagang. Pengadilan memutuskan bahwa penolakan Kantor Paten dan Merek Dagang AS untuk mendaftarkan merek dagang tersebut karena dianggap menyinggung perasaan melanggar perlindungan kebebasan berpendapat dalam Amandemen Pertama. Kasus ini menarik perhatian pada persinggungan antara undang-undang merek dagang dan Amandemen Pertama, yang menyoroti tantangan dalam mengatur merek dagang yang berpotensi menyinggung atau kontroversial. Keputusan tersebut memperkuat gagasan bahwa pemerintah tidak dapat menolak perlindungan merek berdasarkan konten atau sudut pandang yang diungkapkan oleh suatu merek.

Terlahir dari imajinasi liar Erik Brunetti
Erik Brunetti adalah seorang desainer streetwear dan pendiri merek pakaian “Fuct.” Lahir di Santa Monica, Kalifornia, Brunetti mendirikan Fuct di Los Angeles pada tahun 1990. Brand ini dengan cepat menjadi terkenal karena desainnya yang berani dan provokatif, yang sering kali menampilkan bahasa eksplisit, gambar satir, dan pernyataan politik. Fuct dikaitkan dengan etos streetwear yang kontra-budaya dan anti kemapanan. Brunetti telah terlibat dalam dunia streetwear dan skateboard, mengambil inspirasi dari subkultur dan bentuk seni alternatif. TIdak hanya mengambil inspirasi dari musik dan skateboard, Brunetti juga sangat terpengaruh oleh film-film klasik seperti Planet of the Apes dan Goodfellas (Martin Scorsese), sehingga kedua film tersebut pun menjadi salah satu design T-shirt Fuct yang ikonik. Karyanya dengan Fuct telah berkontribusi pada reputasi merek dalam mendorong batasan dan menantang norma-norma masyarakat melalui desainnya. Selain kiprahnya di bidang fashion, Erik Brunetti mendapat perhatian karena perselisihan hukum terkait pendaftaran merek dagang atas nama merek Fuct. Kantor Paten dan Merek Dagang AS awalnya menolak untuk mendaftarkan merek dagang tersebut, dengan alasan dianggap menyinggung. Namun, pada tahun 2019, Mahkamah Agung AS memenangkan Brunetti, dengan menyatakan bahwa penolakan tersebut melanggar perlindungan kebebasan berpendapat dalam Amandemen Pertama. Hingga Januari 2022, Erik Brunetti terus dikaitkan dengan Fuct, dan brand tersebut tetap menonjol di skena streetwear dan fashion internasional. Fuct adalah pionir, legenda dan sudah meraih cult status di dunia street fashion. Fuct dikenal juga karena beberapa desainnya mengandung bahasa dan gambar eksplisit yang mungkin dianggap menyinggung sebagian individu (malah terkadang sangat vulgar). Penggunaan konten tersebut disengaja dan sejalan dengan estetika merek yang provokatif dan style counter-culture mereka.

Campaign kolaborasi FUCT dengan Brand, musisi dan seniman
Sepanjang tahun 1990-an Fuct berpartner dengan fotografer Larry Clark dan Shawn Mortenson dalam berbagai campign. Subyek dan model yang di shoot Mortenson adalah Kate Moss, Snoop Dogg, The Notorious B.I.G., dan Keith Richards (Rolling Stones). Pada tahun 1998, seniman Kaws meminta Brunetti untuk berkolaborasi dalam sebuah iklan untuk rumah design Calvin Klein. Fuct juga pernah bekerjasama dengan brand pakaian rapper Beastie Boys Mike D, X-Large. Kemudian Fuct membuka pintu lokasi toko pertamanya, X-FUCT, pada tahun 1993. Terletak di Los Angeles, Kalifornia, interior X-FUCT dimodelkan menyerupai toko makanan; desain ini mencakup penggunaan counter daging bekas sebagai pajangan barang dagangan. X-FUCT merilis kolaborasi terbatas di seluruh toko operasional-nya selain menyimpan produk masing-masing merek. Setelah X-FUCT ditutup, Brunetti kembali mengoperasikan Fuct di rumahnya di Hollywood Hills. Pada tahun 2008, Fuct meluncurkan lini produk SSDD (Same Shit, Different Day) di Jepang. Bahasa desainnya menggabungkan motif yang terinspirasi oleh gerakan counter-culture Amerika pada tahun 1960an dan 70an. Produk SSDD dibuat di Jepang dengan pola size chart untuk market orang Asia yang lebih kecil. Pada tahun 2018, Fuct bermitra dengan merek streetwear FTP yang berbasis di Los Angeles untuk merilis capsule collection. Pada tahun 2019, Fuct bermitra dengan majalah Richardson untuk merilis capsule collection. Rilisan ini mencakup desain Fuct sebelumnya yang digabung dengan logo Richardson. Overall, Fuct adalah sebuah brand yang provokatif sejak pertama didirikan, namun sampai sekarang sepertinya tidak ada brand yang se-berani Fuct dalam merilis grafis-grafis yang provokatif dan politikal. Harga T-Shirt grafis Fuct pun selalu naik dengan fantastis setiap tahun nya, karena rilisan mereka yang memang terbatas dan tidak banyak dijual di toko-toko reseller. Jika kamu masih memiliki T-Shirt Fuct dengan design Goodfellas, coba saja dijual dan cek harganya di Ebay. Sampai saat ini, Fuct adalah brand yang selalu disebut oleh berbagai designer dan owner brand fashion lainya sebagai inspirasi. Erik Brunetti adalah seorang legenda.

Words by Aldy Kusumah

Hendry Sasmitapura, atau yang lebih akrab dipanggil Henhen, adalah creative director/founder dari beberapa brand seperti Pot Meets Pop, Volt & Fast, & Vaya Con Dios. Passion Henhen terhadap pot culture / cannabis culture mendorong dia untuk berkolaborasi dengan duo komedi stoner Cheech & Chong, Sublime dan Cypress Hill. Dia juga terlibat dan aktif di komunitas running BR20 Runners yang namanya diambil dari lokasi toko Pot Meets Pop / Vaya Con Dios di Jalan Bahureksa no 20, Bandung. Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan flagship store PMP di Bali dan upcoming collab-nya bersama majalah High Times, JEURNALS berkesempatan untuk ngombrol-ngobrol dengan Henhen. Let’s dive in..

“Tapi brand yang kemaren rame itu kan dia kaya meng-glorify kepalsuan nya dan itu yang menurut gue kurang benar ya hehe. Kalau niru banget kureng lah hahaha. Mun hayang beunghar mah menurut urang ulah didieu industri nya. Mending dagang apa kek atau jadi juragan angkot. Kenapa dia nyemplung di clothing?”

PMP selalu stand out dibanding brand lokal lain karena banyak mengangkat pot-subculture / cannabis culture. Hal-hal menarik apa aja yang lo angkat dari cannabis culture ini?
Emang awalnya kan kita sejujurnya suka sama (culture) itu. Kita pas bikin gak sok-sokan pengen bikin brand dengan nama ini dan paka campaign legalized.. Cuma pure suka aja. Ternyata seiring berjalan waktu si trend legalize marijuana itu berhasil dan proven bukan sekedar mimpi kita. Di US udah legal, Thailand legal. Kita tuh pengen nya jadi platform yang de-stigmatized kalau cannabis itu jelek, karena pemikiran itu sudah tertanam di pemikiran orang Indo. Itu kan pemikiran kolot, yang open-minded sih pasti sadar kalau cannabis itu adalah medis dan industri yang serat nya bagus. Kita ga pengen hard campaign juga cuma message nya seperti itu.

Film Cheech & Chong favorit lo yang mana: Up In Smoke atau Still Smokin? Gimana awalnya lo bisa berkolaborasi dengan para stoner legendaris tersebut?
Yang pertama, yang “Up In Smoke”. Gue nontonin semua tuh pas mau collab, kalau gak salah ada 5 gitu banyak pisan film mereka. Mereka tuh original banget jokes nya. Pada saat itu teh belum ada yang sama sekali mengangkat isu itu, mereka benar-benar pionir aja, ada satir politiknya juga.

Awalnya gue trade-show di Agenda (Las Vegas). Pas balik ke Indo gue sortir kartu-kartu nama yang gue kumpulin pas disana. Gue buka satu-satu websitenya, ada satu kartu nama ternyata dia agen lisensi yang megang banyak artis dan band kaya Blondie, taunya salah satunya ada Cheech & Chong. Kaget gue, jis yang mana orang yang ngasi kartu nama ini, ga inget. Entah gue terlalu “high” atau pas gue ke wc orangnya nitipin kartu nama di booth kita, antara 2 itu lah hahaha..

Hampir ga jadi projek itu karena kita ngajakin conference call tapi mereka old school cuma pengen via email aja, jadi susah dan lost contact akhirnya. Pas tahun berikutnya gue ikut Liberty Fairs Vegas dan gue kontak semua yang di kartu nama itu termasuk salah satunya agen lisensi Cheech itu “eh gue mau kesini, kalian pada kesini ga?”. Dia bilang ga akan dateng cuma jadi ada obrolan untuk continue the project. Cheech & Chong yang bantuin design itu si Molen (Deva States), tapi pakai asset-asset dari sana juga.

“Bodornya tuh ternyata Chong (Cheech & Chong) punya anak dan dia married sama Rahma Azhari. Jadi langsung gue DM mba Rahma Azhari “Mba Rahma gue mau collab sama mertua mba Rahma ya.” hahaha.. “

Rilisnya pas 50th Anniversary ya? Sempat ketemu ga sama mereka?
Harusnya tahun 2020 rilis cuma jadinya dipending 2021, ternyata itu pas dengan 50th Anniversary si Cheech & Chong, jadi pas emang hoki hahaha.. Sekarang kalau si Cheech pake jaket jeans itu pake jaket jeans PMP, dan walaupun gue gak ketemu gue sempat video call sama mereka sebelum mereka photoshoot PMP. Sempat ga boleh photoshoot gara-gara pas covid. Itu sih mastermind project gue. Soalnya gue dulu bikin PMP pas lagi di kamar si Maha kita pas lagi nonton Cheech & Chong, jadi emang roots banget lah. PMP terjadi gara-gara Cheech & Chong. Si Maha dapet buku Spliffs yang ada satu page bertuliskan Pot Meets Pop dan dibawahnya ada Cheech & Chong..

Fun fact: Bodornya tuh ternyata Chong punya anak (managernya) dan dia married sama Rahma Azhari. Jadi langsung gue DM mba Rahma Azhari “Mba Rahma gue mau collab sama mertua mba Rahma ya..” hahaha..

Bagaimana awal mula cerita dari kolaborasi PMP dengan Sublime dan Cypress Hill? Mereka picky ga soal design?
Sublime ribet prosesnya, Cypress juga ribet soal design. Cypress Hill kayanya paling ribet dalam sejarah collab kita haha.. Awal mulanya sih biasa weh kebanyakan begadang pak hehe.. Pandemi tea kan kebanyakan begadang, buka-buka website dan ada juga yang DM. Akhirnya dapet banyak calon collab, akhirnya gue pilih yang ada pot culture nya. Sublime kan “Smoke the Joint” dan Cypress Hill kan emang hiphop cannabis banget.

Cypress ribet, gue submit design di-reject melulu. Apeu kan gue collab sama Cypress cuma rilis 2 design, akhirnya gue fight (biar di-approve) yang 1 design foto B-Real belum pakai kacamata hitam. Gue gatau yang nolak itu licenser nya atau management mereka. Alasan mereka design nya ada yang udah pernah dipakai, padahal gue lihat-lihat gak pernah ada design yang seperti itu. Akhirnya cuma keluar 3 design. Kalau Sublime itu ribet soal logo matahari mereka tidak boleh digabung dengan tulisan Pot Meets Pop. Mereka takut orang nyangkanya Pot Meets Pop jadi slogan barunya Sublime.

Best 5 songs for smokin pot?
-Sublime – Smoke Two Joint
-Cypress – I Want To Get High
-Snoop Dogg. Masuk semua lah lagu-lagu dia haha.. Semuanya kayanya lagu “dur” nya dia..
-The Paps – Sementara. Yang liriknya “Ku Tak Mau Jatuh Cinta..” Hahaha..
-Rub Of Rub – Lepas.

Best food for munchies?
Brownies ice cream, gue lebih ke kue-kue yang munchies-munchies gitu haha. Pisang goreng pake es krim.. Yang gitu-gitu lah haha. Karena next gue di Bali rencana akan bikin PMP MUnchies club di toko gue. Kalo yang asin-asin martabak bisa banget.. Sangu mah nteu sih. Lebih ke snack-snack gitu lah. Indomie juga bisa sih haha..

Lo juga aktif di BR20 Runners. GImana awalnya BR20 mulai aktif?
Awalnya inisiatif anak-anak toko, keren-kerenan biasalah gara-gara Gyakusou. Gue teh baru balik liburan dari Hong-Kong, emang disana juga liat trend lari mulai rame pas 2013, pada pake running shoes dan legging. Terus yaudah gue ikutan lari aja sama anak-anak. Anak-anak yang lain udah ga aktif akhirnya gue yang bantu running IG nya, tapi sekarang gue justru belum lari lagi gue, tapi anak-anak generasi baru yang nerusin.

Menurut lo lari itu meditatif ga? Apa yang lo dapet dari olahraga lari yang ga lo dapet di olahraga lainnya?
Oh iya lari sih meditatif banget buat gue. Emang gue ga demen olahraga sebenernya, paling bola lah cuma itu kan terlalu kompetitif, nanti kalau ga gue nge gol-in ada yang komplen, kalau lari kan kalau capek yaudah tinggal jalan gak ada yang komplen. Tapi lari emang seperti meditasi buat gue, dan itu bisa sambil denger musik atau engga.

Apakah brand Vaya Con Dios lo berhubungan dengan tattoo parlor bernama sama? Kalau iya kenapa berubah dari studio tato menjadi brand?
Ya emang karena gue suka artwork-artwork tattoo, cuma itu kan ga masuk buat PMP. Dan gue punya media itu (Vaya Con Dios) yaudah gue masukin ke situ. Karena gue demen banget FUCT dan reference gue mungkin kesana, tapi style seperti itu ga masuk ke PMP. Kaya kemaren gue ngeliat illustrator si Frelan, urang beuki dan pengen ajak dia kolaborasi, tapi kan ga mungkin gue masukin ke PMP, bisanya dituangin ke Vaya.

Dulu awalnya studio tato di Cipaganti setahun, lalu gue harus pindah karena mau dijual atau apa si Cipaganti nya. Akhirnya nemu Bahureksa satu komplek, Vaya pindah ke situ dan PMP buka disitu. Satu lagi gue sewain ke OBEY dulu. Sekarang studio tato nya udahan, kayanya cuma setahun di Bahureksa, kayanya ga akan gue terusin studio tato sih karena lebih susah ngontrol manusia daripada ngontrol stock barang.

Apa yang membuat lo tertarik untuk membuat sports brand seperti Volt and Fast? Kesulitan mendevelop V&F dibanding PMP apa aja?
Karena gue udah aktif lari waktu itu sama BR20 Runners, gue juga sempet ikut race di Kuala Lumpur. Gue liat ada komunitas disana pada pake topi satu brand, dan gue menyadari kalau bikin topi untuk pelari gampang banget brandingnya. Nah gue jadi tertarik untuk develop brand sport, tapi kan gue gamau nyampurin PMP sama culture running. Gue akhirnya mencetuskan untuk bikin brand streetwear untuk komunitas-komunitas lari, dimulai dari komunitas sendiri.

Develop lebih susah sportswear mungkin ya, karena ada teknologinya. Harus beneran function, kalau dipake race bahaya kalau produknya ga bener, bisa bikin cedera pemakainya. Untuk riset produk yang handle lebih ke partner gue sih.

Mengambil dan menggabungkan referensi dari sana-sini untuk menciptakan entitas baru banyak dilakukan para brand/designer, tetapi banyak juga yang meniru tanpa merubah source referensi-nya. Opini pribadi lo mengenai brand-brand yang “menjiplak/meniru” dan meng-glorifikasi bootleg culture ini gimana?
Yahh niru mah semua juga meniru sih. Diluar negeri juga begitu. Tapi yang kemaren rame itu kan dia kaya meng-glorify kepalsuan nya dan itu yang menurut gue kurang benar ya hehe. Cuman kalau niru banget kureng lah hahaha. Mun hayang beunghar mah menurut urang ulah didieu industri nya. Mending dagang apa kek atau jadi juragan angkot. Kenapa nyemplung di clothing kan? Pasti awalnya lo suka clothing kan, dan di brand lo harus ada pride dan passion nya. Apa yang lo angkat dan banggain kalau sekedar niru mah.

Rapid questions:

Pot atau Alkohol? Pot!

Running atau Cycling? Running.

Gorpcore atau Blokecore? Oh blokecore deh gue..

Emo atau Reggae? Hahahahah!! Susah nih!. Eh gue nemu tuh ada vokalis di Instagram, dia bikin lagu-lagu emo jadi reggae. Tapi kalau suruh milih, ya gue punk deh hahaha..

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Photos by Brez

Ekrig adalah vokalis Avhath yang cukup ikonik. Sebelumnya Ekrig sempat menjadi vokalis di For the Flames Beneath Your Bridge, sebuah proyek screamo yang cukup hangat di era 2000an. Avhath yang berawal dari perpaduan beberapa genre niche akhirnya menjadi hangat dan dapat diterima oleh para music aficionados, bahkan tidak jarang Avhath ikut meramaikan perhelatan festival musik besar di Indonesia. Menariknya, band ini sangat concern terhadap visual, merch mereka pun terlihat dibuat dengan pendekatan sebuah brand fashion ketimbang merch musik. Mari berbincang dengan Ekrig mengenai usaha music merch nya, Pure Evil Merch, dan tentunya Avhath..

“Suara gw terbilang jelek, jadi sepertinya teriak-teriak adalah jalan gw yang memang pingin banget punya band”

Halo Eki, apa kabar? Sedang sibuk ngerjain apa aja nih?
Halo, kabar baik. Kebetulan lagi preparation buat Avhath manggung di Joyland Festival aja sambil running Pure Evil Merch on daily basis.

Eki, bisa ceritain ga background lo bikin Avhath? Gimana transisi lo dari emokids yang dulunya punya band screamo (For The Flames Beneath Your Bridge) jadi bikin band blackmetal/hardcore?
Backgroundnya mungkin karena waktu itu tertarik dengerin The Secret album Agnus Dei, ajak-ajak temen, jadi deh. Kalau untuk transisi sebenernya ga ada yang gimana banget, gw main alat musik skill nya terbilang ga ada, mau nyanyi, suara nya terbilang jelek, jadi sepertinya teriak-teriak adalah jalan gw yang memang pingin banget punya band. Selanjutnya tinggal di sesuaikan saja dengan musik yang cocok dengan karakter vokal ku hehe..

Dulu kita kenal pas jaman lo di Monka ngurusin vinyl ya? Pendapat lo sebagai orang yang udah main vinyl dari dulu sampai sekarang, menurut lo culture vinyl ini sekarang kaya gimana sih?
Yes betul gw sempat di Monka Magic dulu, dan sampai sekarang masih ada koleksi-koleksi vinyl nya, sesekali bertambah tapi ga dalam regular basis. Kalau untuk culture nya gw ga bisa banyak berpendapat, karena memang sudah jarang digging, tapi kalau sekelebat mata yang gw tau sepertinya mulai hidup lagi, makin banyak orang buka toko vinyl, dan toko vinyl nya juga regularly meng-update stock mereka. Asumsi gw bisnis nya meningkat lagi.

Mengenai unit bisnis lo Pure Evil Merch, bisa ceritain ga gimana awalnya si PEM dari membuat merch Avhath sampai nge-handle merch dari band lain juga?
Yes betul, Pure Evil Merch sebagai pivot project divisi merchandise nya Avhath, supaya bisa rilis band-band lain, biar Avhath ga kebanyakan merchandise nya..

Tentunya ini pertanyaan wajib buat lo: Top 5 album emo favorit lo apa aja dan kenapa?
Thursday – Full Collapse
Karena kena banget di gw pada saat dengerin album itu dari awal sampai sekarang, gw juga gatau harus jelasinnya gimana karena lebih ke yang gw rasakan. Click aja menurut gw dengan diri gw, vibe, lyrics, emotional release nya. There’s something about Full Collapse.

What’s Mine Is Yours Compilation by Deep Elm Records
Energi lagu dari masing-masing artists nya bener-bener raw dan ter capture dengan
pas.

The Early November – The Room’s Too Cold
Karakter vocal, pengambilan nada, penulisan lirik Ace Enders bisa dibilang sangat sesuai dengan selera gw, ditambah ketukan-ketukan drum yang ‘centil’ yang memang juga selera gw. Complete package.

Brand New – Deja Entendu
Breakthrough album menurut gw, musik nya heavy banget, lyrics nya dengan segala metafora nya bener-bener deh.

Mungkin untuk yang rada baru, gw suka banget sm Twelve Towns series nya Into It. Over It.
Fresh, ngejelimet, heartwarming, dan cohesive.

Selain 5 itu tentunya banyak lagi, ntar gw coba bikin segment bahas album-album emo favorit gw satu persatu deh hehe..

Kalau ga salah, Avhath itu ga pernah buat album ya? Banyaknya single, split dan EP? Apakah ada alasan kenapa lo menghindari merilis album?
Betul, kita masing-masing punya standarisasi tentang album itu sendiri, dan juga mungkin masalah waktu untuk menggarap album, makanya kita hindari dari awal. Di awal sempat ada jokes untuk bikin album nanti kalau sudah mau bubar, haha.

Lo juga sempat berkerja di Double Deer ya? Bisa ceritakan sedikit tentang pekerjaan lo di Double Deer dan insight apa tentang industri musik yang lo dapetin dari situ?
Mungkin the best insight yang gw dapat adalah Sebagus apapun karyanya jika tidak didukung dengan plan yang comprehensive akan tidak maksimal pencapaiannya.

Pertanyaan terakhir: Tempat makan favorit lo setelah pulang dari gigs dimana aja nih?
Kalau di Bandung gw dan Avhath pasti harus selalu mampir ke Lima Serangkai, haha.
Kalau di Jakarta mungkin karena sudah capek duluan lebih memilih untuk langsung pulang, atau kalaupun makan, paling cari yang searah saja seperti Kacamata, atau Pecel Boma.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo by @yyoeelll

Fahmi adalah salah satu founder Hijack Sandals, yang kini juga sedang fokus mendevelop Akross, brandnya yang lebih versatile. Walaupun produk awal dari Akross adalah footwear, Fahmi tidak ingin Akross dibatasi menjadi brand footwear saja, karena Akross akan bereksperimen dengan bentuk, fungsi dan tentunya menjadi produk all-terrain, sehingga nyaman untuk dipakai jalan-jalan di perkotaan maupun hiking di medan yang sulit. Mari berbincang dengan Fahmi mengenai Akross..

“Gw berharap masing-masing brand bisa punya value unik yang di share..”

Halo Fahmi! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja sekarang di Akross?
Halo Aldy dan team Jeurnals! Baru beres tempur nih hehe Kabar baik, masih ngerjain Hijack dan Akross cuma sekarang memang fokus nya lagi di Akross karena akhirnya baru rilis kemarin setelah bertahun-tahun development. Ada beberapa upcoming collab tahun depan yang lagi kita develop dari material dan campaign nya. Pretty much itu sih yang lagi saya kerjakan di Akross sekarang.

Lo juga salah satu founder Hijack Sandals. Bagaimana transisi lo dari mendevelop sandal ke sepatu all-terrain? Apa ada kesulitan dan cerita unik dari proses ini? Dan kenapa kepikiran untuk membuat brand sepatu baru?
Sebenernya ga terlalu susah ya transisinya karena kita disini basicnya penyuka sneakers dan apapun yang berhubungan sama footwear. Sebenernya Akross dibuat karena ada sebuah keresahan dan ada beberapa material yang ga mendukung untuk footwear all terrain pas lagi ngerjain Hijack. Jadi awal membuat Akross itu dari situ. Saya, Zaky dan team Dash-A Lab (team R&D hijack) ide nya semakin liar, karena kita kurang suka yang standar-standar aja. Jadi semakin menyusahkan diri hahaha. Dan jadilah sepatu Akross tersebut. Tapi proses kreatif dan develop seru-seru aja. Cuma yang sulit ini tuh karena kita biasa main sendal dan baru masuk ke dunia sepatu, jadi kita mulai jadi anak bawang lagi. Tapi ada privilege dari Hijack dimana kita ada link di Jepang dan negara lain, sehingga kita juga bisa menawarkan sister brand kita ke mereka.

Sebenarnya Akross ini bukan brand sepatu, tetapi kita akan eksploratif dan mengeluarkan pendukung-pendukungnya. Bisa jadi apparel dan pendukung lainnya. Tetapi konsep all-terrain kita ya berarti ada untuk perkotaan nya juga. Jadi Akross semakin sini idenya semakin liar dan berkembang, ga cuma sendal sepatu dan outdoor aja.

Akross memiliki tagline #TowardsAllTerrain dan memiliki nama IG Akross.world. Apakah dari awal lo sudah menargetkan kalau sepatu ini harus mendunia? Konsep all terrain yang lo maksud itu seperti apa?
Betul sekali kita sudah langsung menargetkan pasar kita ke dunia karena kita percaya dari apa yang kita lakukan di Hijack bisa kita terapkan juga ke Akross. Dan somehow animo di dunia sudah lumayan ada dan keliatan, terlebih di Jepang, jadi di Maret nanti kita akan coba eksibisi juga. Di website juga kita bikin yang worldwide aja jadi bisa dibeli dimanapun. Dari segi campaign juga akan lebih keluar aja sebenernya.

Konsep all-terrain ini basically apa yang ga bisa di provide oleh Hijack. Karena Hijack ini kan cuma bisa dipake di perkotaan dan paling di curug haha. Kalau si Akross ini bisa dipakai hiking dengan segala material Vibram dan Ortholite yang kita pake. Sangat durable dan bisa diajak hiking dan trekking. Secara campaign kita main banget sih, ga cuma menampilkan hiking tapi ada pemakaian perkotaan nya juga.

Koleksi pertama kalian adalah The Horizon yang menampilkan sepatu Hotaru, Deserted Motel dan Riverbank dan juga turunan sendal nya. Konsep apa saja yang kalian terapkan di The Horizon dan kenapa tetap membuat sendal juga untuk koleksi pertama nya?
Karena memang setelah rilis sandals udah mulai develop sepatu ini, bahkan sebelum rilis sendal nya. Jadi emang ada continuitynya dari campaign sandals itu ke sepatunya. Kenapa bikin sandals? Karena memang source kita itu basicnya sendal jadi rilis sendal dulu. Cuma kedepan nya seperti yang gw bilang tadi Akross akan bikin yang lebih luas lagi, ga cuma sendal dan sepatu.

Top 5 sepatu daily-beater favorit lo apa saja dan kenapa?
Yang pasti Akross enak dipake kemana-mana, tiap hari gw pake. Mau jalan ke mall ato kemana juga bisa.
Nike Blazer dari dulu gue pake sih, karena gw suka yang klasik.
Nike Tailwind juga gue suka karena design klasik nya.
Asics Kayano gue beli pas pandemi ternyata enakeun pisan sampe sekarang kepake.
Clarks yang dikasih pacar hampir tiap hari dipakai, sudah mulai ke post sneakers era jadi yang tadinya pake sneakers sekarang saya mulai pake Clarks hahaha..

Kalian menggunakan Vibram outsole dan Ortholite insole di sepatu-sepatu Akross. Kenapa memilih 2 brand tersebut untuk di aplikasikan di sepatu Akross?
Karena sudah terbukti juga sih, brand-brand panutan kita juga banyak yang pake Vibram dan Ortholite. Dan kita juga udah dapet license nya jadi punya keleluasaan untuk memilih banyak produk Vibram yang ada di market, semua bisa kita pake. Kalau Ortholite jelas perlu untuk mendukung activitynya, kita butuh insole bagus untuk mendukung activity, mereka mengikuti arc support dan kenyamanan itu kuncinya ada di insole.

Pendapat Lo mengenai trend kultur footwear di Indonesia belakangan ini? Apakah lo juga seorang sneakerhead?
Trend footwear di Indo mah ya karena mass media yang sekarang bisa diakses siapapun juga yah. Kalau dulu kan saya cuma bisa baca majalah yang dibawa teman saya dari luar negeri. Sekarang sih resource banyak dan informasi ada dimana-mana. Kultur jaman sekarang sih gue seneng, kaya kemaren ke Jepang juga sudah banyak yang membicarakan footwear lokal disebut. Mungkin semakin banyak brand sepatu, semakin banyak produksian yang bikin juga, gw berharap masing-masing bisa punya value unik yang di share. Gue berharap brand-brand lain juga bisa masuk ke negara luar, karena secara bisnis dan finansial bisa mengembangkan banget brand lo. Gue sih dibilang sneaker head juga engga sih karena gue pake yang klasik-klasik aja dari dulu haha..

Bagaimana awal histori dan konsep dibalik Akross? Kenapa memutuskan untuk terjun juga ke industri footwear dan apa yang membedakan Akross dari brand-brand sejenis lain nya?
Awal histori 2018/2019 gue Zaky dan team Dash-A Lab diskusi dan sudah mulai develop ke arah yang versatile bahkan sebelum trend gorpcore itu beken. Kayanya kita perlu suatu footwear yang lebih versatile dan crossing berbagai activity, Vando dari team Dash-A Lab ngasi Namanya Akross aja pake “K”. Singkat ceritanya itu sih. Diperjalanan Develop nya makin seru dan nemu-nemu juga material yang bagus-bagus. Salah satunya Vibram dan Ortholite. Yang paling spesial ini gue, Zaky dan team lebih leluasa untuk ngedesign. Karena Akross masih baru jadi lebih seperti budak cengos yang bisa ngapain aja, spirit DIY nya masih ada dan liar. Secara planning pun sampai 2 tahun kita sudah ada. Seseru itu lah. Value Akross yang membedakan dari brand lain mungkin lebih versatile dan kelebihan nya pake Vibram dan Ortholite itu. Activity-activity yang nanti akan kita suguhkan juga akan menjadi kejutan lah dan bakal berbeda dari brand-brand lain nya..

Hijack baru saja merilis kolaborasinya dengan salah satu legenda footwear Indonesia; Swallow. Bisa ceritain dikit ga proses dan konsep dibalik kolaborasi ini? Bagaimana pengalaman lo dengan sendal Swallow dari kecil sampai sekarang?
Gagasan dari kolaborasi ini sejujurnya banyak reflek ke kehidupan sehari hari disekitaran kita yang gak pernah lepas dari sendal jepit. Mau ke warung, mesjid, ngambil orderan gofood, kalo jaman saya main boy-boyan sama main bola plastik yang sendal jepitnya bisa berfungsi jadi batas gawang atau jadi “glove” keeper.

Bagi team dari Hijack, ini sebuah pengalaman yang menyenangkan sekali. Karena bisa kerja sama dengan brand yg ada dari kita kecil, tumbuh bareng sampai akhirnya bikin campaign bareng .. buat gua pribadi mah ini project yg soulful banget.

Pertanyaan terakhir: Di usia lo sekarang kalau harus memilih salah satu, apa lo lebih mementingkan looks dari sebuah sepatu atau comfort nya pada saat dipakai?
Di usia gue sekarang itu.. Hmm dua-duanya sih. Karena looks itu sebuah tampilan yang mendukung lo sebagai seseorang. Jadi teu bisa milih. Comfort tapi looksnya butut gw juga gamau. Yang looksnya bagus tapi ga comfort apalagi haha. Buat gw dua-duanya penting euyy. Jadi kumaha tah? Kalo boleh milih di usia sekarang gue lebih wise untuk memilih yang enak dipake jalan.. Tapi looksnya bagus juga hahahah! Lieur ah Dy, geus nya hahaha..

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Fahmi’s & Akross archives

Bongabonga adalah supergroup thrash metal yang terdiri dari Daniel (Darksovls), Welby Cahyadi (Carnivored), Alvin Eka Putra (NOXA), Christopher ‘Coki’ Bollemeyer (NTRL) dan Bonny Sidharta (Eks-Deadsquad). Menariknya, Bongabonga tampil dengan visual yang tidak se-serius band-band thrash metal pada umumnya: kostum warna-warni, balon-balon di panggung dan merchandise yang berwarna cerah. Walaupun mereka tampak bercanda, tetapi kualitas musik para veteran metal ini tidak perlu diragukan lagi. Mari berbincang dengan BongaBonga kenapa T-Shirt merchandise warna hitam mereka hanya rilis setahun sekali…

“Namanya hidup kan dinamis, kadang manusia sering menjilat ludah & meminum air seninya sendiri dengan berbagai macam alasan”

Sebagai band thrash metal, BongaBonga cukup unik karena memakai visual yang warna-warni dan bahkan manggung pun pakai balon. Ini awalnya ide siapa dan kenapa memakai konsep unik ini sampai sekarang?

Bonny: Idenya sebenernya pengen nyari yang seger-seger aja sih, saat band ini kebentuk orang-orang juga lagi pada jenuh, era pandemi, ga ada acara off air, jadi semua promo otomatis cuma lewat sosmed, gimana caranya bisa bikin orang ‘nengok’ salah satunya ya pake konsep warna warni yang kaya sekarang ini. Kalo kita balik lagi ke Thrash Metal era 80an akhir / 90an awal, merch dengan warna-warna cerah selain hitam itu juga gak tabu. Cuma emang di BongaBonga ini sekalian kita mentokin non-hitamnya jadi warna warni… Norak ya norak sekalian, jangan nanggung. Dan yang kerennya sebenarnya… Ternyata semua mau dan setuju keluar dari kebiasaan masing-masing yang selalu berdandan hitam-hitam diatas panggung. Dan sisi baiknya juga, lemari baju gw agak bervariasi sekarang isinya, lebih cerah sedikit.

Daniel: Ide bersama sih tapi biang keladi segala kenorakan ini ya Boni. Yang paling ajaib secara visual di antara kita juga Boni. Kalo gw sih pengennya bikin panggung perpaduan Flaming Lips, Gorillaz dan Chemical Brothers tapi dananya belum ada nih hahaha.

Untuk departemen lirik, lirik-lirik kalian lebih menyerupai crust punk, D-beat dan power violence ya daripada thrash metal pada umum nya? Siapa aja influence Daniel dalam menulis lirik dan tema-tema apa yang selalu lo angkat?

Daniel: waktu penggarapan album bonga gw lagi banyak dengerin lagi band” kaya anticimex,wolfbrigade,tragedy,victims,charles bronson,propagandhi ,the virus,dishammer,disfear , discharge , disrupt dan band” “dis” laenya hahaha. Temanya lebih ke sosial politik sih kalo disini sama gw jg mengcapture fenomena” yang terjadi di dunia nyata dan dunia maya, karna pas penggarapan album pandemi masih edan . Influens untuk bonga gw kasih yg lokal aja kali ya karna gw nulis liriknya jg bahasa indonesia jg: ari ernesto ( domestik doktrin, hark! ) , ndaru widodo ( thrashline,betrayer ) kuki( sexy pig), Bembi (Anjing Tanah), otong koil,harry roesly ,dedy stanzah ,doel soembang .

Untuk para gitaris, bagaimana tips & tricks membuat solo gitar metal yang tidak membosankan dan tetap catchy? Bagaimana pendapat kalian mengenai band-band yang solo gitarnya hampir 2 menitan?

Welby: Yang solo Om Coki, gw gonjrang gonjreng doang hahaha, kalo pendapat gw untuk band yg bisa solo 2 menit itu hebat banget, soalnya gw gak bisa, dan gak tertarik buat bisa juga sih.

Daniel: kayanya Coki lagi sibuk maen game jadi ga bisa jawab sesi ini.

Album-album thrash metal favorit para personil apa saja dan kenapa?

Daniel: – slayer : south of heaven , reign in blood memang intens tapi SOH seperti roller coaster dan lebih dinamis
– Sepultura : beneath the remains , album paling harmonis nan sinis .

Bonny: karna gw abg di era ini,agak banyak yg gw dengerin, ini yg bener2 gw dengerin saat itu dan gw suka banget………….SLAYER : Season in the abyss….. harmony dan lirik2nya yg gelap . TESTAMENT: Practice what u preach, seinget gw ini album thrash pertama yg bisa gw cerna saat itu, gw denger pas kelas 6 SD, Nuclear Assault: Handle with care, pas smp album ini hampir setiap hari gw puter. SEPULTURA: Beneath the Remains…pertama kalinya dipegang Scott Burns, sound sama produksi lagunya meningkat jauh dr album Morbid vision dan Schizophrenia. KREATOR: Extreme Aggression….album thrash yg almost perfect buat gw pribadi.ANTHRAX: Among the Living…hampir smua lagunya anthemic banget. METALLICA: ini standart, Master of Puppets…..dan gara2 Cliff Burton gw jadi pengen maen Bass.

Kalian semua punya band lain selain BongaBonga, bagaimana kalian mengatur waktu, mana yang menjadi prioritas dan bagaimana kalian menghafal lagu-lagu dari semua band kalian? Hahaha..

Daniel: ini nih yg kadang jadi masalah gw haaha kalo dah nulis lirik di atas 60 judul ( di gabung sama band” gw yang lama ya ) kadang suka lupa kalo kelamaan ga di bawain.

Intinya dulu”an jadwal masuk aja, kalo ada yg bentrok dan ga memungkinkan ikut ya tinggal pake stuntman / additional.

Awalnya kan nama band kalian Bonga Bonga Atau Party. Memangnya arti dari Bonga Bonga Atau Party itu apa? Lalu di tahun 2023 ini party terbaik menurut definisi masing-masing personil itu party yang seperti apa?

Bonny: nama band dari awal itu emang BONGABONGA, cuman waktu kita mau bikin akun instagram nama itu udah gak available, jadilah cari2 yg available….kalo tambahan “atau party” nya itu plesetan dari “atau mati” dan ternyata ada, sementara Boongabonga dalam Bahasa Bugis itu artinya bersenang2…yaudah, cocok, jadi Bongabonga atau party itu cuma nama akun di IG aja, nama band ya tetep dan selalu BONGABONGA.

Daniel: duh sejak punya anak gw dah jarang party euy hahaha . Kalo dulu sebelum jadi ayah party yg gw demen sampe hang over the hang. Sampe mati lampu. Under subconcious state .

Menurut gosip kalian cuma membikin merch kaos hitam setahun sekali saja. Kenapa itu? Bukankah merch musik metal lebih identik dan lebih laku kalau warna hitam? Walaupun menurut kita BongaBonga itu keren karena berani merilis merch dengan warna-warna yang nyeleneh dan tetap laku..

Daniel: gw kan porsinya disini paling banyak ngurusin merch & jualan merch juga . gw tau banget kalo paling gampang tuh jual kaos warna item. Tapi di bonga kita bosen sama warna item karna band” kita yang lain & yang dulu kalo bikin kaos 90% warnanya item. Akhirnya pertama kali bikin kaos kita warna kuning , gokil jg ternyata ampir 500 kaos ludes ( ampe ada bajakanya kaos warna item hahaha ) . Ekspetasi kita saat itu kalo kaos kuning mah paling laku 100-150an jadi kita buka PO via WA . Sampe akhirnya kita nyerah dan memutuskan bikin akun tokped hahaha.

Ya waktu itu kita iseng karna banyak yang nanyain kaos warna item di ig, akhirnya kita asal aja ngetik kalo mau lisensi kaos warna item harus 1000 pieces , eh akhirnya harry bronx oblivion berani ngelisensi haha. Kalo ga ada yg lisensi paling kita sendiri yang rilis . Kaos yang parodi desain wanpis emang so far rekor sih, band sendiri cetak versi kaos berwarna ampir 500 kaos . Untuk ukuran band baru mayanlah bisa jualan quantity segitu.

Bonny: Soal merch warna hitam kita rilis staun sekali udah dijelasin sama Danil. Gw cuma mau nambahin knapa kita tetap konsisten untuk rilis merch dengan warna2 norak sampe yg tiedye, karna ini emang konsep yg kita bikin sendiri sedari awal. Harus bisa konsisten walopun godaan tawaran kerjasama selalu ada aja untuk bikin merch hitam. Penampilan luar boleh warnawarni, tapi didalam tetep gelap gulita. 🤘🤘🤘 (gw)

Bagaimana proses penulisan lagu di band kalian? Apakah jamming, kirim-kirm file atau workshop?

Daniel: Kalo album pertama prosesnya ga jamming karna kan di garap pas pandemi. Welby tinggalnya di lampung , yang lain di jakarta & tangsel , jadi ya kirim”an file aja via grup wa. Karna kita semua dah pernah ngeband bareng jadi prosesnya cepet & ga perlu latian sebelum rekaman album. Percaya aja sama isian masing” personil.

Btw kita sekarang udah masuk proses rekaman lagi, tapi belum tau muaranya bakal jadi album , EP ato album kolaborasi . Materinya sih udah ada 8 lagu . Walaupun udah ga pandemi prosesnya masih sama hahaha . Jadi kita workshopnya sambil nongkrong bukan jamming di studio. Misalnya gini : ” tar lagu 1 rada heavy metal masukin riff ala maiden campur butcher yah , lagu 2 masukin unsur HC kaya drain ,biohazard, cross over ala lee way campur obituary blablabla. Musik dasarnya tetep welby yang buat sama kaya album 1.

Apakah kalian pernah berhenti mendengarkan suatu band atau musisi karena sifat politikal / personal mereka kurang tepat? Misal Morissey kemaren sedang ramai karena pro-Israel atau vokalis As I Lay Dying yang membunuh istrinya..

Daniel: hmmm kalo gw biasanya berenti dengerin band itu kalo personil fave gw di band itu di ganti entah itu karna keluar / mati. Contohnya gw berenti dengerin semua lagu alice in chains pasca lane staley mati. Gw dah ga terlalu dengerin dying fetus sejak jason netherton cabut dan bikin misery index. Gw berenti dengerin album” slipknot pasca joy jordison di pecat. Gw denger sepultura cuma era Max doang.

Kalo moz album yg terakhir gw dengerin secara penuh tuh ring leader of tormentor. Setelah itu gw dah ga masuk / kena sama lagu barunya dan kalo mengenai kontroversi moz sih gw ga heran dan dah bisa nebak dari dulu, dia emang orang yg ruwet , ribet ,kalo gw baca dari beberapa bukunya & nonton documenternya.

Sejak doi pro “monarki” aja gw dah males , tapi ya namanya hidup kan dinamis kadang manusia sering menjilat ludah & meminum air seninya sendiri dengan berbagai macam alasan. Anggep aja lirik moz yg dulu itu bagian dari dirinya yang dulu . moz yg sekarang dah ga keren di mata gw pribadi secara karya , image & attitude jd ya gw dah ga dengerin lagu” pasca album ring leader. Mungkin titik puncak kreativitas doi mentok pas album you’re the quary.

Pertanyaan terakhir: Kuliner favorit BongaBonga apa saja kalau sedang ngumpul atau beres manggung? Riders kalian yang paling unik minta makanan / minuman apa aja?

Daniel: kita semua doyan banget babi,tapi ya beli sendiri pas lg ngumpul / workshop biasanya. Babi sih ga masuk riders,Ga mau ngeribetin panitia juga soalnya. Minuman mah standar lah kopi , beer , whisky. Tapi seringnya miras kita beli sendiri pake duit kas . Yang rada ribet di bonga tuh paling di props kalo mau manggung. Kita kadang lebih mikirin props di banding setlist . Kalo sound kita percaya sama crew kita, kita band yg males soncek 🤣.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by @111th

Honey, unit hard core pendatang baru yang telah menarik perhatian melalui singel mereka “4” dengan hook yang menarik “HELL YEAH”, yang sering muncul di FYP TikTok dan acara Hardcore di Pulau Jawa. Kali ini, band yang berdomisili di Kota Bandung ini bergabung dengan Greedy Dust untuk merilis EP pertama mereka yang berjudul “Steppin Rollin”, yang terdiri dari empat lagu. Melalui wawancara dengan mereka, diungkapkan bahwa EP ini merupakan langkah awal untuk mengatasi masalah dan keresahan dari tahun sebelumnya. Mereka menyatakan bahwa agresif dan cepat adalah dua kata yang mewakili kehidupan dan memotivasi mereka untuk melangkah maju.

EP ini mencerminkan pengaruh dari genre musik Hardcore & Hip-Hop seperti Zulu, Lee Way, Gridiron, Public Enemy, & Madvillain. Pada sisi visual, EP ini dikerjakan langsung oleh Delpi Suhariyanto, yang menjabat sebagai Creative Director dari Greedy Dust. Honey berharap bahwa dengan rilis EP ini, aktivitas mereka akan menjadi lebih menyenangkan dan dapat membawa mereka ke tempat-tempat yang lebih jauh.