Hasbi Erlangga adalah CEO dan salah satu founder dari Syma, sebuah brand tas berbasis di Bandung. Selain menjalankan brand ini dengan 4 sahabatnya, Hasbi dan Firman Oktaviawan juga membuat sebuah radio talkshow / media (yang disupport Maternal Disaster) bernama Thursday Night Club. Sesuai namanya, TNC siaran setiap hari kamis di Radio OZ Bandung dan menampilkan interview yang diselingi live performance dari band-band yang sedang hangat. Mari berbincang dengan Hasbi mengenai desain produk, Korn “Follow the Leader” dan reuni ALICE…

“Kultur diskon yang menyebalkan adalah orang yang jual kaos 150 ribu tiba-tiba di diskon jadi 50 ribu, tapi pas dapet barangnya ternyata memang dapet kaos yang kualitas 50 ribu”

Sedang sibuk mengerjakan apa saja sekarang di Syma? Bisa elaborasi sedikit ga tentang awal histori Syma dibuat?
Syma basicnya itu berdiri di 2013, story nya sih dulu gue sama Yordan satu kampus di Itenas DKV. Baru lulus kuliah dan tahun 2013 itu lagi rame teman-teman sekitar pada bikin brand, itu juga yang mendorong kita berdua untuk membikin sesuatu. Gue dan Yordan tuh kan dulu freelancer, dan lumayan jarang balik karena rumah jauh. Kita berdua bawaan di tas tuh banyak banget kaya mau pindahan dan tasnya gede-gede. Diledekin tuh sama anak-anak gue kaya mau camping.. Tas lokal ga ada yang modern looks tapi performance bagus. Kalau brand luar harganya mayan. Herschell aja baru rame di 2013 dan siluet-siluetnya banyak ditiru brand lain. Nah akhirnya kita memutuskan untuk buat brand tas tapi berkiblat ke brand tas asal Korea T-Level.

Awalnya sebenarnya bertiga sama Yordan dan Hero. Dulu pas 2013 cuma bikin backpack dan hipsack. Cuma kita bertiga designer dan ga ada orang bisnis. Dulu R&D aja terus dan ga jualan lah haha.. Lalu kita vakum dan kita menjalankan bisnis masing-masing yang client-based. Pas 2020 Covid hits the ground yaa jadi susah kalau nunggu dari client. Tapi lihat teman-teman yang jual ke customer kayaknya ga berpengaruh si Covid. Yaudah kita jalanin lagi si Syma. Lalu ngajak partner jadi sekarang formasi berlima ada Yordan Admiral (Creative Director), Ongky Andy Saptari (Business Director), Agittia Kusumah (Head of Operations & Production), Iqra Tanzil (Head of R&D) dan gue sendiri Hasbi (CEO).

Apa yang menurut lo membedakan Syma dengan brand-brand tas lainnya?
Kalau secara produk kita dari awal itu semangat nya adalah membikin sesuatu yang modern tapi dengan performance dari tas-tas gunung. Dulu kita lumayan beda lah dari looks-looks vintage brand tas lokal lainnya. Karena gue anak DKV, jadi lumayan senang untuk bikin cerita dan konsep. Nama Syma aja kalau interpretasi kita itu adalah pancaran aura di kebudayaan Sunda. Gue pengennya para pengguna tas Syma itu memancarkan kalau lu itu adalah orang-orang yang memperjuangkan sesuatu…

Hustler ya? Hustling culture?
Ya hustler! Orang-orang yang memperjuangkan sesuatu itu kita support. Lalu kita bikin tagline dengan spirit “Play Your Part” itu. Sok lu mau bikin apa, mau jadi apa sok jalankan aja karena kita percaya tiap orang itu punya misi tertentu yang minimal baik untuk dirinya sendiri, lebih baik lagi kalau bisa untuk sekitar..

Lo juga merintis Thursday Night Club, sebuah Radio talkshow yang kadang membuat event offline juga. Gimana awalnya si TNC terbentuk dan kedepannya mau dikembangkan jadi seperti apa?
Yang punya ide tuh dulu awalnya dari Manno, kan dia sempat kerja di OZ, lalu ada slot kosong di Kamis jam 8 malam. Akhirnya konsultasi ke Vidi dan Maternal mau support. Konsep dan nama acara itu dari Vidi. Lalu Manno nyari partner buat siaran, tadinya mau Dika dan Dinar tapi mental karena mereka baru punya anak jadi agak susah. Nahh saya tuh pilihan terakhir sebenarnya hahaha.. Ayo lah gow, sampe sekarang nih jalan. Selain bikin event-event offline live band pengen juga kedepan nya jadi media dan show management. Lebih ke pengen bikin talkshow dan workshop. Kalau IP kita udah mulai oke mah ga akan jauh paling jual merchandise juga.

Fashion selalu beririsan dengan musik. Musik apa aja yang menginspirasi lo saat mendesain atau membuat sebuah konsep untuk Syma?
Gue dan Yordan itu dua background yang berbeda, dulu Yordan itu Midnight Runner sama Munir dan anggota Funkbox juga. Sementara gue yang underground hahaha.. Sebenarnya ya si Syma itu musik-musiknya Yordan banget. Mungkin bisa disebut chill hop dan jazz hop. Lebih general kan kalau musik elektronik untuk budaya urban. Jadi playlist Syma arahannya selalu dari Yordan.

Kalau ngomongin musik, lo juga cukup aktif mengisi departemen bass di Haul, dan sempat juga bermain di Alice dan Collapse. Bisa ceritain peran-peran lo di band-band tersebut?
Kalau awal mula masuk Haul karena bassist nya Haul harus studi keluar negeri. Kenny cari pengganti akhirnya ke saya karena temenan sama dia dari SMP. Dia juga udah bingung gatau mo nyari kemana lagi kayaknya haha.. Kalau ALICE dulu kan bassistnya si Samsu, dan dia cabut karena kerjaan. Kebetulan sama Miko dan Dika temenan udah lama dari SMA, jadi memang gue itu spesialis pengganti hahaha! Kalau di Collapse udah engga, waktu itu Dika menyudahi formasi yang lama dan ngajakin gue, meskipun pada akhirnya gue cabut karena harus memilih Syma sebagai prioritas. Belum lagi gue siaran, kayaknya banyak banget nih kegiatan ekstrakurikulernya haha.. Kalau ALICE tuh memang kita gak pernah nyebut bubar cuma gak aktif aja. Lalu kemaren ketemu Miko dan Dika yaudah jalan lagi aja yuk. Se-simple itu sih. Rencana sih pengen album baru dan udah bikin beberapa lagu. Ada juga beberapa yang ngajak manggung, cuma kalau gue pribadi menyarankan anak-anak untuk fokus bikin album dulu, karena persiapan manggung itu bukan sekedar latihan aja.

Brand-brand tas favorit lo apa aja dan kenapa?
T-Level secara spirit keren, kaya urban explorer tapi kemasannya sporty. Lalu mungkin ada brand Eropa namanya Ping Pong, dia tuh lucu kaya performance tapi lebih luxury. Raw Row brand Korea juga kalau ga salah, lucu juga design-design nya. Kalau lokal mungkin si Aesthetic Pleasure selain yang punya nya temen, tapi salah satu produk mereka yang iconicnya itu tuh tas-nya, walaupun mereka brand fashion. Kalau lokal gak mungkin gak ngomongin Alpina kan, simple, casual dan mereka tuh yang buat emang orang-orang gunung yang pasti mengerti backframe dan lain-lain. Porter mungkin yang rapihnya, Japanese craft banget. Crumpler lucu juga. Cote et Ciel juga unik potongan nya aneh-aneh, terus sempet ada di Gramedia.

Top 5 album yang membuat lo ingin membetot bass?
Mungkin gak spesifik ke bass tapi yang bikin gue pengen main band sih Korn – Follow The Leader, danger pas SMP pas lagi booming. Hai Klip dulu sempet bikin buku sejarah Korn. Everytime I Die – Gutter Phenomenon, rock n roll tapi brutal dan agresif. Gitarisnya yang pemain gulat si Big Andy. 18 Visions – Obsessions, mereka kaya band glam/hard rock tapi di scene metalcore, stand out setelan manggungnya pas di Hellfest. Me First & The Gimme Gimmes cuma gak per album, gue dapet lagunya ketengan dari warnet dan pertama ngeband emang bawain Me First juga, nguliknya juga gak susah cuma chord gantung hehe..

Pendapat lo mengenai trend diskon harga coret?
Di satu sisi sebenarnya gue melakukan itu karena pertimbangan nya setiap orang, siapapun itu, dari berbagai kalangan tetap akan senang kalau dapat privilege dan good deal. Awalnya gue juga gak setuju, cuma dibalikin sama anak-anak. Kata mas Ongky “Lu kalau pesen makanan di Gojek suka cari yang diskon ga? Yaudah apapun alasan lu gak valid.” Kalau versi Syma itu kultur diskon yang menyebalkan adalah orang yang jual kaos 150 ribu tiba-tiba di diskon jadi 50 ribu, tapi pas dapet barangnya ternyata memang dapet kaos yang kualitas 50 ribu, bukan kualitas kaos 150 ribu dapet good deal jadi 50 ribu. Ini kan sebenarnya trend pas toko oren baru masuk ke Indo. Peak-peak nya di 2020 dan 2021. Dimana konsumen tetap butuh pakaian tapi pendapatan berkurang karena Covid. Untuk 1-2 tahun mungkin works ya tapi gatau sekarang gimana. Kalau di syma sih ya walaupun harga dapet good deal tapi bukan berarti kualitas turun / tidak sesuai.

Pertanyaan terakhir: Kenapa produk-produk Syma banyak berwarna hitam? Apa tidak ingin mencoba colorways lain? Atau hati lo pas ngedesign memang lagi sedang gelap-gelapnya?
Kalau jawaban keren nya mah warna hitam biar jadi identitas hahaha. Tas dengan bahan nylon, polyester tapi all black. Kalau dari segi praktis biar repeatnya gampang hahaha.. Pas Syma awal kejadian tuh kita bikin warna navy, abu, merah dan pas mau repeat lot warna nya beda. Jadi akhirnya kita memutuskan udahlah hitam aja biar aman. Kalau navy dan merah begitu turun warnanya wahh kaya anemia kurang darah haha.. Kebetulan kita sekarang lagi develop colorways baru yaitu Beige Collection. Cuma ada touch-nya biar ga terlalu jauh sama produk sebelumnya, dan biar ga earth tone banget. Jadi tetap ada warna bold nya. Itu rilis bulan depan. North Face punya Purple Label, Syma punya Beige Collection hahaha..

Words & interview by Aldy Kusumah

1 Maret 2024 adalah tanggal yang buruk untuk para penggemar Akira Toriyama. Beliau meninggal karena subdural hematoma (pendarahan di otak), dan cukup membuat shock kami dan teman-teman kami, yang tentunya massive otaku-nerds. Siapa yang tidak mengenal Akira Toriyama? Kami yakin sebagian besar dari kalian bertumbuh besar ditemani oleh komik dan anime karya-karya Akira Toriyama (Dragon Ball dan Dr. Slump). Dengan masifnya gempuran manga-manga dan anime-anime baru di era kontemporer ini, selalu ada tempat spesial di hati kita terhadap design iconic Akira Toriyama yang terlihat jelas dari rambut-rambut karakternya, dan garis-garis tegasnya yang sangat khas. Bukan hanya piawai dalam menggambar karakter, Akira Toriyama juga adalah salah satu ilustrator favorit kami yang sangat piawai dalam mendesain kendaraan futuristik dan arsitektur unik di karya-karyanya. Berikut ini adalah karya-karya iconic sensei Akira Toriyama yang tidak hanya berhenti di manga dan anime, tetapi cukup menonjol juga di dunia console gaming. Goodbye Sensei Akira Toriyama, thanks for all the memories.

Dragon Ball Series (1984 – Sekarang)
Ketika franchise Dragon Ball dimulai, manga ini adalah adaptasi bebas dari novel klasik Tiongkok Journey to the West, dengan Goku sebagai Sun Wukong dan Bulma sebagai Tang Sanzang. Uniknya Akira menggunakan latar dunia fiksi yang masih beraroma Asia, juga mengambil inspirasi dari beberapa budaya Asia termasuk Jepang, Tiongkok, India, Asia Tengah, budaya Arab, dan Indonesia. Pada awalanya Dragon Ball lebih menitikberatkan stylenya sebagai manga petualangan dengan gaya komedi yang khas, namun seiring berjalannya serialisasi, hal ini perlahan berubah, dan kemudian ia mengubah serial tersebut menjadi “manga pertarungan” shounen. Tidak hanya manga dan adaptasi animenya, Franchise Dragon Ball juga melebar ke industri game dan action figure.

Game Dragon Ball merupakan seri video game yang berdasarkan manga dan anime Dragon Ball. Seri ini mencakup berbagai genre, termasuk fighting game, RPG, dan action adventure. Game-game ini memungkinkan pemain untuk re-live cerita dan pertarungan epik antara Goku dan kawan-kawannya melawan berbagai musuh. Populer di seluruh dunia, seri ini terkenal dengan gameplay yang dinamis dan setia pada narasi aslinya, bahkan setelah hampir 40 tahun dari rilisan pertamanya. Walaupun ada beberapa rilisan Dragon Ball versi RPG dan action adventure, para fans Dragon Ball tentunya lebih menyukai adaptasi fighting game nya ketimbang genre lain.

Chrono Trigger (1995)
Chrono Trigger adalah game RPG klasik yang dikembangkan oleh Square Enix, pertama kali dirilis untuk Super Nintendo pada tahun 1995. Game ini terkenal karena ceritanya yang inovatif, yang melibatkan perjalanan waktu dan punya multi ending yang cukup unik di masa itu. Selain itu, Chrono Trigger memiliki gameplay yang menarik, dan musik yang sangat memorable. Dibuat oleh “Dream Team” termasuk Hironobu
Sakaguchi (Final Fantasy), Yuji Horii (Dragon Quest), dan Akira Toriyama. Walaupun game ini dirilis hampir 30 tahun yang lalu, Chrono Trigger tetap dianggap sebagai salah satu game terbaik sepanjang masa.

Dragon Quest (1986 – Sekarang)
Dragon Quest (dikenal sebagai Dragon Warrior di Amerika Utara) adalah franchise RPG klasik Jepang yang dibuat oleh Yuji Horii. Game ini bahkan lebih besar dari Final Fantasy di negara asalnya (Jepang). Konon pemerintah Jepang kadang memberi hari libur atau tanggal merah setiap rilisan baru dari game ini rilis. Game ini terkenal dengan elemen-elemen tradisional nya seperti turn-based combat, storytelling yang mendalam, dan tentunya desain karakter dari Akira Toriyama yang sangat iconic. Seri ini adalah benchmark dalam dunia RPG karena perannya dalam menetapkan fondasi bagi genre RPG dan masih populer di seluruh dunia walaupun game ini pertama kali dirilis pada tahun 1986, bahkan sebelum Final Fantasy rilis. Jika Final Fantasy terus berinovasi untuk membuat JRPG semakin modern, menariknya Dragon Quest adalah antitesis dari franchise FF, dengan cerita yang lebih simple dan gameplay RPG tradisional yang akan membuat para penggemar JRPG merasa nyaman seperti memakan masakan rumahan.

Dr. Slump (1980 – 1999)
Slump adalah serial manga Jepang yang ditulis dan diilustrasikan oleh Akira Toriyama. Manga ini diserialkan di majalah manga shōnen milik Shueisha Weekly Shonen Jump dari Februari 1980 hingga September 1984. Serial ini mengikuti petualangan lucu robot gadis kecil Arale Norimaki, penciptanya Senbei Norimaki, dan penduduk Desa Penguin lainnya yang nyentrik. Manga ini sempat diadaptasi menjadi serial televisi anime oleh Toei Animation yang ditayangkan di Fuji TV dari tahun 1981 hingga 1986. Seri remakenya ditayangkan dari tahun 1997 hingga 1999. Franchise ini juga telah menelurkan beberapa novel, video game, dan sebelas film animasi. Dr. Slump berisi permainan kata-kata dan humor toilet yang jorok, serta parodi budaya Jepang dan Amerika. Misalnya, salah satu karakter yang berulang adalah Suppaman, yang merupakan parodi dari Superman; Suppaman tidak bisa terbang, dan berpura-pura terbang dengan berbaring tengkurap di atas skateboard dan berlari di jalanan. Selain itu, salah satu polisi desa memakai helm stormtrooper bergaya Star Wars.

Blue Dragon (2006)
Blue Dragon adalah game RPG Jepang yang dikembangkan oleh Mistwalker dan Artoon, dirilis untuk Xbox 360 pada 2006. Ceritanya mengikuti petualangan lima sahabat yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan bayangan yang menyerupai naga. Game in menonjol dengan musiknya yang dibuat oleh Nobuo Uematsu (Final Fantasy) dan desain karakter oleh Akira Toriyama, sayang, karena dirilis di Xbox 360, game ini kurang terlalu dikenal bahkan di negara asalnya sendiri. Overall Blue Dragon adalah sebuah JRPG basic dengan cerita menarik, dan jika kamu menyukai Akira Toriyama, at least kalian harus mencoba memainkan game ini.

Tobal Series (1996 – 1997)
Tobal No 1 dan Tobal 2 adalah seri game 3D fighting yang dikembangkan oleh DreamFactory dan dirilis oleh Square (sekarang Square Enix) pada pertengahan tahun 1990-an untuk PlayStation. Seri ini terkenal karena grafiknya yang memukau pada masanya, battle mechanic yang kompleks, dan quest mode yang unik (dengan elemen RPG). Tobal No. 1 terutama dikenal karena menampilkan karakter yang didesain oleh Akira Toriyama. Sayangnya, Tobal 2 tidak dirilis di luar Jepang. Tetapi sequel ini dipuji karena jumlah karakternya yang banyak dan improved gameplay-nya di hampir segala aspek. Bayangkan saja game fighting ala Tekken dengan karakter yang di-design oleh Akira Toriyama.

Sand Land (2024)
Sand Land adalah manga pendek karya Akira Toriyama, Kisahnya berlatar di dunia post-apocalypse yang gersang ala Mad Max. Cerita Sand Land mengikuti petualangan Pangeran Beelzebub, Thief, dan pensiunan tentara Sherman dalam pencarian mereka akan sumber air baru. Sand Land dijadwalkan untuk rilis pada tahun 2024 ini, sayang Akira Toriyama tidak sempat memainkan versi final daro game ini karena belum rilis. Walaupun kami hanya melihat dari trailer yang sudah dirilis di Youtube, game ini nampaknya akan menjadi game Action RPG yang cukup menjanjikan. Apalagi dengan world-building ala Sensei Toriyama yang selalu menarik dan kompleks.

Words by Aldy Kusumah

 

Mandy CJ adalah seorang seniman yang berbasis di Jakarta. Selain mengeksplorasi seni lukis dan menghasilkan karya unik yang sangat berkarakter di atas kanvas, Mandy juga terlibat dan menjadi salah satu founder TFR News bersama sahabatnya, yang kemudian membuat aktivasi seperti Jakarta Doodle Fest. Selain kesibukan Mandy di area creative culture, media dan seni rupa, Mandy juga sangat passionate mengenai fashion dan musik. Let’s dig into her brain and discover her creative ways…

“Mengenai brand yang sedang ramai karena meniru plek-plekan, that’s on them, menurut gue ga ada etika aja. They don’t appreciate other people’s works dan ingin memonetisasi dari karya lain dengan harga yang lebih murah, menurut gue itu lazy capitalism.”

Halo Mandy! Sedang sibuk menjalankan rutinitas apa saja nih akhir-akhir ini?
Pastinya bangun, kerja dan ada goal untuk olahraga sehari sekali, 30 menit sampai 1 jam.. Building empire sih! Hahaha.. Building creative industry.. Ga ada lagi sih, kerja aja langsung. On the weekends sama temen-temen ke pameran untuk support karya temen yang lagi dipamerkan, atau.. Tidur…

Lukisan-lukisan Lo cukup iconic dan berkarakter. Pengaruh terbesar Lo untuk memulai melukis dari mana? Siapa saja pelukis-pelukis favorit Lo?
Pengaruh terbesar untuk lukisan-lukisan gue adalah musik. Musik adalah salah satu happiness in my life.. Gue suka banget musik yang sangat bertekstur, contohnya “Tusk” dari Fleetwood Mac, gue juga suka banget sama System of a Down. RnB dan hip hop juga, seperti SZA, jadi mereka meng-influence mood gua, dan mood gua influence karya yang lagi gue kerjain saat itu. Kalau pelukis-pelukis favorit pastinya Daniel Richter, dia pelukis dari Jerman, gue suka banget cara dia menangkap landscape. Gue juga suka banget Henri Matisse dan penggunaan pattern di karya-karyanya. Gue juga suka Arahmaiani dan Natisa Jones untuk seniman-seniman lokalnya.

Lo juga salah satu founder The Finery Report. Apa yang membuat Lo tertarik dengan creative culture dan industri kreatif? Trigger apa yang membuat Lo bikin TFR?
Kita udah ga lagi pake The Finery Report dan memakai nama TRF News. Kita sering ngebahas creative industry tapi tahun ini kita fokus di visual arts community, karena banyak event fine arts yang audience nya berbeda dengan visual arts. Arts is actually supposed to be enjoyed in your daily life. Dengan cara membuat patterns, prints untuk dipakai di produk sehari-hari. Sayangnya visual artist ini mungkin kurang dibimbing untuk monetisasi karyanya, semoga event TFR bisa menjadi platform tersebut. TFR dibuat bersama partner gue Christine, dulu dia adalah dosen graphic design gue. Tadinya kita mau buat brand tas sebelum TFR. Di luar ada media BOF (Business of Fashion), disini kita susah banget untuk cari data dan riset tentang creative industry, dari situlah TFR lahir untuk menjadi media channel-nya.

Tentunya tidak ada yang 100% original di era kontemporer ini, beberapa brand meleburkan berbagai referensi, influence dengan style mereka sendiri sehingga menciptakan karya atau entitas baru. Tetapi ada beberapa brand yang sedang ramai karena meniru “plek-plekan” dan meng-glorifikasi kultur bootleg. Bagaimana opini atau pendapat pribadi lo soal ini?
There is nothing new under the sun. Menurut gue untuk membuat original product kita harus copy. Di karya gue pun gue selalu cara Basquiat melukis atau cara Henri Matisse melukis. Dan dari situ gue nyontek sampai menemukan gesture gue sendiri dalam karya gue, that is what makes me original. Dengan inspirasi dari mentor-mentor kita. Copying is very normal, tapi kita harus smart dalam our ways of copying, kita harus mengambil fitur-fitur dari inspirasi kita dan jadi original. Kalau misalnya tentang brand yang sedang ramai karena meniru plek-plekan, that’s on them, menurut gue ga ada etika aja. They don’t appreciate other people’s works dan ingin memonetisasi dari karya lain dengan harga yang lebih murah, menurut gue itu lazy capitalism.

Selain menampilkan karya-karya, IG feeds Lo juga dihiasi oleh fashion style Lo yang cukup unik dan berkarakter. Siapa saja inspirasi fashion Lo?
Sebenarnya fashion gue lagi di tahap rebranding dimana gue mencari fashion style yang baru haha. Tapi gue suka banget sama karya-karya Issey Miyake, Yohji Yamamoto, Bottega Veneta, Diesel, Fendi spring 2024 collection.. Pastinya belum bisa direfleksikan dengan style gue sekarang karena kekurangan dana tapi semoga di masa depan gue bisa afford baju-baju high fashion tersebut. Pastinya di setiap fashion style gue pastinya harus incorporate banyak warna dan patterns. Di tahap ini gue masih eksperimen dengan apa yang gue suka pakai, it’s all about confidence.

Last but not least: Rekomendasi 5 tempat makan favorit Lo apa saja?
Gue suka makanan nya Zodiac Bar, i love their food. Ada Kambing Omurice. Pino juga enak gue baru cobain Duck Steak nya kalau gasalah. Chong Qing Hot Pot, itu tempat favorit gue, mala-nya enak banget. Di Bali gue suka Sate Plecing Arjuna.. Itu adalah makanan favorit gua.. Satu lagi gue mikir bentar… Sahaja Padang Restaurant resto nasi padang dengan the best fried chicken hahaha..!

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from @mandycj_ archives

Arian 13 sepertinya sudah melakukan semua hal di industri kreatif ini: Main band? Arian sudah aktif di berbagai band mungkin sebelum kamu lahir: Puppen, Aparatmati dan kini Seringai. Di departemen seni rupa ilustrasinya sudah menghiasi berbagai kover album, poster, merchandise dan mengikuti eksibisi di beberapa tempat. Untuk bisnis retail Lawless Jakarta sudah menjual banyak merchandise band, dan bahkan berkembang ke sektor F&B dengan gerai-gerai Burger-nya (Lawless Burgerbar) dan claypot-nya yang hits (Iron Fist). Akhir-akhir ini Arian sedang sibuk mengurusi bar barunya: Ratatat, yang secara konsep sedikit berbeda dengan Duck Down Bar. Let’s chat a bit with this guy…

“Pada dasarnya kami melakukan apa yang kami suka, sesuai passion kami. Kami suka musik, dan untuk F&B, kami juga suka makan”

Halo Arian! Apa kabar? Lagi sibuk ngapain aja nih? BTW masih sering mengerjakan ilustrasi ga sekarang-sekarang ini? Apa aja ilustrasi terakhir atau yang sedang lo kerjakan?
Halo! Nampaknya waktu gue sudah cukup terokupasi dengan segala pekerjaan dari Lawless Jakarta saja, dan jarang membuat artwork. Lebih banyak me-manage para illustrator saja. Ilustrasi terakhir yang gue kerjakan nampaknya untuk Vans.

Dulu lo pas awal-awal ke Jakarta kan aktif sebagai jurnalis sambil ngeband dan kemudian bikin Lawless. Kalau melihat kebelakang, lo nyangka ga dari ngeband sekarang berujung menjadi “mafia” bisnis F&B? Bisa elaborasi ga gimana awalnya lo bisa pindah-pindah “genre” tersebut? Haha..
Pada dasarnya kami melakukan apa yang kami suka, sesuai passion kami. Kami suka musik, dan untuk F&B, kami juga suka makan. Jadi dasarnya itu. Untuk mereka yang tidak tahu, nampaknya sesuatu yang ‘aneh’ atau mengejutkan, tapi bagi kami tidak. Tapi memang ketika akhirnya malah passionate di industri kuliner, nggak menyangka juga sih.

photo by @helvi.sj

Hal tersulit dalam memanage bisnis F&B itu apa sih? Apakah lo ada background F&B sebelumnya dan apakah ada tips untuk pembaca yang ingin terjun di bisnis ini?
Buat gue yang tersulit adalah menjaga kualitas produk, dan juga mengembangkan brand. Gue nggak ada background F&B, tapi kalau partner-partner gue seperti Medi & Sammy, ada background F&B. Gue di brand mengerjakan desain dan kreatif, sementara untuk menu lebih ke Medi, dan Sammy marketing. Gue pikir cukup penting untuk suatu brand baru berani dan berani berbeda dalam konsepnya, tapi masih tetap masuk ke berbagai pangsa.

Lo baru-baru ini bikin Ratatat Shots Bar. Apa sih bedanya si Ratatat ini dengan Duck Down Bar kalau secara konsep, interior, menu, crowd dan musik? Dengar-dengar sudah direncanakan dengan matang ya si Ratatat ini selama setahun lebih?
Ratatat sudah direncanakan sebelum pandemi, jadi sekitar 3-4 tahun Ketika hendak dibuka. Awalnya ingin membuat bar dengan konsep music Motown, classic R&B dan turunannya, diaplikasikan ke desain interiornya. Ketika desain interior sudah beres, datanglah pandemi. Selama pandemi, kami survei lebih dalam lagi memantau nightlife Jakarta, khususnya di area Blok M ini. Akhirnya kami meng-upgrade konsep Ratatat seperti sekarang, bar proper yang dibuat ‘improper’. Bar, kemudian di-vandalized. Nama juga sesuai dengan konsep shots bar, Ratatat. Ternyata juga disini belum ada bar dengan konsep tersebut. We have the best cocktail shots in the country. Crowd Ratatat pada umumnya sekitar usia 20-30 tahun, tapi tidak jarang crowd usia 30-40 juga datang, tergantung program event harian nya juga. Lawless Jakarta punya share di Duck Down Bar yang dikelola oleh Biko Group, sementara Ratatat murni dikelola oleh Lawless Jakarta. Keduanya berbeda konsep musik, interior, dan juga pangsa. Pangsa Duck Down Bar lebih kepada pangsa konsumen Senopati, sementara Ratatat dibuat lebih ke pangsa Blok M. If you know, you know.

photo by @ilhamnuriadi

Pertanyaan ini gue tanyakan juga pas interview Sammy tapi dia gak bisa jawab karena pas gabung sudah ada nama Seringai. Pada saat mencari nama Seringai, nama-nama lain apa sih yang ga jadi dipakai? Ada ga nama yang lo pengen pakai jika Seringai boleh ganti nama?
Ah, nggak ingat. Tapi dengan Seringai kayaknya memang langsung sepakat, karena gue mengusulkannya ke anak-anak juga sudah lengkap dengan desain logo dan latar belakang namanya. Hal yang sama terjadi dengan Lawless Jakarta. Gue pribadi nggak pernah kepikiran untuk ganti nama band juga, mending sekalian bikin proyek baru.

Pengalaman terbaik dan pengalaman terburuk saat menjadi personil Seringai apa aja?
Pengalaman terbaik banyak ya, yang mungkin memorable adalah ketika membuka untuk Metallica dan hang out bersama mereka sebentar. Tour singkat bersama Eyehategod. Tour Jepang bersama Kandarivas. Apa lagi ya, banyak sih. Kalau pengalaman terburuk mungkin diintimidasi sebelum dan sesudah manggung oleh ormas sayap kanan di Bogor. Ormasnya sekarang nggak aktif, LOL!

Best 5 food spots di Bandung / Jakarta yang lo rekomendasikan apa aja?
Bandung: Tizi Cake Shop & Restaurant, Mie Tasik Gardujati, Sudirman Street Market, Batagor Kingsley & Ayam Bakar/Goreng Ngudi Rahayu.
Jakarta: Lapo Aisoise Blok M Square, Baji Pamai Kelapa Gading, El Asador Kemang, Eastern Promise Kemang, & Katsutoku Senayan.

photo by @613medi

Konser-konser terbaik yang pernah lo datangi apa aja?
Banyak. Slayer di Singapura 2006-original line up!, Anthrax di Ancol 2012, Ghost & Metallica di Soundwave Fest 2013, Black Sabbath di British Summer Time 2014, Trash Talk di Sonisphere 2014, Eyehategod di Desert Fest 2015, Gauze/Crudos di Tokyo 2016.. listnya nggak akan kelar kelar nampaknya. Biasanya terbaik bisa macam-macam: setlistnya sesuai selera, sound bagus, musisi/bandnya total, mood pribadi juga pas.

Pertanyaan terakhir: Tontonan terbaik untuk menenangkan anak kecil yang lagi tantrum versi lo apa aja?
Gue nggak suka dengan animasi Cocomelon, warna-warnanya terlalu nyelekit dan buat anak-anak juga kurang baik, terlalu stimulating. Gue prefer Super Simple Songs dan Sesame Street.

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo by Anida Sabrina, @helvi.sj, @ilhamnuriadi & @613medi 

Rilisan-rilisan menarik dari Fat Wreck Chords pasti pernah melintas di kehidupan kalian, entah itu pada saat kalian beranjak dewasa (SMP, SMA, Kuliah) ataupun ketika kalian baru mendengarkan rilisan FWC pada saat sudah bekerja. Rilisan-rilisan ikonik mereka seperti Lagwagon – Let’s Talk About Feelings (1998), No Use For A Name – More Betterness (1999), Hi-Standard – Angry Fist (1997), sampai NOFX – I Heard They Suck Live!! Sudah pasti pernah mampir di CD player ataupun menghiasi Winamp media player kamu pada saat itu. Untuk kasus saya, beberapa kaset-kaset bootleg rilisan Fat Wreck Chords pernah saya dapatkan di lapakan depan BIP (Bandung Indah Plaza) dan saya juga banyak menemukan CD bekas rilisan Fat Wreck di DU atau juga di lapakan-lapakan Cihapit. Roster-roster Fat Wreck Chords pun dikurasi dengan baik oleh Fat Mike (NOFX), selaku label owner. Band-band seperti The Ataris, Propagandhi, Rancid, Descendents, sampai Against Me! pernah merilis sesuatu di label ini, entah itu EP, album kompilasi, single, album live atau LP.

Uniknya, walaupun berfokus pada punk rock, roster artist Fat Wreck cukup bervariasi dari ska-punk (Mad Caddies), hardcore (Sick of it All) sampai folk punk (Joey Cape, Against Me!). Fat Mike (Mike Burkett) dan istrinya pada saat itu, Erin Burkett, menjalankan dan mendirikan label ini secara independen, sampai akhirnya menjadi salah satu label punk terbesar di dunia yang telah menjual jutaan keping album. Mereka juga sempat memberi royalty sebesar $50,000 untuk Propagandhi yang kemudian dipakai Chris Hannah dan Jord Samolesky untuk membuat record labelnya sendiri (G7 Welcoming Committee). Fat Wreck Chords benar-benar bersinar dan merilis beberapa rilisan terbaiknya pada tahun 1999. Jika tertarik untuk digging record label ini ataupun bernostalgia, berikut ini ada rilisan-rilisan Fat Wreck Chords favorit Jeurnals.

Rilisan Fat Wreck Chords favorit JEURNALS:

No Use For A Name – More Betterness (1999)
Jika pada “Leche Con Carne” mereka masih terdengar seperti Bad Religion, NUFAN sudah menemukan karakter kuat-nya sendiri di album ini. Album ini dipenuhi oleh riff-riff dan melodi gitar yang catchy, lirik-lirik yang cukup ikonik dan tentunya ada sebuah cover version dari The Pogues (‘Fairytale of New York’) juga disini.

Propagandhi – How to Clean Everything (1993)
Album debut yang fantastis dari band politikal asal Kanada. Dengan single-single yang masih relevan sampai sekarang: “Anti-Manifesto”, “Ska Sucks” dan “Haillie Sellasse, Up Your Ass” yang juga merupakan lagu anti-zionist dari Propagandhi. Mereka mencampurkan ritme punk, riff-riff metal klasik, ketukan sinkop yang teknikal dan ska kedalam musiknya yang unik.

Lagwagon – Let’s Talk About Feelings (1998)
Mungkin ini adalah album Lagwagon paling “emo”. Selain memiliki tracklist yang bagus, album ini juga sukses secara komersil karena lagu “May 16” ada di soundtrack Tony Hawk Pro Skater. Sebuah lagu yang paling personal dari Joey Cape ketika konon dia tidak diundang ke pernikahan sahabatnya terdekatnya.

The Ataris – Look Forward to Failure EP (1998)
Perkenalan pertama saya dengan The Ataris adalah dari lagu ‘San Dimas Highschool Football Rules’ yang terdapat di EP ini, dan kemudian mereka masukan ke album ikonik mereka yang berjudul “Blue Skies, Broken Hearts.. Next 12 Exits”. Mungkin ini adalah lagu cinta-monyet terbaik yang Kris Roe pernah tulis.

Me First and the Gimme Gimmes – Are a Drag (1999)
Me First adalah band all-star yang diperkuat oleh Joey Cape (Lagwagon), Fat Mike (NOFX), Chris Shiflett (Foo Fighters, No Use For A Name), Dave Raun (Lagwagon, Good Riddance) dan Spike Slawson (Swingin’ Utters). Menariknya, di album ini mereka mengkover lagu-lagu soundtrack dari film musikal (show tunes). Kapan lagi bisa mendengar versi punk dari lagu-lagu seperti “Over the Rainbow” dari film Wizard of Oz, “Favorite Things” dari The Sound of Music dan tentunya “Rainbow Connection” dari The Muppet Movie?

HI-STANDARD – Making The Road (1999)
“Making the Road” adalah album favorit saya dari trio punk rockers asal Jepang yang diperkuat oleh Ken Yokoyama (gitar, vokal), Akihiro Nanba (vokal, bass) dan almarhum Akira Tsuneoka (drums). Kover art nya pun cukup unik karena mengambil sebuah adegan dari film samurai Akira Kurosawa (Yojimbo). Album ini bereisi lagu-lagu terbaik mereka seperti Starry Night, Standing Still, Teenagers Are All Assholes, Stay Gold & tentunya sebuah kover dari Black Sabbath (‘Changes’).

Various Artist – Fat Music For Fat People (1994, compilation)
Ini adalah salah satu kompilasi terbaik yang pernah dirilis Fat Wreck. Tidak ada satu pun lagu buruk disini. CD ini dibuka oleh “Anti-Manifesto” dari Propagandhi, yang disambut oleh “Know it All” dari Lagwagon. Lalu Strung Out, Bracket, Face To Face sampai NOFX secara beruntun menghajar pendengar dengan single-single terbaik mereka.

Rise Against – Revolutions per Minute (2003)
Band melodic hardcore dengan lirik politikal ini memang kerap merilis album bagus, tetapi RPM10 atau Revolutions per Minute adalah album favorit saya. Tidak ada yang bisa mengalahkan album bagus yang dipenuhi lagu catchy, produksi maksimal dan lirik yang ditulis dengan baik. Tim McIlrath tampil prima disini.

Sick of it All – Call to Arms (1999)
Tentunya album terbaik yang pernah ditulis Lou dan Pete Koller bersaudara adalah “Built to Last” (1997), sayangnya “Built to Last” adalah rilisan Equal Vision dan kita sedang membahas Fat Wreck Chords disini. Tetapi sebagai follow-up dari album monumental tersebut, “Call to Arms” adalah sebuah album yang tidak kalah menarik dan dipenuhi lagu bagus dari track 1 sampai akhir. All killer no filler.

Against Me! – Reinventing Axl Rose (2019, reissue)
Ini adalah debut album dari Against Me! Yang juga menjadi rilisan pertama mereka yang ada instrumen gitar listrik, bass dan drums. Tom Gabel (sebelum bertransformasi menjadi Laura Jane Grace) menulis lirik-lirik terbaiknya di album ini. Walaupun kualitas vokal Tom Gabel tidak se-maksimal teknik vokal Laura Jane Grace di kemudian hari, album ini tetap menjadi album Against Me! Yang cukup ikonik karena masih ada unsur folk punk dan kami menyukai kualitas sound raw mereka juga disini sebelum mereka masuk major label (Sire Records) dan merilis New Wave yang juga tidak kalah menarik.

NOFX – The Decline EP (1999)
Mungkin ini adalah salah satu lagu terbaik NOFX. Komposisi dan aransmen mereka disini benar-benar out-of-the box. EP ini hanya berisi 1 lagu yang berjudul “The Decline” dan berdurasi 18 menit. Bayangkan saja aransmen komplex ala Bohemian Rhapsody milik Queen di-aplikasikan ke tubuh NOFX. JIka tidak sedang bercanda, NOFX bisa membuat karya epik seperti ini dan tetap having fun melakukannya.

Words by Aldy Kusumah

Vicious Pain adalah salah satu brand yang menarik: mereka lahir dari gabungan DNA punk dan street-fashion klasik. Dengan prinsip “every directions”, mereka tidak ingin stuck di salah satu era fashion dan ingin bereksplorasi lebih liar walaupun tetap memastikan karakter Vicious Pain di setiap output prodak-nya. Andi Fath adalah otak dibalik Vicious Pain, mari berbincang dengan Andi mengenai Sid Vicious, membawa mertua makan sate maranggi dan memakai Clarks karena sudah berumur..

“Good design menurut gw adalah design yang punya pesan dan kesan inovatif, timeless dan ramah lingkungan aja sih. Nothing less, nothing more.”

Halo Andi, Bisa ceritain sedikit ga ke pembaca awal histori Vicious Pain dari pertama terbentuk sampai sekarang?
Vicious Pain terbentuk 6 tahun lalu tepatnya 2 januari 2018, awal mula nya Vicious Pain saya buat emang untuk melampiaskan hasrat saya terhadap design. Kesukaan saya terhadap fashion maupun design itu saya tuangkan penuh ke Vicious Pain yang menjadi alter ego saya juga yang ternyata mendapatkan berbagai respon yang beragam dari khalayak. Nama Vicious Pain sendiri terinspirasi dari nama personil Sex Pistols: Sid Vicious, sedangkan Pain nya sendiri merupakan acronym dari Produced art In Nothingness.

Inspirasi fashion terbesar Lo dari mana saja?
Untuk fashion sendiri jujur saya suka banget sama Braindead karena mereka gak henti-hentinya ngeluarin design ataupun produk yang menurut saya sangat liar, colorful dan ada sentuhan fine art nya.

Era mana yang paling mendefinisikan style Vicious Pain dan style pribadi Lo? ‘90s grunge, Y2K, ‘70s punk-chic atau gorpcore/dadcore kekinian?
Kalau dari Vicious Pain itu punya simbol yang gw namain “every directions” yang dimana gw ga mau vicious pain stuck di satu era. So Vicious Pain bisa masuk-masuk aja dengan gaya nya sendiri ke era ‘70s, ‘80s, ‘90s ataupun Y2K. Karena gw ngerasa Vicious Pain harus tetap ikutin trend tapi tetap mengemas trend itu dengan DNA style ataupun graphic ala Vicious Pain aja hehe..

Apakah value sebuah brand akan menurun jika melakukan trend harga coret?
Sebenarnya masalah penentuan harga adalah hak dan merupakan salah satu strategi marketing dari tiap brand dan opini gw adalah sah sah aja sih, cuma makin kesini gw melihat teman-teman yg berbelanja itu sudah ter-edukasi jadi sudah tau material produk yang akan dia beli. So kalau dibilang merusak gw ngerasa costumer akan lebih selektif aja sih dalam memilih brand atau produk apa aja yang bakalan dia kenakan. Karena ada banyak sekali faktor mempengaruhi daya beli customer di tahun sekarang.

Tentunya tidak ada yang 100% original di era kontemporer ini, beberapa brand meleburkan berbagai referensi, influence dengan style mereka sendiri sehingga menciptakan karya atau entitas baru. Tetapi ada beberapa brand yang meniru “plek-plekan” dan meng-glorifikasi kultur bootleg. Bagaimana opini atau pendapat pribadi Lo soal ini?
Pendapat gw pribadi tentang hal ini ada baik dan ada buruknya. Versi baiknya adalah akan tercipta sebuah respon atau pengemasan visual yg termodifikasi sesuai dengan trend di zaman ini. Versi buruknya adalah ketika plek-plek an itu terjadi maka bisa saja Normalisasi terhadap plagiasi itu bisa di-halalkan. So selamat datang di era dimana ATM itu adalah hal yang hampir semua orang ataupun brand udah lakukan.

Good design versi Lo adalah yang seperti apa?
Good design menurut gw adalah design yang punya pesan dan kesan inovatif, timeless dan ramah lingkungan aja sih. Nothing less, nothing more.

Top 5 fashion items wajib versi Lo apa aja?
1. Crewneck bisa di pakai di semua season sih.
2. ⁠Long Shirt biar lebih mature aja sih dan di pakai siang pun masih melindungi kulit.
3. ⁠Nike or Clarks shoes karena udah umur kali yah hahaha..
4. ⁠Baggy Pants biar adem hehe..
5. ⁠Knitwear is the new hoodie!

Rekomendasi 5 tempat makan favorit versi Lo untuk membawa first date atau calon mertua? Haha..
1. Kalau first date ke Gang Nikmat okelah..
2. First date ke Konklusi bisa juga sih gyoza nya aduhaii ampunnn.. Enak kali abangkuh..
3. ⁠First date juga enak di Iga Sarwon sih kalau udah malem seblum nganter balik haha..
4. Buat calon mertua makan di Kobe boleh sih itu. Banyak pilihan menu nya.
5. Untuk calon mertua sih tetep makan Sate Maranggi Koh Angga di Surapati sluurrppsss ahhhh.. Jadi laper lagi mas hahahah..

Last but not least:
Makanan Padang atau Sunda?
Padang karena agak pedes dan berkuah jadi masih deket sama makanan Makassar.

Muay Thai atau Brazillian Jiujitsu?
Muay Thai karena bisa dipakai streetfight.

Punk atau Metal?
Punk dong hehe.. Karena suka aja.

Suffer for fashion, fungsi atau kenyamanan dulu?
Kenyamanan dan fungsi karena gw suka produk yang enak dipakai enak dilihat dan harganya masih enak di kantong.

Homage, tribute atau parody?
Tribute karena itu membangkitkan kenangan aja sih.

Supreme, Stussy atau FUCT?
Supreme karena designnya edgy, warnanya liar, dan kadang grafisnya nyeleneh sih.

Braindead, Cavempt atau Online Ceramics?
Braindead karena gw suka figure si Kyle Ng-nya sih selain suka sama brandnya.

Dad’s shoe atau skate-shoe?
Skate shoe karena pasti dibuat untuk tahan di segala kondisi jalanan jadi boleh lah di pakai jadi daily beaters.

Words & interview by Aldy Kusumah

Kami rasa tidak ada seorang pun di luar sana yang sama sekali tidak tahu tentang Revelation Records. Kami bahkan yakin siapa pun yang membaca ini setidaknya memiliki rekaman yang dirilis oleh Revelation dalam koleksinya. Atau apakah Kamu benar-benar ingin mengatakan bahwa Kamu belum pernah mendengar band-band seperti Gorilla Biscuits, Youth of Today, Quicksand, Texas is the Reason, Farside, Elliott, Judge, Sick of it All, Gameface, Chain of Strength, Burn, Rage Against The Machine dan Warzone? Band-band klasik ini hanyalah contoh kecil dari roster yang pernah dirilis oleh Revelation. Revelation Records adalah sebuah label rekaman independen yang berbasis di Huntington Beach, Kalifornia, AS. Label ini didirikan pada tahun 1987 oleh Jordan Cooper dan Ray Cappo. Revelation Records telah memainkan peran penting dalam skena musik hardcore punk dan post-hardcore.

Label tersebut telah merilis musik dari berbagai band berpengaruh dalam berbagai genre punk, emo dan hardcore. Beberapa band terkenal yang dirilis oleh Revelation Records antara lain Gorilla Biscuits, Youth of Today, Quicksand, Judge, Texas Is the Reason, dan Bold. Revelation Records dikenal atas komitmennya terhadap etos D.I.Y. (do-it-yourself) dan dampaknya terhadap subkultur straight edge, yang mempromosikan gaya hidup bebas narkoba dan vegetarian dalam komunitas punk dan hardcore. Tentunya ini adalah pengaruh dari Ray Cappo (Youth of Today, Shelter, Better Than A Thousand), salah satu owner Revelation yang juga seorang straight edge militan dan aktivis. Label ini terus aktif sampai sekarang, bahkan mereka juga sempat merilis Paint It Black, Drain dan Title Fight. Katalog Revelation Records mencakup beragam rilisan dari berbagai subgenre musik punk dan hardcore. Revelation records bukan lah sebuah label rekaman semata, mereka adalah sebuah institusi.

Rilisan-rilisan esensial Revelation Records:

Gorilla Biscuits – Start Today (1989)
Salah satu band paling signifikan dari gerakan Youth Crew, Gorilla Biscuits menjadi band Revelation yang paling populer, berkat energi mereka yang tak terbatas, penulisan lagu yang kuat, dan filosofi populis. Dibentuk pada tahun 1986 dan didorong oleh vokalis Civ (calon vokalis CIV) dan penulis lagu Walter Schreifels (yang akhirnya menjadi vokalis band alt-metal Quicksand & Rival Schools). Debut album band ini dirilis pada tahun 1989 dan diproduseri oleh andalan NYHC, Don Fury. Gorilla Biscuits menghadirkan 14 lagu yang akan memicu adrenalin (termasuk fan favorite “Start Today,” “Stand Still,” dan “Two Sides”). Mereka selalu tampil maksimal di setiap performa live, seakan tidak ada hari esok.

Judge – Bringin’ It Down (1989)
Gitaris Youth of Today John Porcelly dan mantan drummer Youth of Today Mike “Judge” Ferraro membentuk band militan straight edge Judge selama masa Youth Crew. Tidak seperti rekan-rekan mereka, yang membahas manfaat hidup murni tanpa melakukan tindakan ofensif, pada lagu “Bringin It Down” Judge lebih berkesan otoriter dan memandang lemah para pecandu narkoba dan alkohol. Vokal kasar Ferraro dan isian gitar yang tajam, tebal dan kasar seolah meleburkan hardcore dan metal, yang pada saat itu belum banyak dilakukan band lain.

Youth Of Today – Break Down The Walls (1986)
Youth of Today—yang aktif pada tahun 1985-1990—dipuji karena membangkitkan kembali gerakan straight edge/eco-punk di East Coast, dan juga menginspirasi banyak tokoh garis keras untuk bergabung dalam kancah musik; Walter Schreifels (Gorilla Biscuits, Quicksand), Sammy Siegler (Glassjaw), Craig Setari (Sick of It All, Straight Ahead, dan banyak lagi) dan Drew Thomas (Bold) semuanya menyebut mereka sebagai pengaruh awal yang signifikan. Mungkin album terhebat YOT, Break Down the Walls, ironisnya, luput dari perhatian pada tahun 1986 ketika pertama kali dirilis di Wishingwell Records. Namun, ketika Revelation mereissue album ini kembali pada tahun 1988, YOT langusng menjadi band yang diperhitungkan. Terdiri dari lagu-lagu berdurasi satu dua menit yang dengan tempo cepat dan aransmen yang agresif. Memang sound YOT terdengar raw dan cukup primitif, tetapi intensitas itulah yang membuat kami menyukai YOT.

Elliott – False Cathedrals (2000)
Terdiri dari sebagian personil band hardcore asal, Kentucky, Falling Forward, Elliott menyimpang dengan musik yang lebih merdu dan penuh emosi yang menginternalisasikan kegelisahan dan kesengsaraan. Pada tahun 1998, mereka merilis debutnya US Songs, yang dianggap seperti perpaduan Afghan Whigs dan Buffalo Tom. Tetapi banyak penggemar yang menganggap rilisan Elliott tahun 2000, “False Cathedrals”, sebagai karya mereka yang terbaik, dengan menurunkan agresi gitar demi vokal yang lebih keras dan lagu-lagu yang lebih lembut dan bernuansa pop. ALbum ini adalah salah satu album emo terbaik yang pernah dirilis. Coba saja dengarkan “Drive on to Me” dan “Speed of FIlm”, dan kalian akan menjadi penggemar instan mereka.

Better Than A Thousand – Just One (1997)
Saat mantan vokalis Youth of Today Ray Cappo bermain di band Krishnacore Shelter, dia memulai Better Than a Thousand sebagai proyek sampingan dengan gitaris Battery Graham Land dan drummer Ken Olden. Awalnya, grup yang berbasis di Maryland ini berencana merekam beberapa lagu hanya untuk iseng, namun selama tugas studio singkat itu, ketiganya menemukan chemistry kreatif yang kuat yang akan menjadi dasar dari sesuatu yang jauh lebih tahan lama. Pada debut full-length mereka, “Just One”, Better Than a Thousand terdengar intens seperti Youth of Today, tetapi memiliki sisi melodius yang dimiliki Shelter. Sebuah kombinasi yang berbahaya.

Warzone – Don’t Forget The Struggle, Don’t Forget The Streets (2016)
Dibentuk oleh drummer Raymond “Raybeez” Barbieri, yang menjadikan band ini sebagai prioritas utamanya setelah dikeluarkan dari Agnostic Front karena dianggap “tidak stabil”, Warzone adalah andalan NYHC dan lambang culture skinhead New York. Band ini sempat disalahartikan oleh punk Pantai West Coast dan skinhead Eropa sebagai simpatisan neo-Nazi. Lagu-lagu seperti “Crazy But Not Insane” dan “As One,” adalah lagu-lagu yang paling mewakili Warzone mudah diakses oleh telinga. Salah satu rilisan klasik Warzone yang layak dikoleksi.

Rage Against The Machine – People Of The Sun (1997)
People of the Sun” adalah single kedua dari band rock Amerika Rage Against the Machine untuk album mereka tahun 1996, Evil Empire.Tapi sebelum dirilis di album Evil Empire, Revelation merilis versi singlenya dulu. Tema lagu tentang revolusi Zapatista dan ditulis Zack de la Rocha setelah berkunjung ke Chiapas di Meksiko selatan. Cover art single ini adalah foto jagung, arit dan peluru yang diambil dari foto tahun 1927 karya fotografer Italia Tina Modotti di Meksiko.

Honorable Mentions:
Title Fight – Spring Songs (2013)
Drain – California Cursed (2020)
CIV – Set Your Goals (1996)
Quicksand – Manic Compression (1995)
Texas Is The Reason – Do You Know Who You Are? (1996)

Angga adalah salah satu gitaris yang cukup ikonik. Bukan hanya piawai dalam membuat riff keren, tampil prima pada saat perform live, dan merekam part-part gitar ajaibnya dengan sound yang berkarakter, Angga juga mampu bermain dan aktif di beberapa band secara sekaligus. Band-band tersebut juga aktif manggung, touring. Memiliki songlist yang banyak dan memiliki variasi genre yang cukup berbeda diantara satu sama lainnya. Mari berbincang dengan Angga mengenai gitar pertamanya, efek favoritnya dan tips bagaimana dia bisa menghafal part-part gitar sebanyak itu…

“Culture anak-anak band di Jepang rata rata kita harus dateng dari awal dan nonton sampai beres acara.”

Halo Angga! Apa kabar? Sedang sibuk menjalankan rutinitas apa saja nih diluar band? Untuk pembaca yang belum tau, bisa ceritain sedikit ga sekarang lo lagi aktif di band-band apa saja?
Haloo.. Alhamdulillah baik, gimana kabar nya team Jeurnals baik juga yah? Hehe..
Kalo diluar band saya kerja di Maternal Disaster sama jadi family man aja. Kalau band sekarang ada 5 hahaha, lumayan banyak.. Yang aktif sekarang ada: Asiaminor, Billfold, Suissac, Ssslothhh & Collapse.

Bagaimana awalnya Angga jatuh cinta dengan instrumen gitar? Apa gitar pertama Angga dan lagu apa yang membuat lo ingin menjadi gitaris untuk selamanya?
Awal nya karena di cekokin sama kakak sepupu, dari dengerin musik Nirvana, Soundgarden, sama Tool dan rata rata 90’s musik lainnya, dari situ mulai belajar ulik-ulik gitar, karena gitar instrumen yang paling umum juga kali yah, jadi nya belajar nya gitar. Gitar pertama dulu sempet custom bentuk nya Fender Jim Root, karena belum punya uang jadi nya dulu custom gitar nya hahaha. Awal dengerin lagunya Soundgarden yang Blackhole Sun langsung amazed sama riff-riff nya dari situ mulai deh pengen jadi gitaris.

Jika membicarakan Billfold, bisa ceritain ga bagaimana pengalaman tour ke Jepang kemarin? Ada experience unik disana? Bagaimana cerita prosesnya bisa diundang dan berangkat kesana?
Pengalaman nya seru banget, walaupun kita main nya memang di tempat-tempat kecil tapi dari segi alat nya semua nya proper banget. Kalau experiencenya jadi tau juga culture anak-anak band disana yang rata-rata kita harus datang dari awal dan nonton sampai beres acara, setelah beres acara ada kebiasaan minum bareng “Kanpai”. Untuk proses kita berangkat ke Jepang kita lihat ada band MUTE dari Kanada maen di Jepang, dan kita kontak teman-teman di Jepang untuk bisa jadi opening nya band MUTE, karena kita dapat 2 titik untuk jadi openingnya kita nambah dan cari 2 titik lagi. Sekalian liburan juga hehe.

Lo juga memperkuat Ssslothhh yang tadinya adalah formasi trio menjadi kuartet seperti sekarang. Bagaimana awalnya lo gabung sama Ssslothhh?
Awalnya karena memang saya suka sama musik SSSLOTHHH, dan memang saya ngga pernah maenin genre seperti itu, jadi tantangan dan experience baru buat saya. terus kebetulan karena memang semua kenal di ajak lah saya sama Dinar dan teman teman yang lain untuk mengisi part-part yang tadi nya ngga ada di musik Ssslothhh biar kerasa penuh dan tight.

Apa yang membuat lo mengiyakan ajakan Dika saat dia mengajak lo untuk bermain dan menjadi personil Collapse? Apa yang lo sukai dari musik Collapse sebelum dan sesudah lo bergabung?
Ya masa iya menolak ajakan nya Andika Surya, yang menurut saya dia jenius dalam hal apapun, apalagi di musik ya, terus memang saya sudah ngefans banget sama Collapse jadi langsung jawaban nya GOW ketika diajakin jadi personil nya Collapse. yang saya suka dari Collapse musik nya beragam aja, semua ada disitu, dari RnB, pop sama Metal juga ada yang diramu jadi musik nya Collapse.

Band baru lo, Suissac terdengar heavy, sedikit eksperimental dan catchy di saat yang sama. Bisa ceritakan sedikit proses pembuatan lagu sampai recording dari EP Magnanimous? Bagaimana awalnya lo dan Ekky mendapat ide untuk membuat sebuah band baru?
Proses nya lumayan cepat dalam pembuatan EP magnanimous, yang biasa nya saya punya Riff gitar langsung di kasih ke mas Ekky dan langsung digambar sama anak-anak yang lain, dan Alhamdulillah nya di bantu sama Aldead dari HEALS dan FUZZY I, yang dimana saya ngefans juga sama Aldead nya. Dan dia mau jadi produser di album EP Magnanimous ini, yang ngebuat musik nya jadi makin-makin hehe.. Kalau awalnya memang dari obrolan biasa pas ketemu nongkrong sama mas Ekky, yang sama-sama pengen buat band rock.

EP terbaru dari Asiaminor yang berjudul “Constellation” dirilis tahun 2023 kemarin. Part-part gitar lo di EP itu terdengar heavy dan teknikal di saat yang sama. Sound seperti apa yang lo cari untuk Asiaminor? Bagaimana lo mendapatkan sound heavy tersebut?
Pengennya Sound yang modern-modern heavy gitu sih, dapetin sound nya lumayan agak pusing juga, karena nyoba beberapa ampli sampe dapet yang kita mau. Dan akhir nya sesuai dengan apa yang kita mau untuk karakter sound nya.

Lo tergabung di beberapa band dengan genre nya cukup variatif. Apakah lo mengalami kesulitan untuk menghafal setlist dan songlist dari setiap band yang lo jalankan? Bagaimana cara lo untuk bisa transisi antar genre dan playstyle yang berbeda?
Kalau kesulitan alhamdulillah nya ngga ada sih, mungkin karena sering di mainin, kalau lupa-lupa ada hahaha.. Paling untuk transisi nya harus rubah settingan efek-efek gitar aja karena setiap band beda-beda settingan nya.

Membicarakan gear, bagaimana rig rundown lo saat ini? Apa efek dan gitar favorit lo saat ini? Apakah lo mempunyai notes setting efek untuk setiap band lo?
Kalau gitar beda-beda setiap band nya, karena tuning nya rata-rata berbeda. Kalau untuk efek, saya pake yang ada yang biasa saya pake, memaksimal kan yang ada untuk efek nya hehe. ada Tuner, Ibanez Ts9 DX, Bloody Pedal dari Maternal disaster, ada reverb Skylar, sama Delay nya Dl4 Line 6. Kalo Notes pasti ada karena tadi setiap band beda-beda settingan nya hehe..

5 album favorit Angga yang sangat mempengaruhi permainan gitar lo apa aja?
– Soungarden – Superunknown
– Tool – Lateralus
– Silverchair – Diorama
– Poison the Well – Tear From the Red
– Queens of the Stone Age – Songs for the Deaf

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo by @darkofmoist & @jehan_alimathin

Luby Sparks adalah sebuah unit alternative-rock / dream pop yang didirikan di Tokyo pada tahun 2016. Setelah Erika Murphy bergabung dengan band ini pada tahun 2019, Luby Sparks semakin memperkuat estetika ‘90s nya dengan musiknya yang banyak mengambil influence dari ‘90s alt-rock acts dan juga tentunya tampilan visual dan karakter vokal Erika yang khas. Kami berkesempatan untuk mengobrol sedikit dengan Erika di showcase Luby Sparks yang diselenggarakan oleh Lisdia Records di Bandung. Let’s talk to Erika about MBV, NIN and The Crow…

Based on your profile pic, what do you like most about Brandon Lee’s The Crow film?
I love the world and the soundtrack so much.

You told me that you went to see My Bloody Valentine and Nine Inch Nails at Sonic Mania Chiba. What was your experience in that concert?
I went that day with the band member Natsuki (Kato, Luby Sparks bass player), Indonesian photographer Adi and Max from YUCK. Sonic Mania has live shows at night, so I was happy to see them at late night. I was shocked by both, but NIN’s live show was the highlight.

So Luby Sparks is a very interesting name. Do all of you really liked the movie Ruby Sparks?
I think I’m the only person who saw that film. I felt lots of male ego but I loved the story and Ruby’s personality.

Luby Sparks have a distinct 90s sound. What are your fav 5 bands from the 90s that really influenced you?
Mazzy star
Bikini kill
Alanis Morissette
Veruca Salt
Hole

What is the best things about the ‘90s era?
The fashion! And also lot of great female artists..

How about your experience playing a show at Acid Reflux Bandung? What Indonesian bands do you like?
It was awesome!!!!! I didn’t expect a lot of people to come! Already miss my Indonesian fans! Near-crush! I loved the alternative / shoegaze vibes.

What foods have you tried in Indonesia? Are there any favorites?
Nasi goreng! I tried a lot but I forgot the name sorry..

3 best places to shop thrift in Tokyo?
Laboratory R
MUD
Berberjin

Your top 3 favorite places to eat in Tokyo?
Awashima
Bowery kitchen
Rivera steak

Where do you get inspirations for your fashion style? What style do you try to emulate with your fashion sense?
Instagram? My icon is Alice Glass! I emulate like 90’s grunge style.. And Y2K sometime and also goth style.

 

Words & interview by Aldy Kusumah

Rambutnya berminyak dan kulitnya penuh dengan tato klasik. Saat melakukan backside boardslide atau drop-in impossible tailgrab, Dylan lebih memilih untuk memakai kaos putih polos, atau kemeja hitam. Saat difoto sebagai model fashion dia sering mengenakan jaket kulit dan membawa gitar Takamine akustik. Ya Dylan Rieder lebih terlihat seperti bintang film dan rockstar ketimbang skateboarder yang umumnya memakai streetwear dan graphic T-shirt ketimbang pakaian polos. Rambut pria ini juga selalu terlihat fresh karena ayahnya adalah seorang barber terkenal dan Dylan tidak pernah dicukur oleh orang lain selain ayahnya. Dylan Rieder secara fisik terlihat seperti gabungan antara Johnny Depp muda dan Kit Harrington dari Game of Thrones. Tentu saja, semua ini tidak akan mungkin terjadi jika Dylan Rieder tidak sangat berbakat, dan itu adalah hal yang paling dia pedulikan. Penampilan-nya di video Supreme tahun 2014, “Cherry”, adalah salah satu skate-parts terbaik berdurasi empat menit yang pernah kamu lihat, apalagi part dia dihiasi oleh lagu “Never Tear Us Apart” dari INXS.

Tentu saja dia juga sangat tampan, dan itu membuat peralihan dari skater ke model fashion menjadi sangat mudah bagi Dylan. Namun sebelum Dylan banyak tampil di iklan dan fashion spread majalah fashion besar, Rieder dipuja karena gaya pribadinya, yang terlihat secara sempurna melengkapi style skating-nya yang effortless dan keren. Meskipun banyak yang masih menganggap fashion skate sebagai jeans longgar, T-shirt oversized, dan rantai dompet, Rieder lebih sering terlihat dengan kaus yang dimasukkan ke dalam celana denim hitam slim-fit. Dia adalah seseorang yang menolak untuk mematuhi definisi yang tepat tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang skater. Saat dia mendesain sepatu untuk Huf, hasilnya adalah sesuatu yang terlihat seperti sepatu kawinan ketimbang skate shoe atau sneakers. Tentunya, selain karir skateboardnya, Dylan Rieder juga mempunyai prestasi di dunia fashion dan modeling. Dylan banyak berkolaborasi dengan brand fashion ternama.

Pria yang lahir pada tanggal 26 Mei 1988, di Westminster, California ini mendapat pengakuan atas skill skating-nya yang luar biasa, ollie-nya yang tinggi dan style uniknya baik di dalam maupun di luar dunia skateboard. Karier skateboarding Dylan Rieder dimulai saat Dylan masih muda, dan dengan cepat dia dikenal karena gayanya yang smooth dan inovatif. Dia menjadi rider untuk berbagai brand skateboard, seperti Supreme, Alien Workshop, Osiris Shoes, Birdhouse, Fucking Awesome dan Quiksilver. Permainan skatingnya berada tepat diantara kombinasi trick technical, speed yang cepat dan estetika khas yang membedakannya dari banyak skateboarder lainnya. Tragisnya, Dylan Rieder meninggal dunia pada 12 Oktober 2016 di usia 28 tahun akibat komplikasi leukemia. Kematiannya yang terlalu dini merupakan kerugian besar bagi komunitas dan dunia skateboard. Dylan Rieder dikenang atas kontribusinya pada skateboarding dan fashion. Pengaruh Rieder melampaui kehebatan teknisnya dalam bermain skateboard; gaya dan pengaruhnya meninggalkan warisan abadi. Bahkan dia disebut sebagai skateboarder paling stylish oleh beberapa media. Siapa yang akan melupakan skate-part Dylan di Alien Workshop “Mindfield” dengan soundtrack Elliott Smith? Rest in power, Dylan.

Ini adalah beberapa video Terbaik Dylan Rieder favorit kami:

Supreme – Cherry

Alien Workshop – Mind Field

Gravis – Dylan

;

Dylan Rieder: True Blue

Street League best of 2013: Dylan Rieder