Cakra, yang mengadopsi moniker Sarcofagore dalam setiap karya-karya ilustrasinya adalah seorang ilustrator asal Bandung. Karya-karya ilustrasi Sarcofagore dapat kamu lihat menghiasi design beberapa brand dan band yang sudah berkolaborasi dengannya. Cakra juga ter-influence dan mengagumi ilustrator-ilustrator seperti Kim Jung Gi (RIP),
Paolo Girardi & Vberkvlt (Justin Bartlett, RIP). Selain mengerjakan ilustrasi, Cakra juga menjadi gitaris dari Haul. Mari berbincang dengan Sarcofagore mengenai Linkin Park,dan memakai Fender Stratocaster untuk memainkan musik metal.

“Haul itu anak haramnya Autopsy dan Hawkwind yang lahir di era 70an.”

Halo Cakra. Sudah berapa lama menggunakan moniker Sarcofagore? Ide awal lo menggunakan moniker itu dari mana? Bisa ceritakan sedikit tentang ketertarikan lo sama dunia ilustrasi?
Sekitar 2016-2017 , pengen punya arsip / dokumentasi digital buat gambar gambar gue, Ide awal karena saat itu gue lagi terobsesi sama band extreme metal asal Brazil, Sarcofago. Gue selalu senang menggambar sejak anak anak, ketertarikan sama dunia Ilustrasi, tampaknya mulai saat remaja gue pernah menggambar ulang cover art Sepultura: Chaos AD dan Linkin Park: Reanimation sampai beres.

Lo juga menjual merch dengan handle “Sulphur Entity”. Produk-produk apa saja yang sudah lo rilis dan sedang lo develop?
So Far ada Pin Enamel, Tshirt, dan Poster Sablon! gue berencana collab sama salah satu kawan illustrator dalam waktu dekat, belakangan ini gue lagi ngulik sculpture juga sih, we’ll see karena Sulphur Entity ini nggak punya perencanaan yang matang haha!

Berbicara mengenai Haul, bagaimana awalnya lo bergabung dengan Haul? Perubahan signifikan Haul apa saja semenjak lo bergabung?
Awalnya Kenny ngajak gue buat gabung sekitar tahun 2018-an, Tadinya gue prefer bikin band baru saja karena gue gak pengen terlalu “kompromi” sama banyak “ide” kalau bergabung dalam satu band, haha! Tapi setelah itu, kami sepakat. Haul berangkat sebagai band Hardcore Punk yang Hybrid, jadi gue gak ngerasa terbatas buat numpahin ide. Paling Obvious tampaknya Riffs gitar (karena Haul emang band yang gitar based dan mengalami pergantian gitaris).

“Saat remaja gue pernah menggambar ulang cover art Sepultura: Chaos AD dan Linkin Park: Reanimation sampai beres.”

5 album yang paling berpengaruh buat lo apa saja dan kenapa?
Pertanyaan sulit.
Motorhead – Rock ‘N’ Roll (1987) –
Deep Purple – Burn (1974)
Autopsy – Mental Funeral
Slayer – Reign In Blood
Discharge – Why

Berpengaruhnya menurut gue, 5 album ini bisa jadi yang ngebentuk Mindset, Mental, Personality, dan Selera Artistik (secara Visual dan Musik tentunya).

 

5 ilustrator favorit lo siapa saja dan kenapa?
Kim Jung Gi (RIP) karena Imajinasi dan Skill beliau sangat sinkron dia bisa jadi sangat imajinatif tanpa mengabaikan pentingnya skill teknis.

Paolo Girardi Cover karyanya selalu tepat sasaran dan sinkron sama musikalitas band band yang digarapnya, selain itu gue suka dengan mentalitas warriornya, Heavy Metal! haha!

Ian Miller punya karakter yang sangat kuat, garis, dan detail yang impresif, gue bisa diem ngeliatin karyanya dia berlama lama

Vberkvlt ( Justin Bartlett, RIP) gue suka banget sama ide dan eksekusinya yang nggak pernah main aman, selain itu dia sangat supportive ke illustrator yang lebih muda.

ROK : Selain karya karyanya yang Luar biasa, gue appreciate karena dia seorang maniak yang kelihatannya nggak pernah Kompromi sama keadaan! Skena Metal saat ini butuh lebih banyak sosok kayak dia menurut gue

Bagaimana proses pembuatan EP Adamar dari pembuatan lagu sampai mixing? Apakah menyenangkan prosesnya?
Sebelum merekam, kami melakukan beberapa kali studio jamming dan workshop di beberapa studio dan tempat.

Ketika terjadi pandemi, Kenny berinisiatif untuk mengajak Alyuadi sebagai produser. Rencana awalnya adalah merilis full album. Namun akhirnya kami putuskan untuk menulis tiga lagu baru dan merilisnya sebagai EP Adamar. Prosesnya sangat impulsif, Basically setiap minggu kami merekam riffs dan merekam Guide bersama di Cidamar (Home Recording milik Alyuadi), sebelum merekam merekam tiga lagu tersebut di Funhouse Studio. Pastinya ada rintangan teknis karena alat kami tidak proper untuk rekaman (kecuali drum milik dawan) . Sewaktu terjadi pandemi, buat sekedar nongkrong aja terasa aneh kan, Buat gue pribadi, gue jadi bisa lebih menghormati waktu sehingga proses menulis dan merekam EP ini menjadi escapism yang sangat menyenangkan. Panjang gini haha!

Gear yang lo pake buat live dan recording apa saja? Dan kenapa memilih gitar/efek/ampli tersebut?
buat live pakai Fender Aerodyne II HSS stratocaster, pedal: Bogner Uberschall, Maxon OD-9, Digital Delay, Noise Supressor dan Tuner pakai Boss. Selain visual dan karakter sound, gue suka playabilitynya Fender yang versatile.

Waktu rekaman gue pakai Fender Jazzmater dan ampli JCM 800 kerry king. Beberapa part ada yang pakai Gibson Les Paul Deluxe 70’s buat eksplorasi.

Basically gue seneng sound gitar yang crunchy, ciri khas band band heavy rock / proto heavy metal 70-80an kayak Black Sabbath, Early Iron Maiden, tapi tetep Metal tanpa harus terlalu Tajem dan Tight kayak band band modern metal.

Imajinasinya , Haul itu anak haramnya Autopsy dan Hawkwind yang lahir di era 70an

Pertanyaan terakhir: beberapa portfolio ilustrasi favorit lo pas mengerjakan brand/band apa saja? Ada wishlist ingin kolaborasi dengan siapa aja yang belum terealisasikan?
Pertanyaan sulit,

Beberapa karya fav gue based on prosesnya karena pengalaman mengerjakan yang beda. Kolaborasi bersama illustrator lokal Mfaxii untuk Masakre, Kolaborasi bareng Justin Bartlett untuk proyek tribute to Vberkvlt, cover album untuk EVIL (Black/Thrash asal Jepang ) karena ini ngerjainnya sangat cepat haha!, dan beberapa kolaborasi bersama Carbon Pvnk studio.

wishlist yang belum terealisasikan justru lebih banyak buat ngelanjutin karya karya yang sifatnya personal, kalau kolaborasi mungkin ngerjain cover album atau merchandise untuk band yang sangat besar dan populer misalnya Metallica! Walau gue nggak terlalu ngejar dan mikirin juga sih haha!

Words & interview by Aldy Kusumah

Unit Modern Hardcore asal Bandung, DEVDAN, merilis single terbaru mereka yang berjudul “Tales Of Sin” pada tanggal 14 April 2024. Single ini telah tersedia untuk didengarkan melalui berbagai platform streaming digital. Dalam karya terbarunya ini, DEVĐAN berkolaborasi dengan Mustika Kamal, seorang vokalis perempuan yang juga dikenal sebagai vocalis di band-band seperti Billfold dan CVNDY.

“Perilisan single terbaru ini adalah salah satu langkah bagi DEVDAN untuk tetap produktif serta menjadikan mereka bagian dari berbagai kegiatan yang direncanakan pada tahun 2024, termasuk tur, perilisan video musik, dan album baru,” ujar Yuwan, bassist dari DEVDAN.

Dengan durasi 3 menit 12 detik, lagu ini masih mempertahankan nuansa Modern Hardcore khas DEVDAN dengan liriknya yang menggambarkan konflik internal setiap individu antara rasa bersalah dan hasrat yang sulit dipendam, menyoroti sisi gelap yang selalu mengintai di balik kehidupan manusia.

Karya monumental Sofia Coppola yang di shoot dalam waktu singkat
Siapa sangka sebuah film “indie” yang di shoot dalam waktu 27 hari secara gerilya (tanpa izin) di Tokyo dengan kru yang dan peralatan yang minimal dan seadanya bisa menjadi sebuah film yang mencapai status cult bahkan memenangkan berbagai penghargaan? Lupakanlah “The Virgin Suicides”, “Marie Antoinette” The Bling Ring” atau “On the Rocks”, karena “Lost in Translation” adalah puncak karir Sofia Coppola (menurut saya). “Lost in Translation” adalah film tahun 2003 yang disutradarai oleh Sofia Coppola (Anak dari sutradara legendaris Francis Ford Coppola, pembuat film Godfather). Film ini dibintangi oleh Bill Murray (Ghostbusters), Scarlett Johansson (The Avengers), Giovanni Ribisi dan Anna Faris dan berkisah tentang kisah persahabatan platonik tak terduga yang berkembang antara aktor Amerika paruh baya, Bob Harris (diperankan dengan pas oleh Bill Murray), dan seorang wanita muda, Charlotte (diperankan oleh Johansson), di Tokyo. Film ini mengeksplorasi tema kesepian, alienasi, koneksi, dan dislokasi budaya saat kedua karakter tersebut menavigasi lanskap Tokyo yang asing dan terkadang membuat mereka terisolasi secara kultural dan bahasa. Ceritanya diceritakan dengan nada yang tenang dan introspektif, memungkinkan para karakter untuk mengekspresikan rasa keterasingan meski dikelilingi oleh kota yang ramai dan semarak. “Lost in Translation” menerima pujian kritis atas penyampaian cerita yang low-key, sinematografi atmosferik, soundtrack keren dan penampilan para aktor utamanya. Bill Murray secara khusus dipuji atas perannya, memberinya beberapa nominasi penghargaan dan Penghargaan Golden Globe untuk Aktor Terbaik. Uniknya, beberapa scene disini di shoot dengan gaya improvisasi dan minim skrip dialog. Dan ini memberi ruang bagi Bill Murray dan Scarlett Johansson untuk bersinar.

Memenangkan piala Oscar
Sofia Coppola sendiri memenangkan Academy Award untuk Skenario Asli Terbaik untuk film tersebut, menjadikannya wanita ketiga yang pernah memenangkan penghargaan ini. Filmnya sendiri juga masuk nominasi beberapa Academy Awards lainnya, antara lain Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Coppola, dan Aktor Terbaik untuk Bill Murray. Meskipun tidak menang dalam kategori-kategori ini, “Lost in Translation” tetap menjadi film yang diakui secara luas dan berpengaruh di sinema kontemporer. “Lost in Translation” telah dipuji secara luas oleh para kritikus dan penonton karena perpaduan unik antara humor, melankolis, dan introspeksi. Uniknya, film ini lebih menekankan pada mood yang dibangun oleh sinematografi-nya ketimbang menitikberatkan bobot film di ceritanya. Menonton film ini seperti sedang mengkonsumsi sebuah album MBV tanpa jeda, dan memang ada sebuah lagu MBV dan beberapa lagu yang disumbangkan oleh Kevin Shields disini.

Direksi unik Sofia Coppola dan improvisasi Bill Murray
Direksi dan skenario Sofia Coppola sering dipuji karena tema-temanya yang unik. Film ini tidak mengandalkan dialog yang berat atau skenario yang eksplisit. Sebaliknya, ia menangkap esensi emosi karakter dan suasana sekitarnya melalui momen-momen yang bernuansa dan adegan-adegan yang meditatif. Film ini juga tergolong slow-burn dengan alurnya yang lambat dan moody. Karena itu juga chemistry antara kedua aktor utamnya sangat penting di film ini. Bill Murray dan Scarlett Johansson memberikan penampilan yang luar biasa. Murray, khususnya, terkenal karena perannya sebagai Bob Harris, yang menghadirkan perpaduan sempurna antara humor dan kerentanan pada karakter tersebut. Johansson, dalam salah satu peran awalnya yang terkenal, melengkapi penampilan Murray dengan penggambaran Charlotte yang bersahaja dan menarik. Sinematografi dari DOP Lance Acord sering dipuji karena menangkap keindahan Tokyo dan menciptakan suasana yang dreamlike dengan warna-warna neon, kekosongan hotel Prak Hyatt Tokyo, kuil-kuil Kyoto yang dingin dan menangkap rasa sepi dan ramai disaat yang sama. Visualnya membantu menyampaikan perasaan dislokasi karakter dan perbedaan budaya antara negara asal mereka dengan Tokyo. Film ini juga memberikan eksplorasi unik tentang perbedaan budaya dan keterasingan yang mungkin timbul karena berada di tempat asing. Ini kontras dengan lingkungan Tokyo yang serba cepat, modern, dan terkadang membuat pribadi para karakter di film ini dekat dengan perasaan terisolasi.


Musik yang membangun mood dan narasi
Soundtrack film, yang menampilkan musik oleh Kevin Shields dan berbagai artis seperti Death in Vegas, Phoenix, Squarepusher, Sébastien Tellier, dan Happy End. The Jesus and Mary Chain menyumbangkan lagu yang pas untuk ending film bittersweet ini dengan “Just Like Honey” dan “Sometimes” dari My Bloody Valentine tampil sangat ikonik dengan latar visual Scarlett Johansson yang sedang mabuk melihat gedung-gedung neon dari jendela taxi. Soundtrack Lost in Translation ini terkenal karena kualitas atmosfer dan pemilihan lagu yang sangat sesuai dengan mood film. Musik-musik ini melengkapi narasi dan berkontribusi terhadap dampak emosional film. Jangan lupakan juga scene dimana Bil Murray karaoke menyanyikan lagu Elvis Costello yang ikonik: “(What’s So Funny ‘Bout) Peace, Love, and Understanding” dan tentunya “More Than This” milik Roxy Music yang menampilkan sebuah scene yang cukup sentimental. Scarlett Johansson juga menyanyikan lagu Pretenders yang terkenal: “Brass in Pocket”. Scene karaoke tersebut diakhiri oleh sebuah adegan awkward dengan lagu Happy End di latar. Sofia pun meningkatkan intensitas dengan memasangkan lagu “Too Young” milik Phoenix dengan sebuah scene dimana Bob Harris dan Charlotte berdansa di sebuah house party yang dipenuhi para penggiat fashion Tokyo. Oh iya, jika kamu memperhatikan dengan seksama, ada sebuah lagu Peaches (yang tidak masuk soundtrack) yang dimainkan di sebuah scene sebuah sex club yang dihadiri Bob Harris.

Lost in Translation: Sebuah karya monumental
Overall, tema Isolasi dan koneksi adalah menu utama yang ingin disampaikan Sofia di “Lost in Translation”. Sofia menyelidiki tema universal tentang kesepian dan pencarian koneksi, yang menurut kabar idenya diambil dari hubungan Sofia dengan mantan kekasihnya Spike Jonze (sutradara video musik terkenal) pada saat mereka sedang di Tokyo. Perjalanan emosional para karakter dan ikatan yang terbentuk di antara mereka bergema di hati penonton, dan karena relate dengan banyak penonton di seluruh dunia, film ini pun mendapat status yang cukup cult. Meskipun “Lost in Translation” mendapat banyak pujian, beberapa kritikus mencatat bahwa narasinya yang lambat dan halus mungkin tidak disukai oleh mereka yang lebih menyukai penceritaan yang lebih tradisional dan bertempo cepat. Namun, dampaknya terhadap dunia sinema dan kemampuannya membangkitkan emosi yang tulus telah memperkuat posisinya sebagai film klasik modern. Walaupun banyak film independen bergenre tragicomedy di era 2000an memiliki style yang hampir sama, menurut saya pribadi, film ini cukup unik dan untuk mendapatkan experience menonton yang spesifik seperti ini, hanya di film “Lost in Translation” saja saya dapat memuaskan dahaga yang spesifik ini.

Words by Aldy Kusumah

 

Miracle Mates adalah sebuah brand yang menginkorporasikan kultur hip hop dan street fashion dengan semangat gerilya next-gen. Fadli Maulana mendirikan brand ini dengan darah, keringat dan (mungkin) air mata. Dia merintis Miracle Mates sejak duduk di bangku SMA dengan modal seadanya, dan mengerjakan semuanya sendiri: dari packing, foto produk sampai COD dengan pembeli. Simak interview JEURNALS dengan Fadli Maulana dibawah ini..

“Membangun Miracle dari titik terendah banget, dari modal 500 ribu, terus uangnya diputar terus sampai saat ini. Dulu semua dikerjain sendiri kecuali design.”

Halo Fadli, Bisa ceritain sedikit ga ke pembaca awal histori Miracle Mates dari awal sampai sekarang?

Awalnya dibuat pada tahun 2014, waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Kenapa bikin Miracle karena memang suka fashion dan suka belanja brand-brand lokal, kepikiran aja kenapa ga bikin sendiri daripada beli brand orang lain terus. Dan salah satu yang menjadi trigger saya untuk buat brand itu Maternal Disaster, waktu itu mereka lagi naik-naiknya dan keren aja pas aku lihat mereka tuh. Dari 2014 alhamdulillah Miracle bisa bertahan sampai sekarang..

Pada awalnya Lo juga sempat mengerjakan semua aspeknya sendiri ya? Dari design, foto, admin sampai delivery?

Segala macem aku emang sendiri pas awal, dari packing, foto sendiri, upload foto ke IG, dulu tuh jualan masih di IG belum ada Shopee. Aku COD-an pake motor kesana-kemari sendirian, jadi aku yang samperin customer. Ngebangun Miracle dari titik terendah banget, dari modal 500 ribu, terus uangnya diputar terus sampai saat ini. Dulu semua ngerjain sendiri kecuali design, ada temen yang bikin..

Di koleksi “Mess in Balance” Miracle brekolaborasi dengan Hecate. Kenapa memilih Hecate sebagai kolaborator? Dan bagaimana ceritanya membuat runway fashion secara independen tanpa sponsor?

Kenapa memilih Hecate karena itu yang market inginkan, banyak yang request Miracle collab sama Hecate. Karena aku kenal sama ownernya akhirnya kita ngobrol dan berkolaborasi. Awalanya kita bikin runway itu adalah ide gila 2 anak muda. Pada saat itu saya juga masih 22 tatau 23 ahun, kita dulu ga mikir budget nya berapa dan untung-ruginya, yang penting ambisi kita terpenuhi pada saat itu tuh untuk bikin runway. Persiapan sekitar 2 bulan terus jadi tanpa planning yang matang, serba ngedadak nyari tempat, model dan bikin koreo juga sendiri sampe musiknya. Benar-benar melelahkan dan budgetnya lumayan ternyata, tapi allhamdullilahnya produk laku keras dan banyak yang suka sama runwaynya. Modal balik dan cuan juga hahaha..

Inspirasi fashion terbesar Lo dari mana saja?

Stussy dan Corteiz. Kalau Stussy suka udah lama karena dia kan streetwear tertua, dan movement nya bagus, support komunitas-komunitas dan sampe sekarang masih ada, kan itu ga gampang. Kalau Corteiz tuh aku sukanya karena dia konsepnya jalanan banget, geng-geng gitu, design nya simple-simple tapi oke. Aku juga lagi mulai mengarahkan Miracle kesana secara konsep, branding, dan suka juga personal branding ownernya.

Top 5 fashion items wajib versi lo apa aja?

Kalau yang wajib punya: topi itu barang wajib kalau rambut lagi jelek. Sepatu yang menurut aku wajib punya tuh Converse, walaupun banyak yang mahal dan keren-keren tapi Converse itu wajib untuk penampilan santai. Harga terjangkau tapi masih keren. Jam, aku suka banget pakai jam jadi kemana-mana waji pakai jam. Hoodie juga wajib banget, dalam seminggu pasti 3-4 kali pakai hoodie. Yang terakhir apa ya.. Kacamata karena mata aku minus jadi kacamata sangat penting buat aku. Aku suka Effector Eye Wear.

Bagaimana pendapat Lo mengenai trend harga coret? Apakah value sebuah brand akan menurun jika melakukan nya? Dan apakah trend ini secara jangka panjang akan merusak ekosistem industri fashion lokal?

Sebenarnya saya sangat kecewa dengan trend harga coret di Indonesia ini, karena brand berlomba-lomba menjual barang dengan harga murah. Aku tuh pengen brand kaya dulu, tanpa harga coret kita bisa jualan. Karena banyak brand-brand lain menggunakan harga coret mau ga mau untuk mempertahankan Miracle aku juga harus pake cara itu, walaupun gak semua produk harga coret, cuma ada beberapa produk yang kita tumbalin jadi harga coret agar bisa bersaing dengan brand lain. Sebenarnya dalam hati aku gamau ada trend ini, aku pengen brand kaya dulu lagi, branding nya lebih ke bikin acara, aktivasi lebih sering, daripada bakar iklan dan jual produk murah. Aku sebenernya ga setuju sama itu sih. Sepertinya trend ini bakal jangka panjang soalnya udah banyak pemain besar yang ikutan. Paling buruknya orang-orang cuma beli produk kita karena diskon, pas ga ada diskon ga dibeli.

Tentunya tidak ada yang 100% original di era kontemporer ini, beberapa brand meleburkan berbagai referensi, influence dengan style mereka sendiri sehingga menciptakan karya atau entitas baru. Tetapi ada beberapa brand yang sedang ramai karena meniru “plek-plekan” dan meng-glorifikasi kultur bootleg. Bagaimana opini atau pendapat pribadi Lo soal ini?

Menurut aku meniru atau menjadikan sesuatu dari inspirasi adalah hal yang wajar. Tapi yang salah tuh yang sama sekali ga dimodifikasi. Jangan ditiru plek-plekan sih. Karena memang udah ga ada yang original di dunia ini. Jaman sekarang udah ga mungkin ada yang otentik dan original, pasti semua terinspirasi oleh sesuatu, kecuali mungkin Nike dan Adidas pas jaman dulu. Bagaimana kita pinter-pinter memodifikasinya aja..

Music of Miracle sempat membuat event “Sounds for Palestine” bulan Desember tahun 2023, dengan hasil tiket yang di donasikan ke Palestina. Bagaimana konflik Palestina ini menurut opini pribadi Lo? Apa yang bisa dilakukan para individu / brand / musisi lakukan untuk membantu sesuai porsinya? Dan kenapa memilih line-up pengisi acara yang lumayan eclectic?

Aku sangat kasihan melihat orang-orang di Palestina sama-sama manusia tapi tidak mendapatkan kelayakan hidup seperti kita yang tinggal di Indonesia. Mau makan, minum dan sekolah aja susah. Mereka juga kayak hidup bahagia. Salah satu triggernya ya itu jadi bikin acara donasi itu. Kalau ingin membantu lakukan aja dengan apa yang kita bisa. Karena aku punya brand ya cara donasi nya seperti itu membuat event donasi. Yang kerja di rumah juga bisa donasi seikhlasnya kemanapun. Kita membantu tapi jangan memaksakan dan harus ikhlas juga. Kalau soal lineup eklektik karena menurut aku semua genre musik itu gak ada yang bagus dan jelek, aku menyamaratakan semua genre musik mau punk, hardcore, jazz atau hiphop ya aku suka dan semua juga bisa berdonasi. Bukan berarti genre pop gak keren atau apa. Semua orang-orang hebat yang mau berkarya, dan Miracle itu sangat support musisi-musisi baru yang baru merintis dan berkarya.

Di koleksi terbarunya “Against the World” Miracle Mates berkolaborasi bersama 10 kolaborator untuk merayakan 10 tahun Miracle berdiri. Salah satunya bersama SNS-B dan mencoba mengangkat kultur hiphop. Apa korelasai “Against the World” dengan kultur hiphop? Dan bagaimana lo mengaplikasikan itu pada design-design artikelnya?

Kaitan Against the World dengan kultur hiphop itu karena kultur hiphop kental dengan perlawanan, kata-kata dan design juga kita bikin bold biar simple dan nyampe pesan nya. Konsep foto pun dibuat serius, dari model dan pemilihan musik kita pake anak hiphop dan musik hiphop. Aku juga gak akan berhenti untuk membuat acara dengan tema hiphop di kota Bandung karena ingin mengangkat scene hiphop juga. Aku ingin me-represent hip hop.

Pertanyaan terakhir: video sketch Lo mengendarai skateboard berbentuk sajadah itu cukup epik. Dari mana awal idenya membuat skateboard berbentuk sajadah? Ada cerita lucu dibalik shooting dan konsepnya mungkin?

Video yang sempet viral itu video Alladin ya haha.. Aku lihat ada Youtuber luar bikin video kaya gitu pas era covid. Aku kebetulan punya longboard electric, kepikiran pengen bikin rangka sajadah ditempel longboard aku dan bikin di Cimahi. Iseng posting di IG taunya banyak di repost akun-akun besar di sosmed, dan sampe diundang ke acara TV, jadi mungkin orang-orang pada penasaran gimana caranya dan mungkin itu sesuatu yang unik aja hehe.. Padahal aku awalnya iseng aja pas era covid..

Words & interview by Aldy Kusumah

Shoegaze adalah subgenre alternatif-rock yang muncul pada akhir 1980an dan awal 1990an, ditandai dengan penggunaan reverb yang berat, efek delay, dan layer-layer suara distorsi/fuzz untuk menciptakan sound yang indah dan imersif. Istilah “shoegaze” diyakini berasal dari kecenderungan pemain untuk menatap sepatu mereka saat bermain, sebagian karena fokus pada pedal efek yang cukup complicated. Dengan adanya band-band nu-gaze, grunge gaze dan new wave of American shoegaze, revival genre shoegaze ini sendiri diramaikan oleh band-band seperti Nothing, Westkust, Ovlov, Gleemer, Teenage Wrist & Narrow Head. Bahkan band-band hardcore seperti Turnstile dan Title Fight pun mulai terpengaruh sound shoegaze ini. Anyway, berikut adalah 20 rilisan shoegaze (klasik & modern) yang menurut kami sangat esensial. Here goes..

20. Nothing – Tired of Tomorrow (2016)
Band Philadelphia ini terdiri dari veteran hardcore punk dengan vokalis mantan narapidana yang (sedikit) bermasalah. Di album kedua grup tersebut, “Tired of Tomorrow”, wordplay atau lirik vokalis Domenic Palermo sangat visual dan gamblang; pada “A.C.D. (Abcessive Compulsive Disorder),” permohonannya terhadap cintanya yang hilang digambarkan pada penggalan lirik: ““Swallow corrosive confection / Decay, rotting in your womb / I can wallow in your filth.” Dibalik gelapnya lirik-lirik Palermo, “Tired of Tomorrow” tetap terdengar indah, dilengkapi crescendo gitar yang anthemic dan suara serak Palermo yang tentunya mengacu pada Kurt Cobain. Album ini catchy dan bermain dengan dinamika pelan/keras yang pas. Album dari Nothing ini cukup menjadi gerbang pembuka untuk para pendengar generasi modern yang ingin memulai menggali lebih dalam mengenai shoegaze.

19. Pale Saints – In Ribbons (1992)
Pale Saints telah merilis debut mereka, “The Comforts of Madness”, ketika mantan eks-vokalis Lush, Meriel Barham, bergabung dengan lineup band ini di akhir tahun 1990. Pada saat mereka merekam LP terakhir mereka, Slow Buildings di tahun 1994, vokalis dan bassis pendiri Ian Masters telah pergi. Uniknya, masa-masa pergantian personil ini merupakan masa keemasan bagi band ini, yang berpuncak dengan “In Ribbons”, sebuah album shoegaze yang bagus dengan sensibilitas pop yang tinggi. Alih-alih melupakan shoegaze, musik mereka mungkin mendapatkan deskripsi genre yang berbeda jika mereka tidak terbentuk di Leeds pada akhir tahun 80-an. Kata “pain” muncul berulang-ulang di In Ribbons, dan dampaknya dapat meresahkan: Ada intensitas pada permainan drum Chris Cooper yang keras dan cepat pada “Ordeal” yang lebih mendekati musik industrial, sementara “Hair Shoes” dipenuhi oleh kecemasan. “Shell” adalah sebuah lagu slowcore, suara senarnya terdengar muram, instrumen glockenspiel, dan vokal kental ala Nico dari Masters memancarkan aroma depresi. Namun dengan semangat Meriel Barham yang menyeimbangkan suara Masters yang membosankan dan sedikit androgini, serta peran penting produser Hugh Jones yang membatasi suara feedback, “In Ribbons” adalah revisi dari “The Comforts of Madness” yang terdengar lebih terkonsep.

18. Chapterhouse – Whirlpool (1990)
Meskipun berasal dari Reading, Inggris, Chapterhouse menjadi lebih dikenal di skena independen London awal tahun 1990-an yang telah menghasilkan band-band seperti Lush dan Moose. Yang membedakan Chapterhouse, khususnya dengan perilisan debut full-length mereka “Whirlpool”, adalah kemampuan mereka untuk melakukan referensi silang dari genre-genre yang dekat dengan shoegaze, dan menggabungkannya secara kohesif menjadi sembilan lagu yang sempurna. Whirlpool dengan anggun membawa obor yang dinyalakan oleh nenek moyang soniknya hanya beberapa tahun sebelumnya, mengawinkan aspek indie-pop yang jangly dari My Bloody Valentine era awal (Geek! & This is Your Bloody Valentine) dan The Jesus and Mary Chain yang erat dengan ledakan distorsi gitar yang memekakkan telinga dan harmoni vokal berlayer yang mewakili shoegaze secara keseluruhan. Menggali lebih dalam ke masa lalu, Chapterhouse juga membantu memperkuat kehadiran elemen psikedelia tahun ‘60an di shoegaze, mengacu pada gitar wah-wah dan The Beatles era “Tomorrow Never Knows.” “Whirlpool” tetap menjadi album esensial dalam genre shoegaze, dan genre ini pun disempurnakan oleh Chapterhouse.

17. Drop Nineteen – Delaware (1992)
Dalam banyak hal, shoegaze dapat dianggap sebagai genre khas Inggris. Namanya tidak hanya diciptakan oleh media Inggris, namun sebagian besar band shoegaze memiliki kesamaan geografi yang mempengaruhi musik mereka. Namun, pada awal tahun 1990-an, segelintir band kontemporer AS memadukan musik rock kampus Amerika dengan karakteristik utama shoegaze, mengambil referensi dari band-band seperti Galaxie 500, Lilys, Swirlies dan Dinosaur Jr. dan mengawinkan sound gitar mereka yang tidak jelas dengan lirik introspektif. Drop Nineteens pun mengeksplor produksi atmosferik ala Kevin Shields dan kawan-kawan yang kuat secara sonik. “Delaware”, album debut Drop Nineteens dari Boston, memiliki aura romansa yang puitis yang sejalan dengan band-band alt-rock pada zamannya. Vokalis/gitaris Greg Ackell dan Paula Kelley menyanyikan lirik mengenai masa muda yang menyedihkan dan cinta pertama dengan vokal yang cukup khas. “Reberrymemberer” memunculkan kesan grungy yang mengingatkan pada momen-momen eksperimental Pixies. Beroperasi di bawah sorotan media mainstream dan terisolasi dari payung shoegaze secara bersamaan, “Delaware” menempatkan Drop Nineteens di liga mereka sendiri. Jika harus memilih album-album ’90an yang bernuansa shoegaze dari Amerika, saya akan menaruh “Delaware” diatas “In the Presence of Nothing” milik Lilys atau “Blonder Tongue Audio Baton” milik Swirlies.

16. Teenage Wrist – Chrome Neon Jesus (2018)
Teenage Wrist terdiri dari para alt rocker yang berbasis di LA dan ini adalah album debut mereka di Epitaph Records. “Chrome Neon Jesus” adalah sebuah album yang menyerupai ibadah alternatif nostalgia tahun ‘90an yang dikemas dalam elemen shoegaze dan grunge seperti band-band Catherine Wheel, Nirvana dan Slowdive. Meskipun rekaman ini mengingatkan pada sound yang populer di tahun ‘90an, namun tetap terasa menyegarkan dan orisinal mengingat rilisnya baru-baru ini. “Chrome Neon Jesus” dimulai dengan lagu dengan judul yang sama yang dengan sempurna menggambarkan apa yang dimaksud dengan Teenage Wrist. Lagunya upbeat dan catchy dengan sedikit sentuhan shoegaze — gitarnya dipenuhi efek pedal chorus dan vokalnya hampir tenggelam di latar belakang instrumen. Memang menenangkan, tapi juga keras, dan bagian reff-nya sangat catchy, seperti kebanyakan lagu di album ini.
Formula yang sama ditemukan di sebagian besar lagu dalam rekaman, seperti single utama “Dweeb”, “Swallow”, dan “Black Flamingo”. Namun pada “Supermachine” terasa sedikit lebih maskulin. “Spit” adalah lagu shoegaze yang lebih lambat dan tradisional, sama seperti lagu “Kibo” yang sebagian besar bersifat instrumental dan repetetif. Coba juga dengarkan EP mereka “Dazed” yang patut diberi gerakan tubuh “chef’s kiss”.

15. Title Fight – Hyperview (2015)
“Hyperview” adalah pernyataan tegas bahwa Title Fight tetap mengeksplorasi dan berani memberi penggemar mereka sesuatu yang berbeda. Album ini merupakan perubahan drastis dari apa pun yang pernah dilakukan oleh mereka berempat sebelumnya, baik dalam sound-nya yang indah maupun range-nya yang ambisius. 30 detik pertama dari lagu pembuka “Murder Your Memory” menyiratkan agresi langsung namun sebenarnya tentang berdamai dengan masa lalu dan bergerak maju. Hyperview paling menarik pada momen-momen yang tidak terlalu condong ke satu arah atau yang lain. Ambivalensi Title Fight di sini tidak boleh disalahartikan sebagai kepasifan; bahkan pada saat-saat paling “membosankan” sekalipun, Hyperview selalu terdengar berpotensi meledak. Title Fight mungkin jadi lebih pelan dan terlihat tidak memperdulikan reputasi hardcore mereka yang kuat, namun album ini membuktikan kalau Ned Russin dan kawan-kawannya bisa melakukan apa yang mereka mau dan tetap menghasilkan output yang bagus.

14. My Vitriol – Finelines (2001)
My Vitriol telah dibandingkan dengan banyak band lain, seperti Nirvana dan The Foo Fighters. Tapi, menurut saya mereka memiliki suara dan gaya orisinalnya sendiri. Salah satu alasannya adalah mereka orang Inggris, bukan orang Amerika (walaupun Som lahir di Sri Lanka). Saya selalu cenderung lebih menyukai band-band Amerika karena mereka tampaknya memiliki suara yang lebih berat dibandingkan dengan suara indie khas Brit-pop. Di situlah band ini mendobrak batasan stereotip yang diikuti banyak band Inggris. Saya rasa kamu akan dapat mengenali lagu My Vitriol, tidak hanya dari gaya musiknya, tetapi dari suara dan karisma suara Som Wardner. Dari mendengarkan “Finelines” (untuk ke-sekian kalinya), Saya dapat melihat bahwa ini hanyalah permulaan dari sebuah band yang kamu tahu akan bertahan lama. Tidak ada lagu yang gagal di album ini. Dari track pembuka “Alpha Waves”, disambut oleh hit single “Always: Your Way”, kemudian “The Gentle Art of Choking” sampai “Grounded”, tidak terasa kalian sudah mendengarkan setengah album ini tanpa cela. Saya anjurkan untuk mendengar album ini secara keseluruhan tanpa jeda. Dan coba juga degnarkan “Between The Lines” dimana mereka mengkover “Game of Pricks”-nya Guided by Voices. Jika kamu hanya membeli satu album nu gaze tahun ini, jadikanlah “Finelines” pilihanmu.

13. Parranoul – To See the Next Part of the Dream (2021)
Shoegaze didefinisikan oleh karakteristiknya yang halus, dan “To See the Next Part of the Dream” berfokus pada elemen itu. Parranoul adalah proyek shoegaze dari seorang musisi solois asal Korea Selatan yang anonymous. Dia memproduksi, merekam dan merilis album ini sendirian dan menurut kabar umurnya masih terbilang muda (22 tahun). Dia tidak ingin dikenal secara pribadi, menolak interview dengan berbagai media, dan tidak ada informasi sedikit pun mengenai identitas dan foto musisi ini. Pada tahun 2021, Parranoul merilis album yang cukup menjadi perbincangan di seluruh dunia. Bayangkan saja: sebuah album shoegaze bagus dari Korea Selatan. Ada sedikit sentuhan noise pop, emo dan post hardcore disini, tetapi Parranoul tetap menegaskan pendengar bahwa ini adalah album shoegaze mentok. Dengan gitar fuzz yang droning ala Kevin Shields dan produksi drum midi ala M83 awal, album ini langsung membuat saya jatuh cinta pada Parranoul. Parranoul sebenarnya merilis album lagi di 2023 yang lebih polished dan terkonsep, tetapi entah kenapa saya tetap kembali lagi mendengarkan “To See the Next Part of the Dream” di playlist saya.

12. Lush – Gala (1990)
“Gala” sebenarnya adalah sebuah kompilasi yang berisi beberapa extended play (EP) milik Lush, dan menampilkan empat lagu penting: “Sweetness and Light”, “Sunbathing”, “Breeze”, dan “De-Luxe”. EP ini menampilkan sound Lush yang indah dan halus, dengan tekstur gitar yang khas dan vokal unik Miki Berenyi. Jika kamu tertarik dengan scene shoegaze awal dan digging band-band shoegaze vokalis perempuan seperti Lush, “Gala” adalah album penting yang menangkap kualitas atmosfer dan sejauh mana dari genre tersebut bisa dibawa. Setelah “Gala”, Lush kemudian merilis beberapa album, termasuk “Spooky” dan “Lovelife”, dan mereka semakin berpengaruh di dunia musik alternatif sebelum hilang ditelan dunia.

11. Medicine – Shot Forth Self Living (1992)
“Shot Forth Self Living” adalah album studio debut band alt-rock asal Amerika bernama Medicine. Album ini dirilis pada tahun 1992. Medicine terkenal dengan perpaduan unsur-unsur noisy dari shoegaze dengan rock alternatif yang juga menampilkan elemen psikedelik. “Shot Forth Self Living” menampilkan wall-of-sound yang diciptakan oleh lapisan gitar dan efek, bersama dengan vokal halus Beth Thompson. Beberapa lagu terkenal dari album ini termasuk “Aruca”, “Defective”, dan “One More”. Album ini diterima dengan baik karena pendekatannya yang eksperimental dan menentang genre ini untuk berevolusi lebih jauh, dan album ini berkontribusi pada reputasi band dalam dunia musik alternatif dan shoegaze. Jika kamu penggemar musik rock yang berisik, bertekstur, dan sedikit eksperimental dari awal tahun ‘90-an, menjelajahi “Shot Forth Self Living” dari Medicine bisa menjadi pengalaman yang unik.

10. Blonde Redhead – 23 (2007)
Pada tahun 2007, trio Blonde Redhead dari New York telah dikenal selama lebih dari satu dekade sebagai art-rocker, dan menjadi favorit di skena indie New York ; DI album ”23” mereka sedikit merubah sound dan cara mereka merepresentasikan lagu-lagu mereka. Album ketujuh grup ini (dan pertama yang diproduksi sendiri), merupakan album yang terasa spontan dan penuh semangat. Simone dan Amedeo Pace menawarkan eksplorasi yang dalam pada gitar, permainan piano yang gloomy, dan sound perkusi hi-hat nyaring. Penyanyi Kazu Makino menyalurkan keajaiban yang depresif dari shoegaze klasik di dalam lagu-lagunya, dia mendesah dan berbisik dengan keanggunan, sementara vokal Amedeo Pace yang terdistorsi di “Publisher ” semakin mendekati suara blues, gitar math-rock, dan sentuhan elektronik minimalis yang halus. Sampai saat ini, sepertinya tidak ada yang berani mengeksplorasi dan berhasil memainkan formula seperti Blonde Redhead ini.

9. Catherine Wheel – Chrome (1993)
“Chrome” adalah album studio ketiga oleh band rock alternatif Inggris Catherine Wheel, dirilis pada tahun 1993. Catherine Wheel adalah bagian dari dunia musik alternatif dan shoegaze pada awal hingga pertengahan 1990-an. “Chrome” menampilkan perpaduan elemen rock alternatif dan shoegaze, dengan lapisan tekstur gitar dan atmosfer yang indah. Beberapa lagu terkenal dari album ini termasuk “Crank”, “The Nude”, “Show Me Mary”, dan “Judy Staring at the Sun”. Album ini secara umum diterima dengan baik oleh para kritikus dan menjadi favorit di kalangan penggemar genre shoegaze dan rock alternatif. Jika kamu menyukai musik dari era dan genre ini, “Chrome” dari Catherine Wheel bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga. Fun fact, Robert Dickinson vokalis Catherine Wheel adalah sepupu dari Bruce Dickinson Iron Maiden.

8. Alcest – Souvenirs D’un Autre Monde (2007)
Alcest berhasil meleburkan batas antara black metal dan shoegaze: Ketika kedua genre itu mulai berkembang pada awal tahun 1990-an, kesamaannya tidak terlihat jelas. Namun pada awal tahun 2000-an, konvergensi keduanya tampaknya tidak bisa dihindari. Musisi Perancis Neige meninggalkan skena black metal pada tahun 2005 dengan EP debut dari band post-punk melankolisnya Amesoeurs, tetapi butuh album penuh pertama dari proyek berikutnya—”Souvenirs D’un Autre Monde” oleh Alcest—untuk menyempurnakan karyanya yang melampiaskan minat ganda Neige terhadap black metal dan shoegaze. Judul album 2007 ini jika diterjemahkan adalah “kenangan dari dunia lain”—oleh karena itu, Neige mengilhami enam lagunya dengan kombinasi gitar akustik dan distorsi yang melebur tanpa effort. Penulisan lagunya bahkan kadang lebih indah dari band-band shoegaze bahkan dream pop, bahkan ketika intensitas musik di lagu Alcest meningkat, secara struktural album ini tetap mengingatkan kita akan leluhur metal Alcest. Pada saat yang sama, ia menciptakan kembali shoegaze untuk abad baru, membuktikan betapa sumber daya sonik dapat diperbarui dengan teknologi modern. Dan seperti yang teman saya ucapkan ketika saya menyetel album ini: “Ini Alcest? Kok kaya Pale Saints?”

7. Slowdive – Souvlaki (1993)
Bisa dibilang, album ini menggambarkan apa yang dimaksud dengan shoegaze: gitar yang terdistorsi, perkusi yang khas, dan tekstur yang tidak jelas dengan perpaduan harmoni vokal pria dan wanita. Lirik berada di belakang rangkaian kebisingan yang holistik. Vokal digunakan hanya sebagai instrumen lain, dan kamu mungkin dimaafkan jika mendapat kesan bahwa rekaman tersebut murni instrumental pada saat pertama kali mendengarkannya. Hal ini dapat dicontohkan dengan baik dibandingkan dengan salah satu karya utama album ini, “Souvlaki Space Station”, yang lebih mengandalkan instrumentasi dibandingkan alur vokal Goswell yang berputar-putar di latar. “Machine Gun”, “When the Sun Hits” dan “Dagger” adalah anthem-anthem shoegaze klasik yang tidak akan hilang dimakan zaman. Jika di ensiklopedia ada segmen shoegaze, menurut saya kover album ini patut ditaruh disebelah kata “shoegaze” tersebut.

6. Adorable – Against Perfection (1993)
Naik turunnya Adorable mencerminkan shoegaze itu sendiri. Band ini memainkan pertunjukan pertama mereka pada bulan Januari 1991, tepat di awal fase shoegaze, dan merilis album debut mereka “Against Perfection” pada bulan Maret 1993, ketika Suede menjadi favorit di berbagai media. Adorable merilis serangkaian single yang cukup kuat untuk mengokohkan tempat mereka dalam skena shoegaze, termasuk lagu-lagu epik seperti “I’ll Be Your Saint” dan “Sistine Chapel Ceiling” yang catchy. “Sunshine Smile,” khususnya, memberikan contoh semua hal yang luar biasa tentang Adorable: riff gitar yang sangat indah dan kemudian meledak menjadi distorsi yang intens, suara lesu dari vokalis Pete Fijalkowski, yang sediki “meminjam” style menyanyi ala Ian McCulloch (Echo & The Bunnymen), dan tentunya departemen rhythm yang sangat pas. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, menurut saya sekarang kalian setel saja video klip “Homeboy” di Youtube and thank me later.

5. Curve – Doppelgänger (1992)
Inovasi hebat Curve adalah mengawinkan ritme elektronik yang rapat dengan serangan noise-pop yang kental. Sebelum debut “Doppelgänger” mereka pada tahun 1992, perpaduan itu tidak terdengar, tetapi Curve menjadi pionir sound yang akhirnya tersebar luas ini; doppelgänger mereka sendiri, Garbage, membuat album dengan perpaduan ini hanya beberapa tahun kemudian. Tetapi Curve memiliki ikatan yang lebih kuat dengan shoegaze dibandingkan Garbage, namun, bukan hanya karena timingnya namun juga artikulasinya: Vokalis Toni Halliday dan multi-instrumentalis Dean Garcia menyukai ketidakjelasan dalam suara dan gaya, membiarkan estetika menyatu, dan Curve lebih menyukai sensasi daripada lagu yang pop. Di Doppelgänger, duo ini menunjukkan melodi yang kuat dan itu terlihat pada riff dan ritme seperti halnya di lirik mereka sendiri. Halliday juga tetap unik dalam shoegaze: Dia adalah seorang penyanyi yang mendorong dirinya sendiri ke garis depan, mencuri perhatian kebisingan dan distorsi yang mengelilinginya, membuat Curve menonjol diantara band-band shoegaze lainnya yang lebih terdengar serupa.

4. The Verve – A Storm In Heaven (1993)
Jika kamu hanya mengenal The Verve lewat “Bittersweet Symphony”, maka kamu ketinggalan yang satu ini. Sebelum dikenal lewat album “Urban Hymns”, The Verve pernah membuat sebuah album shoegaze. “A Storm in Heaven” adalah album studio debut band rock Inggris The Verve, yang dirilis pada tahun 1993. Album ini menandai eksplorasi awal pengaruh psikedelik dan shoegaze dari The Verve sebelum mereka kemudian mencapai kesuksesan luas dengan album ketiga mereka, “Urban Hymns”.
“A Storm in Heaven” menampilkan lanskap suara yang indah dan atmosferik, serta aransemen musik yang luas. Album ini berisi lagu-lagu seperti “Slide Away”, “Star Sail”, dan “Already There”. Lagu-lagu ini menunjukkan kemampuan band untuk menciptakan lanskap sonik yang diambil dari berbagai pengaruh, termasuk shoegaze, psikedelia, dan spacerock ala Spacemen 3. Meskipun “A Storm in Heaven” tidak sukses secara komersil pada saat dirilis, lagu-lagu dari album ini mendapat pujian kritis dan dianggap sebagai karya penting dalam genre shoegaze dan rock alternatif. Jika kamu mengapresiasi musik rock atmosferik dan eksperimental, menjelajahi album ini dapat memberikan wawasan tentang evolusi musik awal The Verve.

3. Swervedriver – Mezcal Head (1993)
Mezcal Head” adalah album studio kedua oleh band rock alternatif Inggris Swervedriver. Album ini dirilis pada tahun 1993 dan sangat dihormati dalam genre shoegaze dan rock alternatif. Swervedriver, seperti Ride, sering dikaitkan dengan gerakan shoegaze. Yang membedakan Swervedriver dari band-band shoegaze lain seangkatan nya adalah Swervedriver lebih rocking dan sedikit lebih maskulin secara aransmen. “Mezcal Head” menampilkan lagu-lagu seperti “Duel”, “Last Train to Setansville”, dan “The Birds”. Album ini menampilkan kemampuan band ini untuk memadukan elemen shoegaze dengan suara yang lebih berorientasi rock, sehingga pengalaman saya pada saat mendengarkan album ini pun lebih dinamis dan bertenaga ketimbang mendengarkan MBV atau Ride, misalnya. Jika kamu penggemar musik rock alternatif atau shoegaze, “Mezcal Head” layak untuk di eksplore. Sound unik dan gaya penulisan lagu Swervedriver membuat mereka mendapatkan fanbase yang berdedikasi, dan album ini dianggap yang paling menonjol dalam diskografi mereka.

2. Ride – Nowhere (1990)
“Ride” adalah band rock alternatif Inggris yang dibentuk pada tahun 1988. Salah satu album mereka yang paling terkenal berjudul “Nowhere,” dirilis pada tahun 1990. “Nowhere” dianggap sebagai album shoegaze yang monumental, menampilkan sound yang cukup spesifik dan atmosferik dan ditandai dengan layering gitar, vokal halus, dan produksi yang rapih. Album ini berisi lagu-lagu seperti “Vapour Trail”, “Polar Bear”, dan title track “Nowhere”. Jika harus menyebut satu lagu untuk mendeskripsikan shoegaze pada orang awam, saya tentu akan memilih “Vapour Trail” yang timeless dan memiliki sensibilitas pop yang kuat. “Nowhere” milik Ride sering dianggap sebagai album klasik dalam genre shoegaze dan memiliki pengaruh yang bertahan lama pada skena musik alternatif dan indie. Jika kamu penggemar shoegaze atau rock alternatif, “Nowhere” adalah album yang sangat penting untuk dijelajahi.

1. My Bloody Valentine – Loveless (1991)
“Loveless” adalah album My Bloody Valentine yang dianggap sebagai album inovatif dan sangat berpengaruh dalam genre musik alternatif dan shoegaze. Dirilis pada tahun 1991, album ini adalah album studio kedua oleh band Irlandia ini, dan terkenal karena penggunaan efek gitar yang inovatif, atmosfer yang indah, layer-layer gitar yang kompleks dan teknik produksi yang rumit. Inovasi Sonik yang ditampilkan My Bloody Valentine (dipimpin oleh Kevin Shields) mendorong batas-batas dari apa yang bisa dicapai dengan gitar dan efek. Penggunaan tremolo-arm, distorsi kotor, dan kreasi tekstur sonik berlapis yang unik berkontribusi pada sound khas album ini. Wall-of-sound yang dihasilkan band ini menjadi ciri khas genre shoegaze. “Loveless” adalah sebuah album yang membawa pendengar ke dunia lain dengan sound dan atmosfer ethereal-nya. Lapisan suara gitar, lanskap sonik dan disonansi menciptakan pengalaman dreamlike dan membuat pengalaman mendengarkan album ini menjadi “berbeda” dari album-album lainnya di tahun 1991.

Menariknya, vokal pada “Loveless” sering kali diperlakukan sebagai instrumen lain daripada sebagai sarana lirik tradisional. Vokal Shields dan Bilinda Butcher terkubur dalam mix dan memperkaya tekstur musik secara keseluruhan. Pendekatan vokal mengawang ini menekankan pentingnya suara keseluruhan daripada elemen individual.
Produksi “Loveless” adalah elemen kunci kesuksesannya. Shields dan bandnya bereksperimen secara ekstensif dengan teknik produksi, termasuk penggunaan efek studio secara ekstensif dan metode rekaman yang tidak konvensional. Dan proses rekaman “Loveless” ini pun menghabiskan waktu 2 tahun dan konon hampir membuat bangkrut Creation Records karena memakan biaya sebesar Rp. 4,805,820,000,00. “Loveless” mempunyai dampak besar pada genre shoegaze dan musik alternatif secara keseluruhan. Pengaruhnya dapat didengar dalam karya band-band yang tak terhitung jumlahnya setelahnya. Hasil dari produksi rekaman ini adalah sebuah album yang terdengar futuristik dan abadi. Dan Kevin Shields adalah sang arsitek pionir untuk genre ini.

Words by Aldy Kusumah

Arend adalah owner/creative director dari Woodensun, sebuah brand yang berbasis di Bandung. Dia juga salah satu founder dari High Tables, sebuah perusahaan screenprinting dan embroidery. Baru-baru ini Arend juga sempat mendesain untuk koleksi terbaru dari Elder Statesman, sebuah brand luxury dari Los Angeles. Mari berbincang dengan Arend mengenai passion-nya dalam mendevelop fabric terbaik, menjual di pasar global sampai bertemu Bobby Cool Superman is Dead…

“Kalau misalnya culture bootleg ini terus berkembang dari designer, orang produksi, R&D, penjual-penjual di Tamin sampai tempat produksi ga akan dapet rejeki. Sesimpel itu aja sih gue mikirnya. Banyak profesi yang hilang kalau gue harus dagang seperti itu. Walaupun gue dengar dagangnya bagus, tapi tidak menggiurkan buat gue. Duit mah hanya sekedar kertas.”

Halo Arend! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja sekarang di Woodensun?
Lagi sibuk persiapan design SS25, dan SS24 mau launching bulan Maret. Placing-placing order buat SS24 sih paling sekarang-sekarang..

Lo juga baru-baru ini mendesain koleksi terbaru nya Elder Statesman FW24 ya? Bagaimana cerita dibalik kolaborasi tersebut dan design apa yang lo terapkan di koleksi itu?
Si Bailey Hunter creative director Elder Statesman via DM dan nawarin gue untuk ngerjain project FW24 nya. Mereka kontak gue November tahun 2023, pengerjaan tuh sampe Januari soalnya Februari sudah harus photoshoot, jadi gue ngerjain sekitar 2 bulan dari design produk, grafis sama konsep judul untuk FW24 nya, cuma ada beberapa artist yang ikut andil untuk fotonya, bagus banget kan tuh fotonya.

Jadi collection ini tuh pengen ngangkat orang-orang kantoran alias hustler yang mimpi-mimpinya terbunuh karena kerjaan 9 to 5 mereka. Gue tetep memakai DNA gue lah membahas psychedelic dan alien cuma diterapkan ke konsep hustling mereka. Mereka juga pengen gue tetep menonjolkan karakter gue. Gue banyak banget kirim gambar, kirim 12 gambar yang dipakai cuma 6. Mereka lumayan selektif.. Mayan anjing sih banyak revisi hahahaha.. Sejujurnya gue teh gatau itu brand yang se-luxury itu. Pas dapet kerjaan nya gue langsung cari ide dan akhirnya memakai karya lama gue yang pernah dipamerkan di eksibisi Art Jakarta dulu. Karena lagi mentok ide dan creative block jadi akhirnya pake title gw yang dulu yang berjudul: “How to Survive as a Freethinker Person”.

 

Bagaimana awal histori dan konsep dibalik Woodensun? Kenapa memutuskan untuk terjun juga ke industri streetwear?
Dulu tuh berdua gw sama si Kur, pas awal-awal kuliah di Itenas (design produk & DKV). Awalnya mah kita bikin furniture, rak vinyl gara-gara kita butuh dan banyak yang order kaya si Ofri (Norrm). Kita berdua bikin furniture itu di backyard rumah nyokap. Lalu kita beli alat sablon dan alat press skateboard. Nama Woodensun itu juga karena kita pada awalnya berurusan dengan perkayuan, terutama membikin papan skateboard dan cruiser board. Pokoknya dulunya mah bisnis furniture kita, carpenter hahaha..

Pernah salah import plywood jadi bangkar.. Terus capek juga kuliah sambil ngerjain produksi skateboard. Ternyata untuk marketing papan skateboard tuh harus modal gede, sponsor dan banyak lah uang yang harus dikeluarkan untuk biaya marketing, karena kita ga mampu akhirnya shifting ke clothing. Gw inget banget pernah bikin baju 30s pake sablon pigmen sewarna cuma bikin 6 pieces dan jual ke anak-anak aja. Belum pake woven label dan belum ngerti bisnis clothing sama sekali. Cuma ngeliat cara dagang si FUCT dan Baker Skateboard.

Gara-gara gue berbasis ilustrasi akhirnya diseriusin bisnis konveksi sablon. Tahun 2015-2016 ada brand surfing Australia Eat Your Water order di kita gara-gara melihat postingan gue. Dari order pertama sampe sekarang mungkin udah order ke 40an, dianya grow dan kita juga grow. Uang dari sini malah digolang ke Woodensun. Akhirnya 2017 si Woodensun itu ownernya gue, Aldiansyah, Kur dan Tama. Darisitu mulai mencoba nge DM toko-toko luar mulai dari koneksi Australia. Selama setahun gue nge DM dan nge-email toko-toko ada lebih dari 100 toko ga ada satu pun yang nyangkut hahaha.. Ternyata gue belum tau konsep SS dan FW, jadi gatau kapan store buying dan kapan si store itu ga buying, ternyata gue nawarin selalu pas waktu store-store gak buying hahaha! Ada email dibales aja udah happy banget kita hahah.. Akhirnya ada 1 store kecil di Singapore yang membeli sedikit. Dari situ mulai apal kapan harus nawarin atas dasar konsep SS dan FW. Mulai belajar sambil ngobrol-ngobrol sama Ginar (Mankind) dan Theo (Deva States). Akhirnya ada beberapa yang nyangkut 2019 dapet 3 store di Berlin, UK dan Hongkong. Lalu darisitu difokuskan banget si Woodensun ke clothing brand, dan mulai bikin full-range bukan T-shirt aja, mulai belajar cut-n-sew, pecah pola dan printing. 2020 akhirnya bikin High Tables, awalnya ada di House of the Sun, dulu gw sempat bikin compound di Sukajadi, isinya ada Norrm juga. 2 tahun nyewa tempat itu ke TNI lalu harus pindah karena ada kebijakan mereka yang ga masuk akal. Akhirnya kita pindah ke Arcamanik untuk fokus bikin konveksi jahit dan sablon, sekalian ada kantor Woodensun juga dengan staff yang proper dari sales, admin, orang produksi dan lain-lain. Lalu pas pandemi 2020 sampe 2022 anehnya orderan Woodensun dari luar makin banyak. 2023 akhirnya kita ikut agen Complex Minds di London. Mulai ada showroom di Jepang dan London, mulai tertata lah sebagai brand seasonal yang mengandalkan bisnisnya dari wholesale. Mereka menjadi sales, distributor dan PR-nya Woodensun yang mengenalkan kita ke luar negeri.

Jadi si Woodensun lebih fokus ke pasar luar negeri ya?
Betul kita lebih fokus ke pasar luar sekarang. Karena direct customer disini hese oge. Jujur aja pasti gue udah pasti kalah sama brand lokal lain kalau cuma mengandalkan direct customer. Karena itu juga gue bikin Mex-Tex, apalagi ya yang gue bisa menangkan selain ilustrasi, cutting dan sablonan yang bagus? Yaudah kita coba bikin fabric sendiri. Awalnya terinspirasi dari si Human Made, mereka bikin fabric sendiri. Sempat baca satu artikel kalau si Nigo bikin fabric sendiri. Gue beli bajunya Nishimoto X P.A.M. wah enak banget bahan double-knit gini, gue coba pakai ke pantai enak, dan di tempat tinggal gue daerah Lembang enak juga, fitting loose. Gue kasi ke pabrik untuk direcah dan akhirnya orderlah ke pabrik, tetapi gagal. Akhirnya kita nemu pabrik yang bisa, develop sekitar 6 bulan dari 2022 ke 2023. Akhirnya muncul untuk kita pake di SS23-nya si Woodensun, dan responnya bagus. Karena kita terlalu fokus di bahan ternyata metoda sablon-nya gak diperhatikan. Untuk bahan seperti ini ternyata tekanan gesut nya beda dan seharusnya pakai mesin. Jadi dapet reject lumayan banyak dan gue lumayan stress, dan kita perbaiki di FW23. Di tahun ini sih udah aman banget karena udah keulik sablonan dan lain-lainnya. Gue pengennya si Mex-Tex pengen berdiri sendiri dan dijual ke beberapa brand temen-temen. Semoga pas artikel interview ini tayang si Mex-Tex sudah launch hahaha..

Departemen WDSN Research Lab mendevelop bahan Mex-Tex untuk koleksi Fall/Winter Woodensun. Apa kelebihan Mex-Tex jika dibanding bahan-bahan yang biasa kalian pakai sebelumnya?
Gue selalu punya kendala seperti ini.. Brand yang dagang di 2 season kadang pake bahan baju yang sama. Kalau misal di Fall/Winter pake bahan 20s gramasi tinggi, nah itu teh ga ada fungsinya, karena pemakai tetap kedinginan dan mereka harus layering, jadi baju teh ketutupan jaket, kecuali mungkin di club. Si SS dan FW bisa kita akomodir dengan si Mex-Tex karena kita aman di cuaca panas, fabric-nya menyerap keringat, gak terlalu panas karena 100% cotton. Di FW yang cenderung dingin bahan tetap hangat untuk dipakai. Jadinya gue gak harus ganti-ganti bahan, cuma yaitu hpp aing membengkak hahaha.. Soalnya treatment nya banyak, harus pigment-dye, washing lagi.. Harus pakai plascharge.. Semacam teknik discharge tapi plastisol nya masih kerasa. Respon dari toko-toko yang beli produk kita bagus sih. Sebenarnya ini adalah jawaban dari apalagi yang bisa kita jual selain design, sablon dan ilustrasi. Semua menjual itu kan? Semua menjual cut-n-sew, brand value dan sablon. Nah gue coba lebih lagi dengan mencoba menjual fabric. Dan kemungkinan akan di branding Mex-Tex by High Tables.

Unsur-unsur psychedelic, alam, sci-fi dan design yang ramai selalu menjadi ciri khas graphic si Woodensun. Brand-brand atau designer grafis inspirasi lo siapa saja?
Si Sk8ting (Caveempt), Fergus Purcell (Aries), Erik Brunetti (FUCT). Erik lebih ke filosofi dan brand-nya sih. Gue lebih terinspirasi oleh artis-artis sih untuk visual kaya karya-karya si Stewart Armstrong,

Fashion selalu beririsan dengan musik. Band-band dan subgenre apa aja yang menginspirasi lo saat mendesain atau membuat sebuah konsep untuk
Woodensun?
Nah awalnya suka tema-tema sci-fi dan psychedelic awalnya dari musik. Gue suka banget genre itu lah. Gue suka banget era flower generation, gue suka setelan-nya, tripping-nya dan apostle-nya. Apostle tuh kaya nabi pemimpin cult-nya, misal si Timothy Leary. Konsep nya tuh kan mereka memakai LSD dan pikiran nya jadi lebih terbuka. Kalau si Timothy Leary gue suka karena dia membawa keterbukaan pikiran dia ke universitas karena dia professor juga. Dia pernah eksperimen memberi LSD ke mahasiswa-mahasiswanya dan menyuruh mereka membuat jurnal. Dia banyak menyumbangkan ilmu di pergerakan ini di buku-bukunya. Dia turunan nya banyak banget sampe ke politik dan spiritual. Nixon aja sampai ngomong dia itu adalah “the most dangerous person in the world without a weapon”. Karena dia bisa membuat pikiran orang terbebas, sementara Nixon ingin membuat Amerika anti freethinker. Kalau sci-fi awalnya waktu kecil dari suka komik Spawn dan Transmetropolitan… Gue suka grafisnya, gue suka Star Wars dan Dune versi Jodorowsky…

Kan ga jadi dibuat Dune versi Alejandro Jodorowsky? Proyek ambisius yang rencananya diperankan Salvador Dali dan Mick Jagger, dengan musik dari Pink Floyd? Hahaha..
Enya teu jadi filmna da bakal mahal pisan produksi nya hahaha.. Salvador Dali jadi Emperor.. Musiknya Pink Floyd.. Yang jadi Timothee Chalamet-nya si Mick Jagger atuh hahaha.. Sempet Juga David Lynch bikin Dune tapi Jodorowsky cabut dari bioskop pas nonton yang versi Lynch hahaha.. Si Jodorowsky juga pengen buat Dune tanpa membaca novelnya juga, emang jeprut. Nah gue suka illustrator yang gambar pesawat-pesawatnya dan bangunan-bangunan di Dune versi Jodorowsky..

Si Chris Foss dan H.R. GIger?
Akhirnya Chris Foss kerja untuk Star Wars, dan Giger juga akhirnya kerja di franchise Alien dan Prometheus. Nah dari film-film ini sih sebenarnya gue suka science fiction. Lumayan lah dikit-dikit si sci-fi ini diterapkan di design-design Woodensun tapi tetap diimbangi dengan unsur-unsur psychedelicnya. Biar ga terlalu berat-lah untuk konsumen-konsumen kita..

Tapi so far konsumen lo relate ga sih dengan tema-tema desain yang lo buat?
Nteu hahaha! Pada akhirnya gue harus mencoba relate, ga bisa naif juga harus melihat keadaan trend sekarang itu gimana. Kalau harus mengedukasi konsumen kan hoream ya, ngapain juga. Mungkin masih ada juga konsumen Woodensun yang suka ilustrasi alien dan full-artwork psychedelic. Tapi ada juga yang suka misal kaya design “Retired Hippies”, walaupun cuma tulisan doang tapi masih berhubungan dengan tema psychedelic. Atau tagline “Idea of Utopia” yang masih berhubungan dengan science-fiction. Untuk ilustrasi mungkin memang terlalu berat, tapi dengan tagline dan wording bisa lebih komunikatif. Jadi orang masih bisa relate dan mencari tahu konsep dari si Woodensun itu sendiri. Komposisi koleksi si Woodensun tuh pasti gini: Heavy graphic 50%, tagline 30%, logo doang 20%.

Dari 3 ini yang paling laku yang mana?
Yang tagline sih.

Berarti harusnya yang tagline 80% ya? Hahaha..
Kalem lah eta haha.. Kalo kebanyakan yang tagline jadi kaya ngejual quotes.. Kurang suka sebenarnya gue ke brand yang ngejual quotes. Misalnya nih ada satu collection gue gasuka tapi anak-anak gue suka. Pas gue liat yang pake nya kayaknya “aduh kayanya ga ngerti ini yang pakenya” haha.. Tapi ya gapapa juga karena Woodensun untuk semua kalangan. Karena gue sama anak-anak dari awal pengen nya Woodensun itu buat semua orang dan relate ke segala genre dan style. Untuk memperluas market juga. Kenapa anak hardcore gak bisa pake baju psychedelic? Karena DNA nya masih beririsan juga.

Pendapat lo mengenai kultur diskon harga coret?
Saya sih sebenernya menyayangkan karena Indonesia tuh sebenarnya lagi diliat sama negara-negara luar. Kaya kemaren gue showroom di Jepang, kata mereka tuh “Indonesia is rising”. Kalau misalnya kita kompak dengan membuat streetwear culture di Indonesia jadi lebih bagus lagi, levelling up. Mungkin harga coret ini tuh pengaruh dari e-commerce juga ya? Jepang juga punya e-commerce kok tapi mereka ga melakukan hal itu. Harga coret itu teh kaya menjual paksa ke konsumen, dan mungkin konsumen disini kebanyakan belum siap untuk harga baju 300-450 ribu, tapi mengapa gak kita coba untuk edukasi kalau bahan nya bagus, dan ini bukan sekedar lo beli prodak tapi ya lu part of the scene juga. Sayang lah udah ada Hypebeast juga di Indonesia, harusnya platform seperti itu kita manfaatkan, kita coba jualan di luar. Kaya si Deva States, Paradise Youth dan Public Culture kan udah kenceng jualan di luar negeri, kalau lebih banyak brand Indo lagi kita bisa bikin Indonesia community di worldwide. Nah itu adalah visi gue dan Theo (Deva States) membuat toko Karat di Seminyak Bali itu. Pengen nya menampung beberapa brand dan mengajak showroom dimana, mencari buyer bersama-sama. Karat masih renov mungkin opening di bulan Juni. Banyaknya sih brand Asia dan Australia.

Ada peribahasa “there is nothing new under the sun”. Tetapi ada brand-brand yang “menjiplak/meniru” dan meng-glorifikasi bootleg culture ini. Gimana opini pribadi lo mengenai hal ini?
Kalau gue sangat tidak setuju ya. Impact nya akan berbahaya. Gue kan punya konveksi, orang R&D dan designer. Kalau misalnya culture bootleg ini terus berkembang dari designer, orang produksi, R&D, penjual-penjual di Tamin sampai tempat produksi ga akan dapet rejeki. Sesimpel itu aja sih gue mikirnya. Soalnya kalau gak salah mereka bikin di China, otomatis gak harus punya designer, gak harus punya orang R&D, gak harus punya runner yang beli bahan ke Cigondewah. Pabrik-pabrik yang punya fasilitas untuk bikin bahan jadi ga dibutuhkan, designer produk ga harus punya. Banyak profesi yang hilang kalau gue harus dagang seperti itu. Walaupun gue dengar dagangnya bagus, tapi tidak menggiurkan buat gue. Duit mah hanya sekedar kertas. Mungkin untuk orang yang sangat berpikiran bisnis akan sangat tertarik, tetapi kalau memikirkan secara ekosistem, si trend jiplak-jiplak ini kalau terus berkembang otomatis kita cuma import-import aja terus. Gue takutnya banyak yang ngikutin cara bisnis ini dan konsumen banyak yang mengamini. Padahal kan kaya sepatu Compass keren kan? R&D nya keren, branding keren, kolaborasi nya keren, hustlingnya tuh keliatan. Soalnya Indonesia tuh lagi diliat sama pasar global. Untungnya media yang punya kredibilitas kaya Jeurnals atau Hypebeast tidak mengangkat hal itu lah. Soalnya Research & development itu bagian dari design di industri kreatif. Petani aja R&D heula.

Film-film favorit lo apa aja Rend?
Fight Club gue suka pisan. Ternyata orang bisa jadi gitu ya? Bisa se-stress itu karena kerjaan 9-to-5, dapet schizo dan punya dunia sendiri. Mad Max 1 dan 2 gue suka. Yang pertama kan dia lone wolf gitu kan. Yang kedua yang rebutan minyak. The best semua sih Mad Max sampe yang Fury Road. Kostum keren, dunia dystopia-nya gue suka. Agak ngebahas religi, Dune part 2 yang terbaru juga kayanya based on Al-Quran banget, ada Imam Mahdi. Star Wars mah gue suka semuanya. The best lah itu franchisenya. Itu juga terinspirasi dari Dune. Prometheus gue suka, kalau Alien waktu kecil nonton dan gue takut banget. Waterworld maneh apal teu?

Kevin Costner? Yang mirip Mad Max tapi di air ya?
Nah itu! Film science fiction pertama yang gue pernah nonton kayaknya. Gak laku itu film, dulu ada di Layar Emas RCTI.

Pertanyaan terakhir: pengalaman “bad trip” atau “good trip” yang paling berkesan?
Gue gak pernah bad trip yang sampai merugikan orang, misal besoknya ada banyak orang yang dirugikan.. Tapi yang paling jeprut gue pernah nih pas di Bali, waktu itu lagi party sama beberapa orang yang namanya gausah disebutkan lah untuk yang gini-gini.. Gue teh udah missed flight 2 kali waktu mau pulang ke Bandung. Nah flight yang ketiga ini tuh gua gaboleh miss lagi, dan si flight ini tuh jam 7 pagi. Jam 1 subuh gue udah tidur dan pasang alarm. Taunya ada yang iseng nempelin acid di bibir gue. Iseng weh si eta meh urang missed flight deui. Terus dibere hacep oge. Jadi kebangun tuh jam 3 subuh hahaha.. Jadi ga tidur kan, tapi untungnya udah siap packing. Keadaan itu “tarik” pisan lah, gokil pisan. Jam 5 pake Gocar ke bandara. Dijalan minta ke Indomaret minum Bear Brand 3 kaleng. Untungnya mayan bisa melewati boarding pass walaupun skip-skipan. Inget gak inget. Tiba-tiba gue inget ada di smoking room Ngurah Rai lagi ngobrol sama batu. Gue denger nama dipanggil sama airport, nah gue terakhir inget tuh duduk di sambil liat langit. Bangun-bangun gue di posisi yang sama tapi keadaan koper ada, hp dan dompet hilang. Lihat jam di KFC udah jam 2 siang.. Eh ini dimana kok ada KFC? Ternyata gue ada di Airport Kertajati, Majalengka. Dari Kertajati ke Bandung harus pake travel, hp dan dompet ga ada. Iseng ke KFC ternyata ada dompet gue di ketinggalan KFC. Terus ada OB ketawa-ketawa aja tiap ngeliat gue, lalu gue tanya aja lihat hp gue ga ke OB, kata dia coba tanya Air Asia. Kata OB nya “Mas bolak-balik cari hp nanya ke beberapa orang terus mas tidur dan mengigau, saya bangunin takutnya mas ketinggalan travel”. Saya bilang aja saya jetlag capek banget soalnya baru dateng dari Dubai, masa jetlag dari Bali da eweuh hahaha..

Nah hp saya ketemu tuh di di Air Asia, statusnya si hp ketinggalan di pesawat udah 2 kali bolak-balik dari Kertajati ke Bali. Pas di Bandung besoknya bangun pagi cek hp tiba-tiba ada message dari Bobby Superman is Dead. Gue sama sekali gak kenal sama Bobby SID. Kata dia “Saya udah di Kozi Coffee Bandung ya Rend, jadi kesini ga?”. Sebelum message itu gak ada message yang lain. Lalu dia nelpon “Oke mas saya kesana”. Pas saya dateng beneran ada Bobby Cool SID. “Gimana Rend yang design tolak reklamasi-nya, bisa diproduksi kapan?”. Wah saya ngomong aja “Bli maaf banget saya ga inget apa-apa dan saya ga inget ketemu bli Bobby? Bisa ga diulang lagi pembicaraan kita dari awal..?”. Ternyata mas Bobby duduk disebelah saya dan selama di pesawat kita ngobrol, ternyata saya nawarin produksian ke dia selama skip itu, dan akhirnya dia jadi order hahaha..

Words & interview by Aldy Kusumah
Arend Photos by Aldy
Woodensun Photos taken from Woodensun Archives

Southern Lord adalah label rekaman independen yang berbasis di Los Angeles, California, yang mengkhususkan diri pada genre niche metal eksperimental seperti drone metal, stoner rock, heavy metal, doom metal, sludge, dan kemudian memperluas roster-nya dengan menyertakan rilisan-rilisan dari band black metal, hardcore punk, dan crust punk. Didirikan pada tahun 1998 oleh Greg Anderson, yang juga dikenal sebagai personil Sunn O))) dan Goatsnake. Southern Lord telah merilis album oleh beragam artis, antara lain Sunn O))), Power Trip, Nails, Earth, Boris, Pelican, dan Wolves in the Throne Room. Label ini terkenal atas dedikasinya terhadap musik underground dan komitmennya terhadap rilisan vinyl, sering kali menampilkan kemasan yang rumit dan rilisan-rilisan limited edition. Southern Lord telah mendapatkan reputasi keren karena rilisannya yang berkualitas tinggi dan telah memainkan peran penting dalam pertumbuhan scene metal bawah tanah.

Greg Anderson menjalani kehidupan ganda sebagai musisi dan pemilik label rekaman. Kadang kedua hal itu bertentangan satu sama lain, tetapi Greg Anderson berhasil menyeimbangkan kebutuhan label dengan kehidupan musisi eksperimental. Sebagai seorang musisi yang menjalankan sebuah label, Greg memiliki empati terhadap artis/musisi lain dan mencoba memperlakukan band-band di label tersebut sebagaimana dia (sebagai musisi) ingin diperlakukan oleh sebuah label. Kami yakin Greg Anderson pun sudah memiliki staff yang bisa mengurusi labelnya dengan baik saat dia melakukan ibadah touring bersama Sunn O))). Memang ada beberapa ejekan mengenai Southern Lord sebagai “beard metal” atau hipster metal, tapi ejekan-ejekan tersebut sama sekali tidak penting, karena kita semua tau Southern Lord is the real deal. Berikut adalah beberapa album terbaik Southern Lord favorit kami. Here goes the Southern Lord starter pack:

1. Sunn O))) – Black One
“Sunn O))) – Black One” adalah salah satu album drone metal yang esensial. Sunn O))). merilis “Black One” pada tahun 2005. Album ini mempunyai sound yang eksperimental dan penuh dengan riff-riff drone bertempo super-lambat, juga ditandai dengan karakter sound frekuensi yang sangat rendah, pengaruh black metal, gitar yang sangat terdistorsi, dan komposisi yang minimalis. “Black One” juga menampilkan kolaborasi dengan berbagai artis termasuk Malefic (Xasthur), Wrest (Leviathan), dan Oren Ambarchi. Album ini terkenal dengan tema gelap dan atmosferiknya, dengan lagu yang sering kali menampilkan drone yang panjang dan berkelanjutan serta nada disonan. Konon, Malefic (yang mengidap klaustrofobia) merekam vokalnya selagi dikurung didalam peti mati oleh duo pentolan Sunn O))), Greg Anderson dan Stephen O’Malley. Dengarkan yang satu ini menggunakan headphones / earphones.

2. Earth – The Bees Made Honey In The Lion’s Skull
Dylan Carson membuat Earth di tahun 1989 dan konon dialah yang menciptagan genre drone metal. Dylan Carson juga adalah sahabat dekat Kurt Cobain (yang diminta oleh Kurt untuk membelikan shotgun). Album studio kelima ini band drone metal Amerika ini dirilis pada tahun 2008. Earth dikenal dengan pendekatan ultra-minimalis dan atmosferiknya di genre drone metal, menggabungkan elemen musik ambient, country dan folk ke dalam sound mereka. “The Bees Made Honey in the Lion’s Skull” sering dipuji karena soundscapes sinematiknyai. Album ini menampilkan perpaduan drone gitar yang heavy dan terdistorsi, melodi yang menghantui, dan riff-riff Spaghetti western yang gelap. Ya, kami tau album “Hex” adalah album terbaik mereka, tetapi “The Bees Made Honey in the Lion’s Skull” adalah favorit kami.

3. Lair of The Minotaur – The Ultimate Destroyer
Lair of the Minotaur adalah band sludge metal yang sedikit obscure. Mereka dikenal karena sound-nya yang agresif dan heavy, dan sering kali mengambil inspirasi dari tema mitologi dan fantasi ala Tolkien. Salah satu album terbaik mereka yang berjudul “The Ultimate Destroyer” dirilis pada tahun 2006. Album ini memiliki karakter sound yang raw dan intens, menampilkan riff yang keren, drumming yang epik, dan vokal parau khas dari Steven Rathbone. Liriknya sering kali mendalami tema kekerasan, peperangan, dan pertarungan mitologi kuno, yang mencerminkan estetika dan image band ini secara keseluruhan. Siapa sangka, elemen-elemen doom metal, sludge dan thrash bisa dileburkan menjadi “ramuan” yang menarik oleh Lair of the Minotaur di album ini.

4. Wolves in the Throne Room – Celestial Lineage
“Celestial Lineage” adalah album ketiga dari band black metal Amerika Wolves in the Throne Room. Album ini dirilis pada tahun 2011, sebuah follow-up setelah album mereka “Two Hunters” (2007) yang banyak mendapat pujian kritis. Mirip dengan karya mereka sebelumnya, “Celestial Lineage” dicirikan oleh pendekatan atmosferik dan inspirasi alam Wolves in the Throne Room terhadap black metal. Album ini menampilkan campuran elemen black metal yang agresif yang dikombinasikan dengan part-part ambient, melodi, field recordings dan tekstur yang atmosferik. Secara lirik, “Celestial Lineage” melanjutkan eksplorasi band ini terhadap tema-tema yang berkaitan dengan alam, spiritualitas, dan mistisisme. Judul albumnya sendiri menunjukkan adanya hubungan dengan alam surgawi atau alam eksistensi yang lebih tinggi. Album ini semakin memperkuat reputasi Wolves in the Throne Room sebagai salah satu band terkemuka dalam genre black metal atmosferik yang epik.

5. The Secret – Solve et Coagula
Apa yang terjadi jika Converge bertemu dengan Darkthrone? The Secret adalah jawabannya. Band Itali ini pun berkesempatan untuk merekam album epik ini dengan produser yang tidak lain adalah Kurt Ballou dari Converge.

6. Boris – Pink
Kekuatan Pink hadir dengan influence yang besar dari shoegaze. Dari mengawangnya track pembuka “Farewell” hingga reverb basah di lagu “My Machine”, band yang mengambil nama mereka dari lagu Melvins juga menyalurkan sound-sound ala post-rock seperti Mogwai atau This Will Destroy You. Pada album ke 10-nya ini Boris memberikan sensasi lain yang tidak terdapat di album-album mereka sebelumnya. Sound gloomy ini tentunya muncul dari direksi trio gitaris Wata, bassis Takeshi (dengan bassline stoner metal dan garage rock) dan drummer Atsuo yang mengerjakannya Pink dengan eksplorasi maksimal. Namun Pink masih menggunakan noise metal. Dari riff hard rock “Pseudo Bread” dan sound kotor di “Nothing Special”. Track penutup adalah lagu “Just Abandoned Myself” yang berdurasi hampir 20 menit diputar, noisy, tetapi berhasil menutup album dengan epik. Dan lagi, ini adalah band yang yang sangat prolifik: 29 album, puluhan single, EP, kompilasi & split album. Tetapi diantara masifnya rilisan mereka, “Pink” tetap menjadi album yang sangat stand out bagi kami.

7. Power Trip – Nightmare Logic
Mungkin ini adalah satu-satunya rilisan Southern Lord yang mendapat nominasi Grammy Awards. Ini adalah salah satu album thrash “klasik” di era kontemporer ini. “Nightmare Logic” adalah album kedua oleh band thrash metal crossover asla Amerika, Power Trip. Ddirilis pada tahun 2017 dan menerima pujian kritis yang luas, dan membawa Power Trip menjadi salah satu band thrash metal modern yang mencapai titik mainstream. “Nightmare Logic” dicirikan oleh sound yang agresif dan berenergi tinggi, mengambil pengaruh dari band thrash metal klasik sambil memasukkan elemen modern ke dalam musik mereka. Album ini menampilkan riff cepat yang berotot, dentuman drum, dan vokal yang intens, menciptakan pengalaman sonik yang raw dan intens. Secara lirik, “Nightmare Logic” mengeksplorasi tema kerusakan masyarakat, korupsi politik, dan tema-tema personal. Almarhum Riley Gale adalah seorang legenda.

8. Sunn O))) & Boris – Altar
Sebuah split album yang dibuat oleh pionir drone Sunn O))) dan band metal eksperimental asal Jepang tentunya tidak bisa dilewatkan begitu saja. Membayangkan 5 orang ini berada di satu studio untuk merekam lagu-lagu epik ini saja sudah membuat kami merinding. Yang menarik dari “Altar” adalah bagaimana output kolaborasi ini ternyata bisa lebih “aksesibel” jika dibandingkan rilisan-rilisan personal dari Sunn O))) dan Boris.

9. Black Breath – Sentenced To Life
“Sentenced to Life” melanjutkan pendekatan agresif dan intens Black Breath terhadap sludge metal, memadukan unsur-unsur punk hardcore dan death metal ke dalam sound mereka. Album ini menampilkan riff-riff yang dahsyat, drum yang epik, dan vokal yang raw dan parau, menciptakan pengalaman sonik dengan intensitas tanpa henti. Secara lirik, “Sentenced to Life” mengeksplorasi tema keputusasaan, pembusukan, dan nihilisme, yang mencerminkan sifat musik yang suram dan tanpa kompromi. “Sentenced to Life” memantapkan reputasi Black Breath sebagai salah satu band sludge metal modern yang patut diperhitungkan. Bahkan untuk kalian yang tidak menyukai sludge pun, album ini tergolong “catchy” dan sangat aksesibel.

10. Om – Pilgrimage
Om adalah band bass/drum duo yang unik, mereka memadukan elemen-elemen dari stoner rock, drone, pengaruh musik Timur, dan tentunya riff-riff Black Sabbath. Pada album ini, Om adalah Al Cisneros (Sleep, Asbestosdeath, Shrinebuilder) dan drummer multi-talenta Chris Hakius (Sleep, Asbestosdeath). Direkam oleh produser Steve Albini (Nirvana), tentunya Pilgrimage bukan sembarang album. Pada rilisan ini, mereka akhirnya menemukan bahwa distorsi juga dapat memiliki efek meditatif. Heavy rocker utama dalam album ini adalah “Bhima’s Theme” yang berdurasi 11 menit penuh dengan Riff berlumpur droning yang dipengaruhi oleh gaya timur, permainan drum yang berat dan tribal, dan vokal khas Cisneros yang melambung dan melengking.

 

Words by Aldy Kusumah

Goldie adalah seorang graffiti artist / writer yang akhir-akhir ini cukup aktif dalam berkarya dan berkolaborasi. Karakter-karakter dan style Goldie cukup unik sehingga krayanya mudah dikenal jika kita melihatnya di jalanan. Pada tanggal 2 Maret 2024 lalu Goldie baru saja menggelar solo exhibition di Fragment Project Bandung sebagai “Golden Summer”, dengan merilis berbagai merch dan juga live painting. Mari berbincang dengan Goldie mengenai album hip hop favoritnya, diteror aparat dan hobinya membawa mie kremes saat painting..

How do you get into graffiti? Pada awalnya lo terinspirasi dari mana untuk memulai writing?
Awal mula tau graffiti tahun 2014, sejak saat itu ga ada bakat sama sekali menggambar, karena saya sempat patah tulang dan gabisa kemana mana akhirnya mulai gambar gambar dan mencari tutorial di sosial media, sejak tahun itu sosial media yang dapat di akses hanya youtube karena belum begitu ngerti instagram, dari situ tau graffiti dan akhirnya terus ngulik graffiti hingga sekarang, dan mulai tau pelaku-pelaku graffiti yang akhirnya menjadi inspirasi saya didunia graffiti.

Berapa lama biasanya lo mengerjakan sebuah karya?
Tergantung gambar yang saya buat, biasanya saya sengaja jalan-jalan buat nandain lokasi mana aja yang akan saya gambar, jika keliatannya spot tersebut aman untuk digambar tanpa izin maka langsung di gambar, tetapi kalau tidak memungkinkan spot tersebut untuk di gambar biasanya saya minta izin kepada orang-orang terdekat di tempat itu. Kalo misalnya spot itu tanpa izin biasanya gambar buru-buru sekitar 1 jam an, kalau spot itu udah dapet izin biasanya nyantai bisa sampe 4/5 jam karena pasti sambil jajan hahaha..

Ini karya terlama saya “GOLDIE GURLS GANK” dikerjakan selama 2 hari karena proses gambarnya santai banget sambil kumpul bareng anak-anak luar kota lainnya.

Gue melihat karakter Kucing, perempuan dan babi di graffiti-graffiti karya lo. Bisa elaborasi dan ceritakan kepada pembaca mengenai karakter-karakter tersebut?
Latar belakang saya mengambil babi pada perjalan saya di graffiti sesederhana saya menyukai warna pink karena menurut saya pink identik dengan perempuan, dan seiring berjalannya waktu karakter saya berkembang menjadi seperti sekarang. Character itu terinspirasi dari character peri dalam cerita cerita fiksi yang memberikan banyak kejutan pada setiap kemunculannya. Hal itu didasari karena wawasan dan pandangan saya terhadap graffiti semakin berkembang banyak hal hal tak terduga di dalam aktivitas saya di graffiti, seperti ke gap waktu gambar dan bombing. Dan juga graffiti memberikan saya banyak peluang untuk bisa aktualisasikan diri saya didalam graffiti. Untuk perihal konsep dan style saya tidak membatasi ide yang saya luapkan dalam karya graffiti saya.

Bagaimana korelasi antara musik dan street art menurut lo? Apakah lo grow up mendengarkan hip hop juga? Kalau iya 5 album hip hop favorit lo apa aja dan kenapa?
Korelasi antara musik dan street art menurut saya sangat identik dari dulu, meskipun Graffiti indentik dengan musik hip hop. Tentu saja, setelah saya terjun ke dunia graffiti pun saya jadi menyukai musik hip hop, karena saya juga sering melihat video-video graffiti yang memakai musik musik hip hop.

5 album hiphop favorit saya
– The Low End Theory – A Tribe Called Quest
– ⁠The Grand Chase – Envy
– ⁠The Marshall Aathers LP2 – Eminem
– ⁠My Beautiful Dark Twisted Fantasy – Kanye west
– ⁠Blakumuh – Dekaden Lintas Dekade

Pernah berurusan dengan aparat saat sedang bombing? Atau apakah ada cerita unik/lucu pada saat sedang bombing?
Tentunya pernah. Banyak bgt kejadian unik lucu dan hal hal ga terduga lainnya waktu bombing, seperti teman ketinggalan, jatuh ke got, di teror DM-DM oleh pihak berwajib ataupun aparat aparat lainnya.

Writers tend to collaborate with other street-artist. Beberapa highlights kolaborasi lo dengan siapa saja? Bagaimana awalnya lo collab dengan orang-orang tersebut?
Tentunya dengan beberapa graffiti artist lainnya. Selain itu pernah juga berkolaborasi dengan Tuan 13 dan Yacko untuk mengerjakan project campaign bersama Diton King. Tetapi saya beberapa kali terlibat kolaborasi dengan beberapa band, diantaranya Hardik, Pretty Touch, History of Life, dan mungkin beberapa yang nanti saya kerjakan ada Honey dan Peach. Tentu genre musik ini memberikan tantangan bagi saya untuk mengerjakan proyek tersebut. Karena awalnya saya menyukai genre-genre band tersebut sehingga saya tertarik untuk mengerjakan proyek itu.

Equipment dan barang-barang esensial yang selalu lo bawa saat bombing apa saja?
Cat semprot, caps, jangan lupa yupi, coklat chic choc, susu Milo kaleng dan mie gemezz enak tentunyaa..

Fashion style lo cukup unik, dan lo juga kadang membuat konten untuk brand-brand tertentu. Brand-brand lokal dan luar apa saja yang menginspirasikan fashion lo?
Untuk fashion sebenarnya saya tidak terlalu mengambil inspirasi dari manapun, saya lebih suka memakai yang menurut saya nyaman dan bisa di mix and match dengan barang barang yang saya punya.

Bagaimana scene graffiti di Tasik?
Masih aktif dan berjalan cukup baik, namun untuk regenerasi sepertinya sekarang belum terlalu terlihat, mungkin ditahun ini atau beberapa tahun kemudian pelaku graffiti ditasikmalaya semakin menjamur, khususnya bagi pelaku graffiti
Perempuan di tasikmalaya.

5 rekomendasi kuliner Tasik favorit lo apa aja? 
Kalo kalian ke Tasik kalian wajib cobain makanan ini!!
1. Nasi tutug oncom
Kalo pagi nasi tutug oncom Benhil, kalo malem nasi tutug oncom pak Ubad (nasi to kumplitnya)
2. ⁠Nasi bakar Erdogan (Nasi bakar ayamnya)
3. ⁠Bakso Firman ( Bakso kumplitnya terbaaaaik)
4. ⁠Es campur bojong (escampur bojong duren)
5. ⁠Cemilan Bi Aam (kripik, usus & kentangnya terbaik)

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Goldie’s archives

Seorang ayah yang ingin memperbaiki hubungan dengan putrinya yang merasa terasingkan didunianya digambarkan oleh Nearcrush melalui videoklip Kelana Kirana. Lagu ini bercerita mengenai dinamika berkeluarga yang kadang terjadi miss komunikasi ataupun ketidak harmonisan hubungan antara orang tua dan anaknya.

Bila dari iriknya, pada dasarnya merupakan sebuah nasihat dari seorang ayah untuk putrinya. Video musik juga menceritakan kisah seorang ayah dan putrinya yang mencoba memperbaiki hubungan mereka yang tidak harmonis, menjadi semakin sulit seiring dengan pertumbuhan anaknya.

Malam menjadi katalis untuk membentuk hubungan dan menjadi keluarga yang utuh lagi. Pengalaman bersama merokok dan menyanyi karaoke memicu rekonsiliasi, menawarkan momen penyembuhan dari jarak diantara mereka.

Unit indie rock asal Bogor yang bernama Rrag ini sudah merilis 2 single (Pelikan, Violet), 1 maxi single (Bayang) dan 1 EP (Eter). Sambil menunggu mereka merampungkan debut albumnya yang sedang dibuat, mari berbincang dengan Arafat Zawaid (Vocal / Gitar), Dhi Adjeng W (Vocal / Bass),  Damas Hermansjah (Vocal / Gitar), Dwika Tiano (Acoustic Guitar) & Wili Benardo M (drum) mengenai dinamika musik di Rrag dan makanan khas Bogor favorit mereka..

Dibanding unit-unit indie rock Bogor lainnya seperti Texpack dan Swellow, Rrag lebih terasa sensibilitas pop nya. Apa yang membuat Rrag berbeda dari band-band indie rock lain menurut masing-masing personil?
Acil: Kalo menurut aku sih biar beda aja kali ya sama band indie rock temen-temen Bogor yang lain. Kebetulan yang keluar di kepala kami ketika di Rrag emang lebih banyak yang cenderung pop, terus dibiarin aja ngalir gitu sama barudak. Jadi sekalian aja gitu biar beda sama yang lain hehe..

Damas: Kalo menurut aku pribadi sih sebenarnya mungkin aku yang paling pop diantara temen-temen yang lain wkwkwk, jadinya ngalir dan yang sejujurnya kita bisa juga..

Acil: Iya yang lainnya mah sebenernya reggae a haha..

Dwika: Kalo dariku sih di antara kedua band tersebut, mungkin Rrag agak ada manis-manisnya sedikit wkwk.

Wili: Menurut diriku, dibanding Texpack dan Swellow, Rrag lebih sederhana mungkin ya..

Oh iya, masing-masing personil bisa mengenalkan diri terlebih dahulu? Lagi sibuk ngapain aja kalian dan apa makanan Bogor favorit masing-masing?
Acil: Aku Acil. Sehari-hari kerja jadi tukang cukur di Rumah Papas. Aku suka toge goreng Sering makannya yang di turunan mall btw, dekat stasiun, karene sering lewat situ aja. Itu enak aja sih buat aku mah haha!

Adjeng: Aku adjeng. Sehari hari ngurusin podcast orang lain aja, makanan favorit dari Bogor yang gak Bogor-Bogor amat Surabi Oncom Telur..

Damas: Halooo a salam kenal sebelumnya, aku Damas, sehari-hari lagi istirahat dulu baru resign dari BNI, makanan favorite Bogor itu laksa Gang Aut (gatau ini asli Bogor atau bukan) sama rekomen toge goreng di depan Ngesti deket Tugu Kujang enak.

Dwika: Dwika di sini, kegiatan biasanya sih jadi kru band. Makanan favoritku ayam D’besto yang di Ciomas, soalnya 24 jam dan lokasinya di sebrang komplek.

Wili: Saya Wili. Saya freelancer konten kreator dan video editor. Saya suka Doclang.

Lirik-lirik lagu kalian banyak menggunakan bahasa Indonesia. Kesulitan yang kalian temu dalam membuat lirik Indo vs lirik Inggris? Sebagian besar tema lagu kalian tentang apa sih?
Damas: Kalo untuk lirik kebanyakan emang dari Acil, tapi biasanya sih Acil selalu ngelempar ke kita buat sekiranya ada penambahan dari masing-masing.

Dwika: Betul, setuju sama jawaban Damas.

Acil: Kalo bahasa Inggris, emang kurang menguasai bahasanya hehe. Kalo bahasa Indonesia paling kesulitannya nyari diksi yang enak didengar aja. Sebagian besar lirik yang ditulis sih tangkapan beberapa momen atau pengalaman. Seringnya nulis karena hasrat pengen nulis yang tiba-tiba muncul aja ketika ada yang lewat di kepala.

Bagaimana kalian menentukan antara Adjeng atau Acil yang menyanyi di lagu-lagu tertentu?
Acil: Biasanya kami pas bikin lagu teh seketemunya gitu, terus abis itu dikira-kira aja sih, ini enakan Acil apa Adjeng yang nyanyi..

Damas: Kalo pandangan aku jujur lebih ke feel sama mood lagunya sih a, dan biasanya kalo chord dasarnya buat Acil ketinggian kita lempar ke Adjeng buat coba vocalnya.. Disesuaikan sih dan bahkan nanti pun suka ketemu “kayaknya enak dinyanyiin berdua sama mereka”..

Gue mendengar ada DNA The Cure, Dinosaur Jr. dan Teenage Fanclub di lagu-lagu kalian. Album indie rock terbaik menurut masing-masing personil apa? Dan kenapa?
Acil: Guided By Voices – Bee Thousand
The Breeders – Last Splash
3Ds – Hellzapoppin
Swervedriver – Ejector Seat Reservation
Alasannya sama. Semuanya bangor dan aku suka wkwk

Kalo di Indo aku suka banget Pure Saturday – Utopia, Kubik (Self Titled), sama Rumahsakit – Nol Derajat. Semua terdengar 90s, banyak lirik bahasa Indo-nya dan autentik buatku.
Adjeng: Kalo Acil suka yang bangor-bangor, kusuka yang lucu-lucu.
Aku suka Brittle Stars – Brittle Stars

Damas: Kalo aku Toddle band jepang, album “Dawn Praise the World” rilisan tahun 2007. Sukanya karna aku ngefans sama Hisako Tabuchi dari jaman dia di Number Girl karena dia keren bangeeeet, paling kalo yang sering di dengerin lagi itu project solonya James Iha (The Smashing Pumpkins) soalnya manis banget dia kalo bikin isian gitar…

Wili: Luar negerinya aku suka Eggstone album yang Somersault, ga tau sih sebenarnya mereka indie rock apa bukan, tapi materi-materinya enak didengar kapan aja. Kalo Indonesia aku suka Texpack EP mereka yang Courageous. Karena EP ini bikin aku pengen ngeband indierock-indierock-an..

Processed with VSCO with b1 preset

Di Twitter / X kalian menyebut “Confused Youth Music Group”. Apa yang selalu membuat kalian bingung? Dan kenapa memilih Rrag sebagai nama?
Acil: Yang membuat bingung teh kahirupan weh a haha bingung kudu kumaha. Bikin lagu juga bingung kudu kumaha da skillnya pada pas pasan (kecuali Damas dulunya pernah les wkwk). Kalo nama band, Adjeng sama Damas mungkin yang bisa jelasin karena aku sama Wili masuknya nyusul dikit, Dwika nyusul agak belakangan hehe..

Adjeng: Aku jawab yang kenapa memilih RRAG ya. Dulu sebelum formasi ber 5 seperti sekarang ini, RRAG itu ada 4 orang. Nah, singkat cerita nama RRAG itu inisial dari 4 orang ini. Ada Raditya (Damas), Rijki (Basis sebelumnya), Adjeng dan Ganang (drummer sebelumnya). Lalu Acil, Wili, dan Dwika melengkapi formasi yang sekarang ini..

Damas: Kayaknya kita semua emang suka bingungan aja gitu a, entah spontan dan enggaknya Rrag itu sebenarnya dulu singkatan nama personil sebelumnya, berjalan setelah formasi awal itu, sisa aku sama Adjeng. Akhirnya sekarang lengkap sama Acil, Wili dan Dwika… Kebetulan namanya keren jadi kita terusin…

Wili: Aku ama Acil dulunya lebih ke reggae a..

Acil: Ini mah beneran a. Dulu aku sama wili waktu SMA ngebandnya ska reggae wkwk

Apakah single kalian “Janari” diambil dari bahasa Sunda yang berarti “dini hari”? Tentang apa lagu itu? Siapa yang menulis nya?
Damas: Betuuuul, waktu dan tempat kami serahkan kepada Acil a..

Acil: Iya betul dari bahasa Sunda. Aku waktu itu nulis waktu momen pulang dari rumah temen jam 2 dini hari. Trus kepikiran, ini aku jam segini pulang (selesai beraktivitas, mau istirahat), sedangkan sebagian lain ada yang baru mulai beraktivitas. Waktu itu liat pedagang-pedagang sayur yang di pasar dan pedagang-pedagang lainnya..

Setelah 2 single (Pelikan, Violet), 1 maxi single (Bayang) dan 1 EP (Eter), apa rencana kalian selanjutnya? Apakah kalian akan menyatukan semua ini di satu album atau lebih memilih untuk membuat lagu-lagu baru?
Dwika: Kalo nyatuin semua yang udah dirilis jadi album sih enggak ya. Tapi sejauh ini kami sedang menggarap lagu-lagu baru yang selanjutnya akan dibikin album pertama bagi kami.

Dwika bergabung untuk mengisi departemen gitar akustik yang membuat sound Rrag jadi terdengar lebih unik dan penuh. Kenapa kalian memutuskan untuk menambah gitar akustik?

Acil: Soalnya Dwika keren haha. Dwika dari pertama Rrag manggung udah banyak terlibat sebenarnya, terutama di perihal teknis. Terus makin sini lagu yang kami bikin banyak yang direkam pake gitar akustik. Jadi sekalian aja kami tambah personil buat mainin gitar akustik, dan langsung kepikiran Dwika. Karena sebelumnya juga Dwika sering backup Adjeng kalo Adjeng lagi kerja. Kami rasa menyenangkan juga kalo bisa eksplorasi pake gitar akustik yang tentunya suaranya beda lagi sama gitar yang aku dan Damas mainin.

Pertanyaan terakhir: Hal paling unik yang harus ada di riders kalian kalau manggung apa aja?
Acil: Paling kalo ada konsumsi, kalo bisa request, kami request makanan yang ga ada daging/ayam/ikan, buat Wili.. Kalo bisa request aneh-aneh, mungkin Adjeng request seblak, aku request kora-kora..

Wili: Betul a, sebab aku tidak makan daging karena takut luntur kesaktiannya hahaha..

Dwika: Sebenernya gak ada yang unik sih, cuma paling air mineral aja saat on stage, soalnya pernah manggung gak ada air mineral asa siga jadi Oscar Oasis wkwk..