Jakarta Doodle Fest (JDF) adalah sebuah perayaan seni visual dan kekayaan intelektual di Indonesia yang akan digelar pada tanggal 27-29 Oktober 2023 di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Acara ini merupakan inisiatif dari TFR News, media online yang fokus pada industri kreatif, dengan tujuan untuk merayakan dan mengapresiasi seni visual, termasuk desain grafis, ilustrasi, dan animasi. JDF juga memberikan perhatian khusus pada hak kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki oleh banyak seniman dan ilustrator, yang sering berkolaborasi dengan brand lokal maupun internasional. JDF akan menjadi platform untuk mengenalkan karya-karya mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Dalam rangkaian acara JDF, tema yang berbeda akan ditekankan setiap harinya, mencakup desain grafis, ilustrasi, dan seni multidimensi. Acara ini akan dimeriahkan oleh anggota Board of Doodlers (BoD), sebuah komunitas seniman dan desainer terkemuka di berbagai bidang seni visual. Tujuan utama dari JDF adalah untuk membuka pemahaman tentang hak kekayaan intelektual dan mengenalkan karya seni kepada masyarakat umum, terutama bagi mereka yang bukan berasal dari industri kreatif.

Selain pameran seni, JDF juga menyelenggarakan berbagai acara terbuka untuk umum, termasuk art market, speaker sessions, workshop, dan performance. Pengunjung dapat menikmati berbagai karya seni dari seniman dan jenama terkenal di art market, serta mengikuti workshop dan speaker sessions dengan biaya terjangkau. Acara ini juga mengundang art enthusiasts dari berbagai latar belakang, dari mahasiswa hingga penggemar ilustrasi dan anime, untuk bersenang-senang dalam Karaoke Party dan Cosplay Party. Sebelum JDF digelar, TFR telah menyelenggarakan sejumlah pra-acara yang bertujuan untuk membangun kolaborasi dan saling pengenalan antara para kreator dalam industri seni visual di Indonesia.

United Hart atau UH! Adalah sebuah streetwear brand yang mempunyai koneksi erat dengan kultur skateboarding. Untuk merayakan International Skateboarding Day pada 21 Juni, mereka merilis sebuah video skate yang bertitel “Dialektika Eklektika”. Mereka sukses menggelar malam pemutaran Video Full Length Skate Pertama mereka bertajuk “DIALEKTIKA EKLEKTIKA”. Diluncurkan bersamaan dengan #HappyGoSkateboardingDay 21 Juni 2023, Screening ini berlokasi di #UHSTORE, Jl. Trunojoyo No.4 Bandung.

Proses pembuatan film skate-video adalah budaya asli skateboard yang sudah dilakukan dari dulu oleh brand-brand seperti Toy Machine, Girl, Birdhouse, Zero dan lain-lain, dan sering dianggap sebagai dedikasi dari brand dan para skater itu sendiri terhadap budaya tersebut. Pembuatan video berdurasi 11 menit ini membutuhkan waktu pembuatan selama 3 tahun. Video itu sendiri terdiri dari semua riders UH!: Indra Dom-dom, Acil, Lil’ Dez, Rifo, Leika dan Rifky. Difilmkan oleh berbagai filmer Bandung, dan diedit oleh Iyo dan Indra Saefur. Mereka menghadirkan pendekatan baru dari musik dan editing. Video berdurasi 11 menit ini dibuka oleh parts Indra Dom Dom yang bermain tricky dan “kreatif”. Noseslide shove-it out dan nose-manual flip out dia lakukan dengan smooth. Berikutnya adalah Lil Dez yang terlihat effortless melakukan 360 flip dan backside kickflip. Lalu ada Acil dengan boardslide yang epic. Leika adalah satu-satunya riders perempuan disini dan sepertinya dia yang paling ngebut. Parts Leika juga banyak bermain di bowl. Parts Rifo dan Rifky cukup menarik juga dengan spots di Taman Lalu Lintas dan Monumen Perjuangan Bandung yang cukup ikonik. Video ini ditutup oleh scene bails para riders dengan soundtrack dari “Surrender” dari Suicide.

Orang-orang yang datang dan penasaran untuk menyaksikan pemutarannya jauh di luar dugaan, mereka harus membuat beberapa grup untuk menonton videonya secara bergiliran, karena kapasitas ruangan tidak cukup untuk menampung semua penonton. Para skater Bandung dari berbagai generasi berkumpul, mulai dari kru OG STREET SPYDERS / TLL, TG, 18Park, Pasoepati, Taman Pramuka dan masih banyak lagi wajah-wajah baru yang bergabung dalam acara tersebut. Malam kemudian diakhiri dengan lagu-lagu vinyl dari Indra Dom-dom dan Mr.Dymz.

Text by Aldy Kusumah
Photos from UH!’s archives

PT Fuji Film Indonesia dan PT Blue Star Media (BSM Rental) berkolaborasi untuk meluncurkan lensa terbaru, HZK25-1000mm. Peluncuran ini diadakan di BSM Rental, Jakarta Selatan, dan dihadiri oleh para pelaku industri kreatif, termasuk videographer, photographer, director, dan content creator. Lensa HZK25-1000mm merupakan lensa pertama di dunia dan satu-satunya di Asia Tenggara yang mengusung konsep hybrid Cinema Broadcast Lens dengan mounting PL Mount. Keunikan ini membuat lensa ini cocok digunakan dalam berbagai situasi, seperti sinematografi, dokumentasi olahraga, festival, dan penyiaran. Lensa ini memiliki harga sekitar 2,4 miliar Rupiah dan dapat disewa melalui cabang BSM Rental dengan harga sekitar 16 juta Rupiah per hari. Tomi Defantri, pendiri PT Blue Star Media, menyatakan bahwa kerjasama ini bertujuan untuk mendukung para pelaku industri kreatif Indonesia dan berencana untuk membeli lensa HZK25-1000mm di masa depan.

Selain peluncuran lensa, acara ini juga bersamaan dengan acara rutin PT Blue Star Media, Crewcall, yang memungkinkan para pelaku industri kreatif berkumpul, berinteraksi, dan melakukan jaringan kerja. Semua tamu yang hadir juga mendapat kesempatan untuk mencoba beberapa produk dari BSM Rental, seperti Alexa Mini dan Sony Venice 2. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah dan doorprize serta mendapat respons positif dari tamu dan awak media yang menghadirinya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk, harga khusus, dan keuntungan lainnya, dapat diakses melalui akun Instagram @BSMRental. Dengan kolaborasi ini, PT Fuji Film Indonesia dan PT Blue Star Media berharap dapat terus mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia dan memberikan alat-alat berkualitas bagi para profesional di bidang ini.

Band pendatang baru asal Jakarta ini meleburkan karakter sonik dari beberapa genre berbeda, sebut saja post-punk, shoegaze, alt-rock dan death rock. Mungkin secara visual mereka terlihat seperti goth rockers, tetapi secara musik, mereka sangat versatile. Mari berbincang dengan Erlinda (vocal), Faizu (drums), Hara (bass) dan Elsha (keyboard / vocal) dan mengenai formasi tanpa gitaris, Sinjitos Collective dan anime favorit mereka..

Halo Retlehs. Sehat-sehat semua? Makan siang apa tadi?

Elsha: Halooo makan makanan 4 sehat 5 sempurna. yakni, karbo nasi, protein tahu dan ikan cakalang, juga serat sayur buncis dan susu UHT.

Hara: Hiii Jeurnals, sehat nih udah mulai biasa ama polusi, gue makan ayam Rocky lagi tadi hahaha..

Erlinda: Sehattt. Maksi ayam Sabana.

Faizu: Halo, Sehat kok , kebetulan siang ini saya makan deadline dari kantor yaa. Masih belum tau mau makan apa siang ini wkwk..

Kalian rilis EP Satyr’s Satire di tahun 2022 dan single 15:19 di 2023. Sedang sibuk ngerjain apa sekarang?
Hara: Kita lagi ngerjain EP lagi nih lanjutan dari Satyr’s Satire yang kemaren

Elsha: Pas EP ini aku baru masuk Retlehs.. Seru banget nimbrung ngide, jadilah produksi masak memasak musik.

Erlinda: Kalo saya sih sekalian sibuk bolak balik Bekasi-Jakarta yee hahahahaha

Faizu: Yess Hara sudah sangat mewakili.

Kalian mulai sebagai trio tanpa gitar, dan sekarang menambah personil baru Elsha pemain keyboard. Apakah kalian anti gitaris? Hahaha..

Hara: WKWKWKWKW bukan maksud hati begituuuu, cuman kan rata rata semua mau jadi gitaris yaaa?? Jadi emang kita buka lowongan buat yang mau isi ya isi gitu hahaha. Ini request gitarisnya sih.. Mungkin dia mau bebas, kita beradaptasi saja.

Erlinda: Lebih ke masih situationship kali ya? Belom official. Masih dalam tahap PDKT sama gitarisnya nich.

Elsha: Tapi ada kok gitarisnya.. Cuman open bagi yang “pengen info loker genjreng”. Kita open relationship sih sama gitarisnya.

Faizu: Wkwkwkwk sebenarnya kita ga anti gitaris, tapi circle kita kebanyakan gitaris. Jadi biar kita bisa merepotkan teman-teman gitaris kita yah kita sengaja untuk mengosongkan loker gitaris di Retlehs karena terkhusus gitaris sekarang kita masih di open relationship yaa, belum mau komitmen sama gitaris karena ada trauma wkwkwkwk..

Lalu yang mengisi gitar di lagu-lagu kalian siapa? Apakah part-part gitar di rekaman kalian gangbang atau gimana?

Hara: Wah rame ini mah.. Kalo ngebuat part sih ramean ya, cuman emang kalo yang mainin dan isi ramean. Base guitar chord-chord sih gue biasanya, sisanya baru ada namanya Upang, terus Raka sama Vio dari Pvlette dan lain-lain. Sisanya ide-ide bareng sih melodi bacot. Efek-efekan dan sound-sound pasti si Faiz. Nah kalo live yang main bareng terus ama kita namanya Upang. Kalo ibarat Nirvana mah doi Pat Smear.

Faizu: Yess saya suka konsep gangbang ini wkwkwk. Coba di jabarkan Hara.. yess betul skali untuk pelaku yang ngisi bunyi-bunyian gitar nama ke tiga ini yang pasti kita repotin.

Elsha: Outsourcing..


On a darker note, MV kalian yang “Blue” ada tema mengenai kekerasan anak ya? Sebenaranya lyrically “Blue” itu tentang apa saja? Apakah bisa elaborasi sedikit mengenai MV dan tema liriknya?

Hara: Untuk MV sendiri kita pake pengibaratan yang cukup literal ya, dari mulai si modelnya dan scene-scenenya juga. Dibantu sama temen-temen kita juga, ada Hamdy gitarisnya Ixia sebagai model, dan ada anaknya bung Beno dari Lalahuta. Untuk liriknya, sikat Ca (Erlinda)..

Elsha: Silahkan poet nya “Blue”..

Erlinda: Satyr’s satire ini kan ngangkat tema 7 deadly sins ya. “Blue” itu buat Lust. Awalnya gak kepikiran tuh mau nulis beginian, tapi kebetulan pas kita lagi mau bikin-bikinan, ada kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di pesantren. Dari situ gue langsung keinget film Spotlight yang bahas tentang kekerasan seksual anak di bawah umur juga tapi di gereja, yang kebetulan jauh lebih relatable sama gue yang Kristen. Malaikat-malaikat yang disebut di lagunya itu menggambarkan anak-anak kecil, covered in gold itu menggambarkan innocence. Turning blue = jadi biru = lebam/meninggal. The gods are hiding from us, ya bisa diartikan sendiri.. Untuk beberapa orang ngambilnya sebagai Tuhan sembunyi karena malu. Gue sih the gods are hiding from us karena gue kesel aja sih kenapa “yang di atas sana” ngebiarin hal-hal begitu terjadi Wkwkwkwkwkwk Biasalah, pemarah.

Masih membicarakan MV, 15:19 video klipnya ada scene yang mengingatkan saya ke film “Oldboy” nya Park Chan Wook dan beberapa film horror/thriller. Secara estetika visual dan storytelling, apa yang ingin kalian sajikan di MV ini?

Erlinda: Depression kills more than creepy ghosts in masks hahaha.. Tapi selain horornya ya Kita juga kasih kontras tuh di bagian yang dreamynya, Terang benderang di luar ruangan tapi cuman mimpi.. Karena apa? Lagi-lagi depression! Iyak Ahhh!! A ghost!! Sike it’s depression!

Hara: Yup emang sengaja kita mau bikin semi semi short movie horror gitu sih, main idenya dari Caca. Kalo visual emang agak retro Japanese horror gitu ga sih ya..
Faizu: Buat gue jawaban Hara sama Erlinda udah sangat mewakili yaa..

Elsha: Sama nich sudah diwakili Hara dan Caca..

Film-film horror favorit kalian berempat apa aja dan kenapa?

Elsha: Aduh bukan penggemar horror lagi… Tapi thriller/drama/crime boleh ga sih? A Clockwork Orange sih.. Kenapa? Ya karena potrayal characters nya. Kinda twisted, satire, secara general feeling creepy and eerie.. Dark undertones about morality..

Erlinda: Gw sih Autopsy of Jane Doe, Kalo thriller Old Boy. Old Boy thriller ga ya? Oh sama Paranormal Activity: Tokyo Night.

Faizu: Pengabdi Setan 1 & 2 gw suka. Paranormal Activity (2007) gw suka.

Hara: Gue kalo horror VVITCH, Hagazussa, terakhir Midsommar sih. Sama Pengabdi Setan 1. itu keren banget asli. Jalangkung dulu juga creep the shit out of me sih i likeee. Gue nonton Jalangkung 1 kan pas masih kecil yak, hampir mau kabur gue dari rumah saking ngerinya dulu tuh.

Gue juga sempat liat interview kalian yang membahas anime. Seberapa otaku kalian? The best anime versi masing-masing apa saja?

Hara: INI BARU PERTANYAAN RETLEHS HAHAHAHAAH! Anime kalo best of the best gue masih Nana sih, kedua Beck ketiga Soul Eater itu selalu jadi top 3 gue. Kalo game gue one and only Kingdom Hearts. Seberapa otaku??? Errr sebenernya ga segitunya sih cuman sering ke event jejepangan ama nongkrong di Toribar aja hahaha. Gue suka Jojo’s Bizarre Adventure tapi bukan best buat gue sih, Tapi Golden Wind sama Stone Ocean sih gue banget.

Elsha: Yaa gue penggemar dress up jadi cosplay juga (dengan jalur gabut karena corona) demen beberapa anime, juga self certified fujo. Anime nya suka Samurai Champloo, dan Cowboy Bebop karena musiknya dan aesthetic nya. Manga attention span saya jelek jadi bacanya yang pemuas hati fujoshi aja yaitu Given. Game juga karena strategi dan hand eye coordination saya yang jelek jadi Harvest Moon aja.

Faizu: Gue lagi Vinland Saga banget sih Season 1. Kalau game apa ya? Harvest Moon masuk ga sih? Wkwkwk Harvest Moon cukup menguras waktu masa kecil gue soalnya wkwkwk..

Erlinda: Gw ga wibu-wibu amat sebenernya tapi gw udh cosplay dari 2013 lah kira-kira. Itu seberapa otaku/weeb gw. Kalo manga Black Butler. Kalo anime Zankyou no Terror, Death Parade, sama Attack On Titan sih ya udah best. Vinland Saga bagus juga sih. Kalo game wibu kayanya gw OSU! deh.. WKWKWKWKWK Harvest makernya Jepang tapi kurang wibu.

Balik lagi ke miuzik. Kenapa memutuskan untuk masuk ke Sinjitos Records dan berkolaborasi sama Iyub sebagai produser? Awal histori nya gimana tuh sama Sinjitos?

Faizu: Awal mula gue pribadi emang dekat sama gitaris Lalahuta (Beno Louloulia) yang kebetulan emang Bung Beno ini A&R nya Sinjitos Collective saat itu dan sampai hari ini
terus lagu kita didengarkan ke Joseph Saryuf eh bapaknya suka sama band kita wkwk. Diajakin lah mau rilis di Sinjitos ga? Trus kita karena nothing to lose juga ya udah lah yuk kita rilis di Sinjitos. Ditambah kita tau nih Sinjitos jebolannya siapa aja dulu jadi ada kebanggaan juga lagu Retlehs disukai sama bapak Joseph Saryuf yang kita sudah tidak ragukan lagi doi punya selera musik ataupun lagu-lagu yang udah dia produce. Terus anak-anak pada mau, kita tanda tangan kontrak udah deh sampai hari ini jalan.

Kalau untuk mas Iyub sebagai producer musik nya Retlehs sebenarnya Mas Iyub ga terlalu nyemplung ke dalam proses pembuatan musik Retlehs dia bisa dibilang udah nyerahin ke kita. Biasanya kalau produksi udah final baru kita lempar materi ke bapak Joseph untuk proses mixing mastering biasanya doi suka nambahin bunyi-bunyian tuh. ini POV gue ya yg lain boleh tambahin.

Hara: Dari gue cukup sih ini.

Erlinda: Gw ga ada tambahan..

Pertanyaan terakhir: definisi Retlehs / shelter buat para personil apa?

Elsha: Maybe sounds cliche karena namanya aja shelter kan, tapi it is shelter for me as in media dan safe space untuk aku eksplorasi, beropini dan melakukan musik. Dimana lagi-lagi klise.. It was a long dead dream of mine untuk main musik. Semenjak masuk Retlehs, i got the best of both worlds, and i will cherish this and work hard for something worth paying for.

Hara: Kalo gue pribadi sih, Retlehs buat gue ya rumah, tempat gue istirahat, tempat gue pulang, tempat paling aman gue, that’s it.

Erlinda: Rumah, itu udah paling bener sih.

Faizu: Apa yuh pren? Sebenarnya Elsa dan Hara udah mewakili WKWKWKWKWKWK

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo cover by @falkafff & live by @rgn6foto

EASTHOOD, brand yang telah berdiri kokoh di kota Bandung sejak tahun 2002, baru-baru ini mengumumkan peluncuran koleksi terbarunya yang sangat dinantikan: Dystopian Discipline. Koleksi ini merupakan ekstensi dari koleksi sebelumnya, Boyz In Da Hood, dan menghadirkan semangat perjuangan dalam era yang mereka sebut sebagai era Distopia. Terinspirasi oleh ketahanan dan tekad di akhir era ini.

Dystopian Discipline menghadirkan berbagai produk seperti T-shirt, pullover, metal lighter, kaus kaki, shorts, pants, trucker hat, dan berbagai jenis tas. Setiap item dirancang dengan teliti dan menggunakan bahan premium untuk menjamin kenyamanan dan ketahanan.

Namun, Dystopian Discipline lebih dari sekadar koleksi fashion; ini adalah sebuah pengingat dan ajakan. Koleksi ini mengingatkan kita akan tantangan yang dihadapi oleh individu dalam kehidupan sehari-hari, dan merayakan ketekunan yang mendorong mereka untuk mengatasi ketakutan dan bersatu dalam perjuangan, dengan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik dapat dicapai. Koleksi ‘Dystopian Discipline’ tersedia untuk dibeli secara online di www.easthood.net dan Official Marketplace Easthood, serta dapat ditemukan secara langsung melalui Arena Experience di Jl. Ambon No.9, Bandung, 40115.

Aksara Records, label musik legendaris Indonesia, telah menggebrak kembali setelah tidur panjang selama 12 tahun. Mereka kini memulai babak baru dalam khasanah musik nasional dengan koleksi “2004-SKRG,” yang menghadirkan talenta-talenta baru seperti Bilal Indrajaya dan Kurosuke. Dalam koleksi ini, Bilal Indrajaya merayakan kesuksesan album “Nelangsa Pasar Turi,” sementara Kurosuke bersiap merilis album ketiga berjudul “Distant Memories”. Koleksi merchandise mereka juga memvisualisasikan semangat musik Jakarta melalui berbagai elemen, mengingatkan pada masa kejayaan musik pada tahun 2004. Dengan kembalinya Aksara Records, kita dapat mengharapkan kehadiran segar dalam dunia musik Indonesia, memadukan sejarah yang kaya dengan masa depan yang cerah.

Selain menggugah kenangan masa lalu dengan visualisasi raungan gitar Telecaster, vokal memikat, dan lagu ikonik seperti “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A,” koleksi merchandise ini juga memperkenalkan Bilal Indrajaya dan Kurosuke sebagai bagian penting dari Aksara Records.

Dengan koleksi “2004-SKRG,” Aksara Records tidak hanya menghadirkan kembali nostalgia, tetapi juga membawa semangat segar dan kejutan dengan talenta-talenta baru.

BrantaSepuluh Studio didirikan pada tanggal 8 Agustus 2022 oleh almarhum Remy Ramdhan: seorang musisi, music producer, arranger dan programmer, yang pernah mengerjakan beberapa recording project dengan Dewi Sandra, Sania, R42, RED, Denny Saba, Amalia, Denny Didan & Joeniar Arief. Selai itu Remy juga mengerjakan beberapa project scoring dan soundtrack untuk beberapa film layar lebar. Awalnya BrantaSepuluh studio hanya digunakan untuk keperluan pekerjaan almarhum dan latihan band kolega dekat saja. Setelah almarhum wafat dan sempat tutup sebulan lamanya, studio BrantaSepuluh kembali dibuka oleh istrinya, Lia Amalia. Diawali dengan rehearsal Yura Yunita untuk Pertunjukan Tutur Batin.

Kenyamanan rehearsal space ini sudah dipercaya oleh beberapa band seperti The Titans, The Groove, Five Minute, T- Five, Brown Sugar, Protonema, Yovie & Nuno, Yonago Trio Jazz , Fariz RM, P Project, Project Pop sampai Aura Kasih. Selain itu band-band dengan genre alternative dan electronic seperti Polyester Embassy, Nearcrush, Rub of Rub, Domestic Club dan Rock N Roll Mafia juga beberapakali berlatih disini. Kenyamanan, kebersihan, juga ruang studio yang luas dan suasana homey merupakan kelebihan dari studio BrantaSepuluh. Tata letak peralatan dan speaker monitor yang sudah diperhitungkan secara detail oleh Remy yang membuat vibes rehearsal di studio BrantaSepuluh menjadi serasa “manggung”, dengan ciri khasnya “memanjakan” para musisi dan vokalis yang berlatih disini. Selain rehearsal, studio BrantaSepuluh juga bisa digunakan untuk recording digital per track (tracking), live session recording multitrack dan keperluan shooting untuk konten live session band, photo session dan workshop.

Equipment di Studio ini juga cukup memadai dengan adanya ampli gitar Roland Jazz Chorus, Blackstar HT Stage MK II, ampli keyboard Roland KC600 dan ampli bass Bugera dengan head TC Electronic BQ500. Beberapa kelebihan studio ini menurut kami adalah space nya yang lumayan besar, sehingga cocok untuk menampung band dengan personil banyak dan instrumen yang lebih banyak. Tentunya dengan tersedianya toilet di dalam ruang studio, akan mengurangi traffic keluar masuk ruangan yang akan mengganggu latihan. Jangan takut kelaparan juga, karena ada beberapa pilihan snack, makanan instan dan lemari pendingin berisikan minuman segar disini. Poin plus lainnya tentu adalah parking space yang memadai dan lingkungan strategis dekat Cihapit. Segera coba sendiri studio ini and tell us what you think in the comments.

Pria yang dikenal sebagai vokalis D’Masiv ini sekarang aktif membuat konten di channel Youtubenya dan seringkali berbagi info mengenai passion-passion nya terhadap collectible items seperti vintage band T-Shirts, jersey Sepak Bola sampai vinyl-vinyl langka. D’Masiv pun bisa dibilang aktif kembali seperti puber kedua: rekaman di Abbey Road, lalu tour ke Amerika, Inggris sampai Eropa. Mereka collab dengan berbagai band independen seperti Perunggu, Pure Saturday, The Sigit dan Efek Rumah Kaca. Mari berbincang dengan Rian mengenai kecintaan nya terhadap kultur ‘90an, hunting kaos Bjork dan rela tidak makan seminggu biar bisa beli CD..

“Kita gak pernah nyangka ya sebuah band dari Gang kecil di Ciledug bisa bertahan 20 tahun, bisa bikin 7 album dan manggung keliling dunia, bahkan terakhir kita merekam lagu kita di Abbey Road London.”

Halo Mas Rian! Apa kabar? Lagi sibuk ngapain aja nih?
Halo baik. Sekarang lagi sibuk manggung dari festival ke festival. Terus persiapan September kita akan tour ke beberapa negara, kita akan berangkat ke Amerika untuk manggung di Times Square New York, lalu Philadelphia dan Los Angeles. Oktober kita berangkat lagi ke Inggris untuk main di Manchester dan Liverpool, lalu lanjut ke Eropa untuk main di Belanda, Jerman dan Austria. Lalu mempersiapkan materi album ke 8 yang mungkin akan kita rilis di tahun depan.

Dengar-dengar suka koleksi barang hobby yang berbau vintage ya Mas? Gimana tuh hobby mulai nya?
Kalau ngomongin vintage memang selalu suka dengan barang-barang hobby yang berbau vintage. Seperti rilisan fisik kaya kaset dan piringan hitam. Gitar-gitar juga banyak yang vintage, bahkan audio seperti speaker, ampli, turntable, tape deck dan CD player vintage semua. Semua itu saling terkait karena musik itu pasti gak jauh-jauh dari rilisan fisik, T-Shirt band dan merchandise. Intinya sih apa yang dikoleksi tuh lebih mewakili perjalanan waktu kecil sih.. Dan jaman sekarang karena mungkin sudah punya kemampuan untuk membeli dan mengoleksi.. Jadi akhirnya lebih fokus ke hal-hal yang dulu sering dilihat atau didengar waktu kecil..


Top 6 kaos musik lokal & luar favorit Mas Rian apa saja? Bisa elaborasi sedikit mengenai kaos-kaos tersebut?
Kalau luar yang mungkin punya cerita itu kaos nya The Sundays, band dream pop asal Inggris. Mereka adalah salah satu band yang dikenalkan sama istri saat itu, dan saya dan istri semakin yakin kalau dia itu pasangan saya pas dia ngasih rekomendasi The Sundays. Lalu T-Shirt Electric Light Orchestra tahun 1977, band asal Birmingham yang dulu sering didengerin bokap waktu saya kecil, lagunya “Mr. Blue Sky”. Gue sempet nonton Jeff Lynne waktu ke London dan akhirnya mendapatkan tanda tangan dan pick gitar ELO. Dia sempat mengomentari kaos ELO yang gue pakai soalnya itu T-Shirt dia dari tahun 70an. Satu lagu T-Shirt The Smashing Pumpkins yang kover album “Siamese Dream”. Salah satu album Smashing yang iconic dan membekas buat gue. Entah kenapa gue selalu suka kover album yang ada anak kecilnya, entah kenapa selalu jadi album-album yang everlasting.

Kalau yang lokal mungkin Guruh Gypsy. Ini adalah salah satu T-Shirt yang iconic karena ada tulisan sansekerta atau apa, unik lah pokoknya. Musiknya kan psychedelic dan ada world musicnya, salah satu album yang magis, almarhum Chrisye main bass disini dan mas Guruh Soekarnoputra mengisi gamelan dan membuat lagunya. Yang kedua Chaseiro group vokal tahun ‘70an yang di era itu sudah banyak membuat lagu-lagu bernuansa funk/jazz mungkin kalau kata anak sekarang city pop ya. Gue kebetulan dapet T-Shirt nya tahun ‘81 dari personilnya langsung, jadi itu salah satu T-Shirt yang gue sayang. Satu lagi Godbless yang album “Semut Hitam”, salah satu album yang bokap sering dengerin dan membuat gue juga pengen jadi anak band pada saat itu.

“Tapi karena saling respect itulah kita bisa saling berkolaborasi, kita juga pernah collab dengan Fariz RM, Pure Saturday, The Sigit, Efek Rumah Kaca & Perunggu.”

Shout outs untuk toko-toko penjual kaos vintage, langganan Mas Rian dimana saja? Ada yang sampai cari ke Malaysia ya? Kaos apa yang paling susah didapatkan dan apa aja yang masih jadi wishlist?
Sebenarnya kalau di era 2009-2010 sering beli di Instagram nya @Nostalgeec , banyak koleksi dia itu dari indiepop sampai shoegaze dan britpop, banyak kaos-kaos yang jarang gue liat yang ada di toko dia tapi memang sekarang sudah mahal-mahal. Yang terbaru itu baru kemaren tuh mungkin @altr_store koleksi nya sih keren banget. Gue baru dateng ke opening nya kemaren, koleksi nya bagus-bagus tapi harga ya relatif lah karena memang sudah barang-barang langka. Kemarin sempat thrifting di Malaysia Johor Baru dan di Kuala Lumpur. Kalau yang paling enak tuh di Los Angeles, cuma sudah dikurasi. Sepanjang jalan Melrose isinya toko-toko vintage dan bikin pusing ya, selain bagus-bagus harganya mahal-mahal.

Kalau yang paling susah didapatkan mungkin Bjork “Post” yang longsleeve. Salah satu yang gue cari dari dulu dan baru kesampaian dapet kemarin. WIshlist banyak banget, sekarang lagi nyari Cocteau Twins “Four Calendar Cafe”, tapi yang berwarna bukan yang monokrom.

“Waktu SMP itu bahkan saya rela ga jajan dan lebih memilih untuk mintain makanan temen-temen biar uang jajan gue ga kepake dan bisa beli CD atau Kaset.”

Kalau berbicara mengenai vinyl, mulai kapan Mas Rian koleksi vinyl dan membeli sebuah turntable?
Nahh kalau ini sebenarnya meneruskan hobi gue dari SD yang udah ngumpulin kaset, SMP itu bahkan rela ga jajan dan lebih memilih untuk mintain makanan temen-temen biar uang jajan gue ga kepake. Setiap weekend gue pakai uang jajan gue untuk beli kaset-kaset di Taman Puring atau Aquarius Mahakam Jakarta. Sekarang keduanya sudah tutup dan banyak pedagang yang dulu dagang di Taman Puring pindah ke Blok M Square. Saat itu memang sudah pengen banget koleksi vinyl. Kalau album yang gue suka tuh biasanya punya berbagai format dari kaset, CD sampai piringan hitamnya. Mulai sekitar tahun 2010 pas udah punya penghasilan sendiri, lalu beli turntable, ampli dan speaker vintage. Pelan-pelan mulai mengoleksi album-album yang gue suka dari kecil, standar lah Beatles, ELO, Chicago, Koes Plus, Chrisye. Mulainya dari situ dulu..

Koleksi vinyl Mas Rian kalau boleh disebutkan ada berapa Mas? Hahaha.. Top 5 album yang wajib dimiliki vinylnya versi Mas Rian apa aja?
Sampai sekarang bisa dibilang udah keracunan dan addicted banget, sampai bingung ngitungnya mungkin di ruangan saya ada 2000an vinylnya. Terakhir ngitung sih segitu udah termasuk album-album lokal dan luar. Sekarang mulai membeli musisi-musisi dari Filipina dan Malaysia ternyata banyak yang keren dirilis di era ‘80an itu.

Top 5:
Badai Pasti Berlalu OST (1977): Ini peringkat pertama kali, tahun 1977. Diisi sura Chrisye, lagu diciptakan oleh Eros Djarot. Musiknya dibuat oleh om Yockie Suryo Prayogo. DIsitu ada 2 penyanyi Chrisye dan Tante Berlian Hutauruk.
Sheila Majid – Emosi (1986): Kalau gak salah ini album kedua. Dari kecil sampai sekarang gak pernah bosan karena ada lagu “Sinaran” dan “Antara Anyer dan Jakarta”.
Godbless – Huma Di Atas Bukit (1985): Kovernya itu kaya ilustrasi kartun dari Ahmad Albar, wajib dimiliki para kolektor.
Guruh Soearnoputre – Pagelaran Karya Cipta: Ada lagu-lagu yang bagus banget kaya “Melati Suci” terus “Cinta Indonesia” dan “Seni”. Bagus banget sih album ini.
D’Masiv – Time: Karena disini kita keluar dari zona nyaman dan memainkan musik yang bisa dibilnag gak biasa, ada nuansa city pop, indie pop dan RnB nya juga. Jadi cukup berani aja di album ini. Vinylnya wajib dipunya tuh karena artworknya lumayan nyeleneh juga, pertama kali kita bikin cover yang benar-benar pake sketch, biasanya band mainstream kan pake kover muka-muka gitu haha..

Jika berbicara mengenai D’Masiv, perubahan terbesar apa yang dialami D’Masiv sekarang? Setelah ngeband selama 20 tahun, apa sih bedanya ngeband pas awal-awal dulu dengan D’Masiv yang sekarang?
Perubahan terbesar sih yang pasti kita gak pernah nyangka ya sebuah band dari Gang Ciledug, Gang Kamboja, mungkin di jaman itu orang gak akan nyangka band dari sebuah gang kecil bisa bertahan 20 tahun, bisa bikin 7 album dan manggung keliling dunia, bahkan terakhir kita merekam lagu kita di Abbey Road London. Kita bisa manggung di negara-negara yang gak pernah kita bayangkan dulu. Sekarang semua itu bisa kita rasakan. Yang bikin kita kaget sih sebenarnya band ini bukan hanya sebuah band tapi menjadi tempat bernaung untuk banyak orang mendapatkan rejeki, untuk crew-crew, staff dan karyawan kita. Kita bertransformasi dari band 17 Agustusan dan bisa jadi tempat bernaung untuk banyak orang.

Kita mungkin umurnya sudah 20 tahun tapi selalu merasa seperti band baru terus ya. Bahkan desire bermusik kita berkali-kali lipat, dan gairahnya itu gak habis-habis ya. Malah pengen explore dan bikin sesuatu yang out of the box. Seperti kemarin konser 20 tahun dan berkolaborasi dengan band-band sidestream dan cross sekali dengan genre D’Masiv. Tapi karena saling respect itulah kita bisa saling berkolaborasi, kita juga pernah collab dengan Pure Saturday, The Sigit, Efek Rumah Kaca. Dan kita juga sempat mengajak beberapa musisi indie label. Beberapa waktu lalu sempat ramai tentang major vs indie. Tapi buat kita major dan indie itu bukan sesuatu hal yang perlu diperdebatkan dan buat kita musik adalah musik, dan kita bisa berkolaborasi dengan siapapun.

D’Masiv sudah berkolaborasi dengan Fariz RM, Fiersa Besari sampai Perunggu. Kenapa memilih para kolaborator tersebut? Ada keinginan untuk kolaborasi dengan siapa lagi yang belum terwujudkan?
Seperti yang tadi gue sampaikan ya, buat kita musik itu bisa menjadi alat komunikasi yang baik, termasuk dengan musisi-musisi yang lain. Jadi ketika sudah menaruh respect maka sekat sudah tidak ada, mau genre apapun itu bukan masalah. Kita bisa berkolaborasi dengan siapapun ketika kita semua saling respect. Seperti om Fariz mungkin sudah menjadi pahlawan para musisi Indonesia. Fiersa Besari juga salah satu muissi yang punya pergereakan tidak biasa. Perunggu juga punya semangat yang berbeda ya, mereka seperti bermusik tanpa nothing to lose, tanpa berkespektasi tinggi tapi karyanya bisa menyentuh banya orang.

Pengen nya sih kolaborasi sama band yang agak nyeleneh yah. Mungkin sama band punk mungkin, D’Masiv kolaborasi sama Dongker mungkin seru juga ya hahaha. Yang belum kesampaian sih sama Koil, padahal sering kabar-kabarana sama kang Otong tapi belum sempat kolaborasi di panggung. Pengen sama White Chorus kali ya? Seru juga kali ya kalau D’Masiv bisa kolaborasi sama White Chorus. Karena dia musiknya elektronik gitu, sempat beberapa kali menonton mereka, kayaknya akan ada warna baru kalau berkolaborasi.

5 lagu yang merubah hidup mas Rian apa saja?
Sudah pasti Chrisye yang berjudul “Sabda Alam”. Itu adalah salah satu lagu puitis dengan lirik indah dan juga notasi yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri mungkin lagunya Sheila on 7 yang “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”. Dulu nyokap tuh sering bilang pas gue kecil. Mamah sering bilang suara gue kaya Duta kalau nyanyi lagu ini. The Beatles yang “The Long And Winding Road”. Lagu ini bisa membuat gue merenung dan meneteskan air mata kalau sedang di perjalanan jauh. Boleh ya lagu D’Masiv ya? Hahaha. “Jangan Menyerah”. Lagu itu gue tulis ketika berada di kondisi yang sangat sulit pada saat itu, tapi ternyata banyak orang-orang yang mungkin lebih sulit beban hidupnya dari gue pada saat itu dan mereka bisa lebih mensyukuri hidupnya. Lagu itu masih menjadi penyemangat gue dalam kondisi apapun, terutama saat lagi capek dan banyak pikiran. Terakhir mungkin Koes Plus “Bunga Di Tepi Jalan”, salah satu lagu yang indah dan ternyata makna nya sangat dalam ya, sampai saat ini gak pernah bosan gue dengerin sih.

Pertanyaan terakhir: Seperti mas Rian sedang asik ngulik dan membuat konten di Youtube ya? Apa aja sih hal yang membuat mas Rian terjun juga jadi content creator? Apakah sekedar sharing soal passion aja, just for fun atau channel ini nanti mau dibawa ke arah yang lebih serius?
Baru mulai punya channel Youtube sekitar tahun 2018 atau 2019, awalnya cuma mendokumentasikan beberapa kegiatan aja sih. Cuma ternyata ada beberapa konten yang views nya banyak terutama kalau konten bola ata ngobrol. Sebenarnya bukan content creator, ya tapi dari dulu juga kita udah jadi content creator kan sebagai musisi ya konten nya adalah lagunya. Cuma memang kalau di Youtube itu gue sendiri lebih ke pendokumentasian pribadi aja sih, jadi apa yang kita lakukan itu terekam dan semua bisa kita kenang 10 atau 20 tahun lagu.

Kalau ngomongin cari uang di Youtube nggak juga sih, walaupun ada endorse-endorse yang masuk ke Youtube gue, cuma gue lebih mengaktifkan lagi konten-konten gue di Youtube yang membahas T-Shirt band atau jersey. Dan pengen aktifkan lagi podcast gue yang isinya gue ngobrol sama musisi atau pemain bola. Ternyata banyak yang suka ketika gue ngobrol dengan musisi lain. Atau membahas hobby. Intinya sih kalau mau dibawa serius atau engga ya ngalir aja. Tapi lebih ke pendokumentasian aja, tapi konten hobby dan podcast (The Rep Show) itu biar orang ga boring aja nonton nya. Gitu sih..

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo by Rakasyah Reza

Sutradara langganan Studio A24 Ari Aster kembali ke layar lebar dengan salah satu aktor terbaik yang bekerja di industri sinema hari ini: Joaquin Phoenix. “Beau is Afraid” dari awal hingga akhir berkisah tentang perjalanan panjang yang melelahkan dari seorang pria yang gelisah dalam upayanya untuk mengunjungi ibunya. Joaquin selalu memilih peran karakter yang sangat abstrak dan kompleks, dan Joaquin tampil prima di semua film yang dia perankan. Film ini terlihat seperti mimpi dari POV penonton. Sebuah pengalaman sinematik yang berani, luar biasa, dan bahkan menyesakkan bagi pemirsanya.


Di permukaan, terlihat elemen-elemen tema black comedy dengan nada melodramatis. Itu dibuat dengan cermat oleh Ari Aster dalam 3 jam, untuk membuatnya terasa lebih kaya dan lebih detail. “Beau Is Afraid” memiliki anggaran yang lebih besar dibanding 2 karya Ari Aster sebelumnya: “Hereditary” dan “Midsommar”. Dan itu sangat membantu dalam produksi dan visual dari skenario aneh di “Beau Is Afraid”. Overall, “Beau Is Afraid” adalah film Aster yang paling ambisius hingga saat ini. Meski bukan horor yang mentah dan eksperimental, namun film ini tetap menghadirkan pengalaman dan perasaan tak terlupakan yang kerap dirindukan dalam film-film arthouse belakangan ini.

Saya senang untuk mengatakan bahwa saya sangat terpesona dan puas dengan film terbaru dari studio A24 ini . Entah itu logika mimpi, atau logika mimpi buruk yang hadir. Saya merasakan kehadirannya dengan baik setelah runtime film. “Beau Is Afraid” akan menjadi film yang mempolarisasi banyak orang, either you love it or you will hate it. Tetapi Ari Aster selalu memiliki suara yang unik. Mudah-mudahan Ari Aster tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri untuk film-film selanjutnya, karena sejauh ini, konsep-konsep auteur ini selalu on point. Dalam hal plot, saya akan mendeskripsikan film ini dengan “Kafkaesque”. Penonton akan menemukan diri mereka bertanya apakah film ini didasarkan pada fantasi atau kenyataan atau apakah dimaksudkan sebagai garis tipis antara dua ekstrem di mana mimpi dan kehidupan nyata bergabung dan bercampur. Film serupa yang muncul di benak setelah direnungkan adalah Brazil(1985), Paprika (2009) dan The Truman Show(1997).

Text by Aldy Kusumah

Dua band dengan generasi berbeda, Koil dan .Feast, telah bergabung dalam proyek kolaborasi dengan merilis ‘Tarian Penghancur Dunia Fantasi’. Dalam proyek ini, keduanya saling bertukar lagu, dengan Koil merekonstruksi lagu terkenal .Feast yang berjudul “Tarian Penghancur Raya”, sementara .Feast menggubah ulang lagu ikonik milik Koil, “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”. Tema utama dari proyek ini adalah tingkah laku manusia yang tamak, di mana “Tarian Penghancur Raya” berfokus pada hubungan manusia dengan lingkungan, sementara “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” membahas pertanyaan manusia terhadap negara yang mereka tinggali.

Kedua lagu ini mengalami transformasi yang luar biasa, dengan Koil menghadirkan perluasan emosi dalam “Tarian Penghancur Raya” dengan sentuhan musik rock pada era-nya Koil, sedangkan .Feast memberikan versi yang lebih tajam dan modern dari “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi”. Perilisan split single ini menandai awal dari proyek musikal yang lebih besar dari Koil dan .Feast, yang akan menghadirkan sebuah single bersama yang masih dirahasiakan. Kolaborasi ini dianggap sebagai angin segar dan pencapaian penting dalam sejarah musik Indonesia, dengan Koil mewakili era keemasan mereka yang legendaris dan .Feast sebagai wajah baru dalam dunia rock masa kini. “Tarian Penghancur Dunia Fantasi” sudah dapat dinikmati secara digital melalui layanan streaming musik sejak Rabu, 20 September 2023.