Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill - Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa - IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira - Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke - Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth - Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy KusumahPhotos from Ideas Creative archives
Jika membicarakan PH yang fokus mengerjakan videoklip musik, mungkin hanya ada beberapa saja yang ada di benak kami. Tapi akhir-akhir ini, sebuah PH asal Bandung yang bernama Ideas Crtve terlihat sangat konsisten dalam mengerjakan beberapa videoklip band-band favorit kami, sebut saja: Burgerkill,Taring, Komunal, Jeruji sampai Collapse dan Sunbath. Mari berbincang dengan kedua founder Ideas Crtve, Vendrie Openk dan Aditya Muklis, mengenai beberapa videoklip yang mereka kerjakan dan 5 videoklip favorit mereka…
Sedang mengerjakan video klip siapa saja nih sekarang?
Terakhir sih Sunbath, Collapse, Burgerkill live session & dokumenter buat campaign ulang tahun salah satu clothing di Bandung. Dan ada juga band beraliran orkes Sunda gitu, hahaha…
Portofolio kalian sudah mengerjakan video apa saja?
Burgerkill, Taring, Kidsway, Komunal, Sunbath, Rounder (live session), Collapse, Haul, Risa Sarasvati, Lizzie, Jeruji (live session) dan beberapa band orkes gitu hehe..
Kenapa PH kalian menggunakan nama Ideas Creative dan Polar?
Jadi sebenernya Polar itu utamanya bergerak di dokumentasi wedding. Setelah itu kita membuat unit bisnis baru di bawah naungan Polar Group dengan cakupan bidang yang berbeda yaitu Ideas Creative sebagai production house. Berdiri sejak tahun 2016 sampai sekarang, dan kenapa Ideas Crtve yaaa itu karena asbun aja hahahaha..
Bisa ceritakan mengenai konsep video klip Sunbath & Collapse yang kalian garap?
Kalo untuk Sunbath lebih ke storytelling, dimana ada teenager lagi merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan mengundang Sunbath untuk jadi bintang tamu nya, tetapi ternyata Sunbath malah bikin rusuh acara sweet seventeen tersebut, dan endingnya si yang punya acara ultah menyesal mengundang Sunbath. Kalo Collapse sih dominan perform dan beberapa footage mengambil pakai kamera 360.
5 video klip favorit kalian?
Burgerkill – Paradoks Karena banyaknya melibatkan orang dan konsep dari almarhum pak Eben yang sangat menantang hahahaha..
Dua Lipa – IDGAF Karena dia memakai teknik mirror dan koreografinya keren.
Gojira – Amazon Ada sisipan visual traditional Brazil yang ditampilkan.
Stroke – Terror Belantara Karena videoklip band saya sendiri.
Behemoth – Bartzabel Kaya film horror dan lebih cinematic, dan saya suka BW nya..
Proses paling menyebalkan dalam membuat video klip?
Cuaca kalo sudah hujan di produksian outdoor bisa ganggu timeline. Dan kadang biasanya untuk story video clip pada saat kita present sudah lock oleh klien dan band, tiba-tiba di lapang berubah si story nya. Sisanya sih minor dan masih bisa diatasi.
Apa yang kalian tawarkan untuk konsep visual video klip Ideas Creative yang berbeda dari kebanyakan PH lain?
Kalau bahas visual dan konsep semua orang bisa bikin sesuai selera masing-masing , tapi point utama yang saya tawarkan adalah profesionalitas dalam bekerja bersama client dan team, karena komunikasi baik dan kekompakan adalah kunci. Yang terpenting tetap tanggung jawab penuh atas apa yang kita konsep, dan kepercayaan yang kita pegang untuk klien.
Bagaimana awal mula PH kalian terbentuk?
Awalnya balik lagi karena barudak, dipercayakan bikin videoclip, yaudah lanjut deh sampai sekarang haha. Dari situ kita seriusin sampe sekarang.
Band-band / artist siapa saja yang kalian tertarik untuk garap video klipnya?
Pengen nya mah Slank, legend!! Hahaha. Ya itu sih, pengen nya mah Slank, Iwan Fals, soalnya mereka favorit. Untuk sementara baru itu.
Pertanyaan terakhir: kejadian lucu, memalukan, mengerikan atau unik pada saat shooting?
Sunbath kan konsepnya ada party gitu lah Hahahahah.. Nah asisten director kita ikut juga mabok, hahaha. Tapi aman terkendali sih gada yang miss. Hahaha antik..
Instagram PH @ideas.crtve
Words by Aldy Kusumah Photos from Ideas Creative archives
Exsport adalah brand heritage yang sudah berdiri dari 1979 (bahkan sebelum Eiger) dan sekarang brand ini tampil lebih fresh dipandu oleh “nahkoda†barunya: Angel Lukito. Setelah lulus kuliah dari Seattle University, Angel Lukito mendapat “tugas†untuk me-rebranding Exsport agar lebih relevan. Dari pop-up store di Grammars, flagship storenya di Bandung yang terinspirasi arsitektur mid-century, sampai kolaborasi-kolaborasi unik dengan illustrator Phantasien, Seroja Bake dan permen Yupi, manuver Angel sudah terlihat lebih edgy dan terarah. Mari berbincang dengan Angel mengenai dituntut oleh perusahaan minyak, trend fashion gorpcore dan fase burnout yang dialaminya…
“Kita pengen mengingatkan orang-orang yang sudah dewasa pas lo kecil tuh lo bebas berekspresi dan tidak takut di judge saat jadi diri sendiri.â€
Halo Angel, Bisa ceritakan background lo dan proses awal lo gabung ke Exsport?
Halo namaku Angel, sekarang umurnya 25 tahun. Sekarang lagi sibuk mengembangkan brand Exsport. Hobinya jalan-jalan ke alam dan main sama doggy hehe. Gue dulu kuliah business finance di Seattle University, sebenarnya masih nyambung kuliahnya sama Exsport karena gue ngejalanin operasional dan branding jadi finance nya kepake banget.
Gue sekarang lebih fokus di product development, marketing, team sales, sama di merchandising. Balik ke Indo tahun 2019 gue masuk ke team finance di Eiger. Awal tahun 2020 bulan Februari dikasih kesempatan untuk mengembangkan brand Exsport. Exsport ini sebenarnya adalah mother brand dari Eiger. Exsport itu lahir tahun 1979, Eiger 1989 sepuluh tahun setelah Exsport. Sejujurnya setelah dikasih kesempatan aku gak terlalu mempertimbangkan good opportunity ini. Kayaknya seru, pas masuk langsung pandemi dan sales drop banget huhu..
Beberapa Kolaborasi Exsport selalu menarik: Phantasien, Seroja Bake dan permen Yupi. Gimana awalnya lo berkolaborasi dengan mereka? Ada cerita dibalik ketiga collab itu?
Memang awalnya kita yang approach duluan. Kalau dari Phantasien (Anindya Anugrah) memang Exsport pengen tap in dengan ilustrator perempuan. Anin itu dulu di hukum sebelum shifting mengejar ilustrator sebagai karir. Keberanian dia untuk berkarya berhubungan dengan Exsport yang mensupport self expression as a woman, dimana seorang perempuan itu bisa berekspresi dengan bebas dan authentic. Dan menurut gue hasil karya dia itu menarik banget. Pada saat itu kita mencoba mengeluarkan produk diluar kebiasaan kita: Tenda, poncho dan totebag.
Kalau sama Seroja Bake aku personally ngefans sama mereka. Awalnya tau dari Instagram dan mau beli hampers Natal buat teman-teman ku. Aku suka konsep strawberry jam mereka yang bekerja sama dengan petani yang memanfaatkan stroberi yang surplus. Bakery with a mission, keren! Kita kolab aktivasi 4 minggu aja sama mereka, kita bikin Exsport picnic collections, dan bikin menu bareng sama Seroja. Sampai food tasting juga. Kita bikin curry sando, sago yang dalamnya ada kelapa, coklat dan mint, dessert favorit aku, sama juice yang mirip es campur versi Seroja. Jadi yang beli Exsport dapet voucher untuk menu tersebut. Seru sih. Personally aku support misi nya Seroja dan emang enak makanan nya.
Kalau untuk Yupi sendiri kita menargetkan brand yang sudah dikenal secara nasional. Relevansi Yupi sama Exsport itu apa, kita adalah brand nostalgic dimana masa kecil kita memakai tas Exsport dan makan permen Yupi. Kita pengen mengingatkan orang-orang yang sudah dewasa pas lo kecil tuh lo bebas berekspresi dan tidak takut di judge, juga jadi diri sendiri. Se-simple itu sih. Produknya ada sling bags, backpacks, airpods pouch, dan iphone sling bag.
Dengan ada trend gorpcore (fashion hiking/camping) apakah Exsport sebagai brand outdoor akan meng-cater market tersebut?
Sebenarnya kita bisa dibilang lebih ke brand lifestyle bukan outdoor. Kita membagi activity brandnya jadi 3 sih: productive, active dan recreative. Jadi lebih ke hal-hal yang kita lakukan setiap hari seperti sekolah dan kerja (productive), active itu lebih ke olahraga dan recreative lebih ke hobby. Jadi trend outdoor itu masuk ke recreative sebenarnya. Kita secara tidak langsung mengadaptasinya dari style-style foto lookbook kita yang di alam, aktivitas alam dan kolab sama Anin Phantasien juga mengeluarkan tenda. Karena ada trend outdoor boom dimana orang-orang lebih senang berkegiatan di outdoor setelah pandemi. Kita mencoba tap-in disitu.
Kalau tidak salah dulu Exsport itu singkatan dari Exxon Sport ya dan sempat diganti singkatan nya? Apa makna dari nama Exsport tersebut sekarang?
Betul! Jadi dulu tuh nama kita sebelum Exsport itu adalah Exxon. Tahun 1983 dituntut sama oil company Exxon dari Amerika. Tapi kita ganti nama jadi Exsport yang artinya sesimpel Exxon dan sporty, gitu aja sih hahaha! Sebenarnya kalau gue sih ga berpatok di namanya yah. Eh btw banyak orang typo yang nulis Exsport ga pake “S†jadi kaya export-import hahaha. Cuma kita punya logotype dan logogram yang punya arti. Logo yang seperti bunga X itu ada artinya kak, yang pertama collaboration (huruf X), exploration dan chromosome X. Kalau chromosome XS itu kan perempuan, dan XY itu lelaki. Secara fitur dan ukuran tas memang fokus ke perempuan, tapi banyak juga kok laki-laki pake Exsport sekarang.
Bisa elaborasi sedikit konsep dibalik design interior flagship store ini?
Oke jadi untuk flagship ini konsepnya seperti semi exhibition, jadi kalau misalnya kakak masuk ke dalam ada banyak pegboard gitu, disitu juga ada semacam penjelasan produknya dan material-materialnya. Tapi tidak semua warna kita pajang, sisanya ada di lemari yang bisa dibuka untuk melihat warna lain. Jadi ada experience nya. Yang kedua tuh kita meng adaptasi arsitektur mid-century. Warna-warna kayunya tuh warna coklat tua, dimana sering ditemukan di arsitektur jaman mid century. Tapi dipadu juga sama DNA Exsport yang quirky. Dengan aksen warna-warna hijau, biru ditambah bentuk-bentuk yang organik. Di Yogya juga ada flagship kita. Ada juga di kota-kota lain di beberapa toko Eiger.
Pada tahun ‘90an gue cuma tau Exsport sebagai tas ransel sekolah. Tapi sekarang lo meng-elevate Exsport dengan banyak varian produk dan lebih colourful. Apa aja konsep yang lo terapkan pada rebranding yang berhasil ini?
Jadi pada saat rebranding memang cukup banyak effort yang dilakukan. Salah satunya dari value dan misi brand nya. Dari sisi product category sampai business modelnya. Jadi cukup holistik sih. Semua nya dirubah hahaha. Kita mencoba relevan dengan lifestyle anak muda sekarang. Gue juga personally suka sama brand-brand yang kita ajak kolaborasi. Gue suka misinya. Kaya misal kita pop-up di Grammars karena hampir tiap minggu gue ke Grammars. Jadi apa yang gue suka juga pada akhirnya dikembangkan jadi kolaborasi. Walaupun ga semua hal yang gue suka juga sih, tetap yang masih ada relevansinya.
Top 3 brand tas favorit lo yang cukup menginspirasi?
Gue suka Bimba Y Lola dia itu dari Spanyol, dia lebih ke high fashion. Secara design detail banget dan perpaduan warnanya menurut gue smart banget. Dia senang memberi aksen detail kecil yang membuat keseluruhan design jadi perfect. Edan pinter banget lu nambah warna kuning disini! Mereka tuh berhasil banget disitu. Baboon to the Moon brand dari US. Dia itu ga banyak varian cuma gue suka sama pemilihan warnanya. Dia mengeluarkan warna-warna yang orang lain ga punya. Mereka tuh edgy dan quirky banget. Keren menurut gue mereka tuh. Kalau Topo Design itu brand outdoor dari Denver Colorado. Dia secara fungsional bagus menurut gue. Detail-detail dan fungsinya cakep banget. Edan kepikiran banget cuttingnya. Lo juga lagi mengumpulkan tas-tas Exsport tahun ‘80an ya? Gimana tuh prosesnya terus output nya mau jadi apa?
Jadi gue ngumpulin karena penasaran dulu tuh Exsport kaya gimana. Itu tuh produk-produk 40 tahun yang lalu dan papa gak nyimpenin. Dia kaga nyimpenin. Gue sempat nemu di Carousell ada yang jual masih bagus. Durability dan kualitas Exsport itu adalah value utama kita. Jadi memang tas-tas yang berumur 40 tahunan yang gue dapet kondisinya masih bagus-bagus. Dan kita punya lifetime warranty. Kalau ada kerusakan di jahitan atau resletingnya bisa kita repair, tas Exsport dulu pun yang sebelum rebranding bisa kita repair. So far sih baru nemu dari saudara-saudara, Carousell dan teman-teman di Instagram. So far baru sekitar 10 yang terkumpul, susah bro nyarinya haha! Entah gue nanti mau bikin campaign atau gimana. Jadi sebenarnya 10 tas yang gue dapet ini yang benar-benar klasik dari tahun ‘80an.
Dalam menjalankan family business ini apa lo pernah merasa takut mengecewakan dan tidak sesuai dengan ekspektasi keluarga setelah diberi kepercayaan?
Jadi gue as a human being jujur sempat ngerasa takut mengecewakan. Takut tidak sesuai dengan ekspektasi. Jadinya gue kayak yang keras pada diri sendiri, padahal keluarga santai-santai aja. Karena gue terlalu keras pada diri sendiri jadinya gak “lepasâ€. Gue pada saat itu lulus kuliah 2019 langsung megang Exsport ini dengan pengalaman gue yang bisa dibilang ga ada lah. Pada saat itu masuk ke era pandemi dan langsung rebranding. Cukup menemukan banyak ups and downs hehe. Sempat kaya burn out banget juga. Gue ngerasa ya dalam hidup fase itu adalah fase terberat gue so far, gatau ya entar ada apa lagi. Itu salah satu momen yang cukup challenging. Tapi pada akhirnya gue dapat jawaban yang meringankan dan mindset langsung berubah. Suatu hari gue tiba-tiba nangis cukup kencang karena burn out. Udah gak bisa nahan. Karena memang gue tipe orang yang gak suka cerita masalah pekerjaan ke parents, jadi dihadapi sendiri. Ditanya akhirnya kenapa gue burn out. Gue nanya ke papah “Ekspektasi mu untuk Exsport itu apa?â€. Kata dia ekspektasi nya adalah agar brand ini tetap eksis dan gimana caranya brand ini bisa ngasih impact dan blessing sebesar-besarnya. Gue jadi ngerasa misi brand ini bukan cuma cuan aja, tapi impact apa yang kita bisa kasih. Dari situ terus berproses. Ternyata bukan cuma bisnis aja, it’s bigger than that.
Bagvs adalah nama panggilan Bagus Prayogo, DJ dan musisi elektronik asal Bandung, Indonesia. Seorang DJ yang lumayan sering muncul namanya di flyers party-party. Berbagai club dari Zodiac sampai Potato Head. Pernah residensi di Norrm Radio (Bandung, Indonesia) dan Noods Radio (Bristol, Inggris). Bagvs dengan cepat memantapkan dirinya ke poros budaya klub bawah tanah lokal. Mari berbincang dengan Bagvs mengenai me-remix lagu Senyawa, resep nasi goreng dan ekosistem kultur DJ-ing di Indonesia…
“DJ yang bagus versi gue itu yang milih lagunya enak aja sih, dan yang tau karakter dia itu gimana. Tapi gue suka DJ yang bisa mainin banyak genre tapi bisa nyambung.â€
Halo Bagvs! Bisa ceritakan sedikit tentang sedikit aktivitas lo sekarang?
Halo pembaca! Gue Bagvs, gue baru 3 minggu pindah ke Bali. Soalnya ada pekerjaan dari Potato Head, buat ngurusin Headstream, platform baru community radionya Potato Head. Sama jadi resident DJ di Potato Head juga sih. Kalau dulu mah sebenarnya cuma nge DJ di Zodiac Jakarta doang sih. Bukan resident DJ juga sih, cowok panggilan aja sih. Kalau dipanggil main, gak dipanggil gak main hahaha.. Naon deui.. Ga banyak tempat juga sih di Jakarta dan Bali tuh sebenarnya. Sekarang sih agak ngantor dari pagi sampai sore ke kantor ngurusin dan develop si Headstream aja sih, ngantornya di depan meja komputer dan meja DJ. Kalau pulang kantor ada slot DJ pulangnya langsung nge DJ. Sekarang baru itu aja sih masih nyari ritme juga sih di Bali..
Lo juga ada proyekan kuliner “Nasgero†yang lumayan hits kan di ibukota?
Jadi sebenarnya pas covid kemarin kita gak ada pemasukan karena ga ada event kan. 2019 si Gerry nawarin gue kerjaan di Potato Head untuk gantiin Indra basisnya Avhath yang keluar. Tapi ternyata covid dan shutdown 2 tahun. Lalu gue dan Gerry iseng bikin brand nasi goreng. Taunya lumayan rame jadi kita lanjutin aja. Tapi kita gak berhenti nge DJ. Sampai sekarang masih kita jalanin berdua cuma sekarang kita hire orang untuk jalanin operation nya di Jakarta.
DJ tiba-tiba bikin brand nasi goreng. Gimana ceritanya?
Sebenarnya itu nasi goreng yang sering dimakan di ruang keluarganya rumah Gerry sih. Trus biasalah ada ide-ide pas lagi bokek. Keidean aja untuk jualan nasi goreng. Pas lockdown daripada ngelamun yuk dagang aja, tiba-tiba Gerry nelpon yuk dagang nasi goreng aja. Outlet kita baru kita jalan 3 bulanan sih. Dulu sempat habis 150-250 porsi sehari pas lagi rame-ramenya. Cabang ada 3 di rumah Gerry (Cilandak), di Menteng dan di Adityawarman lagi mau bikin. Yang di Menteng kaya compound gitu, foodcourt masa kini lah ya hehe…
Agak unik ya Nasgero, pakai nasi basmati dan rempah-rempah infused kari ya?
Itu emang resep dari ibu Gerry. Keluarga Gerry itu dari Medan. Rata-rata masakan Sumatera itu kan ada ciri khas kari, infused China, India. Dari Aceh, sampai Bukit Tinggi rata-rata begitu. Dan memang pakai nasi basmati.
Lo pernah produce lagu sendiri ga?
Baru nyoba sih 2020 bikin 2 lagu. Ngetest aja sih. Kalau bikin lagu elektronik itu kayak gimana. Kompilasi Non-Archive pernah ikut yang labelnya si Agan. Terus ikutan remix lagu Senyawa untuk Disaster Records. Pernah rilis sendiri juga 2 lagu. Iseng aja bikin lagu dance music itu kayak gimana sih. Gitu aja sih awalnya penasaran hehe..
“Bukan resident DJ juga sih, cowok panggilan aja sih. Kalau dipanggil main, gak dipanggil gak main hahahaâ€
Kurasi musik setlist lo pas nge DJ sama untuk setiap event genrenya atau sikat-sikat aja?
Kadang-kadang gue sih suka kangen pas awal-awal gue nge DJ, kaya maen di manapun sikat-sikat aja. Sekarang lebih banyak pertimbangan lah, lebih ngeliat tempat, membaca crowd. Intinya jadi menyesuaikan dengan tempat, jam, dan konsep acara.
Gue penasaran sih kalau DJ bawa equipmentnya apa aja sih?
Kalau sekarang ya club standard CDJ udah ada, jadi yaudah gitu doang, bawa headphone dan playlist aja, kalau gue di USB. Aman sih bawa USB asal isinya jangan file-file corel dan excel ya, isinya harus lagu hahaha… Bodor teu bodor teu? Hahaha..
Menurut lo DJ yang bagus itu seperti apa? DJ yang bagus versi lo itu seperti apa?
Sebenarnya semua itu intertwined sih. Semua nyambung: secara teknis ngerti, ngemix jago, tau crowd, tau main dimana. Dan yang pasti para bookers juga harus tau sih DJ nya main apa. Jangan asal booking aja. Sering banget sekarang kadang banyak yang promotor party undang DJ tapi gatau DJ nya mainin apa. DJ yang bagus versi gue itu yang milih lagunya enak aja sih, dan yang tau karakter dia itu gimana. Tapi gue suka DJ yang bisa mainin banyak genre tapi bisa nyambung.
DJ-DJ lokal favorit lo siapa aja?
Joni. Gue suka DJ yang mainin berbagai genre. Dan kalau lo coming from hip hop background pasti kaya gitu. Digging terus dan disambung-sambungin macem-macem genre nyambung dia tuh.
Merdi Diskoria. Keren aja sih orangnya. Music wise diggingnya kesana-kemari, semua musik dia dengerin dan punya band juga dulu dia The Sweaters & Sugarstar. Merdi dan Aat gokil sih, terus sekarang mereka bikin Diskoria. Musik Indonesia yang nge-lead sekarang mereka itu orang yang tepat sih.
Dita. Dia resident DJ Potato Head, keren dia musiknya. Ada Kindergarchy. Agak obscure sih. Orang Indo tinggal di Singapura. Dia nge DJ pake plat, diggingnya serius. Rebbit juga keren sih walaupun gue belum pernah liat dia full-set. Mulai bermunculan talent-talent DJ cewek yang jarang diekspos di industri ini.
Bayu. Anak Bandung yang tinggal di Melbourne. Aktif juga di club scene Australia. Dia tuh bodo amat aja, sikat-sikat masang musik apa aja yang dia suka. Masih gengnya Merdi dan Joni juga. Set dia bagus tuh yang di Boiler Room Bali, ada di Youtube.
“Dulu pernah bikin party di Bandung, orang-orang udah pada dateng tapi listrik belum nyala, genset belum datang hahaha.â€
Ekosistem kultur DJ-ing / dance music menurut lo sudah terbentuk belum?
Kalau menurut gue, ekosistem ekonomi kultur DJ-ing di Indonesia itu belum terbentuk. Kalau lo mau ambil kerjaan sebagai full-time DJ yang paling relevan di Indonesia ya cuma di Bali menurut gue. Kota lain belum se-masif itu ekosistem, kultur dan industrinya. Disini itu masalahnya kekurangan club aja sih. Mungkin kalau Coliseum ada ruangan buat kita-kita bakal seru sih hahaha. Independen aja sih artistnya dibiarkan terserah mau ngapain, gak terlalu ngasih makan crowd sih. Baru Zodiac aja sih yang menurut gue seperti itu.
Ada cerita seru selama nge DJ?
Kebetulan belum ada sih yang unik dan seru, masih aman-aman aja sih haha. Paling kalau misalnya lagi nge DJ gue “too much†sampai gak bisa nge DJ lagi ga lucu kan? Hahaha.. Standar banget. Apa ya, dulu pernah bikin parti ama Ofri di Bandung, orang-orang udah pada dateng tapi listrik belum nyala, genset belum datang hahaha. Jadi deg-degan. Genset datang jam 10, jadi party cuma dari jam 10 sampai jam 1.
Serunya bikin-bikin party underground tuh apa ya, ya kita beda server aja sih sama klub-klub yang pakai nama DJ anu, female DJ. Yang gue liat anak-anak yang nge DJ di lingkungan gue tuh anak-anak yang main band juga, tongkrongan nya tuh pada bikin brand juga, ada ngapain juga. Kita ga nulis-nulis gender juga sih di flyers party.
Pertanyaan terakhir: Best afterhours joints sehabis pulang party? Hahaha… 1. Bakmi Alpino (Seberang Bakmi Tasik tapi lupa namanya LOL, Bandung) — Lebih enak dari Bakmi Tasik IMO hehe 2. Lontong Kari Dago (Depan Toko Sepeda & PHD, Bandung) — Enak banget deh pokoknya. Santen diatas jam 2 pagi haha 3. Dragon Flames (Jakarta) — Dim Sum nya oke lah ya, sama karena buka 24 jam 4. Nasi Jinggo Bu Sret Sret (Bali) — Best nasi jinggo favorit ane 5. Indomie Cikajang (Jakarta) — Hihihi.. Deket dari Zodiac ajaa sihh
Words & interview by Aldy Kusumah Photos taken from Bagvs’ archives
Baskara Rizqullah A.K.A. Basboi mungkin adalah anomali dalam kultur hip hop Indonesia: dia tidak berpakaian seperti rapper kebanyakan, dia lebih memilih untuk hang out bersama pemain band, dan dia terpapar oleh banyak referensi yang berada diluar kultur hip hop itu sendiri. Rapper & lyricist ini merantau dari Medan dan kuliah di UNPAD Jatinangor, dan kedua skena Medan dan Jatinangor ini pun mulai membuka wawasan bermusiknya. Mari berbincang dengan Basboi mengenai Tyler the Creator, album-album hardcore favoritnya dan culture flexing di social media.
“Selalu ada tempat spesial di hati gue untuk brand keren, punya identitas tapi price point sesuai harga kantong street. Ya streetwear. Relevan, hadir di masyarakat. Bukan jadi brand elitist yang cuma mampu dibeli oleh kalangan ekonomi tertentu dan jadinya gak relevan dan gak sustain.“
Album “Adulting for dummiesâ€, yang dirilis tahun 2021 lalu banyak mendapat respon positif. Kalau lo menempatkan diri lo sebagai kritikus musik, review dan kritik apa aja yang akan lo katakan untuk “Adulting for Dummiesâ€?
Wow.. Pertanyaannya bagus banget hahahahahaha. Kalau gue jadi kritikus musik yaa.. Sulit banget hahahahah! Kalau gue jadi kritikus musik yang ngereview “Adulting For Dummies†i would say: “antar track secara musik, dijahit dengan narasi, tapi tidak secara “soundâ€. Kalau saja secara sound bisa lebih runut seperti narasinya, akan buat album ini lebih kohesif lagi. Itu aja kali yaa.. Bingung hahahaha…
Apakah lo sudah puas dengan album itu secara musikal?
Cukup puas. Gue bisa mainin dan explore semua jenis sound yang gue suka dari ragam referensi yang gue suka. Yang mana kebanyakan malah bukan hip-hop. Dan gue mainin itu sesuka hati gue. Dengan hasil akhir yang bisa dengan pede gue bilang tercipta kesan soundnya “Basboi†banget.
Kita sempat melihat lo berfoto bareng sama Tyler di Paris. Seberapa besar pengaruh Tyler di musik dan diri lo dan apa pendapat lo tentang Tyler?
Besar banget ya bisa gue bilang. Secara musik dalam artian “sonic†sih enggak banyak. Gue suka dia bukan dari aspek musiknya sih yang paling besar. Yang paling besar itu mindset dan visual sih. Mindset dalam artian Tyler itu adalah figur musik/seni pertama yang gue liat ga bisa dikategorikan. Maverik dan unorthodox. Dia rap, Hip hop tapi doesn’t look like one & doesn’t really sounded like one. Yang bikin gue kecantol banget awalnya sama dia adalah pas gue nonton video live nya Trash Talk. Judulnya Trash Talk 119. Ada dia dong, dan itu bikin gue kaya “anjing gue mah bebas mau dengerin apa aja, mau form self expression gue kaya gimanaâ€. Biar kata hal-hal yang gue sukai ga ada korelasinya, gak nyambung, ato kontradiktif justru itu yang bikin gue otentik. Sama kaya dia jadi otentik. Gue ga harus ngikutin format populer dari suatu bidang, misal hiphop harus begitu looks dan referensinya.
Mungkin gue outputnya hip hop, tapi gue sendiri ga se hip hop itu. Growing up gue malah dengerin musik punk/hardcore dan kultur skateboarding. Pop easy listening kaya Dewa, Radja, Tipe-X juga gue suka sampai Jason Mraz. Disaat gue tidak mengikuti format populer dari suatu bentuk, gue malah bisa jadi otentik. Udah ga penting musik gue hip hop, rap, metal, ya musik gue musik Basboi aja. Dan gue dapet mindset itu dari Tyler. Tyler juga inspires gue untuk gak ngebatasin diri gue dalam 1 format. Gue bisa bikin apapun yang gue mau dengan karakter kuat yang gue punya. Baju kah, presenting kah, ngelawak kah, apapun itu. No wonder he named himself the creator. Not the rapper, the musician.
“Gue sebisa mungkin mengusahakan diri gue terpapar sama banyak referensi yang luas dan bagus-bagus ajaâ€
Fashion lo cukup standout diantara rapper lain. Siapa saja fashion role model lo? Dan mungkin bisa sebutkan top 5 brand lokal favorit lo?
Udah pasti Tyler itu salah satu fashion role model gue. Tapi sebenarnya gue lebih ke certain look, karena sebenarnya ga ada satu orang yang gue patok semua looksnya gue jadikan acuan. Terkadang orang yang kita gatau siapa nongol di explore IG oh nice nih looks nya juga bisa. Gue sebisa mungkin mengusahakan diri gue terpapar sama banyak referensi yang luas dan bagus-bagus aja tanpa mematok si A, si B si C untuk jadi patokan gue.
Kalau untuk brand-brand lokal favorit gue saat ini Pot Meets Pop, gue suka sama spirit dan attitude nya. Sekarang gue lebih suka lagi karena mereka lebih ke general fashion items dan gak terlalu denim-deniman, soalnya gue juga gak segitunya pakai denim, pegel pak. Elhaus gue suka banget cara mereka maneuver dari awalnya denim jadi yang seperti sekarang. Secara branding gue sangat appreciate mereka bisa sustain market mereka dan bisa nembus pasar luar. Price mereka pun wajar sesuai dengan value produknya. Lo dapet apa yang lo bayar, bukan overpriced bullshit. Based Club dong pastinya, gue udah beli dari dulu sebelum di support. Dari jaman gue kuliah jaman di Jatos. 2014-2015 belum banyak brand lokal yang estetika nya soft, kebanyakan yang hitam-hitam galak gitu kan. Selalu ada tempat spesial di hati gue untuk brand keren, punya identitas tapi price point sesuai harga kantong street. Ya streetwear. Relevan, hadir di masyarakat. Bukan jadi brand elitist yang cuma mampu dibeli oleh kalangan ekonomi tertentu dan jadinya gak relevan dan gak sustain. Jadi geek club yang gak relevan dan gak hadir di masyarakat. Gue suka banget Play With Pattero. Jarang ada yang sentuh area itu, sekarang udah banyak pakaian rajut cowok kue, tapi mereka salah satu yang thriving banget dari awal. Keliatan mereka bukan riding the trend knitwear. Banyak brand yang riding the wave knitwear untuk quick cash, dan bukan untuk sustainability dan longevity. Anjayy ngomong apa sih gue.. Terakhir Voted Socks. Bagus banget bahannya dan enak banget dipakai. Bukan soal tagline, atau branding personality nya. Cuma ini sih no bullshit buat gue, udah aja bagus produknya top banget. Fungsional.
Tadi lo bilang growing up banyak dengerin musik punk dan hardcore. Gateway lo ke musik hc/punk awalnya dari mana? Sekarang lagi suka album apa aja yang masih di ranah hc/punk?
Medan in general music scene sampai sekarang ga gede. Dulu ada dominasi hc/punk. Madafaka Records cukup mendominasi di Medan, talent nya banyak ada Martyr, No One Cares. Sampai tur asia tenggara mereka tuh. Gue juga bikin band namanya Mind War. Belum band punk nya. Sebagai orang yang suka musik, dulu sangat mudah untuk terseret ke arus itu. Kalau untuk sekarang yang gue suka si Turnstile “Glow On†udah pasti. Terus ada OVLOV yang “Buds†entah punk atau engga itu, bingung juga gue genre sekarang. Itu dua jadi heavy rotation kalau spesifik hc/punk. Yang dulu-dulu masih gue denger sampai sekarang itu “Nothing to Prove†H20 dan “Songs to Scream at the Sun†nya Have Heart. Masih sering gue puter tuh sampai sekarang.
“Adulthood di mata gue soal kompromi sih. Seberapa jauh lo mau kompromi untuk apa yang mau lo kejar. Karena orang dewasa harus tanggung jawab dan gak akan bisa kalau ga punya disiplin, komitmen dan etos kerja.â€
“Adulting For Dummies†adalah judul yang menarik untuk sebuah album. How’s life and adulthood di mata Basboi?
Thank you man. Life’s been very good. Gue manggung sana-sini, tawaran lagi oke. It’s been very good lah, relationship aman, hubungan sama orang tua, teman dan orang-orang yang gue sayangin aman. Sama rekan-rekan bisnis juga aman. Adulthood di mata gue soal kompromi sih. Seberapa jauh lo mau kompromi untuk apa yang mau lo kejar. Gue dulu pengan ada di posisi gue sekarang tapi bangun siang melulu. Effortnya cuma lempar-lempar lagu terus berharap suatu hari pecah. Gak punya etos kerja dan disiplin. Ngorbanin waktu main untuk kerja adalah kompromi yang harus gue lakuin. Ternyata dengan melakukan itu hidup gue jauh lebih nikmat walaupun terasa berat di awalnya. Kompromi, konsisten dan komitmen, jawabannya lumayan normatif dan klise, cuma untuk adulthood jawabanya ya buat gue cuma kompromi. Kalau self-discovery itu kan pre-adulthood kan ya. Karena orang dewasa harus tanggung jawab dan gak akan bisa kalau ga punya disiplin, komitmen dan etos kerja. Begitu bree…
Lo juga sempat berkolaborasi dengan Noni di lagu “WRITTENINTHESTARSâ€. Gimana background collab itu terjadi dan tentang apa sih tema lirik lagu-nya?
Collabnya beneran Noni ngontak gue dan nanyain mau ga? KAta gue kirimin aja. Gue ngerasa cocok banget sama musiknya. Noni kirim jam 4 sore jam 6 udah beres gue tulis verse gue. Kalau dari Noni sih ini lagu tentang seorang cowok yang mungkin crush-nya dia. Kenapa harus malu-malu, secara zodiak kita sudah cocok. Kalau verse gue karena gue ga terlalu percaya zodiak, gue seperti ga penting juga soal zodiak, karena kita yang menentukan what is written in the stars. Kalau memang kita saling effort, dan itu bakal terjadi terlepas dari apapun yang tertulis di langit, kita yang nentuin nasib kita. Seperti di lirik “Nasib kita di tangan kita behind the wheelâ€. Kalau menurut zodiak lo bakal jadi orang sukses tapi kerja lo leha-leha, lo bakal jadi ampas selamanya..
Bagaimana pendapat lo tentang flexing culture di social media?
Sah-sah aja ya, seru-seru aja asalkan lo juga pantas buat flexing. Sorry to say, kalau lo masih di tahap token listrik bunyi atau isi bensin cuma sanggup 100rb ga sanggup full tank, tapi lo flexing pake sepatu 6 juta lo tolol sih. Kalau mau flexing yang sabi lah kaya gue foto sama Tyler hahaha!
Gue suka orang flexing yang punya basis achievement. Mostly gue suka flexing yang berbentuk prestasi ya, bukan materi. Tapi ada juga terkadang pencapaian materi lo itu pencapaian prestasi seperti “ini mobil pertama gueâ€. Tapi kalau yang kaya pemaksaan, hidupnya sulit tapi pakai Carhartt atas-bawah, padahal makan aja sulit. Itu ga masuk ke flexing sih lebih ke tolol aja..
Scene musik Jatinangor pada saat lo dulu tinggal di sana seperti apa?
Waktu gue tinggal di sana dulu band punk banyak, dan band kampus yang variatif banyak. Ada Breh and the Bangsat, Alzheimer Grind, Oscar Lolang dengan folk yang bukan format populer. Ada band-band punk kampus yang absurd banget, ada The Panturas, si Gogon basisnya The Panturas juga punya band orkes komedi, tapi rap kayaknya cuma gue doang di Jatinangor, dan emang belum populer juga. Terlepas dari apapun, yang paling gue suka dari scene Jatinangor itu adalah mereka tetap support gue walaupun mereka gak ngerti musik gue. Jadi itu juga ngasah skill gue kaya bermusik ya bermusik aja. Secara natural gue juga nongkrongnya sama anak band. Dan gue juga lebih senang terasosiasi sama anak band dan musisi. Bukan cuma sekedar showmanship “ah ah, yeah yeahâ€. Dan gue jadi lebih bisa menghargai inklusivitas.
Top 5 Kuliner Medan favorit lo?
– Bihun Kari RM Tabona
– Mie Bangladesh Warkop AGEM Senyum Ketawa
– Kwetiau Akuang
– Dimsum Nelayan
– Srikaya Medan
Seberapa sulit menulis lirik Indonesia menurut lo?
Awalnya gue pikir sulit ternyata gak sulit sama sekali. Orang pikir susah karena gampang cringe. Ya emang lo nya aja nyembah bule. Lirik bule aja banyak banget yang cringe dan ketahuan gak sekolah. Karena kita udah kepatok standar bule jadinya gampang jijik sama lirik Indonesia. “Ihh alay, ihh katroâ€. Ga norak nyet, itu emang kita aja kaya gitu. AKan lebih mudah nulis lirik Indonesia kalau menurut gue dengan manner seperti lo biasa ngomong. Lirik gue ga pakai bahasa baku dan sastrais. Tapi gue lebih ke diksi-diksi dan pelafalan seperti gue ngomong Medan sehari-hari. Ya gue akhirnya menulis lagu dengan manner sehari-hari gue berbicara. Liat aja Slank ngomong sehari-hari gitu lirik nya gitu juga. Karena menurut gue itu bahasa ibu dan sudah pasti lebih mudah untuk kembali ke dasar dibanding menjadi yang lain, kalau menurut gue.
Track terakhir di album lo judulnya “Bismillahâ€. How religious have you gotten throughout the years while making music?
Not much ya bisa gue bilang hahaha. Religiously speaking, i’m just the same man as before. With all the flaws and law-breaking juga. Bismillah itu lebih ke berharap dan berdoa untuk apapun yang gue lakukan. Seperti orang kaya gue juga pantas untuk berdoa, memohon kelancaran dan meminta belas kasih Tuhan. Dan berbangga akan hubungan lo sama Tuhan itu gak harus setelah lo religius, jidat hitam dan celana ngatung. Atau dalam format terkesan religius dalam konteks budaya bebas lain. Sekotor-kotornya lo tuh berhak punya hubungan spesial dengan Tuhan lo. Gak harus jadi suci dulu. Mungkin secara religius not much, tapi secara spiritual gue lebih in tune aja with myself and with my creator. Juga dengan sesama. Habluminallah habluminannas. Yo’i.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos from Basboi’s IG & Archives
Hampir 2 dekade setelah ngeluarin EP Biara dalam format kaset di tahun 1999, Sieve “me-reissue†debut full album-nya yang berjudul sama. Dengan tambahan 4 unreleased tracks untuk melengkapi 4 lagu lain dari EP ikonik mereka itu. Album Biara ini dirilis ke di format CD oleh label Anoa Records. Dibentuk di tahun 1998, Sieve bisa dibilang merupakan salah satu band pionir di scene musik lokal, baik Bandung maupun Indonesia, yang bergenre goth rock/darkwave, bareng dengan unit-unit seangkatan lainnya seperti Getah, SEL, Koil, Kubik dan Silent Sun. Band ini dibentuk oleh keyboardist dan pemain synth band industrial SEL, Richard Riza dan Alexandra J. Wuisan, vokalis pertama Cherry Bombshell. Formasi mereka kemudian dilengkapi oleh Regina Rina yang bergabung jadi gitaris sekaligus backing vocal. Mari berbincang dengan Alex, Rina dan Riza mengenai rencana-rencana Sieve…
“Scene musik Bandung pada tahun ‘90an berwarna banget. Kita satu komunitas lah sama Puppen, Arian jaman dulu, hangout di Reverse milik Richard Mutter dulu. Disitu juga ada Helvi dan Didit (FFWD), Ketemu banyak anak-anak yang nongkrong disana. Kita sih dekat banget sama personil-personil Koil dan Kubik. Waktu di Saparua juga banyak anak-anak punk/hardcore kaya Burgerkill, band almarhum Eben. Kita gak bisa sebutin satu-satu karena banyak banget apalagi scene Ujungberung. Jadi cukup berwarna lah dan masing-masing saling support. It’s the golden days of musik bawah tanah saat itu.“
Halo Sieve! Apa kabar. Kemana saja selama 23 tahun ini dan apa yang memutuskan kalian untuk rekaman & aktif lagi? Alex: Halo, apakabar! Kalau gue sih terakhir sempat ngeband sama Ekyno (Gergasi Api), dan lagi prep juga untuk rilis album. Sisanya sih jadi ibu rumah tangga aja hahaha. Kenapa sih kita kembali lagi? Karena kita banyak banget hasrat untuk bermusik. Sayang kalau kita gak terusin. What do you want to do in your life? Kita ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya walaupun esensinya sama. Kita sudah cukup dewasa dan sudah tua juga ya haha.. We want to share our quintessential essence of Sieve, karena dulu kita masih meraba-raba, sekarang udah kita godok banget. So you can taste Sieve seperti apa dengan musik jaman sekarang, semoga gak ketinggalan zaman dan semoga menyuguhkan sesuatu yang baru.
Riza: Kalau gw sih kebetulan sibuk sama kehidupan pribadi dan kerjaan, sempat lama gak pernah nyentuh dunia musik ataupun kreatif. Sebetulnya kalau gw sih sekarang aktif lagi di musik itu karena suatu “kebetulan” saja. Untuk Sieve kebetulan aja teman-teman di sekitar kita banyak yang minta Sieve untuk rilis ulang dan kebetulan kesempatannya ada, jadi kita coba. Dan kebetulan juga gw lagi diminta bantuan sama beberapa teman untuk bikin lagu. Jadi pas banget waktunya untuk memulai Sieve dan coba rekaman lagi.
Rina: Seperti yang Sandra bilang tadi sama sih esensinya. Kita itu sebenarnya ga pernah bubar dan cuma vakum. Vakumnya memang keputus tiba-tiba, padahal sebenarnya masih banyak hal dan ide-ide yang bisa kita kerjain, sayang sih sebenarnya. Dengan kesibukan masing-masing ada anak dan keluarga semuanya jadi terlupakan. Sekarang karena momennya pas dan ada tawaran reissue awalnya dari Anoa, jadi kepikiran kenapa gak mulai lagi? Walaupun kita sibuk, ada waktu untuk berkarya lagi. Sekarang lebih matured lah kitanya juga.
Scene musik Bandung pada saat dulu Sieve merilis “Biara†di tahun 1999 seperti apa? Sepertinya kalian salah satu pionir goth rock / darkwave ya pada saat itu? Alex: Berwarna banget. Kita satu komunitas lah sama Puppen, Arian jaman dulu, hangout di Reverse milik Richard Mutter dulu. Disitu juga ada Helvi dan Didit (FFWD), anak-anak skateboard TL seperti Ekyno (Full of Hate/Plum), Maskom, dan Ketemu banyak anak-anak yang nongkrong disana, terutama yang ada di kompilasi “Masaindahbangetsekalipisanâ€.. Kita sih dekat banget sama personil-personil Koil dan Kubik. Sebelumnya gue di Cherry Bombshell jadi dekat sama komunitas 347 dirumahnya Ajo, anak-anak Itenas disitu. Kita sering juga manggung sama anak-anak Saparua, lalu kenal anak-anak Jakarta juga seperti anak-anak Stepforward seperti Ricky (Seringai) dan Jill, Wondergel, & Pestol Aer. Waktu di Saparua juga banyak anak-anak punk/hardcore kaya Burgerkill, almarhum Eben. Kita gak bisa sebutin satu-satu karena banyak banget apalagi scene Ujungberung. Jadi cukup berwarna lah dan masing-masing saling support. It’s the golden days of musik bawah tanah saat itu.
Saat itu terus terang kita gak mengarah ke genre tertentu dan yang pertama menyebut darkwave itu saya ingat si Arian. Dari wawancara majalah Trax kalau gak salah, Arian sedang mengulas tentang musik gothic di Indonesia. We just like those kinds of music at the moment, Riza dan Rina juga influencenya sintesis dari semua yang kita dengarkan saat itu. Jadi kita tahu darkwave itu dari Arian dan para pendengar.
Riza: Gw sih gak tau juga kalau kita disebut pionir goth…. Soalnya dulu pas bikin lagu gak mikir genre musik tertentu. Tapi kebetulan influence yang lagi kita dengar saat itu aja mungkin ada sedikit goth, dan pengaruh buku, film, musik yang kita dengerin saat itu aja mungkin ya. Kalau scene musik Bandung sendiri saat itu sih lebih banyak band indies ya… Seperti Pure Saturday, Kubik, Cherry Bombshell dan lain-lain. Disamping hardcore masih tetap berjaya juga meski sudah mulai stagnan. Tapi yang rada gelap memang gak terlalu banyak. Kubik sendiri saat itu mah lagunya masih ceria. Termasuk Koil juga masih grunge, Belum terlalu gelap..
Rina: Dulu itu pas jaman kita bikin EP “Biara†itu tuh memang anak-anak muda Bandung banyak yang lagi suka bermusik. Anak Bandung memang cenderung banyak yang saling kenal dan kompak. Jadi tiap band bergenre apapun kita main bareng dan memang jaman itu berwarna banget. Kita juga gak pernah peduli ke genre musiknya ya, hangout bareng aja. Untuk pelabelan musik goth, kita cuma bikin musik yang kita suka dan kita senang aja. Gak pernah kepikiran jadi gothic seperti yang orang bilang. Ya terserah orang sebutan nya apa.
Bisa ceritakan sedikit mengenai penggarapan dan konsep single “In the Shore of Madness� Riza: Awalnya karena kita ingin coba bikin-bikin materi baru, gw coba lah bikin beberapa sketsa, salah satunya cikal bakal “In the Shore of Madness†ini… Masih sketsa kasar terus gw kasih ke Sandra dan Rina, mereka ngembangin lagunya lebih lanjut. Untuk lirik dan vokal dibikin sama Sandra. Ada saat Rooftop ngebantu kita, sketsa dibantu dikembangin sama mereka dari sisi sound dan teknis. Mereka bantu kita produce, saling diskusi, dan ngembangin materinya. Kalau dari konsep sebetulnya gw sendiri awalnya gak matok untuk bikin aliran tertentu, semuanya mengalir. Malahan pada awalnya gw bikin sketsanya lebih ke arah elektronik. Pada pengembangan lanjutannya akhirnya berkembang dengan sentuhan-sentuhan rock. Semuanya gak direncanakan tapi ngalir aja sih dan kita juga malahan gak pengen bikin lagu gelap atau goth. Sebetulnya konsepnya mau bikin lagu pop aja.
Rina: Seperti yang RIza bilang ya. Kita gak mau bikin lagu seperti dulu yang dilabeli goth. Kita ingin lebih berwarna, berkembang dan mengikuti jaman, tetapi tetap dengan karakter kita. Ga kepatok genre tetapi lebih ke musik yang kita suka.
Alex: Kita diajak Aghi dan Kris dari Rooftopsound Records untuk kolaborasi. Mereka sebagai produser. Yang arrange musiknya si Aghi di studio yang dia pakai untuk scoring musik film. Yang membuat sketsa kasar awalnya Riza. Lalu gue isi melodi vokal. Peran Riza dalam membuat chords dan progresi lagu itu menurut gue jenius sih, sangat mudah untuk gue isi dan mengalir begitu saja, mudah dapet nada yang catchy. Lalu kita hearing session dan Aghi arrange lagi. Ada kendala sound pada alat musik jadi dibantu banyak sama Aghi. Rina juga menyumbangkan banyak ide-ide dan bagian musik mana yang harus dikembangkan, dan mana yang harus dimodifikasi. Kris juga mengarahkan. Liriknya terus terang terinspirasi dari puisi-puisi pendek yang gue tulis, mengenai progresi upward spiral dalam hidup kita. Ada hope dari chaos. Lagu ini sebetulnya hopeful sekali. Ketika sedang mengalami kesulitan dalam hidup, in the brink of madness, saya ingin menginkorporasikan semua itu di lirik lagu “In the Shore of Madnessâ€.
Masih ingat ga equipment yang kalian pakai pada saat menggarap EP “Biara†dan live pada saat tahun ‘90an-2000 awal apa saja? Rina: Ini Riza kayanya yang jawab detailnya, sampe dah lupa karena udah lama banget. Jaja juga lupa nih kayanya hahaha…
Alex: Ja lo pake protools atau apa tuh? Kalau gak salah ada keyboard Yamaha bokap gue yang lo pinjem. Yang pasti komputer semua di RIza deh.. Mastering, Mixing semua di RIza. Rina gue gatau pake gitar apa lupa. Mereka satu rumah sih.
RIza: Lupa-lupa inget gw. Tapi yang pasti mah DAW nya dulu masih Cool Edit Pro ya. Kalau gak salah. Atau masih manual pake Tascam/Fostex 4 track, keyboard sequencer Yamaha yang gw lupa tipenya. Tapi tipe biasa aja. Efek gitar Korg AX30g, gitar Epiphone dan Gibson. Udah itu aja sih dulu mah. Paling untuk sample manggung kita cuma pake kaset tape metal C90 di Fostex, terus sempet make Sony Minidisc untuk sample manggung. Itu juga sample manggung yang pake kaset tape mesti ganti tiap manggung karena selalu mulur pitanya, jadi berubah nada dasarnya hehe.
“Saat itu terus terang kita gak mengarah ke genre tertentu dan yang pertama menyebut darkwave itu saya ingat si Arian. Jadi kita tahu darkwave itu dari Arian dan para pendengar.“
Masing-masing personil bisa ceritakan sedikit mengenai proyek musikal kalian sebelum bergabung di Sieve? Alex: Gue di Cherry Bombshell formasi awal banget. Keluar dari Cherry Bombshell pernah diajak Adjie The Milo mengisi lagu di album pertama mereka (Let Me Begin, 2003). Gue isi vokal dan lirik di lagu “Sianida†dan “Yin’s Evolvingâ€.
Rina: Kalau gue sebelum Sieve masih kecil banget, belum punya proyek musikal. Umurnya jauh sama kakak-kakak Sandra dan RIza haha.. Jadi gue masih anak SMA aja, walaupun gue suka bermusik kaya main piano. Pas lulus SMA gue diajak mereka main band di Sieve.
Riza: Sebelum Sieve gw bikin SEL, sisanya sih paling awal-awal bantu Koil dikit. Kubik sempat bantuin manggung aja.. Cherry Bombshell juga sempet bantuin manggung. Kayanya itu aja sih dulu. Pernah mau bikin projek sama vokalis gw dulu, almarhum Ademus. Lagunya sedikit grunge. Tapi gak sempet dilanjut, udah ada 1 lagu tapi materi hilang dan Ademusnya keburu kabur ke surga..
Pada saat menggarap “Biaraâ€, masing-masing sedang mendengarkan album apa saja?
Alex: Pengaruh musik kita banyak, kita dengar macem-macem dari Curve, Tori Amos lah, kalau RIza mungkin Puscifer, NIN, ya kita juga dengerin itu. DIa juga dengerin metal lawas kaya Iron Maiden yang poster mahluk Eddienya ada di kamar dia gede banget hahaha. Kalau Cocteau Twins gue dengerin dari jaman Cherry Bombshell. Berwarna banget sih. Tapi kita paling anti copy-paste, jadi kita pengen semua inspirasi terkumpul menjadi sesuatu yang baru. Kita gak mau stuck di satu genre.
Inspirasi lain mungkin luas banget dari buku dan film. I’m into escapism. Buku atau film yang berbau supernatural atau fantasy seperti Lord of the RIngs, WIllow, Narnia, Labirin, Sandman.. Kita tuh seneng main games. Teori konspirasi seperti UFO, holy grai, histori Sumeria dan piramida juga kita bertiga suka banget.
Riza: Apa yah? Lupa gw. Nine Inch Nails mah udah pasti, Broken, Downward Spiral, Pretty Hate Machine. Terus Marilyn Manson juga pasti nya. Lagi ngumpulin vinyl nya, Antichrist Superstar, Mechanical Animal. Terus Ministry juga yang Twitch, Jesus Built my Hotrod, Mind is Terrible Thing to Taste. Indies juga sih. Kaya Lush dan Slowdive dan Manic Street Preachers. Dan Smashing Pumpkins. It’s a must sih itu. Alasannya… Gak ada alasan sih, suka aja. Gak tau kenapa hahaha…
Rina: Nah iya Slowdive dan Smashing tuh gw dulu. Gue juga lupa, tapi yang pasti pas lagi garap “Biara†gue lagi suka banget Tori Amos sama Curve. Dan sedikit Cocteau Twins dan NIN juga. Kalau film sih gue seneng banget film fantasy kaya Labirin yang ada David Bowie. Mungkin kebawa Sandra dan Riza juga sih karena dulu masih kecil jadi terinspirasi apa yang mereka suka.
Setelah single “In the Shore of Madness†rencana berikutnya apa saja nih? Apa ada rencana untuk membuat showcase dan pertunjukan live dekat-dekat ini? Riza: Live sih udah pasti. Tapi karena udah lama gak manggung jadi banyak persiapan yang mesti disiapin dari mulai personil, equipment itu sudah pasti. Dan juga settingan panggung dan sound juga mesti disiapin. Jadi kita lagi bebenah dulu, belum lagi manajemen juga masih dibentuk karena udah lama vakum. Kemaren ini juga ada beberapa tawaran seperti di Extreme Moshpit cuma terpaksa kita lewat karena materi belum siap.
Rina: Kita lagi cari additional nih mungkin ada yang mau ngelamar? Hehe.. Karena kita butuh banget additional. Kita mau latihan tapi agak sulit karena Sandra di Jakarta. Kalau additionalnya anak Jakarta ya kita kayanya latihan di Jakarta juga sih, benar-benar perlu effort banyak
Alex: Additional anak Bandung mungkin untuk main di Bandung, kalau manggung di Jakarta pake additional anak Jakarta. Ini ide jenius nya Riza sih haha. Kalau manggung di luar 2 kota itu mungkin pembaca ada yang bisa? Hahaha.. Pastinya kita lagi cari personil bassist dan drummer. Yang pasti ada guest star rahasia hahaha.. Pastinya ya pengen ada showcase nantinya kalau itu semua udah set.
Panggung Sieve yang dulu paling memorable bagi kalian pas perform dimana aja? Kenapa? Riza: Nah ini mah aslinya lupa. Dimana aja ya? Saparua kayanya sih ya yang berkesan..
Rina: Paling memorable ya. Gue lupa tempatnya tapi ingat performnya. Di Buqiet cafe sih gue inget momen nya. Kita pernah kan ya main disitu? Entah kenapa suka aja pas main disitu. Sama yang di Jakarta tuh di SMA mana ya, kita ketemu mas Gilang Ramadhan dan diajak rekaman di studio dia. Sempat dia mau bantu isi drum buat lagu kita.
Alex: Semua memorable sih. Yang memorable biasanya yang ada kejadian lucu. Gue paling lupa tempat karena secara geografis gue jelek dan ga tau jalan. Yang gue inget banget itu crowd yang ga expect musik kita. Pernah juga gue lagi sakit batuk dan belum nemu teknik bernyanyi kalau lagi serak. Ada yang menyarankan gue untuk merokok Samsu biar sembuh batuknya tapi malah makin parah lah hahaha.. Kita bawain lagu “Mars†dan “Vitreus Wish“ crowd langsung loncat-loncat tuh haha..
Pertanyaan terakhir: perbedaan ngeband di Sieve di era ’90an dan sekarang ketika reuni lagi setelah sekian lama? Riza: Bedanya sih udah pasti kita semua punya kesibukan masing-masing. Jadi mesti bagi waktu dengan kesibukan kita. Kalau dulu kan masih bebas. Ditambah lagi visi musik masing-masing juga makin berkembang dan berbeda. Jadi pastinya kita mesti bisa menahan ego masing-masing karena pastinya banyak selera musik dan referensi yang udah jauh beda antara kita. Bagusnya sih jadi memperkaya aja ya. Mudah-mudahan bisa bikin musik Sieve jadi lebih dewasa.
Rina: Setelah berkeluarga sebenarnya kita selalu bertemu dan kompak walaupun ga ngeband. Yang pasti bedanya kita lebih matured. Dari perform juga pasti nanti fashion nya beda, sudah mengikuti zaman dan umur lah yang pasti. Bener sih kata Riza, visi musik pasti berkemband dan lebih berwarna.
Alex: Kalau dulu tuh kita masih sharing musik bareng, nongkrong bareng tanpa batas waktu nginep di rumah Rina. Pulang manggung hangout sama anak-anak. Kita dulu dengerin Swervedriver, Kate Bush, Billy Bragg , Chapterhouse sampai Sisters of Mercy kalau lagi nongkrong. Kalau sekarang kan udah punya keluarga masing-masing jadi ngumpul agak susah, cari personil aja susah karena networking juga udah gak pernah. Waktu bertukar pikiran juga semakin dikit, jadi kalau ketemu kita brainstorming lebih dalam dan haha-hihi nya dikit. Kalau dulu lebih banyak pesta pora nya hahaha. Karena udah berumur ya lebih matang lah.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos by @jusa666, Satria NB & Sieve’s Archives
Illustrator yang memiliki buta warna parsial ini tidak mengurungkan niatnya untuk menggambar. Semua kekurangan tersebut dirangkul dan dia jadikan ciri khas dengan karya ilustrasi hitam putihnya. MFAXII mengaku terinspirasi oleh Mark Riddick, Samuel E. Thomas, Zbigniew M. Bielak, Artem Grigoryev, Mark McCoy, Gustave Dore, Zdzislaw Beksinski, Cassidy McGinley, dan Denis Forkas. Mari berbincang sejenak dengan ilustrator anonymous asal Bandung ini…
“Sebenarnya sudah bosan sih dibajak haha. Apalagi jaman dulu pas jaman Facebook, sering dibajak sama band-band lokal.“
Karya-karya lo bertema medieval gothic-horror. Inspirasi lo dari mana aja?
Banyak sih sebenernya, dari anime ada, kalau game jarang main tapi liat aja temen-temen pada main Elden Ring, sama dari Hideo Kojima. Sama paling dari artist-artist jaman dulu sih. Misalnya saya nyari inspirasi untuk ilustrasi medieval, gak harus nyari komik atau film medieval. Segala di mix lah. Dari film Lord of the Rings juga. Suka follow juga akun-akun IG yang posting gambar-gambar medieval. Kemarin juga beli e-book. Kaya buku yang khusus armor dengan kategori zaman yang berbeda. Pas udah mau dibikin sketsa sih di mix.
Sudah bekerjasama dengan band dan brand apa saja?
Yang lengkapnya sih ada di website, tapi paling kalau disebutkan pernah sama Mayhem tahun 2017/2018. Wormrot tahun kemarin kalau gak salah buat merch. Dying Fetus pernah tapi dapetnya dari yang mau bikin merchnya walaupun ACC tetap dari si band. Portrayal of Guilt juga pernah.
Lalu lo riset untuk pengerjaan ilustrasi dengan band-band tersebut ya?
Sebenarnya untuk pengerjaan artwork lebih fokus ke konsep dan riset band nya itu seperti apa. Lalu di combine sama karakter yang saya bikin. Kalau mendengarkan musiknya sih untuk atmosfer aja, arahnya kemana. Kalau saya sih yang penting si band sudah tau karakter saya jadi mereka gak ribet tinggal memberi konsep. Riset juga melihat beberapa merch atau artwork sebelumnya seperti apa. Sama personal branding band nya gimana. Lebih fokusnya tetap lebih konsep dari bandnya, apakah itu dari lirik atau to the point ingin konsep ilustrasinya seperti apa. Ada juga yang membebaskan konsepnya.
Moniker MFAXII itu apa artinya?
Tadinya semacam sarkas buat lucu-lucuan aja sih. Biasanya kan para ilustrator itu mempunyai moniker nama artist yang serem-serem. Kalau saya sengaja agak melenceng aja sih, nama yang agak rumit, susah disebut, dan bahkan saya sendiri gak tahu gimana menyebut MFAXII nya hahaha. Biar orang aneh dan notice aja sih. Sebenarnya gak ada artinya. Memang saya suka yang agak melenceng hehe..
Kemaren-kemaren lo posting di IG Story mengenai pembajakan. Apa ada karya lo yang dibajak?
Sebenarnya sudah bosan sih dibajak haha. Apalagi jaman dulu pas jaman Facebook, sering dibajak sama band-band lokal. Cuma sekarang lebih variatif ngebajaknya. DUu jaman FB sebenarnya resolusinya biasa yang saya post di FB, cuma formatnya hasil akhir dengan logo band/brand. Biasanya mereka tinggal hapus logonya aja. Kalau yang suka bootleg sih diambil sama logonya dan dirilis ke kaos. Kalau jaman sekarang sih artwork saya diambil, di crop beberapa bagian, di kolase dan di Xerox. Kalau ketahuan pasti jawaban template: “Gak tahu dapat gambaranya darimanaâ€. Kaya yang si Mayhem lumayan dampaknya gede. Walaupun itu kesalahan si Mayhem.
“Biasanya kan para ilustrator itu mempunyai moniker nama artist yang serem-serem. Kalau saya sengaja agak melenceng aja sih, cari nama yang agak rumit, susah disebut, dan bahkan saya sendiri gak tahu gimana menyebut MFAXII nya hahaha.â€
Mayhem yang salah?
Sama Mayhem ilustrasinya diposting di Bandcamp kalau gak salah. Artwork nya jadi stretched dan gepeng. Saya tanya ke personilnya kata mereka logonya memang agak gepeng. Padahal bisa saya revisi artworknya. Dan resolusinya agak hi-res di Bandcamp jadi saya bilang rawan takut ada yang bajak. Eh taunya benar aja dibajak gak lama darisitu. Semenjak kejadian itu kaya udah hilang kepercayaan aja merekanya. Dulu padahal hubungannya baik sama si Teloch, gitarisnya. Dia juga dulu sering gabut nge DM minta bikinin ilustrasi.
Menurut bio di website, lo agak sedikit buta warna ya? Kalau Nicolas Winding Refn (Drive) karena buta warna output film-filmnya jadi kontras secara visual. Kalau output ilustrasi lo jadi seperti apa?
Kalau misalnya periksa ke dokter belum pernah dan gak mau. Tapi kata anak-anak sih parsial, karena memang sulit membedakan warna-warna gradasi. Merah, ijo, kuning dan ungu suka tertukar. Dulu pertama punya motor dan melihat lampu stopan, saya tahunya lampu merah tuh kebawah kan posisinya, pas nemu yang posisinya horizontal jadinya saya harung ngitung haha. Sering ketuker dikit aja sih sama warna-warna yang mirip.
Kalau buat saya sih outputnya jadi lebih fokus di hitam-putih saja, biar simple dan tidak banyak revisi warna haha. Untungnya saya menemukan ilustrator Riddick yang hitam-putih juga dan ternyata banyak ilustrator yang seperti saya itu.
3 illustrator favorit lo siapa saja?
Yang lagi dipantau sekarang sih Samuel E. Thomas, dari teknis keren dan klien / band yang dia ambil gak sembarangan. Selewat artworknya seperti foto Xerox walaupun dibikin manual. Urusan shading dia jago dan main disitu. Artem Grigoryev, dia tuh engraving dan etching kaya Gustave Dore. Cuma lebih ke objek yang tidak terlalu tua. Dia layoutnya dinamis jadi enak dilihat. Terakhir ada Bharata Danu, punya band Dystopian Dog, sama Asylum Uniform. Dia oke sih karakter artwork & visual-visualnya, dia bagus juga ngebranding dan tau arahnya kemana, cara komunikasi dengan clientnya juga bagus.
Proses berkarya lo dari awal sampai jadi berapa lama? Gimana prosesnya?
Kalau proses pengerjaan sebenernya tergantung dari konsep yang di kasih client, bisa lama kalau konsep & objeknya banyak dan lumayan rumit. Dan yang bikin lamanya juga itu dari proses risetnya dari ide di aplikasikan ke sketsa terus kalau udah di ACC baru turun ke proses inking. Kalau simpel 1 minggu sampai 10 hari sebetulnya bisa kelar, tapi kalau lumayan rumit bisa sampai 1 bulan lebih.
Tentunya brand ini sudah tidak asing lagi, apalagi jika kalian adalah penggemar brand-brand outerwear. Dengan bermodalkan menyukai dan mengkoleksi produk-produk dari Neighborhood, WTAPS, Nonnative, Visvim, OAMC, Braindead dan Undercover, Ginar Satria pun secara tidak langsung “belajar†untuk membuat produk yang berkualitas bagus dan memiliki teknik craftmanship tinggi seperti brand-brand favoritnya tersebut. Mankind selain dikenal lewat produk-produk jaket dan outer nya yang eksklusif, sempat juga merilis banyak kemeja aloha / Hawaiian. Mari berbincang dengan Ginar mengenai Mankind dan brand-brand favoritnya…
“Gua juga baru sadar sekarang ketika punya brand, gua ga buang-buang uang selama ini sering belanja jaket. Gue jadi tau apa yang gue inginkan.â€
Sudah berapa lama Mankind beroperasi? Orang-orang yang terlibat menjalankan siapa saja?
Hahaha.. Panjang sih. Gue sebenarnya mulai dari tahun 2015 cuma bikin quantity sedikit. Sudah kepikiran dari dulu kalau punya brand namanya mau Mankind. Masih bermain dengan konsep. Gue mulai serius 2016 akhir pas ngeluarin full collection. Launching 2017 awal Maret. Dulu sih banyakan sama Dimas Kokom, Chaka, Inez dan Chicha.
Sebenarnya gue ga ngitung dari tahun 2015 sih, cuma benar-benar serius itu baru 5 tahun. Dulu sih belum jelas label woven juga belum ada. Dulu pengen bikin lookbook yang proper pada saat itu. Kalau sekarang tinggal gue aja sendiri, ada partner baru, baru join. Dia support kapital.
Apa yang membedakan Mankind dari brand-brand lain yang sejenis?
Kasarnya sih dari 2015 sampai sekarang gue ga ke konveksi, gue memilih pakai tailored. Semua tailored jacket, celana, kemeja, kecuali T-Shirt sablon. Sebenarnya yang bisa menilai perbedaan Mankind dari brand lain bukan gua hahaha… Gue sih paling pakai manual embroidery. Di sketch di kertas kalkir lalu di bordir. Jadi tidak masif. Kalau dari 2017 sampai sekarang juga sebenarnya design gue tapi sekarang ada team dan designer 2 orang. Team sekarang ada 11 orang, yang terdiri dari marketing, designer, photographer in-house, orang produksi, orang yang ada di showroom.
Kita lihat Mankind dari awal sampai sekarang desainnya banyak diaplikasikan di kemeja ya? Apa yang membuat lo lebih tertarik untuk membuat kemeja?
Naahh.. Awalnya gue juga belum look up ke brand kaya Wacko Maria. Cuma gue dari awal sudah pengen banget bikin brand outerwear. Dari awal bikin Mankind yang cuma bikin 5 piece jaket dan lain-lain, gue rasa gue juga butuh varian lain. Kaya untuk keperluan foto lookbook yang head to toe jadi nya gue juga bikin koleksi yang lengkap dari jaket, kemeja, T-Shirt sampai celana. Hawaiian / aloha shirt ini juga dibikin awalnya dari iseng karena konsep lookbooknya spring/summer. Season berikutnya jadi gue bikin kemeja dan melupakan jaket. Demand si Mankind sekarang kebetulan balik lagi ke outerwear. Gue cukup happy karena apa yang gue pengen di awal kembali lagi, kalau dulu pas bikin kemeja gue sempat kemakan trend. Walaupun sekarang bikin kemeja lebih menonjolkan hand stitching dan manual embroidery. Prints udah ga terlalu gue up.
Dari dulu aplikasi di kemeja nya sudah main prints di bahan cotton rayon atau sublimasi?
Dari dulu sudah rayon print, ga ada yang sublim. Karena itu price point si Mankind dari dulu juga sudah lumayan. Dari awal sudah pengen orang nyaman pakai kemejanya. Apalagi print rayon tahun 2016 itu masih jarang. Orang-orang juga cukup kaget gue jual kemeja dengan harga 700 ribuan sampai 1 jutaan. Bukannya mengada-ngada, tapi karena kita pake tailor, bayar jahitnya saja 1 piece jaket bisa 200 ribu, belum aksesoris dan bahan.
Kelebihan dan kekurangan memakai tailor?
Ya gue ga bisa se-masif itu. Gue suka konsep artisan nya aja sih, Tang. At least saya bayar buruh dengan benar sih.
Brand lain kan bikin basic wear, tapi lo memberanikan diri dari awal membuat outerwear yang lebih rumit tanpa ada background pendidikan fashion. Bagaimana teknisnya?
Tapi gue teh dari dulu sering banget belanja jaket hahaha. Sekarang mah jaket udah gak kepake. 2 tahun kebelakang sih udah ga pake jaket. Cuma pakai celana pendek dan kaos aja. Hidup saya cuma dari rumah ke kantor. Hahaha aneh ya gua jual jaket tapi gak pernah pakai jaket.. Ya mungkin momen-momen tertentu ada pakai jaket. Cuma balik lagi awalnya sering ke Jepang jadi suka brand-brand Jepang kaya Neighborhood, WTAPS. Sekarang lagi suka Nonnative, Visvim cuma kadang-kadang gua ga mampu beli jaketnya hahaha.. Sejujurnya gue belajar karena sering belanja sih. Gua juga baru sadar sekarang ketika punya brand, gua ga buang-buang uang selama ini belanja. Beda lah lihat di internet sama memegang barangnya. Bukannya saya ngajarin orang belanja ya, tapi lo bisa handfeel, bisa cek fitting nya kalau beli barangnya.
Berarti lo bikin pola dan develop dari nol?
Sebenarnya gue ga pernah bawa sample ke tempat produksian. Cuma jadi tau aja apa yang gue inginkan. Untungnya ketemu kepala produksi yang ngerti apa yang gue pengen. Sebenarnya cuma brief verbal aja. Pokoknya cutting di brief misal agak boxy, drop shoulders, cuttingnya misal saya pengen numpuk di tangan. Cuma gitu aja sih briefnya. Pola ya jadi dari nol. Tiap season selalu ada pola baru yang ngemix dari pola-pola base sebelumnya.
Pendapat lo tentang trend diskon dan harga coret?
Gue ga peduli hahaha! Gue orang yang gak percaya sama ads. Tapi bukan berarti kedepan nya gue gak akan pakai. Pernah sekali coba doang sebulan untuk ngereach ke luar negri terus gak pakai lagi. Gue pengen lebih organik aja growthnya. Misal gue pernah meeting sama digital marketing, lalu saya tanya apa yang bisa dia janjikan? Gak ada. Ah mending untuk produksi. Kayaknya kalau di Mankind ga works si ads.
Balik lagi ke harga coret, yang gue sayangkan itu ya harga balik lagi ke tahun 2000an. Kalau di kepala saya daripada diskon 70% terjual 1,000 pcs. Profitnya sama aja mungkin dengan diskon 30% dan terjual 200 pcs. Jadi sama fenomena ini gue agak bingung gitu. Menurut gue kalau mereka tetap stick di trend diskon ini ekosistem ya bisa hancur. Jeleknya orang ga akan mau beli produk lo kalau ga ada diskon misalnya. Prosesnya kan panjang bukan sekedar menjual. Dari order bahan, mendesign, designer yang mendevelop produk, nah dengan fenomena ini cuma dihargai segitu produknya, ya sayang aja. Mudah-mudahan kedepan ga gini lagi trend nya.
Rencana kedepan?
Ada collab cuma belum bisa disebutkan, karena baru chat semata haha. Doain aja kita mau buka offline store, diatasnya ada wine bar namanya Fondness (diambil dari nama campaign Mankind juga). Pengen fokus ke signature wine dan natural wine karena grafik botolnya lucu-lucu padahal mah saya si ngerti dan expert wine hahaha. Pengennya sih ada listening roomnya, karena ada platform Mankind radio juga kan.
Pertanyaan terakhir: Top 5 brand favorit lo? Braindead. Meraka movement nya keren, rapid banget. Logonya enak banget ditempel dimana-mana walaupun collab dengan brand lain logonya masuk aja. Nonnative. Suka cuttingnya, dan N. Hollywood, mereka tuh sama-sama neat dan plain sebenarnya. Bukan yang full graphic. Tapi clean look dan neat aja kedua brand itu. OAMC karena mereka mikir banget. As a product gue suka. Dan tiap season judulnya itu wording dari singkatan OAMC yang mereka rubah terus. Cek aja Instagramnya. Jadi dari awal udah mereka pikirkan itu nama brandnya bisa jadi apa aja. Undercover kali yah? Kalau look up ke embroidery nya. Maharishi juga keren cuma kadang-kadang too much. Ada bordir naga sebesar celana misalnya. Beberapa brand yang tadi gue sebut pasti gue ada produknya walaupun cuma satu, jadi sambil belajar juga.
Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Feri Alan
Sunbath adalah band alternative-rock revival yang namanya sering tampil di gigs-gigs komunitas akhir-akhir ini. Mari berbincang dengan Ken, En, Zaliando, Zulfi, Oink dan Imunk mengenai kecintaan mereka terhadap kehidupan di tahun ‘90an dan tentunya musik-musik era ‘90an yang sampai sekarang sangat mempengaruhi musikalitas mereka.
Halo Sunbath! Kabarnya sedang recording untuk mempersiapkan single dan album ya? Sudah sampai mana prosesnya?
Halo! Iya betul, baru rampung mixing & mastering, tinggal mempersiapkan promo kit, mematangkan konsep MV, dan lain-lain.
Masing-masing personil, bisa share pengalaman pada saat recording mungkin? Zali: Proses take untuk bass sih lumayan ga terlalu banyak kendala karena persediaannya cukup matang dan emang udah sering latihan. Yah kalo momen sih banyak karena temen-temen yang lain pada jail dan gangguin pas take tapi masih aman dan terkendali.
Imung: Momen lucu sih yang pasti selalu ada dilihat dari semua personil kan pada baik dan soleh yah hahaha, dan momen-momen yang tegang pastinya pas lagi take tiap masing-masing ada aja lah seperti gangguan yang bikin konsentrasi jadi buyar..
Ivan: Standard, ketika dimanja oleh ritme metronom yang sedikit mengintimidasi, tiba-tiba di tengah jalan tersesat. Konsentrasi buyar dan pikiran entah melanglang buana kemana, haha.
Zulfi: Yang pasti pengalaman seru, tetep bikin nagih rekaman bareng Sunbath disisi lain memang proses rekaman di band ini sangat berbeda dengan rekaman band saya sebelumnya yang genre nya berbeda jauh, oh iya paling ini nih pas proses take gitar, perasaan sudah sesuai tempo, eh ternyata kecepetan atau terlalu lambat hahaha..
Oink: Agak sedikit gugup, karena baru pertama kali mengisi nuansa musik seperti ini, ya tapi dengan dukungan semuanya bisa berjalan lancer dan enjoy.
En: Buat aku yang baru banget ngalamin ini bener-bener menegangkan dan menyenangkan at the same time, tau kalau ternyata “oh kaya gini ya rasanya masuk dapur rekaman†lelah, tapi terbayar ketika hasilnya enak.
Lalu kenapa memilih sound dan referensi musik ‘90an?
Kita ingin menawarkan angin segar di tengah maraknya band dan genre yang bermunculan, dengan catatan karena kita sendiri senang memainkannya dan belum begitu banyak juga yang menyuguhkannya.
Bisa ceritakan hal apa yang kalian senangi dari kehidupan di tahun ‘90an yang tidak kalian rasakan di era sekarang? Ivan: Aktifitas luar rumah yang lebih ‘hidup’, tatap muka langsung dalam bersosialisasi, a simpler life, iklim kota yang masih sejuk, dan lancarnya lalu-lintas. Pensi SMA dan festival musik di Saparua juga menjadi hal yang cukup esensial.
Imung: Nunggu anime pas balik sekolah sama mantengin MTV
Zali: Di tahun 90an hal yang paling disenangi adalah maen tanpa beban dan pulang semaunya hahahaha.
Oink: Seperti pada umumnya anak pada tahun 90an hal yang paling ditunggu yah nonton film kartun di hari minggu.
Zulfi: Ngaji sore bareng temen-temen. Subhanallah ya hehehe
En: Banyak hal iconic lahir dari era 90s, one of the best decades sih kalo menurut aku, dari musik, film, culture, entertainment dan yang lainnya. Paling kangen ya MTV, bacain dan koleksi magazine, dan nonton sitcom-sitcom di masa itu
Lalu apa saja rilisan favorit kalian dari era ‘90an yang sampai sekarang masih tetap mempengaruhi musikalitas masing-masing member Sunbath? Ivan: The Smashing Pumpkins, Hole, L7, Throwing Muses, Belly, Lush, Shed Seven, Placebo, Ash, Garbage, Curve, Failure, Filter. Imung: Daft punk, Portished dan kurang lebih sama seperti yang lain lah..
Zali: The Cranberries, Dewa 19 dan band-band Indonesia yang ada pada masa itu paling.
Zulfi: Kurang lebih sama dengan yang bang Ivan sampaikan, paling ada tambahan seperti Korn, Mariah Carey, Incubus dan masih banyak lagi…
Oink: Silverchair dan Starsailor selebihnya sih sama dengan yang lain.
En: Chapterhouse, Deadstar, The Field Mice, Suede, Sixpence None The Richer, The Sundays, Primal Scream.
Untuk anggota “senior†Sunbath yang terlibat di EP Strange Days, apa yang berbeda dari penulisan lagu, sound dan konsep materi EP dulu dengan yang sekarang? Ivan: Kalau yang EP pertama, referensi dan vibenya kita menggali dari atmosfer era awal-pertengahan tahun 90an. Untuk materi yang sekarang kita sedikit shifting ke era akhir tahun 90an-awal tahun 2000an. Kita mencoba menulis lagu yang lebih dinamis dan menambahkan beberapa instrumen tambahan.
Zali: Kalo menurut aku sih yah suasana dan alat yang dipakai udah jelas beda banget, ya kalo ngerjain EP ‘Strange Day’ dulu sih alat yang dipakai seadanya, terus rekaman di rumah dengan modal pas-pasan hahaha. Kalau yang sekarang sih lumayan proper lah.
Zulfi: yang pasti untuk materi musik sekarang eksplorasi lebih luas.. Rasanya lebih banyak ide bermunculan saat proses penggarapan
Untuk para member yang “baru†bergabung di Sunbath, sebelum nya kalian terlibat di band / proyek musik apa saja? Imung: Dulu sempat jadi bassist, sempat juga mengisi vocal dan gitar di “Serayu Jingga”
Oink: Sebelumnya saya menjadi member dari band Pop punk Bandung yaitu Billfold, dan saat ini juga masih bergabung dengan band Reregean dan Lowlines.
En: Untuk band sebelumnya atau pernah terlibat di proyek music lain sih belum pernah sama sekali, dan emang bener Sunbath adalah band pertama dan proyek music saya pertama.
Pilih mana: manggung dalam keadaan “under the influence†atau sadar 100%? Imung: Dua-duanya nya gow hahaha..
Ivan: With or without you, haha
Zali: Gimana situasi, Tapi kebanyakan di bawah pengaruh sih hahahah
Zulfi: Under the influence “tipsy dikit lah ya†ahahaha. Kalo sadar 100% suka malu aku nya.
Oink: Karena saya dibesarkan dari keluarga yang agamis jadi saya udah jelas harus sadar.
En: Sadar
Konser-konser terbaik yang kalian tonton dan menginspirasi kalian untuk terus bermain band sampai tua? Ivan: Shed Seven – Eldorado, Bandung, 2012. Sama Ride – Neon Lights Festival, Fort Canning Park, Singapore, 2015
Imung: Bon Iver – Senayan
Zali: Metallica – Senayan, sama Dying Fetus – Rockin Solo
Zulfi: Banyak yang menginspirasi, tapi salah satu nya Metallica pas 2013 lalu.. Dagdigdug berkata di hati “mau punya band kompak sampai tuaâ€
Oink: Four Year Strong – Jakarta
En: Boyz II Men – El Dorado, soalnya aku dapet bunga lemparan.
Siapa yang paling banyak menulis lirik dan struktur awal lagu-lagu di Sunbath?
Struktur dan materi awal dari Ivan dan berlanjut ke member yang lain, sedangkan untuk ranah lirik biasanya En atau Ivan yang menulis, atau combo keduanya. Dan Untuk lirik single baru ini En yang menulis.
Pertanyaan terakhir: apakah kalian akan ngeband terus sampai tua seperti Rolling Stones? Atau mending bubar saat sedang berada di puncak?
Kita lebih ingin bahagia dan berkarya sampai tua sih, apapun bentuknya bebas yah. Lagian kita rasa sih ga akan pernah sampai puncak karena ngeband atau berkarya tuh tantangannya akan selalu ada. Kita rasa Rolling Stones pun mungkin berpikir mereka masih kurang dari rasa sempurna.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos by Sunbath’s Archive
Firman Boesly adalah salah satu skateboarder old school dari Bandung yang style bermain nya adalah speed dan melakukan big tricks baik pada saat drop in atau menghadapi obstacle rails besi. Bermain skate dari awal tahun ‘90an, bersama adik (Nova) dan kakak (Fajar), Firman pun merasakan kultur skateboard Bandung dari awal ‘90an sampai sekarang ini dimana dia masih aktif dan membuka Boesly school of skateboarding dan juga menjadi team manager dari Screamous skate team. Mari berbincang dengan Firman mengenai “perjalanan†skateboard dia dari Gedung Sate, Taman Lalu-Lintas, Hobbies skateshop sampai membawa dia mendapatkan sponsor dan berkompetisi dimana-mana..
“Segala sesuatu dalam kehidupan ini nyambung ke skateboard, kalau sedang ada masalah bisa cepat mencari solusi nya. Dalam pengambilan keputusan baik dalam bermain skate dan dalam hidup, kita pun diharuskan berfikir dan memiliki refleks cepat.â€
Apakabar Firman? Sekarang kegiatan apa saja?
Alhamdulillah baik. Kegiatan masih seputaran skateboard. Kerjaan masih di produksi kemeja dan jaket dari 2003, bareng adik juga si Nova. Kalau untuk skate kebetulan buka skate school namanya Boesly school of skateboarding..
Berarti sekeluarga ikut jadi pengajar dan instruktur skateboard?
Kalau dibutuhkan si Fajar juga ikutan ngajar, kalau Nova ga mau ngajar haha. Lokasi di taman pramuka. Murid dari 3 tahun sampai 21 tahun ada. Pernah ada ibu-bu umur 39 juga ikutan. Mungkin agak gengsi kalau seumuran kita ikut kursus skateboarding haha. Total murid ada 11 alhamdulillah.
Gue inget dulu Boesly bros pernah di interview dulu jaman majalah Ripple. Yang main skate awalnya siapa?
Yang awal main kakak saya si Fajar tahun 1993-1994. Kalau pro kita bertiga sekeluarga bareng. Secara profesional bermain skateboard maksudnya. Dapet sponsor dan endorse pertama si Nova Spyderbylt tahun 98-2003, dan berangkat ke Thailand untuk kompetisi X-Games. Fajar dan saya bareng dapet sponsor tahun 1999-2000. Kalau saya di sponsorin sama Thrift clothing, brand nya si Metal dulu. Bareng sama Jack Curtain yang sekarang sudah jadi pro di Amerika. Lalu dapet sponsor berbayar yang decent Rip Curl. Lalu pindah kontrak ke Insight 51 brand Australia. Jadi memberanikan diri ke almarhum bokap untuk berhenti kuliah. “Mau hidup gimana nanti? Papan skate dan sepatunya aja harus beli. Uang darimana kalau ga kuliah.†Dulu beli sepatu Vans Salman Agah di Rockets BIP yang dari dulu aja sudah mahal. Karena saya sudah ada sponsor keluarga akhirnya support di tahun 2001-2002. Akhirnya keluar dari kampus dan skate for life. Di umur 40 ini saja alhamdulillah saya jadi team manager skate team Screamous. Kalau sekarang saya endorse dari Screamous aja.
Video skate dan majalah skate yang menginspirasi lo dari awal?
‘Hokus Pokus’ (H-Street, 1989). ‘Welcome to Hell’ (Toy Machine, 1996), cikal bakal nya brand Zero disitu. ‘Jump Off A Building’ (Toy Machine, 1998), dan ‘Dying to Live’ (Zero, 2002). Kalau majalah tentunya Thrasher, Transworld dan Big Brother. Itu aja yang masuk ke Indo jarang, cuma di Hobbies di Bandung mah. Saya aja ga pernah kebagian kalau mau beli majalah Thrasher di Hobbies karena benar-benar limited.
Skater-skater favorit lo siapa aja?
Ga berubah dari dulu sampai sekarang: Jamie Thomas (Zero Skateboards), Geoff Rowley dan Tom Penny (Flip Skateboards). Tom Penny yang gombrang bajunya double 3XL berlayer haha. Kalau main saya dulu dibilang lebih mirip style Zero Boy, karena banyak bermain besi dan mengambil style bermain Jamie Thomas. Kalau Nova dan Fajar lebih santai stylenya. Kalau Tom Penny style nya asik. Geoff Rowley style UK-based skater pisan, masa tua nya banyak main bowl dan ramps cuma dulunya brutal juga kaya Jamie Thomas. Pada masa nya mah mereka main satu tipe, cuma kalau sudah tua ya main nya mini ramps dan bowl. Saya juga main bowl, gausah banyak trick dan yang penting berkeringat lah hehe..
Bagaimana culture skateboarding di Bandung saat era lo awal mula main skate?
Saya juga SD udah maen skate pada tahun segituan, pas kelas 4-5 SD. Ada teman kebetulan anak nya wakil Gubernur. Dia duitnya banyak pisan, waktu itu beli papan 10 set dibagikan ke anak-anak, saya salah satunya. Dulu maen di sekolah aja anak-anak. Mulai kenal sama komunitas skate pertama di Gedung Sate (GS) pas tahun 1993, dibawa sama Fajar. Anak-anak tahun ‘90an awal kan kemana-mana jalan kaki, dari rumah di Kacapiring sampai ke Gasibu pake BMX sama Nova dan Fajar bertiga. Saya nonton disitu karena Fajar sudah ada teman-teman disitu. Dari situ kita bertiga beli satu papan untuk bertiga. Ollie, manual dulu belum tahu, baru tau pas lihat anak-anak GS bermain trick.
Sebelum saya main di Taman Lalu-lintas (TL) saya sempat beli papan dari anak GS. Main lah mulai di TL tahun 1994-1995. Ternyata papan yang saya beli itu ketinggalan jaman dan besar dibanding anak-anak TL yang papan nya kecil-kecil. Ternyata anak-anak GS ketinggalan zaman haha. Kalau style sama ya oversized dan gombrang-gombrang. Mau main malu papan nya beda dan di TL jago-jago. Disana seharian dateng duduk dan nontonin yang main aja seharian. Disitu ada Robby Gondrong, Opa Tiko, Maskom, Dimas, Ari Boy, Cholay. Saya ditegur sama Robby, bahagia banget ditegur hahaha. Disuruh drop di quarter ramps. Wah ini mungkin challenge saya untuk bisa diterima disini. Kalau anak-anak GS kaya Fajar dan Nova bikin komunitas pindah main ke Balkot sama Azis To See, Sonny Blankwear. Kultur musik kental juga disana. Tahun 1996 mulai ikut pertandingan di TL, tahun 1997-1998 Hobbies Jl. Tera buka, dan karena TL tutup semua pindah main di Hobbies Skate Shop. Tahun 2000an gara-gara kenal Charlie Hobbies jadi dapet juga sponsor-sponsor berbayar. Charlie suka memberi tawaran ke anak-anak yang potensial, Rip Curl, Insight 51 dapet dari Charlie.
Trik paling berbahaya apa yang pernah lo coba dan cedera paling parah pas lo coba trick apa?
Trik paling berbahaya yang saya pernah coba mungkin Kickflip backside lipslide di downrail. Tapi yang membuat saya celaka cedera dislokasi bahu kanan adalah trik heureuy yang namanya caveman. Hampir anak skate semua Dy, celaka pas lagi bercanda. Karena trik bahaya kita semua pasti fokus dan full dedikasi. Alhamdulillah jarang ada yang celaka parah. Tapi pas sedang bercanda malah suka ada yang cedera parah. Banyak yang lagi maju ga konsen jatuh kaki retak. Si Dimas kakinya nyelip di celah solokan basement BIP pas acara Bandung Public Festival. Jadi ya itu biasanya lebih banyak yang celaka dan cedera bukan karena trick yang berbahaya, lebih banyak pada saat bercanda atau tidak fokus.
Melihat Jamie Thomas drop in dari lantai 2 ‘Leap of Faith’ di video “Thrill of it All†dan Aaron “Jaws†Homoki drop-in 25 tangga di Lyon Perancis, apakah dengan conditioning para skateboarder professional ini memiliki kaki yang lebih kuat dari orang-orang normal? Lalu apa saja yang lo ajarkan saat menjadi instruktur di Boesly’s school of skate?
Saya juga pernah melihat Dimas drop in tinggi banget, jatuh dia langsung berdiri lagi. Jadi secara science, skateboard ini mengurangi impact ketika lo loncat dari ketinggian. Tanpa skate, akan menjadi high impact karena jatuh dalam keadaan diam (tidak maju) ketika landing. Lutut bisa potong atau ankle. Ketika ada skate dan roda, akhirnya impact tinggi ini berkurang karena ada gerakan maju kedepan setelah landing. Si Jaws yang drop in 25 tangga di Lyon Perancis itu dia ngebut banget, ketika itu papan nya aja masih patah. Full impact ada di skateboard entah di papan atau truck bengkok, mengurangi impact di kaki skater nya. Kalau suspensi sih kita naturally sudah ada di kaki. Saya pernah drop in paling tinggi 14-15 tangga, Dimas pernah drop in di KFC Wastukencana depan IP. Sampai sekarang detik ini belum ada yang berani. Itu tinggi nya lebih dari 2 badan kita.
Itu semua kalau saya diawali dari drop in 3 tangga, naik ke 4 tangga, 9 tangga ITB. Kalau jatuh sudah terbiasa roll kedepan, jadi impact nya berkurang. Reflek dan motorik akan terlatih. Karena itu di skate school saya ini sangat menyarankan anak-anak dari kecil agar belajar motorik dan respon badannya cepat. Semua diarahkan, jadi refleks si anak jadi berkembang. Secara scientific dan ilmu pengetahuan skateboard ini sangat membantu motorik dan refleks si anak. Di tempat saya anak introvert jadi mudah bergaul dengan komunitas dan anak-anak lain, yang tadinya badannya kaku jadi luwes. Selama 30 tahun saya main, Skateboard ini berpengaruh ke kehidupan. Segala sesuatu dalam kehidupan ini nyambung ke skateboard, kalau sedang ada masalah bisa cepat mencari solusi nya. Kita datang ke skate spot dan melihat obstacle yang harus ditaklukan, dan otak kita pun langsung mikir di depan obstacle tersebut ada apa lagi nih, jadi solusi itu harus kita dapatkan dari kebiasaan main skate. Dalam pengambilan keputusan baik dalam bermain skate dan dalam hidup, kita pun diharuskan berfikir dan memiliki refleks cepat.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos from Firman’s archives
Tidak banyak band yang menawarkan nuansa post-punk revival yang saya dengar akhir-akhir ini: Glyph Talk, Pelteras, Succubus dan salah satunya yang paling menarik perhatian akhir-akhir ini ya Leipzig Groop ini. Band asal Bandung yang terbentuk di tahun 2021 ini beranggotakan Mario Prasetya (Vokal, Synth), Ryan Arman (Gitar), Mirza P. Wardhana (Bass, Vokal) dan Iman F. Amarullah (Drum, Vokal). Full album “Garbage Disposal Communique†telah dirilis dalam versi kaset oleh Lisdia Records pada Records Store Day 2022. Lalu versi CD dan versi digital dirilis oleh Disaster Records pada awal bulan Juni 2022. Mari berbincang dengan Leipzig mengenai Ian Curtis, Ari Ernesto dan bendera harimau Siliwangi yang selalu mereka bawa saat perform..
Congrats ya atas rilis album “Garbage Disposal Communiqueâ€! Apakah sudah cukup puas dengan hasil nya?
Ryan: Halo akang abi Ryan.. Ya kalo dari saya mah sejauh ini cukup puas. Segitu aja kalau dari saya mah..
Iman: Halo kang aku Iman. Kalau saya berpikir bahwa saya cukup puas, namun album ke-2 akan lebih puas nampaknya.. Jangan pernah merasa puas dengan syukur nikmat..
Mirza: Saya puas banget, tapi sama kaya Iman, kayak nya ada beberapa aspek yang bisa dikembangin di album ke-2 nanti. Tapi kita save aja buat next album.
Mario: Ieu abi Enyan aa.. Mario a.. Haha.. Lebih joss lagi di album ke-2 nanti. Puas lah Insya Allah.. Wal taufik wal hidayah..
Recording full di studio atau ada home recording juga?
70% studio, 30% dirumah. Di hidden gem hahaha..
Kalau ngomongin durasi, album “Garbage Disposal Communique†itu sekitar 13-15 menit ya. Apa kalian emang lebih suka lagu berdurasi pendek biar short but sweet atau ada konsep lain?
Biar sweet and sour hahaha.. Konsep dari awal mah emang ga ada pas dari awal mah. Cuma emang si Mirza bikin sketsa materi pendek-pendek, referensi yang dijadikan acuan juga emang musik nya pendek, tapi.. Ga sependek pikiranmu mun ceuk Seringai mah hahahaha…
Seberapa besar pengaruh band post-punk seperti Gang of Four dan Idles untuk para personil? Apa aja sih yang kalian dengarkan pada saat proses penggarapan album?
Malah engga kesana ya. Mungkin kalau personal orang-orang nya pada suka dan dengerin. Tapi pas proses rekaman Leipzig sih kebanyakan referensi diluar dari band-band yang barusan disebut. Ada lah secara ga sadar masuk-masuk in riff Gang of Four atau Idles dan Zounds. Tapi pas di proses pembuatan lagu atau rekaman ga kesitu. Mungkin dibawah sadar lah tetap kebawa.. Cuma pas jalan sih ga ke arah sana.
Departemen lirik sangat menarik ya, menggabungkan referensi pop culture dengan kearifan lokal. Tapi tetap fun. Bisa elaborasi dikit?
Mirza: Yang nulis lirik saya. Saya teh dari SMP-SMA nge fans pisan ke Hark! It’s A Crawling Tar Tar. Ari Ernesto teh salah satu penulis lirik terhebat yang pernah saya baca. Samsul Bahri Menggugat, Behold! Tempe Mendoan Governs Your Intellect… Cara penulisan lirik Leipzig teh emg banyak ngambil formula lirik Ari Ernesto, yang nge gabungin bahasa Inggris, Bahasa Indonesia sampai bahasa Sunda. Sama ada name dropping nya juga. Ada cara penulisan Babap Homicide juga sedikit di name drop nya tapi lebih banyak Ari Ernesto nya.
Mario: Intinya mah pengen kaya Jaksel tadinya…
Mirza: Males juga sebenernya bikin lirik yang berat-berat teh. Pertanggung jawaban nya berat. Mending yang lebih relatable aja lah. Untuk kehidupan masyarakat… Masyarakat Citayam.
Ada apa dengan Ian Curtis yang kalian name drop di lagu “Manchester 56-80: The Pilgrimage of Tuan Curtis�
Mario: Yang pasti itu lirik menceritakan Ian Curtis, bukan Ian Kasela hahaha..
Mirza: Si lagu itu teh premis awalnya pas nonton film 24 hour party people, yang tentang Factory records. Ian curtis kaya ngomong “dia pengen hidup lama bla bla bla†tapi dia bunuh diri di umur 27, cukup ironis. Pas bunuh diri dia lagi dengerin album Iggy Pop yang The Idiot dan nonton film Stroszek nya Werner Herzog. Jadi banyak ngambil dari proses ironis nya si Ian Curtis.
Gue search Leipzig di Google keluarnya klub bola dan di Spotify malah ada Leipzig band Eropa kayaknya.. Apa nanti kalian akan memakai Leipzig Groop atau Leipzig 182 biar ga sama dengan band lain nama nya?
Mario: Iya emang karena belum ada kita di Spotify. Ada band Eropa yang udah duluan. Nanti make X sigana mah Leipzigxxx hahaha..
Ryan: xLeipzigx. Tapi sempet kepikiran sih buat di Spotify nanti pake Leipzig Groop
Iman: Nama kita teh dari voting. Sebelumnya namanya tuh The Yahya, Kriminal Yahya, Pink Jazz.. Ya begitulah.. Trus kita voting, dan yang paling terdengar hipster itu teh Leipzig. Easy listening dan easy saying juga. Gampang diingat. Ternyata Leipzig itu adalah kota tua di Jerman yang populasi anak punk nya paling banyak.
Lagu-lagu kalian sangat raw dan berenergi untuk dibawakan live. Apakah memang saat membuat materi lagunya bertujuan untuk format live?
Mario: Justru secara musik mah dibikin nya terpisah. Ga ada perdebatan tentang musik. Sketch lagu langsung di respon yang lain, lirik mendadak bikin 1 jam sebelum take vokal. Jadi spirit nya sih.. Spirited away hahaha!
Iman: Jadi sebenernya pembuatan lagu dan lirik berkonsep dengan formasi pas Mario masih main gitar sambil vokal. Justru ga di konsep dan ga kepikiran dibawain live nya mau gimana. Tapi kayaknya ga mungkin live kaya gini, jadi formula sekarang juga ditemukan setelah manggung, dan ternyata lebih cocok Mario ga pegang alat. Kita lebih cocok cuma satu gitar. Jadi kalo dibilang versi live lebih asik, kita sendiri juga gatau dari awal bakal kaya gini..
Mirza: Malah ga kepikiran bakal manggung juga awalnya hahaha
Kalian juga sempat menggunakan Korg MS-20 di Youtube pas lagu “Gazelle (Noam Chomsky’s Unanswered Question)â€. Tapi sepertinya lagu dan synth Korg ini jarang kalian bawa pada saat live?
Mario: Kalau full live yang waktunya memungkinkan mah kayaknya bisa aja sih kaya gitu, cuma anak-anak pada males jadi lagu itu di skip ga pernah dibawakan so far mah..
Iman: Untuk saat ini sih hampir lagu itu ga pernah dibawakan. Jadinya kita kaya mengcover lagu siapa gitu, biar tetep jadi 10 lagu. Cuma kalau misal ada kesempatan untuk dibawakan secara live bakal dibawain sih lagu itu dengan format seperti live di Youtube kita.
Pertanyaan teknis: dengan format 1 gitar bagaimana kalian mengakali live set agar lebih terdengar padat sound nya?
Ryan: Teknis nya sih standar lah.. Diakalin jadi stereo atau pake efek modulasi tambahan aja sih sebenernya. Tetap semua live instrument dan kita ga pake sample.
Rencana showcase launching album?
Ryan: Showcase rencana Agustus..
Iman: Kita masih ribet perijinan sabuga..
Mario: Si Coldplay teh si Chris Martin na lagi covid saurna.. Pengen nya mah studio gigs tapi da seeur teuing artos a hahaha
Kenapa selalu ada bendera Harimau Siliwangi di live perform kalian?
Mario: Itu mah statement aja. Mau beli handuk Polo ga keduitan. Siga band harkoy tea.. Teu acan cekap artos na.. Jadi udah weh lah.. Kebetulan depan rumah padepokan silat Siliwangi dari Tasikmalaya, jadi karena sering lihat logo itu, jadi terpatri di dalam pikiran ku.
Album-album yang kalian dengarkan pas bikin album?
Mario: kalau saya mah Devo, Torso, Squid, sama si Jolly Jumper kalau ga salah mah. Band legend eta..
Iman: Sebenarnya pas penggarapan album Leipzig teh emang pure ga dengerin apa-apa sih. Cuma pas denger materi dari Mirza, langsung kepikiran drum nya ga akan jauh dari Devo, Depeche Mode, The Cure, ya band-band era itu lah. Karena saya yang isi drum nya kalau dari drum sih ya dari situ.
Ryan: Kalau saya mah The Chats band dari Australia, Devo, Gang of Four
Last shouts?
Mario: Anjuklah album kami di shopee! Hahaha
Mirza: Kalau dari aku mah “Ulah lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat ulah lali tina purwadaksinaâ€. Dimana kita berpijak dan berada, tetap jangan lupa sama asal-usul kita
Ryan: Keren euy kamu udah kaya Sujiwo Tejo hahaha.. Kaya pepatah Budi dalton.. Apa ya last shout nya.. Keep brutal, keep kayang aja deh a..
Iman: Tetap semangat menjalani hari walau itu pelik. Tetap santai walau jiwa terbantai..
Words & interview by Aldy Kusumah Photo taken from Leipzig’s archives