Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?Top album idol Conbini:
1. JKT48 - Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY - Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet - The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 - Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans - 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?Rekomendasi kuliner B-area1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga...
2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga.
3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah.
4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak.
5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy KusumahPhotos by Conbini
Conbini Style belakangan ini terlihat dimana-mana. Conbini menggarap design, merchandise & fanart idol sampai T-Shirt dari band-band seperti Dazzle, Devil Despize, Drizzly dan Much. Design Conbini sangat berkarakter: visual yang cartoony, layout ramai dan warna-warna yang vibrant. Mari berbincang dengan Farhan Endy, pria yang berdomisili di B-area (Malang), mengenai segala sesuatu yang berhubungan (atau tidak) dengan Conbini..
Hai mas Farhan Endy, bisa ceritain ga awal mula lo bikin Conbini dan konsep awalnya seperti apa?
Selamat malam, awal mula Conbini itu di pertengahan 2016, dulu namanya masih Internet Posesif, terus di tahun 2020 ganti jadi Conbini. Kalau konsep awalnya kita ga ada konsep sih hehe, cuma hobi aja bikin design merchandise & fanart idol gituu.
Conbini ini range nya lumayan luas ya, dari bikin merch band-band hardcore lokal sampai fanmade JKT48, Red Velvet dan Newjeans. Kurasi yang lo terapkan dalam memilih suatu band atau membikin sebuah merch itu berdasarkan apa aja?
Iya rangenya Conbini lumayan luas juga yaa hehe, kebetulan kalau beberapa band lokal yang udah pernah Collabs sama Conbini sebenernya kaya saling bantu aja sih, mereka ada kebutuhan artistik visual buat band-nya ya kita bantu buatkan aset visual sampe rilis merch nya juga. Contohnya yang pernah collabs sama Conbini ada Devil Despize, Drizzly sama yang terakhir Much. Kalo kurasinya sih kebetulan musik mereka aku suka, lagunya enak-enak, jadi dari genre apa aja kita masuk.
Kalau [Fanmade] seperti JKT48, NewJeans, Itzy dan sebagainya itu gara-gara suka aja sama sama musiknya, terus iseng bikin-bikin fanart versi Conbini, buat diposting aja di sosmed, dan ternyata temen-temen banyak yang request buat dijadiin merch, yaudah lahh kita gas aja.
Grafis Conbini selalu terlihat padat di layout, cartoony dan sangat colourful. Referensi dan influence lo dalam berkarya dari mana aja sih? bisa ceritakan sedikit ga?
Kalau referensi Conbini lebih ke grafis poster-poster game Jepang Nintendo tahun ‘90an, kalau kebanyakan graphic design sekarang sih kebanyakan dari Braindead, Online Ceramics dan Studio Balcony. Itu aja sih..
5 game Nintendo favorit lo apa aja?
Kalau game aku ga main sih, cuma seneng ngeliatin visualnya aja, entah itu poster sampe layouting gameplay nya. Kalau paling suka sama cover-cover game Konami, Capcom sampe Sega. Itu banyak banget yang jadi referensi buat Conbini. Dulu main sih tapi kasetnya bajakan yang mix isinya banyak game, soalnya asal dibeliin aja pas SD wkwkw..
Kalau Visual dan cover art game-game yang favorit ini sih mas:
1. Rampage
2. Zelda
3. Mario
4. Dragon Quest
Lo juga bikin playlist Kpop di Spotify Conbini. Top 5 album k-pop favorit lo apa aja? Dan kenapa?
Top album idol Conbini:
1. JKT48 – Seishun Girls
(ini setlist terfavorit soalnya Oshi kebetulan (dulu) ada di team terkuat KIII, jadi enjoy aja di dengerin berkali-kali & lagu-lagunya juga relate sama realita wkwk
2. ITZY – Voltage
Ini banger-nya Itzy sih kalo menurut aku, kalo dengerin EP ini bawaannya jadi semangat aja.
3. Red Velvet – The ReVe Fest 2022 Birthday
Kalo ini suka visual sama musiknya sih, merchandise nya keren-keren juga.
4. JKT48 – Pajama Drive
“This is not the best setlist, but the dreams start from hereâ€
5. NewJeans – 1st EP
Fresh banget sih kalo ini, baru denger pas awal-awal rilis dulu langsung suka, Minji juga lucu bangett..
Conbini cukup unik-unik varian produknya, dari box cap, pewangi mobil sampai tumbler Drizzly. Apa ada beberapa wishlist ingin membuat suatu barang yang belum kesampaian?
Wishlist produk yang belum kesampaian lumayan banyak sih, kaya Full Print shirt, work jacket, Jaket outdoor, Pants, pengen bikin zine apa buku isinya artwork temen-temen juga, sama aneka home goods gitu lah. Semoga kita bisa lebih produktif lagi.
Apa yang lo sukai dari skena musik dan kreatif kota Batu?
Yang paling saya suka dari temen-temen skena musik & kreatif B-AREA itu semangat Do It With Your Friends-nya masih terasa banget, disini meskipun kita punya hobi atau minat yang beda-beda tetap bisa kolaborasi jadi satu, skena musik sama seni visual kaya ga ada kotak-kotaknya gitu.
Sejauh ini sudah kolaborasi dengan band apa saja? Dan kenapa memilih mereka? Kedepannya akan ada kolaborasi dengan band apa aja?
kalau dari Band ada Ravage, Devil Despize, Drizzly, Dazzle, Much. Milih mereka ya karena suka sama musiknya, kebetulan masih temen-temen juga jadi saling bantu aja. Kalau collabs sama Conbini ga terbatas di merch band aja sih, kita juga pernah collabs buat event, kaya bareng Greedy Dust kita bikin Pameran Show No Mercy di Surabaya & Malang, Bareng Azizi Ordinary Team (fanbase Zee) kita juga pernah, terus yang terbaru sama event 1 Dekade Bingo! Jadi macem-macem aja outputnya. Kalau wishlist collabs sama Band, sementara ini pengen sama The Dare aja sih (kalo bolehh hehe).
Pertanyaan terakhir: kalau ada tamu atau teman luar kota datang ke B-AREA, 5 tempat kuliner yang bakal lo rekomendasikan apa aja? dan kenapa?
Rekomendasi kuliner B-area 1. Askara park, nasi kulitnya okeee banget, buka dari pagi juga… 2. Rujak Sawah Buk Rini (belakang cafe Ancala, warungnya warna biru) pokoknya kalo pesen rujak harus pake nasi hehe. Viewnya kebun bunga. 3. Mie Ayam Pak Agus (gang garasi) mie ayam favorit sih kalo ini, dari jaman sekolah. 4. Cilok Naruto (alun-alun Batu) pokoknya cari aja gerobak cilok ada stiker Naruto-nya. Dijamin enak. 5. Puthu pandan depan kuburan sisir, jadi dipinggir jalan depan kuburan itu banyak warung tenda, terus yang di tengah ada 1 yang jualan puthu, wajib dicoba.
Interview & text by Aldy Kusumah Photos by Conbini
Roda Nona adalah 4 sahabat yang memiliki hobby sama: berpetualang menggunakan segala sesuatu yang berhubungan dengan roda. Tidak harus berbentuk motor, menurut mereka bermain dengan sepatu roda atau berkendara menggunakan mobil juga masih masuk ke konsep “Roda Nonaâ€. Ketertarikan mereka terhadap kuliner, hidden spots, travelling, otomotif dan fashion berhasil membuahkan konten-konten menarik. Mari berbincang dengan Bella, Khansa, Laras dan Wanda mengenai Roda Nona..
Hai Roda Nona! Bisa ceritain ga awal mula kalian bikin Roda Nona ini gimana? Konsep nya datang dari mana?
Bella: Sebetulnya aku yg terakhir join, tapi kita udah main bareng dari beberapa tahun lalu. Untuk konsep sih ya gitu aja 4 girlfriends yang suka sharing dan menikmati hidup di berbagai lika-likunya, kebetulan kita tertarik sama motoran makanya namanya ada rodanya. Tapi roda juga ga terbatas di motor kok, bisa mobil, sepeda, rollerskate, dan lain-lain..
Khansa: Awalnya dari ngobrol sore after office kita kaya mikir pengen ngapain ya kegiatan yang bisa mengisi weekend setelah senin-jumat office work gitu, terus karena memang kita suka banget piknik dan hiking, munculah ide (kalau) kayanya kegiatan-kegiatan kami ini bisa didokumentasikan.
Laras: Jadiii awalnya obrolan ini bermula dari Aku, Khansa dan Wenda di Caup Dangu, salah satu cafe di Bandung. Waktu itu aku lagi cuti blok jadi aku nyusul Khansa yang lagi kerja remote. Ngobrol ngobrol ngobrol.. makin seru kan, sampe akhirnya sampai ke obrolan harus ngapain ya untuk menyalurkan energi kita disamping kerja dari senen s/d jumat. Waktu itu suamiku baru aja beli vespa, langsung kepikiran banget kenapa kita gak berkegiatan pake motor aja kemana-mana dan didokumentasikan, karena biasanya kita kalau weekend nongkrong, piknik atau hiking pasti pake mobil kan. Dari situ mulai tuh ide-ide bermunculan.. dan kepikiran kalau misalnya ada 2 motor harus ada yang video in ya.. Jadi harus rekrut 1 orang lagi hahaha.. Dari situ langsung kepikiran Bella sih yang cocok untuk ngelengkapin karena secara gaya dan selera udah 1 frekuensi.
Jadi awal mulanya Roda Nona tuh mulai dari motor, helm pinjam dulu.. Sampai akhirnya kita bener-bener beli sendiri hehe.. Aku pribadi bisa punya Vespa karena menjual mobilku, jadi aku sebenarnya agak impulsif sih jual mobil, terus uangnya aku beliin Vespa & Mobil Van Jadul gitu hahaha..
Wenda: Sebuah bentuk momen magical sih kalo Roda Nona, karena kami berempat memang sudah dekat dari dulu dan kebetulan punya hobi yang sama seperti piknik, hiking, explore outfit (lebih ke sama-sama banyak gaya :D). Dipertemukan kembali di Capdangu, momen ga sengaja ketemu Khansa dan Laras yang lagi cuti kerja, kebetulan aku waktu itu baru aja resign dan lagi serius dengan eksplorasi jalan-jalan. Akhirnya dari obrolan panjang kami memutuskan untuk lebih serius menikmati hidup bareng lewat piknik, jalan-jalan seperti dulu tapi kali ini lewat berkendara, iseng aja sih karena kayanya seru naik motor terus pake baju gemes dan main cafe to cafe di akhir pekan, lalu akhirnya kami mengajak Bella untuk masuk sekte serius dalam bermain ini hahahaha. memang pada dasarnya apapun yg dilakukan dengan serius dan pake hati tuh beda, rasanya lebih kena ke hati untuk jalaninnya, dan jadilah hari ini kami menjadi Roda Nona yang siap menikmati banyak hidangan langka di depan!
Background dan pekerjaan kalian apa saja?
Bella: Aku design writer di sebuah branding consultant di Bandung.
Khansa: Campaign Manager di Digital Banking .
Laras : Credit Analyst di Bank Swasta.
Wenda: 8 tahun menjadi Brand Strategist, dan AE di sebuah Branding Consultant di Bandung, lalu pekerjaan yang masih dilakukan sampai saat ini adalah menjadi Voice Over Talent, Storyteller di sekolah alam Camar Ceria, Traveler, MC dan terkadang jadi Fashion Stylist juga.
Selain membuat konten di Instagram, kalian juga aktif di Tiktok. Challenge nya pasti berbeda dong? bagaimana sih perbedaan netizen Instagram dan Tiktok menurut kalian pribadi?
Bella: Jujur aku kurang ngerti sama algoritma Tiktok, tapi saat aku ngepost tiap hari memang engagementnya bagus. Kalo instagram, biasanya yang ada motor sama muka sih yang engagement nya bagus hahaha..
Khansa: Kalau untuk TikTok kayaknya masih belum bisa baca algoritmanya karena juga trendnya lumayan cepat berubah. Challengenya itu mungkin ya jadi masih suka AB testing, tapi kalau buat Instagram udah lumayan keliatan mana yang disuka sama audience kami bentuk contentnya.
Laras : Kayanya jawabannya hampir sama kaya yang lain hehe, masih bingung sih sama Tiktok tuh gimana Algoritma nya. Jujur Tiktok juga aku masih ngulik banget. Kalau netizen, aku rasa Tiktok lebih aktif komentar ya dan banyak banget yang komentarnya out of the box bikin ketawa hahaha. Nah kalau Instagram lebih kenceng di Like sama share nya (mereka banyaknya nge-repost lagi reels kita di story nya).
Wenda: Challenge nya pasti berbeda, tapi selama ini apapun yang di share bentuk dari hal-hal yang disukai jadi sampai saat ini belum riset mendalam tentang audiensnya..
Tips & tricks membuat FYP menurut Roda Nona? Hahaha..
Bella: Kalau pengalamanku sih, kontennya harus ada mukanya kali ya? Tapi ga cuma itu, harus juga melibatkan kegiatan dan atau ekspresi dari suatu situasi yang relatable.
Khansa: Storytelling yang menarik dan konten yang relate sama audience kamu.
Laras: Kalau aku pribadi bikin video biar FYP itu adalah pemilihan lagu yang tepat, terus durasi video jangan terlalu lama, dan yang harus diperhatikan itu detik-detik awal video harus langsung narik perhatian audience sih..
Wenda: Organik, jadi diri sendiri, dan bisa berbagi hal yang rasanya mungkin banyak audiens pengen banget melakukan kegiatan yang sama kaya kita, jadinya antara bisa mewakilkan perasaan mereka atau bisa ngasih inspirasi agar mereka lebih tergerak untuk melakukan hal yang diinginkan.
Karena Roda Nona masih masuk ke “genre†otomotifâ€, 3 tipe dan merk kendaraan favorit kalian apa saja?
Bella: Duh gatau namanya apa, waktu di jepang ada motor warna hitam aksennya pink pastel lucu banget. Bentuknya juga bagus tapi aku sebagai orang awam gatau sih itu motor apa hahaha. Kalo mobil aku lagi tertarik banget sama Ora Good Cat yang coral blue atau pale pink.
Khansa: Kalau motor lagi pengen ngerakit Honda TL250 kalau mobil pengen banget punya Mitsubishi Delica dan Mercy Tiger 280E putih atau item deh boleh! hahahah..
Laras: Okay! kalau aku ini listnya:
1. Mobil: Porsche 911 & Land Rover 1948 (Series 1)
2. Motor Versi Cute Yamaha 1973 Zippy, Versi sangar Triumph Bonneville
Wenda: Kalo mobil aku pengen banget punya BJ 73 Land Cruiser 1990 dan Campervan Volkswagen, Honda atau Hijet apapun yang gemas! Kalo Motor, aku pengen Honda CC110 Japan, Honda Gyro X dan Honda Chaly!
Selain riding, cafe-hopping dan membuat playlist Spotify, konten-konten apalagi yang ingin kalian coba garap tapi belum kesampaian?
Bella: Kita lagi nyoba vlogging sih, lagi proses editing tapi bingung milih footage soalnya banyak yang bagus…
Khansa: Vlog, coming real soon!
Laras: Kita next bakal ada di Youtube!
Wenda: Vlog, Kuliner, dan memulai aktivitas sesuai karakter masing-masing.
Karena kalian baru saja trip ke Thailand kemarin, bisa ceritakan pengalaman terseru selama di Thailand dari perspektif masing-masing?
Bella: Aku seneng pas motoran di jalanan sepi waktu malam, sama momen piknik!
Khansa: Suka pas motoran malam-mama sama Bella jalanannya enakkk
Laras: Pengalaman seru di Thailand bisa ketemu temen baru! Disana kita ketemu beberapa content creator dan yang punya thrift shop disana. Terus pengalaman lainnya adalah motoran, walaupun vibesnya kaya di Jakarta tapi ada degdegan nya juga pas pertama kali ngegas hahaha..
Wenda: Bisa motoran! Lalu ketemu teman-teman baru di Thailand yang mana mereka suka berkendara dan thrifting..
Top 5 tempat makan favorit kalian masing-masing di Jepang apa saja?
Bella: Aku sih Famima sama Red Rock ya, oh sama Joto Curry Osaka.
Pertanyaan terakhir: Bagaimana rasanya menghadiri konser Joe Hisaishi? Film Ghibli favorit kalian apa saja?
Bella: NANGISSSS! Walaupun konsernya bukan konser Ghibli, tapi vibe yang diciptakan sama Joe Hisaishi fulfilling banget. Aku udah pengen banget nonton konsernya pas tahun 2019 waktu di Singapore tapi wah.. Harga tiketnya ga masuk akal… Film Ghibli favorit aku Nausicaa of The Valley of The Wind, tentang nature vs the great reset hehehe.. Dan karakter Nausicaa yang digambarkan sama Hayao Miyazaki bener-bener relate sama aku makanya ini film Ghibli terfavorit.
Khansa: Speechless, nangis dan standing applause. Kaya masih mimpi sih rasanya bisa nonton langsuuuung walaupun kemarin bukan konser khusus Ghibli tapi beliau bawain Totoro di perform terakhir… Kalau aku When Marnie Was There, Howl’s Moving Castle, dan Arriety.
Laras: Pengalaman yang gak terlupakan sih, aku pertama kali nonton orchestra dan itu JOE HISAISHI. Kaya masih gak percaya bisa ketemu langsung hehe. Film Ghibli yang paling aku suka Porco Rosso, The Wind Rises, dan Howl’s Moving Castle.
Wenda: Salah satu mimpi terbesar di hidup, yang mana perjalanan ke Jepang ini pun adalah impulsif untuk nonton Joe Hisaishi. Aku segila itu sama ghibli, soundtrack dan sejatuh hati itu dengan karya-karyanya beliau, jadi saat bisa ngerasain dan bisa menikmati langsung karyanya beliau rasanya UNREAL!!! Ga berhenti netesin air mata dan bahagia sepenuh hati. Hidangan langka di hidup!
Interview & text by Aldy Kusumah Photos from Roda Nona
Prejudize adalah salah satu band hardcore asal Bandung yang prolifik dalam merilis karya. Jadwal panggung mereka sangat intens dan padat. Setelah merilis demo EP pada tahun 2021 yang berisi 4 lagu, mereka pun mengisi tahun 2022 dengan sebuah maxi single “Coward & Vagueâ€. Di tahun 2023 ini mereka merilis single ‘Constant Burning’ yang juga dirilis MV nya baru-baru ini. Mari berbincang dengan Arga, Keniro, Rian, Ale dan Alfi mengenai rencana-rencana Prejudize dan beberapa album favorit yang menginspirasi mereka
Halo Prejudize! Sedang merencanakan apa saja nih di tahun 2023? Alfi: Lebih ke EP baru untuk tahun 2023 hehehe, beres EP baru merencanakan tour niiih..
Rian: Halo mas, terdekat di tahun 2023 setelah single ‘Constant Burning’ ini, kita bakal nyiapin materi EP yang insyaAllah bakal rilis di pertengahan tahun ini. Sebenernya ada sih beberapa plan aktivasi dalam bentuk single lagi cuman kayanya masih tentatif jadi yang paling pasti bakal ada EP di pertengahan tahun dan mudah-mudahan ada tour nya juga.
Ale: Halooo, buat planning di tahun 2023 ini kita Prejudize insyaAllah mau ngeluarin EP di pertengahan tahun, tapi kalo misalkan materinya banyak tidak menutup kemungkinan buat album hahahahaha..
Keniro: Halooo, untuk tahun ini rencananya mau bikin EP yang berisikan 4/5 lagu, dan di lanjut tour juga.
Arga: Halo… anak-anak kalo plan dan agenda ada beberapa obrolan BM yang semoga terwujud, misalnya kolaborasi dengan brand yang lagi kita siapin deck nya. Untuk terdekat pertengahan tahun ini bakal rilis EP, pengen weekend tour juga beres EP.
Bisa ceritakan sedikit mengenai MV ‘Constant Burning’ dan konsep visual nya? Bagaimana proses shooting nya? Rian: Sebenarnya konsepnya pengen represent kita aja sih karena musiknya memiliki durasi pendek juga. Disambungkan dengan lirik soal dedikasi, kita juga ajak temen-temen new blood Bandung ciee gituuu wkwk.. Ada anak-anak Bleach, Rounder dan temen-temen skena yang seangkatan. Proses shooting nya lumayan simple om, cuman agak effort di set sama venue yang lumayan susah dapet izinnya, cuman berkat pacarnya Arga yang orangtuanya bisa bantu akhirnya bisa di bioskop Dian dan kita jadi band pertama yang bikin MV disitu hehehe.. Selebihnya bisa jadi keren karena penggarapannya di kerjain sama anak-anak Major Minus, ga lupa Husted Youth juga berperan banyak sehingga Prejudize bisa bikin MV ‘Constant Burning’ ini om. Simple sih om cuman lumayan cape wkwkw..
Alfi: Proses shooting ‘Constant Burning’ sangat menyenangkan banget, pokoknya shout out buat Studio Major Minus gokil lau pada cuy. Bioskop Dian rada sedikit horor tapi aman ajah, dari pagi sampe sore acting terus cape oge ternyata bikin video clip teh.
Ale: Kalo buat konsep lebih ke representasi si bandnya sih meskipun pasti ada masukan dari temen-temen dan PH yang sudah sangat membantu untuk suksesnya first MV dari Prejudize.. Tapi jujur karena baru pertama kali bikin MV ternyata cape oge sih nya, kebayang band-band popstar kaya Noah, Dewa, Slank sama Kangen band sih yaa capena pasti lebih, komo mamang Ariel mah dengan sejuta pesona dan karisma pasti cape pisan mamawana wkwkwkwk,,
Keniro: Nah ini ngikut jawabannya Rian hehe..
Arga: Sama kaya Rian ini om..
Untuk Prejudize sendiri, biasanya proses pembuatan lagu itu datang dari siapa awalnya? Apakah kalian lebih prefer jamming atau langsung bikin demo home recording? Rian: Untuk proses kreatif pembuatan lagu biasanya ada sketch dulu dari Alfi & Keniro terus di lempar ke anak-anak, lalu di bangun bareng-bareng sekalian di rekam home recording gitu om.. Mmmhhh ada om jammingnya juga, setelah brain storming bareng terus jamming ke studio.
Alfi: Sketch gitar dulu biasanya om dari aku atau Ken, baru lempar pas latihan, biasanya pada briefing di rumahku hehehe. Jamming paling pas udah di studio, dirempug bareng-bareng lagi
Ale: Kalo untuk proses pembuatan lagu biasanya rangka awal ada di gitaris kita Alfi dan Keniro, cuman setelah bergabungnya Alfi di Prejudize proses pembuatan lagu seringnya briefing bareng-bareng di rumahnya Alfi. Seminggu atau lebih setelah briefing baru di rembukin lagi di studio untuk meramu musik yang ciamik hahaha..
Keniro: Proses kreatif biasanya dari aku dulu langsung di lempar ke Alfi ataupun sebaliknya, lalu di bangun bareng-bareng pas briefing atau latihan.
Arga: Sejauh ini dari demo 2021, maxi single ‘Coward & Vague’ sampe ‘Constant Burning’ semua sama rata om, dan dibantu beberapa producer.
Kalian juga pernah berkolaborasi dengan Ekrig, Kevin Bleach dan Vai Couch Club dalam menggarap lagu. Kenapa memilih mereka? Alfi: Nah kalo ini aku belum masuk sebagai personil yak om wkwkwk jadi aku gatau prosesnya gimana. Kedepannya bakal dikerjain sendiri dulu om, dan terakhir bersama Indra Zip untuk single terbaru kita yang ‘Constant Burning’.
Rian: Iyaaa om bener, kenapa mereka sebenarnya karena teman dan berawal dari obrolan gitu terutama Kevin Bleach dan Vai. Kalau sama mas Ekrig waktu kita bikin guide buat lagu Coward kepikiran pengen featuring dan tercetus mas Ekrig pas liat IG ada dia baru post gitu haha.. Terus dibantuin Kevin buat bikin part yang cocok sama mas Ekrig. Dan alhamdulillah mas Ekrig baik banget langsung mau, di EP nanti kita bakal digarap sendiri dulu mas cuman aku pribadi lagi mikirin pengen ada featuring lagi sama musisi lain hehehe..
Ale: Betul sekali mas, seperti apa yang mas Rian bilang..
Keniro: Jawaban dari pertanyaan yang ini, kayanya sama kaya Rian om kalo dari aku..
Arga: Kalo ditarik kebelakang karena basednya kita lagi intense banget sama mereka dan banyak tukar pikiran. Kalau demo remix karena aku waktu itu mikir saat pandemic belum ada aktivasi show tapi bar udah banyak buka kenapa gak coba untuk reach audience party ini biar ada cross market. Kalo mas Ekrig waktu itu kebetulan materi kita tercetus ide nuansa yang agak gelap ala-ala Gulch / Potrayal of Guilt terus kita langsung look up ke mas Ekrig dengan persona lagunya.
Artwork rilisan-rilisan kalian cukup menarik. Ada yang dikerjakan Fr3lan dan Saint Mary. Konsep apa yang kalian pengen tampilkan secara visual? Alfi: Ini ke 4 personil lagi yakkk, karena aku juga belom masuk om hahahaha…
Rian: Aku terus nih yg jawab, si Arga kemana wkwkw.. Kalau Fr3lan waktu itu dia bikinin buat Speed dan Bleach yang terdekat kita tau, terus karakternya kuat juga dengan pesona branding dia yang HC banget gitu wkwkw.. Sama sih kaya mba Saint Mary juga karakternya kuat dan hasil rundingan dengan pihak label waktu itu mas.
Ale: Nah kalo buat artwork dan konsep saya serahkan ke yang punya gagasan mas Rian dan mas Arga wkwkwk
Keniro: Kenapa kita pilih Elan, kesatu emang dia bagus dan punya karakter dari setiap karya yang dia bikin, kebetulan temen juga, dan saat kita memutuskan buat pilih artwork dari Saint Mary, karena menyesuaikan dengan nuansa musik yang kita bikin saat itu.
Arga: Kalo soal visual aku pribadi suka dengan gaya band-band death metal ‘90an, dengan gaya pembawaan kita bawa band HC, yang kebetulan di era sekarang konsep-konsepnya 3 shift of hell diluar itu teknik gambarnya seperti apapun. Kalo BM pribadi pengennya di kerjain sama gitaris kita sendiri si Keniro nih, kebetulan dia juga tukang gambar.
Untuk departemen lirik, tema-tema besar apa yang pengen diangkat di lagu-lagu Prejudize? Arga: Kalo konsep lirik kita angkat dari kehidupan personal sehari-sehari, untuk lirik indonesia ada kemungkinan besar bakalan ada di EP baru, masih develop nih aku pribadi bikin lirik Indonesia yang bisa relevan sama POV Prejudize.
Rian: Untuk lirik sepenuhnya Arga yang ambil kendali, cuma untuk konsep kita ga jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari yang related sama usia-usia kita. Insya allah di EP kita request ke Arga pengen ada lirik bahasa Indonesia dan si Arga juga lagi belajar dan mempelajari lirik berbahasa Indonesia yang baik dan catchy om wkwk
Ale: Kalo lirik kita ngedirect Arga biar lebih menyikapi kehidupan sehari-hari, karena kalo bawa-bawa politik takutnya jadi kemana mana arah si bandnya wkwkwkwk
Keniro: Untuk lirik dari Arga, tapi lirik dari lagu-lagu terbaru, aku beberapa ikut nambahin dikit, kalo dari tema lirik lagu yang demo itu dari keluh kesah hidup Arga hehe, tapi setelah aku bantu, lebih ke spirit of youth gitu hehe, tidak menutup kemungkinan sih buat bikin lirik bahasa Indonesia kedepan nya.
Jika memilih salah satu, Kalian ingin lebih dikenal sebagai band yang intens touring dari panggung ke panggung atau band yang lebih prolifik merilis album? Rian: Sebenernya pengen dua-duanya om wkwkw cuman aku pribadi kalau harus milih, aku pengen di kenal sebagai band yang intens tour dari panggung ke panggung hehe..
Alfi: Kedua-duanya om, karena keduanya saling berhubungan, ketika sudah rilis album tour itu pelengkapnya hehe..
Ale: Dikenal sebagai band yang intens touring dari panggung ke panggung, karena buat band yang produktif butuh waktu luang untuk memikirkan materi dan lain-lain sedangkan kesibukan personil masih sibuk dan fokus buat mencari nafkah, ngasuh anak dan membahagiakan pasangan hahahahaha.. Tapi terlepas dari itu album sangat penting buat eksistensi si band. Setidaknya kita punya target aja sih buat album misal per 2 tahun sekali atau per 3 tahun sekali.
Keniro: Dua-duanya pengen sih kalo aku pribadi..
Arga: Kalo aku sih pengen banyak tour dan manggung dari panggung ke panggung karena menurut aku jika sebuah band sudah seperti itu berarti sudah melekat di hati audiencenya, mungkin secara waktu rilisan agak lama pun gapapa, tapi sekali rilis pengen kesannya amazed terus.
Ritual masing-masing personil sebelum manggung? Rian: Kalau aku sebelum naik panggung berdoa, stretching, sama ngerokok sampe looping intro beres hehe..
Alfi: Ritual aku mah berdoa paling, terus pasti pemanasan main gitar dulu di backstage biar ga tegang pas on stage..
Ale: Kalo buat ritual sebelum manggung paling stretching sama ngerokok aja sih, kalo ngerokok sebenernya buat nurunin rasa gugup sebelum naik panggung. Saya pribadi jujur kalo mau naik panggung suka deg degan parah karena pikirannya takut salah dan malu sama audience wkwkwk..
Keniro: Bismillah, stretching tapi jarang, makanya kalo abis loncat loncat suka keram, dan ritual peluk kalo ada pacar hehe..
Arga: Ritual khusus yang aku lihat sih gak ada, cuman wajib pemanasan aja biar orot ga tegang hahah.. Dan kalo aku pribadi banyakin air putih, pisang, Redbull aja sih soalnya ke sugesti mas Gaga dari Modern Guns pernah kasih masukan karena Brendan Murphy ngelakuin itu biar maksimal.
Top 3 album hardcore favorit masing-masing personil? Rian:
Comeback Kid – Wake the Dead
Turnstile – Nonstop Feeling
Suburban Scum – Ultimate Annihilation
Alfi:
Terror – Pain Into Power –
Year of the knife – Internal incarceration
Hatebreed – Hatebreed
Ale:
Verse – From Anger and Rage
More Than Life – What’s Left of Me
Comeback Kid – Symptoms + Cures
Keniro:
Title Fight – Floral Green (2012)
The Rival Mob – HC4HC (2010)
Hoax – Hoax (2013)
Arga:
The Geeks – Every Time We Fall
Year of the Knife – Internal Incarceration
Candy – Good to Feel
Biohazard atau Leeway? Rian: Biohazard, karena suka yang heavy om hehe..
Alfi: Biohazard sih karena aku ga tau Leeway wkwkwkwkwk maafin aku kurang hardcore, Biohazard lebih familiar dari jaman aku SMA mengenal hardcore buat aku pribadi yah.
Ale: Biohazard, karena salah satu band pertama yang dikenalin sama kakak selain Shelter dan Ignite.
Keniro: Leeway, karena seringnya dengerin Leeway.
Arga: Leeway soalnya aku suka yang agak crossover terus pas Ekulu rilis ngingetin aku lagi sama band satu ini.
Turnstile atau Title Fight? Rian: Turnstile, gatau kenapa om susah jelasinnya haha..
Alfi: Turnstile atau Title Fight rada sulit, karena aku suka dua-duanya uy, album Floral Green Title Fight tuh itu pertama aku ngena sama Title Fight, kalo Turnstile to be honest baru melek pas album Glow On, seriusan aku tuh gitaris yang kurang hardcore ada di band hardcore wkwkwkwkwkwk..
Ale: Turnstile, pertama denger band ini tuh langsung suka sama musiknya gatau kenapa..
Keniro: TITLE FIGHT.
Arga: Turnstile, salah satu pembuka telinga yang lebih general bisa suka kaya waktu jaman Shelter / Refused keluar kali ya. Dobrakan banget. Title Fight juga suka karena mereka sebelumnya punya project HC Badseed hehe..
Shoegaze atau Emo? Rian: Emo, karena awal kenal dan sok-sok an pengen maen band awalnya dari musik emo..
Alfi: Jelas shoegaze, karena aku sering nunduk kalo lagi maen gitar wkwkwk ga deng. Shoegaze lebih emotional aja buat aku dari cara mereka mainin instrumen dan lagam vokalnya juga. Dan kebetulan aku lebih suka musik yang mengawang-ngawang.
Ale: Emo, lebih bisa masuk dengan musiknya dan bisa menikmati hehe, gatau kenapa kalo shoegaze tuh buat saya masih belum bisa dinikmati dan terlalu jenuh hehehe..
Keniro: Cukup sulit, tapi aku pilih Emo, karena dari SD udah di cekoki playlist emo, screamo, skramz sama om aku, tapi shoegaze juga aku suka banget, pertama dengerin musik shoegaze tanpa basa-basi langsung masuk dan suka banget.
Arga: Dua-duanya sih, cuman kalo dibilang lebih pilih mana aku milih “emo†yang lebih dulu aku kenal sebelum shoegaze. Pertama jatuh cinta sama berkat Underoath suka banget sama drummernya Aaron Gillespie era 2000an jaman gondrong sambil nyanyi lagu Reinventing Your Exit, keren bgt!
Lirik politikal atau lirik personal? Rian: Lirik personal, lebih related terlebih ga terlalu berat juga ngebawainnya. Politik kaya tanggung jawabnya harus berat banget wkwk
Alfi: Lirik personal karena politik terlalu berat aja sih pembahasannya, kita ngebuat apa yang kita tau aja deh gitu.
Ale: Personal, karena kalo politik yaa itu tadi takut bandnya jadi kemana mana sih..
Keniro: Jelas, lirik personal.
Arga: Personal.
Victory Records atau Revelation Records? Rian: Victory Records, karena banyak band yang disukai aja disitu haha..
Alfi: Anjir demi apapun ini pertanyaaan apa lagi wkwkwkwk.. Aku milih Run For Cover Records aja boleh gak sih?
Ale: Revelation dong pasti, karena salah satu records yang rilisan bandnya favorit hungkul hehe..
Keniro: Sulit sih, tapi aku lebih pilih Revelation Records, banyak band favorite disitu
Arga: Revelation Records, apalagi pas tau Shai Hulud adalah salah satu roster mereka
Pertanyaan terakhir: Masakan Padang atau masakan Sunda? Rian: SUNDA om, aku seneng lalab soalnya wkwk
Alfi: Masakan Sundaaaa, aku cinta sambel terasiii
Ale: Sunda is the best, aku mah Sunda pride om hehe sampe anak aku aja dinamain bahasa Sunda..
Keniro: Padang.
Arga: NASI PADANG!!!
Text by Aldy Kusumah Photos taken from Prejudize’s archive
Bleach adalah salah satu band hardcore yang selalu menjadi sorotan akhir-akhir ini, bahkan dari awal mereka menelurkan EP self titled mereka pada tahun 2020 Bleach already started making waves. Fast forward ke tahun 2023, dengan formasi yang semakin solid, Bleach merilis EP Chrome yang merupakan aktivasi “pemanasan†sebelum debut album mereka rilis. Mari berbincang dengan mereka mengenai proses rekaman dan rencana epik mereka membuat 10 video klip untuk debut albumnya
Masing-masing bisa ceritakan sedikit tentang EP Chrome yang baru dirilis dan upcoming album si Bleach? Mike: Project album ini buat saya itu adalah satu cara kami mengekspresikan musik hardcore dengan cara kami sendiri. EP Chrome merupakan sedikit bentuk dari eksplorasi musik yang kita lakukan.
Kevin: Sebenarnya full album tuh bakal rilis Februari, tapi karena Maret dan April bulan puasa, jadi biar gak kepotong puasa dan materi tetap “hangat†kita rilis EP dulu. Yang ada di EP ini juga nanti masuk semua ke album. Dari segi materi sebenarnya ini semua sudah dibikin dari tahun 2020. Pertama kita bikin EP self-titled, lalu ktia bikin EP bareng Couch CLub dan single “Treat The Diseaseâ€. Dan setelah itu recording materi album ini udah beres, tinggal take vokal aja. Drum di Funhouse sama Pak Yoni Gayot. Untuk gitar, bass, mastering dan vokal di Homestrack, operator nya si Faris. Secara kreatif ya color musiknya ya musik-musik tahun segitu, seperti Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice masih.
Proses ngerjain materi lagu di Bleach biasanya seperti apa? Kevin: Biasanya demo awal dari gue, dulu tuh gue dan Krisna belum married jadi sore-sore suka ngerjain materi dirumah Krisna. Proses ngerjain materi album ini cuma sekitar 3 bulan. Sehari bisa beres 1 lagu. Kaya yang collab sama Dika juga cuma sehari, lirik dari dia. Sebenernya ada 3 collab di album ini tuh, sama Austino (vokalis Prime, bassist Lost Sight), lagu terakhir ada yang sama Jamrud. Balik lagi ke proses penggarapan materi biasanya gue kerumah Krisna, ga bawa lagu, tapi bikin riff mendadak disitu, ngalir aja. Jadi pas masuk studio anak-anak ngasih input dan aransmen, poles-poles. Kalau departemen lirik gue percayain sama Mike semua. Awal-awal lagam vokal gue ga ngelepas si Mike, tapi untuk album Mike sudah datang ke studio dan explore sendiri. Sampai vokal-vokal clean si Mike yang nyari nada nya sekarang.
Bleach sudah eksplor genre-genre musik diluar hardcore itu sendiri dari kolaborasi sama Couch Club di Intermezzo, cover “Coklat” PS yang sedikit berbau grunge sampai single “Scales” yang jazzy. Bahkan katanya ada pengaruh dari King Krule. Apa yang ngebuat lo semua eksplor genre-genre yang tidak umum di hardcore tersebut? Mike: Simple aja, karena saya sendiri suka dengerin berbagai macam genre. banyak aspek-aspek keren dari genre-genre tersebut yang bisa dicampurkan dengan musik hardcore yang kami mainkan.
Kevin: Kaya lagu “Overcast†aja ada elemen perkusi yang di highlight. Dan karena basic nya kita juga suka genre-genre musik lain diluar hardcore itu sendiri, jadi kenapa tidak dimasukkan aja elemen-elemen nya. Dan gue juga ga mikir sejauh apakah kita akan mengalienasi penggemar Bleach dengan eksplorasinya, ya kita bikin aja dulu dan semoga semua menerima.
Kenapa memilih di co-release oleh Oblivion dan Disaster Records? Bagaimana awal prosesnya? Kevin: Sebenarnya udah ngincer mereka dari lama. Dari pas rilis videoklip pertama udah ngebahas sama anak-anak pengen dirilis sama Disaster dan Oblivion. Nah pas Oblivion ngeborong merch kita, kita sekalian pitching soal album, gow katanya. Terus nanya ke Ody Disaster juga mereka kasih lampu hijau. Gatau kenapa lama ya, mungkin gara-gara kita nya gak ngerjain aja, gara-gara tour dan manggung jadi sedikit terhambat. Yang “Scales†itu kan alternatif, terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Coolâ€.
Mike: Buat Oblivion dan Disaster sendiri sebenarnya ruang lingkupnya masih dalam circle pertemanan Bleach. kami pun sangat menilai tinggi apresiasi mereka di dalam musik. Jadi untuk proses rekaman EP dan Album ini bisa dibilang sangat smooth karena mereka juga bisa keep pace dengan bleach.
Apa yang kalian kejar dari sound dan aransmen Bleach untuk EP dan album? Upy: Drumming di album Bleach tuh banyak pake beat-beat heavy metal 90an..
Mike: untuk vokal sih di album ini saya ingin mencoba di beberapa bagian diisi dengan tune vokal ala-ala Chino Moreno dari Deftones.
Kevin: Gue terinspirasi gitar-gitarnya si Culture Abuse, asik flanger-flanger basah yang cepat. Leeway juga gue dengerin yang album “Born to Expireâ€. Kalau gue sih ingin gitar nya dapet sound si Mizery, tight nya masih ada tapi terdengar sedikit vintage. Chorus nya asik juga. Kalau TItle Fight dia banyak main open chords chorusnya. Warzone yang album Warzone juga gak kaya Warzone, enak banget gitarnya.
Denger-denger semua lagu di album kalian mau dijadiin video klip ya? Bisa ceritakan sedikit dari sudut pandang masing-masing? Kevin: Iya nih 10 track mau dibikin music videonya. Mulai shooting tanggal 12 sampai 27 Februari ini kita kerjain. Sebenarnya pengen bikin film. Rangkaian dan aktivasi nya tuh banyak sebenarnya, tapi nanti details nya off the record aja hehehe. Durasi full album cuma 21 menit, harusnya masih make sense untuk dibikin film pendek. Gue ketemu sama directornya, Putt April. Dia tuh biasa ngerjain anak-anak hiphop kaya Cito Gakso, Belva. Dia juga pengen bikin short film juga dan selalu cari modal. Alhamdulillah akhirnya kita dapat dananya dari label untuk merealisasikan short film ini. Rilisnya Juni kalau ga ada halangan.
Mike: Iya bener, sebenarnya pembuatan semua lagu dijadikan video klip ini biar orang-orang yang mendengar lagu-lagu di album ini bisa merasakan experience lain salah satunya dengan memvisualkan semua lagu di album ini.
Mike, gimana proses kreatif lo untuk mengisi departemen lirik dan lagam vokal pada saat penulisan lagu? Ceritain juga transisi lo dari bassist jadi vokalis.. Mike: Untuk lirik di album ini sendiri sih sebenarnya tidak jauh-jauh dari hal-hal yang sedang relate di hidup saya setahun belakangan ini. Hal-hal ini saya coba kumpulkan dan jadiin dalam beberapa lagu yang dipakai di album ini. Untuk transisi dari bass ke vokal tuh lumayan challenge sih di awalnya. Karena vokal sendiri merupakan hal yang baru bagi saya selama ngeband dan saya sendiri ngerasain perkembangan saya dari awal saya pegang vokal di Bleach sampai sekarang.
Upy, selain di Bleach, lo juga bermain di beberapa band yang berbeda genre seperti Lowlines, sempat ngedrum di Couch Club dan Eazz. Apa lo juga mencoba memasukan referensi dari berbagai genre tersebut ke style drumming lo di Bleach? Oh ya kabarnya lo juga mau bikin buku not balok album Bleach ya? Upy: Kalo untuk mencoba memasukan dari genre genre di atas itu nggak sih, style drumming di Bleach tuh banyak pake beat beat heavy metal 90s. Di sini juga gw mempertahankan dengan single pedal ditambah touch yang dibuat full power.
Untuk project buku not drum itu sebetul nya goals gw adalah pengen orang bisa baca not dan mengenal basic drumming di music hardcore. Ini versi gw, jadi nanti isi nya tuh basic-basic beat hardcore versi gw sama ada beberapa teknik dasar aja itu sih.
Krisna dan Axel, kenapa memilih instrumen gitar dan bass dan ga mengikuti ayah kalian (Om Krisyanto dan Om Azis MS) yang sudah ikonik sebagai vokalis & gitaris Jamrud? Krisna: Awal nya saya ingin jadi arsitek, cuma ga kesampean. Dari kecil emang udah hobi gambar gunung dan sawah. Kenapa pilih instrumen gitar, dulu SD kelas 6 pertama kali denger lagu nya A7X “Unholyâ€. Terus di sekolah ada yang bisa mainin lagu itu, kesan pertama wow “keren†sampe pada akhir nya ngulik. Pertama tertarik dengan gitar SD kelas 4 lihat film dokumenter nya Slipknot lihat Jim Root, walaupun awalnya sempat ketakutan nonton-nya, kaya sekte setan kegelapness…
Axel: Dari kecil sebenarnya tertarik ke drum sampe ikut-ikut perlombaan tapi waktu pandemic mulai ga ada kegiatan apa-apa akhirnya nyobain ngulik bass ternyata suka banget dan mulai mendalami lebih jauh…
Kevin: Si Axel baru maen bass 6 bulan pas gabung Bleach, dan langsung diajak tour hahaha.. Padahal DJ dia aslinya..
Words & Interview by Aldy Kusumah Photos taken from Bleach archives
CAL adalah moniker dari Gilang Hade, yang juga menjadi nama dari project solonya. Setelah merilis mini album Anthracite Grey, CAL pun mulai bergerak dari panggung-ke panggung dan menuai sambutan hangat dari para penonton yang apresiatif. Proyek solo ini pun semakin serius dengan bergabungnya CAL ke Disaster Records untuk merilis album dalam waktu dekat. Mari berbincang dengan Gilang mengenai shoegaze, nugaze sampai polisi skena.
Lang, sebelum proyek solo CAL ini apa lo ngeband juga sebelumnya? Dari dulu mainin genre apa?
Pokoknya pas SMA kelas 2 bikin band post-rock namanya It’s Madness. Setelah lulus diajakin temen bawain garage punk tapi main bass. Sempet juga sama Tragedi Berisik band hardcore juga. Terus terakhir sama Charlie Be Nice, itu 2 tahun yang lalu mungkin ya.. Tapi sekarang udah engga sama semuanya hahaha..
Tapi interest ke musik shoegaze dan alternative rock udah lama dari pas lulus SMS, kaya dengerin Whir, Nothing.. Sekarang juga masih kuliah tingkat 2 hahaha.. Mencoba produktif aja nih..
Kilas balik sedikit, apa yang pengen lo sampaikan di tema-tema lirik Anthracite Grey?
Sebenarnya itu masih tenttang percintaan.. Asmara hahaha.. Ada beberapa lagu kaya yang “Spending†atau “Sulphateâ€, ceritanya mah jangan terlalu toxic lah, dan jangan sampai menghadapi situasi yang toxic aja lah, ah sok-sok an aja sih hehehe.. Emang ga dikonsep kalau judul lagu menceritakan liriknya sih itu teh.. Karena bagus namanya aja makanya dijadikan judul hahaha.. Kalau Anthracite Grey itu sebenarnya seperti arang kalau di googling mah. Kalau covernya warna ungu itu karena sering nge-repost story orang pengen coba warna lain selain hitam dan putih, pas cobain warna ungu ternyata bagus juga jadi identitas si CAL. Pas bikin kover EP minta moodboardnya warna ungu. Sebenarnya ga terlalu dikonsep sih itu EP nya, berjalan aja itu mah dari warna, judul sampe musiknya juga lebih organik..
Apakah lo lebih mengambil referensi band-band nu gaze atau shoegaze 90an era creation records untuk CAL sendiri?
Malah lebih ngambil nu gaze mungkin yah, kaya My Vitriol, Fiddlehead, Narrowhead. My Vitriol sih yang udah agak lama mah. Si CAL yang upcoming album malah banyaknya ke My Vitriol referensinya. Whir dan Nothing juga, Title Fight juga masih ada. Suka bawain Basement juga yang “Pineâ€, enak pisan dicover soalnya chord nya gampang hahaha..
Lo meng cover “Utopian Dream” di kompilasi PS dan merubah lagu akustik itu menjadi shoegaze dengan penuh wall of sound yang mengawang. Bagaimana awalnya lo ikut proyek itu, kenapa memilih “Utopian Dream” dan konsep apa yang lo coba tawarkan di aransmen musiknya?
Awal memilih lagu ini tuh pas ngulik taunya cuma tiga chord diulang-ulang, dikembagin aja jadi kaya dipetik.. Jadi waktu itu tuh di group diajakin Tribute to Pure Saturday, semua pada nge list. Nah si Biman tuh yang dulu main gitar memilih “Utopian Dreamâ€. Yang lain pasti milih yang full band dibikin full band lagi, gimana kalau kita cover lagu akustik dijadikan full band. Langsung buka DAW, ngulik chord dan bikin drum, 2 jam jadi tuh, gak ada briefing gak ada apa, semua di aransmen aku sendiri di kosan. Langsung dibawa ke studio baru di obrak-abrik lagi di studio..
Si CAL mah emang proses kreatifnya emang awal mulanya dari aku sendiri, dari template drum dan gitar sampai bass. Anak-anak tinggal ngisi dan main sesuai karakter. Kalau bagan-bagan sudah fix, cuma cara memainkan nya gimana mereka mainin nya.
Single baru lo conformance adalah single pertama dalam rangkaian aktivasi menuju album debut. Kenapa memilih conformance sebagai 1st single?
Mungkin lebih karena single ini itu ngasih tau musik CAL kedepan nya tuh bakal kaya gini, kurang lebih single ini juga mewakili kalau warna album nya akan seperti lagu ini. Nah kalau soal aktivasi, kalau orang lain kan posting timeline manggung, kalau aku posting di IG timeline rilisan hahaha, kaya bikin penasaran orang, digoreng dulu sebelum rilis bikin penasaran orang hehe..
Kenapa mulai memberanikan diri menulis lirik bahasa Indonesia?
Nah itu gatau saya juga heran, memberanikan diri aja hahaha.. Padahal susah pisan bikin lagu berbahasa Indonesia tuh, bikin lirik susah, bikin nada vokal nya susah juga. Personil yang lain dan lingkungan juga mendukung saya biar coba bikin lirik Indonesia.. Referensi lebih dari dengerin The Adams, Dewa 19 juga.. Pokoknya mash ga pengen terlalu puitis.. Misal kalau dengerin lirik Perunggu teh kan beda sama warna lirik The Upstair gitu.. Lebih kaya ngobrol liriknya teh.
Pendapat lo tentang isu yang akhir-akhir ini beredar mengenai “sebut 3 lagu†dari kaos band yang lo pakai? Hahaha..
Waduh! Polisi skena hahahah… Sebenernya mah sah-sah aja ada yang nanya kaya gitu, yang cuek juga gapapa, gimana masing-masing. Cuma kalau aku pribadi liat cewek-cewek yang biasa dengerin Maroon 5 tiba-tiba pakai baju Led Zeppelin atau Guns ‘N Roses kalau udah keren ya gapapa, bagus dan mereciks hahaha.. Malah sekarang juga banyak beberapa orang beli merch si CAL itu karena suka desainnya, bukan karena denger musiknya. Itu juga salah satu bentuk support, tidak selalu harus khatam lagunya. Kalau aku pribadi pernah juga beberapa kali beli baju band tapi gatau, beli cuma karena design nya bagus juga sih, tapi alhamdulillah belum ada yang nanya juga lagu band nya apa aja hahaha.. Setidaknya saya support band nya dengan beli merch haha..
Pedalboard lo lumayan warna-warni juga ya seperti Hot Wheels hahaha.. Top 5 efek gitar favorit lo dan kenapa? Reverb Nux Ocean: Jadi lebih bernyawa sound gitarnya aja kalau main ritem pake reverb. Knop di jam 8 biasanya. Kalau gak pakai reverb kan kasar dan terlalu nge distort banget. Pedal ini always on. Boss Delay DD3: Efek legend yang lumrah dipakai gitaris mungkin yah? Hehe.. Jadi favorit soalnya buat nge boost dan nambahin sustain juga yang aku rasain mah. Pre Amp AMT R2: Ini tuh sound ampli dual rectifier Mesa Boogie. Sebelum punya efek ini tuh sering latihan di Chronic kan, disitu aku pake ampli Dual Rectifier, ngerasa cocok, dan ternyata pakai gitar aku yang single coil enak banget sound noise dan tone nya. Jadi aja beli si efek ini. Ini juga always on. Ibanez TS9: Ini juga buat nge boost doang, kalau drive sih inti low, mid high nya ada di AMT, si TS ini nge boost kalau nge lead aja. Kokko Tuner: Paling berguna ini dari semua hahaha. Pertama kali beli efek tuh efek ini. Beli di Shopee pas 12-12, harganya dari Rp. 600,000 jadi Rp. 280,000 hahaha. Lumayan pisan ini teh, dari awal sampai sekarang masih kepake, tahan banting dan akurat. Kalau main siang-siang outdoor juga masih kebaca karena digital. OCD Drive: Pengen banget nyoba OCD. Nah kalau ini mah masih wishlist, masih nabung dulu. Baru sekarang-sekarang ngeliat reviewnya di Youtube.
Top 5 lagu / album yang merubah hidup lo?
Fuzzy I – Transit: Mengubah mindset saya untuk “Hayu band-band an yuk!â€
Nothing – TIred of Tomorrow: Pasti ini mah. Saya dengar yang deluxe version cuma kayanya mah sama-sama aja sama yang versi biasa lagu-lagunya.
Title Fight – Head in the Ceiling Fan: Ini mah terbaik.
Basement – Colourmeinkindness: Ini yang ngerubah warna musik CAL beda dari EP ke album.
Collapse – Grief: Udah kelar. ODSK lah pokoknya Om DIka Selalu Keren hahahaha..
Words & Interview by Aldy Kusumah Photos taken from Cal’s archive
Megumimoguu adalah fotografer dan kolektor berbagai pernak-pernik vintage: handycam, digicam, kamera analog and other weird stuffs. Sebagai fotografer Megu sudah mencoba beberapa fase dari menggunakan film analog, digicam low megapixels dan sekarang handycam dengan resolusi rendah. Konten-konten dia di Instagram dan Tiktok tidak melulu soal hasil jepretan nya, melainkan tutorial menggunakan tipe-tipe kamera tertentu, tutorial mentransfer file dari handycam ke laptop dan masih banyak lagi. Dia memulai konten nya dengan mereview cafe-cafe unik dari Jakarta, Bandung, Bali, Seoul,sampai Osaka. Uniknya, Megu lebih mereview interior dan estetika kafe tersebut ketimbang terjebak menjadi food blogger. Mari berbincang dengan content creator anonim ini dan simak dimana dia hunting kamera-kamera unik di Indonesia.
Mulai kapan Megumi hobby fotografi dan mengoleksi kamera / handycam vintage?
Udah lumayan lama tuh kalau foto-foto dari SMP, kalau Instagram baru buat tahun 2021. Awalnya kan saya main Tiktok dulu, tahun 2018 lah sebelum pandemi. Suka review-review cafe gitu dibikin videonya, nah pas pandemi kan lama stay di Bali, jadi banyak bikin konten video dan foto. Tapi review kafe nya lebih ke interior dan design nya sih, bukan tentang makanan nya. Itu dari tahun 2020 dan sudah menggunakan nama Megumi yang anonim.
Waktu di Bali kan sering foto pakai analog, dan mulai ngeshare video di Tiktok hasil foto-foto film tersebut. Followers Tiktok sudah lumayan banyak kan, lalu mereka beralih ke IG pada follow dan pada pengen tau informasi roll film pakai apa, kamera pakai apa dan cara menggunakan kamera-kamera tersebut. Jadi sebenarnya konten awalnya tuh kamera analog..
Lalu mulai beralih ke digicam lo-res mulai kapan?
Setelah itu tahun 2021 akhir pas Desember itu agak mulai trend digicam lo-res kan, dari luar kaya Thailand dan Amerika. Tapi trend itu belum rame di Indonesia. Waktu itu gak sengaja di feeds IG aku ada yang jual kamera digital (@megapixelife). Habis itu aku beli karena bentuknya lucu, kamera digital pertama itu adalah Kyocera Finecam yang bisa diputar-putar. Januari pas ke Bandung dan bikin konten menggunakan kamera itu dan banyak yang nanya. Aku juga banyak hunting di Pasar Baru Atom, disitu nemu kamera-kamera lainnya yang harganya relatif murah cuma 100-200 ribu, waktu itu masih pada murah dan dibawah 500 ribu semua. Jadi dari situ aku mulai campur konten analog dan digital juga. Karena roll film naik harganya juga orang-orang mulai pindah ke digicam..
Kalau analog itu aku lebih pakai untuk special occasion kalau misal lagi jalan-jalan. Kalau handycam dari awal 2022 udah main aku..
Kamu juga kolektor kamera analog vintage, digicam dan handycam. Apa yang kamu sukai dari handycam dan digicam lo-res?
Kalau aku pribadi sih awalnya suka estetika bentuknya ya. Karena aku memang suka koleksi sesuatu yang lucu lucu gitu kak. Aku juga koleksi mainan dan barang-barang vintage. Jadi hobby koleksi ini nyambung dengan hobi fotografi aku. Setelah mencoba beberapa kamera aku makin ketagihan karena karakter tiap kamera itu berbeda. Kalau handycam pertama aku beli Canon Legria FS. Itu aku bikin konten pakai itu karena mudah dipakai, gak terlalu vintage banget lah itu keluaran 2010 dan masih menggunakan memory card. Ternyata hasilnya bagus dan bisa dipakai foto juga, mindahin data nya gampang juga. Kalau handycam yang memakai kaset baru dapat bulan Januari kemarin.
Jadi konten-konten dan branding Megumimoguu ini awalnya dari ketidaksengajaan lo yang suka travelling, koleksi kamera dan ngafe-ngafe ya?
Hmmm iya sih.. Karena aku suka semua yang tadi disebut jadi aku lakuin terus sih dan akhirnya membuat konten terus secara konsisten..
Kenapa lebih memilih mereview dan mengcapture estetika interior sebuah tempat daripada makanan nya?
Mungkin karena aku gak terlalu hobby makan hahaha.. Paling aku cuma beli kopi doang sih kak. Jadi memang ga seperti food blogger konten nya. Awalnya iseng-iseng aja foto nya, yang menurut aku bagus aja. Karena pada awalnya memang tidak pede dan ternyata orang lain juga suka konten-konten aku. Dan memang kurang hobby juga ngefoto makanan haha.. Suka lupa juga foto makanan karena langsung dimakan. Lebih ngecapture ambience nya sih..
Kenapa memakai nama Megumimoguu dan anonim dalam membuat konten?
Kalau misalnya Megumi itu benar-benar random kak. Pas bikin Tik Tok random aja pake nama itu. Kalau Moguu karena menurut aku lucu aja. Gara-gara main Mobile Legend nama aku juga aneh-aneh. Jadi memang suka nyari nama yang aneh-aneh. Dan ada teman yang graphic designer jadi dia bikin logo karakter Megumimoguu tersebut, jadi kaya branding juga sih. Kalau anonim karena gak pengen banyak yang tau sih. Orang yang pada kenal sama aku juga mostly gak pada tau, paling cuma 1-2 orang yang tahu. Bahkan orang tua dan keluarga saya juga gak tau..
Lo lebih pengen dikenal sebagai fotografer, seniman, influencer atau kolektor?
Waduhh gimana ya.. Kalau menurut kakak gimana? Hahahah.. Bingung juga sih udah campur-campur.. Sebenarnya aku bikin Instagram yang untuk commission pakai kamera film. Kalau IG utama lebih ke konten-konten passion gue aja.. Kalau kolektor sih emang dari hobby aja, basicnya suka ngumpulin dan hunting barang-barang vintage, home decor dan tentunya kamera yang vintage..
Pertanyaan terakhir, favourite spots untuk hunting kamera atau ngopi? STC Senayan sih. Vinyl ada, dingdong ada apalagi mainan dan kamera. Lengkap tuh semua. Udah gitu sepi lagi. Yang kedua tempat nge thrift kamera jadul, Pasar Baru Atom Jakarta, harganya reasonable. Tempat ngopi yang favorit aku Midori Jakarta, ada dingdong, vinyl, cozy dan kopinya enak. Hunting kaset, vinyl dan buku-buku di Blok M Square yang kebawah itu. Pasar Santa juga aku lumayan sering kesitu. Kalau di Bandung aku suka ke Grammars. Aku selalu beli barang-barang perintilan yang lucu dan gak penting, sama poster-poster. Aku pernah bikin konten disitu lumayan viral tuh..
Akhir-akhir ini, kultur kaos band vintage cukup ramai dicari orang dan demand nya semakin besar. Nama Pratiwi Gea lumayan sering di mention para kolektor dan seller sebagai salah satu stockist kaos-kaos band yang mungkin bagi sebagian orang adalah “holy grailsâ€. Walaupun sebenarnya Gea tidak hanya fokus di vintage T-Shirt, poster film, collectible items dan terutama jaket-jaket vintage pun sudah sering Gea jual. Mari berbincang dengan Gea mengenai koleksinya, menjual poster yang masuk di lelang Sotheby’s sampai jaket Raw Type Riot pertama yang menjadi sejarah berdirinya RTR..
“Kalau grails yang menurut kita itu bukan kaos yang mahal, tapi kaos yang kita suka banget, misal suka banget band nya atau filmnya..â€
Gimana awalnya lo terjun ke bisnis ini? sebelum serius di bisnis ini mengerjakan apa sebelumnya?
Awalnya hobby, cuma kalau perdana jualan itu sekitar 2010. Jadi awalnya itu kita memang suka belanja, dulu aku masih di Medan. Kita awalnya tuh sering belanja di eBay. Lalu kata temen kenapa punya akun eBay tapi ga jualan juga? Terus ngetes satu kaos yang ada dirumah. Iseng kasi harga taunya laku. Lupa itu kaos band apa cuma sekitar $30. Sedangkan pada jaman itu di pasar masih ada kaos-kaos yang 20-30 ribuan. Dulu jualan masih diluar aja. Setelah punya Instagram pribadi karena memang tidak ada akun toko, sekitar 4 tahun ke belakang lah mulai nanya-nanya dan hunting jaket-jaket di Instagram. Ternyata market lokal juga sudah oke dan gak kalah sama market luar. eBay, Etsy dan Instagram jadi.
Pernah ada ga customer kaos music vintage yang komplain dan belum ngerti keunikan barang vintage, dengan karakteristik seperti sablon cracked, warna kaos pudar dan ada sedikit holes?
Kalau yang sekedar nanya doang ada sih. Kalau langsung ke aku sih belum pernah ya walaupun pasti ada aja. Biasanya cuma di komen Instagram aja..
Kadang-kadang kan ada seller nakal yang jual kaos “vintage†pakai label palsu dan sablon yang sengaja dibuat cracked, dengan warna kaos yang sudah di washed agar terlihat vintage. Bagaimana lo membedakan yang fake dan legit?
Sebenarnya kan bahasa jaman sekarang nya check legit ya. Kalau aku dan operator pribadi, kalau barangnya yang kita tahu ya bisa bantuin check legit nya. Tapi kita selalu bilang, itu menurut aku. Sometimes, aku ga bisa nge judge kaos kalau by photo, harus megang kaosnya langsung. Karakter sablon itu ga bisa ngebohongin sih kalau sudah dipegang, kelihatan mana yang produksi baru dan mana yang memang vintage. Kalau aku tau kaosnya ya aku bantuin. Kalau aku bisa bantu ya aku bantu. Susahnya nanti nama aku diapake “Kata kak Gea..†hahaha.. Aku ga berani juga ngecek barang yang aku ga ngerti atau hanya by photo..
Apa aja sih essential vintage thrift selain Akira, Tupac dan Sade yang selalu dicari orang?
Tiap tahun kan trend nya selalu berubah-ubah trendnya. Kalau ngomongin kaos, 2 tahun lalu memang booming banget Akira, Sade dan Tupac. Nascar kaya Daytona baru rame sekarang, Disney sempat rame. Tapi tetap sih kaos band dan film tetap stabil dan rame sampe sekarang, Bjork masih mahal, Nirvana tipe tertentu juga tetap mahal. Yang paling mahal itu yang Heart Shaped Box dan In Utero sample yang warna hitam, kemaren temen aku ngeluarin, dia auction dan hearing offer. Udah ada yang mau 63 juta masih belum dia lepas. Kondisi oke ga ada hole.
Kalau boleh tau, jual kaos paling mahal di angka berapa tuh?
Gapapa gitu dibilang? Haha.. 30an lah.. Kaos band.. Ga enak ah kalau disebutin, yang beli ga mau disebutin nanti pada tau lagi hahaha..
Range harga T-shirt yang sekarang ada di stock inventory sekitar berapa?
Dibawah 500 ada. 300 ribuan juga ada.. Kalau collectible kan ga ada patokannya, kalau aku value in kaos aku paling mahal belasan juta sih. Sebenarnya kita gak fokus ke T-shirt aja. Kita ini ADUHAI, agen dunia akhirat hahaha.. Segala dijual hahaha. Kaos itu baru 2 tahun kebelakang karena marketnya sedang rame. Kita awalnya juga ga jualan di lokal, lebih ke eBay. Di Instagram baru 4 tahunan. Paling banyak jaket dulu tuh. Poster film, poster band yang ikut lelang di Sotheby’s Inggris juga aja. Apa aja sih kalau kita jualnya..
Lo banyak pakai kaos band-band ‘90s di feeds IG lo. Apa yg lo cintai dari 90s culture?
Aku mah era nya My Chemical Romance, kalau gue lebih ke brand ambassador nya lah, yang kurasi barang operator aku mas Riva. Kalau ada undangan juga pasti Pratiwi Gea and team karena udah tau kita ada rombongan nya hahaha. Ya lebih ke nostalgia aja sih kalau ‘90an..
T-Shirt band favorit lo apa aja dan kenapa?
1. MCR yang saya pakai ini, dapetnya di New Zealand. Belum pernah saya liat kembaran nya kaos ini, fotonya masih chubby-chubby. Band aing banget haha
2. Portishead yang covernya Dummy.
3. Massive Attack. Kalau trip hop yang rame kan masih di massive attack sama bjork, kalau kaya Portishead, Goldie memang masih rare kaosnya di peredaran
4. Skunk Anansie – ini emang kaos-kaos yang ga kita jual. Jarang dipakai karena memang anak-anak sekarang belum kesini.
5. Metallica Kill em’ All yang sample cuma dijual di tour mereka, ini kaos salah sablon, kebalik sablon depan dan belakangnya.
Wishlist kaos band yang belum kesampaian apa aja?
1. Panic At the Disco. Aku pengennya ada gambar muka-muka nya gede, gak suka yang grafik cover album, jadi lebih kaya kaos boyband
2. Underworld, tentunya yang born slippy dong..
3. Kalau film mungkin SIlence of the Lambs, yang mukanya Hannibal Lecter, kaya kover bukunya.
4. Prodigy, aku pernah punya, tapi kalau Fat of the Land terlalu umum. Lebih pengen kalau dapet kaos bersi single nya. Belum sempat punya yang versi single-singlenya. Kalau jaman dulu sebelum Spotify aku dengerin musik kan di CD, tapi ga suka beli album, cari nya single-single, misalnya Firestarter. Suka ada bonus remix atau B-Sides.
5. Evanescence. Susah banget itu barangnya. Dan underrated, di market juga gak laku. Rare di market, dan rare juga yang cari haha. Sekarang justru kita ambil-ambil kaos yang di market masih underrated, di market gak laku tapi aku yakin di musim berikutnya akan ramai, kaya Linkin Park dan Limp Bizkit gitu kan sekarang gak ada harganya, tapi suatu saat akan naik tuh musik 2000an.
Pros and cons bisnis vintage thrift?
Kalau dibilang cons nya gak ada, pros semua hahaha. Kalau nggak kita sudah gulung tikar. Nyari barangnya juga ga susah kok, yang penting tau market value nya. Kalau bisa kita sih jual lebih murah dari yang lain.
Kultur bootleg menurut lo?
Kalau sekarang kita sih menerima, dan kita akui art nya bootleg 80% lebih bagus dari kaos-kaos original sekarang. Tapi kalau ngomong jaman dulu, orang ga mau pake bootleg dan gak ada juga kata-kata bootleg disitu, yang ada hanya kaos ori dan palsu. Tapi kultur bootleg harus diterima karena memang bagian dari skena nya. Tetap aja ada effortnya di design bootleg itu.
Kalau boleh tau, lo hunting barang-barang jualan lo dimana sih?
Awal-awal hunting sudah pasti di pasar, tapi barang di pasar udah sulit kita pindah hunting online, beberapa tahun lalu kita juga sempat import dari luar. Kadang juga kita belanja di luar, tapi sebenarnya itu niat awalnya jalan-jalan aja, tapi gimana caranya balikin modal jalan-jalan ini sekalian hunting. Paling surga buat kita itu Malaysia. Nah kalau dimananya itu rahasia hahaha.. Orang-orang kan sibuk belanja di Thailand, padahal sebenarnya turun di Malaysia duluan. Asal muasalnya itu dari Karachi Pakistan. Cuma terlalu effort lah kalau kesana dan panas juga hahaha.. Kalau beli bal-balan itu ga pernah karena bisnis ini bukan main job, jadi mengikuti hobby aja. Beli barang itu memang yang aku suka dan ngerti. Jadi kalau gak laku ya santai aja bisa dipakai juga hahaha. Jadi kurasi pertama itu adalah kita nya mau pakai dulu ga? Itu yang penting dari kekuatan tiap toko thrifting.
Setelah berjualan cukup lama, pasti udah banyak relasi dengan kolektor-kolektor lokal dan buyer di luar negeri ya?
Seluruh dunia banyak klien-klien kita dari eBay. Yang sering datang dan belanja disini si Alip Jon, Rian D’Masiv, Ganindra Bimo, Jejouw anak USS, Inne Febriyanti tuh, dia sukanya Pantera hahaha.. Siapa lagi ya, Putrama Tuta sutradara, Mandy USS, Simon Marantika, Athir Speaker First, anak-anak band sini juga banyak yang sering kesini, Turtles Jr, Koil.
The Dare adalah sebuah band twee-pop dari Lombok. Kuartet ini terdiri dari Riri (Vokal, gitar), Desita (Drum) , Yollanang (Gitar), dan Meigaali (Bass). The Dare terbentuk pada Februari 2018, dan tak perlu waktu lama untuk mereka merilis debut EP berjudul “Inthrovvvert†(Yang kemudian dirilis dalam format CD & kaset). Dalam umurnya yang baru 2 tahun, band ini sudah melakukan 4 kali rangkaian tour Jawa-Bali. Mari berbincang dengan The Dare mengenai Ayam Taliwang, menciptakan ruang konser yang aman dan kejadian mistis pada saat tour…
“Kami berharap bahwa para perempuan tidak takut lagi untuk mengambil keputusan yang mereka inginkanâ€
Bagaimana scene musik Lombok pada saat kalian memutuskan untuk membuat The Dare? Ceritain juga dong gimana awalnya band ini terbentuk? Riri: Scene di lombok pada saat itu cukup didominasi oleh musik hardcore, punk, dan reggae. Entah bagaimana latar belakangnya sehingga scene musik itu dulu cukup mendominasi, karena sebenarnya ga begitu ngikutin pergerakan mereka, kalau ke tempat mereka ya dulu cuman mau main-main aja, karena teman-temanku lumayan banyak di sana.
Awal mula The Dare ini adalah project iseng yang awalnya Timmy (manager kami) mengajak saya (Riri) untuk membuat sebuah band. Tapi setelah beberapa teman lebih merekomendasikan Timmy untuk membuat band yang isinya cewe-cewe seketika plan awal berubah hehe, akhirnya Timmy mencari beberapa cewek di Lombok yang bisa bermain musik. Kemudian bertemulah kita dengan Yollan, Desi dan Meiga. Sampai akhirnya terbentuk The Dare.
Yollan: Kenapa akhirnya mau join juga, karena waktu itu pas dikasih denger demo ngerasa baru kali ini sih ditawarin musik dengan warna seperti ini, itu juga menjadi dorongan kenapa mau join bareng.
Desita: Kalau aku di DM Timmy jam 3 subuh, ditawarin ngeband yang nantinya bakal diisi sama cewek-cewek semua. Awalnya agak mau nolak, karena udah lama gak main drum dan skill yang pas-pas-an hahaha. Tapi saat itu Kak Timmy yakinin aku kalau gapapa, yang penting mau coba dulu dan kalau emang enak dan klop ya dijalanin. Akhirnya yaudah tanpa basa-basi aku terima tawarannya. Baru deh akhirnya ketemu Mba Riri, Mayo, dan Kak Meiga.
Meiga: Kalau aku orang yang paling terakhir gabung di The Dare ya. Timmy (manager kami) memang dari awal ajakin terus buat gabung di The Dare, tapi karena aku gak pernah nge-band dan gak bisa main bass sebelumnya, jadi otomatis aku tolak hahahaha. Sampai berkali kali ngajakin dan akhirnya aku mau, setelah aku dengerin EP Inthrovvvert. Aku langsung suka sama lagi-lagunya. Yaudah aku belajar bass dan tentunya diajarin Timmy juga, kemudian akhirnya bergabung di The Dare.
“Walaupun kalian punya skill pas-pasan juga bisa kok nge band, tapi tetap harus punya tekad yang kuat, semangat untuk berkarya.“
Mayoritas lirik ditulis oleh Desita yang merupakan seorang penabuh drum. Cukup unik juga, bisa elaborasi sedikit mengenai ini? Desita: Ini awalnya ceritanya agak lucu sih, karena sebenarnya setelah pertemuan yang kedua kali kami berencana buat nulis lirik bareng, yaudah akhirnya ketemu dan mulai nyari-nyari kata yang pas buat di Bridge pertama “Inthrovvvertâ€. Jujur aku pribadi sebelumnya gak pernah nulis lirik, tapi entah kenapa malam itu karena akhirnya gak beres jadi 1 lagu, tugas lirik itu malah jadi PR buat aku kerjain di rumah (mungkin karena paling bontot kali yah hahaha, jadi yaudah iya-iya aja) 😂
Yollan: Di balik mayoritas lirik ditulis Desita, setiap mau menulis lirik juga kami punya ritual sharing apa yang kami rasain, Jadi di semua lirik The Dare itu sebenarnya pengalaman pribadi semua personil yang dirangkum jadi satu.
Desita: Termasuk juga lagu Inthrovvvert ini sebenarnya menceritakan apa yang kita rasain. Sebenarnya kehadiran aku yang nulis liriknya di sini adalah penyambung suara dari temen-temen The Dare yang lain. Nanya pengalamannya satu-satu sama tema lagu yang mau dibuat terus ntar aku berusaha merangkai, ntar dilempar lagi ke grup, udah bener belum maunya seperti ini. Selain itu juga, banyak dibantu sama temen-temen yang lain, Ka Timmy Ka Fiyo, banyak ngasi perspektif dan masukan, jadi dari situ juga aku berusaha terus gali.
Jika band Teenage Death Star memiliki slogan “Skill is Dead”, The Dare di salah satu postingan nya menulis 1% skill, 99% berpelukan. Bisa elaborasi sedikit mengenai ini? Riri: WKWKWK iya karena kami bukan orang yang berekspektasi besar akan hidup atau besar di musik, akal akalan Manager kami (Timmy) doang sih yang seserius itu ngomongin musik, kalau kami sih gak pandai-pandai banget main musik wkwk sekenanya aja, syukur deh musik kami masih berkenan didengar orang wkwk, yang penting tuh mungkin tanggung jawab karya, berpelukan adalah salah satu bentuk pertanggung jawaban karya, dedikasi bermusik kami yang ga seberapa ini nyatanya menemukan pendengarnya wkwk, jadi merangkul (memeluk) mereka adalah salah satu bentuk pertanggung jawaban, setelah merangkul mungkin bergandengan ya? Wkwk bersama-sama bergerak untuk hal-hal baik, gitu lah kurang lebih.
“Banyak hal yang bisa dieksplor tanpa harus mengagungkan skill yang dibuat-buat sok kompleksâ€
Menurut kalian, penting ga sih skill dalam bermusik? Karena kebanyakan band-band yang saya sukai juga bukan yang banyak menonjolkan skill dalam musiknya.. Meiga: Hmmm…. Penting ga penting sih hahaha menjadi tidak penting karena skill bukan satu-satunya hal yang harus ditonjolkan dalam bermusik, banyak hal yang bisa dieksplor tanpa harus mengagungkan skill yang dibuat-buat sok kompleks, tapi dari kami secara general ada titik yang merasa ini juga penting, karena skill itu untuk suatu perkembangan menuju level selanjutnya sih, tapi tujuan tiap orang beda-beda, kalo apa yang kami lakuin sebenernya gak pernah ada kata belajar untuk menjadi lebih berskill lagi, cuman lebih bertanggung jawab aja sama rekaman kami sih jadi pas live itu setidaknya gak jauh berbeda dengan hasil rekamannya, nah kalo yang kami liat sekarang malahan team produksian banget nih yang lagi ngulik-nguliknya masalah teknis audio di lapangan saat kami manggung, udah gak paham dah kalo mereka ngobrol dengan isyarat yang aneh-aneh kek denger obrolan manusia dari planet lain HAHAHAHA sok ribet-ribet sendiri sama sound..
Yah seperti kata Teenage Death Star: Skill Is Dead. Walaupun kalian punya skill pas-pasan juga bisa kok nge band, tapi tetap harus punya tekad yang kuat, semangat untuk berkarya. Dan tentunya tetap belajar terus dan upgrade skill.
Yollan: Dan justru karena skill ini pas-pasan malah yang bikin kami bisa bertahan sampai sekarang, bisa saling support, karena kami explore bareng, disana juga kenapa kami 1% skill 99% berpelukan (menyambung pertanyaan ke-3 ya hehe), karena kami saling bangga satu sama lain, gak nyangka aja ternyata apresiasi mereka kepada musik kami bisa dibilang positif, walaupun dengan skill yang serba pas-pasan ini.
Desita: Dari awal diajakin juga sebenarnya udah ngasi tau kalau skill pas-pasan 😄 Tapi emang The Dare ini sebenarnya bukan band yang mesti punya skill powerfull, pengennya yaudah amatir menjadi ciri khas kita hahaha. Tapi bukan berarti kami mau stuck di situ aja yah, kita juga terus explore dalam banyak hal.
Merchandise kalian dengan tagline tulisan “Problematik” cukup menarik. Apa ini ada hubungan nya dengan salah satu kasus yang baru-baru ini cukup viral? Apa yang mau kalian angkat dari message design kaos ini? Riri: Hah? Kasus viral apa? Ga tau aku wkwk ga ada kepikiran macem-macem sampai musti riding the wave ke arah apapun sih. Waktu itu emang mau bikin merch aja, karena banyak yang ga kebagian merch saat tur.
Meiga: Yang buat merch Problematic itu Fiyo, dia yang mengurusi berbagai kebutuhan visual di band kita, karena ada pertanyaan ini jadi kemarin kita tanya si Fiyo langsung, katanya dia sih penggunaan frasa “Problematic†itu sekedar untuk merepresentasikan keadaan kita semua sih haha, memang manusia mana yang tidak memiliki sifat problematic? Bahkan sifat itu sesekali memang perlu dimunculkan untuk membuat gebrakan, kalau dalam konteks merch ini sih kata problematic itu dilengkapi dengan kalimat “Too Slay To Obey†yang artinya adalah “kamu terlalu terlalu tangguh untuk tundukâ€, kami berharap bahwa para perempuan tidak takut lagi untuk mengambil keputusan yang mereka inginkan, mau sampai kapan keinginan kami harus diatur oleh orang lain? Kira-kira sederhananya gitu sih menurut Fiyo.
Menurut beberapa media kalian banyak mengangkat tema perempuan dalam EP dan single-single kalian. Bisa cerita sedikit mengenai itu?
Desita: Mungkin ga banyak sih, cuman memang ada beberapa, seperti di lagu “Fameinkissâ€, itu singkatnya menceritakan tentang seorang perempuan yang sejatinya juga bisa kok berperan sama dengan laki-laki di dalam konteks suatu hubungan “Jadi jangan macam-macam ya mas†hehe kira-kira begitu. Di lagu “Semeti Medley†juga mungkin masih mirip-mirip lah permasalahannya dengan lagu “Fameinkissâ€, tapi di lagu “Women Who Sailed The World†mungkin yang bisa dibilang lebih serius, karena di lagu ini kami benar-benar ingin mengajak teman-teman perempuan untuk saling empowering satu sama lain. Ingin memberitahukan bahwa bukan hanya laki-laki yang mampu mengarungi lautan untuk membawa sumberdaya bagi kehidupannya. Singkatnya sih begitu, lebihnya ya silahkan ditafsirkan melalui pribadi masing-masing mendengar, agar maknanya tidak menyempit. Banyak lah medium kami yang bisa digunakan untuk menyuarakan keresahan kami terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan.
Saya melihat di salah satu feeds IG kalian ada vinyl Dara Puspita yang sedang dipegang. Apa aja sih band-band panutan kalian masing-masing yang membuat kalian memiliki musikalitas dan menginspirasi terbentuknya The Dare ini? Desita: Banyak banget sebenarnya, tapi memang benar salah satunya Dara Puspita, namun kebanyakan sih lebih menginspirasi dari segi semangat mereka ya, siapa sih yang tidak kagum dengan perjalanan musik mereka? Jangankan dampak bagi musisi perempuan, dampak mereka bagi industri musik Indonesia di masa peralihan orde lama dan orde baru pun pasti sangat membekas. Kalau dari segi musik sih bener-bener banyak banget, awalnya mungkin pemicu terbentuk ya karena Riri nyanyi lagu “Kiss Me†milik Sixpence None The Richer, cuman saat proses kreatif mulai berlangsung, banyak banget, kalau harus kami sampaikan beberapa mungkin bakal ada nama Potret, Cherry Bombshell, Mocca, Tiger Trap, Heavenly, Language Of Flowers, Shonen Knife, banyak deh pokoknya.
Kalian sempat berkolaborasi dengan Locarpet untuk membuat sebuah karpet berukuran besar yang bertuliskan “Dare to fight sexual harassment in concert”. Apa pendapat kalian mengenai pelecehan yang sering terjadi di gigs-gigs musik yang seharusnya menjadi tempat aman untuk semua gender? Riri: Wow! pembahasan ini sepertinya bakal cukup sensitive ya, karena masih banyak pro dan kontra dalam penanggulangan hal ini, tapi yang sudah pasti, kami yakin semua orang setuju bahwa tindakan pelecehan seksual di dalam acara musik adalah suatu tindakan yang sangat terkutuk, dan jelas bahwa ini adalah tugas bersama untuk memberantas hal ini. Jelas bahwa acara musik harus menjadi ruang yang aman bagi siapapun, siapa sih yang mau bersenang-senang dengan dihantui rasa takut?
Desita: Karena begini, Sebenarnya tindakan pelecehan seksual di dalam acara musik itu bukan hanya merugikan korbannya. Tanpa mengenyampingkan yang dialami korban, namun hal ini juga bisa katakanaan akan berdampak bagi penyelenggara acara musik, bisa dibayangkan ga jika pelecehan seksual masih sering terjadi? Ada berapa penyintas yang mengalami trauma terhadap acara musik dan enggan Kembali hadir ke acara musik? Okay jika hal itu hanya sebatas keputusan untuk dirinya, jika trauma tersebut diturunkan kepada orang disekitarnya bagaimana? Bahkan kami sering mendengar curhatan mereka melalui direct message, bahwa ada salah satu dari mereka yang sekarang sudah menjadi ibu dan memiliki anak, lalu berkata bahwa dia juga akan melarang anaknya kelak untuk kerap hadir di acara musik karena disana bagi dia cukup berbahaya. Apakah hal tersebut terdengar seperti hal yang biasa-biasa saja bagi ekosistem musik kami? Kami rasa kenyamanan & keamanan di dalam acara musik berhak dimiliki bagi siapapun yang ingin hadir untuk menikmatinya.
Meiga: Pelecehan seksual khususnya di gigs atau konser memang jadi salah satu concern kami. Karena hal ini memang perlu kita perangi bersama dan edukasi terus menerus. Semua orang memiliki caranya masing-masing dalam menyikapi dan memberikan solusi dalam kasus ini, pro dan kontranya tentu akan ada, namun cara kami dalam menyikapi hal ini adalah dengan memberikan ruang yang aman bagi semua gender. Tapi concern kami disini tentu khususnya untuk perempuan. Sudahlah, gausah terlalu naif dengan mengatakan semua gender harus diperlakukan sama, karena kenyataannya disini adalah perempuan lebih kerap menerima pelecehan seksual, jadi ga ada salahnya jika kami lebih dulu mengutamakan kenyamanan dan keamanan mereka, toh hal ini triggernya adalah ketika kami menerima DM masuk dari beberapa penonton kami yang perempuan, beberapa dari mereka menyampaikan bahwa mereka ingin menikmati musik kami dengan santai tanpa harus terkena sikut, apa lalu solusi kami membiarkan mereka nonton di belakang dan kesulitan untuk menyaksikan kami di panggung? Kayanya dengan asas “kesetaraan†kami gabisa serta merta membiarkan itu deh, kasian juga, jadi yaudah akhirnya di setiap kami sebelum mulai main, kami menyempatkan untuk announce ada ruang kosong bagi perempuan yang ingin maju kedepan, dan hal itu bukan sebuah aturan jika perempuan harus di depan ya, kami hanya menyediakan ruang bagi mereka yang memang ingin santai, jika ada yang mau crowd surfing bareng laki-laki ya juga bebas, siapa kami harus ngatur-ngatur cara orang lain berekspresi, semua berhak senang-senang dengan caranya masing-masing, gada aturan gender dalam hal bersenang-senang.
Yollan: Kami harap sih dengan hal kecil kayak gini, temen-temen yang pernah menyampaikan ketidak nyamanannya, akhirnya setidaknya bisa nontonin The Dare dengan nyaman, ga takut, walaupun posisi di depan tengah atau belakang, karena kami juga ngerasa semua juga akan otomatis kok bekerjasama untuk menjaga satu sama lain.
Apa saja top 3 makanan di Lombok favorit masing-masing? Meiga: Manok rumpak, ayam Rarang, sate Rembiga. Kalo ke Lombok kudu + wajib cobain ini!!!
Yollan: Walaupun selera makanan saya paling dibilang aneh sama anak-anak, contoh kecilnya kalo makan jeruk ga suka yang manis, sukanya yang asem, Tapi kali ini agak klop sama Meiga best of the best jatuh pada: ayam rarang !! Terus bebek Pondok Galih dan ayam taliwang.
Desita: Kalau aku nomor satu tentunya sate Rembiga!! Hahaha. Terus Nasi Lindung/Nasi Belut, dan Plecing kangkung.
Riri: Bakso Pak Ochin! Karena aku memang sering makan ini sejak dulu, dan masih menjadi hal yang aku rindukan tiap balik ke Lombok.
Ada cerita unik dari masing-masing saat menjalankan Javakensi Tour? Yollan: Kalo aku pribadi sih dapetin pengalaman yang ga bakal aku lupain ya, karena di Javakensi ngasi achive memori yang sangat besar buat aku dan Rumi (anakku) karena berhasil lewatin 1 bulan gigs barengan dengan happy. Ga ada yang spesial sih uniknya, tapi bener-bener ga bakal pernah di lupain, dari Javakensi juga orang-orang akhirnya lebih mengenal The Dare, Javakensi juga awal mula akhirnya apa yang pengen kita suarakan untuk perempuan mulai dilirik banyak orang.
Desita: Di Javakensi Tour kemarin justru dapetnya adalah moment yang gak bakal dilupain seumur hidup. Buat aku pribadi, kita kayak “wah akhirnya, kita bisa tour sendiri, mandiri, tinggal 1 bulan bareng†dari hal itu kita belajar banyak sih dan dapat banyak teman baru juga, mungkin kalau bisa dibilang, aku amazed dengan pergerakan teman-teman kolektif di tiap kota yang kita sambangi, dan kita sangat berterimakasih. The Jansen juga sempat bantuin kita waktu itu, mereka melelang kaset dan merch mereka untuk membantu pendanaan acara di Bogor, sangat memorable, terimakasih The Jansen dan teman-teman di Bogor!
Meiga: Tinggal bareng satu rumah aja udah unik banget hahaha. Kami jadi tau dan lebih mengenal sifat masing-masing. Jadi banyak kagetnya disitu sih hahaha, dan makanan tentunya! Kami jadi banyak merasakan makanan di tiap daerah yang kami singgahi.
Riri: Mungkin kalau dari aku sih, kita sempat ngalamin hal mistis juga haha pokoknya serem, gausah diceritain! Ngeri.. Salah satu contohnya: keran air nyala sendiri.. Kejadian itu di Yogja kak.. Wah Javakensi memang moment yang gak bakal bisa dilupain dan bakalan kangen terus. Dan support temen-temen semua juga sangat luar biasa..
Words & Interview by Aldy Kusumah Photos taken from The Dare’s archives
Mufti Amenk Priyanka adalah seorang ilustrator yang kerap melebur budaya pop barat dengan sentuhan kearifan lokal, salah satu karya ilustrasi Amenk favorit kami adalah sebuah ilustrasi yang menggambarkan anak punk mencium tangan ibunya. Ilustrasi Amenk pun cukup khas: menggunakan tinta cina dan mayoritas tidak diwarnai. Pengaruh Raymond Pettibon memang terasa di karya Amenk karena memang Pettibon adalah salah satu ilustrator favoritnya. Mari berbincang dengan Amenk mengenai karya-karyanya yang “explicitâ€, rutinitas menjadi dosen sampai telur balado…
“Seniman juga bukan siapa-siapa, kita bukan Tuhan, ustad atau pemuka agama tapi kita adalah orang yang berbudaya. Kemajuan peradaban adalah sumbangsih seniman. “
Menk, sedang sibuk apa saja akhir-akhir ini?
Sebetulnya gak ada yang berubah, aktivitas keseharian saya mah biasa-biasa aja, masih seputaran ngajar di kampus, commission work, mural-mural sebagian. Cuma rada sepi sih dari semenjak pandemi, menurun pisan lah yang pekerjaan pesanan commission work. Jadi pas era pandemi kerasa banyak yang berubah pola pekerjaan. Termasuk di bidang seni juga, ga ada kegiatan, orderan melempem. Walaupun ada tapi tidak seperti biasanya.
Kemarin lo baru pameran ya?
Di gedung yayasan Naripan terakhir itu, Free Kick. Kalau yang Create cuma workshop aja, saya jadi mentor dan pesertanya sebagian ada yang disabilitas. Saya mengarahkan mereka untuk menggambar. Beberapa karya mereka ada yang di exhibit di ruang pameran. Kalau yang Free Kick itu sebetulnya pameran kolektif. Ajakannya juga bersifat mendadak. Bingung mau display karya yang mana, adanya yang kecil-kecil. Ada kanvas yang 2 meter. Akhirnya dipakai karya yang besar itu. Bingung juga karena belum ada pengantar kuratorialnya. Takut gak nyambung karya saya sama tema pameran nya. Secara artwork sih jelas gak nyambung, soalnya itu ilustrasi sepasang kekasih, ceweknya membawa hasil test pack. Karya lama sebetulnya tahun 2014. Itu menceritakan realitas sosial yang sering terdengar seperti kumpul kebo dan living together. Judul karyanya “Hamil Duluan Gara-Gara Kumpul Keboâ€. Tapi memang pengantar kuratorialnya akhirnya adalah bahwa setiap seniman punya kebebasan untuk melambungkan ide dan gagasan nya..
Eh, lagi minum apa itu Menk? Enak kayanya..
Intisari hahaha. Lumayan lah pelepas lelah..
Beberapa commission yang sudah lo kerjakan apa saja?
Di Stella’s Puff Pastry. Ownernya juga emang pecinta seni, dan dia menyukai karya-karya saya. Saya mengerjakan 3 term commission. Jadi pabriknya artsy lebih seperti gallery. Di daerah Ancol. Saya juga menggarap dekor restoran Gormetaria di daerah Pasir Kaliki. Ownernya dikenalin sama teman saya. Saya diundang ke lokasi untuk ngobrol dan disitu ditunjukin spot-spot yang bisa saya respon pakai gambar. Prosesnya sangat cepat. Saya juga enjoy mengerjakan nya karena tidak terlalu banyak intervensi dari ownernya. Flexible aja, ada beberapa spot yang saya respon. Mereka juga puas dengan hasilnya.
Menk, lo juga kan dosen seni rupa. Mengajar mata kuliah apa saja?
Kebetulan mengajar nya sih karya tekstil dan fashion. Tapi mata kuliah nya ada menggambar dasar, ilustrasi fashion, menggambar manusia dan 2D nirmana. Nirmana itu semacam konsep dasar mengolah sense dan imajinasi. Membiasakan mahasiswa beginner untuk menciptakan konsep visual yang baik dan menarik. Seperti yang psychedelic-psychedelic gitu lah, ada yang 2 dimensi dan ada yang 3 dimensi.
Murid-murid lo tau karya-karya lo yang “explicit†di Instagram?
Lebih undercover aja sih, kecuali ada yang kepo biasanya tau. Sebagian mungkin lebih ngeh apalagi yang kenal sama saya. Gak masalah sih, bagi saya sih pekerjaan sebagai dosen dikerjakan secara profesional dan proporsional. Wilayan saya sebagai seniman ada diluar wilayah kampus itu sih. Saya sih dosen honorer jadi gak ada beban lah. Pekerjaan saya cuma mengajar dan memberi nilai, diluar itu saya gak peduli penilaian mereka.
“Teori Andy Warhol sih setiap 15 menit bakal ada superstar baru. Benar juga itu kejadian sekarang. Tapi setelah viral mereka dilupakan. Secara esensi sih kosong. Jadi kita berlomba-lomba untuk mencari atensi, jadi apa? Da rata-rata sih teu jadi nanaon.â€
Karya-karya lo yang explicit pernah bermasalah ga?
Hahaha.. Kalau dengan hukum sih amit-amit ya, tapi sejauh ini belum. T-Shirt yang “Pemerintah Kontxx†itu pas awal pandemi ada sedikit masalah. Jadi ada sebagian kelompok masyarakat alias anarcho di daerah Bekasi dan Tangerang yang protes terhadap kondisi pemerintah menghadapi pandemi. Nah lalu yang di daerah Banjar, Ciamis ada yang ditangkap. Salah satu barang bukti nya selain buku filsafat ada kaos itu hahaha.. Aneh juga buku filsafat dijadikan barang bukti, kan itu barang yang dijual bebas haha.. Singkat cerita saya dikasih tau kaos saya itu masuk berita dan saya jadi ada rasa parno pas pemberitaan itu. Dagang gimana nih, akhirnya saya memutuskan untuk tidak beraktivitas seperti biasanya jualan merch di Sleborz. Saya melihat daya represi negara terhadap kebebasan berekspresi. Sampai saya nelpon Ucok tapi dia menenangkan saya. Kata dia karya-karya saya cuma gambar yang based on research jadi aman. Hahaha..
Kalau Sleborz apa kabarnya Menk? Ada produk baru?
Sebetulnya belum ada produk baru, tapi saya lagi nge refresh inventory. Bebenah data-data dan kelengkapan lagi. Disiapin untuk Desember. Kalau Sleborz kan dari awal konsep nya artist merchandise. Cenderamata yang digagas oleh seorang seniman untuk dimiliki publik. Tujuan nya mengenalkan kekuatan narasi dan ilustrasi saya diaplikasikan di produk. Aplikasi turunan lah dari ilustrasi saya. Mungkin publik merasa untuk memiliki karya original itu susah, harganya mahal dan terbatas, sedangkan produk Sleborz bisa dibikin lebih banyak. Usaha untuk memperkenalkan produk agar bisa dikoleksi secara terjangkau lah..
Orginal artwork lo kalau boleh tau paling mahal terjual berapa Menk?
Ga sampai 20 juta sih, sejauh ini masih 15 jutaan kebawah. Kecuali yang karya ukuran 2 meter tadi kalau terjual bisa diatas 20 jutaan. Beberapa original artwork saya juga yang di kertas kalau dibeli sudah dengan frame jadi tinggal dipajang. Awalnya sih banyaknya yang beli teman-teman dekat saya, tapi dari mengikuti art fair itu lumayan ngaruh mulai kolektor random yang saya gak kenal. Banyaknya juga yang membeli karya saya adalah memang yang suka, bukan reseller. Kadang mereka kalau ke Bandung pengen ketemuan dulu, ada yang ngajak ngobrol-ngobrol dulu.
Lo kan koleksi kaset lumayan banyak. Ada beberapa rilisan ‘90an yang masih wishlist karena susah untuk mendapatkan nya?
Saya sih pengen punya kaset self titled nya Downset. Yang jelas dari dulu sampai sekarang belum pernah punya. Saya suka aransmen musik mereka, mewakili banget pas saya masih SMP. Setelah Downset baru kan ngulik kaya Madball dan lain-lain. Biohazard – Urban Discipline. Album wajib hardcore era ‘90an. Dulu pernah minjem dan lama ngembaliin nya haha. Yang ketiga Dog Eat Dog – All Boro Kings. Bagi saya itu bagus dan groovy. Memang yang unik dia ada beberapa part diisi oleh saxophone. Ini era nya Supergroove juga sih haha. Helmet – Betty. Wah inimah the best pisan. Bagi saya Page Hamilton itu visioner juga. Album Aftertaste juga enak. Tapi Betty lebih “hardcore†lah. Dulu ini gak ada lisensinya cuma ada CD importnya dulu. Yang kelima RATM yang album pertama sih. Setelah album ini mulai muncul kan genre rap metal sampai nu metal. Ini bagi saya album hardcore sih, hardcore yang groovy lah. Aura kemarahan nya juga cocok, seperti menghardik dengan lirik kasar. Covernya yang pendeta Buddha protes ke pemerintah tentang isu keberagaman agama, dia protes dengan membakar dirinya sendiri. Ngeri juga pas liat kovernya dulu “anjis apa iniâ€.
Lo kan sering posting makanan di Instastory lo. Di satu piring ada makanan apa aja kalau versi ideal Amenk?
Hahahaha! Tapi kan bukan posting makanan seperti selebgram yang keren-keren.. Di piring yang pasti harus ada tempe yang tebal, karena saya suka tekstur pas digigitnya kalau tebal. Sambal dadakan harus ada juga, cuma karena saya ada masalah asam lambung jadi gak bisa yang terlalu pedas sekarang. Sekarang yang penting pedasnya nyantel lah, nyangkut. Gak usah terlalu strong haha. Telur ceplok atau telur bulat yang di balado. Sambal goreng kentang, dan terakhir kerupuk dari kaleng. Ini udah ideal banget bagi saya, masakan rumahan yang bisa juga ditemukan di warteg.
Pertanyaan terakhir: gimana pendapat lo tentang generasi sekarang yang aktif di sosial media?
Itu sih seperti pergeseran nilai sosial yang sedang terjadi aja. Banyak aspek yang memotivasi mereka untuk ingin tampil berbeda dari generasi sebelumnya. Biasanya sih ingin terlihat keren dan menjadi terkenal di sosial media. Joget-joget di Tik Tok biar banyak di likes. Berlomba mencari atensi yang sifatnya fana juga sih. Intinya mereka ingin terekspos, bahwa aing teh something. Everyone want to be someone tea. Pengen menjadi sorotan. Teori Andy Warhol sih setiap 15 menit bakal ada superstar baru. Benar juga itu kejadian sekarang. Gelombang populis aja, setelah itu mereka dilupakan. Secara esensi sih kosong. Jadi kita berlomba-lomba untuk mencari atensi, setelah viral mereka jadi apa? Da rata-rata sih teu jadi nanaon.
Last shout?
Kalau disimpulkan dari pengalaman saya setelah berkesenian 20 tahun… Seorang seniman itu harus terus bereksperimen dari sisi apapun. Harus bisa mengemukakan narasi besar dari karya-karyanya. Seniman adalah agen kebudayaan. Seniman juga bukan siapa-siapa, kita bukan Tuhan, ustad atau pemuka agama tapi kita adalah orang yang berbudaya. Kemajuan peradaban adalah sumbangsih seniman.
Words by Aldy Kusumah Photos taken from Amenk archives
Di industri kreatif, tentunya brand pakaian lebih banyak dibanding brand footwear. Diantara “segelintir†brand footwear lokal, Saint Barkley adalah salah satu yang mencuri perhatian kami. Dengan roots yang berbasis di kultur musik dan skateboarding, Saint Barkley tidak perlu waktu lama untuk dikenal sebagai brand sepatu yang keren. Mari berbincang dengan Khrisna Bharata yang lebih akrab dipanggil Ozom, yang juga seorang drummer dari band pop punk Rocket Rockers. Mari berbincang dengan Ozom mengenai sulitnya mengembangkan brand sepatu dan kolaborasinya dengan Burgerkill…
“Kalau soal kualitas produk sih berani lah kita adu sama Vans jugaâ€
History awal Saint Barkley?
Jadi histori awalnya banget itu, Saint Barkley udah jalan dari 2012. Awalnya bertiga: Alvi Juanda, Davit Firmansyah dan Herriyadi Marjunas. Awalnya mereka bertiga reuni dan ngeliat teman-temannya sudah banyak yang sukses. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat brand sepatu karena clothing sudah banyak di industri kreatif ini. Jalan 2 tahun, karena kurang amunisi dan asupan gue sama Ami Muhammad join. Di 2018-2019 ada suntikan lagi dari Weimpy Adhari (Tbonk), salah satu owner Starcross juga. Setelah Tbonk gabung sekarang kita berenam.
Tentunya mendevelop brand sepatu tidak gampang ya…
Memang ga gampang menjalankan bisnis sepatu, RND nya susah, marketing nya juga susah. Ada customer yang kalau beli sepatu itu harus lihat dan nyobain ke toko, walaupun sudah tahu size chart nya. 2 tahun kemarin brand sepatu lokal meledak juga ada yang pakai drama promosinya..
Lo sendiri di Saint Barkley in charge di departemen apa?
Gue sih lebih ke promosi, dan jatuhnya lebih ke PR sih, public relation..
Kaya pas lo dulu di PSD ya?
Ya ga jauh dari berhubungan dengan orang luar, event, kolaborasi, endorse dan lain-lain.
Kalau brand sepatu kan susah untuk lepas dari siluet brand seperti Nike, Vans & Converse. Apa lo mau mencoba mendobrak dari siluet-siluet itu kedepan nya?
Mungkin siluet brand-brand yang lo sebutin tadi itu kan mereka adalah pionir brand sepatu. Jadi kalau kita bikin siluet juga harus yang gampang diterima oleh customer. Siluet Vans authentic aja dibikin sama Nike dan Converse. Jadi model ga akan jauh darisitu, yang pas di kaki dan enak dilihat modelnya. Pasti bedanya di detailing aja. Siluet yang baru itu pasti mereka-mereka lagi yang bikin baru dan mendobrak, kaya misal Nike Sacai. Local pride mah tai lah pasti orang juga beli Nike lagi hahaha..
Sekarang kan ada trend gorp core dan dad core dimana sepatu-sepatu trail running seperti Salomon, Nike ACG, Hoka dan New Balance menjadi trend. Apakah lo juga akan mengarah ke pasar itu?
Pasar sih lebih ke endorse band kalau gue. Kalau membikin prodak yang sejenis dengan mereka itu harus develop dan trial & error. Mau sih mau, cuma kendalanya adalah uang hahaha..
…dan waktu ya?
Nah bener uang dan waktu. Kalau uangnya unlimited sih waktunya bebas. Kita sih ga pernah bikin produk yang ga aman. Pengen nya benar secara RnD dan kualitas terjaga. Kita sih sekarang main di kualitas yang benar. Gak mau bikin asal-asalan tapi dipakai 2 bulan hancur misalnya. Sekarang di 2022 tahun ke 10 Saint Barkley sudah aman outsole dan insole. Cuma tetap kita tes pakai berbulan-bulan untuk kekuatan dan daya tahan nya. Kita siksa dulu dipakai main skate dan sepeda. Melihat bahan misal suede nya tahan berapa lama.
“Sayangnya almarhum Eben Burgerkill belum sempat mencoba hasil akhirnya produk sepatu kolaborasi kita, sedih bangetâ€
Bisa ceritakan beberapa kolaborasi lu? Seperti dengan Collapse, Burgerkill sampai Motul?
Intinya collab kan untuk cross marketing. Jadi apapun yang bisa kita cross-market hayu aja asal benang merahnya ga keganggu. Kita juga bikin collab tetap pakai model kita, marketing dan campaign nya juga masih masuk. Gak tiba-tiba bikin sepatu F1 yang bikin orang mikir “naha jadi kieu?â€. Kita sih gak nutup market, jadi dengan collab Motul orang yang suka balap juga mungkin jadi suka yang model-model sepatu Saint Barkley. Kalau awal kolaborasi dari teman-teman terdekat, sama Collapse karena anak-anak juga dekat sama Dika. Kalau Motul itu alhamdulillah mereka yang nawarin. Diskusi panjang sekitar 4 bulan baru start. Ga se smooth itu juga dan harus ada kompromi. Yang diobrolin sampai output yang keluar harus benar-benar sesuai.
Kalu collab sama Burgerkill adalah impian kita, untuk berkolaborasi dengan BK dari awal SB terbentuk. Sempat ngobrol tapi belum terlaksana. BK mau kolaborasi sama brand sepatu luar, tetapi ternyata gak jadi. Tiba-tiba almarhum pak Eben nelpon si Ami “Mi, kalau kolaborasi sama BK sanggup teu?â€. Jadi pertanyaan nya bukan mau atau engga, tapi sanggup ga hahaha. Almarhum itu kan terkenal sangat perfeksionis. Harusnya sepatu collab BK ini rilis 2 tahun kemarin, cuma karena belum sesuai dengan keinginan Pak Eben jadi diundur. Ada kali 16 kali bikin sample di revisi. Kan bikin satu sample bisa 2 minggu lebih, apalagi produksi. Hingga akhirnya pas sepatu rilis ini sudah perfect, sayangnya almarhum belum sempat mencoba hasil akhirnya, sedih banget. Pokoknya kolaborasi yang sama BK ini kita juga banyak belajar step-step nya.
Band lo Rocket Rockers di endorse Vans juga kan? Apa gak masalah mereka lo punya brand sepatu? Hahaha..
Nahh.. Terakhir kan kita di endorse Vans 3 tahun pas gue udah punya Saint Barkley. Pas awalnya gue agak bingung, aduh gue punya brand sepatu tapi di endorse brand sepatu juga. Vans nya sih ga terlalu peduli juga karena kita bukan saingan ya hahaha. Vans Authentic masih nyaman dan favorit, cuma seiring bertambahnya umur gue lebih prefer pakai sepatu running sekarang hahaha..
Top 5 sepatu favorit lo sekarang apa aja? – New Balance 373: Enak lah bisa dipakai casual dan harga sangat terjangkau. – Nike React Element 55: NB dan Asics ternyata lebih empuk dari Nike, tapi Nike React ini pas banget di kaki gue. Sekarang kenyamanan diatas segalanya. – Saint Barkley Cullen: Kalau buat style tetap gue suka sepatu tipis. Untuk harian Cullen slip-on ini santai banget. – Asics Gel Kayano 29: Gel Lyte terjangkau dan enak, tapi Kayano ini harga memang ga bohong, nyaman banget di kaki. – Saint Barkley (Rocket Rockers): Ini empuk banget, bisa dipakai jalan jauh.
Ngomongin band lo Rocket Rockers, setelah jadi trio menurut lo output musiknya jadi beda juga ga?
Memang kita sekarang banyak dibilang orang jadi lebih lembek musiknya. Tapi menurut gue kita ini jadi band panggung. Banyak yang ngomong setelah melihat live RR orang lebih berkesan karena kita banyak berinteraksi, seperti ngajak sing along atau mengajak penonton naik panggung. Kalau dulu Ucay lebih provokatif dan semangat. Kalau sekarang semangat dapet tapi experience dapet juga. RR udah 23 tahun umurnya, dan kita bertiga gak pernah jenuh karena kita memang cuma ketemu kalau weekend ada manggung atau latihan. Kita bertiga memang pengen hidup dari musik dari awal sampai sekarang. Alhamdulillah kita bertiga pendapatan utama justru dari musik.
Kangen ga dengan formasi RR pada saat masih berlima?
Kalau dibilang kangen semua juga pasti kangen lah. Apalagi kalau bisa main berlima full set, pasti lebih edan lah. Bayaran nya pun pasti lebih edan hahaha. Ya sekarang enak juga sih cuma bagi 3 doang haha. Cuma kalau berlima mungkin fee nya juga bsa 5x lipat. Kita sekarang manggung juga pakai additional karena kita ga suka pake sequencer. Karena kalau pakai sequencer ga bisa ngejam, ga bisa ngobrol sama penonton. Energi-energi nya hilang lah kalau pakai sequencer.
Balik lagi ke Saint Barkley, rencana-rencana berikut lo buat SB apa aja?
Sekarang kita lebih fokus developing lah. Misal insole ngejar brand-brand luar biar bisa empuk banget. Kita juga cari titik-titik untuk jualan seperti di Korea, Malaysia, Singapura, dan lagi approaching Kanada dan Amerika, walaupun masih kecil-kecilan dan belum bisa dibanggakan. Negara-negara tetangga juga lagi kita approach, dan di negara tetangga kita akan bersaing dengan brand luar dan Vans. Tapi kalau kualitas kita bisa diadu lah sama Vans hahaha..
Words by Aldy Kusumah Photos from Ozom / Saint Barkley archives