Aries Arise adalah brand London hasil dari kolaborasi duo veteran fashion Sofia Prantera dan Fergus Purcell. Sofia sebelumnya pernah menjadi founder dari label Silas yang cukup dikenal di pertengahan ‘90an, sedangkan design-design Fergus juga membantu membesarkan Palace, sampai menjadi salah satu brand skateboarding ikonik seperti sekarang. Dengan nyaman Aries berada diantara streetwear dan high fashion. Aries Arise banyak memainkan dekonstruksi, dan juga banyak terinspirasi dari fashion punk. 


Sensibilitas punk pun terlihat dari design-design dan produk Aries. Estetika Sofia yang lebih sophisticated bertemu dengan pendekatan “punk” dari Purcell, menghasilkan output yang sangat fresh. Menariknya, Aries tidak seperti brand-brand lain yang ter-influence oleh musik yang spesifik untuk customer marketnya, sehingga mereka pun tidak membuat niche dan menjejali customernya dengan musik khas Aries. Lihat saja feeds instagram dan juga ciri khas video ataupun editorial foto mereka. Foto-foto mereka terlihat seperti karya Juergen Teller on acid (kebanyakan menggunakan model Kasper Kapica yang “nyeleneh” dan sudah dianggap menjadi icon dan juga brand ambassador Aries). Video-video mereka sangat quirky and weird, in a cool way. Aries Arise sudah menjadi salah satu nama berbahaya, dengan kolaborasinya dengan brand-brand besar seperti New Balance, Vans, Porter, I-D, dan Love Magazine. 

 

Kini logo “temple” mereka sudah menjadi salah satu ciri khas yang mudah dikenal dan eye-catching. Berpusat di London, Aries mengerjakan seluruh craft produksinya di Italia, dengan material-material berkualitas dan kerapihan khas artisan Italia. Koleksi graphic T-shirt, trouser tie-dye, jaket kulit tanpa buckle dan jumpers knit tebal mereka terasa sangat effortless dan easy-going. Walau pada awalnya Aries adalah brand unisex yang membuat produknya 50/50 untuk pria dan wanita, pada akhirnya mereka commit untuk lebih fokus pada womenswear. Sebuah twist yang diterapkan oleh Purcell dan Sofia untuk sebuah womenswear high-end justru menjadi ciri khas Aries, dan cukup membuat Aries stand-out diantara brand-brand streetwear dan high-fashion perempuan lainnya.

 

Words by Aldy Kusumah

Rilisan-rilisan dari duo rapper-producer Killer Mike dan EL-P selalu dinantikan. Setelah ketiga self-titled album mereka mendapat pujian bagus dari hampir seluruh penikmat musik dan kritikus, RTJ4 hadir ditengah-tengah kekacauan 2020 dimana di Amerika protest Black Lives Matter (karena pembunuhan George Floyd, Breonna Taylor, and Ahmaud Arbery oleh aparat kepolisian Amerika) sedang ramai dan dirilis sebagai free download ditengah-tengah krisis pandemi Covid-19. 


Setelah sering berkolaborasi dengan Zach De La Rocha eks-RATM (puncaknya saat Zack ikut tampil di stage RTJ di Coachella 2015), mereka kembali menggaet Zack yang mengisi di track “Just” bersama Pharell WIlliams, Zack juga tampil di video klip “Ooh LA LA”. Kolaborator lain di album ini adalah DJ Premier, Josh Homme, Mavis Staples, Greg Nice dan 2 Chainz.



Tanggal perilisan album ini seharusnya 5 Juni, tetapi karena protest BLM atas police brutality sedang marak, duo Run The Jewels akhirnya memutuskan untuk merilisnya 2 hari lebih awal (3 Juni 2020). Menurut kami, ini adalah salah satu rilisan hip hop terbaik di 2020. Produksi yang epic, lirik tajam yang relevan dengan situasi politik kontemporer dan juga disertai visual packaging dan video klip yang keren. Track single “Ooh LA LA” terdengar seperti beats ’80s hip hop yang melebur dengan hip hop kontemporer: sebuah track yang bisa menyenangkan para oldschool hip hop afficionados dan juga membuat crowd teenagers di Coachella untuk berdansa. Dari opening track  “Yankee and the Brave EPs 4”, “Just” dan sampai track penultimate “Pulling the Pin” album ini terdengar bombastis, hard-hitting dan seluruh album menjadi kesatuan sebgai anthem pengantar revolusi seakan tidak ada hari esok. This album is all killer, no filler. Forget those trap pussies and Travis Scott’s albums, RTJ for lyfe!

Simak single “Ooh LA LA” di tautan ini