“Revelation Records adalah record label favorit saya dan bisa berkerja sama dengan mereka dan Jordan itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan!” -Orhun Oner

 

Orhun Oner adalah seorang guru dari Jerman, dan dia memiliki koleksi kaos band yang lebih keren (Dan lebih banyak) dari kamu. Setelah mempublish sendiri bukunya, Revelation Records tertarik untuk mempublish buku baru Orhun Oner dengan judul LIFE LOVE SHIRTS, yang berisi arsip foto koleksi merchandise band-band hardcore favoritnya. Juga ada beberapa interview Orhen dengan legenda seperti Walter Schreifels (Quicksand, Gorilla Biscuits, Rival Schools), dan Porcell (Youth of Today, Shelter). 

 

 

Halo Orhun! Apa yang kamu ingat dari masa mudamu di Jerman saat pertama kali menemukan hardcore? Seperti apa gigs-gigs pertama kamu dan scene musik di kotamu pada saat itu?
Saya dilahirkan dan tumbuh besar di kota kecil bernama Ludwigburg (dekat Stuttgart) di daerah Jerman selatan. Kita memiliki scene yang kecil tetapi solid. Band seperti Absidia dan Sidekick adalah pahlawan kami pada saat itu. Mungkin sepertinya di medio sekitar tahun 1996/1997. Scene kita lumayan berbaur, dari punks, skins, straight edge sampai skaters datang ke setiap gigs. Budaya anti-fascist dan anti-rasis pun terbentuk dengan sendirinya segara logis. I love that!

 

 

 
Apa saja top 5 band yang menjadi pintu masukmu dan membuatmu menjadi penggemar hardcore/punk?
Tentu saja band-band seperti Sick Of It All, Bad Religion dan Ignite (Nama-nama besar pada saat itu) yang membuat saya mendalami hardcore. Sebelumnya saya hanya menyukai band-band crossover seperti Downset, Rage Against The Machine, Dog Eat Dog dan Biohazard. Itu mungkin sekitar 1994. Sepertinya album hardcore pertama saya adalah Ignite “Call on my Brothers”. And then i was on fire. 

 

 

Pendapat kamu mengenai era D.C. revolution summer?
Saya tidak terlalu mengikuti scene Washington D.C. era awal-awal, karena memang bukan era saya. Tetapi saya menyukai fakta bahwa mereka membawa sikap politis yang pada saat itu memang belum dibicarakan di media-media besar, seperti anti-sexism dan lain-lain.

 

 

Apa yang kamu cari dalam sebuah T-shirt selain dari bandnya atau dari aspek designnya? Ada beberapa wishlist yang belum kamu dapatkan?
Sejujurnya, hal pertama yang paling penting adalah apakah saya menyukai band tersebut? Karena saya hanya mengkoleksi kaos dari band-band yang saya sukai. Tetapi saya juga suka aspek design klasik seperti sablonan kecil pada pocket dan foto live dengan pesan yang keren di belakang kaosnya. Seperti merchandise yang dirilis Rev HQ pada era ’80 atau awal ‘90an. Top wishlist saya sangat panjang, tetapi hal pertama yang datang ke pikiran saya adalah kaos-kaos Turning Point yang di design Hi-Impact Records dan Four Walls Falling rilisan Axtion Packed records.

 

 

“Pandemi ini adalah saat yang sulit untuk semua orang dan dalam saat-saat seperti ini kita membutuhkan solidaritas, kepedulian, cinta dan vaksin. Saya bukanlah tipe orang yang anti-vaksin. If you believe in dumb conspiracies, i can’t help you. ” -Orhun Oner

 
Bagaimana projek buku kamu dimulai? Ceritakan bagaimana awal mula kerjasama kamu dengan Revelation Records.
Saya mulai memikirkan ide tersebut pada tahun 2006, saat saya memulai blog saya “xshirtsx” tetapi kemudian tidak meneruskannya lagi. Sejujurnya mungkin karena pada saat itu saya terlalu muda dan tidak tahu bagaimana memulai proyek seperti itu (Mempublish buku sendiri). Ketika saya memulai akun Instagram sekitar 4 tahun kemarin, ide itu kembali terpikirkan. Saya berdiskusi dengan sahabat-sahabat dekat saya seperti Marc dan Chris mengenai ide merilis buku. Lalu mereka berdua mulai semangat dan kita mulai mengarsipkan dengan mengambil foto koleksi-koleksi saya dan juga mulai menghubungi para member band-band yang akan saya bahas di buku tersebut.

 

 

 

 
Sambil mengerjakan layoutnya, saya menghubungi Ryan Kuper, founder Redemption Records di tahun ‘90an yang membantu mengedit tulisannya dan menghubungi personil lama band-band tersebut. Edisi pertama sold out cepat dengan hanya 450-500 kopi. Lalu Ryan menunjukkan buku itu ke Jordan Cooper (Founder Revelation Records) dan dia sangat menyukainya. Jordan mulai mengirim email dan dari situ kami memulai kerjasama dengan Rev HQ. Bayangkan saja, Revelation Records adalah record label favorit saya dan bisa berkerja sama dengan mereka dan Jordan itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan! Tanpa Ryan Kuper, tidak akan ada proyek kolaborasi dengan Rev HQ ini, sehingga saya sangat berterimakasih kepadanya. Ryan kalah bertempur dengan kanker dan meninggal pada November 2017. Salah satu orang terkeren yang pernah saya kenal. Dia melakukan banyak hal hanya karena dia sangat perduli pada scene ini dan sangat mencintai musik hardcore. It breaks my heart that he didn’t see the book’s release and all the feedback from it. I really miss him. Buku ini adalah proyek yang saya kerjakan dengan sahabat-sahabat saya dan saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari proyek ini.

 

 

 

 
Bagaimana situasi pandemi di Jerman saat ini?  
Menurut saya Jerman melakukan pekerjaan yang baik dalam menghadapi pandemi ini. Ini adalah saat yang sulit untuk semua orang dan dalam saat-saat seperti ini kita membutuhkan solidaritas, kepedulian, cinta dan vaksin. Saya bukanlah tipe orang yang anti-vaksin. Saya juga melihat banyak orang yang mempercayai teori konspirasi dan Qanon yang tolol itu. If you believe in dumb conspiracies, i can’t help you.

 

 

 

Words & Interview by Aldy Kusumah
Photos by Orhun Oner archives

SADB / Stop A Douchebag (Russia)
Siapa yang menyangka melihat para pelanggar lalu-lintas “dihukum” oleh SADB bisa menjadi tontonan yang enjoyable? SADB adalah grup independen para pejalan kaki Rusia yang menghalangi pengendara mobil/motor yang naik ke trotoar, parkir sembarangan atau mengambil area pedestrian. Mereka tak segan-segan menempelkan stiker besar di kaca depan para pelanggar dan tetap naik ke atas kap mobil jika mobil yang dihalangi tidak mau berhenti. Di Rusia, seorang pengendara yang membawa AK-47 di jalan raya dan seorang pegulat yang membanting pengemudi ke trotoar adalah hal yang lumrah. Ya, basicnya channel ini adalah keseruan melihat orang-orang bertengkar di parkiran dan trotoar. We don’t condone violence, but this is a fun channel. 

 

Grandpa Kitchen (India)
Narayana Reddy adalah seorang chef asal India. Kakek tua ini memasak hidangan-hidangan unik berporsi mega-jumbo untuk ratusan orang dengan santai sambil memakai sarung. Hidangan-hidangan ini kemudian dia bagikan ke panti asuhan di seluruh India. Yang menarik di channel ini adalah fakta bahwa team Grandpa Kitchen memasak di outdoor dengan cara tradisional tanpa listrik dan peralatan canggih. Mereka tetap bisa menyajikan Kue Oreo jumbo, 100 pcs mie instan Maggie, Chicken Biryani sampai pizza berdiameter ban mobil truk hanya menggunakan api unggun, kuali jumbo dan oven tradisional dari batu. Semua ini dihadirkan dengan resep yang gampang diikuti juga (jika kamu punya bahannya). Setelah grandpa Narayana meninggal dunia pada tahun 2019 kemarin, kini channel ini diteruskan oleh cucu-cucunya.

 

Morinone (Japan)
Rupanya menikmati alam bisa dilakukan secara virtual. Subscribe ke channel morinone dan kamu akan disuguhkan dengan video travelling yang menenangkan. Deskripsinya saja: I want to make peaceful, calming videos, and I am so happy when people can feel soothed and healed from watching them. Dengan pemandangan alam daerah pedesaan Jepang yang indah, mengendarai Landcruiser 70 di jalan yang sepi, memasak di hutan, berkemah sendirian di gunung sampai menyeduh kopi manual di dekat air terjun, morinone adalah channel yang unik. Di shoot dengan sinematografi yang keren, dan di edit sendiri, morinone adalah seorang solo traveller yang mendokumentasikan dan menshare pengalamannya untuk para subscribersnya.

 

Fine Art Tanggol (Indonesia)
Entah darimana kami menemukan channel video ini, tetapi Fine Art Tanggol cukup menarik. Seorang kakek tua yang terlihat seperti guru kungfu dengan rambut putih panjangnya ini melukis alam tepat didepan lokasinya. Nama kakek ini adalah Pak Tanggol Angien, beliau berasal dari Semarang. Untuk yang hobby menggambar atau ilustrasi mungkin banyak ilmu dan teknik-teknik yang bisa kamu pelajari disini, tetapi bagi kami, menonton kakek ini melukis di tengah sawah atau diatas gunung sudah sangat menyenangkan secara ASMR. Ini adalah jawaban Indonesia untuk Bob Ross (Pelukis asal Amerika).

 

 
My Analog Journal: Coffee Break Sessions (UK)
Ingin melihat live DJ sambil bersantai dan menyeduh kopi di ruang tamu rumahmu? Segmen Coffee Break Sessions dari channel My Analog Journal cukup menyenangkan untuk disimak. Range musik yang luas dimainkan para DJ handal, dari Japanese City Pop, 70’s Czechoslovakian Jazz, Brazilian Grooves, sampai playlist Turkish Female Singers. Sound pun di mix dengan produksi yang memadai, sehingga kamu bisa menikmati sound vinyl obscure yang dimainkan dari turntable dan ampli mahal di layar laptop kamu. 

 

 
Adam Savage’s Tested (USA)
Adam Savage adalah seorang builder dari Amerika, dan tampaknya dia sudah membuat semuanya. Dari pistol Hellboy, Topeng dan armor Ironman, Samurai Kill Bill sampai replika lightsaber dari film Star Wars. Semuanya dibikin di garasi pribadi Adam dan semuanya berfungsi! Adam juga berkerja sebagai tim produksi di beberapa film, TV show dan museum. 5 juta subscribers sudah cukup membuktikan kalau channel Adam Savage memang menarik.

 

Cafe Music BGM Channel (Japan)
Channel ini sangat relaxing. Isinya adalah kumpulan playlist musik original yang bisa menemani kamu berkerja, bersantai atau bahkan menidurkan anakmu. Dirumahmu sedang panas dan kamu ingin menyeduh kopi? Playlist Rainy Jazz: Relaxing Jazz & Bossa Nova bisa menemani kerjamu! Untuk para owner cafe juga bisa menyetel Jazz Hiphop playlist untuk menambah ambient musik latar resto kamu. Anakmu sulit tidur? Setel saja playlist Ghibli Jazz, yang akan menidurkan anak dan orangtuanya sekaligus. This channel has it all.

 

Chords of Orion (USA)
Pada intinya, Bill Vencil memperkenalkan pedal-pedal gitar asik dan mendemokan beberapa sound ambient untuk para subscribernya. Karena channel-channel video gitaris shredding, galloping dan math-rock chords sudah terlalu banyak, maka Chords of Orion cukup menjadi angin segar bagi kami. Suara Bill dan pembawaannya yang terlihat seperti profesor fisika kuantum ini pun makin membuat videonya enjoyable. Oh ya, dia juga terlihat seperti salah satu karakter Game of Thrones. Hmm…

 

Amoeba Records: What’s in my Bag (USA)
Amoeba Records adalah salah satu retailer musik terbesar yang menjual vinyl, CD, kaset dan merchandise musik lainnya. Karena pandemi berkepanjangan, beberapa toko Amoeba terancam untuk ditutup atau pindah lokasi. Melihat segmen What’s in my Bag mereka saat ini, tentunya bisa mengembalikan nostalgia serunya digging plat-plat favorit kamu dan berburu rilisan fisik di toko favorit. Karena disaat pandemi kebanyakan dari kita hanya berbelanja via online saja. Ingin melihat plat apa saja yang dibeli Necrobutcher (Mayhem) dan Sunn O)))? Ingin tahu album-album favorit Mac Demarco dan Earl Sweatshirt? Channel ini jawabannya.

 

Braille Skateboarding (USA)
Untuk kamu yang ingin bermain skate, entah itu amatir atau pro, Braille Skateboarding menyediakan video tutorial trick-trick skateboarding yang cukup komprehensif dan mudah diikuti. Di channel ini kamu akan melihat semuanya, dari trik-trik paling simple untuk pemula sampai trik-trik yang cukup sulit. Ingin belajar fakie kickflip to manual? Hardflip 5 anak tangga? Tontonlah channel ini sebelum kamu berangkat ke skatepark lokal terdekat.

 

 
Cinemassacre: Angry Video Game Nerd (USA)
James Rolfe mereview game-game terjelek yang pernah dibuat sebagai pekerjaan utamanya. Selain lucu dan menghibur, editing dan produksi video-video Cinemassacre terbilang cukup niat. James juga cukup dikenal sebagai salah satu kolektor terbesar film-film horror format VHS dan game-game retro, dimana koleksinya mencapai ribuan.

 

Draco (Japan)
Dalam satu videonya, Pria kurus ini bisa menghabiskan 25 Big Mac, 10kg ramen, sampai 7kg daging di satu piring besar. Rata-rata makanan itu dihabiskan tanpa terburu-buru dengan durasi 20 menitan. Draco pun memakan porsi-porsi raksasa dengan lahap tanpa ekspresi berlebihan, which makes him a terrifying guy. Apakah Draco benar-benar seorang manusia?

 

[Aldy Kusumah]

“Keanu Reeves, A$AP Rocky dan Grimes dalam sebuah game? Kenapa tidak.”

Setelah CD Projekt Red membangun hype selama hampir satu dekade, Cyberpunk 2077 akhirnya dirilis pada akhir tahun, tepatnya 10 Desember 2020. Dari tahun 2012, CD Projekt Red sudah mengumumkan dan memberi teaser mengenai game ini. Sampai akhirnya setelah delay rilis beberapa kali, sebagian publik ingin game ini segera dirilis. Setelah rilis, ternyata banyak komplain dari player yang menemukan banyaknya bugs dan glitches di game ini saat dimainkan, Sony Playstation Store memutuskan untuk tidak menjual lagi Cyberpunk 2077 dan menarik game tersebut dari online store pada tanggal 17 Desember 2020. 

 

 

Cyberpunk 2077 adalah sebuah action role-playing game dalam setting open-world. Bayangkan saja kamu memainkan Grand Theft Auto dengan setting futuristik ala Blade Runner, dan dengan rules combat action-rpg seperti Deus Ex. CD Projekt Red adalah developer/publisher game yang dikenal sebelumnya lewat The Witcher 3: Wild Hunt (2015) yang sukses mendapat penghargaan Game of the Year dan terjual 28 juta kopi dan menjadi salah satu game terlaris sepanjang masa. Game yang dibuat oleh 500 orang di Polandia ini dipuji karena memiliki narasi yang bagus, voice-acting sekelas film Hollywood dan visual grafis ber-setting dystopia, lengkap dengan neon sign dan warna-warna techno-noir. CD Projekt Red pun merekrut aktor The Matrix dan John Wick, Keanu Reeves, untuk berakting menjadi salah satu karakter di game ini. Pada departemen soundtrack, A$AP Rocky dan Grimes menyumbangkan radio station playlist yang bisa dimainkan dari dalam game (seperti di GTA).

 

 

 

“Cyberbugs 2020: Apa yang membuat Cyberpunk 2077 ditarik dari pasaran?”

Sejak rilis pada 10 Desember 2020, ribuan pemain Cyberpunk 2077 sudah memposting video bagaimana game ini banyak sekali errornya, dan postingan-postingan tersebut pun menjadi viral. Pohon yang keluar dari lantai gedung, tank yang berjatuhan dari langit sampai karakter-karakternya yang terlihat mengendarai motor tanpa celana. Seorang user Youtube bahkan berkomentar bahwa game ini sebaiknya dirilis 57 tahun lagi agar tidak ada errornya. 8 juta kopi yang terjual sejak pre-order pada akhirnya menjadi guyonan di media sosial, bahkan CD Projekt Red memberi permohonan maaf dan menyediakan refund jika pemain tidak menyukai performa game tersebut. Secara singkat, Cyberpunk 2077 tidak mempunyai masalah performa jika dimainkan di high-end PC, tetapi para pemain PS4 dan XBOX One akan menemukan banyak masalah seperti frame rate yang tidak konstan, bahkan freeze di beberapa situasi, sampai para pengguna console harus melakukan hard-reset. Menurut para pengguna Xbox One, beberapa pemain menemukan resolusinya drop dari 720p (walaupun kadang fluktuasi dengan opsi dynamic scaling-nya). Saat pertempuran sedang berlangsung, framerate drop serendah 10 fps, sehingga tidak bisa dimainkan, dan kadang 20 fps pada saat sedang berjalan atau mengendarai kendaraan di area Night City. Versi PS4 memiliki performa yang sedikit lebih baik setelah adanya patch 1.04, yang sayangnya mengorbankan waktu untuk loading tekstur. Beberapa pengguna banyak men-screenshot kalau karakter-karakter di game ini terlihat kotak-kotak seperti belum di render, dan dalam beberapa saat baru terlihat normal. Beberapa neon sign di Night City pun tidak muncul tulisannya dan kadang baru muncul beberapa menit kemudian.

 

 

 

Menurut beberapa pengguna high end PC, Cyberpunk 2077 tidak memiliki masalah, sehingga mungkin sebenarnya game ini memang seharusnya tidak dirilis di PS4 atau Xbox One yang kinerja perangkat kerasnya tidak mumpuni untuk memainkan game dengan visual yang sedetail ini. Game yang seharusnya menjadi masterpiece ini pun dianggap publik terlalu terburu-buru untuk dirilis. Performanya yang jelek di PS4 atau Xbox One ini membuat segmen combat, driving dan storytelling yang seharusnya bisa di apresiasi dan menjadi pengalaman revolusioner malah menjadi sesuatu yang tidak enak dilihat atau bahkan membuat pusing para player. Opini publik pun mulai tergiring karena CD Projekt Red anehnya tidak mau memberi kopi/demo kepada berbagai media untuk direview sebelum launching. Setelah menggunakan patch 1.04 para pengguna PS4 Pro dan PS5 yang memainkan game Cyberpunk 2077 versi PS4 hanya memiliki sedikit komplain saja. Semoga saja dengan perbaikan dari patch-patch berikutnya atau versi PS5nya yang kabarnya akan keluar 2021, game ini bisa menjadi game masterpiece yang seharusnya. Tanpa adanya bugs dan glitches atau masalah performa gameplay, seharusnya game ini bukanlah bencana terbesar dalam sejarah video game, melainkan bisa dengan mudah bisa menjadi game terbaik tahun ini, atau bahkan abad ini.


 
[Aldy Kusumah]

Mil-Spec – World House (2020)
Outfit hardcore baru dari Toronto, Kanada ini dengan baik meramu influens Youth Crew mereka dengan referensi post-hardcore ala Dischord records, dan menjadikan album World House sebuah hibrida yang berisi kolase terbaik dari dua dunia itu. World House bukanlah sebuah konsep album yang panjang, melainkan 8 lagu berdurasi 22 menit yang terasa singkat dan padat. Mil-Spec bisa terdengar seperti melodic-hardcore dan juga bisa menjadi sultan riff di beberapa lagunya. Mil-Spec merilis album ini dengan sebuah majalah 88 halaman bernama Millenarian Spectacle, dengan kumpulan arsip foto, lirik-lirik, manifesto dan review film favorit mereka. Hasil penjualan rilisan digital mereka di bandcamp pun akan disalurkan ke berbagai donasi yang mereka pilih, salah satunya Black Lives Matter Toronto. Para penggemar sound D.C. Revolution summer ’80s dan ‘90s mosh hardcore sebaiknya segera menyisihkan 22 menit mereka untuk mendengar World House di Spotify/Bandcamp mereka. 
 
For fans of: Turning Point, Nation of Ulysses, Mindforce, Rites of Spring, Fugazi
 

 

 
House of Harm – Vicious Pastimes (2020)
Debut album dari unit Post-punk/new wave Boston ini terlihat ingin membuat statement. Album yang dibalut oleh lirik-lirik hopeless romantic dan instrumentasi gelap ini akan mengingatkan kamu untuk bernostalgia di era romantiseme ala gothic romance yang sudah dilakukan 40 tahun yang lalu oleh Asylum Party, Christian Death sampai The Cure era Seventeen Seconds. Bahkan kovernya saja menyerupai album Pornography-nya The Cure. Ini adalah sebuah album yang dari awal sampai akhir dikerjakan dengan produksi dan songwriting yang baik. Walaupun influence ’80s post-punk terasa kental di album ini, House of Harm tetap menemukan originalitas dengan ramuan mereka yang catchy dan upbeat. Vokal Michael Rocheford yang familiar berada ditengah area Davey Havok dan Robert Smith era Pornography. Album ini bisa menjadi introduksi yang tepat untuk siapapun yang sebelumnya tidak menyukai atau baru mendengar genre musik seperti ini. Coba saja dengarkan track: Catch, Always, atau Coming of Age. 
 
For fans of: Asylum Party, Lust For Youth, The Chameleons, Death Bells, Cold Cave

 

 

 

Higher Power – 27 Miles Underwater (2020)
Mungkin hanya Higher Power yang dapat mengingat bahwa band-band ’90s alt-rock seperti Soundgarden, Smashing Pumpkins dan Hum bisa menghasilkan riff-riff gitar groovy, dan elemen psikadelia dengan efek chorus basah di lagu yang sama. Dinamika keras pelan dan sentuhan produser Gil Norton (Foo Fighters, Pixies, Jimmy Eat World) bisa membuat album ini terdengar seperti rilisan alt-rock yang dirilis pada tahun 1995. Tanpa melupakan elemen musik Hardcore ala New York-nya, band asal Leeds, Inggris ini juga bisa terdengar seperti gabungan dari Turnstile, Leeway dan Code Orange versi ringan yang lebih aksesibel dan radio-friendly. Mungkin beberapa riff di album ini sedikit mirip-mirip dengan para pendahulu yang menjadi inspirasi mereka, tetapi mereka selalu mengganti ide-ide di setiap track agar semua lagu terdengar fresh. Jane’s Addiction bertemu Glassjaw? Kenapa tidak. Soundgarden bertemu Helmet? 27 Miles Underwater adalah jawabannya.
 
For fans of: Turnstile, Helmet, Creeper, Code Orange, Leeway
 

 

 
Narrow Head – 12th House Rock (2020)
13 lagu yang disajikan alt-rockers asal Texas ini akan menjerumuskan pendengar ke dunia Narrow Head. Tidak terlalu floaty namun tidak terlalu heavy juga, Narrow Head menemukan kombinasi yang pas untuk aransemen ‘90s alt-rock versi mereka, dimana lead gitar ala Billy Corgan era Gish dan sound heavy Deftones bertemu dengan elemen shoegaze yang mengawang dan noisy. Dari awal sampai akhir lagu-lagu mereka akan menghancurkan ekspektasi dan sekaligus memberi nutrisi yang dibutuhkan oleh para pendengarnya. Dibalik elemen shoegaze dan grunge revivalism mereka, delivery vokal Jacob Duarte terasa pas untuk membawa aransmen musik Narrow Head ke kuping pendengar yang menyukai My Bloody Valentine, Smashing Pumpkins, Nirvana dan Deftones. Two-thumbs up kepada Run For Cover yang telah merilis album ini. Favorit kami disini adalah: Ponderosa Sun Club, Evangeline Dream, Stuttering Stanley dan Wastrel.
 
For fans of: Smashing Pumpkins, Hum, Deftones, Nothing, Jawbox

 

 

 
Gulch – Impenetrable Cerebral Fortress (2020)
Band asal San Jose, California ini selalu tampil live bertelanjang dada sepanjang karirnya. Memainkan musik yang cepat dan kencang tentunya membutuhkan energi dan skill aransmen yang ekstra. Influens Gulch yang range-nya cukup luas, dari powerviolence, D-beat, death metal, black metal sampai hardcore tradisional tentunya akan membuatmu ingin bergerak jika menonton pertunjukan live mereka. Secara impresif, semua itu dibungkus rapi oleh produser handal Jack Shirley (Deafheaven, Gouge Away) hanya dalam waktu 2 hari saja. Semua lagu di album ini terasa energi mentahnya karena menurut gitaris Cole Kakimoto, hampir setengah dari album ini di rekam secara live dalam single take. Bahkan menurut labelnya, Closed Casket Activities, Impenetrable Cerebral Fortress merupakan album dengan biaya produksi termurah, dengan sound dan aransmen yang tetap terdengar mahal. Sebuah album penuh kemarahan dengan durasi 16 menit, Gulch bahkan menutup album ini dengan sebuah kover lagu Siouxie and the Banshees. Seperti durasi album ini yang cepat, dan tanpa omong kosong, Kakimoto pun ingin membubarkan Gulch setelah merilis beberapa EP lagi setelah ini. 
 
For fans of: Repulsion, Botch, Infest
 

 

 
Drain – California Cursed (2020)
Masih dari scene hardcore California, Drain adalah unit hardcore yang “dipimpin” vokalis Sam Ciaramitaro, yang juga bermain drum di Gulch. Unit hardcore asal Santa Cruz ini kembali dengan line-up baru, dan lebih memilih memasukan unsur trash metal klasik di lagu-lagunya daripada memainkan hardcore tradisional. Drain tentu akan memberi angin segar kepada fans Power Trip atau Cro-Mags. Album yang dirilis Revelation Records ini mempunyai vibe fun dan tidak terlalu serius. Terlihat jelas energi dan vibe fun yang ingin mereka bawa ke audiens dari video klip, pertunjukan live dan pemilihan ilustrasi kover mereka di album California Cursed ini. Dengan materi bagus seperti ini, bukan tidak mungkin Drain akan menjadi salah satu band hardcore besar di kemudian hari. Key tracks: California Cursed, Army of One, Hyper Vigilance.
 
For fans of: Power Trip, Cro-Mags, Take Offense, Judge
 

 

[Aldy Kusumah]

“MF DOOM is your favorite rapper’s favorite rapper” 

Fans hip-hop di seluruh dunia berkabung saat mendengar berita di awal tahun ini, bahwa Daniel Dumile yang dikenal sebagai MF DOOM meninggal dunia di umur 49 tahun. Rapper misterius ini memang menjaga anonimitas dan selalu memisahkan kehidupan personalnya diluar MF DOOM. Kematiannya yang misterius ini pun baru terdengar di awal tahun 2021 (2 bulan setelah kematiannya), padahal menurut istrinya, Dumile yang juga dikenal sebagai Viktor Vaughn ini meninggal sejak 31 Oktober, tepat di hari Halloween. Untuk seorang seniman yang berjaya dibalik topeng dan secara artistik hanya ingin berkarya dari balik layar, MF DOOM terlihat sangat ikonik dengan topeng metalnya yang menyerupai topeng Dr. Doom, musuh besar Fantastic Four dan Avengers. 



Katalog musik-musik karya Dumile sangat bervariasi dan dia terhitung sangat produktif. DOOM banyak berkolaborasi dengan pemain-pemain hiphop lama seperti veteran Stones Throw records Madlib, DJ Subroc, produser handal Danger Mouse, Czarface sampai kolaborasi dengan rapper yang tergolong baru seperti Bishop Nehru, dimana DOOM juga bertindak sebagai produser. Ide-ide liar Dumile pun menghasilkan alter-egos lain seperti Madvillain dengan Madlib, Dangerdoom dengan Danger Mouse, dan Nehruviandoom (dengan Bishop Nehru). Karya solo Dumile pun tidak kalah monumental. Memulai karir di medio 1990an, Dumile yang pada saat itu menggunakan nickname Zev Love X membentuk KMD (Kausing Much Damage) dengan adiknya, DJ Subroc. Setelah DJ Subroc meninggal karena tertabrak, Dumile mulai manggung menggunakan stoking untuk menutupi mukanya, dan lahirlah alter ego MF DOOM. 




“ALL CAPS WHEN YOU SAY HIS NAME” 

MF DOOM mulai dikenal setelah merilis album pertamanya Operation: Doomsday (1999), sebuah album hiphop yang cukup terdepan pada masanya, dan berhasil meleburkan dengan sempurna elemen-elemen terbaik dari psychedelic rap dan jazz hop. DOOM menggunakan sampling dari film kartun Fantastic Four tahun 1967-1968 dan menggabungkannya dengan beats dan rhyming yang khas. Album ini dianggap sebagai salah satu album hiphop seminal terbaik, dengan single stand-outnya yang catchy, Doomsday, yang menggunakan sample lagu Kiss of Life milik Sade. Lalu dia merilis Take Me to Your Leader (2003) menggunakan alias King Geedorah (yang diambil dari musuh terbesar Godzilla). Disebut-sebut sebagai album hiphop terbaik oleh Pitchfork dan Stereogum, Take Me to Your Leader adalah sebuah testamen bagaimana MF DOOM berhasil merilis album yang aneh dan juga gampang diterima disaat yang sama. Coba saja putar track Fazers atau Krazy World dengan volume yang tinggi, and you’ll see what’s up. Di tahun berikutnya, DOOM merilis Mm.. Food (2004), yang diambil dari anagram nicknamenya. Dengan kover eye-catching oleh ilustrator Jason Jagel, track-track seperti Deep Fried Frenz dan One Beer (yang juga diproduseri Madlib) akan memperlihatkan begitu masterful-nya DOOM dibalik mic, dan juga range musikalitasnya yang luas. Jangan lupakan juga 2 alter-ego lainnya: Viktor Vaughn dan DOOM, dimana dia mulai memodifikasi topeng metalnya menjadi seperti topeng di film Gladiator-nya Ridley Scott. 







MC yang lahir di London ini berhasil menggabungkan persona hiphop dengan komik superhero, dimana Dumile menempatkan dirinya sebgai super-villain. Ketika semua rapper/grup hiphop ternama me-represent sesuatu, seperti Public Enemy dengan movement politiknya, atau N.W.A. dengan mentalitas anti-police brutality dan gangsta rap nya, hanya MF DOOM lah yang menggabungkan kultur komik superhero dengan boom bap rap. Dibalik topeng dan persona misteriusnya, DOOM memiliki skill tingkat tinggi. Dan dia juga membuktikan bahwa rapper legendaris bisa lahir dari balik layar, tanpa memenangkan rap battle atau manggung dengan intensitas tinggi. Karena malas perform, DOOM bahkan pernah mengirim komedian Hannibal Buress untuk perform menggunakan topengnya. Teknik rhyming dan kata-kata kompleks yang dia gunakan di lirik-liriknya tidak mudah untuk dilakukan oleh rapper lain. 496 silabel dan 283 kata dilantunkan DOOM dalam sebuah lagu tanpa effort, bahkan mengalahkan rekor Eminem dan Nas. Dumile pun tak bisa dipungkiri, adalah salah satu MC terbaik yang pernah memegang mic. Seorang legenda hiphop yang underrated dan juga ikonik di saat yang sama. Ada kabar bahwa DOOM sedang mengerjakan sebuah mini album bersama Flying Lotus sebelum dia meninggal. Sekarang kita tidak akan tahu siapa yang akan memenangkan rap battle antara MF DOOM vs Freddie Gibbs. The king is dead, long live the king.


“Bergerilya dari menjual produk mereka di parkiran depan event ComplexCon sampai menjual hoodie tour John Mayer dengan cara COD”

Online Ceramics adalah satu brand yang paling stand-out dari segi design. Terinfluence dari kultur hippies, LSD, design grafis tahun ’70an dan kecintaan mereka terhadap band Grateful Dead, lahirlah Online Ceramics, yang didirikan pada tahun  2016 oleh Alix Ross dan Elijah Funk. Produk-produk andalan mereka adalah tie-dye graphic T-shirt yang eye-catching secara visual. Brand yang berbasis di Los Angeles, California ini juga banyak menghasilkan kolaborasi sukses dengan John Mayer, seniman afrobeat Fela Kuti dan juga sering berkolaborasi dengan A24 untuk merchandise film Ari Aster seperti Hereditary dan Midsommar. Partnership tersebut berlanjut untuk mempromosikan film-film A24 lainnya seperti The VVitch dan Uncut Gems.

Alix Ross banyak mengkonsumsi LSD saat dia sekolah design di Columbus College of Art & Design dan hal itu sangat mempengaruhi design-design Online Ceramics dikemudian hari. Ketertarikan Alix Ross dan Elijah Funk terhadap kultur timur dan spiritualisme juga mempengaruhi mereka untuk membuat kaos-kaos dengan tagline yang mempromosikan gaya hidup vegetarian dan spiritualisme timur, sampai Netflix mengajak mereka untuk membuat merchandise Ram Dass (Guru spiritual kosmik) untuk dokumenternya “Becoming Nobody”.

Walaupun tidak kuat di logo, design-design Online Ceramics dapat dilihat dari ciri khas layout fullprint, epic tie-dye dan colorways mereka yang bombastis. Uniknya, website mereka sengaja dibuat jelek agar terlihat seperti website retail dari tahun ‘80an. Online Ceramics sempat viral karena team yang pada saat itu hanya dua orang saja, menjual produk mereka di parkiran depan event ComplexCon. Secara gerilya, baju-baju mereka dipajang didepan mobil mereka dan mereka men-tag lokasinya di Instagram Online Ceramics. Drop terbesar mereka, hoodie merchandise tour John Mayer dijual dengan cara COD, dimana pembeli harus meng-email mereka lalu bertemu langsung untuk membelinya. Produk mereka kini sudah  tersedia di stockist-stockist besar seperti Union LA, Dover Street Market London, dan GR8 Tokyo.  Itu adalah cerita singkat bagaimana 2 orang ini membangun brand mereka secara gerilya dan terkenal secara instan.

Sound of Metal (Dir. Darius Marder)
Seorang drummer band metal yang kehilangan pendengarannya secara gradual bisa menjadi plot yang sangat menarik dan juga unik tentunya. Sebuah film drama dengan narasi ritmis yang pas. Sound design di film ini patut diacungi jempol, dimana penonton merasakan apa yang dialami karakter utama. Akting Riz Ahmed disini seharusnya mendapat nominasi Oscar. Siapa yang menyangka Riz Ahmed akan terlihat keren memakai kaos GISM, Rudimentary Peni dan Youth of Today?
 

 
 
I’m Thinking of Ending Things (Dir. Charlie Kaufman) 
Charlie Kaufman sudah menjadi seorang icon sejak dia menulis Being John Malkovich (1999), Adaptation (2002) dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004). Sebelum film ini Kaufman juga menjadi director dan menghasilkan 2 film menarik: Synecdoche, New York (2008) dan animasi Anomalisa (2015). Walaupun tidak sempurna, I’m Thinking of Ending Things adalah apa yang akan kamu dapatkan jika melihat isi kepala Kaufman: sesuatu yang meditatif, poetic dan sedikit pretensius. This is 2020’s biggest cinematic headfuck. Try it if you still have the patience for slow-building films that moves in  a snail’s pace.
 

 
 
Alone (Dir. John Hyams)
As opossed to boring-ass pretentious arthouse-film, this one keeps you on the edge of your seat all the time. Sebuah directorial debut yang sangat menarik dari John Hyams (Anak Peter Hyams, director film sci-fi klasik Timecop dan Outland). Alone adalah sebuah thriller mengenai seorang serial killer dan mangsanya yang bermain dalam sebuah cat-n-mouse game. Film ini sangat straightforward, simpel dan efektif. Thanks for the damn good time, John Hyams.
 

 
 
Tenet (Dir. Christopher Nolan)
Walau tidak sebagus Insomnia (2002) atau Inception (2010), Tenet cukup menarik perhatian. Secara teknis dan konsep, Nolan memang tidak perlu diragukan lagi. Walaupun John David Washington (Anak Denzel Washington) bermain dengan maksimal, karakter-karakter di film ini terkesan robotik dan kaku, sehingga seorang Kenneth Branagh dan Robert  Pattinson pun terlihat seperti karakter latar saja (Lupakanlah Michael Caine disini). Alhasil, secara visual Tenet terlihat  seperti film spy ala James Bond, dan terdengar seperti seminar ilmiah yang membahas teori quantum physics. Lupakan saja beberapa loophole yang ada disini, maka kamu akan mendapat film action yang fun. Pastikan saja subtitles kamu tetap menyala…
 

 
 
#Alive (Dir. Cho Il-Hyung)
Sebuah film zombie tentunya akan terasa relevan jika ditonton disaat pandemi. Terjebaknya karakter utama di sebuah apartemen pun membuat mood film ini menjadi sangat klaustrofobik dan intens, karena diluar sana, zombie apocalypse sedang terjadi. Park Shin-Hye tidak saja hanya menjadi pemanis di film ini, melainkan menjadi badass yang mahir menggunakan kampak untuk membunuh zombie dan memiliki skill survival tinggi. Not as fun as Train to Busan, but still a great zombie flick. Lupakanlah Peninsula, #Alive adalah film zombie terbaik di tahun ini.
 

 
 
Palm Springs (Dir. Max Barbakow)
Palm Springs adalah sebuah komedi romantis time-travel ala Groundhog Day-nya Bill Murray, dimana karakter utamanya mengulang hari yang sama setiap harinya. Direksi Max Barbakow yang sangat berwarna menambah unsur fun di film ini. Chemistry yang dimiliki Andy Samberg (Alumni Brooklyn Nine-nine) dan Cristin Milioti (How I Met Your Mother) terasa sangat natural. Dan sepertinya tidak ada yang bisa menolak melihat J.K. Simmons sebagai “antagonis” psikopat di film ini.
 

 
 
On the Rocks (Dir. Sofia Copolla)
Studio A24 kembali memberikan film yang menarik. Sebuah reuni yang ditunggu-tunggu untuk Sofia Copolla dan Bill Murray sejak Lost in Translation (Lupakanlah A Very Murray’s Christmas). On the Rocks adalah sebuah drama-komedi screwball mengenai midlife crisis yang diperankan dengan chemistry yang sangat baik oleh Rashida Jones dan Bill Murray sebagai anak dan ayahnya. Yep, ini adalah “spiritual sequel” untuk Lost in Translation, minus soundtrack membius dari Kevin Shields, yang digantikan oleh Phoenix.
 

 
 
The Devil All the Time (Dir. Antonio Campos)
Sebuah gothic-noir mengenai kekejaman yang mengalir deras di beberapa generasi, The Devil All the Time adalah sebuah bleak high level filmaking. Lihatlah karakter-karakter di film ini: pasangan serial killers, pastur pedofil, seorang ayah dengan mental illness dan sheriff yang korup. Ensemble cast yang menarik dari Spiderman (Tom Holland), Winter Soldier (Sebastian Stan) sampai Batman (Robert Pattinson) ada disini. Sebuah cerita epik mengenai instant karma, tradisi kekejaman dan fanatisme kepercayaan. This is not for everyone, but bravo Antonio Campos!
 

 
 
First Cow (Dir. Kelly Reichardt)
Kelly Reichardt kembali ke teritori familiarnya dengan First  Cow, setelah sebelumnya membuat Meek’s Cutoff (2010). Kombinasi dari setting pedalaman Oregon, narasi yang simpel dan sinematografi yang minimalis adalah ciri khas Kelly Reichardt. Uniknya, western-drama ini tidak menempatkan seorang koboy jago tembak sebagai karakter utamanya, melainkan seorang chef pastry dan temannya, outlaw imigran dari Tionghoa yang diperankan dengan baik oleh Orion Lee. Oh ya, ada cameo Stephen Malkmus dari band Pavement juga di film ini.
 

 
 
The Invisible Man (Dir. Leigh. Wannell)
Setelah membuat horror cyberpunk yang fantastis dengan Upgrade (2018), Leigh Wannell kembali dengan The invisible Man. Film ini adalah sebuah horror sci-fi yang menggunakan tokoh Invisible Man, yang diambil dari karakter-karakter klasik Universal Studios (Werewolf, Dracula, Frankenstein, Merman, etc). Dikemas dengan lebih modern, Leigh Wanell berhasil mengadaptasi karakter dari novel karya H.G. Wells menjadi suatu pengalaman sinematik yang menyenangkan. Kejeniusan Leigh Wannell dalam memberi ruang-ruang kosong di setiap komposisi shotnya membuat seolah-olah karakter utama serasa diawasi dan diikuti oleh pembunuh yang tidak terlihat ini. This film really puts the FUN in Funeral.
 

 
 
Mank (Dir. David Fincher)
Coen bersaudara sudah membuat film seperti ini dengan  Barton Fink di tahun 1991 dengan pendekatan yang lebih komedi. Mank bercerita mengenai Herman J. Mankiewicz, seorang penulis skrip film alkoholik (Diperankan secara brilian oleh Gary Oldman) yang menulis skrip film Citizen Kane  (1941),  yang dianggap para penggemar film sebagai film terbaik yang pernah dibuat. Setelah nyaman di arena thriller  dan horror seperti Alien 3, Seven, Fight Club, Panic Room dan Gone Girl, kali ini David Fincher kembali ke teritori drama biopik seperti yang sudah dia lakukan dengan berhasil dengan The Social Network. Dengan skrip dari Jack Fincher (Almarhum ayah David Fincher), film ini terasa sangat well-written. Untuk departemen soundtrack Fincher kembali menunjuk duo Trent Reznor dan Atticus Ross yang kali ini membuat scoring jazz era Hollywood golden age. Dengan sinematografi hitam putih dan musik latar mono, film ini terasa seperti film yang dirilis di tahun 1940an, dimana poster Mank bisa disandingkan disebelah Casablanca.
 

 
 
Possessor (Dir. Brandon Cronenberg)
David Cronenberg adalah seorang maestro film horror (The Fly, Scanners, Crash), lebih tepatnya subgenre body-horror (Yang juga menjadi pengaruh kental di manga karya Junji Ito atau Akira-nya Katsuhiro Otomo). Kali ini, tongkat estafet maestro body-horror sepertinya layak diberikan kepada anaknya, Brandon Cronenberg. Pada tahun 2012 Brandon membuat horror sci-fi dengan Antiviral yang cukup sadis dan impresif,  dan kini dia kembali dengan sebuah film ultra-gore berjudul Possessor, yang bercerita mengenai seorang pembunuh bayaran yang bisa menguasai pikiran orang lain menggunakan implant pada otak. Visual yang tajam, scoring musik dingin dan sinematografi yang presisi mendukung atmosfir haunting dan gore yang mungkin akan membuat ngilu sebagian penoton.
The Cronenberg genes are strong in this one.
 

 


 
Honorable mentions:
Da 5 Bloods (Dir. Spike Lee) Swallow (Dir. Carlo Mirabella-Davis) Nomadland (Dir. Chloé Zhao)
The Assistant (Dir. Kitty Green)
The Trial of the Chicago 7 (Dir. Aaron Sorkin) Saint Maud (Dir. Rose Glass)
Borat Subsequent Moviefilm (Dir. Jason Woliner) His House (Dir. Remi Weekes)
Metamorphosis (Dir. Kim Hong-Sun) Minari (Dir. Lee Isaac Chung)
Blunt Razors – Early Aught
Siapa sangka Deathwish Records mempunyai rilisan slowcore seperti ini? Proyek dari Gared O’Donnell dan Neil Keener (Planes Mistaken For Stars) ini menawarkan 6 lagu slowcore di debut LP nya “Early Aught”. Untuk para penggemar Red House Painters, Codeine & Galaxie 500, cek lagu mereka “Speeding” atau favorit kami “Begging Calming.

 

 

 

 
Touché Amoré – Lament
Lament adalah album paling aksesibel dari Touché Amoré. Diproduseri Ross Robinson, tentunya Touché Amoré dapat memberi hasil yang lebih maksimal. Post-hardcore dengan piano? Kenapa tidak. Dalam lagu “A Forecast” Jeremy Bolm menunjukan sensitivitasnya dengan menyanyikan bait “I found the patience for jazz / i still love the coen brothers / i lost more family members” diiringi piano, yang hampir masuk ke teritori The National sebelum gitar dan drum masuk. Easily my favourite Touché Amoré album.

 

 

Phoebe Bridgers – Punisher
Album tersedih tahun 2020 bernuansa emo-folk / indie-rock ini memang layak mendapatkan 4 nominasi Grammy, selain produksi-nya yang matang, ada interval-interval kecil diantara lagu yang membuat flow album terasa sebagai satu kesatuan. Tidak ada satu lagu pun yang terkesan seperti filler dan dapat di-skip. Yep, “Punisher” adalah kumpulan aransmen musik cerdas yang bertemu dengan lirik fantastis.
 

 


 
Freddie Gibbs & The Alchemist – Alfredo
Sebenarnya kami lebih prefer kolaborasi Freddie Gibbs dan Madlib di Bandana, tetapi itu rilisan tahun kemarin. Kali ini The Alchemist bertindak sebagai produser dan beatmaker. Flow smooth dan sensual Freddie berhasil mengambang tanpa effort diatas beat-beat Alchemist yang menghadirkan nuansa boombap rap & soft-rock. Dalam track “Baby Shit” tampaknya Freddie ingin menonjolkan sisi ke bapak-an nya disini tanpa menghilangkan image gangsta-nya: “Rabbit potty training every morning, ho, I’m cookin’ dope and cleaning baby shit.”

 

 

Fleet Foxes – Shore
Setelah turun gunung kembali, Robin Pecknold CS menghadirkan album untuk kamu-kamu yang kangen Fleet Foxes era Helplessness Blues. Album ini terasa ringan, natural dan tanpa beban. Disini Fleet Foxes membuat lagu tanpa ekspektasi berlebih. Coba saja putar track “Maestranza” sambil berkendara dengan kecepatan rendah dan kaca mobil yang terbuka lebar…

 

 

 

 
Run The Jewels – RTJ4 
Menurut kami, ini adalah salah satu rilisan hip hop terbaik di 2020. Produksi yang epic, lirik tajam yang relevan dengan situasi politik kontemporer dan juga disertai visual packaging dan video klip yang keren. Track single “Ooh LA LA” terdengar seperti beats ’80s hip hop yang melebur dengan hip hop kontemporer: sebuah track yang bisa menyenangkan para oldschool hip hop aficionados dan juga membuat crowd teenagers di Coachella untuk berdansa. Dari opening track “Yankee and the Brave EPs 4”, “Just” dan sampai track penultimate “Pulling the Pin” album ini terdengar bombastis. Inilah anthem untuk berpesta seakan tidak ada hari esok. This album is all killer, no filler.

 

 

 

 
The Strokes – New Abnormal
This is The Strokes return to form. Album ini mengingatkan kita kenapa kita menyukai mereka pertama kali mendengar “Is This It” di tahun 2001 dan kenapa mereka bisa menjadi besar pada saat itu. Dengan kover yang menggunakan lukisan Basquiat sampai judul album yang relevan dengan situasi tahun ini, The Strokes akhirnya meninggalkan jauh-jauh referensi Guided by Voices mereka, dan kini musikalitas mereka lebih teruji dengan lagu-lagu seperti “The Adults Are Talking” dan “Selfless”. Kemampuan Julian Casablancas sebagai vokalis dan pembuat lirik handal pun terlihat di lagu penutup “Ode to the Mets”.
 

 


 

 

Waxahatchee – Saint Cloud
Katie Crutchfield meninggalkan distorsi gitar dan influence punk dari masa mudanya (yang mendominasi di album Out in the Storm), dan kembali ke roots Americana-nya di Saint Cloud. Ini bukan sebuah album country, Americana ataupun indie-rock, melainkan gabungan yang pas dari ketiga genre tersebut. Key tracks: “The Eye”, “Can’t Do Much”, “Oxbow”.

 

 

Napalm Death – Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism 
Setelah 30 tahun grinding dan beberapa-kali mengganti line-up, pionir grindcore dari Birmingham ini tidak menunjukkan tanda- tanda untuk berhenti. Sebaliknya, Barney dan kawan-kawan tetap intens dan penuh amarah seolah baru kemarin saja merilis Scum (1987). Cek track pembuka “Fuck the Factoid” atau single “A Bellyfull of Salt and Spleen”, yep, ini adalah salah satu album terbaik mereka, dibawah Scum dan Harmony Corruption (1990).

 

 

Westside Gunn – Pray for Paris
Pray for Paris adalah sebuah instant favorite, apalagi setelah kami mengetahui ada keterlibatan beatmaker handal seperti DJ Premier, The Alchemist dan DJ Muggs. Tyler the Creator dan Freddie Gibbs hadir juga menyumbangkan rhyme, dan  tentunya membuat album ini semakin berwarna. Sound vintage yang dipilih Westside Gunn di album ini memang bukan untuk semua orang, tapi menurut saya ini masih aksesibel. Beberapa lagu malah memiliki elemen jazz-hop ‘90an ala Tribe Called Quest. Dengan kover art lukisan David with the Head of Goliath yang diedit oleh Virgil Abloh, album ini sudah pasti akan mencuri perhatian.
 

 


 

Loathe – I Let it in and it Took Everything
Sebelum album ini rilis pun, band Liverpool ini sudah memiliki fanbase dan rangkaian tour yang cukup intens. Walau sound dan album ini banyak dibandingkan dengan early Deftones, Loathe tetap memiliki karakter yang kuat. Dinamika keras-ke- pelan dan riff gitar downtuned mereka sudah menjadi ciri khas. Cek saja single “Two Way Mirror” yang catchy. Menggabungkan nu-metal, shoegaze dan emo medio 2000an, album ini adalah racikan yang tepat untuk menjadikan Loathe salah satu band underground paling menarik dari Inggris saat ini.
 

 

Deftones – Ohms
Tidak mungkin memasukan Loathe tanpa memasukkan album ke-9 Deftones di list ini. Setelah menambah senar gitarnya menjadi 9 senar, Stephen Carpenter kembali dengan riff-riff yang akan membuatmu ingin berhenti main gitar. Mungkin banyak yang tidak setuju dengan pernyataan ini, tapi menurut saya “Ohms” lebih bagus dari “White Pony”. Oh ya, album ini juga menandakan reuni mereka dengan produser Terry Date (Adrenaline, Around the Fur, White Pony). Cek saja track-track berikut: “Ohms”, “This Link is Dead”, “Pompeji” dan “The Spell of Mathematics”

 

 

Hum – Inlet
Salah satu pionir space-rock dengan “You’d Prefer an Astronaut” (1995) dan “Downward is Heavenward” (1998), Banyak band terinfluence oleh Hum, dari Cave-in, Deftones (yang pada saat itu sedang membuat White Pony), sampai Deafheaven. Setelah hiatus selama 22 tahun, mereka kembali dengan Inlet. Groove melodius yang dibalut dengan sound heavy dan tekstur yang mengawang sudah menjadi standar Hum di setiap rilisannya. Indahnya lagu “Cloud City” seperti mengambil elemen-elemen terbaik dari Helmet dan Ride. Album ini adalah salah satu hal terbaik di 2020 bagi kami.
 

 

Setelah viral tahun ini karena mengkover “Iris” Goo Goo Dolls jika Trump kalah (dulu viral karena beberapa kali dipuji John Mayer di Twitter untuk album pertamanya, Stranger in the Alps), Phoebe masih merayakan dan mempromosikan album terbarunya “Punisher”, yang juga mendapat 4 nominasi di 63rd Annual Grammy Awards untuk Best New Artist, Best Rock Performance, Best Rock Song, dan Best Alternative Music Album. Setelah sebelumnya membuat band bersama Conor Oberst (Better Oblivion Community Center) dan Julien Baker + Lucy Dacus di boygenius, Phoebe kembali berkolaborasi bersama mereka lagi untuk menggarap album sophomore ini.



Phoebe yang selalu tampil ikonik menggunakan kostum tengkoraknya ala Donnie Darko, menulis dan merekam album ini dari 2018 sampai 2019 di studio Sound City yang  legendaris. Mantan kekasih Ryan Adams ini dibantu drummer Marshall Vore, gitaris Tony Berg dan multi-instrumentalis Ethan Gruska, dalam menulis dan mem-produce album ini. Walau tidak ada kehadiran Mark Kozelek (kolaborator di album Stranger in the Alps) dari Red House Painters lagi di album ini, musisi tamu di album ini sudah terwakili oleh beberapa indie- rockers dan singer/songwriter yang terlibat disini: Julien Baker, Lucy Dacus, Christian Lee Hutson, Jim Keltner, Blake Mills, Jenny Lee Lindberg, Nick Zinner dan Conor Oberst.



Track pembuka “DVD Menu” adalah instrumetal yang menjadi jembatan ke single pertama “The Garden”, sebuah track emo- folk dengan backvokal yang lebih berat dari Matt Berninger-nya The National. Lagu ketiga, “Kyoto”, adalah sebuah track indie- rock yang upbeat dan catchy, tidak seperti lagu-lagu lain di album ini. Baru saja track ke 4, album ini sudah merusak mood kamu pada title track “Punisher”. Sepertinya lagu ini adalah jawaban Conor Oberst dan Phoebe untuk Transatlanticism-nya Death Cab For Cutie, lengkap dengan lirik mengenai kekaguman Phoebe terhadap Elliott Smith (singer/songwriter yang bunuh diri pada tahun 2003). Lirik di track “Halloween” bercertia mengenai serial killer, dipadu dengan musik slow- ballad bernuansa Americana. “ICU” adalah track favorit saya, sebuah pop-ballad ala Arcade Fire-ish yang dibalut distorsi  gitar manis di background dan ditulis sebelum album Stranger in the Alps rilis. Pada track penutup “I Know The End”, Phoebe seperti dirasuki oleh Sufjan Stevens saat horn sections mulai bermain dan cresendo memuncak di akhir lagu dengan sebuah chorus teriakan para vokalis tamu. Album ini memang layak mendapatkan 4 nominasi Grammy, karena tidak ada satu lagu pun yang terkesan seperti filler dan dapat di-skip. Yep, Phoebe Bridgers is just that good and talented.

For fans of: Bright Eyes, Elliott Smith, Red House Painters, Arcade Fire dan Sufjan Stevens