Setelah merilis secara eksklusif di Storefront.com, Lips!! meluncurkan single yang berjudul “Akhir si Jahanam” di semua platform musik streaming pada Jumat (24/03) lalu. Lagu ini adalah sekuel dari lagu Hajar Jahanam, berkisah tentang para bajingan yang memegang kendali lalu berakhir secara tragis sebelum memperbaiki apa telah mereka mulai. Mimpi dan citra yang dirakit sedemikian rupa, seketika musnah dan tertunduk di hadapan takdir. Kota memang tidak aman bagi kalian (jahanam). penuh godaan, tempat dimana mimpi dirakit, pun tempat kalian ditikam oleh realita.

Secara musik, bila dibandingkan dengan Kiss and Die (2018) dan Thirsty (2019) akan terdengar ramuan berbeda yang dilakukan oleh kuartet punk rock asal Jakarta ini di single “Akhir si Jahanam”. Hal inilah yang akan menjadi kejutan besar di peluncuran EP Lips!! di bulan Mei nanti. Namun, tetap mempertahankan benang merah mereka sebagai band punk/rock yang digawangi oleh Dila (Vokal), Hari (Gitar), Isan (Drum) dan Dafi (Bass) ini. Akhir si Jahanam dan materi EP lainnya di rekam di Plug Studio, Cibubur. Untuk mixing mastering sendiri dilakukan di The Pandora Labs, Bandung.

Bleach adalah salah satu band hardcore yang selalu menjadi sorotan akhir-akhir ini, bahkan dari awal mereka menelurkan EP self titled mereka pada tahun 2020 Bleach already started making waves. Fast forward ke tahun 2023, dengan formasi yang semakin solid, Bleach merilis EP Chrome yang merupakan aktivasi “pemanasan” sebelum debut album mereka rilis. Mari berbincang dengan mereka mengenai proses rekaman dan rencana epik mereka membuat 10 video klip untuk debut albumnya

Masing-masing bisa ceritakan sedikit tentang EP Chrome yang baru dirilis dan upcoming album si Bleach?
Mike: Project album ini buat saya itu adalah satu cara kami mengekspresikan musik hardcore dengan cara kami sendiri. EP Chrome merupakan sedikit bentuk dari eksplorasi musik yang kita lakukan.

Kevin: Sebenarnya full album tuh bakal rilis Februari, tapi karena Maret dan April bulan puasa, jadi biar gak kepotong puasa dan materi tetap “hangat” kita rilis EP dulu. Yang ada di EP ini juga nanti masuk semua ke album. Dari segi materi sebenarnya ini semua sudah dibikin dari tahun 2020. Pertama kita bikin EP self-titled, lalu ktia bikin EP bareng Couch CLub dan single “Treat The Disease”. Dan setelah itu recording materi album ini udah beres, tinggal take vokal aja. Drum di Funhouse sama Pak Yoni Gayot. Untuk gitar, bass, mastering dan vokal di Homestrack, operator nya si Faris. Secara kreatif ya color musiknya ya musik-musik tahun segitu, seperti Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice masih.


Proses ngerjain materi lagu di Bleach biasanya seperti apa?
Kevin: Biasanya demo awal dari gue, dulu tuh gue dan Krisna belum married jadi sore-sore suka ngerjain materi dirumah Krisna. Proses ngerjain materi album ini cuma sekitar 3 bulan. Sehari bisa beres 1 lagu. Kaya yang collab sama Dika juga cuma sehari, lirik dari dia. Sebenernya ada 3 collab di album ini tuh, sama Austino (vokalis Prime, bassist Lost Sight), lagu terakhir ada yang sama Jamrud. Balik lagi ke proses penggarapan materi biasanya gue kerumah Krisna, ga bawa lagu, tapi bikin riff mendadak disitu, ngalir aja. Jadi pas masuk studio anak-anak ngasih input dan aransmen, poles-poles. Kalau departemen lirik gue percayain sama Mike semua. Awal-awal lagam vokal gue ga ngelepas si Mike, tapi untuk album Mike sudah datang ke studio dan explore sendiri. Sampai vokal-vokal clean si Mike yang nyari nada nya sekarang.

Bleach sudah eksplor genre-genre musik diluar hardcore itu sendiri dari kolaborasi sama Couch Club di Intermezzo, cover “Coklat” PS yang sedikit berbau grunge sampai single “Scales” yang jazzy. Bahkan katanya ada pengaruh dari King Krule. Apa yang ngebuat lo semua eksplor genre-genre yang tidak umum di hardcore tersebut?
Mike: Simple aja, karena saya sendiri suka dengerin berbagai macam genre. banyak aspek-aspek keren dari genre-genre tersebut yang bisa dicampurkan dengan musik hardcore yang kami mainkan.

Kevin: Kaya lagu “Overcast” aja ada elemen perkusi yang di highlight. Dan karena basic nya kita juga suka genre-genre musik lain diluar hardcore itu sendiri, jadi kenapa tidak dimasukkan aja elemen-elemen nya. Dan gue juga ga mikir sejauh apakah kita akan mengalienasi penggemar Bleach dengan eksplorasinya, ya kita bikin aja dulu dan semoga semua menerima.

Kenapa memilih di co-release oleh Oblivion dan Disaster Records? Bagaimana awal prosesnya?
Kevin: Sebenarnya udah ngincer mereka dari lama. Dari pas rilis videoklip pertama udah ngebahas sama anak-anak pengen dirilis sama Disaster dan Oblivion. Nah pas Oblivion ngeborong merch kita, kita sekalian pitching soal album, gow katanya. Terus nanya ke Ody Disaster juga mereka kasih lampu hijau. Gatau kenapa lama ya, mungkin gara-gara kita nya gak ngerjain aja, gara-gara tour dan manggung jadi sedikit terhambat. Yang “Scales” itu kan alternatif, terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Cool”.

Mike: Buat Oblivion dan Disaster sendiri sebenarnya ruang lingkupnya masih dalam circle pertemanan Bleach. kami pun sangat menilai tinggi apresiasi mereka di dalam musik. Jadi untuk proses rekaman EP dan Album ini bisa dibilang sangat smooth karena mereka juga bisa keep pace dengan bleach.

Apa yang kalian kejar dari sound dan aransmen Bleach untuk EP dan album?
Upy: Drumming di album Bleach tuh banyak pake beat-beat heavy metal 90an..

Mike: untuk vokal sih di album ini saya ingin mencoba di beberapa bagian diisi dengan tune vokal ala-ala Chino Moreno dari Deftones.

Kevin: Gue terinspirasi gitar-gitarnya si Culture Abuse, asik flanger-flanger basah yang cepat. Leeway juga gue dengerin yang album “Born to Expire”. Kalau gue sih ingin gitar nya dapet sound si Mizery, tight nya masih ada tapi terdengar sedikit vintage. Chorus nya asik juga. Kalau TItle Fight dia banyak main open chords chorusnya. Warzone yang album Warzone juga gak kaya Warzone, enak banget gitarnya.

Denger-denger semua lagu di album kalian mau dijadiin video klip ya? Bisa ceritakan sedikit dari sudut pandang masing-masing?
Kevin: Iya nih 10 track mau dibikin music videonya. Mulai shooting tanggal 12 sampai 27 Februari ini kita kerjain. Sebenarnya pengen bikin film. Rangkaian dan aktivasi nya tuh banyak sebenarnya, tapi nanti details nya off the record aja hehehe. Durasi full album cuma 21 menit, harusnya masih make sense untuk dibikin film pendek. Gue ketemu sama directornya, Putt April. Dia tuh biasa ngerjain anak-anak hiphop kaya Cito Gakso, Belva. Dia juga pengen bikin short film juga dan selalu cari modal. Alhamdulillah akhirnya kita dapat dananya dari label untuk merealisasikan short film ini. Rilisnya Juni kalau ga ada halangan.

Mike: Iya bener, sebenarnya pembuatan semua lagu dijadikan video klip ini biar orang-orang yang mendengar lagu-lagu di album ini bisa merasakan experience lain salah satunya dengan memvisualkan semua lagu di album ini.

Mike, gimana proses kreatif lo untuk mengisi departemen lirik dan lagam vokal pada saat penulisan lagu? Ceritain juga transisi lo dari bassist jadi vokalis..
Mike: Untuk lirik di album ini sendiri sih sebenarnya tidak jauh-jauh dari hal-hal yang sedang relate di hidup saya setahun belakangan ini. Hal-hal ini saya coba kumpulkan dan jadiin dalam beberapa lagu yang dipakai di album ini. Untuk transisi dari bass ke vokal tuh lumayan challenge sih di awalnya. Karena vokal sendiri merupakan hal yang baru bagi saya selama ngeband dan saya sendiri ngerasain perkembangan saya dari awal saya pegang vokal di Bleach sampai sekarang.

Upy, selain di Bleach, lo juga bermain di beberapa band yang berbeda genre seperti Lowlines, sempat ngedrum di Couch Club dan Eazz. Apa lo juga mencoba memasukan referensi dari berbagai genre tersebut ke style drumming lo di Bleach? Oh ya kabarnya lo juga mau bikin buku not balok album Bleach ya?
Upy: Kalo untuk mencoba memasukan dari genre genre di atas itu nggak sih, style drumming di Bleach tuh banyak pake beat beat heavy metal 90s. Di sini juga gw mempertahankan dengan single pedal ditambah touch yang dibuat full power.
Untuk project buku not drum itu sebetul nya goals gw adalah pengen orang bisa baca not dan mengenal basic drumming di music hardcore. Ini versi gw, jadi nanti isi nya tuh basic-basic beat hardcore versi gw sama ada beberapa teknik dasar aja itu sih.

Krisna dan Axel, kenapa memilih instrumen gitar dan bass dan ga mengikuti ayah kalian (Om Krisyanto dan Om Azis MS) yang sudah ikonik sebagai vokalis & gitaris Jamrud?
Krisna: Awal nya saya ingin jadi arsitek, cuma ga kesampean. Dari kecil emang udah hobi gambar gunung dan sawah. Kenapa pilih instrumen gitar, dulu SD kelas 6 pertama kali denger lagu nya A7X “Unholy”. Terus di sekolah ada yang bisa mainin lagu itu, kesan pertama wow “keren” sampe pada akhir nya ngulik. Pertama tertarik dengan gitar SD kelas 4 lihat film dokumenter nya Slipknot lihat Jim Root, walaupun awalnya sempat ketakutan nonton-nya, kaya sekte setan kegelapness…

Axel: Dari kecil sebenarnya tertarik ke drum sampe ikut-ikut perlombaan tapi waktu pandemic mulai ga ada kegiatan apa-apa akhirnya nyobain ngulik bass ternyata suka banget dan mulai mendalami lebih jauh…

Kevin: Si Axel baru maen bass 6 bulan pas gabung Bleach, dan langsung diajak tour hahaha.. Padahal DJ dia aslinya..

 

Words & Interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Bleach archives

Album Rimpang hadir di tahun 2023, tepatnya 8 tahun setelah ERK merilis “Sinestisia”, album ketiga mereka yang cukup epik. Dari awal album ini dibuka, kesan “mewah” sudah tersirat dari aransmen dan sound di lagu pertama. Dibuka dengan “Fun Kaya Fun” yang synthesizernya mengingatkan saya pada Beach House, rupanya eksperimentasi yang dilakukan di album ini akan membuahkan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar. Poppie memainkan bass lines nya dengan groovy, dan gitaris baru Reza diberikan ruang untuk bereksplorasi dengan gitarnya. Dengarkan keindahan e-bow Reza yang juga menyelimuti track ini. Peran vokalis latar Suraa (Cempaka Suarakusumah) Track pertama ini pun sudah menjauhkan ERK dari kesan trio minimalis yang kerap menempel sejak debut album Efek Rumah Kaca (2007) dan album kedua mereka Kamar Gelap 2008. Dengan hadirnya 2 personil (Poppie dan Reza), tentunya penulisan lagu di album ini tidak lagi didominasi oleh duo Akbar dan Cholil, melainkan sebuah proses kreatif sebuah band yang beranggotakan 4 orang.

Track ke-2 “Bergeming” seolah membawa kita ke ERK era album 1 & 2. Dimulai dari drumming Akbar yang sedikit mengingatkan saya pada Jason McGerr dari Death Cab For Cutie. Begitu mantapnya bridge di menit ke 2:18. Lalu dari situ lagu pun semakin penuh bagaikan crescendo orkestra yang indah. Track ketiga “Heroik” adalah lagu paling aksesibel di album ini. Sebuah lagu “pop” dengan lirik “Merasa heroik / Memekik-mekik / Orang-orang bergidik / Peran yang kau pikul / Pamrihnya menyembul”, sudah pasti Cholil membicarakan figur-figur yang ber akrobat agar terlihat bak pahlawan didepan media massa, entah dibelakang semua topeng itu apa peran mereka. “Tetaplah Terlelap” seolah merayakan kesedihan dan melankolia menjadi suatu harapan. Sebuah lagu pop dengan semangat akar rumput. Tentunya salah satu track favorit saya disini adalah “Bersemi Sekebun”, dimana Cholil dan cohorts nya menggaet kolaborator Morgue Vanguard (Herry Sutresna), bukan untuk part rapping melainkan spoken words. Tentunya penggalan lirik ini akan menjadi favorit banyak orang: “Ada sejenis api dari kemustahilan / Sejenis harapan yang datang dari pelan nyala sekam / Sejenis badai lahir dari rajutan bukan kepalan / Tak semua seruan harus dilantangkan”. Lagu ini mungkin adalah sebuah ode untuk “perang-perang yang tak akan dimenangkan”, sebuah homage untuk kisah-kisah perjuangan baru yang lahir dari kolektif-kolektif kecil, dan tentunya ini adalah pesan untuk “bertahan sedikit lebih lama” karena hari yang baik akan datang. Album Rimpang ini memang bercerita mengenai harapan-harapan yang baru lahir secara garis besarnya (Google: Definis Rimpang).

Kekuatan Rimpang sudah tentu dari aransemen, kekuatan lirik Cholil, dan songwriting style mereka yang sudah mencapai level selanjutnya (bahkan menurut saya lebih bagus dari Sinestesia). Tetapi bukan hanya lagu-lagunya nya saja yang patut mendapatkan apresiasi, melainkan konsep keseluruhan album ini sebagai suatu entitas yang harus dinikmati secara keseluruhan dari track 1 sampai track 10. Dan lagu penutup “Manifesto” pun adalah sebuah closure yang indah. Poin plus: saya selalu suka album berisi 10 lagu, tidak terlalu banyak, dan tidak kurang juga, pas. Who doesn’t love a great album with 10 great songs? Now i’m officially a big fan of Efek Rumah Kaca.

Key tracks: Fun Kaya Fun, Manifesto, Bersemi Sekebun, Tetaplah Terlelap, Heroik

 

Words by Aldy Kusumah

Street Rookie mengeluarkan seri terbarunya “MK-02” yang fokus pada kenyamanan dan ketahanan untuk dipakai daily. Didesign dengan memaksimalkan lost material dipabrik membuat sepatu ini unik dan terbatas. Dengan siluet yang baru membuat tipe kaki lebar, lebih leluasa dalam memakainya.

Ditujukan untuk para daily warrior sepatu vulcanize ini dibalut premium suede, collar mesh lining, rubber toe cap dan super comfy & durable latex cup insole. Tersedia dengan 3 warna dengan low dan mid cut membuat pilihan style #rookies menjadi lebih variatif Explore and Perform with Street Rookie.

 

Setelah melepas debut album bertajuk Negative Thoughts pada 2021 silam, Maio merilis debut albumnya tersebut kedalam format digital. Sebuah manifesto hardcore punk dengan balutan rock n roll slengean. versi digital ini merupakan extended version, perbedaan dari versi sebelumnya ada di dalam tracklist yang terdiri dari tujuh track, satu cover version, dan lima track tambahan versi live.

Sebelumnya unit hc/punk yang digawangi oleh Aziz (vokal), Martin (gitar), Abuy (gitar), Kikim (bass), dan Wisong (drum) merilis album ini via HSTD Records dalam format kaset pita dengan dua versi, bundle pack dan regular. Yang membedakan dengan format fisik, Momen ini pun menjadi sebuah tonggak sebagai pembukaan menuju album Maio selanjutnya yang sedang digarap.

Album Negative Thoughts sudah bisa didengarkan di berbagai digital streaming platform Versi rilisan fisik masih bisa didapatkan via HSTD Records jika persediaan masih ada

Brand asal Bandung, Bodypack, balik lagi dengan video yang berfokus pada tema “Balanced Life” setelah belakangan ini tampil dengan penyegaran konten dan produk-produknya. Campaign ini jadi salah satu statement keseriusan Bodypack buat terus dukung kegiatan warga urban dan ningkatin kesadaran terhadap kesehatan mental.

Kabarnya, campaign ini juga jadi teaser kalo Bodypack akan segera rebranding. Adapun judul Urbanventure sendiri didefinisikan sebagai “the exploration of progressive urban people”, yaitu mindset dan lifestyle warga perkotaan yang terus berambisi membuat perbedaan dalam hidup. Creative Director Bodypack, Febby Rusdiansyah, mengungkapkan bahwa kehidupan pasca pandemi dan tuntutan hidup yang kian kompetitif membuat masyarakat perkotaan semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. “Ambisi untuk terus ber-progress inilah yang sekarang dibarengi
dengan hobi dan kegiatan lainnya di luar rutinitas untuk bisa mencapai life balance,” begitu ungkapnya.

Dalam videonya, label tas dan apparel yang didirikan sejak 1996 ini menampilkan karakter yang mewakili persona Bodypack berada di beberapa lokasi kegiatan. Ia digambarkan sebagai seseorang yang punya banyak aktivitas dan hobi. Seiring waktu yang cepat berlalu, ia terlihat hilang arah dan kendali atas dirinya sendiri. Pada akhirnya ia diberi saran untuk berhenti sejenak sebelum kembali mengejar ambisi.

Product Marketing Manager Bodypack, Ardhiansyah “Kopral” Putra, mengungkapkan bahwa meski dunia ini penuh dengan kesibukan manusia selalu punya ruang untuk ketenangan. Campaign ini juga mengajak audiens untuk berfokus mengembalikan jati diri masing-masing individu.

Setelah merilis album perdana mereka di tahun 2020 yang bertajuk “Burning Lust”, Loutspell, kini merilis single terbaru mereka yang berjudul “Pissed Off”, yang menjadi salah satu Single pembuka dari album kedua mereka yang akan dirilis tahun 2023 ini.

Unit hardcore punk asal Bandung yang beranggotakan Keniro (Vocal), Jurais (Guitar), Willy (Bass), Aggi (Drum) ini berhasil meracik musik yang lebih agresif daripada album sebelumnya, penemuan apik dari Loutspell dengan musik yang terdengar lebih gelap namun spirit dari hardcore punk tetap melekat di setiap riffs-nya.

Dengan lirik yang terasa lebih depresi, mampu meluapkan amarah dan rasa muak terhadap situasi yang sering melanda pikiran, semua tertulis disetiap bait.

 

Setelah 10 tahun menetap di Jl. Kartini, Grimloc pindah lokasi dari Jl. Kartini ke daerah Buahbatu, tepatnya di Jl. Suryalaya. Grimloc kini sepertinya sudah menemukan lokasi yang cukup strategis untuk menetap. Sejak awal pandemi tahun 2020 Grimloc sudah memindahkan seluruh operasinya ke Jl. Suryalaya XII No. 2A Bandung. Sudah tentu kalian akan bisa mendapatkan semua rilisan Grimloc Records dengan mudah dari sini dari CD Jeruji, Vinyl Koil, T-Shirt Krowbar sampai Kaset Homicide. Selain cukup prolifik merilis rilisan fisik, departemen merchandise mereka juga kerap merilis kaos-kaos untuk roster artisnya, belum lagi merchandise official Grimloc yang selalu disajikan dengan desain grafis yang khas.

Selain menjual produk-produk mereka sendiri, toko ini juga kadang mendistribusikan buku-buku dan zine yang dirilis oleh publisher-publisher independen. Rilisan-rilisan Co-release mereka dengan Disaster Records atau Oblivion Records pun tersedia di toko ini. Dengan penataan display yang menarik, kalian bisa dengan nyaman digging records, memilih T-shirt sampai hangout disini, tentunya dengan background music pilihan Grimloc yang sudah terkurasi dan berkarakter. Untuk para music aficionados wargi Bandung maupun dari luar kota, sepertinya sudah menjadi salah satu destinasi wajib untuk mendatangi Grimloc Store dengan masifnya rilisan dan varian produk yang mereka hadirkan disini. We promise you, you won’t go empty handed.

Photos by Grimloc

Membawakan materi atau lagu milik orang lain adalah sebuah tantangan sekaligus untuk seorang musisi yang membutuhkan strategi yang matang dan proses perizinan yang panjang. Hal inilah yang diambil oleh Anda Perdana dalam album barunya yang berjudul Imitasi.

Imitasi adalah sebuah album tribute untuk para musisi yang merupakan teman dan idola Anda Perdana. Dalam album ini, Anda Perdana mengaransemen ulang 16 lagu dari berbagai genre dan lintas generasi, hanya dengan satu instrumen musik. Proyek album ini diinisiasi oleh founder Berita Angkasa, Rizma Arizky. “Kualitas vokal Anda Perdana yang terasa semakin matang seiring dengan pertambahan usianya, makanya gue minta dia bawain album ini dengan 1 instrumen aja,” cerita Rizma tentang konsep 1 instrumen pada album Imitasi agar pendengar lebih fokus menikmati vokal dari Anda Perdana.

Proses mixing dikerjakan oleh I Gusti Vikranta (Drummer Kelompok Penerbang Roket) di Djeroek Poeroet Studio, dan proses mastering dikerjakan oleh Rhesa Aditya (Bassist Endah & Rhesa) di EARSPACE.

Materi album Imitasi akan dirilis setiap dua pekan, terhitung mulai tanggal 10 Maret hingga 6 Oktober 2023. Seluruh materi di album Imitasi, tidak akan dibawakan secara live hingga materi terakhir dirilis. Album Imitasi akan disusul oleh konser tunggal Anda Perdana setelah rilisnya materi terakhir.

Kamu dapat mengetahui banyak hal tentang seseorang dari film favoritnya, dan ini dapat diaplikasikan di dalam dunia sinematik Sofia Coppola. Lost in Translation adalah untuk mereka yang mengalami krisis paruh baya. Bling Ring adalah untuk mereka yang mendambakan pesta pora dan drama, sedangkan Marie Antoinette adalah untuk para penggemar fashion (dan The Strokes). Daftarnya terus berlanjut. Sekarang, penggemar dan diehard fans Sofia Coppola dapat menunjukkan kekaguman mereka terhadap sutradara pemenang Academy Award ini dengan koleksi T-Shirt grafis baru dari Uniqlo. Kolaborasi ini menampilkan dua pakaian basic yang timeless — Kaos putih polos dan totebag kanvas — dihiasi dengan kutipan dan scene yang berkesan dari beberapa film sutradara ini seperti: The Virgin Suicides (1999), Lost in Translation (2003), Marie Antoinette (2006), Somewhere (2010) dan The Bling Ring (2013).

Sofia Coppola, dikenal karena estetika pribadinya yang cerdas selain katalog filmnya yang penuh dengan cult classics. Kadang film-filmnya menggambarkan rasa sepi, tema-tema feminisme, dan seringkali keduanya secara bersamaan. Coppola juga tidak takut untuk menampilkan capsule collection ini dengan caranya sendiri. Grafis-grafis di koleksi ini di design oleh Peter Miles, orang yang bertanggung jawab atas opening titles dan poster-poster film Sofia Coppola. Koleksi ‘Celebrating Sofia Coppola UT’ tersedia sekarang di situs web Uniqlo. Segera amankan merchandise dari film-film favoritmu sekarang juga!