Warkop NYC kembali menghadirkan sebuah kolaborasi dan kali ini mereka menggandeng salah satu restoran nusantara asal Bandung, Merindu Canteen. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk mengobati rasa rindu warga Indonesia yang tinggal di New York City, serta memperkenalkan cita rasa nusantara kepada warga lokal. Seirama dengan tujuan kolaborasi, rupanya tujuan tersebut juga bertepatan dengan momentum bulan Ramadan yang identik dengan momen kebersamaan di kampung halaman yang bisa terobati melalui santapan khas nusantara. Kolaborasi ini akan berlangsung selama satu bulan mulai dari 31 Maret hingga 30 April 2023.

Uniknya, disamping image warung kopi (warkop) yang hanya menjual makanan seperti minuman dan mie instan, Warkop NYC justru kerap kali berkolaborasi dengan restoran di Indonesia untuk membawa cita rasa khas nusantara ke tanah Amerika Serikat tersebut. Nggak hanya itu, pada kolaborasi dengan Merindu Canteen kali ini, pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbagai makanan dan minuman seperti Nasi Goreng Nugget, Nasi Ayam Kuning, Pisang Goreng, Mendoan, serta Es Cincau.

Menu-menu ini bisa dinikmati di Warkop NYC, yang berlokasi di 366 West 52nd Street, New York.

Setelah merilis video klip Lemon, Skandal kembali dengan merilis single terbaru berjudul Terbang. Single yang menjadi lagu terpanjang dari unit pop alternatif asal Yogyakarta ini dirilis oleh label rekaman independen asal Jakarta, LaMunai Records. Lagu Terbang merupakan pengantar pertama untuk album debut dari kuartet ini yang rencananya akan rilis pada tahun ini. Secara musik, Sidha dkk mencoba untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan pengaruh dari musik-musik alternatif dan pop rock Indonesia akhir 90an hingga awal 2000an dengan sentuhan Skandal.

Dalam lagu yang diciptakan oleh Robert dan Hasbi Pradikta, pemain bass additional dan backing vocalist dari Skandal, dan liriknya ditulis oleh Siddha ini, Skandal juga memasukkan tambahan brass instruments berupa terompet dan trombone; hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Proses rekaman single ini sendiri dilakukan di Yogyakarta, di Satrio Piningit Studio untuk drum dan sisanya di Niskala Records, dibantu oleh Damar Puspito (Niskala) sebagai engineer. Urusan mixing dan mastering kemudian dilakukan Pandu Fuzztoni (Morfem, The Adams).

Single Terbang oleh Skandal sudah dirilis dan bisa didengar sekarang via LaMunai Records dan di berbagai platform streaming musik.

Oxford Society merilis koleksi terbaru bertajuk Everblooming. Koleksi semi kasual ini menampilkan pakaian yang simple dan nyaman untuk digunakan sehari-hari. Antara lain seperti headgear, tops, bottoms, totebag, and outer yang dapat melengkapi kebutuhan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk memberikan kenyaman dalam memakai produknya, Oxford Society membuat desainnya minimalis dan juga pilihan warna soft yang membuat keseluruhan terlihat bersih dan sederhana.

Koleksi Everblooming dari Oxford Society sudah bisa dibeli melalui situs resmi oxfordsociety.co.

Setelah beberapa waktu lalu sempat membahas kompilasi Brain Beverages yang dirilis oleh Harder Records dan 40.124 Records, kali ini kenapa tidak kita bahas juga kompilasi yang pada masanya sangat dicari kasetnya, dan tentunya menjadi bagian sejarah favorit sebagian orang. Sudah tentu judul kompilasi ini diambil dari judul lagu ‘Ticket to Ride’-nya The Beatles. Ini adalah upaya para skateboarder Bandung di era 90-an yang memutar otak demi memiliki skatepark yang layak dan sustainable. Para penggiat etos DIY inipun mengumpulkan dan mengkurasi 18 band indie Bandung dengan musik yang bervariasi, dari hardcore, industrial, metal sampai elektronica. Kompilasi inipun diberi nama Ticket To Ride: A Benefit For Your Local Skate Park. Semua ini dilakukan demi half pipe, ramps, lump dan tempat hangout yang keren dan layak.

Pada waktu itu, skate park di Bandung bisa dihitung oleh jari. Kalau tidak salah mungkin pada saat itu hanya ada Taman Lalu-lintas dan Hobbies Jl. Tera. Kompilasi berbasis benefit ini pun disambut baik oleh brand 347 (Sekarang Unkl347), Spils Records (divisi label rekaman 347) dan band-band yang menyumbangkan lagu di dalamnya. Band yang berpartisipasi di dalamnya pun tidak tanggung-tanggung: Puppen, Burgerkill, Koil, Full of Hate, Stepforward, The Jonis, Injected, Blind to See, Rosemary, Sieve, Jeruji, Authority, dan masih banyak lagi.

Ticket to Ride di-launching pada 27 Agustus 2000, di GOR Saparua, Bandung. Dengan support penuh dari 347 Boardrider Co, Trolley Magazine, Ripple Magazine, Indicator Shoes, dan tentunya Spills Records. Kompilasi ini bisa dibilang sukses dan viral pada masa nya, dengan live show nya sangat ikonik karena berlokasi di Saparua yang legendaris. Siapa yang bisa melupakan penampilan ikonik The Jonis saat tampil dengan membawa cheerleader? Anyway, kompilasi ini sangat keren dan kami sangat merekomendasikan kalian untuk segera hunting kaset ini. Mungkin beberapa records store di kota kalian masih menyimpan beberapa NOS nya, dan selalu ada Tokopedia juga jika ingin lebih praktis jika kalian siap merogoh Rp. 150,000 untuk sebuah kaset.

 

Words by Aldy Kusumah

Hijack Sandals telah membuka toko pertamanya di Jepang pada tanggal 25 Maret 2023 lalu. Toko yang terletak di Shibuya PARCO ini sekaligus menjadikan brand footwear asal Bandung ini menjadi brand Indonesia pertama yang hadir di Shibuya PARCO yang menjadi kawasan pertokoan yang ikonic di dunia fashion terletak di jantung kota Tokyo.

Di toko barunya ini, Hijack Sandals memamerkan koleksi produk Hijack selama bertahun-tahun, mulai dari sepatu/sandal two-straps yang paling laris hingga Vibram-soled slides yang dipilih agar sesuai dengan cuaca musim semi dan musim panas di Jepang. Beberapa rilisan eksklusif Jepang pun akan segera mengisi jajaran produk yang ditampilkan oleh Hijack Sandals di tokonya tersebut.

Toko ini terletak di lantai tiga Shibuya PARCO disamping tenantnya visvim dan Vivienne Westwood bersama dengan merek-merek terkenal lainnya seperti UNDERCOVER, TOGA, dan COMME des GARÇONS di lantai bawah.

Setelah merilis 12th House Rock pada tahun 2020 lalu, band alternative rock asal Dallas, Texas ini kembali dengan Moments of Clarity, jauh lebih baik dari predesesornya. Kembali dirilis oleh label Run For Cover, di album ini Narrow Head kembali meracik sebuah ramuan yang terdiri dari elemen-elemen terbaik grunge, shoegaze maupun American indie rock. Dibuka dengan “The Real”, sebuah track pembuka yang cukup bombasti. Riff grunge yang tenggelam oleh efek fuzz di intro cukup mengundang kepala untuk sedikit mengangguk pelan. Tack kedua “Moments of Clarity” adalah single utama album ini. Sama seperti track sebelumnya yang grungy, lagu ini juga memiliki chorus yang sangat enak, dan tentunya Pumpkins heavy secara aransmen dan referensi. Tidak aneh bila mereka dijuluki dream grunge (dream pop + grunge) secara genre.

Sampai di track ke-3 bertitel “Sunday”, semakin yakin kalau band ini sudah nyaman bermain dengan tempo middle, tidak terlalu cepat, tetapi tidak pelan juga. Sangat menyukai petikan lead guitar di menit 2:58 yang chorus tetapi tetap menembus mix. Jika album sebelumnya lebih berfokus kepada lirik-lirik depresif mengenai substansi dan aransmen yang “introvert”, di album ketiga ini Narrow Head terasa lebih anthemic dan eksplosif secara aransmen maupun sound. Lihat saja sound gitar yang lebih punchy di album ini. Krisis mental yang dialami Jacob Duarte di album 12th House Rock diganti oleh lirik-lirik yang sedikit lebih positif disini, seolah Jacob menemukan sisi spiritualnya pada lirik “How good does it feel / To be you, to be real?”. Lirik di lagu “The Comedown” seolah menawarkan konklusi kepada para pendengar yang sedang mengalami krisis identitas “You should know I’m getting older / I lost myself and it feels so good.”.

Bagi para penyuka musik ‘90an, album ini terasa nostalgic dan sekaligus memberi angin segar juga di stagnan nya sound-sound band kekinian. Kalian akan menemukan riff-riff ala Smashing Pumpkins atau Hum (“The Real” & “Moments of Clarity”), beat-beat dan gitar ala ‘90s alt-metal seperti Quicksand, Helmet, Deftones (“Flesh & Solitude”) dan nuansa glide ala My Bloody Valentine (“The World” & “Soft to Touch”). Don’t get me wrong, semua referensi itu mereka racik sedemikian rupa menjadi karakter mereka sendiri. Lagi pula jika membicarakan originalitas, band mana sih yang 100% original di tahun 2023?

Key tracks: The Real, Sunday & Moments of Clarity

 

Words by Aldy Kusumah

Setelah sukses dengan perilisan kolaborasi dengan deadsquad Chapter 1 Gozeal kembali merilis produk kolaborasi dengan Deadsquad. Untuk kolaborasi kali ini mereka mengangkat tema “The Apocalypse”. Pemilihan tema “The Apocalypse” atau kiamat secara garis besar merujuk pada kehancuran, pembantaian dan kematian, Dalam kolaborasi ini Gozeal x Deadsquad akan merilis beberapa koleksi Tees, Longsleeve, Hoodie dan Shoes.

Desain dalam kolaborasi kali ini mengadopsi dari beberapa sumber terkait, seperti ruruntuhan Yunani agar terkesan klasik, hewan atau monster dari mitologi Yunani seperti typhon yang kami adopsi dan di padupadakan dengan snakegoat dari Deadsquad, dan gerbang neraka yang menggambarkan kesakitan, dan keterpurukan. Selain itu dalam desain kolaborasi ini terdapat tokoh empat penunggang kuda atau “four horseman the apocalypse”, salah satu tokoh penunggang kuda “war” (perang) dengan tampilan khasnya menunggang kuda yang membawa pedang kehancuran menjadi desain kolaborasi kali ini.

Kolaborasi Gozeal x Deadsquad akan rilis pada tanggal 28 Maret 2023 di shopee official Gozeal.

Setelah sukses menggelar event pertama pafa akhir tahun 2022, Diorama hadir kembali dengan mengusung tema “Diorama A Day At Museum” yang akan diselenggarakan di Paris Van Java Mall – Level P7 Bandung , Kamis – Minggu, 6 – 9 April 2023. Lebih dari 40 brand yang sudah terkurasi akan memerkan produk- produk dari mitra kreatif mulai dari Art & Craft, Hobbies, Fashion hingga Home Living.

Beberapa mitra kreatif Art & Craft, Hobbies, Fashion, Home Living hingga Food and Beverage yang bergabung antara lain: Ikatterikat, Ddekap, Room 533, Sillyco, The Bahamas, Kerenissi, Studio RUI, Stellar Coronae, Delynclothing, Railway Coffee, Jumbuh Meramu & Cayahati Apothecary, Qrystal Soul & Qreate Studios, Clayt, Heartmade by Amora, Minime, Madame Yo, Xusha, HelloPop! & SELARAS, Paduka, Ooganikku Indonesia, Harvs Studio, Moshi Day, Madeline Boboo, Kreema Florist and Decoration Cein Goods, Keartas Studio & September Spring, Boura, Niyya Studio & Eleanor Art Scarf, Tablewear by Elin, Labuan Linen Wear, LYKASTORY, Teno, Tummy Time by Frida, Gutaste, Sei Babibu, Loh Jinawi, Twinkle Well dan Patisserie Kaede.

Selain Pop-Up Market, Diorama juga mebuat aktivasi Creative Workshop yang berkolaborasi dengan berbagi brand, artisan, hingga komunitas seni. Seperti workshop Tufting, Resin Art, Pressed Flowers, Pottery, Binding Books hingga workshop yang berkolaborasi dengan komunitas studio design disabilitas, Tab Space. Juga aktivasi pameran karya seperti produk design dan artwork dengan kontributor seniman yang sudah dikurasi. Pengunjung juga dapat mengikuti sesi Talkshow yang mengundang icon kreatif hingga seniman yang akan berbagi pengalaman-nya.

Diorama berharap event ini menjadi wadah bagi pegiat dan penikmat produk-produk kreatif lokal untuk memperkenalkan-nya kepada masyarakat luas dan memajukan industri kreatif lokal dan wisata khusus- nya di kota Bandung.

Unit post-metal asal Jakarta ini kerap mencuri perhatian para penonton setiap mereka perform. Tidak lain karena materi yang mereka bawakan memang keren, terkonsep dan sound live mereka memang terbukti dahsyat. Di album Eternal ini, Morgensoll menawarkan 3 lagu instrumental dan 1 lagu dengan vokalis tamu Ekrig (Satan’s Heir) dari Avhath. “Adiaphora” adalah lagu yang tepat untuk pembuka: seolah menjelaskan akan seperti apa mood dan konsep album ini dengan durasi 11 menit 19 detiknya itu. Drumming yang intens disambut oleh gitar lead ala post-punk yang menembus mix dengan indah dan membius. Pada track kedua (“Familiar Changes”), Satan’s Heir hadir untuk membuat suasana semakin kelam. Song structure ala black metal pun tidak terhindarkan, tetapi ajaibnya masih nge-blend dengan konsep post-metal yang diusung Morgensoll. Sedikit mengingatkan saya pada Deafheaven era Sunbather, tetapi tetap mempunyai karakter yang kuat (apalgi dengan droning atmosferik di awal komposisi). Track ketiga, “Euthanasia” dimulai dengan suara efek yang menyerupai “flatline” pasien ICU di rumah sakit. Euthanasia sendiri adalah sebuah praktek untuk mengakhiri hidup untuk mengurangi penderitaan pasien yang sudah tidak bisa diselamatkan. Anyway track 3 sangat atmosferik dan sound nya pun megah, cocok jika dibawakan pada saat manggung di arena atau stadium besar. Dari keempat track yang dihadirkan disini, favorit saya adalah track terakhir “Getun”, yang dalam bahasa Jawa berarti “Kekecewaan”. Track ini sebenarnya cukup straightforward dan mengingatkan akan kejayaan band-band post-rock/post-metal medio tahun 2000an dengan aransmen crescendo nya yang klimaks.

Morgensoll adalah project solo dari Haecal Aliba Benarivo, yang mengusung genre Post-Metal & Post-Rock. Morgensoll gigih mengusung konsep musik instrumental sejak tahun 2016. Morgensoll cukup prolifik dalam berkaraya: 2 single pada tahun 2018 (Ngengat dan Introvert), album live di tahun 2019 (Prologue), 2 single di tahun 2021 (Doomed & Logos), 2 single di tahun 2022 (Sense of Belonging) dan album Eternal ini untuk menyambut 2023. Hebatnya di album Eternal ini semua seingle yang pernah dirilis tidak ada satupun yang dipakai. Untuk versi kasetnya, Eternal akan dirilis oleh Kamar Bising dan Harsh Productions. Dan ya, Eternal adalah sebuah album karena berdurasi lebih dari 40 menit walaupun hanya terdapat 4 track saja didalamnya. Memang tidak aneh jika mereka suatu saat bisa sepanggung dengan Pelican, Red Sparrowes atau Godflesh, karena Morgensoll is just that good.

Key tracks: Familiar Changes, Getun

 

Words by Aldy Kusumah

Greedy Dust bersama maker asal Bandung, 1.Spesifikasi mengeluarkan desain mika kaset baru yang terbuat dari akrilik, dengan kuncian sederhana serta visual hitam putih, packaging ini hadir pertama kali dalam Double EP dari Kinder Bloomen berjudul Dazed & Confuzed.

Double EP ini terdiri dari 2 Kaset dengan total 6 lagu berdurasi Panjang. Dijual seharga Rp. 279.000 danpemesanannya dibuka Jumat, 24 Maret 2023 bersamaan dengan pra-pesan dari merchandise Kinder Bloomen yang lain.