Setelah merilis 4 single dari November 2022 sampai Juli 2023, Cito Gakso baru saja merilis album yang berjudul “YOUR FAVORITE DEMO”. Album perdana dari rapper, model dan visual artist ini berisi 12 trek dan melibatkan 6 produser, termasuk Cito Gakso sendiri. Di album ini, Cito juga berkolaborasi dengan beberapa artis Hip-Hop & RnB tanah air, seperti GALLYGLITCH, ATRiA dari The Couch Club, KidQuest, dan Isiah dari grup ENVY*.


Album “YOUR FAVORITE DEMO” adalah manifestasi ambisi dan impian Cito Gakso sebagai seorang musisi yang ingin menunjukkan eksistensinya. Album ini mencerminkan perjalanan hidupnya yang penuh kepercayaan diri, harapan, cinta, dan pahit manis. Dengan beragam instrumen dan switch beat pada setiap lagu, album ini menunjukkan sisi eksperimental Cito Gakso dan mengeksplorasi evolusi musikalitasnya sejak EP pertamanya, “In Dream Awake”. Cito berharap album ini menjadi favorit para pendengarnya, dan ia menyatakan bahwa album ini menampilkan kematangan musikalitasnya tanpa kehilangan karakteristik khas Cito Gakso yang menyenangkan.

Mundae., membuat kejutan dengan kembalinya mereka setelah hiatus yang cukup lama. Tendi Ahmad Hidayat (Gitar/Vokal), Riski Indriyana (Drum), dan Meigy Saputra Dewa (Bass) kembali dengan formasi baru yang diperkuat oleh anggota baru Rizqi Taufik Hidayat (Gitar/Vokal), Mundae. siap menyuguhkan sesuatu yang segar. Unit rock alternatif asal Bandung ini menandai kembalinya dengan merilis single perdana berjudul “Kelak” yang diiringi dengan video klip, sebagai bagian dari album yang rencananya akan dirilis pada akhir tahun 2023.


Melalui “Kelak”, Mundae. ingin menyampaikan pesan introspektif tentang tujuan hidup dan takdir di masa depan. Mundae. berusaha untuk berinovasi dalam aransemen musik dan menciptakan suasana baru yang menarik.

Bagi kami, salah satu kolaborasi terbaik (yang paling diremehkan) mereka hingga saat ini adalah dengan Timberland pada tahun 2021, ketika label yang didirikan oleh Teddy Santis mengambil alih sepatu 3-eye Lug Boat Shoe milik Timberland. Iconic sejak tahun 1978, sepatu 3-eye Lug Boat Shoe Timberland mendapat pembaruan dan modifikasi sederhana yang berkarakter dari Aimé Leon Dore yang tersedia dalam 3 warna yang akan selalu menjadi timeless.

Terlepas dari upaya terbaik kami, semakin sulit untuk mengabaikan fakta bahwa Aimé Leon Dore sangat pandai dalam berkolaborasi. Kami belum tentu penggemar berat New Balance 550 mereka, atau bahkan pengagum berat Clarks Wallabees mereka, tetapi kami tahu kolaborasi yang bagus ketika saya melihatnya – dan sepertinya kolaborasi-kolaborasi menarik tersebut selalu melibatkan Aimé Leon Dore.

Sedikit latar belakang: Timberland pertama kali memperkenalkan sepatu perahu chunky 3-Eye yang sangat berpengaruh ini pada tahun 1978, menggabungkan bagian atas kulit buatan tangan premium dengan sol luar sepatu boot yang kokoh dari The Original Timberland Boot. Sekarang, lebih dari 45 tahun kemudian, itu tetap menjadi bahan pokok di lemari pakaian pria modern.

ALD dan Timberland bersatu kembali musim ini untuk tiga rilisan dari si cantik bermata 3, yang mendarat di toko dan online 19 Mei 2023. Pertama kali disinggung dalam lookbook SS23 ALD yang baru-baru ini dirilis, sepatu tersebut hadir dalam beberapa jalur warna yang diberi nama unik: Grape Leaf, Sleek White, dan Classic Black, serta mempertahankan semua catatan desain yang kamu harapkan dari salah satu siluet paling ikonik di Timberland. Namun, apakah kamu akan memasangkan sepatu ini di kaki atau tidak, kita semua pasti setuju bahwa tidak diragukan lagi, sepatu-sepatu ini memang timeless dan klasik.

 

Text by Aldy Kusumah

Rapper dan penyanyi asal Bandung, Sbplusix, telah merilis single terbaru berjudul “WHEREIM@”. Single yang diproduseri oleh Sbplusix sendiri dan berkolaborasi dengan Gilang Dhafir ini menjadi bagian dari mini album yang akan dirilis oleh Sbplusix tahun ini. “WHEREIM@” menggambarkan perjalanan dan perkembangan Sbplusix di suatu tempat, sambil menghadirkan pesan tentang pentingnya mengingat tempat pulang melalui lirik lagu yang energik.

Dalam single terbarunya ini, Sbplusix mencoba menyampaikan refleksi tentang tumbuh dan berkembang di suatu tempat, serta kekhawatiran yang terkait dengan lingkungan tersebut. Dengan energi musik yang kuat, Sbplusix ingin menekankan pentingnya mengingat tempat pulang dalam perjalanan hidupnya. Sebagai seorang seniman multifaset, Sbplusix telah menciptakan karya musik yang menggabungkan hip-hop dan R&B dengan sentuhan artistiknya sebagai seorang desainer dan artis visual.

S terbaru Sbplusix berjudul “WHEREIM@” telah tersedia di berbagai platform streaming musik.

Unit rock asal Denpasar, Jangar baru saja meluncurkan single terbaru mereka yang berjudul “Artileri” pada Jumat (30/6). Single ini menjadi pengantar dan pembuka untuk album mini mereka akan datang bertajuk “Malam” yang direncanakan akan dirilis pada bulan Agustus 2023. “Artileri” memiliki inspirasi yang sama dengan lagu-lagu Jangar sebelumnya, yaitu masalah sosial politik. Band yang terdiri dari Dewa Adi Sanjaya (gitar), Pasek Darmawaysya (drum), Rai Biomantara (bass), dan Gusten Keniten (vokal) mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kekuatan yang menggunakan segala cara untuk mengendalikan sumber daya penting. Pasek menjelaskan bahwa lagu ini menyuarakan tentang bagaimana segala cara dianggap halal dengan alasan yang sama, entah itu untuk menengahi konflik atau memerangi terorisme. Lagu “Artileri” ini mengambil sudut pandang orang pertama, menempatkan pendengar sebagai pelaku atau algojo dalam skenario ini, yang mengikuti perintah tanpa ragu dan melakukan tindakan-tindakan kekerasan dalam nama negara.

Dalam proses pembuatan “Artileri”, Jangar mengubah sedikit kebiasaan dalam merekam lagu. Mereka memutuskan untuk tidak menggunakan studio rekaman konvensional dan memilih Indra Lesmana Space di Gianyar, Bali, sebagai lokasi recordin. Jangar membawa “Artileri” yang sudah selesai 80% untuk diselesaikan di lokasi tersebut dan merekamnya secara langsung. Pasek menjelaskan bahwa mereka terkejut karena menemukan studio rekaman di wilayah Gianyar yang tenang, hijau, dan segar. Tempat tersebut memberikan suasana yang baru bagi mereka setelah bosan dengan workshop dan latihan di Kota Denpasar. Selain itu, tempat tersebut juga dibangun oleh salah satu musisi senior Indonesia, yaitu Indra Lesmana, sehingga memenuhi standar yang harus ada dalam studio musik. Jangar percaya bahwa kondisi dan visual tempat rekaman juga memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir lagu yang direkam. Oleh karena itu, mereka menyisakan 20% dari proses rekaman untuk dilakukan di tempat tersebut.

Setelah merilis dua single “This Feeling” dan “Don’t Want This to Be Over” beerapa waktu lalu, pada Jumat (2/5) White Chorus secara resmi merilis album penuh kedua mereka yang bertajuk LIMBO. Menurut duo electronic asal Bandung ini, LIMBO mencerminkan campuran frustasi, keputusasaan, dan spektrum emosi yang mereka rasakan baru-baru ini. Mereka menggabungkan unsur-unsur pop elektronika, dance, R&B, dan rock dengan sentuhan magis, menghasilkan formula musik yang unik dan harmonis. Album ini juga menampilkan kolaborasi dengan beberapa produser ter seperti BF-131131525 (Mamoy dari BLEU HOUSE), Alyuadi Febryansyah (Aldead dari HEALS) yang memberikan nuansa dan perspektif musikal yang beragam.

LIMBO dibuka dengan trek “BLU”, diikuti dengan suasana misterius dalam lagu “Mystery”. White Chorus kemudian menghadirkan lagu-lagu seperti “This Feeling” yang memukau dan “Somerset” yang penuh dengan gelombang emosi. Mereka juga menggandeng Nartok dalam lagu “3AM” dan menampilkan lagu berbahasa Indonesia pertama mereka yang berjudul “Amarah”.

LIMBO dirilis di bawah label Microgram dan juga menjadi bukti keberanian Clara Friska Adinda (whiteskkeleton) dan Emir Agung Mahendra (analogchorus) dalam menembus batasan konvensional melalui musik sebagai proses penemuan diri mereka.

 

 

Nousonix, unit hardcore punk asal Bandung dengan merilis single terbaru mereka yang berjudul “Perished”. Single ini menjadi bagian dari album mereka yang akan dirilis tahun ini dan juga termasuk dalam kompilasi “New Evidence” yang dirilis oleh Grimloc Records.

Dalam karya terbaru mereka, Nousonix menghadirkan musik yang lebih agresif dengan menggabungkan tempo cepat dengan nuansa ala Scandinavian dan Japanese Hardcore. Nousonix awalnya didirikan pada tahun 2018 dengan nama Sonic Reducer, namun sempat mengalami hiatus sejenak sebelum akhirnya kembali dengan formasi baru. Saat ini, Nousonix diperkuat oleh Ucal (vokal), Keniro (gitar), Jurais (bass), dan Aldo (drum).

Sebelum merilis single “Perished”, Nousonix sebelumnya telah mengeluarkan demo berjudul “M.O.B DEMO” pada tahun 2019. Rilisan tersebut tersedia dalam format kaset melalui Necros Records dan juga dapat didengarkan secara digital melalui platform Bandcamp.

Dubyouth dan BAP., telah berkolaborasi untuk menghadirkan kolaborasi musik yang memukau dalam single terbaru mereka yang berjudul “JUST DUB IT”. Dalam proyek kolaborasi ini, Dubyouth dengan gaya musik dub/reggae mereka yang santai bertemu dengan nuansa hip-hop yang khas dari BAP., menciptakan sebuah perpaduan yang segar dan unik.

Dubyouth, dengan pengalaman musik mereka sejak tahun 2003, telah menggabungkan berbagai genre musik seperti reggae, dub, oldschool jungle, hip-hop, ragga, house music, dan urban vibe. Di bawah keahlian Heruwa a.k.a Poppa Tee, Dubyouth menciptakan album debut yang sangat dinantikan, “Dubyouth”, pada tahun 2012. Sementara itu, BAP., dipimpin oleh Kareem Soenharjo, telah memperoleh pengaruh dari beragam genre seperti hardcore, punk, jazz, dan LA beat scene. Dengan kepiawaian dalam musik dan penampilan panggung yang mengagumkan, BAP. telah mencuri perhatian di skena musik Indonesia.

Dalam single “JUST DUB IT”, Dubyouth dan BAP. menciptakan suara yang unik dan menyegarkan. Ritme santai ala Dubyouth, bassline dengan sentuhan funk, serta suara synth yang luas, digabungkan dengan ketukan dan sajak yang kuat dari BAP., menciptakan harmoni yang sempurna. Lagu ini menampilkan vokal toasting yang penuh perasaan dari Poppa Tee, yang dipadukan dengan pembawaan rap yang rapat dari BAP., menciptakan lagu yang menyenangkan dan penuh energi.

“JUST DUB IT” merupakan bukti inovasi musikal Dubyouth dan BAP., yang berhasil menggabungkan genre yang berbeda dan menciptakan sesuatu yang benar-benar unik dan segar. “JUST DUB IT” sudah bisa dinikmati di semua platform streaming utama melalui DoggyHouse Records.

MANKIND, merilis koleksi houseware pertamanya yang sangat cocok untuk memperindah dan membuat suasana didalam rumah menjadi lebih tenang. Koleksi menarik ini menampilkan tempat pembakar dupa dan karpet, keduanya menawarkan suasana yang tenang yang dapat disesuaikan dengan berbagai interior.

Dengan mengedepankan nilai sentimental pada sebuah barang yang berharga, MANKIND bekerja sama dengan RAG. Home, pembuat karpet ternama dari Jakarta, untuk memperkenalkan koleksi karpet “Phoenicia” yang memikat. Tersedia dalam nuansa hijau, merah, dan putih-muda, setiap karpet adalah karya unik yang dikerjakan dengan cermat oleh pengrajin terampil di RAG. Home. Konstruksi benang yang padat memastikan daya tahan dan nuansa mewah saat diinjak.

Selain itu, ada juga tempat pembakar dupa yang terinspirasi oleh karakter “Howey” dan “Curtis. Dibuat dari 100% keramik, tempat pembakar dupa ini memiliki palet warna yang halus dengan nuansa beige, merah, dan zaitun, yang dapat dengan harmonis menyatu dengan dekorasi interior apa pun. Dengan lubang asap yang menciptakan efek visual menarik, bagian bawah yang dapat dilepas memudahkan dalam membersihkannya, memastikan kenyamanan bagi penggunanya.

Koleksi houseware pertama dari brand asal Bandung ini sudah tersedia eksklusif secara offline di FONDNESS, dan kalau ingin beli secara onlise bisa langsung kunjungi Thisismankind.com.

 

Kuartet R&B/hip-hop The Couch Club dari Bandung mengumumkan perilisan single terbaru mereka “Can’t See Us” sebagai pengantar dari album perdana mereka. Lagu ini menggambarkan pengalaman mereka yang seringkali merasa diremehkan. Bassist Vai Siagian dan vokalis Gally Glitch menekankan bahwa lagu ini menyampaikan pesan kepada mereka yang pernah diragukan, bahwa mereka memiliki potensi besar untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Album perdana The Couch Club akan menghadirkan perpaduan genre musik yang unik, mencerminkan keberagaman dan kreativitas band ini. Mereka berkomitmen untuk menciptakan musik yang menginspirasi, memberdayakan, dan memotivasi pendengar.


Single “Can’t See Us” sudah dapat didengarkan di berbagai platform streaming, dan video musiknya akan dirilis pada tanggal 25 Mei 2023. Informasi lebih lanjut mengenai tanggal perilisan album akan segera diumumkan melalui media sosial band.