Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.
Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chromeâ€, “Scales (feat. Andika Suryaâ€, “Iced Cold†dan “Overcastâ€. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.
Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion
Pada tahun 2021 lalu, Avhath merilis FELO DE SE dan HALLOWED GROUND secara digital, yang mana kedua single tersebut menjadi batu lompatan dan pencapaian dari segi musikalitas mereka. Untuk pertama kalinya, Avhath melibatkan produser musik dengan mencoba menambahkan elemen-elemen dari instrumen lain yang sebelumnya tidak pernah terdengar pada rilisan mereka sebelumnya dan juga melibatkan proses dan metode rekaman yang baru untuk mereka, yaitu melalui platform daring.
Sentuhan Alyuadi Febryansyah (Heals, Fuzzy, I) yang bertindak sebagai produser dalam FELO DE SE/HALLOWED GROUND menyita banyak perhatian pendengar. Keterlibatan Alyuadi dalam kedua lagu tersebut sangatlah terdengar jelas tanpa menghilangkan esensi musik dari Avhath sendiri. Musikalitas Alyuadi dalam hal ini berkoalisi sangat apik ke dalam FELO DE SE/HALLOWED GROUND. Sebagai hasilnya, FELO DE SE dinobatkan menjadi “Karya Produksi Metal Terbaik†versi AMI Awards pada tahun 2021.
Setelah baru saja melewati usia ke-10 melalui mini showcase Pure Evil Musikk, tampaknya Avhath belum ingin berhenti. Atas dasar ingin menyuguhkan rekaman FELO DE SE/HALLOWED GROUND dengan experience yang lebih memuaskan ketimbang rilisan digital, Disaster Records merilisnya kedalam format vinyl 7†berwarna blood-red dengan efek haze. Pada tahun 2023, format ini hanya diproduksi secara terbatas, yaitu sebanyak 222 keping saja, yang juga menandakan dua tahun setelah dirilisnya FELO DE SE/HALLOWED GROUND secara digital (2021).
Rekaman dalam format vinyl ini di re-mastered oleh Alan Douches dari West West Side Studio, New York. Orang yang bekerjasama untuk mixing dan mastering Fleetwoord Mac, The Dillinger Escape Plan, Brand New, Converge, dan juga lain-lainnya. Pada artwork menggunakan foto dari Moses Sihombing yang di re-color oleh Arief Wahyudi, dan juga desain grafis oleh Sara Alisha. FELO DE SE/HALLOWED GROUND juga menampilkan liner notes dari Uri A. Putra, personil dari Masakre, Kelelawar Malam, Ghaust, dan Bertanduk!.
FELO DE SE/HALLOWED GROUND sudah bisa didapatkan di disasterposse.com atau tokopedia.com/maternalstore per hari Jumat, tanggal 17 Februari 2023.
Pada debut EP-nya, Critical Issues mempersembahkan 8 lagu dengan durasi hanya 10 menit saja. Singkat dan padat karya. Dibuka oleh raungan feedback, “Plague Years†tentunya bercerita mengenai masa-masa pada awal pandemi dengan penggalan lirik “no work / no pay / infections and death rate / and we’re trapped in fouls playâ€, yang tentunya menjadi kritik juga kepada pihak-pihak yang memainkan data-data pandemi untuk keuntungan mereka semata. Dilanjut oleh “Mark on Your Head†yeng bertema mengenai victim blaming, mungkin? Vokalis Rian Pelor beraksi seakan tidak ada hari esok di lagu ini, dan ketika kita sedang headbang kecil menikmati bagian chorus, tanpa disadari lagu ini sudah berakhir. Menurut MaÌŠm (gitar) isu sosial politik memang menjadi titik berat dari band ini. “Lagu “Mark On Your Head†itu adalah pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha.â€
Trio punk/hardcore asal Palembang ini dibentuk oleh Lör (vokal) , MaÌŠm (gitar), dan Yix (drums), dan sebenarnya embrio ini sudah tercipta sejak tahun 2019 dengan melewati pergantian nama band, dan personil. Bermain di ranah hardcore punk, para personil Critical Issiues juga terlibat di band-band lain, seperti Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan Dètention. Band penyantap pempek dan mie celor ini juga selalu menampilkan performa yang cukup enerjik pada live shows mereka. Mereka ingin menjadi band ideal yang menampilkan live show yang intens dan juga merilis karya secara prolifik. Dengan tema lirik yang variatif dari “Plague Years†yang membahas pandemi yang 3 tahun lalu kita rasakan bersama; dan beragam krisis yang menyertainya baik secara sosial, ekonomi, dan politik. “Hostile Takeover†bercerita tentang perang dan krisis kemanusiaan yang menyertainya, terpantik akan apa yang terjadi di Ukraina, Suriah, Palestina dan juga Papua. Menurut Lör, lagu “285†itu diambil dari Pasal 285 KUHP. “Itu dari pengalaman pribadiku ketika seorang terdekat menjadi korban pemerkosaan, dan meminta saya untuk menghadapi si predator, dan menjadi mediator karena korban tak ingin kasusnya gaduh. Sekuat tenaga menahan diri karena kehendak korban harus tetap kujaga. Amarah yang harus disimpan itu pun kuluapkan menjadi lagu itu.â€. Dengan durasi yang singkat pada lagu-lagu mereka, apakah live show mereka juga akan mempunyai kesan short and sweet? Mari nantikan karya-karya selanjutnya dari Critical Issues, dan tentunya tontonlah performa mereka jika mereka mengunjungi kotamu.
Sajama Cut sudah lama menggagas proyek yang cukup monumental ini. Bayangkan saja lagu-lagu terbaik dari band veteran sekelas Sajama Cut dibawakan oleh teman-teman seangkatan mereka dan juga beberapa newcomer. 30 lagu ini dirangkum dalam 2 CD lengkap dengan kover yang cukup epik. Para kolaborator di kompilasi ini adalah: Neonomora, The Sugar Spun, Sal Priadi, A Curious Voynich, Lomba Sihir, Adrian PDM, Nearcrush, Hawktactic, Cotswolds, Polka Wars, Ade Paloh, Muchos Libre, IKEI, Methiums, Bin Idris, Ikkubaru, Secret Meadow, Pandu Fuzztoni, Ghost Fever, Ache, Texpack, Adrian Adioetomo & Daniel Mardhany, White Noir, Meet the Doppelganger, Sirati Dharma, Polyester Embassy, Peonies, Pale Skies, Bottlesmoker, dan Outrage + Hans Citra Patria. Whew, that’s a lot of names.
Dibuka tanpa basa-basi oleh Neonomora yang meracik “Bloodsport†milik Sajama Cut menjadi sebuah sajian ‘80s electro pop yang upbeat, bahkan tidak akan terasa out-of-place jika versi ini ada di soundtrack film Drive milik Nicolas Winding Refn. A Curious Voynich mengcover “Terbaring Di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyumâ€, sebuah lagu yang menjadi penutup dari album terakhir SC yang berjudul “Godsigmaâ€. Versi ini terasa sedikit lebih jangly walau tetap menghembuskan nafas alternative rock. Menarik. Salah satu highlight disini adalah anthem “Less Afraid†yang dibawakan oleh Lomba Sihir dengan nuansa pop yang beririsan dengan arena rock. Judul kompilasi ini pun diambil dari chorus lagu ini.
Pemetaan urutan tracklist disini patut diacungi jempol dan sepertinya Marcel dan cohorts nya sangat memikirkan urutan lagu di kompilasi ini dengan sangat matang. Beberapa lagu lain yang cukup menjadi favorit kami adalah kolaborasi Nearcrush dengan Collapse (dimana Andika Surya bermain drum pada lagu ini). Entah kenapa mereka memilih lagu “Season Finale†yang tidak terlalu populer, tapi aransmen cover version mereka terasa pas dan cukup catchy, tidak salah apabila lagu ini masuk ke “100 lagu Indonesia terbaik 2022†pilihan Pop Hari Ini. “Speak in Tongues†versi band post-punk asal Surabaya, Cotswolds, juga sangat menarik. Bahkan membuat lagu suram ini menjadi danceable. Track terkeras (dan terngebut) disini jatuh pada one-man band Methiums yang membawakan “Fallen Japanese†menjadi sebuah track djent metal yang melebur dengan punk, ala Strung Out. Lalu ada Ikkubaru dengan irama Japan city-popnya yang mengkover “Paintings/Pantingsâ€. Tidak lupa track experimental “Terdampar†dimana delta blues bertemu ambient noise (Adrian Adioetomo & Daniel Mardhany). Sepertinya tulisan ini akan terlalu panjang jika kami meneruskan excitement kami saat memutar CD kompilasi ini. Overall, a great compilation indeed. Dengan diskografi yang cukup prolifik, sudah sepatutnya Sajama Cut merilis sesuatu yang monumental seperti ini.
Jika kamu tumbuh mendengar dan melihat perkembangan Pure Saturday dari debut albumnya yang dipasarkan melalui mail-order majalah Hai pada tahun 1996, sampai mereka mulai mengeksplorasi ketertarikan mereka pada musik prog-rock di album Grey (2012), tentunya band ini sudah menemani kamu di beberapa fase hidup kamu. Fast-forward ke tahun 2023, sebuah kolektif yang bernama Jangan menginisiasi sebuah album kompilasi tribute untuk Pure Saturday yang diisi oleh band-band “baru†dengan tujuan untuk memperkenalkan musik Pure Saturday ke generasi sekarang. yang dulu mungkin tidak pernah mengalami masa membeli kaset Utopia (1999) dari Aquarius Dago dan melihat Pure Saturday perform di Saparua dengan formasi original.
Tampaknya 16 band yang telah dikurasi oleh Jangan Kolektif ini bervariatif secara genre. Track 1 dibuka oleh Bleach yang mengkover lagu “Coklat†dengan versi mereka sendiri, dan terdengar seperti peleburan terbaik dari Nirvana era “In Utero†dan Title Fight era “Hyperviewâ€. CAL membuka track 2 dengan kover “Utopian Dream†yang versi aslinya adalah sebuah lagu akustik. Disini Gilang Hade mengaransmen “Utopian Dream†menjadi sebuah track shoegazing yang tidak terdengar out of place apabila dirilis oleh Creation Records di era ‘90an awal, lengkap dengan wall of sound yang mengawang. Band indie-rock Erratic Moody membawakan “Pagi†dengan versi mereka yang lebih ceria, and they did it right. Track ke 4 adalah salah satu track favorit kami di JEURNALS, dimana Lamebrain membawakan “Pathetic Waltz†dengan nuansa bluesy americana yang spacey, lengkap dengan slide guitar dan harmonika. Loner Lunar pun dengan brilian menyelipkan petikan gitar “Kosong†di dalam lagu “Silence†yang mereka kover dengan elemen indietronica, trip hop dan glitch pop. Band alternative-rock Nearcrush membawakan “Langit terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku, Pikiranmu?†dengan sedikit nuansa sinkop math rock yang dilengkapi gitar jangly. Diakhiri oleh upbeat perpaduan hi-hat dan tambourine, LTLMTPP seolah diberi angin segar dengan aransmen baru. Di lagu ini juga mereka dibantu oleh Friska dari White Chorus pada departemen vokal dan synth.
Cukup mengejutkan juga, ternyata lagu “Nyala†milik Pure Saturday bisa dibawakan Olegun Gobs dengan versi ska khas mereka, tanpa terasa dipaksakan. Jenius. Rasukma yang membawakan “Elora†adalah salah satu bukti nyata dimana sebuah lagu cover version bisa “lebih bagus†dari versi asli nya. At least menurut saya. Siapa sangka “Elora†akan terdengar lebih epik dengan versi folk nusantara yang dimainkan dengan notasi pentatonik. Jika album kompilasi ini mempunyai single, mungkin “Desire†versi Ray Viera Laxmana adalah single nya. Setalah Ray, Rub of Rub juga dengan jenius mengaransmen “Awan†dengan nuansa dub psychedelic yang trippy di track berikutnya. Saturday Night Karaoke dengan brilian mengganti seruan “Hey ho let’s go†dengan “Pure Sat, Turday!†pada track “A Songâ€. Sheeka membawakan lagu Pure Saturday favorit saya “Gala†dengan beat yang mengingatkan saya pada Phoenix dan The Groove. Suarloca berhasil menjadikan “Labirin†menjadi sebuah track yang lebih dark dari versi aslinya, seolah lagu aslinya tidak cukup gelap. The Couch Club dan lagu “Spoken†adalah roti dan mentega, keduanya saling mengkomplemen masing-masing. “Spoken†dengan part rapping? Kenapa tidak. The Panturas juga berhasil merubah “Di Bangku Taman†menjadi sebuah track surf rock ala mereka, seolah kerasukan arwah Dick Dale dan The Ventures. Track penutup dibawakan dengan epik oleh The Sugar Spun yang mengkover “Simple†dengan aransmen yang sederhana namun ajaib. Overall, kompilasi ini bisa jatuh kepada kategori all killer no filler. Tapi kenapa tidak ada yang mengcover lagu “Kosong†ya? Hehehe..
Mendekati rilis album penuhnya, Bleach memberikan “kisi-kisi” melalui EP bertajuk Chrome. yang dirilis pada Jumat, 3 Februari 2023 dalam format digital. Chrome berisikan empat lagu, termasuk “Ice Cold” dan “Overcast” yang telah dirilis terlebih dahulu.
Empat lagu yang masuk kedalam EP Chrome yaitu “Ice Cold”, “Overcast”, “Scales” ft Andika Surya (Collapse) dan “Chrome”. Meskipun Kevin dkk telah membocorkan setengahnya, tapi dua lagu tambahan yang ada di dalam EP Chrome menjadi penggambaran garis besar flow dan komposisi untuk full album-nya mendatang. Nuansa musik hardcore dan sedikit sentuhan grunge terdengar di “Ice Cold” dan “Overcast”. Namun, untuk “Scales” dan “Chrome” unit hardcore asal Bandung ini mencoba untuk mencampurkan berbagai referensi musik yang lebih luas untuk diterapkan ke dalam musik hardcore yang menjadi identitas Bleach.
Setelah dirilis dalam format digital, EP Chrome akan dirilis juga dalam format kaset oleh Disaster Records dan Oblivion Records pada 23 Februari 2023. Dan dikabarkan bahwa Bleach akan merilis video klip Chrome dalam waktu dekat.
Akhirnya CD debut album dari unit thrash metal / crossover Bandung ini sampai ke meja kami. Dan betul adanya, they’re tight as hell. Dari track pembuka “Devastation†saja, nuansa Slayeurrghhh sudah tercium, in a good way. Video klip untuk single ini juga baru saja tayang Nuansa lagu dan sound dari Iron Voltage seakan membawa saya ke golden age of thrash metal dimana band-band seperti Sodom, Exodus (era “Bonded by Bloodâ€), Slayer dan Metallica (era “Kill ‘Em Allâ€) menjadi panutan. Tanpa basa-basi, track kedua “Immortal Crush†dimulai dengan tempo cepat. Lagu ini sudah tidak asing karena pernah dirilis sebagai single sebelum album ini dirilis. Melodi ala Kerry King diselipkan dengan ciamik. Lirik yang dilantunkan Edy terdengar cukup nihilistik. “Destruction on ignorance will remain eternal / until everyone realized that they are victims†sepertinya bercerita mengenai kehancuran yang dialami umat manusia atas dampak perang. Track ketiga “Under the Lightning†dibuka dengan intro gitar dengan modulasi flanger. Duo gitaris Yowdi dan Reyga shredding sekalan tidak ada hari esok. Beat di lagu ini cocok sekali untuk headbang tipis ketika sedang menyetir mobil (tentunya dengan kaca terbuka lebar). Saya sangat menyukai karakter vokal Edy yang sedikit mengingatkan saya pada Joel Grind dari Toxic Holocaust. Semua personil Iron Voltage seakan mengkomplemen satu sama lain, dan mereka terdengar cukup solid di album ini.
Overall, 10 lagu di album ini adalah tipe album yang either you love it or you hate it. Berita baiknya adalah: Karena terdapat kemiripan riff dan struktur aransemen di beberapa lagu, jika kamu menyukai satu lagu di album ini, kamu akan menyukai keseluruhan album ini. Dan begitupun juga sebaliknya. Untuk departemen lirik tidak ada yang spesial disini, semoga di rilisan selanjutnya mereka akan mengangkat tema-tema lain. Sepertinya Iron Voltage pun akan lebih menarik jika menggunakan bahasa Indonesia di rilisan selanjutnya. Iron Voltage adalah salah satu angin segar di ekosistem scene metal, mereka memainkan late ‘80s – early ‘90s thrash metal dengan sangat apik. Bahkan pada saat saya menyetel album ini di speaker, rekan saya pun berkomentar “ini band lama ya?â€. Yep, mereka berhasil mengadopsi sound klasik thrash metal dan membuat para penggemar genre ini untuk sedikit bernostalgia. Tentunya, setelah mendengarkan album ini saya akan menghadiri live performance mereka berikutnya, i’ll bet they sound great live.
Vertical Abuse merilis videoklip Senja Berkala yang merupakan single untuk full album Vertical Abuse yang akan dirilis oleh Disaster Records pada tahun 2023 mendatang. Merasa kurang puas dengan hasil recording versi demo, Senja Berkala mengalami perubahan dari segi karakter gitar & bass yang dibuat menjadi lebih heavy, drum yang diubah menjadi lebih agresif, lirik yang implisit serta karakter vokal baru jauh lebih growl & low dari demo yang sebelumnya. Aransemen terbaru ini menjadi kelahiran baru untuk konsep musik Vertical Abuse kedepannya.
Band yang beranggotakan Andy La Jhon, Reza Septian, Reza Pratama, Angga Pandu dan Oktav Mutter ini mengartikan “SenjaBerkala” sebagai fase seumur hidup dalam penderitaan menuju kematian datang berulang kali, sampai kematian dipaksa datang seperti penyelamat.
Tentunya band baru dan berbahaya dari Palembang ini akan sangat dinantikan rilisannya dan performanya. Trio punk/hardcore ini dibentuk oleh Lör (vokal) , Måm (gitar), dan Yix (drums), dan sebenarnya embrio ini sudah tercipta sejak tahun 2019 dengan melewati pergantian nama band, dan personil. Bermain di ranah hardcore punk, para personil CRITICAL ISSUES juga terlibat di band-band lain, seperti Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan Dètention. Mari berbincang dengan CI mengenai Polisi, pempek dan Pasal 285 KUHP
“Yah kadang ide kreatif kan enggak bisa dieksekusi dalam satu band, yang kalau dipaksakan malah bisa terkesan maksa. Maka itu mendingan bikin band yang lain.â€
Kata Pelor, ngumpulin personil Critical Issues agak sulit karena “graveyard shift” beberapa personil. Kesibukan diluar main band masing-masing apa saja? Apakah kalian band nokturnal yang hanya bisa beraktivitas pada saat jam tidur? Lör: Ahahaha bukan sulit hanya untuk menjadwal waktu wawancara dengan personil lengkap yang bisa sinkron dengan waktu kerja redaksi Jeurnals mungkin agak sulit karena ritme kerja dan aktivitas harian dari kami. Aku di siang aktif di radio tempat aku kerja, dan malam kadang masih suka ada kerjaan freelance. Jadi waktu komunikasi kami pun memang suka ajaib, begitu pagi eh pagi banget, begitu malam dini hari. MaÌŠm: Bener sih, karena aku memang banyak aktivitasnya malam, mengerjakan artwork commission dan desain grafis. Jadi waktu aktifnya sangat random ahahaha. Yix: Kalau aku ya kebetulan bekerja di hotel yang ada tiga shift kerja, dan kerap kebagian jadwal malam hingga pagi.
Kenapa menggunakan nama singkatan seperti Måm, Yix, & Lör? Apakah agar terdengar lebih cool? hahaha Måm: Nah, kalau itu bisa dibilang idenya Lör. Lör: Sebenarnya bukan untuk keren-kerenan sih, tapi hanya sebagai pseudonim yang bisa membedakan identitas kami dengan keterlibatan personil Critical Issues di band lainnya. Dan, kebetulan panggilan singkat dari nama kami bisa ditulis dengan tiga huruf, konsonan – vokal – konsonan. Yix: Dan ide itu kebetulan pas dan cocok sih.
Diluar CI, para personil bermain musik di band Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan DeÌ€tention. Apa yang membuat CI berbeda dengan band-band kalian yang lain? Apa yang tidak bisa kalian salurkan di band-band lain sehingga harus membentuk CI dan merilis sesuatu? MaÌŠm: Secara musiknya memang tiap band yang aku terlibat musiknya berbeda, walau masih berada dalam lingkup hardcore punk. Band yang satu dengan lainnya style musiknya berbeda. Memang lebih ke eksplor mainkan style yang beda di tiap band. Manekin memainkan power violence, dan Egoism memainkan hardcore punk yang terpengaruh band macam Lux, City Hunter, dan Blazing Eye. Kalau Critical Issues dari awal ketika aku memulai memang mau bikin band dengan pengaruh d-beat, khususnya ala band hardcore punk dari Boston yang terpengaruh hardcore Swedia seperti Green Beret, Bloodkrow Butcher, Koward, dan sejenisnya lah. Yix: Waktu MaÌŠm mengajak bergabung dengan Critical Issues, aku berminat karena musiknya berbeda dengan bandku yang lain, Disaffer itu main straight up hardcore, dan di Justice musiknya lebih ke hardcore punk seperti Scowl. Jadi seperti MaÌŠm, aku semacam mencoba eksplor sub genre yang berbeda. Lör: Ketika pertama mengajak MaÌŠm untuk bikin band, yang jadinya malah meneruskan Critical Issues – yang waktu itu vokalis sebelumnya memutuskan keluar karena urusan kerja dan keluarga – niatnya memang bikin band hardcore punk dengan tendensi ke D-beat, atau crust punk; dan itu pas betul dengan arah style dari Critical Issues. Yang dalam konteks band khususnya secara musik, musik Critical Issues memang berbeda dengan DeÌ€tention. bahkan dari style vokalnya juga. Yah kadang ide kreatif kan enggak bisa dieksekusi dalam satu band, yang kalau dipaksakan malah bisa terkesan maksa. Maka itu mendingan bikin band yang lain.
Kendala di dalam band tanpa bassist? Tugas low-end tersebut dibebankan pada siapa ketika live dan recording? Lör: Kalau format trio tanpa pemain bass sebenarnya di Dètention pun seperti itu ahahaha makanya enggak terlalu mengejutkan secara teknisnya. Måm: Sebenarnya sebelumnya Critical Issues memang ada seorang pemain bass, tapi karena satu dan lain dia memutuskan enggak lanjut. Untuk live sih aku biasanya menggunakan skema yang dipakai Dètention dari Lör yang memungkinkan gitarku untuk memakai dua ampli gitar, dan juga ampli bass. Untuk sesi rekaman mini album kemarin, aku memang mengisi part bass. Tapi, untuk tour yang akan datang kami sedang mempersiapkan pemain bass sebagai touring member; yang mudah-mudahan bisa jadi member penuh Critical Issues nantinya. Yix: Iya tidak merekrut pemain bass ketika proses pengerjaan memang karena kami kerja ngebut pasca Lör bergabung. Jadi memang karena tidak mau membuang waktu untuk merekrut dan mempersiapkan pemain bass untuk proses pengerjaan dan produksi mini album.
“lagu “Mark On Your Head†itu Lör merekam pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha.â€
Saya baru mendengar 2 lagu saja di bandcamp kalian. Isu-isu politikal apa saja yang kalian angkat di lirik-lirik kalian yang lain? Lör: Ketika bergabung di Critical Issues, aku langsung diembankan porsi untuk mengerjakan lirik. Dan kalau bicara soal fokusnya, sebenarnya mungkin sudah jelas terlihat dari nama bandnya. Pemantiknya adalah segala hal yang hal di luar sana yang meliputi isu ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Tapi bila spesifik soal apa yang menjadi topik lirik dalam delapan lagu Critical Issues di mini album debutnya, bahasannya adalah soal krisis yang muncul akibat pandemi, kekuasaan berlebih dari aparatur negara, sistem elektoral yang manipulatif, politik identitas, konflik militer dan krisis kemanusiaan, sistem ekonomi yang eksploitatif, dan isu kekerasan seksual. Måm: Iya, isu sosial politik memang menjadi titik berat dari band ini. Dan, seperti lagu “Mark On Your Head†itu Lör merekam pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha. Lör: Lagu “285†itu adalah dari Pasal 285 KUHP. Itu dari pengalaman pribadiku ketika seorang terdekat menjadi korban pemerkosaan, dan meminta saya untuk menghadapi si predator, dan menjadi mediator karena korban tak ingin kasusnya gaduh. Sekuat tenaga menahan diri karena kehendak korban harus tetap kujaga. Amarah yang harus disimpan itu pun kuluapkan menjadi lagu itu. Yix: Iya sih, kami berbicara akan hal yang untuk sebuah band hardcore punk mungkin terdengar klise dan bombastis, tapi pada hakikatnya dekat dan mempengaruhi kehidupan kita.
Lagu “Plague Years” dan “Hostile Takeover” tentang apa sih? Lör: “Plague Years†itu tentang pandemi yang dua tahun lalu kita rasakan bersama; dan beragam krisis yang menyertainya baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Kalau “Hostile Takeover†itu tentang perang dan krisis kemanusiaan yang menyertainya, terpantik akan apa yang terjadi di Ukraina, Suriah, Palestina dan juga Papua.
Awal dari kerjasama dengan Disaster Records bermula darimana? Kenapa memilih Disaster Records untuk merilis EP kalian? Måm: Awalnya kami mikir mau merilis sendiri, tapi kemudian agar kerja dan fokusnya bisa di-backup ahh kenapa enggak coba bekerjasama dengan label rekaman independen saja. Sembari proses rekaman mini album berjalan, akhirnya kami membuat daftar label rekaman yang mungkin cocok dengan Critical Issues, dan salah satunya Disaster Records. Lör: Iya, semua proses rekaman kami bereskan dulu hingga sampai rough balance mix untuk menjadi bahan preview ke label rekaman independen yang akan kami ajukan; yah niatnya biar enggak beli kucing dalam karung lah. Dan, Disaster Records itu adalah label rekaman independen pertama dalam daftar yang kami buat. Kami ajukan materi audio, dan time schedule rencana kami pada bulan Mei atau Juni lalu ke Disaster Records. Dan, Disaster Records berkenan; semuanya bergulir dari situ. Yix: Dan, jujur kami senang karena dalam prosesnya Disaster Records juga sangat suportif untuk segala rencana yang kami persiapkan.
Apakah CI ingin lebih dikenal sebagai live band yang intense atau sebagai band yang rilisan nya sangat prolifik? Lör: Idealnya sih keduanya ya, yah tapi kami enggak banyak proyeksi yang muluk-muluk ya. Karena mini album yang baru kami rilis baru rilisan debut. Jadi untuk sekarang kami coba menikmati saja segala proses yang kami jalani sekarang.
MaÌŠm: Iya sih kami coba jalani saja dulu prosesnya, yang pasti gass pol ahahahaha. Yix: Enggak mau bermain dengan ekspektasi kawan-kawan. Bisa diapresiasi dengan baik sekarang ini pun kami cukup senang.
Album-album terbaik yang merubah hidup & musikalitas kalian? Lör: Hmmm.. mesti berundur beberapa dekade sih yak ahahaha kalau aku mungkin Bad Religion “Recipe For Hateâ€, dan Slayer “Seasons In The Abyssâ€. Ada beberapa lain yang cukup signifikan juga khususnya dari ranah punk, tapi dua yang di posisi puncak mungkin itu. MaÌŠm: Aku sih, Milisi Kecoa “Kalian Memang Menyedihkanâ€, dan album-album dari bandnya Ryan Abbott seperti Chain Rank dan Green Beret. Yix: Kalau aku, Entombed “Left Hand Path†dan Iced “Don’t Mean Shitâ€
Pertanyaan terakhir: Kuliner-kuliner khas Palembang favorit kalian? Lör: Ahahaha pertanyaan lompat topik yang cukup menarik. We have different ideas, but food could unite us all hahaha kalau aku apa ya? Mungkin Mie Celor, menu mie khas Palembang dengan kuah kental kaldu dari udang yang cocok banget dimakan sebagai menu sarapan, dan juga makan sore. Satu lagi mungkin Martabak Har telor bebek, dengan kuah karinya yang mantap. Måm: Pempek dan model mie, dua itu sih yang jadi favorit karena untuk makan itu ada momennya biar lebih terasa nikmat makannya ahahaha. Yix: Laksan, karena aku suka olahan dari ikan yang diolah dengan sagu dan berbagai racikan lainnya, biasa makannya dicampur sama kuah santan. Yang kedua, apalagi yah Pempek ahahaha sudah jadi makanan cemilan sehari-hari. Dan bukan hanya beli tapi juga bikin untuk dimakan sendiri sekeluarga di rumah. Makannya jelas sama kuah cuko.
Words & interview by Aldy Kusumah Photos by Dewi Andriani, Cacink
Setelah merilis single Ice Cold pada Jumat (16/9) lalu, kuintet hardcore asal Bandung, Bleach kembali dengan merilis video lirik Ice Cold via Disaster dan Oblivion Records yang dijadikan sebagai gambaran awal album mereka yang rencananya bakal dirilis pada awal tahun 2023.
Pada video musiknya yang dibuat dalam bentuk bentuk 3D Animation, mereka menggaet nama-nama Putra Baskoro dan Yafi alias Helloblu Days. Video ini juga adalah bentuk respon dari sampul untuk single ini dikerjakan oleh Yowdy Santiar dari Iron Voltage. Video lirik dari single “Iced Cold†sendiri telah rilis pada Jumat (21/10) pada platform Youtube.
Selain video lirik, Bleach juga merilis exclusive merchandise yang telah dirilis pada hari yang sama, oleh Oblivion dan Disaster Records. Pada merch kali ini, mereka membawa serta sampul dari single teranyar mereka, dan font yang ditaruh pada bagian belakang bersama logo iconic pada bagian bawahnya.