Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Text by Aldy Kusumah
Vertical Abuse adalah band crossover hardcore/metal/punk yang beranggotakan Andy LA Jhon (vokal), Reza Septian (gitar), Oktav Mutter (drum), Anggara Pandu (bass), dan Reza Pratama (gitar). Mereka meracik komposisi dan aransmen musik yang tight atas hasil peleburan berbagai referensi mereka. Sebut saja: Integrity, Agnostic Front, Pro-Pain, END, Chamber, Meshuggah, Disembodied, Chimaira, Converge, Machine Head, Throwdown, Slayer, Entombed dan Bolt Thrower. Jika kalian menyukai salah satu atau semua band tadi, kemungkinan besar kalian akan menyukai album debut mereka yang bertitel “Jurnal Apokalipsâ€.
Rupanya mereka memilih sound “modern†ala band-band Roadrunner Records dan djent kekinian, sehingga nuansa “hardcore†yang mereka tawarkan lebih versatile, heavy dan dark. Dibuka dengan intro instrumental ‘Suar Bala’ yang akan seakan mengagendakan bakal seperti apa warna album ini. Title track ‘Jurnal Apokalips’ bernuansa heavy dan groovy, lengkap dengan pinch harmonics ala djent di part akhir lagu. Track ke 3 ‘Delusi’ starts with a bang. Dimulai dari drumming yang bombastis dari Oktav, yang tentunya ditemani oleh permainan bass Anggara dan duo gitaris bernama Reza. ‘Garda Domestik Subversif†dimulai dengan pinch harmonics yang ikonik. Vokal Andy terasa prima di tack ini, dan setiap kata yang dia ucapkan pun terasa jelas pengucapannya pada saat bait “Satu komando berkarat / Melindungi siapa? / Melayani siapa?†diucapkan. Lirik anti-authoritarian mereka cukup menarik untuk disimak, sayang saja fonts yang digunakan di sleeve artworknya agak sulit terbaca, apalagi untuk yang sudah menggunakan kacamata plus. Track terakhir cukup menarik karena mereka mengkover lagu Integrity yang berjudul ‘Heavens Final War’. Intro alunan basslines yang heavy dan low sudah mengundang kita ke area hardcore gelap ala Integrity. Kurang menyimak lagu originalnya, tapi dari apa yang Vertical Abuse presentasikan disini, sepertinya kover ini cukup representatif. Overall, sebuah album yang menarik dengan kualitas produksi yang top notch. Album ini di produseri oleh VA & Luke Heartwork (Lose it All), dan artwork kover dikerjakan vokalis VA, Andy La John.
Kanina adalah singer/songwriter asal Semarang. Kanina sudah cukup prolifik merilis berbagai single di tahun 2019 (‘Lust’, ‘I Survived Christmas’ & ‘Hell/High Water’ ) dan juga di tahun 2020 dengan maxi-single “The Tide is Nigh, I Dim the Light†yang berisi 2 lagu: ‘Soon Doesn’t Like What’s Coming, While Doesn’t Want to Know’’ dan ‘Lament Song’. Setelah merilis debut album pada tahun 2021 bertitel “Ode to all Oddsâ€, akhirnya Kanina merilis albumnya dalam format CD via Disaster Records di tahun 2023. Mari berbincang dengan singer/songwriter ini mengenai lirik-lirik dan tema gelap yang terdapat di debut albumnya.
“Sejujurnya waktu menulis lagu-lagu ini i was not at a good place jadi mungkin ter-refleksi di beberapa lagunya.â€
Halo Kanina! Apa kabar? Sedang sibuk mengerjakan apa saja nih setelah merilis versi CD dari “Ode to all Odds�
Kabar baik! Lagi sibuk ngelarin kuliah dan lagi mulai nabung-nabung materi baru buat album kedua sih sebenarnya..
Lo udah merilis “Ode to all Odds†tahun 2021, kenapa baru merilis versi fisiknya tahun 2023?
Awalnya tuh belum kepikiran sama sekali buat rilis fisik apalagi buat merchandise. Waktu itu cuma pengen rilis digital aja, soalnya jaman sekarang CD, vinyl dan kaset itu kan mostly punya value sebagai collectibles instead of diputar gitu kan. Jadi biar lebih praktis merilis digital aja dulu. Lalu makin kesini ada certain kind of pressure untuk bikin versi fisik, dan waktu itu sempat ngobrol sama mas Ucok Grimloc Records. Awalnya mau ngajuin proposal buat dirilis fisiknya sama Grimloc. Waktu itu mereka sedang ga bisa facilitate intinya. Lalu mas Ucok ngarahin ke mas Vidi dan mas Ody dari Disaster Records.
Lo sebelumnya ngeband di Foolish Commander, apa yang membuat lo memberanikan diri untuk membuat album solo? Dari mana ide dan momen “eureka†tersebut?
Sebenarnya ga ada eureka moment hehe.. Tapi mulai nabung materi solo, pertama bikin single dan karena responnya bagus, jadi rilis single lagi dan kemudian single lagi, lalu setelah merasa materinya cukup untuk sebuah album jadi bikin aja, jadi lebih ke step-by-step process sih dibanding eureka moment..
Photo by Nanda
Judul lagu ‘Hell/High Water’, ‘Heist Costs Money’ dan ‘House of Four Rooms’ seperti terinspirasi dari film. Film-film apa saja yang menginspirasi lo untuk membuat lagu atau lirik?
Hahaha iya ya.. Hmm sepertinya kebetulan aja sih.. Aku suka nonton film, mungkin juga secara gak sadar masuk ke cara aku ngasi judul gitu sih. Sebenernya ga suka nonton film perampokan atau heist, cuma karena itu terminologi film jadi cukup familiar aja sih. Single pertama yang aku bikin (‘Lust’) itu malah yang terinspirasi dari film. Dari film romance yang cukup depressing berjudul “Take This Waltzâ€, dan itu end up jadi lirik di bagian pertama nya. Malah aku belum nonton film “Hell / High Water 
Beberapa lagu seperti mempunyai tema alienasi, grief dan loss. Pada saat menulis dan membuat album ini, hal-hal apa saja yang yang mendorong lo untuk membuat album yang dark seperti ini?
Hahaha.. Hmm apa ya.. Semua yang ditulis di album ini kan produk dari internal thoughts aku, jadi terbawa aja. To be totally honest waktu menulis lagu-lagu ini i was not at a good place jadi mungkin ter-refleksi di beberapa lagunya.
“Mungkin aku lebih nyaman menuliskan pengalaman-pengalaman yang dark and depressing daripada pengalaman-pengalaman yang menyenangkan..â€
Gue pernah membaca sebuah artikel yang membahas kalau Hayao Miyazaki adalah pribadi yang depresif tetapi output karyanya cenderung hopeful dan “cerahâ€. Sedangkan Satoshi Kun (Perfect Blue) adalah pribadi yang ceria tetapi karyanya cenderung gelap dan depressing. Kalau lo sendiri bagaimana?
Gimana yah hehe.. Menjawab pertanyaan itu cukup susah.. Ya maksudnya mungkin aku pun bukan orang yang one-dimensional, ada saat-saat dimana aku memikirkan hal-hal yang depressing, tetapi ada saat-saat lain juga dimana aku ini menjadi periang dan bright gitu. Mungkin aku lebih nyaman menuliskan pengalaman-pengalaman yang dark and depressing daripada pengalaman-pengalaman yang menyenangkan..
Photo by @rottenslice
Produksi di album ini bagus banget. Siapa saja sih yang turut andil sebagai produser dan lo ajak untuk berkolaborasi dalam mengaransmen album ini? Apa alasan lo memilih para produser ini untuk menggarap “Ode to all Odds�
Di album ini ada 2 produser, produser utamanya itu Mellonzz / Cosmicburp / Luthfi adianto. Terus dia itu produce almost every song di album ini. Di lagu ‘House of Four Rooms’ ini diproduseri Pitra Prabowo / Mac Dalen. Kalau gue jujur banget sih karena mereka itu teman-teman main dan kami memang punya interest in music, juga sering sharing-sharing musik tertentu juga. Cosmicburp punya interest di music production, kalau Mac Dalen itu interest nya lebih ke sound engineering kaya mixing / mastering. Tapi bukan cuma karena mereka teman main dan cocok, tapi karena menurutku mereka really good at what their doing, and they know their shit.
Ada pengaruh rock, soul, trip hop, elektronika dan sedikit gospel di lagu-lagu lo. Bagaimana lo mendeskripsikan album lo ke pendengar yang belum mendengar album ini sebelumnya? Apakah peleburan genre ini memang lo konsepkan atau mengalir begitu saja saat menulis aransmen nya?
Kalau ngejelasin mungkin aku akan propose mereka untuk dengerin dari awal sampai akhir. Kalau cuma dengar satu-dua lagu doang kaya mereka ga akan fully comprehend the whole genre mish-mash thing. Dari awal pun pembuatan album ini bukan direncanakan jadi album, tetapi dari tabungan materi-materi yang sudah ada dan dianggap coherent untuk dimasukin jadi satu album. Dan aku juga dibantu sama 2 produser ini agar secara produksi semua lagunya masih ngeblend..
Photo by @adtn
Lagu ‘and I’m Not Sorry’ bercerita tentang apa? Bisa elaborasi sedikit?
Hmm.. Permukaan nya sih aku menulis lagu itu karena aku ingin mengadvokasi para penyintas sexual assault. Intinya i’m with them, i’ve been there and i’m with them. Lebih ke political stance aja. Here’s my stance, i’m with these people, so if you can’t agree, i don’t want you to hear my songs if that make sense..
Di single ‘Soon Doesn’t Know What’s Coming..’ lo berkolaborasi dengan Aldrian Risjad dari Sajama Cut. Gimana proses penggarapan lagu dan awal terpikir untuk kolaborasi dengan Aldrian?
Kepikir collab sama Aldrian karena personally i’m a fan. Menurutku dia adalah salah satu musisi dan soloist terbaik di angkatan ku. Aku suka juga cara bagaimana dia menulis lagu-lagunya. Karena jarak jauh, semua dilakukan secara online, dimana dia home recording dari Jakarta dan aku juga rekaman di Semarang.
Di epilog lagu ‘Heist Costs Money’ ada beberapa pertanyaan interaktif yang bisa dijawab pendengar. Apa makna dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Tema lagu ini kalau dari sudut pandang Kanina tentang apa?
Inspirasi besarnya itu dari album ‘Candu Cinta’ Aksan Sjuman. Track terakhir album “Realitas Khayal†itu sama dengan spoken words di lagu ‘Candu Cinta’ tapi semua kata cinta nya diganti drugs atau substance gitu. Kalau maknanya aku kepikiran untuk taruh spoken words itu di akhir di parts yang depressing nya. Sebenarnya ini salah satu hal yang misunderstood atau gimana, cuma yang lagu ‘Heist Costs Money’ ini adalah soal prostitusi. Jadi kaya constant battle yang dialami para prostitutes, dimana mereka membutuhkan uang untuk hidup, tetapi mereka tidak bahagia bagaimana mereka mendapatkan uang tersebut.
Lirik dulu atau musik dulu? Apa lo sudah nyaman dalam membuat lirik berbahasa Inggris atau di rilisan selanjutnya akan ada lagu berbahasa Indonesia?
Lirik dulu sih. Biasanya kalau musik nya itu di jahit atau di combine dari beberapa parts yang sudah ada. Aku perform dan rekam dulu di voice notes hp dulu dalam beberapa parts dan akhirnya dijahit jadi satu lagu. Hmm aku sebenarnya sudah nyaman sih nulis lirik bahasa Inggris, dan belum ada urgensi untuk menulis dalam bahasa Indonesia, dan kurang pede juga dalam membuat lirik bahasa Indonesia, jadi bahasa Inggris dulu sementara..
Karena lo berasal dari Semarang, 5 rekomendasi makanan favorit lo di Semarang?
5 rekomendasi makanan di Semarang: Om Ndut (babi panggang gitu), bebek peking dan ayam panggang Pak Gembul, nasi empal Bu Marie, Gohyang Jib (masakan korea authentic gitu), sama Bakmi Karet Alung.
Text by Aldy Kusumah Photo by Aditya Nugraha @adtn_, @rottenslice & Kanina’s archives
“Larynx†adalah sebuah lembaran baru dari Kuntari setelah “Last Boy Picked†yang dirilis pada tahun 2021. Sebuah EP berisikan 5 track yang dimainkan oleh Tesla Manaf (Cornet, Sampler, Gitar) dan Rio Abror (Drums & Perkusi). Setelah sebelumnya dirilis oleh netlabel Yesnowave, kali ini “Larynx†hadir dalam format fisik berupa CD, dengan sebuah track tambahan berjudul ‘Stridula’. Dibuka oleh ‘Baopi’ yang terdengar sangat tribal dan eksplosif. Intensitas komposisi di lagu ini bagaikan seseorang yang meledak-ledak dan memiliki moodswings. Permainan drum dan perkusi dari Rio Abror berhasil mengelevate layer-layer instrumen yang dimainkan oleh Tesla. Those two guys can really go hand in hand. Walaupun lebih eksperimental, Tesla pun kembali bermain gitar di track ini. Track ini pun ditutup oleh sebuah suara hewan yang terdengar seperti ingin “berternakâ€. Track kedua ‘Larynx, Pt. One’ melanjutkan sesi “mating calls†hewan yang ada di menit-menit akhir track pertama. Permainan cornet Tesla di lagu ini terdengar seperti versi liarnya Miles Davis era “Bitches Brew†yang menggunakan efek-efek modern.
Track ketiga adalah ‘Larynx, Pt. Two’ yang berdurasi 12 menit. Track ini tidak akan terdengar out of place apabila dipakai menjadi film score di film-film seperti “Saloâ€, “Cannibal Holocaust†ataupun film-film bergenre folk-horror seperti “Midsommar†dan “Enys Menâ€. Overall, “Larynx†adalah sebuah mini-album dengan konsep yang dinamis dan fluid. Dari intensitas komposisi dan output yang bisa kita dengar di EP ini, saya bisa membayangkan Tesla dan Rio mengurung diri di sebuah tempat dan mengerjakan album ini dengan jamming yang dilanjutkan dengan sesi workshop, dari pagi sampai pagi lagi. Lalu merekamnya dengan berbagai revisi pada aransmen maupun eksplorasi sound. Setelah mendedikasikan dirinya memproduce beberapa album jazz, world music, neo-classical, Tesla pun mem-followup eksperimennya dalam menciptakan teknik embouchure yang tidak ortodoks untuk cornet/terompet. Menurut press releasenya: “Tujuannya adalah untuk meniru suara perkawinan hewan dan makhluk fiksi raksasa. Menggabungkan suara primal tersebut dengan irama Hadrah Kuntulan Banyuwangi, dan Sar Ping/Barongsai (tarian barongsai) Bali-Cina. Dan dengan sengaja mengaibaikan not.â€. Whoa. Simak juga bonus track ‘Stridula’ yang tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan 4 track sebelumnya.
Setelah merilis album penuh kedua bertajuk “Into The Hollow Circle†pada tahun 2015 lalu, Asiaminor kembali dengan merilis single terbaru “Predetermined / Singularity”. Selain merilis single baru, unit progresive metalcore band asal Bandung ini hadir dengan line up terbaru mereka yang diisi oleh Muhammad Ikhsan Ramndhan (vocals), Angga Kusuma (gitar), Imam Kharis Sudin (gitar), Muhammad Ridwan (bass), dan Emyr Farand (drums).
Dengan adanya muka baru pada posisi gitar dan drum, “Predetermined / Singularity” terdengar berbeda dengan materi-materi Asiaminor sebelumnya. Dengan durasi 6 menit, Asia Minor memberikan progresi yang begitu agresif dengan diselipi suara-suara minor dan melamban pada menjelang akhir seakan dibawa menuju kehampaan yang gelap.
“Predetermined / Singularity” sudah bisa didengarkan sekaligus dinikmati dalam bentuk visual melalui kanal youtube Maternal Disaster.
Sebelum merilis debut album nya, Bleach rupanya ingin “menghangatkan†suasana dengan sajian EP berisi 4 lagu ini. Walaupun single “Ice Cold†dan “Overcast†sudah dirilis tahun 2022 kemarin, hal ini tidak menghentikan Bleach untuk menyajikan 4 lagu dengan packaging yang menarik ini. Track pembuka “Chrome†adalah track tersingkat di EP ini. Dengan hanya bermodalkan durasi 1:42 detik, Bleach mampu menyajikan sebuah track opener yang singkat namun padat. Dibuka oleh dentuman drum yang intens diiringi suara synth yang indah, basslines pun menyambut. Michael (vokal) langsung menyambut rekan-rekan nya dengan spoken words “Gotta find my way back to the cold / I see everything in chrome / Asking myself if this thing worth the pain / I see everything in chrome“. MV “Chrome†pun rilis pada saat tulisan ini ditulis (15/03). Tidak salah bila mereka memilih track ini untuk memulai jumpstart menuju rilisnya full album Bleach nanti.
Track kedua adalah “Scalesâ€, sebuah track yang mungkin diperuntukkan bagi kaum Libra. Lagu alternative rock ini mungkin terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Coolâ€. Menariknya, di track ini Bleach berkolaborasi dengan Andika Surya dari Collapse, sehingga cukup membawa warna lain ke lagu ini. Sebuah track yang catchy dan diakhiri oleh sajian pop jazz dreamy ala slacker rock, lagu pun kembali intens saat lirik “Leaving you is not easy†dinyanyikan. Sebuah track yang sangat fresh dan akan menjadi fan favorite di kemudian hari. “Overcast†adalah sebuah track ala tough guys HC, yang kemudian dibalut oleh riff dan vokal bernyanyi yang sedikit grungy. Dan tiba-tiba, suara perkusi pun masuk ditemani oleh basslines yang groovy dan gitar dengan wet chorus. “Iced Cold†mungkin adalah track favorit saya di mini album ini. Dibuka dengan suara flanger yang came out of nowhere, lalu tiba-tiba U-turn menjadi riff ala Nirvana era ‘In Utero’. Vokal Michael tetap menjaga intensitas dan membuat lagu ini pun tetap berada di koridor hardcore yang kental. Riff gitar pun sangat solid di seluruh lagu ini, tanpa ada momen-momen yang membosankan.
For fans of: Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice, EP dari Bleach ini menurut saya sangat segar secara musikalitas. Can’t wait to see what surprises they’ve got for us in the upcoming album.
Haul kembali untuk membuat malam kalian semakin kelam setelah 6 tahun tertidur lelap. Formasi solid di EP ini adalah Kenny (vocal), Dendry (guitar), Cakra (guitar), Hasbi (bass) dan Dawan (drum). Setelah merilis 2 single dalam bentuk music video berjudul “Adamar†dan “Perse- foniakâ€, kini EP yang berjudul “Adamar†hadir dalam format CD. Kali ini mereka kembali dengan format yang sedikit berbeda: death metal dengan nuansa blackened hardcore. EP berdurasi 16 menit ini dibuka tanpa basa-basi dengan “Persefoniakâ€, notasi dan riff gitar blackmetal menghiasi track ini, dan vokal Kenny pun diberi efek reverb, sehingga terdengar seperti Attila Csihar yang meraung di sebuah kastil kosong di Hungaria.
Rupanya peran produser Alyuadi dari Heals cukup membuat EP ini terdengar maksimal dari segi sound, aransmen dan produksi. Kamu bisa mendengar dengan jelas detail suara cymbal diantara shredding gitar yang padat dan bass yang heavy heavy low low. “Sajah Kumus†meneruskan keberingasan track pembuka dengan intensitas yang kurang lebih sama, dengan dibumbui sedikit aroma thrash metal. Diakhiri dengan permainan grand piano di akhir, track berdurasi 4:19 detik ini terasa singkat.
Sebelumnya Haul pernah merilis ‘Rima Penghitam Cakrawala’ (2012) dan 2 single “Surja†dan “Purnama†dalam split 7 inci bareng AVHATH (2013). Transformasi dan evolusi Haul menjadi seperti sekarang ini tentunya semakin menarik, apalagi jika kamu mendengarkan lagu penutup sekaligus title track “Adamarâ€. Lagu berdurasi 8 menit (kurang 1 detik) ini memiliki aransmen yang cukup epik dan beberapa part bernyanyi. Part bernyanyi ini terdengar seperti chant yang diambil dari film horror B-movie Italia dan kental sekali nuansa okultisme nya. Track “Adamar†pun ditutup dengan solo gitar 1 menit. Overall, sajian singkat ini sudah tentu agak sedikit nanggung bila mereka tidak segera mem followup dengan album penuh. Tentu saja album penuh dari Haul akan menarik. Untuk sementara, Adamar sudah bisa didapatkan melalui Disaster Records.
Setelah merilis debut album “Bloodsports and Modern Arts†di tahun 2021, Nearcrush kembali lagi ke dapur rekaman untuk merekam mini album terbarunya yang diberi titel “Saturasi EPâ€. Setelah berpartisipasi dalam 2 kompilasi yang mengcover Pure Saturday (‘Langit Terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu?’) dan Sajama Cut (‘Season Finale’), rupanya Nearcrush sudah siap untuk kembali menggarap materi barunya. EP ini akan dirilis oleh Disaster Records di tahun ini, dan untuk menghangatkan suasana, Maternal Disaster, Disaster Records dan Nearcrush merilis single pertamanya dalam bentuk video, dan akan menyusul versi digital streamingnya di Akhir April.
Untuk menggarap video klip ini, Nearcrush dan Disaster Records mengajak PH Ideas Crtv yang sebelumnya sudah menggarap video klip Collapse dan Sunbath juga. Dengan konsep yang sederhana, video klip ini hanya menggambarkan suasana pesta dan elemen-elemen di dalamnya. MV ini di shoot di sebuah villa di kawasan Lembang dengan extras yang cukup ramai. Beberapa cameo extras didalamnya adalah Krowbar dan Mayatschism (Aneka Ria Petaka), Emir dan Friska dari White Chorus, CAL, Vai Siagian (The Couch Club), Gildhaf (The Sugar Spun) dan tentunya En dari Sunbath yang juga mengisi vokal di lagu ini. Sambil menunggu EP mereka rilis, kalian bisa menyaksikan MV ini di channel Youtube Maternal Disaster.
Bleach adalah salah satu band hardcore yang selalu menjadi sorotan akhir-akhir ini, bahkan dari awal mereka menelurkan EP self titled mereka pada tahun 2020 Bleach already started making waves. Fast forward ke tahun 2023, dengan formasi yang semakin solid, Bleach merilis EP Chrome yang merupakan aktivasi “pemanasan†sebelum debut album mereka rilis. Mari berbincang dengan mereka mengenai proses rekaman dan rencana epik mereka membuat 10 video klip untuk debut albumnya
Masing-masing bisa ceritakan sedikit tentang EP Chrome yang baru dirilis dan upcoming album si Bleach? Mike: Project album ini buat saya itu adalah satu cara kami mengekspresikan musik hardcore dengan cara kami sendiri. EP Chrome merupakan sedikit bentuk dari eksplorasi musik yang kita lakukan.
Kevin: Sebenarnya full album tuh bakal rilis Februari, tapi karena Maret dan April bulan puasa, jadi biar gak kepotong puasa dan materi tetap “hangat†kita rilis EP dulu. Yang ada di EP ini juga nanti masuk semua ke album. Dari segi materi sebenarnya ini semua sudah dibikin dari tahun 2020. Pertama kita bikin EP self-titled, lalu ktia bikin EP bareng Couch CLub dan single “Treat The Diseaseâ€. Dan setelah itu recording materi album ini udah beres, tinggal take vokal aja. Drum di Funhouse sama Pak Yoni Gayot. Untuk gitar, bass, mastering dan vokal di Homestrack, operator nya si Faris. Secara kreatif ya color musiknya ya musik-musik tahun segitu, seperti Higher Power, Expire, Backtrack, Turnstile dan Trapped Under Ice masih.
Proses ngerjain materi lagu di Bleach biasanya seperti apa? Kevin: Biasanya demo awal dari gue, dulu tuh gue dan Krisna belum married jadi sore-sore suka ngerjain materi dirumah Krisna. Proses ngerjain materi album ini cuma sekitar 3 bulan. Sehari bisa beres 1 lagu. Kaya yang collab sama Dika juga cuma sehari, lirik dari dia. Sebenernya ada 3 collab di album ini tuh, sama Austino (vokalis Prime, bassist Lost Sight), lagu terakhir ada yang sama Jamrud. Balik lagi ke proses penggarapan materi biasanya gue kerumah Krisna, ga bawa lagu, tapi bikin riff mendadak disitu, ngalir aja. Jadi pas masuk studio anak-anak ngasih input dan aransmen, poles-poles. Kalau departemen lirik gue percayain sama Mike semua. Awal-awal lagam vokal gue ga ngelepas si Mike, tapi untuk album Mike sudah datang ke studio dan explore sendiri. Sampai vokal-vokal clean si Mike yang nyari nada nya sekarang.
Bleach sudah eksplor genre-genre musik diluar hardcore itu sendiri dari kolaborasi sama Couch Club di Intermezzo, cover “Coklat” PS yang sedikit berbau grunge sampai single “Scales” yang jazzy. Bahkan katanya ada pengaruh dari King Krule. Apa yang ngebuat lo semua eksplor genre-genre yang tidak umum di hardcore tersebut? Mike: Simple aja, karena saya sendiri suka dengerin berbagai macam genre. banyak aspek-aspek keren dari genre-genre tersebut yang bisa dicampurkan dengan musik hardcore yang kami mainkan.
Kevin: Kaya lagu “Overcast†aja ada elemen perkusi yang di highlight. Dan karena basic nya kita juga suka genre-genre musik lain diluar hardcore itu sendiri, jadi kenapa tidak dimasukkan aja elemen-elemen nya. Dan gue juga ga mikir sejauh apakah kita akan mengalienasi penggemar Bleach dengan eksplorasinya, ya kita bikin aja dulu dan semoga semua menerima.
Kenapa memilih di co-release oleh Oblivion dan Disaster Records? Bagaimana awal prosesnya? Kevin: Sebenarnya udah ngincer mereka dari lama. Dari pas rilis videoklip pertama udah ngebahas sama anak-anak pengen dirilis sama Disaster dan Oblivion. Nah pas Oblivion ngeborong merch kita, kita sekalian pitching soal album, gow katanya. Terus nanya ke Ody Disaster juga mereka kasih lampu hijau. Gatau kenapa lama ya, mungkin gara-gara kita nya gak ngerjain aja, gara-gara tour dan manggung jadi sedikit terhambat. Yang “Scales†itu kan alternatif, terinspirasi Drug Church dan Diamond Youth yang album “Don’t Lose Your Coolâ€.
Mike: Buat Oblivion dan Disaster sendiri sebenarnya ruang lingkupnya masih dalam circle pertemanan Bleach. kami pun sangat menilai tinggi apresiasi mereka di dalam musik. Jadi untuk proses rekaman EP dan Album ini bisa dibilang sangat smooth karena mereka juga bisa keep pace dengan bleach.
Apa yang kalian kejar dari sound dan aransmen Bleach untuk EP dan album? Upy: Drumming di album Bleach tuh banyak pake beat-beat heavy metal 90an..
Mike: untuk vokal sih di album ini saya ingin mencoba di beberapa bagian diisi dengan tune vokal ala-ala Chino Moreno dari Deftones.
Kevin: Gue terinspirasi gitar-gitarnya si Culture Abuse, asik flanger-flanger basah yang cepat. Leeway juga gue dengerin yang album “Born to Expireâ€. Kalau gue sih ingin gitar nya dapet sound si Mizery, tight nya masih ada tapi terdengar sedikit vintage. Chorus nya asik juga. Kalau TItle Fight dia banyak main open chords chorusnya. Warzone yang album Warzone juga gak kaya Warzone, enak banget gitarnya.
Denger-denger semua lagu di album kalian mau dijadiin video klip ya? Bisa ceritakan sedikit dari sudut pandang masing-masing? Kevin: Iya nih 10 track mau dibikin music videonya. Mulai shooting tanggal 12 sampai 27 Februari ini kita kerjain. Sebenarnya pengen bikin film. Rangkaian dan aktivasi nya tuh banyak sebenarnya, tapi nanti details nya off the record aja hehehe. Durasi full album cuma 21 menit, harusnya masih make sense untuk dibikin film pendek. Gue ketemu sama directornya, Putt April. Dia tuh biasa ngerjain anak-anak hiphop kaya Cito Gakso, Belva. Dia juga pengen bikin short film juga dan selalu cari modal. Alhamdulillah akhirnya kita dapat dananya dari label untuk merealisasikan short film ini. Rilisnya Juni kalau ga ada halangan.
Mike: Iya bener, sebenarnya pembuatan semua lagu dijadikan video klip ini biar orang-orang yang mendengar lagu-lagu di album ini bisa merasakan experience lain salah satunya dengan memvisualkan semua lagu di album ini.
Mike, gimana proses kreatif lo untuk mengisi departemen lirik dan lagam vokal pada saat penulisan lagu? Ceritain juga transisi lo dari bassist jadi vokalis.. Mike: Untuk lirik di album ini sendiri sih sebenarnya tidak jauh-jauh dari hal-hal yang sedang relate di hidup saya setahun belakangan ini. Hal-hal ini saya coba kumpulkan dan jadiin dalam beberapa lagu yang dipakai di album ini. Untuk transisi dari bass ke vokal tuh lumayan challenge sih di awalnya. Karena vokal sendiri merupakan hal yang baru bagi saya selama ngeband dan saya sendiri ngerasain perkembangan saya dari awal saya pegang vokal di Bleach sampai sekarang.
Upy, selain di Bleach, lo juga bermain di beberapa band yang berbeda genre seperti Lowlines, sempat ngedrum di Couch Club dan Eazz. Apa lo juga mencoba memasukan referensi dari berbagai genre tersebut ke style drumming lo di Bleach? Oh ya kabarnya lo juga mau bikin buku not balok album Bleach ya? Upy: Kalo untuk mencoba memasukan dari genre genre di atas itu nggak sih, style drumming di Bleach tuh banyak pake beat beat heavy metal 90s. Di sini juga gw mempertahankan dengan single pedal ditambah touch yang dibuat full power.
Untuk project buku not drum itu sebetul nya goals gw adalah pengen orang bisa baca not dan mengenal basic drumming di music hardcore. Ini versi gw, jadi nanti isi nya tuh basic-basic beat hardcore versi gw sama ada beberapa teknik dasar aja itu sih.
Krisna dan Axel, kenapa memilih instrumen gitar dan bass dan ga mengikuti ayah kalian (Om Krisyanto dan Om Azis MS) yang sudah ikonik sebagai vokalis & gitaris Jamrud? Krisna: Awal nya saya ingin jadi arsitek, cuma ga kesampean. Dari kecil emang udah hobi gambar gunung dan sawah. Kenapa pilih instrumen gitar, dulu SD kelas 6 pertama kali denger lagu nya A7X “Unholyâ€. Terus di sekolah ada yang bisa mainin lagu itu, kesan pertama wow “keren†sampe pada akhir nya ngulik. Pertama tertarik dengan gitar SD kelas 4 lihat film dokumenter nya Slipknot lihat Jim Root, walaupun awalnya sempat ketakutan nonton-nya, kaya sekte setan kegelapness…
Axel: Dari kecil sebenarnya tertarik ke drum sampe ikut-ikut perlombaan tapi waktu pandemic mulai ga ada kegiatan apa-apa akhirnya nyobain ngulik bass ternyata suka banget dan mulai mendalami lebih jauh…
Kevin: Si Axel baru maen bass 6 bulan pas gabung Bleach, dan langsung diajak tour hahaha.. Padahal DJ dia aslinya..
Words & Interview by Aldy Kusumah Photos taken from Bleach archives
Collapse yang pada awalnya hanya solo-project Andika Surya (vokal) kini sudah bertransformasi menjadi full band, dengan line-up personil tersolid nya: Angga Kusuma (gitar), Hasbi Erlangga (bass), Mario Panji (gitar) dan Gustian Satria (drums). Dengan line-up itulah Collapse kembali ke studio untuk merekam 4 track yang ada di ‘Saint EP’ ini. Dibuka dengan track instrumental “Born Againâ€, mood pendengar seakan sudah dipersiapkan oleh suara keyboard yang mengalun dan gitar dengan efek reverse delay nya. Mengawang dan memiliki mood yang sedikit mengingatkan pada “Sleepless and Dreaming†dari EP Grief terdahulu.
Pada saat track 2 “Rute Menuju Ivory†diputar, seakan ada batu bata yang menghantam muka kamu. Aransmen yang tight dan lead gitar catchy mengundang siapapun yang mendengar lagu ini secara live untuk berdansa seakan tidak ada hari esok. Menariknya, lagu ini adalah lagu Collapse pertama yang berbahasa Indonesia, dan rupanya memberanikan diri untuk menulis lirik berbahasa Indonesia adalah langkah yang tepat untuk Collapse. Lagam dan nada vokal yang dinyanyikan Andika sedikit mengingatkan saya ke Dewa 19 era ‘Terbaik Terbaik’ dan Protonema era “Rinduku Adindaâ€. Walaupun part bridge lagu ini (“Presence / Grudges / Longing / Lostâ€) menggunakan bahasa Inggris, semua tetap terasa aman dan tidak dipaksakan. Rupanya mereka memilih aransmen yang dinamis tanpa chorus dan pengulangan, karena seperti judul lagunya yang memiliki tema perjalanan, aransmen lagu ini pun tidak maju mundur dan terus bergerak kedepan, semakin intens dan sesekali menurunkan temponya.
Track ketiga “Them Chords†adalah sebuah skit, layaknya sebuah skit di album hiphop. Dibuka dengan voice over penyiar radio yang (katanya) bernama Vidi Nurhadi, di track ini Collapse memainkan musik dengan sound lo-fi dan musik ala slacker rock yang biasa dimainkan oleh band-band seperti Sunset Rollercoaster, Hush Moss, Boy Pablo dan Cuco. Sayang sekali lagu ini hanya dijadikan skit semata, padahal kalau dijadikan lagu penuh mempunyai potensi yang menarik. “Them Chords†seolah hanya bertugas untuk menjadi intro dari track “Violet Membranâ€, yang ditaruh terakhir di EP ini. So far, mungkin “Violet Membran†adalah lagu terbaik yang Collapse pernah bikin selain “Chloe†dan “Cold Novemberâ€. Track yang bernuansa dreamo (dream pop + emo) ini memiliki beat dan aransmen straighforward, dimana mereka berhasil mengambil elemen-elemen terbaik dari Title Fight era “Hyperviewâ€, Foo Fighters era ‘The Colour & The Shape’ dan tentunya sedikit riff ala Deftones, in a good way. Andika terasa lebih percaya diri dan lepas dalam bernyanyi setelah menjadi vokalis dan “menggantung†gitarnya, dan itu dibuktikan dengan baik di lagu ini. Overall, jika Saint EP adalah pemanasan untuk debut full album mereka, we can expect great things coming your way.
Setelah merilis 2 single dalam bentuk klip video dengan judul “Adamar†dan “Perse- foniakâ€, menandakan kembalinya perjalanan Haul setelah 6 tahun tertidur lelap.
Sebuah EP yang berjudul “Adamar†dihadirkan kembali sebagai penanda untuk melanjutkan pengembaraan Kenny (vocal), Dendry (guitar), Cakra (guitar), Hasbi (bass) dan Dawan (drum) dalam bentuk kehampaan terabstrak. Adamar berisikan 3 track yang digarap dengan menghabiskan waktu lebih dari 7 bulan, dan diharapkan menjadi kultur tanding bagi sistem produksi rilisan Heavy Metal yang tidak umum. Haul menentang kategorisasi yang berpikiran sempit. Semua materi dikerjakan tanpa mengindahkan kaidah baku yang selama ini menjebak paradigma awam dalam memproduksi karya seni, terutama seni musik.
Adamar sudah bisa didapatkan melalui Disaster Records.