SUISSAC adalah rock supergroup baru yang dimotori oleh Angga Kusuma (Asiaminor / SSSLOTHHH / Billfold / Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy / Rock N’ Roll Mafia). Menurut press release nya, “Mereka berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar segar dan berbeda dari band-band sebelumnya”. SUISSAC pun diperkuat oleh Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) di seksi ritem. Tentunya sebuah mini album dari para veteran industri musik ini akan menarik untuk disimak, apalagi dengan kover art yang menggunakan foto dari Deby Sucha. Epic adalah kata yang tepat untuk menggambarkan mini album ini. Dengan berleburnya latar belakang genre dari tiap personil dan pemilihan sound yang tepat, SUISSAC mempersembahkan 6 lagu untuk output perdana mereka dalam berkarya. 6 track yang tersaji di EP ini bisa dibilang cukup stand-out dan memiliki highlight yang berbeda pada detail aransemen nya. Dengan tema-tema lirik yang “mencerminkan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkan”. Let’s blast this EP on the speakers, shall we?

Dibuka dengan ‘In Silence’, sebuah banger track yang sangat cocok tirauh menjadi hidangan pembuka. Track ini juga bertugas untuk membangun mood di mini album bertitel “Magnanimous EP” ini. SUISSAC mengeksplor time-signature dan output sonic mereka dengan effortless. Sebuah aransemen yang lumayan kompleks, apalagi dengan banyaknya part yang berbeda sebagai fondasi lagu ini. Track kedua adalah single utama yang berjudul ‘Chrome Colliseum’, yang sedikit mengingatkan saya pada Mars Volta era “De-Loused in the Comatorium”. Vokal Eky Darmawan bisa lebih lepas dan bebas untuk bereksplorasi disini, dan tentunya detail-detail departemen gitar pun diisi dengan baik oleh Angga Kusuma. Saya sangat menyukai quiet-loud dynamics di lagu ini, terutama pada 2:20 dimana lagu rock yang noisy ini berubah menjadi shoegazing alt-rock ala Swervedriver. ‘Nirsinar’ dibuka dengan riff gitar yang sedikit bluesy / stoner. Permainan para rhythm section Alan Davison (Bass / Backing Vokal) dan drummer Emyr Farand sangat groovy disini. Tight.

‘Gold Colosseum’ adalah sebuah track ambient pop berdurasi pendek yang (mungkin) bertugas untuk meredam 3 lagu sebelumnya; yang bertempo cepat, dipenuhi riff-riff noisy dan penuh secara instrumentasi. Titel track ‘Magnanimous’ kembali menaikkan mood pendengar. Menurut saya jika dibanding dengan 5 track lainnya, this one is my least favorite SUISSAC song. Di 3 track awal mereka bermain dengan durasi yang sama, sekitar 4 menitan, tapi track ini justru terasa lebih lama bagi saya. ‘Magnanimous’ adalah sebuah track yang dipenuhi oleh banyak ide-ide dan mungkin terasa sedikit terlalu kompleks bagi saya. Highlight di lagu ini terdapat di menit 2:24, solo gitar yang sangat indah dan mengawang, dengan sound ala gitar-gitar dari band Tortoise. Track penutup ‘My Reflection of Rejection the Definition Just too Insane’ adalah sebuah lagu rock yang lebih straight-forward jika dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya di EP ini. Sangat fresh dan juga mengundang kalian untuk kembali mendengar EP ini dari awal lagi. Overall, produksi di album ini sangat keren dan ternyata ada produser Alyuadi (Heals/Fuzzy I) yang turut membantu memproduseri EP ini. SUISSAC adalah salah satu newcomer (dengan wajah-wajah lama) yang patut kalian tunggu aksi panggungnya.

Text by Aldy Kusumah
Photo by Vendrie Openk

Rilisan baru dari Polyester Embassy tentunya akan selalu dinantikan, karena sejak mereka merilis single “Polypanic Rooms” di tahun 2006, sepertinya mereka sudah menemukan karakter yang tepat. Sebuah racikan yang pas dari space-rock, elektronica, ambient pop dan shoegaze. Saya juga menemukan pengaruh dari band-band seperti The Cooper Temple Clause, Hope of the States, Mansun, The Shins, Flaming Lips sampai Radiohead dan Mew di lagu-lagu mereka. Mereka mengambil unsur-unsur tersebut secara halus dan sudah menemukan karakter sendiri di album ‘Tragicomedy’ & ‘Fake / Faker’, yang keduanya dirilis pada tahun 2006 dan 2011 silam. Kali ini Polyester Embassy hadir dengan formasi: Elang Eby (vokal/gitar), Khrisnamurti ‘utinks’ Wahyu (lead gitar), Eky Darmawan (Vokal/ Gitar), Dissa Kamajaya (Synthesizers/Backing vokal), Ridwan Aritomo (Bass) dan Pramaditya Azhar (Drum). Beberapa isian drum di album ini masih melibatkan mendiang Givari. Sedangkan sosok drummer baru mereka, Pramaditya Azhar, juga turut mengisi drum di beberapa lagu, plus satu lagu berjudul “Can I Fly” yang diisi oleh kedua sosok drummer ini.

‘EVOL’ hadir di tahun 2023, tepatnya 12 tahun setelah mereka terakhir merilis album (yang pasti membuat pembaca bertanya-tanya berapa umur para personilnya sekarang). Tanpa disangka, ‘EVOL’ masih mengusung jenis musik yang sudah nyaman mereka bawakan selama ini. Hanya saja disini, mereka terlihat jauh lebih matang secara produksi, aransemen dan sound. Track pembukan “Can I Fly” seolah meneruskan mood yang sama dan menjadi mesin waktu yang membawa kita ke era 2000an akhir pada saat baru mendengarkan “Orange is Yellow”. Lagu berdurasi 5 menit ini cukup straightforward, dan diakhiri dengan outro yang cukup epik. “Scattered” adalah lagu yang sedikit prog, dengan sinkopasi drumming dan dynamics yang berubah-ubah. Layer-layer synth dari Dissa Kamajaya (synth, backvocal) menambah nuansa dreamy dan “ke’eung” pada saat yang sama. Track ketiga adalah “Parak” yang sudah di publish 2 tahun yang lalu. Sebuah single yang radio friendly, apalagi disini mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melodi yang catchy dari Utink (gitar) dan Ekky (gitar, vokal) bisa menetralisir aransmen PE yang kompleks. “Kerai” adalah lagu yang masih menggunakan bahasa ibu. Lagu ini juga menghadirkan Octavia ‘Heals’ yang mengisi suara latar. Saya menyukai momen-momen dimana Polem bermain dengan disonansi, feedback, arpeggio dan berubah menjadi band yang sangat eksperimental di sebuah track yang awalnya sangat easy listening. Tentunya part-part seperti ini akan menarik jika direalisasikan di live show mereka yang didukung oleh sound dan pencahayaan yang mumpuni. Dan mereka masih memberi kejutan di akhir lagu: sebuah part outro dengan gitar akustik untuk meredam jam session noisy mereka.

“Ruins (II)” adala sebuah re-interpretasi Polyester Embassy untuk lagu Polyester Embassy sendiri yang sudah hadir di album pertama mereka (“Ruins”). Ternyata mereka adalah band yang cukup kritis, bahkan kepada dirinya sendiri. Disini mereka mempersembahkan sebuah versi lain dari lagu “Ruins” yang lebih shoegazing, noisy dan sedikit dreamy. Diakhiri oleh crescendo yang lebih klimaks, i have to say this is the better version of “Ruins”. “Laugh And Swell” sudah jelas memperlihatkan kecintaan para personil Polem terhadap pengaruh electro pop dan indietronica. Lagam vokal di lagu ini sedikit mengingatkan saya pada RNRM (mungkin karena Ekky juga adalah vokalis dari RNRM). Suara latar Janis (anak dari Elang Eby) dan Karina Sokowati di lagu ini sangat menarik dan menjadi salah satu highlight di track ini (selain synth + delay yang catchy). Penultimate track album ini adalah sebuah pop ballad berjudul “Look Out Looking”, yang ditaruh tepat untuk membiarkan penonton menghela nafas setelah mendengar 6 lagu dengan instrumentasi yang kompleks. Lagu penutup, “Kala”, adalah lagu favorit saya di album ini. “Kala” memiliki semuanya: aransmen yang cerdik, instrumentasi kompleks, sound + produksi yang apik, lirik yang well-written dan tentunya quiet / loud dynamics yang pas. Untuk generasi sekarang mungkin Polyester Embassy adalah band yang cukup obscure. Biarkan lagu-lagu Polem merasuki kupingmu dan menetap disitu. Jika kamu belum pernah mendengar rilisan Polem, you can start with this one.

 

Text by Aldy Kusumah

 

Jeruji, unit hardcore punk asal Bandung siap kembali ke panggung musik dengan karya terbaru mereka setelah lebih dari dua dekade berkiprah. Dalam formasi yang tetap kuat dengan Rangga sebagai vokalis, Sani Harjasyah di drum, Hendy Hanafi di bass, dan Moh. Irsyad Ridlwan di gitar, Jeruji tetap berkomitmen untuk memberikan suara lantang dalam pergerakan kemanusiaan dan skena musik ekstrim. Mereka merayakan pencapaian luar biasa, memasuki usia ke-27 tahun mereka pada tanggal 30 September, menggambarkan konsistensi mereka dalam menciptakan lirik-lirik tajam yang mengangkat isu-isu penting.

Jeruji telah menghadapi berbagai tantangan sepanjang perjalanan mereka, tetapi mereka tetap fokus pada misi mereka. Dalam single terbaru mereka berjudul “Bernyawa,” band ini mengungkapkan perasaan, pilihan hidup, dan kebenaran serta kesalahan yang mereka hadapi. Dengan lirik yang kuat, Jeruji menegaskan bahwa mereka tidak peduli dengan pandangan negatif atau pengakuan dari luar, tetapi mereka akan tetap setia pada hati nurani mereka. Single “Bernyawa” akan segera tersedia di berbagai platform streaming digital mulai tanggal 16 September 2023, dan ini menjadi titik awal menuju rilis EP terbaru mereka yang dijadwalkan akan hadir pada akhir tahun ini.

Band shoegaze Sunlotus asal Blora terus aktif dalam menjalankan tur sebagai upaya promosi album-album mereka. Dari album pertama mereka, “This Old House,” yang dirilis pada tahun 2019, band ini terus giat menggelar tur konser setiap tahun. Meskipun terpaksa membatalkan tur besar pada tahun 2020 karena pandemi, mereka berhasil melanjutkan kegiatan tur pada tahun 2022 dan kini kembali mengumumkan jadwal tur di tahun 2023. Baru-baru ini, Sunlotus merilis mini album berjudul “Fever” yang terdiri dari empat lagu, termasuk satu lagu yang dinyanyikan bersama penyanyi solo Christabel Annora. Album ini juga akan dirilis dalam beberapa edisi mancanegara, di antaranya oleh label dari Malaysia dan Amerika Serikat.

Dalam upaya mempromosikan mini album “Fever,” Sunlotus telah mengadakan tur konser bertajuk “Shards of Dreams.” Mereka telah berhasil menyelenggarakan chapter pertama tur ini dengan sukses, berkolaborasi dengan unit black metal asal Australia, Kilat. Tur ini merupakan rute internasional pertama bagi Sunlotus sejak pembentukannya pada tahun 2018. Mereka merencanakan chapter kedua tur dengan lebih banyak kota dan tanggal di beberapa negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Selain mempromosikan karya terbaru, tur ini juga dilakukan sebagai respons terhadap minimnya tawaran untuk tampil dalam festival musik, baik di dalam negeri maupun internasional. Sunlotus juga menjalin kerjasama dengan berbagai rekanan sebagai dukungan dalam tur ini.

Sunlotus – Shards of Dream Tour Chapter 2
25 Agustus – Bekasi
26 Agustus – Bandung
27 Agustus – Jakarta
29 Agustus – Tangerang
30 Agustus – Cipanas
1 September – Cirebon
8 September – Singapura
9 September – Kuala Lumpur
10 September – Bangkok

 

 

 

CAL adalah proyek solo dari Gilang Hade (vokal & gitar) yang juga diperkuat 3 orang sahabatnya: Jordy (drums), Dwiki (bass) & Thian (gitar). CAL akhirnya merilis debut album bertitel “Notion”. Sebenarnya album ini masih memiliki warna yang CAL sudah persembahan di “Anthracite Grey” EP dan juga single ‘Spending’. Hanya saja, di debut album ini, seluruh track benar-benar tergarap lebih detail dari produksi sound hingga aransemen. Track pembuka ‘The Art of Eye Contact’ menggiring pendengar ke “dunia” CAL yang muram, mengawang dan membius. Dengan lirik “More of a friend and non-toxic” mungkin menceritakan sebuah hubungan platonik tanpa ekspektasi. CAL cukup menarik dan fresh. Jika rekan-rekan shoegazers “seangkatan” mereka seperti EAZZ lebih mengambil sound era Creation Records, atau Enola yang lebih droning, CAL lebih mengambil sound nu-gaze ala My Vitriol, Whirr dan Amusement Parks on Fire.

‘Logical’ adalah track kedua yang menurut saya masih melanjutkan mood yang dibangun oleh track pembuka. Track mid-tempo ini sedikit lebih repetitif, dengan sedikit kejutan pada akhir lagu. ‘The City Debt’ adalah track favorit saya di album ini. Lebih noisy dan up-tempo jika dibandingkan dengan dua track sebelumnya. Penggalan lirik “Bullshit at the beginning of the month / another invoice” mungkin membicarakan kondisi finansial yang sedang buruk, dan rutinitas keuangan yang selalu terulang di setiap bulan nya. Track ini diakhiri oleh saxophone ala John Zorn. ‘Wisata Individu’ adalah lagu berlirik Indonesia, dan menurut saya CAL lebih menarik saat membawakan lagu berbahasa Indonesia dibandingkan lirik Inggris. ‘Conformance’ adalah track yang sangat catchy dan bisa menjadi gateway untuk penggemar baru. Single material indeed.

‘Malam Atma’ melanjutkan tongkat estafet lirik berbahasa Indonesia yang sudah dimulai oleh ‘Wisata Individu’, dan ya, sekali lagi saya benar, at least menurut saya sendiri. CAL memang terasa pas dan Gilang sudah terdengar nyaman melantunkan lirik berbahasa ibu. Tanpa sound reverb dan wall of sound yang ada di departemen gitar, lagu ini bisa saja menjadi sebuah track emo tahun 2000an. And that’s a good thing. ‘Exit Dream’ sedikit lebih moody dibandingkan lagu lainnya. Tetapi jika dibandingkan dengan lagu lainnya di album ini, this has to be the weakest song here. ‘Musim Berseri’ adalah sebuah track yang langsung mengingatkan saya pada My Vitriol saat mendengar intro gitarnya. CAL langsung memperlihatkan warna dan ciri khasnya pada saat vokal masuk di verse awal. Jika dilihat dari liriknya sebenarnya ini adalah lagu dengan mood bahagia, tetapi jika sudah diselimuti wall of sound ala CAL, pendengar mungkin menyangka ini adalah lagu “galau” jika tidak membaca lirik “Menikmati indahnya kota Bandung.. Wooo berbagi oh senangnya..”. ‘Megahom’ memiliki isian gitar yang menarik dan drumming pattern yang groovy. Track penutup ‘Color Motion’ adalah lagu paling noisy di album ini. Cocok sekali menjadi track penutup. Overall, album ini memiliki susunan tracklist yang bagus. Entah kenapa, sebuah album berisi 10 lagu selalu terasa pas bagi saya. Jika kamu menyukai satu lagu CAL, saya yakin kamu akan menyukai seluruh lagu di album ini, begitu juga sebaliknya. Mungkin yang CAL butuhkan di album berikutnya adalah sedikit variasi pada lagu-lagunya, dan lebih banyak lagi lirik berbahasa Indonesia.

Key Tracks: ‘Wisata Individu’, ‘City of Debt

Text by Aldy Kusumah

SUISSAC Super Group/Essentials Rock, dari Bandung, muncul dengan semangat dan ambisi tinggi. Dibentuk oleh proyek visioner yang diprakarsai oleh Angga Kusuma (Asiaminor/SSSLOTHHH/Billfold/Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy/Rock N’ Roll Mafia), mereka berusaha menciptakan suara segar dan berbeda dari band-band sebelumnya. Dengan dukungan dari Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor), proyek ini akhirnya dikenal sebagai Suissac. Gabungan talenta para musisi yang beragam telah menghasilkan karya yang unik dan menggugah, membuat Suissac menjadi sebuah proyek menjanjikan dalam industri musik.

EP “Magnanimous” yang dirilis oleh Disaster Records ini mengeksplorasi keberagaman manusia dan fenomena kehidupan sehari-hari, serta pentingnya menjalin hubungan tulus dengan lingkungan sekitar. Dalam era modern yang penuh perubahan dan tantangan, EP ini mengajak pendengar dalam perjalanan emosional yang mendalam dengan kekuatan lirik yang menggugah dan melodi yang memukau. “Magnanimous” menjadi cerminan kisah universal tentang perjuangan, cinta, kehilangan, harapan, dan keajaiban kemanusiaan yang tak terelakkan. Lagu-lagu ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan manusia dalam perjalanan hidup ini, serta bagaimana tindakan kecil dapat membawa perubahan besar bagi dunia di sekitar kita. EP ini menjadi sajian yang menarik, khususnya dengan sentuhan suara distorsi hingga ketukan yang padat, yang semakin dikuatkan dengan kolaborasi dengan produser Alyuadi “Heals/Fuzzy I”.

Polyester Embassy kembali dengan merilis album terbaru yang bertajuk “EVOL”. Disaster Records sebagai label yang menaungi mereka mengumumkan perilisan album ini, yang berisi delapan lagu eksploratif yang mencerminkan evolusi musik band tersebut dalam format compact disc dan cassette. Sebagai band yang seringkali disebut sebagai band eksperimental, Polyester Embassy selalu mencoba berbagai eksplorasi dalam musik, lirik, dan tampilan visual mereka untuk memperkuat identitas suara yang berbeda.

Dalam album “EVOL”, Polyester Embassy menghadirkan konsep evolusi musik yang mengadaptasi hal-hal lama. Mereka mempercayai bahwa evolusi manusia adalah tentang beradaptasi dengan situasi, bukan meninggalkan hal-hal lama, melainkan mengadaptasinya. Album “EVOL” menjadi bukti nyata dari evolusi tersebut. Sebelum merilis mini album ini, Polyester Embassy telah merilis beberapa lagu sebagai pengantar, seperti “Parak” dan “Laugh and Swell”. Lagu-lagu ini menunjukkan bahwa band ini tidak meninggalkan esensi musik mereka sejak awal, tetapi terus berkembang dan matang dalam setiap karya yang mereka ciptakan.

Cinta atau “LOVE” juga menjadi tema yang erat hubungannya dengan mini album baru Polyester Embassy. Cinta terhadap musik dan persahabatan antar anggota band adalah yang mempertahankan eksistensi mereka sejak awal berdirinya. Meskipun perjalanan ini tidak selalu mudah, Polyester Embassy telah melewati masa-masa sulit seperti kehilangan drummer mereka, Givari, dan ketidakaktifan sementara rekan Givari, Tomo. Eksplorasi, evolusi, dan cinta terhadap musik tetap ditanamkan dalam karya-karya mereka, termasuk dalam 8 lagu di mini album “EVOL”.

Berawal dari proyek visioner yang diprakarsai oleh Angga Kusuma (Asiaminor/SSSLOTHHH/Billfold/Collapse) dan Eky Darmawan (Polyester Embassy/Rock N’ Roll Mafia) yang ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar belum pernah mereka lakukan dan berbeda dari band-band mereka sebelumnya. Dengan bantuan Alan Davison (Lamebrain) dan Emyr Farand (Asiaminor) proyek ini dikenal dengan nama Suissac. Nama “Suissac” sendiri terinspirasi dari petinju legendaris Muhammad Ali, yang memiliki nama asli Cassius Clay. Dengan kecerdikan, mereka membalikkan nama depan “Cassius” untuk menciptakan julukan unik “Suissac”. Terikat oleh gairah musik yang sama, keempat individu ini memulai perjalanan untuk menembus batasan-batasan musik rock.

Chrome Colosseum menceritakan kisah kehidupan, menggunakan Colosseum sebagai representasi metaforis dunia, dimana seseorang harus bertarung dan bertahan hidup. Suasana chrome/mirror memungkinkan individu untuk merefleksikan diri mereka sendiri. Dalam narasi yang hidup tentang Chrome Colosseum, kehidupan diibaratkan sebagai pertarungan sengit di dalam dinding-dinding luas Colosseum. Ini menjadi arena simbolis, di mana individu harus terlibat dalam pertempuran tanpa henti untuk bertahan hidup dan meraih kemenangan.

Polyester Embassy mengumumkan kembalinya mereka dengan merilis video klip “Parak” setelah mengalami masa sulit pasca kepergian drummer mereka, Givari, pada tahun 2020 dan hilangnya kabar dari Tomo, sang bassist. “Parak” menjadi lagu yang membawa terobosan baru bagi band ini dengan lirik berbahasa Indonesia. Video klip “Parak” menampilkan kumpulan artwork yang dibuat oleh Pastewhilewheat dan akan diaplikasikan dalam rilisan berikutnya dari Polyester Embassy.

Sebenarnya, lagu “Parak” telah diciptakan pada tahun 2019 bersama dengan beberapa lagu lain yang direncanakan untuk menjadi bagian dari sebuah EP. Namun, setelah kepergian Givari dan hilangnya Tomo, Polyester Embassy terpaksa harus beristirahat sementara waktu untuk mencari pengganti drummer dan bass. Polyester Embassy akhirnya mengambil keputusan untuk merilis video klip “Parak” sebagai penghormatan kepada almarhum Givari. Dalam video klip tersebut, posisi drum dan bass dibiarkan kosong sebagai simbol dari masa ketika Tomo menghilang tanpa jejak setelah kepergian Givari. Namun, kabar baik datang ketika band ini berhasil menemukan Prama sebagai pengganti drummer dan Tomo kembali bergabung dengan mereka. Dengan semangat baru, Polyester Embassy melanjutkan beberapa proyek yang tertunda, termasuk merilis video klip “Parak”.

 

 

 

“Ode to all Odds” adalah sebuah ketidaksengajaan: beberapa lagu dan materi yang dikumpulkan satu persatu oleh Kanina Ramaniya Kalyana menjadi satu kesatuan (baca: album). Tetapi semua track disini tetap coherent dan memiliki benang merah walaupun Kanina bermain dengan berbagai genre sebagai playground nya. Dibuka oleh ‘What Started the Vortex’ adalah salah satu intro album terkeran di 2023. Suara gitar reverse delay disambut oleh spoken words dari Kanina, yang jika didengar (atau dibaca) liriknya, lumayan depressing (“I thought of jumping off seven stories building like the predecessor never before I”). Lalu out of nowhere, gitar berdistorsi masuk dan Kanina mulai “memberanikan” diri untuk bernyanyi dan melupakan kegelisahan yang diucapkan sebelumnya. Track kedua ‘Lust’ adalah sebuah lagu elekronik yang trip-hoppy dengan vokal yang soulful. Berbeda dengan lagu sebelumnya, track ini memiliki mood yang sexy, walaupun agak menyentuh tema dan area grief. Produksi di lagu ini patut diacungi jempol, hats of to Cosmicburp dan Mac Dalen.

“and I’m Not Sorry” adalah sebuah track berisi political stance dari Kanina dimana dia bersama para penyintas kekerasan seksual. Track yang bernuansa ‘90s aternative rock ini terasa sedikit pengaruh Fiona Apple, and that’s a good thing. “Heist Costs Money” adalah lagu favorit di album ini. Sebuah pop ballad yang dimulai dengan intro piano dan sound gitar yang smooth. Tema yang diangkat Kanina cukup berat disini, dimana lirik bercerita mengenai perang batin yang dialami para PSK untuk menghidupi dirinya dan survive. Bridge di menit 2:30 menurut sangat menarik, sepertinya ini akan jadi lagu yang keren jika dibawakan live. Lalu ada sebuah spoken words yang cukup menarik di akhir lagu yang menurut Kanina terinspirasi dari ‘Candu Cinta’ nya Aksan Sjuman. Looping synthesizer di outro track 4 pun disambung dan menjadi intro di track 5 ‘Katrina’. ‘Vitruvian Man’ adalah sebuah track yang minimalis, dimana basslines yang empuk dan choir vocal menjadi pilar utama di lagu ini. ‘Hell/High Water’ memiliki groove yang bouncy. Entah apa judul lagu ini terinspirasi dari film neo-noir karya penulis Taylor Shedridan atau bukan, tetapi ini akan menjadi sebuah banger jika dibawakan live dengan sound yang menunjang. ‘Lament Song’ adalah sebuah lagu pop yang di elevate oleh instrumentasi keren dan tentunya suara “smoky” Kanina yang berkarakter. Overall, untuk sebuah debut album, “Ode to all Odds” adalah sebuah album yang polished dan matang. Kamu tidak akan menyesal membeli CD ini, karena tidak menemukan satupun lagu buruk disini.

Text by Aldy Kusumah