CAL adalah moniker dari Gilang Hade, yang juga menjadi nama dari project solonya. Setelah merilis mini album Anthracite Grey, CAL pun mulai bergerak dari panggung-ke panggung dan menuai sambutan hangat dari para penonton yang apresiatif. Proyek solo ini pun semakin serius dengan bergabungnya CAL ke Disaster Records untuk merilis album dalam waktu dekat. Mari berbincang dengan Gilang mengenai shoegaze, nugaze sampai polisi skena.

Lang, sebelum proyek solo CAL ini apa lo ngeband juga sebelumnya? Dari dulu mainin genre apa?
Pokoknya pas SMA kelas 2 bikin band post-rock namanya It’s Madness. Setelah lulus diajakin temen bawain garage punk tapi main bass. Sempet juga sama Tragedi Berisik band hardcore juga. Terus terakhir sama Charlie Be Nice, itu 2 tahun yang lalu mungkin ya.. Tapi sekarang udah engga sama semuanya hahaha..

Tapi interest ke musik shoegaze dan alternative rock udah lama dari pas lulus SMS, kaya dengerin Whir, Nothing.. Sekarang juga masih kuliah tingkat 2 hahaha.. Mencoba produktif aja nih..

Kilas balik sedikit, apa yang pengen lo sampaikan di tema-tema lirik Anthracite Grey?
Sebenarnya itu masih tenttang percintaan.. Asmara hahaha.. Ada beberapa lagu kaya yang “Spending” atau “Sulphate”, ceritanya mah jangan terlalu toxic lah, dan jangan sampai menghadapi situasi yang toxic aja lah, ah sok-sok an aja sih hehehe.. Emang ga dikonsep kalau judul lagu menceritakan liriknya sih itu teh.. Karena bagus namanya aja makanya dijadikan judul hahaha.. Kalau Anthracite Grey itu sebenarnya seperti arang kalau di googling mah. Kalau covernya warna ungu itu karena sering nge-repost story orang pengen coba warna lain selain hitam dan putih, pas cobain warna ungu ternyata bagus juga jadi identitas si CAL. Pas bikin kover EP minta moodboardnya warna ungu. Sebenarnya ga terlalu dikonsep sih itu EP nya, berjalan aja itu mah dari warna, judul sampe musiknya juga lebih organik..

Apakah lo lebih mengambil referensi band-band nu gaze atau shoegaze 90an era creation records untuk CAL sendiri?
Malah lebih ngambil nu gaze mungkin yah, kaya My Vitriol, Fiddlehead, Narrowhead. My Vitriol sih yang udah agak lama mah. Si CAL yang upcoming album malah banyaknya ke My Vitriol referensinya. Whir dan Nothing juga, Title Fight juga masih ada. Suka bawain Basement juga yang “Pine”, enak pisan dicover soalnya chord nya gampang hahaha..

Lo meng cover “Utopian Dream” di kompilasi PS dan merubah lagu akustik itu menjadi shoegaze dengan penuh wall of sound yang mengawang. Bagaimana awalnya lo ikut proyek itu, kenapa memilih “Utopian Dream” dan konsep apa yang lo coba tawarkan di aransmen musiknya?
Awal memilih lagu ini tuh pas ngulik taunya cuma tiga chord diulang-ulang, dikembagin aja jadi kaya dipetik.. Jadi waktu itu tuh di group diajakin Tribute to Pure Saturday, semua pada nge list. Nah si Biman tuh yang dulu main gitar memilih “Utopian Dream”. Yang lain pasti milih yang full band dibikin full band lagi, gimana kalau kita cover lagu akustik dijadikan full band. Langsung buka DAW, ngulik chord dan bikin drum, 2 jam jadi tuh, gak ada briefing gak ada apa, semua di aransmen aku sendiri di kosan. Langsung dibawa ke studio baru di obrak-abrik lagi di studio..

Si CAL mah emang proses kreatifnya emang awal mulanya dari aku sendiri, dari template drum dan gitar sampai bass. Anak-anak tinggal ngisi dan main sesuai karakter. Kalau bagan-bagan sudah fix, cuma cara memainkan nya gimana mereka mainin nya.

Single baru lo conformance adalah single pertama dalam rangkaian aktivasi menuju album debut. Kenapa memilih conformance sebagai 1st single?
Mungkin lebih karena single ini itu ngasih tau musik CAL kedepan nya tuh bakal kaya gini, kurang lebih single ini juga mewakili kalau warna album nya akan seperti lagu ini. Nah kalau soal aktivasi, kalau orang lain kan posting timeline manggung, kalau aku posting di IG timeline rilisan hahaha, kaya bikin penasaran orang, digoreng dulu sebelum rilis bikin penasaran orang hehe..

Kenapa mulai memberanikan diri menulis lirik bahasa Indonesia?
Nah itu gatau saya juga heran, memberanikan diri aja hahaha.. Padahal susah pisan bikin lagu berbahasa Indonesia tuh, bikin lirik susah, bikin nada vokal nya susah juga. Personil yang lain dan lingkungan juga mendukung saya biar coba bikin lirik Indonesia.. Referensi lebih dari dengerin The Adams, Dewa 19 juga.. Pokoknya mash ga pengen terlalu puitis.. Misal kalau dengerin lirik Perunggu teh kan beda sama warna lirik The Upstair gitu.. Lebih kaya ngobrol liriknya teh.

Pendapat lo tentang isu yang akhir-akhir ini beredar mengenai “sebut 3 lagu” dari kaos band yang lo pakai? Hahaha..
Waduh! Polisi skena hahahah… Sebenernya mah sah-sah aja ada yang nanya kaya gitu, yang cuek juga gapapa, gimana masing-masing. Cuma kalau aku pribadi liat cewek-cewek yang biasa dengerin Maroon 5 tiba-tiba pakai baju Led Zeppelin atau Guns ‘N Roses kalau udah keren ya gapapa, bagus dan mereciks hahaha.. Malah sekarang juga banyak beberapa orang beli merch si CAL itu karena suka desainnya, bukan karena denger musiknya. Itu juga salah satu bentuk support, tidak selalu harus khatam lagunya. Kalau aku pribadi pernah juga beberapa kali beli baju band tapi gatau, beli cuma karena design nya bagus juga sih, tapi alhamdulillah belum ada yang nanya juga lagu band nya apa aja hahaha.. Setidaknya saya support band nya dengan beli merch haha..

Pedalboard lo lumayan warna-warni juga ya seperti Hot Wheels hahaha.. Top 5 efek gitar favorit lo dan kenapa?
Reverb Nux Ocean: Jadi lebih bernyawa sound gitarnya aja kalau main ritem pake reverb. Knop di jam 8 biasanya. Kalau gak pakai reverb kan kasar dan terlalu nge distort banget. Pedal ini always on.
Boss Delay DD3: Efek legend yang lumrah dipakai gitaris mungkin yah? Hehe.. Jadi favorit soalnya buat nge boost dan nambahin sustain juga yang aku rasain mah.
Pre Amp AMT R2: Ini tuh sound ampli dual rectifier Mesa Boogie. Sebelum punya efek ini tuh sering latihan di Chronic kan, disitu aku pake ampli Dual Rectifier, ngerasa cocok, dan ternyata pakai gitar aku yang single coil enak banget sound noise dan tone nya. Jadi aja beli si efek ini. Ini juga always on.
Ibanez TS9: Ini juga buat nge boost doang, kalau drive sih inti low, mid high nya ada di AMT, si TS ini nge boost kalau nge lead aja.
Kokko Tuner: Paling berguna ini dari semua hahaha. Pertama kali beli efek tuh efek ini. Beli di Shopee pas 12-12, harganya dari Rp. 600,000 jadi Rp. 280,000 hahaha. Lumayan pisan ini teh, dari awal sampai sekarang masih kepake, tahan banting dan akurat. Kalau main siang-siang outdoor juga masih kebaca karena digital.
OCD Drive: Pengen banget nyoba OCD. Nah kalau ini mah masih wishlist, masih nabung dulu. Baru sekarang-sekarang ngeliat reviewnya di Youtube.

Top 5 lagu / album yang merubah hidup lo?
Fuzzy I – Transit: Mengubah mindset saya untuk “Hayu band-band an yuk!”
Nothing – TIred of Tomorrow: Pasti ini mah. Saya dengar yang deluxe version cuma kayanya mah sama-sama aja sama yang versi biasa lagu-lagunya.
Title Fight – Head in the Ceiling Fan: Ini mah terbaik.
Basement – Colourmeinkindness: Ini yang ngerubah warna musik CAL beda dari EP ke album.
Collapse – Grief: Udah kelar. ODSK lah pokoknya Om DIka Selalu Keren hahahaha..

 

Words & Interview by Aldy Kusumah
Photos taken from Cal’s archive

Band metallic hardcore asal Bandung, Prejudize, menyambut tahun 2023 dengan merilis musik video terbaru mereka dari trek yang berjudul Constant Burning. Band yang diperkuat oleh Arga (vokalis), Rian (bass), Alfi (gitar), Keniro (gitar), dan Hilman (drum) ini, mengekspresikan gagasan eksklusif bermusiknya yang dicurahkan lewat lirik lagu dan musik gahar namun apik dan tough.

Hal ini tampak dari musik video Constant Burning yang penggarapannya dibuat dan dipoles oleh Studio Major dengan nuansa hitam putih serta didukung penuh oleh Husted Youth. Pengambilan gambarnya sendiri diambil di salah satu gedung legenda di sudut pusat Kota Bandung, Ex Bisokop Dian. Para penggemar musik tanah air bisa menikmati video klip Constant Burning dari Predujize yang menggambarkan dedikasi para membernya ini di kanal Youtube Husted Youth.

Constant Burning memadukan based musik Prejudize di Demo 2021 yang kemudian dikombinasikan dengan nuansa Hardcore Punk sehingga membuat trek ini lebih “kebut”. Keputusan kembalinya Prejudize ke nuansa Demo 2021 ini melalui pemikiran dan pertimbangan panjang yang didasari beberapa hal. Salah satunya, Prejudize sadar betul bahwa Demo 2021 lebih memiliki power daripada rilisan sebelumnya di 2022. Tidak hanya itu saja, dalam waktu dekat Prejudize juga akan merilis official merchandise. Kamu bisa mendengarkan Contant Burning di berbagai platform streaming musik mulai 10 Maret 2023.

Setelah sukses dengan Ms. Mondaine dan “Better Dayz”, Cito Gakso merilis single terbarunya berjudul “Punk Galore” yang merupakan single ke-3 dari daftar track yang akan masuk dalam upcoming debut albumnya yang direncanakan akan rilis pada bulan Juni 2023 mendatang. Pada rilisan kali ini Cito bekerja sama dengan Emir Mahendra dari White Chorus sebagai producer dan juga Gilang Dhafir sebagai co-producernya.

“Punk Galore” adalah luapan emosi dan pengekspresian diri dari seorang Cito Gakso. Mengombinasikan energi liar punk dan rima rima gaya hip hop, lagu ini dirancang untuk membangkitkan semangat pendengarnya, dengan nada gitar yang membuat perasaan bergejolak. “Punk Galore” adalah perwujudan dari punk rap/alternative hip hop dan menampilkan gaya serta kemampuan
musik Cito Gakso yang unik.

“PUNK GALORE” single dari Cito Gakso sudah bisa dinikmati di seluruh streaming platform, beserta Music Video yang disutradarai oleh Putra Baskoro yang akan tayang pada hari Minggu mendatang

 

Setelah event besar pada tanggal 4 di Vandal Bar, DJ kolektif Push/Pull membuat event yang lebih intimate dengan konsep laidback di Fondness, wine bar dari brand Mankind. Event After Hours ini walaupun sekilas tampak spontan, tetap berjalan lancar dan meriah. Event ini juga disupport oleh Mankind yang juga menghadirkan beberapa koleksi limited untuk Push/Pull. Untuk departemen kesegaran, Island Brewing Company juga hadir dan mensupport event After Hours ini. Kolektif Push/Pull adalah Kiks, Joni, Bayu, Ngangah, & Sattle. Mereka adalah adalah figur-figur terkemuka di kancah musik dansa lokal. Masing-masing dari mereka aktif mengadakan pesta, dan mengadakan residensi di berbagai tempat. Selain itu, Mereka juga telah berkontribusi pada berbagai kegiatan musik & seni lokal. Sajian musik yang dimainkan kolektif Push/Pull ini lebih laidback daripada event mereka yang diselenggarakan di Vandal. Mix yang apik dari Push/Pull yang lebih berkesan laidback ternyata sangat cocok dengan lokasi Fondness di sore hari menuju malam.

Untuk departemen interior, MANKIND / FONDNESS bekerja sama dengan studio desain Interior & furniture Flowers In May yang berbasis di Bandung. Tempat unik ini adalah bangunan dua lantai yang terdiri dari toko, bistro & bar dengan menyajikan berbagai pilihan masakan western dan wine-wine yang bervariasi. Terletak di Jl. Cimanuk no. 5A, Bandung, kawasan yang terkenal dengan butik dan kafe. FONDNESS buka pada hari Senin sampai Kamis jam 10.00 – 21.00 dan Jumat sampai Minggu jam 10.00 sampai 22.00.

Photos by Fondness, Mankind

Setelah merilis EP Chrome beberapa waktu lalu via digital, kini Bleach siapkan format fisik berupa kaset pita serta merchandise berupa t-shirt dalam menyambut perilisan EP terbarunya tersebut. Kasetnya bakal dirilis per Kamis (23/2), sementara t-shirt-nya akan keluar menyusul. Dalam perilisan kaset dan t-shirt-nya kali ini, mereka masih akan melancarkannya via Disaster Records dan Oblivion Records. Untuk t-shirt, hanya akan tersedia dalam satu artikel.

Chrome merupakan EP terbaru dari Bleach yang memuat empat nomor, termasuk; “Chrome”, “Scales (feat. Andika Surya”, “Iced Cold” dan “Overcast”. EP ini merupakan jembatan menuju full-length pertama dari Bleach yang akan keluar di waktu mendatang.

Untuk informasi lebih lanjut soal rilisnya cassette tape dan merchandise terbaru dari Bleach bisa liikuti melalui kanal-kanal Bleach, Disaster dan Oblivion

Common Frequencies menjadi tajuk kolaborasi antara Hijack Sandals dan Offtrack dengan mengedepankan identitas brand yang sangat mementingkan kualitas. Meskipun berasal dari dua negara yang berbeda industri yang berbeda, ada beberapa kesamaan di antara keduanya: kecintaan pada musik, identitas Asia Tenggara, dan dorongan untuk membangun komunitas di wilayahnya. Hijack Sandals bertujuan untuk melestarikan budaya sandal Indonesia, sedangkan Offtrack berupaya membantu merevitalisasi kancah musik lokal Singapura.

Koleksinya terdiri dari dua pasang Manic — siluet slip-on — dicelupkan ke dalam Warna oranye khas Offtrack dan biru phthalo Hijack. Sol oranye terang dihadirkan pada bagian bawah dan bagian atas biru, dengan kabel oranye melewati kait magnet FIDLOCK®. Sebaliknya, pasangan lainnya didominasi dengan warna hitam, kecuali garis batas biru dengan jahitan oranye sebagai aksen. Sebagai sentuhan terakhir, setiap sandal diakhiri dengan Offtrack pin enamel di tali depan. Selain itu ada juga kaus kaki dalam dua corak warna, dan apron yang dibuat khusus untuk tim Offtrack dengan edisi terbatas.

Common Frequencies akan dirilis online pada 28 Februari 2023. Dan akan diteruskan dengan peluncura di Offtrack pada 16 Maret menampilkan DJ dan set live dari Hijack Sandals dan Offtrack.

Modern Guns merupakan band dengan genre Melodic Hardcore, sedangkan GVFI adalah brand fashion yang terinspirasi oleh musik dan pantai. Maka dari itu kali ini GVFI mencoba merilis beberapa artikel, seperti tees, cagoule jacket, short pants. Diambil dari lagu “Letting Go” desain khas yang berhubungan dengan lagu tersebut sudah siap di pasarkan dan di miliki oleh kalian sebagai “pecinta” musik Hardcore. GVFI juga tidak lupa memasukan visual yang merepresentasikan lagu si “letting go” sendiri.

Produk kolaborasi ini tentunya tidak lepas dari fitur yang menunjang kalian untuk terlihat lebih keren tentunya, dengan cutting-an oversized yang khas dengan gaya hardcore sendiri. Tak lupa juga ada cagoule jacket dengan desain yang simple dan short pants yang sangat menarik.

GVFI x Modern Guns “Letting Go” reissue sudah bisa didapatkan melalui website GVFI 

Brain Beverages adalah salah satu kompilasi hardcore lokal yang cukup membuka jalan bagi kompilasi-kompilasi lokal lain sejenis, walaupun bukan yang pertama. Dirilis pada tahun 1999 oleh Harder Records (proto Grimloc Records) dan 40.1.24 Records, Brain Beverages tidak tanggung-tanggung berisi 23 lagu dari 23 band veteran seperti Puppen, Balcony, Jeruji, Homicide, Full of Hate, Noin Bullet, Turtles Jr. sampai Blind to See mengisi kompilasi ini. Tidak melulu berisi band bergenre hardcore dan punk, karena ada ska (Noin Bullet), Hip hop (Homicide) dan beberapa band yang agak sulit untuk di kotak-kotakan.

Dibuka oleh Take A Stand dengan lagu berjudul “What the Best” yang memainkan hardcore super cepat ala band-band old school youth crew. Track kedua adalah Soldier Fight yang memainkan harcore yang cukup heavy, lengkap dengan double pedalnya. Jeruji, band punk veteran dari Bandung muncul di track ketiga dengan sebuah lagu berjudul “Broken”. Disini Themfuck masih mengisi departemen vokal dan mereka memainkan hardcore punk yang cukup harsh dengan sound gitar yang terdengar seperti 2 efek metalzone digabungkan. Tajam dan raw. Authority memainkan sebuah track yang cukup groovy (“Back to Where We Belong”), band ini juga diperkuat oleh saudara kembar Layala (drum) dan Lahami (gitar) yang juga merupakan anak kandung dari musisi legendaris Harry Roesli. P.I.N. yang terdengar seperti Ramones cukup menarik pada saat itu, karena mereka terdengar beda sendiri dari band-band lain di kompilasi ini. Lagu favorit kami disini adalah “Deform” dari Groggi, yang kadang mengcover Sepultura jika dulu manggung di pensi-pensi sekolah. Overall, hampir semua track di kompilasi ini keren, bisa dibilang all killer no filler. Siapa yang masih menyimpan kasetnya?

Berikut adalah interview singkat kami dengan Baruz (ex-Balcony, Godless Symptoms), salah satu penggagas kompilasi ini:

Awal mula konsep kompilasi BB?
Berawal dari tongkrongan kios di jalan Teuku Umar Bandung, melihat banyaknya generasi-generasi muda yang membuat band ‘hardcore’, kepikiran buat sesuatu seperti kompilasi ‘Bandung’s Burning’ yang dibuat oleh Riotic Recs.

Kenapa memilih band-band tersebut?
Memilih band-band tersebut karena ya mereka satu tongkrongan sama kita, dan ingin supaya band-band ini dikenal orang lebih banyak, Salah satu caranya adalah dengan membuat kompilasi.

Track favorit di BB?
Take a stand, Homicide, Groggi, OOS, Puppen, Full of hate, Balcony, hampir semua band yang ikut serta di kompilasi ini adalah band band favorite saya.

Dicetak berapa kopi?
2000 kopi, yang saya tau dari Richard Pas band (waktu itu 40.1.24 dikelola oleh beliau salah satu nya).

Apakah ini kompilasi hardcore Indonesia pertama?
Saya kurang apal, tapi yang pasti di ingatan saya bahwa kompilasi ini terus menerus diburu, karena isi dari band-band yang ikut serta nya rata-rat sudah banyak dikenal di kalangan scene Underground Indonesia saat itu.

Siapa saja inisiator kompilasi BB ini? Mulai dikerjakan dari kapan?
Awal nya saya yang menginisiasi di jalanan, kemudian ada Febby, Jojon almarhum yang ikut membantu (inilah awal dari muncul nya Harder Records), kemudian untuk sleeve design nya sendiri dibantu oleh Helvi (sekarang Teenage death Star dan FFWD Records), juga Richard PAS Band yang ‘mendealkan’ dan membeli master dari kompilasi ini seharga 5 juta saat itu. Dikerjakan sejak 1998, ketika sedang marak nya demo penggulingan Soeharto, Dan selesai pada 1999.

;

Words by Aldy Kusumah
Photos from Baruz & ADMS

Megumimoguu adalah fotografer dan kolektor berbagai pernak-pernik vintage: handycam, digicam, kamera analog and other weird stuffs. Sebagai fotografer Megu sudah mencoba beberapa fase dari menggunakan film analog, digicam low megapixels dan sekarang handycam dengan resolusi rendah. Konten-konten dia di Instagram dan Tiktok tidak melulu soal hasil jepretan nya, melainkan tutorial menggunakan tipe-tipe kamera tertentu, tutorial mentransfer file dari handycam ke laptop dan masih banyak lagi. Dia memulai konten nya dengan mereview cafe-cafe unik dari Jakarta, Bandung, Bali, Seoul,sampai Osaka. Uniknya, Megu lebih mereview interior dan estetika kafe tersebut ketimbang terjebak menjadi food blogger. Mari berbincang dengan content creator anonim ini dan simak dimana dia hunting kamera-kamera unik di Indonesia.

Mulai kapan Megumi hobby fotografi dan mengoleksi kamera / handycam vintage?
Udah lumayan lama tuh kalau foto-foto dari SMP, kalau Instagram baru buat tahun 2021. Awalnya kan saya main Tiktok dulu, tahun 2018 lah sebelum pandemi. Suka review-review cafe gitu dibikin videonya, nah pas pandemi kan lama stay di Bali, jadi banyak bikin konten video dan foto. Tapi review kafe nya lebih ke interior dan design nya sih, bukan tentang makanan nya. Itu dari tahun 2020 dan sudah menggunakan nama Megumi yang anonim.

Waktu di Bali kan sering foto pakai analog, dan mulai ngeshare video di Tiktok hasil foto-foto film tersebut. Followers Tiktok sudah lumayan banyak kan, lalu mereka beralih ke IG pada follow dan pada pengen tau informasi roll film pakai apa, kamera pakai apa dan cara menggunakan kamera-kamera tersebut. Jadi sebenarnya konten awalnya tuh kamera analog..

Lalu mulai beralih ke digicam lo-res mulai kapan?
Setelah itu tahun 2021 akhir pas Desember itu agak mulai trend digicam lo-res kan, dari luar kaya Thailand dan Amerika. Tapi trend itu belum rame di Indonesia. Waktu itu gak sengaja di feeds IG aku ada yang jual kamera digital (@megapixelife). Habis itu aku beli karena bentuknya lucu, kamera digital pertama itu adalah Kyocera Finecam yang bisa diputar-putar. Januari pas ke Bandung dan bikin konten menggunakan kamera itu dan banyak yang nanya. Aku juga banyak hunting di Pasar Baru Atom, disitu nemu kamera-kamera lainnya yang harganya relatif murah cuma 100-200 ribu, waktu itu masih pada murah dan dibawah 500 ribu semua. Jadi dari situ aku mulai campur konten analog dan digital juga. Karena roll film naik harganya juga orang-orang mulai pindah ke digicam..
Kalau analog itu aku lebih pakai untuk special occasion kalau misal lagi jalan-jalan. Kalau handycam dari awal 2022 udah main aku..

Kamu juga kolektor kamera analog vintage, digicam dan handycam. Apa yang kamu sukai dari handycam dan digicam lo-res?
Kalau aku pribadi sih awalnya suka estetika bentuknya ya. Karena aku memang suka koleksi sesuatu yang lucu lucu gitu kak. Aku juga koleksi mainan dan barang-barang vintage. Jadi hobby koleksi ini nyambung dengan hobi fotografi aku. Setelah mencoba beberapa kamera aku makin ketagihan karena karakter tiap kamera itu berbeda. Kalau handycam pertama aku beli Canon Legria FS. Itu aku bikin konten pakai itu karena mudah dipakai, gak terlalu vintage banget lah itu keluaran 2010 dan masih menggunakan memory card. Ternyata hasilnya bagus dan bisa dipakai foto juga, mindahin data nya gampang juga. Kalau handycam yang memakai kaset baru dapat bulan Januari kemarin.

Jadi konten-konten dan branding Megumimoguu ini awalnya dari ketidaksengajaan lo yang suka travelling, koleksi kamera dan ngafe-ngafe ya?
Hmmm iya sih.. Karena aku suka semua yang tadi disebut jadi aku lakuin terus sih dan akhirnya membuat konten terus secara konsisten..

Kenapa lebih memilih mereview dan mengcapture estetika interior sebuah tempat daripada makanan nya?
Mungkin karena aku gak terlalu hobby makan hahaha.. Paling aku cuma beli kopi doang sih kak. Jadi memang ga seperti food blogger konten nya. Awalnya iseng-iseng aja foto nya, yang menurut aku bagus aja. Karena pada awalnya memang tidak pede dan ternyata orang lain juga suka konten-konten aku. Dan memang kurang hobby juga ngefoto makanan haha.. Suka lupa juga foto makanan karena langsung dimakan. Lebih ngecapture ambience nya sih..

Kenapa memakai nama Megumimoguu dan anonim dalam membuat konten?
Kalau misalnya Megumi itu benar-benar random kak. Pas bikin Tik Tok random aja pake nama itu. Kalau Moguu karena menurut aku lucu aja. Gara-gara main Mobile Legend nama aku juga aneh-aneh. Jadi memang suka nyari nama yang aneh-aneh. Dan ada teman yang graphic designer jadi dia bikin logo karakter Megumimoguu tersebut, jadi kaya branding juga sih. Kalau anonim karena gak pengen banyak yang tau sih. Orang yang pada kenal sama aku juga mostly gak pada tau, paling cuma 1-2 orang yang tahu. Bahkan orang tua dan keluarga saya juga gak tau..

Lo lebih pengen dikenal sebagai fotografer, seniman, influencer atau kolektor?
Waduhh gimana ya.. Kalau menurut kakak gimana? Hahahah.. Bingung juga sih udah campur-campur.. Sebenarnya aku bikin Instagram yang untuk commission pakai kamera film. Kalau IG utama lebih ke konten-konten passion gue aja.. Kalau kolektor sih emang dari hobby aja, basicnya suka ngumpulin dan hunting barang-barang vintage, home decor dan tentunya kamera yang vintage..

Pertanyaan terakhir, favourite spots untuk hunting kamera atau ngopi?
STC Senayan sih. Vinyl ada, dingdong ada apalagi mainan dan kamera. Lengkap tuh semua. Udah gitu sepi lagi. Yang kedua tempat nge thrift kamera jadul, Pasar Baru Atom Jakarta, harganya reasonable. Tempat ngopi yang favorit aku Midori Jakarta, ada dingdong, vinyl, cozy dan kopinya enak. Hunting kaset, vinyl dan buku-buku di Blok M Square yang kebawah itu. Pasar Santa juga aku lumayan sering kesitu. Kalau di Bandung aku suka ke Grammars. Aku selalu beli barang-barang perintilan yang lucu dan gak penting, sama poster-poster. Aku pernah bikin konten disitu lumayan viral tuh..

 

Words and interview by Aldy Kusumah

Photo taken from Meguu’s Archives

Pada tahun 2021 lalu, Avhath merilis FELO DE SE dan HALLOWED GROUND secara digital, yang mana kedua single tersebut menjadi batu lompatan dan pencapaian dari segi musikalitas mereka. Untuk pertama kalinya, Avhath melibatkan produser musik dengan mencoba menambahkan elemen-elemen dari instrumen lain yang sebelumnya tidak pernah terdengar pada rilisan mereka sebelumnya dan juga melibatkan proses dan metode rekaman yang baru untuk mereka, yaitu melalui platform daring.

Sentuhan Alyuadi Febryansyah (Heals, Fuzzy, I) yang bertindak sebagai produser dalam FELO DE SE/HALLOWED GROUND menyita banyak perhatian pendengar. Keterlibatan Alyuadi dalam kedua lagu tersebut sangatlah terdengar jelas tanpa menghilangkan esensi musik dari Avhath sendiri. Musikalitas Alyuadi dalam hal ini berkoalisi sangat apik ke dalam FELO DE SE/HALLOWED GROUND. Sebagai hasilnya, FELO DE SE dinobatkan menjadi “Karya Produksi Metal Terbaik” versi AMI Awards pada tahun 2021.

Setelah baru saja melewati usia ke-10 melalui mini showcase Pure Evil Musikk, tampaknya Avhath belum ingin berhenti. Atas dasar ingin menyuguhkan rekaman FELO DE SE/HALLOWED GROUND dengan experience yang lebih memuaskan ketimbang rilisan digital, Disaster Records merilisnya kedalam format vinyl 7” berwarna blood-red dengan efek haze. Pada tahun 2023, format ini hanya diproduksi secara terbatas, yaitu sebanyak 222 keping saja, yang juga menandakan dua tahun setelah dirilisnya FELO DE SE/HALLOWED GROUND secara digital (2021).

Rekaman dalam format vinyl ini di re-mastered oleh Alan Douches dari West West Side Studio, New York. Orang yang bekerjasama untuk mixing dan mastering Fleetwoord Mac, The Dillinger Escape Plan, Brand New, Converge, dan juga lain-lainnya. Pada artwork menggunakan foto dari Moses Sihombing yang di re-color oleh Arief Wahyudi, dan juga desain grafis oleh Sara Alisha. FELO DE SE/HALLOWED GROUND juga menampilkan liner notes dari Uri A. Putra, personil dari Masakre, Kelelawar Malam, Ghaust, dan Bertanduk!.

FELO DE SE/HALLOWED GROUND sudah bisa didapatkan di disasterposse.com atau tokopedia.com/maternalstore per hari Jumat, tanggal 17 Februari 2023.