Pada debut EP-nya, Critical Issues mempersembahkan 8 lagu dengan durasi hanya 10 menit saja. Singkat dan padat karya. Dibuka oleh raungan feedback, “Plague Years” tentunya bercerita mengenai masa-masa pada awal pandemi dengan penggalan lirik “no work / no pay / infections and death rate / and we’re trapped in fouls play”, yang tentunya menjadi kritik juga kepada pihak-pihak yang memainkan data-data pandemi untuk keuntungan mereka semata. Dilanjut oleh “Mark on Your Head” yeng bertema mengenai victim blaming, mungkin? Vokalis Rian Pelor beraksi seakan tidak ada hari esok di lagu ini, dan ketika kita sedang headbang kecil menikmati bagian chorus, tanpa disadari lagu ini sudah berakhir. Menurut Måm (gitar) isu sosial politik memang menjadi titik berat dari band ini. “Lagu “Mark On Your Head” itu adalah pengalamanku yang sempat diintimidasi dan ditahan tanpa alasan jelas oleh aparat kepolisian, hanya karena tampilanku yang hitam-hitam ahahaha.”

Trio punk/hardcore asal Palembang ini dibentuk oleh Lör (vokal) , Måm (gitar), dan Yix (drums), dan sebenarnya embrio ini sudah tercipta sejak tahun 2019 dengan melewati pergantian nama band, dan personil. Bermain di ranah hardcore punk, para personil Critical Issiues juga terlibat di band-band lain, seperti Manekin, Egoism, Disaffer, Justice, dan Dètention. Band penyantap pempek dan mie celor ini juga selalu menampilkan performa yang cukup enerjik pada live shows mereka. Mereka ingin menjadi band ideal yang menampilkan live show yang intens dan juga merilis karya secara prolifik. Dengan tema lirik yang variatif dari “Plague Years” yang membahas pandemi yang 3 tahun lalu kita rasakan bersama; dan beragam krisis yang menyertainya baik secara sosial, ekonomi, dan politik. “Hostile Takeover” bercerita tentang perang dan krisis kemanusiaan yang menyertainya, terpantik akan apa yang terjadi di Ukraina, Suriah, Palestina dan juga Papua. Menurut Lör, lagu “285” itu diambil dari Pasal 285 KUHP. “Itu dari pengalaman pribadiku ketika seorang terdekat menjadi korban pemerkosaan, dan meminta saya untuk menghadapi si predator, dan menjadi mediator karena korban tak ingin kasusnya gaduh. Sekuat tenaga menahan diri karena kehendak korban harus tetap kujaga. Amarah yang harus disimpan itu pun kuluapkan menjadi lagu itu.”. Dengan durasi yang singkat pada lagu-lagu mereka, apakah live show mereka juga akan mempunyai kesan short and sweet? Mari nantikan karya-karya selanjutnya dari Critical Issues, dan tentunya tontonlah performa mereka jika mereka mengunjungi kotamu.

 

Words by Aldy Kusumah

Pelteras, kuartet post-punk/deathrock asal Jakarta, pada Jumat (10/2) resmi meluncurkan single terbaru. Tidak hanya satu, band yang diperkuat oleh Techa Aurellia (vokal), Adam Pribadi (gitar), Achmad Raditya (drum), dan Adam Bagaskara (bass) ini merilis tiga single sekaligus yang berjudul “Palang”, “Diadem”, dan “Sarang/Kubangan”.

Pelteras menceritakan alasan di balik melepas tiga single sekaligus—atau bisa disebut maxi single—adalah karena mereka terakhir merilis karyasudah 6 tahun lebih. Pada 2016 lalu Pelteras pernah merilis single “Meranggas” dalam format digital dan kemudian pada 2017 melepas kaset single “Meranggas/Pusaran” yang dirilis oleh Lawless Jakarta Records.

Tiga lagu yang terdapat di maxi single ini ditulis oleh Pelteras pada rentang tahun 2016 hingga 2019, di mana pembangunan infrastruktur di Jakarta—salah duanya adalah MRT dan LRT—sedang pesat terjadi di berbagai titik ibu kota dan menjadi salah satu inspirasi mereka dalam berkarya.

Setelah merilis maxi single ini, Pelteras saat ini tengah menyelesaikan dan menyempurnakan album debut mereka yang rencananya dirilis pada Mei 2023.

Pada hari Valentine ini Miracle Mates merilis Capsule Collection “Magic Pleasure”. Ide utama dari Capsule Collection ini ialah Sensual dan Romantisme yang dibalut dengan visual ilustrasi yang eksentrik, dan juga dengan perpaduan warna pop yang lebih eye catching sehingga menjadi satu kesatuan tema sensual fun yang lengkap.

Dalam Capsule Collection ini Miracle Mates mengeluarkan 2 item t-shirt berwana hitam dan putih, yang merupakan perumpamaan dari seksualitas yang selalu dianggap tabu dan kerap dianggap baik maupun buruk. Tidak hanya mengeluarkan t-shirt namun, ada 2 item spesial yang akan dibagikan secara gratis untuk setiap pembelian t-shirt pada koleksi Magic Pleasure ini, yaitu satu Tissue Magic, dan dua buah Kondom yang di balut dengan Packaging Khusus.

Koleksi Magic Pleasure sudah dirilis pada 14 Februari 2023, bertepatan dengan hari Valentine yang akan dijual di seluruh marketplace resmi serta webstore milik Miracle Mates.

Dongker terus menjadi perbincangan semenjak dirilisnya Bertaruh Pada Api serta showcase pertama mereka di Jakarta berjudul Konser Sepenggal Sadar. Kali ini, Dongker merilis single ke-3 berjudul Tuhan di Reruntuh Kota yang menjadi salah sati dari 5 singel yang akan dirilis untuk full album pertama mereka.

Pada kesempatan ini Dongker melebarkan ruang artistik mereka dengan mengajak berbagai kolaborator. Tuhan di Reruntuh Kota dikerjakan bersama musisi eksperimental Tomy Herseta dan diisi juga oleh Friska (White Chorus) sedangkan pada bagian visual dikerjakan oleh pengrajin emas bernama Rafida Nur Aini yang lebih dikenal bersama brandnya Medividi.

Dongker mencoba menceritakan Tarik ulur antara Kota dengan berbagai persoalan Agama. Selain merilis singel ke-3, bersama Greedy Dust mereka mengumumkan showcase berjudul Tuhan di Reruntuh Bandung pada tanggal 5 Maret di De Majestic Braga Bandung dengan tambahan penampil BAP. & Bleach. Akan ada kelompok Teater Tuturupa yang akan membuka showcase tersebut dengan teater yang merupakan interpretasi ulang dari lagu Bertaruh Pada Api.

Jika kamu sudah familiar dengan Bakmi Badami yang buka sesuka hati dengan sistem reservasi, Mereka akan menghadirkan Bakmi Upami yang selalu buka daily di Jl. Anggrek No. 43 dengan ambience kedai bakmi yang cukup unik. Hanya saja menu yang ditawarkan Mi Upami sedikit berbeda dengan menu-menu yang hadir di Bakmi Badami pada umumnya. Faizal Budiman, yang biasa dipanggil akrab dengan nama Bob, adalah salah satu chef dan founder Bakmi Badami, yang kini menghadirkan Mi Upami dalam upaya memperkenalkan menu-menu lain yang tidak available di Bakmi Badami, dan juga sebaliknya. Dengan lokasi di Jalan Anggrek yang cukup strategis dan dekat dengan jalan Riau, sepertinya Mi Upami akan meraih lebih banyak pengunjung baru.

Photo by Omjoks
Photo by Omjoks

Mi Upami menghadirkan beberapa menu specialitynya seperti: Mi BK, yaitu mie ayam bangka dengan ayam kecap, tauge, sawi hijau, baso dan pangsit rebus. Jika ingin sesuatu yang simple ada Mi AK, yaitu mie ayam kampung rebus lengkap dengan baso dan pangsit rebus. Menurut JEURNALS, jika highlight di Bakmi Badami adalah Mie Keriting Beef Cabe gendot, maka di Mi Upami highlightnya adalah Mie KL, yaitu bakmi khas Kalimantan, dengan kondimen seperti udang, ayam chasio, ayam kecap, fish cake, baso dan pangsit. Overall, suasana bersantap disini sangat nyaman. Kami juga menyukai kuah basonya yang menggunakan kaldu ayam kampung yang direbus seharian. Point plus adalah banyaknya kondimen di meja yang bisa kamu ambil untuk meracik bakmi sesuai selera kamu: Daun bawang, bawang putih goreng, tongcay, acar cabe dan sambal. Untuk wargi Bandung yang doyan bakmi, sudah tentu Mi Upami ini menjadi list spot bakmi yang wajib dikunjungi. Jangan lupa juga untuk order baso gorengnya dengan chilli oilnya jika kesini.

 

Photos from Bakmi Upami, omjoks

Sajama Cut sudah lama menggagas proyek yang cukup monumental ini. Bayangkan saja lagu-lagu terbaik dari band veteran sekelas Sajama Cut dibawakan oleh teman-teman seangkatan mereka dan juga beberapa newcomer. 30 lagu ini dirangkum dalam 2 CD lengkap dengan kover yang cukup epik. Para kolaborator di kompilasi ini adalah: Neonomora, The Sugar Spun, Sal Priadi, A Curious Voynich, Lomba Sihir, Adrian PDM, Nearcrush, Hawktactic, Cotswolds, Polka Wars, Ade Paloh, Muchos Libre, IKEI, Methiums, Bin Idris, Ikkubaru, Secret Meadow, Pandu Fuzztoni, Ghost Fever, Ache, Texpack, Adrian Adioetomo & Daniel Mardhany, White Noir, Meet the Doppelganger, Sirati Dharma, Polyester Embassy, Peonies, Pale Skies, Bottlesmoker, dan Outrage + Hans Citra Patria. Whew, that’s a lot of names.

Dibuka tanpa basa-basi oleh Neonomora yang meracik “Bloodsport” milik Sajama Cut menjadi sebuah sajian ‘80s electro pop yang upbeat, bahkan tidak akan terasa out-of-place jika versi ini ada di soundtrack film Drive milik Nicolas Winding Refn. A Curious Voynich mengcover “Terbaring Di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyum”, sebuah lagu yang menjadi penutup dari album terakhir SC yang berjudul “Godsigma”. Versi ini terasa sedikit lebih jangly walau tetap menghembuskan nafas alternative rock. Menarik. Salah satu highlight disini adalah anthem “Less Afraid” yang dibawakan oleh Lomba Sihir dengan nuansa pop yang beririsan dengan arena rock. Judul kompilasi ini pun diambil dari chorus lagu ini.

Pemetaan urutan tracklist disini patut diacungi jempol dan sepertinya Marcel dan cohorts nya sangat memikirkan urutan lagu di kompilasi ini dengan sangat matang. Beberapa lagu lain yang cukup menjadi favorit kami adalah kolaborasi Nearcrush dengan Collapse (dimana Andika Surya bermain drum pada lagu ini). Entah kenapa mereka memilih lagu “Season Finale” yang tidak terlalu populer, tapi aransmen cover version mereka terasa pas dan cukup catchy, tidak salah apabila lagu ini masuk ke “100 lagu Indonesia terbaik 2022” pilihan Pop Hari Ini. “Speak in Tongues” versi band post-punk asal Surabaya, Cotswolds, juga sangat menarik. Bahkan membuat lagu suram ini menjadi danceable. Track terkeras (dan terngebut) disini jatuh pada one-man band Methiums yang membawakan “Fallen Japanese” menjadi sebuah track djent metal yang melebur dengan punk, ala Strung Out. Lalu ada Ikkubaru dengan irama Japan city-popnya yang mengkover “Paintings/Pantings”. Tidak lupa track experimental “Terdampar” dimana delta blues bertemu ambient noise (Adrian Adioetomo & Daniel Mardhany). Sepertinya tulisan ini akan terlalu panjang jika kami meneruskan excitement kami saat memutar CD kompilasi ini. Overall, a great compilation indeed. Dengan diskografi yang cukup prolifik, sudah sepatutnya Sajama Cut merilis sesuatu yang monumental seperti ini.

Akhir-akhir ini, nama Dongker selalu bersinonim dengan show yang penuh keringat, stagedive, sing-along, fist in the air dan penonton yang pulang dengan tersenyum lebar. Dongker adalah quartet yang terdiri dari Arno (gitar & vokal), Delpi (gitar & vokal), Bilal (bass), dan Dzikrie (drum). Mereka memainkan musik punk dengan sound gitar yang cukup raw, dan terkenal akan live shownya yang enerjik dan durasi lagu yang singkat. Kalian bahkan bisa mendengar 2 EP mereka hanya dalam waktu 10 menit saja. Karena Dzikrie berhalangan hadir, mari berbincang dengan Arno, Delpi & Bilal mengenai pengalaman Arno yang hampir mati di panggung dan insiden Dongker di grebek oleh warga pada saat beres manggung di Solo..

Siapa Asmudjo yang kalian sebut di lagu “Terlalu Bodoh Untuk Bandung”? Apakah dosen ITB tempat kalian kuliah? Awalnya memutuskan ngeband gara-gara satu kampus ya?
Delpi: Iya itu dosen Senirupa ITB, dosen saya, Bilal sama Dzikrie. Dia ngajar beberapa mata kuliah teori, disebut sebagai bapak kontemporer Indonesia. Apa sih Lal pameran tunggalnya dulu?

Bilal: Maju Gak Bisa, Mundur Gak Bisa gitu ya? Lupa lagi. Dia ngajarin seni eksperimental dulu..

Delpi: Dia ada statement di pamerannya bahwa ga ada yang original. Cuma dia aja yang orisinil, karena itu nama instagram nya Asmudjo Asli, yang lain seniman palsu..

Bilal: Iya betul kita ketemu di kampus ITB dulu, dulu aku, Arno sama ada satu teman lagi sering nongkrong di kontrakan Delpi.

Delpi: Dulu saya ngekos mas bareng Bilal, Arno dan teman satu lagi, cuma dia gak diajakin ngeband karena gak bisa main musik, bisa nya bikin tank dan senjata perang. Kalau dulu sama pas tingkat satu kurang dekat sama Dzikrie.. Pas tingkat 2 mulai dekat..

Bilal: Dia wibu soalnya mas hahaha..

Arno: Dzikrie temenan nya banyak sama wanita soalnya mas.. Kita dulu masih malu sama wanita waktu itu..

Arno photos by @darkofmoist_ (Prita)

Sound gitar kalian terdengar raw di rekaman dan versi live kalian. Sound gitar ideal versi kalian itu yang bagaimana sih?
Arno: Kalau aku sih di musik garage itu paling suka sound clean kaya Dark Thoughts gitu mas.. Sedikit overdrive tapi cempreng. Tapi ada nge fuzz nya dikit.. Kalau buat di musik punk paling suka sound kaya gitu buat gitar. Biar ga cape downstroke terus..

Nanti tangan nya gede sebelah ya kaya Ramones dan Misfits kalau downstroke terus haha..
Arno: Oh iya bener gede sebelah tuh mereka haha..

Delpi: Kalau jenis suara efek saya sepakat sama Arno sih, cuma kalau di gitar saya suka gitar yang menumpuk di layer-layer atau penempatan nya jelas di lagu tuh.. Ada beberapa band yang gitar nya 2 tapi ga signifikan kenapa gitar nya 2. Kaya album Arctic Monkeys yang gambar orang ngerokok itu terasa ada 2 manusia yang main gitar. Menurut saya suara gitar yang bagus itu terdengar kenapa urgensi nya misal harus 2, 3 atau 4 orang..

Bilal mungkin mau nambahin sound bass yang ideal menurut lo?
Bilal: Saya suka Frankie Sadikin. Skillful tu orang Indonesia kaya gitu, cuma dia kan memang jago. Sound bass Parquet Courts juga saya suka, slide-slide nya enak, sound nya agak bulat juga..

Delpi photos by @darkofmoist_ (Prita)

Musik kalian terdengar catchy, layaknya band-band seperti Protex dan The Dickies. Album punk terbaik versi masing-masing personil apa? Dan Kenapa?
Arno: Dark Thoughts. Band 2013 gitu mas. Albumnya yang self titled. Dari segi sound dan vokalnya tuh kaya yang nyanyi bahasa Inggrisnya cepat. Aku tuh terinspirasi live music dari mereka, gitar juga SG, terus dia itu bertiga.

Delpi: Blitz yang album Voice of A Generation. Mereka tuh band Oi punk secara fashion, dan visual, cuma secara musik berkembang terus, ga seperti band punk yang lain, lebih open minded musikalitas nya. Kaya Cock Sparrer juga kesan nya seram tapi saya suka. Cuma yang representatif buat Dongker itu Blitz.

Bilal: PUP punk bukan sih? Kalau aku sih selain musiknya suka penampilannya dulu sih, dan artwork kemasannya. Albumnya yang The Dream is Over.

Bilal photos by @darkofmoist_ (Prita)

Siapa saja yang menulis lirik di Dongker?
Arno: Kaya single terakhir yang “Sepenggal Sadar”, itu lirik dari Delpi lalu aku rubah. Atau misal aku yang bikin lirik pasti diubah juga sama Delpi… Jadi dari intro sampai outro itu dinamikanya sedih secara lirik..

Delpi: Awalnya tuh judulnya “Setengah Sadar” tapi sama Arno diubah jadi “Sepenggal Sadar”. Kebanyakan saya sama Arno. Arno itu banyak imbuhan nya. Kalau ada hal yang diluar orang pada umumnya itu pasti Arno. Kaya suara kambing. Nanti di album ada suara gorila..

Lirik-lirik lagu kalian bertema perlawanan pada otoritas tetapi kadang bersifat nihilist juga. Kalau disuruh memilih, kalian lebih suka lirik-lirik yang berbahaya seperti Crass, intelek seperti Propagandhi atau lirik yang lebih bersenang-senang seperti The Queers?

Arno: Kalau The Clash tau sih agak-agak politis.. Aku sih pengen nya bersenang-senang, komedi gitu, tapi ada politiknya biar tajam aja sih..

Delpi: Crass No, bukan Clash.. Saya ketiga-tiganya gak begitu suka sihh.. Kalau di Dongker gak cuma di lirik aja sih penerapannya. Meskipun “Bertaruh Pada Api” liriknya agak sedih, secara gimmick dan pembawaan kita tetap fun, Arno masih pakai topeng di panggung, merchnya tampilan kartun, live show kita pada senyum ketawa.. Gak semua elemen di Dongker berfokus ke satu titik..

Arno: Rencana di 4 track di album mendatang yang nanti mau kita rilis itu, saya juga bingung nanti live nya gimana mau dibawa senang-senangnya. Saya kan orangnya olah rasa banget nih. Gatau sih ntar kayaknya sedih albumnya..

Kemarin saya liat di IG, Dongker sedang rekaman di Downton Market Studio ya? Sedang merekam single baru atau menggarap album?
Delpi: Sebenarnya udah hampir setahun nih, mulai bulan Juni 2022, udah direkam 11 lagu gitarnya. Target 13 lagu. Tadinya mau 22 lagu, cuma setelah sharing sama anak-anak Sun Eater katanya kebanyakan.

Arno: Iya terlalu banyak bisa jadi 2 album..

“Bertaruh pada api” itu tema besar liriknya bercerita tentang apa?
Delpi: Ini tentang patah hati terhadap Jokowi mas hahaha..

Arno: Jokowi? Bukannya tentang perselingkuhan Pi?

Delpi: Saya pribadi ngerasa Dongker itu sulit untuk bikin lirik yang spesifik menceritakan suatu kejadian. Misal Tigapagi yang menceritakan kejadian tahun ‘65. Atau “Bioskop Pisau Lipat” milik Melancholic Bitch itu kan spesifik pengalaman anak-anak Melbi pas dipaksa menonton film G30SPKI di bioskop. Karena itu banyak lagu kita itu menghadirkan pengalam personal kami ke bahasa yang lebih umum. Bahkan ada 1 lagu itu menceritakan tentang keluarga teman atau kesedihan yang dirasakan teman saya ketika istrinya meninggal. Jadi dekonstruksi nya lebih umum.

Video “Batas Pedut” dibuat oleh Bilal ya? Ide awal memakai teknik animasi rotoscope di video “Batas Pedut” dari mana? Gimana proses penggarapan video itu?
Bilal: Awalnya melihat efektivitasnya aja sih. Waktu itu terburu-buru oleh deadline, akhirnya kita memakai metode rotoscope dan memilih lagu itu karena durasi lagunya paling pendek cuma 34 detik. Paling masuk akal untuk dibikin animasi ya lagu itu, prosesnya panjang soalnya kalau bikin animasi. Sebenarnya belum maksimal, tapi yang ditonjolkan adalah teknik hand drawingnya raw dan kasar ala punk.

Dzikri photo by @darkofmoist_ (Prita)

Arno sering menggunakan topeng kupluk yang cukup iconic setiap perform live dan itu menjadi ciri khas Dongker. Kenapa cuma Arno aja yang pakai? Ide dari mana awalnya memakai topeng setiap perform?
Arno: Awalnya untuk menutupi ketampanan mas… Awal main pakai balaclava di acara Taman Sari Melawan, tapi masih balaclava Eiger. Saya pengen Dongker masuk ke pengkondisian Taman Sari, pakai balaclava biar anarkis.. Tetapi sebenarnya ingin menutupi muka sih, orang-orang yang nonton serem soalnya.. Nah kalau udah pakai topeng jadi lebih pede aja. Lalu semenjak itu jadi pakai topeng terus. Dan dulu juga saya gondrong jadi pakai balaclava biar rambut ga ganggu pas main gitar.. Lalu sesudah pandemi aku bikin balaclava ke teman namanya Sasa Yarn Eater, custom bikin yang unik, tambahin rambut mohawk punk nya sekalian..

Delpi: Saya sih pernah nyobain maen pakai balaclava tapi pusing, pengap mas.. Waktu di Gudskul gak keliatan apa-apa dan pusing, nyanyi juga susah. Tapi kalau Arno sudah terbiasa nyanyi pakai balaclava. Sudah menyatu dia.

Bilal: Kalau Delpi gak mau menutup ketampanan nya kayaknya mas hahaha.. Kalau saya rencana malah manggung pakai peci..

Arno: Waktu konser “Sepenggal Sadar” di Gudskul juga kita semua pakai balaclava semua personil. Cuma di 2 lagu awal, karena pada eungap..

Dengar-dengar kemarin ada insiden banyak penonton naik ke panggung dan sampai mengganggu performa Dongker (bahkan sound monitor ada yang mati). Bisa elaborasi sedikit?
Arno: Sebetulnya gara-gara Dongker punya ekspektasi main bagus sih di SFTC sebab memang acara tersebut ngomongin musiknya sebagai bentuk apresiasi & didokumentasikan secara proper, makanya kami sudah mempersiapkan untuk main bagus, jadinya kami hanya sedih sendiri ketika kemaren mainnya cukup buruk sebab adanya gangguan teknis dan lain-lain, kami emang tidak ada persiapan untuk kondisi seperti itu & kami pengen punya momen keren di SFTC, alhasil kekecewaan yang terjadi, jadi sebenarnya tidak ada salah benar di kejadian kemarin tapi hanya lebih ke tepat atau tidak tepat aja, bagi aku pribadi kemarin tidak tepatnya adalah ketika penonton naik dan tidak mengerti kondisi konteks acara SFTC yang memang kami sebagai performer punya ekspektasi kepuasan untuk unjuk gigi musik kami sendiri. Kebetulan juga output dari SFTC kan musik video di Youtube dan itu menjadi kesempatan pertama Dongker dilihat sebagai band yang bagus secara aksi panggung dengan video yang ciamik.

Delpi: Disamping tindakan merebut mic tanpa concern memang mengganggu kami memiliki ekspektasi tinggi dalam show SFTC kemarin seperti kata Arno karena memang akan menjadi salah satu dokumentasi live yang baik dari tim SFTC. Karena ekspektasi tersebut saya cukup bete dan akhirnya terus menendang dari awal set sampai akhir. Tapi tindakan saya ini tidak sepenuhnya dibenarkan oleh rekan band saya, karena setelah show berakhir Arno memberi teguran kepada saya untuk lebih sabar jika ada hal diluar kendali terjadi saat di panggung.

Versi masing-masing personil: Live show kalian yang paling berkesan?
Delpi: Kalau kejadian unik di Solo sih. Mau siapa nih yang cerita nih hahaha.. Bilal saksi pertama nih..

Bilal: Kalau ini bukan venuenya, lebih ke peristiwanya, kita di grebek warga pas lagi nginep, kirain masalah nya gara-gara kita menginap disitu. Taunya masalah personal yang punya kos-kosan nya..

Delpi: Jadi pagi-pagi Bilal bangunin saya jam 8. Bilal kan ga ngerti soalnya orang-orang marah pakai bahasa Jawa, ternyata kita diusir dari kontrakan nya. Hubungan warga dengan penghuni kontrakan ternyata kurang baik. Gigs nya lancar, setelah main ngegigs kita makan dan nongkrong. Lalu kita dititipin di kontrakan itu. Datang kita langsung tidur karena sudah capai. Tau-tau pagi-pagi digrebek dan kita gatau ada apa..

Arno: Yang kemarin terakhir ya mas? Nah kalau di Gudskul pas konser “Sepenggal Sadar” itu adalah pengalaman pertama saya seperti mau dicabut nyawanya. Pengap parah karena saya salah kostum. Pakai wearpack bahan nya tuh panas dan anti air, dan pakai balaclava baru yang agak tebal. Kondisi juga saya capek karena nyetir dari Bandung ke Jakarta. Massa udah main gila semua di gigs itu, dan saya sebagai performer juga harus menunjukkan kalau saya main dengan gembira. Saya gak bisa nafas, sudah mau pingsan di lagu kedua terakhir. “Wah saya mati disini kayaknya mas”. Gapapa deh mati disini.. Karena suhu badan saya ketahan di wearpack saya, untungnya masih bisa nyanyi dan main gitar. Ini pengalaman paling melekat sepanjang manggung.

Bilal: Beres acara Arno langsung telanjang mas diluar..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photos by Bimanda Dharma, Prita Darkofmoist, Delpi

Maja Family, sebuah urban hospitality group yang berlokasi di Bandung, Bali, dan Jakarta, kembali menggelar pop-up market di dalam kamar yang bertajuk Room to Room. Sebagai pelopor, Maja Family telah sukses menyelenggarakan empat event Room to Room yang sebelumnya berlokasi di Bandung dan Bali. Room to Room Vol. 05 kali ini telah digelar di The House Tour Hotel Downtown, pada tanggal 3-5 Februari 2023 lalu.

Khusus untuk gelaran Room to Room Vol. 05 ini, Maja Family secara eksklusif mengajak rombongan Key Opinion Leader, Influencer, dan Business Owner untuk turut serta menjual preloved items mereka mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga branded dan luxury items. Diantaranya ada Benny R Gautama, Gadis Tunggadewi Sastriya, Annisa Hudaya, Kumiw, Armita Sunaryo, Zahra Tamara, Irmasari joedawinata, Winda mariskha, Irma Monel, Tintin Monel, Minna Monel, Zahratuljannah, dan Valerie Florenzia.

Menariknya, selain menyediakan experience berbelanja di dalam kamar hotel, Maja Family juga akan mengadakan acara Bakery Station Opening di Merindu dengan turut mengundang berbagai komunitas dari dunia Fashion, Olahraga, Lifestyle, hingga Kuliner. Tidak hanya itu, mereka juga akan menghadirkan beragam menu andalan artisan bakery yang dikreasikan dengan cita rasa nusantara khas Merindu seperti Croissant Fusion isi Chicken Curry, Prawn Balado, dan Gado-Gado.

Berbicara soal pop-up dan bakery station opening ini, General Manager Maja Family, Sunar Rahmanto mengatakan “Dua event ini merepresentasikan image Maja Family sebagai Urban Hospitality Group yang terdiri dari beberapa hotel, restaurant, fashion dan juga brand fashion di Bandung, Bali, dan Jakarta, dengan membuat sebuah aktivasi unik yaitu menghadirkan experience berbelanja di dalam kamar serta bakery station opening dengan kreasi cita rasa nusantara.”

 

 

Solois asal Bandung , EAZZ yang merupakan moniker dari Alfi Fisrifan akhirnya merilis maxi-single bertitel Soft, Frail, Blue. Satu tajuk anyar, dimana memuat dua buah lagu dengan ngaran “Blue Wine” dan “Soft and Frail”. Maxi-single tersebut resmi diperdengarkan di berbagai digital platform services; seperti Spotify, Apple Music, Deezle dan lainnya mulai tanggal 3 Februari 2023. EAZZ yang memainkan ceruk rock alternatif bercorakan riuh shoegaze ini mencoba merangkai kisah yang terinspirasi dari masa lampau. Dari dua tembang yang tercipta ini sama-sama memiliki energi tentang seseorang yang memiliki kisah masa lalu, namun yang membedakan hanyalah situasi.

“Blue Wine” dan “Soft and Frail” mendapatkan proses pembuatan yang terbilang singkat. Alfi memulai menulis kedua lagu tersebut sejak Agustus 2022. Penggarapan semua instrumen terjadi di kediamannya, kecuali departemen vokal yang dilakukan di Hometrack milk Varis Sechan yang pula merangkap sebagai operator sekaligus membantu direksi lini vokal tentunya. EAZZ mempercayai potensi bahkan kemampuan Varis guna meramu Soft, Frail, Blue di wilayah mixing maupun mastering.

Maxi-single berdurasi hampir 10 menit ini bakal juga tersedia dalam format fisik, yakni cassette tape yang dimana sampulnya dikerjakan oleh desainer visual bernama Budi Pratama. Label rekaman Husted Records jadi pihak yang bertanggung jawab guna menelurkan kaset serta bundling merchandise yang pastinya tidak boleh terlewatkan. Selang merilis format digital dan tentunya fisik, rencananya akan dihelat sebuah mini showcase merayakan hadirnya Soft, Frail, Blue.

Kuintet hardcore/powerviolence anyar asal Bandung, Nut baru saja merilis debutnya lewat maxi-single yang memuat dua nomor, “Forced To Obey” dan “You Coward” pada 5 Februari 2023 dan sudah dilempar ke berbagai kanal musik digital. Dalam debut maxi-single ini, Nut memanifestasikan rasa depresi mereka terhadap kejanggalan di lingkup sosial yang – baik langsung maupun tidak – kita selalu berurusan dengannya.

Meskipun terkesan bias karena cakupannya yang luas, namun lewat debut maxi-single ini mereka ingin memuntahkan apa yang mereka lihat – baik jarak pandang dekat mau pun jauh – ke dalam kubangan audio kasar dengan suntikan hardcore berbalut gaya poweviolence dengan polesan sound modern. Tak lupa, durasi irit guna memantik kepekaan telinga pendengar dengan cepat. Kedua lagu ditulis dengan point of view personal yang tentunya memuat kemuakan bersifat personal pula. Rencananya, maxi-single ini merupakan teaser mereka menuju (mini) album mendatang yang keterangan lanjutnya belum dapat dipublikasikan. Diselingi rilisnya merchandise berupa t-shirt guna memenuhi kantung band untuk melanjutkan aktivasinya karena sejauh ini, mereka masih melakukan segalanya secara mandiri (termasuk perilisan maxi-single ini).

“Forced To Obey/You Coward” sudah bisa didengarkan di berbagai media platform musik streaming.