KEEP KEEP Musik sudah membuka pintunya dari tahun 2016, dengan konsep seperti sebuah one stop destination, dimana kamu bisa digging vinyl-vinyl favorit kamu, makan, ngopi, bahkan dalam beberapa occasions mereka seringkali menjadi tempat aktivasi dan juga pertunjukan gigs band-band favoritmu. Beberapa brand pun pernah melakukan launching produk disini, dan KEEP KEEP pun bisa memfasilitasi semua itu dengan halaman parkir yang luas, open space dan sebuah ruangan display yang bisa memenuhi kebutuhan para klien.

Tentunya, banyak juga beberapa pengunjung yang menikmati estetika interior dan penataan home decor di Keep Keep sehingga seringkali menjadi spot foto. Untuk food and beverages ada Sejiwa Coffee yang menetap di area KEEP KEEP sehingga sudah pasti hidangan makanan dan kopi favorit kalian juga akan terpenuhi disini, ditambah alunan musik yang sudah terkurasi dari team KEEP KEEP, tentunya kalian mungkin hanya perlu men-shazam (dan mungkin membeli vinylnya jika tersedia) untuk menambah wawasan musik kalian.

Di dekat area tempat makan juga terdapat sebuah thrift store unik bernama Kameo yang memiliki barang-barang terkurasi dari kaos-kaos musik vintage sampai collectible items seperti Akira action figures, pullover Richardson, sandal Suicoke sampai kaos Sade bootleg. Oh iya, Keep Keep juga sering mengadakan pameran dari beberapa seniman dan mereka juga sering merilis merchnya sendiri dari graphic tees sampai tote bag dan celana. Kunjungi segera Keep Keep di Jl.Kiputih No. 1A, Bandung.

 

Photos from KEEP KEEP Archives

Jika kamu tumbuh mendengar dan melihat perkembangan Pure Saturday dari debut albumnya yang dipasarkan melalui mail-order majalah Hai pada tahun 1996, sampai mereka mulai mengeksplorasi ketertarikan mereka pada musik prog-rock di album Grey (2012), tentunya band ini sudah menemani kamu di beberapa fase hidup kamu. Fast-forward ke tahun 2023, sebuah kolektif yang bernama Jangan menginisiasi sebuah album kompilasi tribute untuk Pure Saturday yang diisi oleh band-band “baru” dengan tujuan untuk memperkenalkan musik Pure Saturday ke generasi sekarang. yang dulu mungkin tidak pernah mengalami masa membeli kaset Utopia (1999) dari Aquarius Dago dan melihat Pure Saturday perform di Saparua dengan formasi original.

Tampaknya 16 band yang telah dikurasi oleh Jangan Kolektif ini bervariatif secara genre. Track 1 dibuka oleh Bleach yang mengkover lagu “Coklat” dengan versi mereka sendiri, dan terdengar seperti peleburan terbaik dari Nirvana era “In Utero” dan Title Fight era “Hyperview”. CAL membuka track 2 dengan kover “Utopian Dream” yang versi aslinya adalah sebuah lagu akustik. Disini Gilang Hade mengaransmen “Utopian Dream” menjadi sebuah track shoegazing yang tidak terdengar out of place apabila dirilis oleh Creation Records di era ‘90an awal, lengkap dengan wall of sound yang mengawang. Band indie-rock Erratic Moody membawakan “Pagi” dengan versi mereka yang lebih ceria, and they did it right. Track ke 4 adalah salah satu track favorit kami di JEURNALS, dimana Lamebrain membawakan “Pathetic Waltz” dengan nuansa bluesy americana yang spacey, lengkap dengan slide guitar dan harmonika. Loner Lunar pun dengan brilian menyelipkan petikan gitar “Kosong” di dalam lagu “Silence” yang mereka kover dengan elemen indietronica, trip hop dan glitch pop. Band alternative-rock Nearcrush membawakan “Langit terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku, Pikiranmu?” dengan sedikit nuansa sinkop math rock yang dilengkapi gitar jangly. Diakhiri oleh upbeat perpaduan hi-hat dan tambourine, LTLMTPP seolah diberi angin segar dengan aransmen baru. Di lagu ini juga mereka dibantu oleh Friska dari White Chorus pada departemen vokal dan synth.

Cukup mengejutkan juga, ternyata lagu “Nyala” milik Pure Saturday bisa dibawakan Olegun Gobs dengan versi ska khas mereka, tanpa terasa dipaksakan. Jenius. Rasukma yang membawakan “Elora” adalah salah satu bukti nyata dimana sebuah lagu cover version bisa “lebih bagus” dari versi asli nya. At least menurut saya. Siapa sangka “Elora” akan terdengar lebih epik dengan versi folk nusantara yang dimainkan dengan notasi pentatonik. Jika album kompilasi ini mempunyai single, mungkin “Desire” versi Ray Viera Laxmana adalah single nya. Setalah Ray, Rub of Rub juga dengan jenius mengaransmen “Awan” dengan nuansa dub psychedelic yang trippy di track berikutnya. Saturday Night Karaoke dengan brilian mengganti seruan “Hey ho let’s go” dengan “Pure Sat, Turday!” pada track “A Song”. Sheeka membawakan lagu Pure Saturday favorit saya “Gala” dengan beat yang mengingatkan saya pada Phoenix dan The Groove. Suarloca berhasil menjadikan “Labirin” menjadi sebuah track yang lebih dark dari versi aslinya, seolah lagu aslinya tidak cukup gelap. The Couch Club dan lagu “Spoken” adalah roti dan mentega, keduanya saling mengkomplemen masing-masing. “Spoken” dengan part rapping? Kenapa tidak. The Panturas juga berhasil merubah “Di Bangku Taman” menjadi sebuah track surf rock ala mereka, seolah kerasukan arwah Dick Dale dan The Ventures. Track penutup dibawakan dengan epik oleh The Sugar Spun yang mengkover “Simple” dengan aransmen yang sederhana namun ajaib. Overall, kompilasi ini bisa jatuh kepada kategori all killer no filler. Tapi kenapa tidak ada yang mengcover lagu “Kosong” ya? Hehehe..

 

Words by Aldy Kusumah
Photos by Disaster Records

Mendekati rilis album penuhnya, Bleach memberikan “kisi-kisi” melalui EP bertajuk Chrome. yang dirilis pada Jumat, 3 Februari 2023 dalam format digital. Chrome berisikan empat lagu, termasuk “Ice Cold” dan “Overcast” yang telah dirilis terlebih dahulu.

Empat lagu yang masuk kedalam EP Chrome yaitu “Ice Cold”, “Overcast”, “Scales” ft Andika Surya (Collapse) dan “Chrome”. Meskipun Kevin dkk telah membocorkan setengahnya, tapi dua lagu tambahan yang ada di dalam EP Chrome menjadi penggambaran garis besar flow dan komposisi untuk full album-nya mendatang. Nuansa musik hardcore dan sedikit sentuhan grunge terdengar di “Ice Cold” dan “Overcast”. Namun, untuk “Scales” dan “Chrome” unit hardcore asal Bandung ini mencoba untuk mencampurkan berbagai referensi musik yang lebih luas untuk diterapkan ke dalam musik hardcore yang menjadi identitas Bleach.

Setelah dirilis dalam format digital, EP Chrome akan dirilis juga dalam format kaset oleh Disaster Records dan Oblivion Records pada 23 Februari 2023. Dan dikabarkan bahwa Bleach akan merilis video klip Chrome dalam waktu dekat.

Dué Hatué Siap Gelar Pop-Up dan Exhibition Perdana di Jakarta dan Bandung Bawa experience studio mereka ke luar pulau Bali lewat 500 tattoo flash eksklusif, artisan furniture, jewelry, dan layout spesial.

Tattoo studio yang berbasis di Bali, Dué Hatué, bakal menyelenggarakan pop-up and exhibition spesial untuk pertama kalinya di luar pulau Dewata. Pop-up and exhibition dari tattoo studio yang sudah berusia 6 tahun ini akan berlangsung selama dua minggu berturut-turut di dua kota. Acara ini akan dimulai di Kala Karya Karya Gallery, Jakarta, dari tanggal dari tanggal 6-10 Februari lalu berlanjut ke Bandung, di Rumah Gautama, pada tanggal 14-18 Februari.

Processed with VSCO with fp8 preset

Dalam pop-up and exhibition perdana mereka ini, Dué Hatué mengajak rombongan tattoo artists-nya untuk turut serta. Kelima tattoo artists dari Dué Hatué ini sendiri punya masing-masing style yang kuat dan khas yang selama ini jadi karakter studio mereka. Tattoo artists dari Dué Hatué tersebut adalah Shiddiq Machmud dan Fuad Machmud yang dikenal dengan style modern kontemporer tribal yang menggabungkan elemen tradisional Indonesian heritage dan modern art—yang jadi cetak biru karakter dan style tato dari Dué Hatué sendiri, lalu ada Rizal Herrera dengan style blackwork neo-traditional-nya, Lucky Louis yang fokus di elegant dan fine line ornaments yang terinsipirasi dari berbagai culture di seluruh dunia, dan terakhir ada Kuro Neko dengan style tato yang menggabungkan sejumlah elemen
tradisi Jepang dengan referensi pop culture dengan sentuhan personalnya yang dipengaruhi oleh latar belakangnya di dunia street art.

Khusus untuk gelaran ini, kelimanya secara eksklusif membuat total 500 tattoo flash. Nantinya, tiap artist-nya akan menyediakan 5 slot per hari di tiap kota, dan akan menerapkan sistem booking & appointment only via website mereka. Menariknya, selain menyediakan karya tattoo eksklusif dari tiap artist-nya, Dué Hatué juga akan mengadakan exhibition spesial yang menampilkan karya mereka lainnya dalam
berbagai medium, mulai dari artisan merchandise karya Shiddiq dan Fuad, jewelry, furniture, dan studio merchandise mereka sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga akan mendekorasi setiap tempat pop-up and exhibition-nya nanti persis dengan studio mereka di Bali untuk menghadirkan energi dan experience khas mereka.

Berbicara soal pop-up and exhibition-nya ini, mereka mengatakan, “Selain untuk showcasing dan exposure, tujuan kami melakukan ini adalah untuk merepresentasikan dan merealisasikan karya dalam berbagai medium sebagai pengembangan budaya dan tradisi.”

“Kami juga ingin membawa experience studio Dué Hatué ke audiens yang lebih beragam dan luas, mengekspresikannya dalam layout tempat, dekorasi, dan musik yang diputar nantinya di tiap lokasi,” lanjut mereka. Bagi Dué Hatué sendiri yang berangkat sebagai tattoo studio lalu berkembang menjadi entitas yang lebih besar dengan produk-produk seninya selain tattoo, exhibition ini juga salah satu bentuk dari perwujudan prinsip dan cara kerja mereka selama ini. “Kami pikir, karya itu bisa berkembang dan berevolusi, tidak terbatas medium. Jadi kami hanya memaksimalkan potensi diri sembari jadi diri sendiri dan memahami apa yang akan dilakukan,” jelas mereka. Untuk informasi dan detail lengkap soal Dué Hatué Pop-Up and Exhibition pada Februari 2023, silakan langsung mengunjungi sosial media resmi mereka di sini.

Stereo Night Club adalah sebuah perhelatan yang diinisiasi oleh 2 program radio OZ yaitu Substereo dan Thursday Night Club. Acara kolaborasi antara Substereo dan TNC ini pun di kemudian hari akan menjadi sebuah perhelatan yang diadakan setiap bulan dengan line-up band yang berbeda. Untuk gigs perdana nya, Stereo Night Club memilih Vandal Bar sebagai venue, mungkin karena lokasinya yang strategis, area parkir yang luas dan sudah cukup dikenal juga sebagai tempat yang mengakomodir gigs-gigs seperti ini.

Line-up Stereo Night Club Vol. 1 ini cukup menarik: Vertical Abuse, Swarm, Iron Voltage dan Collapse. Vertical Abuse membakar panggung dengan fusion hardcore/metal/punk khas mereka. Walaupun crowd belum terlalu banyak dan belum “panas”, Vertical Abuse mampu menyajikan setlist yang cukup enerjik. Swarm tampil berikutnya dengan sajian screamo mereka. Band ini uniknya selalu membawa lampu-lampu berdiri untuk properti panggungnya, yang menambah kesan teatrikal dan gloomy. Swarm bermain rapih malam itu. Single “Kelambu di Tapal Batas” dibawakan dengan apik, dan mengajak crowd bernostalgia ke era tahun 2000an dimana band-band screamo merajalela.

Pada saat band thrash metal Iron Voltage bermain, crowd sudah memanas dan berdansa. Edy sang vokalis seakan memberi kode kepada para penonton untuk mengikutinya headbang sambil diiringi “Devastation” yang selalu menjadi andalan mereka saat perform. Pada saat Collapse naik ke panggung, Andika Surya dan cohorts nya membawakan “Cathedral”, dan salah satu lagu Collapse favorit saya “Chloe”. Pada saat “Cold November” berkumandang, para penonton sudah tidak bisa menahan keinginan mereka untuk stage dive dan crowd surfing, tampak beberapa security panik dan naik ke panggung karena mungkin belum terbiasa dengan pemandangan seperti itu. “Blood Bank” cover version Bon Iver pun dibawakan dengan apik malam itu.

Overall, sebuah acara perdana yang sukses. Stereo Night Club vol. 2 tentunya akan sangat dinantikan crowd yang pulang berbahagia malam itu.

 

Photos by Fabian Insan Faturrahmhan