Distopia adalah masyarakat fiksi yang merupakan antitesis dari utopia. Ditandai dengan kontrol sosial yang menindas. Sebuah tempat atau keadaan imajiner di mana kondisi kehidupan sangat buruk: kekurangan makanan, penindasan, teror, pemerintahan totaliter, penyakit merajalela, medan pasca-apokaliptik, pasca bencana alam, teknologi siber-genetik, kekacauan sosial, dan kekerasan urban yang meluas. Ini adalah beberapa tema umum dalam film dystopian, dan inilah beberapa film favorit saya yang mewakili tema-tema sci-fi distopia..

TRON (1982) – STEVEN LISBERGER
Salah satu film pertama dari studio besar (diproduksi oleh Disney ) yang menggunakan grafik komputer (CGI) secara luas sebelum waktunya, Tron ​​memperoleh status cult dengan sangat cepat setelah dirilis, tetapi tetap mempertahankan status keren nya dengan menjadi film underdog low-budget. Dengan setting realitas alternatif di mana perangkat lunak memiliki kecerdasan buatan dan lebih pintar dari kebanyakan ilmuwan manusia, dunia terancam oleh perangkat lunak baru, dan A.I. tersebut dinamakan “master control program”, perangkat lunak otoriter yang mengejar untuk mendominasi dunia manusia. Hanya 3 hacker yang dapat menyelamatkan dunia pada saat itu.

THE MATRIX (1999) – WACHOWSKI BROTHERS
Saga cyberpunk ini juga memasukkan banyak referensi, dari mulai dari wire-fu, spaghetti western, dan manga Jepang. Bahkan karakter neo membaca buku di apartemennya yang disebut “Simulacra” oleh Jean Baudrillard. Singkatnya, The Matrix adalah situasi simulakrum metaforis di mana manusia tidak dapat membedakan antara realitas dan fantasi, dan film ini juga memberi penghormatan kepada agama dan filsafat eksistensialisme. Adegan bullet-time disini pun dicuri dari Bufallo ’66 milik Vincent Gallo. Pil manakah yang akan kamu minum? Merah atau biru?

TERMINATOR (1984) – JAMES CAMERON
Sebelum Avatar & Titanic, ada Arnold. Terminator adalah satu seri terbaik yang masih mempertahankan genre futuristik/neo-noir. Uniknya, sebelum menjadi film action Hollywood tradisional seperti pada sekuel-sekuelnya, film Terminator pertama ini lebih menyerupai film horror. Saya agak mendukung villain di film ini (Terminator Arnold).

JUDGE DREDD (1995) – DANNY CANNON
Setelah penjahat dan kerusuhan menyebar menjadi malapetaka yang tak terkendali, pemerintah mengubah negara itu menjadi police-state yang mengerikan. Kemudian polisi membentuk pasukan khusus: hakim jalanan; yang memiliki kekuasaan untuk bertindak sebagai hakim, juri, dan algojo bagi siapapun yang melanggar hukum. Saya masih merinding setiap kali mendengar Stallone mencucapkan ​​“I AM THE LAW!” sebelum menembak mati-musuh-musuhnya.

DELICATESSEN (1991) – JEAN-PIERRE JEUNET
Di masa depan, daging hewan langka dan beberapa orang memilih untuk menjadi kanibal. Plot berputar di sekitar tukang daging kanibal yang berperang melawan pemberontak anarkis-vegan yang bersembunyi di selokan. Sulit untuk percaya kalau film dark comedy dystopian yang menyedihkan ini berasal dari sutradara pembuat film Amelie.

AKIRA (1988) – KATSUHIRO OTOMO
Mahakarya cyberpunk epik ini adalah perjalanan distopia yang luar biasa. Tokyo dihancurkan oleh apa yang diyakini sebagai bom atom jenis baru, yang memicu Perang Dunia III. 31 tahun kemudian, pada tahun 2019, neo-tokyo bangkit dari abu di bawah sistem politik baru Jepang; tetapi kota yang berkilauan itu dibangun di atas kemiskinan dan keputusasaan. Film berdurasi 2 jam ini berisi perjalanan geng sepeda motor, aktivis anti-pemerintah, politisi serakah, ilmuwan yang tidak bertanggung jawab, dan pemimpin militer yang kuat. Jika kamu belum menonton Akira, it’s your loss.

THE RUNNING MAN (1987) – PAUL MICHAEL GLASER
Diadaptasi dari novel Stephen King, masa depan dipenuhi oleh penjahat dan penjara sudah tidak cukup menampung para penjahat.Solusinya: pemerintah dan media membuat acara permainan / kuis, di mana penjahat yang dihukum berlomba untuk nyawa mereka, dengan setting LA yang sudah hancur.

DUNE (1984) – DAVID LYNCH
Film ini menelurkan game PC yang hebat dan di adaptasi dari novel Frank Herbert dengan nama yang sama. Dune adalah kisah epik tentang geopolitik, cinta, perang, penipuan, dan saling ketergantungan yang kompleks. The usual stuff. Ada beberapa kelompok ras, dan mereka ingin menguasai “bumbu”, sumber daya utama di planet ini. Film ini terpuruk di box office, tetapi memperoleh status cult dan diakui secara kritis. Scoring film pun dibuat oleh Brian Eno.

THE FIFTH ELEMENT (1997) – LUC BESSON
Bruce Willis berperan sebagai sopir taksi yang tidak beruntung, seperti biasa: berada di tempat dan waktu yang salah; hanya untuk menemukan bahwa dunia akan ditabrak asteroid besar. Hanya Leelo (Milla Jovovich) yang bisa menghentikannya. Memperoleh status cult karena Milla Jovovich mengenakan kain mirip perban jelek yang dirancang oleh Jean-Paul Gaultier. Film ini memiliki produksi, kostum dan set-pieces yang menarik.

ESCAPE FROM NEW YORK (1981) – JOHN CARPENTER
Oulau manhattan telah diubah menjadi penjara dengan keamanan maksimum terbesar di dunia, tempat di mana manusia yang paling buruk dikirim untuk membusuk. Hanya pahlawan perang bernama Snake Plissken yang badass yang dapat menyelamatkan hari itu, dan dia ditawari kesepakatan sederhana untuk pekerjaannya: selamatkan presiden dan hidup, gagal menyelamatkannya dan mati.

12 MONKEYS (1997) – TERRY GILLIAM
Di tahun 2035 umat manusia hidup di dunia bawah tanah yang sunyi setelah pemusnahan 99% populasi bumi karena bencana yang membuat permukaan planet tidak dapat dihuni, dan nasib umat manusia tidak pasti. Sekelompok ilmuwan mengirim Bruce Willis, untuk kembali ke tahun 1996, di mana dia dapat mengungkap mimpi buruk apokaliptik ini bersama seorang pasien rumah sakit jiwa yang diperankan oleh Brad Pitt.

THEY LIVE (1988) – JOHN CARPENTER
Seorang pekerja konstruksi dapat melihat dunia sebagaimana adanya: orang-orang dibombardir oleh pesan subliminal dari media dan pemerintah. Dengan pesan-pesan seperti “tetap tertidur”, “jangan berimajinasi”, “tunduk pada otoritas”.Film ini menjadi pengaruh utama pada bran Obey Giant milik Shepard Fairey.

METROPOLIS (1927) – FRITZ LANG
Pada film German-expressionism ini orang terbagi menjadi dua kelompok: pemikir – yang membuat rencana, namun tidak tahu cara mengoperasikan mesin, dan pekerja – yang memajukan produksi tanpa memiliki visi untuk berpikir. Ketika seorang pria “pemikir” berani melakukan perjalanan ke bawah tanah, di mana para pekerja ‘menjadi budak’, dia pun terkejut dengan apa yang dilihatnya.

1984 (1984) – MICHAEL RADFORD
Adaptasi layar yang menakjubkan dari novel mahakarya George Orwell “1948”. Bercerita tentang dunia di mana pemerintah sepenuhnya mengendalikan massa dengan mengendalikan pikiran mereka, mengubah sejarah dan bahkan mengubah arti kata-kata sesuai dengan kebutuhannya. Sounds familiar?

TOTAL RECALL (1990) – PAUL VERHOEVEN
Apa artinya realitas apabila anda tidak bisa mempercayai ingatan Anda? Paul Verhoeven membuat film dystopian klasik yang hebat lagi, yang juga di adaptasi dari novel Philip K. Dick. Menurut saya ini adalah film Arnold terbaik, di mana dia benar-benar berakting. The Matrix banyak mencuri ide dari film ini.

MAD MAX 2: ROAD WARRIOR (1981) – GEORGE MILLER
Sekuel pertama Mad Max terjadi setelah perang nuklir menghancurkan Australia. 2 geng berjuang untuk memperebutkan minyak di padang pasir. Bersetting di post-apocaliptic nuclear wasteland, film ini memiliki set pieces yang sangat epik pada masa nya. Jika Mad Max 1 dan Mad Max 3 buruk, maka ini dia yang harus kamu tonton!

SOYLENT GREEN (1973) – RICHARD FLEISCHER
Tingkat pengangguran besar-besaran, over populasi (New York: 40 juta!), kemiskinan dan sumber daya yang terkuras. Terdengar familier? Nah, di film ini makanan yang tersisa hanya wafer. Wafer hijau, kuning dan merah yang disebut “soylent”. Setiap hari adalah kerusuhan dimana orang-orang kelaparan memperebutkan stok makanan wafer tersebut. Endingnya super klimaks.

BRAZIL (1985) – TERRY GILLIAM
Film ini adalah distopia Orwellian, di mana semua hal dipantau oleh pemerintah. Bumi pun ditutupi oleh polusi dan papan reklame. Humor brilian dan ramalan menakutkan mengenai kemungkinan masa depan, di mana santa claus memberikan kartu kredit kepada anak-anak, birokrasi gila di setiap aspek kehidupan kita, dan penggunaan analogi yang cerdas nan jenius oleh orang-orang di balik Monty Python. Soundtrack film ini membuat saya merinding setiap kali saya mendengarnya.

ROBOCOP (1987) – PAUL VERHOEVEN
Robocop mencakup tema yang lebih besar tentang media, pengangguran besar-besaran, pemogokan polisi, gentrifikasi, dan human condition selain menjadi film action standar. Di film ini, institusi polisi dimiliki oleh sebuah korporasi. Paul Verhoeven mengemas dystopian neo-noir ini menjadi sebuah masterpiece yang wajib ditonton. The only cool cop is Robocop.

BLADE RUNNER (1982) – RIDLEY SCOTT
Klasik neo-noir dari adaptasi novel Philip K. Dick: “Do Androids Dream of Electric Sheep?”. Femme-fatale yang jahat, scoring keren oleh Vangelis, dan setting futuristik terbaik yang pernah saya lihat di film. Blade Runner adalah film thriller cyber-punk terbaik yang pernah dibuat. No debat.

 

Words by Aldy Kusumah

Setelah merilis album “Manusia” dirilis pada Juli 2022 dan disambut baik oleh para pendengar serta torehan capaian pada toko musik digital di mana lagu ‘Hati-Hati di Jalan’ menjadi lagu yang paling sering didengarkan di Indonesia, menyusul album “Manusia” sebagai album yang paling sering didengarkan di Indonesia.

Sebagai apresiasi terhadap para penikmat musik Indonesia serta dalam rangka mensyukuri 11 tahun berkarya, Tulus mengumumkan tur “Manusia” miliknya. “Saat lagu-lagu di dalam album “Manusia” tumbuh di keseharian yang mendengarkan, rasanya senang dan bersyukur. Tidak sabar untuk membawakan lagu-lagu itu di atas panggung, bertemu langsung di banyak kota,” ungkap Tulus.

Ini merupakan tur pertama yang diadakan Tulus setelah 3 tahun. Tur bertajuk “TULUS Tur Manusia 2023” ini telah secara resmi diumumkan oleh Tulus melalui kanal media sosialnya. Bekerja sama dengan PT. Expo Indonesia Jaya sebagai Promotor, “TULUS Tur Manusia 2023” ini akan menyapa 11 kota di Indonesia yang dimulai dari 1 Februari hingga 3 Maret 2023. Berikut adalah jadwal lengkapnya:

“Kami senang dapat menjadi bagian dari perjalanan karier Tulus, dalam hal ini sebagai promotor Tur Manusia yang tentu akan mengobati rasa rindu para Teman Tulus,” ungkap Direktur PT. Expo Indonesia Jaya. “11 Kota ini dipilih untuk dapat menggapai seluruh Teman Tulus diberbagai daerah,” ungkap Bram Tulong selaku General Manager PT. Expo Indonesia Jaya menambahkan. Tiket “TULUS Tur Manusia 2023” ini akan bervariasi tergantung dari masing-masing kota dengan harga pre-sale tiket termurahnya adalah Rp150.000. Selain mendapatkan tiket untuk menonton TULUS, Teman Tulus juga dapat memilih opsi pembelian tiket dengan paket cenderamata resmi dari “TULUS Tur Manusia 2023”. Pre-sale tiket dari “TULUS Tur Manusia 2023” ini secara resmi dibuka Hari ini 29 Desember 2022 Mulai Pukul 08.00 WIB dan tiket secara online hanya dapat dibeli melalui Aplikasi BBO. Jadi, mari kita sambut perjalanan album “Manusia” ke sebuah dimensi baru melalui sebuah tur bertajuk “TULUS Tur Manusia”.

Mufti Amenk Priyanka adalah seorang ilustrator yang kerap melebur budaya pop barat dengan sentuhan kearifan lokal, salah satu karya ilustrasi Amenk favorit kami adalah sebuah ilustrasi yang menggambarkan anak punk mencium tangan ibunya. Ilustrasi Amenk pun cukup khas: menggunakan tinta cina dan mayoritas tidak diwarnai. Pengaruh Raymond Pettibon memang terasa di karya Amenk karena memang Pettibon adalah salah satu ilustrator favoritnya. Mari berbincang dengan Amenk mengenai karya-karyanya yang “explicit”, rutinitas menjadi dosen sampai telur balado…

“Seniman juga bukan siapa-siapa, kita bukan Tuhan, ustad atau pemuka agama tapi kita adalah orang yang berbudaya. Kemajuan peradaban adalah sumbangsih seniman. “

Menk, sedang sibuk apa saja akhir-akhir ini?
Sebetulnya gak ada yang berubah, aktivitas keseharian saya mah biasa-biasa aja, masih seputaran ngajar di kampus, commission work, mural-mural sebagian. Cuma rada sepi sih dari semenjak pandemi, menurun pisan lah yang pekerjaan pesanan commission work. Jadi pas era pandemi kerasa banyak yang berubah pola pekerjaan. Termasuk di bidang seni juga, ga ada kegiatan, orderan melempem. Walaupun ada tapi tidak seperti biasanya.

Kemarin lo baru pameran ya?
Di gedung yayasan Naripan terakhir itu, Free Kick. Kalau yang Create cuma workshop aja, saya jadi mentor dan pesertanya sebagian ada yang disabilitas. Saya mengarahkan mereka untuk menggambar. Beberapa karya mereka ada yang di exhibit di ruang pameran. Kalau yang Free Kick itu sebetulnya pameran kolektif. Ajakannya juga bersifat mendadak. Bingung mau display karya yang mana, adanya yang kecil-kecil. Ada kanvas yang 2 meter. Akhirnya dipakai karya yang besar itu. Bingung juga karena belum ada pengantar kuratorialnya. Takut gak nyambung karya saya sama tema pameran nya. Secara artwork sih jelas gak nyambung, soalnya itu ilustrasi sepasang kekasih, ceweknya membawa hasil test pack. Karya lama sebetulnya tahun 2014. Itu menceritakan realitas sosial yang sering terdengar seperti kumpul kebo dan living together. Judul karyanya “Hamil Duluan Gara-Gara Kumpul Kebo”. Tapi memang pengantar kuratorialnya akhirnya adalah bahwa setiap seniman punya kebebasan untuk melambungkan ide dan gagasan nya..

Eh, lagi minum apa itu Menk? Enak kayanya..
Intisari hahaha. Lumayan lah pelepas lelah..

Beberapa commission yang sudah lo kerjakan apa saja?
Di Stella’s Puff Pastry. Ownernya juga emang pecinta seni, dan dia menyukai karya-karya saya. Saya mengerjakan 3 term commission. Jadi pabriknya artsy lebih seperti gallery. Di daerah Ancol. Saya juga menggarap dekor restoran Gormetaria di daerah Pasir Kaliki. Ownernya dikenalin sama teman saya. Saya diundang ke lokasi untuk ngobrol dan disitu ditunjukin spot-spot yang bisa saya respon pakai gambar. Prosesnya sangat cepat. Saya juga enjoy mengerjakan nya karena tidak terlalu banyak intervensi dari ownernya. Flexible aja, ada beberapa spot yang saya respon. Mereka juga puas dengan hasilnya.

Menk, lo juga kan dosen seni rupa. Mengajar mata kuliah apa saja?
Kebetulan mengajar nya sih karya tekstil dan fashion. Tapi mata kuliah nya ada menggambar dasar, ilustrasi fashion, menggambar manusia dan 2D nirmana. Nirmana itu semacam konsep dasar mengolah sense dan imajinasi. Membiasakan mahasiswa beginner untuk menciptakan konsep visual yang baik dan menarik. Seperti yang psychedelic-psychedelic gitu lah, ada yang 2 dimensi dan ada yang 3 dimensi.

Murid-murid lo tau karya-karya lo yang “explicit” di Instagram?
Lebih undercover aja sih, kecuali ada yang kepo biasanya tau. Sebagian mungkin lebih ngeh apalagi yang kenal sama saya. Gak masalah sih, bagi saya sih pekerjaan sebagai dosen dikerjakan secara profesional dan proporsional. Wilayan saya sebagai seniman ada diluar wilayah kampus itu sih. Saya sih dosen honorer jadi gak ada beban lah. Pekerjaan saya cuma mengajar dan memberi nilai, diluar itu saya gak peduli penilaian mereka.

“Teori Andy Warhol sih setiap 15 menit bakal ada superstar baru. Benar juga itu kejadian sekarang. Tapi setelah viral mereka dilupakan. Secara esensi sih kosong. Jadi kita berlomba-lomba untuk mencari atensi, jadi apa? Da rata-rata sih teu jadi nanaon.”

Karya-karya lo yang explicit pernah bermasalah ga?
Hahaha.. Kalau dengan hukum sih amit-amit ya, tapi sejauh ini belum. T-Shirt yang “Pemerintah Kontxx” itu pas awal pandemi ada sedikit masalah. Jadi ada sebagian kelompok masyarakat alias anarcho di daerah Bekasi dan Tangerang yang protes terhadap kondisi pemerintah menghadapi pandemi. Nah lalu yang di daerah Banjar, Ciamis ada yang ditangkap. Salah satu barang bukti nya selain buku filsafat ada kaos itu hahaha.. Aneh juga buku filsafat dijadikan barang bukti, kan itu barang yang dijual bebas haha.. Singkat cerita saya dikasih tau kaos saya itu masuk berita dan saya jadi ada rasa parno pas pemberitaan itu. Dagang gimana nih, akhirnya saya memutuskan untuk tidak beraktivitas seperti biasanya jualan merch di Sleborz. Saya melihat daya represi negara terhadap kebebasan berekspresi. Sampai saya nelpon Ucok tapi dia menenangkan saya. Kata dia karya-karya saya cuma gambar yang based on research jadi aman. Hahaha..

Kalau Sleborz apa kabarnya Menk? Ada produk baru?
Sebetulnya belum ada produk baru, tapi saya lagi nge refresh inventory. Bebenah data-data dan kelengkapan lagi. Disiapin untuk Desember. Kalau Sleborz kan dari awal konsep nya artist merchandise. Cenderamata yang digagas oleh seorang seniman untuk dimiliki publik. Tujuan nya mengenalkan kekuatan narasi dan ilustrasi saya diaplikasikan di produk. Aplikasi turunan lah dari ilustrasi saya. Mungkin publik merasa untuk memiliki karya original itu susah, harganya mahal dan terbatas, sedangkan produk Sleborz bisa dibikin lebih banyak. Usaha untuk memperkenalkan produk agar bisa dikoleksi secara terjangkau lah..

Orginal artwork lo kalau boleh tau paling mahal terjual berapa Menk?
Ga sampai 20 juta sih, sejauh ini masih 15 jutaan kebawah. Kecuali yang karya ukuran 2 meter tadi kalau terjual bisa diatas 20 jutaan. Beberapa original artwork saya juga yang di kertas kalau dibeli sudah dengan frame jadi tinggal dipajang. Awalnya sih banyaknya yang beli teman-teman dekat saya, tapi dari mengikuti art fair itu lumayan ngaruh mulai kolektor random yang saya gak kenal. Banyaknya juga yang membeli karya saya adalah memang yang suka, bukan reseller. Kadang mereka kalau ke Bandung pengen ketemuan dulu, ada yang ngajak ngobrol-ngobrol dulu.

Lo kan koleksi kaset lumayan banyak. Ada beberapa rilisan ‘90an yang masih wishlist karena susah untuk mendapatkan nya?
Saya sih pengen punya kaset self titled nya Downset. Yang jelas dari dulu sampai sekarang belum pernah punya. Saya suka aransmen musik mereka, mewakili banget pas saya masih SMP. Setelah Downset baru kan ngulik kaya Madball dan lain-lain. Biohazard – Urban Discipline. Album wajib hardcore era ‘90an. Dulu pernah minjem dan lama ngembaliin nya haha. Yang ketiga Dog Eat Dog – All Boro Kings. Bagi saya itu bagus dan groovy. Memang yang unik dia ada beberapa part diisi oleh saxophone. Ini era nya Supergroove juga sih haha. Helmet – Betty. Wah inimah the best pisan. Bagi saya Page Hamilton itu visioner juga. Album Aftertaste juga enak. Tapi Betty lebih “hardcore” lah. Dulu ini gak ada lisensinya cuma ada CD importnya dulu. Yang kelima RATM yang album pertama sih. Setelah album ini mulai muncul kan genre rap metal sampai nu metal. Ini bagi saya album hardcore sih, hardcore yang groovy lah. Aura kemarahan nya juga cocok, seperti menghardik dengan lirik kasar. Covernya yang pendeta Buddha protes ke pemerintah tentang isu keberagaman agama, dia protes dengan membakar dirinya sendiri. Ngeri juga pas liat kovernya dulu “anjis apa ini”.

Lo kan sering posting makanan di Instastory lo. Di satu piring ada makanan apa aja kalau versi ideal Amenk?
Hahahaha! Tapi kan bukan posting makanan seperti selebgram yang keren-keren.. Di piring yang pasti harus ada tempe yang tebal, karena saya suka tekstur pas digigitnya kalau tebal. Sambal dadakan harus ada juga, cuma karena saya ada masalah asam lambung jadi gak bisa yang terlalu pedas sekarang. Sekarang yang penting pedasnya nyantel lah, nyangkut. Gak usah terlalu strong haha. Telur ceplok atau telur bulat yang di balado. Sambal goreng kentang, dan terakhir kerupuk dari kaleng. Ini udah ideal banget bagi saya, masakan rumahan yang bisa juga ditemukan di warteg.

Pertanyaan terakhir: gimana pendapat lo tentang generasi sekarang yang aktif di sosial media?
Itu sih seperti pergeseran nilai sosial yang sedang terjadi aja. Banyak aspek yang memotivasi mereka untuk ingin tampil berbeda dari generasi sebelumnya. Biasanya sih ingin terlihat keren dan menjadi terkenal di sosial media. Joget-joget di Tik Tok biar banyak di likes. Berlomba mencari atensi yang sifatnya fana juga sih. Intinya mereka ingin terekspos, bahwa aing teh something. Everyone want to be someone tea. Pengen menjadi sorotan. Teori Andy Warhol sih setiap 15 menit bakal ada superstar baru. Benar juga itu kejadian sekarang. Gelombang populis aja, setelah itu mereka dilupakan. Secara esensi sih kosong. Jadi kita berlomba-lomba untuk mencari atensi, setelah viral mereka jadi apa? Da rata-rata sih teu jadi nanaon.

Last shout?
Kalau disimpulkan dari pengalaman saya setelah berkesenian 20 tahun… Seorang seniman itu harus terus bereksperimen dari sisi apapun. Harus bisa mengemukakan narasi besar dari karya-karyanya. Seniman adalah agen kebudayaan. Seniman juga bukan siapa-siapa, kita bukan Tuhan, ustad atau pemuka agama tapi kita adalah orang yang berbudaya. Kemajuan peradaban adalah sumbangsih seniman.

 

Words by Aldy Kusumah
Photos taken from Amenk archives

Tanpa introduksi yang bertele-tele, ini adalah beberapa album pilihan kami yang sering kami putar di tahun 2022 ini. Maybe this year sucks but at least we’ve got several great albums! Jangan bersedih jiika album favorit kamu tidak ada disini, tulis di kolom komentar and tell us what’s great about it!

SZA – SOS
Dengan 23 lagu dan durasi lebih dari satu jam, “SOS” milik SZA yang baru dirilis ini bukan sekadar pernyataan: “SOS” adalah kitab suci baru R&B transendental yang paling memikat dan inventif. Follow up dari album “Ctrl” yang dirilis pada tahun 2017 silam ini dipenuhi aransmen cerdas, permainan kata yang “witty” dan sound yang epik. Album yang dibuat selama 5 tahun ini memiliki elemen folk, jazz, pop, ambient electronica dan bahkan memiliki sedikit unsur surf, trap, grunge dan AOR rock, tetapi tetap memiliki hati R&B yang kental.
Key tracks: Good Days, Kill Bill, Ghost in the Machine

Inclination – Unaltered Perspective
Sejak akhir tahun 2000-an band straight-edge menjadi sesuatu yang langka, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, generasi baru hardcore menciptakan beberapa band yang luar biasa. Ketika Inclination yang berbasis di midwest menjatuhkan demo mereka “Midwest Straight Edge”, skena hardcore sangat menyukainya, termasuk saya. Sejalan dengan band-band seperti Strife dan One King Down, mereka menambahkan sentuhan melodi ke hardcore yang lebih baru untuk menciptakan salah satu album hardcore terbaik untuk tahun ini. “Unaltered Perspective” adalah album Inclination yang paling menantang & introspektif hingga saat ini. Sekarang mereka memiliki tiga rilisan yang sekarang dapat mengukuhkan diri mereka sebagai hardcore straight edge terbaik dari generasi modern, yang akan mengingatkanmu pada band-band hardcore straight edge terbaik dari era 2000-an.
Key tracks: Thoughts and Prayers, Epidemic

Anxious – ‘Little Green House’
Little Green House memiliki banyak keunggulan yang dimiliki band-band indie/emo awal tahun 2000-an yang populer pada saat itu. Hampir setiap lagu dalam rekaman ini memiliki kualitas anthemic yang siap untuk dimainkan di arena besar, terutama dengan output vokal yang berlapis-lapis seperti pada single “In April” dan “Growing Up Song”. Lagu pembuka “Your One Way Street” dimulai dengan beberapa riff melodi yang kemudian digantikan oleh vokal yang lebih keras. Tapi tentu saja, mereka melanjutkan lagu dengan part chorus yang megah, dan itu akan menjadi tema yang diulang di album ini. Anxious ini telah memahami cara menulis hook yang baik dan benar. “Afternoon” dan “You When You’re Gone” menutup album ini dengan beberapa vokal tamu lagi, kali ini milik Stella Branstool (Hello Mary). Dalam “Afternoon”, vokalis Grady Allen menyanyikan melodi yang catchy dan kadang-kadang dibantu oleh Stella tetapi pada “You When You’re Gone” skenario berbalik dengan Stella mengambil peran vokal utama dan Grady menyanyikan harmoni latar.
Key tracks: You When You’re Gone, Call From You, Your One Way Street

No Pressure – S/T
No Pressure adalah proyek sampingan dari Parker Cannon dari The Story So Far, Pat Kennedy dari Light Years, dan Harry Corrigan dari Regulate yang memainkan pop-punk/easy core awal tahun 2000-an. Album ini dirilis dibawah bendera Triple B Records dan dengan cover artwork yang keren (Menggunakan fonts Goldfinger dan No Doubt) tentu saja album ini akan menarik perhatian sampai ke headphone dan speaker bluetooth saya. Terlepas dari upaya terbaik saya untuk tidak menikmati album throwback Blink-182 era “Dude Ranch” dengan sedikit sentuhan TSSF dan Gorilla Biscuits ini, No Pressure adalah salah satu album pop-punk paling megah yang dirilis tahun ini dan pasti akan menemukan rumah untuk para penggemar pop-punk “new school” (baca awal 2000-an) dan pop-punk nü-school (baca awal 2020-an).
Key tracks: One Way Trip, Both Sides, Too Far

Domi & JD Beck – ‘NOT TiGHT’
Album debut dari duo keyboardist DOMi & drummer JD Beck mungkin memiliki “bintang tamu” paling banyak tahun ini. ‘NOT TiGHT’ menawarkan deretan bintang indie yang menakjubkan (Thundercat, Mac DeMarco), sultan-sultan hip-hop (Snoop Dogg, Busta Rhymes) dan satu titan jazz O.G. (Herbie Hancock). Album ini adalah sebuah langkah cerdik bos label mereka Anderson .Paak (yang juga bernyanyi di lagu “TAKE A CHANCE”), yang melibatkan pasangan itu ke APESHIT, label barunya di bawah label jazz legendaris Blue Note. Album ini bisa menjadi gateway bagi para penggemar baru musik jazz, dan sekaligus bisa di apresiasi juga oleh para pendengar jazz veteran yang sudah terbiasa mendengar Cannonball Adderley, Sun Ra, Art Blakey, Ahmad Jamal dan Thelonious Monk.
Key tracks: SMiLE, TAKE A CHANCE, BOWLiNG

Perunggu – ‘Memorandum’
“Memorandum” adalah salah satu pemersatu crowd di sebuah gigs musik: dimana lagi kalian bisa melihat metalheads, hardcore kids sampai indie darlings dengan kompak sing along menyanyikan (kadang berteriak) lagu-lagu Perunggu. Betul, lirik mereka telah menembus berbagai batasan genre sehingga tidak aneh bila seseorang yang memakai baju “Vein FM sekalipun menyanyikan lirik “33x” ketika Perunggu sedang tampil. Lirik-lirik dengan tema kontemporer ini ditulis dengan cerdik sehingga bisa relate kepada berbagai kalangan. Secara musikalitas, bagi saya Perunggu terdengar seperti campuran dari Death Cab For Cutie dan Sheila on 7. Kalimat “Kukoleksi semua rilisan” pada track “Canggih” membuktikan bahwa Maul, Ildo dan Adam adalah penggemar musik, dan sekarang mereka memiliki penggemar juga yang dengan lantang hafal setiap bait lirik Perunggu. Album yang dibuat oleh fans untuk fans lainnya tentu akan lebih relateable dalam berbagai aspek. Every parent should at least watch “Pastikan Riuh Akhiri Malammu” music video.
Key tracks: Biang Lara, Pastikan Riuh Akhiri Malammu, Membelah Belantara, 33x

Alex G – ‘God Save the Animals’
Entah kenapa album ini mengingatkan saya pada Elliott Smith. Dari grunge-pop hingga breakbeat, God Save the Animals mengintegrasikan berbagai genre dengan nakal ala Alex G ke dalam penulisan lagu ala slacker folk ballads yang terstruktur. Di albumnya yang diproduksi paling elegan (album-album terdahulunya lebih berkesan lo-fi secara sound), Alex Giannascoli dengan mudah meramu ide-ide yang berbeda. Sebagai salah satu ujung tombak indie rock kontemporer, Giannascoli membuat karakter lagu-lagunya dengan sangat hati-hati dan tetap bisa menyentuh secara personal.
Key tracks: Runner, No Bitterness, Forgive

Kendrick Lamar – ‘Mr. Morale & the Big Steppers’
Rasa sakit Kendrick tetap belum terselesaikan pada album “Mr. Moral & the Big Steppers”. Kendrick Lamar menghabiskan album kelimanya untuk merayakan dan mencela sifat buruk dan kekurangannya; dia tidak mencari pengampunan, karena memang tidak ada. Album ini adalah pengalaman mendengarkan yang luar biasa. Sudah lima tahun sejak “DAMN” dirilis dan mendengar Kendrick membuat album ganda adalah sebuah kejutan. Album ini menggabungkan semua eksplorasi musik masa lalu Kendrick; R&B, Pop, Jazz, atau funk, semuanya ada disini. Albumnya ini bagus dan pasti jauh lebih baik dari “Donda” yang pretensius dan hanya mengandalkan gimmick semata.
Key tracks: N95, Die Hard, Savior, Mirror.

Alvvays – ‘Blue Rev’
Tanpa menggali lebih dalam lagi, “Blue Rev” adalah 14 lagu yang Alvvays lakukan dengan sangat baik: lapisan gitar jangly mencapai semua nada yang tepat dan didukung oleh bagian ritme metronomik band. “Blue Rev” juga menampilkan anggota baru – drummer Sheridan Riley dan bassis Abbey Blackwell – untuk album ini. “After The Earthquake” adalah sebuah indie-pop gem dengan melodi yang enak, highlight kami yang lain adalah “Pomeranian Spinster” yang sedikit punkish dan lagu pembuka “Pharmacist” yang shoegazing. Alvvays ini secara musikalitas terus berkembang dari album ke album, dan kita tentu akan menanti rilisan selanjutnya dari Band Kanada ini.
Key tracks: Pharmacist, Easy on Your Own?

Spiritworld – ‘DEATHWESTERN’
Jika kalian menyukai band hardcore bernama Integrity, menurut kami Spiritworld adalah Integrity versi koboy. Bahkan Dwid Hellion dari Integrity menyumbangkan suaranya ada track “Moonlit Torture”. Spiritworld adalah band yang tidak dibicarakan tiga atau empat tahun yang lalu. Namun, di tahun 2020 ada sebuah album berjudul “Pagan Rhythms” yang meramu hardcore dan death metal dengan estetika dan riff yang heavy. Itu menjadi rilisan metal favorit banyak orang di tahun 2020 itu. Setelah bertahan beberapa tahun tanpa materi baru, DEATHWESTERN akhirnya hadir. Melodi dan riff ala Slayer berkecimpung dengan padatnya rhythm section mereka. Elemen-elemen horror western yang mereka angkat di lirik bahkan konsep album ini begitu kental, dari intro “Mojave Bloodlust” saja kamu akan berpikir “apakah saya sedang mendengarkan album metal atau menonton film spaghetti-western?”. Arwah komposer Ennio Morricone pun seakan merasuki para personil Spiritworld di album ini. Jika kamu hanya akan mendengarkan satu album metal saja tahun ini, maka dengarkanlah yang satu ini.
Key tracks: Moonlit Torture, DEATHWESTERN, Purafied in Violence

Honorable Mentions:
1. Vein.fm – “This World is Going to Ruin You”
2. Drug Church – “Hygiene”
3. Soul Blind – “Feel it Around”
4. Russian Circles – “Gnosis”
5. Mitski – “Lauren Hell”

 

Words by Aldy Kusumah

Setelah aktif bermusik selama 10 tahun, grup musik .Feast akhirnya menggelar rangkaian tur perdananya bertajuk ‘Tur Multisemesta’. Berformat showcase panjang yang menampilkan lagu-lagu dari 4 earth dari 5 rilisan yang pernah dirilis selama 10 tahun belakangan sejak debut album Multiverses (2017) hingga Abdi Lara Insani (2022). Jargon #MasihMarahdipilih sebagai narasi utama Tur Multisemesta, seolah merangkum garis merah narasi lagu-lagu yang tercipta di dunia fiktif Multisemesta yang selama ini mereka ciptakan. #MasihMarah juga menjadi tanda babak baru .Feast setelah 10 tahun berkarya yang kini tak lagi hanya berfokus kepada kritik politik dan sosial masyarakat namun tetap dengan rasa marah yang sama. Tur Multisemesta rencananya dilaksanakan di 8 titik di Indonesia. Dengan jadwal dan destinasi sebagai berikut:

20 Januari 2023, Bandung
27 Januari 2023, Bali
29 Januari 2023, Palembang
11 Februari 2023, Pontianak
12 Februari 2023, Surabaya
19 Februari 2023, Makassar
25 Februari 2023, Semarang
26 Februari 2023, Jakarta

“Setelah 10 tahun akhirnya salah satu cita-cita kami, memiliki tur dengan konsep showcase, bisa terlaksana. Ini adalah tur perdana kami setelah bermusik selama kurang lebih 10 tahun. Rencananya setiap show akan berjalan kurang lebih 120 meniit untuk set .Feast sendiri, di luar band pembuka. Jadi kurang lebih 1 setlist akan terisi 18-22 lagu yang rotasinya akan berbeda di setiap titik tur. Ini adalah kali pertama kami membawakan sebuah konser dengan format panjang dan membawakan hampir seluruh lagu dari katalog yang kami punya,” terang Fadli Fikriawan, bassist .Feast.

“Tur Multisemesta juga menjadi awal untuk memperkenalkan identitas .Feast fase selanjutnya, menutup babak pertama setelah 10 tahun. Jadi, visual dan identitas .Feast akan digarap dengan nuansa yang baru dan berbeda dari sebelumnya, namun masih dengan semangat marah-marah yang sama. Jadi itu lah alasan kami membawa narasi #MasihMarah di tur ini,” tambahnya lagi.

Penjualan tiket rencananya akan dibuka di tanggal 27 Desember 2022 jam 15.00 di platform aplikasi atau website Tiketapasaja. Harga tiket Tur Multisemesta yang penggarapannya bekerja sama dengan promotor Nada Promotama dan didukung label Sun Eater ini bervariasi mulai dari Rp150.000 hingga Rp200.000 di kota penutup, Jakarta. Setiap titik direncanakan juga akan memiliki band pembuka yang berbeda.

2022 mungkin bukan tahun yang baik, tapi setidaknya ada beberapa film bagus yang rilis di tahun 2022. Tanpa banyak berbasa-basi, ini adalah beberapa film favorit JEURNALS di tahun 2022.

Everything Everywhere All At Once (Dir. Daniel Kwan & Daniel Scheinert)
Everything Everywhere All At Once adalah film yang tidak terburu-buru untuk menceritakan cerita yang bagus dan ditulis dengan sangat baik. Film ini seakan tidak peduli dengan pengaruh luar. Crew film ini hanya sekelompok orang yang membuat karya seni dan bersenang-senang sambil melakukannya, dan kamu bisa merasakannya pada saat menonton film ini. Film Sci-Fi ini terlihat seperti film Coen Brothers yang dipengaruhi LSD dan memberi homage pada film-film kung-fu Asia sambil menyindir alam semesta Marvel. Jika kamu seperti saya dan kecewa dengan Doctor Strange in the Multiverse of Madness yang tidak sesuai ekspektasi, atau hanya ingin bersenang-senang menaiki roller coaster emosional, tolong bantulah diri kamu sendiri dan tontonlah film brilian ini. kamu tidak akan menyesalinya.

The Fabelmans (Dir. Steven Spielberg)
Sebuah semi-autobiografi mengenai Steven Spielberg sebelum menjadi sutradara yang kita kenal seperti sekarang. Dibalut dengan drama keluarga khas cerita coming-of-age, The Fabelmans adalah Cinema Paradiso versi Spielberg. Menceritakan perkenalan awal Spielberg dengan film atau “gambar bergerak”dan bagaimana dia jatuh cinta pada dunia “filmaking”. Scene saat Sammy terpesona melihat adegan kereta tabrakan yang epik di bioskop (Dari film “Greatest Show on Earth” milik Cecil B. Demille) sampai bagaimana Sammy membuat efek ledakan dan tembakan menggunakan practical effects (pasir dan kembang api) tentunya membangkitkan imajinasi kita. Seperti Cinema Paradiso (1988) milik Giuseppe Tornatore, film ini mengingatkan kembali kenapa kita jatuh cinta pada film-film yang hebat dari kecil sampai sekarang.

Broker (Dir. Hirokazu Koreeda)
Setelah Shoplifters (2018) yang berhasil membuat jutaan penonton meneteskan air mata, Hirokazu Koreeda kembali lagi dengan drama “Broker” yang dikemas seperti sebuah film road movie. Setelah The Truth (2019) yang di shoot di Perancis, kali ini Koreeda — yang biasa membuat film di Jepang dan menggunakan aktor-aktor Jepang — bekerjasama dengan aktor-aktor Korea Selatan seperti Song Kang-Ho (Parasite, Memories of Murder) Donna Bae, Lee Ji Eun (IU) dan Gang Dong Won. Film yang bertema sentral mengenai aborsi, penjualan bayi ilegal dan “Baby box” (Google it) ini dikemas dengan ringan, layaknya gabungan film Little Miss Sunshine dan Juno. Menurut saya ini adalah salah satu film terbaik Hirokazu Koreeda setelah Shoplifters (2018), After Life (1998) dan Still Walking (2008).

Triangle of Sadness (Dir. Ruben Östlund)
Ruben Östlund pernah memenangkan penghargaan tertinggi Cannes, Palme d’Or, dua kali. Kali ini dia kembali dengan sebuah dark comedy satir mengenai kapitalisme. Ruben membahas narasi klasik proletar vs borjuis, dengan kritik sosialisme yang tajam. Tapi uniknya, disini dia tidak hanya memperlihatkan kebobrokan kelas atas saja, melainkan menyamaratakan narasi dengan memperlihatkan kelas proletar yang sama saja corrupted dengan para borjuis jika keadaan berbalik. Saran saya, jangan nonton yang satu ini sambil makan pada saat film memainkan scene “makan malam bersama kapten”.

Pearl (Dir. Ti West)
…Dan film terbaik untuk kategori horror di tahun 2022 jatuh kepada: Pearl. Kombinasi berbahaya antara sutradara “nyeleneh” Ti West dengan Mia Goth tentunya akan menghasilkan output yang luar biasa. Film ini adalah prekuel dari film “X” yang menggabungkan backwoods horror ala Texas Chainsaw Massacre dan elemen ‘70s-porn. Pearl tidak mengambil direksi ke arah itu, melainkan lebih berfokus pada elemen horror psikologis, walaupun tetap dalam ranah slasher horror. Lihat saja betapa luas range emosi yang ditampilkan Mia Goth di film ini, bahkan jika bertemu langsung dengan Mia Goth, saya tentu akan menghindarinya. She’s so believable in this film.

The Batman (Dir. Matt Reeves)
Setelah beberapa film Batman, akhirnya Matt Reeves mengangkat 1 karakteristik Batman yang sepertinya tidak terlalu sentral di film lain: Batman sebagai seorang detektif. Ya, seperti pada komik-komiknya, Batman adalah seorang detektif handal, dan itu adalah satu hal yang membedakan Batman dengan superhero lainnya. Batman disini digambarkan lebih menggunakan insting dan kemampuan detektifnya daripada bergantung pada gadget. Dikemas seperti sebuah film noir yang gelap, ternyata The Batman mampu menghadirkan sosok Batman yang menakutkan, yang surprisingly dimainkan dengan sangat baik oleh Robert Pattinson. The Riddler disini pun dimainkan dengan apik oleh Paul Dano (yang mungkin cocok juga berperan sebagai Joker). Menurut saya, The Batman adalah adaptasi Batman yang sangat baik, dan dalam beberapa hal bahkan lebih baik dari The Dark Knight.

Glass Onion: Knives Out Mystery (Dir. Rian Johnson)
Mungkin ini adalah film detektif whodunit mystery terbaik ditahun ini, karena memang genre thriller seperti ini adalah genre yang terlupakan. Dipopulerkan oleh novel-novel Agatha Christie (Murder on the Orient Express, And Then There Were None), film misteri whodunit lebih berfokus pada misteri siapakah pelaku/pembunuhnya diantara karakter-karakter utama yang muncul di film. Seperti apa yang dia lakukan di Knives Out (2019), Rian Johnson meninggalkan konvensi dan tradisi whodunit mystery klasik dengan penggarapan yang lebih segar. Dan di sekuel ini eksekusinya lebih apik. Dari awal film dimulai, penonton sudah diajak untuk berpartisipasi mengungkap kejahatan ini dengan memperhatikan detail-detail kecil di setiap scene, dialog-dialog yang cerdas dan tentunya membaca gerak-gerik yang mencurigakan. Tentunya film seperti ini akan lebih baik dengan ditonton ulang 2-3x untuk mendapatkan semua detail-detail kecil yang ada. Disini akting Janelle Monáe stand out dan hampir mencuri perhatian di setiap scene, saya tidak akan heran bila dia akan mendapatkan nominasi Oscar dari film ini.

Decision to Leave (Dir. Park Chan Wook)
Jika Park Chan Wook (Oldboy) membuat sebuah kisah cinta, tentunya itu tidak akan menjadi drama percintaan yang generik. Park Chan Wook mengemas kisah percintaan di film ini menjadi salah satu film police procedural / murder mysteries yang keren. Apa yang terjadi jika sang detektif jatuh cinta pada penjahat yang dia cari? Konflik di film ini adalah sebuah pilihan: apakah sang detektif ingin menyelesaikan pekerjaan nya atau mengikuti kata hatinya. Dikemas seperti film noir yang bertempo cepat, Decision to Leave mungkin akan sulit dimengerti pada tontonan pertama karena banyaknya informasi yang harus diproses penonton. Kalian mungkin perlu menonton film ini 2-3 kali untuk melihat semua detail yang ditebarkan dengan apik oleh sang sutradara. Dan jika berbicara mengenai ending, this one got one hell of an ending.

Top Gun: Maverick (Dir. Joseph Kosinski)
Top Gun: Maverick adalah pencapaian sinematik Hollywood di titik tertinggi. Dari scoring yang ditaruh dengan presisi di scene-scene tertentu, set piece action yang di shoot dengan sempurna, akting dari para ensemble cast, visual yang keren hingga direksi yang tanpa cacat dari seorang Joseph Kosinski. Saya cukup beruntung bisa menyaksikan film epik ini di bioskop dengan jernihnya tampilan proyektor Christie dan sound system Dolby Atmos yang menggelegar. Mungkin kamu tidak akan merasakan sensasi maksimal dari film ini jika hanya menyaksikannya di layar laptop kamu yang berdebu. Tapi film seperti Top Gun adalah alasan yang cukup untuk pergi ke bioskop. It’s films like these that makes us go the the movies once in a while.

Aftersun (Dir. Charlotte Wells)
Debut dari sutradara Charlotte Wells ini memiliki premis yang simple: menceritakan liburan Sophie, seorang anak perempuan berumur 11 tahun dengan bapaknya Calum, di sebuah resort di Turki. Bersetting ‘90-an lengkap dengan telepon umum koin, game ding-dong (arcade), walkman dan tentunya Sony handycam. Film ini digambarkan menyerupai flashback yang dikumpulkan oleh Sophie yang sudah dewasa (dan mempunyai seorang anak bayi) melalui video-video dari hasil rekaman handycam yang direkam Sophie selama liburan ketika masih berumur 11 tahun. Charlotte Wells seolah mengajak para penonton duduk dan makan di samping Calum dan Sophie, dengan visualisasi dan dialog yang cukup intim. Calum diperankan dengan sangat baik oleh Paul Mescal dan Francesca Coria memainkan Sophie dengan range emosi yang cukup luas. Chemistry kedua aktor ini juga terlihat seperti hubungan ayah dan anak yang natural, dan tidak dibuat-buat. Film ini sangat wajib ditonton para ayah yang memiliki anak perempuan. Sangat relatable.

EO (Dir. Jerzy Skolimowski)
Sinema yang murni dan lembut jarang terlihat di film-film kontemporer, tetapi EO memperlihatkannya dengan baik. Sutradara Jerzy Skolimowski menggarap film ini di usianya yang sudah menginjak 84 tahun. Hampir semua elemen di EO disusun dan dieksekusi dengan sempurna. Tetapi yang terpenting, EO adalah film yang akan membuatmu patah hati. EO berhasil menghipnotis saya, dengan menyajikan pengalaman sinematik yang transenden dari awal hingga akhir yang menakjubkan..

Honorable Mentions:
1. NOPE (Dir. Jordan Peele)
2. Return to Seoul (Dir. Davy Chou)
3. The Northman (Dir. Robert Eggers)
4. Joyland (Dir. Saim Sadiq)
5. Crimes of the Future (Dir. David Cronenberg)
6. Licorice Pizza (Dir. P.T. Anderson)
7. Tar (Dir. Todd Field)
8. Speak no Evil (Dir. Christian Tafdrup)
9. Pinocchio (Dir. Guillermo Del Toro)
10. Barbarian (Dir. Zach Cregger)

 

Words by Jeurnals

Di industri kreatif, tentunya brand pakaian lebih banyak dibanding brand footwear. Diantara “segelintir” brand footwear lokal, Saint Barkley adalah salah satu yang mencuri perhatian kami. Dengan roots yang berbasis di kultur musik dan skateboarding, Saint Barkley tidak perlu waktu lama untuk dikenal sebagai brand sepatu yang keren. Mari berbincang dengan Khrisna Bharata yang lebih akrab dipanggil Ozom, yang juga seorang drummer dari band pop punk Rocket Rockers. Mari berbincang dengan Ozom mengenai sulitnya mengembangkan brand sepatu dan kolaborasinya dengan Burgerkill…

“Kalau soal kualitas produk sih berani lah kita adu sama Vans juga”

History awal Saint Barkley?
Jadi histori awalnya banget itu, Saint Barkley udah jalan dari 2012. Awalnya bertiga: Alvi Juanda, Davit Firmansyah dan Herriyadi Marjunas. Awalnya mereka bertiga reuni dan ngeliat teman-temannya sudah banyak yang sukses. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat brand sepatu karena clothing sudah banyak di industri kreatif ini. Jalan 2 tahun, karena kurang amunisi dan asupan gue sama Ami Muhammad join. Di 2018-2019 ada suntikan lagi dari Weimpy Adhari (Tbonk), salah satu owner Starcross juga. Setelah Tbonk gabung sekarang kita berenam.

Tentunya mendevelop brand sepatu tidak gampang ya…
Memang ga gampang menjalankan bisnis sepatu, RND nya susah, marketing nya juga susah. Ada customer yang kalau beli sepatu itu harus lihat dan nyobain ke toko, walaupun sudah tahu size chart nya. 2 tahun kemarin brand sepatu lokal meledak juga ada yang pakai drama promosinya..

Lo sendiri di Saint Barkley in charge di departemen apa?
Gue sih lebih ke promosi, dan jatuhnya lebih ke PR sih, public relation..

Kaya pas lo dulu di PSD ya?
Ya ga jauh dari berhubungan dengan orang luar, event, kolaborasi, endorse dan lain-lain.

Kalau brand sepatu kan susah untuk lepas dari siluet brand seperti Nike, Vans & Converse. Apa lo mau mencoba mendobrak dari siluet-siluet itu kedepan nya?
Mungkin siluet brand-brand yang lo sebutin tadi itu kan mereka adalah pionir brand sepatu. Jadi kalau kita bikin siluet juga harus yang gampang diterima oleh customer. Siluet Vans authentic aja dibikin sama Nike dan Converse. Jadi model ga akan jauh darisitu, yang pas di kaki dan enak dilihat modelnya. Pasti bedanya di detailing aja. Siluet yang baru itu pasti mereka-mereka lagi yang bikin baru dan mendobrak, kaya misal Nike Sacai. Local pride mah tai lah pasti orang juga beli Nike lagi hahaha..

Sekarang kan ada trend gorp core dan dad core dimana sepatu-sepatu trail running seperti Salomon, Nike ACG, Hoka dan New Balance menjadi trend. Apakah lo juga akan mengarah ke pasar itu?
Pasar sih lebih ke endorse band kalau gue. Kalau membikin prodak yang sejenis dengan mereka itu harus develop dan trial & error. Mau sih mau, cuma kendalanya adalah uang hahaha..

…dan waktu ya?
Nah bener uang dan waktu. Kalau uangnya unlimited sih waktunya bebas. Kita sih ga pernah bikin produk yang ga aman. Pengen nya benar secara RnD dan kualitas terjaga. Kita sih sekarang main di kualitas yang benar. Gak mau bikin asal-asalan tapi dipakai 2 bulan hancur misalnya. Sekarang di 2022 tahun ke 10 Saint Barkley sudah aman outsole dan insole. Cuma tetap kita tes pakai berbulan-bulan untuk kekuatan dan daya tahan nya. Kita siksa dulu dipakai main skate dan sepeda. Melihat bahan misal suede nya tahan berapa lama.

“Sayangnya almarhum Eben Burgerkill belum sempat mencoba hasil akhirnya produk sepatu kolaborasi kita, sedih banget”

Bisa ceritakan beberapa kolaborasi lu? Seperti dengan Collapse, Burgerkill sampai Motul?
Intinya collab kan untuk cross marketing. Jadi apapun yang bisa kita cross-market hayu aja asal benang merahnya ga keganggu. Kita juga bikin collab tetap pakai model kita, marketing dan campaign nya juga masih masuk. Gak tiba-tiba bikin sepatu F1 yang bikin orang mikir “naha jadi kieu?”. Kita sih gak nutup market, jadi dengan collab Motul orang yang suka balap juga mungkin jadi suka yang model-model sepatu Saint Barkley. Kalau awal kolaborasi dari teman-teman terdekat, sama Collapse karena anak-anak juga dekat sama Dika. Kalau Motul itu alhamdulillah mereka yang nawarin. Diskusi panjang sekitar 4 bulan baru start. Ga se smooth itu juga dan harus ada kompromi. Yang diobrolin sampai output yang keluar harus benar-benar sesuai.

Kalu collab sama Burgerkill adalah impian kita, untuk berkolaborasi dengan BK dari awal SB terbentuk. Sempat ngobrol tapi belum terlaksana. BK mau kolaborasi sama brand sepatu luar, tetapi ternyata gak jadi. Tiba-tiba almarhum pak Eben nelpon si Ami “Mi, kalau kolaborasi sama BK sanggup teu?”. Jadi pertanyaan nya bukan mau atau engga, tapi sanggup ga hahaha. Almarhum itu kan terkenal sangat perfeksionis. Harusnya sepatu collab BK ini rilis 2 tahun kemarin, cuma karena belum sesuai dengan keinginan Pak Eben jadi diundur. Ada kali 16 kali bikin sample di revisi. Kan bikin satu sample bisa 2 minggu lebih, apalagi produksi. Hingga akhirnya pas sepatu rilis ini sudah perfect, sayangnya almarhum belum sempat mencoba hasil akhirnya, sedih banget. Pokoknya kolaborasi yang sama BK ini kita juga banyak belajar step-step nya.

Band lo Rocket Rockers di endorse Vans juga kan? Apa gak masalah mereka lo punya brand sepatu? Hahaha..
Nahh.. Terakhir kan kita di endorse Vans 3 tahun pas gue udah punya Saint Barkley. Pas awalnya gue agak bingung, aduh gue punya brand sepatu tapi di endorse brand sepatu juga. Vans nya sih ga terlalu peduli juga karena kita bukan saingan ya hahaha. Vans Authentic masih nyaman dan favorit, cuma seiring bertambahnya umur gue lebih prefer pakai sepatu running sekarang hahaha..

Top 5 sepatu favorit lo sekarang apa aja?
– New Balance 373: Enak lah bisa dipakai casual dan harga sangat terjangkau.
– Nike React Element 55: NB dan Asics ternyata lebih empuk dari Nike, tapi Nike React ini pas banget di kaki gue. Sekarang kenyamanan diatas segalanya.
– Saint Barkley Cullen: Kalau buat style tetap gue suka sepatu tipis. Untuk harian Cullen slip-on ini santai banget.
– Asics Gel Kayano 29: Gel Lyte terjangkau dan enak, tapi Kayano ini harga memang ga bohong, nyaman banget di kaki.
– Saint Barkley (Rocket Rockers): Ini empuk banget, bisa dipakai jalan jauh.

Ngomongin band lo Rocket Rockers, setelah jadi trio menurut lo output musiknya jadi beda juga ga?
Memang kita sekarang banyak dibilang orang jadi lebih lembek musiknya. Tapi menurut gue kita ini jadi band panggung. Banyak yang ngomong setelah melihat live RR orang lebih berkesan karena kita banyak berinteraksi, seperti ngajak sing along atau mengajak penonton naik panggung. Kalau dulu Ucay lebih provokatif dan semangat. Kalau sekarang semangat dapet tapi experience dapet juga. RR udah 23 tahun umurnya, dan kita bertiga gak pernah jenuh karena kita memang cuma ketemu kalau weekend ada manggung atau latihan. Kita bertiga memang pengen hidup dari musik dari awal sampai sekarang. Alhamdulillah kita bertiga pendapatan utama justru dari musik.

Kangen ga dengan formasi RR pada saat masih berlima?
Kalau dibilang kangen semua juga pasti kangen lah. Apalagi kalau bisa main berlima full set, pasti lebih edan lah. Bayaran nya pun pasti lebih edan hahaha. Ya sekarang enak juga sih cuma bagi 3 doang haha. Cuma kalau berlima mungkin fee nya juga bsa 5x lipat. Kita sekarang manggung juga pakai additional karena kita ga suka pake sequencer. Karena kalau pakai sequencer ga bisa ngejam, ga bisa ngobrol sama penonton. Energi-energi nya hilang lah kalau pakai sequencer.

Balik lagi ke Saint Barkley, rencana-rencana berikut lo buat SB apa aja?
Sekarang kita lebih fokus developing lah. Misal insole ngejar brand-brand luar biar bisa empuk banget. Kita juga cari titik-titik untuk jualan seperti di Korea, Malaysia, Singapura, dan lagi approaching Kanada dan Amerika, walaupun masih kecil-kecilan dan belum bisa dibanggakan. Negara-negara tetangga juga lagi kita approach, dan di negara tetangga kita akan bersaing dengan brand luar dan Vans. Tapi kalau kualitas kita bisa diadu lah sama Vans hahaha..

 

Words by Aldy Kusumah
Photos from Ozom / Saint Barkley archives

Setelah vakum hampir 5 tahun lamanya, Littlelute memutuskan “comeback” untuk mengobati kerinduan yang mulai mengusik para personel, juga para little cousins. Maklum saja, dengan adanya kesibukan dari masing-masing personil yang harus mengambil keputusan untuk vakum beberapa waktu kebelakang. Namun setelah kembali dari rehatnya, Littlelute memberi kejutan dengan merilis single terbaru yang berjudul “Teman Cerita”. Lirik lagu ini ditulis Dhea (Vocal) ketika rehat pasca melahirkan dan menjadi seorang ibu. Melepas keseharian dalam bermusik tak lantas membuat ia lupa, namun berbuah dengan karya yang bisa kita nikmati saat ini.

Bagi Littlelute, lagu ini bukan sekedar karya yang dirilis untuk membayar penantian teman-teman sekalian. Lebih dari itu, ini adalah media Dhea dkk berbagi cerita sembari melakukan proses kreatif secara daring, mengingat situasi dan kondisi dua tahun terakhir yang tidak memungkinkan untuk berkumpul bersama secara intens. Semoga lagu ini bisa berkenan di hati dan telinga kalian, yang terpenting bisa menjadi pengingat agar tak sungkan untuk kembali bercerita, teman.

Ini adalah beberapa single-single yang menarik dan sering kami putar akhir-akhir ini. Mari simak 14 single berikut ini yang kami sajikan tanpa urutan. Here goes…

Alkateri – “Egosentris”
Ini adalah debut single dari unit indie pop yang baru terbentuk di Bandung pada tahun 2021. Band ini seakan muncul tiba-tiba ditengah pandemi 2021 dan akhirnya merilis “Egosentris”, sebuah track indie pop bergitar jangly dengan modulasi delay. Memang single ini dirilis September lalu, tapi sepertinya lagu ini cocok untuk meng-elevate solo travelling kalian menggunakan kereta atau sambil melihat jendela dari pesawat terbang. For fans of: The Sastro, The Sweaters atau Secret Meadow.

Retlehs – “Kaki”
Trio goth / shoegaze / post-punk / indie rock / whatever ini cukup menyita perhatian kami: vokalis Natasha dengan suaranya yang mengalun dan powerful disaat yang sama, basslines Hara yang mengingatkan saya pada Kim Deal dari The Pixies dan Faizu, drummer yang menurut saya sangat badass. “Kaki” adalah sebuah track yang terdengar seperti peleburan nu gaze tahun 2000an ala Amusement Parks on Fire dengan alternative rock ‘90an. Dengan produser Joseph Saryuf (Sinjitos Records), mereka berada di tangan yang tepat untuk merilis debut EP mereka “Satyr’s Satire”. Oh ya, cek juga cover version Efek Rumah Kaca “Di Udara” yang mereka bawakan. This band should deserve more attention.

Polka Wars – “Phases of Hue”
Band indie rock asal Jakarta ini sempat diisukan bubar, tetapi ternyata mereka merilis single baru dengan format trio. “Phases of Hue” juga diproduseri oleh Lafa Pratomo (produser album “Bani Bumi”). Surprisingly, “Phases of Hue” lebih straightforward secara musikalitas dan instrumentasi. Jika dibanding dengan single “Rangkum” atau lagu-lagu di album “Bani Bumi” yang lebih melankolis dan moody. Tidak bisa dipungkiri, track bernuansa indie rock ini sangat catchy. Terkadang memang ada benarnya less is more. Kami menyukai direction baru Polka Wars yang lebih simple dan segar. Can’t wait for the album to drop.

Dongker – “Bertaruh Pada Api”
Setelah tahun 2020 lalu merilis merilis mini album “Menghibur Domba di Atas Puing”, Dongker kembali merilis materi baru yang berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya: berdurasi lebih panjang. Band yang memainkan musik punk ala Protex dan The Dickies ini cukup dikenal dengan lagu-lagunya yang berdurasi singkat, lirik Indonesia yang offensive dan sound gitar yang raw. Dengan lirik seperti “Aku ingin terus hidup / berharap umurku panjang” sampai kalimat penutup “Tanpa batas, tanpa negara, tanpa agama”, sudah tentu lagu ini akan mengundang sing along yang lantang jika dibawakan. Lagu dengan aransmen ala “Bohemian Rhapsody” ini juga di mix oleh Pandu Fuzztoni (The Adams), dengan bantuan vokal latar dari Jasmine Kane (Loner Lunar).

Bleach – “Overcast”
Setelah merilis “Iced Cold” 16 September lalu, kuintet hardcore asal Bandung, Bleach, merilis single bertajuk “Overcast” pada 25 November ini. Kedua single ini adalah bagian dari debut full-album yang akan dirilis pada awal tahun depan via Disaster dan Oblivion Records. Jika pada “Iced Cold” mereka menyelipkan sedikit riff grunge, pada “Overcast” mereka terasa lebih tight dengan pakem hardcore ‘90an yang catchy. Ada elemen perkusi yang dipadupadankan dengan bassline yang groovy disini. Mike (Vokal) sedikit bernyanyi disini seperti pada single “Iced Cold”. Cover art untuk single ini dikerjakan oleh Yowdy Santiar dari Iron Voltage.

Godplant – “Neraca Rimba”
Setelah merilis Caruk pada bulan Juni lalu, Godplant kembali dengan single baru berjudul “Neraca Rimba”. Single kedua dari unit doom/sludge asal Jakarta ini sudah resmi dirilis dan bisa didengarkan di media streaming pilihan kalian. Kedua single ini adalah bagian dari upcoming album mereka yang tentunya akan dirilis dalam waktu dekat. Artwork menarik single ini dibuat oleh illustrator Syams Riadio. Tentunya band pilihan Lawless Jakarta selalu top notch. Godplant sepertinya ingin kita mendengarkan lagu mereka dengan volume yang keras.

Alpha Mortal Foxtrot – “Spectrum”
Salah satu band underrated favorit kami. Alpha Mortal Foxtrot, atau Amofo adalah band alt-rock / indie rock dari Jakarta. Kita mendengarkan Amofo sejak mereka merilis single “No One Will Talk About Us”. Band ini kerap memprakarsai “Menyongsong Nah Ini Dia Fest”, sebuah gigs intimate yang menampung band-band underdog lainnya yang tidak tampil di festival-festival besar. Rupanya dari departemen lirik, single alternative rock ini bercerita mengenai pengalaman personal Wiku (Vokal/gitar) dan dipersembahkan untuk anaknya. Sebuah lagu yang uplifting dan diracik degan baik.

Sieve – “In the Shore of Madness”
Salah satu pionir darkwave / goth rock asal Bandung ini kembali dengan single baru setelah hiatus selama 22 tahun. Produksi sound modern ternyata mampu menghadirkan musik Sieve yang sesungguhnya, jika pada EP “Biara” mereka terhalang oleh teknologi yang terbatas, kali ini musik Sieve terdengar seperti seharusnya: megah nan epik. Tentu saja vokal Alexandra J. Wuisan tidak mengecewakan dan malah lebih terekspos di single ini.

Rafi Muhammad – “Tasty”
Setelah merilis Transition pada tahun 2017, Rafi Muhammad; Drummer sekaligus produser asal Jakarta kembali dengan secara resmi merilis EP bertajuk “Laughter Master” pada 18 November kemarin. Self-produced EP bernuansa jazz, afro, house sampai hip hop ini direkam secara live bersama tiga musisi yang juga sahabatnya: Nikita Dompas (gitar), Kevin Suwandhi (synth bass, keyboard), dan Kuba Skowroński (saksofon). Muhammad menggarap keempat materi tersebut bersama Doni Joesran, salah satu personil trio jazz / leftfield / electronica asal Jakarta, Batavia Collective. Kudos untuk Randy MP yang membuat lagu ini terdengar sangat nyaman di telinga. Mastering pun digarap oleh Viki Vikranta dari Kelompok Penerbang Roket.

Sore – “Maka Terjadilah Sekilas Kisah Murah”
Selalu menjadi perdebatan para penggemarnya, kalau Sore formasi trio sekarang ini output musiknya sedikit berbeda dengan formasi kuintet klasiknya. Tetapi bagi kami, rilisan-rilisan Sore yang baru terdengar lebih effortless dan tetap tidak mengalienasi penggemar-penggemar lama mereka. Contoh kongkritnya ada di lagu ini tentunya. A nice poppy ballad dengan mood nostalgia yang datang entah darimana.

Efek Rumah Kaca – “Heroik”
Ini adalah single terbaru dari Efek Rumah Kaca, apa perlu kita jelaskan lebih lanjut? Sedikit mengingatkan ke direksi aransmen musik ERK di era album self-titled (2007). Go ahead and listen this banging song.

Sunbath – “Paralyzed”
Sunbath berhasil mempraktekkan tagline “alternative rock revival” mereka dengan single ini. Kalian akan mencium sedikit aroma dari Lush, Elastica, Veruca Salt bahkan L7 dan Sixpence None The Richer di lagu ini. Single ini adalah rilisan perdana Sunbath dengan formasi yang lebih solid, dan rilisan ini juga menandakan bahwa mereka akan merilis “sesuatu” dalam waktu dekat. Catch their live performances too, you won’t be disappointed.

Collapse – “Rute Menuju Ivory”
Collapse seakan menemukan energi baru dengan transisi mereka dari solo project menjadi sebuah band yang solid. Jika kalian rindu Collapse era “Cold November” dan “Chloe”, maka ini adalah obat nya. “Rute Menuju Ivory” memang terasa seperti “sekuel” dari 2 single terakhir mereka sebelum hiatus. Kali ini Andika Surya seperti lebih “lepas” untuk mengeksplorasi departemen vokal karena gitar sudah dipercayakan kepada 2 sahabat nya: Angga dan Mario. Suara crunch gitar yang renyah berpadu dengan permainan drum yang epik kelak akan membuat lagu ini menjadi favorit di show mereka dan akan menggantikan “Given” sebagai lagu andalan. Mari kita tunggu single berikutnya yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.

Nearcrush feat. Collapse – “Season Finale”
Pada tahun 2022 band indie rock veteran asal Jakarta, Sajama Cut, merilis album kompilasi tribute to Sajama Cut berjudul “You Can Be Anyone You Want”. Siapa sangka, band alt-rock asal Bandung bisa mengkover lagu “Season Finale” Sajama Cut yang dengan sangat baik. Dengan aransmen yang sedikit berbeda dari versi originalnya, lagu cover ini dikemas sedikit lebih modern dari versi aslinya yang lo-fi. Sound gitar yang lush bertemu dengan efek fuzz yang mengawang di background, lalu diakhiri dengan outro yang sedikit basah oleh modulasi chorus. Pada single ini, Andika Surya dari Collapse membantu mengisi departemen drum dengan permainan nya yang apik dan pas.

Words by Jeurnals

Brand asal Bandung, Statesman Division, baru saja merilis koleksi terbarunya yang bernamakan ‘Licensed To Thrill’. Sebuah plesetan dari album debut Beastie Boys ‘Licensed To Ill’. Pada koleksi ini Statesman Division menjadikan Beastie Boys sebagai sosok inspirasi dari ikon transformasi, evolusi dan pendewasaan. Memperkenalkan spirit mereka sebagai rangkuman dari akar sekaligus perkembangan fenomena counterculture streetwear.

Interpretasi Statesman Division terhadap kejujuran Beastie Boys, dituangkan ke berbagai rentang produk. Diantaranya 13 artikel T-Shirt dengan sentuhan grafis 90’an. Selain itu terdapat juga produk perdana dari statesman dari mulai Pants Collection yang terdiri dari Fatigue, Cargo hingga Chino Work Pants. Juga berbagai outerwear seperti Puffer, Sherpa, hingga Two-Tone Work Jacket. Koleksi ini merupakan sebuah analogi dari evolusi Statesman Division, dengan bercermin terhadap Beastie Boys. Sekumpulan remaja slengean hardcore-punk yang berkembang menuju kematangan seiring perjalanannya bertumbuh.

 

‘Licensed To Thrill’ akan membawa kamu kepada sebuah sensasi (thrill) nostalgia generasi lama sekaligus memperkenalkan alternative role model untuk generasi sekarang. Koleksi ini sudah dapat dibeli melalui Official Store Statesman Division.