Beberapa waktu lalu, Maternal Disaster dan Collapse mempublish sebuah teaser videoklip single baru mereka yang berjudul “Rute Menuju Ivory”. Single ini akan dirilis oleh Disaster Records dalam waktu dekat, dan video klipnya yang digarap oleh Ideas Crtve akan rilis hari minggu (11/12). Jika kamu menyaksikan Collapse dengan formasi baru ini tentunya akan setuju dengan saya kalau formasi ini lebih solid dari formasi sebelumnya. Kali ini Andika tidak memegang gitar dan bisa lebih ekspresif dan fokus menjadi vokalis. Departemen gitar sudah diamankan oleh 2 punggawa Mario dan Angga yang bermain apik. Belum lagi rhythm section yang groovy dari Hasbi dan Satria.

Menurut Andika Surya, lagu baru ini “menawarkan sentuhan dari varian genre Alternatif hingga Progressive Rock, tetapi yang paling menonjol adalah nuansa yang lebih Bright dan Heavy bertemu dengan energi Hardcore yang elegan”. Kali ini Collapse merubah formasinya dari one man project menjadi full-band beranggotakan 5 orang personil. Mereka adalah: Andika Surya sebagai vokalis dan songwriter yang juga turut melibatkan kawan lama Angga Kusuma (Ssslothhh), Mario Panji (Leipzig), Hasbi Erlangga (Haul) dan Satria Gustian (Lizzie/Gaung) untuk merekam lagu ini sekaligus penetapan sebagai personil Collapse.

Well what can we say? Menurut kami ini adalah karya terbaik Collapse yang mereka pernah mereka rekam sejauh ini. Rilisan terakhir mereka adalah “Chloe / A Glaring Panorama” yang dirilis pada tahun 2018 silam. Walaupun animo dan respon pendengar tidak sehangat single “Cold November”, single “Chloe / A Glaring Panorama” adalah personal favorite saya. Kembali ke single baru mereka, kalian mungkin akan sedikit “terkejut”. Bayangkan saja musikalitas Basement dengan lagam vokal ala Protonema atau Dewa 19 era Ari Lasso. Sound gitar yang renyah bertemu dengan fondasi permainan drum Satria Gustian yang menurut saya cukup epik. Oh ya, ini juga pertama kalinya Collapse membuat lagu dengan lirik berbahasa Indonesia, dan Andika cukup “witty” juga untuk menyelipkan part bridge spoken words berbahasa Inggris ala Frank Ocean di album “Channel Orange”. Tentunya simak video klip mereka dan gunakan speaker atau headphone terbaikmu untuk mendengarkan “Rute Menuju Ivory” jika sudah hadir di media streaming, karena lagu ini di mixing dan mastering oleh Indra Severus yang dulu juga turut andil memoles EP “Grief” milik Collapse.

Words by Aldy Kusumah

Setelah merilis EP perdananya pada November 2021 dan MS. MONDAINE pada 16 September lalu, Cito Gakso merilis single terbarunya yang berjudul Better Dayz. Single ke-2 dari daftar track yang akan masuk dalam upcoming debut albumnya tahun depan ini, Cito kembali bekerja sama dengan Vai Siagian dan Gilang Dhafir sebagai produser.

Better Dayz bercerita tentang mengejar cita – cita demi hari esok yang lebih baik dan juga suka duka perantauan yang tersirat dalam perjalanan hidup seorang Cito Gakso. Dirangkum apik dalam sebuah lagu yang cukup chill dari karakter musik Cito, BETTER DAYZ merupakan salah satu karya yang santai namun tetap memberikan warmth and enlightening hopefulness di dalamnya.


Better Dazy sudah bisa dinikmati di seluruh streaming platform kesayangan Anda beserta Music Video yang disutradarai oleh Nathanael Moss tayang pada Senin, 13 Desember 2022.

The House Tour Midtown, salah satu outlet hotel dari Maja Family, sebuah urban hospitality group yang terkenal dengan arsitektur bangunan yang unik, kembali menggelar pameran “Room to Room” yang berlokasi di Jl. Panumbang Jaya No.5, Ciumbuleuit, Bandung. Pameran ini merupakan kali ke-empat Maja Family menggelar acara Room to Room setelah Vol.03 yang berlangsung di outlet pertama Maja Family di Bali, yaitu Brown Feather Hotel.

Acara yang berlangsung sejak tanggal 2 hingga 4 Desember 2022 mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari para pengunjung karena mayoritas brand pada pameran kali ini memiliki community relations yang kuat sehingga turut meramaikan acara Room to Room Vol. 04. Lokal brand ternama yang ikut berpartisipasi, yaitu Home of HMNS, The Blew, DAMA KARA, Thaja, Senyaman x Cuvvie, It is Weirdoo, Auctus, WSAY, Make Them Jealous, Tome Ame, ISOSS, The Auctus, and Touche.

Mengutip dari General Manager dari Maja Family, Sunar Rahmanto, “Event ini merepresentasikan image Maja Family sebagai Urban Hospitality Group yang terdiri dari beberapa hotel, restaurant, fashion dan juga brand fashion di Bandung dan Bali, dengan membuat sebuah aktivasi unik yaitu menghadirkan pameran fashion di area kamar-kamar hotel salah satu outlet kami, The House Tour Midtown. Brand-brand lokal yang berpartisipasi di event ini pun adalah brand yang terpilih dan terkurasi dengan baik. ”

Sebagai satu-satunya Hotel di Kota Bandung yang melakukan showcase di dalam kamar hotel, pengunjung dapat sekaligus merasakan sensasi room tour dan mengunjungi pameran di waktu yang bersamaan. Setelah berbelanja, para pengunjung juga dapat menikmati beraneka ragam santapan makanan di dalam ruangan kaca atau Glass House di area Boundary Restaurant yang berlokasi di The House Tour Midtown.

Setelah merilis single “Global Anxiety” pada 27 desember 2021 lalu, Concise band indie-pop asal Bali merilis single kedua mereka yang berjudul “Go”. Dua rilisan ini merupakan langkah awal menuju EP perdana mereka yang rencana akan diluncurkan di tahun depan.

Single kedua dari Unit indie pop yang digawangi oleh Mang Artha pada gitar dan vokal, Yudista Yoga pada drum, Wahyu Pratama pada gitar, dan Amelia pada bass ini menceritakan tentang seseorang yang sedang berada dalam fase kenakalan remaja yang sarat akan kebebasan dan ego yang menggebu-gebu. Sampai pada akhirnya realita menyadarkan, bahwa pilihan yang diambil adalah sebuah kesalahan hingga menjadi titik balik atas tujuan yang dipilih. Concise memiliki karakter musik yang terbentuk perlahan dari penggabungan beberapa elemen musik yang didengarkan oleh masing-masing personilnya, seperti indie pop, dream-pop, shoegaze hingga post punk.

Single “Go” rencana telah dirilis pada tanggal 29 November 2022 di bandcamp dahulu dan untuk digital streaming lainnya akan direlease di pertengahan bulan Desember.

Pada tanggal 1 Desember 2022 lalu, Based Club secara resmi meluncurkan mini capsule kolaborasi dengan Polka Wars.

Setelah merilis Bani Bumi pada tahun 2019 lalu, Polka Wars kembali dengan single terbaru bertajuk Phases of Hue. Untuk kolaborasi ini, Based Club selaku brand pakaian asal Bandung ini, merespon single tersebut melalui graphic yang terksesan surrealis dengan perpaduan warna ala Based Club.

Mini capsule kolaborasi antara Based Club dan Polka Wars ini menampilkan vest knitwear, t- shirt dan sling bag yang sudah bisa didapatkan webstore Based Club.

Setelah dirilis dua setengah tahun yang lalu, akhirnya single “Serenata Jiwa Lara” milik Diskoria akan dihadirkan dalam bentuk rilisan fisik berupa piringan hitam 10 inci. Dulu sebelumnya versi 12 inci dari single ini pernah dirilis dalam quantity terbatas dan salah satunya dilelang untuk mensupport Irama Nusantara.

Lagu disko dengan lead vocals dari Dian Sastrowardoyo ini menemani masa-masa awal pandemi dan PSBB dan lumayan menjadi instant hit di Youtube dan media sosial. Setelah sebelumnya Suara Disko dan Anukara Records pernah merilis iringan hitam album “2020” milik White Shoes & The Couples Company, kali ini mereka kembali memberi persembahan piringan hitam 10 inci ini untuk para penggemar Diskoria. Single yang digarap oleh trio produser Laleilmanino ini juga sangat menarik darik aransmen dan pemilihan sound yang berkarakter, sehingga cukup stand out pada saat dulu rilis.

Piringan hitam “Serenata Jiwa Lara” berisikan Original Mix pada Side A dan Dea Barandana Remix pada Side B. Materi ini sudah disiapkan dari tengah tahun 2021, akan tetapi kerjasama dengan Dea Barandana lebih dulu tereksekusi dalam bentuk produksi lagu “Bersinar Bersamamu”, yang sudah dirilis oleh Diskoria awal tahun ini bersama Adinda. Barulah akhir tahun ini, piringan hitam “Serenata Jiwa Lara” bisa terealisasi. Setelah merilis ini, Suara Disko dan Diskoria turut merencanakan rilisan fisik berikutnya, serta karya baru dari Diskoria yang dijadwalkan akan segera hadir di tahun 2023. Piringan hitam 45 RPM “Serenata Jiwa Lara” ini sudah bisa didapatkan mulai hari ini 30 November 2023. Selamat berburu dan selamat berbelanja.

 

Words by Aldy Kusumah

Brand asal Bandung, Bodypack, dan salah satu builder motor custom ternama asal Jakarta yaitu Elders Company tengah berkolaborasi untuk memajangkan koleksi andalannya di panggung dunia. Kedua merek asli Indonesia ini membuat sebuah movement serta produk yang memadukan custom culture dan urban lifestyle.

Mereka tampil di Yokohama Hot Rod Custom Show yang berlokasi di Pacifico Yokohama, Jepang pada tanggal 4 Desember 2022. Acara yang diselenggarakan oleh Mooneyes dan telah berusia 30 tahun ini adalah salah satu ajang yang paling ditunggu oleh para penikmat modifikasi mobil dan motor bergaya hot rod atau custom. Setiap tahunnya, partisipan yang hadir meracik kreativitas agar dapat menampilkan karya terbaik yang mendapat decak kagum. Tidak sampai di situ, di dalamnya akan hadir berbagai brand lifestyle yang turut memeriahkan acara.

Dengan membawa campaign “Urbanventure”, Bodypack dan Elders merangkul fenomena custom culture yang menjadi sebuah wadah eksplorasi bagi para kaum urban. Menurut Imanuel Wirajaya selaku Brand Director Bodypack, eksplorasi yang dimaksud adalah melakukan kegiatan di luar rutinitas dan membuat perbedaan dalam hidup masing-masing individu. Pendiri Elders, Heret Frasthio, juga mengungkapkan bahwa kolaborasi ini pada dasarnya bertujuan untuk menunjukkan custom culture sebagai salah satu bagian dari urban lifestyle.

“Ajang ini juga menjadi momen pengantar bagi Bodypack untuk bisa memperkenalkan brand dan produk Indonesia kepada masyarakat Jepang dan juga pasar internasional secara lebih luas melalui Elders sebagai partner”, ungkap Febby Rusdiansyah yang merupakan Brand Manager untuk Bodypack. Digelar dengan tema “Peace”, acara ini juga bertujuan untuk menghadirkan pameran mobil dan motor sambil berbagi keceriaan kepada setiap pengunjung dengan harapan pandemi akan segera usai.

 

Photos from Bodypack’s documentation

“Bandung Synth Meet #3” adalah sebuah perhelatan musik elektronik dengan berbagai variasi genre dari ambient sampai experimental. Bandung Synth Meet merupakan acara rutin yang di inisiasi oleh Subtractive sebuak kolektif musik elektronik dan improvisasi bebas, dan juga komunitas musik elektronik Bandung Synth Society dan Indomodular. Diadakan pada hari Jumat, 18 November 2022. Bertempat di Kopi Kohi yang sudah menjadi reguler bagi perhelatan ini. Acara ini menampilkan beberapa line-up dari Discokid909 (Jakarta), Kuntari, Firzi O, Profound Grief (Deathless Ramz). Suasana yang ingin dibangun di perhelatan ini juga cukup intimate dengan adanya talkshow dan workshop yang dipandu Adhit Android, Baseput, Kimung dan Kuntari. 

Acara dibuka di jam 18:30.oleh Rembo dan Adhit sebagai moderator dari talkshow dengan dengan pembicara ialah Baséput (moniker dari Rayhan Sudrajat) dan Kuntari (moniker dari Tesla Manaf). Tanpa terasa, talkshow tersebut pun berakhir dan performa Profound Grief membius semua penonton yang hadir disitu. Profound Grief adalah moniker dari Rembo, yang juga bermain di band Nearcrush. Di fokus memainkan samples dari instrumen modular synthesizernya. Setelah itu Kuntari memadukan terompet dengan synth miliknya. Pilihan bebunyian dan nada yang dimainkan Tesla Manaf (Kuntari) memang bisa membuat merinding, apalagi saat pekik terompet bersuara diatas intrumen lainnya yang droning. Setelah itu giliran Firzi O dengan white noise dan polyrhythm nya.

Acara ini pun ditutup oleh Discokid909. Moniker dari Hendra RNRM ini memainkan beat-beat disco dan bassline yang danceable. Hendra meramu komposisi musiknya menggunakan modular system dengan kabel yang bejibun. Fakta menarik adalah Hendra membuat sendiri rack modularnya menggunakan 3D printing.

Semoga perhelatan seperti ini terus digelar agar ekosistem musik elektronik pun semakin menjalar di kemudian hari.

 

Words by JEURNALS

Additional text by Rayhan Sudrajat

Exsport adalah brand heritage yang sudah berdiri dari 1979 (bahkan sebelum Eiger) dan sekarang brand ini tampil lebih fresh dipandu oleh “nahkoda” barunya: Angel Lukito. Setelah lulus kuliah dari Seattle University, Angel Lukito mendapat “tugas” untuk me-rebranding Exsport agar lebih relevan. Dari pop-up store di Grammars, flagship storenya di Bandung yang terinspirasi arsitektur mid-century, sampai kolaborasi-kolaborasi unik dengan illustrator Phantasien, Seroja Bake dan permen Yupi, manuver Angel sudah terlihat lebih edgy dan terarah. Mari berbincang dengan Angel mengenai dituntut oleh perusahaan minyak, trend fashion gorpcore dan fase burnout yang dialaminya…

“Kita pengen mengingatkan orang-orang yang sudah dewasa pas lo kecil tuh lo bebas berekspresi dan tidak takut di judge saat jadi diri sendiri.”

Halo Angel, Bisa ceritakan background lo dan proses awal lo gabung ke Exsport?
Halo namaku Angel, sekarang umurnya 25 tahun. Sekarang lagi sibuk mengembangkan brand Exsport. Hobinya jalan-jalan ke alam dan main sama doggy hehe. Gue dulu kuliah business finance di Seattle University, sebenarnya masih nyambung kuliahnya sama Exsport karena gue ngejalanin operasional dan branding jadi finance nya kepake banget.


Gue sekarang lebih fokus di product development, marketing, team sales, sama di merchandising. Balik ke Indo tahun 2019 gue masuk ke team finance di Eiger. Awal tahun 2020 bulan Februari dikasih kesempatan untuk mengembangkan brand Exsport. Exsport ini sebenarnya adalah mother brand dari Eiger. Exsport itu lahir tahun 1979, Eiger 1989 sepuluh tahun setelah Exsport. Sejujurnya setelah dikasih kesempatan aku gak terlalu mempertimbangkan good opportunity ini. Kayaknya seru, pas masuk langsung pandemi dan sales drop banget huhu..

Beberapa Kolaborasi Exsport selalu menarik: Phantasien, Seroja Bake dan permen Yupi. Gimana awalnya lo berkolaborasi dengan mereka? Ada cerita dibalik ketiga collab itu?
Memang awalnya kita yang approach duluan. Kalau dari Phantasien (Anindya Anugrah) memang Exsport pengen tap in dengan ilustrator perempuan. Anin itu dulu di hukum sebelum shifting mengejar ilustrator sebagai karir. Keberanian dia untuk berkarya berhubungan dengan Exsport yang mensupport self expression as a woman, dimana seorang perempuan itu bisa berekspresi dengan bebas dan authentic. Dan menurut gue hasil karya dia itu menarik banget. Pada saat itu kita mencoba mengeluarkan produk diluar kebiasaan kita: Tenda, poncho dan totebag.

Kalau sama Seroja Bake aku personally ngefans sama mereka. Awalnya tau dari Instagram dan mau beli hampers Natal buat teman-teman ku. Aku suka konsep strawberry jam mereka yang bekerja sama dengan petani yang memanfaatkan stroberi yang surplus. Bakery with a mission, keren! Kita kolab aktivasi 4 minggu aja sama mereka, kita bikin Exsport picnic collections, dan bikin menu bareng sama Seroja. Sampai food tasting juga. Kita bikin curry sando, sago yang dalamnya ada kelapa, coklat dan mint, dessert favorit aku, sama juice yang mirip es campur versi Seroja. Jadi yang beli Exsport dapet voucher untuk menu tersebut. Seru sih. Personally aku support misi nya Seroja dan emang enak makanan nya.
Kalau untuk Yupi sendiri kita menargetkan brand yang sudah dikenal secara nasional. Relevansi Yupi sama Exsport itu apa, kita adalah brand nostalgic dimana masa kecil kita memakai tas Exsport dan makan permen Yupi. Kita pengen mengingatkan orang-orang yang sudah dewasa pas lo kecil tuh lo bebas berekspresi dan tidak takut di judge, juga jadi diri sendiri. Se-simple itu sih. Produknya ada sling bags, backpacks, airpods pouch, dan iphone sling bag.

Dengan ada trend gorpcore (fashion hiking/camping) apakah Exsport sebagai brand outdoor akan meng-cater market tersebut?
Sebenarnya kita bisa dibilang lebih ke brand lifestyle bukan outdoor. Kita membagi activity brandnya jadi 3 sih: productive, active dan recreative. Jadi lebih ke hal-hal yang kita lakukan setiap hari seperti sekolah dan kerja (productive), active itu lebih ke olahraga dan recreative lebih ke hobby. Jadi trend outdoor itu masuk ke recreative sebenarnya. Kita secara tidak langsung mengadaptasinya dari style-style foto lookbook kita yang di alam, aktivitas alam dan kolab sama Anin Phantasien juga mengeluarkan tenda. Karena ada trend outdoor boom dimana orang-orang lebih senang berkegiatan di outdoor setelah pandemi. Kita mencoba tap-in disitu.

Kalau tidak salah dulu Exsport itu singkatan dari Exxon Sport ya dan sempat diganti singkatan nya? Apa makna dari nama Exsport tersebut sekarang?
Betul! Jadi dulu tuh nama kita sebelum Exsport itu adalah Exxon. Tahun 1983 dituntut sama oil company Exxon dari Amerika. Tapi kita ganti nama jadi Exsport yang artinya sesimpel Exxon dan sporty, gitu aja sih hahaha! Sebenarnya kalau gue sih ga berpatok di namanya yah. Eh btw banyak orang typo yang nulis Exsport ga pake “S” jadi kaya export-import hahaha. Cuma kita punya logotype dan logogram yang punya arti. Logo yang seperti bunga X itu ada artinya kak, yang pertama collaboration (huruf X), exploration dan chromosome X. Kalau chromosome XS itu kan perempuan, dan XY itu lelaki. Secara fitur dan ukuran tas memang fokus ke perempuan, tapi banyak juga kok laki-laki pake Exsport sekarang.

Bisa elaborasi sedikit konsep dibalik design interior flagship store ini?
Oke jadi untuk flagship ini konsepnya seperti semi exhibition, jadi kalau misalnya kakak masuk ke dalam ada banyak pegboard gitu, disitu juga ada semacam penjelasan produknya dan material-materialnya. Tapi tidak semua warna kita pajang, sisanya ada di lemari yang bisa dibuka untuk melihat warna lain. Jadi ada experience nya. Yang kedua tuh kita meng adaptasi arsitektur mid-century. Warna-warna kayunya tuh warna coklat tua, dimana sering ditemukan di arsitektur jaman mid century. Tapi dipadu juga sama DNA Exsport yang quirky. Dengan aksen warna-warna hijau, biru ditambah bentuk-bentuk yang organik. Di Yogya juga ada flagship kita. Ada juga di kota-kota lain di beberapa toko Eiger.

Pada tahun ‘90an gue cuma tau Exsport sebagai tas ransel sekolah. Tapi sekarang lo meng-elevate Exsport dengan banyak varian produk dan lebih colourful. Apa aja konsep yang lo terapkan pada rebranding yang berhasil ini?
Jadi pada saat rebranding memang cukup banyak effort yang dilakukan. Salah satunya dari value dan misi brand nya. Dari sisi product category sampai business modelnya. Jadi cukup holistik sih. Semua nya dirubah hahaha. Kita mencoba relevan dengan lifestyle anak muda sekarang. Gue juga personally suka sama brand-brand yang kita ajak kolaborasi. Gue suka misinya. Kaya misal kita pop-up di Grammars karena hampir tiap minggu gue ke Grammars. Jadi apa yang gue suka juga pada akhirnya dikembangkan jadi kolaborasi. Walaupun ga semua hal yang gue suka juga sih, tetap yang masih ada relevansinya.

Top 3 brand tas favorit lo yang cukup menginspirasi?
Gue suka Bimba Y Lola dia itu dari Spanyol, dia lebih ke high fashion. Secara design detail banget dan perpaduan warnanya menurut gue smart banget. Dia senang memberi aksen detail kecil yang membuat keseluruhan design jadi perfect. Edan pinter banget lu nambah warna kuning disini! Mereka tuh berhasil banget disitu. Baboon to the Moon brand dari US. Dia itu ga banyak varian cuma gue suka sama pemilihan warnanya. Dia mengeluarkan warna-warna yang orang lain ga punya. Mereka tuh edgy dan quirky banget. Keren menurut gue mereka tuh. Kalau Topo Design itu brand outdoor dari Denver Colorado. Dia secara fungsional bagus menurut gue. Detail-detail dan fungsinya cakep banget. Edan kepikiran banget cuttingnya.

Lo juga lagi mengumpulkan tas-tas Exsport tahun ‘80an ya? Gimana tuh prosesnya terus output nya mau jadi apa?
Jadi gue ngumpulin karena penasaran dulu tuh Exsport kaya gimana. Itu tuh produk-produk 40 tahun yang lalu dan papa gak nyimpenin. Dia kaga nyimpenin. Gue sempat nemu di Carousell ada yang jual masih bagus. Durability dan kualitas Exsport itu adalah value utama kita. Jadi memang tas-tas yang berumur 40 tahunan yang gue dapet kondisinya masih bagus-bagus. Dan kita punya lifetime warranty. Kalau ada kerusakan di jahitan atau resletingnya bisa kita repair, tas Exsport dulu pun yang sebelum rebranding bisa kita repair. So far sih baru nemu dari saudara-saudara, Carousell dan teman-teman di Instagram. So far baru sekitar 10 yang terkumpul, susah bro nyarinya haha! Entah gue nanti mau bikin campaign atau gimana. Jadi sebenarnya 10 tas yang gue dapet ini yang benar-benar klasik dari tahun ‘80an.

Dalam menjalankan family business ini apa lo pernah merasa takut mengecewakan dan tidak sesuai dengan ekspektasi keluarga setelah diberi kepercayaan?
Jadi gue as a human being jujur sempat ngerasa takut mengecewakan. Takut tidak sesuai dengan ekspektasi. Jadinya gue kayak yang keras pada diri sendiri, padahal keluarga santai-santai aja. Karena gue terlalu keras pada diri sendiri jadinya gak “lepas”. Gue pada saat itu lulus kuliah 2019 langsung megang Exsport ini dengan pengalaman gue yang bisa dibilang ga ada lah. Pada saat itu masuk ke era pandemi dan langsung rebranding. Cukup menemukan banyak ups and downs hehe. Sempat kaya burn out banget juga. Gue ngerasa ya dalam hidup fase itu adalah fase terberat gue so far, gatau ya entar ada apa lagi. Itu salah satu momen yang cukup challenging. Tapi pada akhirnya gue dapat jawaban yang meringankan dan mindset langsung berubah. Suatu hari gue tiba-tiba nangis cukup kencang karena burn out. Udah gak bisa nahan. Karena memang gue tipe orang yang gak suka cerita masalah pekerjaan ke parents, jadi dihadapi sendiri. Ditanya akhirnya kenapa gue burn out. Gue nanya ke papah “Ekspektasi mu untuk Exsport itu apa?”. Kata dia ekspektasi nya adalah agar brand ini tetap eksis dan gimana caranya brand ini bisa ngasih impact dan blessing sebesar-besarnya. Gue jadi ngerasa misi brand ini bukan cuma cuan aja, tapi impact apa yang kita bisa kasih. Dari situ terus berproses. Ternyata bukan cuma bisnis aja, it’s bigger than that.

 

Words by Aldy Kusumah
Photo by Feri Alan

Album perdana Iron Voltage yang berjudul “Devastation” rilis Kamis,1 Desember 2022 dalam format CD. Iron Voltage mencoba menaikkan kembali volume thrash metal oldskool yang belakangan seolah senyap dari rotasi genre diranah musik ekstrim tanah air.

Meski diisi oleh sejumlah personel yang juga illustrator, Iron Voltage mempercayakan visual estetik sampul album kepada seorang illustrator asal Italia Velio Josto yang juga telah membuat sampul album band kenamaan seperti; Vulture,Alkoholizer, Cruel Force, hingga Enforcer.

Secara garis besar Album Devastation menceritakan masa-masa gelap di tengah perang dunia ke-2 terjadi. Begitu banyak kehancuran dan korban jiwa yang berjatuhan. Masa itu merupakan masa dimana hasrat para pemimpin dunia membuncah untuk berkuasa dengan menyodorkan pion-pion budak untuk berperang. Prajurit maju bertempur membawa delusinasionalisme, menanggalkan rasa iba dan kemanusiaan, membunuh atau dibunuh.

Devastation, album perdana Iron Voltage sudah bisa didapatkan melalui instagram @dsstrrecs, marketplace Disaster Records dan juga seluruh flagship store Maternal Disaster.