Dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke 4, JRNY Coffee & Records mengadakan “GO FO(U)RTH!” JRNY Coffee & Records 4th Anniversary. Salah satu dari rangkaian hari jadinya, JRNY Coffee & Records bekerja sama dengan brand pakaian yang berbasis di Solo; Steeze.Ltd untuk merilis mini capsule collection.

Koleksi ini menampilkan Totebag Kanvas Hitam dan T-Shirt Grafis yang tersedia dalam warna Hitam dan Biru, sablon silk di atas katun 200gsm dengan tagline khusus kami “Together Join the Rhythm Fortress”.

Koleksi tersebut telah dirilis Rabu (31/8/2022) kemarin di JRNY Coffee & Records bersamaan dengan JRNY Talks, Design Exhibition, Pop Up Showcase, Music Showcase, Art Exhibition yang menampilkan JRNY Records, Sloppyrob, Niskala, Shoolinen, Sunlotus, Eastcape, dll. Koleksinya JRNY COFFEE & RECORDS / STEEZE.LTD “Together Join the Rhythm Fortress” sudah bisa didapatkan secara online.

Tidak banyak band yang menawarkan nuansa post-punk revival yang saya dengar akhir-akhir ini: Glyph Talk, Pelteras, Succubus dan salah satunya yang paling menarik perhatian akhir-akhir ini ya Leipzig Groop ini. Band asal Bandung yang terbentuk di tahun 2021 ini beranggotakan Mario Prasetya (Vokal, Synth), Ryan Arman (Gitar), Mirza P. Wardhana (Bass, Vokal) dan Iman F. Amarullah (Drum, Vokal). Full album “Garbage Disposal Communique” telah dirilis dalam versi kaset oleh Lisdia Records pada Records Store Day 2022. Lalu versi CD dan versi digital dirilis oleh Disaster Records pada awal bulan Juni 2022. Mari berbincang dengan Leipzig mengenai Ian Curtis, Ari Ernesto dan bendera harimau Siliwangi yang selalu mereka bawa saat perform..

Congrats ya atas rilis album “Garbage Disposal Communique”! Apakah sudah cukup puas dengan hasil nya?

Ryan: Halo akang abi Ryan.. Ya kalo dari saya mah sejauh ini cukup puas. Segitu aja kalau dari saya mah..

Iman: Halo kang aku Iman. Kalau saya berpikir bahwa saya cukup puas, namun album ke-2 akan lebih puas nampaknya.. Jangan pernah merasa puas dengan syukur nikmat..

Mirza: Saya puas banget, tapi sama kaya Iman, kayak nya ada beberapa aspek yang bisa dikembangin di album ke-2 nanti. Tapi kita save aja buat next album.

Mario: Ieu abi Enyan aa.. Mario a.. Haha.. Lebih joss lagi di album ke-2 nanti. Puas lah Insya Allah.. Wal taufik wal hidayah..

Recording full di studio atau ada home recording juga?

70% studio, 30% dirumah. Di hidden gem hahaha..

Kalau ngomongin durasi, album “Garbage Disposal Communique” itu sekitar 13-15 menit ya. Apa kalian emang lebih suka lagu berdurasi pendek biar short but sweet atau ada konsep lain?

Biar sweet and sour hahaha.. Konsep dari awal mah emang ga ada pas dari awal mah. Cuma emang si Mirza bikin sketsa materi pendek-pendek, referensi yang dijadikan acuan juga emang musik nya pendek, tapi.. Ga sependek pikiranmu mun ceuk Seringai mah hahahaha…

Seberapa besar pengaruh band post-punk seperti Gang of Four dan Idles untuk para personil? Apa aja sih yang kalian dengarkan pada saat proses penggarapan album?

Malah engga kesana ya. Mungkin kalau personal orang-orang nya pada suka dan dengerin. Tapi pas proses rekaman Leipzig sih kebanyakan referensi diluar dari band-band yang barusan disebut. Ada lah secara ga sadar masuk-masuk in riff Gang of Four atau Idles dan Zounds. Tapi pas di proses pembuatan lagu atau rekaman ga kesitu. Mungkin dibawah sadar lah tetap kebawa.. Cuma pas jalan sih ga ke arah sana.

Departemen lirik sangat menarik ya, menggabungkan referensi pop culture dengan kearifan lokal. Tapi tetap fun. Bisa elaborasi dikit?

Mirza: Yang nulis lirik saya. Saya teh dari SMP-SMA nge fans pisan ke Hark! It’s A Crawling Tar Tar. Ari Ernesto teh salah satu penulis lirik terhebat yang pernah saya baca. Samsul Bahri Menggugat, Behold! Tempe Mendoan Governs Your Intellect… Cara penulisan lirik Leipzig teh emg banyak ngambil formula lirik Ari Ernesto, yang nge gabungin bahasa Inggris, Bahasa Indonesia sampai bahasa Sunda. Sama ada name dropping nya juga. Ada cara penulisan Babap Homicide juga sedikit di name drop nya tapi lebih banyak Ari Ernesto nya.

Mario: Intinya mah pengen kaya Jaksel tadinya…

Mirza: Males juga sebenernya bikin lirik yang berat-berat teh. Pertanggung jawaban nya berat. Mending yang lebih relatable aja lah. Untuk kehidupan masyarakat… Masyarakat Citayam.

Ada apa dengan Ian Curtis yang kalian name drop di lagu “Manchester 56-80: The Pilgrimage of Tuan Curtis”?

Mario: Yang pasti itu lirik menceritakan Ian Curtis, bukan Ian Kasela hahaha..

Mirza: Si lagu itu teh premis awalnya pas nonton film 24 hour party people, yang tentang Factory records. Ian curtis kaya ngomong “dia pengen hidup lama bla bla bla” tapi dia bunuh diri di umur 27, cukup ironis. Pas bunuh diri dia lagi dengerin album Iggy Pop yang The Idiot dan nonton film Stroszek nya Werner Herzog. Jadi banyak ngambil dari proses ironis nya si Ian Curtis.

Gue search Leipzig di Google keluarnya klub bola dan di Spotify malah ada Leipzig band Eropa kayaknya.. Apa nanti kalian akan memakai Leipzig Groop atau Leipzig 182 biar ga sama dengan band lain nama nya?

Mario: Iya emang karena belum ada kita di Spotify. Ada band Eropa yang udah duluan. Nanti make X sigana mah Leipzigxxx hahaha..

Ryan: xLeipzigx. Tapi sempet kepikiran sih buat di Spotify nanti pake Leipzig Groop

Iman: Nama kita teh dari voting. Sebelumnya namanya tuh The Yahya, Kriminal Yahya, Pink Jazz.. Ya begitulah.. Trus kita voting, dan yang paling terdengar hipster itu teh Leipzig. Easy listening dan easy saying juga. Gampang diingat. Ternyata Leipzig itu adalah kota tua di Jerman yang populasi anak punk nya paling banyak.

Lagu-lagu kalian sangat raw dan berenergi untuk dibawakan live. Apakah memang saat membuat materi lagunya bertujuan untuk format live?

Mario: Justru secara musik mah dibikin nya terpisah. Ga ada perdebatan tentang musik. Sketch lagu langsung di respon yang lain, lirik mendadak bikin 1 jam sebelum take vokal. Jadi spirit nya sih.. Spirited away hahaha!

Iman: Jadi sebenernya pembuatan lagu dan lirik berkonsep dengan formasi pas Mario masih main gitar sambil vokal. Justru ga di konsep dan ga kepikiran dibawain live nya mau gimana. Tapi kayaknya ga mungkin live kaya gini, jadi formula sekarang juga ditemukan setelah manggung, dan ternyata lebih cocok Mario ga pegang alat. Kita lebih cocok cuma satu gitar. Jadi kalo dibilang versi live lebih asik, kita sendiri juga gatau dari awal bakal kaya gini..

Mirza: Malah ga kepikiran bakal manggung juga awalnya hahaha

Kalian juga sempat menggunakan Korg MS-20 di Youtube pas lagu “Gazelle (Noam Chomsky’s Unanswered Question)”. Tapi sepertinya lagu dan synth Korg ini jarang kalian bawa pada saat live?

Mario: Kalau full live yang waktunya memungkinkan mah kayaknya bisa aja sih kaya gitu, cuma anak-anak pada males jadi lagu itu di skip ga pernah dibawakan so far mah..

Iman: Untuk saat ini sih hampir lagu itu ga pernah dibawakan. Jadinya kita kaya mengcover lagu siapa gitu, biar tetep jadi 10 lagu. Cuma kalau misal ada kesempatan untuk dibawakan secara live bakal dibawain sih lagu itu dengan format seperti live di Youtube kita.

Pertanyaan teknis: dengan format 1 gitar bagaimana kalian mengakali live set agar lebih terdengar padat sound nya?

Ryan: Teknis nya sih standar lah.. Diakalin jadi stereo atau pake efek modulasi tambahan aja sih sebenernya. Tetap semua live instrument dan kita ga pake sample.

Rencana showcase launching album?

Ryan: Showcase rencana Agustus..

Iman: Kita masih ribet perijinan sabuga..

Mario: Si Coldplay teh si Chris Martin na lagi covid saurna.. Pengen nya mah studio gigs tapi da seeur teuing artos a hahaha

Kenapa selalu ada bendera Harimau Siliwangi di live perform kalian?

Mario: Itu mah statement aja. Mau beli handuk Polo ga keduitan. Siga band harkoy tea.. Teu acan cekap artos na.. Jadi udah weh lah.. Kebetulan depan rumah padepokan silat Siliwangi dari Tasikmalaya, jadi karena sering lihat logo itu, jadi terpatri di dalam pikiran ku.

Album-album yang kalian dengarkan pas bikin album?

Mario: kalau saya mah Devo, Torso, Squid, sama si Jolly Jumper kalau ga salah mah. Band legend eta..

Iman: Sebenarnya pas penggarapan album Leipzig teh emang pure ga dengerin apa-apa sih. Cuma pas denger materi dari Mirza, langsung kepikiran drum nya ga akan jauh dari Devo, Depeche Mode, The Cure, ya band-band era itu lah. Karena saya yang isi drum nya kalau dari drum sih ya dari situ.

Ryan: Kalau saya mah The Chats band dari Australia, Devo, Gang of Four

Last shouts?

Mario: Anjuklah album kami di shopee! Hahaha

Mirza: Kalau dari aku mah “Ulah lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat ulah lali tina purwadaksina”. Dimana kita berpijak dan berada, tetap jangan lupa sama asal-usul kita

Ryan: Keren euy kamu udah kaya Sujiwo Tejo hahaha.. Kaya pepatah Budi dalton.. Apa ya last shout nya.. Keep brutal, keep kayang aja deh a..

Iman: Tetap semangat menjalani hari walau itu pelik. Tetap santai walau jiwa terbantai..

 

Words & interview by Aldy Kusumah
Photo taken from Leipzig’s archives

Kolektif musik shoegaze Sunlotus berkolaborasi dengan Husted Youth umumkan tur Jawa dan Bali yang dimulai awal September 2022. Tur bertajuk “Deafening This Old House” merupakan agenda yang digagas guna menggaungkan kembali debut EP “This Old House” yang dirilis ulang dalam format kaset oleh Maldoror Manifesto.

Sunlotus dijadwalkan menyambangi 7 titik yang dimulai dari region Timur yakni Tulungagung, Malang, dan Surabaya. Sunlotus akan tampil bersama Enola, dilanjut ke Pulau Dewata dimana mereka akan tampil di Bangli, Canggu, Munggu serta Denpasar bersama Milledenials di beberapa titik.

Tur ini merupakan laga tandang perdana kolektif musik yang sekarang berbasis di Yogyakarta. Dua tahun sebelumnya–tepatnya di 2020–tur ini sempat diinisiasi namun terpaksa ditunda imbas pandemi. Sunlotus kini dihuni oleh Made Dharma (Gitar/Vokal), Dzul Fawaid Ahmad (Gitar), Sinergy Aditya (Bas) dan Bagus Pratama (Dram).

Musik di Taman sukses hadir dengan konsisten setiap minggunya dengan menyajikan panggung intimate show dengan vibes sejuk di taman. Kali ini bertempat di Kopi Kohi di bilangan Jl Riau, Bandung, pada hari Sabtu(27/8) Musik di Taman yang hadir atas kerjasama Kopi Kohi dan Waves Entertainment menghadirkan Intimate Show Nearcrush yang merayakan satu tahun debut album Bloodsports and Modern Arts.

Musik di Taman Intimate Showcase Nearcrush dibuka oleh Plastisin, kuartet asal Bandung yang baru merilis single “Optik & Suara”. Berikutnya, ada Eazz solo project dari Alfi (Prejudize) dengan nuansa musik dreamy dan pengaruh shoegaze yang kental. Eazz membawakan single terbaru “Thank You For My Lucky Star”, sempat meng cover lagu “Vapour Trail” dari Ride dan mengakhiri penampilannya dengan lagu “Golden Hair” dari Slowdive.

Proyek solo alter ego dari Gilanghade, Cal tampil setelah Eazz dengan membawakan lagu-lagu yang ada di EP Anthracite Grey dan juga membawakan Pine dari Basement. Lalu ada penampilan dari Clara dan Emir yang tergabung dalam unit electro pop, White Chorus.

Terakhir, sebagai penutup ada yang punya hajat Nearcrush yang membuka set-nya dengan lagu Ocean’s Depth. Total tujuh lagu dibawakan oleh Kevin dkk, termasuk satu lagu dari Title Fight “Head in the Ceiling Fan”. Musik di Taman Intimate Showcase Nearcrush ditutup oleh lagu “Hazy Day”.

Musik di Taman Intimate Showcase Nearcrush terasa intim dengan tidak adanya level atau panggung. Jadi, penonton dan band yang tampil terasa tidak ada yang membatasi. Nearcrsuh sempat membagikan lirik sheet agar bisa bernyanyi bersama. Kita tunggu intimate showcase siapa lagi yang akan hadir di Musik di Taman.

 

Words by Firman Oktaviawan

Photos by Ferialan

MESS IN BALANCE merupakan kolaborasi antara brand Hecate dan Miracle Mates. Dengan membawa pesan percampuran antara baik dan buruk adalah sebuah keniscayaan yang salling mengisi lain, kedua hal yang sepatutunya saling merusak justru membuat saling tak terpisahkan. Seperti filosofi dasar Yin-Yang, kekacauan yang diisi oleh kebaikan.

Untuk meluncurkan MESS IN BALANCE, Hecate dan Miracle Mates telah mengadakan event perilisan kolaborasi di Critical 11, Husein Sastranegara pada 27 Agustus 2022 lalu. Event yang memakai Fashion Show dan Runway sebagai konsep, menunjukan hasil dari kolaborasinya dan juga beberapa archive produk dari masing-masing brand.

Selain fashion show dan runway ada juga penampilan dari Xin Lie, Sunbath, dan Sugar spun yang menghibur tamu undangan.